8.5 C
New York
Sunday, April 5, 2026
Home Blog Page 56

Tri Hita Karana dalam Ajaran Hindu dan Persamaanya dalam Teologi Katolik

0

Maumere, JalaPress.com — Mahasiswa Pascasarjana STFK Ledalero-Maumere-Flores yang mengambil matakuliah Ilmu Perbandingan Agama (IPA) menyelenggarakan seminar dengan tema: “Konsep Tri Hita Karana dalam Ajaran Hindu-Bali dan dalam Perbandinganya dengan Ajaran Teologi Kristen” (Kamis, 4 April 2019).

Seminar ini diselenggarakan di Kampus STFK Ledalero. Ibu I Gusti Agung Ayu Trisnaputri yang bekerja di Departemen Agama Kabupaten Sikka sebagai penyuluh agama Hindu dan juga ibu Komang Anggreni (beragama Hindu) turut hadir dalam seminar tersebut. Yang menjadi narasumber utama dalam seminar ini adalah Fr. Aurelius Y. Haseng, Fr. Servasius Yano dan Fr. Gusti Hadun.

Dalam seminar tersebut, Fr. Aurelius Haseng dkk mengangkat satu kekhasan dalam agama Hindu yang penting juga dipelajari oleh umat beragama lain termasuk juga umat beragama Katolik yaitu ajaran tentang Tri Hita Karana. Ajaran ini berpengaruh kuat dalam agama Hindu dan menjiwai nafas kehidupan orang Bali, yang secara konkret terlihat dan disimbolkan dengan cara tata ruang perkampungan atau Pura.

Konsep Tri Hita Karana pada hakikatnya mengajarkan sikap hidup yang seimbang antara memuja Tuhan yang diwujudnyatakan dalam membangun relasi yang baik dengan sesama dan alam ciptaan.

[postingan number=3 tag=”iman-katolik”]

Pada kesempatan yang sama, para narasumber menjelaskan secara singkat sejarah Tri Hita Karana. Fr. Aris Haseng dkk mengatakan bahwa istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11 November 1966, pada waktu diselenggarakan Konferensi Daerah I Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di Perguruan Dwijendra Denpasar. Konferensi tersebut diselenggarakan berlandaskan kesadaran umat Hindu akan dharmanya untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Konsep Tri Hita Karana pertama kali diceramahkan oleh Bapak I Wayan Merta Sutedja. Pada saat itu, konsep Tri Hita Karana adalah Urip, Bhuwana dan Manusa. Kemudian berubah menjadi Widhi, Bhuwana dan Manusa, dan pada akhirnya menjadi Parahyangan, Palemahan dan Pawongan.

Para nara sumber menjelaskan bahwa konsep Tri Hita Karana menjelaskan tentang tiga sumber utama kesejahteraan yang bersumber pada relasi manusia dengan Allah (Parahyangan), relasi manusia dengan sesamanya (Palemahan) dan relasi manusia dengan lingkungan alam ciptaan (Pawongan). Perpaduan harmonis ketiga unsur tersebut merupakan landasan terciptanya hidup tentram, damai dan sejahtera baik lahir maupun batin.

Konsep Tri Hita Karana terbagi dalam tiga unit utama dalam penerapannya yaitu sebagai berikut: pertama, Parahyangan yaitu unit Pura tertentu sebagai tempat utama manusia dalam membangun relasi dengan Tuhan. Tempat ini mengungkapkan relasi yang bersifat vertikal antara Tuhan dan manusia. Relasi yang dibangun ini merupakan wujud rasa syukur, karena kesadaran manusia akan segala sesuatu itu berasal dari Tuhan. Kedua, Pawongan merupakan tempat manusia membangun relasinya dengan sesama. Tempat ini mengungkapkan relasi horizontal, manusia dengan sesamanya agar tercipta hubungan yang harmonis. Dalam upaya mencapai keharomonisan tersebut, setiap pribadi dituntut untuk tidak boleh memilih dan memilah dalam berinteraksi dengan sesama, karena setiap pribadi memiliki derajat yang sama di mata Tuhan. Kalaupun ada perbedaan, umat beragama Hindu berkeyakinan bahwa perbedaan itu merupakan kehendak Tuhan sendiri agar manusia mampu menumbuhkan sikap saling menghargai dan menghormati setiap ciptaan lain sebagaimana adanya. Ketiga, Palemahan merupakan perwujudan hubungan manusia dengan alam. Relasi ini merupakan bentuk tanggungjawab sosial manusia untuk menjaga alam semesta sebagai ciptaan Tuhan. Konsep palemahan ini sangat penting untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan manusia. Adanya perayaan Nyepi, yang tentunya sehari tanpa polusi sangat memberikan cukup banyak oksigen untuk bumi ini dapat bernapas.

Dalam seminar tersebut, para narasumber mencoba menghubungkan kesamaan antara konsep Tri Hita Karana ini dengan ajaran dalam teologi Katolik. Fr. Aris Haseng dkk melihat bahwa konsep Tri Hita Karana dalam agama Hindu Bali memiliki kesamaan dalam ajaran teologi Katolik.

Seperti ajaran Tri Hita Karana, dalam teologi Katolik juga mengakui adanya makhluk supranatural yang patut disembah oleh manusia yang disebut dengan Allah. Allah dalam diri-Nya adalah sempurna dan bahagia tanpa batas. Dalam teologi Kristen, Allah yang disembah itu mewahyukan diri-Nya dalam diri Yesus Kristus. Yesus diyakini sebagai Putra Allah yang hadir sebagai penyelamat umat manusia yang sering kali jatuh ke dalam dosa.

Dalam kaitan relasi manusia dengan sesamanya, teologi Katolik memiliki pemahaman yang sama dengan Tri Hita Karana bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan seturut gambar dan rupa Allah sendiri bukan untuk hidup seorang diri. Manusia diciptakan untuk hidup bersama dengan yang lain. Karena itu, manusia dituntut untuk bisa menjaga keharmonisan dengan sesamanya. Dalam hubungan dengan alam ciptaan, teologi Katolik berkeyakinan bahwa alam semesta merupakan ciptaan Allah sendiri yang kemudian dipercayakan kepada manusia untuk menjaga dan merawatnya. Seperti dalam konsep Tri Hita Karana, agama Katolik menganjurkan agar alam semesta tetap dijaga dan dirawat, karena manusia digambarkan sebagai partner Allah yang juga mengambil bagian di dalam kreativitas Allah.

