13.1 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 48

Katolik Menjawab: Bunda Maria Bukan ‘Naik ke Surga’, tapi ‘Diangkat ke Surga’

1
nktam / Pixabay

Dogma Maria diangkat ke surga menegaskan bahwa Bunda Maria, setelah mengakhiri hidupnya di dunia ini, terangkat ke surga sama seperti Henokh, Elia, dan mungkin beberapa yang lain lagi.

Paus Pis XII, dalam Munificentissimus Deus (1950), menegaskan bahwa: “Maria, Bunda Allah yang tak bernoda dan Bunda Allah yang tetap perawan, setelah selesai hidupnya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi”.

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Pertanyaannya: apakah Bunda Maria melewati proses kematian terlebih dahulu ataukah langsung begitu saja terangkat ke surga? Jawabannya: Gereja memang tidak pernah secara formal menyebutkan apakah Bunda Maria meninggal dunia atau tidak, tetapi konsensus umum menyebutkan bahwa dia memang mati terlebih dahulu sebelum tubuh dan jiwanya diangkat oleh Tuhan ke dalam kemuliaan surgawi. Frasa ‘setelah selesai hidupnya di dunia’ dalam ensiklik Munificentissimus Deus sebetulnya juga secara implisit mengisyaratkan tentang kematian Bunda Maria itu.

Tambahan pula, dalam bukunya, ‘Mempertanggungjawabkan Iman Katolik’, Dr. H. Pidyarto, O. Carm menyebutkan bahwa Maria memang meninggal juga (seperti halnya Yesus), meski tidak mengenal dosa, tetapi seperti Yesus juga, ia segera dibangkitkan dengan jiwa dan badannya untuk mulia bersama Putranya di surga (lih. Pidyarto, H. hlm. 166-167).

Nah, itulah juga yang dialami oleh semua orang yang akan diselamatkan oleh Yesus Kristus. Hanya saja, Maria, yang langsung mengikuti Yesus Putranya dan mendahului semua manusia lain, telah menikmati kepenuhan keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus, yakni mulia dengan jiwa dan badan di surga. Dan, perlu kita sadari bahwa hak istimewa ini dimiliki oleh Bunda Maria karena ia dipersatukan secara erat dengan karya penebusan Putranya.

Selama ini kita sedikit gagal paham soal pengangkatan Maria ke surga. Banyak di antara kita mencampuradukkan antara pemahaman tentang ‘Yesus naik ke surga’ dengan ‘Maria diangkat ke surga’. Kita mengira bahwa kedua istilah atau kata itu (‘naik’ dan ‘diangkat’) sama saja; sehingga kadang-kadang pemakaiannya saling tukar.

Naik ke surga berarti dengan kekuatan sendiri masuk ke dalam surga; dan tak seorang pun dapat naik ke surga, kecuali Dia yang datang dari surga, yaitu Anak Manusia (Yoh. 3:13). Hanya Yesus, Tuhan, yang dapat naik surga. Sementara terangkat ke surga berarti masuk ke surga bukan atas kekuatan sendiri, melainkan kekuatan lain di luar dirinya. Maria disebut ‘terangkat ke surga’, artinya ia masuk ke dalam surga bukan karena kekuatannya sendiri melainkan karena kuasa Tuhan.

Gara-gara gagal paham terhadap kedua kata itu, beberapa orang mengira bahwa orang Katolik percaya Maria ‘naik ke surga’. Padahal, itu sama sekali tidak benar. Kristus, dengan kekuatannya sendiri, naik ke surga (Inggris: ascension); sedangkan Maria diangkat ke surga oleh Allah (Inggris: assumption). Dia tidak melakukan itu dengan kekuatannya sendiri, tapi atas kehendak dan kuasa Allah semata. Allahlah yang mengangkat Maria ke surga.

Dengan menyebut frasa ‘diangkat ke surga’, yang dimaksudkan adalah baik tubuh maupun jiwa secara utuh, dan bukan hanya jiwa, masuk ke dalam surga oleh kuasa Tuhan. Makanya, dalam Kitab Suci disebutkan bahwa ‘Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah’ (Kej. 5:24). Elia juga begitu. Ia terangkat ke surga, meski dengan cara yang sedikit berbeda (2 Raj. 2:11). Nah, Gereja Katolik percaya bahwa Maria terangkat ke surga dengan cara yang sama, meski secara umum diyakini bahwa dia meninggal dunia terlebih dahulu sebelum terangkat ke surga.

Dalam postingan sebelumnya, ‘Gereja Katolik Percaya bahwa Bunda Maria Diangkat ke Surga‘ saya sudah paparkan bahwa kita tidak akan pernah menemukan ayat-ayat Kitab Suci yang secara eksplisit menceritakan tentang peristiwa pengangkatan Maria ke surga.  Lalu, bagaimana Gereja dapat mengajarkan bahwa Maria diangkat ke surga, sementara Kitab Suci tidak mengatakan apa-apa tentang hal itu?

Satu-satunya cara seseorang dapat mengetahui tradisi yang tidak tertulis ini adalah dengan ‘mengarahkan telinganya pada mulut Gereja’ (baca: mendengar pengajaran Gereja). Sebab, jika Gereja hanyalah kumpulan orang-orang yang diselamatkan – dan tidak ada yang memiliki otoritas nyata atas orang lain – maka Kitab Suci tidak akan menggembar-gemborkan Gereja sebagai pilar dan dasar kebenaran (1 Tim. 3:15) yang harus kita dengarkan (Mat. 18:17).

Hal penting yang menunjukkan bahwa Maria diangkat ke surga adalah tidak ditemukannya tulang belulang dari Maria, di manapun di dunia ini. Padahal, kita tahu bahwa sejak dulu, orang Kristen memberi penghormatan yang besar terhadap orang-orang kudus. Banyak orang Kristen begitu bangga jika tempatnya dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir dari orang-orang suci. Roma, misalnya, terdapat makam Petrus dan Paulus. Nah, sejak abad-abad awal kekristenan, peninggalan orang-orang kudus ini dijaga ketat dan sangat dihargai. Tulang-tulang mereka dikumpulkan dan diawetkan.

Nah, kita tahu bahwa Maria mengakhiri hidupnya di Yerusalem, atau mungkin di Efesus. Namun, tidak satu pun dari kota-kota itu maupun kota yang lain yang mengklaim jasadnya, meskipun ada klaim tentang makamnya (sementara). Lantas, mengapa tidak ada kota yang mengklaim tulang Maria? Rupanya karena tidak ada tulang untuk diklaim, dan orang-orang tahu itu. Maria, tentu saja yang paling istimewa dari semua orang kudus, tetapi kita tidak memiliki catatan tentang jasadnya yang disimpan di mana pun. [bersambung]

Referensi:
Tay, Stefanus & Listiati, Inggrid. 2016. Maria, O Maria. Bunda Allah, Bundaku, Bundamu. Surabaya: Penerbit Murai Publishing.
Pidyarto, H. 2015. Mempertanggungjawabkan Iman Katolik. Malang: Penerbit Dioma.
Dister, Nico Syukur. 2004. Teologi Sistematika 2. Yogyakarta: Kanisius.
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/how-to-argue-for-marys-assumption
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/assumptions-about-mary
https://www.catholic.com/qa/where-in-the-bible-does-it-say-that-mary-was-assumed-into-heaven
https://www.catholic.com/tract/immaculate-conception-and-assumption

Gereja Katolik Percaya bahwa Bunda Maria Diangkat ke Surga: Apa Dasarnya?

