8.8 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 10

Napas Hidup – Renungan Pekan Biasa V

0

Napas Hidup: Renungan Pekan Biasa V, 08 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kej. 2:4b-9.15-17; Injil: Mrk. 7:14-23

‘Saat kamu bernapas sekarang, orang lain mengambil napasnya yang terakhir. Maka berhentilah untuk mengeluh dan belajarlah untuk menjalani hidup dengan penuh syukur’

Setelah melewati hari-hari yang penuh kesibukan dan juga raga lemah yang membutuhkan istirahat sejenak, maka kini saya datang lagi dengan Renungan harian.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Bernapas adalah esensi dari kegiatan manusia sepanjang hidup, karena selama manusia hidup, dia akan bernapas. Napas yang ada dalam diri manusia berasal dari Allah karena setelah menciptakan manusia dari debu tanah, Allah menghembuskan napas hidup ke dalam hidung manusia sehingga manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Sebagai makhluk yang hidup, manusia harus hidup dalam perintah Allah. Salah satu perintah Allah bagi manusia pertama yang tinggal di taman Eden adalah “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau akan mati.” Perintah Allah ini tidak ditaati oleh manusia pertama sehingga mereka jatuh ke dalam dosa dan mengalami ‘kematian rohani.’

Sejak manusia mengalami ‘kematian rohani’ karena melanggar perintah Allah maka manusia cenderung membuat aturannya sendiri dan beranggapan bahwa aturannya itu berasal dari Allah. Hal inilah yang dikecam oleh Yesus. Bagi Yesus, yang paling penting adalah apa yang ada dalam hati, batin dan roh manusia bukan apa yang ada di luar manusia dan atau yang datang dari luar ke dalam manusia. Karena itu Yesus berkata: “Apa pun dari luar yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.” Semua hal yang jahat timbul dari hati manusia dan menajiskan orang bahkan membuat kita mengalami ‘kematian rohani’ karena napas hidup dari Allah tidak kita gunakan untuk hidup dalam perintah-perintah-Nya.

Maka marilah selagi kita masih dianugerahi napas hidup oleh Allah, kita berusaha untuk tidak menajiskan diri kita dan sesama dengan hal-hal jahat yang timbul di hati. Kita berusaha untuk menjadi penerus napas hidup Allah dengan mengasihi dan mengampuni sesama sehingga kita semua menjadi pantas di hadapan Allah. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Hujan – Mu-Sa-Fir

Persembahan yang Benar – Renungan Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

0

Persembahan yang Benar: Renungan Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah, 02 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Mal. 3:1-4; Injil: Luk. 2:22-40

“Di mata Tuhan kita berharga, jangan pernah merasa rendah diri, Tuhan punya rencana besar untukmu”.

Ketika mama dan bapa mengabulkan permintaan saya untuk menjadi seorang imam, mereka berkata: “Ame soro moe ne Tu’e Allah dengan hu’a men’u. Ge mo pane di’a-di’a di Ama. Pane dori lare Tu’e Allah nenu. Ame tetap mengaji uttu moe” yang artinya “Dengan segenap hati kami serahkan dirimu untuk Tuhan Allah. Jalan baik-baik, tetap ikuti jalan Tuhan. Kami mendukungmu dengan doa”.

Bagi saya, inilah pesan singkat yang berisi persembahan diri yang total pada Allah dan bersumber dari persembahan diri Keluarga Kudus yang taat dan setia kepada Allah. Maria dan Yosef tahu, mau, dan sadar bahwa mereka harus mempersembahkan Yesus buah sulung mereka di Bait Allah sesuai dengan hukum Tuhan. Persembahan ini menuntut pemberian diri seutuhnya pada Allah, sehingga ketika Simeon dan Hana melihat Yesus, merekapun mengalami sukacita karena ‘Tuhan yang mereka cari itu dengan mendadak masuk ke bait-Nya.’