Pada akhir seminar ini, Pater Hendrikus Maku, SVD sebagai dosen pengampu matakuliah ilmu perbandingan agama memberikan beberapa catatan kritis dan sekaligus apresiasi kepada para narasumber. Pada kesempatan yang sama juga, Pater Hendrik menyampaikan limpah terimakasih kepada ibu Agung dan Reni yang mewakili umat beragama Hindu yang ada di Maumere yang turut hadir dan membagikan pengetahuan mereka berkaitan dengan konsep Tri Hita Karana dalam agama Hindu Bali. Seminari ini ditutup dengan acara foto dengan snack bersama.

Katolik Menjawab: Tuhan Marah karena Patung Berhala

0
Devanath / Pixabay

Kita sudah melihat bahwa ternyata tidak semua patung dilarang oleh Tuhan. Jika patung itu hanya sebatas sebagai alat peraga (seperti di sekolah), patung untuk permainan (untuk anak-anak), patung memorial (seperti patung Martin Luther di Jerman), atau patung sebagai sarana rohani (di Gereja), maka tidak dilarang. Yang dilarang oleh Tuhan adalah patung yang dibuat untuk disembah sebagai ‘allah lain’.

Ada satu kisah populer dalam Kitab Keluaran mengenai bagaimana Tuhan begitu marah terhadap orang Israel karena mereka membuat patung anak lembu untuk disembah sebagai allah lain. Kisah lengkapnya ada di Kitab Keluaran 32:1-35. Dari perikop ini tampak sekali bahwa Tuhan marah besar terhadap orang-orang Israel karena mereka terbukti melanggar larangan yang sudah disampaikan-Nya pada Kel. 20:3-5.

Pelanggaran itu bermula ketika orang-orang Israel sedang menunggu kedatangan Musa dari atas Gunung Sinai. Ketika Musa cukup lama berada di atas Gunung Sinai, mereka tidak sabar menunggu. Makanya mereka ingin membuat allah mereka sendiri, yaitu allah yang berbeda dari Allah Musa. Jadi, pada saat mereka melebur semua perhiasan emas, mereka sudah mempunyai niatan untuk membuat bagi mereka allah emas dan yang bukan Allah Israel.

[postingan number=3 tag=”patung”]

Sayangnya, Harun tak kuasa menahan keinginan mereka, sehingga ia akhirnya menuruti kemauan mereka. Ia tak meluruskan pandangan yang sesat itu, tapi malah mengikuti kehendak mereka, dengan melebur perhiasan emas mereka dan membuat patung anak lembu tuangan, seperti lambang Baal.

Allah marah terhadap bangsa Israel sebab dengan membuat patung emas itu, mereka melanggar perintah pertama dalam kesepuluh perintah Allah, yaitu, “Akulah Tuhan (dalam bentuk tunggal), Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir … Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku (Kel. 20:2-3). Jangan kamu membuat di samping-Ku allah perak, juga allah emas janganlah kamu buat bagimu” (Kel. 20:23).

Makanya Allah berkata kepada Musa, “Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan mempersembahkan korban, sambil berkata: Hai Israel, inilah allah-allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir” (Kel. 32:8). Jadi, jelaslah bahwa Allah marah kepada bangsa Israel karena: 1) mereka mempunyai allah lain di hadapan-Nya; 2) mereka membuat patung dan menyembah patung itu sebagai allah lain itu.

Sampai di sini kita dapat menangkap esensi dari penyembahan berhala, yaitu menyembah sesuatu sebagai allah lain, sehingga menggeserkan kedudukan Allah yang seharusnya menempati tempat utama di dalam hidup kita. Hal ini mengantar kita pada pemahaman selanjutnya, yaitu bahwa membuat patung saja tidak serta-merta dikategorikan sebagai penyembahan berhala. Sepanjang patung itu tidak disembah sebagai ‘allah lain’, maka hal itu tidak dapat dikatakan sebagai penyembahan berhala.

Meski Katolik Warisan, Kita Wajib Militan

1

Anda dan saya barangkali menjadi Katolik karena terlahir dan besar di dalam keluarga Katolik. Dalam situasi itu, kita memang tidak mempunyai pilihan; sebab pada saat bayi, orang tua membawa kita ke Gereja untuk dibaptis menjadi anggota Gereja Katolik. Maka, orang-orang menyebut iman Katolik yang kita anut itu sebagai ‘Katolik warisan’.

Seperti halnya menjadi Katolik itu bukan pilihan kita, demikian juga kita tidak pernah memilih untuk lahir dalam keluarga seperti apa. Lantas, siapa yang menentukannya? Orang tua kita? Bukan. Keluarga kita? Juga bukan. Lalu, siapa? Jawabannya: tentu saja Tuhanlah yang menentukannya.

Tuhan sendirilah yang menentukan di mana dan dalam keluarga seperti apa kita dilahirkan. Dengan kata lain, jika Tuhan menghendaki kita lahir di dalam keluarga Katolik, itu sama saja artinya kita dipilih oleh Tuhan untuk menjadi Katolik. Maka, benarlah sabda Tuhan ini: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh. 15:16).  

[postingan number=3 tag=”iman-katolik”]

Maka dari itu, sekalipun iman Katolik yang kita anut adalah ‘Katolik warisan’, yang diturunkan dari orang tua, namun tidak dibenarkan untuk tidak berbuat apa-apa terhadap iman Katolik itu. Sebaliknya, kita harus berbuat sesuatu. Iman Katolik yang kita anut tidak boleh dikasih kendor. Kita diberi tanggung jawab untuk memelihara dan menumbuh-kembangkan iman Katolik itu. Tuhan sendiri bersabda: “Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu” (Yoh. 15:16).

Iman Katolik yang telah ditanamkan ke dalam diri kita sejak kecil harus dirawat dengan baik supaya bisa menghasilkan buah; sebab Tuhan sendiri telah menetapkan kita supaya berbuah, tidak kering dan layu. Tidak cukup dengan hanya menerima baptisan lalu selesai. Jangan menjadi orang Katolik ‘NaPas’ (Natal dan Paskah). Kita harus menjadi orang Katolik yang militan, tidak melempem dan loyo.