2
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Dogma ‘Maria Diangkat ke Surga’ dinyatakan oleh Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950, dalam ensikliknya, Munificentissimus Deus. Paus Pis XII, dalam ensikliknya itu menyebutkan bahwa: “Maria, Bunda Allah yang tak bernoda dan Bunda Allah yang tetap perawan, setelah selesai hidupnya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi”.

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Kemunculan dogma ini mendatangkan banyak pertanyaan di kalangan orang-orang Kristen di luar Gereja Katolik. Mereka mempertanyakan dasar biblis dari dogma tersebut. Mereka bertanya, “Di mana dalam Kitab Suci yang menceritakan bahwa Maria diangkat ke Surga?”

Menurut mereka, sepeninggalan Yesus, Maria tinggal bersama rasul Yohanes (Yoh. 19:25-27). Lalu, setelah Yesus naik ke surga, kita melihat kembali kehadirannya pada peristiwa Pentaskosta (Kis. 1:14, 2:1-4; bdk. Luke 1:35). Lebih dari itu, tidak ada yang tahu apa yang terjadi terhadap Maria. Yang pasti, ia meninggal dunia dengan cara yang sama seperti manusia lain pada umumnya. Menurut mereka, jika memang Allah mengerjakan sesuatu yang besar dalam hidup Maria, seharusnya semuanya tertulis di dalam Kitab Suci.

Gereja Katolik mengakui bahwa jika kita mencari kutipan langsung di dalam Kitab Suci yang berisikan tentang peristiwa pengangkatan Bunda Maria ke surga, kita tidak akan menemukan satu ayat pun di sana; sebab memang peristiwa itu tidak secara gamblang diceritakan di dalam Kitab Suci.

Kitab Suci memang tidak mengatakan apa-apa tentang hidup Maria setelah peristiwa Pentakosta. Nah, apakah ‘diamnya’ Kitab Suci soal Maria ini disebabkan karena nasib Maria tidak begitu penting untuk ditulis? Jangan lupa bahwa bukan hanya tentang Bunda Maria, banyak hal lain juga yang sebenarnya penting tapi tidak ditulis di dalam Kitab Suci.

Kita tahu bahwa para murid Yesus diberikan kuasa untuk mengadakan mukjizat dalam nama Yesus (Mrk. 16:27-18), bahkan mereka diberikan kemampuan untuk mengerjakan mukjizat-mukjizat yang lebih besar daripada yang dikerjakan oleh Yesus sendiri (Yoh. 14:12), namun kita toh tidak mendengar banyak hal tentang mereka setelah peristiwa Pentakosta. Tentulah tidak semua mukjizat yang mereka kerjakan tercatat di dalam Kitab Suci. Juga, pastinya, tidak semua mukjizat yang dikerjakan oleh Yesus tercatat di dalam Kitab Suci (Yoh. 20:30).

Yang pasti, tidak semua hal harus berdasarkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci. Paulus, misalnya, menyarankan Timotius untuk menganggap kata-kata yang sehat yang dikatakan Paulus kepadanya sebagai norma (1 Tim. 1:13). Timotius tahu bahwa bahkan jika suatu ajaran tertentu tidak ditulis, orang Kristen masih diharapkan untuk mematuhinya (2 Tes. 2:15) dan tunduk kepada otoritas para pemimpin Gereja (Ibr. 13:17).

Jika kita mau membandingkan, tidak ada di dalam Kitab Suci yang menyebutkan kanon Kitab Suci Perjanjian Baru, tetapi hal tersebut sama sekali tidak menghalangi Gereja untuk menggunakan otoritas yang diberikan kepadanya oleh Kristus (Mat. 16: 15-19, 18: 17-18) untuk memutuskan kanon mana yang digunakan. Nah, sama seperti Gereja abad keempat memiliki wewenang untuk menentukan bahwa dua puluh tujuh buku termasuk dalam Perjanjian Baru, Gereja abad ke-19 memiliki wewenang untuk secara dogmatis mengakui bahwa Bunda Maria diangkat ke dalam surga.

Ingat, jika Kitab Suci tidak mencatat suatu peristiwa, itu tidak berarti bahwa peristiwa tersebut tidak pernah terjadi. Sebagai contoh, Kitab Suci tidak mencatat tentang perjalanan Paulus atau Petrus ke Roma, tapi nyatanya keduanya mati sebagai martir di kota itu. Maka, sangat tidak alkitabiah dan tidak berasalan jika – hanya karena tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Kitab Suci – kita menyimpulkan bahwa dogma Maria diangkat ke surga adalah sesuatu yang keliru; sebab kemungkinan diangkatnya tubuh dan jiwa manusia ke dalam surga sebelum terjadinya kedatangan kembali Sang Mesias sudah dikatakan di dalam Injil Matius 27:52-53. “Kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, mereka pun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang”.

Apakah semua orang suci yang sudah dibangkitkan itu kemudian mati dan harus dikuburkan lagi? Setidaknya, kita tidak menemukan adanya catatan tentang itu di dalam Kitab Suci; tetapi dicatat oleh para penulis Gereja mula-mula bahwa mereka semuanya diangkat ke surga, atau setidaknya mereka masuk ke dalam kebahagiaan sementara yang sering disebut ‘firdaus’; sambil menunggu kedatangan Yesus untuk kedua kalinya (lih. Luk. 16:22, 23:43; Ibr. 11:1–40; 1 Ptr. 4:6); setelah itu mereka dibawa-Nya ke surga surga yang abadi.

Kitab Suci juga menuliskan bahwa mereka yang menderita karena Kristus akan dimuliakan bersama Dia (Rm. 8:17); sehingga sudah sepantasnyalah dia yang hatinya tertusuk oleh penderitaan Putranya akan menerima pemuliaan-Nya dengan cara yang unik.

Meski tidak secara eksplisit disebutkan, beberapa teks Kitab Suci memberikan bukti bahwa Bunda Maria diangkat ke surga. Henokh dan Elia, misalnya, diangkat ke surga (Ibr. 11: 5, 2 Raj. 2:11). Juga, dalam Injil Matius 27: 52-53 kita membaca tentang bagaimana orang-orang kudus yang tubuhnya meninggalkan kubur setelah Kebangkitan Kristus. Nah, kebangkitan awal orang-orang kudus ini mengantisipasi kebangkitan orang-orang yang mati dalam iman, yang semuanya akan diangkat pada suatu hari dan menerima tubuh yang baru yang sudah dimuliakan. Karena itu, pengangkatan Maria ke surga merupakan suatu keyakinan bahwa Tuhan menganugerahinya rahmat ini sejak dini, seperti yang telah dilakukan-Nya kepada orang-orang lain di dalam Matius 27: 52-53. [Bersambung]

Referensi:
Tay, Stefanus & Listiati, Inggrid. 2016. Maria, O Maria. Bunda Allah, Bundaku, Bundamu. Surabaya: Penerbit Murai Publishing.
Pidyarto, H. 2015. Mempertanggungjawabkan Iman Katolik. Malang: Penerbit Dioma.
Dister, Nico Syukur. 2004. Teologi Sistematika 2. Yogyakarta: Kanisius.
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/how-to-argue-for-marys-assumption
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/assumptions-about-mary
https://www.catholic.com/qa/where-in-the-bible-does-it-say-that-mary-was-assumed-into-heaven
https://www.catholic.com/tract/immaculate-conception-and-assumption

Penantian 21 Tahun Umat Gereja St. Clara Terkabul

0

Penantian panjang umat Gereja Santa (St.) Clara-Bekasi Utara kini telah terjawab. Gereja St. Clara yang telah diperjuangkan hingga 21 tahun, kemarin Minggu (11/8/2019) diresmikan.

