8.5 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 67

Lagu-Lagu Yang Sesuai Dengan Iman Katolik

0
Tama66 / Pixabay

Sebagian orang mungkin mengetahui bahwa lagu-lagu dalam Gereja Katolik mempunyai makna teologis Trinitaris dan berisi refleksi atas perikop atau ayat Kitab Suci. Namun, tidak sedikit orang Katolik yang tidak bisa membedakan lagu-lagu Katolik yang dapat dinyanyikan dalam liturgi dengan lagu-lagu populer yang tidak mengandung makna teologis Trinitaris. Tidak heran kalau ada orang yang ditegur oleh pastor karena memakai lagu-lagu yang tidak tepat dalam liturgi. Meskipun demikian bukan berarti lagu-lagu populer tidak boleh didengarkan oleh orang-orang Katolik. Lagu-lagu populer dapat dinyanyikan di luar liturgi. Setidaknya lagu-lagu yang sesuai iman Katolik mengandung beberapa hal, antara lain:

Pertama, isi lagu mengungkapkan iman kepada Allah Tritunggal. yang ditulis dari refleksi atas perikop atau ayat Kitab Suci. Bahkan bisa jadi ayat Kitab Suci yang utuh seperti lagu ‘Tuhan adalah Gembalaku’.

Kedua, nada-nada lagu yang dilantunkan memiliki ‘penekanan tertentu’, terutama yang mengarah kepada Tuhan. Tidak sama dengan nada-nada lagu populer.

Ketiga, lagu-lagunya tertulis dalam Puji Syukur atau Madah Bakti dengan imprimatur atau Nihil Obstat. Hal itu menandakan bahwa lagu tersebut tidak ada halangan untuk dinyanyikan dalam liturgi gereja.

Keempat, lagu-lagu yang tidak tercatat dalam Puji Syukur dan Madah Bakti dapat dinyanyikan dalam ibadat pendalaman iman, doa Rosario dan lain sebagainya.

Demikian penjelasan singkat yang dapat kami sampaikan. Tentu masih banyak hal yang belum dijelaskan dalam penjelasan di atas. Harapannya, semakin banyak orang yang dapat memberi katekese kepada umat sehingga mereka mengetahui apa yang mereka imani.

Menjadi Saudara-Saudari Yesus

0

Siapa yang tidak bersukacita  menjadi saudara-saudari Yesus?  Anda pasti bersukacita. Saya juga. Orang beriman pasti bersukacita. Tapi, bagaimana caranya?  Tuhan Yesus dalam Injil Markus 3:31-35 yang dibacakan hari ini memberikan jawabannya. Caranya adalah melakukan kehendak Allah!  “Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku” (Mrk 3: 35).

Lalu, apa saja yang termasuk kehendak Allah? Tentu saja apa yang baik. Contohnya: mengasihi, memaafkan, membawa damai, peduli dengan sesama, rendah hati, taat-setia pada Allah, berkorban bagi banyak orang dan rajin berdoa. Pokoknya segala yang baik itu adalah kehendak Allah  Sang Mahabaik. Dengan demikian, kalau mau menjadi saudara-saudari Yesus, janganlah lelah melakukan hal-hal baik itu! Apabila kita tekun melakukannya, Yesus pasti berkata, “Inilah saudara-saudariku!”  Akh…. Betapa bangganya kita!

Melakukan  hal-hal baik sesuai kehendak Allah itu penuh perjuangan, walau sangat mudah  diucapkan. Tapi, kita tertantang untuk terus berjuang mewujudkannya setiap hari sesuai perutusan masing-masing. Ketekunan dalam melakukan kehendak Allah tidak hanya membuat kita  pantas disebut saudara-saudari Yesus, tetapi juga kita mendapatkan sukacita sejati. Sukacita sejati itu berasal dari Tuhan yang kehendak-Nya itu telah kita laksanakan dengan tekun.

Tuhan Yesus,  berilah kami ketekunan dan kesetiaan dalam  melakukan hal-hal baik sesuai kehendak-Mu, agar kami pantas menjadi saudara-saudari-Mu.  Kami yakin, sukacita tak terkatakan itu hanya ada pada-Mu; hanya kami rasakan ketika kami menjadi saudara-saudari-Mu!***

Imam Agung Melkisedek dalam Kitab Suci: Raja Kebenaran

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Surat kepada Orang Ibrani (lih. Ibr. 7:1-3) menjabarkan ciri-ciri imam Melkisedek. Melkisedek mempunyai ciri-ciri khusus yang membuatnya menjadi ‘gambaran’ Kristus. Hubungan antara Kristus dengan Melkisedek secara khusus tertulis dalam frasa, ‘tidak ber-bapa, tidak ber-ibu, tidak bersilsilah’, yang mengacu pada kekekalan.

[postingan number=3 tag= ‘kitab-suci’]

Oleh karena keterangan yang penuh misteri tentang tokoh Melkisedek dalam Kitab Kej. 14:18-20 dan Mzm. 110:4, maka beberapa komentator Yahudi melihat tokoh ini sebagai simbol akal budi manusia yang diterangi oleh kebijaksanaan ilahi (lih. Philo dari Alexandria, De legum Allegoria, 3, 79-82).

Sejarawan Yahudi, Flavius Josephus (37-100), menghubungkan Melkisedek dengan ‘Pangeran Kanaan’. Nama ‘Melkisedek’ adalah nama Kanaan, yang berarti ‘rajaku adalah benar’ atau ‘Raja Kebenaran’ (lih. Yos 10:13). Menurut arti namanya, Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera (lih. Ibr. 7:2). Kata ‘Salem’ kemungkinan adalah kependekan dari Yerusalem (lih. Mzm 76:2). Raja Salem artinya ‘Raja Damai’ (berhubungan dengan kata Ibrani, ‘shalom‘ yang berarti ‘damai’.

Kitab Keluaran mengajarkan bahwa meskipun hidup di tanah Kanaan yang menyembah banyak allah, Melkisedek adalah imam Allah yang sejati. Meskipun ia bukan anggota bangsa pilihan Allah, ia memiliki pengetahuan akan Allah yang Mahatinggi.

Mazmur 110 menjabarkan pewahyuan tentang Sang Mesias: seorang keturunan Daud, bukan hanya seorang Raja, namun juga seorang Imam, dan Ia bukan Imam menurut keturunan Harun, namun Ia adalah Imam menurut ketentuan baru yang ditentukan Allah, atau yang disebut dalam surat kepada jemaat Ibrani, ‘menurut ketentuan Melkisedek.’ Maka, Melkisedek, adalah suatu gambaran akan imamat baru yang ditentukan Allah, yang tidak tergantung dari Hukum Musa.

