6.4 C
New York
Sunday, April 5, 2026
Home Blog Page 53

Nama Maria dalam Kitab Suci: Tidak Hanya Ibu Yesus

2
DanaTentis / Pixabay

Nama Maria tentu tidak asing lagi bagi umat beriman. Nama itu telah mendunia dan populer; sehingga tidak sedikit orang menggunakannya sebagai nama mereka. Demikian pula pada zaman Yesus, nama Maria bukanlah nama yang langka. Karenanya, pada zaman itu, orang yang bernama Maria tidak hanya ibu Yesus.

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Dalam Kitab Suci, ada banyak orang yang memakai nama Maria, termasuk kerabat terdekat Yesus. Pertama, Maria ibu Yesus. Maria ibu Yesus dikisahkan dalam beberapa perikop Kitab Suci (bdk. Mat. 1:18-23, Luk. 1:26-56, 34-35, Yoh. 19:25-27, Kis. 1:14). Setiap kisah yang menyangkut Maria, ibu Yesus selalu ada penekanan atau keterangan yang menunjukkan bahwa Maria yang dimaksud adalah ibu Yesus. Biasanya memakai kata ‘ibu-Nya atau Maria, ibu Yesus’. Hal tersebut menunjukkan pula bahwa Maria yang disebut dalam Kitab Suci bukan hanya satu atau dua orang. Oleh sebab itu, pengetahuan tentang nama Maria dalam Kitab Suci mempengaruhi pula pemahaman dan penafsiran akan Kitab Suci.

Kedua, Maria ibu Yakobus, Yoses, Simon, dan Yudas. Maria ibu Yakobus, Yoses, Simon dan Yudas disebutkan dalam Injil Yohanes.  “Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.(Yohanes 19:25-27).

Jika diperhatikan secara seksama, maka kita menemukan dua nama yaitu ibu-Nya (Maria ibu Yesus) dan Maria, isteri Klopas. Seperti saya sebutkan pada point pertama, pengatahuan tentang nama Maria dalam Kitab Suci mempengaruhi pemahaman dan tafsir. Iman Katolik meyakini bahwa Maria ibu Yesus tidak mempunyai anak selain Yesus. Oleh sebab itu Yakobus, Yoses/Yusuf, Simon dan Yudas Tadeus yang seringkali disebut sebagai saudara Yesus adalah saudara sepupu, anak dari Maria, isteri Klopas. Selanjutnya penulis Kitab Suci menyebut Yakobus, Yoses, Simon dan Yudas sebagai saudara Yesus. Menurut fragmen Exposition of the Sayings of the Lord karya Papias dari Hierapolis (sekitar 70-163), Kleopas dan Alfeus adalah orang yang sama. Oleh sebab itu, Maria isteri Kleopas atau Alfeus adalah ibu dari Yakobus ‘saudara’ Yesus, Simon, Yoses/Yusuf dan Yudas Tadeus.

Ketiga, Maria saudara Lazarus dan Marta. Maria saudara Lazarus dan Marta tinggal di Betania (bdk. Yoh.11:1-45, 12:1-8).

Keempat, Maria Magdalena. Mari yang berasal dari Magdala, seorang perempuan Yahudi yang menjadi murid Yesus. Maria Magdalena disebut dalam beberapa perikop Kitab Suci (bdk. Yoh. 20:1-18, Mat. 28:1-10, Mrk. 16:1-8).

Kelima, Miryam/Maryam saudara Musa dan Harun. Kisah tentang Miryam/Maryam dicatat dalam beberapa perikop Kitab Suci (bdk. Kel. 2:1-10, Bil. 20:1-2). Miryam/Maryam saudara Musa dan Harun bukanlah Maria ibu Yesus. Maria ibu Yesus baru ada sekitar 1.400 tahun setelah Miryam/Maryam.  Miryam/Maryam sendiri lahir dari keturunan Suku Benyamin sedangkan Maria ibu Yesus lahir dari keturunan Yehuda. Oleh sebab itu tidak mungkin Miryam/Maryam saudara Musa dan Harun adalah ibu dari Yesus. *

Katolik Menjawab: Apa yang Dinyatakan Halal oleh Allah, Tidak Boleh Engkau Nyatakan Haram!

3
buffetcrush / Pixabay

Beberapa waktu yang lalu, saya menulis di sini satu artikel yang nadanya kurang lebih sama dengan apa yang saya tulis sekarang, yaitu mengenai ‘tidak adanya jenis makanan yang haram di dalam ajaran Gereja Katolik’. Dasarnya adalah perkataan Tuhan Yesus sendiri.

[postingan number=3 tag=”iman-katolik”]

Tuhan Yesus berkata: “Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Mat. 15:11). Jadi, bagi Yesus, tidak ada makanan yang haram; yang haram dan menajiskan orang adalah apa yang keluar dari hatinya; sebab dari sana lahir rasa iri, dengki, benci, amarah, dendam, dan sebagainya.

Memang, sebelumnya, Kitab Suci Perjanjian Lama menyebut deretan binatang yang haram dan halal. Tetapi, hal itu harus dibaca dan dimengerti dalam konteksnya. Pembahasan yang rinci tentang hal tersebut bisa dibaca di dalam artikel terdahulu. KLIK linknya di sini.

Paulus, dalam pengajarannya, mengikuti jalan pemikiran Yesus. Paulus berkata: “Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus, bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hanya bagi orang yang beranggapan, bahwa sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis. Sebab jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia. Apa yang baik, yang kamu miliki, janganlah kamu biarkan difitnah. Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm. 14:14-17).

Berbeda dengan Paulus yang memberikan penjelasan atas pengajaran Yesus, Rasul Petrus justru mengalami penglihatan. Diceritakan dalam Kis. 10:10-16 bahwa suatu ketika Petrus merasa lapar dan ingin makan, tetapi sementara makanan disediakan, tiba-tiba rohnya diliputi kuasa ilahi. Tampak olehnya langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah. Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung. Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: “Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!” Tetapi Petrus menjawab: “Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.” Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.” Hal ini terjadi sampai tiga kali dan segera sesudah itu terangkatlah benda itu ke langit.

