Manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan
Manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan yang menyedihkan, dan yang mampu membuka fikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan.
Selamatkan aku dari mereka yang tidak mengatakan kebenaran kecuali kalau kebenaran itu untuk menyakiti, dan dari orang yang berperilaku baik tetapi berniat buruk, dan dari mereka yang memperoleh nilai dirinya dengan mencela orang lain.
Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah keterpautan jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.
Ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku, jika cinta memelukmu maka dakaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu.
Cinta tidak menyadari kedalamannya dan terasa pada saat perpisahan tiba. Dan saat tangan laki-laki menyentuh tangan seorang perempuan mereka berdua telah menyentuh hati keabadian.
Nilai dari seseorang itu di tentukan dari keberaniannya memikul tanggungjawab, mencintai hidup dan pekerjaannya.
Kalian memiliki takdir kepastian untuk merasakan penderitaan dan kepedihan. Jika hati kalian masih tergetar oleh rasa takjub menyaksikan keajaiban yang terjadi dalam kehidupan, maka pedihnya penderitaan tidak kalah menakjubkan daripada kesenangan.
Sahabat adalah keperluan jiwa yang mesti dipenuhi. Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau suburkan dengan penuh rasa terima kasih. Dan dia pulalah naungan dan pelindungmu. Karena kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa memerlukan kedamaian.
“Membela Tuhan”
Gus Dur pernah bilang begini “Tuhan itu tidak perlu dibela dengan bermacam cara. Dia Mahakuasa. Mengapa kamu membela Dia yang Mahakuasa itu? Yang perlu dibela sebenarnya adalah nilai-nilai kemanusiaan yang sering kali digusur karena ego manusia. Mereka yang sengsara dan menderita karena korban ketidakadilan dan penindasan, itulah yang semestinya dibela”. Gus Dur memang sungguh luar biasa hebatnya. Tidaklah keliru kalau ia dinobatkan sebagai bapak Pluralisme.
Saya secara pribadi, mendukung pernyataan Gus Dur ini. Ya…..memang Tuhan tidak perlu dibela, Dia sudah Mahakuasa. Untuk apa Dia bela lagi. Latarbelakang pernyataan Gus Dur ini lahir dari kecemasannya berhadapan dengan kelompok fanatisme. Gus Dur sebenarnya ingin melawan kelompok fanatisme yang berpegang pada keyakinan yang berlebihan sampai mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan. Kelompok fanatisme cenderung membela Tuhan dan merobohkan kemanusiaan yang menjadi substansi dari keberimanan. Saya kira ini yang menjadi latarbelakang pernyataan Gus Dur bahwa Tuhan tidak perlu dibela.
Kalau Gus Dur mengatakan Tuhan tidak perlu dibela, maka saya sedikit melawan pernyataan Gus Dur. Tuhan itu perlu dibela. Pernyataan saya “Tuhan perlu dibela” tentu memiliki latarbelakang yang berbeda dan punya maksud yang berbeda pula dengan pernyataan Gus Dur. Saya ingin membela eksistensi Tuhan dalam ruang kehidupan manusia yang sedang menderita.
Keberadaan Tuhan saat ini dipertanyakan oleh mereka yang sedang dilanda duka dan penderitaan. Saya sering kali membaca status dari orang-orang yang sedang ditimpa musibah, tulisan-tulisan mereka sering kali menggugat Allah. Saya kira, hal yang sama juga diungkapkan oleh saudara-saudari kita di wilayah barat Palau Flores tepatnya di Kampung Culu-Manggarai Barat yang sedang dilanda duka karena ditinggalkan untuk selamanya oleh orang-orang yang mereka kasihi. Rumah-rumah mereka hancur total karena kekejaman alam dan relasi sosial di antara mereka juga terganggu karena harus mengungsi di beberapa tempat yang berbeda.
Saya ingin membela keberadaan Tuhan yang Mahakuasa dan Mahabaik di tengah mereka yang sedang dirundung duka ini. Pembelaan ini hanyalah sebuah refleksi metafisis tentang keberadaan Tuhan. Pertanyaan yang sering kali muncul dari mereka yang sedang menderita adalah seandainya Allah yang baik itu ada, mengapa adanya kejahatan atau penderitaan? Seandainya Tuhan yang baik itu benar-benar ada, maka pasti tidak pernah ada dan terjadi keganasan perang, penderitaan, siksaan ataupun kematian. Kalau Ia benar-benar ada, maka tidak akan ada satu tempat pun dimana kejahatan ditemukan. Toh, kejahatan dan penderitaan ditemukan di dunia ini, maka Tuhan itu tidak ada.
