10.5 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 74

Renungan Masa Adven: Tuhan Datang Menyelamatkan yang Tersesat

0

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor diantaranya sesat, tidakkan ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?” (Mat 18: 12)

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Dalam hidup, manusia tidak pernah lepas dari “MASALAH”. Ada dua pilihan, menghadapi atau lari dari masalah tersebut. Ketika berani menghadapi masalah tersebut, maka jiwa dan pikiran akan terbebas dari belenggu. Ya, masalah adalah suatu belenggu yang menghambat, menghalangi, dan membuat jatuh. Terkadang, menyalahkan orang lain merupakan suatu cara yang dilakukan untuk merasa bebas. Benarkah terbebas jika menyalahkan orang lain? Bahkan, menyalahkan Tuhan karena memberi kita ujian melebihi kemampuan kita?

Sejenak, kita melupakan kehadiran Tuhan di dalam hidup kita. Merasa terpuruk, sedih, dan kecewa karena Tuhan seolah membiarkan kita mengalami ujian berat dalam hidup. Lupa untuk berdoa dan berserah kepada Tuhan, hanya memikirkan betapa berat hidup ini, satu masalah selesai, muncul masalah kedua. Seakan tidak ada habisnya dan merasa bahwa tidak ada yang mengerti perasaan kita.

Pemikiran-pemikiran yang muncul saat menghadapi masalah sejenak akan membuat tersesat bahkan hilang. Perasaan dan pemikiran buruk akan terus muncul dan menghantui seakan, masalah tersebut terus-menerus mengejar. Ingin lari, namun tidak bisa. Tak jarang, masalah membuat manusia jatuh ke dalam dosa. Mengutuk, memaki, dan ingin mengakhiri semuanya dengan segera, merupakan suatu kekalahan yang membuat kita semakin tersesat dan jauh dari Tuhan.

Apakah Tuhan diam melihat anak-Nya dalam masalah? Tentu saja tidak. Dia ada menyertai umat-Nya dengan cara-Nya sendiri. Dia ada sebagai tangan-tangan yang mengangkat kita dari lubang yang dalam. Kehadiran-Nya berasal dari orang-orang sekitar, sahabat, keluarga, maupun pasangan. Mereka perpanjangan tangan Tuhan, hadir untuk membantu, menyemangati, dan bersama-sama menghadapi masalah. Mereka akan menjadi pengingat, untuk berdoa dan berpasrah kepada Tuhan, membuat kita kembali pada-Nya.

“Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang” (Mat 18: 14)

Setiap manusia begitu berharga di mata Tuhan. Kita tidak pernah luput dari pengawasan-Nya. Ia begitu mencintai kita sehingga rela mengorbankan yang paling berharga, Putera-Nya sendiri untuk membebaskan manusia dari segala dosa. Tuhan tidak pernah tidur atau lelah menjaga manusia. Setiap masalah yang muncul, harus disyukuri dan dihadapi. Masalah datang untuk suatu alasan yaitu membuat kita belajar dan menjadi lebih kuat dalam menghadapi setiap hambatan.

Ketika sudah tidak ada lagi harapan, masuklah ke dalam kamar. Renungkan sejenak, kenapa hal tersebut terjadi. Pikirkan orang-orang yang kita cintai. Menangis, marah, dan berteriak bukan sesuatu yang memalukan. Jika hal tersebut membuat hati kita lega, lakukanlah. Setelah itu, siapkan hati untuk berdoa. Serahkan semua yang terjadi pada Tuhan. Ungkapkan dalam doa, apa yang kita rasakan. Tuhan akan selalu mendengarkan umat-Nya tanpa terkecuali. Buka hati dan pikiran, sehingga Tuhan dapat bekerja dengan cara-Nya dan menuntun kita kembali pada-Nya.

Tuhan, kuletakkan semua marahku, sedihku, kecewaku, permasalahanku dalam tangan-Mu. Bukalah hati dan pikiranku. Bantulah aku untuk selalu bersyukur dan bersabar. Aku tahu Engkau tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuanku. Aku tahu bahwa Engkau mencintaiku dan tidak akan membiarkanku tersesat. Sertailah aku dalam setiap perjalanan hidupku. Amin.

Kang Je (nggak) Perlu Dibela

0

Musim hujan tiba.
Seperti yang sudah-sudah, musim hujan begini kudu banyak beberes kamar termasuk nge-cat dinding kamar yang terkena dampaknya. Karena lokasi kamarku ini masuk daerah lembab, dinding jadi tak sedap dipandang dan alasan tidak baik juga buat kesehatan.
Maka, setelah jiwa raga sudah seratus persen sadar dari bangun pagi, kusiapkan semua perlengkapan ngecat dinding kali ini. Tidak terlalu banyak karena cuma sebagian tembok. Tapi, tetap saja merepotkan. Ini bukan pekerjaan yang mudah.

Ditemani lagu dari radio dan cerahnya cuaca, kulakukan pekerjaan yang jarang-jarang ini dengan segera sebelum lebih siang. Sesekali aku beristirahat sejenak, membuang lelah.
“Cape ya ngecet itu? Sini Ku bantu,” suara yang kukenal baik terdengar dari arah samping kanan.

“Heh? Kang Je? Walah…. Kapan datang?” aku sangat terkejut begitu mengetahui siapa yang ada di sebelahku kini. Hampir saja aku melompat kaget.
Orang di sebelahku tersenyum manis. Dia mengambil kuas di tanganku lalu mulai mengecat.
Mulutnya bersiul-siul kecil. Sementara aku malah bengong dan bingung sendiri.
“Semalam bisa tidur? Katanya tadi bangun pagi kepalanya rada pusing?” tanya Kang Je santai.

