6.4 C
New York
Sunday, April 5, 2026
Home Blog Page 55

“Surat dari yang Tersalib”

0
TheDigitalArtist / Pixabay

Saudara, saudari-ku yang sedang berziarah…….
Rintik-rintik letih menjadi detik, yang sedikit lagi menjadi akhir dari cerita lama-Ku. Kehilangan.

Dalam ratap-Ku pada luka yang tak sempat dijamah, kalian malah menertawa-Ku,mencemohkan-Ku, mengejek-Ku. Sebab Aku hanya mampu bergantung pada kayu Salib sambil menahan sakit dari sisa-sisa bilur yang kalian berikan untuk-Ku pada musim yang hampir menua ini.

Aku sadar, mencintai kalian adalah luka bagi-Ku, sebab hatimu ada pada allah lain. Tapi, Aku tidak membenci kalian, sebab Aku tidak mau menuai tangisan Bapa-Ku yang di Surga karena ketidaksetiaan-Ku.

Kini, Aku terpaku dengan tangan terentang membatasi langit dan bumi, antara rentetan kebahagian dan pecahan dosa yang tertimbun.

Mengucapkan selamat tinggal pun tak sanggup Aku kalimatkan.Sebab mimpi telah mengajak-Ku untuk pulang, sebelum air mata itu menghujani diri kalian. Mungkin, hari terlampau jauh untuk diberi kabar, bahwa kemarin, Aku dan kalian harus melukis diri, sebelum cawan penderitaan dan kematian-Ku, Ku-ambil dari Bapa-Ku.

[postingan number=3 tag=”tuhan-yesus”]

Kepergian-Ku bersama dosa yang telah dihakimi adalah bukti bahwa Aku masih, akan, dan tetap mencintai kalian, walau diri-Ku tetap saja ditikam oleh air mata palsu itu. Oleh kebohongan kalian.

Dan kali ini, Aku kehilangan doamu, sebab wujudmu tak lagi bertuan hari itu. Aku tidak tahu, apakah kalian benar-benar lupa memberi sepucuk harap itu untuk-Ku, ataukah memang kalian tak sempat membuatnya.

Namun, mesti terus mendulang kepalsuan yang ke sekian kalinya, Aku akan selalu merindukan sajak itu, walau hanya sebait.

Kalian tahu? Sepotong bait bernoda telah menjadi salib yang kini jadi milik-Ku. Sendirian. Dan sekarang, Aku terpaku pada tubuhnya. Pada setiap dosa yang menangis minta pengampunan.

Darah dan keringat pun bersetubuh, membelai setiap luka yang sedang menganga. Tapi, dari sakit yang sedang merambah menjamah tubuh-Ku, ingatlah, bahwa pada ujung paku yang meruncing, ada dunia lain yang harus kalian hindari. Sebab di atasnya, darah sedang menangis. Aku yakin, kalian tahu maksud-Ku.

Dan juga sampaikan pesan-Ku ini pada diri kalian, bahwa Aku merindukan doa dan sujudmu, bukan air mata penyesalan tanpa aksi. Aku lelah. Selesailah sudah!!!!!!!

Salam dari sahabatmu yang engkau hina.

Yesus
(Renungan ini dibawakan oleh Fr. Niko Pukan, Frater Tahun Orientasi Rohani pada saat jalan Salib Jumat Agung di Komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan St. Peteus Ritapiret-Maumere, Jumat, 19 April 2019)

Tubuh Telanjang

0
MichaelGaida / Pixabay

Tubuh telanjang adalah renungan singkat perhentian ke-10 dalam jalan salib Jumat Agung yang dibawakan oleh Fr. Yonas Unarajan (Frater Tahun Orientasi Rohani) di Komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret-Maumere (Jumat, 19 April 2019)

Para Romo, para Suster, para Frater dan umat beriman yang terkasih dalam Kristus yang tersalib. Ketelanjangan Yesus karena kekejaman para Algojo, menarik kita untuk kembali sejenak merenungkan kejatuhan manusia pertama. Ular musuh yang begitu licik dan sekaligus begitu berbahaya dijadikan lambang penggoda manusia pertama. Ular lambang kejahatan.

[postingan number=3 tag=”tuhan-yesus”]

Manusia pertama tunduk tak berdaya dalam ketelanjangannya akibat dosa yang telah dibuatnya, berusaha menyemat daun ara untuk sejenak menatap Allah, di balik semak persembunyiannya karena malu. Keindahan manusia pertama tercopot habis.

Manusia pertama jatuh ke dalam lumpur dosa karena mengklaim dan ingin menobatkan dirinya sebagai dewa dan menggantikan Allah seperti halnya upacara kafir Palestina merupakan kelicikan ular. Aksi manusia pertama ini merupakan suatu bentuk reaksi kecurigaan manusia terhadap Kemahakuasaan Allah. Manusia menolak dan bahkan ingin melawan firman yang diucapkan Allah sang Pencipta. Dengan demikian, secara sadar manusia memutuskan relasinya dengan Allah, sang sumber keindahannya. Alhasil yang tampak adalah budaya kematian yang dihidupi manusia, bukan budaya kehidupan. Manusia akan menemukan duri dan derita bukan kesuburan penuh sukacita.

