8.5 C
New York
Sunday, April 5, 2026
Home Blog Page 2

Kasih Tak Mengenal Batas – Renungan Hari Kamis Pekan Paskah V

people, friends, group
Gambar diambil dari: Pixabay.com

Kasih Tak Mengenal Batas: Renungan Hari Kamis Pekan Paskah V, 02 Mei 2024 — JalaPress.comBacaan I: Kis. 15:7-21; Injil: Yoh. 15:9-11

Kasih tak mengenal ruang dan waktu karena kasih itu sangat luas, sangat dalam, dan menjangkau setiap hati. Kasih yang sempurna berasal dari Allah, maka Yesus berkata: “Seperti Bapa mengasihi Aku, demikianlah Aku mengasih kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu”. Sabda Yesus ini mengajak kita untuk tinggal dalam kasih-Nya agar kita dalam ketidaksempurnaan sekalipun, mampu mengasihi dengan sempurna sehingga sukacita selalu bersemi dalam hati kita semua.

Keselamatan Allah dapat menjangkau semua bangsa bukan karena sunat tetapi berkat kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus.

Karena kasih Allah tak mengenal ruang dan waktu, maka Sabda-Nya juga ditujukan kepada semua bangsa. Mengapa? Karena Allah mau agar semua manusia selamat. Hal inilah yang ditegaskan oleh Rasul Petrus dalam sidang di Yerusalem. Keselamatan Allah dapat menjangkau semua bangsa bukan karena sunat tetapi berkat kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus.

Oleh karena kita adalah orang-orang yang dikasihi dan diselamatkan oleh Allah lewat Yesus Kristus maka marilah kita juga mengasihi semua orang tanpa batas ruang dan waktu. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Bekerja Menghasilkan Buah – Renungan Hari Rabu Pekan Paskah V

agriculture, cambodia, culture
Gambar diambil dari: Pixabay.com

Bekerja Menghasilkan Buah: Renungan Hari Rabu Pekan Paskah V, 01 Mei 2024 — JalaPress.comBacaan I: Kis. 15:1-6; Injil: Yoh. 15:1-8

Tanggal 01 Mei setiap tahun diperingati sebagai hari buruh sedunia. Di hari ini, para buruh berjuang untuk menyuarakan keadilan demi meningkatkan kesejahteraan bagi hidup mereka.

Berkaitan dengan menyuarakan keadilan, Rasul Paulus dan Barnabas diutus oleh jemaat di Antiokhia untuk  mendiskusikan tentang ‘sunat seturut adat istiadat Yahudi’ karena ada orang dari Yudea yang mengajarkan bahwa ‘Jika mereka tidak disunat menurut adat istiadat Yahudi, maka mereka tidak akan diselamatkan’. Selain mencari keadilan, hal tersebut didiskusikan karena Sabda Allah juga ditujukan kepada bangsa-bangsa lain.

Dari St. Yosef kita belajar bahwa setiap pekerjaan yang kita lakukan adalah demi memuliakan Allah.

Buah yang dihasilkan oleh Rasul Paulus dan Barnabas adalah buah kasih, keadilan, kebaikan dan kepedulian karena mereka tinggal pada Yesus Sang pokok anggur sejati. Kita pun dituntut untuk tinggal dan bersatu dengan Yesus Sang Pokok anggur sejati agar dapat menghasilkan buah berlimpah.

Selain itu, kita juga boleh belajar dari Bunda Maria dan Santo Yosef yang setia pada pekerjaan dan perutusan yang diberikan oleh Allah kepada mereka. Bunda Maria dengan tegas dan rendah hati mengatakan “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut kehendak-Mu” dan perkataan ini dilaksanakan dengan baik dan benar.

