8.1 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 11

Cukup Sekali untuk Selamanya – Renungan Pekan Biasa III

0

Cukup Sekali untuk Selamanya: Renungan Pekan Biasa III, 23 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Ibr. 9:15.24-28; Injil: Mrk. 3:22-30

Komitmen untuk setia pada jalan panggilan hidup berkeluarga dan atau sebagai biarawan/wati merupakan perutusan setiap kita sebagai pengikut Kristus. Komitmen inilah yang diajarkan dan diteladankan oleh Yesus yang setia untuk melakukan tugas perutusan Bapa dengan menjadi imam agung. Ia adalah pengantara Perjanjian Baru yang telah masuk ke dalam tempat Kudus untuk menghadap hadirat Allah demi kepentingan kita. Lewat darah-Nya, Ia telah menyelamatkan manusia dari dosa dan ini dilakukan hanya satu kali untuk selamanya demi keselamatan umat manusia. Komitmen ini dilakukan-Nya dengan setia dan taat.

Namun dalam melaksanakan tugas dan komitmen-Nya ini bukan tanpa tantangan. Ahli Taurat, kaum Farisi dan tua-tua adalah orang-orang yang menghadirkan tantangan bagi Yesus. Hari ini mereka mencap Yesus sebagai orang yang kerasukan Beelzebul bahkan yang mengusir setan dengan kuasa penghulu setan. Menghadapi tantangan ini, Yesus dengan tegas mengatakan bahwa jika suatu kelompok terpecah-pecah maka tidak akan bertahan lama. Ia bahkan tetap setia pada komitmen-Nya yakni setia pada Salib: menyerahkan diri-Nya satu kali untuk selamanya demi keselamatan umat manusia. Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga setia pada komitmen hidup kita sebagai orang Katolik? Apakah kita pun merasa cukup dengan berkat yang Tuhan beri atau kita memiliki kecenderungan untuk menuntut lebih, lebih dan lebih? Marilah berserah diri pada Kristus agar kita tetap setiap pada komitmen hidup kita sebagai orang Katolik. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Katingan – Mu-Sa-Fir

Yesus, Imam Agung yang Terbuka dan Rendah Hati – Renungan Hari Kedua Pekan Doa Sedunia

0

Yesus, Imam Agung yang Terbuka dan Rendah Hati: Renungan Hari Kedua Pekan Doa Sedunia, 19 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Ibr. 7:25 – 8:6; Injil: Mrk. 3:7-12

Setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam kelebihan dan kekurangannya, setiap manusia adalah pribadi yang istimewa. Maka seharusnya kita melakukan apa yang bisa dilakukan seperti Yesus Sang Imam Agung.

Pertama, ‘Ia terbuka menerima siapa saja yang datang pada-Nya, teristimewa mereka yang sakit.’ Ia dengan terbuka merangkul setiap orang yang datang pada-Nya dengan kasih-Nya yang suci.

Kedua, ‘Yesus dengan keras melarang roh-roh jahat yang melihat dan tersungkur di depan-Nya untuk tidak memberitahukan siapa Diri-Nya.’ Tindakan ini menegaskan bahwa Yesus adalah pribadi yang rendah hati yang tidak mau menunjukkan Diri-Nya dengan kata semata; Ia lebih menunjukkan tindakan kasih sebagai bukti siapa Diri-Nya.

Kita pun diutus untuk dengan rela dan terbuka menerima sesama yang termiskin di antara yang miskin, yang paling menderita di antara yang menderita dan yang terasing di antara mereka yang asing. Selain itu, kita juga harus belajar untuk tetap rendah hati di hadapan Allah dan sesama. Dengan begitu kita mampu menghayati iman kita akan Kristus dengan benar. Marilah kita berusaha untuk rela dan terbuka bagi sesama dan senantiasa rendah hati dalam hidup. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Bening – Mu-Sa-Fir

Yesus, Imam Agung yang Berbelas Kasih – Renungan Hari Pertama Pekan Doa Sedunia

0

Yesus, Imam Agung yang Berbelas Kasih: Renungan Hari Pertama Pekan Doa Sedunia, 18 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Ibr. 7:1-3.15-17; Injil: Mrk. 3:1-6

Hidup manusia diatur dengan aturan, baik lisan maupun tertulis. Aturan-aturan ini bertujuan untuk membuat manusia saling menghargai satu sama lain sehingga kehidupan manusia menjadi lebih harmonis dan damai. Aturan yang ada juga bertujuan untuk membebaskan bukan membelenggu. Maka seharusnya setiap aturan yang dibuat harus berdasarkan cinta dan belaskasih.