Ketelanjangan Yesus di muka umum karena kekejaman para Serdadu bengis mengajak kita untuk berani menanggalkan pakaian kemanusiaan lama kita yang penuh dengan noda dosa, terutama tegar tengkuk akan Firman Allah. Dengan menanggalkan kemanusiaan lama kita, kita akan dilahirkan kembali dengan air dan darah Yesus sendiri dan boleh didandani dengan anugrah Ilahi dan menatap Firdaus kembali, kesuburan penuh sukacita Paskah. Amin

Pengorbanan “Ine Pare”

0

Dalam menyongsong pesta paskah, Panitia Paskah 2019 Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret menyelenggarakan pementasan aktus paskah dengan tema “Ine Pare” (Selasa, 16/04/2019). Pementasan aktus paskah ini dimulai tepat pada pukul 20.15, hingga berakhir pada pukul 21.30, dan bertempat di Aula St. Petrus Ritapiret.

[postingan numbe=3 tag=”agama-katolik”]

Yang turut hadir menyaksikan pementasan aktus Paskah ini adalah semua warga Komunitas Ritapiret, biarawan-biarawati yang berdomisili di sekitar kompleks Ritapiret, dan juga umat di sekitar lingkungan Ritapiret.

Fr. Yansen Paji yang menjadi sutradara dalam pementasan aktus ini mengisahkan bahwa narasi dalam aktus Paskah tahun 2019 ini merupakan ceritra mitologis dari wilayah Ende-Lio tentang awal mula keberadaan bibit padi (pare). Pengorbanan Mbu yang diperankan oleh Saudari Erin (seorang mahasiswi STFK Ledalero) di tanah Kelikoja untuk menyelamatkan masyarakat Kelisamba dari bencana kelaparan, disandingkan dengan pengorbanan Yesus yang berani menyerahkan diri-Nya untuk menyelamatkan umat manusia. Mbu berani menyerahkan dirinya secara total dan mengorbankan dirinya untuk dipersembahkan kepada masyarakat Kelisamba yang menderita kelaparan. Diceritrakan bahwa bibit padi hanya bisa bertumbuh dan berkembang, sehingga bisa menyelamatkan masyarakat Kelisamba dari kelaparan, jika Mbu dibunuh sebagai persembahan. Pengorbanan Mbu yang dengan gagah berani mempersembahkan dirinya untuk menyelamatkan masyarakat dari kelaparan, mengingatkan para penonton aktus yang hadir akan kisah pengorbanan Yesus yang tersalib di bukit Golgota. Yesus mempersembahkan diri-Nya untuk mengangkat kembali derajat manusia yang telah berdosa.

Fr. Kristo Selamat yang turut hadir menyaksikan aktus ini memberikan apresiasi kepada panitia Paskah yang telah berhasil mementaskan aktus paskah 2019. “Saya secara pribadi memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada Panitia Paskah 2019 yang telah menyukseskan pementasan aktus paskah 2019 ini. Menurut saya, adegan yang paling apik dan elegan dalam pementasan aktus Ine Pare malam hari ini adalah pertama, pertengkaran kakak beradik tentang niat pengorbanan saudari Mbu yang diperankan oleh Erin. Kedua, aksi pembunuhan yang dilakukan oleh sang kakak terhadap saudarinya yang darahnya dipersembahkan kepada masyarakat Kelisamba. Ketiga, si kakak membagi padi sambil tertunduk dan menangis. Ia menyembunyikan rasa sesalnya yang mendalam dan kengerian cara kerja roh, ungkap Fr. Kristo Selamat yang akan ditahbiskan menjadi Diakon pada 9 Juni nanti.

Aktus yang ditampilkan secara sederhana, klasik, dan khidmat ini berhasil menghipnotis dan mengantar para penonton yang hadir ke dalam refleksi kisah sengsara Yesus yang mati tersalib. Para aktor utama Fr. Handri Hambur, dkk. berhasil menguasai panggung dan memainkan adegan-adegan kunci secara sempurna yang membuat penonton semakin memahami alur cerita dengan pasti.

Aktus yang berdurasi satu jam lima belas menit ini berakhir tepat pukul 21.30 dan ditutup dengan doa dan berkat penutup dari RD. Polce Lewar selaku moderator panitia paskah 2019 (Anchik Sabar).