Pemikiran di atas sebenarnya memuat sebuah gagasan tentang Allah sebagai “Allah yang kebaikan-Nya tak terbatas dan mahakuasa”. Sebagai ada yang baik, maka Ia tidak boleh mengijinkan kejahatan. Sebagai yang mahakuasa, Ia seharusnya dapat menghalangi kejahatan dan penderitaan itu terjadi. Adanya penderitaan dan kejahatan di muka bumi ini kelihatan sedemikian bertentangan dengan eksistensi Allah yang kebaikan dan pengetahuan-Nya tak terbatas. Itulah sebabnya, mengapa realitas kejahatan, kesengsaraan dan penderitaan dan adanya Allah kelihatannya tidak bisa dipadukan.
Berhadapan dengan mereka yang sedang dilanda duka dan penderitaan, sebagai orang beriman kita tetap dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa Tuhan itu memiliki kebaikan dan pengetahuan yang tanpa batas. Kepada mereka yang mengatakan penderitaan ada, maka Tuhan tidak ada, kita bisa membelanya dengan mengatakan kebaikan ada, maka Tuhan juga ada. Kedua pernyataan itu tidak berdiri sama tinggi, sebab kebaikannya yang berdaulat sedangkan kejahatan hanyalah sebuah accidens (kebetulan) yang tidak meniadakan makna pernyataan pokok. Kejahatan atau penderitaan tidak pernah merupakan suatu yang mutlak. Kejahatan atau penderitaan hanyalah kekurangan dari kebaikan yang bersifat mutlak itu.
Pada dasarnya, orang yang mengatakan bahwa penderitaan ada maka Tuhan tidak ada, tidak menyangkal adanya Tuhan. Sebenarnya mereka hanya keliru mengenai kodrat dari Tuhan. Mereka memberikan sikap melawan, karena pengertian mereka mengenai kodrat Tuhan dan keburukan adalah keliru. Mereka melihat penderitaan sebagai sesuatu ada bukan suatu kekurangan dari kebaikan, dan Melihat Tuhan sebagai sumber atau sekurang-kurangnya sebagai yang bertanggung jawab terhadap penderitaan itu. Jadi, kalau ada orang yang mengatakan bahwa Tuhan tidak ada karena adanya penderitaan di atas dunia, sebenarnya mereka tidak menyangkal adanya Tuhan. Dalam hal ini, mereka hanya keliru mengenai kodrat Tuhan dan inti dari penderitaan itu.
Sebagai cacatan terakhir agar Tuhan tetap diberi ruang dalam kehidupan manusia, saya mengangkat sebuah analogi. Ada sebuah gelas yang utuh (tidak pecah, baik). Gelas yang utuh keberadaannya tetap diakui, sekalipun tidak membutuhkan kehadiran gelas yan tidak utuh (pecah, buruk). Sebaliknya, keberadaan gelas yang tidak utuh (pecah) hanya mungkin ada mengandaikan adanya gelas utuh. Tidak mungkin ada kelas pecah, tanpa keberadaan gelas yang utuh. Artinya kebaikan (keutuhan) itu mutlak, sedangkan keburukan (keterpecahan) itu hanya mungkin ada karena kekurangan dari kebaikan. Kebaikan itu ada dan Tuhan adalah sumber kebaikan itu sendiri. Penderitaan hanyalah kekurangan dari kebaikan. Mari kita tetap memberikan ruang untuk Tuhan dalam hidup yang bersifat sementara ini.
Penulis: Frater Gusty Hadun (Calon Imam Keuskupan Ruteng)
Katolik Tegas, Tidak Mengizinkan Pernikahan Sesama Jenis
Katolik menolak dan tidak mengizinkan pernikahan sesama jenis. Itu fakta yang tak terbantahkan. Namun, bukan berarti Katolik mengucilkan mereka yang disebut LGBT. Mereka dibantu untuk hidup sesuai dengan kodrat asali mereka, yaitu dibina untuk hidup sebagai seorang laki-laki normal atau perempuan normal.
[postingan number=3 tag= ‘perkawinan-katolik’]
Perkawinan menurut Katolik adalah perjanjian antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan, membentuk antara mereka persekutuan seluruh hidup, yang menurut ciri kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-istri serta kelahiran dan pendidikan anak, antara orang yang dibaptis, oleh Kristus Tuhan diangkat ke martabat Sakramen (KHK Kan. 1055 §.1).
Bunyi kanon ini jelas bahwa Katolik hanya menerima perkawinan yang berbeda jenis kelaminnya, yaitu antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan.
Baru saja, ada seorang teman dari Indonesia yang mengirim sebuah foto melalui pesan WA, di mana dalam foto itu kelihatan seperti seorang ‘pastor’ Katolik berdiri di tengah dua orang perempuan yang sedang memperlihatkan cincin pernikahan mereka. Laki-laki di foto tersebut tampak seperti seorng ‘pastor’ Katolik, karena mengenakan pakaian ‘liturgi’ layaknya seorang imam Katolik. Ia mengenakan kasula (meski berwarna merah) dengan jubah putih.
Dalam pesan WA itu, teman ini menanyakan apakah betul itu di Filipina, dan apakah betul pasangan sejenis boleh dinikahkan secara Katolik?