“Iya, Kang… Semalam kan matengin tivi karena kegiatan yang tadinya damai, malah rame itu lho…,” jawabku malah membantu apa yang dikerjakan Kang Je kini.
“Lalu, kenapa nggak istirahat saja? Kan Sabtu kamu libur?”
“Waaaa… Sudah beberapa Sabtu ini aku nggak bisa beberes kamar. Nanti bisa lebih berantakan kamarku,” jawabku. “Lagian, ini kan juga demi kesehatan. Ditunda-tunda bisa bahaya…”

“Nggak pengen liat sisa kejadian kemarin? Sekalian ngecek teman-temanmu di sana, siapa tahu ada yang harus ditengok?”
Aku menggeleng. “Aku di sini juga harus menyelesaikan urusanku sendiri dulu, Kang… Kalau ini beres, boleh juga ke sana. Tapi, kalau sudah aman sentausa ya…”
Kang Je menyudahi pekerjaannya.
Cepat juga.
Tembok kamarku jadi rapi. Padahal tadi sempat belang belonteng.
Ah… Aku lupa. Dia kan yang bisa segala, termasuk merapikan yang belang belonteng dibuat manusia….

Sebentar dikibas-kibaskan jubah putihNya itu. Kang Je duduk di lantai, melepas lelah.
Kusodorkan air putih sekadar penghela haus yang mungkin muncul karena semangat mengecat barusan. Kang Je langsung meminumnya sampai habis. Tentu saja dengan sigap kuisi penuh lagi.

“Aku senang kamu memilih memberesi yang berhubungan dengan dirimu sendiri dulu, baru mencoba keluar. Seperti yang pernah Kukatakan padamu, kasihanilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.”
Aku terdiam. Sekain kali aku diingatkan ayat itu.
Ya, semoga aku semakin mengasihi diriku sendiri karena demikianlah aku mengasihi orang lain.

“Apa rasamu melihat peristiwa kemarin?” tiba-tiba raut wajah Kang Je berubah serius.Senyum manisnya itu menghilang dari wajah teduhnya itu.
Aku pun memandangnya tak kalah serius.
“Kenapa nanya gitu, Kang? Kang Je juga terusik?”
Kang Je mengelap wajah dengan tanganNya.

Terlihat keprihatinan terkias di sana. Mungkin ada berjuta rasa melebihi rasa kaget, sebal bahkan marahku begitu semalam melihat peristiwa demo rusuh itu di televisi.
“Aku mengasihi mereka, anak-anakKu. Aku juga mengasihi kamu… Kalau ketika kasih ini Kusebarkan kepada kalian semua, mengapa kamu tidak juga saling mengasihi?”
“Kan masalahnya bukan itu… Masalahnya soal bagian agama yang konon dinistakan,” belaku.
Mendadak Kang Je menghadapku. Pandangan matanya beda dari yang pertama. “Menurutmu, agama itu apa?”

Wah pertanyan serius lagi ini…. Aku berpikir dulu.
“Apa ya…” Aku mengetuk-ngetukkan jari manisku di ujung dagu, “Mungkin seperti naik mobil kali ya, Kang… Bisa jadi kita tujuannya sama, tapi naik mobilnya beda-beda. Tergantung kita nyamannya gimana.”

Senyum yang menggambarkan kedamaian dan keteduhan itu berkembang lagi.
Lebar sekali. Seperti langit yang cerah di atas sana. Burung pun berkicauan dan menari kian kemari. Indah sekali hari ini.

“Tapi, dalam perjalanannya kan, naik mobil juga suka ugal-ugalan Kang. Kadang malah sengaja nabrakin ke orang yang nggak ada hubungannya. Bukan karena ada masalah, tapi sok-sokan aja,” gerutu saya kalo ingat kejadian di jalan raya akhir-akhir ini.
“Maka, ikutilah aturan rambu lalu lintas. Jangan dilanggar. Turuti juga apa yang dibilang atau diingatkan polisi yang mengatur,” jawab Kang Je mantap.

“Kalo polisinya ternyata pungli, Kang?”
“Ya jangan dituruti dong… Laporkan ke Satgas pungli yang sudah dibuat pemerintah.”
“Haha…,” aku tertawa senang. “Kekinian juga dirimu, Kang…”
Kang Je tersenyum bangga sambil mengangkat kepala seolah bangga. “Iya, dong… Emang kamu aja?”

Sebentar kami ngobrol ngalur ngidul termasuk rencana masak hari ini.
Aku memang berencana buat lodeh dengan lauk ikan goreng dan sambal. Kata Kang Je, dia mau nunggu sampai masakanku kelar. Nggak mau pergi karena perutnya lapar setelah ngecat tadi…

“Tapi, Kang… Gantian aku nanyaya…, menurut Kang Je, apa yang dilakukan oleh orang yang didemo itu salah atau benar?” ganti aku yang nanya serius.
“Hmmm…” Kang Je bisa juga diam sebentar untuk mendapat jawaban pasti. “Kejadian ini mengajarkan kita banyak hal. Pelajaran tentang manusia itu tetap punya kekurangan dan kelebihannya. Kita nggak bisa menilai orang dari satu sisi saja. Bahwa itu menyakiti sebagian dari umatKu, Aku bisa mengerti. Namun, hendaknya itu tidak meluas apalagi menjadi alasan lain yang tidak ada hubungannya, Karena hal ini maka Aku sempat bersedih tadi. BagiKu… kalian semua anak-anakKu. Apa pun yang terjadi, kalian tetap anak-anakKu bahkan saat hatiku berulangkali kau susahkan….”

