8.8 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 79

Bukti Ketuhanan Yesus dalam Kitab Suci

3
Gambar ilustrasi oleh Couleur / Pixabay

Jika Yesus itu Tuhan, sebutkan satu ayat dalam Kitab Suci yang memuat kata-kata Yesus: ‘Aku Tuhan, sembahlah Aku!’

[postingan number=3 tag= “tuhan-yesus”]

Kalimat “Akulah Tuhan, sembahlah Aku,” tidak pernah keluar dari mulut Yesus; dan karenanya tidak kita temukan di dalam Kitab Suci. Alasannya jelas: Yesus, yang adalah Allah, sudah mengambil rupa manusia dan menjadi sama seperti kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa. Ia sangat konsisten dengan tujuan kedatangan-Nya itu, sehingga Ia tidak akan mungkin berkata “Aku Tuhan, sembahlah Aku” sebab hal itu tidak sesuai dengan tujuan kedatangan-Nya.

Lantas, bagaimana kita tahu bahwa Yesus adalah Tuhan? Kitab Suci memberitahu kita bahwa Yesus seringkali membiarkan para pendengar-Nya mengenal siapa diri-Nya dari apa yang dilakukan-Nya. Makanya, ketika Yohanes Pembaptis menyuruh murid-muridnya bertanya kepada Yesus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat. 11:2-5; Luk. 7:22).

Sekalipun Yesus tidak secara langsung menyebut diri-Nya Tuhan; dan tidak menyuruh orang lain untuk menyembah diri-Nya, tetapi Ia seringkali mengafirmasi apa yang dikatakan orang mengenai diri-Nya. Jadi prinsipnya, setelah orang melihat apa yang dilakukan-Nya, orang lalu mengenal diri-Nya sebagai Tuhan, dan Yesus mengafirmasi perkataan itu. Mari kita lihat hal itu satu per satu:

Pertama, kesaksian dari Rasul Yohanes, murid yang dikasihi Yesus, yang secara istimewa menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Dalam Yoh 1:1,14 dikatakan: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Justru karena kedekatannya dengan Yesus, maka kita selayaknya percaya kepada kebenaran kesaksian Rasul Yohanes tentang Yesus.

Rasul Yohanes memulai Injilnya dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Sesungguhnya, untuk membuktikan ke-Allahan Yesuslah maka Yohanes menuliskan Injilnya, yang merupakan kitab Injil yang terakhir. Dalam Yoh 20:31 dikatakan, “tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.”

Kedua, kesaksian Rasul Petrus: Mat 16:16, “Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Rasul Petrus adalah orang yang pertama mengakui dengan mulutnya tentang ke-Allahan Yesus semasa Yesus hidup di dunia; dan Yesus membenarkan iman Petrus ini, dengan mengatakan bahwa Bapa di sorgalah yang menyatakan hal ini kepadanya [ay.17]. Yesus kemudian mempercayakan Gereja-Nya ke dalam pimpinan Petrus [ay. 18]. Gereja Katolik dengan setia mengajarkan pengakuan iman Petrus ini, bahwa Yesus Kristus adalah sungguh Anak Allah yang hidup.

Setelah kebangkitan Kristus, Rasul Petrus memberikan kesaksian di hadapan Mahkamah Agama, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia [Yesus Kristus], sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” [Kis 2:14]. Sebab hanya di dalam nama Tuhan-lah manusia dapat diselamatkan.

Ketiga, kesaksian dari Malaikat Gabriel, yang berkata kepada Bunda Maria, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” [Luk 1: 35]. Maka kita ketahui bahwa oleh Roh Kudus yang turun atas Maria, maka Yesus bukanlah manusia biasa, namun Anak Allah.

Keempat, perkataan Elisabet yang ditujukan kepada Bunda Maria, dalam Luk 1:42: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Jika Yesus hanya manusia biasa, tentu Elisabet tidak berkata demikian.

Kelima, kesaksian Yesus sendiri tentang Diri-Nya dalam Luk 2:49. Perkataan Yesus yang pertama yang dicatat di Alkitab adalah pernyataan-Nya tentang identitas-Nya sebagai Putera Allah, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Sedangkan kehidupan publik Yesus dimulai dengan pernyataan Allah Bapa kepada Yesus pada saat Pembaptisan di sungai Yordan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” [Mat 3:17]. Jika yang memberi kesaksian tentang Yesus sebagai Putera Allah adalah Allah Bapa sendiri, maka selayaknya kita percaya bahwa Yesus adalah Allah.

Dalam Yoh 8:58: Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia adalah Allah dengan mengatakan bahwa Ia sudah ada sebelum Abraham, “sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Jika Ia “hanya” manusia biasa, Ia tidak dapat berkata demikian, sebab sebagai manusia biasa Ia tidak mungkin ada sebelum Abraham. Perkataan-Nya ini hanya masuk akal jika Ia adalah Allah yang keberadaan-Nya tak terbatas oleh waktu. Selanjutnya, dalam Yoh 13:13, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” Ini adalah pernyataan yang sangat jelas, yang dikatakan Yesus dalam Perjamuan Terakhir, sebelum kebangkitan-Nya.

Mengasihi Tuhan Jangan Setengah-setengah — Renungan Harian

0
Gambar ilustrasi oleh Bess-Hamiti / Pixabay

Mengasihi Tuhan Jangan Setengah-setengah: Renungan Harian Katolik, Minggu 4 November 2018 — JalaPress.com; Bacaan I: Ul. 6:2-6; Bacaan II: Ibr. 7:23-28; Injil: Mrk. 12:28b-34

Dalam bacaan pertama hari ini, kita mendengar bahwa Musa mengingatkan orang Israel bahwa Tuhan itu esa. Tidak ada lagi di atas Tuhan. Hanya Tuhanlah satu-satunya Pencipta langit dan bumi serta segala isinya. Karenanya, sudah sepatutnya hanya pada Dialah kita percaya dan menaruh harapan. Tidak boleh ada sesembahan lain selain Dia.

Peringatan yang diberikan oleh Musa kepada bangsa Israel itu bunyinya sangat keras: “Lakukanlah itu dengan setia supaya lanjut usiamu dan baik keadaanmu”. Kalau tidak, barangkali akan terjadi sebaliknya.

Konteks dari teks ini adalah adanya kenyataan bahwa orang-orang Israel menduakan Tuhan. Mereka menyembah sesembahan lain selain Tuhan. Mereka membelot dari jalan yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Hati mereka keras seperti batu, padahal Musa sudah berkali-kali mengingatkan mereka.

Orang Israel diminta supaya kalau mengasihi Tuhan jangan setengah-setengah. “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul. 6:5). Mengasihi Tuhan tidak boleh setengah hati. Jangan sampai sebagian hati mengasihi Tuhan, sebagian lainnya entah ke mana. Jangan juga mengasihi Tuhan setengah jiwa. Begitu pula jangan mengasihi Tuhan setengah kekuatan saja, sementara sebagian lagi di taruh di tempat lain. Penulis Kitab Suci bilang ‘segenap’, artinya seluruhnya.

Allah yang satu itu peduli terhadap kehidupan manusia. Maka, Ia mengirim utusannya, yaitu  para nabi, untuk mengingatkan manusia, tetapi sayangnya mereka tetap keras kepala. Bahkan, para nabi yang diutus itu mereka bunuh. Hingga akhirnya Allah sendiri turun gunung. Ia masuk ke dalam kehidupan manusia supaya memperbaiki kehidupan manusia itu dari dalam.

Tetapi Allah tidak mungkin turun begitu saja kalau Ia tidak masuk lewat pintu manusia. Ia tidak bisa turun dengan cara melayang-layang dari langit. Ia harus masuk lewat pintu manusia, yaitu dilahirkan sebagai manusia. Ia harus lahir dari rahim manusia supaya bisa diterima dengan mudah oleh manusia. Makanya, kita mengenal istilah ‘inkarnasi’, in artinya masuk, dan carne artinya daging. Inkarnasi berarti firman yang masuk ke dalam daging (Yoh. 1:14).

Peristiwa inkarnasi itu terpenuhi di dalam diri Yesus Kristus. Kedatangan-Nya mengangkat kembali derajat manusia yang sudah jatuh akibat dosa. Yesus mengembalikan keadaan kita sebagai citra Allah.

Sama seperti Musa, Yesus sekali lagi mengingatkan bangsa Israel, kata-Nya: “Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan itu esa” (Mrk. 12:29). Tuhan yang esa itu harus dikasihi sepenuh hati, sepenuh jiwa, dan sepenuh kekuatan. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk. 12:30).

Yesus menggarisbawahi ajaran kasih ini sebagai perintah yang utama. Ia meminta kepada orang Israel dan tentu saja kepada kita juga supaya mengasihi Tuhan dan sesama. Kita tidak bisa mengasihi Tuhan tapi pada saat yang sama kita membenci sesama. Yohanes menuliskan: “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allahdan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1 Yoh. 4:20).

Jangan menjadi pendusta. Jujurlah pada Tuhan, sesama, dan diri sendiri. Tuhan sudah begitu baik terhadap kita. Itu tandanya Dia mengasihi kita. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh. 4:19).  Maka, sebagai balasannya, kita juga harus mengasihi Tuhan yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita itu. Ingat juga bahwa orang yang mengaku mengasihi Tuhan, haruslah juga mengasihi sesamanya. Jangan berteriak menyebut nama Tuhan ketika menghancurkan hidup sesama.

Dalam Yesus, kita sekaligus mengasihi Tuhan dan sesama. Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Maka, kalau kita mengasihi Yesus, itu artinya kita mengasihi Tuhan; sekaligus juga karena Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, maka, itu berarti bahwa kalau kita mengasihi Yesus, kita sebenarnya mengasihi sesama.

Jika kita sudah mengasihi Yesus dengan sepenuh hati, jiwa, dan kekuatan, maka kita dapat dengan mudah mewujudnyatakan kasih kita itu kepada saudara-saudari kita yang lain. Kasih kita kepada Yesus mendorong kita untuk menjadi agen kasih bagi siapapun yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Ingat, kita ini adalah citra Allah. Kita adalah foto copy dari gambar wajah Allah sendiri. Maka, kalau kita mengasihi Allah, mestinya juga kita mengasihi citra-Nya. Semoga kita semua mampu mengasihi Tuhan dan sesama tanpa setengah-setengah. Amin.

Tuhan Melarang Penyebaran Hoaks, Fitnah, dan Ujaran Kebencian

0
geralt / Pixabay

Refleksi ini didasarkan pada Kitab Keluaran 23:1-2, 7-8

Akhir-akhir ini, yang namanya kabar bohong atau hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian seolah-olah menjadi hal yang lumrah. Kita bisa melihat kenyataan ini di media sosial; sebab semuanya bertebaran di sana tanpa ada yang menyaring. Padahal, Allah sudah melarang tindakan yang tidak terpuji itu jauh sebelum manusia mengenal yang namanya media sosial.

