6.4 C
New York
Sunday, April 5, 2026
Home Blog Page 54

Maria, Cermin Kekudusan

0
3282700 / Pixabay

Banyak gelar-gelar yang dipakai untuk menghormati Bunda Maria. Tak sedikit umat beriman bertanya tentang makna dari gelar-gelar  itu. Adapun gelar-gelar tersebut tertera secara detail dalam Litani St. Perawan Maria (Puji Syukur 214). Salah satu gelar Bunda Maria adalah Cermin Kekudusan. Bagaimana memahami gelar tersebut?. Berikut adalah penjelasan dari tim JalaPress.

Pertama, gelar Bunda Maria ‘Cermin Kekudusan’ berasal dari kata Iustitia yang artinya ‘keadilan’. Makna iustitia dalam konteks biblis-teologis dapat dilihat pula dalam Mat. 1:19, di mana St. Yosef disebut sebagai seorang yang benar (Just). ‘Benar’ artinya Kudus, suci dan sempurna dalam menjalankan perintah-perintah Allah. Dengan demikian sejak semula manusia diciptakan dengan ‘keadilan asali’ sehingga berada dalam keharmonisan dengan Allah, diri sendiri dan seluruh ciptaan. Maka dalam konteks tersebut Maria diberi gelar Speculum Justitiae.

[postingan number=3 tag= “bunda-maria”]

Kedua, Gelar Speculum Justitiae diberikan kepada Bunda Maria karena ia memantulkan keutamaan keadilan. Ia mencerminkan kekudusan, kesucian, dan kesempurnaan dalam melaksanakan kehendak Allah. Ia sungguh murni dan rendah hati sehingga memancarkan ‘keadilan Ilahi’. Selain itu, Bunda Maria dalam seluruh kehidupannya sungguh-sungguh menampilkan diri sebagai Citra Allah (bdk. Kej. 1:26).

Ketiga, Bunda Maria dalam Keb. 7:26 diberi gelar sebagai Cermin Kekudusan. “Karena kebijaksanaan merupakan pantulan cahaya kekal, dan cermin tak bernoda dan kegiatan Allah, dan gambar kebaikan-Nya (Keb. 7:26). Dengan demikian, Allah menganugrahkan keutamaan kepada Bunda Maria sehingga menjadi teladan bagi umat beriman.

Katolik Menjawab: Surat kepada Orang Ibrani Tidak Ditulis Oleh Paulus

2
RobertCheaib / Pixabay

Hampir tidak ada satu pun orang yang bisa memastikan siapa nama penulis dari ‘surat kepada orang Ibrani’; karena berbeda dengan kitab-kitab lain pada umumnya, surat ini tidak mencantumkan nama penulisnya.

[postingan number=3 tag= “iman-katolik”]

Memang, pada abad-abad pertama kekristenan hingga Abad Pertengahan, ada banyak orang meyakini bahwa surat itu ditulis oleh Rasul Paulus, meskipun tidak seperti biasanya, pada bagian pendahuluan dari surat itu tidak dimulai dengan nama Paulus, seperti surat-surat Paulus lainnya. Namun, pendapat seperti itu tidak dapat dipertahankan; sebab semenjak   zaman   Reformasi Gereja,   secara   luas diketahui bahwa Paulus bukanlah penulis dari surat itu.

Origenes (hidup pada abad ke-2 M) adalah satu dari sekian banyak orang yang yakin betul bahwa Pauluslah yang menulis surat itu. Namun, ia juga memberikan sedikit catatan dan penjelasan bahwa mungkin surat itu tidak ditulis langsung oleh tangan Paulus, tapi boleh jadi ditulis oleh seorang editor dari ide-ide Rasul Paulus. Artinya, semua hal yang dituliskan di dalam surat itu berasal dari Rasul Paulus; hanya saja, bahasa dan komposisinya merupakan karya seseorang yang lain yang menuliskan pemikiran-pemikian dan perkataan Rasul Paulus itu. Namun, akhirnya, Origenes sendiri tidak bisa mempertahankan pandangannya, sehingga ia pun berkata: “Nama sebenarnya dari penulis Ibrani hanya diketahui oleh Tuhan”.

Ada dua alasan atau keberatan mengapa Rasul Paulus bukan penulis dari ‘Surat kepada Orang Ibrani’: Pertama, gaya penulisan dari surat ini berbeda sekali dengan gaya penulisan yang biasa digunakan oleh Paulus. Paulus tentu saja mempunyai gaya penulisan yang khas, yang tidak kita temukan di dalam ‘Surat kepada Orang Ibrani’. Kedua, ada keterangan di dalam surat ini yang menyebutkan bahwa si penulis adalah orang yang menerima perkataan Kristus dari orang lain (Ibr. 2:3), padahal Paulus sendiri pernah mengaku sebagai saksi mata yang telah melihat Yesus secara langsung, dan dengan demikian memiliki status yang sama dengan rasul-rasul yang lain.