Suasana kembali sendu.
Keceriaan langit mendadak kelabu. Aku jadi ikut mellow dan terbawa suasana begini.
Kutebak dalam beberapa saat, hujan deras akan menerpa bumi. Mendungnya sudah pekat.
“Ngomong-ngomong… Aku penasaran banget..,” aku mencoba menutup sendu suasana dengan obrolan baru. “Apakah diriMu itu merasa perlu dibela, Kang?”
“Aku?” Kang Je menunjuk dirinya sendiri. “Buat apa?”
“Ya… Ya kan sebagai tanda cinta dan perhatian kepada Sang Maha…” Aku bingung sendiri menjawabnya.
“Halah…,” Ia mengibaskan tangan di hadapanku. “Kalau kamu mau bela Aku, mau pakai apa?”
Lagi-lagi aku diajak berpikir. “Pake apa ya…”
“Demo? Petisi?”
“Naaahhh… Petisi keren tuh, Kang…,” gurauku.
“Petisi apa? Petisi onlen itu? Walaaahhh…. Mau berapa ribu yang bersedia paraf dengan judul Membela Kang Je?”

Aku senyum-senyum nggak jelas. “Bisa lebih dari itu, Kang… Lebih buanyuak…,” aku membuat gerakan tangan yang menyatakan sesuatu yang banyak.
“Okelah… Kalau sudah begitu, apa dampaknya? Bakal banyak yang mengikuti Aku? Atau malah menghujat karena cara-caranya umatNya yang aneh begitu?”
“Nah itu…” Aku seperti disadarkan. Bener juga ya…
Kang Je merapatkan dudukNya, “Aku nggak perlu dibela, anakKu. Aku yang justru akan membela kamu. Kalau kamu mau membela Aku, belalah hati dan hidupmu supaya bisa memancarkan suka cita dan kasihKu yang sesungguhnya…”
Duh.

Kang Je ini lho… Jarang-jarang berkunjung, sekali berkunjung bikin aku merasa disentil terus. Dan, herannya, sentilannya itu betul banget. Betapa aku, manusia yang penuh dengan kekurangan ini kadang memang lebih sering menuruti nafsu daripada ketduhan kasihNya yang selalu mengajarkan kebajikan kepada siapa saja.
“Ayo sudah… Jangan banyak ngobrol lagi… Mau hujan pula. Sayur lodeh dan ikan gorengmu nggak jadi dimasak nanti lho… Aku lapar nih…” Kang Je menunjukkan perutnya yang…. Hihi…, ternyata sedikit buncit. Bukan six pack…
Baiklah, Kang…
Terimakasih untuk kedatanganmu hari ini.
Sekarang bantuin aku masak ya….

Renungan Masa Adven: Nubuat Yesaya dan Seruan Yohanes Pembaptis tentang Kedatangan Tuhan

0
Minggu ini kita mendengar seruan dua orang nabi: Yesaya dan Yohanes Pembaptis. Nabi Yesaya memberikan gambaran saat Tuhan itu datang; Yohanes Pembaptis menyerukan langkah persiapan untuk menyambut kedatangan Tuhan itu.

Biasa dan selalu terjadi di mana-mana, jika ada satu orang penting berencana untuk datang ke suatu tempat, maka ada dua hal yang terjadi. Pertama, akan muncul pemberitaan mengenai orang itu dan semua media akan mengulas soal hari kedatangannya. Kedua, akan ada orang yang diutus untuk menyiapkan jalan baginya, atau yang biasa disebut dengan mengirim ‘inteligen’.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Sebagai contoh, ketika presiden Amerika Serikat hendak datang ke Indonesia, jauh hari sebelumnya sudah disiarkan di TV lokal kita bahwa presiden Amerika Serikat akan datang. Bukan hanya itu. Sudah pasti ada inteligen yang diutus ke Indonesia untuk mempersiapkan jalan bagi presisen Amerika Serikat; dengan cara melihat situasi apakah memungkinkan bagi presiden mereka untuk datang ke Indonesia atau jangan-jangan situasi keamanan di Indonesia tidak memungkinkan hal itu terjadi.

Logika berpikir yang sama terjadi dengan kedatangan Sang Mesias. Pada saat ini kita berada pada masa adven. Adven, kata Latin ‘adventus’ yang berarti kedatangan. Kedatangan siapa? Tidak lain adalah kedatangan Yesus. Kedatangan Yesus ini tentu tidak secara tiba-tiba. Pemberitaan mengenai kedatangannya sudah lama diberitakan jauh hari sebelum diri-Nya datang. Bahkan ada orang yang sudah menyiapkan jalan bagi kedatangan-Nya.

Ada dua tokoh Kitab Suci yang sering muncul pada saat adven seperti ini, yaitu Nabi Yesaya dan Yohanes Pembaptis. Keduanya sama-sama memberitakan soal  kedatangan Mesias. Bahkan Yohanes Pembaptis dengan tegas mengatakan bahwa dirinya diutus untuk menyiapkan jalan bagi Yesus.

Nabi Yesaya mengajak orang-orang di sekelilingnya untuk bersukacita, tidak perlu lagi ada kesedihan dan duka cita sebab kasih setia Tuhan tidak akan beralih dari umat-Nya. Nabi Yesaya berusaha memberikan penghiburan bagi mereka yang tidak berpengharapan lagi; bahkan, menurutnya, orang mandul sekalipun akan memperoleh keturunan yang banyak sebab Tuhan setia pada janji-Nya.

Nabi Yesaya menegaskan bahwa Tuhan setia mendampingi umat-Nya. Jika Tuhan ada bersama kita, apa lagi yang perlu kita takutkan? Jika Ia tinggal bersama kita apalagi yang membuat kita cemas dan gelisah?

Kesetiaan Tuhan dalam mendampingi umat-Nya tampak secara nyata lewat kedatangan Yesus ke dunia. Dengan lahir ke dunia, Ia ingin melihat dari dekat kehidupan manusia, berbaur dengan manusia, dan hidup sebagai manusia. Warta mengenai kedatangan-Nya itulah yang sedang dibicarakan oleh Yesaya.