Tidak jarang kita tergelincir ke dalam salah dan dosa. Kita meminta ini dan itu kepada Tuhan dan berharap Tuhan mengabulkan semua permintaan kita. Ketika ternyata tidak dikabulkan atau belum juga dikabulkan, kita kecewa. Di situlah tawaran dunia masuk.

Dunia menawarkan kepada kita banyak hal; yang kadang-kadang menggoda kita untuk menggadaikan iman kita. Jika kita tidak kuat, kita pasti menyerah dan meninggalkan Tuhan.

Dunia seringkali menggunakan kelemahan kita. Ia memberi semua permintaan kita; yang membuat kita berpikir “Sepertinya saya tidak butuh Tuhan lagi”, yang akhirnya bisa menyeret kita keluar dari jalan Tuhan.

Maka dari itu, sekali lagi, iman Katolik kita harus kuat dan tahan uji. Kita tidak boleh menjadi orang Katolik yang ‘kaleng-kaleng’. Kita harus menjadi orang Katolik yang keras dan kokoh seperti besi baja.

Kita harus bangga menjadi orang Katolik. Menjadi Katolik berarti termasuk di dalam daftar orang-orang pilihan Tuhan. Jangan sampai kita menukar atau menggadaikan iman Katolik kita dengan apapun: harta, takhta, maupun wanita. Sekali Katolik, tetap Katolik selamanya. Lahir Katolik, hidup Katolik, dan mati sebagai orang Katolik.

Para Pemimpin Tarekat Religius Melawan Penandaan Tanda Merah (Komunis) Pada Para Misionaris

0

Para pemimpin tarekat religius Filipina menyatakan keprihatinan akan keselamatan para misionaris yang ditandai oleh militer sebagai bagian dari front komunis gerakan bawah tanah.

Asosiasi pempimpin tarekat religius (General atau Provinsial) Filipina (AMRSP-Association of Major Religious Superiors of the Philippines) mengatakan bahwa penandaan tanda merah akan membahayakan keamanan para misionaris.

“Penandaan tanda merah pada para misionaris, menuduh individu dan organisasi sebagai teroris komunis, bertentangan dengan demokrasi dan penghormatan hak asasi manusia,” kata AMRSP dalam sebuah pernyataan.

AMRSP takut bahwa dengan penandaan merah pada beberapa misionaris atau tareat religius ‘dapat menyebabkan penangkapan tanpa surat perintah, penahanan tanpa pemeriksaan, penyiksaan, penghilangan paksa dan pembunuhan di luar proses hukum’.

AMRSP bereaksi terhadap tuduhan militer bahwa para misionaris yang berkarya di wilayah pedalaman Filipina telah membantu tentara rakyat baru-sebuah gerakan militer di kalangan masyarakat dan intelektual yang melawan kesewenangan penguasa dan pemodal atas masyarakat di Mindanao.

Militer sebelumnya telah meminta Uni Eropa untuk menghentikan pendanaan ke para misionaris yang berkarya di pedalaman Filipan dan kelompok hak asasi manusia lainnya yang dituduh sebagai pembela front pemberontak atau komunis.

[postingan number=3 tag=”gereja-katolik”]

RMP (Misionaris Pedalaman Filipina), adalah sebuah persekutuan kongregasi-kongregasi religius Katolik di Mindanao, didirikan pada tahun 1969 sebagai respons Gereja terhadap penderitaan orang-orang di ‘tempat-tempat yang tidak diperhatikan’.

AMRSP menegaskan, “Biarkan para anggota misionaris pedalaman Filipina melakukan pekerjaan mereka di mana kita dalam hal ini pemerintahan dan lembaga-lembaga gereja gagal membahas masalah-masalah perdamaian, pendidikan, penghormatan terhadap kehidupan, kebebasan, martabat orang, pemerintahan yang adil dan politik yang baik di daerah-daerah pedalaman atau pedesaan yang jauh”.

AMRSP adalah sebuah asosiasi tarekat religius di Filipina yang terdiria 327 tarekat religius yang saat ini diketuai oleh Sr. Regina Kuizon, RGS, dan Fr. Cielito Almazan, OFM.

Sumber: CBCP.NEWS

Orientasi Cinta Generasi Zaman Now: ke mana Arahnya?

0
Gambar Ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Mencintai dan dicintai merupakan tindakan yang wajar, dan sudah terjadi sejak dunia dijadikan. Tuhan menciptakan manusia karena cinta, begitu pun Ia memberikan cinta itu di dalam hati setiap orang. Pemberian Tuhan itulah yang membuat setiap orang bisa saling mencintai ataupun jatuh cinta.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Tentu pada mulanya cinta yang diberikan Tuhan mempunyai tujuan yang mulia. Maka Tuhan terlebih dahulu mengajarkan cinta kepada manusia, yaitu cinta tak bersyarat (AGAPE).  Namun setelah manusia jatuh ke dalam dosa, hilanglah cinta tak bersyarat itu dalam dirinya, menjadi cinta bersyarat. Setiap orang mencintai karena ada syarat misalnya saling suka atau tidak bermusuhan. Berbeda dengan Tuhan yang mengajarkan untuk mengasihi musuh bahkan mendoakan nya. Tindakan cinta bersyarat itu terus berlanjut turun-temurun, sehingga makna cinta yang sebenarnya mulai pudar.

Pada masa kini gambaran pudarnya makna dari cinta bisa kita rasakan ataupun saksikan. Banyak anak di bawah umur, remaja atau pun menjelang dewasa yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK) sudah mulai memanggil ‘papah’ dan ‘mimih’ kepada pacarnya. Mungkin hal ini masih bisa dimaklumi karena mengikuti perkembangan zaman, atau dalam bahasa gaulnya disebut ‘Kids Zaman Now”. Tentu saja berbeda pergaulannya dengan ‘Kids Zaman Old’. Bukan berarti mempertentangkan tetapi memang perkembangannya demikian adanya.

Namun yang menjadi perhatian kita adalah pantaskah panggilan ‘papah’ dan ‘mimih’, hingga dampaknya. Panggilan ‘papah’ dan ‘mimih’ seyogyanya digunakan sebagai panggilan satu sama lain antara suami dan isteri, dan bukan anak di bawah umur ataupun yang belum menikah. Bisa saja dalam pacaran ada panggilan istimewa atau spesial, namun kalau pengertiannya memakai panggilan suami dan isteri, maka kurang tepat.