Pada peresmian itu hadir, Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta, Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, undangan dan ribuan umat Katolik di Bekasi Utara. Menteri ESDM pada kesempatan itu memukul gong saat peresmian Gereja. ”Setelah mengalami perjuangan yang panjang, peresmian hari ini merupakan kegembiraan umat yang nyaris sempurna. Kita bahagia luar biasa sekali,” ujar Eman Dapaloka, Dewan Paroki Santa Clara.

Menurut Eman, Gereja St. Clara telah terbentuk sejak 21 tahun lalu. Kala itu, jumlah jemaat mencapai 9.000 orang. Namun, jemaat melakukan kegiatan Ekaristi di sebuah ruko Perumahan Wisma Asri, Bekasi Utara. Beberapa waktu kemudian, panitia pembangunan mengurus perizinan sejak tahun 2002. Tantangan dan rintangan terus melanda, namun dilewati oleh panitia pembangunan gereja. Warga setempat juga sempat menolak kehadiran Gereja. Selain itu pengurusan izin sempat terhambat.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Pada tanggal 28 Juli 2015, Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, memberi izin mendirikan bangunan (IMB) Gereja St. Clara. Namun warga setempat tetap menolak terutama dari beberapa ormas. Seperti diketahui pada 10 Agustus 2015, ribuan massa ormas melakukan demo di lokasi pembangunan gereja. Meskipun waktu itu belum dilakukan peletakan batu pertama. “Mengingat izin yang diberikan Pemerintah Kota Bekasi dapat berakhir dalam waktu 6 bulan apabila tidak ada pembangunan. Maka kami memutuskan untuk melakukan peletakan batu pertama di lokasi gereja pada tanggal 5 Desember 2015, untuk memulai pembangunan gereja,” ujar Eman.

Kini, Gereja St. Clara telah melaksanakan Misa Minggu sebanyak empat kali. Data terbaru Agustus ini ada 8.515 umat. “Daya tamping gereja hanya 1.200 umat, sehingga kami bagi empat misa perminggunya,” lanjut Eman. Eman menuturkan, Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi yang menandatangani prasasti peresmian penggunaan gereja, didampingi oleh Menteri ESDM, Ignasius Jonan, yang diundang oleh umat Gereja St. Clara.**

Katolik Menjawab: Bunda Maria Tetap Perawan Selamanya

0

Pertanyaan mengenai apakah Maria tetap perawan pada saat dan setelah melahirkan Yesus sering sekali ditanyakan orang. Ini adalah artikel seri ke-3 yang saya tulis untuk menjawab pertanyaan sulit itu.

Ada beberapa kutipan ayat Kitab Suci yang dijadikan dasar oleh orang-orang non-Katolik untuk menolak keperawanan abadi dari Maria – sebagaimana yang diajarkan di dalam Gereja Katolik.

  • Mat. 13:55-56 – “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita?”
  • Mrk. 3:31 – “Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus”.
  • Gal. 1:19 – “Tetapi aku (Paulus) tidak melihat seorang pun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus”.

[postingan number=3 tag= ‘perawan-maria’]

Saya sudah terangkan pada postingan sebelumnya bahwa dalam Kitab Suci Perjanjian Lama istilah ‘saudara laki-laki’ memiliki makna yang luas dan dapat merujuk pada kerabat laki-laki (saudara kandung maupun tiri), saudara-saudara sepupu, mereka yang menjadi anggota keluarga karena perkawinan (ipar) atau karena hukum (saudara angkat), dan tidak selalu karena hubungan darah. Secara khusus dalam bahasa Ibrani atau Aram (bahasa yang diucapkan oleh Yesus dan murid-murid-Nya), istilah itu digunakan untuk menyebut ‘sepupu’ sebab pada kedua bahasa itu tidak ada kata khusus untuk menyebut ‘sepupu’.

Jika demikian penjelasannya, maka masuk akallah jika Yesus menyebut murid-murid-Nya sebagai saudara dan saudari satu sama lain. Ia berkata: “Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara” (Mat. 23:8). Ayat ini jelas tidak bermaksud bahwa semua pengikut Kristus harus lahir dari ibu yang satu dan sama.

Apalagi, jika kita telusuri secara saksama dari contoh Yakobus, salah satu yang disebut sebagai ‘saudara Tuhan’ dalam Injil Matius 13:55, tampak sekali bahwa Yakobus yang dimaksudkan di situ adalah sepupu atau kerabat dari Tuhan Yesus, dan bukan saudara kandung-Nya.

Coba perhatikan baik-baik, Paulus dalam suratnya itu menyebut ‘Yakobus’ sebagai ‘saudara Tuhan’ dan ‘seorang rasul’. Nah, kita tahu bahwa hanya ada dua nama Yakobus dalam barisan kedua belas murid Yesus. Yang pertama adalah Yakobus anak Zebedeus (Mat. 10:2); dan kedua, Yakobus anak Alfeus (Mat. 10:3). Tidak satu pun dari keduanya disebut sebagai ‘anak Yosef’. Jadi, jelaslah, bahwa Yakobus rasul bukan saudara kandung Tuhan Yesus. Titik. Makanya, dalam Katekismus Gereja Katolik (disingkat: KGK) no. 500 dikatakan:

“Gereja selalu menafsirkan teks-teks itu dalam arti, bahwa mereka bukanlah anak-anak lain dari Perawan Maria. Yakobus dan Yosef yang disebut sebagai “saudara-saudara Yesus” (Mat 13:55), merupakan anak-anak seorang Maria (bdk Mat 27:56) yang adalah murid Yesus dan yang dinamakan “Maria yang lain” (Mat 28: 1). Sesuai dengan cara ungkapan yang dikenal dalam Perjanjian Lama (bdk Kej 13:8; 14:16; 29:15), mereka itu sanak saudara Yesus yang dekat.”

Orang-orang yang menolak keperawanan abadi Maria juga biasanya mengutip Injil Mat. 1:25 yang bunyinya: “Yosef mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus” (Mat. 1:25). Menurut mereka, ayat ini menandakan bahwa setelah Maria melahirkan Yesus, pastilah Yosef ‘mendekatinya’ (baca: bersetubuh denganya) layaknya suami dan istri.

Pertanyaan yang harus kita ajukan adalah: apakah penggunaan kata ‘sampai’ di situ harus diartikan seperti itu? Ternyata jawabannya: tidak. Kata Yunani ‘Heos’ (artinya: ‘sampai’) tidak bisa secara serampangan diartikan bahwa Maria melakukan hubungan suami-istri dengan Yosef setelah dirinya melahirkan Yesus. Kita bisa melihat perbandingan dari penggunaan kata ini dalam 2 Sam. 6:23. Dalam kitab itu ditulis demikian: “Mikhal binti Saul tidak mendapat anak sampai hari matinya.” Pertanyaannya: apakah setelah kematiannya, ia memperoleh keturunan? Pastilah tidak. Nah, begitu juga dengan maksud penggunaan kata itu dalam konteks Maria ini.