Selain Nabi Yesaya, tokoh kedua yang sering muncul dalam bacaan menjelang Natal adalah Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis seringkali mengulangi seruan Nabi Yesaya untuk menyongsong kedatangan Yesus Kristus, Sang Mesias: “… ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya” (Markus 1:3).

Siapa sebenarnya Yohanes Pembaptis itu? Dia bukan tipe orang yang gemar membuat pencitraan. Ia tidak hidup mewah. Tempat tinggalnya bukan di istana raja sebab dia bukan seorang raja. Dia hanya orang biasa yang berusaha menyerukan kebenaran. Ia adalah pria yang tegas dan sederhana, saat hidup di padang gurun Yudea dia hanya memakai jubah bulu unta, ikat pinggang kulit, makanannya ‘belalang’ dan madu hutan (Markus 1:6). Tetapi ia mendapat ganjaran dari apa yang dibuatnya, ia lebih besar dari semua manusia yang lain. Itulah sebabnya Yesus memuji Yohanes Pembaptis.

Setiap masa adven seperti ini, kita banyak kali mendengar namanya disebut-sebut. Nama Yohanes berarti ‘Allah merahmati’. Ya, Allah merahmati hidup kita lewat kelahiran Yesus Sang Juruselamat.

Yohanes Pembaptis berseru-seru di padang gurun supaya orang bertobat. Seruan Yohanes ini hendaknya menjadi ajakan bagi kita untuk mempersiapkan diri bagi kedatangan Yesus.

Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya” itulah ajakan Yohanes Pembaptis bagi kita. Persiapan kita sebagaimana diserukan oleh Yohanes, bukan persiapan ornamen Natal, pohon Natal, kue Natal, dan seterusnya, melainkan persiapan hati melalui sikap tobat. Bahwasanya, persiapan lain seperti memasang pohon Natal di rumah, membeli baju baru, sepatu baru, dan sebagainya itu baik juga tetapi jangan sampai kita lupa bahwa yang terpenting dari semuanya adalah hati.

Yang lain-lain itu hanya tambahan saja, yang terpenting adalah hati. Percuma jika ornamen Natal bagus tapi ternyata hati kita belum siap. Masa adven seperti ini adalah masa di mana kita menyiapkan hati kita supaya layak menyambut Sang Mesias.

Semoga kita siap menyambut rahmat Tuhan yang akan hadir lewat kelahiran Sang Juruselamat kita dengan penuh sukacita. Amin.

Benarkah Baptis Harus Selam?

0
Didgeman / Pixabay

Kaum Fundamentalis selalu mempersoalkan cara baptis. Mereka mengatakan bahwa baptis itu ‘harus’ di selam. Padahal kata “selam” dalam bahasa Yunani adalah Καταδύσεις, bukan baptizo (βαπτιζω), atau baptismos. Sementara itu Yesus dan Para Rasul  tidak pernah mengharuskan cara baptis selam.

Para Rasul dalam Didakhe 7 menjelaskan tentang cara Baptis sebagai berikut:

1. Dan mengenai baptisan, baptislah begini: Setelah meninjau semua pengajaran ini, baptis di dalam Nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, di dalam air yang mengalir (sungai, laut).

2. Tetapi jika air mengalir tidak tersedia, maka baptisalah kedalam air lainnya (kolam atau bak); air dingin diutamakan, tetapi jika tidak tersedia (lakukan) di dalam air hangat.

3. Tetapi jika itu maupun tersedia, curahkan air tiga kali ke atas kepala di dalam Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus.

4. Tetapi sebelum baptisan, baiklah yang bertugas berpuasa, dan juga orang yang dibaptis, dan semua orang lain yang bisa; Pastikan untuk memerintahkan orang yang akan dibaptis untuk berpuasa satu atau dua hari sebelumnya.
Selain itu arti baptize sendiri mempunyai banyak makna, mencelupkan, menuangkan, membersihkan.

Oleh sebab itu, Gereja Katolik tidak mempermasalahkan cara apapun, yang terpenting bagi Gereja adalah bukan cara tetapi makna dari tindakan pembaptisan. Yesus tidak pernah memerintahkan para murid ‘harus’ membaptis dengan cara selam. Dengan demikian bagi Yesus tidak penting cara baptis, tetapi yang terpenting adalah makna dan rumusan dari pembaptisan yang dilakukan.

Sumber Pustaka :
1. Aaron Milavec, The Didache : text, translation, analysis, commentary Milavec Collegevi Minnesota : Liturgical Press, 2004.
2. Rm. Fx. Adisusanto SJ, Menyusuri Sejarah Pewartaan Gereja, Jilid I, Yogyakarta, Lembaga Pengembangan Kateketik Pusat, 1997.

Pastor Kornelius Sipayung Terpilih Sebagai Uskup Medan

0

Sabtu tanggal 8 Desember 2018 menjadi momen sejarah bagi umat Keuskupan Agung Medan. Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMcap menyampaikan maklumat dari Paus Fransiskus bahwa permohonannya untuk menjadi Uskup Emeritus telah dikabulkan. Hal itu disampaikan pada perayaan Misa Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa di gereja Katedral Medan.

Paus Fransiskus menunjuk Pastor Kornelius Sipayung OFMCap menjadi uskup baru Keuskupan Agung Medan. Seperti diketahui, dua tahun lalu, ketia Mgr. Anicetus  berusia 75 tahun mengajukan permohonan ke Tahta Suci Vatikan agar ia menjadi Uskup Emeritus (pensiun). Setelah 2 tahun menanti, akhirnya pada hari Sabtu, 8 Desember 2018 permohonannya dikabulkan.