Saya mencoba menelusuri dan mengingatkan kembali materi yang diberikan oleh Fr. Nunet setahun yang lalu dalam pertemuan para imam se-keuskupan Novaliches. Waktu itu, Pater Nunet memperkenalkan salah satu Gereja yang mirip Katolik, pastor mereka menggunakan pakaian liturgi seperti imam Katolik. Hanya saja, di Gereja mereka, ada pastor perempuan. Mereka memiliki juga uskup yang juga berpenampilan hampir mirip dengan Uskup Katolik.
Bedanya, dalam ritus mereka, mereka bernyanyi dan berteriak. Para pastor mereka boleh memeluk dan mencium umat mereka. Ketika bagian yang dalam Katolik dikenal sebagai bagian komuni, roti yang mereka gunakan adalah roti biasa dan disuapkan dengan menggunakan sendok oleh ‘imam’ atau ‘uskup’ mereka.
Gereja ini namanya Metropolitan Community Church (MCC) yang didirikan pertama kali di Huntington Park, California, pada 06 Oktober 1968, oleh Troy Perry, yang mana pendirian pertama beranggotakan para homo, lesbi, gay, dan trans gender. Kemudian, Gereja ini berkembang hingga ke Filipina pada tahun1991, antara lain di wilayah Quezon City, Makati, dan Baquio.
Foto yang dikirim itu adalah salah satu pasangan dari tuju pasangan yang dinikahkan di Baquio sekitar tahun 2011 oleh ‘pastor’ Ceeja Agbayani.
Hingga hari ini, undang-undang Filipina dengan tegas menolak pernikahan sejenis. Maka, pernikahan ini pun disebut sebagai pernikahan ilegal. Bahwa kebanyakan anggota dari gereja ini adalah para homo, lesbian, gay, tomboy, dan transgender, bukan berarti pemerintah Filipina mengizinkan pernikahan sejenis sesama mereka. Tidak!!
Jika ada teman-teman yang menerima foto seperti ini, tidak usah resah karena yang melakukan ‘pemberkatan’ pernikahan sesama jenis bukan dari Gereja Katolik, tetapi dari Metropolitan Community Church meski pakaian ‘pastor’ mereka hampir mirip dengan pakaian liturgi imam Katolik. Semoga menjadi jelas.
Manila: Marso-13-2019
Pater Tuan Kopong MSF
Agama (Gereja) yang Berpijak dan Berpihak: Apresiasi Terhadap Gerakan Karitatif Keuskupan Ruteng
Karl Marx. Siapa yang tidak mengenal tokoh sosialis yang satu ini? Untuk orang yang pernah belajar di Fakultas Filsafat atau Fakultas Ilmu Sosial lainnya, nama Marx tidak asing lagi. Marx sudah menjadi sahabat dekat para mahasiswa filsafat. Relasi yang dibangun antara para mahasiwa filsafat dengan Marx adalah relasi “akademik-intelektual”. Dalam fakultas Filsafat misalnya, nama Karl Marx pasti muncul dalam mata kuliah Filsafat Manusia, Sosiologi dan lebih tenarnya dalam mata kuliah Filsafat Ketuhanan. Popularitas Marx muncul karena gagasan-gagasannya yang sangat provokatif. Ia sering kali mengganggu, menggigit dan menggonggong kemapanan (status quo) kaum agamawan.
Marx dilahirkan pada tanggal 5 Mei 1818 dari keluarga Yahudi. Ayahnya seorang pengacara. Waktu Marx masih sangat muda, ayahnya masuk agama protestan karena alasan bisnis. Marx sangat cerdas sekali. Pada usia 23 tahun, dia sudah mendapat gelar doktor dalam bidang filsafat. Sungguh luar biasa kecerdasannya. Di sini, saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar latarbelakang keluarga dan pendidikan dari Marx. Saya hanya mengutip konsepnya tentang agama yang hingga saat ini masih menjadi menu utama dalam studi filsafat.
Pemikiran Karl Marx yang sangat terkenal adalah kritikannya terhadap agama. Kritikannya terhadap agama menimbulkan diskusi yang hampir tidak pernah tuntas dalam ruang filsafat. Marx mengatakan bahwa “Die Religion ist das Opium des Volkes”(Religion is the opium of the people, agama adalah candu masyarakat). Sebagai candu masyarakat, agama dipandang memiliki kekuatan yang luar biasa yang menciptakan ketidaksadaran dalam diri masyarakat. Agama membuat manusia melupakan situasi sosial yang sedang menindasnya dan hanya membayangkan suatu kehidupan yang membahagiakan yaitu surga. Surga dipandang Marx sebagai hiburan palsu yang membuat manusia bertahan pada situasi ketertindasan.