Karena itu, pada figur Melkisedek ada dua ciri-ciri kerajaan Mesianis, yaitu ‘kebenaran dan damai’ (lih. Mzm. 85:10;89:14;97:2; Yes. 9:5-7;2:4; 45:8, Luk. 2:14). Lagipula, karena Kitab Kejadian tidak mengatakan apapun tentang latar belakang dan silsilahnya, maka Melkisedek sering diinterpretasikan sebagai gambaran akan Kristus yang kekal. Jadi, bukan Kristus yang dikatakan mirip dengan Melkisedek, tetapi Melkisedek yang mirip dengan Kristus – karena ia (Melkisedek) diciptakan agar menjadi gambaran akan Kristus, sang Imam yang sempurna. Theodoret dari Cyrus mengatakan:

“Kristus Tuhan mempunyai segala ciri-ciri ini … (Dalam kodrat-Nya sebagai Allah) Kristus tidak ber-ibu, sebab Ia lahir dari Allah Bapa saja. (Dalam kodrat-Nya sebagai manusia) Kristus tidak ber-bapa, sebab Ia dikandung oleh Sang Perawan (Maria) saja. Ia tidak mempunyai silsilah, sebab sebagai Tuhan, Ia yang lahir dari Allah Bapa tidak membutuhkan silsilah. Ia tidak mempunyai awal mula, sebab Ia ada dalam kekekalan. ‘Ia tidak mempunyai akhir’ sebab Ia mempunyai kodrat yang kekal. Dengan semua alasan ini, Kristus sendiri tidak untuk diperbandingkan dengan Melkisedek, tetapi Melkisedek dengan Kristus”.

Sebagai seorang imam Allah yang Maha Tinggi, namun bukan anggota dari bangsa Yahudi, Melkisedek adalah contoh bagaimana Tuhan menaburkan benih kebenaran akan keselamatan yang melampaui batas bangsa. “Keimamatan Kristus, yang di di dalamnya para imam telah mengambil bagian, harus diarahkan kepada semua bangsa, dan tidak dibatasi oleh batas hubungan darah, ras, atau zaman, sebagaimana telah digambarkan dengan cara yang misterius dalam gambaran Melkisedek. Maka, para imam, harus ingat bahwa perhatian kepada semua Gereja harus menjadi perhatian mereka yang terdalam” (Konsili Vatikan II, Presbyterorum Ordinis, 10).

Sumberhttp://www.katolisitas.org/tentang-imam-agung-melkisedek-ibr-71-3/

Daulah Islam Da’esh (ISIS/ISIL) Klaim Bertanggungjawab Atas Serangan Bom di Filipina

0

Jolo, Sulu, Philippines – Dua bom meledak di gereja Katolik di Pulau Jolo, Filipina, Minggu (27/01).

Bom pertama meledak saat misa tengah berlangsung di gereja Katedral. Ketika aparat keamanan menyisir lokasi, bom kedua meledak di area parkir mobil.

Ledakan pertama terjadi pukul 8.45 waktu setempat di Gereja Katolik Maria Gunung Karmel. Sebelumnya, gereja ini juga pernah dibom mujahidin Islam.

Mayoritas korban ledakan ini adalah warga sipil.

Kelompok Negara Islam atau ISIS telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan dua bom bunuh diri di gereja Katedral di sebuah pulau di Filipina selatan, menurut SITE Intelligence Group yang memantau kegiatan jihadis Islam.

Gambar mungkin berisi: 5 orang, teks dan luar ruangan

Serangan ini merupakan salah satu yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di wilayah yang sejak lama dilanda gejolak tersebut. Pulau ini juga menjadi basis kelompok Islam garis keras Abu-Sayyaf.

Dikutip dari AFP, Senin (28/1), Daulah Islam Da’esh (ISIS) mengeluarkan pernyataan resmi yang mengklaim bahwa dua pelaku bom bunuh diri merupakan bagian dari kelompoknya.

Pelaku meledakkan sabuk peledak pada hari Minggu (27/1) di dalam gereja dan tempat parkir mobil di Jolo, Mindanao.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang duduk, topi dan dalam ruangan

Sejumlah foto yang beredar di media sosial menunjukkan jalan utama menuju gereja itu ditutup oleh tentara bersenjata lengkap.

Sejumlah korban luka dievakuasi menggunakan pesawat ke kota terdekat, Zamboanga City.

Menteri Pertahanan Filipina, Delfin Lorenzana menyebut serangan itu sebagai perbuatan pengecut. Ia mendesak penduduk setempat untuk waspada dan membantu pemerintah mengenyahkan terorisme.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang berdiri dan luar ruangan

“Kami akan menggunakan seluruh kekuatan untuk menegakkan keadilan terhadap pelaku di balik insiden ini,” kata Lorenzana dalam keterangannya.

Ledakan bom ini terjadi beberapa hari setelah referendum otonomi daerah digelar di Jolo.

Pekan lalu, referendum yang diikuti 2,8 juta orang menyepakati pembentukan Wilayah Otonomi Bangsa Moro di kawasan selatan Filipina, daerah berpenduduk muslim terbesar di negara tersebut.

Namun, hasil jajak pendapat di Jolo berbeda. Penduduk daerah itu menolak otonomi khusus tersebut.

Sumber:
– https://www.cnnindonesia.com/…/isis-klaim-bertanggungjawab-…
– https://edition.cnn.com/…/philippines-church-exp…/index.html
– http://poskotanews.com/…/gereja-katolik-di-filipina-dibom-…/

Cinta

0
OpenClipart-Vectors / Pixabay

“Cinta” bukan kata baru bagi kaum muda zaman sekarang, kata itu sudah mendunia. Tidak dapat dipungkiri bahwa makna kata cinta telah bergeser. Di zaman sekarang kata “cinta” telah dicampuraduk dengan cinta karena penampilan fisik dan harta semataApakah pengertian cinta yang sering disebutkan oleh kaum muda zaman sekarang? Banyak Kaum muda memahami kata cinta secara “terbatas” pada penampilan fisik dan harta. Seseorang mencintai hanya karena penampilan fisik dan harta. Apakah itu salah? Tidak! Tetapi perlu disadari bahwa cinta tidak “terbatas” pada penampilan fisik dan harta. Penampilan fisik dan harta akan memudar dan usang seiring dengan waktu tetapi cinta bersifat abadi.

Cinta yang hanya didasari oleh penampilan fisik dan harta kenyataannya tidak bertahan. Cinta yang demikian akan luntur dihempas oleh waktu dan tantangan kehidupan. Sesungguhnya cinta yang seperti itu “hanya” didorong oleh nafsu semata. Pandangan tentang makna cinta dari zaman ke zaman semakin pudar. Cinta sering menjadi batu sandungan bagi masa depan generasi muda. Banyak kaum muda putus sekolah dan bunuh diri karena masalah cinta. Sunguh menjadi masalah serius, untuk meluruskan pemahaman tentang makna cinta. Cinta bukan hanya kata-kata manis, cinta bukan hanya masalah penampilan fisik dan harta. Cinta yang sesungguhnya tak dapat diungkapkan dan digambarkan oleh apapun juga. Untaian kalimat tak dapat menjelaskan makna cinta seutuhnya.