Maka, atas dasar berbagai pertimbangan, akhirnya para pakar modern sepakat bahwa memang tidak ada kepastian mengenai siapa penulis dari surat ini. Tapi yang jelas, penulisnya adalah seseorang yang sudah dikenal luas di kalangan penerima surat. Mereka kemudian mengambil kesimpulan bahwa besar kemungkinan penulisnya adalah seorang rasul atau seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan rasul-rasul. Kesimpulan itu ditarik dari ayat berikut: “Ketahuilah, bahwa Timotius, saudara kita, telah berangkat. Segera sesudah ia datang, aku akan mengunjungi kamu bersama-sama dengan dia” (bdk. Ibr. 13:23).

Dari judulnya saja kita dapat langsung tahu bahwa surat ini ditujukan kepada orang-orang Kristen yang berlatarbelakang Yahudi. Apalagi, dari isi suratnya kita juga dapat memastikan bahwa orang-orang yang mana surat ini ditulis, sangat dekat dengan keyahudian. Indikasi yang menunjukkan bahwa surat ini ditulis kepada orang Kristen berlatarbelakang Yahudi adalah adanya tekanan terhadap peran Yesus sebagai imam.

Penulis surat ini tampaknya berada di Italia. Hal itu kita ketahui dari adanya penggunaan frasa ‘dari Italia’ pada surat itu. “Sampaikanlah salam kepada semua pemimpin kamu dan semua orang kudus. Terimalah salam dari saudara-saudara di Italia” (Ibr. 13:24). Adanya penggunaan frasa itu juga menunjukkan kepada kita bahwa surat itu ditujukan kepada mereka yang berada di luar Italia, yaitu kepada mereka yang membutuhkan nasihat, bimbingan, dan penghiburan.

Seperti sudah disebutkan di atas bahwa ‘Surat kepada Orang Ibrani’ ditulis kepada para anggota Gereja yang berlatarbelakang Yahudi. Tujuannya untuk memberitahu mereka bahwa aspek-aspek penting dari hukum Musa telah digenapi di dalam Kristus; dan bahwa Injil Kristus telah menggantikan hukum Musa itu. Penulis surat ini berusaha mendorong pembacanya supaya tetap menaruh percaya pada Tuhan. Untuk itu, ia menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah pernyataan Tuhan yang sempurna.

Adapun garis besar dari isi surat Ibrani adalah sebagai berikut: Bab 1 dan 2 menjelaskan bahwa Yesus adalah Putra Allah yang dulu menciptakan dunia, kemudian melakukan penyucian dosa, dan akhirnya duduk di sebelah kanan Bapa. Juga mengajarkan bahwa Kristus lebih besar dari para malaikat. Bab 3–7 membandingkan antara Yesus dengan Musa dan dengan hukum Musa, serta bersaksi bahwa Dia lebih besar dari keduanya. Juga mengajarkan bahwa Imamat Kristus lebih tinggi daripada Harun.

Bab 8–9 menguraikan tentang bagaimana Musa mempersiapkan pelayanan Kristus; dan bagaimana Kristus telah datang sebagai seorang perantara perjanjian yang baru. Bab 10-13 menjelaskan tentang pentingnya iman sebagai dasar hidup setiap orang Kristen, ajakan agar umat tetap bertekun dalam iman, ajakan agar umat memelihara kasih persaudaraan, menedalan para pemimpin yang baik dan taat kepada mereka, doa dan beberapa catatan (yakni bahwa penulisnya akan mengunjungi umat Ibrani), dan penutup.

Katolik Menjawab: Tak Ada Makanan yang Haram

4
TheAngryTeddy / Pixabay

Kitab Suci Perjanjian Lama menyebut deretan binatang yang haram dan halal. Pengaturan ini bermula dari peristiwa air bah, yaitu ketika Nuh diperintahkan oleh Tuhan supaya memasukkan ke dalam bahtera yang dibuatnya segala binatang yang halal dan binatang yang haram; dengan perbandingan tujuh berbanding satu. Tujuh pasang binatang halal, dan satu pasang binatang haram. Berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: “Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya” (Kej. 7:1-2).

Petunjuk mengenai binatang yang halal dan haram dalam Kitab Kejadian ini menentukan mana binatang-binatang yang boleh dimakan dan mana yang tidak. Tuhan bersabda: “Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau” (Kej. 9:3).

Adapun informasi tentang binatang yang tidak boleh dimakan didaftar secara rinci berdasarkan tempat hidupnya. Binatang haram yang hidup di darat (Im. 11:1-8): unta, pelanduk, kelinci, dan babi hutan; di laut (Im. 11:9-12): segala yang tidak bersirip atau bersisik di dalam lautan dan di dalam sungai, dari segala yang berkeriapan di dalam air dan dari segala makhluk hidup yang ada di dalam air; di udara (Im. 11:13-19): burung rajawali, ering janggut dan elang laut, elang merah dan elang hitam menurut jenisnya, setiap burung gagak menurut jenisnya, burung unta, burung hantu, camar dan elang sikap menurut jenisnya, burung pungguk, burung dendang air dan burung hantu besar, burung hantu putih, burung undan, burung ering, burung ranggung, bangau menurut jenisnya, meragai dan kelelawar; dan yang terdapat di ketiganya (Im. 11:20-29): tikus buta, tikus, katak menurut jenisnya, landak, biawak, bengkarung, siput dan bunglon.

