9.1 C
New York
Friday, April 10, 2026
Home Blog Page 62

Apa yang Diucapkan Mulut, Keluar dari Hati — Renungan Harian

0
Gambar ilustrasi oleh robinsonk26 / Pixabay

Apa yang Diucapkan Mulut, Keluar dari Hati: Renungan Harian Katolik, Minggu 3 Maret 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Sir. 27:4-7, Bacaan II: 1 Kor. 15:54-58, Injil: Luk. 6:39-45

Jika kita simak baik-baik, ada satu kutipan menarik dari bacaan pertama hari ini. Bunyinya adalah: “Jangan memuji seseorang sebelum ia berbicara, sebab justru bicaralah batu ujian manusia” (Sir. 27:7). Apa maksudnya? Maksudnya adalah bahwa baik tidaknya karakter seseorang dapat kita lihat dari ucapannya. Dari tutur katanyalah kita akan tahu apakah seseorang itu santun, perhatian, dan ramah; ataukah dia itu kasar, sombong, dan otoriter.

Sebaliknya, jika seseorang diam saja, justru kita sulit untuk mengetahui karakternya. Paling kita hanya bisa menebak; itu pun tebakan kita rawan salah. Semakin banyak seseorang bicara, semakin besar kemungkinan bagi kita untuk tahu karakter orang itu. Makanya, kalau kita mau tahu karakter dari seseorang, ajak dia supaya berbicara banyak.

Ada satu ungkapan yang sudah populer di masyarakat kita, bunyinya: “Lidah lebih tajam dari mata pedang”. Ya, pedang hanya bisa melukai kulit atau daging kita, tapi sewaktu-waktu luka itu bisa sembuh. Tapi lidah, dengan kata-kata yang diucapkan, bisa menikam, menusuk, dan melukai hati serta perasaan orang, yang menimbulkan luka batin; dan sakitnya bisa dirasakan seumur hidup karena mendatangkan trauma yang berkepanjangan.

Saat ini, banyak orang tidak mampu mengontrol lidah dan mulutnya. Ngomong ngasal aja. Segala ujaran kebencian, fitnah, dan hoaks dilontarkan. Sebagian dari mereka sudah ditangkap dan dipenjarakan, tetapi masih banyak yang berkeliaran, entah di dunia nyata maupun di dunia maya. Makanya, kita juga mendengar ungkapan ‘Mulutmu harimaumu’.

Memang, mulut kita ini, jika digunakan secara baik bisa menolong dan menjadi berkat bagi banyak orang, tapi jika digunakan secara salah, bisa menjadi kutukan dan menghancurkan seluruh dunia. Maka, berhati-hatilah menggunakan lidah dan mulut kita.

Mengapa ada orang yang menggunakan lidah dan mulutnya untuk menghancurkan  sesamanya? Tentu saja banyak alasannya. Bahkan, ada orang yang mengaku karena khilaf dan atau karena keceplosan. Tapi, benarkah demikian? Injil hari ini seolah memberikan jawaban kepada kita. Di sana tertulis demikian: ‘apa yang diucapkan mulut meluap dari hati’ (bdk. Luk. 6:45). Artinya, apa yang kita ucapkan tergantung pada apa yang ada di hati kita.

Ujaran kebencian, fitnah, dan segala bentuk kekerasan verbal lainnya, tidak hanya sekedar khilaf dan salah ucap. Bisa jadi itu semua datang dari hati yang memang jahat; sebab ada tertulis: “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat” (Luk. 6:45).

Jika hati sudah jahat, maka sebaik apapun orang lain, akan dikatakan jahat. Orang yang hatinya jahat, hanya akan melihat kesalahan kecil pada orang lain lalu dibesar-besarkan; sementara kesalahan besar yang dilakukannya diabaikan atau bahkan disembunyikan.

Apa yang kita ucapkan, itu datang dari hati. Jika hatinya baik, maka yang diucapkan pasti baik. Sebaliknya, jika hatinya jahat, maka yang diucapkan pasti jahat. “Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur” (Luk. 6:43-44).

Jika seseorang ngomongnya kasar, suka bergosip, suka terbar fitnah, dan sebagainya; berarti ada yang tidak beres dengan hatinya. Maka, supaya lisan kita baik, bersihkan dulu hati kita; sebab dari sanalah sumber segala lisan kita. Jika mau lisan kita baik, maka hilangkan dulu segala rasa dengki, iri, cemburu, yang ada di hati kita. Kalau itu kita lakukan, niscaya kita akan mengucapkan kata-kata yang baik tentang apapun di luar diri kita.