Katolik Menjawab: Orang Katolik Tidak Menghormati apalagi Menyembah Patung

0
Couleur / Pixabay

Kita sudah melihat pada postingan sebelumnya bahwa Tuhan tidak melarang semua jenis patung. Ia sendiri bahkan pernah dua kali menyuruh Musa membuatkan patung: yaitu patung kerub dari emas tempaan dan patung ular dari tembaga. Itu berarti, jika patung itu dibuat untuk tujuan peribadatan, maka bukan hanya diperbolehkan, tetapi bahkan diperintahkan pembuatannya oleh Tuhan.

Demikianlah yang terjadi di dalam Gereja Katolik, patung-patung dibuat hanya untuk membantu umat mengarahkan hati kepada Allah dan bukannya menjadi ‘saingan’ Allah. Dengan demikian, sebenarnya menjadi sangat jelas bahwa baik umat Katolik maupun umat lainnya hanya memuja Tuhan yang satu dan sama, dan sama-sama menentang penyembahan patung berhala.

Hal ini juga menandakan bahwa segala anggapan yang mengatakan bahwa orang-orang Katolik menyembah ‘patung’ hanya karena mereka memiliki patung Yesus, patung Maria, dan patung santo-santa sangatlah tidak tepat sebab orang Katolik tidak menghormati apalagi menyembah patung, tetapi menghormati pribadi yang digambarkan di dalam patung itu.

[postingan number=3 tag=”patung”]

Perlu diketahui, orang Katolik tidak menyembah patung, juga tidak menghormatinya. Bukan patungnya, tapi dia yang digambarkan lewat patung itulah yang disembah (Yesus) dan dihormati (santo-santa). Bahwasanya Anda melihat orang Katolik membungkuk di depan patung, berdoa di depan patung, atau berlutut di depan patung, itu ekspresi dalam berdoa saja. Sama halnya ketika ibu kita menangis di depan foto anaknya tatkala anaknya itu sudah lama tidak pulang ke rumah, apakah dia menangisi fotonya? Tidak kan? Dia menangisi anaknya yang ada di seberang sana. Demikianlah juga dengan orang Katolik. Bukan patungnya atau gambarnya, tapi sosok di balik patung dan gambar itu, dialah yang kita sembah (Tuhan) dan hormati (santo-santa).

Sekali lagi, dalam Gereja Katolik, patung tidak dibuat untuk disembah, melainkan sebagai benda rohani. Kalaupun umat Katolik berdoa di depan patung atau mencium salib Yesus, itu sama sekali tidak bermaksud untuk menyembah patung atau salibnya. Yang disembah adalah Dia yang berada di balik patung itu. Patung hanya sebagai sarana untuk menunjukkan kehadiran dari Dia yang transenden itu ke tengah-tengah kita (Tuhan). Bandingkan dengan perintah pembuatan patung kerub dan patung ular tembaga tadi. Tuhan memerintahkan kepada Musa untuk membuatkan patung-patung itu untuk menunjukkan kehadiran-Nya di tengah-tengah umat Israel; sehingga patung-patung itu berfungsi sebagai benda rohani bagi mereka.

Kita memerlukan benda-benda rohani seperti itu; karena bagaimanapun, doa membutuhkan konsentrasi. Dalam berdoa, imajinasi kita mesti diarahkan dengan baik supaya fokus. Nah, salah satu caranya adalah dengan menggunakan sarana-sarana seperti patung atau foto. Jadi, jelaslah, kita tidak menyembah patung atau foto.

Lalu, bagaimana dengan patung Maria dan patung santo-santa? Perlu ditegaskan bahwa orang Katolik tidak menyembah Maria, tetapi menghormati Maria. Ya, kita menghormati Maria sebagai ‘Ibu Tuhan’ sebagaimana dikatakan oleh Elisabet ketika Maria pergi mengunjungi Elisabet. Nah, jika ibu kita sendiri saja kita hormati, apalagi ibu Tuhan.

Kalau begitu, apakah orang Katolik menghormati patung Maria? Sekali lagi, bukan patungnya yang dihormati, tetapi Maria yang ditunjukkan lewat patung itu. Orang Katolik tahu bahwa patung itu benda mati, yang sewaktu-waktu bisa rusak dan dihancurkan. Orang Katolik menghormati pribadi Maria yang ada di balik patung itu.

Sama halnya seperti ini: “Apakah kita menghormati kain ketika kita mengarahkan hormat kita ke bendera merah putih pada saat upacara bendera? Tentu tidak kan? Kita tidak menghormati kain bendera, tetapi kita menghormati jasa para pahlawan yang berhasil memperebutkan kemerdekaan; dan jasa mereka itu dilambangkan dengan bendera merah putih”.

Begitu juga ketika orang tua berdoa di depan foto anaknya yang meninggal. Apakah orang tua itu berdoa untuk atau kepada foto itu? Tentu saja TIDAK. Orang tua itu mendoakan anak mereka yang berada di balik foto itu. Foto itu digunakan hanya sebagai sarana untuk membantu imajinasi mereka; sehingga doa mereka khusuk dan terarah pada anak mereka yang meninggal itu.