Nah, pengajaran Yesus, ditambah dengan penjelasan dari Paulus dan penglihatan dari Petrus itulah yang mendasari sikap Gereja Katolik tentang makanan. Gereja Katolik mengajarkan: pertama, bukan soal apa yang masuk yang menajiskan kita (lih. Mat. 15:11), sehingga, makanan apapun (asalkan dari segi kesehatan layak dimakan) dapat kita makan, termasuk di dalamnya daging babi. Kedua, namun jika dengan memakan daging babi itu kita menjadi batu sandungan bagi orang lain [terutama bila sedang makan di hadapan orang-orang yang mengharamkan babi], maka sebaiknya kita tidak makan daging babi (lih. Rom. 14:21).

Katolik Menjawab: Tepatlah Jika Kita Menghormati dan Meminta Doa dari Bunda Maria

2
Teladan ketaatan Bunda Maria, yang membuat rencana Allah terhadap seluruh umat manusia dapat terlaksana, itulah yang menjadikan Bunda Maria sebagai seorang yang istimewa dan patut kita hormati.

Jangan sampai kita gagal paham terhadap perlakuan ‘istimewa’ yang diberikan oleh Gereja Katolik kepada Bunda Maria. Jangan salah sangka, orang Katolik tidak menyembah Bunda Maria, tetapi menghormatinya. Penghormatan yang sedemikian itu tentu saja wajar dan memang sudah seharusnya. Mengapa? Karena orang tua kita sendiri dan orang yang kita tuakan saja kita hormati, apalagi orang tua dari Tuhan kita. Bunda Maria adalah ibu dari Tuhan kita Yesus Kristus.

[postingan number= 3 tag= “bunda-maria”]

Nah, bukankah sudah seharusnya kita menghormati Ibu Tuhan kita? Jika menghormati orang tua dan orang yang dituakan kita anggap wajar, bagaimana mungkin tindakan penghormatan terhadap ‘Ibu Tuhan’ kita anggap tidak wajar?

Karena kita tidak menyembah Bunda Maria (sebab dia bukan Tuhan), maka kita tidak berdoa kepadanya. Ya, kita tidak berdoa kepada Bunda Maria, melainkan meminta doa darinya. Dalam doa ‘Salam Maria’, misalnya, kita berkata: “Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini …”.

Kita tahu dan sadar bahwa yang mengabulkan doa kita bukan Bunda Maria, tetapi Tuhan sendiri. Makanya, tujuan akhir doa kita bukan Bunda Maria, melainkan Tuhan. Karenanya kita tidak berkata, “Kabulkanlah doa kami ya, Bunda Maria”. Tidak. Kita tidak berdoa seperti itu. Ketika kita meminta supaya doa kita dikabulkan, kita selalu berkata, “Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.”

Seperti halnya menghormati Bunda Maria merupakan sesuatu yang wajar, maka tidak ada yang salah dengan meminta doa dari Bunda Maria. Bukankah selama ini kita juga meminta doa dari orang-orang lain? Kita selalu berkata, “Doakan saya ya guys”. Kita meminta doa dari teman kita, saudara kita, orang tua kita, atau dari siapapun. Nah, jika itu kita lakukan tanpa risih, bukankah meminta doa dari Bunda Maria jauh lebih masuk akal daripada meminta doa dari orang lain? Ingat, Bunda Maria adalah ‘Ibu Tuhan’. Pastilah dia yang jauh lebih dekat dengan Yesus Putra-Nya dibandingkan kita.

Kitab Suci mencatat dengan baik tentang bagaimana Bunda Maria mempengaruhi Tuhan Yesus. Diceritakan bahwa terjadi kehabisan anggur pada perkawinan di Kana. Maria melihatnya. Ia meminta Yesus supaya membantu tuan pesta. Yesus sendiri sebetulnya berkata: “Mau apakah engkau daripada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba” (Yoh. 2:4). Tapi, Maria tidak menangkap ucapan Yesus itu sebagai penolakan. Makanya, ia berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh. 2:5.

Maria begitu yakin bahwa Yesus akan memerintahkan sesuatu kepada para pelayan; dan memang nyata terjadi seperti itu. Tentu saja ia bisa berkata demikian karena ia kenal baik putranya itu. Kemudian, Yesus memerintahkan para pelayan supaya menyiapkan tempayan berisi air; dan terjadilah mukjizat air berubah menjadi anggur.

Penginjil Yohanes mencatat bahwa peristiwa di Kana itu merupakan mukjizat pertama yang dilakukan oleh Yesus (lih. Yoh. 2:11). Bayangkan, Bunda Maria memberi pengaruh pada Yesus dalam membuat mukjizat untuk pertama kalinya. Maria melakukan itu karena ia tahu dan dekat dengan putra-Nya. Nah, bukankah baik juga kalau kita meminta doa dari Maria? Mengapa kita begitu PeDe bahwa doa orang lain untuk kita akan dikabulkan sementara doa ibu-Nya tidak? Maka dari itu, marilah kita terus memberi penghormatan yang secukupnya kepada Bunda Maria dan meminta doa darinya.

Arti Angka 153 dalam Kitab Suci: Bukan Sekedar Angka Kuantitas

0
scholty1970 / Pixabay

Injil Yohanes 21:1-14 berkisah tentang penampakkan Tuhan Yesus untuk ketiga kalinya kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati. Diceritakan bahwa kali ini Ia menampakkan diri kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias; pada saat para murid-Nya sedang kecewa karena semalaman tidak mendapatkan ikan.

[postingan= 3 tag= “tuhan-yesus”]

Yesus berdiri di pantai; tetapi murid-murid itu tidak tahu bahwa itu Yesus. Kemudian, Yesus menyuruh mereka menebarkan jala ke sebelah kanan. Mereka melakukannya, dan mereka mendapatkan banyak ikan. “Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak” (Yoh. 21:11).