[postingan number=3 tag= ‘salib’]

Allah melarang kita supaya jangan pernah menjadi penyebar apalagi pencetus hoaks atau kabar bohong. Kita harus berlaku jujur di hadapan Allah dan sesama. Allah berfirman: “Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong” (Kel. 23:1a).

Bayangkan, sejak lama Allah sudah melihat bahwa suatu saat kemungkinan seperti ini pasti terjadi; dan ini sudah terbukti pada zaman kita. Sekarang, kasus penyebaran hoaks atau kabar bohong marak terjadi di mana-mana. Pencetus dan penyebarnya berasal dari hampir semua tingkatan umur: mulai dari yang tua, muda, hingga anak-anak. Makanya, saat ini, orang semakin susah membedakan mana kabar bohong dan mana kabar yang sebenar-benarnya.

Allah juga menginginkan supaya kita tidak menciptakan fitnah atas siapapun juga. Jika ya katakan ya, atau jika tidak katakan tidak. Allah berfirman: “Janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar. Haruslah kaujauhkan dirimu dari perkara dusta” (Kel. 23:1b, 7a).

Rasa-rasanya, saat ini, dengan gampangnya orang memberikan kesaksian palsu. Fakta diputarbalikkan seenak jidat. Kejujuran hampir merosot. Uang bisa memanipulasi kejujuran sehingga yang benar jadi salah dan yang salah jadi benar. Sumpah tidak lagi menjamin kejujuran. Fitnah tumbuh subur.

Allah berfirman: “Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong” (Kel. 23:1a).

Ketika ada orang melakukan kesalahan di media sosial, hampir tidak ada satu pun orang yang mengatakan itu salah. Yang ada hanya ‘LIKE’ dan ‘EMOTICON’. Makanya, tidak heran jika ada orang berpendapat bahwa sebenarnya media sosial membuka ruang bagi terciptanya ‘kejahatan berjamaah’.

Semua orang ikut ditarik untuk melakukan kejahatan yang sama. Seolah-olah itu normal-normal saja. Entah suara hatinya tumpul atau bagaimana. Itu yang terjadi saat ini. Kejahatan dilakukan secara beramai-ramai. Kejahatan yang tidak kurang dahsyatnya di media sosial adalah munculnya ujaran kebencian. Padahal, Allah sudah bersabda: “Janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang melakukan kejahatan” (Kel. 23:2a).

Kita berharap agar pencetus dan penyebar hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian ditindak tegas. Namun, sayangnya, hukum sekarang juga seolah mudah dibelokkan. Tergantung siapa yang suaranya paling keras. Meski sebenarnya salah, tetapi kalau mayoritas mengatakan tidak, maka orang bersangkutan tidak akan dihukum.

Suara mayoritas seringkali berada di atas fakta hukum. Maka, kata Allah: “Dalam memberikan kesaksian mengenai sesuatu perkara janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang membelokkan hukum. Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar” (Kel. 23:2b, 8).

Apa hendak dikata, setiap hari kita disuguhkan sejuta berita. Ada yang baik, ada juga yang isinya hanya hoaks, fitnah dan ujaran kebencian. Sekarang, berita yang seharusnya berisi realita, justru kebanyakan berisi ‘fiksi’ yang tentu saja sudah pasti fiktif. Maka dari itu, Kitab Suci, yang berisi wahyu Allah, dan bukan fiksi atau kayalan, meminta kita supaya berhati-hati dalam bertutur kata dan bersikap, terutama dalam menggunakan media sosial yang kita punyai saat ini. Amin.

Lucifer, Siapakah Dia? Benarkah Disebut Dalam Nyanyian Malam Paskah?

0

Kesalah pahaman terhadap iman Katolik sangat sering terjadi.  Apalagi memakai bahasa-bahasa yang asing bagi awam dan orang-orang non-Katolik, misalnya kata Lucifer. Meskipun beberapa web Katolik menjelaskan arti dari kata Lucifer yang dipakai  pada nyanyian malam paskah di Vatikan. Tidak sedikit non-Katolik menuduh bahwa orang-orang Katolik menyembah Lucifer atau Iblis dalam Yes 14:12.

Tidak sedikit umat awam yang bingung ketika ditanya atau bahkan percaya pada tuduhan tersebut. Namun tuduhan semacam itu sangat gegabah dan dangkal. Oleh sebab itu pada kesempatan ini penulis menjelaskan secara sederhana supaya mudah dipahami.  Pertama-tama kita perlu mengetahui bahwa kata “Lucifer” dipakai oleh St. Jerome/Hieronimus (abad ke 4) terhadap tiga ayat Ibrani dan satu kata Yunani. Empat ayat  tersebut berasal dari Yes. 14:12 הילל/ morning star/ bintang timur, Ayub 11:17 בקר, day star/pagi hari, Ayb 38:32 מזרות/ Mazzaroth/ day star/ bintang Biduk,  dan 2 Pet 1:19 (φωσφόρος/phosphoros/ day star/bintang timur). Berikut bunyi dari beberapa ayat yang disebutkan:

  1. Ayub 11:17 Latin Vulgata, et quasi meridianus fulgor consurget tibi ad vesperam et cum te consumptum putaveris orieris ut lucifer.
  2. 2 Peter 1:19et habemus firmiorem propheticum sermonem cui bene facitis adtendentes quasi lucernae lucenti in caliginoso loco donec dies inlucescat et lucifer oriatur in cordibus vestris.
  3. Yesaya 14:12 אֵיךְ נָפַלְתָּ מִשָּׁמַיִם הֵילֵל בֶּן־שָׁחַר נִגְדַּעְתָּ לָאָרֶץ חֹולֵשׁ עַל־גֹּויִם׃, ‘EYKH {wahai} NAFALETA {engkau jatuh} MISHAMAYIM {dari langit} HEYLEL {bintang timur} BEN-SHAKHAR {anak fajar} NIGEDA’ETA {engkau dipotong} LA’ARETS {ke bumi} KHOLESH {engkau mengalahkan} ‘AL-GOYIM {atas bangsa-bangsa}. Ungkapan Ibrani הֵילֵל בֶּן־שָׁחַר – HEYLEL BEN-SHAKHAR”; הֵילֵל – HEYLEL adalah kata Ibrani untuk “bintang Timur” alias planet Venus, sedangkan בֶּן־שָׁחַר – BEN-SHAKHAR” harfiah “anak (putra) Fajar”.

Beberapa ayat di atas memberi gambaran bahwa kata “Lucifer” bukan nama suatu oknum tertentu secara mutlak. Kata ini dipakai pula dalam beberapa ayat Alkitab untuk menunjukkan hal baik dan benar.  Lucifer artinya bintang timur, bintang di pagi hari, bintang kejora. Oleh sebab itu memahami suatu ayat dalam Alkitab perlu melihat konteks sehingga tidak melenceng dari maksud sebenarnya. Gereja Katolik menyanyikan lagu berikut pada malam paskah, In huius ígitur noctis grátia, súscipe, sancte Pater, laudis huius sacrifícium vespertínum, quod tibi in hac cérei oblatióne solémni, per ministrórum manus de opéribus apum, sacrosáncta reddit Ecclésia. Sed iam colúmnæ huius præcónia nóvimus, quam in honórem Dei rútilans ignis accéndit. Qui, lícet sit divísus in partes, mutuáti tamen lúminis detrimenta non novit. Orámus ergo te, Dómine,ut céreus iste in honórem tui nóminis consecrátus,ad noctis huius calíginem destruéndam, indefíciens persevéret. Et in odórem suavitátis accéptus, supérnis lumináribus misceátur. Flammas eius lúcifer matutínus invéniat: ille, inquam, lúcifer, qui nescit occásum. Christus Fílius tuus, qui, regréssus ab ínferis, humáno géneri serénus illúxit, et vivit et regnat in sæcula sæculórum. Lagu tersebut sesungguhnya ditujukan kepada Yesus sebagai Bintang Timur (Bdk. Why. 22:16). Hal itu sangat jelas apabila lagi di atas diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Berikut terjemahan lagu tersebut dalam bahasa Indonesia, Semoga lilin ini, yang diberkati demi penghormatan Bapa pada malam ini bernyala terus untuk menghalau kegelapan. Semoga nyalanya digabungkan dengan sinar bintang kejora….dengan Kejora Sejati itu, yang tak kunjung terbenam yang telah terbit dari alam maut dan menyinari umat manusia dengan seri cahayaNya. Dialah Yesus Kristus, Putera Bapa yang bersama dengan Bapa dan Roh Kudus, hidup dan berdaulat kini dan sepanjang masa. Secara sederhana dapat kita perhatikan sumber dari tuduhan orang-orang non-Katolik yaitu pada kata Flammas eius lúcifer matutínus invéniat: ille, inquam, lúcifer,…yang artinya Semoga nyalanya digabungkan dengan sinar bintang kejora. Dengan Kejora Sejati itu.

Kiranya semakin jelas bahwa dalam bahasa Indonesia kata lúcifer itu ditujukan kepada Yesus Kristus yang adalah cahaya/sinar dunia yang bangkit dari antara orang mati. Oleh sebab itu, pemakaian dan pemaknaan kata Lucifer tergantung pada konteks atau maksud yang sedang dibicarakan atau dinyanyikan. Sementara itu Yesaya 14:12 menunjukkan perbedaan sederhana dari kata ‘Lucifer’ yakni, pada kata BEN-SHAKHAR {anak fajar}. Sementara Yesus disebut sebagai Bintang Timur yang adalah Putra Bapa (Christus Fílius tuus).

Penulis: Silvester Detianus Gea

Peringatan Arwah dan Kebangkitan Orang Mati — Renungan Harian

0
dimitrisvetsikas1969 / Pixabay

Peringatan Arwah dan Kebangkitan Orang Mati: Renungan Harian Katolik, Jumat 2 November 2018 — JalaPress.com; Bacaan I: 2 Makabe 12:43-46; Bacaan II: 1 Kor. 15:12-34; Injil: Yoh. 6:37-40

Setiap tanggal 2 November setiap tahun, secara khusus kita mengenang dan mendoakan arwah semua orang beriman. Makanya, di beberapa tempat, setiap tanggal 2 November selain diadakan Misa juga biasanya diisi dengan ziarah kubur.

Adapun pertanyaan yang biasa diajukan orang adalah: “Mengapa kita mendoakan arwah semua orang beriman? Apakah supaya mereka masuk surga? Tapi, bukankah itu urusan Tuhan? Lantas, apa faedahnya doa-doa kita buat mereka?”