Dengan demikian, anggapan yang mengatakan bahwa orang Katolik menyembah ‘patung’ hanya karena mereka memiliki patung Maria dan patung santo-santa sangatlah tidak tepat; sebab orang Katolik tidak menghormati apalagi menyembah patung, tetapi menghormati pribadi yang digambarkan di dalam patung itu.

Kita adalah Keledai

0

Maumere-Jalapress.com. Warga Komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapret-Maumere merayakan misa Minggu Palma untuk mengenang peristiwa 2000-an tahun yang lalu di mana Yesus secara akbar diarak masuk ke kota Yerusalem sebagai seorang Raja Damai (Minggu, 14/04/2019).

Perayaan ini dimulai tepat pukul 07.00 pagi dan dipimpin oleh RD. Pede da Lopez.Yang hadir dalam perayaan ini tidak hanya para Frater, tetapi juga umat di sekitar lingkungan Ritapiret.

[postingan number=3 tag= “iman-katolik”]

Perayaan yang di bawah tema “Pribadi Rohanilah Yang Memberi” ini berlangsung khidmat, aman dan damai. Perarakan dimulai dari lapangan basket menuju Kapela Agung Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret.

Dalam perayaan ini, Fr. Kristo Selamat dalam homilinya mengajak para Frater dan umat yang hadir untuk menjadi Keledai. Keledai adalah binatang yang lemah dan rapuh yang sebenarnya tidak mampu memikul beban berat. Tetapi Yesus justru membutuhkan Keledai itu. Keledai itu justru dipakai oleh Yesus untuk membawa-Nya menuju Kota Yerusalem. Keledai adalah simbol diri kita yang lemah dan rapuh. Kelemahan dan kerapuhan kita tidak diperhitungkan oleh Yesus. Dia justru memakai kita yang lemah dan rapuh ini untuk sama-sama mewartakan kebaikan dan cinta kasih Allah yang begitu besar kepada manusia. Kita juga hendaknya menjadi Keledai bagi sesama kita yang membutuhkan sentuhan cinta kita. Kita bukanlah Keledai yang terus menangisi kelemahan kita, tetapi Keledai yang berbangga bisa berarak bersama Yesus dalam lautan palma, lambang lautan kemenangan.

Dalam homilinya juga, calon Imam asal keuskupan Ruteng ini menggambarkan secara gamblang kemunafikan orang-orang Israel yang bersorak-sorai di gerbang Yerusalem padahal dalam hatinya tersimpan sesuatu yang busuk dan dendam membara. Dalam peristiwa Minggu Palma Yesus disapa sebagai Raja tetapi kemudian umat Israel mengubah kiblat dan menunjukkan penolakan pada-Nya. Di antara arak-arakan yang diwarnai dengan daun palma yang semarak, Yesus melihat siluet cambuk-cambuk yang berduri yang mendesiskan rintihan perih pada kulit tubuh-Nya, ungkap Fr. Kristo.

Fr. Kristo Selamat menawarkan beberapa landasan penting yang harus diperhatikan di Pekan Suci ini. Pertama, kerendahan hati. Inspirasi kerendahan hati ini datang dari solidaritas Allah yang tanpa batas ditunjukkan kepada manusia. Hal ini tercermin dalam pribadi historis Yesus Kristus yang menanggalkan Ke-Allah-an diri-Nya untuk menjadi serupa dengan manusia. Yesus merendahkan diri-Nya serendah-rendahnya untuk mengangkat dan meninggikan martabat umat manusia. Kedua, kepasrahan kepada kehendak Allah.

Di hadapan penderitaan-Nya, Yesus tidak mengucapkan banyak kata melainkan menyandarkan diri sepenuhnya pada Allah. Ia rela menyerahkan diri-Nya secara total kepada kehendak Allah sendiri. Sebagai pengikut Kristus, kita hendaknya menyerahkan diri secara total pada rencana dan kehendak Allah. Allah yang berbelas kasih membutuhkan kita yang lemah dan rapuh. Ketiga, ketekunan dan kesabaran dalam doa. Yesus melewati penderitaan-Nya dengan sabar dan tekun, tidak ada suatu pun kalimat bernada kutukan yang keluar dari mulut-Nya. Berkat kedekatan-Nya dengan Bapa melalui doa, Ia mampu melewati pengalaman pahit dalam hidup-Nya.

Yesus tidak mengkambinghitamkan siapa-siapa ketika situasi duka melanda hidup-Nya. Ia tidak mempersalahkan kita, tidak juga kepada Yudas yang menjual diri-Nya atau tidak juga kepada Pilatus yang menjatuhkan hukuman tidak adil kepada diri-Nya. Ia rela menanggung derita hidup-Nya demi menyelamatkan umat manusia.

Perayaan ini berlangsung selama kurang lebuh dua jam dan dimeriahkan dengan lantunan lagu-lagu yang dibawakan oleh para Frater tingkat IV. (Fr. Ancis Sabar)

Jika Maria Ibu Yesus: Mengapa Yesus Bilang “Siapa Ibu-Ku?”