Dari perikop di atas, setidaknya ada beberapa hal penting yang dapat menjadi bahan permenungan kita:

Pertama, situasi para murid adalah gambaran situasi kita yang seringkali ‘tidak mengenali’  Tuhan dalam setiap peristiwa hidup. Kita merasa seolah-olah Tuhan tidak peduli terhadap masalah yang kita alami. Para murid dalam cerita Injil di atas tidak mengenali Tuhan yang sedang mengunjungi mereka; karena mereka sendiri pada awalnya ragu dan ‘tidak percaya’ bahwa yang datang mengunjungi mereka adalah Tuhan.

Kedua, ketika kita menghadirkan dan mengandalkan Tuhan dalam kehidupan kita, maka kita dapat berbuat hal-hal besar, bahkan hal-hal yang secara manusiawi tidak mungkin bisa kita lakukan. Karena itu, Injil hari ini mengajak kita untuk mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita.

Ketiga, kita seringkali mengikuti ego kita sendiri dan mengabaikan suara Tuhan. Ketika kita mengabaikan suara Tuhan maka kita tidak ‘berbuah apa-apa”. Tetapi ketika para murid mengikuti apa yang diperintahkan oleh Tuhan mereka mendapatkan ikan yang banyak.

Keempat, Yesus dalam Yoh. 21:11 telah menyiapkan perapian untuk membakar ikan yang didapatkan oleh para murid. Hal tersebut menandakan bahwa Tuhan sendiri sebenarnya sudah menyediakan apa yang kita butuhkan. Oleh sebab itu, Tuhan mengajak kita agar tidak jemu-jemu berdoa dan berusaha.

Kelima, angka 153 dalam Yoh. 21:11 bukan sekedar angka kuantitas melainkan angka simbolis. Pada zaman Yesus, nelayan percaya bahwa ada 153 tipe ikan di seluruh dunia. Dan sekarang mereka menangkap ikan sejumlah 153 ekor; ini menyimbolkan bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan semua orang.

Kang Je dan Seteru

0
geralt / Pixabay

Aku diam saja memperhatikan temanku ini. Meski rasa ingin mencoba menenangkan atas keterkejutan yang membuat emosinya meluap itu, tapi rasanya tidak ada tindakan yang tepat bisa kulakukan agar temanku itu bisa lebih tenang.

“Bapakku, pasangan hidupku, saudara-saudaraku semua tidak pernah mengumpat dengan kata kasar seperti itu,” jelas temanku. “Sekeras-kerasnya mereka, nggak pernah sekali pun mengeluarkan kata apalagi kalimat kasar yang tujuannya mengumpat kepadaku.” Air matanya mulai berlinang lagi. Sebentar dia menutupi wajahnya. Menahan emosi yang rasanya sudah sekian lama tertahan dan membuatnya mungkin tak nyaman.
Aku segera hendak ke belakang, mengambil tisyu.

“Ini tisyunya. Kamu di sini saja, menjaga dia…,” suara khas itu terdengar di sebelahku. Ia memberikan sebungkus tisyu. Aku menerima lalu memberikan kepada teman di hadapanku ini.

[postingan number=3 tag= “kang-je”]

Orang yang memberi tisyu tadi beralih duduk di sebelah temanku. Ia memberi kode agar aku duduk juga di sisi satunya. Aku menurut lagi.

Ku sentuh bahunya pelan. “Bapak, pasangan dan saudaramu orang baik semua ya…”
Kepalanya mengangguk pelan. Kulihat dia sudah sedikit tenang. “Aku percaya mereka orang baik. Maka kalau mereka kesal dan marahi aku, aku terima bahkan kalau sempat sebentar konflik yang membuat kami harus saling mendiamkan. Nggak apa…. Aku terima. Malah berusaha untuk memperbaiki semua supaya kami tidak berlama-lama saling mendiamkan.” Sebentar ia membersihkan pipinya dari sisa air mata. “Tapi…. Orang itu… Orang yang katanya adalah teman, berani-beraninya mengumpat dan mengancamku. Siapa dia? Bukan siapa-siapaku beraninya seperti itu. Tega banget…Padahal aku nggak cari masalah juga sama dia. Apa nggak jahat namanya?”

Kalimat terakhir itu membawa lagi tangis kerasnya.
Air mata yang semula hampir surut kembali tercurah seperti hujan beberapa hari lalu. Tidak ada yang menghadangnya bahkan tidak peduli ada siapa di sekitar. Bulir bening itu kembali dan terus menetes hingga pipinya seperti banjir air.

Aku membantu membersihkan pipinya supaya dia bisa lebih nyaman.
Di sisi sebelah ku lihat Kang Je sedang sungguh memperhatikan temanku dengan tatapan penuh perhatian dan prihatin.
Tak sengaja aku bersirobok denganNya dan melihat mataNya seperti sedang menahan haru. Genangan air mata sudah nyaris terjatuh meski senyumNya demikian meneduhkan laksana hendak mengatakan, “Aku tidak apa-apa.”

Temanku masih tetap terus menangis.
Sesekali ia terdiam untuk mengambil nafas, lalu kembali mengeluarkan segala rasa tak enak di hatinya itu. Aku jadi trenyuh.
Harus berbuat apa lagi supaya ia bisa lebih tenang?
Sekelebat ku lihat tangan Kang Je mengelus rambut temanku dengan lembut. Elusannya laksana elusan orang tua yang tengah menenangkan kegalauan anaknya. Terbukti si teman pelan-pelan terlihat lebih tenang. Tangisnya berkurang hingga sisa-sisanya saja. Tetap kubantu ia untuk menghapus semua sisa bulir air bening di mata dan pipinya.
Tak lama, ia mencoba mengambil nafas Panjang.