Memang, dalam Kitab Suci, kata ‘sampai’ banyak kali digunakan. Kata ini dipakai lebih sebagai suatu ekspresi atau ungkapan; persis seperti dalam penggunaan sehari-hari. Misalnya kita berkata: “Sampai jumpa, Tuhan memberkatimu”. Apakah itu berarti bahwa setelah kita bertemu, Tuhan mengutukmu? Tentu saja tidak kan? Kata ini digunakan semata-mata untuk memberi tekanan pada apa yang sedang dibicarakan. Ada beberapa contoh penggunaan kata ‘sampai’ dalam Kitab Suci.

  • 1 Tim. 4:13 – “Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.” Apakah ini berarti bahwa Timotius harus berhenti mengajar setelah Paulus datang? Tentu saja tidak.
  • 1 Kor. 15:25 – “Karena Ia (Kristus) harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya.” Apakah ini berarti bahwa Kerajaan-Nya akan berakhir? Tentu saja tidak; sebab Luk. 1:33 berbunyi: “Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”

Itulah sebabnya, ketika kita mengartikan suatu teks, perhatikan apa yang menjadi fokus perhatian penulisnya. Dalam Injil Mat. 1:25, penulis Injil tentu tidak bermaksud untuk menjelaskan apa yang akan terjadi setelah kelahiran Yesus. Ia semata-mata ingin menerangkan bahwa Yosef dan Maria tidak berhubungan sebelum kelahiran Yesus. Yang mau dijelaskan oleh Matius adalah tentang kelahiran Sang Anak (Yesus), yang lahir tanpa melalui hubungan suami-istri, bukan tentang anak-anak lain dari Maria dan Yosef yang lahir setelah Yesus.

Gereja Katolik yakin seyakin-yakinnya bahwa Maria tetaplah perawan seumur hidupnya. Bukti kuat tentang keyakinan ini bisa kita temukan di dalam Injil Luk. 1:34. Ketika Maria dikunjungi oleh Malaikat Gabriel; dan malaikat itu memberi kabar kepadanya, Maria berkata: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”

Justru aneh rasanya jika ia harus bertanya demikian sementara dirinya sudah bertunangan dengan Yosef, dapat segera menikah, dan kemudian mempunyai anak. Bukankah pernikahannya tinggal menunggu saatnya saja? Perlu diketahui bahwa ‘bersuami’ di sini berarti bersetubuh dengan suami.

Menurut sementara penafsir Katolik, jawaban Maria itu baru punya arti apabila Maria mempunyai kaul (janji) untuk tidak bersetubuh dengan suaminya seumur hidupnya. Jika tidak demikian, jawaban Maria itu kedengaran aneh dan tidak ada artinya.

Lantas, mengapa Yosef ‘mengambil Maria sebagai isterinya’ (Mat. 1:24) jika Maria sendiri tidak mempunyai maksud untuk bergaul intim dengannya layaknya suami dan istri? Setidaknya, ada dua alasan yang bisa disajikan di sini. Pertama, seperti dikatakan dalam Injil Matius bab satu bahwa Yosef adalah keturunan Daud, Raja Israel. Maka, hanya dengan menjadi putra Yosef, Yesus bisa diterima sebagai ‘sungguh putra Daud’ dan Raja Israel (lih. 2 Sam. 7:14). Jadi, sebagai satu-satunya putra Yosef, meskipun hanya anak angkat, Yesus berada pada garis keturunan Daud, pemegang takhta Kerajaan Israel. Kedua, dalam banyak budaya, sangatlah tidak menguntungkan bagi seorang perempuan jika ia kedapatan mengandung di luar perkawinan. Itu artinya, Maria berada dalam bahaya; karena ia mengandung bukan dari hasil perkawinannya dengan Yosef. Kitab Suci menyebutkan bahwa ia mengandung dari Roh Kudus. Maka, Yosef, sesuai dengan apa yang diberitahukan kepadanya dalam mimpinya, ia harus mengambil Maria sebagai istrinya dengan tujuan untuk melindungi Maria dan bayinya.

Referensi:
Tay, Stefanus & Listiati, Inggrid. 2016. Maria, O Maria. Bunda Allah, Bundaku, Bundamu. Surabaya: Penerbit Murai Publishing.
Pidyarto, H. 2015. Mempertanggungjawabkan Iman Katolik. Malang: Penerbit Dioma.
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/how-to-explain-the-perpetual-virginity-of-mary
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/the-case-for-marys-perpetual-virginity
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/how-we-know-mary-was-a-perpetual-virgin-0

Sejarah Masuknya Agama Kristen di Pulau Nias

0
Sumber: Museum-Nias.org

Kristen Katolik adalah agama Kristen pertama yang masuk di Pulau Nias, yang dibawa oleh misionaris Prancis tahun 1832. Misi tersebut berasal dari Missions Etrangers de Paris.

Misi yang dibawa oleh misionaris Prancis tersebut berlangsung hingga tahun 1835. Setelah itu, Jean Baptiste Boucho (1845), Vikaris Apostolik dari Peninsula, Malaysia, sangat bersemangat untuk menyebarkan Injil ke Pulau Nias. Semangat itu muncul karena menurut Boucho, orang-orang Nias adalah orang yang baik, sederhana, dan setia pada iman mereka.

Meskipun demikian, Boucho tidak mendapat izin dari College di Penang. Akhirnya tugas misi diserahkan kepada Jean Pierre Vallon dan Jean Laurent Berard. Pada tanggal 14 Desember 1831, Vallon dan Berard berangkat dari Penang dan tiba di Nias pada bulan Maret 1832. Tahun ini merupakan penanda misi Gereja Katolik pertama di Pulau Nias. Namun, misi mulai bergerak secara massif/utuh pada tahun 1939. Banyak orang Nias yang belum beragama Kristen meminta supaya seorang Pastor datang ke Nias. Sejak saat itu, umat Katolik bertumbuh dengan pesat. Adapun  beberapa orang dilatih di Gunungsitoli, sebagai bekal untuk mengajar orang-orang di desa.

[postingan number=3 tag= ‘gereja-katolik’]

Sementara itu, misi penginjilan Kristen Protestan masuk ke Pulau Nias pada tahun 1865, yang dibawa oleh zending (dari bahasa kata bahasa Belanda ‘zendeling‘ yang artinya pengutusan – sebutan untuk misionaris Protestan) yang berasal dari Jerman, Ernst Ludwig Denninger dari Rheinische Missiongesellschaft (RMG).[1] Badan misi tersebut dikirimkan dari Kalimantan. Baptisan pertama dilaksanakan pada tahun 1874.

Pada tahun 1890, jumlah orang Kristen Protestan yang telah dibaptis mencapai 706 orang. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, pertumbuhan gereja berlangsung lambat hingga tahun 1900. Namun, pada tahun 1915, jumlah orang-orang yang telah dibaptis bertambah menjadi 20.000 orang.  Sejak tahun 1915 hingga 1920, Kristen Protestan mengalami pertumbuhan yang pesat. Pada tahun 1921 jumlah orang yang telah dibaptis mencapai 60.000 orang.