Ada banyak hal yang tidak dapat dianggap wajar, misalnya melakukan hubungan seks di luar nikah, atas nama cinta. Tentu pemaknaan cinta dalam kasus tersebut kurang tepat. Akibat dari makna cinta yang kurang tepat itu banyak generasi muda yang putus sekolah karena hamil di luar nikah, atau terpaksa menikah karena sudah hamil duluan.

Maka dapat dilihat  orientasi dari cinta generasi zaman Now adalah seks. Padahal hubungan seks, hanya dilakukan oleh suami isteri yang sah, baik secara hukum maupun agama. Karena orientasi pemaknaan cinta menyimpang, maka banyak perkataan-perkataan yang muncul untuk menggambarkan seseorang, misalnya  cabe-cabean, Jablay, Mucikari,  dan lain sebagainya.

Ray E. Short dalam bukunya yang berjudul 77 Pertanyaan Aktual Mengenai Seks, Pacaran dan Cinta, berkata ‘… kenyataan bahwa pada usia masih muda, banyak anak sudah bisa melakukan hubungan seks, namun bukan berarti mereka mempunyai hak untuk melakukannya. Menurutnya, bisa saja seorang laki-laki menghamili seorang gadis pada usia belasan tahun, namun mereka belum mampu menjadi suami dan isteri.

Pacaran merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan. Maka, dalam masyarakat seseorang tidak diperkenankan melakukan hubungan seks, atas nama cinta, sebelum pasangan yang bersangkutan menikah.

Tulisan yang sama pernah dimuat di http://www.indonesiakoran.com/news/kolumnis/read/75807/stevenshevo@gmail.com

Katolik Menjawab: Tidak Semua Patung Dilarang Oleh Tuhan

7
dimitrisvetsikas1969 / Pixabay

Banyak orang non-Katolik di luar sana yang beranggapan dan menuduh bahwa umat Katolik menyembah berhala; hanya karena mempunyai sekumpulan patung di Gerejanya. Anggapan dan tuduhan mereka itu bukanlah tanpa dasar. Dasarnya jelas: yaitu ayat-ayat Kitab Suci. Lalu, mereka akan mengutip sejumlah ayat dari beragam kitab dalam Kitab Suci; sebut saja Kitab Ulangan, Kitab Yesaya, Kitab Wahyu, dan kitab-kitab lainnya.

[postingan number=3 tag=”agama-katolik”]

Jika kita ingin berbicara mengenai larangan terhadap pembuatan patung, kita harus selalu mendasarkan pembicaraan kita pada Kitab Keluaran 20:3-5. Mengapa? Karena di sanalah untuk pertama kalinya Tuhan berbicara soal penggunaan patung. Berikut teks lengkapnya:

  • “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi” (Kel. 20:4).
  • “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku” (Kel. 20:5).
  • “Supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala apa pun: yang berbentuk laki-laki atau perempuan” (Ul. 4:16).

Segala teks lain dalam Kitab Suci yang secara kebetulan mengangkat topik mengenai larangan penggunaan patung, itu hanya tambahan dan penegasan kembali saja. Ulangan, misalnya, jelas-jelas mengulang apa yang dibahas dalam kitab sebelumnya, yaitu dalam konteks patung ini, Kitab Keluaran. Begitu pula Yesaya, mengulang kembali apa yang sudah disampaikan Tuhan kepada umat Israel di padang gurun. Kitab Yesaya ditulis pada masa pembuangan. Mengenai patung, Yesaya mengingatkan orang Israel supaya tidak menyembah patung sebagai allah lain sebagaimana dilakukan oleh nenek moyang mereka pada saat di padang gurun.   Maka, jika mau berbicara soal pelarangan penggunaan patung, bicaralah dari akarnya, yaitu dari sudut pandang Keluaran 20:3-5. Jangan pergi jauh dari situ. Kita tidak bisa asal comot ayat Kitab Suci di sana-sini dan meninggalkan apa yang dimaksudkan di dalam Kitab Keluaran itu.

Gereja Katolik melihat bahwa ayat ke-4 dari Kitab Keluaran 20 merupakan kelanjutan dari ayat ke-3; sehingga dipahami bahwa Allah hanya melarang kita membuat patung yang digunakan untuk disembah sebagai ‘allah lain’ di hadapan-Nya. Dengan kata lain, jika patung itu dibuat untuk keperluan yang lain, bukan untuk disembah, maka tidak dilarang oleh Tuhan.

Sayangnya, orang non-Katolik di luar sana yang beranggapan dan menuduh bahwa umat Katolik menyembah berhala, justru menanggalkan ayat yang penting itu. Mereka biasanya memenggal ketiga ayat itu sehingga hanya ayat 4 dan 5 saja yang diambil.

 

Pemenggalan semacam itu jelas mendatangkan resiko yang sangat besar. Anda tahu apa resikonya jika Keluaran 20:3-5 dipenggal menjadi Keluaran 20:4-5 saja? Jika dasar biblis yang diambil hanya Keluaran 20:4-5, maka resikonya adalah bahwa siapapun, termasuk Anda, saya, dan mereka, tidak pernah boleh membuat patung yang menyerupai apapun  (bdk. Kel. 20:4) yang ada di langit (burung), di bumi (manusia, hewan, dan tumbuhan), atau di air (ikan). Jadi, kita tidak pernah boleh membuat patung burung, patung manusia, hewan, dan tumbuhan, atau patung ikan, sekalipun itu untuk digunakan sebagai alat peraga di sekolah (misalnya, pelajaran biologi), permainan anak-anak, atau sekedar sebagai memorial (seperti patung Martin Luther di Jerman). Padahal, patung-patung itu justru membantu kita supaya mengerti pelajaran di sekolah, terhibur dikala melihatnya (patung mainan anak-anak), dan membantu daya ingat kita pada sosok tertentu (patung memorial).

Gereja Katolik meyakini bahwa tidak semua patung dilarang oleh Tuhan. Lantas, patung seperti apa yang dilarang oleh Tuhan?  Sekali lagi, kita harus kembali ke akar pelarangan itu, yaitu pada Keluaran 20:3-5. Di sanalah untuk pertama kalinya Tuhan berbicara kepada Musa mengenai patung. Inti dari larangan itu ada di ayat 3, bunyinya begini: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku”. Lalu dilanjutkan dengan ayat 4, “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi”. Kesimpulannya: yang dilarang oleh Tuhan adalah patung yang dibuat untuk disembah sebagai ‘allah lain’. Jika patung itu hanya sebatas alat peraga (seperti di sekolah), patung untuk permainan (untuk anak-anak), patung memorial (seperti patung Martin Luther di Jerman), atau patung sebagai sarana rohani (di Gereja), maka tidak dilarang.