Bagi kita orang Katolik, kebiasaan mendoakan orang mati tidak lepas dari apa yang tertulis di dalam Kitab 2 Makabe, seperti yang kita lihat pada bacaan pertama hari ini. Memang, Kitab 2 Makabe adalah yang paling jelas menceritakan dasar pengajaran mengenai doa bagi orang mati. Kita tahu bahwa Kitab Makabe merupakan bagian dari Kitab Deuterokanonika yang notabene hanya ada di daftar Kitab Suci orang Katolik. Maka wajarlah jika hanya kita orang Katolik yang mempunyai kebiasaan mendoakan orang mati.

Dalam bacaan pertama hari ini diceritakan bahwa Yudas Makabe dan anak buahnya mendoakan jenazah pasukan yang gugur di medan pertempuran dan mengumpulkan uang untuk dikirimkan ke Yerusalem, sebagai kurban persembahan penghapus dosa. Perbuatan ini dipuji sebagai “perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan” (ay.43); sebab perbuatan ini didasari oleh pengharapan akan kebangkitan orang-orang mati.  

oskaline / Pixabay

Gereja Katolik mengajarkan bahwa tentulah Tuhan dan hanya Tuhan yang mempunyai kuasa untuk menentukan apakah seseorang yang meninggal itu masuk surga atau neraka. Namun, Gereja Katolik juga mengajarkan bahwa dengan adanya masa pemurnian di Api Penyucian, makanya doa-doa dari kita yang masih hidup, dapat berguna bagi jiwa-jiwa mereka yang sedang dalam tahap pemurnian tersebut, dan perbuatan ini sangat berkenan bagi Tuhan (lih. 2 Mak 12:38-45).

Lalu, ada yang bertanya begini, “Tapi kan kita tidak pernah tahu apakah Api Penyucian itu ada atau tidak?” Keberadaan Api Penyucian diungkapkan oleh Yesus secara tidak langsung pada saat Ia mengajarkan tentang dosa yang menentang Roh Kudus. Yesus bilang begini: “… tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak” (Mat 12:32). Dengan kalimat tersebut, Yesus sebenarnya mau mengajarkan kepada kita bahwa ada dosa yang dapat diampuni pada kehidupan yang akan datang. Padahal kita tahu bahwa di neraka, dosa tidak dapat diampuni, sedangkan di surga tidak ada dosa yang perlu diampuni. Maka, itu berarti bahwa pengampunan dosa yang ada setelah kematian hanya terjadi di Api Penyucian, walaupun Yesus tidak menyebutkan secara eksplisit istilah ‘Api Penyucian’ ini.

Keberadaan Api Penyucian memberi kita satu lagi isyarat bahwa memang ada kebangkitan orang-orang mati. Adanya kebangkitan orang mati inilah yang membuat doa-doa kita bagi sanak saudara kita yang sudah meninggal dunia menjadi berguna. “Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang mati itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati” (2 Makabe 12:44). Jika tidak ada kebangkitan orang mati, tidak perlulah kita mendoakan orang mati.

Kenyataan bahwa orang-orang mati akan bangkit, bukanlah harapan kosong. Paulus, dalam bacaan kedua hari ini, dengan sangat jelas mengatakan bahwa jika tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Jika Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah iman kita (Bdk. 1 Kor. 16-17). Di sini, Paulus memberi penegasan bahwa Yesus benar-benar bangkit dari antara orang mati. Oleh sebab itu, sebagai orang beriman Katolik, kita percaya bahwa ada kebangkitan orang-orang yang sudah mati. Karena itu pula, maka doa-doa kita bagi orang mati tidak sia-sia. Dengan mendoakan mereka, berarti juga kita menaruh harapan akan kebangkitan mereka. Dan, sekali lagi, perbuatan ini sangat berkenan bagi Tuhan (lih. 2 Mak 12:38-45). Satu hal yang perlu diingat bahwa tradisi mendoakan orang mati sudah ada jauh sebelum Yesus, dan bisa dipastikan bahwa tradisi itu bukanlah tradisi yang asing bagi Yesus. Nah, Yesus saja tidak menghilangkan tradisi itu, lalu mengapa kita sebagai pengikut Yesus begitu berani untuk menghilangkannya?

Iman kita akan kebangkitan orang mati tidaklah muluk-muluk sebab Allah sendiri sudah memberi janji kepada kita soal kebangkitan itu. Kita sudah mendengar janji Allah itu pada bacaan Injil tadi. “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman” (Yoh. 6:39-40). Itulah janji Allah kepada kita.

Maka, semua sanak keluarga kita, tanpa kecuali, akan dibangkitkan. “Mereka yang berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang abadi, tetapi mereka yang berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum” (Yoh 5:29). Kapan itu terjadi? Secara definitif ‘pada hari kiamat’ (Yoh 6:39-40.44.54; 11:24) atau ‘pada akhir zaman’ (LG 48). Kebangkitan orang-orang mati berkaitan dengan kedatangan Kristus kembali. “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit” (1 Tes 4:16).

Kiranya, doa-doa dan persembahan kita bagi sanak keluarga kita yang sudah dipanggil Tuhan berkenan di hadapan Tuhan. Amin.

Benarkah Paus Anti Kristus?

0

Tentu anda sering  membaca atau mendengar tuduhan dan nubuat  yang tidak benar mengenai Gereja Katolik dari saudara-saudarai non-Katolik. Tuduhan dan nubuat yang mereka sampaikan terkadang tidak masuk akal, misalnya paus anti Kristus, paus kesekian sebagai paus terakhir, Gereja Katolik segera runtuh dan lain sebagainya. Sebenarnya kita tidak perlu berurusan dengan penuduh semacam itu. Namun ada baiknya pula kita menjawab sebisa mungkin.

Pertama, nubuat-nubuat yang mereka sampaikan adalah nubuat kosong dan mereka tidak lebih dari orang-orang yang suka mengobok-obok ayat Alkitab. Banyak nubuat yang telah disampaikan namun semua tidak ada yang terbukti. Malahan mereka berbisnis buku nubuat untuk mencari makan.

Kedua, Yesus sendiri tidak memberitahu  kapan hari kiamat (bdk. Mat. 24:29-36), oleh sebab itu mereka yang melampaui Yesus dalam membuat nubuat adalah nabi-nabi palsu dan mesias palsu. Apalagi nubuat-nubuat dalam Alkitab, tidak dapat ditafsir sesuka hati pembaca (bdk. 2 Petrus 1:16-20).

Keempat, Mengenai Kepausan. Yesus telah berjanji akan menjaga GerejaNya hingga akhir jaman dan alam maut tidak akan menguasainya (bdk. Mat. 28:18-20, Mat. 16:13-20). Yesus telah memberi tugas penggembalaan kepada Rasul Petrus (bdk. Yoh. 21:15-19, Kis.15:5). Dengan demikian Gereja yang ia dirikan tidak binasa dan hilang ketika Kaisar Nero melakukan penganiayaan dan pembunuhan terhadap jemaat perdana. Hingga kini paus penerus Rasul Petrus telah mencapai 265 orang.

Kelima, Siapa 666?. Sering kali mereka menuduh Paus sebagai Vicarius Fii Dei, namun gelar tersebut tidak pernah diberikan kepada Paus. Menurut dokumen Tue s Petrus gelar Paus yakni, His Holiness the Pope, Bishop of Rome and Vicar of Jesus Christ, Successor of St. Peter, Prince of the Apostles, Supreme Pontiff of the Universal Church, Patriarch of the West, Servant of the Servants of God, Primate of Italy, Archbishop and Metropolitan of the Roman Province dan Sovereign of Vatican City State. Angka 666 kemungkinan ditunjukkan kepada Kaisar Nero yang menganiaya jemaat perdana. Huruf NRWN QSR, Nun=50, Resh =200, Waw =6, Qoph =100, Samech =60, sehingga berjumlah 666. Dengan demikian angka 666 mengacu pada Kaisar Nero. Sementara Gelar Paus adalah Vicar of Jesus Chris yang jumlahnya tidak mencapai 666. Oleh sebab itu menuduh Paus sebagai Vicarius Filii Dei tidak tepat.[1]

Keenam, surat Rasul Yohanes setidaknya memberikan gambar Antikristus yakni mereka yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus, menyangkal Bapa dan Anak dan menyangkal bahwa Yesus pernah datang sebagai manusia (bdk. 1 Yoh. 2:22-27). Sementera itu, Gereja Katolik mengakui Bapa, Putera dan Roh Kudus, sebagai Allah Tritunggal Maha Kudus, Tuhan yang Maha Esa.

Penulis: Silvester Detianus Gea

[1] Disadur dari www.katolisitas.org

Rosario, Tanda Hormat dan Cinta Kita terhadap Bunda Maria

1
gunthersimmermacher / Pixabay

Refleksi ini disesuaikan dengan bacaan pertama hari ini, Ef.6:1-9, sebagai penanda berakhirnya bulan Rosario tahun 2018 ini.

Saya masih ingat persis, ketika saya masih anak-anak, salah satu nasihat dari orang tua dan dari orang-orang di sekitar saya saat itu adalah supaya saya menaruh rasa hormat terhadap orang tua atau  terhadap orang yang dianggap lebih tua atau terhadap orang yang dituakan.

Nasihat itu keras dan harga mati sebab seringkali ditambahkan dengan kalimat “Jika mau umur panjang, maka jangan pernah sekali-kali berlaku tidak hormat terhadap mereka yang disebutkan itu.” Begitulah para orang tua menasihati anak-anaknya. Saya kira dan saya harap agar nasihat yang sama juga ada di dalam keluarga kita masing-masing.

Orang tua pasti akan sangat marah ketika mendapati anaknya tidak menaruh sikap  hormat terhadap orang tua, tidak menaruh sikap hormat orang yang dianggap lebih tua atau tidak menaruh sikap hormat orang yang dituakan. Jangan sampai anak-anak kita ngomong dengan orang tua seperti ngomong dengan temannya saja. Bicara seenak jidat.

Paulus dalam suratnya kepada umat di Efesus persis memberi nasihat yang sama. Ia berkata: “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi” (Ef. 6:1-3).

Sebagai anggota Gereja, kita mempunyai satu orang tua yang sama, satu ibu yang sama, bunda yang sama, yaitu Bunda Maria. Ia adalah ‘Bunda Tuhan’ sebagaimana yang dikatakan oleh  Elisabet. Ketika Bunda Maria mengunjungi Elisabet, saudarinya, Elisabet berkata: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk. 1:43).