Sejak tahun 1936, sinode Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) dibentuk. Hingga tahun 1940 dipimpin oleh misionaris Jerman.[2] Perkembangan pesat umat sejak 1938-1942, 1945-1949 juga menimbulkan perpecahan dalam gereja. Alkitab dalam bahasa Nias diterbitkan pada tahun 1913 dengan memakai dialek bahasa Nias Utara sebagai acuan. Bukan hanya itu, Bahasa Nias Utara juga dijadikan acuan dalam bahasa-bahasa Gerejawi. Kini, masyarakat Nias menganut agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, Islam, Budha, Hindu, Konghucu, dan aliran kepercayaan.[3]

Referensi

  • M. Hammerle, Johanes. 2015. Sejarah Gereja Katolik Di Pulau Nias. Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias.
  • Heuken, Adolf J., P. Krissantono, Bernard Mardiatmadja, Tonny S. Tjokrowardojo, Maria Meilany, Emil J. Endy Rukmo, Pius S. Nasar, Stefan Kusdarwanto. 1971. Sedjarah Geredja Katolik Di Indonesia. Jakarta: Cipta Loka Cakara.
  • Gea, Silvester Detianus dan H. Lisman B. S. Zebua. 2018. Mengenal Budaya dan Kearifan Lokal Suku Nias. Labuan Bajo: Yayasan Komodo Indonesia.
  • [1] Lihat buku ‘Mengenal Budaya dan Kearifan Lokal Suku Nias’ hlm. 5.
    [2] Lihat https://id.wikipedia.org/wiki/Banua_Niha_Keriso_Protestan

Benarkah Ajaran Tritunggal Buatan Konsili Nicea?

1
12019 / Pixabay

Banyak orang non-Kristen menuduh bahwa ajaran Trinitas dibuat ketika Konsili Nicea. Oleh sebab itu mereka mengatakan bahwa ajaran Kristiani tentang AllahTritunggal baru ada setelah Konsili Nicea (325).

Namun pandangan tersebut keliru dan ahistori, karena ajaran tentang Allah Tritunggal dapat ditemukan dalam berbagai ayat Kitab Suci. Selain itu, Para Bapa Gereja sebelum Konsili Nicea (sebelum abad ke-4) juga mengajarkan tentang Allah Tritunggal. Berikut beberapa kutipan Para Bapa Gereja tentang Allah Tritunggal:

Pertama, St. Polycarpus (69-155), sebelum ia dibunuh sebagai martir, ia berkata “….Aku memuji Engkau (Allah Bapa),…aku memuliakan Engkau, melalui Imam Agung yang ilahi dan surgawi, Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih, melalui Dia dan bersama Dia, dan Roh Kudus, kemuliaan bagi-Mu sekarang dan sepanjang segala abad, Amin.”[1]

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Kedua, St. Athenagoras (133-190), “Sebab…kita mengakui satu Tuhan, dan PuteraNya yang adalah Sabda-Nya, dan Roh Kudus yang bersatu dalam satu kesatuan,-Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus.”[2]

[For, as we acknowledge a God, and a Son his Logos, and a Holy Spirit, united in essence — the Father, the Son, the Spirit, because the Son is the Intelligence, Reason, Wisdom of the Father, and the Spirit an effluence, as light from fire; so also do we apprehend the existence of other powers, which exercise dominion about matter, and by means of it, and one in particular, which is hostile to God:…]

Ketiga, St. Aristides sang filsuf (90-150 AD), “Orang-orang Kristen, adalah mereka yang, di atas segala bangsa di dunia, telah menemukan kebenaran, sebab mereka mengenali Allah, Sang Pencipta segala sesuatu, di dalam Putera-Nya yang Tunggal dan di dalam Roh Kudus.”[3]

Keempat, St. Teofilus dari Antiokhia (180), “Demikianlah juga ketiga hari sebelum diciptakannya terang (pada hari ke-empat), adalah lambang dari Trinitas, Allah, dan Firman-Nya  dan kebijaksanaan-Nya.”[4]

Kelima, St. Clement dari Alexandria (150-215), “Sang Sabda, Kristus, adalah penyebab, dari asal mula kita-karena Ia ada di dalam Allah-dan penyebab dari kesejahteraan kita. Dan sekarang, Sang Sabda yang sama ini telah menjelma menjadi manusia. Ia sendiri adalah Tuhan dan manusia, dan sumber dari semua yang baik yang ada pada kita.”[5]

[The world is essentially dependent on God, and this dependence implies (1) that God is the Creator of the world — the producer of its whole substance; and (2) that its continuance in being at every moment is due to His sustaining power. The Trinity is the term employed to signify the central doctrine of the Christian religion — the truth that in the unity of the Godhead there are Three truly distinct Persons: the Father, the Son, and the Holy Spirit]

Berdasarkan data di atas, kita mengetahui bahwa ajaran Trinitas bukanlah buatan Konsili Nicea. Ajaran Trinitas berasal dari Alkitab dan ajaran yang diwariskan oleh para rasul.

[1] St. Polycarp, dalam http://www.newadvent.org/cathen/15047a.htm.
[2] St. Athenagoras, A Plea for Christians, Chap. 24, lihat http://www.newadvent.org/fathers/0205.htm.
[3] Aristides, Apology 16 lihat http://www.newadvent.org/fathers/1012.htm.
[4] St. Theophilus of Antioch, To Autolycus II lihat http://www.newadvent.org/fathers/02041.htm.
[5] St. Clement, Exhortation to the Greeks lihat http://www.newadvent.org/cathen/06608a.htm.

Bangsa Israel Menggerutu, Musa dan Harun Dilarang Memasuki Tanah Terjanji

0
LoggaWiggler / Pixabay

Bangsa Israel Menggerutu, Musa dan Harun Dilarang Memasuki Tanah Terjanji: Renungan Harian Katolik, Kamis 8 Agustus 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Bil. 20:1-13

Orang-orang Israel yang baru saja dibawa keluar dari perbudakan di Mesir suka menggerutu, bersungut-sungut, dan protes. Parahnya, mereka justru merasa bahwa pengalaman di Mesir jauh lebih baik daripada apa yang mereka rasakan di padang gurun.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Mirip dengan orang tua kita. Mereka selalu membandingkan zaman mereka dulu dengan zaman sekarang; dan selalu mengatakan bahwa zaman mereka jauh lebih baik daripada zaman sekarang. Maka, muncullah kalimat: “Piye kabare. Enak zamanku to?”

Masa padang gurun adalah masa pemurnian bagi bangsa Israel. Segala pengalaman pahit di Mesir dibersihkan di sini; sebelum mereka masuk ke tanah terjanji. Masalah utama yang mereka hadapi adalah tidak adanya ketersediaan air untuk minum. Mereka mengamuk dan protes terhadap Musa dan Harun. Mereka berkata:

“Sekiranya kami mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan TUHAN! Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ? Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minum pun tidak ada?” (Bil. 20:3-5).

Telinga Musa panas mendengar ocehan orang-orang Israel itu. Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka. TUHAN berfirman kepada Musa:

“Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.” Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya.

Hanya saja, ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.

Apa kesalahan Musa di situ? Yaitu ia marah. Bukannya dikasih solusi saja, malah marah-marah. Kemarahan Musa dipandang oleh Tuhan sebagai ungkapan ketidakpercayaan. Nah, karenanya Tuhan menghukum Musa. TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.”

Gara-gara hal yang kecil, Musa tidak bisa menikmati apa yang diimpikannya sejak lama. Ia dan Harun tidak diperbolehkan masuk ke tanah terjanji. Masalah kecil dan sepele bisa mendatangkan akibat yang besar jika tidak ditangani dengan baik dan bijak. Ada sederet situasi yang kadang-kadang membuat kita marah, jengkel, dan sakit hati; tetapi kita toh tetap harus mampu menahan diri. Barangkali itu ujian kecil yang harus kita hadapi.

