10.6 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 9

Siap Sedia Hadapi Cobaan – Renungan Pekan Biasa VII

0

Siap Sedia Hadapi Cobaan: Renungan Pekan Biasa VII, 21 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Sir. 2:1-11; Injil: Mrk. 9:30-37

Sebuah cobaan berat bagi saya ketika mama jatuh sakit. Segala usaha telah kami tempuh agar mama dapat sembuh namun semua usaha sia-sia. Namun, sikap pasrah dan kepercayaan pada Tuhan membantu kami untuk dapat menerima cobaan ini dan membawa kesembuhan bagi mama.

Pencobaan adalah bagian dari hidup manusia. Bahkan pencobaan yang berat akan menimpa setiap orang yang setia mengabdi kepada Tuhan. Yang diperlukan dalam tiap cobaan adalah kesabaran dan ketabahan  serta kesetiaan hati untuk tetap berpaut pada Allah. Inilah yang ditegaskan oleh penulis kitab Putra Sirakh.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Kesiapsediaan untuk menerima cobaan lewat salib dan penderitaan merupakan warta yang diajarkan oleh Yesus: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia. Tetapi tiga hari setelah dibunuh, Ia akan bangkit”. Ini juga adalah bukti bahwa Tuhan itu pengasih dan penyayang.

Maka yang dituntut dari kita adalah: pertama, rela menjadi pelayan. Untuk menjadi pelayan, dibutuhkan pengorbanan diri dan sikap rendah hati. Yesus telah memberikan teladan ini dengan datang ke dunia sebagai pelayan sejati bagi manusia. Kedua, menerima semua orang dengan tulus. Setiap manusia adalah gambar Allah karena diciptakan oleh Allah sesuai gambar dan rupa-Nya. Maka harus diterima sebagai saudara dalam Allah seperti Allah yang telah menerima kita sebagai anak-Nya.

Marilah kita berusaha untuk hidup sebagai anak-anak Allah meskipun banyak cobaan yang harus kita alami. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
SLL – Mu-Sa-Fir

Bijaksana – Renungan Pekan Biasa VII

0

Bijaksana: Renungan Pekan Biasa VII, 20 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Sir. 1:1-10; Injil: Mrk. 9:14-29

‘Kepintaran adalah sebuah kekayaan. Namun, ia memerlukan kekuatan penyeimbang yang bernama Kebijaksanaan’. Kebijaksanaan berasal dari Tuhan karena Tuhan sendirilah yang menciptakan kebijaksanaan. Kepada seluruh ciptaan-Nya, Tuhan menganugerahkan kebijaksanaan dan terlebih kepada orang yang mencintai-Nya.

Kebijaksanaan telah diberikan Tuhan kepada seorang ayah yang anaknya kerasukan setan sehingga ia dengan rendah hati berseru kepada Yesus: “Aku percaya! Tolonglah aku yang kurang percaya ini!” Seruan ini merupakan sebuah doa permohonan yang lahir dari hati yang pasrah pada Allah. Dengan seruan yang tulus ini, maka Yesus menganugerahkan kesembuhan kepada anaknya.

Orang yang bijaksana adalah orang yang senantiasa hidup dalam doa. Doa menjadi habitus atau miliknya. Dengan doa, setiap kita dapat dengan bijaksana memilih mana yang menjadi prioritas dalam hidup. Selain itu, dengan doa kita dapat mengalahkan godaan setan. Pertanyaannya adalah bagaimana hidup doaku selama ini? Apakah doa hanya sebagai rutinitas bagiku atau merupakan kebutuhan bagiku? Apakah doaku lahir dari hatiku yang penuh kepasrahan pada Allah?

Marilah kita berusaha untuk hidup dalam doa karena doa merupakan jalan menuju kebijaksanaan. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Tablo – Mu-Sa-Fir

Transfigurasi, Jalan untuk Hits dalam Iman – Renungan Pekan Biasa VI

0

Transfigurasi, Jalan untuk Hits dalam Iman: Renungan Pekan Biasa VI, 18 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Ibr. 11:1-7; Injil: Mrk. 9:2-13

Perubahan zaman telah membuat manusia juga berubah baik dalam gaya hidup/style, cara bekerja dan bergaul, bahkan cara mewartakan iman. Perubahan zaman juga memunculkan banyak bahasa gaul di kalangan anak muda. Salah satunya adalah Fomo:  Fear of Missing Out yang berarti takut ketinggalan zaman/takut tidak hits. Secara positif, istilah ini menuntut seseorang untuk berubah sesuai tuntutan zaman namun tidak tenggelam di dalamnya; ia berusaha untuk melakukan transfigurasi diri sesuai dengan situasi zaman demi tetap teguh dalam iman. Misalnya, mewartakan iman lewat media sosial, berdiskusi tentang iman demi membangun toleransi hidup beragama, dan lain-lain.