Dalam bacaan-bacaan hari ini, Yesus tampil sebagai Imam Agung yang Berbelas kasih. Mengapa? Pertama, ‘Yesus adalah imam menurut tata Imamat Melkisedek.’ Ia sebagai imam bukan berdasarkan aturan-aturan manusia tetapi berdasarkan hidup yang tidak dapat binasa. Maka, Ia menawarkan kehidupan kekal kepada siapa saja yang percaya kepada-Nya. Ini menunjukkan belas kasih Allah bagi manusia karena Allah tidak mau manusia binasa. Maka, Yesus hadir sebagai imam yang membawa damai sejahtera Allah bagi manusia.

Kedua, ‘Yesus menunjukkan telada belas kasih-Nya kepada manusia.’ Teladan ini Dia berikan kepada seorang yang mati sebelah tangannya. Bagi Yesus, aturan hari Sabat memang penting tetapi lebih penting lagi adalah berbuat baik dan menyelamatkan nyawa orang. Maka, Yesus menunjukkan keberpihakkan-Nya kepada orang sakit walaupun hal ini dilakukan pada hari Sabat.

Bagaimana dengan saya? Apakah saya juga sudah membawa damai sejahtera bagi sesama? Apakah saya sudah berpihak pada sesama lewat tindakan belas kasih? Kita pun diutus untuk menghadirkan belas kasih Allah bagi sesama. Marilah kita saling menghargai dan menghormati karena dengan itu kita memanusiakan sesama kita. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Lopo – Mu-Sa-Fir

Harapan adalah Sauh yang Kuat – Renungan PW. Santo Antonius, Abas

0

Harapan adalah Sauh yang Kuat: Renungan PW. Santo Antonius, 17 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Ibr. 6:10-20; Injil: Mrk. 2:23-28

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Di tengah mulai landainya pandemi Covid-19 dan ekonomi pun mulai merangkak naik tetapi gelombang intoleransi tetap hadir menerpa, maka harapan ada Sauh yang kuat dan aman untuk dapat bertahan di tengah situasi ini. Sauh yang dimaksud adalah janji Allah yang diikat dalam sumpah-Nya dan terpenuhi lewat Yesus Kristus Tuhan kita yang adalah imam agung untuk selama-lamanya menurut Melkisedek. Lewat Yesus Kristus, setiap manusia diberikan harapan untuk hidup.

Harapan hidup itu dinyatakan dengan membiarkan para murid memetik bulir gandum pada hari Sabat karena bagi Yesus keselamatan dan kehidupan manusia lebih penting daripada hukum Sabat yang sifatnya membelenggu manusia: “Hari Sabat diadakan untuk manusia bukan manusia untuk hari Sabat”. Dengan ini mau menegaskan bahwa Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat dan hendaknya hari Sabat harus mendatangkan berkat bagi manusia, bukan menjadi belenggu dan malapetaka bagi Manusia.

Melalui hari Sabat, manusia harus hakikat dirinya dan selalu menaruh harapan pada Tuhan. Maka marilah kita tetap berharap pada Allah sekaligus menjadikan hari Sabat sebagai berkat bagi sesama. Kita harus memaknai hari Sabat dengan mengunjungi mereka yang sakit, memberi makan mereka yang lapar, membebaskan mereka yang terbelenggu sehingga mereka pun tetap memiliki harapan hidup dan senantiasa berharap pada Allah. Sanggupkah kita melakukan tugas ini? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Jangkar – Mu-Sa-Fir

Tahu dan Sadar Diri – Renungan Pekan Biasa II

0

Tahu dan Sadar Diri: Renungan Pekan Biasa II, 16 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Ibr. 5:1-10; Injil: Mrk. 2:18-22

Selain membawa dampak positif bagi manusia, perkembangan teknologi juga telah membawa dampak negatif bagi hidup manusia. Salah satunya adalah ‘budaya pamer’ tentang kehidupan pribadi; bahkan hidup beragama pun dipamerkan lewat media sosial demi mendapatkan pujian dan followers. Dengan adanya dampak negatif ini maka perlu dibangun sikap ‘tahu dan sadar diri’.