Makin Tua, Makin Berdosa: Kisah Susana, Wanita Berzinah, dan Daniel

0
Gambar ilustrasi oleh Comfreak / Pixabay

Makin Tua, Makin Berdosa: Kisah Susana, Wanita Berzinah, dan Daniel: Renungan Harian Katolik, Senin 8 April 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: T. Dan. 13:1-9, 15-17, 19-30, 33-62; InjilYoh. 8:1-11

Selama ini, kita berasumsi bahwa usia yang tua dengan sendirinya membuat seseorang dewasa. Padahal, dalam realitanya hal seperti itu belum tentu. Umur tidak menjamin kedewasaan seseorang. Tua tidak sama dengan dewasa. Umur boleh tua, tetapi perilaku bisa jadi malah kekanak-kanakan. Kisah dalam kedua bacaan hari ini memberi kita contohnya.

Dalam bacaan pertama, dikisahkan tentang Susana anak Hilkia, istri Yoyakim. Penulis Kitab Daniel menyebutkan bahwa perempuan ini berparas cantik dan takut akan Tuhan. Sayangnya, ia dituduh yang tidak-tidak. Penuduhnya justru datang dari kalangan tua-tua.

Kisah Susana menunjukkan kepada kita mengenai bagaimana dua orang tua-tua melancarkan tuduhan palsu terhadapnya. Mereka ngarang cerita tentang Susana. Mula-mula mereka menempatkan diri sebagai orang yang bersih, tanpa cacat cela. Padahal, kenyataannya, mereka ‘lupa daratan dan membuang muka, sehingga tidak memandang Sorga dan tidak ingat kepada keputusan yang adil’ (T. Dan. 13:9).

Kedua orang tua-tua itu dikendalikan oleh hawa nafsu, meski awalnya mereka malu mengakuinya. Tapi, toh mereka tidak bisa juga terus menyembunyikan hasrat itu; sehingga akhirnya mereka berani mengakuinya di hadapan Susana. Mereka berkata: “Kami sangat cinta berahi kepadamu. Berikanlah hati saja dan tidurlah bersama-sama dengan kami” (T. Dan. 13:20).

Orang tua-tua yang seharusnya menjadi pelindung dan pemberi teladan yang baik itu, justru melontarkan sesuatu yang di luar dugaan. Susana tidak pernah mengira bahwa orang setua itu mempunyai pemikiran yang ‘jorok dan cabul’ seperti itu. Maka, ia pun dengan tegas menolak permintaan mereka. Apa yang terjadi? Mereka mengancam Susana. Mereka ingin memberikan kesaksian palsu dan kabar bohong tentang Susana; dan memang mereka melakukannya. Mereka memfitnah Susana hanya karena Susana tidak memenuhi niat jahat mereka.

[postingan number=3 tag=”cinta-tuhan”]

Nyawa Susana dipertaruhkan. Ia hampir saja menanggung hukuman mati untuk sesuatu yang tidak pernah dilakukannya. Ia hampir menjadi tumbal dari ‘hasrat bejat’ orang-orang sok alim dan suci itu. Sementara itu, orang-orang lain pastilah lebih percaya kepada orang tua-tua itu; karena mengira bahwa tidak mungkinlah orang setua mereka melakukan kesalahan dan dosa.

Untung saja, ada seorang pemuda, namanya Daniel, yang berhasil menyelamatkan Susana, dengan memberikan pembuktian terbalik terhadap kedua orang tua-tua itu. Daniel berhasil membuktikan bahwa kedua orang tua-tua itu bersalah. Makanya, Daniel berkata keduanya: “Hai engkau, yang sudah beruban dalam kejahatan, sekarang engkau ditimpa dosa-dosa yang dahulu terlah kau perbuat” (T. Dan. 13:52).

Daniel berhasil membuktikan kepada orang-orang bahwa ternyata orang muda bisa jauh lebih bijaksana daripada orang tua-tua. Umur yang tua belum tentu dewasa dan bijaksana, sebaliknya umur yang muda tidak selamanya kekanak-kanakan dan labil.  Juga, umur yang tua tidak dengan sendirinya membuat seseorang itu tidak berdosa. Justru bisa jadi, makin tua makin banyak dosanya. Mengapa? Karena kesempatan untuk berbuat dosanya juga banyak.

Mengenai hal ini bisa kita lihat dengan jelas pada bacaan Injil hari ini. Bacaan Injil hari ini mengulang kembali Injil hari Minggu kemarin. Dikisahkan bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada Yesus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” (Yoh. 8:3-5).

Mereka membuka aib perempuan itu di muka umum, suatu perbuatan yang sama sekali tidak bijaksana. Mereka bahkan meminta Yesus supaya mengadili perempuan itu. Mereka mencap perempuan itu sebagai pendosa. Lalu, bagaimana dengan mereka sendiri? Mereka juga berdosa, tetapi mereka sengaja tidak melihatnya.

Yesus ingin menegur mereka: “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Mat. 7:3). Makanya, ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Yesus pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh. 8:7).

Perkataan Yesus ini seperti senjata yang mematikan. Mereka semua bungkam. Tak ada yang bersuara. Bahkan, seorang demi seorang mereka pergi meninggalkan Yesus dan perempuan itu, mulai dari yang tertua. Di sini, sekali lagi disinggung soal ‘usia tua’. Bahwasanya, ternyata, menjadi orang yang tua atau dituakan, tidak dengan sendirinya benar, bijaksana, dan tanpa cacat. Boleh jadi, makin tua makin buruk tingkahnya. Makin tua makin berdosa. Mengapa? Sekali lagi, karena kesempatan untuk berbuat dosanya banyak.

