13.1 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 83

Mengenal Didache

0

Didache atau Didakhe (Yunani Koine Διδαχὴ, Didachē), atau Ajaran-Ajaran Rasul adalah nama yang umum diberikan kepada sebuah risalah Kristen Perdana, yang memuat pengajaran untuk komunitas-komunitas Kristen. Teksnya sendiri kemungkinan merupakan katekismus  pertama, dengan tiga bagian utama yang membahas ajaran Kristen, ritual-ritual seperti baptisan dan ekaristi, serta organisasi gereja. Didache dianggap oleh sebagian Bapak Gereja sebagai bagian dari Perjanjian Baru. Sebagian lainnya menolak karena isinya diragukan, sehingga akhirnya tidak diterima ke dalam kanon, kecuali Gereja Ortodoks Ethiopia yang menerimanya dalam “kanon yang lebih luas”. Gereja Katolik Roma menerimanya sebagai bagian dari tulisan para rasul. Naskah tersebut ditemukan pada akhir abad ke-19.

Didache sendiri hanya mencatat kebiasaan-kebiasaan dalam komunitas Kristen perdana. Selain itu didache  mengajak  umat untuk melihat bahwa ajaran didache benar-benar ajaran dari para rasul.

Ajaran Didache

Judul “Didache” dalam naskah yang ditemukan tahun 1873

Injil Didache berisi 16 pasal yang umumnya dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu:

Berikut adalah beberapa uraian singkat ajaran-ajaran didache yang terdiri 4 bagian dan berisi 16 pasal :

a. Ajaran didache bagian pertama terdiri dari : 6 pasal

• Pasal 1-4 mengajarkan kepada umat Kristen jalan keselamatan, untuk dapat menuju jalan keselamatan tersebut manusia harus melakukan perbuatan-perbuatan baik yang dikehendaki oleh Tuhan. Contohnya : mengasihi Tuhan, mengasihi sesama seperti diri sendiri dan kasihilah juga musuh-musuhmu. Contoh-contoh perbuatan baik tersebut sama dengan perbuatan yang diajarkan oleh Tuhan di dalam 10 perintah Allah. Perintah 1-2 berhubungan dengan perbuatan baik kepada Allah. Perintah 3-4 berhubungan dengan perbuatan baik kepada sesama.

• Pasal 5-6 mengajarkan kepada umat Kristen jalan kematian, jika manusia melakukan perbuatan-perbuatan penyangkalan iman niscaya ia akan masuk ke dalam jalan kematian tersebut. Contoh perbuatan penyangkalan iman tersebut adalah pembunuhan,perzinahan, pencurian, penyembahan berhala, sihir. Perbuatan-perbuatan tersebut berkaitan juga dalam 10 perintah Allah yang terdapat dalam perintah 5-10 tentang pebuatan penyangkalan iman yang tidak boleh dilakukan manusia.

b. Ajaran didache bagian kedua terdiri dari : 3 pasal, pasal 7-10 bagian liturgi, atau ritual, berisi ajaran-ajaran yaitu :

• Pasal 7 berkenaan tentang hal pembaptisan, di dalam didache dikemukakan jika seseorang ingin di baptis tata cara pembaptisannya dengan cara mengucurkan/menuangkan air pada dahi calon baptis lalu imam atau minister sambil mengucapkan doa atau forma : “Aku membaptis Engkau dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin. Lalu untuk calon baptis dan juga imam atau minister yang akan melakukan pembaptisan hendaknya berpuasa selama satu atau dua hari sebelum menerima pembaptisan. Akan tetapi kondisi semacam ini berbanding terbalik pada saat didache ditemukan. Saat ini calon baptisan agama Kristen cenderung ingin menyempurnakan tata cara pembaptisan dengan mencelupkan kepala calon baptis selama tiga kali ke dalam air. Apakah tindakan ini boleh dilakukan ?namun dalam dokumen didache sudah jelas diatur.

• Pasal 8 berkenaan dengan puasa dan berdoa.

tentang hal berpuasa didache mengajarkan untuk berpuasa pada hari ke empat dan hari persiapan, janganlah berpuasa seperti orang-orang munafik yang ingin menunjukan bahwa ia sedang berpuasa pada sesamanya. Jika berpuasa hendaknya jangan diketahui oleh sesame dan hanya diketahui oleh Tuhan saja. Tetapi orang-orang sekarang ini justru berpusa dengan menceritakan kepada sesama bahwa ia sedang berpuasa agar dirinya dipandang suci oleh sesama-Nya tersebut.

tentang hal berdoa didache mengajarkan kepada umat Kristen hendaknya jika berdoa jangan seperti orang munafik yang setiap kali berdoa ingin dilihat oleh sesamanya dengan membuka pintu dan jendela rumah. Tetapi berdoalah dengan menutup rapat pintu dan jendela lalu doakanlah doa yang telah diajarkan Yesus pada umat-Nya yaitu doa Bapa Kami sehari tiga kali.

• Pasal 9 dan 10 berkenaan dengan perjamuan ekaristi dan memotong-motong roti.

tentang Perjamuan Ekaristi dalam didache juga memuat kata-kata institusi (dahulu) tetapi sekarang juga berubah menjadi rumusan institusi yang tertuang dalam Perjamuan Ekaristi pada saat imam mendoakan rumusan doa syukur agung yang berbunyi sebagai berikut : “Terimalah dan makanlah! Inilah tubuh-Ku yang dikurbankan bagimu.”

tentang hal memecah-mecahkan roti mereka bertekun pada ajaran Para Rasul dan selalu berkumpul bersama untuk memecah-mecahkan roti secara bersama-sama. Pada zaman Pada Rasul yang memimpin Perayaan Ekaristi adalah seorang kepala keluarga bukanlah seorang Imam, Mengapa pada zman Para Rasul Perayaan Ekaristi dipimpin oleh seorang kepala keluarga? Karena para kepala Keluarga selalu berkumpul bersama Para Rasul untuk berdoa dan memecahkan roti lalu pemimpin keluarga tersebut pergi berkeliling rumah bersama Para Rasul untuk memimpin Perayaan Ekaristi

• Pasal 10-11 tentang Hierarki Gereja

Pada saat ditemukannya dokumen didache sudah terdapat juga hierarki-hierarki gereja, tetapi pada zaman Para Rasul hierarkinya dalam bentuk pengajaran yang pengajarannya dilakukan oleh Para Rasul dan Nabi-Nabi. Umat yang kedatangan Para Rasul dirumahnya tersebut harus mau menerima kedatangan Para Rasul tersebut sebagai Tuhan. Karena dia mengajarkan kebenaran. Sama halnya dengan tugas dan hierarki pada saat ini yang mempunyai tugas diantaranya :

1. Mengajar (munus diocendi) contohnya : berkatekese, dikeluarkannya ensiklik, surat gembala.

2. Menyucikan (munus sangtivicandi) contohnya : merayakan sakramen.

3. Memimpin (munus governocandi) contohnya : menetapkan Kitab Hukum Kanonik, melayani, dan melindungi umat dari serangan yang dapat menggoyahkan iman.

c. Ajaran didache pada bagian ketiga terdiri dari: 4 pasal, pasal 11-15 mengenai pelayanan dan para rasul yang berkeliling.

• Mengenai Pelayanan

Para Rasul terbiasa berkumpul bersama-sama untuk melakukan kegiatan pelayanan dengan berkeliling. Maka dari itu dokumen didache mengajarkan untuk mengangkat orang-orang yang pantas bagi Tuhan layaknya seorang Uskup atau Diakon yang berhati lembut, bukan para pecinta harta, jujur dan telah diuji. Dengan menangkat seorang Uskup maka Uskup tersebut melakukan tugas pelayanannya dengan memuliakan Tuhan pada masa kini.

d. Ajaran didache pada bagian ke empat Pasal 16 membahas tentang menunggu kedatangan Tuhan.

• Menunggu kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya tentunya berkaitan juga dengan eklesiologi (akhir jaman). Tuhan datang untuk kedua kalinya sebagai hakim terakhir yang mengadili orang yang hidup dan mati. Saat Tuhan datang untuk kedua kali iman yang dimiliki didunia tidak akan ada artinya, tidak ada seorang pun yang menjadi orang-orang sempurna. Pada hari-hari terakhir banyak muncul Nabi-nabi palsu, rasa kasih berubah menjadi rasa kebencian, domba-domba akan menjadi serigala, banyak orang ragu-ragu dan binasa tetapi orang-orang yang sabar dalam keimanan akan terbebas dari utusan ini. Saat itulah tanda-tanda kebenaran muncul. 1. Pertama : tanda terbukanya langit

2. Kedua : tanda suara sangkakala

3. Ketiga : bangkitnya orang mati

Akan tetapi tidak semua orang, sebagaimana dikatakan Tuhan datang diiringi orang-orang suci. Pada saat itu, manusia melihat Tuhan yang datang di atas awan-­awan di langit.

Waktu dan Tempat Penulisan

Melalui kajian yang mendalam terhadap teks-teks Didache untuk mengetahui waktu penulisannya, peneliti-peneliti modern memastikan bahwa Didache ditulis pada abad pertama Masehi. Berdasarkan apa yang telah dipaparkan pada bagian otentisitas teks Didache, waktu penulisannya tidak mungkin melewati seperempat pertama abad kedua Masehi, dan apabila telah terbukti bahwa Didache lebih tua daripada Surat Barnabas, maka ia tidak mungkin ditulis setelah tahun 120 M.