Itulah hukum tentang binatang berkaki empat, burung-burung dan segala makhluk hidup yang bergerak di dalam air dan segala makhluk yang mengeriap di atas bumi. Hukum ini dibuat untuk membedakan antara binatang yang boleh dimakan dengan binatang yang tidak boleh dimakan. Namun, jika kita cermati, tampaknya tidak ada alasan yang jelas mengapa jenis binatang tertentu disebut haram dan yang lain tidak. Boleh jadi, pada kurun waktu tertentu, binatang-binatang itu mengandung virus tertentu sehingga kalau dimakan oleh manusia, maka virusnya bisa menular kapada manusia yang ujung-ujungnya bisa menyebabkan manusia jatuh sakit atau bahkan meninggal dunia.

[postingan number=3 tag= “patung”]

Kita bisa bandingkan, misalnya, dengan kasus flu burung. Banyak ayam, burung, dan jenis unggas lainnya dimusnahkan karena ditengarai mengandung virus mematikan; sehingga pernah ada larangan memakan daging ayam, meskipun ayam bukanlah binatang yang haram. Nah, seandainya saja kasus flu burung ini terjadi pada zaman dahulu kala, yakni ribuan tahun yang lalu, bukan tidak mungkin ayam juga pasti  diharamkan. Hal tersebut disebabkan karena cara berpikir orang zaman dulu sederhana: daripada yang menyantap bisa mati, maka cara terbaik untuk mencegahnya adalah dengan mengharamkannya.

Maka dasar untuk mengatakan suatu makanan haram atau tidak haram adalah dari segi kebersihan atau kesehatan, rasa enggan secara natural, pada tingkat tertentu pertimbangan religius, atau karena binatang-binatang tertentu mempunyai konotasi berhala ataupun tahyul. Pengertian binatang haram yang diterima pada saat itu salah satunya adalah yang berkuku belah, bersela panjang, tidak memamah biak (lih. Im 11:7, Ul 14:8), namun juga termasuk ikan yang tidak mempunyai sirip atau sisik (Im. 11:7-9), burung pemangsa (Im. 11:13-19), serangga yang bersayap (Im. 11:20-23), dan binatang reptilia (Im. 11:29-38).

Namun, jika kita telisik lebih jauh, perihal larangan memakan makanan tertentu sebenarnya erat kaitannya dengan hukum pentahiran atau pemurnian bangsa Israel. Dalam Kitab Imamat, hal ‘haram’  itu tidak hanya menyangkut makanan, tetapi juga soal keadaan seseorang yang karena perbuatan tertentu yang belum tentu perbuatan dosa, tidak dapat datang kepada Tuhan. Dengan demikian, ‘haram’ atau uncleanness, pada umumnya bersifat eksternal, tidak selalu berkaitan dengan pelanggaran hukum moral; sehingga penghapusan keharaman tersebut juga merupakan sebuah upacara eksternal yang mengembalikan keadaan orang tersebut ke kondisi sebelumnya.

Maka kita melihat di sini bahwa ternyata larangan untuk memakan makanan yang haram tersebut berkaitan dengan maksud Allah untuk mengkuduskan umat-Nya. Tuhan bersabda: “Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi. Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus” (Im. 11:44-45).

Istilah ‘haram’ atau ‘halal’ rupanya dapat kita temui juga di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Yesus pernah mengecam orang-orang Farisi karena mereka sibuk mengurusi soal halal dan haram. Yesus bersabda: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran” (Mat. 23:27).

Yesus mengajarkan bahwa setelah kedatangan-Nya ke dunia, Dialah yang menjadi jalan untuk mencapai kekudusan; dan bukannya melalui segala hukum pemurnian tersebut. Artinya, jika seseorang ingin menjadi kudus dan murni, maka jalannya tidak lagi dengan menghindari makanan yang dianggap haram, melainkan dengan cara menyambut Kristus, sang Roti Hidup (Yoh. 6:25-59) yang menjadi santapan rohani, ‘jalan’ yang mengantar kita kepada Allah Bapa (lih. Yoh. 14:6). Hal ini kita terima pada saat menyambut Kristus dalam Sabda Allah dan terutama di dalam Ekaristi.

Itulah sebabnya Yesus memberikan satu perintah yang sangat tegas, kata-Nya: “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang. Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran yang jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang” (Mat 15:11, 18-20).

Bagi Yesus, makanan itu bukanlah sesuatu yang buruk. Yang buruk adalah apa yang keluar dari hati manusia sebab dari sana lahir iri dengki, benci, amarah, dendam, dan sebagainya. Penjelasan atas perkataan Yesus ini sederhana sekali. Makanan yang kita santap akan masuk ke perut, dan pada akhirnya dibuang ke jamban. Tetapi kata-kata yang keluar dari hati akan masuk ke dalam hati orang dan memberi pengaruh terhadap orang itu. Nah, jika perkataan kita itu dilandasi oleh kebencian dan amarah, maka bukan tidak mungkin akan membakar hati orang, sehingga membuat orang lain terluka dan trauma. Hal ini tentu saja lebih buruk daripada menyantap makanan yang efek buruknya hanyalah sering ke jamban.

