11.5 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 51

Katolik Menjawab: Tidak Mungkinlah Alkitab Dipalsukan

0
Gambar ilustrasi oleh voltamax / Pixabay

Orang-orang tertentu seringkali menuduh dan beranggapan bahwa Alkitab yang kita miliki saat ini isinya sudah banyak diubah. Atas dasar anggapan seperti itu, mereka lalu menyimpulkan bahwa Alkitab yang kita miliki saat ini adalah Alkitab yang sudah dipalsukan.

Anggapan seperti itu berkembang secara masif dan dianggap sebagai suatu kebenaran di kalangan mereka. Hanya saja pertanyaan yang mestinya kita ajukan adalah “Bagian mana dari Alkitab itu  yang sudah dipalsukan?

[postingan number=3 tag= “tuhan-yesus”]

Kok bagian mana? Apakah Alkitab itu banyak? Ya, Alkitab itu kan kumpulan buku. Kata Alkitab diambil dari kata bahasa Yunani ‘Biblia’ [Inggris: bible] yang berarti kumpulan buku. Mengapa begitu? Karena ketika kita membuka suatu Alkitab, kita sebenarnya berhadapan dengan banyak buku (yang telah dipadukan menjadi satu). Nah kalau begitu, bagian mana sih yang dipalsukan dari kumpulan buku itu?

Seandainya mereka menyebutkan bagian mana saja dari Alkitab yang sudah dipalsukan, kita wajib mengajukan satu pertanyaan lagi: “Dari mana mereka tahu bahwa bagian itu sudah dipalsukan? Apakah mereka menyimpan Alkitab yang asli?”

Secara logika, jika kita mengatakan sesuatu sebagai yang ‘palsu’, itu artinya kita mempunyai yang aslinya atau sekurang-kurangnya kita tahu bagaimana isi atau keadaan yang aslinya. Kita tidak bisa seenaknya mengatakan ‘yang ini palsu’ kalau kita sendiri tidak bisa memberikan bukti mengenai seperti apa yang aslinya. Jangan mengatakan ‘yang ini palsu’ jika kita tidak bisa menunjuk ‘yang itu asli’. Kategori ‘palsu’ dan ‘asli’ itu baru bisa disematkan setelah kita membuat perbandingan; dan itu mengandaikan bahwa kita mempunyai yang aslinya. Kalau tidak, omongan kita tidak lebih dari ‘tong kosong’, yang nyaring bunyinya tetapi tidak ada isinya.

Mengapa mereka mengatakan bahwa Alkitab sudah dipalsukan? Karena mereka mengamati bahwa terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Indonesia sudah sering berubah. Memang, diksi atau pilihan kata dalam terjemahan Alkitab berbahasa Indonesia sudah pernah beberapa kali berubah. Itu pun bukan tanpa alasan. Alasannya jelas: karena terjemahan Alkitab mengikuti perkembangan bahasa yang ada. Ya, yang namanya bahasa itu kan selalu berkembang meski maksudnya sama, misalnya dari ejaan lama menjadi ejaan baru, dari istilah yang satu ke istilah yang lain, dan sebagainya.

Nah, mengingat bahasa Indonesia selalu berkembang, maka memang mau tidak mau, terjemahan Alkitab harus disesuaikan dengan perkembangan bahasa Indonesia itu. Mengapa? Karena tujuan penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Indonesia adalah supaya ayat-ayat yang ada di dalamnya dimengerti oleh para pembaca di Indonesia. Apa gunanya diterjemahkan jika ternyata pembacanya tidak paham [misalnya hanya gara-gara menggunakan ejaan lama]? Bahwa dalam terjemahan itu ada kata yang terpaksa harus diganti atau diubah, ya itu harus dilakukan, tetapi hal itu sama sekali tidak menghilangkan maksud asali dari teks itu.

Mari kita lihat satu contoh dari Injil Yohanes 2:1-3 yang bercerita tentang pesta perkawinan di Kana. Pesta itu dihadiri oleh Yesus, ibunya, dan para murid-Nya. Diceritakan bahwa saat itu tuan pesta kekurangan anggur. Maria, ibu Yesus, berkata kepada Yesus: “Mereka kehabisan anggur.” Kalimat dari Maria yang bunyinya seperti itu ada di dalam Alkitab terjemahan sekarang. Tetapi dulu tidak diterjemahkan seperti itu. Dulu, kata-kata Maria itu diterjemahkan “Mereka tidak mempunyai anggur lagi”. Dari dua terjemahan itu, mana yang asli dan mana yang palsu? Bukankah dua-duanya mempunyai maksud yang sama, yaitu mau mengatakan bahwa tuan pesta sudah kekurangan anggur?

Oleh karena itu, perubahan diksi pada Alkitab terjemahan harus dipandang sebagai resiko dari bahasa terjemahan. Kalau demikian, apakah tidak lebih baik jika Alkitab tidak perlu diterjemahkan? Jawabannya jelas: Alkitab harus tetap diterjemahkan sebab manfaatnya besar.

Alkitab yang diterjemahkan memudahkan para pembaca mengerti apa yang mereka baca daripada Alkitab yang tidak diterjemahkan. Bahwa kalau diterjemahkan nanti diksinya berubah, tidak masalah; daripada diksinya tidak berubah karena tidak diterjemahkan, tetapi para pembacanya tidak mengerti sedikit pun apa yang mereka baca.

Mengapa diksi dalam Alkitab terjemahan selalu mengalami perubahan? Karena boleh jadi kata atau kalimat dalam bahasa asli tidak ada padanannya di dalam bahasa kita. Ya, kita harus pahami bahwa setiap bahasa mempunyai keterbatasan. Maka, apa yang harus kita buat? Kita mencari kata yang mendekati maksud dari bahasa aslinya. Jadi jelaslah, tuduhan ‘palsu’ terhadap Alkitab terjemahan tidak masuk akal.

Sukacita Pentakosta 2019 pada Trio Komunitas Kasih Labuan Bajo

0

Pentakosta artinya hari ke-50 setelah kebangkitan Kristus. Pada saat itu, para murid dipenuhi Roh Kudus. Kehadiran Roh Kudus itu merupakan pemenuhan janji Yesus bahwa Ia akan mengutus Penghibur yaitu Roh Kebenaran (bdk. Yoh.15:26).

Roh itu memberi mereka keberanian untuk bersaksi tentang Kristus dan segala perintah-Nya. Roh itu yang membuat mereka keluar dari ‘persembunyian’ dan pergi mewartakan kabar gembira kerajaan Allah yang dibawa dan diwartakan Yesus ke seluruh penjuru dunia. Roh itu memampukan para murid berbagi sukacita keraaan Allah kepada banyak orang.

[postingan number=3 tag= “iman-katolik”]

Karena dipenuhi oleh kuasa dari atas (Roh Kudus), pewartaan para murid mudah diterima dan dimengerti oleh pendengarnya (Bdk. Kis. 2). Alhasil, banyak orang tersentuh hatinya dan mau dibaptis menjadi pengikut Yesus. Begitulah Roh Kudus bekerja menggerakkan para murid menjadi saksi kebenaran tentang kerajaan Allah.

Bagi kita orang Katolik, Pentakosta adalah Hari Raya besar. Pentakosta itu hari lahirnya Gereja. Tak heran kalau ada orang yang pada hari Pentakosta menulis atau mengucapkan, “Selamat ulang tahun Gereja Katolik!” Kelahiran Gereja mustahil tanpa Roh Kudus. Tanpa Roh Kudus, tak ada Gereja! Itulah juga alasannya mengapa Roh Kudus disebut sebagai mempelai Gereja. Karena Hari Raya besar, perayaannya dilakukan secara serempak dan meriah di seluruh dunia.

Selain Perayaan Ekaristi, umat beriman  melakukan kegiatan sosial-karitatif lain, misalnya mengunjungi panti asuhan atau memberi bantuan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Aktivitas ini diyakini sebagai gerakan Roh Kudus yang terus mendorong umat beriman melakukan karya kebaikan dan mewartakan-membagikan sukacita kerajaan Allah kepada sesama.

Di Labuan Bajo, Komunitas Sant’Egidio (KSE) merayakan Pentakosta  secara berbeda bersama dua komunitas kasih lain yakni Komunitas Bruder Missionaries of the Poor (MOP) dan Komunitas Suster Kkottongnae. Perayaan yang ‘berbeda’ ini dirayakan di Komunitas Suster Kkottognae, setelah tahun lalu dirayakan di Komunitas Bruder MOP. Perayaan ini diawali dengan Perayaan Ekaristi pada pukul 10.00 Wita. Perayaan ekaristi dipimpin oleh RP. Laurens Gafur, SMM (selebran) dan didampingi oleh RD. Silvester Gonsaga (konselebran). Salah satu aspek penting yang ditekankan oleh RP. Laurens dalam kotbahnya adalah tentang peran Roh Kudus. Peran Roh Kudus yang digarisbawahi  itu menggerakkan atau memampukan orang berbagi kasih. Tentang berbagi kasih ini, Komunitas MOP dan Komunitas Suster Kkotongnae adalah teladan.