Struktur bahasanya yang sederhana menunjukkan waktu penulisannya, yaitu periode yang langsung mengikuti masa Rasul-rasul, atau yang sekarang disebut sebagai periode apostolis. Sesungguhnya, kesederhanaan struktur bahasa juga merupakan fakta yang sangat penting dalam mengkaji legalitas kitab-kitab Perjanjian Baru.

Tetapi, tidak dapat dipastikan bahwa Didache berasal dari Antiokhia, atau ditulis di kota Antiokhia. Sebab, adat istiadat yang berasal dari Paulus dan Lukas – yang populer di Antiokhia – adalah adat istiadat yang berbeda dengan Didache. Hal ini menegaskan bahwa ia tidak berasal dari Antiokhia. Selain itu, St. lgnatius dari Antiokhia tidak mengenal Didache, karena ia tidak mengutip Didache sedikit pun di dalam surat­-suratnya, yaitu surat-surat yang memperlihatkan aturan-aturan yang sangat berbeda dengan Didache.

Identitas Penulis

Semua usaha untuk menemukan identitas penulis Didache tidak berhasil, terutama karena kurangnya data tentang hal ini yang kita miliki sekarang. Asumsi yang paling mendekati kenyataan adalah ia ditulis oleh seorang Kristen Yahudi (Jewish Christian), atau paling tidak oleh orang Kristen yang berasal dari penganut agama Yahudi, karena ia menyebutkan makanan yang diharamkan Perjanjian Lama, yang tidak berubah sampai sekarang kecuali tentang keharaman makanan persembahan bagi berhala; Dan, karena ia mencela kemunafikan orang-orang Farisi, seolah-olah ia bergaul dan mengenal mereka.

Penerima Didache

Dengan demikian, jelas bahwa Didache dikirimkan kepada jemaat Kristen yang berasal dari bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Sikap kita terhadap didache yang telah diajarkan oleh Para Rasul adalah dengan mempercayai ajaran-ajaran dan tradisi-tradisinya dan tetap mewariskannya serta tidak mengubah-ubah ajaran Para Rasul tersebut.

Referensi

1. Aaron Milavec, The Didache : text, translation, analysis, commentary Milavec Collegevi Minnesota : Liturgical Press, 2004.

2. Rm. Fx. Adisusanto SJ, Menyusuri Sejarah Pewartaan Gereja, Jilid I, Yogyakarta, Lembaga Pengembangan Kateketik Pusat, 1997

Editor: Silvester Detianus Gea

Maria, Wanita Ekaristi

0

De Maria numquam satis. Tentang Maria,  tak pernah cukup. Tentang Maria, tak pernah tuntas dikupas. Ungkapan ini memaksudkan hal penting bahwa Bunda Maria adalah figur sangat penting nan mengagumkan dalam tata keselamatan umat beriman. Perannya yang sentral dalam karya agung Allah membuatnya selalu menjadi perhatian setiap muzafir pencari kebenaran sejati. Ada banyak sekali keutamaan hidupnya yang selalu didalami-direfleksikan oleh umat beriman sepanjang zaman. Antara lain, kerendahan hatinya yang tiada tara dan ketaatannya yang mengagumkan (bdk. Luk. 1:26-56), kepeduliannya yang layak dipuji (bdk. Yoh, 2:1-11) dan kesetiaannya yang tiada batas waktu (bdk. Yoh. 19:25-27).

Gambar: Google.com

Sebagai umat beriman, kita  juga menyadari sekaligus meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa ekaristi adalah perayaan perjumpaan dengan Yesus, Penyelamat. Perjumpaan ini mengharuskan kita untuk membuka hati dan membiarkan Yesus yang mengendalikan seluruh ziarah hidup kita. Bersamaan dengan hal itu, kita harus pula mengakui bahwa Bunda Maria adalah pribadi pertama yang  berjumpa dengan Yesus secara intim; bahkan Yesus dikandung di dalam rahimnya. Jadi, Maria menerima Yesus tak hanya dalam iman, tetapi juga dalam rahimnya. Dalam perjalanan hidup-Nya, Yesus selalu ditemani Bunda Maria; bahkan hingga di Salib (bdk. Yoh. 19:25-27). Dalam arti demikian, bunda Maria pantas disebut wanita ekaristi. Ia telah bersatu secara total dengan Yesus melebihi manusia mana pun di bumi ini. Ia telah menerima Yesus dalam  seluruh hidupnya!

Gambar: Google.com

Karena itu, kita perlu melibatkan bunda Maria dalam mengikuti dan menghayati Ekaristi. Dengan melibatkan Maria, umat beriman akan mencapai perjumpaan dengan Yesus sang  guru yang secara nyata hadir dalam sakramen Ekaristi. Sebelum kita mengenal ekaristi, Maria telah lebih dahulu mengenalnya! Bahkan, Yesus yang hadir di dalam ekaristi adalah putra Maria yang pernah hidup di dalam kandungannya.

Menyambut Tubuh Kristus bersama Maria

St. Louis-Marie Grignion de Montfort adalah seorang kudus dalam Gereja Katolik yang dengan semangat membara mengajak umat beriman agar menjalin relasi yang intim dengan Yesus melalui Bunda Maria dalam Ekaristi. Bahkan dalam buku “Bakti Sejati kepada Maria,” nomor 266-273,  ia menunjukkan bagaimana menyambut komuni kudus bersama bunda Maria. Umat beriman diajak agar sebelum, pada saat menerima komuni dan setelah menerima komuni, mereka sungguh-sungguh  berdoa dengan melibatkan Bunda Maria. Menurut santo Montfort, ketika umat beriman mempunyai relasi yang mesra dengan Maria, mereka akan dibawanya kepada Yesus dan mereka pantas berjumpa dengan Yesus. Bahkan Bunda Maria bersedia tinggal di dalam hati umat beriman dan menerima Yesus bagi mereka. Dengan demikian, ketika umat beriman melibatkan Bunda Maria dalam perayaan ekaristi, mereka mengalami perjumpaan personal dengan Yesus.  Perjumpaan itu akan membuat umat dipenuhi sukacita surgawi dan semakin mengandalkan Yesus dalam hidup sehari-hari. Selain itu, umat juga semakin mencintai ekaristi.

Gambar. Google.com

Berikut ini saya lampirkan doa sebelum, pada saat dan setelah menerima  Tubuh Kristus yang ditawarkan oleh Santo Montfort sebagaimana yang ditulisnya dalam bukunya, “Bakti Sejati Kepada Maria” nomor 266-273.

Doa Sebelum Menerima Tubuh Kristus

Ya Bunda Maria, yang berbelas kasih,

saya tidak pantas menerima

Tubuh dan Darah Kudus Puteramu,

Tuhan kami Yesus Kristus,

karena kebusukan dosa-dosaku,

karena cinta diriku yang lebih besar

daripada cintaku kepada Puteramu.

Aku mohon kepadamu, ya Bunda,

tinggallah dalam hatiku dan terimalah Dia bagiku

dengan hatimu sendiri.

Maka, kini aku membaharui lagi

ikrar penyerahan diriku kepadamu:

Aku seutuhnya milikmu, Ratuku terkasih,

dan segala yang kumiliki adalah kepunyaanmu.

Ya Bundaku, aku menerima engkau

dalam apa saja yang ada padaku,

dan berilah aku hatimu. Amin.

Doa Saat Menerima Tubuh Kristus

“Ya Tuhan, saya tidak pantas … .” (kepada Allah Bapa)

“Ya Tuhan, saya tidak pantas … .” (kepada Allah Putera)

“Ya Tuhan, saya tidak pantas … .” (kepada Allah Roh Kudus)

Doa Sesudah Menerima Tubuh Kristus

Ya Tuhan Yesus,

dengan perantaraan Bunda-Mu dan di dalam dia,

anugerahkan aku:

kebijaksanaan ilahi, cinta kasih ilahi,

dan pengampunan atas dosa-dosaku,

serta … (rahmat lain yang Anda perlukan).

Ya Tuhanku,

janganlah memperhatikan dosa-dosaku,

tetapi semoga mata-Mu

hanya melihat keutamaan-keutamaan

dan pahala-pahala Maria di dalam diriku.

Tuhanku, Engkau harus makin besar

di dalam aku, tetapi aku harus makin kecil.

Bunda Maria, engkau harus makin besar

di dalam diriku, aku harus makin kecil.

Ya Yesus dan Maria,

jadilah lebih besar di dalam diriku

dan bertambahlah banyak di luar aku,

di dalam orang lain (Kej 1: 28). Amin.

 

(Santo Montfort; Google.com)

 

 

 

Yesus Mengutus 70 Murid-Nya Pergi Berdua-dua — Renungan Harian

0

Yesus Mengutus 70 Murid-Nya Pergi Berdua-dua: Renungan Harian Katolik, Kamis 18 Oktober 2018 — JalaPress.com; Bacaan I: 2 Tim. 4:10-17a; Injil: Luk. 10:1-9

Saya yakin kita semua tahu tugas pokok seorang arsitek. Arsitek berperan untuk merencanakan dan merancang bangunan. Ia akan membuat gambar dan mulai mengukur lokasi, dan seterusnya. Ia juga mengoordinasikan konstruksi dengan memilih orang-orang yang akan menjadi tukangnya.