Langitpun tak dapat menjelaskan makna cinta antara dua insan, hanya terus berbunyi mengumandangkan syair para malaikat. Menjulang tinggi ke angkasa, tiada terselami makna cinta. Cinta tersembunyi luas dibalik alam semesta dalam karya Sang Maha Agung. Berbaliklah kepada Sang Maha Agung, di sana engkau menemukan makna cinta yang utuh. Cobalah lihat alam semesta nan indah, yang tercipta atas dasar cinta. Cinta itu memberi dengan tulus, menjaga senantiasa. Apakah cinta tulus menjaga senantiasa? Cinta lahir dari hati yang jernih dan suci. Cinta menjaga kemurnian satu sama lain senantiasa.

Cinta pada hakekatnya suci, murni dan luhur. Manusia dikarunia cinta di dalam dirinya, agar rasa cinta membentuk  karakter yang positif. Sisi positif dari cinta itulah yang perlu dipulihkan kembali. Demi memulihkan makna cinta, perlu menghilangkan sikap yang membatasi cinta pada penampilan fisik dan harta semata.

 

 

Kang Je dan Hati yang Seluas Samudra

0
Gambar ilustrasi oleh MustangJoe / Pixabay

Nyala monitor di laptop itu terlihat berkedip-kedip, menandakan alat itu sedang digunakan.
Di depan laptop itu seseorang sedang memperhatikan dengan seksama apa saja yang terpampang di hadapannya. Asyik sekali. Aku jadi ragu untuk masuk meski pintu setengah terbuka dan sempat kuketuk pelan tadi.

“Masuk saja. Jangan mengintip di sana…,” seru orang di dalam seperti tahu aku sedang meragu di depan pintu. Segera kulangkahkan kaki untuk masuk ke ruangan itu diiring senyuman yang disambut dengan senyuman Sang empunya ruangan.
“Lagi sibuk, Kang?” tanyaku basa basi.
“Enggak… Kelihatan gitu Aku sibuk?” Dia balik tanya.
“Hehe… Habis, kayak serius gitu,” ujar saya sembari menawarkan senyum canda.
“Enggak juga sih… Duduk deh….” Ia memberi kode agar duduk di sebelah mejanya. Tak lama Ia membalikkan laptopnya itu ke arahku. “Sudah lihat foto dan video ini?” Tangannya menunjuk sebuah foto dan video dari media sosial yang rupanya daritadi sedang dia baca.
Gaul banget ya Kang Je ini…..

Kepalaku menggeleng pelan sambal menuruti melihat apa yang ditunjuk Kang Je barusan.
Ternyata berita tentang puncuk pimpinan negara ini sedang menjenguk seorang pemuka agama yang dikabarkan kembali sakit setelah sebelumnya dinyatakan sembuh begitu viral dan menjadi trending topik di beragam media sosial.
Memang berita yang susah untuk dilewatkan apalagi jika mengingat keduanya berbeda kubu dalam ajang pemilihan presiden kali ini. Banyak spekulasi yang kemudian muncul karena hal ini.

“Haayyooo…. Kamu lagi mikir apa?” suara Kang Je membuyarkan kepalaku yang sedang berpikir kemana-mana.
“Enggak,” sanggahku.
“Ah, kamu… Jangan bohong atuh…,” guyon Kang Je. “Kepalamu ini pasti sama berisi segala tebakan dan spekulasi yang jadi beredar di masyarakat kan?”
Aku tersenyum kecil.
Ya gimana mau bohong. Bahkan sebelum bilang pun, Ia sudah tahu duluan aku bakal bohong. Wah….
“Coba kamu sedikit berbeda mikirnya dari mereka.” Sekali lagi Kang Je membuyarkan anganku. Dia seperti tidak ingin aku terlalu hayut dalam pikiran sendiri.
“Maksudnya gimana, Kang?” tanyaku jadi ingin tahu.
“Ya coba kamu berpikir bahwa kondisi itu malah seperti caraKu untuk mengingatkan kalian, duhai anak-anakKu…”
“Mmm… Tapi. kan mereka… Mereka….”
“Beda?”
Kepalaku mengangguk pelan.
Kang Je berdiri dari duduknya, memutar sedikit lalu menepuk bahuku yang masih bolak balik melihat layar monitor.
“Bahwa ada perbedaan diantara kalian tentang bagaimana menyembah BapaKu, yes… Itu nggak bisa disangkal. Apalagi soal pilihan dalam pemilu nanti. Keliatan dan jelas viral banget deh itu…” Kang Je duduk di samping kiriku. Badannya rada menunduk, mendekat ke arahku. “Tapi… Ada satu bagian yang nggak bisa disangkal. Bagian yang justru bisa menyatukan cara, pikiran atau prinsip yang beda itu.”
“Apa itu, Kang?”

TanganNya memutar sedikit layar laptopnya agar terlihat juga dari arahnya. “Kejadian ini mestinya mengingatkanmu tentang kemanusiaan. Kemanusiaan yang biasanya baru terlihat dalam sebuah bencana atau kejadian besar. Kemanusiaan yang kadang juga jadi alasan orang yang tidak bertanggungjawab untuk memanipulasinya.”
“Coba, lihat foto dan video ini secara peristiwa imanmu. Lihat dengan mata batin sesuai ajaran yang pernah Kuberikan.”
Aku menurut.

Kulihat lagi dengan seksama, video dan foto yang masih jelas terpampang di depan mata ini. Dari segala berita yang heboh akhir-akhir ini, harus diakui foto dan video kali ini menyejukkan. Bisa menurunkan sedikit intensitas emosi yang mungkin naik tanpa sengaja.
Kharisma yang dipancarkan dari keduanya, bisa seperti perekat atas perbedaan yang mungkin selama ini menjadi penghalang.
Kok aku malah jadi terharu ya?

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
“Yohanes 13:34-35,” samberku.
“Wah, tumben nyambung.” Kang Je rada terkejut.
Aku cengar cengir. Sedikit bangga. Jarang-jarang bisa hapal ayat yang dilontarkan Akang ganteng satu itu.
“Kamu ingat cerita tentang orang Samaria yang baik hati?”
“Yup,” jawabku sambal mengangguk.
“Nah, hendaknya kamu juga demikain kepada sesamamu manusia. Tidak melihat perbedaan yang ada diantara kalian, tetapi menjadikan ajaran Sang Maha lewat cara masing-masing itu, tentang kemanusiaan sebagai alat untuk menjaga kedamaian alam beserta isinya.”
“Hmm…” Mendadak ada pikiran iseng di kepala. “Kang Je beneran yakin kejadian ini murni karena kemanusiaan. Nggak nangkep ada agenda lain gitu?”
“Dari siapa?”
“Ya dua-duanya dong…”

Kang Je terdiam. Dia memperhatikanku dengan seksama, seperti tidak percaya.
Kalau aku ke Dia begitu, tanpa kukatakan apa yang kupikirkan pun, Dia pasti sudah mengerti.
Tapi, kalau Dia ke aku begini? Waduh… Bukannya aku yang bisa nebak apa yang sedang Dia pikirkan malah salah tingkah aku jadinya. Lha… Dia seperti sedang menyelediki sesuatu gitu.
Padahal pertanyaanku tadi benar-benar pertanyaan iseng saja.

“Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” Tiba-tiba Kang Je menjawab demikian.
“Roma 12:10,” samberku lagi.
“Lha…. Weladalah….” Suara Kang Je beneran seperti orang terkejut. Tidak menyangka. “Kok kamu jadi pinter gini? Rajin buka Kitab Suci?”
Aku nyengir sambal menunjuk layer. “Daritadi Kang Je liatin aku, jadi kesempatanku nyari ayat yang berhubungan. Eeehhh… Ada yang pas hehe…”
“Walah dasar….” Kang Je memukul pelan bahuku. Ia tertawa kecil.
Aku senang kalau kami bisa bergurau seperti ini. Ada rasa beda dan lebih dekat yang justru membuatku sangat nyaman bersamaNya.
“Itulah pentingnya mengerti semua ajaranku dengan baik dan benar. Tidak terbatas dari kalimat, tetapi juga diamalkan dalam perbuatan. Aku sangat bahagia jika peristiwa kali ini bisa menjadi inspirasi yang lain untuk memulai sebuah persaudaraan baru yang penuh kasih dan perdamaian.”
“Iya, Kang…” Aku menyimak. “Tapi, sebenarnya aku sempat berpikir juga, tidak mudah mengamalkan ajaranMu yang tentang kasihilah musuhmu itu, Kang… Nggak usah musuh, yang berbaik-baik dengan kita saja kadang suka sungkan dan alasan lain untuk sekadar menemani atau berkunjung. Lha ini… Kok ada ya manusia yang bisa berbesar hati menjenguk seterunya begitu?”
“Aku jadi mendadak ingat temanmu yang senang makan itu. Sapa namanya?” Kang Je seperti mengalihkan perhatian.
“Kobe?”
“Naaahhhh… Dia…” Kang Je membenarkan yang dimaksud. “Dia kan kamu sebut punya perut seluas samudra tuh karena segala makanan masuk dan dia jarang menolak dikasih makan apa saja meski barusan makan.”
“He-eh.”
“Kalau Kobe punya perut seluas Samudra, maka orang yang mau memperlakukan dengan baik orang lain yang justru pernah memperlakukan dia dengan tidak baik, bisa dibilang memiliki hati yang seluas samudra. Nyaris tidak terbatas. Tapi, dia sendiri juga tahu harus bagaimana memperlakukan orang-orang itu.”
“Seperti diriMu, Kang?” spontan kuucap kalimat itu.
Kali ini Kang Je tidak menjawab.
Cuma senyumnya yang pelan-pelan menyembul di bibirnya. Perlahan juga ada rona memerah di pipinya.
Aih… Kang Je nampak sedang berusaha menyembunyikan rasa terdalamnya habis kupuji barusan.
Senyumnya masih berkembang di bibirnya sampai akhirnya Ia menarik tubuhku dalam pelukanNya nan hangat.
Aaarrgghh… Ini adalah hal yang sangat menyenangkan bagiku.
Mendapat kehangatan dan kedamaian dalam pelukan Seseorang yang selalu ada bagiku ini.
“Terimakasih, anakKu…. Terimakasih…. Selalu berbuat baiklah bagi sesame yaa… BerkatKu selalu buatmu…”
Pelukan hangat itu ditutup dengan berkat dariNya di keningku.
Kuterima dengan segala kegairahan penuh kasih yang kelak bisa kubagikan juga kepada yang lain.

Terimakasih, Kang Je… (anj 19)

Unsur Doa yang Baik dan Benar menurut Iman Katolik

1
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Mungkin sebagian orang menyadari bahwa doa-doa dalam Gereja Katolik sangat rapi dan tertata. Tidak heran karena Gereja Katolik selalu berdoa kepada Allah Tritunggal. Oleh sebab itu, isinya pun selalu mengandung Teologi Trinitaris.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Menurut Katekismus Gereja Katolik (KGK) 2559, “Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik”. Dari mana kita berbicara, kalau kita berdoa? Dari ketinggian kesombongan dan kehendak kita ke bawah atau ‘dari jurang’ (Mzm 130:1) hati yang rendah dan penuh sesal? Siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan (bdk. Luk 18:9-14). Kerendahan hati adalah dasar doa, karena ‘kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa’ (Rm 8:26). Supaya mendapat anugerah doa, kita harus bersikap rendah hati: di depan Allah, manusia adalah seorang pengemis.”

Oleh sebab itu, seorang Katolik setidaknya mengerti bagaimana cara berdoa yang baik dan benar sesuai dengan ajaran iman Katolik.

Pertama, pembukaan doa harus selalu dimulai dengan tanda salib (+): Dalam Nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus, Amin. Kemudian, dipilih kepada siapa doa itu ditujukan. Jika ditujukan kepada Allah Bapa, maka seyogyanya diakhiri dengan perkataan, ‘Doa ini kami sampaikan kepadamu dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan dan pengantara kami, yang hidup bersama Dikau dalam persatuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa’ atau menggunakan variasi lain, ‘Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami; Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami’; dan sebagainya. Setelah itu diakhiri dengan tanda salib.

Contoh: Bapa, kami bersyukur karena Engkau telah menjunjung perkawinan menjadi sarana keterlibatan suami-istri dalam karya penciptaan-Mu. Bahkan Engkau telah menguduskannya, dan menjadikannya sakramen cinta Kristus kepada jemaat.

Bantulah para suami-istri, agar selalu setia satu sama lain; tak jemu-jemu mengusahakan kebahagiaan pasangan; tak enggan untuk saling berkorban; berani bersikap jujur dan terbuka demi keutuhan keluarga; tidak lalai untuk saling menopang bila menanggung beban; dan siap saling mengampuni bila suatu saat mereka jatuh.

Apapun yang terjadi, bantulah mereka tetap mempertahankan keutuhan keluarga. Berilah mereka kekuatan agar dalam cobaan ini mereka tidak meninggalkan Dikau; sebaliknya tetap berusaha mendekatkan hati kepada-Mu, baik secara pribadi maupun lewat keterlibatan mereka dalam jemaat-Mu. Semua ini kami haturkan kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin. [Doa ini dikutip dari laman http://pendalamanimankatolik.com]

Kedua, jika doa itu ditujukan kepada Tuhan Yesus Kristus, maka seyogyanya diakhiri dengan perkataan ‘Engkaulah Tuhan dan pengantara kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa’ atau dengan variasi lain. Setelah itu diakhiri dengan tanda salib.

Contoh:

Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur atas penyertaan-Mu sepanjang hari ini. Kami menyadari bahwa banyak kesalahan dan kekurangan telah kami lakukan. Maka, kami mohonkan rahmat pengampunan dari-Mu dan berilah kami kekuatan untuk bangkit dari kesalahan kami. Semoga besok kami mampu menjadi murid-Mu yang sejati. Karena Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin. [Doa ini dikutip dari katolisitas.org].