Spiritualitas Sakramen Tobat: Kembali menjadi suci dan layak di hadapan Allah

0
Hans / Pixabay

Dewasa ini masih banyak orang Katolik yang tidak memahami apa arti dari Sakramen Tobat ini. Allah melalui Sang Putra yang diperkuat lagi oleh Roh Kudus telah memberikan kepada Gereja-Nya yang kudus 7 Sakramen dan salah satunya adalah Sakramen Tobat. Santo Ambrosius mengatakan bahwa dosa diampuni melalui Roh Kudus, namun manusia memakai para pelayan Tuhan (imam) untuk mengampuni dosa. Para pelayan Tuhan tersebut tidak menggunakan kekuatan mereka sendiri; mereka mengampuni dosa bukan atas nama mereka, tetapi atas nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Mereka meminta, dan Tuhan memberikannya.

Gereja Katolik memandang Sakramen Tobat yang bisa juga disebut sebagai Sakramen Rekonsiliasi sebagai jalan bagi seorang pendosa agar bisa terhindar dari siksa dosa abadi. Di dalam Sakramen Tobat ini juga terkandung Rahmat Kerahiman Ilahi yang bisa benar-benar kita rasakan apabila kita sadar bahwa kita benar-benar membutuhkan Sakramen Tobat ini.

[postingan number= 3 tag= “agama-katolik”]

Berikut ini sedikit saya uraikan mengenai apa saja ELEMEN-ELEMEN dalam Sakramen Tobat.

  1. Penyesalan : Kitab Mazmur berkata, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19). Kita harus benar-benar menyesal akan dosa-dosa kita agar pertobatan kita sempurna.
  2. Pengakuan dosa : Pengakuan dosa di hadapan Imam ini adalah elemen yang krusial bagi para peniten. Karena disinilah kita mengakui dosa-dosa kita di hadaan Allah. Sebelum melakukan Sakramen Tobat, kunci yang paling penting adalah kita harus mengingat 10 PERINTAH ALLAH yang ada di dalam Kitab Keluaran Bab 20 maupun Kitab Ulangan Bab 5.
  3. Pengampunan dosa : Saat Imam memberikan berkat sembari mengatakan, ” Saya melepaskanmu dari dosa-dosamu…”
  4. Penyilihan atau Penitensi : Setelah Imam memberikan absolusi, maka peniten akan diberi Penitensi baik itu berupa doa maupun derma sebagai bentuk penyilihan atas dosa-dosa. Penitensi yang diberikan ini, memperimbangkan keadaan pribadi peniten dan melayani kepentingan rohaninya.

Setelah saya jelaskan mengenai elemen-elemennya, saya akan menjelaskan apa MANFAAT dari Sakramen Tobat. Manfaatnya antara lain:

  • pembebasan dari hukuman kekal (siksa dosa abadi) yang disebabkan oleh dosa berat
  • pembebasan, setidaknya sebagian, dari siksa dosa sementara yang disebabkan oleh dosa
  • perdamaian (rekonsiliasi) dengan Gereja dan Allah, di mana peniten memperoleh kembali rahmat yang sebelumnya hilang akibat dosa
  • kedamaian dan ketenangan batin, serta hiburan rohani (konsolasi)
  • meningkatkan kekuatan spiritual dalam perjuangan sebagai seorang Kristiani (salah satunya yaitu tambahan kekuatan untuk menolak godaan berbuat dosa)

PELAYAN SAKRAMEN

Pelayan yang sah yaitu Imam

Pelayanan antar Gereja[sunting | sunting sumber]

Kitab Hukum Kanonik mengatur mengenai penerimaan Sakramen Rekonsiliasi antar Gereja, di mana seorang pelayan Katolik dapat menerimakan sakramen ini kepada peniten dari:[7]:844[8]:991

Praktik penerimaan

Gereja Katolik tidak mengatur praktik penerimaan Sakramen Tobat ini secara baku. Bagi Gereja yang paling penting adalah elemen-elemen yang tadi sudah disebutkan tadi. Biasanya di dalam Ruang Pengakuan itu sudah disediakan teks Sakramen Tobat terutama untuk Pengakuan Dosa yang terjadwal seperti Masa Adven atau Masa Prapaskah.

Frekuensi penerimaan

Isi dari 5 Perintah Gereja yang keempat adalah “Mengaku dosalah sekurang-kurangnya sekali setahun”

Demikian Katakese Sakramen Tobat yang saya sampaikan hari ini. Semoga semakin banyak orang Katolik yang datang dan semakin dekat kepada Allah dengan menerima Sakramen Tobat. Amin

Sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Sakramen_Tobat_(Gereja_Katolik)

Katolik Menjawab: Tak Ada Kewajiban Bersunat dalam Gereja Katolik

1
Free-Photos / Pixabay

Banyak orang bertanya: jika Yesus disunat, mengapa orang Katolik tidak disunat? Menurut mereka semua itu gara-gara Paulus yang tidak mewajibkan sunat, sebab Paulus pernah menuliskan: “Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:2). “Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah” (1 Kor. 7:18-19).