Dalam arti ini, Yesus adalah seorang arsitek. Ia merencanakan dan merancang berdirinya Kerajaan Allah di dunia. Kemudian, Ia mengkoordinasikan konstruksi Kerajaan Allah itu dengan memanggil, memilih, dan mengutus orang-orang yang dipercaya-Nya.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengutus para murid-Nya untuk pergi menyebarluaskan Kerajaan Allah itu. Tapi syaratnya bahwa mereka harus pergi berdua-dua. Tujuannya supaya mereka bisa saling mendukung satu dengan yang lain. Yesus senang duo. Ia tidak senang single fighter, juga tidak suka trio, dan seterusnya.

Yesus meminta mereka yang diutus-Nya supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan; makanan pun tidak boleh. Ini dimaksudkan supaya mereka fokus. Terlalu banyak membawa beban dalam perjalanan bisa membuat orang tidak sampai pada tujuan. Letih sebelum tiba di tempat tujuan.

Yesus sangat realistis. Dia tahu bahwa tidak semua orang akan menerima murid-murid-Nya itu. Makanya Ia berkata: “Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka” (Mrk. 6:10-11).

Apa yang tertulis dalam bacaan Injil hari ini pernah saya praktekkan sewaktu Novisiat di Makassar. Saya dan kelima teman saya diutus berdua-dua, jalan kaki dari Pinrang ke Messawa, ditempuh dalam waktu tiga hari. Tidak boleh membawa makanan, apalagi uang. Untuk makan dan minum dalam perjalanan, kami harus meminta dari orang-orang di sepanjang perjalanan. Dan, perlu kita ketahui bahwa sepanjang jalan Pinrang – Messawa mayoritas Non-Katolik, bahkan waktu itu kami tidak menjumpai orang Katolik. Kami mengikuti nasihat Yesus: “Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu” (Mat. 10:12).

Hampir semua yang kami jumpai menerima salam kami. Mereka memberi kami makan-minum, bahkan buah-buahan diberikan kepada kami secara gratis. Di situ saya yakin sekali bahwa ketika Tuhan memanggil, memilih, dan mengutus, selain Ia memberi kemampuan, Ia juga mempersiapkan orang-orang yang akan kita jumpai. Jadi, bukan hanya kita yang diutus yang disiapkan Tuhan, tetapi juga orang-orang kepada siapa kita diutus.

Saudara-saudari yang terkasih, proyek pembangunan Kerajaan Allah yang direncanakan dan dirancang oleh Yesus itu belumlah selesai. Makanya, Ia masih memanggil kita dengan cara-Nya sendiri untuk menunaikan tugas dan perutusan itu. Tidak ada kata tidak bisa; sebab Tuhanlah yang memanggil, memilih, dan mengutus kita.

Kiranya kita bisa belajar dari Lukas dan para sahabatnya untuk berani mewartakan Injil Tuhan. Jika suatu saat kita dipanggil, dipilih, dan diutus, jangan pernah merasa takut. Jika kita ditunjuk untuk menjadi pengurus komunitas, misalnya, terima saja. Jangan bilang ‘Saya tidak mampu’. Kemampuan kita tidak berasal dari diri kita sendiri, tetapi dari Tuhan. Ketika Tuhan memanggil dan memilih, Ia juga memberi kemampuan.

Kita harus mempunyai keyakinan sama seperti Paulus, bahwa Tuhan selalu ada bersama kita dan menguatkan kita. Jadi, janganlah pernah merasa takut dan merasa tidak mampu. Kita tidak berjalan sendiri. Tuhan akan selalu beserta kita dan mengaruniakan kepada kita berbagai kemampuan. Yesus bersabda: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33). Amin.

Fakta Deuterokanonika: Memiliki Latar Belakang dalam Sejarah Agama Yahudi

0

Kalau kita memperhatikan Kitab Suci Katolik dan Kitab Suci Protestan, tampak ada perbedaan yang mencolok, yakni adanya kitab-kitab yang disebut Kitab Deuterokanonika. Mengapa ada perbedaan ini? Perbedaan ini memiliki latar belakang dalam sejarah Agama Yahudi.

[postingan number=3 tag= ‘kitab-suci’]

Perlu diingat bahwa sejak zaman pembungan Babilonia (abad VI sebelum Masehi), tidak semua orang Yahudi tinggal di tanah Palestina. Mereka menetap di berbagai tempat seperti di Mesir, Yunani, Roma, Babilonia, dan sebagainya. Orang Yahudi di Palestina memiliki daftar Kitab Suci sendiri dan orang Yahudi di luar Palestina memiliki daftar sendiri.

Pada tahun 100 Masehi, orang Yahudi yang tinggal di Palestina menetapkan daftar kitab-kitab yang diterima sebagai kitab suci. Daftar ini mulanya hanya berlaku di Palestina dan baru sesudahnya diterima oleh semua orang Yahudi.

Daftar Kitab Suci yang dipakai oleh orang Yahudi di luar Palestina lebih luas daripada yang dipakai di negeri Palestina sendiri, karena mencakup juga kitab-kitab yang sekarang digolongkan sebagai kitab-kitab Deuterokanonika.

Umat Kristiani mengikuti daftar Kitab Suci yang berlaku di antara orang Yahudi di luar Palestina. Karena itu, orang-orang Kristiani tetap mengakui kitab-kitab yang tidak diterima oleh orang-orang Yahudi Palestina.

Sejarah Kitab Suci: Mengenal Sosok Santo Lukas, Penulis Injil

0
congerdesign / Pixabay

Jika kita memperhatikan dengan saksama, di antara keempat Injil, Injil Lukas adalah satu-satunya Injil yang menyebutkan perumpamaan mengenai ‘orang Samaria yang baik hati’ (Luk. 10:25-37), Yesus yang memuji iman kaum non-Yahudi seperti janda di Sarfat di tanah Sidon dan Naaman orang Siria (Luk. 4:25-27), dan kisah seorang Samaria penderita kusta yang berterima kasih (Luk. 17:11-19).

Pengampunan dan belas kasih Allah kepada para pendosa juga sangat penting bagi penulis Injil Lukas. Hanya dalam Injil Lukas kita mendengar kisah tentang anak yang hilang (Luk. 15:11-32). Hanya dalam Injil Lukas kita mendengar tentang wanita pendosa yang membasuh kaki Yesus dengan air matanya (Luk. 7:36-50). Sepanjang Injil Lukas, Yesus berpihak kepada yang ingin kembali kepada kemurahan Tuhan.

Injil Lukas adalah Injil bagi orang miskin dan keadilan sosial. Hanya Injil Lukas yang mengisahkan tentang Lazarus dan Orang Kaya (Luk. 16:19-31). Hanya Injil Lukas-lah yang menggunakan kalimat “Berbahagialah orang miskin …” dan bukannya “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” dalam Sabda Bahagia (Luk. 6:20-26, Matius 5:1-12).

Hanya dalam Injil Lukas kita mendengar kisah tentang pemberitahuan akan kelahiran Yesus, kunjungan Maria ke Elisabet, Nyanyian Pujian Maria, Yesus dipersembahkan di Bait Allah, dan Yesus yang hilang di Yerusalem. Kita harus berterima kasih kepada Lukas atas bagian ayat-ayat Alkitab dari doa Salam Maria: “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu” yang diucapkan oleh Malaikat Gabriel dan “Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus” yang diucapkan oleh saudari sepupunya, Elisabet.

Injil Lukas dan Kisah Para Rasul ditulis oleh orang yang sama. Fakta ini tampak jelas dari pendahuluan masing-masing kitab. Kedua kitab dipersembahkan kepada orang yang sama – Teofilus. Lantas, Siapa penulis Injil Lukas? Sekalipun nama penulisnya tidak disebutkan di dalam Injil itu  (berlaku bagi semua Injil), Gereja meyakini bahwa Lukaslah yang menjadi penulis Injil itu.

Lukas lahir dan tinggal di kota Antiokhia yang terletak di wilayah Siria kuno. Ia adalah satu-satunya pengarang Injil yang bukan Yahudi. Dalam Kolose 4:10-14, Paulus menyebutkan sahabat-sahabat yang bersamanya dari golongan mereka yang bersunat (Yahudi), dan dia tidak memasukkan Lukas dalam kelompok itu.

Tidak ada data-data yang jelas mengenai kapan Lukas bertobat dan menjadi seorang Kristen, tetapi dengan meneliti Kisah Para Rasul, kita bisa melihat bahwa dirinya bergabung dengan Paulus dan menjadi salah satu pengikut setianya. Ia mengikuti perjalanan misioner bersama dengan Paulus ke Makedonia, Yerusalem, dan juga Roma.

Menurut buku-buku sejarah, sebelum menjadi seorang Kristen, Lukas memiliki profesi sebagai seorang tabib atau dokter, meskipun para ahli meragukan fakta tersebut dan lebih memilih untuk menyebutnya sebagai seorang ahli dalam pengobatan. Makanya, Kitab Suci menyebut Lukas sebagai ‘tabib Lukas yang kekasih.’

Lukas mengenal Kristus melalui pewartaan Paulus. Ia banyak membantu Paulus dalam mewartakan iman Kekristenan. Meskipun ia tidak pernah bertemu langsung dengan Yesus semasa Yesus hidup di dunia, Lukas ingin menulis tentang Dia bagi umat Kristiani yang baru bertobat. Ia pun berbicara dengan para saksi awal yang mengenal Yesus secara pribadi. Ia mencatat semua perbuatan Yesus yang mereka lihat; dan Sabda Yesus yang mereka dengar (bdk. Luk. 1:1-4).