Kedua komunitas ini telah melaksanakan dengan baik apa itu berbagi kasih. Betapa tidak, Komunitas MOP merawat-mendampingi belasan anak laki-laki berkebutuhan khusus yang mereka ‘ambil’  atau dititipkan oleh keluarga-keluarga di seputar Manggarai Raya khususnya dan Flores umumnya. Sementara Komunitas Suster Kkotongnae merawat-mendampingi beberapa oma (nenek-nenek lansia) yang dititipkan atau mereka ‘ambil’ dari keluarga-keluarga di sekitar Manggarai Raya. Di pihak lain, Komunitas Sant’Egidio belajar berbagi kasih dari kedua komunitas ini. Cara belajarnya adalah mengunjungi kedua komunitas ini satu kali seminggu. Kunjungan diisi dengan bermain bersama atau belajar sesuatu dan diakhiri dengan doa bersama. Selain itu, ada Perayaan Ekaristi bersama setiap minggu ketiga dalam satu bulan. Semuanya ini diyakini sebagai peran dan karya Roh Kudus.

Setelah Perayaan Ekaristi acara dilanjutkan dengan ramah-tamah sederhana. Acara ini diawali dengan mendengarkan pesan Pentakosta dari presiden KSE internasional, Marco Impagliazo. Satu hal penting yang disampaikan Marco adalah tentang kiprah KSE internasional. KSE telah berkembang pada 90 negara dan berperan aktif dalam menanggapi isu-isu global, misalnya isu kemanusiaan, perdamaian dan lingkungan hidup. Keterlibatan itu adalah perintah Injil. Keterlibatan itu hanya mungkin karena peran-dorongan Roh Kudus. Marco terus memberi semangat agar KSE di seluruh dunia di bawah terang-bimbingan Roh Kudus terus peduli dan aktif menanggapi isu global dan berjuang mencari solusi terbaik bersama pihak-pihak terkait (negara, lembaga agama, organisasi kemanusiaan, LSM, dll).

Pesan Pentakosta Presiden KSE ini dipertegas oleh Penanggung Jawab KSE Labuan Bajo, Maria Yemato Asmat (Yen).  Selain mempertegas, Yen juga mengapresiasi semangat anak-anak muda KSE Labuan Bajo dalam berbagi kasih. Dengan kata-kata mutiaranya, “Tak ada yang terlalu miskin sehingga tidak bisa berbagi kasih kepada sesama”, Yen berharap agar KSE terus maju dalam berbagi kasih dan terus belajar bertumbuh bersama di atas dasar PRAY (doa), POOR (miskin), PEACE (damai). Karya kebaikan berbagi kasih itu adalah buah dari doa dan renungan atas Injil. Karya kasih itu lintas batas usia, suku, golongan, agama dan sebagainya. Itu juga alasannya mengapa tema perayaan Pentakosta bersama tahun ini adalah “KASIH PERSAUDARAAN TANPA BATAS.”

Setelah penegasan dan apresiasi penanggung jawab KSE Labuan Bajo ini, acara dilanjutkan dengan berbagi (sharing) pengalaman pelayanan berbagi kasih selama ini. Yang berbagi pengalaman adalah  beberapa perwakilan KSE, Komunitas MOP, Komunitas Suster Kkotongnae dan beberapa undangan yang hadir, termasuk RD. Silvester Gonsaga. Kisah berbagi ini memiliki benang merah bahwa berbagi kasih itu panggilan jiwa sebagai pengikut Kristus. Berbagi kasih itu perintah Injil! Aktivitas berbagi kasih itu selain dilandasi doa dan injil, perlu dilakukan sepenuh hati atau bersumber dari hati yang tulus; bukan embel-embel ingin dipuji atau mengejar keuntungan tertentu. Semua yang berbagi pengalaman sepakat bahwa berbagi kasih itu mendatangkan sukacita di hati. Sukacita itu tak tergantikan. Salah satu dasar biblis karya berbagi kasih yang mendatangkan sukacita itu adalah kata-kata Yesus dalam Matius 25:40, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Setelah sharing pengalaman berbagi kasih, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama. Saat makan siang berlangsung pelbagai acara hiburan (nyanyian, fragmen singkat, dll) disuguhkan kepada semua yang hadir. Setelah makan, sebagian peserta menari bersama. Ada sukacita! Perayaan penuh sukacita itu berakhir pukul 15.00 WITA.

Komunitas Sant’Egidio adalah komunitas awam Katolik yang didirikan pada tahun 1968 oleh seorang anak muda Italia berusia 18 tahun bernama Andrea Ricardi. Tampak bahwa misi pembaruan yang dihembuskan Konsili Vatikan II (1962-1965) dipahami dengan sangat baik oleh Andrea. Pemahaman yang baik itu ditandai dengan keberaniannya membangun KSE. Komunitas ini memiliki beberapa pilar, antara lain Doa, Orang Miskin, Damai, Injil, Hidup Berkomunitas dan Dialog. Pilar-pilar ini tak terpisahkan satu sama lain. Saat ini, KSE sudah berkembang di 90 kurang lebih 90 negara di dunia, termasuk di Indonesia. Di Labuan Bajo, KSE sudah berusia 2 tahun dan beranggotakan puluhan anak muda.

Komunitas Bruder MOP didirikan pada 1981 oleh Father Richard Ho Lung di Jamaica. Komunitas ini sudah berkembang di banyak negara di dunia, termasuk Indonesia. Mereka tergerak untuk melayani kaum miskin dan terpinggirkan. Di Labuan Bajo, Komunitas MOP mulai hadir tahun 2010. Selain membangun komunitas pembinaan (aspiran dan postulan), mereka juga mendirikan panti asuhan untuk menampung dan merawat anak-anak laki-laki berkebutuhan khusus. Saat ini ada belasan anak berkebutuhan khusus yang mereka layani dengan penuh sukacita.

Komunitas Suster Kkottongnae didirikan pada 1996  di diosean Chungju-Korea oleh Father John Oh. Teks Kitab Suci yang menjadi dasar komunitas ini adalah Yoh. 15:13, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” dan 1Yoh. 4:16, “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” Di Labuan Bajo, Komunitas ini diresmikan dan diberkati oleh Admistrator Apostolik Keuskupan Ruteng, Mgr. Silvester San pada 4 Juni 2018. Karya pelayanan mereka saat ini adalah merawat dan melayani dengan penuh sukacita beberapa oma (nenek, lansia) yang dititipkan oleh keluarga-keluarga tertentu.

Trio Komunitas Kasih ini (KSE, MOP & Suster Kkottongnae) akan terus berkarya berbagi kasih berlandaskan Injil dan atas desakan Roh Kudus di Labuan Bajo, khususnya di panti asuhan MOP dan Komunitas Suster KKottongnae.***

Katolik Menjawab: Doa ‘Bapa Kami’ Diajarkan Oleh Yesus Sendiri

0
Daria-Yakovleva / Pixabay

Selama ini kita mungkin mengira bahwa doa yang baik dan benar adalah doa yang dirangkai dengan kalimat yang panjang dan enak didengar. Tetapi, ternyata tidak demikian bagi Yesus. Tuhan Yesus bersabda: “Dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah” (Mat. 6:7). Bagi Yesus, doa yang baik dan benar itu adalah doa yang singkat, padat, dan jelas. Tidak bertele-tele.

Para murid meminta kepada Yesus supaya mengajarkan kepada mereka sebuah doa (Mat. 6:7-15). Doa yang diajarkan oleh Yesus itu begitu singkat, tetapi padat dan berisi. Itulah doa yang kemudian kita kenal sebagai doa ‘Bapa Kami’.

[postingan number=3 tag= “iman-katolik”]

Dalam doa ‘Bapa Kami’ ada beberapa hal yang patut digarisbawahi. Pertama, berisi pujian kepada Tuhan. ‘Bapa Kami yang ada di Surga, dimuliakanlah nama-Mu.’ Jadi, sebelum meminta ini dan itu kepada Tuhan, puji dan syukur kepada Tuhan terlebih dahulu.

Kedua, minta rejeki. ‘Berikanlah kami rejeki pada hari ini.’ Rejeki yang dimaksudkan di sini bisa berupa makanan yang secukupnya, kesehatan, kesuksesan dalam pekerjaan, dan sebagainya. Jadi, kita tidak perlu lagi menyebut satu per-satu apa yang kita minta. Jangan mendikte Tuhan.

Selain itu, apa yang menjadi tekanan di sini adalah ‘rezeki pada hari ini’. Jangan minta sekalian untuk besok, lusa, dan seterusnya. Minta dulu buat hari ini, besok dan lusa minta lagi. Jika rezeki besok, lusa, dan seterusnya semuanya diminta hari ini, lalu besok kita mau ke mana? Jangan-jangan setelah semuanya diberikan oleh Tuhan lantas kita tidak lagi datang bertemu Tuhan. Itu yang terjadi di mana-mana. Ketika seseorang diberikan kekayaan yang berlimpah, ia lupa Tuhan. Itulah alasannya mengapa kita hanya boleh minta rezeki hanya untuk sehari.