Kini, Mgr. Anicetus Sinaga resmi menjadi Uskup Emeritus setelah berusia 77 tahun. Dengan demikian, Keuskupan Agung Medan telah memiliki dua orang Uskup Emeritus yaitu, Mgr. A.G.Pius Datubara OFMCap dan Mgr. Anicetus Sinaga, OFMcap. Berita ini membawa kegembiraan bagi umat karena memiliki Uskup baru, sekaligus menghaturkan terima kasih atas pelayanan Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMcap. Proficiat untuk Keuskupan Agung Medan !

Editor: Silvester Detianus Gea

Sumber: https://www.facebook.com/komsos.kam.9?

Gereja Katolik Melarang Perayaan Natal sebelum Tanggal 25 Desember

0
Kedatangan Sang Mesias mewajibkan setiap orang, laki-laki dan perempuan, untuk memilih ‘bertobat’ atau tidak bertobat sama sekali.

Banyak Gereja non-Katolik merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember. Tentu saja itu hak mereka, sehingga umat beriman Katolik tidak dapat melarang mereka. Namun seringkali umat beriman Katolik diundang juga dalam perayaan tersebut. Bagaimana seharusnya sikap umat beriman Katolik?

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Penjelasannya sangat sederhana. Tidak mungkinlah ulang tahun Anda yang jatuh pada akhir bulan dirayakan pada awal bulan. Jika tetap dirayakan,  maka maknanya akan sangat berbeda. Tidak mungkin juga sebuah keluarga menyambut kedatangan orang penting tanpa persiapan apapun. Oleh sebab itu, jika dalam hal-hal lahiriah  saja ada  persiapan yang harus dilakukan, terlebih lagi pada hal-hal yang menyangkut kerohanian. Jadi jelaslah, umat beriman Katolik harus memiliki sikap tegas untuk mengatakan ‘TIDAK’ pada perayaan Natal yang dilangsungkan sebelum tanggal 25 Desember.

Gereja Katolik dengan tegas melarang perayaan Natal pada Masa Adven. Mengapa? Karena Masa Adven adalah masa penantian, pertobatan dan persiapan jasmani dan rohani untuk menyambut kelahiran Sang Juruselamat, Yesus Kristus. Masa Adven merupakan kesempatan bagi umat beriman untuk meluruskan jalan bagi Tuhan dan membuka diri terhadap kehadiran Sang Juruselamat. Dengan demikian, Masa Adven tidak dapat dipercepat, apalagi dilangkahi.

Makna Minggu Ketiga dalam Masa Adven: Sukacita dalam Penantiaan

0
Warna lilin pada minggu ketiga Masa Adven bukan lagi warna ungu melainkan merah muda; sebab, semakin mendekati Masa Natal, suasana hati kita semakin berbahagia dan bersukacita.

Tidak terasa kita memasuki Minggu Adven III. Tentu saja umat beriman sudah mempersiapkan diri, baik jasmani dan rohani. Seperti diketahui, umat beriman diberi kesempatan untuk mengaku dosa dan mendalami sabda Tuhan serta berjaga-jaga dalam doa.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Mengapa disebut Minggu Gaudete? Minggu Gaudete (Minggu Bersukacitalah) berasal dari antiphon pembuka yaitu “Bersukacilah selalu dalam Tuhan, sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat” (Flp. 4:4-5). Rasul Paulus mengajak umat beriman untuk bersukacita karena pesta kelahiran Yesus sudah dekat. Selain itu, ‘Minggu Bersukacilah’ berada pada titik tengah dari seluruh Masa Adven.

Pada Masa awal Adven, umat beriman telah diajak untuk mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani melalui matiraga atau puasa. Oleh sebab itu, Gereja mengajak umat beristirahat sejenak dan bersukacita. Tindakan serupa juga dilakukan pada Masa Prapaskah ke-4 (Minggu Laetare).

Selain itu, umat diingatkan bahwa Masa Adven segera berakhir dan pesta kedatangan Yesus segara dirayakan. Oleh sebab itu, perlu ditumbuhkan harapan yang akan membangkitkan ketekunan dan kesabaran untk mempersiapkan diri.

Umat beriman akan menyaksikan lilin berwarna pink atau merah muda dinyalakan untuk mengungkapkan kegembiraan. Selain itu, warna pink atau merah muda melambangkan penderitaan masa kini yang tidak sebanding dengan kemulaian yang dinyatakan kepada umat beriman. Dengan demikian, suasana gembira mewarnai perayaan kelahiran Sang Juruselamat, Yesus Kristus.

Arti Simbol-simbol Masa Adven dalam Gereja Katolik

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Semangat dasar yang dihayati selama masa Adven adalah pengharapan, takwa dalam iman, sikap tobat dan berpaling pada Allah, berjaga-jaga, kemurnian hati, dan penghargaan atas martabat orang lain. Semangat dasar itu ditampilkan antara lain oleh tokoh-tokoh Kitab Suci seperti Yesaya, Yohanes Pembaptis, Maria, dan Yosef.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Masa Adven jelas berbeda dari masa biasa. Ada beberapa perubahan yang terjadi, antara lain: adanya lingkaran Adven, warna liturgi berubah menjadi ungu, dan madah ‘Kemuliaan’ tidak dikumandangkan. Pernahkah kita bertanya, apa maksud dari semua simbol dan tanda itu?

Mari kita mulai dari lingkarang Adven. Praktik membuat lingkaran Adven berasal dari Jerman yang kemudian berkembang dan dilakukan di dalam Gereja di banyak daerah. Empat lilin melambangkan keempat minggu dalam masa Adven, yaitu masa persiapan menyambut Natal. Tiga lilin berwarna ungu, menyimbolkan pertobatan dan penantian; sedangkan lilin Minggu ketiga Adven berwarna merah muda menyimbolkan sukacita.