Di zaman ini, manusia lebih memilih untuk mempersembahkan diri kepada hal-hal duniawi daripada kepada Tuhan karena hal-hal duniawi dirasa dapat memuaskan dirinya walaupun hanya sesaat saja. Maka di Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah ini, kita harus kembali memurnikan motivasi kita dalam mengikuti Yesus Kristus dalam panggilan hidup kita masing-masing, baik sebagai biarawan/wati, sebagai OMK, maupun sebagai keluarga-keluarga Katolik, sehingga kita semua menjadi persembahan yang murni dan berkenan kepada Allah. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Sampit – Mu-Sa-Fir

Cara Pandang – Renungan Pekan Biasa IV

0

Cara Pandang: Renungan Pekan Biasa IV, 01 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Ibr. 12:4-7.11-15; Injil: Mrk. 6:1-6

“Masalah adalah cara Tuhan untuk membuatmu dewasa, jangan lari darinya, tetapi hadapilah. Hanya merekalah yang membuatmu bijaksana”

Setiap orang memiliki cara pandang masing-masing ketika menghadapi masalah. Ada orang yang memandangnya sebagai kutukan tetapi juga ada yang memandangnya sebagai berkat. Orang yang memandang masalah sebagai kutukan adalah orang yang pesimis, sebaliknya orang yang memandang masalah sebagai berkat adalah orang yang optimis. Jemaat di Ibrani diajak untuk memandang masalah atau didikan Tuhan dengan optimis. “Hai anakku, janganlah meremehkan didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan oleh-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya dan menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Hajaran dan didikan Tuhan meskipun membawa luka tetapi adalah berkat karena Ia memperlakukan kita sebagai anak.

Dalam hidup dan karya Yesus, Ia berjumpa dengan orang-orang yang memiliki cara pandang yang pesimistis sehingga mereka tidak melihat berkat yang hadir melalui Yesus. Pengalaman ini dialami oleh Yesus di tempat asalnya. Ia tidak diterima dan dihormati oleh orang-orang sekampungnya karena mereka hanya melihat latar belakang keluarga Yesus. Hati mereka tertutup oleh benci dan iri hati sehingga mereka tidak menerima berkat dari Tuhan.

Kita pun harus mengubah cara pandang kita terhadap setiap masalah dan persoalan yang kita hadapi sehingga kita dapat menanggungnya dengan setia agar menjadi berkat. Kitapun harus mengubah cara pandang kita terhadap sesama sehingga setiap perjumpaan kita dengan sesama menjadi berkat bagi hidup kita masing-masing. Marilah diawal bulan Februari ini, kita ubah cara pandang kita pesimis menjadi optimis. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Lampu pijar – Mu-Sa-Fir

Fokus pada Dia – Renungan PW. Santo Yohanes Bosco, Imam

0

Fokus pada Dia: PW. Santo Yohanes Bosco, 31 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Ibr. 12:1-4; Injil: Mrk. 5:21-43

“Kesungguhan seseorang tampak saat ia memperlihatkan fokusnya dalam melakukan sesuatu”.

Memilih untuk Fokus pada pekerjaan dan tujuan yang ingin dicapai adalah pilihan yang bijak bagi setiap orang yang ingin sukses. Namun perlu juga disadari bahwa fokus pada Allah adalah pilihan yang paling bijaksana, pertama dan terutama bagi setiap orang beriman. Hal ini ditegaskan oleh penulis surat kepada Orang Ibrani: “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus. Dialah yang memimpin kita dalam iman dan Dialah yang membawa iman itu dalam kesempurnaan melalui kehinaan salib.” Dengan fokus pada Allah dengan perantaraan Kristus, setiap orang beriman mampu mengatasi kelemahannya dan dapat menanggalkan semua beban dan dosa.

Yesus dalam Injil hari ini menegaskan bahwa Dia tetap fokus pada perutusan-Nya yakni mewartakan Kerajaan Allah. Oleh karena itu, ketika Ia diminta untuk menyembuhkan mereka yang sakit, maka Yesus dengan sukacita melakukannya. Mengapa? Karena dengan pelayanan-Nya, Yesus menegaskan bahwa Kerajaan Allah telah hadir dalam dunia.

Teladan Yesus ini diikuti oleh Yohanes Bosco, seorang imam yang peduli terhadap kaum muda sehingga ia dengan setia membaktikan seluruh hidupnya untuk fokus mendampingi kaum muda sehingga pertentangan antar generasi dapat diatasi. Ia rela menjadi jembatan antar generasi sekaligus membawa generasi muda kepada Kristus.