“Thank you sudah mau menemaniku, ya…,” ujarnya sembari berusaha tersenyum kepadaku.
“Sama-sama..,” jawabku sembari membalas senyumnya. “Kalau sudah tenang, kita pulang yuk… Eh, tapi makan dulu ya… Kamu mau dimana? Aku anterin….”
Temanku menoleh. Wajahnya yang masih pucat karena habis menangis lama seperti sedang berpikir. “Terserah kamu saja. Aku nurut.”
Meski aku sendiri masih blank harus menjawab apa dan kemana, ku coba anggukan kepala. Kami pun segera bersiap untuk meninggalkan tempat dengan motor setiaku yang dari tadi sudah menunggu.
Tapi, belum sampai di sana, mendadak temanku punya ide. “Pengen mampir ke Katedral dulu, boleh?”

Aku rada kaget. Tapi, ingatanku mendadak kembali pada peristiwa saat Kang Je mengelus rambutnya tadi. Mungkinkah itu semacam bisikan Kang Je ke temanku agar sebentar bertemu denganNya di rumah Sang Bapa?
Tanpa harus adu argumentasi, aku belokkan motorku menuju gereja megah itu.
Setelah parkir, temanku duluan masuk. Langkahnya seperti tak sabar hendak mengadu pada penciptaNya. Kurapikan dulu posisi motor baru setelah itu masuk.
Ketika kusyuk ku berlutut begitu masuk rumahNya, ku lihat temanku sedang demikian asyik berbincang dengan seseorang. Orang yang diajak bicara duduknya berhadapan denganku.
Dengan senyum dan gerakan mataNya dari jauh, Ia seperti hendak mengatakan untuk tidak mengganggu dulu obrolan temanku denganNya. Aku pun duduk saja tak jauh dari mereka yang sedang bercakap-cakap kini.

Dalam duduk dan diam, ada serangkai doa dari hati agar temanku itu sungguh bisa mendapatkan ketenangan lagi setelah bisa ke rumah Bapa kami ini. Aku sangat paham dengan gejolak rasanya selama ini.
Meski sebagai sahabat aku berusaha paham, nyatanya tak semudah itu.
Ada hal-hal lain yang rasanya cuma dia saja yan gbisa mengerti dan lakukan untuk mengurangi keresahannya itu. Aku hanya bisa menemani, mendengar dan sekadar menyemangatinya agar tak semakin terpuruk.
Aku tahu, itu tidak enak.

Kelar berdoa, ku lihat temanku itu pun juga sudah selesai. Kuhampiri ia.
“Ngobrol dengan siapa tadi?” tanyaku ingin tahu.
“Lho… Dari tadi aku berdoa kok. Emang kayak orang ngobrol?” temanku tanya balik.
Aku tersenyum panjang. “Iya… Aku kan dari tadi sudah di sana memperhatikan kamu seperti sedang ngobrol. Kayak kita ini…. Makanya aku diam dulu, duduk di sana.”
Temanku berkenyit. Mungkin merasa aneh dan berpikir. “Iya yah? Padahal aku sedang berdoa,” katanya sembari melihat ke depan.
Tepat di depannya itu ada pilar pembatas altar dan tempat duduk umat, ada tertulis besar di sana “Marilah kepadaKu kamu yang lelah dan menanggung beban.”
“Tapi, emang sih… Aku merasa seperti ngobrol dengan Yesus yang ada di sebelahku. Dengerin semua keluh kesahku termasuk soal yang tadi bikin aku nangis.” Seruas senyum panjang terlihat di bibirnya.

“Bilang apa Kang Je ke kamu?” tanyaku pelan sembari lebih mendekati duduknya.
“Yesus bilang, Dia juga nggak nyari masalah dengan umatNya. Malah sering membela. Sering menyembuhkan dan memberi kabar baik. Tapi, ternyata apa? Dia malah dihianati, dicambuk lalu disalib. Sakit banget kan… Padahal Dia kurang baik apa coba… Bener-bener tega dan jahat manusia ya…”
Aku mendengarkan dengan kusyu.
“Trus, Yesus bilang padaku bahwa apa yang aku alami hanya sebagian salib yang harus dia pikul. Aku tanya, kenapa harus memikul salib itu padahal katanya Ia mau menanggung kesalahan dan dosa manusia.”
“Apa jawab Kang Je?” aku jadi penasaran.
“Katanya, supaya aku tahu bagaimana caranya menghargai dan menghormati orang lain…”
Deg.
Aku tertunduk.

Kalimat lama yang diingatkan lagi lewat perantara sahabatku ini.
“Yesus juga bilang, peristiwa yang aku alami ini sesungguhnya bukan untuk membuatku sedih. Tapi, justru supaya aku lebih kuat sebab kelak akan tahu bagaimana mengatasi andaikata terjadi lagi. Ih, jangan sampai kali ya…”
Bener juga sih… Pengalaman paling pahit sekali pun pasti akan membuat kita menjadi lebih kuat. Apalagi kalau itu dihadapi bersama kehadiranNya.
“Aku sempet ngeyel sih soal terakhir itu. Kubilang, kan nggak bisa semua orang sekuat orang lain. Yesus bilang, justru itu yang hendak ditunjukkan kepadaku sekarang. Bahwa aku sekarang sesungguhnya adalah kuat.”
Aku berusaha tersenyum.

Tiba-tiba teringat wallpaper di laptopku. Sebuah quote dari Master Shifu di film Kungfu Panda 3, “If you only do what you can do, you’ll never be better than what you are.”
“Mungkin karena itu, aku jadi kayak ngobrol ya?” tanya temanku mengagetkan lamunanku sendiri.
“Ya,” aku menangguk-angguk sambal tetap tersenyum.
“Hehe… Ya udah… Aku dah lega sekarang. Semoga masalah ini cepat berlalu. Yuk, makan…,” ajak temanku semangat.
“Mmm.. Kalau nanti ketemu orang yang dimaksud, gimana? Kamu memaafkan dia” tanyaku kepo.
Sebentar temanku berpikir, “Maybe yes, maybe it takes time … Tapi, pokoknya biarin aja. Sementara ini aku meminimalisir yang berhubungan dengan dia. Toh, forgive is not forget tho???”
Bener juga.
Segera kami berkemas lalu beranjak dari gereja menuju tempat makan yang sudah kami sepakati.
Sebelum keluar pintu gereja, iseng aku menoleh ke belakang.
Eh… Ada Kang Je di sana dengan senyum khasnya itu.
Tanpa ragu Ia memberikan kiss bye dan tanda cinta dari jarinya yang ladi viral itu.
Eleuh, si Akang….