Owwwwwww….luar biasa gagasan Marx ini. Kritikan Marx biasa diterima karena sasaran kritikannya adalah situasi sosial waktu Marx hidup, di mana Gereja waktu itu kurang berpijak dan berpihak pada mereka yang menderita. Gereja pada waktu Marx hidup dipakai sebagai instrumen politik. Gereja sama sekali tidak menampilkan wajah yang berbelas kasih.
Ada beberapa sisi positif dari kritikan Marx yang hemat saya bisa diterima akal sehat. Pertama, untuk fakultas filsafat, Marx lebih memberikan arah yang lebih praktis dari aliran-aliran sebelumnya yang menekankan idealisme. Marx mengharapkan agar filsafat tidak boleh hanya membuat refleksi tentang realitas yang ada, tetapi harus memberi kontribusi ke arah praksis pembebasan untuk mengubah realitas sosial yang bobrok. Ideologi harus diubah menjadi praxiologi. Kedua, analisis sosial Marx merupakan cikal bakal ilmu sosiologi. Dalam analisis sosialnya, Karl Marx sudah membuat pendekatan struktural yang menunjukan bahwa sikap dan cara berpikir manusia dikondisi oleh struktur sosial ekonomi. Ketiga, Karl Marx menghancurkan sikap fatalistik, yaitu sikap pasrah yang menerima hidup malang sebagai nasib yang tak terelakkan dan mengajar bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mengubah nasibnya dan mewujudkan kebahagiaan. Keempat, kritikan Marx turut memberi kontribusi bagi pembentukan masyarakat yang adil dan sejahtera di Eropa Barat dewasa ini. Kelima, kritikan Marx yang sangat tajam ini turut mempengaruhi wajah agama (gereja) pada waktu itu. Gereja pada waktu Marx hidup terlalu bersifat devosional dan kurang melibatkan diri dalam masalah-masalah sosial. Saya kira, ini beberapa sumbangan positif Marx yang bisa membantu membangunkan kita dari ketidaksadaran untuk membaca situasi sosial yang sering kali menindas.
Benarkah, agama itu sebagai candu masyarakat? Hingga saat ini, pemikiran Marx terhadap agama sekalipun memberikan kontribusi positif tetap mendapat kritikan yang cukup bisa diterima akal sehat. Ada dua kritikan yang ditujukan kepada gagasan Marx tentang agama. Pertama, kritikan Marx tidak dibenarkan kalau diarahkan kepada inspirasi iman dari kitab suci, karena Allah yang diwartakan dalam kitab suci adalah Allah yang membebaskan dan menentang ketidakadilan. Kedua, kurang terlalu tepat kalau Marx menghubungkan agama dan kemiskinan. Marx belum bisa membuktikan secara rasional bahwa semakin miskin seseorang, maka ia semakin bergantung pada Tuhan (semakin beriman, beragama). Semakin kaya seseorang maka ia semakin tidak beriman kepada Tuhan (tidak beragama).
Gerakan Karitatif Gereja: Upaya Menangkal Kritikan Karl Marx dan Para Pengikut Marx
Sekalipun secara badianiah, Karl Marx sudah tidak bisa dipandang mata lagi, tetapi secara ideologis, Marx masih hidup hingga saat ini. Muncul Karl Marx-Karl Marx baru saat ini yang mencoba mengambil gagasan Karl Marx yang dulu untuk mengeritik agama (gereja). Ada banyak orang yang mengeritik eksistensi agama (gereja) saat ini.
Beberapa bulan yang lalu, muncul pernyataan provokatif dari Gubernur NTT yang melenceng dari ajaran gereja tentang keselamatan. Bapak Viktor Laiskodat mengatakan begini, “hanya orang cerdas saja yang masuk surga, tidak ada orang miskin dan bodoh masuk surga”. Benarkah? Pernyataan bapak Viktor ini mendapatkan beragam tanggapan. Ada yang mendukung dan tidak sedikit juga yang menentang.
Terhadap pernyataan bapak Viktor ini, ada orang yang berusaha menyerang eksistensi gereja dengan mengungkapkan beragam pernyataan skeptis tentang eksistensi gereja. Ada yang mengatakan, gereja buat apa terhadap orang miskin (untuk konteks Flores). Ada yang dengan tegas mengatakan bahwa gereja Flores belum mampu memberi inspirasi bagi perjuangan sosial kemasyarakatan. Ada kesan bahwa gereja bungkam terhadap realitas kemiskinan dan korupsi yang terus saja merusak tatanan kehidupan bersama.