Menurut tradisi, Lukas memperoleh sebagian informasi penting untuk Injil yang ditulisnya dari Santa Perawan Maria sendiri. Bunda Maria merupakan orang yang tepat yang dapat menggambarkan secara jelas kedatangan Malaikat Gabriel kepadanya untuk menyampaikan Kabar Gembira. Bunda Maria-lah yang paling dapat menceritakan secara rinci kisah kelahiran Yesus di Betlehem serta pengungsian Keluarga Kudus ke Mesir.

Lukas juga menuliskan kisah tentang bagaimana para rasul mulai mewartakan Sabda Yesus setelah Yesus kembali ke surga. Dalam Kisah Para Rasul, kita mengetahui bagaimana jemaat perdana dan Gereja mulai bertumbuh dan berkembang. Beberapa informasi terperinci mengenai kehidupan Santo Lukas juga dapat diperkirakan dengan seksama.

Lukas pernah pergi ke Roma untuk membantu Paulus pada masa-masa menjelang kemartiran Paulus. Ini terlihat pada 2 Timotius 4:11: “Hanya Lukas yang tinggal dengan saya”, demikian tulis Paulus. Beberapa naskah juga mengatakan bahwa Lukas adalah murid Paulus yang paling setia. Saat Paulus ditangkap dan dipenjara di Yerusalem, Lukas dengan setia mengunjungi gurunya tersebut di tahanan.

Bila melihat dari tata bahasanya yang halus dan keahliannya dalam menulis, Santo Lukas tentu saja adalah seorang yang memiliki pendidikan. Ia digambarkan dengan seekor lembu bersayap, karena Injil karangannya dimulai dengan adegan kurban persembahan di Bait Allah yang dilakukan oleh Zakaria. Menurut tradisi Lukas meninggal dunia pada usia 84 tahun di Boeotia. Makamnya terletak di Thebes (Yunani).

*** dari berbagai sumber

Mengenal Katolik Timur

0

Saat ini, Katolik Timur sudah ada di Indonesia dalam ritus Byzantin, sudah memiliki Kapel di Tangerang Selatan, dan telah memiliki Imam ritus Timur yang bersedia untuk merayakan Liturgi Ilahi. Saat ini, Gereja Katolik Timur belum berfokus pada Misi, melainkan kepada Pendidikan. Karena itu, di Tangerang Selatan, ada Perpustakaan yang berisi buku-buku Teologi, Filsafat, Ensiklopedia Katolik, Patristik, Ikonografi, Liturgi, Sejarah, Kitab Suci dalam Bahasa Indonesia, Inggris, dan Yunani. Kapel dan Perpustakaan berlokasi di BSD City, di rumah yang disebut RUMAH BYZANTIN. Di Rumah Byzantin, dirayakan Liturgi Ilahi setiap hari Minggu yang terbuka untuk umum, pada pukul 8 pagi. Halaman Facebook mereka adalah “Lembaga Penelitian Santo Dimitry” yang memuat Katekisasi dari Katekismus UGCC, Tradisi-tradisi, Doa-doa, dan informasi menarik dari Katolik Timur yang pada umumnya tidak tersedia dalam bahasa Indonesia.

Gereja Katolik terdiri dari persekutuan 1 Katolik Roma dan 22 Katolik Timur, dengan Paus Roma sebagai pemimpin persekutuan ini. Ke-23 Gereja ini adalah Gereja Partikular yang otonom/mandiri. Hal ini berarti setiap Gereja partikular yang lain tidak bisa mencampuri urusan gerejawi dari Gereja partikular lainnya. Namun demikian, Paus Roma tetap memiliki karunia infallibilitas dalam mengajarkan ajaran Iman dan Moral yang mengikat seluruh Gereja (termasuk seluruh Gereja partikular yang otonom) dalam kapasitasnya sebagai Pengganti Petrus.

Tentang fakta bahwa ada 23 Gereja partikular yang otonom tidak menjadikan Gereja Katolik terdiri dari banyak aliran atau denominasi layaknya yang terjadi di saudara-saudari terpisah Protestan. Mengapa? Hal ini karena ke-23 Gereja ini memiliki persatuan yang penuh dan mengakui ajaran IMAN YANG SAMA, meski berbeda dalam mengekspresi IMAN YANG SAMA ini sesuai tradisi masing-masing. Berikut ini ada sedikit penjelasan mengenai Katolik Timur.

Apa dan Siapakah Katolik Timur?

Katolik Timur adalah sebutan bagi Gereja-Gereja Timur yang bersekutu/bersatu penuh dengan Paus Roma. Bersama dengan Gereja Katolik Latin (yang populer dengan sebutan Gereja Katolik Roma), membentuk “Gereja Katolik yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik” dengan Paus Roma sebagai pemimpinnya.

Gereja-Gereja Katolik Timur memiliki tradisi-tradisi liturgi, teologi, devosi, tata tertib gerejawi, doa-doa tradisional dan hukum kanon tersendiri yang berbeda dengan Gereja Katolik Romawi. Namun demikian, Gereja-gereja Katolik, baik Barat (Romawi) maupun Timur, sama derajatnya. (Dekrit Konsili Vatikan II – Orientalium Ecclesiarum No.3)

Gereja-Gereja Katolik Timur, sama seperti Gereja Katolik Roma, meyakini dan mengakui Primat Paus Roma atas Gereja Universal sebagai penerus Takhta St. Petrus; sebagaimana telah dinyatakan oleh Tuhan kita dalam Matius 16:15. (Dekrit Konsili Vatikan II – Orientalium Ecclesiarum No.3)

Bagaimanakah Sehingga Terbentuk Katolik Timur?

Pada perjalanan sejarah gereja, pembicaraan dan perbedaan pendapat mengenai hal-hal tertentu dalam iman menyebabkan perselisihan dalam Gereja Katolik yang universal. Gereja-gereja yang tidak bersepakat saling memisahkan diri, memisahkan diri dari persekutuan/persatuan dengan Paus Roma. Berbagai alasan melatar belakangi perpisahan ini.

Saat ini, ada 3 kelompok gereja oriental dan timur yang terpisah dari persatuan dengan Paus Roma, yaitu Gereja Timur Assiria (Assyrian Church of East) (perpisahan pada tahun 431), Gereja Ortodoks Oriental (perpisahan pada tahun 451), dan Gereja Ortodoks Timur (perpisahan pada tahun 1054 – disebut peristiwa Skisma Besar).

Namun pada perkembangan selanjutnya, sebagian dari masing-masing gereja timur yang memisahkan diri itu kembali bersatu dengan Roma, maka disebut sebagai “Katolik Timur”.

Oleh karenanya, setiap gereja-gereja Ortodoks ada counterpartnya pada Gereja Katolik Timur. Misalnya: Katolik Koptik dengan Ortodoks Koptik, Katolik Rusia dengan Ortodoks Rusia, Katolik Rumania dengan Ortodoks Rumania dan sebagainya.

Tapi, ada 4 Gereja Timur yang mengaku selalu bersatu dengan Roma dalam artian mereka tidak pernah secara sengaja memutuskan persekutuan dengan Roma. Mereka adalah : Katolik Maronit, Katolik Syro-Malabar, Katolik Italo-Albania dan Katolik Yunani-Ukraina. Dari 22 Gereja Katolik Timur, ada dua Gereja yang tidak memiliki counterpart di Ortodoks yaitu Katolik Maronit dan Katolik Italo-Albania.

Terdiri dari Gereja apa sajakah Katolik Timur itu?

Berikut ini adalah daftar Gereja-Gereja Katolik Timur beserta lokasi tempat mereka berpusat, sebagaimana yang tercantum dalam Annuario Pontificio dari Tahta Suci (tanggal persatuan atau pendirian di dalam tanda kurung):

+ Tradisi liturgi Aleksandria:

1. Gereja Katolik Koptik : Kairo Mesir (1741)

2. Gereja Katolik Ethiopia : Addis Ababa, Ethiopia, Eritrea (1846)

+ Ritus liturgi Antiokhia atau Siria-Barat:

1. Gereja Maronit : Bkerke Libanon (persatuan dikukuhkan kembali pada 1182)

2. Gereja Katolik Suryani : Beirut (1781)

3. Gereja Katolik Siro-Malankara : Trivandrum, India (1930)

+ Tradisi liturgi Armenia:

1. Gereja Katolik Armenia : Beirut, Libanon(1742)

+ Tradisi liturgi Kaldea atau Siria-Timur:

1. Gereja Katolik Kaldea : Baghdad, Irak (1692)

2. Gereja Siro-Malabar : Ernakulam, India (tanggal persatuan masih diperdebatkan)

+ Tradisi liturgi Bizantium atau Konstantinopolitan:

1. Gereja Katolik Yunani Albania : Albania (1628)

2. Gereja Katolik Yunani Belarusia : Belarusia (1596)

3. Gereja Katolik Yunani Bulgaria : Sofia, Bulgaria (1861)

4. Gereja Bizantium Eparki Križevci : Križevci, Ruski Krstur Kroasia (1611)

5. Gereja Katolik Bizantium Yunani : Athena, Yunani, Turki (1829)

6. Gereja Katolik Yunani Hungaria : Nyiregyháza, Hungaria (1646)

7. Gereja Katolik Italo-Yunani : Italia (Tidak pernah berpisah dari Gereja Katolik)

8. Gereja Katolik Yunani Makedonia : Skopje, Republik Makedonia (1918)

9. Gereja Katolik Yunani Melkit : Damaskus, Siria (1726)

10. Gereja Rumania Bersatu dengan Roma, Katolik-Yunani : Blaj Rumania (1697)

11.Gereja Katolik Rusia : Rusia (1905)

12. Gereja Katolik Ruthenia : Uzhhorod (1646)

13. Gereja Katolik Yunani Slowakia : Prešov Republik Slowakia (1646)

14. Gereja Katolik Yunani Ukraina : Kiev Ukraina (1595)

Gereja yang baru bergabung dalam persekutuan dengan Roma: Gereja Katolik Eritrea (2015), masuk dalam Ritus Alexandria.