Lilin dalam lingkaran Adven ini dinyalakan mulai Minggu Adven pertama. Setiap minggu dinyalakan tambahan satu lilin, sehingga banyaknya lilin yang bernyala menjadi tanda progresif bahwa kelahiran Sang Terang Dunia sudah semakin mendekat. Maka, lingkaran Adven menjadi bagian persiapan rohani kita menyambut kedatangan Sang Mesias.

Di beberapa daerah, ditambahkan lilin kelima berwarna putih yang lebih besar dan diletakkan di tengah lingkaran. Lilin putih ini melambangkan Kristus yang adalah ‘Terang yang telah datang ke dalam dunia’ (Yoh. 3:19-21). Lilin putih ini dinyalakan pada Misa atau Ibadat Malam Natal sebagai lambang bahwa masa penantian telah berakhir karena Sang Juruselamat telah lahir.

Mengapa harus berbentuk lingkaran? Digunakan lingkaran dan bukan bentuk lain karena lingkaran dimaknai sebagai simbol dari Allah yang abadi yang tidak mempunyai awal dan akhir. Lingkaran ini dibungkus dengan daun-daunan hijau (pakis, pinus, salam), karena hijau melambangkan hidup. Kristus adalah Sang Hidup itu sendiri. Dia telah wafat, tetapi hidup kembali dan tetap hidup.

Mengapa warna liturgi minggu ketiga Adven berbeda dari minggu-minggu Adven yang lainnya? Minggu ketiga Adven yang disebut juga Minggu ‘Gaudete’ atau minggu ‘bersukacitalah’ berbeda karena memang ditujukan untuk mengajak umat supaya bersukacita sebab kedatangan Sang Penyelamat semakin dekat. Lingkaran Adven mengingatkan kita akan perlunya persiapan jiwa menyambut perayaan kelahiran Tuhan.

Selama masa Adven, madah kemuliaan atau Gloria; madah yang berkaitan dengan nyanyian para malaikat saat kelahiran Yesus, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2, 14) tidak dinyanyikan dalam perayaan Ekaristi. Madah ini baru akan dinyanyikan saat Natal. Alasannya sederhana: madah ini berkaitan dengan kelahiran Yesus. Masa Adven adalah masa penantian akan kelahiran Yesus, maka belum saatnya untuk menyanyikan madah Kemuliaan. Nanti, ketika Dia lahir, baru boleh dinyanyikan.

Sumber:
Maria Handoko, Petrus. 2014. Dari Adven sampai Natal. Malang: Dioma, hlm. 21-23
Komisi Liturgi Regio Jawa Plus. 2012. Pedoman Berliturgi Lingkaran Natal dan Paskah. Yogyakarta: Kanisius, hlm. 19.

Sejarah Kelahiran Yesus Kristus: Mengapa Natal Tanggal 25 Desember?

2
VinnyCiro / Pixabay

Gereja perdana mengimani bahwa peristiwa Paskah berkaitan dengan misteri Inkarnasi. Oleh sebab itu,  teks bacaan liturgi Natal pada perayaan Misa siang, mengutip Prolog Injil Yohanes (1: 1-18):

“Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah … Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya … terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia … Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita”.

Perikop itu menceritakan tentang Firman Allah yang menjadi manusia. Nabi Yesaya menubuatkan ‘kedatangan pembawa berita yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat’ (Yes. 52:7-10) dan (Ibr. 1:1-6).

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Pada Misa malam Natal, kita dapat melihat dengan sangat jelas hubungan antara misteri Paskah dengan liturgi Natal; terutama dalam teks ini: “Yesus Kristus telah menyerahkan diri-Nya bagi keselamat manusia (Tim. 2:14).”

Gereja mengungkapkan iman lewat liturgi perayaan Natal dan mencapai puncaknya pada perayaan Paskah. St. Augustinus berkata: “Saudara-saudari, marilah kita bersukacita. Hari ini Kudus, bukan karena matahari yang kelihatan, melainkan karena Kelahiran Dia, yang adalah Pencipta tak kelihatan dari matahari” .

Bila ditelusuri, perayaan Natal di dalam Kekristenan sebetulnya tidak dirayakan secara serentak. Gereja Barat, misalnya, merayakan pada tanggal 25 Desember, sedangkan sebagian Gereja Timur merayakan Natal pada tanggal 6 Januari. Hal itu terjadi karena perbedaan Kalender yang dipakai.

Gereja yang merayakan Natal pada tanggal 25 Desember memakai kalender Gregorian (Masehi), sementara yang merayakan Natal pada tanggal 6 Januari memakai Kalender Julian. Meskipun terdapat perbedaan karena pemakaian kalender, namun tetap mempunyai makna yang sama.

Injil Lukas mencatat bahwa Zakharia dari rombongan Abia terpilih menjadi imam yang membakar ukupan di dalam Bait Suci. Keturunan Harun dibagi ke dalam dua puluh empat rombongan (bdk. 1 Taw. 24). Dua puluh empat rombongan itu bertugas untuk menyelenggarakan ibadah dalam suatu rotasi sepanjang tahun. Nah, kalau kita telusuri kapan rombongan Abia itu terpilih untuk setiap tahunnya, kita akan menemukan bahwa rotasi mereka terpilih bersamaan dengan kandungan Elisabet telah memasuki usia enam bulan, yaitu ketika Malaikat Gabriel mengunjungi Maria (bdk. Luk. 1:26).

Selain itu, menurut Talmud, penghancuran Bait Allah oleh raja Nebukadnezar terjadi tahun 587 SM. Kala itu, rombongan Yoyarib mendapat tugas sebagai imam. Apabila rombongan Yoyarib bertugas pada tanggal 9 bulan Ab (sejajar dengan 18 Juli), dicocokkan dengan urutan rombongan anak-anak Harun (1 Taw. 24), maka kita akan menemukan bahwa rombongan Yoyarib itu berada pada urutan pertama; dan rombongan Abia berada pada urutan ke delapan. Oleh sebab itu, Zakharia mendapat penampakan malaikat yang mewartakan kelahiran Yohanes Pembaptis terjadi pada pada tanggal 29 September – 5 Oktober.