Terhadap kritikan Marx dan para pengikut Marx saat ini, saya kira gerakan karitatif yang dilakukan oleh gereja keuskupan Ruteng saat ini terhadap masyarakat (keluarga) korban tanah longsor di Culu Manggarai Barat mampu meruntuhkan kritikan Marx. Gereja Keuskupan Ruteng dalam kerja sama dengan mahasiswa STKIP, STIKES St. Paulus Ruteng, Lembaga Karitas Keuskupan Ruteng, Tim PUSPAS (Bekerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia), Paroki-Paroki dan juga Organisasi Orang Muda Katolik bahu membahu membantu korban tanah longsor di Culu-Manggarai Barat yang menelan korban jiwa 8 orang. Hemat saya, gerakan karitatif yang diadakan oleh gereja keuskupan Ruteng tentu didorong oleh ajaran nilai-nilai Kristiani yakni Iman, Harapan dan Kasih. Nilai-nilai inilah yang menggerakkan gereja untuk selalu Berbagi dan menampilkan wajah Allah yang berbelas kasih, peduli terhadap mereka yan menderita dan sengsara. Apresiasi yang sebesar-besarnya diberikan kepada gereja Keuskupan Ruteng yang sudah menunjukan wajah Allah yang berbelas kasih. Gereja sungguh berpijak dan berpihak kepada mereka yang menderita. Saya kira yang dibuat oleh gereja keuskupan Ruteng tidak memiliki orientasi politis. Lain halnya kalau caleg-caleg turun ke lokasi longsor kemudian meminta wartawan untuk mengabadikan moment itu untuk dipasarkan di ruang publik pertanda bahwa mereka sungguh peduli terhadap penderitaan sesamanya ternyata di balik itu ada “hidden agenda”.
Penulis: Frater Gusty Hadun (Calon Imam Keuskupan Ruteng)
Siraman Rohani Katolik

Injil Mateus 5:43-48
Renungan
Musuh berarti seseorang yang jahat kepada kita, sedangkan “Kasih” berarti perhatian dan perlakuan baik tanpa pamrih kepada seseorang. Dan Yesus memerintahkan untuk mengasihi dan mendoakan musuh kita. Perintah yang sulit dan idealis. Namun, alasan utama ajaran ini adalah karena Allah mengasihi setiap orang tanpa terkecuali, dan Ia memanggil kita untuk melakkukan hal yang persis sama, karena bukankah kita diciptakan berdasarkan citra-Nya?
Kejahatan hanya mendatangkan penderitaan dan kerugian bagi diri sendiri. Maka pilihan yang ada bukan membalas kejahatan seseorang, namun berdoa baginya: mengasihinya dan memberikan pengampunan yang menyembuhkan. Mengasihi dan mendoakan kebaikan musuh pasti memberi rasa damai di hati, sambil percaya bahwa Allah akan ikut mengubah dan menyembuhkan dirinya. Membalas kejahatan dengan kebaikan pasti menghasilkan hal positif bagi kedua pihak. “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat.5:9)
Ya Tuhan, tambahkanlah selalu kasih dalam diriku sehingga aku semakin mengenal Dikau yang adalah kasih, mengasihi-Mu lebih dari segalanya dan mengasihi sesama siapapun di sekitarku seperti aku yang selalu Dikau kasihi. Tuhan kobarkanlah selalu kasih dalam diriku. Amin
Teriring Salam & Doa
Penulis: P. Yoakim Leu, SVD
Misionaris Angola-Afrika
Awal Pertemuan Kita, Sebuah Kenangan
Awal mula perjumpaan dan perkenalan kita memang begitu indah
Lebih indah dari pelangi yang menghiasi angkasa
Kala itu, aku mengenal kamu dan kamu mengenal aku telah lama
Kita berteman cukup lama meskipun berteman ala-ala jaman now
Ketika engkau telah putus dengan pacar lamamu, dimana kalian pacaran sekitar 7 tahun
Engkau mulai mencari aku dan beberapa teman lama
Tak sengaja engkau masuk sebuah grup di mana aku salah satu adminnya
Dari situlah muncul cerita cinta yang indah dan berakhir tragis
Aku pun melihat sejenak , tampak padaku seorang perempuan cantik nan manja
Tak berpikir panjang aku menggabungkan kamu dalam grup itu
Nama grup itu Catholic Theology yang kini telah di hack orang-orang yang tidak bertanggung jawab
Rasanya waktu itu jantungku mulai berdetak kencang
Aku mulai menyapamu memalui messenger
Kita saling bercanda dan saling menyapa sebagai teman lama
Entah apa yang ada dibenakku, seketika itu aku meminta nomor WA/Hpmu
Darahku sekejap berhenti, entah apa yang terjadi
Aku mulai sms dan telpon kamu, sambil bercanda bahwa hpku bergerak sendiri telpon kamu
Engkau pun merespon dengan telponan, waktu itu aku berada di tempat kerja
Tak peduli apapun aku merasa senang engkau menelpon
Kita pun melalui hari-hari dengan smsan, telponan dan WA bercerita tentang banyak hal
Mulailah kita akrab dan saling nyaman
Aku pun mulai mengutarakan perasaanku padamu
Waktu itu bulan November 2017, juga bulan kelahiranmu wahai bidadariku yang tak pernah kumili lagi
Engkau pun menerima perasaan yang kuutarakan danmeminta agar di beri waktu
Tak lama berselang engkau mengatakan bahwa engkau mencintaiku apa adanya
Akhirnya kita jalani dengan penuh sukacita sampai kita membuat perayaan jadian pada 31 desember di mana itu hari kelahiranku. Memang kita dua sejoli November-desember.