Catatan: Umat Katolik Ritus Bizantium Georgia belum diakui sebagai sebuah Gereja partikular (sesuai dengan kanon 27 dari Hukum Kanon Gereja-Gereja Timur). Mayoritas umat Kristen Katolik Timur di Republik Georgia beribadat dengan menggunakan ritus liturgi Armenia.

Apa perbedaan Katolik Timur dengan Ortodoks?

Perbedaan mendasar antara Katolik Timur dengan Ortodoks adalah Persatuan penuh dengan Roma. Gereja Ortodoks, walau memiliki suksesi apostolik yang jelas, tidak berada dalam persatuan penuh dengan Roma. Sedangkan Katolik Timur berada dalam persatuan penuh dengan Roma. Perbedaan ini kemudian berdampak pada penerimaan Dogma-dogma Katolik. Misalnya, Katolik Timur, meski mengekspresikannya dengan berbeda dari Katolik Roma, menerima Dogma Maria Yang dikandung tanpa noda (Immaculata) dan Infallibilitas Paus. Sedangkan Ortodoks menolak keduanya. Katolik Timur juga mengakui Primat Universal Paus, Uskup Roma. Sebagian besar Katolik Timur adalah Gereja-gereja Timur yang bersatu kembali dengan Roma, kecuali Katolik Maronit, Katolik Syro-Malabar, dan Katolik Italo-Albania.

Bagaimana tentang 4 Gereja Timur yang mengaku tetap berada dalam persatuan dengan Roma?

Gereja Byzantine Italo-Albania tidak pernah terpisah karena meskipun ritusnya Byzantine namun mereka selalu menjadi bagian Kepatriarkhan Roma. Selain itu dulu memang ada beberapa keuskupan Byzantine yang berada di bawah yurisdiksi Roma sebagai Patriarkhnya. Yurisdiksi kepatriarkhan saat itu murni berkaitan dengan geografi.

Gereja Syro-Malabar dan Maronite mengklaim tidak pernah berpisah dari Roma, dalam arti mereka tidak pernah secara sengaja memutuskan persekutuan dengan Roma, namun hal ini tidak berarti bahwa selalu ada komunikasi dan hubungan persekutuan yang nyata antara kedua Gereja ini dengan Roma.

Bagi Gereja Maronite komunikasi yang nyata antara pihak Maronite dan Roma baru dimulai sejak Perang Salib (kecuali jika kita ingin menghitung surat-menyurat antara para biarawan dari biara St. Maro dan Paus Hormisdas yang berlangsung jauh lebih awal, tetapi pada masa itu kelompok St. Maron belum menjadi suatu Gereja yang otonom) dan kemudian secara jelas menjadi semakin erat.

Dalam kasus Gereja Syro-Malabar, mereka lama sekali menjalin hubungan erat dengan Gereja Assyria Timur (Nestorian), namun mereka tidak pernah secara terbuka menyatakan putus hubungan persekutuan dengan Roma. Namun, kontak yang nyata dengan pihak Roma baru dimulai pada saat misionaris Portugis datang ke India. Umat Kristen Malabar menunjukkan kedekatan yang luar biasa dengan para misionaris Portugis, bahkan kedekatan ini memungkinkan diangkatnya seorang Latin berkebangsaan Portugis menjadi Uskup bagi umat Syro-Malabar. Kemungkinan terjadinya hal-hal semacam ini kemudian dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa Gereja Syro-Malabar tidak pernah berpisah dari persekutuan Katolik.

Gereja Katolik Yunani-Ukraina adalah Gereja Katolik Timur terbesar. Gereja Katolik Yunani-Ukraina adalah Gereja dengan ritus Bizantium yang berada dalam persekutuan penuh dengan Paus Roma.

Nama lain untuk Gereja ini: Gereja Katolik Yunani; Gereja Katolik Ukraina; Gereja Katolik Ukraina ritus Bizantium; Gereja Katolik Kyivan.

Nama Gereja Katolik Yunani diperkenalkan oleh Kaisar Maria-Theresa pada tahun 1774 untuk membedakan Gereja ini dari Gereja Katolik Roma dan Gereja Katolik Armenia. Dalam dokumen resmi Gereja, istilah Ecclesia Ruthena unita digunakan. Pada tahun 1960, nama Gereja Katolik Ukraina mulai digunakan dalam dokumen resmi untuk merujuk pada umat Katolik Ukraina di diaspora dan Gereja bawah tanah di Soviet Ukraina. Di dalam dokumen statistik tahunan kepausan, Annuario Pontificio, nama Gereja Katolik Ukraina ritus Bizantium digunakan. Pada Sinode Uskup-uskup UGCC (September 1999), nama Gereja Katolik Kyivan diajukan untuk menekankan identitas Gereja ini.

Pada tahun 988, Pangeran Volodymyr Agung menjadikan Kekristenan dalam Ritus Byzantine-Slavic sebagai agama nasional dari negara ini, Kyivan-Rus. Hal ini terjadi sebelum Skisma Timur pada tahun 1054 yang memisahkan Kristen Timur dari Barat. Gereja Kyivan menerima warisan tradisi Bizantium Timur dan merupakan bagian dari Kepatriarkhan Konstantinopel. Sekalipun begitu, Gereja ini juga tetap berada dalam persekutuan penuh dengan Katolik Latin dan Patriarkhnya, Paus Roma.Meskipun Konstantinople dan Roma memiliki perselisihan, Hierarki Kyivan mencoba mengusahakan persatuan Kristen. Wakil dari Rus berpartisipasi dalam Konsili Lyon (1245) dan Konstans (1418) di Barat. Isidorus, Uskup Agung Kyiv sendiri adalah seorang dari para kreator Persatuan Florence (1439).

Berapa Sakramen yang ada di Katolik Timur?

Katolik Timur mengakui 7 sakramen yang sama dengan Katolik Roma.

Bolehkah Umat Katolik Roma menerima Komuni di Gereja Katolik Timur?

Diperbolehkan. Tidak hanya Umat Katolik Roma saja, Umat Katolik Timur juga diperbolehkan menerima Komuni di Gereja Katolik Roma. Umat Katolik Timur juga diperbolehkan menerima Komuni di Gereja Katolik Timur lainnya. Hal ini karena ke-23 Gereja ini memiliki persatuan yang penuh dan mengakui ajaran IMAN YANG SAMA, meski berbeda dalam mengekspresi IMAN YANG SAMA ini sesuai tradisi masing-masing.

Apakah Katolik Timur mengakui semua ajaran Katolik tentang Bunda Maria?

Seperti yang sudah dikatakan, Katolik Timur mengakui ajaran IMAN YANG SAMA termasuk ajaran-ajaran mengenai Bunda Maria.

Imam Katolik Timur ada yang tidak selibat, benarkah demikian ?

Benar. Disiplin Selibat sebenarnya hanya berlaku bagi Para Imam Diosesan Latin, tidak secara universal. Selibat bagi Imam Diosesan Latin sendiri hanyalah JANJI bukan KAUL.

Gereja-gereja Katolik Timur menahbiskan Pria yang TELAH berkeluarga sebagai Imam, namun seorang Uskup Katolik Timur selalu dipilih dari kalangan Imam Selibat (biasanya Para Imam Biarawam). Seorang laki-laki yang telah ditahbiskan terlebih dahulu menjadi Imam Katolik Timur sebelum sempat menikah, tidak dapat menikah setelah ditahbiskan. Imam berkeluarga yang istrinya telah meninggal, juga tidak diperkenankan menikah lagi.

Imam Biarawan Katolik Timur sendiri sama dengan Imam Biarawan Latin, sama-sama memiliki Kaul Selibat. Jadi Imam Biarawan Katolik Timur juga tidak menikah.

Tradisi menahbiskan Pria berkeluarga pada dasarnya sama tuanya dengan tradisi Selibat. Baik Latin maupun Timur saling menghormati tradisi dan disiplin gerejani satu sama lain.