Allah Berbicara, Manusia Menanggapinya

0
Gambar ilustrasi oleh anassar / Pixabay

Allah tidak henti-hentinya menyatakan diri-Nya kepada manusia ciptaan-Nya. Itulah yang kita sebut dengan istilah ‘WAHYU’. Wahyu adalah pernyataan diri Allah kepada manusia.

Bagaimana Allah mewahyukan diri-Nya? Pertama-tama melalui para Nabi. Dalam Perjanjian Lama kita banyak kali mendengar bagaimana para Nabi berbicara dengan Allah. Sayangnya, mereka tidak melihat wajah Allah itu. Seperti TV rusak, ada suara tapi tidak ada gambar. Mereka mendengar suara Allah dan berbicara dengan-Nya; tapi tidak melihat wajah-Nya. Kemudian, Allah yang semula tidak kelihatan itu mewahyukan diri-Nya dalam diri Yesus Kristus. Dia adalah pemenuhan seluruh wahyu yang pernah disampaikan sebelumnya.

Melalui Yesus, Allah yang tadinya hanya didengar suara-Nya, akhirnya bisa dilihat juga wajah-Nya. Bukan hanya itu. Ia juga bisa menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya, bergaul dengan mereka, dan mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya.

Lantas, bagaimana kita menanggapi wahyu Allah itu? Tidak ada cara lain, kecuali dengan menunjukkan ‘ketaatan iman’. Iman adalah tanggapan manusia terhadap pernyataan diri Allah. Dengan iman, kita menerima kebenaran wahyu.

Iman ini harus diteruskan. Tidak boleh berhenti di tangan kita. Allah telah menetapkan bahwa apa yang diwahyukan-Nya demi keselamatan semua bangsa, harus tetap utuh untuk selamanya dan diteruskan kepada semua keturunan-Nya. Para rasul mewartakan Sabda Tuhan dengan dua cara, yaitu secara lisan dan tertulis, dan yang lisan ini disebut Tradisi Suci. Dengan demikian, wahyu Allah itu bukan hanya disampaikan melalui Kitab Suci, tetapi juga melalui Tradisi Suci.

Mengapa mesti ada Tradisi Suci? Penginjil Yohanes, pada bagian akhir Injilnya menuliskan: “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yoh. 21:25).

Makanya, jika kita perhatikan, ada banyak hal yang menjadi praktik umum di dalam Gereja Katolik tidak ditemukan referensinya dalam Kitab Suci. Tetapi semua itu sudah berkembang secara turun-temurun sejak zaman para rasul. Praktik-prakti itu sampai kepada kita melalui Tradisi Suci. Jadi, Tradisi Suci yang diajarkan oleh Gereja Katolik adalah Tradisi Apostolik, yaitu Tradisi yang diperoleh dari para rasul, yang diperintahkan oleh Kristus untuk mewartakan semua perintah-Nya (lih. Mat 28:19-20).

Contoh Tradisi Suci adalah: 1) Doktrin- doktrin yang diajarkan Gereja Katolik melalui Konsili- konsili; 2) Doktrin/ajaran yang diajarkan oleh Bapa Paus, selaku penerus Rasul Petrus, dan yang juga diajarkan oleh para uskup dalam kesatuan dengan Bapa Paus; 3) Tulisan pengajaran dari para Bapa Gereja dan para orang kudus (Santo/Santa) yang sesuai dengan pengajaran Magisterium; 4) Katekismus Gereja Katolik; 5) Liturgi dan sakramen-sakramen.

Siapa yang berwenang menafsirkan Sabda Allah? Ini pertanyaan yang sering ditanyakan oleh umat. Banyak di kalangan umat beriman mengira bahwa umat tidak boleh menafsirkan Sabda Allah. Bahkan, ada juga yang mengatakan umat tidak boleh membaca Kitab Suci.

Perlu kita ketahui bahwa tidak ada larangan menafsirkan Sabda Allah, apalagi larangan membaca Kitab Suci. Justru sebaliknya, kita didorong terus-menerus supaya rajin membaca Kitab Suci.

Yang dimaksudkan dengan ‘berwenang’ di sini adalah otoritas yang memberikan penafsiran resmi Gereja. Bahwasanya, masing-masing kita boleh menafsirkan Sabda Allah, tetapi Gereja memegang otoritas tunggal untuk memberikan penafsiran resmi. Itulah yang disebut dengan wewenang mengajar Gereja atau Magisterium.

Bayangkan saja jika tidak ada otoritas semacam itu. Semua orang menafsirkan sendiri-sendiri dan beranggapan bahwa tafsirannya yang paling benar. Jika itu yang terjadi, hancurlah Gereja ini. Gereja tidak mau seperti itu. Kita boleh saja menafsirkan sendiri-sendiri, tetapi pada akhirnya tafsiran kita itu tidak boleh bertentangan dengan penafsiran resmi Gereja.

Bukti bahwa kita boleh menafsirkan Sabda Allah, misalnya dalam sharing Kitab Suci. Dalam sharing itu, masing-masing kita memberikan penafsiran sendiri-sendiri. Tidak ada yang melarang kita di sana. Tetapi, tafsiran kita itu tidak pernah dijadikan acuan untuk yang lain. Begitu maksudnya.

Sejarah Gereja Katolik Timur, Bag. V Katolik Maronit (Tradisi Antiokhia)

0

Katolik Maronit

Kepatriarkhan Anthiokhia adalah Gereja yang berdasarkan tradisi dan didirikan oleh Santo Petrus dan Paulus sebagaimana tertulis dalam Kisah Para Rasul XI.

Didalam pasal tersebut juga tertulis bahwa “Di Antiokhialah murid-murid itu disebut Kristen”. Santo Evodius adalah Uskup Antiokhia yang memegang suksesi Apostolik sampai tahun 66 Masehi, kemudian dilanjutkan oleh Santo Ignatius dari Antiokhia.

Kepatriarkhan Antiokhia yang berlandaskan tradisi Santo Petrus dan Paulus dimiliki oleh sejumlah Gereja Katolik Timur: diantaranya, Patriarkhat Melkit, Patriarkhat Syria dan Patriarkhat Maronit.

Pengikut Jejak Santo Maron 

Pada abad ke-empat, hiduplah seorang petapa bernama Maron. Dia hidup saleh dan meninggal pada tahun 410 Masehi. Santo Maron adalah teman dari Santo Yohanes yang disebut Krisostom atau Mulut Emas, Sang Patriarkh Konstantinopel dan Bapa Gereja yang masyhur. Santo Maron terkenal sebagai pribadi yang berkarisma.

Beberapa tahun sepeninggal Santo Maron, bahkan 800 biarawan mengambil jalan hidup menurut tauladan Santo Maron. Mereka ini dikenal sebagai Maronit. Para Maronit membangun biara diantara Aleppo dan Antiokhia dan mengabarkan Injil disana. Pada abad ke-lima, para Maronit menerima dengan sepenuhnya doktrin Kristologis dari Konsili di Kalsedon.
Oleh sebab invasi Muslim pada abad ke-tujuh sampai ke-sepuluh, berbagai macam konflik yang terjadi didalam Kekaisaran Byzantium, memaksa para Maronit untuk hijrah dari tanah Syria, gereja dan Biara mereka ke tempat perlindungan alami, yaitu ke pegunungan Libanon. Disana mereka pertama-tama hidup di grotto-grotto dan gua-gua. Kemudian hari mereka membangun gereja-gereja kecil dan biara-biara.

