5.6 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 13

Waspada dan Tetap Teguh dalam Iman – Renungan Pesta St. Stefanus, Martir Pertama

0

Waspada dan Tetap Teguh dalam Iman: Renungan Pesta St. Stefanus, Martir Pertama, 26 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 6:8-10; 7:54-59; Injil: Mat. 10:17-22

[postingan number=3 tag= ‘martir’]

Terang dan kegelapan, kebaikan dan kejahatan, kasih dan kebencian adalah realita dan situasi yang senantiasa mengiringi perjalanan hidup manusia siapa pun dia, di mana pun dan dalam keadaan apapun.

Karena situasi inilah, maka di hari kedua dalam Oktaf Natal ini, Yesus hadir dengan Sabda-Nya untuk mengingatkan para murid-Nya dengan berkata, ”Waspadalah terhadap semua orang.”

Peringatan Yesus ini diberikan ketika Ia mengutus murid-murid-Nya untuk mewartakan Injil. Mengapa Yesus mengingatkan para murid-Nya tentang hal ini? Karena para murid diutus seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Dunia adalah serigala yang senantiasa menghadirkan ancaman dan tantangan bagi para murid Yesus.

Sabda Yesus di atas terjadi pada Stefanus, seorang diakon yang percaya teguh pada Kristus. Ia menghadapi serigala dunia yang diwakili oleh kelompok orang-orang Libertini dan juga Mahkamah Agama Yahudi. Dalam situasi ini, Stefanus dengan penuh iman melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah. Keteguhan imannya juga ditampakkan ketika dirajam dengan batu; Ia pun berkata: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.”

Kegelapan, kebencian kepada kita yang beriman pada Kristus, dan juga perdebatan  tentang iman akan Kristus, juga terus dialami hingga saat ini. Maka yang diperlukan dari kita adalah tetap waspada karena manusia zaman ini bisa hadir sebagai serigala berbulu domba, teman bisa jadi lawan, sahabat bisa jadi pengkhianat. Selain itu, kita juga harus tetap teguh dalam iman akan Kristus karena Dialah Sang Imanuel: Allah berserta kita. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Tahura – Mu-Sa-Fir

Bersujud dan Memuji Tuhan – Renungan Hari Biasa Khusus Adven

0

Bersujud dan Memuji Tuhan: Renungan Hari Biasa Khusus Adven, 22 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: 1 Sam. 1:24-28; Injil: Luk. 1:46-56

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Sikap bersujud dan memuji Allah adalah bukti kerendahan hati manusia yang tahu dan sadar untuk bersyukur atas rahmat kasih Allah yang diterima dalam hidup. Teladan ini ditunjukkan oleh Hana dan Bunda Maria.

Hana yang mandul dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Samuel ketika ia berdoa sambil menangis kepada Tuhan. Karena Tuhan mengabulkan doanya dengan memberikan dia seorang anak laki-laki maka Hana pun mengembalikan anak itu kepada Tuhan sebagai wujud syukurnya. Baginya hidup dan masa depan anaknya terserah pada kehendak Tuhan.

Seperti halnya Hana, Maria juga memuji keagungan Tuhan atas rahmat kasih-Nya bagi Maria dan semua umat manusia. Maria tidak menyombongkan diri karena dipuji bahagia oleh Elisabet, sebaliknya ia dengan rendah hati memuji Tuhan Allah sebagai juru selamatnya. Nyanyian pujian Maria ini sebagai wujud syukurnya atas kasih karunia Allah yang ia terima sebagai ibu bagi Sang Mesias.