Pax et bonum

Referensi:

1. http://www.indonesianpapist.com/2010/07/penjelasan-singkat-mengenai-katolik.html

2. http://katolisitas.org/2009/05/22/apa-saja-yang-termasuk-gereja-timur-katolik/

Gereja Kuno Di Bawah Danau Iznik Ditemukan

0

Sebelum kemunculan Islam, Turki bukanlah “Negara seribu kubah.” Wilayah Anatolia dikuasai oleh Kekaisaran Byzantium atau Romawi Timur dan menjadi salah satu pusat peradaban kekristenan, selain Roma, Yerusalem, Antiokhia, dan Alexandria, sehingga dapat dikatakan “Negara seribu Salib.” Salah satu gereja kuno yang pernah ada akhir-akhir ini ditemukan oleh arkeolog. Reruntuhan gereja kuno tersebut dibangun pada tahun 390 Masehi seperti dilansir dari Live Science. Lokasi gereja itu tersembunyi di bawah Danau Iznik, yang berjarak sekitar 140 kilometer dari Istanbul.

Gereja ini ditemukan tahun 2014 oleh Mustafa Sahin, seorang kepala departemen arkeologi Bursa Uludag University. Ia menemukan setelah mempelajari foto-foto udara daerah Danau Iznik yang dimiliki petugas Surveyor pemerintah. “Ketika pertama kali melihat gambar udara danau, saya sangat terkejut untuk melihat struktur bangunan gereja begitu jelas terpampang,” ujar Mustafa kepada Live Science. Padahal saya melakukan survei lapangan di Iznik sejak 2006 dan saya belum pernah menemukan struktur indah seperti itu,” lanjut dia. Reruntuhan gereja berada tiga meter di bawah air danau dan berjarak sekitar 50 meter dari pesisir Danau Iznik. Arkeolog menduga gereja tersebut memiliki gaya Romawi, basilika yang dibangun di pesisir danau pada tahun 390 Masehi. Sebelumnya Iznik dikenal dengan nama Nicea, sedangkan Istanbul dikenal dengan nama Konstantinopel.

Gereja kuno itu diperkirakan tenggelam pada tahun 740 Masehi, ketika terjadi gempa bumi. Mustafa Sahin dan Alinur Aktas, Walikkota Bursa, berencana untuk menjadikan situs gereja sebagai museum bawah air pertama di Turki. Semua temua situs gereja akan dipamerkan dalam museum tersebut, seperti dilansir dari Daily Sabah.  Selain itu, Museum juga memberikan fasilitas kepada pengunjunga untuk menyelam, menjelajahi situs gereja siang dan malam. Selain itu dilengkapi dengan menara setinggi 20 meter agar pengunjung bisa melihat reruntuhan gereja dari pesisir danau.

Sejak 2015, Mustafa Sahin dan tim telah menggali situs gereja itu. Danau dipenuhi oleh ganggang sehingga mengganggu penglihatan para penyelam dalam melakukan penggalian. Oleh sebab itu tim arkeolog menggunakan alat penyedot untuk membawa hasil galian ke pesisir danau. Setelah itu mereka melakukan pencarian artefak dengan cara mengayak hasil galian.  Mustafa Sahin mengatakan bahwa mereka telah menemukan kuburan yang terletak di bawah altar. Selain itu ditemukan pula koin-koin kuno dari zaman kekuasaan Kaisar Romawi Valens (364 M hingga 378 M). Selanjutnya, ditemukan juga koin dari masa kekuasaan Kaisar Valentinus II (375 M hingga 392 M). Berdasarkan penemuan itu, tim Arkeolog menyimpulkan bahwa gereja dibangun setelah tahun 390 Masehi. Gereja diduga didedikasikan kepada St. Neophytos, yang dieksekusi oleh Kaisar Diocletian pada tahun 303 Masehi.

Selain temuan gereja, Mustafa Sahin menjelaskan bahwa ada temuan kuil pagan. Menurutnya, gereja itu dibangun di atas kuil pagan yang menyembah Dewa Apollo dan dewa Matahari. Berdasarkan catatan sejarah, Kaisar Commodus (180 Masehi-192 Masehi), pernah membangun kuil penyembahan Apollo di Nicea yang terletak tidak jauh dari benteng kota pada masa itu.

Editor: Silvester Detianus Gea

Kepemimpinan Kristiani

0

Tahun 2019, negara kita akan menyelenggarakan pemilu serentak untuk memilih para pemimpin masyarakat (Pilpres dan Pileg). Saat ini pun para calon pemimpin dari pelbagai latar pendidikan, suku, agama dan bahasa sudah mulai ‘mempromosikan’ kemampuan dirinya kepada khalayak.  Di antara para calon pemimpin ini, tak sedikit juga yang berasal dari antara pengikut Kristus. Mereka semua sedang berjuang meyakinkan masyarakat bahwa mereka memiliki kemampuan mumpuni untuk memimpin. Semuanya berjuang meyakinkan banyak orang bahwa mereka layak menjadi pemimpin. Di atas segalanya, katanya, mereka siap melayani kepentingan banyak orang di atas kepentingan pribadi atau golongan. Jadi, mereka mau menjadi pelayan masyarakat!

Kita tentu saja bangga dan terus mendukung saudara/i kita yang mau menjadi pemimpin. Apalagi motivasi mereka adalah melayani banyak orang. Mereka mau berjuang demi kebaikan bersama (bonum commune)! Memang, menjadi pemimpin tak lain adalah menjadi pelayan. 

Pemimpin adalah Pelayan 

Sumber Gambar: Google.com

Semangat melayani tentu saja harus menjadi jiwa calon pemimpin dan para pemimpin di bidang mana saja. Hal ini senada dengan uraian seorang pakar kepemimpinan, Robert Greenleaf dalam bukunya Servant Leadership. Menurutnya, seorang pemimpin pertama-tama adalah seorang pelayan. Kepemimpinannya ditentukan terlebih dahulu oleh sebuah keinginan untuk melayani kepentingan orang lain dan bukan untuk kepentingan diri sendiri. Seorang servant leader (Pemimpin-pelayan) memperhatikan dan mengusahakan agar kebutuhan utama orang lain terpenuhi. Seorang servant leader tidak mengejar kekuasaan atau kekayaan! Tujuan seorang servant leader adalah membuat dunia menjadi kondusif bagi perkembangan tiap warganya.

Relasi yang dibangun dalam kepemimpinan pelayan adalah relasi persaudaraan. Seorang pemimpin yang adalah pelayan menjadi inspirasi bagi orang-orang yang dipimpinnya. Ia juga menaruh kepercayaan kepada mereka. Hal demikian berarti bahwa relasi atasan dan bawahan yang kaku tidak terjadi dalam kepemimpinan pelayan.

Seorang servant leader juga adalah seorang teladan. Cara hidup, baik tutur kata maupun tingkah lakunya menjadi teladan bagi banyak orang. Di dalam dirinya tumbuh kasih dan perhatian yang membantu orang lain untuk mengembangkan dirinya. Ia peduli dengan kebutuhan orang-orang yang dilayaninya. Ia juga memiliki wawasan yang luas tentang kepemimpinan. Ia melihat kedudukan sebagai sebuah tanggung jawab untuk melayani. Tentu ini membutuhkan proses yang panjang dan menuntut ketekunan. Betapa indahnya jika setiap pemimpin adalah pelayan! Kebaikan bersama (bonum commune) atau kesejahteraan bersama (common welfare) pasti terpenuhi!

Belajar pada Yesus

Apa yang telah diuraikan oleh pakar kepemimpinan Robert Greenleaf di atas sesungguhnya telah diajarkan dan diteladankan dengan baik oleh Tuhan Yesus Kristus. Yesus adalah pemimpin sejati. Sebagai pemimpin sejati, ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Tugasnya tak lain adalah melayani orang-orang yang dipercayakan Bapa kepada-Nya dengan tulus dan setia. Yesus adalah pemimpin-pelayan (servant leader). Kepemimpinan Yesus adalah kepemimpinan yang membawa hidup, “supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh. 10:10).”

Sumber Gambar: Google.com

Gaya kepemimpinan Yesus ini bisa digolongkan sebagai kepemimpinan transformatif. Dalam kepemimpinan transformatif ada interaksi yang melibatkan diri pemimpin maupun yang dipimpin. Semua pihak berusaha memberikan sumbangan pikiran dan juga keyakinan pribadi demi mencapai kebaikan bersama (bonum communae).

Seturut teladan Yesus, bisa dikatakan bahwa seorang pemimpin kristiani mempunyai tanggung jawab untuk menghidupkan orang lain. Sebagai pengikut Kristus, ia mengimani bahwa Yesus adalah teladannya dalam hal kepemimpinan. Dialah pemimpin sejati. Ia mengajarkan nilai-nilai kerajaan Allah dan hal demikian mengubah kehidupan para murid-Nya. Mereka berani meninggalkan segala sesuatu dan bersedia mengikuti-Nya. Ia juga membagikan pengalaman-Nya akan Allah sebagai Bapa dan mengajak para murid untuk masuk ke dalam pengalaman yang sama. Mereka diajak untuk terlebih dahulu mengalami ‘hidup yang berkelimpahan bersama Allah,’ kemudian mereka membagikannya kepada orang lain.

Harapannya, semangat  ‘kepemimpinan pelayan’ yang diteladankan oleh Yesus inilah yang menjiwai para calon pemimpin dan para pemimpin yang berasal dari agama Katolik khususnya dan umat kristiani umumnya. Begitulah seharusnya kepemimpinan kristiani. Dengan cara itu juga, mereka menjadi saksi Kristus di tengah dunia saat ini!*** (LG)

 

 

 

 

 

 

 

Peranan Kaum Awam secara Internal dan Eksternal: dari Gereja menuju Masyarakat Luas

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Dunia adalah ciptaan Allah (bdk. Kej 1 & 2). Ia diciptakan dalam keadaan baik. Karena itu, dunia pantas dihargai dengan sepenuh hati. Penghargaan itu tampak melalui usaha manusia yang tinggal di dunia; menikmati apa yang ada di dunia sambil menjaga keutuhannya. Sikap ini sangat ditekankan dalam Gereja yang nota bene adalah kumpulan orang yang beriman kepada Kristus dan memiliki tanggung jawab untuk memelihara dunia sebagai ciptaan Allah.