Santo Yosef setia mendampingi Bunda Maria dan melindungi keluarga Kudus lewat pekerjaan yang ia lakukan. Dari St. Yosef kita belajar bahwa setiap pekerjaan yang kita lakukan adalah demi memuliakan Allah. Ketika hal ini kita lakukan maka kita akan menghasilkan buah-buah yang baik dan benar bagi sesama. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Mengenal Dia dengan Hati – Renungan Hari Sabtu Pekan IV Paskah

0
religious concert performed by a band on stage

Mengenal Dia dengan Hati: Renungan Hari Sabtu Pekan IV Paskah, 27 April 2024 — JalaPress.comBacaan I: Kis. 13:44-52; Injil: Yoh. 14:7-14

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan sesamanya dan membangun relasi dengan sesamanya. Untuk membangun relasi dengan sesamanya, seseorang perlu mengenal sesama yang ada di sekitarnya. Namun, harus diakui bahwa kadang begitu sulit mengenal seseorang secara mendalam, apalagi bila hati manusia itu tidak terbuka untuk menerima dan mengenalnya.

Hal ini terjadi atas Filipus dan para murid yang lain. Mereka belum sesungguhnya mengenal Yesus secara mendalam. Ini terbukti ketika Yesus berkata: “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu mengenal Bapa-Ku”, dan perkataan Yesus ini disanggah oleh  Filipus dengan berkata: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa kepada kami dan itu sudah cukup bagi kami!”

Untuk menjawab apa yang disampaikan oleh Filipus, Yesus berkata: “Barangsiapa telah melihat Aku, ia melihat Bapa”. Ini menegaskan bahwa Yesus di dalam Bapa dan Bapa di dalam Yesus. Maka ketika kita dengan tulus dan sungguh-sungguh mengenal Yesus maka dengan sendirinya kita mengenal Bapa.

Walaupun sebelumnya para murid belum sesungguhnya mengenal Yesus, tetapi peristiwa kebangkitan Yesus mengubah semuanya. Para murid dalam kekurangannya berani mewartakan Kristus. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah sungguh-sungguh mengenal Yesus Kristus?

Mari kita buka hati kita masing-masing agar dapat mengenal Yesus dengan lebih dalam dan berani bersaksi tentang kasih-Nya. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Tempat yang Terindah – Renungan Hari Jumat Pekan IV Paskah

0
person, sit, bench

Tempat yang Terindah: Renungan Hari Jumat Pekan IV Paskah, 26 April 2024 — JalaPress.comBacaan I: Kis. 12:26-33; Injil: Yoh. 14:1-6

Hari ini, Yesus menegaskan bahwa  ‘Janganlah gelisah hatimu. Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Sebab, Aku pergi untuk menyesuaikan tempat bagimu’.

Dalam hidup ini, banyak orang tidak mempunyai tempat tinggal. Bumi menjadi rumah mereka dan langit menjadi atapnya. Dalam situasi ini, harapan mereka satu-satunya hanya pada Tuhan.

Patut kita sadari bahwa di bumi ini tidak ada satu pun tempat yang lebih indah dari tempat yang disediakan oleh Yesus bagi kita. Mengapa? Karena di tempat yang disediakan bagi kita, di situ juga Yesus berada. Dengan kata lain, tempat itu menjadi yang terindah karena kita akan tinggal bersama-sama dengan Yesus.

Bagaimana caranya supaya kita dapat tinggal bersama dengan Yesus? Caranya adalah bahwa kita harus percaya dan beriman kepada-Nya; karena Ia adalah ‘Jalan, Kebenaran dan Hidup’. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Antara Indiferentisme dan Ajaran EENS: Gereja Katolik bilang Apa?

0
chile, south america, church

Ada dua pokok bahasan yang ingin kita ulas di dalam Katekese kali ini. Yang pertama tentang indiferentisme, dan yang kedua tentang ajaran EENS.

Indiferentisme merupakan suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama [bahkan aliran kepercayaan] di dunia ini sama baiknya [kalau demikian juga sama buruknya!]. Ini berarti bahwa semua agama sama saja.