Setiap hari, setiap waktu, dipenuhi oleh cinta dan sayang, saling berbagi dalam suka dan duka
Hampir tidak pernah ada waktu yang tidak kita isi dengan telponan dan berkomunikasi
Perjalanan kita yang penuh bahagia itu hanya berjalan sampai bulan November 2018
Engkau memilih pergi secara diam-diam, berpindah pada hati yang lain
Awalnya aku tidak mengira bahwa engkau begitu tega berpaling
Seandainya engkau tidak lagi sayang, cukup katakana saja secara terus terang
Namun engkau tidak terus terang, engkau berkenalan dengan seseorang secara sembunyi dan kalian pacaran.
Waktu itu kita masih pacaran, bahkan engkau juga sering memanggil sayang padaku
Aku kurang tahu mengapa engkau bisa berbagi hati dan menduakan cintaku
Semua pupus dan hancur pada 27 Februari 2019 ketika engkau mengaku telah jadian dengan cowo lain
Ada kesedihan , ada sakit hati yang kurasakan. Engkau yang selama ini ku percaya bisa menjaga hati malah berpaling dan berkhianat.
Ya, saat ini aku ikhlas menerima kenyataan itu, sebab Tuhan telah menunjukkan padaku siapa sebenarnya kamu.
Engkau sering bertanya padaku ‘mengapa fotomu di handphoneku tidak kuhapus’?
Itu karena rasa sayangku abadi, dan butuh waktu lama menghilangkan rasa itu
Engkau sering meminta aku untuk ‘menghapus semua memori tentangmu?
Namun, tidak akan terhapuskan sampai kapanpun. Suatu saat kisah ini akan menjadi abadi dalam sebuah buku.
Indah pertemuan kita, bukan? tetapi berakhir luka. Tak seindah ucapan sayang yang selalu keluar dari mulut manismu.
Penulis: Silvester D. Gea
(Bagian dari buku ‘Mencintai Tanpa Balas’ yang dibuat dalam gaya bahasa puisi)
Menjadi Imam, Tidak Harus Terlihat Tampan
(Pesan Bijak Dari Kotbah Uskup Agung Mgr. Socrates Dalam Pentahbisan Imam)
“Engkau harus berani melawan kesalahan, tetapi engkau harus takut pada dosa. Engkau harus berani membela Tuhan, tetapi engkau harus takut terpisah dari-Nya”.
Saudara-saudaraku yang terkasih…
Ketika kami berunding untuk pentahbisan kalian menjadi imam, banyak pertanyaan yang “mampir” di ata meja saya. Bagaimana hidup mereka ketika masih sebagai seorang frater? Bagaimana kehidupan mereka? Apakah mereka membangun hubungan atau relasi yang baik? apakah publik speaking mereka bagus? Apakah mereka selalu tepat waktu dan tekun dalam doa- doa mereka? Apakah mereka mampu membangun hidup bersama dengan para frater yang lain?
Semua pertanyaan itu menyangkut KEKUATAN kalian. Namun yang paling penting, kita perlu bertanya; “Apa yang menjadi KELEMAHANMU dan apakah ENGKAU CUKUP LEMAH untuk menjadi imam? Kita perlu menjadi LEMAH untuk menjadi imam.
Karena seringkali KEKUATAN PRIBADI PENJADI PENGHALANG bagi rahmat Allah yang akan diperlihatkan kepada kita. Apakah engkau CUKUP LEMAH, sehingga KEKUATAN KRISTUS sungguh bersinar atau terpancar darimu.
Baik saja, kalau Anda terlihat TIDAK TAMPAN, agar tidak menjadi PENGHALANG bagi kami untuk melihat keindahan atau kebaikan dari Allah. Karena, kita TIDAK MENCARI seorang superman, kita TIDAK MENCARI SEORANG FRATER YANG HEBAT ATAU SUPER, melainkan kita mencari FRATER YANG LEMAH yang dalam PENGHARAPAN kekuatan Allah sungguh-sungguh terpancar.
Dan pagi ini, kita JANGAN MENCOBAI mereka untuk menjadi SOMBONG, karena KELEMAHANMU, ENGKAU DIPANGGIL. Dari kelemahan kalian itu memikat Allah untuk lebih menyayangi kalian, sebab dimana dosa bertumpuk, kelemahan menumpuk, di situ rahmat Allah terpancar secara berlimpah-limpah.
Apakah engkau cukup lemah untuk menjadi imam? Apakah engkau cukup lemah untuk mengandalkan rahmat Allah? Apakah engkau cukup lemah untuk hanya bergantung pada belas kasih Allah? Kami membutuhkan engkau untuk mengakui kelemahanmu. Kelemahan kalian adalah sepenuhnya milikmu. Dan kelemahanmu adalah PERSEMBAHANMU kepada Allah.