Sikap ini ditunjukkan dan diteladani oleh Yesus dalam karya pelayanan-Nya di dunia. Ia tahu dan sadar bahwa Ia adalah Anak sehingga Ia tidak mengangkat diri-Nya sendiri menjadi imam agung; Ia diangkat oleh Bapa-Nya sebagai imam agung berkat ketaatan-Nya kepada Bapa sehingga Ia menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.

Berbeda dengan Yesus yang memberikan teladan ketaatan-Nya lewat sikap-Nya yang tahu dan sadar diri serta perutusan-Nya, kaum Farisi menunjukkan sikap yang tidak tahu dan sadar diri sehingga mereka jatuh dalam ‘kesombongan rohani’. Mereka menuntut para murid Yesus untuk berpuasa seperti yang mereka lakukan. Namun tuntutan ini hanya menjadi ajang pamer bagi mereka supaya orang lain tahu bahwa mereka lagi berpuasa. Menanggapi tuntutan mereka, Yesus pun berkata: “Dapatkah sahabat-sahabat pengantin pria berpuasa selagi pengantin itu bersama mereka? Selama pengantin itu ada bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa.”

Melalui jawaban ini, Yesus sebagai pengantin Pria dan Gereja sebagai mempelai wanita mengajak kaum Farisi dan kita semua untuk tahu dan sadar diri sehingga kita mampu menjadi kantong kulit yang baru untuk menampung anggur baru dari kasih Allah lewat Kristus Yesus, Tuhan kita. Sanggupkah kita untuk tahu dan sadar diri sehingga kita tidak jatuh dalam kesombongan rohani dan juga tidak menjadi pribadi narsisme dan eksebisionisme. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
TSD – Mu-Sa-Fir

Gerakan Perubahan – Renungan Minggu Biasa II

0

Gerakan Perubahan: Renungan Minggu Biasa II, 15 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 49:3.5-6; Bacaan II: 1 Kor. 1:1-3; Injil: Yoh. 1:29-34

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Semenjak pandemi Covid 19 hingga saat ini, baik pemerintah maupun elit politik selalu menggaungkan gerakan perubahan di berbagai bidang. Bahkan ada partai yang didirikan dengan nama Partai Garuda (Partai Gerakan Perubahan Indonesia). Selain itu, Partai Nasdem juga menyerukan Gerakan Restorasi Indonesia dengan harapan untuk memulihkan dan mengembalikan cita-cita reformasi. Namun, gerakan ini belum menyentuh semua lapisan masyarakat dan hanya tinggal slogan tanpa makna karena tidak dilakukan dengan konsisten.

Gerakan perubahan juga menjadi tugas kenabian dari Hamba Yahwe. Ia diutus untuk menjadi terang demi membawa perubahan bukan di bidang politik tetapi lebih pada pertobatan: perubahan  mental dan moral dari sisa Israel. Ia juga berusaha agar bangsa-bangsa benar-benar mengenal Allah; mereka akan dibawa keluar dari kegelapan menuju cahaya Ilahi.

Hamba Yahwe yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya ini, diperkenalkan oleh Yohanes Pembaptis dengan seruan: “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia”, ketika ia melihat Yesus. Bagi Yohanes Pembaptis, Yesus adalah Hamba Yahwe yang membawa perubahan mental dan moral manusia dari zaman ke zaman.

Setiap kali kita merayakan Ekaristi, ketika mengangkat piala dan hosti, imam mengatakan: “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah saudara/i yang diundang perjamuan Anak Domba”. Maka seharusnya, ketika kita melihat dan menyantap Anak Domba Allah dalam Ekaristi, kita harus mengalami perubahan mental dan moral dalam hidup kita. Selain itu, kita harus berbahagia membawa perubahan mental dan moral itu bagi sesama sehingga mereka pun masuk dalam Terang kasih Allah.

Apakah perutusan yang kita terima setiap kali merayakan Ekaristi ini sudah kita laksanakan? Mari dengan bantuan Rahmat Allah kita berusaha untuk melakukan gerakan perubahan mental dan moral dalam diri, keluarga, dan komunitas kita masing-masing yang membawa kita pada pertobatan agar kita mampu tinggal dalam Terang kasih Allah. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Cover – Mu-Sa-Fir

Ikutlah Aku – Renungan Pekan Biasa I

0

Ikutlah Aku: Renungan Pekan Biasa I, 14 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Ibr. 4:12-16; Injil: Mrk. 2:13-17

‘Ikutlah Aku’, adalah sebuah kalimat ajakan dari orang yang kita kenal dan yang mengenal kita atau bahkan orang yang tidak kita kenal.