Apakah indiferentisme merupakan cerminan toleransi? Jawabannya: sama sekali tidak. Paham ini sangat subyektif dan lebih mencerminkan apatisme (sikap masa bodoh) terhadap perbedaan-perbedaan daripada toleransi. Lebih dari itu, indiferentisme juga pada prinsipnya kontradiktoris. Mengapa? Sebab fakta menunjukkan bahwa agama-agama bukan hanya tidak sama, melainkan dalam berbagai hal bertentangan satu sama lain.

Sadar atau tidak, indiferentisme sering hinggap di kepala orang yang pindah Gereja. Entah memang demikianlah pandangan yang dianut, atau sekedar rasionalisasi (mencari-cari alasan logis) untuk membenarkan keputusannya. Menurut mereka, semua agama berbicara tentang kebenaran, hanya bahasanya saja yang berbeda. Yang penting: Yesus!

Dalam bahasa yang tegas, Gereja Katolik telah mengutuk gagasan ini sebagai suatu kesesatan, karena merupakan penyangkalan terhadap ajaran Extra Ecclesiam Nulla Salus atau yang biasa disingkat EENS.

Terjemahan EENS (Extra Eccesiam nulla salus) adalah: di luar Gereja Katolik tidak ada keselamatan. Ungkapan ini mengajarkan bahwa semua keselamatan datang dari Yesus Kristus sebagai Kepala, dan disalurkan melalui Gereja sebagai Tubuh Mistik-Nya.

Banyak orang salah paham terhadap ajaran EENS ini, dan menganggap Gereja Katolik ‘arogan‘. Namun, sebenarnya, jika kita memahami alasannya, maka kita melihat bahwa Kristuslah yang sesungguhnya memberikan prinsip EENS ini, yaitu: (1) Gereja tidak pernah terlepas dari Kristus; (2) Ajaran iman dan baptisan yang diperlukan untuk keselamatan dipercayakan kepada Gereja; dan (3) Gereja menjadi sarana keselamatan.

Untuk memahami suatu ajaran Gereja, seseorang harus tahu terlebih dahulu konteks sejarah munculnya ajaran itu: mengapa ajaran seperti itu ditulis, apa yang terjadi dalam Gereja pada masa itu, siapa yang ditujukan dengan ajaran itu, dan sebagainya. Seseorang juga harus bisa menemukan bagaimana Magisterium memahami ajarannya itu. Jika seseorang tidak dapat melakukan itu semua, maka bukan tidak mungkin dia akan gagal paham terhadap ajaran Gereja.

Jika dilihat dari latar belakangnya, ungkapan ‘Extra Ecclesiam Nulla Salus’ muncul dari beberapa tokoh Gereja yang melihat adanya bahaya perpecahan dalam umat. Ada beberapa tokoh Gereja yang mengemukakan ini, antara lain:

  • Ignasius dari Antiokia yang mengharapkan kesatuan umat dengan uskupnya. Beliau mengungkapkan: “Jangan terpengaruh saudaraku, jika ada seseorang yang mengikuti pelopor skisma, ia tidak lagi menjadi bagian dari Kerajaan Allah. Bila seseorang memisahkan diri dari keanggotaan Gereja, maka ia menjauhkan diri dari keselamatan. Dengan demikian, di luar Gereja ini tidak ada keselamatan”.
  • St. Ireneus, ketika berhadapan dengan kelompok gnostik yang menanggap diri superior, mengatakan: “Di mana Gereja berada, di situ Roh Tuhan. Di mana ada Roh Tuhan, di situ ada Gereja”.
  • Origenes, seorang pujangga Gereja, mengatakan dalam sebuah khotbah: “Jangan seorangpun mempengaruhi orang lain dan jangan biarkan terpengaruh oleh orang lain. Di luar rumah ini (Gereja) tak ada orang yang diselamatkan, karena jika seseorang keluar, tak seorangpun dapat bertanggungjawab atas kematiannya”.
  • St. Siprianus, uskup Kartago, berkali kali menuliskan pernyataan itu ketika membahas tentang heretik dan skismatik.