Pada abad ke-delapan, Maronit berkembang dengan sangat pesat meskipun di lingkungan yang sangat terasing di pegunungan Libanon. Oleh karena perkembangan ini, maka para Maronit ini berkembang menjadi suatu Gereja yang mandiri dan memiliki Uskup, yang kemudian mengambil gelar Patriarkh Antiokhia dan Segenap Timur.

Tetap Satu Komuni Dengan Paus Roma

Maronit membuka komunikasi dengan Gereja Latin pada abad ke-duabelas. Pada tahun 1182, segenap Maronit mengonfirmasi persatuan mereka dengan Takhta Suci Santo Petrus di Roma. Para Maronit memegang kepercayaan bahwa Gereja Maronit tidak pernah memutuskan hubungan dengan Takhta Suci Roma.

Patriarkh Jeremias II Al-Amshitti adalah Patriarkh Maronit pertama yang mengunjungi Roma, ketika dia menghadiri Konsili Lateran ke-empat pada tahun 1215. Peristiwa ini menandai awal hubungan erat dengan Takhta Suci Roma, tetapi juga permulaan Latinisasi yang berkelanjutan.

Kehidupan Gereja Maronit

Sinode Reformasi Utama mengambil tempat di Bukit Libanon pada tahun 1736. Disana terurai serangkaian Hukum Kanonik Gereja Maronit yang lengkap, membentuk struktur Keuskupan untuk kali pertama, dan menetapkan garis-garis besar kehidupan Gerejani Maronit yang dijalankan sampai saat ini.

Pada abad ke-sembilan belas, kekuasaan kerajaan-kerajaan barat, teristimewa Perancis, mulai menawarkan perlindungan kepada Gereja Maronit, ditengah-tengah kekuasan Kekaisaran Utsman. Pembantaian ribuan Maronit pada tahun 1860 memicu Perancis untuk mengintervensi dengan angkatan bersenjatanya. Usai Perang Dunia I, baik Libanon maupun Syria berada dibawah kendali Perancis.

Tatkala Perancis menganugerahi kemerdekaan penuh kepada Libanon pada tahun 1943, dibebankan juga peraturan yang menjamin keamanan untuk komunitas Maronit tetap menjadi mayoritas, dan agar Presidennya selalu seorang Maronit. Tetapi hal ini tidak bertahan lama, setelah perang sipil yang berlangsung di Libanon pada tahun 1975. Kristen tidak lagi menjadi agama mayoritas, lagipula banyak Maronit meninggalkan Libanon untuk menjalani hidup yang baru di Barat. Keutamaan Libanon sendiri akhirnya dipandang kurang penting.

Pada 7 September 1989, Santo Paus Yohanes Paulus II mengangkat isu dalam Surat Gembalanya mengenai situasi di Libanon kepada segenap Uskup Gereja Katolik. Sang Santo menulis : “Tanpa ragu, hilangnya Libanon akan menjadi dukacita dunia yang besar” dan mengatakan bahwa Libanon adalah “salah satu dari tugas-tugas penting dan dermawan yang harus diperhatikan oleh dunia sekarang ini.” Perang sipil kemudian berakhir pada tahun 1990, tetapi banyak kerugian yang dialami negara itu. Santo Paus Yohanes Paulus II kemudian menghimpunkan Sinode Para Uskup demi kepentingan Libanon, dan Sang Santo sendiri mengunjungi Libanon pada bulan Mei 1997.

Dengan situasi yang baru di Libanon, dibukalah Dialog Kepatriarkhan Maronit selama tiga tahun, dimulai dari Juni 2003. Tujuannya adalah untuk menemukan kembali warisan dan tradisi Gereja Maronit, menemukan jati diri Maronit, mempromosikan pembaruan cara hidup gerejani, serta mengukuhkan kembali keutuhan Gereja Maronit.

Takhta Kepatriarkhan dan Tradisi Maronit

Sejak 1790 Takhta Kepatriarkhan Maronit bertempat di Bkerke, 25 mil jauhnya dari Beirut. Pada saat ini ada sepuluh Keuskupan di Libanon dengan delapan ratus paroki, dan tujuh yuridiksi di Timur Tengah.

Liturgi Maronit mengambil asal dari tradisi Syria Barat, tetapi juga memiliki pengaruh dari Syria Timur, dan seperti yang ditulis diatas, memiliki pengaruh dari Latin. Tata Liturgi Ekaristi dirayakan dengan bentuk Liturgi yang ditulis oleh Santo Yakobus, Rasul.

Liturgi Ekaristi sering disebut dengan nama yang berbeda-beda. Dalam bahasa Syria disebut: “Qurbono”, dalam bahasa Arab disebut: “Quddas”, terkadang juga disebut: “Kurban Misa”, “Liturgi Ilahi”, ataupun “Pelayanan Misteri Kudus”.

Konsekrasi Dengan Bahasa Aram 

Bahasa yang digunakan dalam Liturgi umumnya adalah bahasa Syria, dan bahkan konon kata-kata konsekrasi yang diucapkan oleh Imam adalah kalimat yang persis diucapkan kata per-kata oleh Tuhan Yesus Kristus kepada para Rasul dalam bahasa Aram yang tidak diterjemahkan.

Berikut, kata-katanya:

“Sab akhoul meneh koul-khoun: hono dein itow faghro dil. DaHlofaikoun waHlof sagiye met(e)qse (ou)metiheb lHousoyo dHowbe walHaye dal ‘olam ‘olmin.”

(Ambil dan makanlah kamu semua: ini tubuh-Ku yang terpecahkan dan diserahkan bagi kamu dan banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa dan untuk hidup yang kekal)

“Sab eshtow meneh koul-khoun: hono dein itow dmo dil ddiyatiqi Hdato. daHlofaikoun waHlof sagiye meteshed (ou)metiheb lHousoyo dHowbe walHaye dal ‘olam ‘olmin.”

(Ambil dan minumlah dari sini kamu semua: ini darah-Ku, darah suatu Perjanjian yang baru yang tertumpah bagi kamu dan banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa dan untuk hidup yang kekal).

Berbeda dengan interpretasi oleh Gereja lain, Gereja Maronit tidak menerjemahkan “banyak orang” dalam kata-kata diatas yang merujuk kepada “semua orang”.
Arti dari hidup yang kekal adalah sama dengan kata ” saecula saeculorum” dalam Latin, atau dari abad ke abad.
Dalam Liturgi juga secara tradisional diyakini bahwa yang digunakan untuk Air-Anggur adalah piala (chalice) dan bukan sekadar cawan (cup).

Oleh sebab invasi Arab, kemudian hari sebagian besar ucapan dalam Liturgi (selain kalimat dalam Anafora) dituturkan dengan bahasa Arab.