[postingan number=3 tag= “iman-katolik”]

Kita mesti secara obyektif melihat di sini bahwa Yesus disunat karena pengaruh tradisi Yahudi, sebab Ia dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Tentu saja, sebagai orang Yahudi, orang tua Yesus tunduk pada ‘tanda perjanjian’ yang dibuat antara Allah dan Abraham yaitu sunat (Kejadian 17:11). Maka, kita dapat mengatakan bahwa Yesus dilahirkan dari yang takluk pada hukum Taurat, untuk kemudian membebaskan mereka yang takluk kepada hukum Taurat.

Allah membuat perjanjian dengan Abraham. Perjanjian itu ditandai dengan sunat. Allah bersabda: “Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku” (Kej. 17:10-14).

Itulah asal mula perintah berkhitan (sunat).  Perintah Allah tersebut sangat jelas dan tegas. Bahkan sanksinya sangat berat bagi yang tidak berkhitan. Ancamannya hukuman mati. Ini membuktikan bahwa bersunat hukumnya bukan pilihan tapi wajib. Perintah Allah tersebut berlaku turun temurun dan merupakan perjanjian yang kekal.

Abraham menerima perjanjian dari Allah itu. Maka diadakannyalah sunat massal. Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya. Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya. Dan Ismael, anaknya, berumur tiga belas tahun ketika dikerat kulit khatannya. Pada hari itu juga Abraham dan Ismael, anaknya, disunat. Dan semua orang dari isi rumah Abraham, baik yang lahir di rumahnya, maupun yang dibeli dengan uang dari orang asing, disunat bersama-sama dengan dia (Kej. 17:23-27).

Tradisi sunat ini dilanjutkan pada zaman Nabi Musa (lih. Im. 12:3, Kel. 12:48), Yoshua (Yos. 5:2) dan tradisi ini dilaksanakan seterusnya sampai pada zaman Yudas Makabe (167-160 BC) meskipun di tengah tekanan para penguasa (lih. 2 Mak 6:10); dan sampai juga ke zaman Yesus Kristus. Alkitab mencatat bahwa ketika Yesus genap berumur 8 hari, Bunda Maria dan St. Yusuf membawa-Nya ke Bait Allah untuk disunat dan diberi nama Yesus (lih. Luk 2:21).

Kalau demikian, apakah kita harus disunat? Jawabannya: TIDAK. Kita sudah melihat bahwa perintah untuk sunat erat kaitannya dengan Taurat. Nah, bagi kita, berdasarkan omongan dari Yesus sendiri, TAURAT telah berakhir pada zaman Yohanes Pembaptis. Yesus bersabda: “Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya” (Luk. 16:16). Kita juga melihat serupa dalam Injil Mat. 11:13 yang bunyinya “Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes”. Dengan demikian, kita mengerti bahwa TAURAT dan Nubuat-nubuat para nabi dalam Perjanjian Lama berakhir pada saat tampilnya Nabi Terbesar, yaitu Yohanes Pembaptis.

Yesus datang untuk menggenapi Hukum Taurat. “Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera” (Ef. 2:15).

St. Thomas dalam ST, III, q.37, a. 1 menjabarkan bahwa dengan disunat, Kristus ingin membuktikan bahwa Dia sungguh-sungguh mempunyai kodrat manusia. Juga, untuk memberikan persetujuan bahwa tanda perjanjian yang diberikan oleh Allah dalam Perjanjian Lama adalah sah. Kristus sebagai keturunan Abraham – yang telah menerima perintah Tuhan bahwa sunat adalah tanda perjanjian dan ungkapan iman (lih. Kej 17:10) – juga disunat. Karena Kristus disunat, maka bangsa Yahudi tidak mempunyai alasan untuk tidak menerima Kristus. Kristus juga ingin menunjukkan bahwa ketaatan untuk menjalankan perintah Tuhan sesungguhnya sangatlah penting, sehingga Dia disunat pada hari ke-delapan (lih. Luk 2:21; bdk. Im 12:3).  Dengan mengambil dan menjalankan sunat, maka Kristus dapat membebaskan manusia dari hukum ini dan memberikan hukum yang lebih sempurna (lih. Gal 4:4-5) – yaitu sunat secara rohani.

Sebenarnya apa yang ingin ditekankan oleh Yesus di sini adalah dimensi spiritual dari ‘sunat’ seperti yang sebelumnya telah diajarkan juga di dalam Perjanjian Lama, yaitu bahwa yang terlebih utama adalah sunat hati atau rohani (Ul 10:16 dan 30:6, Yer 4:4, 9:25-26). Seperti juga Yesus mengajarkan bahwa yang terpenting bukan apa yang terlihat dari luar, tetapi apa yang ada di dalam hati; bukan menerapkan hukum supaya terlihat baik dari luar, namun agar kita melakukan keadilan, belas kasihan dan kesetiaan (lih. Mat 23:5, 23).