Dasar dari Kitab Suci EENS:

  • Mrk 16:16 – Yesus mengajarkan syarat agar orang dapat diselamatkan, yaitu percaya dan dibaptis.
  • Mat 28: 19-20 – Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk mewartakan Injil dan membaptis segala bangsa, dengan demikian menunjukkan peran Gereja sebagai sarana keselamatan.
  • Mat 16:16-19: Yesus mendirikan Gereja di atas rasul Petrus
  • Luk 10:16 – Yesus mengajarkan pentingnya mendengarkan utusan Kristus, yang diwakili oleh Gereja.
  • Ef 5; Ef 5:23 – Gereja adalah tubuh mistik Kristus dan mempelai wanita dengan Kristus sebagai kepala dan mempelai pria.
  • Yoh 3:5 – Yesus mengajarkan pentingnya Baptisan untuk keselamatan.
  • 1Tim 2:4 – Allah menghendaki semua orang diselamatkan
  • Ibr 11:6 – Hanya dengan iman orang dapat berkenan kepada Allah, yaitu iman akan adanya Allah yang memberi upah pada orang yang sungguh mencari Dia

Gereja Katolik, dengan berpegang kepada Kitab Suci, mengajarkan bahwa Kristus mendirikan hanya satu Gereja, dan Gereja itu didirikan-Nya di atas Rasul Petrus (Mat 16:18). Gereja yang didirikan Kristus di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18) itu mulai resmi berdiri pada saat hari raya Pentakosta; dan didirikan di kota Roma sekitar tahun 42-49, yaitu pada saat Rasul Petrus pertama kali singgah di Roma.

Kristus mengajarkan perlunya iman dan pembaptisan untuk keselamatan (lih. Mrk 16:16, Yoh 3:5, Mat 28:19). Namun demikian, ajaran ini tidak untuk dipertentangkan dengan kehendak Allah untuk menyelamatkan semua umat manusia (lih. 1 Tim 2:4).

Dengan demikian, Kristus menegaskan perlunya Gereja, yaitu Gereja yang didirikan oleh-Nya di atas Rasul Petrus – yang melaluinya kita memperoleh ajaran iman, baptisan dan mengambil bagian dalam kehidupan-Nya serta menjadi anggota-anggota Tubuh-Nya.

Perlu diingat bahwa Konsili Vatikan II sama sekali tidak menganulir ajaran EENS (LG art. 14) yang sudah berakar selama abad-abad, tetapi memberikan penafsiran resmi dengan kalimat yang jauh lebih positif, sebagaimana tertuang di dalam Katekismus Gereja Katolik No. 846-848.

KGK 846 Bagaimana dapat dimengerti ungkapan yang sering kali diulangi oleh para bapa Gereja ini? Kalau dirumuskan secara positif, ia mengatakan bahwa seluruh keselamatan datang dari Kristus sebagai Kepala melalui Gereja, yang adalah Tubuh-Nya:

“Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan” (Lumen Gentium 14).

KGK 847 Penegasan ini tidak berlaku untuk mereka, yang tanpa kesalahan sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya:

“Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (LG art. 16; DS 3866 – 3872).

KGK 848 “Meskipun Allah melalui jalan yang diketahui-Nya dapat mengantar manusia, yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil, kepada iman yang merupakan syarat mutlak untuk berkenan kepada-Nya, namun Gereja mempunyai keharusan sekaligus juga hak yang suci, untuk mewartakan Injil” (Ad Gentes 7) kepada semua manusia.

Sampai di sini kita melihat bahwa penafsiran resmi Konsili Vatikan II terhadap EENS mengandung dua perubahan penting. Pertama, sampai sebelum Konsili Vatikan II, yang dimaksud sebagai Gereja Kristus itu tidak lain adalah Gereja Katolik, sehingga Gereja Katolik adalah satu-satunya sarana eklesial untuk keselamatan. Melalui konstitusi dogmatis Lumen Gentium (LG) dan Dekrit tentang ekumenisme Unitatis Redintegratio (UR), Konsili Vatikan II membuat suatu perubahan besar. Konsili mengajarkan bahwa Gereja Kristus tidaklah identik dengan Gereja Katolik, melainkan ada di dalam (subsistit in) Gereja Katolik (LG Art. 8).