Ikonografi

Ikonografi dalam Gereja Maronit mengambil akar yang sama dengan Gereja-gereja lainnya, yaitu memiliki dasar dari Ikon yang tidak dibuat oleh tangan dari Edessa, dan Ikon yang dilukiskan oleh Santo Lukas, Penginjil.

Ikonografi Gereja Maronit selain mengalami penyederhanaan, juga mengalami inkulturasi yang besar dan penyesuaian dengan gaya Syria yaitu ras yang dimiliki oleh mayoritas para Maronit.

Sumber: “Lembaga Penelitian Santo Dimitry – Rumah Byzantin”

Kontradiksi Roti Beragi dan Roti Tak Beragi

0
RobertCheaib / Pixabay

Keberatan:

Sebelum berbicara mengenai Kontradiksi Roti beragi dan tidak beragi, maka baiklah kita lihat kapankah Roti tidak beragi digunakan dalam tradisi Yahudi?

Yehezkiel 45 : 21

Pada bulan pertama (Nisan), pada tanggal empat belas bulan itu haruslah kamu merayakan hari raya Paskah, dan selama tujuh hari kamu harus makan roti yang tidak beragi.

“Kapankah Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir dimana dia pertama kali mengkonsekrasi Roti dan Anggur menjadi tubuh dan darahNya sendiri?”

Ada sedikit kontroversi. Menurut Mat 26:17, Mrk 14:12, Luk 22:7 paskah dirayakan pada hari pertama Paskah, dalam penanggalan Yahudi adalah 14 Nisan. ini berarti bahwa roti yang dipakai di Perjamuan Terakhir adalah roti tak beragi. Namun di injil Yohanes disebutkan bahwa Perjamuan Terakhir terjadi sehari sebelum Paskah (Yoh 13:1), yaitu 13 Nisan. Ini berarti roti yang dipakai pada Perjamuan Terakhir adalah roti beragi.

Mengapa kemudian Gereja Orthodox atapun Gereja Katolik Timur menggunakan roti yang beragi?

Sebenarnya mengenai kontradiksi di atas antara ke tiga Injil di atas dengan Injil Yohanes, akan terjawab jika kita belajar Pemahaman INJIL dengan bahasa aslinya, dan melihat Roti apa yang sebenarnya Yesus gunakan saat Perjamuan Terakhir.

Kesan perbedaan dari Injil Matius 26 : 17, Markus 14 : 12, Lukas 22 : 7, dengan Injil Yohanes 13 : 1, akan terselesaikan jika kita melihat Roti apa yang sebenarnya Tuhan Yesus gunakan dalam kitab suci berbahasa aslinya. Artos / Prosfora / Roti Beragi, yang dipakai Jemaat Perdana dalam Perjamuan Kudus dan diterus sampaikan oleh Gereja Orthodox hingga sekarang.

Untuk menjawab Matius 26 : 17, kita merujuk kepada Matius 26 : 26

Matius 26 : 26

Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti (ἄρτος, Artos, Roti beragi), mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.”

Kemudian untuk menjawab Markus 14 : 12, kita merujuk kepada Markus 14 : 12

Markus 14 : 22

Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti (ἄρτος, Artos, Roti beragi), mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Ambillah, inilah tubuh-Ku.”

Dan Yang Terakhir untuk menjawab Lukas 22 : 7, maka kita merujuk kepada Lukas 22 : 19

Lukas 22 : 19

Lalu Ia mengambil roti (ἄρτος, Artos, Roti beragi), mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Kenapa terjadi Perbedaan antara 3 Injil (Mat, Mark, Luk) dengan Injil Yohanes alasannya adalah demikian :

  1. Dalam Tradisi Yahudi, jam 6 Sore adalah tanda pergantian hari.
  2. Jika Yesus merayakan itu pada malam hari sebelum hari raya (Yoh 13 : 1) maka adalah benar jika itu sudah masuk hari raya pertama paskah karena pergantian hari sudah dimulai jam 6 sore.
  3. ketiga Penulis Injil Matius, Markus, Lukas berpatokan pada waktu dimana Yesus merayakan Perjamuan Terakhir yakni Malam sebelum hari Pertama Paskah (Pergantian hari jam 6 sore maka sudah masuk hari pertama Paskah). namun 3 Penulis Injil sepakat bahwa Roti yang digunakan masih Roti beragi, karena memang baru keesokkan harinyalah Bangsa Yahudi memulai makan roti tidak beragi. Kemungkinan besar Yesus merayakan Perjamuan terakhir pada jam-jam pergantian hari (5 Sore – 7 Sore).
  4. Yohanes Penginjil kemungkinan mengatakan Hari sebelum Paskah karena memang itu belum masuk Paskah / jam-jam pergantian hari, dan kemungkinan patokan Yohanes Penginjil mengatakan Hari sebelum Paskah karena roti yang digunakan bukan Azumos (Roti tidak beragi) melainkan Artos (Roti Beragi)

Perbedaan Patokan antara 3 Injil (Mat, Mark, Luk) dengan Injil Yoh inilah yang mengakibatkan perbedaan statemen antara mereka.Matius, Markus, dan Lukas berpatokan pada kapannya Perjamuan Akhir, sedangkan Yohanes berpatokan pada Roti yang digunakan yakni Roti yang beragi.

ke empat Injil Kanonik sepakat bahwa Yesus menggunakan Roti beragi atau dalam bahasa yunaninya adalah ἄρτος (Artos).

Adalah suatu fakta bahwa Yesus tidak menggunakan Roti tidak beragi yang dalam bahasa Yunani disebut dengan ἄζυμος (azumos)

Azumos / Hosti / Roti Tidak Beragi, Ditradisikan oleh Gereja Barat (Katolik Roma dan Protestan) hingga sekarang.

Seperti dalam Injil Lukas 22 : 1

Lukas 22 : 1

Hari raya Roti Tidak Beragi (ἄζυμος, azumos), yang disebut Paskah, sudah dekat.

Dan ketika berbicara bagaimana seharusnya kita mengadakan Perjamuan Kudus? Yesus pernah bersabda

Lukas 22 : 19

Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Yesus menghendaki kita untuk melakukan dan berbuat seperti apa yang dilakukan-Nya dalam perjamuan terakhir untuk mengenangkan-Nya, dan inilah yang dilakukan dan dilaksanakan oleh Gereja Orthodox sampai sekarang, menghayati Perjamuan Terakhir disetiap Liturgi Illahi, Karena Perjamuan Terakhir adalah Peringatan dan Rekaman dari apa yang telah Yesus Perbuat.

Dan ketika kita berbicara mengenai Tradisi Rasuliah maka kita akan selalu mengacu kepada kitab-kitab Rasuliah

2 Tesalonika 2 : 15

Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.

Dan jika apa yang dituliskan oleh para rasul adalah Artos (Roti beragi) maka dengan Artos (Roti beragi) jugalah kita mengenangkan Perjamuan Kudus Tuhan.