Orang Israel tidak mampu mengatasi ujian di padang gurun; makanya sebagian besar dari mereka tidak sampai ke tanah terjanji. Mereka mati di padang gurun. Hanya anak cucu mereka yang masuk ke tanah terjanji. Musa dan Harun tidak sabar menerima tantangan, mereka pun tidak sampai ke tanah terjanji. Mereka hanya diberi kesempatan untuk melihat tanah terjanji dari kejauhan. Jangan sampai karena kesalahan yang kecil membuat kita makin jauh dari Tuhan.

Katolik Menjawab: Tidak Benar Konsili Nicea Voting Pemilihan Tuhan

0
ddzphoto / Pixabay

Perdebatan tentang ‘Yesus Kristus’ agaknya tidak pernah usai, mungkin sampai Ia datang kembali. Adapun yang sering diperdebatkan adalah seputar ‘ketuhanan’ atau ‘keilahian Yesus’. Apakah Yesus sungguh-sungguh Ilahi/Tuhan atau Yesus pernah diangkat menjadi Tuhan dalam konsili?

Tidak dapat dipungkiri banyak pendapat yang ‘menuduh’ bahwa Yesus diangkat menjadi Tuhan dalam Konsili Nicea (325). Namun secara historis ‘tuduhan’ tersebut tidak benar dan tidak pernah terjadi. Konsili Ekumenis di Nicea tahun 325 diadakan oleh Gereja universal untuk menanggapi ajaran sesat Arius, seorang pastor dari Gereja Alexandria, Mesir (319).

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Arius berupaya merasionalisasikan misteri tentang Allah Tritunggal. Arius tidak dapat menerima bahwa Kristus, Sang Putra Allah berasal dari Allah Bapa, dan sehakekat dengan Bapa. Oleh sebab itu, ia mengajarkan bahwa karena Yesus ‘berasal’ dari Bapa, maka Yesus adalah ciptaan yang paling tinggi. Arius tidak mengerti bahwa Pribadi Yesus terdiri dari dua kodrat, yakni kodrat Allah dan kodrat manusia.

Adapun ajaran-ajaran Arius antara lain jiwa dari Kristus yang sudah ada sebelumnya (super archangel) mengambil tempat jiwa manusia dalam kemanusiaan Yesus; Kristus tidak dapat memahami Allah Bapa, Tuhan bukan Trinitas secara kodrat, Kristus tidak sama-sama kekal seperti Bapa melainkan mempunyai awal, Kristus bukan Putera Allah secara kodrati, melainkan Putera angkat, Kristus tidak sehakekat dengan Bapa, Kristus adalah ciptaan yang diciptakan dari sesuatu yang tidak ada, berupa kodrat malaikat (super archangel), Kristus tidak tanpa cela tetapi dapat secara kodrati berdosa, Allah Bapa secara tak terbatas lebih mulia daripada Kristus, dan Kristus diciptakan dengan kehendak bebas Allah Bapa.

Arius mengutip Yoh. 1:14 “Firman itu menjadi manusia…” untuk menyimpulkan bahwa Firman hanya menjelma menjadi daging, sementara jiwa-Nya tidak. Oleh sebab itu Arius meyakini bahwa Kristus adalah sungguh-sungguh Allah, tetapi bukan sungguh-sungguh manusia, karena jiwa-Nya bukan jiwa manusia. Ajaran serupa dapat ditemukan pada ajaran sesat Apollinaris (300-390).

Santo Aleksander, Patriarkh Alexandria menanggapi ajaran Arius yang memang masuk dalam wilayahnya. Santo Aleksander mengadakan Konsili Alexandria (sekitar 321) yang dihadiri oleh sekitar 100 uskup yang berasal dari Mesir dan Lybia. Konsili Alexandria mengecam ajaran Arius, namun Arius mempunyai pendukung, baik dari pemerintahan maupun dari beberapa orang pejabat Gereja. Pendukung Arius yang berasal dari pejabat Gereja adalah Eusebius, Uskup Kaisarea, Palestina; dan Uskup Eusebius dari Nikomedia, yang menjadi pemimpin Arian sekaligus pelindung Arius.

Arius yang telah diekskomunikasi oleh Konsili Alexandria pergi ke Palestina dan Nikomedia. Kemudian, St. Aleksander mengeluarkan surat berjudul “Epistola Encyclica”, yang ditanggapi oleh Arius sehingga menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Kegaduhan tersebut diperparah dengan pertikaian antara Kaisar Konstatin dan Licinius (322-323).

Pada saat Kaisar Konstantin menjadi penguasa, ia menginginkan agar wilayah pemerintahannya damai. Oleh sebab itu ia menulis sepucuk surat untuk St. Aleksander dan Arius. Maksud dari surat tersebut agar St. Aleksander dan Arius secepatnya membuat persetujuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi melalui Konsili Ekumenis. Setelah itu, Kaisar Konstantin menulis surat undangan untuk para uskup supaya datang ke Nicea. Maka para uskup dari Mesir, Persia, Asia, Syria, Yunani, Thrace dan lain sebagainya datang menghadiri Konsili yang diadakan di Nicea. Kemungkinan secara historis Konsili tersebut diprakarsai oleh Kaisar Konstantin dan Paus Sylvester I. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya uskup yang hadir dalam konsili. Selain itu Kanon ke-20 yang membahas tentang ketentuan Gerejawi menunjukkan bahwa Kaisar Konstantin dan Paus Sylvester I bertindak dalam persetujuan tentang Konsili yang diadakan di Nicea.

[postingan number=3 tag= ‘saudara-yesus’]

Konsili Nicea dipimpin oleh pihak otoritas Gereja, yakni Hosius dari Kordova, Vitus dan Vincentius (perwakilan Paus), Patriarkh Aleksander dari Alexandria dan Eustathius dari Antiokhia. Sementara itu, Kaisar Konstantin hadir dalam setiap sesi-sesi Konsili sebagai tuan rumah Nicea. Adapun Konsili Nicea dihadiri sekitar 300 uskup untuk meluruskan ajaran sesat Arius.[1] Ajaran Arius dikecam dan dibuat pernyataan Credo untuk menegaskan kembali ajaran para rasul tentang Kristus yang ‘sehakekat dengan Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar.’ Ketika penandatangan tentang ajaran ini, hampir semua uskup setuju. Hanya ada 17 orang uskup yang enggan bersuara. Meskipun demikian selain Arius, ada 2 orang uskup yang menolak untuk menandatangani teks Syahadat Nicea yakni Theonas dari Marmarica dan Secundus dari Ptolemais. Hasil Konsili Nicea mencakup pernyataan iman dari ke 318 Bapa Gereja dan ke 20 kanon yang ditetapkan. Selain itu, ada surat kepada umat di Mesir dan kecaman terhadap Arius, Theonas dari Marmarica dan Secundus dari Ptolemais.

Umat non-Kristen seringkali membuat tuduhan tanpa dasar bahwa Konsili Nicea (325) ‘menobatkan atau mengangkat Yesus sebagai Tuhan’. Salah satu contoh tuduhan tersebut dapat kita temukan dalam buku Dan Brown yang berjudul Da Vinci Code yang mengatakan bahwa sebelum Konsili Nicea Yesus dianggap sebagai nabi, dan baru diangkat menjadi ‘Putra Allah’ oleh Konsili Nicea, yang diperoleh melalui voting. Namun tuduhan tersebut tidak benar atau salah besar.