Dalam bacaan Injil hari ini, Petrus, Yakobus dan Yohanes menyaksikan peristiwa transfigurasi Yesus di puncak sebuah gunung yang tinggi. Ketika menyaksikan peristiwa ini, mereka seakan terlena dan terbuai oleh kemuliaan Yesus, sehingga Petrus berkata: “Rabi, betapa bahagianya kami berada di sini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Dalam keterlenaannya, mereka dinaungi awan dan dari dalam awan itu terdengarlah suara, “Inilah Anak-Ku terkasih, dengarkanlah Dia.”

Seorang Katolik harus menjadi pribadi yang fomo dengan cara: pertama, turun dari gunung untuk mewujudnyatakan iman akan Yesus Kristus. Turun dari gunung berarti memasuki realita hidup, berjumpa dengan sesama dan melakukan tindakan kasih seturut teladan Yesus.

Kedua, mendengarkan Yesus. Untuk menjadi hits dan tindak ketinggalan zaman, kita harus mendengarkan Yesus Putra Allah. Mendengarkan Yesus bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan hati dan seluruh diri sehingga iman kita akan tetap teguh dan mantap seperti iman Habel, Henokh dan Nuh. Dengan iman yang teguh, kita mampu mensyukuri setiap anugerah yang kita terima dalam hidup sekaligus mengerti bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan. Marilah kita berusaha untuk melakukan transfigurasi diri tanpa terbuai oleh perkembangan zaman. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
YBT – Mu-Sa-Fir

Syarat – Renungan Pekan Biasa VI

0

Syarat: Renungan Pekan Biasa VI, 17 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kej. 11:1-9; Injil: Mrk. 8:34-39

‘Ketika kamu mulai mencintai tanpa syarat, kamu segera berhenti menghakimi orang lain’

Ketika melangkah untuk menapaki pendidikan di SMK Bina Karya – Larantuka, salah satu syarat yang diberikan oleh mama saya adalah tidak boleh merokok, karena menurut mereka merokok dapat menggagalkan perjalanan pendidikan dan hidup saya. Syarat ini saya ikuti dan laksanakan dengan penuh tanggung jawab hingga saat ini.

Hari ini, Yesus juga memberikan syarat-syarat untuk menjadi pengikut-Nya. Pertama, ‘Menyangkal diri’. Untuk Menjadi murid Yesus, seseorang harus siap mengorbankan segala sesuatu yakni kesenangan, keinginan, dan kehendak pribadi sehingga yang menjadi utama dalam hidup adalah kehendak Allah.

Kedua, ‘Memikul salib’. Setiap orang memiliki salib hidup masing-masing yang harus dipikul dengan setia seperti penderitaan, sakit, disingkirkan, diabaikan, dan lain-lain. Yang dibutuhkan dalam memikul salib adalah kekuatan dari Allah agar kita setia memikulnya.

Ketiga, ‘Mengikuti Yesus.’ Sebagai pengikut Yesus, kita tidak hanya memikul salib tetapi memikul salib dan berjalan mengikuti Yesus. Kita boleh belajar pada Yesus yang setia pada Bapa lewat jalan salib-Nya.

Keempat, ‘Berani mewartakan Yesus Kristus’. Sebagai pengikut Kristus, kita dituntut untuk beranj mewujudnyatakan iman kita akan Kristus di tengah dunia ini dalam tindakan cinta kasih.

Syarat-syarat yang dituntut oleh Yesus adalah sesuatu yang berat secara manusiawi. Namun, jika kita mencintai Kristus tanpa syarat maka kita mampu menjalankan syarat-syarat di atas dengan tulus dan setia.

Marilah kita mohon rahmat kekuatan dari Allah agar kita mampu menjadi murid Kristus yang setia hingga akhir hidup kita masing-masing. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Wulan Okey – Mu-Sa-Fir

Proses dan Hasil – Renungan Pekan Biasa VI

0

Proses dan Hasil: Renungan Pekan Biasa VI, 15 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kej. 8:6-13.20-22; Injil: Mrk. 8:22-26

‘Nikmati dulu prosesnya dengan sukacita agar Anda dapat mengerti artinya berusaha’. Kata bijak ini mau mengajak kita semua untuk mensyukuri proses yang kita lakukan karena hasil tidak pernah mengkhianati proses.