Nah, kalau orang tua kita saja bisa kita hormati, apalagi Bunda Tuhan. Bunda Maria sudah memberitahu kita bagaimana cara menghormatinya. Ia memperkenalkan doa Rosario. Diceritakan bahwa ketika ingin memperkenalkan doa Rosario, Bunda Maria menampakkan dirinya kepada St. Dominikus. Dalam penampakkan itu, Bunda Maria memberikan Rosario kepada Dominikus dan meminta Dominikus untuk mewartakan Rosario itu.

Istilah Rosario berasal dari bahasa Latin rosarium [dari akar kata, rosa = bunga mawar], yang berarti karangan bunga. Dalam budaya masyarakat Eropa, bunga mawar mempunyai arti yang sangat penting, yaitu sebagai tanda cinta atau hormat.

Pada abad pertengahan, umat Kristen biasanya merangkaikan bunga mawar untuk dipersembahkan kepada Maria. Mereka meletakkannya di rumah ibadat di depan gambar atau patung St. Maria. Dalam proses merangkaikan bunga mawar itu, mereka mengucapkan litani pujian kepada Maria.

Rosario adalah tanda cinta dan hormat kita terhadap Bunda Maria; sehingga kalau kita melihat manik-manik Rosario, memang bentuknya mirip rangkaian bunga mawar. Dalam doa Rosario kita mengucapkan lima puluhan Salam Maria, yang isinya berupa kata-kata pujian dan hormat kepada Bunda Maria.

  • “Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu …” merupakan kutipan perkataan Malaikat Gabriel ketika mengunjungi Perawan Maria (lih. Luk 1:28).

  • Terpujilah Engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu (Yesus)”, diambil dari salam Elisabet kepada Perawan Maria ketika Maria datang mengunjunginya (lih. Luk 1:42).

  • “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin”, dinyatakan oleh Katekismus Konsili Trente, sebagai doa yang disusun oleh Gereja.

Maka, jangan pernah bosan-bosan berdoa Rosario. Dengan cara itulah kita menghormati bunda kita, Maria. Jika dengan menghormati orang tua, kita bisa berbahagia dan panjang umur di bumi, maka dengan menghormati Bunda Maria, kita bisa berbahagia dan masuk ke dalam kehidupan yang kekal di surga; sebab Bunda Maria pasti akan mendoakan kita. Amin.

Hari Raya Semua Orang Kudus: Tradisi Khas Katolik

0
jackmac34 / Pixabay

Perayaan ini seringkali disalah-artikan sebagai perayaan hantu, penyihir, drakula atau zombie. Padahal, halloween dalam konteks iman Katolik tentu saja bukan perayaan hantu, penyihir atau zombie.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Halloween adalah perayaan vigili menjelang Hari Raya Semua Orang Kudus. Oleh karena itu, istilah ‘halloween‘ merupakan istilah khas Katolik, dan bukan tradisi sekuler. Sesungguhnya tradisi sekulerlah yang mengambil nama ‘halloween‘ pada tahun 1800-an, sehingga pengertian yang tadinya rohani menjadi sekuler.

Namun demikian, iman Katolik tidak goyah meskipun banyak upaya dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk menghancurkan Gereja Katolik; sebab Yesus sendiri telah berjanji untuk menjaga Gereja-Nya hingga akhir jaman (Mat. 28:18-20).

Pada mulanya, Perayaan Semua Orang Kudus dirayakan pada setiap tanggal 13 Mei, namun Paus Gregorius III, ketika ia mengkonsekrasikan Kapel Semua Orang Kudus di Basilika St. Petrus pada abad ke-3, memindahkannya pada 1 November.

Pada tahun 998, St. Odilo menambahkan satu perayaan lain, yaitu perayaan untuk Semua Arwah Kaum Beriman. Hal itu dirayakan untuk menggambarkan bahwa hubungan umat beriman tetap dan tidak terputuskan oleh kematian.

Dibuatnya perayaan-perayaan ini berdasarkan keyakinan Gereja Katolik bahwa para orang kudus yang ditempatkan oleh Allah di surga. Apalagi, Kitab Suci mencatat dalam banyak ayat dan perikop tentang para orang kudus. Kali ini penulis merujuk pada ayat-ayat Perjajian Baru, misalnya dalam Mat. 27:52-53, yang berbicara tentang terbukanya kubur para kudus pada waktu Yesus bangkit. Para Kudus tersebut keluar dan masuk kota kudus dan memperlihatkan diri kepada orang banyak. Juga, ada cerita tentang doa orang-orang kudus dan gambaran persembahan  mereka (Why. 5:8, 8:3-4).

Sejarah Reformasi Martin Luther: dari Protes menuju Pemisahan

0
plugrafico / Pixabay

Martin Luther adalah seorang biarawan dari Ordo Agustinus, yang cukup kritis pada zamannya. Sekali waktu ia protes terhadap salah satu kalimat dari perkataan Johann Tetzel, seorang pengkhotbah dari Ordo Dominikan.

[postingan number=3 tag= ‘agama-katolik’]

Tetzel membuat sebuah pantun yang kemudian disalah-mengerti oleh Martin Luther.  Bunyi pantunnya begini: “Begitu terdengar bunyi koin emas di kotak, bangkitlah jiwa menuju Surga.” Pantun tersebut oleh Martin Luther dianggap sebagai bagian dari penjualan Surat Pengampunan dosa.

Tuduhan yang dilontarkan oleh Martin Luther itu tentu saja tidak benar karena tidak pernah ada yang namanya penjualan Surat Pengampunan Dosa. Memang, tema yang diangkat saat itu adalah derma (Mat. 6:2); dan uang pemberian itu digunakan untuk membangun basilika. Tapi, yang namanya menyumbang atau memberi kolekte itu tidak sama dengan membayar pengampunan dosa.

Martin Luther mungkin melihat adanya potensi penyelewengan terhadap ucapan Tetzel tersebut, makanya ia protes kepada Uskup Agung Albert dari Mainz. Protes yang diajukan oleh Martin Luther ini merupakan awal perubahan Gereja yang pada masa itu dapat dikatakan sedang berada dalam keadaan ‘gelap’.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa pada masa itu ada penyelewengan dari oknum-oknum tertentu, namun tentu saja hal semacam itu bukanlah ajaran dari Gereja Katolik. Maka, keliru besar jika kesalahan satu oknum digeneralisir menjadi kesalahan seluruh Gereja. Lagi pula, kejadian yang dilakukan Tetzel hanya terjadi di Jerman, dan bukan di segala tempat.

Ada beberapa tanggapan berkaitan dengan reformasi yang dilakukan Martin Luther, antara lain: pertama, ia hampir membuang Surat Yakobus dan Kitab Wahyu. Ia beranggapan bahwa kedua kitab tersebut merupakan ‘Kitab Jerami’ alias palsu. Padahal, jika kita mau jujur,  alasan di balik penolakan Martin Luther terhadap Surat Yakobus sederhana saja, yaitu karena konsep sola fide dan sola gratia yang dicetuskannya bertentangan dengan isi Surat Yakobus. Karenanya ia menyebut Surat Yakobus sebagai ‘Kitab Apocrypha‘, seperti halnya Kitab Wahyu.

Kedua, Martin Luther tidak pernah berniat mendirikan ribuan aliran melainkan hanya pembaharuan dari dalam. Sayangnya, ia kebablasan karena mengikuti anjuran politis bangsawan Jerman, yang pada masa itu membuat propaganda bahwa Vatikan akan menguasai Jerman dalam bidang politik dan ekonomi.

Martin Luther tidak pernah berpikir jika reformasi yang ia buat akan berakibat seperti sekarang, dengan ribuan aliran, sampai-sampai ada aliran yang justru menolak ajaran-ajarannya.

Ketiga, Martin Luther menghilangkan 7 Kitab Perjanjian Lama yang sudah dipakai sejak abad pertama; bahkan sudah sering dikutip oleh rasul-rasul. Salah satu kitab yang tidak mendukung konsep tri-sola dari Martin Luther adalah Kitab 2 Makabe, di mana isinya berbicara tentang mendoakan orang mati.

Martin Luther merasa bahwa ketujuh kitab tersebut tidaklah kanonik. Padahal, kitab-kitab tersebut sudah masuk ke dalam Kanon Kitab Suci Umat Kristiani sejak abad ke 3, dan merupakan bagian dari Perjanjian Lama.

Meskipun Martin Luther tidak mengakuinya sebagai kanonik, ia toh tetap menyertakan ketujuh kitab itu ke dalam daftar Alkitab yang ia terjemahkan. Ia beralasan bahwa kitab-kitab itu hanya layak dibaca saja. Menurut penjelasan di portal Katolisitas, baru sekitar tahun 1827 the British and Foreign Bible Society mencoret dan membuang ke-7 kitab itu dari daftar isi kitab mereka.

Keempat, Martin Luther membuat ajaran ‘sola scriptura’ yang sesungguhnya bertentangan dengan Alkitab. Sola artinya ‘hanya’ dan Scriptura artinya Alkitab. Padahal, Paulus sendiri pernah berkata: “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis” ( 2 Tes 2:15). Jadi, tidak semua hal tercatat di dalam Alkitab (bdk. Yoh. 21:25).

Jurgen Moltmann: Pengharapan yang Realistis

0
  1. Pengantar

Sepanjang sejarahnya, Gereja selalu memiliki teolog-teolog besar yang telah melahirkan ide-ide cemerlang. Pemikiran mereka selalu memiliki relevansi untuk kehidupan umat beriman. Jurgen Moltmann adalah salah seorang  di antara mereka itu. Ia adalah teolog besar dalam Gereja Reformasi. Ide-ide cemerlangnya terus bergema sepanjang sejarah Gereja, bukan hanya dalam gereja Reformasi, tetapi juga dalam gereja Katolik. Sampai saat ini, banyak orang yang mendiskusikan pemikiran-pemikiran teologisnya. Salah satu pemikirannya yang terkenal adalah teologi pengharapan. Moltmann menegaskan bahwa janji Allah untuk melakukan sesuatu bagi masa depan adalah lebih penting daripada apa yang telah dia lakukan di masa lampau.[1] Hal ini sama sekali tidak berarti bahwa orang harus melarikan diri dari dunia ini untuk mendapatkan dunia yang lebih baik. Mereka malahan dituntut untuk berpartisipasi aktif membantu datangnya dunia yang lebih baik itu.