Bagaimana dengan kita? Pada persiapan untuk menyambut perayaan kelahiran Yesus ini, mari kita menyadari dan  mensyukuri perbuatan-perbuatan besar yang sudah dilakukan oleh Allah bagi kita terutama dalam kelahiran Yesus. Semakin besar kesadaran ini, semakin besar pula pujian syukur kita bagi Allah. Perlu juga kita sadari bahwa jangan sampai kebahagiaan dan syukur kita hanya sebatas harta benda fana yang kita miliki tetapi lebih daripada itu karena kasih karunia Allah yang dianugerahkan bagi kita lewat Yesus Kristus Tuhan kita. Sanggupkah kita mampu bersujud dan memuji Allah dalam hidup kita seperti teladan Hana dan Bunda Maria? Semoga doa Keluarga Kudus Nazaret membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Rekonsiliasi – Mu-Sa-Fir

Bawa Yesus pada Sesama – Renungan Hari Biasa Khusus Adven

0

Bawa Yesus pada Sesama: Renungan Hari Biasa Khusus Adven, 21 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Zef. 3:14-18a; Injil: Luk. 1:39-45

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Ketika mengadakan perjalanan ke suatu tempat, setiap orang pasti mempersiapkan diri dengan baik maupun mempersiapkan segala sesuatu yang harus dibawa. Hal ini juga dilakukan oleh Maria ketika mengunjungi Elisabet saudarinya. Namun yang utama dan pertama yang dibawa oleh Maria adalah bayi Yesus yang ada dalam kandungannya. Bayi itu adalah Putra Allah yang menjadi manusia dalam rahim Maria. Maka kehadiran Maria membawa Yesus dalam rahimnya mau menegaskan nubuat nabi  Zefanya bahwa “Jangan takut, hai Sion! Tuhan Allahmu ada di tengah-tengahmu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan.” Tuhan Allah tidak lagi hadir dalam kemegahan dan keagungan serta kemuliaan-Nya, tetapi hadir dalam diri Maria yang sederhana dan kasat mata.

Kehadiran Maria yang membawa Yesus dalam rahimnya telah membawa sukacita bagi dunia yang diwakilkan oleh bayi Yohanes Pembaptis yang ada dalam rahim Elisabet karena ketika mendengar salam Maria, Yohanes melonjak kegirangan karena ia berjumpa dengan Allah. Hal ini juga membuat Elisabet penuh dengan Roh Kudus dan ia memuji Maria dengan berkata: “Diberkatilah engkau di antara semua wanita, dan Diberkatilah buah rahimmu.”

Sebagai orang Katolik, kita juga harus membawa Yesus kemana pun, di manapun dan kapan pun serta kepada siapa pun sehingga sukacita dapat hadir dalam diri umat manusia. Mampukah kita membawa Yesus dalam hidup kita dan menjadi sukacita bagi sesama? Semoga doa Keluarga Kudus Nazaret membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
SPN – Mu-Sa-Fir

Berita Sukacita – Renungan Hari Biasa Khusus Adven

0

Berita Sukacita: Renungan Hari Biasa Khusus Adven, 20 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 7:10-14; Injil: Luk. 1:26-38

Setiap orang yang berada dalam kesulitan dan kesusahan hidup mendambakan bantuan Allah. Hal ini dialami oleh Raja Ahas dan bangsa Israel. Mereka mengalami perpecahan karena tidak adanya putra mahkota yang akan menduduki takhta kerajaan karena Raja Ahas belum memiliki keturunan. Di tengah situasi ini Allah memberikan tanda yang besar lewat nubuat dari Nabi Yesaya yakni “Sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan ia akan menamai Dia Imanuel”. Ini adalah kabar sukacita bagi Israel karena Allah selalu menyertai mereka.

Kabar Sukacita yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya terpenuhi dan terwujud dalam diri Maria perempuan muda dari Nazaret. Ia adalah perempuan muda yang diberkati Tuhan sehingga ia dengan mantap menerima tugas sebagai ibu Sang Mesias. Ia dengan tegas dan mantap berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu”. Tanggapan dan kesiapsediaan Bunda Maria menjadi ibu Sang Mesias adalah kabar sukacita bagi dunia karena Allah akan melawat umat-Nya.