0
SatyaPrem / Pixabay

Saya sering berdiskusi dengan orang-orang non-Katolik. Salah satu hal yang biasa mereka tanyakan adalah keberadaan Maria, ibu Yesus, yang sangat dihormati oleh umat Katolik.

[postingan number=3 tag=”patung”]

Tampaknya, tidak sedikit dari mereka gagal paham terhadap penghormatan orang Katolik terhadap Maria; dan seolah-olah orang Katolik menempatkan Maria sama seperti Yesus. Maka, sebagai seorang Katolik, saya merasa mempunyai tanggung jawab untuk memberikan jawaban dan penjelasan secukupnya; dengan harapan mereka bisa paham.

Ada beberapa potongan ayat Kitab Suci yang biasa mereka kutip sebagai dasar untuk mengkritik praktik penghormatan terhadap Maria dalam Gereja Katolik.  Pertama, dalam Kitab Suci dikatakan bahwa ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Lalu seseorang berkata kepada-Nya:

Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya, “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku” (Mat. 12:46-50).

Menurut teman diskusi saya, Yesus pada ayat itu menyangkal atau tidak mengakui ibu-Nya. Benarkah? Jawabannya: tentu tafsiran ini sangatlah keliru. Adapun perkataan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus pada ayat di atas merupakan majas retorik yang sesungguhnya tidak memerlukan jawaban. Dan memang, orang-orang yang mendengarkan Yesus tidak memberikan jawaban sedikitpun.

Apa itu majas retorik? Majas retorik adalah pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban; karena memang tujuannya sekedar untuk menegaskan, menyindir, atau membangkitkan pola pikir.

Jelaslah, Yesus pada perikop itu sama sekali tidak bermaksud menyangkal ibu-Nya, melainkan menegaskan bahwa yang mau mengikuti Dia harus seperti Maria, ibu-Nya, yang melakukan kehendak Allah (lih. Luk. 1:26-66, 2:29-35).

Kedua, dikatakan juga bahwa ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau. Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Luk. 11:27-28).

Lagi-lagi teman diskusi saya mengutip ayat itu untuk menunjukkan bahwa Yesus menyangkal ibu-Nya. Sekali lagi, ayat yang bunyinya seperti ini sama sekali tidak bermaksud untuk menyangkal melainkan sekedar memberikan penegasan.

Ketiga, dikatakan juga bahwa ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” 2:49 Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa “Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk. 2:48-49).

Teman-teman diskusi saya memberikan penafsiran atas ayat ini. Menurut mereka, di dalam ayat itu Yesus jelas-jelas melawan orangtuanya. Namun, sekali lagi, penafsiran seperti ini sangatlah keliru dan menyesatkan. Yesus pada ayat tersebut memakai majas retorik, sehingga kedua orangtuanya tidak menjawab, karena itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban.

Katolik Menjawab: Tuhan Tidak Melarang Semua Patung, Ia justru Menyuruh Musa Membuatkan Patung

1
bboellinger / Pixabay

Kisah populer dalam Kitab Keluaran 32:1-35 menceritakan tentang bagaimana Tuhan marah terhadap orang Israel karena mereka membuat patung anak lembu untuk disembah sebagai ‘allah lain’. Dengan ini menjadi jelas bagi kita bahwa  Tuhan tidak melarang semua patung; tergantung patung itu dibuat untuk apa. Jika patung itu hanya sebatas sebagai alat peraga (seperti di sekolah), patung untuk permainan (untuk anak-anak), patung memorial (seperti patung Martin Luther di Jerman), atau patung sebagai sarana rohani (di Gereja), maka tidak dilarang. Yang dilarang oleh Tuhan adalah patung yang dibuat untuk disembah sebagai ‘allah lain’.

Sekali lagi, Tuhan tidak serta-merta melarang begitu saja pembuatan patung. Bukan hanya tidak melarang, Ia sendiri juga pernah menyuruh Musa membuatkan patung; bukan hanya satu kali tapi bahkan dua kali Ia menyuruh Musa membuatkan patung. Kisahnya bisa dibaca di dalam Kitab Keluaran 25:18-20.

Bukankah di situ Tuhan menyuruh Musa membuatkan patung Kerub? Kita mungkin berdalih bahwa Kerub itu adalah makhluk surgawi. Benar bahwa Kerub itu adalah makhluk surgawi. Tapi baca baik-baik konteks dari perikop itu. Di teks itu, Musa diperintahkan oleh Tuhan supaya membuatkan Kerub ‘dari bahan emas tempaan’ dan kerub-kerub itu harus mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sedang sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah harus menghadap muka kerub-kerub itu (lih. Kel. 25:20). Apa arti dari kalimat ini? Artinya: kerub yang dibuat oleh Musa itu adalah benda mati, bukan makhluk.