Teologi pengharapan Moltmann berbicara tentang Allah yang ada di depan kita dan yang akan menjadikan semuanya baru.[2] Sekarang Dia dikenal dari janji-janjiNya. Allah adalah Allah yang mempunyai masa yang akan datang sebagai sifat-Nya yang hakiki. Teologi pengharapan Moltmann ingin memikirkan pengharapan bukan sebagai penghabisan seperti yang disebutkan di dalam dogmatika Kristen “Eskatologi” melainkan sebagai dasar dan sebagai pola pemikiran yang terus-menerus mempengaruhi dogmatika Kristen.[3] Eskatologi menurut Moltmann adalah suatu keterbukaan kepada masa yang akan datang. Eskatologi diinterpretasikan kembali sebagai suatu yang sentral dari doktrin Kristen. Dalam arti inilah eskatologi dalam teologi pengharapan Moltmann berbeda dengan eskatologi tradisional sebelumnya. Moltmann menghadirkan eskatologi sebagai doktrin yang aktif dari pengharapan supaya mampu menjadikan harapan sebagai alternatif masa depan. Moltmann melihat Gereja sebagai jemaat pengharapan yang mengalami pengharapan di dalam Allah yang hadir di dalam janji-janjiNya. Karena masih berada di dunia, maka Gereja dipanggil Allah untuk pergi dan melayani sesama di dalam dunia, membangun dunia baru sambil menaruh harapan kepada Kristus.

Melalui tulisan ini, kami akan mengulas secara singkat pemikiran Jurgen Moltmann tentang Teologi Pengharapan.

  1. Riwayat Hidup Singkat dan Karya-Karyanya

Jurgen Moltmann lahir pada 8 April 1926 di Hambur, Jerman.[4] Keluarganya tidak taat dalam hidup beragama. Sejak kecil, Moltman mempunyai ketertarikan dengan puisi, karya sastra dan pemikiran para filsuf Jerman, Lessing, Goethe dan Nietzche. Bahkan buku Zarathustra (karya Nietzche) menjadi buku kegemarannya. Pada usia 16 tahun, ia juga mengindolakan Albert Einstein. Bahkan ia mau belajar matematika untuk mendalami pemikiran Einstein. Ia sangat tertarik dengan teori relativitasnya Einstein. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ia memiliki minat untuk belajar tentang kristianitas, terutama tentang teologi.

Tatkala semangat belajarnya semakin bertumbuh, Moltmann justru mengalami tantangan yang hebat. Bahkan bisa kita katakan, ia mengalami masa muda yang suram. Betapa tidak, ketika umur 18 tahun, tepatnya pada akhir tahun 1944, ia dipaksa masuk dinas militer Jerman.[5] Bahkan, ia ikut dalam perang dunia II. Ia menjadi tawanan perang di Belgia dan Inggris. Ia menyaksikan bagaimana tawanan menderita, sekarat bahkan tidak sedikit yang mati. Mereka tidak memiliki harapan sama sekali. Ia beruntung karena imannya kepada Kristus, ia memiliki semangat hidup walaupun sesungguhnya menderita dalam tahanan.

Seorang pendeta asal Amerika memberinya Kitab Suci dan ia langsung membacanya, terutama Kitab  Perjanjian Baru dan Mazmur.[6] Setelah membaca Kitab Suci itu, ia menemukan bahwa segala harapannya selama ini dijawab dengan baik oleh Kitab Suci. Ia menemukan Tuhan, walaupun menderita. Setelah itu, ia diijinkan untuk belajar teologi di Norton Camp yang dikelola oleh angkatan bersenjata Inggris. Pengalaman penderitaan menyadarkannya bahwa antara iman dan penderitaan saling melengkapi satu sama lain. Tahun 1948, ia kembali dari medan perang dan bisa mengikuti kuliah di universitas Goetingen yang sangat dipengaruhi oleh Karl Barth. Moltman menyelesaikan studinya pada tahun 1952. Kemudian, ia menjadi pendeta di gereja Evangelikal di Bremen. Tahun 1963, ia bergabung dengan univeritas Bonn. Akan tetapi, mulai tahun 1967-1994, ia mengajar di universitas Tubingen dan menjadi guru besar teologi.

Moltman termasuk teolog yang produktif menulis. Berikut ini adalah beberapa buku yang dihasilkannya.[7]

  • Theology of Hope: On the Ground and the Implications of a Christian Eschatology, SCM Press, London, 1967
  • The Crucified God: The Cross of Christ As the Foundation and Criticism of Christian Theology, SCM Press, London, 1973
  • Man: Christian Anthropology in the Conflicts of the Present, SPCK, London, 1974
  • The Church in the Power of the Spirit: A Contribution to Messianic Ecclesiology, SCM Press, London, 1975
  • The Experiment Hope, SCM Press, London, 1975
  • The Future of Creation, SCM Press, London, 1979
  • The Trinity and the Kingdom: The Doctrine of God, Harper and Row, New York, 1981
  • History and the Triune God: Contributions to Trinitarian Theology
  • The Way of Jesus Christ(1990)
  • The Spirit of Life: A Universal Affirmation(1992)
  • The Coming of God: Christian Eschatology, Fortress, Minneapolis, 1996.
  • The Source of Life(1997)
  • Experiences in Theology: Ways and Forms of Christian Theology(2000)
  • Science and Wisdom(2003)
  • In the End the Beginning(2004)
  1. Konteks Pemikiran

Bagaimanakah situasi yang menjadi latarbelakang pemikiran Jurgen Moltmann tentang Teologi pengharapan? Pertanyaan ini akan kami jawab dalam bagian kecil ini. Pada bagian sebelumnya, kami telah menjelaskan selayang pandang tentang pengalaman penderitaan yang dialami oleh Jurgen Moltmann  ketika menjadi tawanan perang. Rupanya uraiannya tentang teologi pengharapan ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman pribadinya tersebut. Ketika menjadi tawanan perang, ia juga melihat penderitaan yang mengerikan dari para tawanan lain. Selain itu, ia juga menyaksikan kehancuran bangsa Jerman setelah perang. Kitab Suci yang direnungkannya selama dalam masa tawanan mendorongnya untuk melihat penderitaan dari aspek lain yakni iman akan Allah yang terlibat dalam hidup manusia. Harapan hidupnya tumbuh! Ia memiliki harapan yang kuat bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk manusia lainnya; secara khusus untuk Jerman bangsanya yang sedang mengalami krisis setelah perang.

Tatkala mengikuti kuliah di universitas Goetingen, ia mempelajari pemikiran Karl Barth.[8] Bahkan ia sungguh-sungguh menguasai pemikiran Karl Barth. Akan tetapi, menurutnya, Karl Barth belum menyentuh soal politik dan kebudayaan, padahal itu sangat penting dalam kehidupan umat beriman, terutama masyarakat Eropa yang baru saja melewati masa perang. Selain dipengaruhi oleh Karl Barth, ternyata ia juga dipengaruhi oleh pemikiran Dietrich Bonhoeffer, terutama  tentang etika sosial dan keterlibatan gereja dalam kehidupan bermasyarakat.

Yang tak kalah menarik adalah Jurgen Moltmann juga rupanya dipengaruhi oleh seorang filsuf Marxist Yahudi, Ernst Bloch.[9] Ia sangat menyukai buku Ernst Bloch tentang “Prinsip Harapan” (Das Prinzip der Hoffnung, 1959). Uraian Bloch tentang harapan dan juga pengalamannya ketika menjadi tawanan perang mendorongnya untuk menulis sesuatu tentang teologi pengharapan. Moltmann menemukan bahwa prinsip harapan yang diuraikan oleh Bloch perlu dilengkapi konsep pengharapan dalam iman akan Allah, dan bukan pengharapan sekular (pengharapan akan masa depan dunia tanpa Allah). Pengalaman kehadiran Allah dalam situasi penderitaan menggerakkan hatinya untuk membagikan penemuan teologisnya kepada orang lain. Selain itu, keterlibatannya selama dan sesudah perang di dalam penderitaan secara kolektif dan kekalahan bangsa Jerman, mendorongnya untuk membuat kajian teologis yang tidak terpisahkan dari kehidupan umum manusia, termasuk persoalan-persoalan sosial-politik.  Perang dingin yang tak lain adalah perang ideologi dengan Rusia turut menjadi latar belakang munculnya teologi ini. Rusia mengalami kebangkitan. Sementara Jerman semakin masuk dalam situasi kekacauan. Dalam situasi ini, yang perlu adalah selalu berharap kepada Tuhan.

  1. Uraian tentang Pengharapan Yang Realistis

 Pada bagian ini, kami akan mengulas pemikiran Jurgen Moltmann tentang pengharapan yang realistis. Untuk memperjelas uraian ini, kami akan membaginya dalam beberapa bagian kecil.

4.1  Pengharapan akan apa yang dijanjikan Allah bagi masa depan[10]

In actual fact, however, eschatology means the doctrine of the Christian hope, which embraces both the object hoped for and also the hope inspired by it. From first to last, and not merely in the epilogue, Christianity is eschatology, is hope, forward looking and  forward moving, and therefore also revolutionizing and transforming the present. The eschatological is not one element of Christianity, but it is the medium of Christian faith as such, the key in which everything in it is set, the glow that suffuses everything here in the dawn of an expected new day.[11]

Melalui kata-katanya ini, Moltmann hendak menegaskan bahwa  eskatologi adalah doktrin tentang harapan kristiani. Harapan yang bersumber dari Allah itu akan memberikan semangat baru bagi pengikut Kristus untuk mengubah dunia saat ini ke arah yang lebih baik lagi. Yang pasti adalah Allah selalu memberikan yang terbaik bagi umat yang menaruh harapan penuh kepada-Nya.

Selain itu, menurut Moltmann, eskatologi kristiani bukanlah logos Yunani melainkan janji Allah kepada Israel.[12] Janji ini tidak dapat dibaca dari sejarah dunia dan keterarahannya melainkan harus dimengerti dari sabda Allah yang datang ke dunia, melalui Yesus Kristus. Oleh karena itu, tanpa mengenal Kristus dalam iman, pengharapan menjadi tidak bermakna. Dengan demikian, Yesus Kristus adalah jaminan pengharapan kristiani. Berkaitan dengan hal ini, Moltmann memberikan kritikan terhadap orang kristiani zamannya, “orang Kristen, Gereja-Gereja dan kaum teolog telah percaya akan Allah tanpa masa depan; oleh karena itu, hasrat akan masa depan dunia telah bergabung dengan ateisme yang mencari masa depan tanpa Allah.”[13] Eskatologi memiliki sumber yang khas yakni karya keselamatan Allah. Dasar eskatologi adalah keyakinan iman bahwa karya Allah selalu mengandung kemungkinan baru.