Kedua bacaan hari ini mengajarkan kepada kita bahwa menjadi tua saja tidak cukup untuk menunjukkan apakah seseorang itu bijaksana atau tidak. Kedewasaan dan kesucian harus diperjuangkan, tidak otomatis. Jika Anda merasa tidak berdosa, hanya karena Anda sudah tua, coba berhenti sejenak dari aktivitas Anda dan lihatlah ke dalam dirimu. Banyak orang lebih gampang melihat salah dan dosa orang lain daripada salah dan dosanya sendiri. Orang tua-tua itu menghabiskan energi untuk mengurus salah dan dosa orang, tapi diri mereka sendiri tidak mereka perhatikan. Jangan sampai kita juga seperti mereka.

Jangan pernah lupa bahwa kita juga mempunyai sederet daftar salah dan dosa. Ketika Anda merasa tidak berdosa sama sekali, justru di situlah Anda sudah berdosa. Tuhan mau supaya kalau kita berdosa, kita mengaku salah dan bertobat; sebab Tuhan sendiri pun tidak menghakimi dan tidak menghukum kita. Yesus berkata kepada perempuan itu: “Aku pun tidak menghukum engkau”. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang suka menghakimi dan menghukum, melainkan Tuhan yang senantiasa mengasihi, memberkati dan mengampuni. Hanya memang, pengampunan dari Tuhan itu selalu dengan catatan. Yesus berkata: “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi”. Penyesalan mesti mendatangkan pertobatan. Tuhan mengampuni dosa kita dengan satu pesan, yaitu supaya kita jangan berbuat dosa lagi.

Spiritualitas Pelayanan: Pribadi yang Diambil, Diberkati dan Dibagi

0
Sandranavarro / Pixabay

Kita mengenal ada empat kata kunci dan penting dalam Ekaristi, antara lain: kata ‘diambil’, ‘diberkati’, ‘dipecah’, dan ‘dibagi’. Keempat kata ini boleh dikatakan sebagai rangkuman dari seluruh perjalanan hidup kita.  Maka dari itu, mari kita melihatnya satu demi satu.

[postingan number=3 tag= ‘salib’]

Kata ‘Diambil

‘Diambil’ sama artinya dengan ‘dipilih’. Kita harus berpegang pada keyakinan bahwa diri kita dipilih di tengah suara-suara yang mengatakan bahwa ‘kita sesungguhnya tidaklah istimewa dan biasa-biasa saja.’ Kita bisa memilih untuk percaya pada kebenaran atau percaya pada kebohongan. Kita juga harus mencari orang atau tempat di mana kita diingatkan mengenai jati diri kita yang paling dasar, yaitu sebagai pribadi yang dipilih.

Kita harus selalu merayakan kebenaran bahwa kita dipilih. Ini berarti bahwa kita perlu mengucapkan kata ‘terima kasih’ kepada Allah yang telah memilih kita dan ‘terima kasih’ juga kepada semua yang mengingatkan bahwa kita dipilih oleh Allah. Kita bisa memilih untuk bersyukur atau merasa terbebani. Bila kita memilih merasa terbebani, kita akan masuk dalam kegelapan. Bila kita memilih bersyukur kita akan menjadi sumber pengharapan dan inspirasi bagi orang lain.

Hal yang paling menakjubkan ialah bahwa setiap kali kita memilih untuk bersyukur, semakin mudah kita melihat hal-hal yang harus disyukuri. Syukur membuahkan syukur, seperti kasih membuahkan kasih. Kesadaran kita sebagai pribadi yang dipilih tidak akan membuat kita merasa lebih baik, lebih istimewa, lebih berguna dan lebih berharga dari orang lain. Sebaliknya, kesadaran itu membuka mata kita untuk melihat bahwa orang lainpun adalah pribadi-pribadi yang dipilih. Kebahagian terbesar adalah pada saat kita menemukan bahwa orang lain juga pribadi-pribadi yang dipilih.

Kata ‘Diberkati

Kata berkat dalam bahasa Latin adalah benedicere yang berarti menyatakan (dicere) kebaikan (bene). Memberkati tidak hanya memberi kata pujian, tetapi meneguhkan, mengatakan ‘ya’ bahwa orang lain adalah pribadi yang patut dikasihi.

Tidak cukup bahwa kita adalah pribadi-pribadi yang dipilih. Kita juga membutuhkan berkat terus-menerus, yang bisa datang dari orang-orang lain di sekitar kita, komunitas dan keluarga. Kita mendengar atau membaca kata-kata: “Engkau adalah Anak yang Kukasihi, kepada-Mu Aku berkenan”. Kata-kata ini merupakan kata-kata berkat yang meneguhkan Yesus melewati segala puji dan cela, kekaguman dan hinaan.

Perasaan terkutuk seringkali lebih mudah datang daripada perasaan terberkati, dan kita dapat menemukan banyak alasan untuk itu bila melihat dunia sekitar kita yang penuh kehancuran dan penderitaan. Dalam keheningan doa kita mencoba untuk mendengarkan suara batin yang menyatakan “Engkau adalah anak yang Kukasihi, kepadamu Aku berkenan.”

Kesulitan kita saat ini adalah betapa sulitnya merasakam bahwa kita diberkati. Ungkapan ‘ah itu biasa saja’ merupakan tanda bahwa kita tidak sungguh-sungguh memperhatikan berkat yag diberikan kepada kita. Padahal, berkat itu ada di sekeliling kita dan datang dari segala arah. Keyakinan bahwa diri kita adalah pribadi yang diberkati akan menimbulkan keinginan yang kuat untuk memberkati orang lain.

Kata ‘Dipecah-pecah

Kita dipecah-pecah karena kita dipanggil dan memberi diri. Setiap pribadi menderita dengan cara khusus yang tidak akan pernah sama dengan orang lain. Sumber penderitaan bukanlah cacat atau kelemahan kita, tetapi perasaan ditolak, diremehkan, tidak berguna, tidak dihargai, serta tidak dicintai. Namun dipecah tidak sama dengan menderita, dipecah berarti bersengsara (passio).

Kata ‘Dibagi-bagikan

Hanya pada saat kita menyediakan diri untuk dibagikan, kita baru sungguh menghayati bahwa kita dipilih, diberkati dan dipecah. Kita dipilih, diberkati dan dipecah bukan untuk diri kita sendiri, melainkan untuk orang lain. Kebahagiaan kita menjadi penuh pada saat kita memberikan diri kita bagi orang lain. Karena itu, pertanyaan sesungguhnya ialah bukan lagi ‘apa yang saya berikan untuk orang lain,’ melainkan ‘siapa kita bagi orang lain.’