Dan tradisi penggunaan Roti Beragi (Artos / Prosfora) ini juga terlihat dalam Tradisi Gereja Perdana

Kisah Para Rasul 2 : 42

Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti (ἄρτος, Artos, Roti beragi) dan berdoa.

Dalam Tradisi Gereja Perdana, Para jemaat selalu berkumpul untuk memecahkan roti dalam artian Roti beragi dan berdoa. Roti yang dikatakan selalu dipecahkan itu tidak dikatakan ἄζυμος (azumos / Roti tidak beragi) melainkan ἄρτος (Artos / Roti beragi)

Lalu bagaimanakah kejadiannya sehingga di Barat (Katolik Roma) memiliki Tradisi yang berbeda dari Gereja Orthodox yang mewakili Jemaat Perdana?

Sebelum Abad ke 6 tepatnya pada tahun 554, di barat pun memiliki keanekaragaman tradisi ada yang menggunakan roti yang beragi dan ada yang tidak beragi (hosti), baru pada abad ke 6 lah diputuskan wilayah barat harus memiliki tradisi yang sama yaitu menggunakan hosti dalam Ekaristi.

Penggunaan hosti secara sah berlaku seragam di seluruh Gereja wilayah barat baru pada abad ke 6 dengan Konsili setempat (wilayah barat) di Arles tahun 554.

 

Dan catatan mengenai Hosti sendiri, Penggunaannya di Gereja Barat ditradisikan baru pada abad ke 4 ini terdapat dalam catatan St. Epifanus, Yang sebenarnya Gereja Barat pun pada 3 abad pertama tetap setia menggunakan Tradisi yang sama dengan Gereja Timur (Orthodox).

Tanggapan

(1) Jika roti yang dimakan Yesus saat perjamuan Seder Pesakh adalah roti yang beragi hanya didasarkan atas kata Yunani ARTOS, maka kita telah mengontradiksikan dengan seluruh makna yang terkandung dalam Pesakh dan Perayaan ha Matsah (Roti Tidak Beragi).

(2) Bahkan Rasul Paul saja menghubungkan pengorbanan Mesias sebagai Anak Domba Paskah (1 Kor 5:7) dan Roti Tidak Beragi sebagai gaya hidup pengikut Mesias agar berjalan dalam kemurnian sebagaimana disimbolisasikan dalam Roti Yang Tidak Beragi sebagaimana dikatakan:

“Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran” (1 Kor 5:7-8). Kita telah memgetahui bahwa perjamuan akhir dirayakan pada hari raya roti tak beragi maka Yesus takkan melanggar hukum taurat dan tentu akan menggunakan roti tak beragi Markus 14:12 ,Lukas 22:7, Matius 26:17 dll dll dll

(3) Benarkah kata Yunani ARTOS menunjuk pada roti yang beragi?

Apabila kita melihat kata “artos” sebenarnya adalah kata umum untuk roti secara keseluruhan baik beragi maupun tidak beragi. Kita bisa melihat dalam beberpaa ayat septuaginta.

Levitivicus 8:26

καὶ ἀπὸ τοῦ κανοῦ τῆς τελειώσεως τοῦ ὄντος ἔναντι κυρίου ἔλαβεν ἄρτον ἕνα ἄζυμον καὶ ἄρτον ἐξ ἐλαίου ἕνα καὶ λάγανον ἓν καὶ ἐπέθηκεν ἐπὶ τὸ στέαρ καὶ τὸν βραχίονα τὸν δεξιόν

Numbers 6:15 – καὶ κανοῦν ἀζύμων σεμιδάλεως ἄρτους ἀναπεποιημένους ἐν ἐλαίῳ καὶ λάγανα ἄζυμα κεχρισμένα ἐν ἐλαίῳ καὶ θυσία αὐτῶν καὶ σπονδὴ αὐτῶν

Numbers 6:19

καὶ λήμψεται ὁ ἱερεὺς τὸν βραχίονα ἑφθὸν ἀπὸ τοῦ κριοῦ καὶ ἄρτον ἕνα ἄζυμον ἀπὸ τοῦ κανοῦ καὶ λάγανον ἄζυμον ἓν καὶ ἐπιθήσει ἐπὶ τὰς χεῖρας τοῦ ηὐγμένου μετὰ τὸ ξυρήσασθαι αὐτὸν τὴν εὐχὴν αὐτοῦ

Exodus 29:2

καὶ ἄρτους ἀζύμους πεφυραμένους ἐν ἐλαίῳ καὶ λάγανα ἄζυμα κεχρισμένα ἐν ἐλαίῳ σεμίδαλιν ἐκ πυρῶν ποιήσεις αὐτά

Sebagai tambahan  Kita lihat definisnya dari The New Testament Greek Lexicon sbb:

ἄρτος

food composed of flour mixed with water and baked

the Israelites made it in the form of an oblong or round cake, as thick as one’s thumb, and as large as a plate or platter hence it was not to be cut but broken

loaves were consecrated to the Lord

of the bread used at the love-feasts and at the Lord’s Table

food of any kind

http://www.searchgodsword.org/lex/grk/view.cgi?number=740

Perhatikan frasa “to be cut but broken” (dipecah). Ini khas roti tanpa ragi yang dimasak sehingga menjadi keras dan dapat dipecahkan

Josephus dan Philo memberikan deskripsi mengenai ARTOS sebagai MATSAH dan hidangan saat Seder Pesakh sebagaimana dikatakan:

“In addition, both early Jewish writers Josephus and Philo use artos in their description of the matzo of the Passover meal. Also, the loaves of the unleavened showbread in the Tabernacle and Temple, were regularly called artoi (plural of artos). It is understandable, then, that the gospel writers used the generic term artos because they knew that their readers would know what kind of bread they were talking about”

Lah jadi apakah ada kontradiksi penggunaan roti sakramental antara Katolik latin dan katolik timur dalam hal ini?

sama sekali tidak!

Sementara itu Gereja sendiri menetapkan bahwa baik roti beragi maupun tak beragi adalah sah untuk dikonsekrasi:

Pernyataan dari Konsili Florence (dimana kesatuan sementara antara Barat dan Timur tercapai) yang menyebutkan bahwa baik roti beragi maupun tak beragi adalah sah untuk mengkonsekrasi. Meskipun begitu tiap-tiap Gereja HARUS mengkonsekrasi roti menurut tradisi mereka (kalau Barat, ya konsekrasi yang tak beragi, dan sebaliknya). Bila konsekrasi dilakukan berlawanan dengan tradisi mereka (ie. barat mengkonsekrasi roti beragi, dan sebaliknya) maka konsekrasi itu illicit (melanggar hukum) dan merupakan bentuk penyelewengan Liturgis MESKIPUN konsekrasinya tetap sah (roti telah berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus)

The Ecumenical Council of Florence

Session 6—6 July 1439

Maka roti tak beragi mapun roti beragi ketika dikonsekrasikan secara rasuli maka tetap menjadi tubuh dan darah kristus

Penulis : Jamal benedict Counttall

Tuhan memberkati