[postingan number=3 tag=”patung”]

Lagipula, tidak mungkinlah Musa diperintahkan untuk menciptakan makhluk surgawi. Hanya Tuhan yang mempunyai kuasa untuk menciptakan mahkluk apapun di bumi dan di mana pun. Hanya Tuhan yang mempunyai kuasa untuk menciptakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada: ‘creatio ex nihilo’. Musa diperintahkan membuat kerub dari bahan yang sudah ada, yaitu emas tempaan. Kerub yang terbuat dari emas tempaan dengan kerub yang adalah makhluk surgawi jelas tidak sama. Bagaimana mungkin kita menyebut sesuatu yang dibuat dari emas tempaan sebagai makhluk? Jelas tidak kan?

Tuhan sudah menciptakan Kerub, yang adalah makhluk surgawi itu; dan Ia juga sudah menempatkan mereka di Firdaus (lih. Kej. 3:24). Yang diperintahkan kepada Musa adalah replika dari kerub-kerub itu, bukan Kerub sebagai makhluk surgawi. Memang Kitab Suci tidak menyebut kata ‘patung’ di situ karena tanpa kata itu pun sebenarnya sudah sangat jelas maksudnya, yaitu bahwa yang diperintahkan itu adalah pembuatan patung. Makanya diterangkan di sana dengan frasa ‘dari emas tempaan’.

Dalam Keluaran 25:18-20, jelaslah Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat patung kerub bagi keperluan ibadah. Patung Kerub itu tidak dianggap sebagai allah lain dan tidak memerlukan pemujaan. Karena tujuannya baik, maka patung kerub ini bukan hanya dibolehkan oleh Tuhan tetapi bahkan diperintahkan pembuatannya; karena nantinya digunakan sebagai sarana rohani. Dari sini tampak sekali bahwa jika patung itu dibuat untuk keperluan ibadah, maka hukumnya bukan hanya dibolehkan tetapi bahkan diperintahkan oleh Tuhan.

Selain patung kerub dari emas tempaan, Tuhan juga menyuruh Musa membuatkan patung ular dari bahan tembaga (Bilangan 21:4-9). Di situ Musa tidak disuruh untuk menciptakan ular sebagai makhluk hidup, tetapi replikanya saja. Makanya diterangkan dengan sangat jelas di sana ‘dari bahan tembaga’, seperti halnya juga dengan kerub: ‘dari emas tempaan’.

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup” (Bil. 21:8). Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup. Di sini, patung ular tidak disembah sebagai allah lain, melainkan sebagai instrumen bagi Tuhan untuk menunjukkan kuasa-Nya. Bahwasanya, orang-orang itu sembuh bukan karena patungnya, tetapi karena kuasa Tuhan yang digambarkan lewat patung ular itu.

Memang, kita juga membaca bahwa kemudian hari, raja Hizkia menghancurkan patung ular tembaga itu (lih. 2 Raj. 18:4). Tapi alasannya jelas:  sejak peristiwa di padang gurun itu, rupanya orang Israel menyimpan ular tembaga itu; dan belakangan dengan tidak patut mulai menyembahnya, yakni dengan membuat asap korban untuknya. Jadi, ternyata, peristiwa tanda dahsyat ‘ular tembaga’ melalui Musa itu, membuat umat Israel cenderung menjadikan ‘ular tembaga’ itu sebagai ‘berhala’.

Raja Hizkia merasa perlu mengambil tindakan berhadapan dengan praktik yang salah itu. Maka, sebagai bagian dari reformasi agamanya, ia pun menyuruh agar ular tembaga yang berumur lebih dari 700 tahun tersebut diremukkan karena bangsanya telah menjadikan itu sebagai berhala. Jadi, patung ular tembaga itu dihancurkan pada zaman Hizkia, raja Yehuda, karena ibadah yang berkembang seputar patung ular tembaga itu.

Sekalipun ular tembaga itu pada awalnya merupakan benda sakral (yang dikhususkan), yang dipakai TUHAN untuk menyelamatkan bangsa Israel, tetapi setelah disimpan turun-temurun, benda itu kemudian menjadi berhala dan diperlakukan sebagai ‘Penyelamat’. Tuhan tidak berkenan akan hal itu sehingga bangsa Israel dihukum, hingga akhirnya muncul Hizkia, raja Yehuda yang mengasihi TUHAN dan menghancurkan berhala itu. “Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan” (lih. 2 Raj. 18:4).

Begitulah penjelasan soal penggunaan patung. Ini menandakan bahwa bukan hanya dibolehkan, tapi bahkan Tuhan memerintahkan pembuatan patung, sejauh patung itu digunakan sebagai benda rohani (untuk peribadatan) dan tidak disembah sebagai allah lain. Jadi, Tuhan tidak melarang pembuatan patung dalam arti umum, tetapi hanya patung yang dibuat untuk disembah sebagai allah lain, itulah yang dilarang pembuatannya oleh Tuhan.