Konsili Nicea sama sekali tidak menobatkan atau mengangkat Yesus sebagai Tuhan. Konsili Nicea diadakan untuk meluruskan ajaran sesat Arianisme dan menegaskan iman Gereja yang telah diwariskan oleh para rasul yakni bahwa Kristus sehakekat dengan Bapa. Kini, umat mengenal iman Gereja tersebut sebagai ‘Syahadat Para Rasul’ yang mencantumkan pokok-pokok iman dari para rasul. Selain itu, ajaran tentang Trinitas telah ada sejak zaman Para Rasul, meskipun kata ‘Trinitas’ tidak ditulis secara eksplisit disebutkan di dalam Kitab Suci. Bahkan Bapa Gereja sebelum Konsili Nicea (325) telah mengajarkan tentang Trinitas.[2]

St. Athanasius dari Alexandria (296-373) adalah pembela ulung iman Gereja yang telah ditegaskan dalam Konsili Nicea. St. Athanasius mengajarkan tentang homoousios yang berbicara tentang substansi yang sama dan homoiousios yang berbicara tentang substansi yang serupa.[3] Salah satu ajaran St. Athanasius yang terkenal adalah ‘kalau Kristus mempunyai awal mula, maka artinya ada saat bahwa Allah Bapa bukan Allah Bapa, dan di mana Allah Bapa tidak punya Sabda ataupun Kebijaksanaan….menurutnya hal ini bertentangan dengan Wahyu Allah dan akal sehat. “Sebab jika Allah Bapa itu kekal, tak berawal dan tak berakhir maka Sabda-Nya dan Kebijaksanaan-Nya pasti juga kekal, tak berawal dan berakhir.[4]

Berikut adalah pernyataan Iman Konsili Nicea: Kami percaya akan satu Allah, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan; dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah yang tunggal, yang dari Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya. Untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita, Ia turun dari surge dan menjelma menjadi manusia, menderita dan bangkit pada hari ketiga, Ia naik ke surga, Ia akan datang kembali untuk mengadili orang hidup dan yang mati. Dan [aku percaya akan] Roh Kudus.[5]

Dan barangsiapa yang berkata bahwa ada waktunya ketika Putera Allah tidak ada, atau sebelum Ia lahir Ia tidak ada, atau Ia diciptakan dari benda-benda yang tadinya tidak ada, atau bahwa Ia berasal dari hakikat yang berbeda dengan Bapa, atau bahwa Ia adalah makhluk ciptaan, atau Ia dapat berubah atau bertobat-semua yang serupa itu, Gereja Katolik dan Apostolik meng-anathema mereka.[6]

Referensi:
Kristiyanto, Eddy. 2003. Visi Historis Komprehensif. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
[1] Menurut catatan St. Athanasius jumlah uskup yang hadir sekitar 300 orang. Ia menyebut 318 orang dalam suratnya Ad Afros. Sementara itu, Eusebius menyebut jumlah uskup yang hadir 250 orang yang mayoritas berasal dari wilayah timur.
[2] Baca http://www.katolisitas.org/ajaran-bapa-gereja-sebelum-abad-ke-4-tentang-trinitas/.
[3] Eddy Kristiyanto, OFM, Visi Historis Komprehensif (Yogyakarta:Penerbit Kanisius, 2003), hlm. 51.
[4] Lihat Nicene and Post Nicene Fathers [NPNF] 4:311.
[5] Lihat Puji Syukur No. 2, merupakan hasil dari Konsili Nicea (325) dan Konsili Konstantinopel (381).
[6] Anathema artinya bahwa sekelompok orang atau seseorang yang mengajarkan ajaran yang menyimpang, dinyatakan sebagai kelompok atau orang-orang yang berada di luar Gereja.

Bunda Maria Tetap Perawan: sebelum, pada saat, dan setelah Melahirkan Yesus – Bagian II

3
Gambar ilustrasi diambil dari www.pixabay.com

Artikel yang sedang Anda baca ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya. Maka dari itu, sebelum membaca seluruh isi artikel ini, baiklah saudara-saudari terlebih dahulu membaca artikel sebelumnya di Bunda Maria Tetap Perawan – Bagian I.

[postingan number=3 tag= ‘saudara-yesus’]

Orang-orang Kristen non-Katolik seringkali bertanya apakah Maria tetap perawan pada saat dan setelah melahirkan Yesus? Bukankah menurut Kitab Suci Perjanjian Baru Yesus mempunyai saudara-saudari?

Mereka menyebutkan ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Yesus mempunyai saudara dan saudari. Contoh ayat-ayat Kitab Sucinya bisa dilihat pada pembahasan sebelumnya. Dari teks-teks yang disebutkan itu, mereka lantas berkesimpulan bahwa Maria tidaklah tetap perawan sebab ia telah melahirkan anak-anak lain selain Yesus.

Kita harus mengakui bahwa soal keperawanan Maria tidak mudah diterangkan. Ini lebih merupakan soal iman-kepercayaan yang sudah lama sekali diimani Gereja, ratusan tahun sebelum adanya pembedaan antara ‘Gereja Roma Katolik’ dan ‘Gereja Protestan’. Maka, jangan heran jika para perintis Gereja Protestan seperti Martin Luther, John Calvin, dan Ulrich Zwingli menghormati keperawanan abadi Maria dan mengakui hal itu sebagai pengajaran Kitab Suci.

Meskipun sulit dipahami, namun secara objektif dapat dikatakan bahwa keperawanan Maria inilah yang semakin menunjukkan ke-Allah-an Yesus. Banyak orang mungkin bertanya-tanya, sewaktu melahirkan Yesus, bagaimana Bunda Maria dapat tetap terjaga keutuhannya? Menanggapi pertanyaan ini, St. Agustinus mengajarkan bahwa tidaklah mungkin, bahwa Yesus yang datang dengan maksud memulihkan manusia dari kerusakan dosa dan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan (Mat. 4:23), malah merusak keutuhan ibu-Nya sendiri pada saat kedatangan-Nya.

Lantas, bagaimana dengan munculnya penyebutan ‘saudara’, ‘saudara perempuan’, dan ‘saudara-saudara’ dalam Kitab Suci? Perlu diingat bahwa istilah ‘saudara’ (bahasa Yunani: adelphos) dalam Kitab Suci memiliki arti yang luas. Kata ini tidak selalu diartikan secara literal sebagai saudara kandung atau saudara tiri. Hal yang sama berlaku juga untuk kata ‘saudara perempuan’ (adelphe) dan bentuk jamak ‘saudara-saudara’ (adelphoi).

Kitab Suci Perjanjian Lama menunjukkan bahwa istilah ‘saudara laki-laki’ memiliki makna semantik yang luas dan dapat merujuk pada kerabat laki-laki (saudara kandung maupun tiri), saudara-saudara sepupu, mereka yang menjadi anggota keluarga karena perkawinan (ipar) atau karena hukum (saudara angkat), dan tidak selalu karena hubungan darah; bahkan teman atau hanya rekan politik semata (lih. 2 Sam. 1:26; Amos 1:9).

Menarik untuk ditelaah bahwa dalam bahasa Ibrani atau Aram (bahasa yang diucapkan oleh Yesus dan murid-murid-Nya), tidak ada kata khusus untuk menyebut ‘sepupu’; sehingga mereka menggantinya dengan kata ‘saudara’ atau  frasa ‘anak paman saya.’ Tapi, tampaknya orang-orang Yahudi lebih sering menggunakan kata ‘saudara’ daripada frasa ‘anak paman saya’.