Ketiga, minta pengampunan dosa; yang disertai dengan janji untuk mengampuni orang lain. Setiap orang yang diampuni dosanya wajib mengampuni dosa orang lain. Jangan minta pengampunan kepada Tuhan kemudian menghakimi orang lain. Minta pengampunan dosa kepada Tuhan tidak bisa lepas dari janji untuk mengampuni orang lain. Ingat, Tuhan mengampuni dosa kita semata-mata karena Ia mengasihi kita. Maka dari itu, kita diminta untuk mengampuni kesalahan orang lain oleh karena kasih yang sama.

Keempat, meminta supaya tidak dibiarkan masuk ke dalam pencobaan dan kiranya dijauhkan dari yang jahat. Dunia ini syarat dengan berbagai macam pencobaan. Dengan doa ini kita meminta Tuhan supaya menjauhkan kita dari semua godaan ini. Tetapi jangan lupa, kalau kita sudah dijauhkan dari segala macam godaan dan dibebaskan dari segala yang jahat, kita tidak boleh menjerumuskan diri sendiri ke dalam pencobaan itu.

Banyak kali orang ada di dalam pencobaan bukan karena dimasukan oleh orang lain melainkan justru karena orang bersangkutan memang masuk sendiri ke dalam pencobaan itu. Banyak orang sudah dijauhkan dari yang jahat tetapi mau sendiri menjadi penjahat.

Tidak sedikit orang merasa putus asa dan merasa bahwa doanya tidak dikabulkan oleh Tuhan. Kadang-kadang kita berpikir bahwa Tuhan akan memberi apapun yang kita minta. Kalau itu yang kita harapkan, maka kita pasti akan kecewa. Memang Tuhan tidak akan memberi apa yang kita minta tetapi yakinlah Ia akan memberi apapun yang kita butuhkan.

Semoga dengan doa ini hubungan kita dengan Bapa semakin erat dan segala kebutuhan dasar kita tercukupi. Yakinlah, Bapa di Surga tidak akan membuat kita kecewa asalkan kita meminta sesuai dengan kebutuhan kita dan siap melaksanakan seluruh perintah-Nya. Amin.

Mengapa Tuhan ‘Memerintahkan’ Bangsa Israel untuk Menumpas Orang Kanaan?

0
Allah sudah lama tahu bahwa penduduk Kanaan menempuh haluan yang salah. Namun, Ia tidak segera melenyapkan mereka, sebaliknya Ia dengan sabar membiarkan 400 tahun berlalu sampai kesalahan mereka 'genap' (Kej. 15:16).

Menurut Kitab Pentateukh (lima kitab pertama dalam Kitab Suci Perjanjian Lama), ketika Tuhan membawa umat Israel keluar dari perbudakan di negeri Mesir, Dia menyuruh mereka merebut tanah Kanaan, yaitu tanah leluhur mereka (Ul. 7:1-2; 20:16-18). Kitab Yosua menceritakan bahwa orang-orang Israel itu menyerang dari kota ke kota di seluruh tanah Kanaan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Tuhan kepada mereka.

[postingan number=3 tag= “iman-katolik”]

Bukan hanya merebut tanahnya, kita juga membaca dalam Kitab Yosua bahwa setelah melewati Sungai Yordan, mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang ada di dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik orang tua maupun anak-anak, bahkan termasuk hewan peliharaan, seperti lembu, domba, dan keledai. Mereka juga membakar kota itu hingga segala sesuatunya dilalap api (Yos. 6:21, 24).

Mereka juga menumpas semua orang yang tidak percaya yang tinggal di kota Ai (Yos. 8:26), membunuh dua belas ribu orang laki-laki dan perempuan di kota itu, serta menggantung raja Ai pada sebuah tiang (Yos. 8:25, 29). Sementara di kota Makeda dan Libna, mereka tidak membiarkan seorang pun lolos dari mata pedang (Yos. 10:28, 30).

Mereka juga menghabisi orang-orang yang berdiam di Lakhis (Yos. 10:32); dan menaklukkan kota Gezer, Eglon, Hebron, Debir, dan Hazor (Yos. 10:33-39; 11:1-1). Segala kota kepunyaan raja-raja itu dan semua rajanya dikalahkan oleh Yosua; dan ia membunuh mereka dengan mata pedang. Mereka ditumpasnya seperti yang diperintahkan Musa, hamba TUHAN itu (Yos. 11:12). Mereka melenyapkan orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus (Kel. 23:23; Ul. 7:1-2; Yos. 3:10).

Singkatnya, dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, Tuhan secara gamblang memerintahkan orang-orang Israel supaya menghabisi mereka ‘yang tidak percaya’ yang tinggal di negeri Kanaan; dan menjadikan negeri itu sebagai Tanah Terjanji bagi mereka (Yos. 9:24).

Kisah penyerbuan terhadap tanah Kanaan dan orang-orang yang tinggal di dalamnya menyisakan pertanyaan besar di benak banyak orang. Orang-orang bertanya: “Mengapa hal sekejam itu dibiarkan atau bahkan diperintahkan oleh Tuhan? Bukankah yang kita tahu bahwa Tuhan itu Mahabaik (Mrk. 10:18), Mahakasih (1 Yoh. 4:8) dan Mahakudus (Im. 11:44-45)?

Memang, kita harus mengakui bahwa cerita tentang penyerangan yang dilakukan oleh orang-orang Israel terhadap tanah Kanaan dan orang-orang yang berdiam di dalamnya tidak selalu mudah untuk dipahami, dan bisa disalah-mengerti juga – apalagi  kalau kita hanya mendasarkan penafsiran kita pada teks semata, tanpa memperhatikan keseluruhan konteksnya.

Karena itu, jika kita ingin memahami apa sebenarnya yang terjadi, maka kita perlu mengingat beberapa kriteria penafsiran Kitab Suci berikut ini:

  • Memperhatikan dengan saksama ‘isi dan kesatuan seluruh Kitab Suci’ (KGK 112). Dengan kata lain, bagian lain dari Kitab Suci harus bisa membantu kita dalam memahami teks yang sedang kita baca.
  • Membaca Kitab Suci ‘dalam terang tradisi hidup seluruh Gereja’ (KGK 113). Kita harus memperhatikan apa yang telah Tuhan sampaikan kepada kita; tidak hanya melalui kata-kata yang sudah tertulis dalam Kitab Suci, tetapi juga dalam Tradisi Suci. Ajaran Gereja tentang perintah, “Jangan membunuh,” berarti bahwa tidak ada seorang pun boleh berpretensi mempunyai hak, dalam keadaan mana pun, untuk mengakhiri secara langsung kehidupan manusia yang tidak bersalah (KGK 2258).
  • Kita harus ingat bahwa pastilah ada ‘koherensi dari kebenaran iman’ (KGK 113). Artinya, iman kita tidak mungkin saling bertentangan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh orang-orang Israel pada zaman dulu, yaitu membunuh orang yang tidak bersalah, dapat dibenarkan untuk situasi saat itu; meski sekarang tidak lagi bisa diterima.

Jadi, jika Tuhan itu Mahabaik (Mrk. 10:18), Mahakasih (1 Yoh. 4:8) dan Mahakudus (Im. 11:44-45), maka tidak akan pernah dapat diterima secara moral bahwa Ia menghancurkan orang yang tidak bersalah. Namun, bagaimana kita memahami apa yang sudah terjadi itu?

Perhatikan apa yang dikatakan oleh St. Agustinus tentang bagian-bagian Kitab Suci  yang sulit dimengerti. Ia berkata: “… jika dalam Kitab Suci saya menemukan sesuatu yang tampaknya bertentangan dengan kebenaran, saya tidak akan ragu untuk menyimpulkan bahwa teksnya salah, atau bahwa penerjemahnya tidak mengungkapkan arti sebenarnya dari ayat tersebut, atau bahwa saya sendiri tidak mengerti” (St. Augustine, Ep. 82, i. et crebrius alibi).

[postingan number=3 tag= “tuhan-yesus”]

Kita semua sudah tahu bahwa pembunuhan secara sengaja terhadap orang-orang  yang tidak bersalah, secara moral tidak dapat dibenarkan. Apalagi, kita juga tahu bahwa Tuhan itu Mahabaik. Lantas, apa sebenarnya yang diperintahkan oleh Tuhan kepada orang-orang Israel? Apakah Dia menyuruh mereka untuk bertindak jahat – dengan membunuh – orang-orang yang tidak bersalah?

Dua kisah lain dalam Kitab Suci kiranya dapat membantu kita untuk menjawab pertanyaan ini.

Pertama, kisah tentang Abraham, Tuhan, dan Sodom (Kej. 18-19). Ketika Tuhan mengumumkan niatnya untuk menghakimi Sodom dan Gomora atas dosa-dosa mereka, Abraham dengan berani bertanya, “Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” (Kej. 18:25).