Menurut St. Yohanes Krisostomus, peristiwa Kabar Sukacita (Malaikat Gabriel mengunjungi Maria) terjadi pada bulan purnama, yakni pada tanggal 14 Nisan, yang sepadan dengan 25 Maret; sehingga Gereja Katolik merayakan Hari Raya Kabar Sukacita pada tanggal 25 Maret. Ia juga, dalam ‘In Diem Natalem‘ menjelaskan tentang peristiwa kelahiran Yesus yang terjadi pada 25 Desember.

Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa tidak benarlah perayaan Natal itu diadaptasi dari ritus ‘kafir’ atau pagan. Juga bukan perayaan atau pemujaan terhadap Dewa Matahari, Dewa Zeus, dan dewa-dewa sejenisnya, sebagaimana didengungkan oleh banyak orang selama ini.

Sumber:
Joseph F. Kelly, The Origins of Christmas, Collegeville, MN: the Liturgical Press, 2004, hlm. 56-57.
Adolf Adam, The Liturgical Year: Its History and Its Meaning after the Reform of the Liturgy, Collegeville, MN: The Liturgical Press, 1990, hlm.15.

Mengapa Natal Dirayakan Bulan Desember?

0
cocoparisienne / Pixabay

Dewasa ini ada orang-orang Kristen yang menolak merayakan Natal di bulan Desember karena menurutnya tidak mungkin Yesus lahir pada saat musim dingin. Lebih dari itu mereka mengaitkan dengan perayaan pemujaan dewa matahari pada masa kekaisaran Romawi, sehingga dikatakan bahwa merayakan Natal di bulan Desember sama dengan pemujaan terhadap dewa Matahari – penyembahan berhala! Sesat! Menjelang bulan Desember mereka biasanya aktif menyebarkan pendapat ini secara masif melalui email, WA, FB, twitter dan berbagai media sosial – supaya orang Kristen tidak merayakan Natal di bulan Desember.

Di akhir bulan November, saya berkesempatan untuk melakukan perjanalan ke Holy Land dan salah satu tempat yang dikunjungi adalah Gereja Padang Gembala di Bet Sahur, Betlehemen. Di tempat ini, malaikat Tuhan menyampaikan kabar sukacita kelahiran Juru Selamat kepada para gembala. Sekalipun sudah mau masuk musim dingin, cuaca di padang gembala Betlehem tetap cerah dan temperatur sejuk sekitar 17 derajat celcius.

Ada penjelasan dari pemandu wisata lokal (Israel) yang benar-benar membuka wawasan dalam menghadapi simpang-siur pendapat mengenai kelahiran Kristus di bulan Desember.

Pemandu wisata kita adalah orang Arab Israel yang beragama Kristen, dan dia belajar di universitas untuk menjadi pemandu wisata rohani berbahasa Indonesia, sehingga yang dipelajari bukan hanya bidang arkeologis, sejarah, buadaya, bahasa, tetapi juga ayat-ayat Alkitab! Dia bisa menyebutkan setiap ayat Alkitab dengan tepat yang berkaitan dengan situs-situs arkeologis di Israel, beserta dengan semua latar belakang sejarah dan budayanya. Ini yang membedakan dengan orang-orang Kristen di Indonesia yang aktif menolak kelahiran Tuhan Yesus di bulan Desember dengan hanya membaca berbagai tulisan dari rumahnya di Indonesia, tetapi tidak di tempatnya langsung di Betlehem.

Ketika sampai di Gereja Padang Gembala, dia melemparkan satu pertanyaan yang menarik, *“Kapan Tuhan Yesus lahir?”*

Dia selalu menyebut Yesus dengan kata *TUHAN YESUS*, suatu penghormatan yang sangat tinggi dibandingkan dengan orang Kristen di Indonesia yang umumnya hanya menyebut YESUS … tanpa disebut sebagai TUHAN … Di Indonesia, tidak ada orang yang menyebut nama orang tua yang dihormati dengan memanggil namanya saja, tetapi terhadap TUHAN dan Juru Selamat mereka dengan ringan dan santai hanya memanggil : “Yesus!”.

Terhadap pertanyaan pemandu wisata itu, dengan rasa percaya tinggi ada yang menjawab, sekitar bulan Oktober – karena Desember musim dingin. Tidak mungkin menggembalakan kambing domba di padang pada saat musim dingin.

Si pemandu wisata kita kemudian menyebutkan satu ayat dari Lukas 1: 26,27 bahwa pada *BULAN KEENAM* Tuhan menyuruh malaikat Gabriel pergi ke Nazaret menemui perawan Maria untuk menyampaikan kabar sukacita bahwa dia akan mengandung oleh Roh Kudus.

*(Lukas 1: 26,27) – “Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.”*

Setelah itu dia bertanya kepada pengunjung, peristiwa di bulan keenam itu bulan apa? Ada seseorang yang langsung menjawab , “Bulan Juni!”. Pemandu itu menjawab tidak benar bahwa bulan keenam dalam Alkitab itu bulan Juni.

Injil Lukas mencatat bahwa Zakharia dari rombongan Abia terpilih menjadi imam yang membakar ukupan di dalam Bait Suci. Keturunan Harun dibagi dalam dua puluh empat rombongan (bdk. 1 Taw. 24). Dua puluh empat rombongan bertugas menyelenggarakan ibadah dalam suatu rotasi sepanjang tahun. Apabila telusuri kapan rombongan Abia terpilih untuk setiap tahunnya, maka dapat ditemukan  bahwa kandungan Elisabet telah memasuki usia enam bulan, ketika Malaikat Gabriel mengunjungi Maria (bdk. Luk. 1:26).