Kita pun dipanggil dan diutus untuk membawa sukacita bagi dunia. Kehadiran kita adalah sukacita bagi sesama karena kita sudah mengalami sukacita dari Tuhan. Namun kadang kehadiran kita membuat sesama bersedih, kecewa, marah,dan sebagainya. Oleh karena itu, marilah di masa Adven ini kita berusaha menjadi sumber sukacita bagi sesama. Semoga doa Keluarga Kudus Nazaret membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Rekonsiliasi – Mu-Sa-Fir

Wasiat Yakub – Renungan Hari Sabtu Khusus Adven

0

Wasiat Yakub: Renungan Hari Sabtu Khusus Adven, 17 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Kej. 49:2.8-10; Injil: Mat. 1:1-17

Dalam hidup ini, ada kebiasaan baik yang sering dilakukan, misalnya sebelum menghadapi ajal, seseorang diminta untuk membuat surat wasiat atau memberikan pesan penting bagi anak-anak dan keluarganya. Hal ini jugalah yang dilakukan oleh Yakub. Ia memberikan wasiat kepada anak-anaknya tentang anaknya ‘Yehuda yang akan dipuji oleh saudara-saudaranya bahkan tongkat Kerajaan tidak beranjak dari darinya, atapun lambang pemerintahan dari kakinya, sampai datanglah dia yang berhak atasnya dan kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.’ Wasiat ini terpenuhi dalam diri Yesus Kristus Tuhan kita yang adalah keturunan Abraham, Yehuda dan Daud.

Namun perlu kita sadari bahwa dalam melaksanakan kehendak-Nya, Allah tidak hanya memilih orang-orang benar tetapi juga orang-orang yang tidak benar. Dengan demikian, Allah mau merajut kembali benang kasih yang kusut karena dosa dengan Kerahiman-Nya sehingga setiap orang memiliki hak yang sama untuk mengalami keselamatan yang dari pada-Nya.

Dalam Novena Natal hari yang kedua ini, kita diajak untuk tidak menilai seseorang dari latar belakangnya, tetapi harus membiarkan kekuatan rahmat Allah bekerja dalam diri kita dan sesama agar karya keselamatan Allah dapat terwujud. Marilah kita membuka diri kita terhadap rahmat Allah yang hadir melalui Yesus Kristus Tuhan kita, agar kita pun terbuka terhadap sesama. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
SeCaBa – Mu-Sa-Fir

Kesaksian-Ku adalah Karya Kasih, Bukan Kata Indah – Renungan Hari Jumat Pekan III Adven

0

Kesaksian-Ku adalah Karya Kasih, Bukan Kata Indah: Renungan Hari Jumat Pekan III Adven, 16 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 56:1-3a.6-8; Injil: Yoh. 5:33-36

Sebentar lagi kita memasuki pekan khusus dalam Masa Adven dan pembukaan Novena Natal, maka kita diharapkan untuk melakukan perbuatan cinta kasih dari pada kata-kata indah tanpa karya nyata.

Firman Tuhan yang hadir lewat Nabi Yesaya meminta kepada bangsa Israel untuk mentaati hukum dan menegakkan keadilan karena sebentar lagi akan datang keselamatan yang dari Tuhan. Bagaimana caranya? Bukan dengan berbicara tentang keadilan dan hukum tetapi dengan berlaku adil terhadap sesama dan mentaati aturan atau hukum Allah: memelihara hari Sabat, tidak berbuat jahat dan tidak menajiskan diri melainkan hidup dalam kesucian. Dengan berlaku demikian, bangsa Israel dan kita sebagai Israel yang baru akan memperoleh kebahagiaan.

“Segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku supaya Kulaksanakan adalah kesaksian yang lebih penting dari kesaksian Yohanes”. Inilah yang ditegaskan oleh Yesus. Yesus tahu dan sadar bahwa pada dasarnya manusia lebih banyak bicara daripada berkarya. Maka, Dia dengan tegas menekankan “Pekerjaan yang diberikan oleh Bapa kepada-Ku untuk Kulaksanakan, itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Aku adalah utusan Allah”.