Apakah mereka adalah orang-orang yang berkarakter? Apakah mereka adalah orang yang berintegritas? Dengan kata lain; apakah mereka tahu membedakan antara kehidupan publik atau kehidupan pribadi. Itu adalah sebuah pertanyaan yang diberikan apakah engkau seorang yang berkarakter atau berintegritas, karena saudara-saudaraku kita TIDAK mencari seorang malaikat, tetapi kita mencari seseorang yang BISA (MAMPU) menjadi imam.
Maka dari itu, pertanyaan kedua untuk kita adalah: “Apakah dia sudah cukup “HANCUR” untuk menjadi seorang imam? Karena jika tidak ada kehancuran yang cukup, maka di sana tidak ada PARTISIPASI yang cukup dalam sengsara dan kematian Tuhan.
Maka dari itu pembinaan di seminari adalah latihan dan pembinaan untuk dipecahkan, dipecahkan dan dipecahkan sampai engkau hancur. Dan ketika engkau hancur, Tuhan akan mengembalikanmu pada saat ini sebagai sebuah mosaik yang indah, sehingga kamu bisa menjadi PEMBERI KEHIDUPAN bagi yang lain.
Hati-hati dengan pemecahan roti. Karena engkau memecahkan Tubuh Tuhan. Dan ketika engkau memecahkan Tubuh Tuhan, engkau juga BERJANJI pada Tuhan; “TUHAN PECAHKANLAH AKU”. Aku mengijinkanMu, untuk memecahkan tubuhku”
Saudara-saudaraku, saya hendak MENGINGATKANMU. Seringkali hatimu mungkin dihancurkan oleh saya, mungkin saya yang menyakitimu atau dari sesama rekan imammu, mungkin mereka yang menyakitimu.
Tetapi ketika engkau disakiti oleh saudara-saudaramu, ketika engkau disakiti oleh Uskup Agungmu, TERIMALAH itu sebagai sebuah PERHATIAN TULUS kepadamu yang membuatmu menjadi lebih baik dan lebih baik lagi sehingga menjadi pemberi kehidupan yang lebih baik.
Di sini TIDAK ADA KESUCIAN TANDA SEBUAH KERELAAN UNTUK DIPECAHKAN seperti Tubuh Tuhan. Jika mereka MENGGOSIPKANMU. Jika mereka MENGABAIKANMU, jika mereka MEMANFAATKANMU, BISIKANLAH sebuah doa syukur, sebab jika mereka menghancurkanmu, engkau mengambil bagian dalam pemecahan Tubuh Tuhan.
Setahun yang lalu, tiga imam ditembak dan para uskup diancam untuk dibunuh dan ditembak. Engkau sekarang sudah menjadi imam bagi sebuah gereja yang oleh mereka (penguasa) adalah gereja yang munafik dan 99 persen adalah homoseksual.
Dan pertanyaan untuk kita; apakah mereka cukup BERANI untuk bertahan dalam badai? Apakah mereka cukup berani untuk mempertahankan iman? Kita mencari seorang pemberani, kita mencari seorang PEMBERANI yang MEMBELA iman.
Saudara-saudaraku terkasih, pertanyaan saya yang ketiga adalah:
Apakah engkau cukup takut menjadi seorang imam yang baik?
Apakah engkau cukup takut menjadi seorang imam yang baik?
Engkau harus berani melawan kesalahan, tetapi engkau harus takut pada dosa.
Engkau harus berani membela Tuhan, tetapi engkau harus takut terpisah dari-Nya
Engkau harus takut pada kemunafikan,
Engkau harus takut merayakan misa dalam keadaan berdosa
Engkau harus takut pada kebohongan
Engkau harus takut dengan nafsu
Engkau harus takut mencuri uang dari umatmu
Engkau harus takut kenyamanan
Engkau harus takut kemudahan,
Karena semua itu akan menjauhkanmu dari panggilan Anda yang sesungguhnya. Tuhan mengenalmu lebih dari engkau mengenal dirimu sendiri, termasuk semua keindahan yang ada padamu, Bahkan Tuhan mengetahui semua yang ada di dalam dan di luar dirimu, Ia masih memelukmu seraya berkata; “Marilah anakKu yang terkasih, ikutlah Aku”.
Apakah engkau cukup lemah untuk menjadi imam?
Apakah engkau cukup hancur untuk menjadi imam?
Apakah engkau cukup takut untuk menjadi imam?
Manila: Marso-11-2019
Penulis: Pater Tuan Kopong MSF
Suara Kenabian Di Tengah Ancaman Pembunuhan
Sejak 2016, setelah dilantik menjadi presiden, sang presiden langsung tancap gas memerangi narkoba. Baik itu terhadap pengguna maupun pengedar. Perang melawan narkoba pun tidak hanya sekedar menangkap dan memenjarakan, namun tembak mati di tempat, dihadapan istri dan anak-anak terus dilakukan.