Berpikir teologis dari segi pengharapan berarti melihat seluruh teologi dalam terang masa depan Allah.[14] Inilah hal yang juga ditegaskan oleh Jurgen Moltmann. Ia meninggalkan cara menggambarkan Allah sebagai tokoh kekal yang tanpa bergerak berada pada tempat yang tinggi atau berada di tempat yang terdalam dari manusia. Mengapa demikian? Karena Allah bukan berada di tempat yang tinggi atau berada ditempat yang terdalam, tetapi Ia berjalan mendahului kita dan dari depan menarik kita menuju masa depan. Dia adalah Allah masa depan, yang mengajar kita berharap. Oleh karena itu, Moltmann menandaskan bahwa gambaran Allah yang timbul dari pemikiran Yunani harus diganti dengan gambaran Allah yang timbul dari Perjanjian Lama, yakni Allah sejarah; Allah yang mencakup segala perkara duniawi, termasuk sosial-politik.[15] Perjalanan bangsa Israel menegaskan bahwa Allah itu adalah Dia yang selalu berjanji membawa Israel menuju masa depan yang baru. Kesadaran akan Allah seperti inilah yang menyertai perjalanan bangsa Israel bahkan hingga saat ini. Pemikiran ini juga hendaknya menjiwai perjalanan hidup orang-orang Kristen saat ini. Di tengah perjuangan hidup yang ditandai dengan pelbagai tantangan di dunia ini, hendaknya Allah selalu berada di depan, yang menarik mereka agar mengalami pembebasan bersama-Nya.

  1. 2 Pengharapan itu bersumber dari dinamika Sejarah Keselamatan

            Dalam perjanjian Lama, pelaksanaan janji-janji Allah menguatkan iman Israel terhadap kesetiaan Allah dan sekaligus membuka harapan terhadap pelaksanaan janji-janji yang lebih sempurna.[16] Pelaksanaan sementara merupakan antisipasi eskatologis. Maksudnya adalah dalam pelaksanaan janji yang bersifat sementara itu kepenuhan pelaksanaan janji-janji diantisipasi. Dengan demikian, selalu ada pengharapan dalam diri orang-orang percaya.

Dalam perjanjian Baru, antisipasi eskatologis itu lebih ditegaskan lagi. Kerajaan Allah sudah dekat, maka kita harus bertobat dan mengarahkan diri ke masa depan. Peristiwa sangat penting yang menumbuhkan harapan baru bagi orang beriman adalah wafat dan kebangkitan Kristus.[17] Melalui peristiwa penting ini, kebangkitan manusia diantisipasi dan dengan demikian menjadi jelas ke arah mana seluruh dunia berkembang. Bahkan seluruh proses pembangunan dunia dan masyarakat, segala kemajuan budaya dan ilmu pengetahuan memainkan peranan penting karena setiap penyempurnaan dunia harus dilihat sebagai satu tahap dalam proses pelaksanaan wahyu Allah dan kerajaan-Nya. Mengimani kebangkitan Kristus berarti bahwa orang kristiani sekarang sudah hidup dari masa depan yang telah diantisipasi dalam kebangkitan Yesus Kristus.

Berkaitan dengan harapan dalam dinamika sejarah keselamatan manusia, Jurgen Moltmann menguraikan pemikirannya seperti berikut ini.

Christian eschatology speaks of ‘Christ and his future’. Its language is the language of promises. It understands history as the reality instituted by promise. In the light of the

present promise and hope, the as yet unrealized future of the promise stands in contradiction to given reality. The historic character of reality is experienced in this contradiction, in the front line between the present and the promised future. History in all its ultimate possibilities and dangers is revealed in the event of promise constituted by the resurrection and cross of Christ. We took the promise contained in this event, in the sense of that which is latent, hidden, prepared and intended in this event, and expounded it against the background of the Old Testament history of promise, perceiving at the same time the tendencies of the Spirit which arise from these insights. The pro- missio of the universal future leads of necessity to the universal missio of the Church to all nations.[18]

Jadi, eskatologi itu berbicara tentang Kristus dan masa depan-Nya. Hal ini berkaitan dengan janji Yesus untuk menyelamatkan dunia. Yang perlu disadari adalah janji itu memiliki latar belakangnya dalam Perjanjian Lama. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam Perjanjian Lama, Allah selalu menjanjikan keselamatan bagi umat Israel. Berkat wafat dan kebangkitan-Nya dari alam maut, Kristus memberikan harapan baru bagi orang yang percaya; harapan akan keselamatan kekal sekaligus memanggil para pengikut-Nya untuk mewartakan keselamatan kepada segala bangsa.

Peristiwa penampakan Yesus yang telah bangkit merupakan pewahyuan yang menampilkan Kristus yang akan datang dan oleh karena itu dapat memberikan tugas perutusan kepada para rasul.[19] Akan tetapi, perutusan ini hanya dapat dimengerti dalam terang janji-janji Perjanjian Lama tentang kedatangan Tuhan dan kebenaran-Nya. Dengan demikian, sejarah keselamatan itu bukan hanya penting bagi para nabi, tetapi juga teologi yang dianggap oleh Moltman sebagai penglihatan historis-eskatologis yang diberikan Allah kepada kita dalam jangka waktu antara peristiwa salib dan parusia Kristus. Konsep ini memiliki konsekuensi lebih lanjut yakni karena janji Allah hanya mempunyai arti kalau ada hubungan dengan manusia yang hidup di dunia, teologi yang berlandaskan Alkitab itu hendaknya selalu berdialog dengan dunia, termasuk ilmu pengetahuan dan kehidupan sosial-politik.[20] Dengan demikian, iman berkembang menjadi harapan yang berjuang melawan apa yang negatif di dunia ini sambil menderita, tetapi tidak pernah putus asa sebab orang Kristen yang memiliki harapan menerima salib dalam kekuatan kebangkitan.

  1. 3. Salib dan Kebangkitan Kristus adalah Landasan Pengharapan

            Moltmann juga menguraikan bahwa harapan kristiani itu bersumber dari peristiwa kebangkitan dan penampakan Kristus. Tatkala kita mengakui kebangkitan Kristus, maka kita juga mengakui tindakan Allah di masa depan untuk mengubah dunia. Tentang hal ini, ia menjelaskannya sebagai berikut.

The Christian hope for the future comes of observing a specific, unique event — that of the resurrection and appearing of Jesus Christ. The hopeful theological mind, however, can observe this event only in seeking to span the future horizon projected by this event. Hence to recognize the resurrection of Christ means to recognize in this event the future of God for the world and the future which man finds in this God and his acts. Wherever this recognition takes place, there comes also a recalling of the Old Testament history of promise now seen in   critical and transforming light.[21]

Dengan kata lain, salib dan kebangkitan Kristus adalah intisari iman kristiani dan ini mendasari pengharapan umat beriman.[22] Iman kristiani hidup dari kebangkitan Kristus yang disalibkan dan mendambakan masa depan Kristus yang akan terpenuhi dalam parusia. Pada salib Kristus, kematian manusia mendapat arti bagi Allah. Manusia Yesus yang wafat pada kayu salib itu adalah Putra Allah, dan wafatnya Putra Allah itu dirasakan baik oleh Allah Putra maupun Allah Bapa.[23] Pembedaan antarpribadi dalam Allah Tritunggal itu mencakup juga kematian. Hal ini berlaku juga bagi keesaan dalam pembedaan itu, dan keesaan terletak dalam Roh Kudus: di dalam Roh Kudus terjadi penyerahan Putra ke dalam maut, dan karena Roh Kudus itu juga terlaksana kebangkitan Putra ke dalam kemuliaan.[24] Kebangkitan Kristus adalah awal kebangkitan orang-orang mati.

Menurut Moltmann, arti eskatologis wafat dan kebangkitan Kristus terletak pada Salib. Salib dipandang sebagai antisipasi murka Allah atas segala makhluk. Kristus mewakili orang-orang berdosa dan fasik yang terpisah dari Allah.[25] Dengan demikian, Salib Kristus merupakan peristiwa penghakiman eskatologis. Maksudnya, dalam salib itu pengadilan terakhir sudah terlaksana. Dalam salib anak-Nya, Allah Bapa menerima kematian supaya manusia dapat meninggal dalam damai karena mengetahui dengan pasti bahwa dalam kematian itu ia tidak terpisah dari Allah. Melalui wafat Kristus, Allah sungguh-sungguh terlibat dalam sejarah manusia dan akan membawa sejarah itu kepada pemenuhannya, sebagaimana secara antisipasi sudah terlaksana dalam kebangkitan Kristus.

Peristiwa salib dan kebangkitan Kristus merupakan landasan pengharapan bagi pengikut Kristus. Maksudnya adalah dengan merenungkan, memahami dan mengimani misteri Kristus ini, orang-orang Kristen menaruh seluruh perjuangan hidupnya dengan aneka persoalannya ke dalam penyelenggaraan Kristus. Mereka yakin bahwa Kristus akan menjadi jaminan hidup. Penderitaan hidup di dunia akan berakhir dan yang nanti dialami adalah sukacita bersama Kristus yang bangkit. Kebangkitan Yesus juga meyakinkan mereka bahwa peristiwa itu (kebangkitan Kristus) adalah antisipasi kebangkitan umat beriman.  Dengan kata lain, peristiwa kebangkitan Kristus menjadi sumber kebangkitan hidup semua orang percaya dan sebagai sebuah konfirmasi janji yang akan dipenuhi dalam semuanya, sehingga masalah kematian pun tidak lagi menakutkan.[26]

Melalui Salib dan kebangkitan Yesus terdapat gambaran yang menarik tentang ‘persaingan’ antara kematian dan hidup, ketidakhadiran Allah dan kehadiran Allah.[27] Melalui kebangkitan-Nya, Yesus menuju hidup baru, Allah menciptakan kontinuitas di dalam diskontinuitas yang radikal ini. Selanjutnya kontradiksi salib dan kebangkitan cocok kepada kontradiksi antara realitas masa kini dan apa yang Allah janjikan untuk diperbuat-Nya. Pada salib-Nya Yesus memperkenalkan diri-Nya dengan realitas masa kini dengan segala persoalannya yakni dosa, penderitaan dan kematian atau apa yang Moltmann katakan adalah keterkutukkan dan ketidakkekalan.

4.4. Pengharapan Kristiani meresap dalam dunia konkret, kini dan di sini

Moltmann mengkritik teologi ortodoks yang menekankan eskatologi sebagai suatu kepercayaan tentang peritiwa-peristiwa tertentu pada akhir zaman.[28] Sebaliknya Moltmann melihat eskatologi sebagai suatu faktor yang membentuk semua teologi Kristen. Karena itu Moltmann keberatan jika eskatologi dijadikan pelengkap dari teologi Kristen dan ditempatkan di akhir dari semua bidang teologi. Menurut Moltmann, eskatologi adalah ajaran atau doktrin tentang pengharapan Kristen. Pengharapan Kristen itu bukan saja pengharapan tentang hal-hal yang akan datang, tetapi juga realitas masa kini karena harapan tersebut merevolusi dan mentransformasi masa kini.[29] Pengharapan kristiani itu realistis. Maksudnya adalah semangat pengharapan orang-orang Kristen berani membawa perubahan  kepada dunia sekitarnya. Segala persoalan hidup bersama dalam masyarakat hendaknya diselesaikan dengan penuh semangat kerja sama tanpa keputusasaan. Landasan pengharapan ini adalah Kristus yang telah disalibkan dan kemudian mengalahkan maut melalui kebangkitan-Nya. Melalui iman, kita terikat kepada Kristus, dan dengan demikian kita memiliki harapan pada Kristus yang bangkit dan pengetahuan akan kedatangan-Nya kembali.