Ini berarti bahwa Gereja Katolik mengakui adanya kenyataan eklesial di dalam Gereja-gereja dan komunitas Kristiani lainnya. Mereka ini berada dalam persekutuan dengan Gereja Katolik, sungguhpun tidak sempurna. Karena itu, ada unsur-unsur pengudusan dan kebenaran yang hadir dan bekerja di dalam Gereja atau komunitas Kristiani ini yang membawa kepada keselamatan (UR Art. 3). Namun demikian, tetap diakui bahwa kepenuhan sarana keselamatan hanya ditemukan di dalam Gereja Katolik, karena itu tetap berlaku panggilan untuk menyatukan diri dengan Gereja Katolik (LG Art. 14).

Kedua, berkaitan dengan mereka yang berada di luar Gereja (extra Ecclesiam). Konsili mengubah pengandaian dasarnya, yaitu dari pengandaian bersalah (seperti pada penafsiran-penafsiran di Abad Pertengahan) menjadi pengandaian tidak bersalah (bdk LG Art. 14 dan 16; GS art. 22). Pengandaian tidak bersalah ini berlaku baik untuk Gereja-gereja Kristiani non-Katolik maupun untuk mereka yang bukan Kristiani. Jika mereka tidak bersalah, maka mereka akan diselamatkan, tetapi pasti haruslah melalui Yesus Kristus dan melalui Gereja.

Bagi anggota Gereja-gereja Kristiani non-Katolik, mereka terkait dengan Gereja Katolik karena adanya unsur-unsur pengudusan dan kebenaran yang mereka emban. Untuk mereka yang berada di luar Gereja dan belum memeluk iman Kristiani maupun menerima Sakramen Baptis, Konsili mengatakan bahwa karena satulah asal dan tujuan hidup manusia, maka mereka ini ‘dengan aneka cara’ (LG art. 13 dan 16; bdk GS art. 22) terkait dengan Gereja.

Dengan demikian, menjadi jelas bahwa keselamatan mereka itu terkait dengan Gereja Katolik yang di dalamnya berada Gereja Kristus (LG art. 8).

Ajaran EENS inilah yang membawa Gereja pada kesadaran akan kewajiban misionernya untuk mewartakan Kristus kepada mereka yang belum mengenal-Nya (LG art. 1.9.48; GS art. 45); dan untuk melakukan karya-karya misi ke seluruh dunia.

Gereja Katolik bilang apa soal indiferentisme? Gereja Katolik bilang bahwa kita tidak boleh menyamakan begitu saja agama-agama, sebab agama-agama bukan hanya tidak sama, melainkan dalam berbagai hal bertentangan satu sama lain.

Terus, Gereja Katolik bilang apa soal ajaran EENS? Gereja Katolik berpegang teguh pada ajaran EENS, yaitu bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan, namun sebagaimana tertulis di dalam dokumen Konsili Vatikan II Nostra Aetate, ditegaskan bahwa Gereja Katolik tidak menolak adanya sinar kebenaran yang diajarkan oleh agama-agama lain.

Maka dari itu, “Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya yang terdapat pada mereka” (Nostra Aetate art. 2).

Namun demikian, Gereja menganggap bahwa sinar kebenaran yang ada di dalam agama-agama lain atau gereja-gereja lain itu sebagai persiapan bagi seseorang untuk menerima kepenuhannya dalam Gereja Katolik (lih. Konsili Vatikan II, Nostra Aetate 2, Unitatis Redintegratio 3).

Karenanya, Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni ‘jalan, kebenaran dan hidup’ (Yoh. 14:6); sebab dalam Dialah manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dan dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya sendiri.