Para penulis Kitab Suci Perjanjian Baru menggunakan kata yang sepadan dengan kata ‘saudara’ dalam bahasa Aram untuk menyebut sepupu, saudara tiri, kerabat, dan bahkan mereka yang tidak memiliki hubungan darah. Dalam terjemahan Septuaginta (versi Yunani dari Alkitab Ibrani), kata Ibrani yang mencakup saudara dan sepupu diterjemahkan sebagai adelphos, yang dalam bahasa Yunani biasanya memiliki arti sempit seperti kata ‘saudara’ dalam bahasa Inggris. Padahal, sebetulnya, tidak seperti dalam bahasa Ibrani atau Aram, bahasa Yunani memiliki kata terpisah untuk menyebut sepupu, yaitu kata anepsios, tetapi para penerjemah Septuaginta menggunakan adelphos, bahkan untuk mereka yang benar-benar sepupu.

St. Hieronimus (hidup pada abad keempat) percaya bahwa Bunda Maria tetap tinggal sebagai perawan seumur hidupnya. Saudara-saudari yang disebutkan di dalam Kitab Suci itu, demikian Hieronimus, berasal dari keturunan Maria Kleopas, saudari dari Bunda Maria (Yoh. 19:25). Dialah yang memperkenalkan kemungkinan bahwa saudara-saudara Kristus sebenarnya adalah sepupunya, karena dalam idiom Yahudi, sepupu juga disebut sebagai ‘saudara-saudara.’

Pandangan St. Hieronimus ini menjadi pandangan resmi Gereja Katolik. Gereja Katolik meyakini bahwa Yesus tidak mempunyai saudara kandung. Mereka yang disebut ‘saudara-saudara Tuhan’ dalam Kitab Suci adalah sepupu Yesus, dan bukan saudara kandung-Nya. Dengan argumentasi di atas, Gereja Katolik meyakini bahwa Bunda Maria tidak mempunyai anak lain selain Yesus; dan ia tetaplah perawan seumur hidupnya.

Referensi:
Tay, Stefanus & Listiati, Inggrid. 2016. Maria, O Maria. Bunda Allah, Bundaku, Bundamu. Surabaya: Penerbit Murai Publishing.
Pidyarto, H. 2015. Mempertanggungjawabkan Iman Katolik. Malang: Penerbit Dioma.
https://jalapress.com/2018/11/09/apakah-yesus-mempunyai-saudara-kandung/
https://www.catholic.com/tract/mary-ever-virgin
https://www.catholic.com/tract/brethren-of-the-lord
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/jesus-had-brothers

Bunda Maria Tetap Perawan: sebelum, pada saat, dan setelah Melahirkan Yesus – Bagian I

0

‘Bunda Maria tetap perawan’ merupakan salah satu dari empat dogma tentang Bunda Maria yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Dasar dogma ini adalah karena Kristus adalah Allah, maka proses pembentukan-Nya sebagai janin tidak memerlukan campur tangan benih laki-laki, melainkan oleh kuasa Roh Kudus (Luk. 1:35).

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Banyak orang Kristen tidak mengalami kesulitan untuk percaya bahwa Bunda Maria adalah seorang perawan sebelum melahirkan Yesus, sebab memang dikatakan demikian dalam Kitab Suci, yaitu bahwa ia mengandung dari Roh Kudus (lih. Mat. 1:20; Luk. 1:35). Artinya, Tuhan Yesus Kristus menjadi manusia di dalam rahim Bunda Maria, tanpa ada keterlibatan benih laki-laki.

Dengan demikian, lahirnya Kristus dari rahim seorang perawan, menjadi salah satu tanda ke-Allah-an Yesus, sebab tidak pernah ada dalam sejarah manusia, seorang manusia lahir dari seorang perawan tanpa campur tangan benih laki-laki. Hanya saja, yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana keadaan Bunda Maria pada saat dan setelah kelahiran Yesus? Apakah dia masih tetap perawan?

Gereja Katolik secara konsisten menyebut Bunda Maria sebagai ‘Perawan yang Terberkati’. Dengan sebutan itu, Gereja Katolik ingin menegaskan bahwa Bunda Maria tetaplah perawan sepanjang hidupnya, baik sebelum, pada saat, maupun sesudah kelahiran Yesus. Namun, tidaklah demikian bagi orang-orang Protestan. Ketika orang-orang Protestan menyebut Maria sebagai ‘perawan’, itu berarti dia hanya perawan sampai kelahiran Yesus.

Ketidaksepakatan itu muncul karena adanya perbedaan penafsiran atas ayat-ayat Kitab Suci yang menggunakan istilah ‘saudara-saudara,’ ‘saudara,’ dan ‘saudara perempuan.’ Orang-orang Protestan percaya bahwa Maria dan Yusuf memiliki anak-anak lain selain Yesus, yang oleh Kitab Suci disebut sebagai ‘saudara-saudara Tuhan.’

Memang, ada sekitar sepuluh contoh dalam Kitab Suci Perjanjian Baru di mana kata ‘saudara’ dan ‘saudara perempuan’ Tuhan disebutkan (Mat. 12: 46; 13: 55; Mrk. 3: 31-34; 6: 3; Luk. 8: 19-20; Yoh. 2:12; 7: 3, 5, 10; Kis. 1:14; 1 Kor 9: 5). Namun demikian, perlu disadari bahwa baik Kitab Suci maupun keyakinan jemaat perdana sama tidak menyebutkan bahwa Maria mempunyai anak-anak lain selain Yesus. Justru sebaliknya, dari Kitab Suci dan Tradisi, kita diberi tahu bahwa Yesus adalah anak tunggal Maria; dan bahwa Bunda Maria tetap perawan seumur hidupnya.

Ketika Yesus ditemukan di Bait Suci pada usia dua belas tahun, tampak bahwa Ia adalah satu-satunya putra Maria dan Yusuf. Sama sekali tidak ada petunjuk dalam Kitab Suci tentang anak-anak lain dalam keluarga Maria dan Yusuf (Luk. 2: 41-51). Yesus dibesarkan di Nazaret, dan orang-orang di Nazaret menyebutnya sebagai ‘putra Maria’ (Mrk. 6: 3). Kita tahu bahwa tidak pernah ada orang lain dalam Injil yang disebut sebagai putra Maria, bahkan ketika penulis Kitab Suci menyebut mereka sebagai ‘saudara-saudara’ Yesus.

Juga, perhatikan apa yang terjadi di kaki salib ketika Yesus menghadapi sakratul maut. Ia mempercayakan ibu-Nya kepada rasul Yohanes (Yoh. 19:26-27). Padahal, Injil menyebutkan empat nama sebagai ‘saudara-saudara’ Yesus: yaitu Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas. Jika Maria mempunyai anak-anak lain selain Yesus, tentu kita sulit membayangkan mengapa Yesus justru menitipkan ibu-Nya kepada orang lain yang bukan saudara kandung-Nya?

Referensi:
Tay, Stefanus & Listiati, Inggrid. 2016. Maria, O Maria. Bunda Allah, Bundaku, Bundamu. Surabaya: Penerbit Murai Publishing.
https://www.catholic.com/tract/mary-ever-virgin
https://www.catholic.com/tract/brethren-of-the-lord