Hari ini, ketika Yesus melihat Lewi anak Alfeus lalu Ia berkata: “Ikutlah Aku!” Ajakan Yesus ini mengandung dua point’ antara lain: Pertama, ‘Mengikuti karya-Nya untuk mengantar orang lain kepada keselamatan’. Misi Yesus adalah mencari dan menyelamatkan orang berdosa sebab ‘Ia datang bukan untuk memanggil orang benar melainkan orang berdosa’. Kita pun dipanggil untuk meneruskan misi Yesus ini yakni membawa sesama kita pada Kristus Allah yang Maharahim.

Kedua, ‘Mengikuti Yesus dengan jalan memiliki hati yang rahim sehingga rela mengampuni’. Allah yang kita imani adalah Allah yang Maharahim sehingga kita tidak perlu takut menghadapi takhta Kerahiman-Nya. Allah yang Maharahim ini hadir melalui Yesus yang dengan kasih Kerahiman-Nya memanggil, menerima para pemungut cukai dan orang berdosa, berkumpul dan makan bersama mereka. Tindakan Yesus ini membongkar tembok keangkuhan kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat yang merasa diri paling suci namun mereka tidak mengikuti cara hidup Yesus.

Bagaimana dengan kita? Hari ini Yesus menyapa kita satu persatu dengan kasih-Nya dan mengajak kita untuk mengikuti karya pelayanan kasih dan Kerahiman-Nya. Dengan begitu kita menjadi orang-orang yang mengalami sukacita keselamatan sekaligus membawa sesama kita kepada Kristus Allah yang Maharahim. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Pastores – Mu-Sa-Fir

Usaha untuk Masuk – Renungan Pekan Biasa I

0

Usaha untuk Masuk: Renungan Pekan Biasa I, 13 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Ibr. 4:1-5.11; Injil: Mrk. 2:1-12

‘Hidup adalah usaha dan usaha untuk hidup’. Slogan kecil ini menegaskan kepada kita sekalian bahwa setiap manusia harus berusaha untuk tetap hidup. Usaha yang dimaksud tentu adalah usaha yang baik dan benar sesuai dengan kehendak Allah dan teladan Yesus Kristus.

Penulis surat Ibrani memberikan syarat untuk masuk dan diam bersama dengan Allah yakni ‘bertumbuh dalam iman dan taat pada Allah serta hidup dalam kebersamaan dengan Allah dan semua orang’.  Usaha ini tidak segampang membalikkan telapak tangan. Perlu pengorbanan yang ekstra untuk membongkar ‘atap’ kesombongan dan egoisme kita agar kita dapat masuk ke hadirat Allah.

Usaha untuk masuk ke hadapan Tuhan ditunjukkan oleh empat orang yang menggotong seorang sakit. Karena situasi dan kondisi serta lebih didasari oleh iman yang dihayati dalam pengorbanan, mereka dengan tulus dan berani menggotong si sakit, membongkar atap, dan menurunkan dia ke hadapan Yesus. Membongkar atap adalah simbol pengorbanan diri sekaligus keterbukaan hati untuk mengalahkan egoisme pribadi demi membawa si sakit kepada Yesus Kristus.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga berani membuka dan membongkar ‘atap’ kenyamanan hidup kita agar dapat masuk ke hadirat Allah? Apakah kita rela membuka dan membongkar atap yang menyelubungi dosa-dosa kita agar kita juga diampuni oleh Tuhan? Marilah kita berusaha untuk masuk ke hadirat Allah dengan hidup dalam iman dan taat pada kehendak Allah. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Bela Rasa – Mu-Sa-Fir

Minta Tolong – Renungan Pekan Biasa I

1

Minta Tolong: Renungan Pekan Biasa I, 12 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Ibr. 3:7-14; Injil: Mrk. 1:40-45