Ada dua cara kita membagikan diri, yaitu pertama, kita memberikan diri dalam kehidupan. Apa yang kita berikan bukan sekedar bakat, talenta, atau pengetahuan yang kita miliki, tetapi bahkan anugerah pribadi kita. Anugerah pribadi itu antara lain persahabatan, kebaikan hati, kesabaran, kegembiraan, kedamaian hati, pengampunan dan pengharapan. Kedua, kita memberi diri dalam kematian kita. Kematian orang yang kita cintai dan mencintai kita seringkali mempunyai daya untuk meneguhkan dan memperdalam ikatan kasih, mewariskan buah kehidupan bagi banyak orang. Sebagai contoh, murid-murid Yesus baru mampu menangkap dan menyadari siapakah Yesus sesudah Yesus meninggalkan mereka.

Jangan Lupa! Orang Baik, Wajib Pilih Orang Baik

0
Gambar ilustrasi oleh sasint / Pixabay

Saya mendasarkan permenungan ini pada bacaan pertama dan Injil kemarin (seturut kalender liturgi Gereja Katolik), yaitu dari Kitab Kebijaksanaan 2:1a, 12-22 dan Injil Yohanes 7:1-2, 10, 25-30.

Selama ini, kita selalu berpikir bahwa menjadi orang baik itu seharusnya hidup tenang dan senang; bukan sebaliknya, malah dipersulit dan menderita. Tampaknya, kita lebih mudah menerima kenyataan bahwa orang jahat hidupnya susah daripada orang baik hidupnya dipersulit dan menderita. Jika ada orang jahat hidupnya susah, kita bilang ‘itu karma’. Tetapi, jika ada orang baik hidupnya dipersulit dan menderita, kita tidak tahu lagi mau bilang apa. Kita tidak bisa menerima kenyataan itu; sehingga pertanyaan tentang ‘mengapa orang baik dipersulit dan menderita’ menjadi tidak gampang untuk dijawab dengan jawaban yang benar-benar memuaskan.  Namun demikian, bukan berarti bahwa pertanyaan sulit itu tidak bisa dijawab. Jawabannya bisa kita temukan di dalam kedua bacaan yang sudah saya sebutkan di atas.

[postingan number=3 tag=”tuhan-yesus”]

Bacaan pertama memberi tahu kita bahwa memang menjadi orang baik itu ujiannya berat, bahkan sangat berat; karena musuhnya banyak. Menjadi orang baik itu tidak dengan sendirinya hidup tenang dan senang, terutama bila orang baik itu hidup di lingkungan orang jahat. Jika ada orang baik tinggal berdampingan dengan banyak orang jahat, maka orang baik itu akan dimusuhi dan diincar-incar.

Bagi orang jahat, kehadiran orang baik di tengah-tengah mereka merupakan suatu gangguan. Lihat saja apa yang dikatakan di dalam Kitab Kebijaksanaan. Orang fasik berkata: “Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita” (Keb. 2:2).

Bayangkan satu orang baik tinggal satu kelompok dengan orang jahat; dan orang jahat itu sepakat untuk  melakukan korupsi berjamaah. Lalu, orang baik itu bilang, “Jangan Bro, nanti kita di-OTT KPK.” Apa reaksi orang-orang jahat itu? Pasti mereka marah, jengkel, dan merasa terganggu dengan kehadiran orang baik itu; sebab gara-gara dia niat mereka menjadi terhambat.

Orang baik selalu dianggap sebagai penghalang bagi orang jahat untuk melancarkan aksi jahatnya. Sekali lagi, lihat bacaan pertama kemarin. Orang jahat itu berkata: “Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya” (Keb. 2:19). Maka, orang baik itu akan difitnah habis-habisan. Segala macam tuduhan palsu akan diarahkan kepadanya, sekedar supaya reputasinya jatuh.

Sampai di sini kita jadi tahu bahwa ternyata seringkali orang baik dipersulit dan menderita karena ulah orang-orang jahat yang merasa tidak tenang dan tidak senang terhadap kehadirannya. Bagi mereka, kehadiran orang baik dianggap sebagai pengganggu dan penghambat.

Nah, kalau begitu, apakah kita berhenti saja menjadi orang baik; dan bergabung saja dengan orang jahat supaya gampang diterima di kelompok mereka? Jawabannya: Tidak. Justru kita harus makin giat menebarkan kebaikan. Memang, menjadi orang baik itu banyak ujiannya, tapi kita harus tetap bersabar. Kita hidup hanya satu kali; karena itu berjuanglah untuk menjadi yang pertama dan utama dalam segala hal. Kita harus tetap menjadi orang baik dalam segala situasi. Kita memilih orang baik; dan bergabung dengan orang baik, bukan orang jahat.

Memang orang-orang jahat akan selalu mencari kelemahan orang baik, dan menebarkan fitnah atas orang baik. Tapi, jangan patah semangat, ‘karena mereka yang menebarkan fitnah itu adalah sesat. Mereka telah dibutakan oleh kejahatan mereka’ (bdk. Keb. 2:21). Maka, tidak mungkinlah kita mengikuti cara-cara jahat seperti itu. Orang baik, memilih orang baik juga.

Banyak kali orang baik dibatasi ruang geraknya, difitnah, dan bahkan ada yang sampai dianiaya. Tapi, jangan kuatir. Jika ada orang baik mendapat kesulitan, sabar. Itu hanya ujian. Orang sabar disayang Tuhan. Orang baik mencontoh dari orang baik, yaitu dari Tuhan Yesus sendiri.

Yesus adalah orang baik yang dikejar-kejar oleh orang-orang Farisi. Kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka dianggap sebagai gangguan bagi mereka. Makanya, mereka berusaha untuk membatasi ruang gerak Yesus, memfitnah Dia dengan keji, bahkan merencanakan aksi pembunuhan atas-Nya.

Tapi, Tuhan Yesus tidak pernah gentar. Ia tetap menyampaikan kebenaran-Nya, sampai titik darah penghabisan, bahkan sampai wafat di kayu salib. Penderitaan dan kematian-Nya di kayu salib menjadi pembelajaran bagi kita bahwa  kita jangan sampai berhenti menjadi orang baik, hanya karena orang-orang jahat menghalang-halangi kita.

Semoga kita semua terus menebarkan kebaikan di mana pun kita berada, dan jangan pernah berhenti menjadi orang baik; sekalipun kita harus menanggung segala resiko dari kebaikan itu. Amin.