Katolik Menjawab: Kita Patut Belajar dari 4 Keutamaan Bunda Maria

0
moerschy / Pixabay

Nama Maria, Ibu Yesus, memang jarang disebut di dalam Kitab Suci. Hanya beberapa kali dan pada beberapa peristiwa saja namanya disebut; tapi tidak berarti perannya tidak penting. Peran Bunda Maria sangatlah penting, terutama melahirkan Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita.

Bunda Maria dipilih oleh Allah di antara para wanita. Ia menjadi wanita yang ‘terpuji’ di antara kaumnya itu. Tentu saja pemilihan oleh Allah itu bukan tanpa dasar. Dasarnya adalah: Bunda Maria dipandang layak oleh Allah untuk menyandang status sebagai ‘Ibu’ bagi Putra-Nya.

Ada banyak keutamaan hidup yang dimiliki oleh Bunda Maria; dan pada bulan ini secara khusus kita mau belajar darinya. Keutamaan pertama yang dimiliki oleh Bunda Maria adalah kepasrahan pada kehendak Allah.

[postingan number=3 tag= “bunda-maria”]

Ketika ia dikunjungi oleh Malaikat Gabriel; dan malaikat itu memberitakan kabar mengejutkan kepadanya, mengenai kelahiran Yesus, ia hampir tidak percaya. Makanya, ia berkata kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk. 1:34).

Sebagai seorang gadis, Maria tentu saja mempunyai sejuta mimpi. Ia juga pasti tahu resikonya jika dirinya ketahuan hamil di luar perkawinan; tapi toh ia mengorbankan mimpinya dan memberanikan dirinya untuk berkata ‘YA’ terhadap permintaan malaikat itu. Ia pasrah pada kehendak Allah. Ia pun berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38).

Dalam beriman, kita meniru Bunda Maria. Ciri utama dari orang beriman seharusnya adalah seperti yang dilakukan oleh Bunda Maria, yaitu membiarkan segala sesuatunya terjadi seturut kehendak Tuhan, bukan kehendak kita sendiri. Orang beriman harus berpasrah kepada Tuhan. Jika kita belum bisa berpasrah kepada Tuhan dan masih menuntut agar Tuhan mengikuti kemauan kita, maka sudah saatnya kita belajar dari Bunda Maria.

Keutamaan kedua yang harus kita teladani dari Bunda Maria adalah soal kerendahan hati. Sekalipun Bunda Maria dipilih oleh Allah menjadi wanita terpuji di antara semua wanita, ia tidak ‘besar kepala’. Ia justru berkata: “Aku ini adalah hamba Tuhan”. Ia tidak merasa paling suci dan paling benar. Kesombongan rohani tidak ada pada Maria.

Kita juga perlu rendah hati seperti Bunda Maria. Kedekatan kita dengan Tuhan jangan sampai membuat kita ‘besar kepala’ dan merasa paling suci di antara yang lain. Itu namanya kesombongan rohani. Kita harus tetap rendah hati. Justru makin kita rajin berdoa, makin kita religius, makin kita dekat dengan Tuhan, sudah seharusnya kita makin rendah hati.

Keutamaan ketiga adalah percaya sungguh-sungguh pada Yesus. Ketika Bunda  melihat bahwa tuan pesta di Kana mengalami kekurangan anggur, ia meminta Yesus supaya membantu tuan pesta itu. Tapi apa yang terjadi? Yesus berkata kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Mendengar perkataan Yesus itu, Bunda Maria bukannya diam, tetapi justru berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh. 2:4-5).

Hal itu dilakukan oleh Bunda Maria karena ia sangat percaya kepada Yesus, putra-Nya. Ia juga tahu bahwa Yesus pasti akan menerima permintaannya; dan betul terjadi demikian. Yesus menyuruh para pelayan menyiapkan tempayan-tempayan berisi air; dan air-air dalam tempayan itu seketika berubah menjadi anggur yang terbaik. Nah, ini mengajarkan kepada kita bahwa kita perlu mempunyai iman sebesar iman Maria itu supaya hal-hal yang kita harapkan bisa terjadi di dalam kehidupan kita.

Keutamaan keempat yang kita teladani dari Bunda Maria adalah soal kesetiaan. Kita belajar setia dari Bunda Maria. Bunda Maria setia menemani putra-Nya mulai dari kandang hina di Betlehem sampai di bukit tengkorak di Golgota. Tatkala murid-murid lari meninggalkan Yesus karena takut terhadap para prajurit, Bunda Maria tetap tak gentar berdiri di bawah kaki salib putra-Nya. Nah, teladan seperti inilah yang mau kita tiru dari Bunda Maria.

Kita belajar dari Bunda Maria supaya bisa setia dalam iman akan Yesus, putra-Nya. Apapun tuntutan dan tantangan yang kita hadapi dalam mengimani Yesus, seberat apapun tuntutan dan tantangan itu, jangan putus asa, apalagi sampai lari dari-Nya. Bunda Maria sudah memberi kita contoh yang baik untuk itu. Kita harus tetap teguh berdiri sampai akhirnya Tuhan Yesus sendiri menjemput kita kembali untuk dibawa-Nya ke rumah Bapa di surga.

Itulah empat keutamaan yang bisa kita tiru dari Bunda Maria. Semoga kita semua dapat meneladani Bunda Maria, terutama pada bulan yang secara khusus didedikasikan kepadanya ini; agar kita boleh menjadi orang-orang Katolik yang baik dan benar. Amin.