Apakah kita juga fokus pada Allah dalam melaksanakan tugas, pekerjaan dan perutusan kita? Siapakah atau apakah yang menjadi fokus utama hidupmu? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita untuk fokus pada Allah. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Outbound – Mu-Sa-Fir

Belajar dari Para Tokoh Iman – Renungan Pekan Biasa IV

0

Belajar dari Para Tokoh Iman: Renungan Minggu Biasa IV, 30 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Ibr. 11:32-40; Injil: Mrk. 5:1-20

[postingan number= 3 tag= ‘iman-katolik’]

“Iman bukan hanya kata, tapi tindakan nyata. Iman adalah penyerahan diri pada Allah dah dibarengi dengan perjuangan bukan pasrah pada keadaan dan terpasung dalam kilaunya dunia”.

Orang beriman adalah orang-orang yang dikuasai, dibimbing dan dituntun oleh Roh Allah sehingga mereka bebas dari kuasa Roh jahat dan siap sedia mewartakan Allah dalam hidupnya.

Hari ini, Kabar Gembira menampilkan tokoh-tokoh iman yang hidup di Israel seperti Daud, Gideon, Barak, Simson, Yefta, Samuel dan para nabi. Karena iman akan Allah, mereka dapat melakukan hal-hal besar yang bagi manusia mustahil tetapi bagi Allah segala sesuatu itu menjadi nyata.

Walaupun mereka melakukan hal-hal besar karena iman akan Allah, tetapi mereka tidak melihat tanda terbesar dari Allah yakni Yesus Kristus Tuhan kita. Dia adalah tokoh terbesar dalam sejarah hidup umat manusia. Dia adalah Allah yang menjadi manusia. Dengan perantaraan-Nya, roh jahat pun tunduk dan takluk. Hal ini terjadi ketika Yesus mengusir roh jahat dalam diri seorang Gerasa. Ia memang tidak dapat diikat dengan rantai dan dibelenggu tetapi roh jahat telah mengikatnya dengan rantai dan membelenggu dia sehingga ia tidak beriman kepada Allah. Ketika Yesus mengusir roh jahat dari dalam dirinya maka rantai dan belenggu itu pun lepas dan ia pun beriman kepada Allah dan mewartakan kasih-Nya.

Kita pun mampu menjadi tokoh-tokoh iman zaman ini apabila: pertama, ‘pasrah pada kehendak Allah’. Dengan kepasrahan yang total pada Allah, kita akan dikuasai Roh Allah dan seluruh hidup kita pun tertuju kepada Allah. Kedua, ‘lepas bebas’. Sikap lepas bebas membantu kita untuk senantiasa mengandalkan Allah sekaligus tidak terbelenggu oleh ruang dan waktu, serta kekuasaan dan kekayaan duniawi, sehingga kita mampu menjadi pewarta kasih Allah. Ketiga, ‘hidup dalam kasih dan pengampunan’. Sanggupkah kita menjadi tokoh-tokoh iman zaman ini? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mendung – Mu-Sa-Fir

Jadilah Orang Pilihan Allah – Renungan Minggu Biasa IV

0

Jadilah Orang Pilihan Allah: Renungan Minggu Biasa IV, 29 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Zef. 2:3; 3:12-13; Bacaan II: 1Kor. 1:26-31; Injil: Mat. 5:1-22a

Situasi dunia semakin dikuasai oleh berbagai macam hal yang akhirnya mengarahkan manusia untuk saling membenci, berebut kekuasaan, berlomba mengumpulkan harta bahkan mengorbankan sesama. Hari ini, Kabar Gembira dari Tuhan mengajak kita untuk berusaha menjadi orang pilihan Allah. Bagaimana caranya?

Pertama, ‘rendah hati dan lemah lembut di hadapan Allah.’ Dengan sikap ini, kita semua akan selalu tunduk pada kehendak Allah dan melaksanakannya dalam hidup. Kedua, ‘menjadi pembawa damai bagi semua orang.’ Dengan membawa damai, kita mampu membangun persekutuan hidup dengan sesama seperti yang dinubuatkan oleh nabi Zefanya: “Mereka akan seperti domba yang makan rumput dan berbaring tanpa ada yang mengganggunya.” Ketiga, ‘memiliki semangat miskin.’ Orang yang memiliki semangat miskin adalah orang yang senantiasa mengandalkan Allah. Ia juga dengan rela berbagi segala sesuatu yang ia punya dengan penuh sukacita. Dengan begitu, sukacitanya menjadi penuh di dalam Allah.