Paus Mendesak Perdamaian di Sudan Selatan

2
Sumber foto dari www.lastampa.it

Paus Fransiskus mengajak serta mendesak para pemimpin dari Sudan Selatan agar menjaga perdamaian dan persaudaraan di wilayah tersebut. Paus bahkan berlutut dan mencium kaki Presiden Salva Kiir dan yang lainnya sebagai bentuk ajakan untuk mencintai dan menghormati harkat dan martabat manusia.

Paus berkata: “Aku memintamu untuk menjaga perdamaian. Saya bertanya dengan hati saya, mari kita maju. Akan ada banyak masalah tetapi mereka tidak akan mengalahkan kita. Atasi masalah Anda” seperti dilansir Reuters, Jum’at (12/4/2019). Para pemimpin Sudan Selatan yang hadir begitu terpana dan kagum melihat Paus yang berlutut serta mencium kaki mereka.

[postingan number=3 tag=”agama-katolik”]

Paus meminta agar segala bentuk perselisihan dihentikan. “Akan ada pergulatan dan perselisihan di antara kamu, tetapi upayakan penyelesaian masalah tersebut dengan cara dialog,” ujar Paus Fransiskus.

Sudan diketahui sebagai negara yang penduduknya sebagian besar beragama Islam, kecuali bagian yang sebagian besar beragama Kristen. Selama beberapa waktu mereka berperang, sebelum akhirnya Sudan Selatan merdeka pada tahun 2011. Setelah itu, terjadi perang saudara dua tahun kemudian setelah Kiir, seorang Dinka, menembakkan Machar, dari kelompok etnis Nuer, dari wakil kepresidenan. Diperkirakan ada sekitar 400.000 orang tewas dan lebih dari sepertiga dari 12 juta orang dari negara itu memicu krisis pengungsi terburuk di Afrika sejak genosida Rwanda 1994.

Sumber: news.detik.com dan www.lastampa.it

Yesus kepada Orang Yahudi: Jika Tidak Mau Menerima Aku, Paling Tidak Mengakui Pekerjaan-Ku

0
Gambar ilustrasi oleh ibrahim62 / Pixabay

Yesus kepada Orang Yahudi: Jika Tidak Mau Menerima Aku, Paling Tidak Mengakui Pekerjaan-Ku: Renungan Harian Katolik, Jumat 12 April 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Yer. 20:10-13; InjilYoh. 10:31-42

Cerita Injil hari ini mirip sekali dengan apa yang terjadi di negara kita belakangan ini. Kita tidak suka terhadap pemimpin atau terhadap orang lain hanya karena kita merasa terganggu dengan popularitas dan atau keberhasilannya. Maka, sebagus apun pekerjaannya, kita tidak mau mengakuinya.

Bukan hanya sekedar tidak mau mengakui segala pekerjaan baik dari pemimpin atau dari orang lain itu, kita juga bahkan terus-menerus melontarkan ujaran kebencian, menebarkan fitnah dan hoaks terhadapnya. Kita menganggap dia sebagai gangguan bagi kita; karena keberadaannya sungguh mencederai kepentingan pribadi dan kelompok kita.

[postingan number=3 tag=”tuhan-yesus”]

Dalam Injil hari ini, kita membaca bagaimana orang-orang Yahudi merasa terganggu dengan keberadaan Yesus. Mereka tidak mau mengakui segala pekerjaan baik yang dilakukan-Nya. Bukan hanya itu. Mereka juga bahkan ingin melempari Yesus dengan batu.

Yesus heran terhadap perilaku orang-orang Yahudi itu; sebab setahu-Nya, Ia sudah melakukan banyak hal baik di hadapan mereka. Makanya, Yesus berkata kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” (Yoh. 10:32).

Orang Yahudi itu tahu bahwa Yesus sudah melakukan banyak pekerjaan baik; tetapi hati mereka sudah terlanjur tidak suka terhadap-Nya; karena mereka berprasangka buruk dan gagal paham terhadap Yesus. Mereka menganggap Yesus sebagai penista Allah. Bagi mereka, Yesus tidak lebih dari seorang manusia biasa. Makanya, mereka berkata: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah” (Yoh. 10:33).

Sama seperti orang-orang Yahudi itu, kita juga seringkali tidak suka terhadap seorang pemimpin atau orang lain hanya karena kita mendengar omongan dari tetangga; atau karena kita membaca berita fitnah dan hoaks dari sosial media. Kita menuduh dia sebagai ‘antek asing, PKI, boneka, dan sebagainya’ tanpa didasari dengan data yang bisa dipertanggungjawabkan.

Yesus tahu bahwa orang-orang Yahudi itu sudah gagal paham terhadap-Nya. Ia pun berkata kepada mereka: “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah — sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?” (Yoh. 10:34:36).