Menurut St. Yohanes Krisostomus, peristiwa Kabar Sukacita (Malaikat Gabriel mengunjungi Maria) terjadi pada bulan purnama yakni pada tanggal 14 Nisan, yang sepadan dengan 25 Maret. Oleh sebab itu, Gereja Katolik merayakan Hari Raya Kabar Sukacita pada tanggal 25 Maret. Sehingga Gereja Katolik merayakan *HARI RAYA KABAR SUKACITA* (Feast of the Annunciation) pada tanggal 25 Maret. Bahkan di negara Libanon, tanggal 25 Maret ditetapkan sebagai hari libur nasional untuk merayakan Hari Raya Kabar Sukacita.

Setelah perawan Maria menerima kabar sukacita pada bulan Maret, maka Sembilan bulan kemudian Tuhan Yesus dilahirkan, dan itu di bulan DESEMBER! Di bulan yang diributkan oleh orang-orang Kristen di Indonesia sebagai bulan musim dingin.

*(Lukas 2:8-12)*
*8. Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.*
*9. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.*
*10. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:*
*11. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.*
*12. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”*

Pemandu wisata kemudian menjelaskan dengan mendetail apa yang tidak kita ketahui sebagai orang Indonesia, dan bukan penduduk asli orang Israel. Dia menjelaskan bahwa pada waktu itu, dua ribu tahun yang lalu belum ada teknologi pertanian dan peternakan seperti jaman modern sekarang ini.

Pada masa itu ada yang dinamakan musim kawin domba-domba dan musim beranak, yang terjadi hanya *setahun satu kali*. Adapun di jaman modern sekarang ini dengan teknologi peternakan modern, domba-domba bisa direkayasa untuk beranak dua kali setahun.

Di masa itu musim beranak domba-domba adalah bulan November! Ketika domba baru dilahirkan, maka para gembala tetap harus memelihara dan merawat karena merupakan masa-masa kristis di awal kehidupan ternak peliharaan mereka.

Pada masa itu, domba-domba tidak boleh dimasukkan ke dalam kota dan tetap dirawat di padang gembala. Dan Betlehem adalah padang penggembalaan untuk kota Yerusalem. Lebih dari itu ternyata mereka bukan sekedar gembala domba biasa, tetapi para gembala orang-orang Lewi yang bertugas menyediakan domba-domba untuk korban di Bait Allah. Domba-domba korban Bait Allah dijaga oleh gembala-gembala khusus yang diikat oleh peraturan rabi-rabi Yahudi.

Pada masa itu, Bait Allah masih berdiri dan setiap hari harus dipersembahkan domba untuk korban bakaran pagi dan petang. Jadi para gembala harus merawat dan memberi makan domba-domba itu di semua musim termasuk di musim dingin sekalipun. Apalagi ketika bayi domba baru lahir, para gembala akan memberikan perhatian khusus.

*(Bilangan 28:1-4)*
*1. TUHAN berfirman kepada Musa:*
*2. “Perintahkanlah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Dengan setia dan pada waktu yang ditetapkan haruslah kamu mempersembahkan persembahan-persembahan kepada-Ku sebagai santapan-Ku, berupa korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi-Ku.*
*3. Katakanlah kepada mereka: Inilah korban api-apian yang harus kamu persembahkan kepada TUHAN: dua ekor domba berumur setahun yang tidak bercela setiap hari sebagai korban bakaran yang tetap;*
*4. domba yang satu haruslah kauolah pada waktu pagi, domba yang lain haruslah kau olah pada waktu senja.*

Adapun musim dingin di Betlehem berbeda dengan musim dingin di Eropa yang penuh salju tebal sehingga tidak mungkin merawat dan menjaga domba-domba di padang. Ketika saya tiba di Gereja Padang Gembala bulan November minggu-minggu akhir, cuacanya masih ‘sejuk’ dengan temperatur 17 derajat. Pada bulan Desember temperatur sekitar 11 derajat di siang hari dan 1 derajat di malam hari. Pemandu wisata menjelaskan bahwa hujan di Betlehem tidak seperti musim hujan di Indonesia. Di sini hujan di bulan Desember hanya hari-hari tertentu, dan kontur Betlehem yang berbentuk ngarai perbukitan tetap menjaga para gembala bisa merawat domba mereka di sana sepanjang tahun! Itu karena Tuhan sendiri yang membuat padang gembalaan domba-domba yang khusus bagi persembahan Bait Allah di Yerusalem di sepanjang tahun!

Pada saat bayi Juru Selamat dilahirkan di Betlehem, di kandang domba, di tengah malam yang sunyi sepi, ternyata di surga terjadi sukacita yang besar, sejumlah besar bala tentara sorga merayakannya dan memuji Allah : *”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2:13,14)*. Kelahiran bayi Tuhan Yesus dirayakan dengan penuh sukacita dan gegap gempita di surga — tetapi tidak di dunia.

 

Editor: Silvester Detianus Gea

Editor telah mengedit tulisan asli karena mengandung kesalahan terutama pada kalimat ‘Ternyata bulan keenam menurut Alkitab adalah menurut kalender orang Israel yang dimulai dari bulan September, bukan bulan Januari – sehingga bulan KEENAM di dalam Injil Lukas 1:26 adalah bulan MARET!’ Isi kalimat itu kurang lengkap. Yang benar adalah bulan September yang dimaksud adalah ketika Elisabeth mulai mengandung dan setelah enam bulan (pada bulan keenam) kandungan Elizabeth, malaikat Gabriel datang mengunjungi Maria.

Sumber: http://www.pesta.org/natal_bulan_di_bulan_desember?fbclid=IwAR1KKC_wfr9Y17B-6fbnyJ7RWFb3bTHc_tDuww8TPJmvGRWs3ySUzq6kpDI