Bagaimana dengan kita di Masa Adven ini? Kita diajak untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang benar dan penuh kasih, seperti Yohanes Pembaptis, agar kita juga menjadi pelita yang bernyala dan bercahaya di tengah dunia. Pekerjaan-pekerjaan yang benar itu mampu memberi kesaksian tentang Sang Kebenaran Sejati, yakni Yesus Kristus Tuhan kita. Oleh karena itu, mari merajut kasih dalam karya nyata daripada merangkai kata-kata indah tanpa makna. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Km. 71 – Mu-Sa-Fir

Bertobat: Membuka Diri bagi Allah dan Sesama – Renungan Hari Kamis Pekan III Adven

0

Bertobat: Membuka Diri bagi Allah dan Sesama: Renungan Hari Kamis Pekan III Adven, 15 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 54:1-10; Injil: Luk. 7:24-30

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Bertobat adalah jalan untuk menyambut kedatangan Sang Mesias. Ibarat sebuah kemah, itulah diri kita sebagai Gereja. Kita harus membiarkan diri kita terbuka agar mendapat  rahmat kasih Allah, dapat masuk ke dalamnya, juga sesama dapat berteduh di dalamnya.

Rahmat kasih Allah yang membawa pertobatan bagi kita harus kita bagikan kepada sesama seperti tali kemah yang panjang; serta harus teguh dalam iman akan Allah seperti patok-patok kemah supaya tidak tergerus oleh arus zaman.

Warta pertobatan juga diserukan oleh Yohanes Pembaptis. Dialah utusan Allah yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Mesias. Warta pertobatan yang ia serukan adalah warta yang relevan dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi. Warta pertobatan telah membuka pintu-pintu kemah hati kita untuk menerima Kristus Sang Mesias karena ‘Dia yang terkecil dalam Kerajaan Surga adalah yang dari segala sesuatu’.

Marilah kita buka kemah hati kita untuk menerima Yesus Kristus Tuhan kita dan menerima sesama dalam kasih-Nya. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Kain – Mu-Sa-Fir

Kerjaku, Identitasku – Renungan PW. St. Yohanes dari Salib, Imam dan Pujangga Gereja

0

Kerjaku, Identitasku: Renungan PW. St. Yohanes dari Salib, Imam dan Pujangga Gereja, 14 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 45:6b-8,18,21b-25; Injil: Luk. 7:19-23

[postingan number=3 tag= ‘martir’]

Karya atau kerja adalah jalan untuk menunjukkan jati diri atau identitas seseorang. Melalui kerja dan atau karya kita dapat mengenal dan memahami jati diri seseorang. Nabi Yesaya dalam bacaan pertama menunjukkan jati diri atau identitas Allah yakni sebagai pencipta segala sesuatu. Dia jugalah yang memberikan kebahagiaan, sukacita, keadilan, kekuatan. Sebab itu, manusia harus membuka diri bagi Allah seperti alam yang membuka diri bagi curahan air hujan; sehingga manusia dapat mengalami keselamatan dan keadilan dari Allah. Dengan mengatakan “Akulah Tuhan dan tiada yang lain”, Allah mau menegaskan bahwa Dia adalah satu-satunya Allah yang hidup, yang menciptakan segala sesuatu dan menganugerahkan segalanya bagi manusia.

Pekerjaan dan karya Yesus membawa perubahan dan pembaruan bagi seluruh alam semesta.

Identitas dan jati diri Allah itu dapat kita kenal dalam setiap pekerjaan dan karya yang dilakukan oleh Yesus Kristus Tuhan kita. Ketika Yohanes Pembaptis menyuruh murid-muridnya untuk bertanya kepada Yesus: “Tuanku yang kami tunggu kedatangannya atau haruskah kami menantikan seorang lain?” Yesus menjawab dengan menunjukkan karya dan pekerjaan-Nya: “Pergilah dan katakanlah kepad Yohanes apa yang kalian lihat dan kalian dengar: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi Tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik”. Semua pekerjaan ini menunjukkan kemesiasan Yesus. Dia adalah Allah pencipta dan yang menjadikan segala sesuatu. Pekerjaan dan karya Yesus membawa perubahan dan pembaruan bagi seluruh alam semesta.

Pekerjaan baik dan pembaruan ini yang juga diikuti oleh St. Yohanes dari Salib yang walaupun mengalami penderitaan dalam penjara namun keheningan telah mengantarnya pada pembaruan terhadap ordo Carmel. Maka marilah di masa Adven ini kita tetap berpegang teguh pada Allah dan melakukan pekerjaan-pekerjaan baik sebagai bukti identitas kita yang adalah anak-anak Allah. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Bakpia – Mu-Sa-Fir

Merindukan Tuhan yang Kuat dan Berkuasa – Renungan Hari Rabu Pekan III Adven

0

Merindukan Tuhan yang Kuat dan Berkuasa: Renungan Hari Rabu Pekan III Adven, 14 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 45:6b-8,18,21b-25; Injil: Luk. 7:19-23

Ketika kita sadar bahwa tujuan utama kita di dunia adalah untuk mengenal Allah, maka masalah-masalah hidup kita akan berada pada jalan dan porsinya. Demikian ungkap James Innell Packer, seorang teolog Ingris kelahiran Kanada.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Ada begitu banyak cara dan jalan untuk mengenal Tuhan. Kita mampu mengenal Tuhan hanya ketika Ia menyatakan diri-Nya kepada manusia. Peristiwa inkarnasi menjadi puncak pewahyuan diri Allah dan kesempatan terbaik untuk mengenal Allah, yakni ketika Allah menjadi manusia dalam diri Yesus dan tinggal di antara kita (Emmanuel).

Dalam masa adven (penantian) akan kedatangan Tuhan ini kita diberikan kesempatan untuk mempersiapkan diri: pikiran dan hati kita  butuh waktu untuk menerima anugerah besar mengenal Allah. Kita akan mengalami kasih Allah yang nyata melalui kelahiran Yesus.

Yesaya dalam bacaan hari ini mengungkapkan bahwa Allah memakai Koresh untuk memperkenalkan diri-Nya baik di hadapan umat Israel maupun di hadapan bangsa-bangsa asing. Allah ingin meningatkan kembali umat israel akan identitas diri-Nya yang telah mereka lupakan. Tuhan menunjukkan diri-Nya sebagai Allah pencipta:  Tuhan yang Esa, Allah pencipta dan tidak ada yang lain. Ia akan memberikan keselamatan kepada yang setia dan keadilan kepada yang bertekuk lutut di hadapan-Nya. Pemazmur memuji peran Allah yang memulihkan dan menyelamatkan umat-Nya dengan berseru, “Tuhan akan memberikan kesejahteraan, dan negeri kita akan memberikan hasil. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya dan damai akan menyusul di belakang-Nya” (Mzm. 85:13-14). Identitas dan kuasa kekuatan Tuhan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dalam setiap situasi dan keadaaan Tuhan tampil secara penuh.

Kita akan mengalami kasih Allah yang nyata melalui kelahiran Yesus.

Kuasa Allah mampu mengubah segalanya. Dalam karya pelayanan-Nya, Tuhan menyatakan diri-Nya kepada manusia. Bacaan Injil Lukas memberikan penegasan tentang identitas Tuhan dengan hadir dalam kuasa kerajaan Allah: Ia melakukan mukjizat penyembuhan dan pengusiran setan. Kemudian Ia juga mengungkapkan Sabda Bahagia kepada yang miskin. Janji keselamatan Allah nyata dalam diri Anak yang diurapi, Mesias dan Kristus Sang Penebus.

Dalam hidup ini kita semua membutuhkan kuasa penyelamatan Allah. Peristiwa saat Allah menyapa, mengubah, menyembuhkan dan menyelamatkan harus dilihat pertama-tama sebagai inisiatif Allah mengasih kita. Kedua, kita melihat sebagai pangalaman iman di mana Allah mengajak kita untuk berbagi kasih dengan sesama yang membutuhkan. Orang lain juga ingin melihat dan mengalami bagaimana Allah mengubah kita. Kita harus menjada tanda dan sarana keselamatan:perubahan bagi orang lain. Dalam diri kita ada kerinduan untuk mengenal dan dekat dengan Tuhan. Kita juga diberikan kemampuan untuk mencari dan menemukan jalan dan cara untuk mengenal Tuhan.