Tiga sikap dan keutamaan di atas harus ada dalam diri kita sebagai orang Katolik yang adalah orang-orang pilihan Allah. Mengapa? Karena dengan tiga sikap di atas kita mampu mengalahkan kesombongan dunia yang selalu mengandalkan kekayaan. Kita juga mampu mempermalukan dunia yang angkuh dalam kekuasaan duniawi. Marilah kita tetap hidup sebagai orang-orang pilihan Allah sehingga dunia ini menjadi tempat yang membawa kebahagiaan bagi semua orang. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Idaman – Mu-Sa-Fir

Diam dan Tenang – Renungan PW. Santo Thomas Aquino, Imam dan Pujangga Gereja

0

Diam dan Tenang: Renungan PW. Santo Thomas Aquino, 28 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Ibr. 11:1-2.8-19; Injil: Mrk. 4:35-41

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Ketika menghadapi suatu masalah dan atau berada di suatu daerah yang baru, secara umum reaksi manusia adalah cemas, takut, galau, marah dan frustasi. Situasi ini juga dialami oleh Abraham, terutama ketika ia dipanggil oleh Allah untuk meninggalkan tanah airnya menuju tanah terjanji; ketika ia diam di tanah terjanji; ketika ia dan Sarah belum memiliki anak; bahkan ketika Ishak anak satu-satunya harus dikorbankan untuk Allah. Walaupun Abraham cemas dan takut tetapi ia tetap taat dan setia dalam iman akan Allah. Dengan iman inilah Abraham mampu untuk ‘diam dan tenang’ di hadirat Allah sehingga ia dapat memperoleh kepenuhan janji Allah.

Tindakan iman Abraham yang ‘diam dan tenang’ di hadapan Allah ketika menghadapi persoalan tidak dimiliki oleh para murid Yesus. Dalam Injil hari ini diceritakan bahwa para murid ketakutan ketika taufan mengamuk dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu. Mereka bahkan membangunkan Yesus untuk membantu mereka.  Yesus pun bangun menghardik angin dan berkata kepada danau: Diam! Tenanglah! Ketika situasi angin sudah tenang, Yesus mempertanyakan iman mereka.  

Kita pun harus memiliki sikap iman seperti Abraham yakni ‘diam dan tenang’ di hadirat Allah dalam setiap situasi hidup. Dengan diam dan tenang, kita mampu menyadari kehadiran Allah yang senantiasa setia untuk menyertai perjalanan hidup kita. Selain itu, dengan diam dan tenang, kita juga mampu mendengarkan suara Allah yang menyapa kita. Marilah kita berusaha untuk ‘diam dan tenang’ di tengah gelombang hidup ini. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Hujan deras – Mu-Sa-Fir

Percaya dan Hidup – Renungan Pekan Biasa III

0

Percaya dan Hidup: Renungan Pekan Biasa III, 27 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Ibr. 10:32-39; Injil: Mrk. 4:26-34

Percaya adalah sebuah sikap iman yang sepenuhnya berserah diri pada Allah. Sikap iman ini akan membawa seseorang pada kehidupan. Oleh karena itu, penulis surat kepada Orang Ibrani meminta agar setiap orang percaya jangan melepaskan kepercayaannya kepada Allah karena upah yang besar akan diperoleh. Upah tersebut adalah kehidupan bersama Allah. Dengan sikap percaya, setiap orang akan bertahan walaupun dicerca, dihina, dihukum dan menderita. Dalam situasi inipun Kerajaan Allah akan tumbuh dan berbuah.

Dalam seluruh hidup manusia, Allah selalu hadir menyertai dan menumbuhkan. Ibarat sebuah benih yang ditanam dan tumbuh karena karya Allah, begitu juga hidup seorang yang percaya. Ia akan tumbuh dalam kebenaran karena kasih Allah; ia juga akan berbagi kasih yang dialami kepada sesama dengan hadir sebagai pelindung dan pembela kaum lemah.