Sosok Bunda Maria di Mata Martin Luther: Dialah Permata Terindah dalam Kekristenan

3
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Banyak aliran masa kini merasa terganggu jika menyebut nama Maria, Bunda Yesus. Mereka berprasangka bahwa dengan memberi tempat istimewa kepada Maria, kita menduakan Tuhan.

[postingan number=3 tag= “bunda-maria”]

Tentu saja prasangka semacam itu tidak berdasar karena sampai kapanpun Maria tidak pernah disetarakan dengan Yesus. Justru kita menghormati Bunda Maria karena ia sudah bersedia berkata ‘YA’ terhadap tawaran dari Allah untuk melahirkan Sang Juruselamat ke dunia. Jadi, penghormatan terhadap Maria tidak bisa dilepaspisahkan dari kesediaannya dalam melahirkan Yesus, Tuhan kita.

Sejak awal, Gereja Katolik sudah menyadari pentingnya peran Maria; tapi tidak pernah menyamakan Maria dengan Tuhan Yesus. Karenanya, bagi Gereja Katolik, tindakan penghormatan terhadap Bunda Maria sama sekali tidak menduakan Tuhan.

Pencetus gerakan reformasi, Martin Luther, bahkan tidak mempersoalkan penghormatan Gereja Katolik terhadap Bunda Maria. Ia justru ikut memberikan kata-kata pujian terhadap sosok Maria. Ia berkata: “Apa persamaan dari para dayang istana, bangsawan, raja, ratu, pangeran dan Kaisar dunia bila dibandingkan dengan Perawan Maria, Putri Daud. Ia adalah Bunda dari Allah kita, Pribadi yang amat agung di bumi ini. Setelah Kristus, dialah permata terindah dalam kekristenan. Sang Ratu yang ditinggikan di atas segala kebijaksanaan, kesucian dan keagungan ini tak akan pernah cukup dipuji”.

Ia melanjutkan: “Sungguh pantaslah apabila sebuah kereta kencana emas mengiringi dia, dengan ditarik oleh empat ribu kuda, dengan abdi utusan yang meniup sangkakala serta dengan lantang ber¬seru: “Lihatlah dia, Bunda Yang Agung, Putri Umat Manusia” tetapi yang ada hanyalah: seorang Perawan berjalan kaki dalam sebuah perjalanan jauh untuk mengunjungi Elisabet. Perjalanan ini ditempuhnya walaupun saat itu ia sudah menjadi Bunda Allah. Bukan merupakan sebuah keajaiban apabila kerendahan hatinya dapat membuat gunung-gunung melonjak menari sukacita”.

Lalu, Martin Luther mengutip Nyanyian Pujian Maria untuk menunjukkan betapa Maria layak dihormati. “Melalui perkataannya sendiri dalam Magnificat (Luk. 1:46-55), dan melalui pengalamannya, Maria mengajar kita bagaimana caranya mengenal, mengasihi dan memuji Allah. Sejak awal, umat manusia telah menyimpulkan segala kemuliaan yang diberikan kepada Maria di dalam frasa: ‘Bunda Allah’. Sekalipun manusia mempunyai lidah sebanyak daun di pohon, rumput di padang, bintang di langit, atau pasir di laut, tak seorangpun mampu mengatakan hal yang lebih agung kepada Maria atau mengenai Maria. Perlu direnungkan dalam hati apakah artinya menjadi seorang Bunda Allah”.

Referensi:
1. William Johnston SJ. 1987. Mistik Kristiani. Sang Rusa Terluka. Yogyakarta: Kanisius.
2. Frans Harjawiyata OCSO. 1993. Kehidupan Devosional dalam Gereja-gereja Timur. Seri Sumber Hidup 16. Yogyakarta: Kanisius.
3. Alexander Roman. Martin Luther on the Mother of God; dalam http://orrologion.blogspot.com/2006/01/martin-luther-on-mother-of-god.html.

Katolik Menjawab: Kita Tidak Berdoa ‘kepada’ Bunda Maria

0
Cbdlq / Pixabay

Gereja mendedikasikan bulan Mei sebagai bulan Maria. Selama bulan ini kita diminta supaya menggiatkan devosi Maria, misalnya dengan berdoa Rosario, berziarah, dan sebagainya. Pertanyaannya: mengapa Gereja memberikan tempat yang istimewa kepada Bunda Maria? Bukankah fokus perhatian kita harus dan hanya tertuju kepada Yesus?

[postingan number=3 tag= “bunda-maria”]

Mari kita pahami sedikit demi sedikit. Kita tahu bahwa Allah memilih Maria di antara para wanita. Untuk apa? Yaitu untuk melahirkan putra-Nya. Nah, sebagai manusia yang mempunyai kehendak bebas, Maria tentu saja bisa menolak tawaran Allah itu. Namun, karena kerendahan hatinya, ia toh mengatakan ‘YA’ terhadap tawaran Allah itu. Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:28). Jadi, dalam Gereja Katolik, Maria diberi tempat yang istimewa karena ia sudah mengatakan ‘YA’ terhadap tawaran Allah.

Kehadiran Maria dalam Gereja memberi warna tersendiri. Tapi, kita harus menyadari bahwa kita tidak menyembah Maria. Hanya Tuhan yang kita sembah, Bunda Maria tidak. Tapi, kita sangat menghormati Bunda Maria. Penghormatan seperti itu tentu saja wajar. Jangankah terhadap Bunda Maria, terhadap ibu kita sendiri saja kita harus hormati. Nah, jika terhadap ibu kita sendiri kita menaruh sikap hormat, apalagi terhadap ‘Ibu Tuhan’.  Maka, jangan sampai kita alergi terhadap doa Rosario hanya karena kita merasa bahwa ‘itu merupakan penyembahan terhadap Maria’. Kalau itu yang kita pikirkan, berarti kita sudah gagal paham terhadap doa Rosario. Ingat, ketika kita berdoa Rosario, seluruh isinya berkisah tentang hidup dan karya Yesus, bukan tentang Bunda Maria.