Bacaan-bacaan hari ini mengajarkan kepada kita bagaimana berproses dalam hidup. Nuh yang berada dalam bahtera karena hujan yang turun selama empat puluh hari berusaha untuk menjalani proses yang dikehendaki oleh Allah. Bahkan untuk mengetahui bahwa bumi sudah kering pun, Nuh harus melewati proses panjang dengan melepaskan burung Gagak dan burung Merpati. Setelah semua proses dilalui maka Nuh dapat mengalami sukacita; dan wujud dari sukacita itu adalah ucapan syukur dengan mempersembahkan kurban bakaran kepada Allah.

Yesus juga mengajarkan kepada kita bagaimana berproses dalam sebuah usaha seperti yang Ia lakukan kepada orang buta. Yesus tidak langsung menyembuhkan orang buta tersebut tetapi melewati proses antara lain: memegang tangan orang buta itu, membawanya ke luar kampung, meludahi mata si buta dan meletakkan tangan-Nya sehingga si buta pun dapat melihat. Yesus juga menyuruh dia pulang ke rumahnya tanpa masuk melalui kampung.

Proses yang dilakukan oleh Yesus di satu sisi mau menunjukkan sisi kemanusiaan-Nya dan mengajak setiap kita untuk setia pada proses yang benar, di sisi lain tahirnya si buta menunjukkan ke-Ilahi-an Yesus sekaligus menegaskan bahwa Allah senantiasa mencintai manusia. Marilah kita menghargai dan setia dalam proses yang benar sekaligus senantiasa bersyukur atas hasil yang kita terima dari proses tersebut. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Berburu – Mu-Sa-Fir

Ragi – Renungan PW. Santo Syrilus dan Metodius, Uskup

0

Ragi: Renungan PW. Santo Syrilus dan Metodius, 14 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kej. 6:5-8; 7:1-5.10; Injil: Mrk. 8:14-21

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Ragi bukan ragi yang digunakan untuk membuat adonan roti, tetapi ragi yang dimaksud adalah  perbuatan, tindakan, pikiran dan tutur kata seseorang. Jika ragi seseorang itu baik dan benar maka hidupnya akan damai dan sukacita; sebaliknya jika raginya tidak baik maka akan menghasilkan dosa. Dosa kecil dapat berkembang menjadi dosa besar bahkan menjadi malapetaka bagi manusia. Inilah yang dikisahkan dalam kisah nabi Nuh. Ketika dosa dan kejahatan manusia sudah melewati batasnya maka Allah akan menghapuskan manusia dan segala makhluk hidup yang diciptakannya. Namun, Allah tetap berbelas kasih kepada Nuh dan keluarganya karena ragi yang dihasilkan oleh Nuh adalah ragi yang baik dan benar. Maka Allah menyelematkan Nuh dan keluarganya serta binatang-binatang yang dibawa olehnya.

Dalam Injil hari ini, Yesus juga meminta para murid-Nya untuk berjaga-jaga dan awas terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes. Mengapa? Karena orang Farisi dan Herodes memiliki ragi yang jahat yakni nafsu kuasa, sehingga kuasa yang diperoleh sebagai otoritas tanpa pelayanan. Padahal kekuasaan yang sejati adalah kekuasaan yang mau melayani. Maka para murid Kristus harus memiliki ragi pelayan sejati yang mau melayani dan memberikan diri seutuhnya bagi sesama seperti yang diteladankan oleh Yesus.

Kita semua juga dipanggil dan diutus untuk memiliki ragi pelayan sejati dalam cinta kasih Kristus. Dengan begitu, kita dapat mempengaruhi dunia untuk terlibat dan saling mencintai satu sama lain. Mampukah kita melaksanakan tugas ini? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mendung – Mu-Sa-Fir

Menata Hati dengan Cinta – Renungan Pekan Biasa VI

0

Menata Hati dengan Cinta: Renungan Pekan Biasa VI, 13 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kej. 4:1-15.25; Injil: Mat. 8:11-13

‘Keluarga adalah Sekolah Cinta Kasih karena di sanalah kita belajar hidup dengan orang lain’