Jadi, kita tetap bersunat, tetapi bukan sunat lahiriah semata, melainkan sunat rohani. Sunat adalah tanda perjanjian Allah dengan umat-Nya untuk mendapatkan berkat-berkat yang dijanjikan-Nya. Karena itu kita harus mengalami pembaharuan karakter dalam diri kita. Kita harus mengalami sunat hati, sunat telinga dan sunat roh untuk dapat menjadi taat dan memperoleh berkat.

Panasnya Kursi Pengadilan Pilatus

0
Daniel_B_photos / Pixabay

Kaum Farisi dan Saduki menuduh Yesus sebagai penista agama dan penghujat Allah. Mereka menghasut rakyat agar mendukung rencana licik mereka untuk membelenggu Yesus. Rakyat yang tergolong minim pengetahuan dan mudah terprovokasi pun menghendaki Yesus dihukum mati.

[postingan number=3 tag= ‘salib’]

Seketika teriakkan ‘Hosana’ berubah menjadi ‘Salibkan dia.’ Pengadilan Pilatus tidak dapat menjamin hak asasi manusia. Meskipun ia tidak menemukan kesalahan dari tindakan Yesus, namun ia terprovokasi pula karena pengaruh kaum Farisi dan Saduki serta rakyat.

Pilatus terpaksa memberikan pilihan kepada mereka. Dalam tahanan ada seorang bernama Barabas yang dipenjara karena pemberontakan. Ia berharap Yesus, seorang rabbi bijaksana akan terbebas.

Namun pilihan tersebut menjadi bumerang bagi Pilatus. Rakyat menghendaki Barabas, seorang penjahat sebagai jawara yang harus dibebaskan. Yesus, sang bijaksana dibelenggu karena rasa dengki. Barabas dipilih karena rakyat lebih menghendaki kebusukan dan kejahatan.

Rakyat pada kisah itu adalah kita. Kita yang sering menghakimi sesama, kita yang sering berlaku tidak adil, kita yang sering menyebarkan kebencian, dan kita yang merendahkan harkat dan martabat sesama.

Mari sejenak kita memeriksa diri kita, benarkah kita telah bertindak sesuai tuntutan Yesus, sang guru? Atau selama ini, kita justru sering mengikuti tindakan kaum Farisi dan Saduki?.

Berbuat Baik kepada Sesama Manusia termasuk dalam Penerapan Ajaran Agama

0
willian_2000 / Pixabay

Manusia memilih beragama supaya mampu hidup dalam damai dengan sesama dan semua ciptaan; sebab dalam agama diatur norma-norma tertentu sehingga seseorang dituntut untuk melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.

[postingan number=3 tag= “agama-katolik”]

Tentu Anda dan saya patut berbangga karena Indonesia, termasuk negara dengan populasi penduduknya memeluk suatu agama, bukan? Ya saya bangga. Orang-orang beragama di Indonesia sangat rajin beribadah. Namun, terkadang, semangat untuk beribadah mengalahkan semangat untuk mengamalkannya.

Miris memang, di negeri ini agama lebih sering digunakan sebagai kedok untuk menyembunyikan kemunafikan dan kebusukan. Bahkan, tidak jarang agama dijadikan sebagai alat untuk membenci dan membunuh sesama.

Tidak hanya itu, agama bahkan juga ‘diperkosa’ demi menjatuhkan lawan politik. Ayat-ayat ‘suci’ agama menjadi mantra kebencian, melebihi ayat-ayat ‘setan’. Ya, kita bisa saksikan sendiri dalam setiap perhelatan politik di tanah air.

Anehnya, sebagian dari kita suka sekali menuduh negara lain sebagai negara atheis atau kafir. Padahal, negara yang kita cap sebagai kafir dan atheis itu lebih agamis tindakannya daripada kita yang menganggap diri paling ‘agamis’ ini.

Kita seringkali lupa bahwa orang-orang di negara yang kita cap sebagai atheis dan kafir itu justru mempunyai jasa besar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Dan hasilnya dinikmati oleh semua orang, tidak terkecuali kita yang menuduh mereka sebagai kafir dan atheis.

Di negeri ini, agama dan kemunafikan masih melekat dalam satu paket, sehingga banyak orang menjadi ‘tuhan’ atas dirinya sendiri dan atas sesamanya. Makanya tidak heran jika salah satu filsuf pernah mengatakan bahwa ‘agama adalah candu bagi masyarakat’.

Dalam konteks tertentu pendapat sang filsuf itu benar adanya; terutama berkaitan dengan orang-orang yang memperkosa agama demi kekuasaan. Akibatnya, bermunculan orang yang hanya pintar ngomong tapi tindakan nol besar. Padahal, sejatinya, berbuat baik terhadap sesama manusia termasuk dalam penerapan ajaran agama.

Spiritualitas Pemimpin Kristiani

0
Tumisu / Pixabay

Kisah pembasuhan kaki para murid yang dilakukan oleh Yesus merupakan kisah populer. Setiap perayaan Kamis Putih dibacakan, sekaligus dipraktekkan sebagaimana perintah Yesus sendiri.