Dalam hidup bersama, setiap manusia membutuhkan sesamanya baik dalam suka maupun dalam duka. Namun, akhir-akhir ini banyak orang yang mau menolong sesamanya jika ada ‘sesuatu’ atau upah yang ia dapatkan. Selain itu, yang meminta bantuan juga kadang terkesan seperti memaksakan kehendaknya.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Hari ini, lewat kabar sukacita, kita diajarkan bagaimana meminta tolong kepada sesama dan bagaimana menolong sesama. Pertama, ‘minta tolong’ adalah sebuah frasa yang sederhana tetapi memiliki makna yang mendalam, serta merupakan wujud kerendahan hati. Si kusta datang pada Yesus dan sambil berlutut ia memohon bantuan Yesus katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Ini adalah sebuah permohonan yang lahir dari situasi konkret hidupnya dan merupakan perwujudan imannya akan Allah.

Kedua, ‘Menolong tanpa pamrih.’ Yesus mengajarkan kepada kita bagaimana cara menolong sesama. Ia dengan terbuka dan rela menjawab permohonan dari si kusta dengan berkata: “Aku mau, jadilah engkau Tahir.” Jawaban Yesus merupakan bukti cinta kasih-Nya yang tanpa pamrih bagi manusia. Ia adalah Allah yang penuh kasih. Walaupun manusia memberontak melawannya seperti yang dilakukan bangsa Israel tetapi Ia tetap membawa mereka masuk ke tanah terjanji.

Maka dari itu, sebagai orang Kristiani yang telah mengalami kasih Allah, hendaklah kita tidak tegar hati. Kita harus memiliki hati yang terbuka untuk menolong sesama tanpa pamrih seperti teladan Yesus. Kita juga harus terbuka untuk menasihati sesama kita agar tetap hidup dalam kasih Allah. Selain itu, kita juga harus dengan rendah hati memohon bantuan Allah dalam setiap perjuangan hidup kita sehingga dapat memperoleh bagian dalam Kristus. Marilah kita juga tulus meminta bantuan pada sesama tanpa memaksakan kehendak dan tanpa modus tertentu. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Vixion – Mu-Sa-Fir

Dokar bersama Yesus – Renungan Pekan Biasa I

1

Dokar bersama Yesus: Renungan Pekan Biasa I, 11 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Ibr. 2:14-18; Injil: Mrk. 1:29-39

Dokar adalah kereta beroda dua yang ditarik oleh kuda dan merupakan alat tranportasi tradisional warisan budaya Jawa. Di satu sisi karena perkembangan teknologi, dokar semakin tersisih dari hiruk-pikuk dunia modern; namun di sisi lain, dokar masih menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Seperti halnya dokar sebagai kendaraan tradisional yang di satu sisi masih memiliki daya tarik dan di sisi lain juga semakin tersisih, begitu juga hidup manusia jika jauh dari Yesus. Harus disadari bahwa Yesus menjadi sama dengan manusia dan mendapat bagian dalam keadaan manusia supaya melalui kematian-Nya, Yesus memusnahkan dia, yakni iblis yang berkuasa atas maut, dan juga membebaskan manusia yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan karena takut akan maut. Sebab sesungguhnya manusialah yang dikasihi oleh Allah sehingga Ia mengutus Yesus Kristus Putra-Nya untuk menyelamatkan kita.

Untuk tetap hidup dalam kehendak Allah dan mengalami sukacita, maka kita harus mengendarai ‘DoKar’ (Doa dan Karya) bersama dengan Yesus. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa doa merupakan kekuatan untuk melaksanakan karya dan kehendak Allah. Maka Ia pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa memohon kekuatan dari Bapa-Nya.

Yesus juga mengajarkan bahwa karya adalah perwujudan dari doa. Maka Ia dengan tulus melayani mereka yang sakit dan menderita. Bahkan, Ia dengan tegas dan berani mengambil keputusan untuk pergi ke tempat-tempat yang lain untuk memberitakan Injil karena itulah perutusan-Nya.

Bagaimana dengan saya? Apakah saya tetap mengendarai DoKar (Doa dan Karya) bersama Yesus? Apakah doaku berbuah dalam karya dan perutusan tanpa pamrih? Apakah karyaku adalah doa pujian yang tak kunjung putus bagi Allah? Marilah kita tetap bersama Yesus mengendarai DoKar agar kita tidak tersisih dan terkikis oleh perkembangan dunia. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Durian – Mu-Sa-Fir