Referensi:
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/are-all-religions-equal
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/what-no-salvation-outside-the-church-means
https://majalah.hidupkatolik.com/2017/06/12/5804/keselamatan-di-luar-gereja-2/
https://santopauluspku.wordpress.com/2013/10/16/katekese-umum-xix-extra-ecclesiam-nulla-salus/

Bangkit, Siap untuk Bersaksi – Renungan Hari Kamis dalam Oktaf Paskah

0
picture, twelve apostles, holy

Bangkit, Siap untuk Bersaksi: Renungan Hari Kamis dalam Oktaf Paskah, 04 April 2024 — JalaPress.comBacaan I: Kis. 3:11-26; Injil: Luk. 24:35-48

Dalam sebuah penyelidikan tentang sebuah peristiwa diperlukan bukti-bukti. Selain bukti, saksi memiliki peranan penting untuk menjelaskan secara mendetail tentang peristiwa tersebut.

Ketika menampakkan diri kepada murid-murid-Nya, Yesus menegaskan kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini”.

Karena perkataan dan perintah Yesus inilah, maka para murid secara mendetail memberitakan tentang Yesus Kristus. Hal ini dilakukan oleh Petrus dan Yohanes di Bait Allah. Mereka dengan berani bersaksi di hadapan para pemuka agama Yahudi dan orang-orang Yahudi yang berada Bait Allah. Mereka membongkar segala berita bohong dan kepalsuan yang tersebar di antara orang-orang Yahudi karena mereka adalah saksi dari semua peristiwa tentang Yesus.

Pengalaman akan kemuliaan Allah dalam peristiwa kebangkitan Yesus adalah kebenaran yang berasal dari Allah. Para Rasul telah dipilih menjadi saksi atas semuanya ini. Kita pun dipilih dan diutus untuk menjadi saksi tentang Kristus yang hidup, sengsara, wafat dan bangkit. Janganlah gentar dan takut untuk bersaksi tentang Yesus Kristus Tuhan kita. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Maria Magdalena dan Saksi Kunci Kebangkitan Yesus

0
jesus, mary magdalene, hd wallpaper

Kita tahu bahwa 12 murid Yesus semuanya laki-laki. Tapi, yang menjadi saksi kunci kebangkitan-Nya justru perempuan. Padahal dalam budaya pada masa itu kesaksian yang diberikan oleh perempuan seringkali dianggap kurang valid. Ini memperlihatkan bahwa di hadapan Tuhan semua setara dan sederajat.

Siapa saja perempuan-perempuan itu? Menurut Injil Yohanes [Yoh. 20:1] yang pertama kali mengetahui bahwa Yesus tidak ada lagi di kubur adalah Maria Magdalena. Menurut Injil Matius, Maria Magdalena dan Maria yang lain [Mat. 28:1]. Menurut Injil Markus, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome [Mrk. 16:1]. Menurut Injil Lukas, Maria Magdalena, Yohana, dan Maria ibu Yakobus [Luk. 23:55; 24:10].

Tuhan tidak mempermasalahkan masa lalu seseorang. Dia bisa memakai siapa saja untuk menjadi saksi-Nya, asalkan orang bersangkutan bertobat dan percaya kepada-Nya.

Di antara para perempuan yang menjadi saksi kunci itu, ada satu nama yang selalu ditempatkan di urutan teratas. Dan, nama perempuan itu adalah Maria Magdalena. Siapa dia? Dia dulunya bukan perempuan baik-baik. Masa lalunya kelam. Tapi toh Tuhan memilih dia untuk menjadi pembawa kabar pertama tentang kebangkitan-Nya. Apa artinya itu? Itu berarti bahwa Tuhan tidak mempermasalahkan masa lalu seseorang. Dia bisa memakai siapa saja untuk menjadi saksi-Nya, asalkan orang bersangkutan bertobat dan percaya kepada-Nya.