Kita adalah orang-orang yang percaya pada Allah. Maka dengan sendirinya kita akan memperoleh hidup. Namun hidup kita harus berbuah kasih bagi sesama sehingga Kerajaan Allah bersemi di dalam keluarga, komunitas dan masyarakat kita. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Propinsialat MSF – Mu-Sa-Fir

Nikmati Berkat Tuhan – Renungan PW. St. Timotius dan Titus, Uskup

0

Nikmati Berkat Tuhan: Renungan PW. St. Timotius dan Titus, 26 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: 2 Tim. 1:1-8 atau Tit. 1:1-5; Injil: Luk. 10:1-9

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menikmati berkat Tuhan. Ada orang yang berbagi dengan sesama, ada orang yang melakukannya dengan ziarah, ada orang yang dengan rekreasi, dan ada juga yang dengan shopping. Semuanya tergantung dari pribadi masing-masing.

Hari ini, Yesus memberikan cara yang baru untuk menikmati anugerah Allah yakni: pertama, ‘Siap diutus ke tengah-tengah serigala.’ Yesus menyadari bahwa dalam perutusan, seorang murid pasti banyak tantangan. Maka, Ia mengingatkan mereka untuk tetap berhati-hati supaya berkat Allah yang mereka terima dapat juga dinikmati oleh sesama.

Kedua, ‘Pasrah seutuhnya kepada Tuhan.’ Cara menikmati berkat Tuhan adalah dengan sikap pasrah pada Tuhan. Dengan sikap pasrah ini, seorang murid dapat berbagi berkat dengan sesama. Ketiga, ‘Berbagi damai dengan sesama.’ Setiap kali memasuki sebuah rumah, seorang murid harus mengatakan “Damai Sejahtera bagi rumah ini.” Dengan mengatakan hal ini, maka dengan sendirinya damai Tuhan juga dialami oleh seluruh anggota keluarga.

Apa yang ditegaskan oleh Yesus ini telah dilakukan oleh Timotius dan Titus. Mereka adalah murid yang hadir sebagai pelayan Sabda Allah yang rela menerima semua penderitaan demi iman akan Kristus. Dalam situasi ini, Rasul Paulus hadir lewat suratnya untuk menguatkan mereka sebagai salah satu bentuk menikmati berkat Tuhan. Kita pun dipanggil dan diutus untuk menikmati berkat Tuhan dengan menjadi murid yang setia. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng, MSF)
Haul – Mu-Sa-Fir

Menjadi Saudara tanpa Batas – Renungan Pekan Biasa III

0

Menjadi Saudara tanpa Batas: Renungan Pekan Biasa III, 24 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Ibr. 10:1-10; Injil: Mrk. 3:31-35

Saya sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, tapi bukan berarti saya manja atau ‘anak mami’. Sejak kecil, saya dilatih oleh ibu dan bapak untuk menjadi pribadi yang mandiri dan harus membangun relasi dengan siapapun tanpa dibatasi oleh ruang. Ibu dan bapak menunjukkan teladan yang baik bagaimana berelasi dengan sesama dan menjadikan mereka sebagai saudara karena bagi mereka, setiap orang adalah saudara.

Bagi saya, mereka telah melaksanakan apa yang diajarkan oleh Yesus yakni mencintai tanpa batas. Bahkan hari ini, Yesus menegaskan hal ini dengan berkata: “Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Kehendak Allah yang dimaksud Yesus adalah mengasihi tanpa batas. Dengan mengasihi, kita menjadi saudara bagi sesama dan dengan itu dapat membangun persaudaraan sejati di dunia ini.

Dalam melakukan kehendak Allah pasti ada tantangan karena tentu tidak semua orang mau menerima tindakan kasih yang kita lakukan. Berhadapan dengan tantangan ini, kita tidak perlu menyerah tapi kita harus tetap berpegang pada Kristus dan berdoa bersama sang pemazmur: “Ya Tuhan, aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.” Dengan doa ini, Tuhan akan memberkati kita agar kita memperoleh kekuatan untuk menjadi saudara bagi semua orang seperti teladan Yesus Kristus Tuhan kita. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Sampit – Mu-Sa-Fir