Abraham terlibat tawar-menawar dengan Tuhan. Tuhan meyakinkan Abraham bahwa jika ada sepuluh saja orang benar di kota itu, Dia tidak akan menghancurkan kota itu demi mereka. Dari sini kita belajar bahwa Tuhan memang adil, dan Dia tidak akan membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Seperti yang dikatakan Katekismus, “Tuhan itu amat baik secara tak terbatas dan segala karya-Nya baik” (KGK 385). “Bagaimanapun juga, baik langsung maupun tidak langsung, Tuhan bukanlah sebab kejahatan moral” (KGK 311). Yang menariknya adalah dalam Kej. 19 diceritakan bahwa ternyata Tuhan akhirnya menghancurkan kota Sodom.

Apakah itu berarti bahwa tidak ada seorang pun yang benar di antara orang-orang Sodom itu? Apakah tidak ada anak-anak yang tidak bersalah di sana? Ataukah ada sesuatu yang lain yang mau disampaikan dari kisah ini? Maka, mari kita lihat kisah kita selanjutnya dan lihat bagaimana kisah itu dapat membantu kita untuk menjelaskan apa yang mungkin terjadi.

Kedua, kisah tentang pertempuran di Yerikho (Yos. 6). Yerikho merupakan daerah di Tanah Terjanji yang dibicarakan dalam Ulangan 7; dan menjadi bagian dari negeri ‘yang harus dihancurkan.’ Di Kitab Yosua kita melihat bahwa orang-orang Israel  menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, sampai kepada lembu, domba dan keledai (Yos. 6:21).

Apa yang terjadi di Yerikho? Penafsiran literel dari perikop ini membawa kita pada kesimpulan bahwa tampaknya Tuhan memerintahkan kematian orang yang tidak bersalah, termasuk anak-anak. Tetapi, apakah ini satu-satunya cara untuk menafsirkan teks ini? Sang literalis memang menafsirkan setiap kata dalam Kitab Suci sebagai kebenaran historis; dan tidak membedakan antara berbagai jenis tulisan yang ditemukan dalam Kitab Suci — termasuk puisi dan metafora. Padahal, ‘untuk melacak maksud para penulis suci, hendaknya diperhatikan situasi zaman dan kebudayaan mereka, jenis sastra yang biasa pada waktu itu, serta cara berpikir, berbicara, dan berceritera yang umumnya digunakan pada zaman teks tertentu ditulis’ (KGK 110).

Apakah penulis Kitab Yosua benar-benar ingin mengatakan bahwa setiap makhluk hidup di kota Yerikho dihancurkan, termasuk anak-anak yang tidak bersalah? Padahal, kita melihat bahwa cerita itu memiliki pengecualian terhadap kehancuran total kota Yerikho. Rahab, perempuan sundal itu dan keluarganya serta semua orang yang bersama-sama dengan dia, misalnya, ternyata dibiarkan hidup oleh Yosua (lih. Yos. 6:25).

Kalau demikian, mungkinkah dalam contoh-contoh ini arti kehancuran total tidak dimaksudkan untuk dipahami secara harfiah, tetapi digunakan sebagai metafora? Dan, mungkinkah kisah-kisah ini merujuk pada kehancuran hebat — tetapi bukan kehancuran total?

Dalam kehidupan kita setiap hari, kita juga sering menggunakan gaya serupa dalam menyampaikan suatu cerita kepada orang lain. Ketika kita hendak menceritakan sesuatu, kita sering melebih-lebihkan keadaan sebenarnya agar terkesan serius dan hebat. Kiranya, demikian juga halnya dengan gagasan bahwa ‘setiap makhluk hidup’ di Yerikho terbunuh, sangat mungkin merupakan sebuah ungkapan semata.

Apa sebenarnya yang diperintahkan oleh Tuhan kepada orang-orang Israel? Dari percakapan antara Abraham dengan Tuhan kita tahu bahwa Tuhan tidak bermaksud menghukum orang-orang yang tidak bersalah. Jadi, sepertinya, Kitab Ulangan tidak bermaksud mengatakan bahwa Tuhan memerintahkan kematian setiap orang. Sebaliknya, dalam Kitab Ulangan Tuhan memerintahkan orang-orang Israel supaya “Janganlah engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki” (Ul. 7:3).

Jika saja Tuhan menghendaki kehancuran total dari orang-orang di tanah Kanaan, mengapa di Kitab Ulangan Tuhan menyampaikan larangan perkawinan campur antara keturunan Israel dengan mereka? Bukankah jika semuanya hancur dan mati, berarti tidak ada lagi yang tersisa untuk dapat melakukan kawin campur? Maka, sekali lagi, frasa ‘benar-benar menghancurkan’ di sini lebih tepat jika ditafsirkan sebagai ungkapan semata.

Barangkali ungkapan itu sekedar untuk menggambarkan kemenangan total bagi Israel; yaitu kemenangan yang berarti memisahkan diri dari apa pun yang mungkin menghalangi hubungan mereka dengan Tuhan. Sepertinya, itulah alasannya mengapa dalam Kitab Ulangan disampaikan perintah ini: “Sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada allah lain” (Ul. 7:4).

Penafsiran ini berarti bahwa Tuhan tidak memerintahkan kejahatan. Sebaliknya, Ia memerintahkan orang-orang Israel supaya menghindari kejahatan dengan menyingkirkan godaan-godaan yang mungkin menyesatkan mereka. Dan sebetulnya, Tuhan Yesus juga menggunakan ungkapan yang sama ketika menjelaskan tentang bagaimana caranya terhindar dari dosa. Ia berkata:

“Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka” (Mat. 5:29-30).

Tentu saja, dalam teks tersebut Tuhan Yesus tidak berbicara secara harfiah. Maka, jangan memotong tangan Anda, mencungkil mata Anda, atau membuang anggota tubuh Anda. Pelajarannya adalah bahwa kita harus berusaha keras agar terhindar dari hal-hal yang menjauhkan diri kita dari Tuhan.

Begitulah cara kita menafsirkan kisah penyerbuan orang-orang Israel terhadap tanah Kanaan. Tentu saja masih ada cara penafsiran yang lain yang patut kita perhitungkan juga. Tapi, hampir semua penafsiran mengerucut pada satu kesimpulan, yaitu bahwa Tuhan tidak memerintahkan orang-orang Israel untuk menghabisi orang yang tidak bersalah di tanah Kanaan.

Penafiran lain, misalnya, menyebutkan bahwa sebelum menaklukkan tanah Kanaan, Tuhan justru memerintahkan bangsa Israel, katanya: “Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu. Janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri” (Im. 19:17-18,33-34; bdk. Rm. 13:9).

Orang-orang Yahudi, seperti kita juga orang Kristiani, diharapkan ‘tidak melawan orang yang berbuat jahat’ (Mat. 5:39), tetapi sebaliknya, ‘siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu’ (Mat. 5:39). Namun demikian, orang-orang Israel diperintahkan supaya menghukum (bahkan membunuh) mereka yang melawan hukum. Hanya lima bab setelah memerintahkan setiap orang Israel supaya ‘tidak melawan kejahatan’ melainkan ‘mengasihi sesama seperti diri sendiri’ (Im. 19:18), Tuhan dua kali mengatakan bahwa pembunuh harus menerima hukuman mati (Im. 24:21, 17). Itu berarti bahwa menghukum orang jahat bukanlah tidak mengasihi.

Seperti halnya orang tua yang baik, guru, polisi, dan hakim dapat secara adil menghukum mereka yang melawan hukum, demikianlah juga halnya Tuhan yang Mahabaik dan Mahakasih menghukum orang-orang jahat. Orang tua dan guru penyayang menghajar anaknya pada waktunya (Ams. 13:24). Polisi yang berbelaskasih, yang terus-menerus menyelamatkan hidup orang-orang yang tidak bersalah, mempunyai otoritas (dari Tuhan dan dari pemerintah – Rm. 13:1-4) untuk membunuh orang-orang yang berlaku jahat, yang membunuh orang-orang lain. Hakim yang adil mempunyai otoritas untuk menghukum pelaku pemerkosaan terhadap anak di bawah umur. Jadi, cinta kasih dan hukuman fisik atau hukuman mati tidak saling bertentangan.

Penduduk Kanaan dihukum karena kejahatan yang mereka lakukan. Tuhan tidak menghukum mereka sebagai ras atau etnis tertentu. Tuhan tidak mengutus orang-orang Israel ke tanah Kanaan untuk menghancurkan bangsa-bangsa yang baik. Tetapi, sebaliknya, bangsa-bangsa Kanaan mengalami kerusakan yang mengerikan. Mereka mempraktikkan kebiasaan buruk (Im. 18:30) dan melakukan hal-hal yang menjijikkan (Ul. 18:9). Mereka melakukan penyembahan berhala, menjadi petenung, peramal, penyihir, dan pemanggil roh orang mati (Ul. 18:10-11). Bahkan, orang-orang yang tidak percaya di tanah Kanaan rela menjadikan putra dan putri mereka sebagai korban bakaran untuk dewa-dewi mereka (Ul. 12:30) serta melakukan ritual pelacuran dan inces. Nah, praktik mereka ini sangatlah barbar dan tidak bermoral. Itulah sebabnya mengapa Tuhan mengatakan bahwa negeri itu telah menjadi najis dan Aku telah membalaskan kesalahannya kepadanya, sehingga negeri itu memuntahkan penduduknya (Im. 18:25).