Dosa yang kecil dapat melahirkan dosa yang besar. Misalnya: iri hati dan cemburu dapat melahirkan pembunuhan. Ini terjadi dalam hidup kita seperti kasus FS cs. Peristiwa ini juga terjadi jauh sebelumnya yakni di zaman Kain dan Habel. Kain yang cemburu dan iri hati terhadap Habel tega membunuhnya karena korban yang dipersembahkannya tidak diterima oleh Allah sedangkan korban Habel diterima oleh Allah. Ia merasa dinomorduakan padahal ia adalah anak sulung yang harus lebih dari adiknya. Namun harapan ini tidak ia dapatkan maka jalan satu-satunya adalah menyingkirkan adiknya dari kehidupan ini sehingga ia tetap jadi yang pertama. Akibat tindakan ini, Kain menjadi orang yang terbuang dan terkutuk, meski Allah tetap memberikan tanda padanya sehingga tidak seorang pun membunuh Kain.

Rasa iri hati dan cemburu juga lahir dari hati Kaum Farisi karena mereka merasa bahwa zona nyaman mereka  terganggu dan tersaingi dengan kehadiran Yesus. Maka mereka berusaha mencobai Yesus dengan meminta tanda kepada-Nya. Namun, Yesus tidak memberikan tanda kepada mereka.

Situasi Kain dan orang Farisi yang diracuni oleh rasa cemburu dan iri hati dapat terjadi karena mereka tidak mampu menata hati mereka dengan cinta kasih, karena cinta kasih dapat memadamkan api cemburu dan bara iri hati.

Oleh karena itu, sebagai orang-orang Katolik, kita harus menata hati kita dengan cinta kasih agar dikala cemburu dan iri hati mengganggu diri kita, kita mampu untuk mengalahkannya. Dengan mengalahkan api cemburu dan iri hati maka Tuhan tetap tinggal bersama kita dan damai serta sukacita memenuhi hidup kita. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Hujan – Mu-Sa-Fir

Makanan – Renungan Hari Orang Sakit Sedunia

0

Makanan: Renungan Hari Orang Sakit Sedunia, 11 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kej. 3:9-24; Injil: Mrk. 8:1-10

[postingan number=3 tag= ‘cinta-tuhan’]

Manusia membutuhkan makanan untuk kehidupannya. Karena itu, setiap kali menjelang hari raya dan harga sembako mulai naik, maka sering terjadi banyak keluhan yang bermuara pada demo. Inilah realitas bangsa kita dan realitas hidup kita. Mengapa? Karena sejak awal mula, Allah sudah memberikan segalanya kepada manusia untuk dinikmati tanpa bersusah payah. Namun karena dosa, maka manusia harus bersusah payah mengusahakan tanah demi memperoleh makanan bagi kehidupannya. Usaha ini berlanjut terus sepanjang hidup manusia sampai ia kembali kepada debu karena dari situlah ia berasal. Selain itu, karena dosa, manusia juga mengalami penderitaan, kesulitan hidup, keterasingan dan permusuhan. Inilah hidup manusia yang terjadi seperti yang kita dengarkan dalam kitab Kejadian hari ini.

Dalam situasi sulit, penderitaan, kelaparan, Tuhan hadir dengan belas kasih-Nya. Ia bukan saja mengenyangkan orang banyak dengan makanan jasmani yakni roti dan ikan, tetapi lebih daripada itu, Ia memberikan makanan rohani lewat Sabda-Nya. Ketika memberi makan orang banyak, Yesus tidak bekerja sendiri tetapi Ia juga menggerakkan para murid-Nya untuk peduli dan terlibat dengan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.”

Sabda Yesus ini menggerakkan para murid untuk memberikan makanan kepada orang banyak dan lewat kuasa kasih Allah, tujuh potong roti dan beberapa ikan mampu mengenyangkan empat ribu orang.

Di hari orang sakit sedunia ini, kita pun dipanggil untuk peduli dan terlibat dalam rangka membantu mereka yang sakit baik berupa bantuan ‘makanan jasmani’ maupun ‘makanan rohani’, sehingga mereka dapat mengalami kesembuhan baik secara jasmani maupun rohani. Mari kita berusaha untuk senantiasa peduli dan terlibat untuk membantu mereka yang paling menderita di antara mereka yang menderita dengan cinta kasih yang tulus. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Kicau Pipit – Mu-Sa-Fir

Efata, Terbukalah – Renungan PW. Santa Skolastika, Perawan

0

Efata, Terbukalah: Renungan PW. Santa Skolastika, 10 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kej. 3:1-8; Injil: Mrk. 7:31-37