Tentang pengharapan kristiani yang realistis itu, Jurgen Moltmann menjelaskannya sebagai berikut.

For the eschatological hope shows that  which is possible and transformable in the world to be meaningful, and the practical mission embraces that which is now within the bounds of possibility in the world. The theory of worldtransforming, future-seeking missionary practi-ce does not search for eternal orders in the existing reality of the world, but for possibilities that exist in the world in the direction of the promised future. The call to obedient molding

of the world would have no object, if this world were immutable. The God who calls and promises would not be God, if he were not the God and Lord of that reality into which his mission leads, and if he could not create real, objective possibilities for his mission. Thus

the transforming mission requires in practice a certain Weltanschauung, a confidence in the world and a hope for the world. It seeks for that which is really, objectively possible in this world, in order to grasp it and realize it in the direction of the promised future of the righteousness, the life and the kingdom of God.[30]

Dari kutipan ini, kami melihat bahwa Jurgen Moltmann sangat menekankan aktualisasi dari pengharapan kristiani. Pengharapan kristiani yang berlandaskan pada Kristus yang bangkit itu hendaknya mendorong pengikut Kristus untuk berani membuat  perubahan; mengubah dunia ke arah yang lebih baik. Transformasi dunia adalah tugas dari orang-orang yang memiliki pengharapan. Inilah misi yang diemban oleh para pengikut Kristus. Dengan kata lain, mereka tidak bisa menutup mata terhadap aneka ketidakadilan, kejahatan, penderitaan yang terjadi di dunia ini. Mereka harus berpartisipasi untuk mengubah semuanya ini. Inilah tugas Kristus yang saat ini dilimpahkan kepada para pengikut-Nya. Apabila tugas ini dilakukan dengan baik, maka pengikut Kristus berhasil menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini!

Moltmann juga memahami iman Kristen sebagai harapan utama tentang masa depan manusia dan dunia yang dijanjikan oleh Allah dalam kebangkitan Yesus yang disalibkan. Akan tetapi, hal ini tidak berarti masa depan yang diharapkan saja, tetapi sebuah realitas dalam sejarah nyata dan yang berkuasa atas masa depan. Eskatologi Kristen adalah sebuah doktrin pengharapan yang aktif agar dapat memberi harapan untuk masa depan bagi yang tertindas dan menderita pada masa sekarang ini.[31] Oleh karena itu, seorang teolog tidak hanya peduli untuk menyediakan suatu interpretasi yang berbeda dalam dunia, sejarah dan kehidupan manusia, tetapi untuk mengubah mereka dalam pengharapan akan transformasi ilahi. Sejarah adalah realitas yang dilembagakan oleh janji Allah dalam kehadiran-Nya dan dialami oleh manusia sebagai pergerakkan janji masa depan dalam suatu antisipasi.

Teologi Politik

Inti teologi pengharapan Moltmann adalah teologi politik.[32] Maksudnya adalah teologi yang merealisasikan kehadiran Kristus di dunia ini. Pengertian politik ini diambil dalam arti luas yang di dalamnya mengandung nasib manusia dan alam semesta. Menurut Moltman, yang harus dimasuki oleh iman kristiani dan diresapi oleh semangat pengharapan adalah dunia konkret, kini dan di sini. Dengan menerima salib bersama Kristus, artinya dengan hidup solider dengan orang-orang yang menderita, umat beriman mewartakan masa depan kebangkitan, kehidupan dan keadilan Allah dalam hidup sehari-hari di dunia ini.

Situasi penderitaan dunia saat ini hendaknya menjadi medan kesaksian bagi para pengikut Kristus untuk mewartakan injil kebebasan.[33] Bahkan Moltman menyadarkan bahwa dunia yang penuh derita dan maut  ini akan lewat, sebagaimana Kristus telah mengalahkan maut. Kebaktian di gereja hanya akan berkenan kepada Tuhan apabila disertai aksi nyata dalam segala bidang kehidupan manusia. Seorang teolog yang berbicara tentang Allah harus selalu bertanya apakah ia memberi candu kepada umat ataukah obat untuk memperjuangkan kemerdekaan manusia. Hanya dalam hal terakhir (memperjuangkan kemerdekaan), ia berbicara tentang Kristus yang tersalib dan kemudian mengalahkan maut; sedangkan dalam hal pertama (hanya berbicara tentang Allah), ia hanya berbicara tentang berhala kaum kafir.[34] Iman kristiani hendaknya menyadarkan pengikut Kristus agar berani mengubah dunia dan menegakkan kemerdekaan bagi umat manusia. Yesus datang ke dunia, bukan hanya untuk menyelamatkan jiwa-jiwa, membebaskan manusia secara pribadi, menghibur yang tersesak, tetapi juga memberikan harapan baru akan keadilan, kesejahteraan dan kedamaian di dunia ini.[35] Gereja diutus ke dunia, bukan hanya menyebarkan iman dan harapan, tetapi juga melakukan perubahan historis.

Penderitaan Yesus Kristus merupakan wujud solidaritas Allah atau keterlibatan Allah dalam sejarah manusia yang mengalami penderitaan.[36] Allah pun tersalib di dalam manusia yang menderita. Yesus menjadi wujud konkret solidaritas Allah ini atas dasar cinta kasih-Nya. Yesus adalah kepenuhan sekaligus pintu gerbang dari ‘janji’ keselamatan Allah bagi manusia dalam ‘kasih’. Keterlibatan ini tampak dalam dinamika sejarah yang terus menerus diperjuangkan oleh manusia dalam rangka antisipasi terhadap janji Allah ini.  Dengan demikian, eskatologi berarti hidup kekal sebagai janji Allah yang telah dimulai dan senantiasa berjalan dalam dinamika relasional antara Allah dan manusia. Eskatologi tidak lagi dipahami hanya janji Allah setelah kematian namun sungguh hadir dalam keterlibatan manusia untuk mempertanggungjawabkan hidupnya yang bermakna. Makna ini didorong oleh kasih yang di dalamnya hidup kekal itu benar-benar ada.

Tentang hal ini, Jurgen Moltmann menjelaskannya seperti berikut ini.

The risen Christ calls, sends, justifies and sanctifies men, and in so doing gathers, calls and sends them into his eschatological future for the world. The risen Lord is always the Lord expected by the Church — the Lord, moreover, expected by the Church for the world and not merely for itself. Hence the Christian community does not live from itself and for itself, but from the sovereignty of the risen Lord and for the coming sovereignty of him who has conquered death and is bringing life, righteousness and the kingdom of God.[37]

Kristus yang bangkit memanggil dan mengutus para murid-Nya untuk mengubah dunia; membawa harapan hidup kepada dunia. Komunitas kristiani yang hidup dari Kristus hendaknya mampu membawa kehidupan baru kepada dunia; kehidupan yang dipenuhi kedamaian dan kesejahteraan. Kebenaran harus ditegakkan di dunia ini. Kerajaan Allah harus dialami oleh setiap manusia. Inilah misi Kristus yang dijalankan oleh umat kristiani yang memiliki pengharapan.

Eskatologi Kristiani harus memberi perhatian pada sejarah dan pada keterlibatan Allah dalam sejarah.[38] Janji Allah yang dinyatakan di dalam Perjajian Lama dan Perjanjian Baru akhirnya dapat menimbulkan pengharapan masa depan yang sungguh-sungguh pasti bahkan sudah dapat dirasakan pada saat ini. Janji dan pengharapan itu akhirnya dapat menimbulkan misi Gereja di dunia ini. Misi ini mengutus mereka ke dunia yang universal dengan kemungkinan pencapaian kemajuan berdasarkan iman akan Allah sendiri di dalam keagungan kuasa, kesetiaan dan janji-Nya. Misi Gereja dapat berjalan  dengan baik jika orang Kristen mengharapkan sesuatu yang baru dari Kristus, sesuatu yang belum pernah terjadi, dan hal ini ditunggu pemenuhannya berdasarkan janji kebenaran Allah dalam segala sesuatu. Oleh karena itu, umat Allah yang telah menerima janji itu harus kreatif dalam karyanya sehari-hari untuk memperlihatkan jiwa misionaris dengan melayani orang-orang yang tidak berdaya, lemah, miskin, dan yang terpinggirkan di  dunia ini.

Jurgen Moltmann menjelaskan dengan baik sekali tentang misi Gereja di dunia ini. Hal ini terlihat dalam uraian berikut ini.

The Christian Church which follows Christ’s mission to the world is engaged also in following Christ’s service of the world. It has its nature as the body of the crucified and risen Christ only where in specific acts of service it is obedient to its mission to the world. Its existence is completely bound to the fulfilling of its service. For this reason it is nothing in itself, but all that it is, it is in existing for others. It is the Church of God where it is a Church for the world.[39]

Gereja Kristus pasti melaksanakan misi Kristus. Misi Kristus tak lain adalah menyelamatkan dunia; memberikan kehidupan kepada dunia. Kristus datang membebaskan manusia yang tertindas. Inilah tugas yang dijalankan oleh Gereja saat ini. Gereja Allah itu adalah Gereja untuk dunia!

  1. Kontekstualiasi Pemikiran Jurgen Moltmann tentang Pengharapan Yang Realistis

Sebelum kami menguraikan kontekstualisasi pemikiran Moltmann tentang Teologi Pengharapan, kami terlebih dahulu memberikan satu catatan kritis.Teologi Pengharapan Moltmann memusatkan perhatiannya pada manusia yang sedang berziarah di dunia ini dalam hubungannya dengan Kristus yang juga terlibat dalam  ziarah itu.  Kristus yang wafat dan bangkit selalu hadir dalam setiap persoalan manusia. Moltmann sangat menekankan aksi nyata dalam hidup bermasyarakat sebagai konsekuensi logis dari iman akan Kristus yang menderita dan bangkit. Apabila orang beriman kepada Kristus, maka ia harus berani terlibat dalam mengatasi penderitaan di dunia ini. Apakah harus melakukan revolusi? Tentu tidak harus! Akan tetapi, menurut kami, kalau tidak hati-hati, bisa saja orang Kristen karena situasi tertentu akan melakukan revolusi; melakukan perubahan dalam tatanan masyarakat dengan cara yang tidak kristiani (misalnya, dengan kekerasan). Apabila hal ini terjadi, tentu tidak sesuai dengan kehendak Kristus yang  menawarkan damai kepada dunia.