[postingan number=3 tag= ‘gereja-katolik’]

Pandangan positif tentang dunia sebagai ciptaan Allah mempunyai dampak positif pada pemahaman tentang jati diri kaum awam dan panggilannya di tengah dunia. Dan untuk memahami pengertian kaum awam di dalam Gereja, kita perlu menyimak penjelasan berikut ini.

“Yang dimaksud dengan istilah awam di sini ialah semua orang beriman kristiani kecuali mereka yang termasuk golongan imam atau status religius yang diakui dalam Gereja. Jadi kaum beriman kristiani, yang berkat baptis telah menjadi anggota Tubuh Kristus, terhimpun menjadi Umat Allah, dengan cara mereka sendiri ikut mengemban tugas imamat, kenabian dan rajawi Kristus, dan dengan demikian sesuai dengan kemampuan mereka melaksanakan perutusan segenap Umat kristiani dalam Gereja dan di dunia…. Mereka hidup dalam dunia, artinya: menjalankan segala macam tugas dan pekerjaan duniawi, dan berada ditengah kenyataan biasa hidup berkeluarga dan sosial. Hidup mereka kurang lebih terjalin dengan itu semua. Di situlah mereka dipanggil oleh Allah, untuk menunaikan tugas mereka sendiri dengan dijiwai semangat Injil, dan dengan demikian ibarat ragi membawa sumbangan mereka demi pengudusan dunia bagaikan dari dalam. Begitulah mereka memancarkan iman, harapan dan cinta kasih terutama dengan kesaksian hidup mereka, serta menampakkan Kristus kepada sesama. Jadi tugas mereka yang istimewa yakni: menyinari dan mengatur semua hal-hal fana, yang erat-erat melibatkan mereka, sedemikian rupa, sehingga itu semua selalu terlaksana dan berkembang menurut kehendak Kristus, demi kemuliaan Sang Pencipta dan Penebus (Lumen Gentium, art. 31).”

Uraian di atas menegaskan siapa itu kaum awam dan betapa penting perannya di dalam dunia. Tugas awam untuk merasul di dunia mengalir dari persatuan mereka dengan Kristus, Sang Kepala Gereja. Melalui pembaptisan, awam disaturagakan dengan Kristus; melalui sakramen penguatan (krisma) mereka diteguhkan oleh kekuatan Roh Kudus untuk merasul atau menjadi saksi Kristus di tengah dunia. Karya kerasulan ini dijalankan dalam iman, harap dan kasih yang dicurahkan oleh Roh Kudus dalam hati umat beriman.

Pembaharuan Tata Dunia secara Kristiani

Tujuan karya penebusan Yesus Kristus, selain untuk keselamatan manusia, juga menyangkut pembaharuan seluruh tata dunia. Pemahaman ini menandaskan bahwa tugas umat beriman itu tidak hanya menyampaikan warta tentang Kristus dan menyalurkan rahmat-Nya kepada umat manusia, tetapi juga menyempurnakan tata dunia dengan semangat Injil.

Dengan demikian, perutusan kaum awam itu tidak hanya di dalam Gereja, tetapi juga di tengah masyarakat; tidak hanya bidang rohani, tetapi juga bidang duniawi. Dekrit tentang Kerasulan Awam, Apostolicam Actuositatem (AA), menguraikan dengan baik beberapa bidang kegiatan merasul yang bisa dilakukan oleh kaum awam yakni bidang hidup menggereja, keluarga, kaum muda, lingkungan sosial, bidang-bidang nasional dan internasional. Bidang-bidang ini menjadi medan kesaksian kaum awam di dunia. Gereja memiliki keyakinan bahwa Allah menghendaki agar umat manusia seia-sekata membaharui dan terus menerus menyempurnakan tata dunia.

Berikut ini adalah uraian konsili Vatikan II tentang pembaharuan tata dunia secara kristiani.

“Segala sesuatu yang mewujudkan tata-dunia, yakni nilai-nilai hidup dan keluarga, kebudayaan, urusan ekonomi, kesenian dan profesi, lembaga-lembaga negara, hubungan-hubungan internasional dan lain sebagainya, beserta perkembangan dan kemajuannya, bukan hanya merupakan bantuan untuk mencapai tujuan akhir manusia, melainkan mempunyai nilainya sendiri juga, yang ditanam oleh Allah didalamnya, baik dipandang secara tersendiri, maupun sebagai unsur-unsur seluruh tata dunia: “Dan Allah melihat segala sesuatu yang diciptakan-Nya, dan itu semua sangat baik” (Kej 1:31). Kebaikan alamiah itu menerima martabat khusus karena hubungannya dengan pribadi manusia, sebab semuanya memang diciptakan untuk mengabdi kepadanya. Akhirnya Allah berkenan menghimpun segalanya, baik yang kodrati maupun yang adikodrati, menjadi satu dalam Kristus Yesus, “supaya dalam segala sesuatu Dialah yang terutama” (Kol 1:18). Tetapi arah-tujuan itu bukan hanya tidak menyebabkan tata dunia kehilangan otonominya, tujuan atau sasarannya, hukum-hukumnya, upaya-upayanya sendiri, makna dan nilainya bagi kesejahteraan manusia, justru malahan menyempurnakannya dalam daya kekuatan serta keunggulannya, sekaligus mengangkatnya sehingga setaraf dengan panggilan manusia seutuhnya di dunia ini (AA, art. 7).”

Kutipan ini menyadarkan umat beriman bahwa pembaharuan dunia secara kristiani meresap dalam segala bidang kehidupan manusia di dunia. Semuanya ini bertujuan demi keselamatan manusia. Pertanyaannya, mungkinkah segala bidang kehidupan manusia diresapi oleh semangat Injili? Dalam sejarah Gereja, kita mengetahui bahwa hal itu mungkin, walau penuh perjuangan. Hingga saat ini, Gereja selalu berjuang di tengah dunia untuk membagikan suka cita kerajaan Allah bagi semua orang dalam segala aspek kehidupan manusia. Inilah panggilan umat kristiani!

Langit Baru dan Bumi Baru

Keselamatan adalah tujuan Gereja yang hanya dapat tercapai sepenuhnya di zaman yang akan datang. Hal ini menegaskan bahwa dunia ini hanya tempat sementara bagi manusia. Langit dan bumi ini akan berlalu dan manusia pada saat yang dijanjikan-Nya akan memasuki langit dan bumi baru. Akan tetapi, siapapun tidak mengetahui kapan langit dan bumi ini akan mencapai kesudahannya dan kapan langit dan bumi baru itu tiba.

Berikut ini adalah uraian Konsili Vatikan II tentang langit dan bumi baru yang disiapkan Allah untuk manusia.

“Kita tidak mengetahui, bilamana dunia dan umat manusia akan mencapai kesudahannya; tidak tahu pula, bagaimana alam semesta akan diubah. Dunia seperti yang kita kenal sekarang, dan telah rusak akibat dosa, akan berlalu. Tetapi kita terima ajaran, bahwa Allah menyiapkan tempat tinggal baru, kediaman keadilan, yang kebahagiaannnya akan memenuhi dan melampaui segala kerinduan akan kedamaian, yang timbul dalam hati manusia. Dan pada saat itu maut akan dikalahkan, putera-puteri Allah akan dibangkitkan dalam Kristus, dan benih yang telah ditaburkan dalam kelemahan dan kebinasaan, akan mengenakan yang tidak dapat binasa. Cinta kasih beserta karya-Nya akan lestari, dan segenap alam tercipta, yang oleh Allah telah diciptakan demi manusia, akan dibebaskan dari perbudakan kepada kesia-siaan (Gaudium et Spes, art. 39).”

Hidup dalam langit dan bumi baru adalah tujuan hidup umat beriman. Konsili juga menegaskan bahwa kerinduan akan kehidupan dalam langit dan bumi baru itu kiranya tidak membuat orang ‘melarikan diri’ dari dunia. Bahkan, umat beriman harus berpartisipasi aktif membangun dunia ini dalam segala bidang kehidupan. Kerajaan Allah itu sudah ada di dunia yang diresapi semangat Injili, walaupun kepenuhannya ketika akhir zaman yang waktunya hanya diketahui oleh Tuhan sendiri (bdk. Kis. 1:7)

“Kita memang diperingatkan, bahwa bagi manusia tiada gunanya, kalau ia memperoleh seluruh dunia, tetapi membinasakan dirinya. Akan tetapi janganlah karena mendambakan dunia baru orang lalu menjadi lemah perhatiannya untuk mengolah dunia ini. Justru harus tumbuhlah perhatian itu, sehingga berkembanglah Tubuh keluarga manusia yang baru, yang sudah mampu memberi suatu bayangan tentang zaman baru. Maka dari itu, sungguh pun kemajuan duniawi harus dengan cermat dibedakan dari pertumbuhan kerajaan Kristus, tetapi kemajuan itu sangat penting bagi Kerajaan Allah, sejauh dapat membantu untuk mengatur masyarakat manusia secara lebih baik (GS, art. 39).”