[postingan number=3 tag= ‘salib’]

Tindakan simbolis pembasuhan kaki yang dipraktekkan memiliki makna. Tidak hanya sebagai simbol, melainkan suatu ajakan untuk melakukan tindakan nyata. Injil yang biasa dibacakan pada perayaan Kamis Putih adalah Yohanes 13:1-17. Perikop ini setidaknya mempunyai beberapa makna yang dapat menjadi tuntunan bagi umat beriman antara lain:

Pertama, tindakan Yesus yang menanggalkan jubah merupakan tindakan menanggalkan kekuasaan, hormat dan keagungan. Yesus menanggalkan kekuasaan, hormat dan keagungan untuk menyelamatkan manusia. Tindakan yang dilakukan Yesus hendak menyadarkan kita untuk menanggalkan jubah kekuasaan yang kita miliki dan bersedia menjadi pelayan. Menanggalkan segala pernak-pernik dan sekat-sekat yang menghalangi umat beriman dalam melaksanakan pelayanan demi harkat dan martabat manusia. Selain itu, Yesus hendak menunjukkan pula bahwa kekuasaan itu bersifat sementara, sedangkan tindakan pelayanan terhadap sesama bersifat baka.

Kedua, Yesus mengikat pinggang dengan sehelai kain lenan. Tindakan Yesus yang mengikat pinggang-Nya merupakan tindakan mengikat ego, ambisi, dan ke-aku-an. Yesus tidak lagi berpusat pada diri-Nya sendiri (ke-aku-an) melainkan ia menjadi roti/hosti dan anggur yang dibagikan dan dipecahkan untuk semua orang. Dengan demikian, Yesus hendak mengajak umat beriman untuk menjadi berkat bagi semua orang, seperti roti/hosti dan anggur (tubuh dan darahnya) yang dibagikan.

Ketiga, Yesus membasuh kaki para murid. Membasuh kaki merupakan pekerjaan seorang hamba, Oleh sebab itu tidak heran jika Petrus menolak dengan memberikan pertanyaan. Namun Yesus ‘melawan arus’ pengertian duniawi tentang pekerjaan seorang hamba. Yesus justru mengatakan bahwa ‘barangsiapa yang terbesar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu/hamba’. Oleh sebab itu, seorang pemimpin diajak untuk menjadi hamba dan pelayan bagi semua orang. Pemimpin harus memiliki spiritualitas ‘turun’ dari singgasana dan menjadi pelayan bagi semua.

Keempat, bersyukur. Petrus meminta agar Yesus membasuh tangan dan kepalanya. Tindakan tersebut merupakan tanggapan atas ketidaktahuan Petrus tentang makna dari tindakan Yesus. Sesungguhnya Yesus hendak mengajak Petrus untuk menyelami makna terdalam dari tindakan-Nya. Tetapi Petrus malah salah kaprah sehingga ia meminta agar Yesus membasuh kepala dan tangannya. Umat beriman diajak untuk bersyukur atas keselamatan yang telah diberikan oleh Yesus melalui tindakan dan karya-Nya. Selain itu, umat beriman diajak agar menyelami makna dari setiap peristiwa hidupnya. Yesus mengetahui diri kita seutuhnya, tanpa kita ‘menggurui’ Tuhan dalam doa-doa dan permohonan kita.

Kelima, Meneladani Yesus. Yesus  mengajak pengikutnya untuk menjadi pemimpin yang melayani, rendah hati dan murah hati seperti diri-Nya sendiri.

Yesus, tukang kayu dari Nazaret

0
OpenClipart-Vectors / Pixabay

Yesus nama akrabnya, dikenal sebagai tukang kayu yang ditolak oleh masyarakatnya sendiri. Penolakan dari masyarakatnya telah terjadi sejak ia dalam kandungan ibu-Nya. Ia ditolak oleh penguasa-penguasa yang haus kekuasaan.

Tukang kayu nan tampan ini dikenal sebagai seorang bijak, sehingga ia mempunyai pengaruh yang tak terbendung siapapun. Meskipun tukang kayu dan berasal dari masyarakat ekonomi lemah, namun ia diperhitungkan sebagai ancaman oleh penguasa lalim.

Tukang kayu dari Nazaret ini mempunyai pengaruh bukan karena pangkat dan jabatan, bukan pula karena ia mempunyai kekuasaan untuk membelenggu sesama. Ia disegani karena kebijaksanaanNya, pula karena ia selalu berkata jujur dan tulus melayani. Ia datang bukan untuk dilayani, ia datang melayani secara total, berkorban secara total sampai  nyawa taruhannya.

Tukang kayu berambut panjang ini dikenang sepanjang masa. Ia dikenang karena tindakannya melawan arus dunia yang cenderung rakus, haus, dan menghalalkan segala demi meraih kekuasaan. Ia menunjukkan bahwa pemimpin sejati bergerak dari atas dan ‘turun’ untuk merasakan dan mengalami penderitaan masyarakat.

Tukang kayu yang dilahirkan dari kuasa Roh Kudus ini disanjung, bukan karena ia seorang raja yang memimpin orang di medan perang. Ia disanjung karena keteguhannya memegang kebenaran, melawan kebatilan. Tidak ada kata-kata dusta dimulutnya, apalagi kata-kata penghakiman kepada orang lain. Ia mengasihi semua orang tanpa pamrih. Ia disanjung karena tidak gentar melawan kelaliman. Ia membebaskan mereka yang ditawan dan dibelenggu oleh dosa. Ia datang sebagai pembaharu dan pembebas. Tukang kayu dari Nazaret ini juga dikenal sebagai sumber perbantahan sepanjang masa-kata simeon. Banyak orang telah menghabiskan waktu dan tenaganya untuk mengungkap siapa sebenarnya si ‘tukang kayu’ yang fenomenal ini.