Pemikiran Moltmann tentang pengharapan yang realistis ini masih relevan untuk dunia sekarang ini. Situasi dunia yang sering kali tidak menentu menyadarkan orang-orang Kristen untuk tidak putus asa. Ada beberapa hal yang bisa dipetik dari pemikiran Moltmann.

5.1. Hidup Orang-orang Kristen  dalam jaman  sekarang

Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi kian hari kian canggih. Banyak hal yang bisa diciptakan oleh manusia. Bahkan tak jarang orang zaman ini selalu membanggakan kemampuan hebatnya yang telah menciptakan kemajuan sangat berarti di dunia ini. Akan tetapi, situasi ini membuat sebagian orang tidak memerlukan Tuhan lagi, sebab manusia ternyata bisa menciptakan sendiri apa yang berguna untuk perkembangan dunia. Situasi ini sering kali menimbulkan persoalan penting pada zaman ini. Antara lain, hal-hal yang berbau keagamaan disingkirkan. Hal-hal yang tidak bisa dicerna oleh akal budi dianggap tidak nyata dan khayalan belaka. Kenyataan ini tidak membuat dunia aman atau manusia mengalami kebahagiaan. Malahan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi mendatangkan malapetaka bagi manusia lain (misalnya, peperangan, bom meledak di mana-mana).

Dalam terang teologi pengharapan Moltmann, di tengah-tengah situasi di atas orang-orang kristiani disadarkan kembali akan imannya kepada Kristus. Ia datang ke dunia untuk memberi harapan baru bagi orang-orang yang menderita. Karena itu, mereka (gereja) harus melakukan tindakan nyata untuk pelan-pelan mengubah situasi penderitaan ini. Gereja yang berada di dalam realitas sosial-politik yang kompleks ini dituntut melindungi individu dan mengarahkan harapan manusia yang menderita kepada Kristus sang pembebas. Dengan demikian, di tengah situasi kekacauan dunia saat ini, Gereja hendaknya memiliki pengharapan kepada Kristus yang disalibkan dan bangkit yang datang menyelamatkan orang-orang beriman. Akan tetapi, harapan ini harus diwujudkan dalam aksi nyata yakni bersama-sama membangun dunia ini dan berjuang menyelesaikan aneka persoalannya.

5.2. Relevansi khusus untuk Orang-Orang Kristen Indonesia

Sejarah Indonesia telah bergulir jauh ke depan sejak dahulu kala. Seiring berjalannya waktu, bangsa Indonesia telah, sedang dan akan terus berkembang ke arah yang lebih baik. Aneka perkembangan berarti telah dialami oleh manusia-manusia Indonesia. Akan tetapi, aneka persoalan tetap saja terjadi setiap hari. Situasi penderitaan masih saja mewarnai kehidupan bangsa Indonesia.

Sejarah bangsa Indonesia tentu juga adalah sejarah Gereja Indonesia. Dalam terang teologi pengharapan Moltman, di mana Allah terlibat dalam sejarah manusia, orang-orang Kristen Indonesia hendaknya yakin bahwa Allah juga hadir dalam sejarah bangsa ini. Sejarah Indonesia adalah ‘sejarah’ Allah yang terlibat dalam penderitaan hidup manusia Indonesia. Allah menuntun bangsa ini dalam menciptakan kebaikan bersama (bonum communae). Masa depan orang Kristen adalah masa depan bangsanya. Salib dan kebangkitan Kristus yang menjadi landasan pengharapan kristiani hendaknya memacu semangat Gereja Indonesia untuk memberikan harapan kepada bangsa ini. Karena itu, orang Kristen Indonesia harus berani terlibat dalam upaya mengatasi aneka persoalan dalam segala aspek kehidupan bangsa ini. Mereka harus berani menciptakan perubahan hidup sehingga bangsa ini mengalami kesejahteraan.

5.3. Perkembangan Teologi di Indonesia

            Teologi pengharapan Jurgen Moltman muncul karena pengalaman penderitaan yang dialaminya dan juga pengalaman kehancuran bangsa Jerman setelah perang. Dengan kata lain, teologinya muncul ‘dari bawah,’ muncul dari pergulatan manusia yang  sedang berjuang dengan aneka persoalan dunia. Inilah yang dinamakan teologi kontekstual: teologi yang merenungkan secara mendalam persoalan konkret umat beriman. Teologi jenis ini benar-benar menyentuh kehidupan manusia, bukan hanya soal kehidupan spiritual, tetapi juga bidang kehidupan lainnya (sosial, ekonomi, politik, budaya, dan lain-lain).

Apa yang dilakukan oleh Moltmann ini kiranya menginspirasikan para teolog Indonesia untuk membuat kajian teologis berlandaskan konteks Indonesia. Antara lain, konteks keanekaragaman suku, agama, budaya dan juga situasi penderitaan yang dialami bangsa ini. Harapannya, aneka situasi ini mendorong para teolog  agar menghasilkan teologi pengharapan yang realistis konteks Indonesia. Dengan demikian, teologi Indonesia bukan hanya melanjutkan teologi Barat atau negara-negara lain, tetapi juga memunculkan teologi khas Indonesia yang merefleksikan secara mendalam Salib dan kebangkitan Kristus. Kajian ini diharapkan bisa membantu umat beriman di Indonesia dalam menghayati iman di tengah persoalan hidupnya sehari-hari. Kajian ini juga harapannya mendorong mereka untuk berani melakukan aksi nyata dalam rangka mengubah aneka ketidakadilan dan penderitaan yang ada di Indonesia sambil tetap menaruh harapan pada Kristus.

  1. Penutup

Teologi pengharapan Jurgen Moltmann menekankan hal penting dalam hidup umat beriman yakni pentingnya menaruh harapan kepada Kristus. Pengalaman penderitaan pribadi dan juga kehancuran bangsa Jerman menyadarkan Moltmann akan pentingnya harapan terjadinya perubahan hidup ke arah yang lebih baik di masa depan. Pengharapan ini bukan tanpa Allah (seperti Bloch), tetapi bersandar pada Allah, secara khusus Salib dan Kebangkitan Kristus. Inilah landasan pengharapan Kristiani. Akan tetapi, iman akan Kristus ini harus diwujudkan dalam tingkah laku konkret yakni mengubah dunia yang penuh penderitaan ini menjadi dunia yang lebih baik.

Dengan demikian, pengharapan kristiani bukan hanya ucapan tetapi dibuktikan melalui aksi yang nyata yang menghadirkan Kristus. Inilah pengharapan yang realistis; pengharapan yang menyentuh persoalan konkret para pengikut Kristus. Gereja dipanggil untuk pergi dan melayani di dalam dunia, membangun dunia baru sambil menaruh harapan kepada Kristus. Orang-orang Kristen di Indonesia pun diundang untuk selalu menaruh harapan pada Kristus yang telah wafat dan bangkit sambil terlibat aktif dalam menciptakan kesejahteraan bersama di dalam negara ini. Kehadiran orang Kristen diharapkan memberi harapan dan semangat baru bagi perjuangan mengatasi penderitaan yang dialami masyarakat Indonesia sebab mereka selalu mengarahkan diri pada Kristus, sumber pengharapan sejati. ***

Catatan: Saudara/i terkasih, tulisan ini saya buat beberapa tahun silam ketika saya masih kuliah di Malang. Mungkin ada yang mau membaca dan mau mendalaminya!  Maaf karena terlalu panjang dan mungkin juga tak mudah memahaminya. 🙂 

Daftar Pustaka

Dister, Nico Syukur, Teologi Sistematika II, Yogyakarta: Kanisius, 2004.
Hadiwijono, Harun, Teologi Reformatoris abad ke-20, Jakarta: Gunung Mulia, 1985,
Moltmann, Jurgen, The Church in the Power of the Spirit, Munich: SCM Press Ltd, 1975.
——————-, Theology of Hope, Munich: SCM Press Ltd, 1965.
——————-, The Crucified God, Munich: SCM Press Ltd, 1974.
http://people.bu.edu/wwildman/bce/moltmann.htm, diakses 4 Februari 2014
http://www.theopedia.com/Jurgen_Moltmann, diakses 4 Februari 2014

[1] Bdk. Jurgen Moltmann, Theology of Hope, Munich: SCM Press Ltd, 1965, hal. 3.
[2] Ibid., hal. 5.
[3] Ibid., hal. 16.
[4] http://people.bu.edu/wwildman/bce/moltmann.htm, diakses 4 Februari 2014
[5] http://www.theopedia.com/Jurgen_Moltmann, diakses 4 Februari 2014
[6] Ibid.
[7] http://people.bu.edu/wwildman/bce/moltmann.htm, diakses 4 Februari 2014.
[8] http://people.bu.edu/wwildman/bce/moltmann.htm, diakses 10 April 2014.
[9] Bdk. Harun Hadiwijono, Teologi Reformatoris abad ke-20, Jakarta: Gunung Mulia, 1985, hal. 154.
[10] Bdk. Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika II, Yogyakarta: Kanisius, 2004, hal. 540.
[11] Bdk. Jurgen Moltmann, Op.Cit., hal. 3.
[12] Ibid.,, hal.17.
[13] Ibid., 146.
[14] Ibid., hal. 136.
[15] Ibid.
[16] Ibid., hal. 141.
[17] Ibid., hal. 191.
[18] Ibid., hal. 146.
[19] Bdk. Jurgen Moltman, The Church in the Power of the Spirit, Munich: SCM Press Ltd, 1975, hal. 166.
[20] Ibid., hal. 176.
[21] Bdk. Id., Theology of Hope, Op.Cit., hal. 125
[22] Ibid., hal. 165.
[23] Bdk. Jurgen Moltman, The Crucified God, Munich: SCM Press Ltd, 1974, hal. 190.
[24] Bdk. Nico Syukur Dister, Op. Cit., hal. 543.
[25] Ibid., hal. 145.
[26] Bdk. Jurgen Moltman, Theology of Hope, Op.Cit., hal. 211.
[27] Ibid., hal 226.
[28] Ibid., hal 16-17.
[29]Ibid., hal. 25.
[30] Ibid., hal. 187.
[31] Ibid., hal. 32.
[32] Bdk. Harun Hadiwijono, Op.Cit., hal.145.
[33] Bdk. Jurgen Moltman, Theology of Hope, Op. Cit., hal. 330-338.
[34] Bdk. Nico Syukur Dister, Op. Cit., hal. 544.
[35] Bdk. Jurgen Moltman, The Church in the Power of the Spirit, Op. Cit., hal. 178.
[36] Bdk. Id., Theology of Hope, Op. Cit., hal. 216-224.
[37] Ibid., hal. 211.
[38] Ibid., hal. 225-228.
[39] Ibid., hal. 212.