Tuhan sebetulnya sudah memberi kesempatan yang cukup lama bagi orang-orang di tanah Kanaan agar bertobat. Dia menunggu lebih dari empat abad untuk menghakimi penduduk Kanaan. Meskipun orang Amori sudah menjadi orang berdosa di zaman Abraham, Tuhan menunda memberikan keturunan kepada Tanah Perjanjian. Dia menunggu sampai orang-orang Israel telah berada di Mesir selama ratusan tahun, karena pada waktu itu Tuhan berbicara dengan Abraham bahwa  ‘kedurjanaan orang Amori belum ‘genap’ (Kej. 15:16).

Tuhan menahan penghakiman atas Kanaan selama 400 tahun sampai kejahatan mereka tidak bisa ditolerir lagi. Dia bahkan membiarkan umat pilihan-Nya menderita dalam perbudakan selama empat abad sebelum menentukan bahwa orang-orang Kanaan siap untuk dihakimi dan memanggil umat-Nya keluar dari Mesir. Jadi, Tuhan memiliki alasan yang sangat kuat untuk menghakimi orang-orang Kanaan, dan orang-orang Israel hanyalah alat bagi-Nya.

Lantas bagaimana dengan anak-anak yang tidak bersalah? Anak-anak Kanaan tidak menanggung dosa orang tua mereka (Yeh. 18:20).  Mereka adalah manusia yang tidak berdosa, tidak bersalah, dan berharga (bdk. Mat. 18:3-5). Faktanya bahwa anak-anak juga menjadi korban dari penyerangan itu, hal semacam itu sebetulnya justru membuat mereka terhindar dari kondisi yang lebih buruk — yaitu dibesarkan untuk menjadi sama jahatnya dengan orang tua mereka dan dengan demikian menghadapi hukuman abadi. Semua orang yang mati di masa kanak-kanak, menurut Kitab Suci, diantar ke Surga dan pada akhirnya akan tinggal di Surga. Jadi, Tuhan ingin membersihkan tanah Kanaan dari segala macam cobaan terhadap umat-Nya yang ingin berbalik dari-Nya.

Referensi:

https://biblestudyforcatholics.com/god-command-evil-actions-bible-part/
https://catholicism.org/ad-rem-no-267.html
https://brandonvogt.com/did-god-command-genocide/
https://www.thecatholicthing.org/2009/05/04/why-did-god-command-evil-deeds/
https://www.apologeticspress.org/APContent.aspx?category=6&article=1630
https://www.reasonablefaith.org/writings/question-answer/slaughter-of-the-canaanites/
https://www.bethinking.org/bible/old-testament-mass-killings
https://www.namb.net/apologetics-blog/joshua-s-conquest-was-it-justified/

Katolik Menjawab: Doa Bapa Kami Tidak Diubah

1
Gambar ilustrasi jclk8888 / Pixabay

Beberapa hari ini beredar kabar bahwa Paus Fransiskus ‘mengubah’ Doa Bapa Kami. Banyak netizen membagikan berbagai berita yang intinya menuduh bahwa tindakan Paus itu tidak tepat. Padahal, pada kenyataannya, mereka sendiri tidak membaca isi dari link berita yang mereka bagikan.

[postingan number=3 tag= “iman-katolik”]

Tak dipungkiri bahwa banyak juga umat Katolik yang bertanya-tanya tentang kebenaran dari berita tersebut. Nah, bagaimana sebenarnya yang terjadi? Setidaknya kita perlu menjelaskan beberapa hal berikut:

Pertama, Paus Fransiskus menyetujui perubahan terjemahan Misale (Buku Misa) bahasa Italia, yang isinya antara lain menyangkut terjemahan doa ‘Bapa Kami’ dan ‘Kemuliaan’. Oleh sebab itu, tidak benar bahwa Paus mengubah doa Bapa Kami dalam bahasa asli; Yunani atau Latin. Doa Bapa Kami dalam bahasa asli tidak pernah diubah, melainkan tetap seperti apa adanya.

Kedua, revisi terjemahan adalah hal yang wajar. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), misalnya, pernah beberapa kali merevisi terjemahan Alkitab; antara lain Alkitab Terjemahan Lama (TL), Alkitab Terjemahan Baru (TB), Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) atau Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK), Alkitab Terjemahan Baru versi 2. Perlu diketahui yang direvisi bukan bahasa asli dari Alkitab melainkan terjemahannya. Revisi seperti itu memang perlu dan sudah seharusnya untuk menyesuaikan dengan perkembangan bahasa. Demikian halnya yang terjadi dengan terjadi terjemahan doa Bapa Kami dalam bahasa Italia; sudah waktunya direvisi agar sesuai dengan perkembangan bahasa di sana.

Ketiga, revisi terjemahan diperlukan karena  terjemahan pada masa lampau memiliki kata atau kalimat yang sulit dipahami pada masa kini. Dalam terjemahan ke dalam bahasa Indonesia, misalnya, ada beberapa kata atau kalimat yang kalau dibaca oleh pembaca sekarang agaknya sulit dimengerti, entah karena kata atau kalimat itu sudah jarang digunakan atau karena karena kata atau kalimat itu sudah mengalami pergeseran arti dan makna.

Keempat, kalimat yang direvisi dari terjemahan lama adalah ‘dan jangan masukkan kami ke dalam pencobaan’ menjadi ‘dan jangan biarkan kami jatuh ke dalam pencobaan’. Dua terjemahan ini sama sekali tidak saling bertentangan, maka tidak ada yang perlu dipersoalkan.

Kelima, revisi terjemahan yang ramai diberitakan itu berlaku untuk terjemahan Misale (Buku Misa) ke dalam bahasa Italia; dan setidaknya sampai sejauh ini tidak mempengaruhi terjemahan ke dalam bahasa Indonesia.

Jika Adam dan Hawa adalah Manusia Pertama, Lantas Siapakah Istri Kain Yang Sesungguhnya?

1
Gambar ilustrasi oleh Feniks2010 / Pixabay

Kitab Kejadian (lih. (Kej. 4:17) menyebutkan bahwa ‘Kain bersetubuh dengan isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh; kemudian Kain mendirikan suatu kota dan dinamainya kota itu Henokh, menurut nama anaknya’. Pertanyaannya: jika Adam dan Hawa hanya memiliki tiga orang anak (Kain, Habel, dan Set), lantas siapa dan dari mana perempuan yang dinikahi oleh Kain itu?

Pertanyaan mengenai nama dan asal-usul dari istri Kain memang sudah sering diajukan oleh banyak orang. Isu ini terutama berfokus pada peristiwa setelah kematian Habel, yaitu setelah Tuhan melindungi Kain dengan sebuah tanda. Kita tidak pernah tahu tanda apa yang diberikan oleh Tuhan kepada Habel, tapi pastilah itu merupakan tanda yang penting.

Pertengkaran antara Kain dan Habel dapat dilihat pada Kitab Kej. 4:1-15. Kitab Suci tidak menyebutkan pada usia berapa Kain membunuh Habel (Kej. 4:8). Tapi karena dikatakan bahwa keduanya adalah petani, maka kemungkinan besar saat itu mereka sudah dewasa.

[postingan number=3 tag= “manusia”]

Setelah Kain menerima tanda dari Tuhan, penulis Kitab Suci menyebutkan bahwa Kain bersetubuh dengan istrinya.

“Firman TUHAN kepadanya: “Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat.” Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapa pun yang bertemu dengan dia. Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden. Kain bersetubuh dengan isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh; kemudian Kain mendirikan suatu kota dan dinamainya kota itu Henokh, menurut nama anaknya” (Kej. 4:15-17).

Kitab Kejadian tidak menyebutkan nama dan asal wanita itu. Padahal, kita juga tahu bahwa Adam dan Hawa merupakan ‘manusia pertama’ (bdk. 1 Kor. 15:45); dan bahwa mereka mempunyai ‘putra dan putri’ (Kej. 3:20). Perlu diketahui bahwa Kitab Suci tidak mencantumkan nama-nama semua anak Adam dan Hawa. Apa yang kita lihat pada Kej. 5:1-5 hanyalah garis besarnya.

“Inilah daftar keturunan Adam. Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah; aki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama ‘Manusia’ kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan. Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya. Umur Adam, setelah memperanakkan Set, delapan ratus tahun, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Adam mencapai umur sembilan ratus tiga puluh tahun, lalu ia mati.”

Penulis Kitab Suci tidak menyebut semua anak yang lahir bagi pasangan suami-istri. Pada kutipan di atas, misalnya, anak yang disebutkan namanya hanyalah Set; padahal Set lahir setelah Kain dan Habel.  Juga, ada kalimat yang menegaskan bahwa ‘ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Ini menunjukkan kepada kita bahwa Adam dan Hawa mempunyai anak perempuan; tapi kita tidak pernah tahu siapa nama anak perempuan Adam dan Hawa. Lantas, apakah Kain menikahi saudarinya? Jawabannya: bisa ya dan bisa tidak.

Jawaban Pertama: Ya, Kain Menikahi Saudarinya

Tentu saja masuk akal jika kita mengatakan bahwa Kain menikahi saudarinya  karena Adam dan Hawa adalah manusia pertama, sehingga anak-anak mereka tidak mempunyai pilihan lain selain harus menikah sedarah.

Kita mungkin kaget mendengar jawaban seperti ini, karena kita sudah dipengaruhi oleh banyak pengajaran tentang moral. Tapi, jika kita berangkat dari Kitab Suci, maka jawabannya jelas. Dalam rangka memenuhi bumi, saudara dan saudari terpaksa harus menikah. Ketika jumlah manusia sudah banyak, pernikahan antar-sesama anggota keluarga tidak diperlukan lagi.

Mula-mula, perkawinan hanya didefinisikan ‘satu laki-laki untuk satu perempuan seumur hidup’ (bdk. Kej. 1-2), tidak ada ketidaktaatan terhadap perintah Tuhan (sebelum zaman Musa), ketika saudara dan saudari kandung menikah. Jangan lupa bahwa Abraham menikahi Sara, saudari tirinya (Kej. 20:2, 12); Isak menikahi Ribka, putri dari sepupunya, Batuel (Kej. 24:15, 67); Yakub menikahi sepupunya, Lea dan Rahel. Tuhan melarang perkawinan seperti itu ratusan tahun setelahnya, yaitu pada zaman Musa.

Perlu disadari bahwa larangan mengenai perkawinan sejenis baru ada pada zaman Musa (Im. 18-20). Dalam perkembangan kemudian hari, isu genetik menjadi pokok bahasan penting dalam pernikahan sedarah. Jadi, jelaslah, Tuhan tidak melarang pernikahan sedarah sampai pada zaman Musa.

Bahwasanya Kain menikahi saudara perempuannya juga secara logis disimpulkan dari doktrin Gereja tentang dosa asal. Dosa asal ditularkan kepada semua manusia dari orang tua pertama kita, Adam dan Hawa. Seperti kata St. Paulus: “Dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang” (Rm. 5:12; lih. Rm. 5:19-20; KGK 402-406).

[postingan number=3 tag= “iman-katolik”]

Jawaban Kedua: Tidak, Kain Menikahi Perempuan dari Keturunan Lain

Perlu kita ketahui bahwa Kitab Suci itu bukanlah laporan historis tentang peristiwa masa lalu, tetapi merupakan buku iman yang hendak mengajarkan butir-butir ajaran iman, meskipun data dan fakta tidak bisa diabaikan begitu saja. Pertanyaan kita tentang istri Kain mengalir dari pandangan bahwa kisah-kisah ini adalah laporan sejarah. Padahal, kisah Penciptaan Adam dan Hawa (Kej. 1-3) dan kisah Kain dan Habel (Kej. 4:1-16) bukanlah laporan sejarah.

Pusat perhatian dari cerita tentang Kain ini tertuju pada dosa Kain dan hukuman yang diakibatkan oleh dosa itu; sehingga banyak pertanyaan dibiarkan tak terjawab; termasuk pertanyaan mengenai asal-usul istrinya. Tapi, jika kita cermati ketakutan Kain akan pembalasan orang lain terhadap tindak kejahatannya (4:14), maka kita bisa katakan bahwa kisah itu tidak bisa dimengerti jika diandaikan tak ada orang lain, selain Adam, Hawa, dan Kain (meski dalam kisah itu tidak disebutkan adanya orang lain di sekitar mereka).

Tidak mungkin bahwa pembalasan akan datang dari keturunan Habel. Fakta bahwa tidak ada daftar keturunan Habel harus ditafsirkan bahwa Habel dibunuh pada usia muda, sehingga tidak mempunyai keturunan. Jika saat itu hanya ada Adam, Hawa, dan Kain, lantas mengapa Kain harus takut? Kisah ini mengandaikan adanya orang-orang lain, dan suatu masyarakat yang teratur dengan pekerjaan yang berbeda-beda, tempat kultus persembahan sudah mulai berkembang (lih.Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, 2002, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 42).

Tambahan pula, pada Kej. 4:17 dikatakan bahwa ‘Kain mendirikan suatu kota dan dinamainya kota itu Henokh, menurut nama anaknya.’ Ini menunjukkan bahwa ada banyak orang lain di sekitarnya. Tidak mungkinlah ia mendirikan sebuah kota hanya untuk bertiga (dirinya, istrinya, dan anaknya).

Menurut, Romo Petrus Maria Handoko CM, dalam tulisannya di Hidup Katolik, jika Kain menikah dengan saudarinya sendiri, pasti hal ini dikatakan secara eksplisit. Sangat mungkin Kain menikah dengan perempuan lain di luar keluarga Adam. Ini mengandaikan ada poligenisme. Sekedar informasi, poligenisme adalah pandangan bahwa berbagai ras manusia berevolusi secara independen satu sama lain, dan secara langsung bertentangan dengan interpretasi literal mengenai penciptaan Adam dan Hawa dalam Kitab Kejadian; sedangkan monogenisme adalah doktrin bahwa manusia modern muncul dari sepasang leluhur tunggal, yaitu Adam dan Hawa.

Meski demikian, ide tentang poligenisme ini tentu saja masih menyisakan diskusi yang panjang. Bahkan, Paus Pius Pius XII, dalam ensikliknya ‘Humani Generis’ pernah menuliskankan demikian:

“The faithful cannot embrace that opinion that maintains that either after Adam there existed on this earth true men who did not take their origin through natural generation from him as from the first parent of all or that Adam represents a certain number of first parents. Now it is no way apparent how such an opinion can be reconciled with that which the sources of revealed truth and the documents of the teaching authority of the Church propose with regard to original sin, which proceeds from a sin actually committed by an individual Adam and which, through generation, is passed on to all and is in everyone as his own” (HG 37).

Sumber Pertama:

Sumber Kedua:

Doa Rosario Bertele-tele? Kamu harus tahu!

0
giselly / Pixabay

Pada suatu kesempatan seorang teman bertanya: Benarkah Doa Rosario itu bertele-tele seperti yang dimaksud Matius 6:7 “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan?” Hal itu ia tanyakan karena banyak orang non-Katolik yang menuduh bahwa doa Rosario adalah doa yang bertele-tele.

Bagaimana menjawab pertanyaan tersebut? Setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita jelaskan kepada orang yang bertanya:

Pertama, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bertele-tele adalah bercakap-cakap tidak jelas ujung pangkalnya; melantur-lantur; berlarut-larut. Sementara itu, doa Rosario jelas mempunyai ujung pangkal, tidak melantur dan berlarut-larut. Doa Rosario justru bukan bertele-tele melainkan mengulang-ulang doa Salam Maria, Bapa Kami, Kemuliaan, dan Terpujilah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mengulang-ulang adalah mengerjakan/melakukan hal yang sama berkali-kali; mengulang lagi beberapa kali; mengulangi. Dengan demikian doa Rosario tidak masuk dalam kategori bertele-tele seperti yang dimaksud Matius 6:7.

Kedua, Kitab Suci tidak melarang doa yang diulangi berkali-kali. Yesus sendiri di atas kayu salib mengulangi kata-kata Eli-Eli atau Eloi-Eloi Lama Sabakhtani (bdk. Mat. 27:46, Mrk. 15:34). Selain itu, kata yang diulangi pula bisa ditemukan dalam Mazmur 22:1-3. Bahkan dalam Kitab Wahyu Para Kudus memuji Allah dengan mengulang kata, kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa..(bdk. Why. 4:8). Masih banyak doa atau kata yang diulang-ulang dalam Kitab Suci sebab hal itu tidak dilarang atau tidak seperti yang dimaksud oleh Matius 6:7.

Ketiga, doa Rosario merupakan doa renungan atas misteri keselamatan mulai ketika Yesus dikandung hingga Roh Kudus diutus. Selain itu, doa Salam Maria didaraskan sebanyak sepuluh kali. Didaraskan berulang-ulang bertujuan untuk memusatkan perhatian pada misteri keselamatan. Kemudian disisipkan bacaan singkat, renungan atau nyanyian di antara dasa Salam Maria.

Berikut adalah dua puluh peristiwa yang direnungkan: Peristiwa-peristiwa Gembira, khususnya selama Masa Adven dan Natal [Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel (Luk 1:26-38), Maria mengunjungi Elisabet, saudarinya (Luk 1:39-45), Yesus dilahirkan di Bethlehem (Luk 2:1-7), Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah (Luk 2:22-40), Yesus diketemukan dalam Bait Allah (Luk 2:41-52)], Peristiwa-peristiwa Sedih, khususnya selama Masa Prapaskah dan tiap hari Jumat [Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di surga dalam sakratul maut (Luk 22:39-46),

[postingan number=3 tag= “bunda-maria”]

Yesus didera (Yoh 19:1), Yesus dimahkotai duri (Yoh 19:2-3),Yesus memanggul salib-Nya (ke Gunung Kalvari) (Luk 22:26-32), Yesus wafat di salib (Luk 23:44-49)], Peristiwa-peristiwa Mulia, khususnya selama Masa Paskah dan tiap hari Minggu [Yesus bangkit dari kematian (Luk 24:1-5), Yesus naik ke surga (Luk 24:50-53), Roh Kudus turun atas para Rasul (Kis 2:1-13), Maria diangkat ke surga (1Ko r15:23; DS 3903), Maria dimahkotai di surga (Why 12:1, DS 3913-3917)], Peristiwa-peristiwa Terang [Yesus di baptis di sungai Yordan (Ma 3:16-17),Yesus menyatakan diri-Nya dalam pesta pernikahan di Kana (Yoh 2:11), Yesus memberitakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan (Mat4:17-23), Yesus menampakan kemuliaan-Nya (Mat 17:2-5), Yesus menetapkan Ekaristi (Mrk 14:22-24)].[1]

[1] Baca tata cara berdoa Rosario di https://www.imankatolik.or.id/doarosario.html

Kenaikan Tuhan Yesus: Pergi untuk Kembali

0
Gambar ilustrasi oleh Myriams-Fotos / Pixabay

Kenaikan Tuhan Yesus: Pergi untuk Kembali!: Renungan Harian Katolik, Kamis 30 Mei 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 1:1-11; Injil: Luk. 24:46-53

Detik-detik seputar peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke surga tercatat dengan sangat baik di dalam Kitab Suci, terutama di dalam Kisah Para Rasul dan Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas).

Peristiwa kenaikan itu rupanya menyisakan kesedihan yang mendalam bagi para murid. Mengapa? Karena mereka mengalami pengalaman langsung hidup bersama dengan Yesus; merasakan senang dan susahnya pergi berkeliling dengan Dia; dan sekarang harus ditinggalkan oleh-Nya.

Maka, apa yang mereka buat? Mereka hanya bisa menatap ke langit; mungkin juga dengan mata berkaca-kaca. Kemudian berdirilah dua orang berpakaian putih (malaikat) dekat mereka, dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga” (Kis. 1:11).

[postingan number=3 tag= “tuhan-yesus”]

Intinya, kenaikan Yesus ke surga bukanlah sebuah perpisahan dengan kita, sebab Ia pergi untuk kembali. Lagipula, Ia tetap hadir di tengah-tengah kita sampai saat ini dalam cara yang berbeda. Terutama dalam Ekaristi, kehadiran Yesus menjadi nyata dan mencapai puncaknya. Sekarang tugas kita adalah untuk bersaksi tentang Dia kepada dunia; sebab baik dalam bacaan pertama maupun dalam bacaan Injil, Yesus berulang kali mengatakan kepada para murid-Nya: “Kamu akan menjadi saksi-Ku”, “Kamu adalah saksi dari semuanya ini”.

Ada satu hal menarik terjadi di sekitar peristiwa kenaikan Tuhan Yesus. Dalam Kisah Para Rasul, seperti yang kita dengarkan pada bacaan pertama hari ini, dikisahkan bahwa sampai menjelang kenaikan-Nya, para murid masih menyimpan satu pertanyaan yang sudah sejak lama mereka pendam. Mereka sepertinya baru menemukan momentum yang tepat untuk menyampaikan unek-unek mereka. Mereka bertanya: “Tuhan, pada masa inikah Engkau mau memulihkan Kerajaan bagi Israel?” (Kis. 1:6).

Yesus menjawab: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:7-8).

Yesus tidak ingin mereka terperangkap dalam pertanyaan ‘kapan’ waktunya; karena hal itu hanya akan membuat mereka pasif dan menunggu. Yesus mau supaya mereka berfokus pada pertanyaan ‘bagaimana’ dan ‘di mana’. Nah, mengenai bagaimananya, Yesus menggarisbawahi kalimat ‘kamu akan menerima kuasa’. Artinya, pemulihan terhadap segala keadaan yang mereka alami akan terjadi oleh mereka sendiri berkat kuasa yang mereka terima dari Roh Kudus.

Mereka harus berbuat sesuatu untuk hidup mereka sendiri; sebab Tuhan memberikan kemampuan kepada mereka untuk itu. Hanya dengan cara itu, mereka menjadi saksi bagi Tuhan Yesus. Yang namanya saksi itu tidak boleh diam dan pasif; melainkan harus berbicara dan bekerja.

Lalu di mana para murid harus bersaksi? Yesus bilang di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi’ (Kis. 1:7-8). Dalam Injil, Tuhan Yesus menggarisbawahi sekali lagi frasa ‘mulai dari Yerusalem’. Kesaksian itu harus dimulai ‘dari Yerusalem’. Mengapa harus dimulai dari Yerusalem? Karena Yerusalem adalah tempat Yesus memulai karya-Nya; dan di sana pula Ia mengakhiri hidup-Nya di dunia ini.

Dalam konteks kita, Yerusalem adalah KELUARGA kita; sebab di sanalah kita lahir, hidup, dan akan mengakhiri hidup kita. Maka, apabila perkataan Yesus ini dibahasakan dalam konteks kita, kita harus mengatakan bahwa kesaksian kita pertama-tama harus kita lakukan di lingkungan yang kecil dan terbatas, yaitu keluarga; setelahnya di lingkungan yang sedikit besar, yaitu masyarakat sekitar; hingga akhirnya sampai ke ujung bumi. Jika semua orang mampu menjaga agar keluarganya rukun, lingkungan tempat tinggalnya rukun, maka seluruh dunia pasti akan rukun.

Maka dari itu, seperti para murid yang kembali ke Yerusalem dengan sangat bersukacita, kita pun kembali ke rumah kita masing-masing dengan penuh sukacita; dan mulai bersaksi di sana. Tunjukkan kepada mereka yang ada di rumah dan yang ada di lingkungan sekitar bahwa kita mempunyai kemampuan untuk membangun rumah tangga yang lebih baik, masyarakat yang lebih baik, dan dunia yang lebih baik; dan katakan kepada mereka bahwa kemampuan itu kita dapatkan dari Tuhan. Amin.

Kenaikan Yesus ke Surga: Kebenaran yang tak Terbantahkan

0
JanBaby / Pixabay

Tiap tahun umat Kristiani merayakan kenaikan Yesus ke surga. Kenaikan Yesus ke surga merupakan rangkaian peristiwa yang tak terpisahkan dengan peristiwa sengsara, wafat, dan bangkit.

[postingan number=3 tag= ‘salib’]

Perayaan peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus merupakan tonggak sejarah iman Kristiani. Tanpa adanya peristiwa kebangkitan, maka sia-sialah iman Kristen dan tentu juga tidak ada perayaan kenaikan Yesus ke surga (bdk. 1 Kor. 15:17).

Namun, tahukah Anda bahwa Mahkamah Agama saat itu membuat hoaks atau berita bohong bahwa Yesus tidak bangkit? Imam-imam kepala dan tua-tua memberikan sejumlah uang kepada serdadu-serdadu yang menjaga kubur.

Mereka berpesan kepada serdadu-serdadu itu, “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa (bdk. Mat. 28:11-14).”

Kabar bohong itu tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang (bdk. Mat. 28:15). Rasul Petrus juga hampir membuat kabar bohong. Ia panik karena melihat Yesus tidak ada di dalam kubur. Oleh sebab itu, ia mengatakan bahwa Yesus telah diambil orang dari kubur (bdk. Yoh. 20:1-8).

Petrus dan rekan-rekannya berbuat demikian karena mereka masih belum mengerti isi Kitab Suci (Yoh. 20:9). Barulah setelah Yesus beberapa kali menampakan diri di hadapan para murid, mata mereka pun dan mereka mengerti Kitab Suci (bdk. Yoh. 20:11-18, 19-23). Mereka akhirnya mengerti bahwa Yesus telah menubuatkan bahwa Ia akan sengsara, wafat dan bangkit (bdk. Mat. 16:21. 20:18-19, Mrk. 9:9-32, Yoh. 2:18-22).

Empat puluh hari setelah kebangkitan-Nya, Yesus naik ke surga disaksikan oleh para murid. Sebelum naik ke surga, Yesus meminta mereka untuk menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi (bdk. Kis. 1:8-11).

Sengsara, wafat, kebangkitan, dan kenaikan Yesus ke surga merupakan fakta sejarah. Bahkan hingga abad ini, berita tentang sengsara, wafat, kebangkitan, dan kenaikan Yesus ke surga tetap dirayakan oleh para pengikut-Nya.

Umat beriman juga telah mengerti Kitab Suci seperti para murid. Oleh sebab itu, kita dapat memetik beberapa pesan penting dari perayaan ini, antara lain: Pertama, wartakan berita sukacita dan bukan berita bohong. Karena berita sukacita adalah berita yang membawa nilai-nilai positif. Kedua, jangan panik dalam kondisi susah atau sulit. Tetap berfokus kepada Tuhan. Bawa segala keluhan dan pergumulanmu dalam doa, sehingga bebanmu semakin ringan. Ketiga, bacalah Kitab Suci supaya mengerti apa yang disampaikan Tuhan kepadamu, sehingga imanmu diteguhkan. Keempat, sebelum Yesus naik ke surga, Ia berpesan agar kita menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi (bdk. Kis. 1: 8). Kelima, Yesus tidak meninggalkan kita sebagai yatim-piatu, tetapi sebaliknya Ia akan mengirimkan Roh Kudus untuk menyertai kita sampai akhir zaman (Yoh. 14-16, Mat. 28: 20).

Kang Je, Tukang Jualan, dan Demo

0
Gambar ilustrasi oleh sasint / Pixabay

Tidak ada kata yang lebih bisa kulontarkan lagi selain, “My God…” begitu lihat berita di televisi seusai aku pulang beraktivitas. Padahal rencana selepas pulang kerja ini aku hendak melepas lelah sambal menikmati makan malam.

Kini mataku hanya terpaku pada berita di televisi serta sesekali mencoba menyuap makanan yang sudah telanjur kubeli ini. Meski jadi tak terasa nikmati, tapi aku juga tidak ingin menyia-menyiakan apa yang sudah Tuhan beri melalui tangan penjual makanan tadi.

Sebenarnya berita tentang kerusuhan ini sudah dari kemarin kubaca dan kudengar. Tapi, karena sibuknya pekerjaan dan konsentarasi pikiran, tak pernah kuanggap berita yang berseliweran tak henti itu.

[postingan number=3 tag= “kang-je”]

Apalagi tadi bosku membari tambahan pekerjaan, jadi saja makin tak konsentrasilah aku.

Plus, mulai dibatasinyana pemakaian media sosial yang dilakukan oleh pemerintah dengan alasan demi keamanan bersama. Walaupun ini membuat aktivitasku sedikit terhambat, tapi aku mendukung apa yang dilakukan pemerintah kali ini. Apalagi sebelum hari-hari ini, yang namanya berita tak jelas alias hoax sudah bukan hal aneh lagi.

Maka ketika akhirnya menjadikan televisi sebagai sumber informasi seperti saat aku masih kecil dulu, membuatku sedikit melangut meskipun isinya kok ya, pas yang tidak menyenangkan begini.

Sungguh, tak pernah terlintas di kepalaku mendapatkan berita kejadian begini lagi. Sama kala pepristiwa tahun 1998, kali ini aku pun terpana menyaksikan berita di televisi atas peristiwa yang nyaris sama.

Heuh. Mengapa orang senangnya membuat keramaian seperti ini? Tidak ada cara lain yang lebih baikkah?

“Makan saja dulu. Nasi gorengmu kalau lebih dingin, nggak enak loh….” Sebuah suara sudah ada di sebelahku.

Kulirik ke kanan, yang tadi menegurku sedang menikmati makananya dengan lahap. Nasi goreng juga.

“Akh, nggak kreatif nih…. Makannya kok samaan gini?” ujarku sambal menyuap lagi makanan yang ada.

“Tadi Aku pun sedang menonton televisi. Lalu ingat belum makan. Pas ke depan, yang ada jualan nasi goreng saja, ya sudah….”

Aku hanya tersenyum. Dalam hatin membatin, kalau tahu kan tadi sekalian saja biar dibelikan alias traktir.

“Nggak ada urusan traktir kalau begini sih,” ujar Kang Je yang seperti tahu apa yang berusan melintas di benak.

“Wah, kok tahu apa yang kupikirkan?” aku terperanjat sendiri.

Kang Je tersenyum. “Iya dong… Sejak kapan Aku tak bisa paham apa yang ada di benak anak-anakKu?”

Bener juga …. Kudu hati-hati.

“Aku kan selalu menyertai kalian semua. Apa pun kondisinya bahkan seperti yang sedang dilaporkan di televisi sekarang.”

Mendadak Kang Je menghentikan makannya begitu melihat lagi breaking news tentang keramaian yang terjadi. Hampir tiap jam, ada saja berita baru yang bikin makan jadi  tambah nggak enak begini. Rasanya ikut dag dig dug juga dengan semua hal ini.

Kuperhatikan wajah dan mata Kang Je menatap televisi. Kegalauan paling dalam menyeruak diam-diam di balik wajah putih bersinarnya.

Akh. Bahkan Ia yang selalu menyertai langkah anak-anakNya terlihat begitu prihatin. Padahal bisa saja tho, dengan sekali menjentikkan jari, semua bisa selesai. Tidak perlu merasa ikutan was-was begini sementara kami dari jarak jauh.

“Nggak gitu juga caraKu menyelesaikan semua, anakKu….” Lagi-lagi Kang Je mengetahui apa yang ada di kepala. “Aku harus berlaku adil dan menyampaikan banyak makna di balik semua. Sebagai manusia berakal budi, Kuharap kamu mampu memahami makna apa yang ada.”

Aku terdiam. Untung nasi gorengku sudah habis. Demikian juga Kang Je. Ia segera membereskan sisa makannya lalu beranjak keluar.

Esok harinya, sebelum berangkat kerja, televisi masih menyiarkan hal yang sama dengan kejadian kemarin. Belum selesai juga nampaknya. Mulai ada rasa jengkel juga dengan semua kondisi ini. Sangat mengganggu. Apalagi efek merembet ke yang lain. Nggak menutup kemungkinan toh, keramaian ini bisa merambat kemana-mana juga, termasuk ke kotaku. Biarpun katanya tidak akan sampai jauh dampaknya. Semua akan terkendali.

Penggunaan sosmed yang dibatasi pun masih berjalan. Ya, demi maksud yang lebih jauh dan berkehidupan berbangsa, aku mencoba terima. Cuman …. Repot juga ya ternyata di zaman sekarang dibatasi internetnya begini.

“Coba kamu baca di beberapa sumber berita internet yang masih bisa bebas diakses. Ada hal menarik,” suara itu kembali terdengar. Ia mengambil gawaiku, mencari link yang dimaksud, lalu menunjukkan sesuatu.

Di tautan itu ada berita dan gambar seorang penjual kopi keliling yang tanpa ragu berjualan diantara para petugas keamanan yang sedang tetap berkondisi siap siaga.

Wah.

Kang Je kembali mengambil gawaiku.Tangannya lincah mencari sebuah tautan lagi. Kali ini sebuah video seorang penjual rujak yang dengan mata di bagian bawah diolesi odol, tetap santai melayani pembeli.

Aku terbelalak lagi kaget. Sekali lagi Kang Je mengambil gawaiku. Kali ini Dia memberi kode agar membuka link pertama lalu kedua. Pada link pertama ada berita tentang seorang penjaja rokok yang merugi sebab dagangannya dijarah. Semua, tanpa tersisa. Bahkan bajunya pun diambil.

Di tautan kedua, ada ucapan terima kasih dari seorang netizen yang ternyata tanggap membuat semacam ajakan patungan untuk membantu bapak penjual itu melalui sebuah aplikasi.

Trenyuh uy …. Sampai segitunya kepikiran dan perhatiannya.

“So… Apa yang kamu bisa lihat dari kejadian berapa hari ini?” tanya Kang Je.

“Apa ya…” Aku berpikir dulu. Selintas ada sesuatu yang terpikirkan di kepala. “Tetap berjuang dan melakukan aktivitas?”

“Yup… Tepatnya, Serahkanlah semua kekhawatiranmu kepada Allah karena Ia yang memelihara kamu. Satu Petrus ayat lima sampai tujuh.”

Wow. Begitu, Kang Je berkata barusan, di layar HPku sudah tertera ayat yang dimaksud.

“Lalu kejadian bapak-bapak pedagang itu, apakah Engkau juga yang memerintahkan?”

Kang Je memainkan sebelah matanya. “Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Lukas duabelas ayat duapuluh dua.”

Ting.

Sekalil lagi layarku memunculkan apa yang dikatakan Kang Je barusan. Aku jadi takjub.

“Jadi, nggak usahlah kuatir ya… BapaKu akan selalu menyertaimu dan semua manusia selama ia mau mengandalkan Tuhannya dengan setulus hati.”

Aku mengangguk-angguk. Mengerti.

“Ngomong-ngomong… Kenapa tadi selesai Engkau mengutip ayat, di ponselku sudah tertera ayat yang dimaksud?” aku jadi nggak tahan buat nanya.

Wajah Kang Je seketika berubah menjadi wajah layaknya orang bangga. “Siapa dulu dong…” Ia menmbetulkan sedikit kerah jubahnya Seperti orang hendak sombong. Ia melirik genit padaku yang makin kagum dengan ulahNya ini.

“Itu kan ulah google talk. Kamu bicara, dia bisa langsung tunjukkan,” ujar Kang Je di telinga.

“Heh?!”

“Baru sebentar dibatasi medsosnya, kenapa jadi seperti gaptek gini?”

Astaga!!

Bener juga….

Ya ampppuunnn….

“Maka, percayalah… BapaKu punya cara untuk tetap menjaga anak-anakNya. Langsung atau melalui banyak hal buat perpanjangan tanganNya….”

Aku menggaruk-garukkan kepalaku yang tidak gatal. Bener jadi merasa bodoh begini di hadapanNya….

“Sudah… Kerja sana…. Kesiangan loh…,” Kang Je mengingatkan.

“Eh, iya…!!” Segera aku bergegas. Bisa bahaya kalau belum cepat menuju kantor. “Aku berangkat dulu ya, Kang…”

“Ya. Hati-hati. Jangan lupa berdoa dan tetap berbuat baik ya…”

“Ahsiyap…..”

(Dalam pergumulan 21-22 Mei 2019)