Apa sebenarnya yang membuat orang-orang Yahudi itu tidak suka terhadap Yesus? Alasannya sederhana: yaitu karena sebagian elite dari bangsa itu merasa terganggu dengan kehadiran Yesus; sebab simpati orang yang tadinya hanya tertuju kepada mereka, sekarang mulai bergeser dan tertuju kepada Yesus.

Ulah segelintir elite itu membuat orang-orang Yahudi kebanyakan merasa terganggu terhadap keberadaan Yesus. Makanya mereka berencana untuk melancarkan serangan terhadap-Nya. Tapi, Yesus tidak gentar, Ia tidak mundur sejengkalpun; karena Ia tahu bahwa Ia benar.

Yesus meluruskan pandangan mereka: “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yoh. 10:37:38). Dalam bahasa sehari-hari, perkataan Yesus ini barangkali bisa kita terjemahkan seperti ini: “Sudahlah kalian tidak suka terhadap saya, tetapi paling tidak kalian mengakui segala pekerjaan baik yang pernah Aku kerjakan”.

Kita seringkali tidak suka terhadap orang lain hanya karena orang lain itu lebih populer dari kita. Sampai-sampai kita tidak lagi mampu melihat dengan jernih dan mata terbuka terhadap segala pekerjaan baik yang pernah dilakukan oleh orang bersangkutan. Kita merasa bahwa jika kita tidak menekan orang bersangkutan, kita tergeser. Maka, kita melancarkan segala bentuk fitnah, ujaran kebencian, dan hoaks atas orang itu.

Marilah, dalam minggu terakhir Masa Prapaskah ini, kita belajar untuk melihat orang lain secara seimbang; tidak hanya dari sebelah mata saja. Kita harus dengan rendah hati mau mengakui keberhasilan dan pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang lain.

Jika Maria Ibu Yesus, Mengapa Yesus Memanggilnya ‘Perempuan’?

1
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Ketika kita membaca Kitab Suci, kita menemukan bahwa Yesus memanggil ibu-Nya ‘wanita’. Namun terjemahan tersebut disesuaikan menjadi ‘ibu”. Tidak sedikit orang beranggapan bahwa perkataan Yesus itu menunjukkan bahwa Maria, ibu-Nya, hanyalah ‘alat’ yang dipakai oleh Allah; sehingga tidak penting untuk menghormatinya.

[postingan number=3 tag=”saudara-yesus”]

Tentu saja pandangan seperti itu bertentangan dengan iman Katolik. Iman Katolik mengajarkan bahwa Maria adalah bunda semua pengikut Yesus (lih. Yoh. 19:25-27). Maka, setiap pengikut Yesus patut menghormati Maria, sebagaimana kita juga menghormati orangtua kita masing-masing. Ada beberapa hal yang perlu kita jelaskan dari sapaan Yesus itu:

Pertama, memanggil seorang perempuan dengan sebutan ‘wanita” merupakan hal yang wajar pada zaman Yesus (lih. Yoh. 4:21, 8:1). Oleh sebab itu, Maria tidak pernah tersinggung dengan panggilan tersebut. Malah tidak ada sama sekali reaksi marah terhadap Yesus yang memanggilnya ‘wanita”.

Kedua, setidaknya ada dua kali Yesus memanggil Maria sebagai ‘wanita’ (lih. Yoh. 2:4, 19:26). Hal itu hendak menunjukkan bahwa Maria selalu hadir di awal dan di akhir karya Yesus. Sebutan ‘wanita’ pada kedua ayat tersebut berasal dari kata Gune.

Ketiga, gaya penulisan Injil Yohanes mirip dengan gaya penulisan awal Kitab Kejadian memakai kata “pada mulanya”. Penulis kedua kitab hendak mengatakan bahwa kehadiran Yesus dalam Injil sejajar dengan kisah penciptaan. Selain itu, kesejajaran yang sama dapat kita temukan pula pada inklusi penyebutan Maria sebagai ‘wanita’ dengan peran Hawa (lih. Kej. 3:15). Dengan demikian, semakin jelas inklusi Maria sebagai ‘wanita’ (Yun: gune). Sebagaimana Hawa dan Adam hadir sebagai mitra kerja yang ‘menghasilkan dosa’, demikian pula Maria (Hawa baru) hadir sebagai mitra kerja Kristus untuk menyelamatkan manusia.

Keempat, Yesus sendiri telah menyerahkan ibu-Nya kepada Yohanes, “Inilah ibumu!”, sementara itu kepada Yohanes (dan untuk kita), “Ibu, inilah, anakmu!”. Oleh sebab itu, penyebutan Maria sebagai ‘wanita’ menunjukkan kapasitasnya sebagai ‘Hawa baru’, ibu dari pengikut Yesus. Keibuan Maria bukan semata-mata karena status melainkan karena perannya sebagai ibu yang melahirkan, membesarkan, dan mendampingi Yesus dari awal hingga akhir karya-Nya.