Sebagai rekan kerja Allah, manusia dipanggil untuk bekerja membangun dunia yang kondusif untuk kehidupan. Bahkan Gereja yakin bahwa kerja adalah dimensi mendasar hidup manusia di dunia. Kerja menjadi salah satu ciri yang membedakan manusia dengan ciptaan lainnya. Kerja manusia, selain untuk memenuhi kebutuhannya di dunia, juga diarahkan pada tujuan pencapaian langit baru dan bumi baru yang sudah mulai dirasakan saat ini dan kepenuhannya terjadi pada akhir zaman.

Pelestarian Lingkungan Hidup

Dalam sudut pandang teologi penciptaan, yang dimaksudkan dengan sesama adalah sesama makhluk ciptaan di hadapan Sang Pencipta. Penantian akan penebusan bukan hanya merupakan hal eksklusif manusia, tetapi juga penantian seluruh ciptaan. Bahkan Yesus diimani sebagai penebus manusia, pembebas alam semesta dan penyelamat seluruh ciptaan. Selain itu diyakini pula bahwa tidak mungkin berbicara tentang keselamatan tanpa mengacu kepada dunia dan manusia yang mengambil bagian di dalamnya. Keselamatan di sini berarti tetap menjadi bagian dari seluruh alam ciptaan yang telah diubah menjadi langit dan bumi baru. Dalam konteks ini, manusia dianggap sebagai salah satu dari komunitas ciptaan Allah yang memiliki peranan, tugas dan tanggung jawab yang khusus yakni memelihara keutuhan ciptaan.

Konsili Vatikan II memberikan perhatian besar pada masalah perdamaian, keadilan, kebebasan beragama, liturgi, ekumenisme dan sebagainya. Akan tetapi, satu hal penting yang kurang mendapatkan perhatian serius adalah masalah lingkungan hidup. Padahal, hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan hidup tak terbantahkan. Bahkan keselamatan manusia berhubungan juga dengan keberadaan lingkungan hidup di mana manusia hidup. Menurut Adrianus Sunarko, pelestarian lingkungan hidup belum menjadi salah satu tema pembicaraan karena pada waktu itu masalah lingkungan hidup belum disadari secara mendalam oleh Gereja sebagai masalah mendesak yang harus ditangani.

Setelah Konsili Vatikan II, masalah ekologis semakin memprihatinkan dan sungguh-sungguh mengancam keberlangsungan segala bentuk kehidupan di bumi ini. Karena itu, banyak pihak yang berani menyuarakan kebenaran tentang pentingnya menjaga keutuhan ciptaan. Tak ketinggalan juga Gereja Katolik. Katekese tentang memelihara keutuhan ciptaan dilakukan di dalam Gereja. Gereja mengajak umat katolik untuk sungguh-sungguh terlibat dalam melestarikan keutuhan ciptaan. Misalnya, pada tahun 2013, KWI membuat nota pastoral yang berjudul, “Keterlibatan Gereja dalam Melestarikan Keutuhan Ciptaan”. Nota pastoral ini merupakan hasil hari studi para uskup pada tanggal 5-7 November 2012 tentang ekopastoral (pastoral ekologis). Para uskup Indonesia menyadari pentingnya lingkungan hidup untuk kelangsungan hidup semua ciptaan dan juga prihatin terhadap berbagai macam kerusakan alam dan akibat-akibat yang ditimbulkannya.

Saat ini, baik negara maupun Gereja semakin gencar berjuang menyelamatkan lingkungan hidup dengan pelbagai aksi nyata (misalnya, menanam pohon di daerah gersang, mengurangi eksploitasi terhadap lingkungan hidup, membangun pemukiman yang ramah lingkungan, mengelola sampah-sampah dengan baik). Ada juga organisasi tertentu yang secara khusus bergerak di bidang pelestarian lingkungan hidup. Selain mengadvokasi masyarakat agar berpartisipasi aktif dalam menyelamatkan lingkungan hidup, organisasi ini juga giat mengkritisi kebijakan pemerintah yang memberi izin kepada perusahaan-perusahaan yang mengeksploitasi lingkungan hidup.

Pengakuan iman kristiani bahwa Tuhan adalah pencipta dunia dan segala isinya melahirkan tanggung jawab besar yang harus diwujudkan dalam hidup sehari-hari. Tanggung jawab tersebut adalah membangun dunia dalam terang injili! Dunia ini baik dan bernilai karena diciptakan Tuhan dalam keadaan baik. Karena secitra dengan Allah, manusia kristiani dituntut untuk berpartisipasi dalam karya Allah menyelamatkan dunia. Partisipasi itu diwujudkan dalam segala aspek kehidupan (hidup menggereja, keluarga, masyarakat, negara, lingkungan hidup dan sebagainya).

Keselamatan adalah tujuan penciptaan dunia dan segala isinya. Jika dunia dikelola dalam terang semangat Injili, maka keselamatan itu akan terjadi di dunia sekarang ini, walaupun kepenuhannya baru terjadi pada akhir zaman. Langit dan bumi baru yang dijanjikan oleh Allah itu akan datang pada saat yang ditentukan-Nya, tetapi saat ini manusia bisa mulai mengalaminya, asalkan semangat Injili diwartakan dan dihayati (bdk. GS 39). Dan umat beriman kristiani dipanggil untuk membangun dunia yang diterangi oleh semangat Injil!

Referensi:

Chang, William, Moral Lingkungan Hidup, Yogyakarta: Kanisius, 2001.
Dister, Niko Syukur, Teologi Sistematika 2, Yogyakarta: Kanisius, 2004.
Handoko, Petrus Maria, Dicipta Untuk Dicinta, Malang: STFT Widya Sasana Malang, 1996.
Kristiyanto, Eddy (ed.), Konsili Vatikan II, Agenda yang Belum Selesai, Jakarta: Obor, 2006.
Kristiyanto, Eddy dan Adrianus Sunarko (eds.), Menyapa Bumi, Menyembah Hyang Ilahi, Yogyakarta: Kanisius, 2008.
Kempis, Thomas A., Mengikuti Jejak Kristus, (terj. J.O.H. Padmasepoetra), Jakarta: Obor, 1977.
Ladjar, Leo L. (Penterj.), Fransiskus Asisi: Karya-Karyanya, Yogyakarta: Kanisius, 1988.
Stanislaus, Surip, Harmoni Kehidupan, Yogyakarta: Kanisius, 2008
Dokumen Konsili Vatikan II (terj. R. Hardawiryana), Jakarta: Obor, 1993.
Paulus II, Yohanes, Laborem Exercens (terj. R. Hardawiryana, SJ), Jakarta: Dokumen Penerangan KWI, 1999.

Tinggal Dalam Yesus

0

Hari ini Gereja Katolik memperingati Santa Teresia dari Avila-Spanyol. Ia seorang biarawati Ordo Karmel yang sangat setia. Ia meninggalkan segala keterikatan duniawi dan memilih untuk melayani Tuhan dan sesama secara bebas. Panggilannya sebagai biarawati dihayati dengan penuh sukacita. Aneka tulisannya yang berbobot tentang iman kristiani membuatnya menjadi tokoh penting dalam Gereja. Pemikirannya terus dibaca oleh Gereja hingga saat ini. Ia juga adalah perempuan pertama yang digelari Pujangga Gereja.

Mengapa Teresia menjadi biarawati yang baik? Mengapa ia bersukacita dengan panggilannya? Mengapa ia menjadi inspirasi bagi banyak orang? Rupanya satu-satunya sumber kekuatan dan sukacitanya adalah tinggal  di dalam Yesus. Ia selalu bersatu dengan Kristus melalui doa-doa dan aneka kegiatan rohani yang diikutinya. Sebagaimana ranting-ranting Anggur hanya bisa hidup dan berbuah ketika bersatu dengan pokok Anggur, demikian juga Teresia terus hidup dalam sukacita dan menjadi teladan bagi Gereja berkat kesatuannya dengan Kristus Sang Pokok dan sumber hidupnya (Bdk. Yoh. 15:1-8).

Doa adalah komunikasi personal dengan Tuhan. Komunikasi personal penuh ketekunan itu mendatangkan sukacita tak terkira. Tentang doa, Teresia menulis dengan sangat baik dan mendalam.

“Doa batin ialah pergaulan dengan seorang sahabat. Kita menyadari bahwa sahabat itu mencintai kita. Karena itu kita sering ingin menjumpaiNya agar dapat berbicara dengan Dia, seorang diri, dengan penuh kemesraan. Doa harus kita rindukan & usahakan bukan untuk merasa nikmat, melainkan untuk menjadi semakin kuat dalam mengabdi kepadaNya. Kita harus memperhatikan, jangan begitu sibuk bekerja, sehingga lupa sering mengangkat hati kepada Allah. Doa yang baik tidak terletak pada banyak atau indahnya kata-kata melainkan pada banyaknya mencinta, seberapa besar cinta kita kepadaNya.”

Semoga kita pun terus berjuang tinggal di dalam Yesus agar kita bersuka cita dalam hidup ini dan bisa menjadi inspirasi kebaikan bagi banyak orang. Bukankah tinggal di dalam Yesus Sang Pokok Anggur itu membahagiakan? Santa Teresia, doakanlah kami! *** (LG)