Ada banyak tokoh dalam kekristenan yang masa lalunya tidak menyenangkan: Maria Magdalena, Paulus, Agustinus, dan lain sebagainya. Dari ukuran manusia, mereka sama sekali tidak pantas untuk menjadi saksi Tuhan di dunia. Tapi, Tuhan memakai mereka. Maria Magdalena menjadi saksi kunci kebangkitan, Paulus menjadi orang pertama yang membawa kekristenan kepada orang-orang non-Yahudi, Agustinus menjadi uskup dan pujangga Gereja.

Tuhan menyapa Maria Magdalena dengan nama. Maria Magdalena kenal siapa yang menyapanya, makanya dia menyahut ‘Rabuni’ yang artinya ‘guru’. Sapaan itulah yang membuat Maria Magdalena yakin bahwa yang dilihatnya saat itu bukan penjaga taman melainkan Tuhan Yesus sendiri. Perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang bangkit itulah yang memungkinkan Maria Magdalena menjadi saksi-Nya.

Kita semua, asal kita mau, bisa melihat Tuhan. Kita melihat Tuhan melalu hal-hal kecil setiap hari.

Seseorang bisa menjadi saksi kunci dari suatu peristiwa apabila dia sendiri melihat peristiwa itu, jika tidak maka kesaksiannya bisa dipastikan palsu. Makanya, Maria Magdalena dengan tegas berkata “Aku telah melihat Tuhan”. Ia memberikan kesaksian karena dia telah melihat-Nya secara langsung. Jadi, menjadi saksi Tuhan tidak cukup hanya dengan menjelaskan tentang kebenaran iman, tetapi lebih dari itu, harus bisa membagikan pengalaman perjumpan pribadi dengan Tuhan kepada orang lain.

Nah, seperti Maria Magdalena, demikian pula Paulus dan Agustinus, Tuhan pun memanggil kita untuk menjadi saksi-Nya. Hanya saja pertanyaannya adalah: apakah kita sudah ‘melihat Tuhan’ dalam kehidupan kita?

Kita semua, asal kita mau, bisa melihat Tuhan. Kita melihat Tuhan melalu hal-hal kecil setiap hari, melalui mata hati dan kesadaran akan kehadiran-Nya. Hal ini bisa terjadi kalau kita bersedia untuk membuka hati dan pikiran kita terhadap pengalaman rohani, serta untuk mengenali tanda-tanda dan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab itu, marilah kita terus membuka hati dan pikiran kita untuk menyadari kehadiran-Nya dalam hidup kita, dan dengan penuh semangat membagikan pengalaman pribadi kita dengan Tuhan kepada orang lain. Semoga.

Bangkit, Rela Berjalan Bersama- Renungan Hari Rabu dalam Oktaf Paskah

0
dinner, jesus, emmaus

Bangkit, Rela Berjalan Bersama: Renungan Hari Rabu dalam Oktaf Paskah, 03 April 2024 — JalaPress.comBacaan I: Kis. 3:1-10; Injil: Luk. 24:13-35

Dalam perjalanan hidup ini, kita sering menjumpai orang-orang yang kecewa, menderita, kesepian, galau dan berjalan sendirian tanpa sahabat. Di tengah situasi seperti ini, kita harus hadir dan berjalan bersama mereka, mendengarkan keluh kesah mereka sekaligus berusaha memberi apa yang ada pada kita sesuai kemampuan kita.

Hal ini diajarkan oleh Yesus dalam kabar gembira hari ini. Dia hadir dan berjalan bersama dua murid yang kecewa, galau, dan marah karena Yesus Sang Guru yang mereka harapkan untuk membebaskan bangsa Israel harus wafat di kayu salib. Dalam kekecewaan dan kegalauan hati mereka, Yesus hadir dan berjalan bersama mereka. Ia mendengarkan keluh kesah mereka dan menjelaskan isi Kitab Suci kepada mereka. Yesus memahami mereka dengan kasih-Nya dan menghalau kabut kesedihan dan kekecewaan mereka.

Petrus dan Yohanes juga hadir bagi seseorang yang lumpuh sejak lahirnya. Mereka mendengarkan dia dan memberikan apa yang ada pada mereka kepadanya dengan berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku! Tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus orang Nazareth itu, berjalanlah!”