Doa-doa juga mampu mendekatkan kita dengan Allah.

Sebagai orang Katolik kita tidak hanya diharapkan untuk mengenal Allah tetapi juga diundang untuk membangun relasi dengan Dia dalam iman yang mendalam. Pengenalan akan Allah membuka saluran rahmat yang mengalirkan kasih Allah untuk diri sendiri dan juga orang lain. Allah dikenal secara komplit dalam diri Yesus Kristus, Allah menjadi manusia. Allah dikenal melalui Gereja sebagai tubuh mistik Kristus. Allah dikenal juga melalui Kitab Suci sebagai Sabda-Nya. Kita juga dapat mengenal Allah melalui alam, seni, hati nurani, pikiran logis, pengalaman pribadi maupun kolektif dan sosok orang kudus. Selain itu dengan melakukan kehendak dan perintah-Nya kita mengenal Dia. Doa-doa juga mampu mendekatkan kita dengan Allah.

Sebagai orang beriman cara hidup kita akan menjadi cover yang menampilkan identitas kita. Dalam masa adven ini kita berharap agar Tuhan dengan cara-Nya mengunjungi kita dan meneguhkan kita untuk berubah. Semoga Tuhan menyembuhkan kita dari sakit spiritual serta membuka mata hati kita untuk menemukan cara-cara lain mengenal Dia.

Cahaya Harapan – Renungan PW. Santa Lusia, Perawan dan Martir

0

Cahaya Harapan: Renungan PW. Santa Lusia, Perawan dan Martir, 13 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Zef. 3:1-2.9-13; Injil: Mat. 21:28-32

Di dalam gelap gulita karena dosa, umat manusia mengharapkan cahaya. Cahaya itu berasal dari Allah yang senantiasa menjaga dan melindungi ‘sisa Israel’, sebuah komunitas kecil yang hidup dengan rendah hati, senantiasa berpasrah pada Allah, jujur, peduli, tulus, dan setia. Komunitas kecil ini hidup sesuai dengan hukum Tuhan dan mencerminkan kesatuan antara kata dan tindakan, iman dan perbuatan.

[postingan number=3 tag= ‘martir’]

Kerendahan hati, ketulusan, kejujuran dan sikap pasrah pada Allah inilah yang menjadi persoalan dalam perumpamaan Yesus hari ini. Anak sulung yang diminta bapanya untuk bekerja di ladang dengan mantap menjawab ‘ya’ tetapi tidak melaksanakannya. Sebaliknya anak kedua menolak permintaan bapanya untuk bekerja di ladang tetapi kemudian ia menyesal dan dengan setia pergi bekerja di ladang. Kedua anak ini tidak hidup dalam kejujuran, kepasrahan, kerendahan hati dan ketulusan di hadapan Allah.

Sisa Israel adalah anak ketiga yang mengiyakan permintaan bapanya dan melaksanakannya dengan setia, benar dan penuh tanggung jawab. Sikap sisa Israel ini harus menjadi teladan bagi kita bagaimana kita harus mempersiapkan diri menyambut kedatangan Mesias. Sisa Israel telah memberikan cahaya Allah bagi kita dalam ziarah hidup kita. Selain itu, salah satu contoh sisa Israel adalah St. Lusia. Lusia berarti cahaya, dan sesuai dengan arti namanya, ia telah memancarkan cahaya iman yang teguh pada Allah, walaupun sakit mendera karena penganiayaan, ia tetap setia pada Allah. Mampukan kita menjadi cahaya bagi sesama melalui sikap pasrah, peduli, jujur, rendah hati dan setia?

Marilah kita berusaha menjadi ‘sisa Israel’ yang membawa cahaya harapan bagi sesama di masa penantian ini. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Nur – Mu-Sa-Fir