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

‘Setiap mata yang tertutup tidaklah tidur, dan setiap mata yang terbuka tidaklah melihat’

Setiap manusia pasti memiliki kelemahan dan masa lalu, namun tidak semua manusia mau terbuka terhadap situasi diri dan hidupnya baik di masa lalu maupun di masa kini. Hal ini terjadi karena manusia tidak mau kelemahan, kebobrokan dan dosanya diketahui oleh orang lain. Padahal sejak awal mula, manusia pertama sudah jatuh ke dalam dosa karena godaan dan rayuan dari ular. Karena jatuh dalam dosa ketidaktaatan maka manusia pertama ‘bersembunyi’ dari Allah; menjadi pribadi yang ‘tertutup’, terhadap rahmat Allah.

Ketertutupan manusia membuatnya menjadi tuli dan gagap terhadap rahmat belas kasih Allah. Namun, dalam situasi ini, Allah tidak meninggalkan manusia. Ia hadir melalui Yesus Kristus Tuhan kita yang ‘menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.’

Hal inilah yang dilakukan oleh Yesus kepada seorang yang tuli dan gagap. Dengan mengatakan ‘Efata!’, artinya: ‘Terbukalah!’, Yesus membuka telinga orang itu dan seketika itu juga terlepas pulalah pengikat lidahnya lalu ia berkata-kata dengan baik. Dengan itu, bukan hanya ia sembuh dari sakit fisik tetapi juga sembuh dari sakit psikis yakni ia yang sebelumnya tertutup terhadap rahmat dan belas kasih Allah, kini ia menjadi terbuka.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga terbuka dengan Allah? Marilah kita berusaha untuk terbuka terhadap rahmat Allah seperti yang diteladankan oleh Santa Skolastika. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Lengkuas – Mu-Sa-Fir

Hadir sebagai Penolong yang Sepadan – Renungan Pekan Biasa V

0

Hadir sebagai Penolong yang Sepadan: Renungan Pekan Biasa V, 09 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kej. 2:18-25; Injil: Mrk. 7:24-30

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

‘Caranya bisa berbeda-beda, tetapi kita semua dipilih Tuhan untuk hadir sebagai penolong bagi sesama’

Sejak awal penciptaan dunia, Allah telah membangun sebuah komunitas kecil yakni keluarga. Di dalam keluarga inilah setiap anggota memiliki kedudukan yang sepadan, artinya memiliki harkat dan martabat yang sama. Namun dalam budaya tertentu, perempuan memiliki kedudukan yang lebih rendah dari laki-laki sehingga perempuan sering mengalami kekerasan. Atau dalam kasus yang lain, jika belum lahir anak laki-laki dalam keluarga maka terasa belum lengkap kebahagiaan keluarga. Dalam bacaan hari ini, Allah bersabda: “Tidak baik manusia itu hidup seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong yang sepadan dengan dia”.

Binatang-binatang adalah mahluk hidup yang pertama dibawa oleh Allah kepada manusia. Tindakan Allah ini mau menegaskan bahwa sebagai manusia, kita harus hadir sebagai pribadi yang ekologis: peduli dengan keutuhan ciptaan, memelihara lingkungan hidup dan berjuang untuk memulihkan kembali bumi.

Karena manusia tidak menemukan penolong yang sepadan dengan dia dari binatang-binatang yang ada, maka Allah menciptakan perempuan dari tulang rusuk laki-laki. Maka perempuan menjadi penolong yang sepadan bagi laki-laki yang harus dihargai dan dicintai seperti Allah yang menghargai dan mencintai kita. Maka dapat dikatakan bahwa kita semua dipanggil dan diutus untuk menjadi penolong yang sepadan bagi sesama.

Namun kadang tidak semua manusia hadir sebagai penolong. Hal ini terjadi karena egoisme manusia. Maka penolong sejati bagi manusia adalah Tuhan. Inilah yang dialami oleh perempuan Siro-Finesia yang anaknya kerasukan roh jahat. Ia datang dan memohon pertolongan pada Yesus; dan karena imannya maka anaknya mengalami kesembuhan.

Kita semua dipanggil dan diutus untuk menjadi penolong yang sepadan bagi sesama. Artinya kita harus menolong sesama tanpa membeda-bedakan atau merendahkan karena setiap orang memiliki harkat dan martabat yang sama di hadapan Allah. Apakah aku sudah menjadi penolong bagi sesama? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Fluere – Mu-Sa-Fir