Kini, tukang kayu dari Nazaret itu dikenang kematianNya karena membela harkat dan martabat manusia.

Selamat Merayakan Jum’at Agung

 

Kita Dikagumi karena Pelayanan

0
Gambar ilustrasi oleh sabineoesterlin / Pixabay
    • (Renungan RD. Polce Lewar dalam misa Kamis Putih di Komunitas Semanari Tinggi Interdiosesa St.Petrus Ritapiret, 18/042019)

Bapa, ibu, saudara-saudariku sekalian yang terkasih dalam Tuhan.
Hari Kamis putih merupakan hari penuh syukur sebab kita diajak untuk merayakan kenangan akan Yesus yang makan bersama para murid dalam kelompok keduabelasan. Sebuah acara makan bersama untuk yang terakhir kalinya, maka gereja pun layak menamakan malam makan bersama ini, sebagai Malam Perjamuan Terakhir. Apa yang dilukiskan oleh Penginjil Yohanes dalam bacaan tadi, sebenarnya mengacu pada adat kebiasaan orang-orang Yahudi. Nenek moyang mereka, selalu merayakan upacara persembahan anak domba untuk menghalau roh-roh jahat dan menghapus dosa-dosa anggota keluarga.

Dalam perkembangan selanjutnya, setelah mengalami ziarah pembebasan dari perbudakan di Mesir, korban anak domba dan upacara makan roti tak beragi, lebih dilihat sebagai upacara kenangan akan pembebasan dari perbudakan, dan akan perjanjian Tuhan yang bersifat kekal. Yesus pada malam perjamuan akhir, juga melakukan hal yang sama. Ada roti dan anggur sebagai santapan bagi para murid. Akan tetapi, walaupun tujuan dari makan bersama kali ini adalah untuk mengenangkan peristiwa keselamatan yang dilaksanakan Allah bagi manusia, namun Yesus sungguh menyadari bahwa anak domba yang akan dikorbankan, tidaklah lagi pada domba-domba piaraan melainkan diriNya sendiri. Maka pantaslah kepada para muridNya, Ia berujar: “ambillah dan makanlah, inilah tubuhKu,… Minumlah kamu semua dari cawan ini sebab inilah darahKu” (Mat 26 : 26-29).

Yesus menunjukkan identitas kemesiasanNya yang datang melayani manusia yang berdosa agar memperoleh pengampunan dan pembebasan. Dan Yesus, pada malam perjamuan akhir, sungguh menjadikan diriNya sebagai seorang Hamba, seorang pelayan. Saat hendak membasuh kaki para murid, Petrus yang sungguh mengenal adat kebiasaan Yahudi, lantas berujar heran: “Tuhan, Engkau hendak membasuh Kakiku ?” Petrus pantas heran sebab pekerjaan membasuh kaki merupakan tindakan yang dianggap hina. Bahwasannya tindakan membasuh kaki cumalah pekerjaan kotor dari para hamba sahaya, kepada seorang majikan. Yesus bukannya tidak tahu, apa yang menjadi adat kebiasaan orang-orang Yahudi. Yesus bukannya tidak tahu bahwa pekerjaan yang Ia lakukan merupakan pekerjaan kotor dari orang-orang hina di masyarakat.

[postingan number=3 tag=”tuhan-yesus”]

Bagi Yesus, tindakan membasuh kaki adalah sebuah ajaran, sekaligus merupakan pertanggungjawaban dari apa yang pernah disabdakanNya : “Aku datang untuk melayani bukan untuk dilayani’. Di sini, Yesus menunjukkan tanggung diri-Nya sebagai seorang Hamba yang rela melayani sampai total, dengan tulus iklas tanpa pamrih, biar pekerjaan itu dianggap hina dan kotor sekalipun.

Malam ini kita merayakan malam perjamuan terakhir, maka sebenarnya kita diajak untuk menjadi pelayan bagi sesama. Kita melayani tanpa membeda-bedakan suku, martabat atau status sosial. Kini, banyak orang punya kedudukan dan nama besar dalam masyarakat namun sering menjadi cibiran orang sebab status yang terhormat dan kedudukan yang empuk tidak dipakai untuk melayani dan mengabdi kepada sesama. Kalau dalam bacaan tadi Yesus bilang : “Aku telah memberikan suatu teladan kepadamu, supaya kamu juga berbuat seperti yang telah Kuperbuat kepadamu”, maka kini kita diajak untuk melakukan karya melayani, mencinta dan mengasihi bagi orang-orang, dimana kaki kita berdiri dan ke mana mata kita memandang sebab tiada orang yang lebih dikagumi selain dia, yang karena karya-karya pelayanannya membuat orang berhutang budi kepadanya. Mudah-mudahan.