Tidak tanggung-tanggung hingga akhir 2018 puluhan ribu nyawa pengguna maupun pengedar narkoba berakhir di moncong senjata yang juga mengakibatkan puluhan ribu anak juga menjadi yatim piatu.
Gereja Katolik Pilipina sepakat untuk bersama melawan dan memerangi narkoba, namun bukan dengan cara membunuh, tetapi cara yang lebih manusiawi. Bagi Gereja Katolik Pilipina, kematian hanya menjadi kehendak dan kuasa Allah.
Terhadap cara pimpinan yang tidak manusiawi bagi para pengguna dan pengedar narkoba yaitu dengan tembak mati di tempat, sedang bos (bandar) tidak pernah tersentuh oleh penguasa, Gereja Katolik hadir menyuarakan suara kenabian, suara keadilan dan kebenaran, suara yang melindungi kehidupan.
Bukan hanya bersuara mengkritik, namun Gereja Katolik juga giat membuka pusat-pusat rehabilitasi di tingkat keuskupan dan paroki-paroki untuk membantu para pengguna narkoba keluar dari candu narkoba dan menjadi manusia baru yang benar-benar meninggalkan narkoba.
Terhadap suara kenabian yang diserukan oleh Gereja Katolik Pilipina melalui beberapa uskup dan imam, sang penguasa bukannya menerima namun memberikan perlawanan, menghina, menuduh para Uskup dan sebagian imam.
Dalam setiap kesempatan kunjungan nama Gereja Katolik, termasuk para uskup dan imam tak luput dari hinaan, cacian dan cemoohan sang pemimpin. Bahkan tak segan melarang umat untuk tidak lagi mengikuti misa di paroki-paroki termasuk mempertanyakan keberadaan Tuhan.
Perlawanan tak berhenti di situ. Sekitar bulan Februari 2019 yang lalu para uskup dan beberapa imam, mendapatkan ancaman pembunuhan melalui pesan sms yang bunyinya demikian;
“p…mai kamu. Hitunglah harimu. Binatang kamu…‘Apakah kalian benar-benar tidak diberitahu oleh David (Uskup Caloocan Ambo). Berapa yang kalian mau? P…mai kalian. Berapa yang kalian mau? Sungguh-sungguh p…mai kalian. Kubunuh kalian”.
Meskipun berhadapan dengan ancaman pembunuhan, baik Uskup David maupun beberapa imam tidak takut. Mereka terus menyuarakan kehidupan akan keadilan dan kebenaran, bahwa hanya kuasa Allah yang mampu mengambil nyawa manusia.
Pater Vil (salah satu imam yang mendapatkan ancaman pembunuhan) mengatakan bahwa; “Suara kemanusiaan, melindungi mereka yang miskin, bukan hanya amanat untuk para imamm tetapi untuk semua yang sudah dibaptis dalam Gereja Katolik. Kami di sini bersama kalian”.
Senada dengan Pater Vil, Pater Al (yang juga mendapatkan ancaman pembunuhan) menegaskan bahwa; “Mengapa kalian mengancam? Saya pikir, kalian (pengancam) juga takut. Mereka juga ada ketakutan”. “Manusia yang sudah terbiasa dalam kegelapan, akan disilaukan oleh terang”.
Bersama mendoakan para Uskup dan para Imam.
Manila: Marso-11-2019
Penulis: Pater Tuan Kopong, MSF
Aku Selalu Mengenangmu

Aku selalu mengenang masa-masa indah kita
Canda, tawa, tawa, tangis dan amarah berpadu
Rasa sayang yang tak terkira tercurah untukmu
Meskipun rasa itu kini telah sirna sejak engkau memilih tuk pergi
Engkau pergi karena orang lain, kekasih barumu, yang engkau cintai
Meskipun engkau menerima dia ketika kita masih pacaran
Engkau tidak menyadari bahwa tindakanmu telah menggoreskan luka bagiku
Apakah engkau lupa betapa aku mencintaimu?
Masih adakah cinta yang dulu sering kau ucapkan
Ataukah ucapan itu hanyalah ilusi?
Hanya engkau dan Tuhan yang tahu
Kini aku tetap mencintaimu, meskipun bukan milikku lagi
Aku tahu, aku tidak sempurna untukmu
Dan mungkin kamu lebih sempurna untuknya
Aku ikhlas melepaskanmu, meskipun hati berkata lain
Meskipun hati tak mampu menerima
Biarlah mungkin itu sudah jalan yang telah digariskan.
Malam ini aku terbangun dari mimpi panjangku
Mimpi panjangku ‘mencintai’ orang yang hatinya untuk orang lain
Ternyata kisah yang kuharapkan indah telah berubah menjadi sumber luka
Biarlah aku pergi, bila itu membuatmu bahagia.
Bahagia dengan kekasih barumu.