Dalam berdoa Rosario atau doa-doa Maria lainnya, kita tidak berdoa kepada Bunda Maria. Tujuan doa kita adalah Tuhan sendiri; sebab yang mempunyai kuasa untuk mengabulkan doa kita hanyalah Tuhan. Lantas, apa yang kita ucapkan dalam doa ‘Salam Maria’?

Perhatikan, dalam doa Salam Maria kita berkata:  ‘Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini …., dst’. Kita meminta doa dari Bunda Maria, bukan berdoa kepada Bunda Maria. Kita juga tidak pernah mengatakan, “Kabulkanlah doa kami, ya Bunda Maria.” Yang mengabulkan doa kita adalah Tuhan sendiri. Makanya kita berkata: “Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan”.

Mengapa kita meminta doa dari Bunda Maria? Pertanyaan ini juga muncul dalam komentar pembaca pada postingan  sebelumnya. Jawabannya sederhana: jangan sampai kita alergi meminta doa dari Bunda Maria, tapi gencar meminta doa dari orang lain. Bukankah kita selalu bilang ke orang lain, “Pak, Bu, doakan saya ya.” Nah, jika meminta doa dari orang lain kita anggap wajar, mengapa meminta doa dari Bunda Maria kita anggap tidak perlu? Bukankah Bunda Maria lebih dekat pada putra-Nya ketimbang orang-orang lain itu?

Dasar biblis dari permintaan doa kita kepada Bunda Maria adalah peristiwa perkawinan di Kana. Dalam perikop itu, Bunda Maria meminta Yesus agar membantu tuan pesta. Yesus berkata kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Mendengar perkataan Yesus itu, Maria bukannya diam, tetapi justru berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh. 2:4-5). Hal itu dilakukannya karena ia sangat percaya kepada Yesus, putra-Nya. Maka, apa yang terjadi setelahnya? Yesus menyuruh para pelayan menyiapkan tempayan-tempayan berisi air; dan air-air itu kemudian berubah menjadi anggur terbaik.

Yesus mendengarkan ibu-Nya. Itu sudah jelas dan pasti. Maka, kalau kita meminta doa dari Bunda Maria; atau kalau kita berdoa bersama Bunda Maria, pastilah doa kita didengarkan oleh Tuhan Yesus.

Katolik Menjawab: Kita Tidak Menyembah Bunda Maria juga Tidak Berdoa kepadanya

15
JStolp / Pixabay

Banyak orang mengira bahwa orang Katolik menyembah Maria dan berdoa kepada Maria. Hal itu mungkin disebabkan karena mereka melihat orang Katolik berdoa di depan patung Bunda Maria dan berdoa Rosario.

Namun, perlu ditegaskan di sini bahwa orang Katolik sama sekali tidak menyembah Maria, tetapi menghormati Maria. Ini dua istilah yang kelihatannya mirip tetapi maknanya sangatlah berbeda.

Penghormatan orang Katolik terhadap Maria tentu tidak muncul begitu saja. Penghormatan seperti itu jelas ada alasannya, yaitu karena Maria adalah ‘Ibu Tuhan’ sebagaimana dikatakan oleh Elisabet (bdk. Luk. 1:43). Nah, jangankan Ibu Tuhan, ibu kita sendiri saja kita hargai dan hormati. Jika ibu kita sendiri bisa kita hargai dan hormati, apalagi Ibu Tuhan.

[postingan number=3 tag= “bunda-maria”]

Penghormatan orang Katolik terhadap Bunda Maria juga didasarkan pada kenyataan bahwa Allah menjadikan Maria sebagai ‘wanita yang terpuji’ di antara semua wanita lain di muka bumi ini. Allah memilih Maria di antara banyak perempuan di dunia ini untuk melahirkan putra-Nya. Maria mengatakan ‘YA’ terhadap tawaran Allah itu, padahal dia sendiri sebenarnya bisa saja mengatakan tidak saat dia diberikan tawaran oleh Allah. Jadi, dalam Gereja Katolik, Maria diberi tempat yang istimewa karena Maria sudah mengatakan YA terhadap tawaran Allah itu.

Maria tahu bahwa dia bisa saja dirajam dan dihukum mati karena hamil di luar perkawinan. Ia sadar akan resiko itu. Dia juga tahu bagaimana Yosef, tunangannya itu, keluarganya, dan semua orang sekampungnya akan bereaksi terhadap kehamilannya, tetapi dia toh tetap mengatakan ‘YA’ terhadap tawaran dari Allah. Inilah alasan mengapa orang Katolik sangat menghormati Bunda Maria.

Lantas, mengapa orang Katolik berdoa di depan patung Maria? Jawabannya sederhana: karena kita membutuhkan gambaran tentang Maria. Patung-patung itu dibuat untuk membantu kita membayangkan Maria sebagai seorang pribadi yang nyata, tidak hanya apa yang dikisahkan di dalam bacaan Kitab Suci.

Apakah orang Katolik berdoa kepada Maria? Jawabannya: orang Katolik sama sekali tidak berdoa kepada Maria, tetapi berdoa kepada Yesus. Doa-doa orang Katolik selalu langsung ditujukan kepada Yesus. Tetapi, kadang-kadang kita meminta Maria untuk berbicara kepada Yesus, supaya Yesus mendengarkan doa-doa kita.

Ingat, Yesus sangat mengasihi ibunya dan kita berharap agar Maria dapat mempengaruhi Yesus untuk mendengarkan doa-doa kita, sama seperti apa yang dia katakan kepada Yesus saat peristiwa ‘mengubah air menjadi anggur’ pada pesta pernikahan di Kana.