Kita pun diutus untuk hadir dan berjalan bersama dengan mereka yang kecewa, kesepian dan sendirian serta yang menderita. Kita harus membawa dan memberikan Kristus kepada mereka agar mereka dapat ‘bangkit dan berjalan’ menggapai sukacita sejati. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Bangkit, Mencintai tanpa Batas – Renungan Hari Selasa dalam Oktaf Paskah

0
eggs, easter eggs, easter

Bangkit, Mencintai tanpa Batas: Renungan Hari Selasa dalam Oktaf Paskah, 02 April 2024 — JalaPress.comBacaan I: Kis. 2:36-41; Injil: Yoh. 20:11-18

Cinta kasih membuat seseorang mampu dan rela untuk setia tanpa batas. Cinta memampukan seseorang untuk senantiasa memiliki harapan walaupun sepertinya harapan itu telah musnah. Karena pengalaman dicintai oleh Yesus, maka Petrus dengan berani mengingatkan orang-orang Yahudi bahwa ‘Allah telah membuat Yesus yang disalibkan itu sebagai Tuhan dan Kristus.’

Begitu juga dengan Maria Magdalena yang memiliki pengalaman dicintai oleh Yesus. Karena cinta Yesus akan dirinya dan karena ia juga mencintai Yesus maka ia menangis ketika mendapati makam Yesus kosong. Tangisan Maria Magdalena adalah tangisan yang dibalut secercah harapan akan Yesus sang guru. Karena harapannya yang tak pernah putus inilah ia menjadi orang pertama yang berjumpa dengan Yesus yang bangkit sekaligus menjadi orang pertama yang mewartakan kebangkitan Yesus kepada para murid.

Dalam dunia modern yang diracuni oleh hedonisme dan egoisme diri, kita yang telah mati dan bangkit bersama Kristus diutus untuk mencintai semua orang tanpa batas. Dengan mencintai tanpa batas, kita senantiasa memiliki harapan dalam hidup ini. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Bangkit, Hidup dalam Kebenaran – Renungan Hari Senin dalam Oktaf Paskah

0
easter eggs, easter nest, nature

Bangkit, Hidup dalam Kebenaran: Renungan Hari Senin dalam Oktaf Paskah, 01 April 2024 — JalaPress.comBacaan I: Kis. 2:14.22-32; Injil: Mat. 28:8-15

Dalam dunia modern ini, ada banyak kepalsuan dan hoax yang disebarkan lewat media sosial sehingga berdampak pada penyesatan publik. Menghadapi hal tersebut, setiap kita harus memiliki sikap kritis agar tidak mudah terjerumus dan jatuh.

Dalam Injil yang kita dengarkan hari ini, para pemuka agama Yahudi melakukan hal yang sama. Mereka menyebarkan kepalsuan dan hoax di antara orang-orang Yahudi melalui para penjaga makam Yesus bahwa Yesus dicuri oleh murid-murid-Nya. Namun, kepalsuan dan hoax pasti dikalahkan oleh kebenaran.

Pada hari Pentakosta, Rasul Petrus dengan berani mewartakan tentang Yesus, karya-Nya, serta kematian dan kebangkitan-Nya. Sejak saat itu, dengan bimbingan Roh Kudus, pewartaan kebenaran tentang Kristus yang bangkit terus berjalan dan tersebar ke seluruh dunia. Para rasul dengan penuh keberanian memberi kesaksian bahwa Yesus sungguh-sungguh telah bangkit. Mereka dengan penuh iman mengakui bahwa kebangkitan Kristus adalah karya Allah karena tidak ada kepalsuan yang berasal dari Allah.

Sebagai pengikut Kristus, kita diutus untuk mewartakan kebenaran di tengah kepalsuan dunia. Selama kebenaran itu berasal dari Allah maka kepalsuan akan dikalahkan. Beranikah kita menjadi pewarta kebenaran Kristus? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir