8.5 C
New York
Sunday, April 5, 2026
Home Blog Page 52

Katolik Menjawab: Jika Mau Selamat, Percayalah kepada Tuhan Yesus

0

Jika Mau Selamat, Percayalah kepada Tuhan Yesus: Renungan Harian Katolik, Selasa 28 Mei 2019 — JalaPress.com; Bacaan Kitab Suci: Kis. 16:22-34

Semua orang, jika ditanya ‘apakah mau selamat atau tidak’, hampir bisa dipastikan jawabannya adalah ‘mau’. Ya, semua orang pastilah mau selamat dan ingin diselamatkan. Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang ingin jatuh binasa. Sayangnya, tidak semua orang tahu bagaimana caranya supaya bisa memperoleh keselamatan itu.

Banyak orang mau selamat tetapi jalan yang dipilih ternyata salah. Maka, pertanyaan yang diajukan oleh kepala penjara dalam bacaan pertama hari ini mewakili pertanyaan kita juga. “Apa yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” (Kis. 16:30).

[postingan number=3 tag= “tuhan-yesus”]

Pertanyaan semacam ini perlu kita ajukan setiap saat sebagai bahan refleksi kita. Pertanyaan yang sama juga dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi atas segala tindak tanduk kita. Sekiranya kita sudah melenceng jauh, maka saatnya untuk berbalik; atau jika sudah benar, maka diteruskan.

Paulus memberi tahu kita bagaimana caranya supaya selamat; dan jawaban dari Paulus ini menjadi jawaban Gereja juga. Ia berkata kepada kepala penjara itu: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” (Kis. 16:31).

Dari jawaban Paulus, kita akhirnya tahu bahwa ternyata tidak ada cara lain supaya selamat, selain percaya kepada Tuhan Yesus. Percaya kepada Tuhan Yesus berarti siap untuk menyerahkan seluruh hidup kepada-Nya dan rela diatur oleh-Nya. Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus membiarkan kehendak-Nya terjadi di dalam hidupnya.

Orang yang percaya Tuhan tidak pernah memaksakan kehendaknya pada Tuhan; juga tidak mendikte Tuhan untuk melakukan apa yang diinginkannya. Orang yang percaya Tuhan adalah orang yang siap sabar, yaitu sabar sampai waktu Tuhan tiba; sebab waktu Tuhan tidak sama dengan waktu kita.

Paulus dan Silas membuktikan bahwa sikap percaya kepada Tuhan tidak pernah sia-sia. Buktinya, mereka diselamatkan dari hukuman penjara hanya karena mereka percaya kepada Tuhan. Pengalaman yang dialami oleh keduanya itu menunjukkan bahwa Tuhan mendengarkan doa dari orang-orang yang percaya kepada-Nya.

Seringkali kita menaruh banyak persayaratan kepada Tuhan. Kita percaya hanya kalau Tuhan mengabulkan doa kita; kita percaya hanya kalau keinginan kita dipenuhi; dan sebagainya. Padahal, Tuhan sudah mencintai kita tanpa syarat apapun. Maka dari itu, sudah seharusnya kita juga percaya kepada-Nya tanpa syarat.

Ingat, Tuhan tidak akan pernah mengecewakan orang yang percaya kepada-Nya; sebab Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan” (Rm. 10:11).

Katolik Menjawab: Tak Ada yang Perlu Ditakutkan dari Isi Kitab Wahyu

1
KELLEPICS / Pixabay

Kitab Wahyu tidak selalu mudah, tapi juga sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dimengerti. Pas saja. Hanya memang dibutuhkan sedikit kejelian dari kita dalam membaca dan memahaminya. Banyak orang salah mengartikan isi Kitab Wahyu sebab mereka menafsirkannya secara harafiah. Padahal, kitab manapun, tidak hanya Kitab Wahyu,  tidak pernah boleh ditafsirkan secara harafiah.

Tidak sedikit orang merasa takut ketika membaca isi Kitab Wahyu. Ketakutan itu timbul karena diksi dan alur penulisan yang ada di dalam Kitab Wahyu tidak seperti biasanya: ada kisah-kisah yang mencekam, ngeri, dan menakutkan. Namun, sebenarnya, penulis kitab ini sama sekali tidak bermaksud supaya kita merasa takut ketika membaca tulisannya. Ketakutan kita terjadi karena kita kurang memahami isi Kitab Wahyu.

[postingan number=3 tag= “tuhan-yesus”]

Kitab Wahyu seringkali sulit dipahami karena pesan yang disampaikan tidak to the point, melainkan menggunakan bahasa simbolis: seperti angka, pribadi dan pristiwa historis, situasi yang kritis, unsur yang membentuk bumi dan langit, dan surga. Maka, tidak mengherankan ada begitu banyak ragam tafsiran atas Kitab Wahyu. Padahal, semuanya itu digunakan oleh pengarang untuk ‘satu maksud saja’ yaitu menolong umat Kristen abad pertama untuk mengerti tentang apa yang sedang terjadi, sambil memberikan mereka keteguhan iman dan menyanggupkan mereka untuk berseru “Datanglah, ya Tuhan Yesus” (Why. 22:20).

Penulis Kitab Wahyu menyebut dirinya ‘Yohanes’. Sang penulis mengaku telah menyusun kitabnya berdasarkan pengalaman rohani dari surga. “Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa  yang harus segera terjadi. Dan oleh malaikat-Nya yang diutus-Nya,  Ia telah menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes” (Why. 1:1).

Yohanes, si penulis Kitab Wahyu, memaklumkan Firman Allah dengan menggunakan sastra apokaliptik (dari bahasa Yunani, yang berarti: menyingkap, membuka rahasia). Jenis sastra ini tentu saja sudah biasa dikalangan umatnya saat itu. Banyak sumber menyebutkan bahwa tulisan apokaliptik dapat ditemukan di Timur Tengah antara tahun 200 SM sampai tahun 200 M. Karena itu, ketika Yohanes ingin menyampaikan pesan yang penuh wibawa kepada Gereja-gereja di Asia Kecil (Why. 1:4), ia amat cerdas mengunakan literasi yang sudah ada saat itu. Pendengarnya sudah terbiasa dengan bentuk tulisan apokaliptik, sehingga Yohanes tidak kuatir soal kemungkinan salah mengerti terhadap ‘bahasa sandi’ yang digunakannya. Jikalau saat ini kita merasa sulit memahami tulisan dalam Kitab Wahyu, itu terjadi karena kita hidup dalam konteks yang berbeda dengan waktu ketika kitab itu ditulis.

Ada dua faktor yang mendorong munculnya pola pemikiran yang berciri apokaliptik di dalam Kitab Wahyu. Pertama, hidup iman orang Yahudi sudah matang. Hidup iman ini dibangun atas dasar seluruh Perjanjian Lama, yang isi pokoknya adalah keyakinan bahwa Allah selalu setia dan menunjukkan belaskasihan-Nya kepada mereka. Kedua, situasi sosial-politik-religius yang mencekam. Karena iman, orang-orang beriman dianiaya secara besar-besaran. Nah, dalam keadaan seperti itu, mereka harus menemukan makna pengalaman hidup mereka. Makna ini ditemukan dalam keyakinan bahwa Allah yang sejak dulu setia, akan selalu setia sampai selama-lamanya. Kesetiaan Allah ini adalah jaminan bagi akhir yang gilang gemilang, entah bagaimana bentuknya dan entah kapan waktunya.

Pada prinsipnya, Gereja Katolik melihat Kitab Wahyu sebagai kitab yang penuh dengan alegori atau perumpamaan, sehingga cara melihat seperti itu memberi pengaruh terhadap cara kita  menafsirkan kitab ini. Dalam menafsirkan kitab Wahyu, kita tidak boleh lupa bahwa pastilah ada sebagian dari kitab itu yang mengangkat situasi kongkrit pada saat kitab itu dituliskan, meskipun ada juga yang memang berhubungan dengan kepenuhan Kerajaan Allah pada akhir zaman. Nah, untuk pewartaan mengenai situasi akhir zaman itulah, makanya digunakanlah satu jenis sastra yang disebut dengan istilah ‘apokaliptik’ itu.

Apakah apokaliptik merupakan satu-satunya jenis atau bentuk sastra yang dipakai dalam Kitab Wahyu? Jawabannya: tidak. Sejak awal, Yohanes menyatakan bahwa buku ini adalah buku profetis. “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat” (Why. 1:3).

Kita harus tahu bahwa sastra apokaliptik muncul setelah sastra kenabian berhenti. Kata-kata nabi disebut nubuat, bukan karena yang mereka katakan adalah ramalan mengenai masa depan. Pada dasarnya apa yang dilakukan oleh para nabi ialah membaca situasi aktual dan mengartikannya dalam terang firman Allah. Nah, jika pewartaan kenabian memusatkan perhatian pada masa sekarang, sastra apokaliptik mengarahkan perhatian kita ke masa depan, yaitu pada akhir zaman.

[postingan number=3 tag= “agama-katolik”]

Jika para nabi berkeyakinan bahwa keadaan sekarang harus berubah dan dibangun kembali atas dasar sabda Tuhan, penulis apokaliptik mempunyai pandangan lain. Barangkali pola berpikir apokaliptik ini dapat analogikan dengan seseorang yang mau meloncat jauh. Jika kita perhatikan, seorang peloncat jauh, sebelum ia melakukan lompat jauh, ia terlebih dahulu mundur beberapa langkah ke belakang dengan tujuan sekedar untuk mengambil ancang-ancang. Dari titik ancang-ancang itulah, ia kemudian berlari dengan sangat cepat dan pada titik tertentu ia meloncat jauh ke depan.

Pola berpikir apokaliptik menilai keadaan dunia sekarang ini benar-benar mengerikan (keadaan ketika kitab itu ditulis), tidak dapat diperbaiki lagi. Maka, untuk menilai masa sekarang yang kacau ini, ia harus mundur beberapa langkah ke belakang, yaitu mengenangkan karya-karya Allah pada masa lampau. Lalu, ia menarik kesimpulan bahwa Allah selalu setia.

Para ahli Kitab Suci berpendapat bahwa Kitab Wahyu berbicara tentang peristiwa yang sedang terjadi pada waktu kitab ini ditulis, yaitu tentang penganiayaan umat Kristen pada abad pertama oleh imperium Romawi. Jutaan orang Kristen abad pertama di Roma dianiaya dan dibunuh sebagai martir, karena mereka tidak mau menyembah kaisar sebagai dewa.

Penulis Kitab Wahyu berkeyakinan bahwa Allah yang telah terbukti setia, akan selalu setia selama-lamanya. Maka, entah bagaimana bentuknya dan entah kapan waktunya, Allah yang setia itu akan memberikan kemuliaan serta kemenangan kepada orang-orang yang percaya dan setia kepada-Nya. Keyakinan iman inilah yang menjadi landasan sekaligus kekuatan untuk berani dan setia berjuang dalam kehidupan nyata yang penuh dengan kesulitan dan tantangan.

Dengan demikian, sebetulnya, tema dominan yang terdapat dalam Kitab Wahyu ialah rahasia kesetiaan Allah. Kesetiaan Allah ini sudah dialami oleh umat sepanjang sejarah dan diyakini akan berlangsung terus sampai kepenuhan waktunya. Kesetiaan Allah inilah yang  menjamin kemenangan gilang-gemilang, yang dijanjikan kepada umat yang juga setia dalam pengharapan. Rahasia ini begitu besar dan mendalam, sehingga amat sulit atau bahkan tidak mungkin dirumuskan, kecuali dalam bentuk lambang-lambang. Rahasia itu dapat ditangkap melalui berbagai cara, misalnya melalui campur tangan Roh (Why. 1:10; Why. 4:2), penglihatan (Why. 17:3; Why. 21:10), dan perantaraan para malaikat (Why. 1:1).

Seorang Seminaris Ditahbiskan, Meskipun Dalam Kondisi Sakit Kanker

0

Beberapa waktu lalu foto seorang seminaris tersebar diberbagai grup facebook. Nama seminaris itu Fr. Michael. Diketahui bahwa seminaris tersebut sedang menderita penyakit kanker.

[postingan number=3 tag= “agama-katolik”]

Meskipun dalam situasi mencekam itu, Fr. Michael,  tetap ditahbiskan sebagai Diakon sekaligus tahbisan imamat. Banyak netizen yang menyebarkan foto-foto Fr. Michael mengucapkan  kesedihannya.

Selain itu mereka juga meminta netizen lain untuk mendoakan Fr. Michael  agar lekas sembuh, sehingga mampu mengemban tugas sebagai gembala umat.

Sumber : https://catholic-link.org/watch-this-video-of-fr-michaels-hospital-ordination/

Sebuah Kesaksian: Aku Menemukan Salib-Mu

0
Gambar ilustrasi oleh Pexels / Pixabay

Saya sudah sejak lama berteman di Facebook dengan seorang Katolik. Sebelum itu dari kecil saya sudah pernah belajar tentang Kristen non-Katolik. Namun dari pertemanan di Facebook itu saya mendapatkan pewartaan tentang iman Katolik.

[postingan number=3 tag= “agama-katolik”]

Memang, selama ini sudah puluhan tahun tidak pergi ke Gereja manapun, tetapi dalam setiap iman dan doa saya tertuju kepada Tuhan Yesus. Saya didorong untuk kembali ke Gereja, tetapi Gereja Katolik.

Saya pada awalnya mengalami kebingungan, karena saya belum pernah masuk ke Gereja Katolik dan tidak tahu tata cara ibadahnya. Saya takut jadi sorotan, dan takut ditertawakan. Tetapi teman itu yang selalu memberikan dorongan, sehingga akhirnya saya mencoba mengikuti misa pertama, dalam bahasa Mandarin. Awalnya saya nervous karena saya tidak mengenal siapa-siapa.

Saya sudah lama mempunyai kerinduan untuk ke Gereja, tetapi saya tidak berani dan malu. Pada akhirnya saya didorong dan dikuatkan untuk mencoba pergi ke Gererja. Tetapi saat Misa bahasa Mandarin tersebut, hati saya masih belum puas, karena tidak mengerti firman yang disampaikan melalui homili.

Kemudian saya melanjutkan untuk mengikuti kebaktian di Gereja non-Katolik di suatu kota. Lagi-lagi saya tidak tahu jadwal ibadahnya. Saya melihat kebaktian sedang berlangusng, akhirnya saya masuk juga, namun saya tidak mendengarkan Firman Tuhan, karena terlambat. Akhirnya saya mengikuti sesi kebaktian kedua. Saya kebaktian di Gereja non-Katolik memakai bahasa Indonesia.

Hari demi hari saya terus bertanya jawab dengan teman saya, karena saya pun tahu sedikit tentang cerita Alkitab. Saya sering juga membaca di FB Page, yang membahas mengenai iman Katolik.

Pada tanggal 20 September 2015, saya pertama kali ke Gereja, karena mengikuti masa katekumenat. Saya harus menunggu bulan Mei 2016, untuk mendapatkan Sakramen Baptis dan saya merasa lama sekali. Padahal ketika saya ke Gereja non-Katolik, ada pengumuman bagi yang mau dibaptis untuk mendaftarkan diri. Saya hampir saja mendaftar karena saya tidak sabar, tetapi sebelum daftar saya diskusi terlebih dahulu dengan teman saya.

Berdasarkan saran dari teman saya, maka saya tetap menjalani masa katekumenat. Saya mengikuti masa katekumenat di dua tempat. Saya pun kewalahan karena bolak balik di antara ke dua tempat itu. Akhirnya saya mendapat info di tempat yang lebih dekat, akan menerimakan sekaligus tiga sakramen. Maka, saya putuskan untuk mengikuti di tempat yang lebih dekat itu.

Saya pernah complain pada teman, karena dalam Gereja Katolik, susah sekali proses menuju pembaptisan, padahal menurutku di tempat lain begitu gampang. Tetapi teman saya menjelaskan tentang hakekat iman Katolik, sehingga membuat saya sabar.

Saya juga merasa bersukacita, ketika saat saya dalam perjalanan menuju Gereja pada hari Minggu untuk mengikuti kelas katekumen, saya menemukan SALIB yang ada corpus-nya. Tanpa sengaja saya melangkah dan melihat ke bawah, sudah melewati beberapa langkah, tetapi rasanya ada sesuatu benda tergeletak di lantai gedung. Kemudian saya kembali melihat dan tenyata sebuah SALIB.

Saya berpikir jangan sampai salib terinjak-injak di jalan, kemudian saya pungut. Saya melihat salibnya berwarna kuning dan ada corpus-nya. Saya senang, sekaligus takut dan bingung, dan bertanya dalam hati ini milik siapa? Kemudian, saya melanjutkan perjalanan ke Gereja untuk mengikuti pelajaran masa katekumenat dan ikut Misa.

Setelah Misa sore, saya bercerita kepada suster. Suster melihat SALIB tersebut, dan mengatakan itu hanya kuningan, dan karena tak ada yang punya, saya pun menyimpannya. Ketika pulang, saya penasaran. Saya mencoba bertanya ke toko emas, pura-pura mau jual, orangnya juga mengatakan, SALIB itu hanyalah berbahan chrome. Lalu, dia pun mengetes, dan melihat nilai jualnya.

Kemudian, orang itu tidak mengatakan emas, dia justru mengatakan mereka akan membeli dengan harga $200 Sin. Itu artinya salib itu adalah emas, kalau chrome tidak mungkin ada harganya. Akhrinya, saya berkata kepada mereka, saya akan pikir-pikir dahulu sebelum menjual.

Saya sebenarnya hanya ingin tes saja. Saya senang bukan karena itu emas, tetapi saya memaknai ini dalam perjalanan masa katekumenat yang saya lalui, karena pada waktu itu masih ada kebimbangan. Saya maknai penemunan SALIB itu, sebagai petunjuk dari Tuhan, untuk kembali ke pangkuan Gereja Katolik. SALIB itu mempunyai makna rohani bagi saya pribadi. Saya sangat bersukacita karena Tuhan menunjukkan jalan ke mana saya harus berlabuh.

Saya pun bingung mau ditaruh di mana lagi salib itu. Sempat hilang 8 bulan, entah terselip di mana. Saya merasa sedih ketika salib itu hilang, namun saya mencoba berpikir positif mungkin itu hanya titipan, dan kalau tercecer bisa didapati oleh orang lain, mungkin salib itu membawa jiwa baru.

Saya berkata dalam hati, “Tuhan, sebuah SALIB saja, saya tidak mampu menjaganya. Namun saya berjanji tidak mau kehilangan “salib” itu dalam hatiku, salib sesungguhnya.”

Saya terus menghibur diri dengan berpikir positif, mungkin itu hanya sarana untuk saya masuk ke Gereja Katolik. Delapan bulan kemudian, ketika saya sedang membaca Alkitab, lalu saya berniat mencari Rosario gelang yang diberikan sebagai souvenir, ketika saya dibaptis. Saya ingin melihat cara penggunaannya, begitu kata hatiku. Kemudian saya bongkar barang-barang yang saya terima, pada saat saya dibaptis. Dan ternyata saya menemukan SALIB emas itu kembali.

Saya sangat senang dan penuh sukacita. Kemudian saya pastikan supaya tidak hilang lagi. Saya pakai sebagai kalung sampai sekarang. Memang ada rasa canggung karena SALIB itu emas. Terkadang ada rasa kecil hati, apabila orang menyindir dengan berkata “Pakai kalung salib, tetapi tidak mampu pikul salib yang sebenarnya.”

Saya merasa senang bisa bertemu dengan teman Katolik, sehingga saya mengenal iman Katolik; dan sekarang menjadi seorang Katolik. Terima kasih telah berkenan menyediakan waktu untuk membaca sharing saya. Kalau ada waktu saya ingin menghubungi Silvester Detianus Gea, untuk bertanya mengenai Iman Katolik.

[Catatan: Sharing dikirim melalui WA. Pihak yang bersharing meminta agar identitasnya disembunyikan]

Konsili Yerusalem: Pengikut Kristus Tidak Perlu Disunat

0
Gambar ilustrasi oleh 696188 / Pixabay

Pembahasan mengenai perlu tidaknya sunat bagi pengikut Kristus sempat menjadi isu penting dalam sejarah kekristenan. Pembahasan tersebut tercatat dengan sangat baik di dalam Kisah Para Rasul 15:1-21.

Kemunculan isu tersebut bukan tanpa dasar. Dasarnya adalah adanya pengajaran dari orang-orang yang datang dari Yudea ke Antiokhia yang mengajarkan bahwa setiap orang yang mau diselamatkan (menjadi pengikut Kristus) harus disunat. “Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan” (Kis. 15:1).

Paulus keberatan dengan pengajaran tersebut. Meski dia juga berlatar belakang Yahudi yang taat, namun ia tidak mau tradisi Yahudi itu dibebankan kepada orang lain yang bukan dari keturunan Yahudi. Makanya ia dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu.

Tetapi, Paulus tidak bisa mengeluarkan keputusan sendiri berhadapan dengan isu yang sangat penting itu; sehingga ditetapkan, supaya ia dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.

Secara pribadi, saya melihat bahwa apa yang dilakukan oleh Paulus dan rekan-rekannya ini sangatlah tepat. Bahwasanya, untuk memutuskan sesuatu yang amat penting, kita perlu mendengarkan beberapa pihak; demi kemaslahatan banyak orang.

[postingan number=3 tag=”iman-katolik”]

Cerita berlanjut. Setibanya di Yerusalem, Paulus dan rekan-rekannya disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka. Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: “Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa” (Kis. 15:5).

Ternyata di Yerusalem pun ada juga kelompok yang beranggapan bahwa sunat itu wajib hukumnya. Sampai di sini, kita melihat bahwa ada dua pemikiran berkaitan dengan sunat itu: ada kelompok yang mendukung, tetapi ada juga kelompok yang berpendapat bahwa hal tersebut tidak diperlukan lagi. Karenanya, untuk mencapai kata sepakat, isu ini harus dibawa ke dalam sidang. Maka, bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu.

Menarik untuk dilihat di sini bahwa yang namanya ‘musyawarah untuk mufakat’ ternyata sudah lama ada di dalam sejarah kekristenan. Para rasul bermusyawarah untuk mencapai kata mufakat soal perlu tidaknya bersunat bagi orang-orang non-Yahudi yang mau menjadi pengikut Kristus. Kemudian hari, sidang yang dilakukan di Yerusalem ini dikenal dengan sebutan ‘Konsili Yerusalem’.

Sidang berlangsung alot, barangkali juga dengan sedikit ketegangan, sehingga sulit mencapai kata sepakat; makanya sesudah beberapa waktu lamanya, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka:

“Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga” (Kis. 15:7-11).

Di sini kita bisa melihat bahwa Petrus berbicara dengan otoritas dan penuh wibawa sebagai pemimpin. Ia dikagumi dan diperhitungkan suaranya di antara para rasul yang lain. Mengapa? Karena Yesus sendiri menitipkan tongkat kegembalaan-Nya kepada Petrus. Makanya, ketika Petrus berbicara, diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceriterakan segala tanda dan mujizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di tengah-tengah bangsa-bangsa lain.

Tongkat kegembalaan Petrus ini diwariskan secara turun-temurun melalui para paus. Paus mengambil peran seperti Petrus, memegang otoritas tertinggi dalam pengajaran iman. Makanya, dalam Gereja Katolik muncul istilah ‘Roma locuta, causa finita’ yang artinya ‘Roma berbicara, perkara selesai’. Kita boleh saja berdebat ini dan itu, tetapi jika Paus (Roma) sudah mengeluarkan keputusan, maka selesailah segala diskusi dan perdebatan. Dengan kata lain, perkara selesai.

***

Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus: “Hai saudara-saudara, dengarkanlah aku: Simon telah menceriterakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya. Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi.

Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah. Tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat.”

Perkataan dari Yakobus ini seolah menjadi keputusan akhir dari sidang itu: yaitu bahwa, untuk menjadi pengikut Kristus, orang tidak harus disunat. “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik.”

Sampai di sini jelas: tidak ada kewajiban bersunat untuk menjadi pengikut Kristus. Tapi, di situ masih ada satu hal yang dipesankan, yaitu mereka (orang Kristiani) harus menghindari makanan yang haram. Makanya, pada beberapa waktu lalu, seorang pembaca bertanya tentang topik tersebut, dan mendasarkan pertanyaannya dari Kis. 21:25. “Tetapi mengenai bangsa-bangsa lain, yang telah menjadi percaya, sudah kami tuliskan keputusan-keputusan kami, yaitu mereka harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan” (Kis. 21:25).

Jawaban saya sederhana saja. Kita harus mengakui bahwa untuk mengubah suatu kebiasaan diperlukan waktu dan penjelasan yang memadai. Sangat sulit untuk mengubah suatu kebiasaan yang sudah dilakukan bertahun-tahun dalam tempo yang singkat. Jika terlalu cepat, justru menimbulkan pertentangan dan penolakan. Jika sudah ditentang dan ditolak, misi pun tidak dapat berjalan dengan baik. Makanya perlu bertahap.

Kita bisa melihat, misalnya Kis. 21:25), konteksnya adalah kedatangan Paulus ke tengah-tengah komunitas Yahudi, setelah dirinya ‘berhasil’ mempertobatkan banyak orang non-Yahudi. Paulus mempunyai misi untuk memperkenalkan Kristus di antara orang Yahudi dan dia mau supaya mereka menerima Yesus. Tapi ada satu kendala, yaitu adanya rumor tak sedap tentang dirinya di sana, yaitu bahwa dia dikabarkan sudah tidak lagi menjalankan hukum Musa (Kis. 21:21).

Tentu saja, rumor semacam ini, jika tidak diberi penjelasan, justru akan menjadi batu sandungan bagi karya misinya. Makanya, orang-orang mengusulkan agar Paulus meluruskan romor itu dengan cara mengikuti upacara pentahiran (seperti orang Yahudi pada umumnya) dan orang Kristen non-Yahudi tidak boleh memakan makanan haram (Kis. 21:23). Dengan cara itu, maka orang Yahudi yang ingin menjadi pengikut Yesus tidak merasa enggan.

Kita mesti ingat bahwa yang kita bicarakan di sini ini adalah komunitas transisi dari Yahudi menjadi Kristen. Butuh waktu dan proses yang lama untuk mengubah mereka supaya menjadi ‘pure’ Kristiani. Maka, supaya tidak menjadi batu sandungan, lebih baik mengikuti pintu mereka sambil perlahan-lahan diajarkan ajaran Yesus. Tentu saja dengan pertimbangan: sejauh itu tidak bertentangan dengan ajaran Yesus.

Maria, Ratu Surga dalam Katolik: Bukan Dewi Kesuburan

0
jbundgaa / Pixabay

Banyak orang non-Katolik beranggapan bahwa Bunda Maria yang dihormati oleh umat Katolik bukanlah Bunda Maria, ibu Yesus; melainkan ratu surga yang disebut-sebut dalam Kitab Yeremia 7:18, 44:17.

[postingan number=3 tag= “bunda-maria”]

Anggapan seperti itu tentu saja tidak tepat karena beberapa alasan. Pertama, gelar ‘ratu surga’ (gebiyrah) yang diberikan kepada Maria tidak sama dengan gelar ‘ratu surga’ (meleket) yang diberikan kepada dewi kesuburan bangsa semit yang diceritakan dalam Yer. 7:18, 44:17. Adapun dewi kesuburan bangsa semit adalah Astoret atau Astarte.

Kedua, gelar Bunda Maria sebagai Ratu Surga mengacu pada penglihatan Rasul Yohanes dalam Wahyu 12:1-6. Dikatakan di sana bahwa ada seorang perempuan bermahkota melahirkan seorang anak yang menggembalakan segala bangsa dengan gada besi (bdk. Why. 12: 1, 5). Perempuan yang bermahkota dan melahirkan seorang anak itu adalah Maria. Sementara itu, anak yang dilahirkannya adalah Yesus, gembala segala bangsa.

Ketiga, semua orang kudus menerima mahkota kehidupan, termasuk Bunda Maria (bdk. 2 Tim. 4:8). Apalagi, Bunda Maria berhasil melaksanakan kehendak Allah sampai akhir hayatnya. Maka, pastilah menerima mahkota kehidupan (bdk. Yak. 1:12, 1 Pet. 5:4, Why. 2:10).

Keempat, Perjanjian Lama mencatat bahwa seorang ‘ratu’ (gebiyrah) dihormati bersama raja dan namanya dicantumkan bersama dengan raja (bdk. Yer. 13:18, 1 Raj. 14:21, 15:9-10, 22:42; 2 Raj. 12:2; 14:2; 15:33). Padahal, dalam Gereja Katolik, pemberian gelar ‘ratu surga’ kepada Bunda Maria sama sekali bukan sebagai saingan atas keutamaan Yesus Kristus yang adalah penyelamat. Gelar ‘ratu surga’ yang disematkan pada Bunda Maria semata-mata berkaitan dengan perannya dalam melahirkan Yesus Kristus, Sang Raja dan penyelamat (bdk. Mat. 1:22-23, Yes. 7:14).

Yesus kepada Pendengar-Nya: Akulah Pokok Anggur dan Kamulah Ranting-rantingnya

0
Gambar ilustrasi oleh JillWellington / Pixabay

Yesus kepada Pendengar-Nya: Akulah Pokok Anggur dan Kamulah Ranting-rantingnya: Renungan Harian Katolik, Rabu 22 Mei 2019 — JalaPress.com; Injil: Yoh. 15:1-8  

Ketika Tuhan Yesus berbicara di hadapan para pendengar-Nya, Ia mengikuti alam berpikir mereka; dan alam berpikir mereka sedikit banyak dipengaruhi oleh profesi masing-masing. Nah, pada masa itu, ada tiga profesi yang umum digeluti oleh banyak orang, yaitu petani, peternak, dan nelayan. Makanya, dalam setiap pengajaran-Nya, Yesus selalu mengambil contoh-contoh dari tiga profesi itu. Tujuannya supaya para pendengar-Nya itu dapat mengerti dengan baik isi pengajaran-Nya.

[postingan number=3 tag= “tuhan-yesus”]

Dalam Injil hari ini, Yesus mengambil contoh dari dunia pertanian, yaitu tentang pokok anggur. Kiranya semua orang yang berprofesi sebagai petani tahu bahwa tidak ada ranting anggur yang bisa hidup dan berbuah tanpa menyatu dengan pokok anggurnya. Maka, Yesus menggunakan cara berpikir yang sama untuk menjelaskan peran-Nya.

Yesus berkata: “Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” (Yoh. 15:4). Yesus menyebut diri-Nya sebagai pokok anggur, dan kita adalah ranting-rantingnya. Sama seperti ranting tidak bisa hidup dan berbuah tanpa pokok anggur, demikianlah juga kita tidak bisa hidup dan berbuah tanpa Yesus. Dengan kata lain, hidup dan masa depan kita bergantung hanya kepada Yesus.

Yesus berkata lagi: “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar” (Yoh. 15:6). Bisakah ranting-ranting hidup tanpa pokok anggur? Jelas tidak bisa. Ranting-ranting hanya akan hidup dan berbuah jika mendapat asupan makanan terus-menerus dari pokok anggur; dan itu hanya akan terjadi kalau ranting itu masih menyatu dengan pokok anggur.

Hidup kita hanya akan berbuah kalau kita menyatu dengan Yesus. Hidup kita hanya akan berkualitas kalau kita bersatu dengan Yesus. Dialah yang mengangkat derajat dan martabat kita menjadi manusia seutuhnya. Di luar Yesus kita tidak dapat berbuat apa-apa.

Kita tahu bahwa dunia yang kita tempati ini sangat kejam. Orang dikotak-kotakkan berdasarkan banyak kategori. Yang satu direndahkan, yang lain ditinggikan. Yang satu dirangkul, yang lain dikucilkan. Yang satu disanjung-sanjung, yang lain dilecehkan. Bisakah kita hidup dan berbuah kalau lingkungan sosial kita sudah dikotak-kotakkan seperti itu? Jelas tidak bisa.

Tapi, coba perhatikan apa yang dilakukan oleh Yesus kepada mereka yang dikucilkan di dalam masyarakat? Ia memperlakukan mereka secara istimewa. Orang miskin dilayani-Nya, para pendosa didekati-Nya, dan orang sakit disembuhkan-Nya. Hanya Yesus yang bisa melalukan hal seperti itu. Di luar Yesus, kita tidak akan mendapat perlakuan yang istimewa seperti itu.

Yesus tidak akan mencampakkan kita begitu saja. Ia mendengarkan permintaan kita. Ia selalu membuka hati-Nya untuk mengabulkan kebutuhan kita. Ia berkata: “Mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh. 15:7).

Dengan analogi ini, Yesus ingin mengatakan bahwa kita tidak bisa hidup tanpa Dia. Kita membutuhkan Yesus dan harus menyatu dengan Dia. Hidup kita hanya akan bermakna kalau kita berada di dalam Yesus. Yesus berkata: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak” (Yoh. 15:4-5).

Yesus harus berada di dalam kita supaya kita bisa hidup dan berbuah. Energi yang mengalir di tubuh kita haruslah energi yang kita dapatkan dari Yesus. Kita harus mengakui bahwa ada hal yang tidak bisa kita selesaikan sendiri; dan karenanya kita memerlukan pertolongan Tuhan.

Tuhan Yesus Mewariskan Damai Sejahtera, Bukan Perpecahan

0
pixel2013 / Pixabay

Tuhan Yesus Mewariskan Damai Sejahtera, Bukan Perpecahan: Renungan Harian Katolik, Selasa 21 Mei 2019 — JalaPress.com; Injil: Yoh. 14:27-31a

Biasanya, sebelum orang tua meninggalkan anak-anaknya (mati), ia terlebih dahulu mengumpulkan mereka (jika masih sempat) dan memberitahukan kepada mereka kata-kata terakhirnya (wasiat). Misalnya, rumah akan jatuh ke tangan siapa, tanah perkebunan pembagiannya bagaimana, ada utang yang harus dibayar oleh siapa atau kepada siapa, dan sebagainya. Pokoknya, isi wasiat itu bisa bermacam-macam.

Nah, Yesus juga menyampaikan wasiat kepada para murid-Nya. Saya membahasakan itu sebagai wasiat sebab Yohanes mencatat bahwa pesan-pesan penting ini justru disampaikan oleh Tuhan Yesus menjelang sengsara dan wafat-Nya. Ia berkata: “Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh. 13:34).

[postingan number=3 tag= “tuhan-yesus”]

Dalam khotbah hari Minggu kemarin saya mengatakan bahwa yang namanya wasiat itu harus dilakukan sebab jika tidak, pasti ada akibatnya. Lalu, apa akibatnya kalau kita tidak menjalankan wasiat dari Tuhan Yesus? Akibatnya: kita tidak bisa dikenali sebagai murid Yesus. Yesus sendiri berkata: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:35).

Hari ini Tuhan Yesus kembali menitipkan pesan penting bagi kita. Dia berkata: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu” (Yoh. 14:27a).

Damai sejahtera itu merupakan harta terbesar yang kita perlukan dalam hidup ini. Kita boleh punya ini dan punya itu tapi jika tidak ada damai di antara kita, percuma. Sebaliknya, biar kita hanya punya beberapa potong pakaian dan makan seadanya, tapi kalau ada damai di antara kita, maka tenanglah hidup ini. Bahkan, kalau ada damai, nasi tanpa lauk sekalipun tetap enak rasanya.

Semua orang perlu yang namanya ‘kedamaian’ itu. Kita juga memerlukannya. Makanya dalam Misa kita biasa mengatakan ‘Ya Bapa, bebaskanlah kami dari segala yang jahat dan berilah kami damai-Mu.’

Perdamaian yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Tidak mungkin ada damai di luar sana kalau diri masing-masing orang tidak damai. Tidak mungkin kita mengharapkan ada kedamaian yang lebih besar jika keluarga-keluarga sibuk bertengkar. Kita tidak bisa menjaga perdamaian dalam lingkungan yang lebih besar jika kita sendiri dan keluarga belum mampu menciptakan kedamaian.

Maka, kalau mau supaya di luar sana ada damai, ciptakanlah kedamaian terlebih dahulu di dalam diri sendiri dan keluarga. Bagaimana caranya? Yesus tidak muluk-muluk. Ia langsung bilang: “Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh. 14:27b). Damai itu tercipta kalau hati kita tenang, tidak grasa-grusu, gelisah, dan takut. Orang yang hidupnya kebanyakan gelisah dan takut tidak akan pernah tenang.

Bagaimana caranya supaya kita tidak gelisah dan takut? Yesus berkata: “Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita” (Yoh. 14:28). ‘Mengasihi Tuhan’ berarti juga mempercayakan seluruh hidup kita kepada-Nya. Jika ada beban hidup, jangan dipikul sendiri. Gelisah dan takut tidak akan menyelesaikan persoalan. Kita harus menyerahkan segala perkara pada ahlinya, yaitu pada Tuhan Yesus. Jangan pernah menyelesaikan masalah sendiri. Kita pasti tidak kuat, biar Yesus saja.

Seorang Pengusaha Katolik di India Membangun Masjid

0

Saji Cheriyan adalah pengusaha India beragama Katolik yang menjadi ekspatriat di Uni Emirat Arab (UEA). Ia kini menjadi simbol baru toleransi antarumat beragama.Setiap hari, Cheriyan menyisihkan uang pribadinya untuk membangun Masjid di Fujairah, UEA. Ia juga selalu menggelar acara buka puasa Ramadan bersama untuk ratusan jemaah Muslim di daerah tersebut. “Tidak ada gunanya menyimpan saldo besar di akun saya. Saya tidak akan membawa apa pun ketika saya mati,” tutur Cheriyan.

Seperti dikutip dari Gulf News dan Suara.com Senin (18/5), Cheriyan kini dijuluki sebagai Duta Besar Perdamaian dan Toleransi, ketika ia membangun Masjid yang ditujukan untuk pekerja asing Muslim di UEA. Masjid itu dibangun dengan biaya 1,3 juta Dinar di kompleks mewah Real Ville East Estate Al Hayl Industrial. Masjid bernama Mariam Um Eissa atau Masjid Maria Bunda Yesus itu dapat menampung 250 jemaah sekaligus. Tahun ini, ketika menginjak bulan Ramadan, Cheriyan juga menjadi tuan rumah bagi acara buka puasa setiap hari.

[postingan number=3 tag= “agama-katolik”]

Setiap hari, acara buka bersama Cheriyan tersebut sedikitnya selalu diikuti oleh 800 orang pekerja dan karyawan asing di pusat bisnis pendingin udara. Tak hanya itu, meski beragama Katolik, Cheriyan juga ikut tidak makan pada siang hari seperti pekerja Muslim, khusus saat bulan Ramadhan.

“Setiap Ramadhan, saya selalu tak makan pada siang hari. Sudah 13 tahun seperti itu. Masjid Maria Bunda Yesus selesai dibangun pada malam 17 Ramadan tahun lalu. Jadi, mulai tahun ini, saya bisa menggelar acara buka puasa bersama di sana, setiap hari,” kata Cheriyan kepada Gulf News. Cheriyan menuturkan, entah percaya atau tidak, bisnis miliknya semakin maju dan makmur tatkala membangun Masjid Maria Bunda Yesus tersebut.

“Saya mendapat lebih banyak bisnis setelah itu. Jadi, bisa dikatakan, uang yang saya habiskan untuk membangun masjid, sudah kembali kepada saya. Jadi, uang itu tahun ini saya pakai untuk menyediakan makanan berbuka puasa gratis,” tuturnya. Cheriyan yang asli Kerala India ini menuturkan, pengalamannya itu menunjukkan setiap orang yang bersedekah dengan niat murni, akan mendapatkan balasan setimpal. “Saya punya cukup uang untuk menjalani kehidupan yang layak. Tidak ada gunanya menyimpan saldo besar di akun saya. Saya tidak akan membawa apa pun ketika saya mati. Kepuasan yang saya dapatkan dengan melakukan ini adalah sesuatu yang istimewa. Ini tak ternilai,” tutur lelaki berusia 50 tahun itu. “Aku berhutang banyak pada tanah ini. Kita perlu menghargai mereka atas cara mereka menerima orang-orang dari berbagai negara dan agama. Banyak orang Arab mengundang saya untuk menghargai. Orang-orang yang berbuka puasa di sini mengingat saya dan keluarga saya dalam doa-doa mereka. ”

Abdul Qayum, seorang sopir bus di UAE asal Pakistan berusia 63 tahun, yang berbuka puasa pada hari Rabu pekan lalu di Masjid Maria Bunda Yesus, memuji Cheriyan. “Dunia membutuhkan orang-orang seperti dia. Jika tidak ada orang seperti dia, dunia akan berakhir. Kami berdoa untuknya. Allah akan memberkatinya. ” Pujian senada juga diungkapkan Vajas Abdul Wahid, asisten manajer India yang bekerja di UAE. Wahid mengatakan, Masjid dan berbuka puasa bersama yang digelar Cheriyan tak hanya bermanfaat di daerah tersebut.

“Ada lebih dari 50 karyawan yang tinggal di daerah ini. Karyawan senior dan buruh tinggal di akomodasi terpisah. Tapi, ketika kita datang ke sini, kita semua sama. Kami berdoa dan berbuka bersama”, kisah Wahid. **

Jangan Mengaku Kristen Kalau Tidak Mau Mengasihi

0
Gambar Ilustrasi dari Pixabay.com

Jangan Mengaku Kristen Kalau Tidak Mau Mengasihi: Renungan Harian Katolik, Minggu 19 Mei 2019 — JalaPress.com; Injil: Yoh. 13:31-33a, 34-35

Kita pasti sudah sering mendengar orang berbicara soal ‘wasiat’ atau ‘pesan terakhir’. Dikatakan sebagai ‘pesan terakhir’ karena biasanya pesan seperti ini hanya disampaikan pada saat-saat terakhir menjelang seseorang hendak menemui ajalnya. Kita mungkin mendengarnya dari keluarga kita, dari orang tua kita, dari sahabat kita, dari kenalan kita, atau dari siapa saja yang pernah kita jumpai.

Dalam masyarakat kita, ada keyakinan bahwa yang namanya ‘wasiat’ atau pesan terakhir itu, jangan pernah diabaikan. Kita tidak boleh melupakan begitu saja wasiat yang kita terima. Pokoknya, apapun isinya, entah mudah dilakukan atau sulit diwujudkan, setiap isi wasiat harus dipenuhi oleh si penerima wasiat. Jika tidak, maka akan terjadi sesuatu pada si penerima wasiat.

[postingan number=3 tag= “cinta-tuhan”]

Hari ini, kita mendengar Tuhan Yesus berkata: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:34). Penginjil Yohanes mencatat bahwa perkataan Yesus tentang kasih ini disampaikan pada saat malam Perjamuan Terakhir. Dengan kata lain, kata-kata ini merupakan wasiat dari Yesus.

Apa yang akan terjadi jika wasiat dari Tuhan Yesus ini tidak dijalankan? Kita tidak dikenal sebagai murid Yesus; sebab sejatinya Tuhan Yesus berkata: “Dengan demikian (artinya dengan saling mengasishi di antara kita) maka semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:35). Maka, bagi kita, kasih itu merupakan penanda identitas kita sebagai pengikut Kristus. Jika kita tidak saling mengasihi, orang tidak akan tahu bahwa kita adalah murid-murid Yesus.

Ingat, Yesus tidak mengatakan “Inilah usulan-Ku atau Inilah anjuran-Ku” atau “Inilah ajakan-Ku”. Tidak. Ia tidak berkata demikian. Ia berkata: “Inilah perintah-Ku”. Artinya, apa yang dikatakan-Nya wajib untuk dilakukan. Dengan demikian, perbuatan ‘mengasihi yang lain’ sebagaimana yang diperintahkan-Nya, bukan lagi sekedar pilihan bagi kita melainkan merupakan suatu keharusan dan kewajiban.

Yesus tidak hanya memerintah kita supaya saling mengasihi, tetapi Ia sendiri memberi kita contoh. Ia memberikan nyawanya bagi kita, para sahabat-Nya. Itulah bukti nyata bahwa Ia sungguh mengasihi kita. Ia berkata: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh. 13:34). Maka, mestinya, sesuai dengan perintah dan contoh dari-Nya, kita pun harus menunjukkan kasih itu kepada satu dengan yang lain.

Kasih itu tidak muluk-muluk dan tidak harus yang besar-besar. Dengan saling tegur-sapa, saling tolong-menolong, itu juga cara kita mengasihi sesama. Semoga kita semua menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam menebarkan kasih-Nya kepada orang-orang lain yang ada di sekitar kita. Amin.