Yesus mendengar perkataan ibu-Nya ketika Maria meminta membantu tuan pesta meskipun sebenarnya saat itu Ia belum berniat untuk mengubah air menjadi anggur. Tetapi toh Ia melakukannya juga karena ibu-Nya yang meminta kepada-Nya. Kita berharap bahwa Yesus mengabulkan permohonan kita jika ibu-Nya meminta kepada-Nya.

Tetapi, bukankah dengan berdoa Rosario, orang Katolik berdoa kepada Maria? Sama sekali tidak. Ketika kita berdoa Rosario, seluruhnya sebenarnya berisi tentang refleksi atau meditasi, tentang hidup dan karya Yesus.  Jadi, orang Katolik tidak berdoa kepada Maria, melainkan berdoa bersama Maria atau meminta doa dari Maria. ***

Awam Ngobrol: Hidup Ini Milik Siapa? Apakah Kita Bisa Dilahirkan Berulang Kali?

0
klimkin / Pixabay

Hai teman-teman semua,  topik ‘Awam Ngobrol’ hari ini adalah tentang “Hidup Ini Punya Siapa?” Pernah nggak sih teman-teman memikirkan atau mempertanyakan hidup kita ini milik siapa dan untuk apa sih? Apakah kita bisa dilahirkan berulang kali?

Sebelum menjawab semua pertanyaan yang mungkin melintas dalam kalbu di atas, ayat pada hari ini cocok banget untuk dijadikan dasar ngobrol kita. Ayat diambil dari Injil Yohanes 3:7 yang berbunyi “…. kamu harus dilahirkan kembali.”

[postingan number=3 tag= “tuhan-yesus”]

Eitss … bukan reinkarnasi yang dimaksud Yesus di sini. Terus apa dong? Menurut e-Katolik Renungan Bahasa Kasih edisi 30 April 2019, dilahirkan kembali yang dimaksud Yesus di sini adalah: “ … lahir kembali dalam Roh, lahir menjadi anak-anak Allah. Ketika manusia sadar dan mengakui Yesus adalah Juruselamat, saat itulah manusia dilahirkan kembali.”

Gimana? Masih bingung ya? Nah ayo kita ngobrol lebih lanjut. Menurut pengalaman pribadi saya, kalimat ‘lahir menjadi anak-anak Allah’ adalah yang paling mudah saya alami dan saya rasakan. Pertama-tama, kita adalah anak. Anak akan selalu dikasihi oleh bapaknya, dan kita sebagai orang Katolik punya Allah sebagai Bapa kita yang kekal abadi. Dari beberapa kesempatan dalam hidup saya, Allah sungguh menunjukkan bahwa Ia adalah ‘bapak’ saya. Bagaimana bisa seperti itu? Izinkan saya bercerita hehe

Saya adalah anak rantau yang jauh dari orangtua. Saya berada di sebuah kota di mana orangtua saya tidak bisa mengawasi saya selama 24 jam non-stop. Lalu, siapa yang menjaga saya setiap waktu?

Pada banyak kesempatan, saya beberapa kali hampir tertabrak motor yang melaju sangat kencang. Entah bagaimana saya bisa selamat, padahal apabila sedikit saja tersenggol, saya sudah pasti ikut terseret motor tersebut. Ada lagi kejadian pada saat saya tertimpa suatu masalah besar – yang bahkan saya tidak bercerita kepada orangtua saya – masalah tersebut tiba-tiba saja dapat terlalui dengan mudah seperti seolah ada yang membantu menyelesaikannya dalam waktu yang sangat singkat. Dan banyak lagi hal-hal unik dan ajaib lain yang terjadi dalam hidup saya, yang bahkan belum tentu dengan mudah terjadi apabila saya tinggal dekat dengan orangtua saya. Saya bisa merasa begitu terlindungi, seperti ada seorang “bapak” yang terus ada untuk saya di setiap waktu terberat dalam hidup.

Saya yakin teman-teman sekalian juga pernah mengalami kejadian yang serupa atau mungkin jauh lebih hebat, namun kita harus ingat fokus utama topik ngobrol kita hari ini. Apabila kita bisa merenungkan segala bantuan ajaib di saat terburuk hidup kita, kita secara sadar ataupun tidak sadar sudah merasakan kehadiran Allah sebagai ‘bapak’ kita. Dan dengan kita menyadari kehadiran Allah sebagai ‘bapak’, berarti kita juga sudah lahir menjadi anak-anak Allah. Tercapailah maksud Yesus dalam Injil di atas hehe…

Secara spontan pasti ada ucapan syukur saat kita berhasil melewati saat tersulit dalam hidup kita dan rasa syukur itu pastilah mengalir bagi Allah. Di situlah kita dilahirkan kembali. Kita akan menyadari bahwa hidup kita adalah milik Allah, ada Allah yang menjaga, dan ada Allah yang bertindak. Lalu tentang pertanyaan “Apakah kita bisa dilahirkan berulang kali?” Tentu saja! Kita selalu lahir kembali dalam Roh Kudus dan menjadi anak-anak Allah setiap kita menyadari bahwa hidup ini adalah milik-Nya. Dengan menyadari bahwa hidup ini milik Allah, kita akan senantiasa merawatnya dengan baik. Kalau tidak dirawat dengan baik, bisa diambil oleh Allah lagi deh hehe…

Jujur saja, menanamkan pemikiran semacam itu dapat membuat saya lebih tenang dan tegar dalam menghadapi persoalan hidup. Ini adalah pemikiran paling sederhana dan saya percaya teman-teman semua dapat memahaminya.

Saya berharap setelah teman-teman membaca tulisan singkat yang dibumbui oleh hasil olah pikir seorang awam ini, teman-teman bisa lebih menyadari makna dilahirkan kembali namun tidak hanya pada saat terpuruk saja, namun juga dalam setiap saat karena setiap helaan nafas kita juga merupakan suatu keajaiban *eeaaaaa … Terimakasih sudah menyimak obrolan hari ini, sampai jumpa di ‘Awam Ngobrol’ selanjutnya yaa …