Sebuah tulisan mencatut namanya, Romo Franz Magnis: tak mungkin saya yang menulis

0

Sebuah tulisan yang mencatut nama rohaniwan Romo Franz Magnis-Suseno beredar di media sosial terutama melalui media Whatsapp. Tulisan tersebut berisi harapan agar sejarah kelam Jerman di masa Hitler tidak terulang di Indonesia. Di dalamnya juga terdapat kalimat yang mendiskreditkan nama Prabowo.

Romo Magnis, sebutan akrab Franz Magnis-Suseno, menyatakan akan melaporkan perihal tulisan yang mencatut namanya tersebut ke Bareskrim Mabes Polri.

Berikut teks yang beredar tersebut:

Semoga apa yang telah terjadi di Jerman pada masa lalu dimana para fanatis identitas bangsa Aria mengakibatkan sejarah kelam Jerman, tidak terulang kembali di Indonesia.
Begitulah kita harus mencegah para fanatis khilafah PKS dan Gerindra yang bodoh ini, persis seperti orang2 Jerman kelompok fanatis identitas pada masa frustrasi setelah dilecehkan oleh bangsa2 Eropah sekitarnya pasca kekalahan PD I.

Pada waktu itu muncullah seorang Hitler yang melakukan politik identitas bangsa Aria.
Mereka seperti dilecutkan semangatnya dan mendukung Hitler.
Sebenarnya Hitler tidaklah mulus2 amat naik ketampuk kekuasaan.
Ber-kali2 dia gagal bahkan sempat dibui, di mana di dalam penjara dia menulis buku pandangan dan pemikirannya ke dalam tulisan yang berjudul “Mein Kampf” (Perjuanganku).

Dia hanya menang tipis pada pemilu awal dekade 30an, menandakan bahwa masih ada orang2 Jerman yang waras, yang tidak mendukung Hitler karena mengetahui sifat jahatnya yang tersembunyi.
Tetapi biarpun tipis, menang ya tetap menang untuk berkuasa.
Begitu dia berkuasa, dia sikat semua orang2 yang berbeda pendapat dengan dia, lalu dia perkuat posisinya dengan menempatkan para oportunistis yang menjadi komprador setianya.

Banyak yang ingin menjatuhkannya, salah satunya Graf von Fürstenberg gagal melaksanakan attentat-nya untuk membunuh Hitler melalui bom waktunya, sehingga dia sendiri yang dihukum mati.

Ketika bangsa Jerman melihat bahwa mereka sudah salah memilih, yaitu memilih monster, sudah terlambat.
Sudah terlambat bagi mereka untuk mendengar mereka yang sudah lama sebelumnya me-warning mereka agar jangan membuat seorang monster berkuasa.
Mereka2 yang mewarning rakyat sudah dimatikan di Gaskammern bersama jutaan Yahudi itu yang teringat sampai sekarang sebagai masa2 kelam Holocaust.
Saksi sejarah masa lalu itu adalah *Romo Franz Magnis* yang sekarang menjadi WNI dengan nama Suseno.

Dia mengatakan, bahwa pemilihan umum bukanlah untuk memilih seseorang yang sempurna (tidak ada manusia yang sempurna), melainkan untuk mencegah seorang gila yang jahat berkuasa. Prabowo sedang memanfaatkan sentimen identitas Islam, dia tau bahwa di Indonesia, muslim itu mayoritas. Kaum ini yang harus dirangkul.

Ada banyak Muslimin yang waras, seperti orang Jerman yang waras pada waktu Hitler ingin berkuasa. Tetapi ada banyak juga kaum Muslimin yang anasionalis militan, inilah yang sedang ditunggangi Prabowo.
Mereka begitu bodohnya, tidak tau bahwa kemilitansian mereka sedang dimanfaatkan Prabowo, persis seperti Hitler sudah memanfaatkan kemilitansian die Brauner (istilah bagi kelompok garis keras yang suka mengintimidasi rakyat Jerman. Mereka berseragam kecoklatan, braun bahasa Jermannya, memakai badge swastika di lengan baju mereka) untuk menyokong dirinya ke tampuk kekuasaan. Padahal banyak dari mereka ini juga nantinya tergilas oleh roda mesin persatuan manusia di bawah kegilaan Hitler.

Begitupula yang akan terjadi pada kaum Muslimin bodoh ini, mereka akan digilas oleh mesin kesatuan manusia yang kesurupan kegilaan Prabowo.
Seorang Prabowo tidak akan mau mengikuti keislaman orang2 PKS dan Gerindra bodoh ini.
Dia akan memperkokoh keakuannya sendiri, dengan bantuan kekuatan2 luar yang me-nunggu2 kemunculan seorang pengkhianat Indonesia.
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa mencegah itu, agar jangan sejarah kelam Jerman terulang kembali.

Romo Franz Magnis Suseno, SJ

Terkait teks yang beredar tersebut Romo Magnis memberikan catatan.

Pertama, teks tersebut sebagian menulis tentang Romo Magnis seperti tertera dalam penggalan “Saksi sejarah masa lalu itu adalah *Romo Franz Magnis* yang sekarang menjadi WNI dengan nama Suseno. Dia mengatakan,….” Namun demikian, sebagian tulisan itu mengatasnamakan Romo Magnis.

Kedua, Romo Magnis menyatakan tak pernah memakai sebutan “Romo” untuk dirinya sendiri demikian juga dalam hasil karyanya. Orang lain yang menyebutnya dengan “Romo”.

Ketiga, Romo Magnis menegaskan bawah namanya yang selalu saya pakai tanpa kecuali adalah “Franz Magnis-Suseno”, sedangkan dlam teks yang beredar menggunakan “Franz Magnis Suseno”, tanpa tanda penghubung.

Keempat, Romo Magnis menyatakan bahwa setiap orang yang menjalani pendidikan menengah, apalagi pendidikan tinggi di Jerman seperti dirinya tentu tahu bahwa yang mencoba membunuh Hitler pada 20 Juli 1944 namanya bukan Fürstenberg seperti dalam teks yang beredar. “Tak mungkin saya yang menulisnya,” demikian pernyataan Romo Magnis, Jumat (5/4/2019)

Sumber: https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=585844238592730&id=100015014774975 (BeritaSatu)