Selama hati kita masih menyimpan rasa iri, dengki, cemburu, ingin menang sendiri, dan sebagainya, maka pastilah kata-kata yang keluar dari mulut kita hanya berisi keburukan. Semoga kita menjaga hati kita dari noda; atau jika sudah terlanjur kotor, semoga kita mampu membersihkannya kembali. Hanya dengan cara itu kita dapat memperbaiki lisan kita.

Bertindak Wajar-Bijak terhadap Kesalahan Sesama

0
Gambar ilustrasi oleh zhivko / Pixabay

Tiada yang suci. Tiada seorang pun. Kita semua pernah salah. Kita semua pernah keliru. Entah dalam hal besar, entah dalam hal kecil. Bahkan kita mungkin sedang salah atau keliru. Kesadaran tentang hal ini seharusnya membuat kita tak terlalu lancang mengkritik apalagi menghujat sesama yang sedang bersalah-keliru, bahkan ketika kesalahan-kekeliruannya kecil.

Akan tetapi, semua orang  tetap berjuang menjadi orang baik, dalam tutur dan langkah setiap hari. Jika suatu saat kita terjatuh, sadarlah dan baruilah diri. Maafkan! Itu tanda kita manusia rapuh, bukan malaikat suci. Kesadaran untuk membarui diri itu keharusan. Jika suatu saat sesama kita walau telah berjuang berbuat baik dalam kata dan langkah, tapi kemudian ia terjatuh, pahamilah dan bantulah dia dengan  penuh kasih agar ia bangun kembali. Berilah kesempatan kepadanya untuk membarui diri. Maafkan dia! Janganlah menghakiminya dengan keji-kejam! Janganlah menganggap dirinya paling bersalah-berdosa dan dirimu paling benar-suci. Saudara/i, janganlah! Sebab dirimu dan dirinya sama-sama pribadi rapuh yang sudah, sedang dan  mungkin akan jatuh lagi.

Apakah itu berarti kita kompromi dengan kesalahan dan kejahatan yang dilakukan sesama? Apakah kita tak perlu peduli dengan sesama? Tidak juga! Kita hanya diajak bertindak wajar dan bijak. Maksudnya jangan peduli berlebihan. Koreksi-kritiklah dalam suasana kasih-persaudaraan (correctio fraterna), sambil tetap menyadari bahwa kita juga bisa salah-keliru bahkan jatuh dalam kesalahan yang sama. Di pihak lain, bersiaplah juga menerima masukan-kritik persaudaran dari sesama bila kita terjatuh. Dengan demikian, janganlah menghakimi dengan kejam, membabi-buta, seolah-olah kita pribadi sempurna bak malaikat tak bersayap yang bergentayangan di bumi-panggung sandiwara ini.

“Mengapakah engkau melihat selumbar dalam mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?…. Hai orang munafik, keluarkan dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas ‘sehingga bisa’ mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu (Bdk. Luk. 6:41-42).”

Tuhan Yesus, mampukan kami bertindak bijak-wajar terhadap kesalahan sesama, karena kami juga kadang-kadang rapuh-terjatuh. Semoga kami tidak bertindak seperti hakim lalim yang dengan pongah menghakimi secara brutal-kejam saudara/i kami yang salah-keliru, sebab siapakah kami ini? Mea culpa, mea culpa, mea maxima culpa!***

“Salam Minggu; Tuhan memberkati!”

Apakah Perlu Para Pastor Mahasiswa Itu Berkumpul?

0

Jawabannya, perlu. Paling tidak hal itu yang mendasar mengapa Forum Moderator Pastoral Mahasiswa Keuskupan Regio Jawa yang sudah dua kali berturut-turut sejak tahun 2018 lalu sepakat berkumpul. Tahun ini yang menjadi tuan rumah adalah Campus Ministry, Keuskupan Malang.

Kalau ditanya seberapa perlunya, menurut Pst. Antonius Ary S Pr yang merupakan Pastor Mahasiswa dari Keuskupan Purwokerto, pertemuan itu bukan sekadar pertemuan pastoral biasa. “Kami para Pastor Mahasiswa, khususnya yang berada di Keuskupan di Pulau Jawa merasa perlu untuk saling bertemu supaya bisa kenal, saling menguatkan.”

Hal ini juga diaminkan oleh Pst. Yuventius Devi Ghawa Pr sebagai Pastor Mahasiswa Keuskupan Surabaya. “Ada semacam kerinduan buat saling bertemu supaya tidak merasa sendiri berjuang dalam pelayanan khusus ini.”

“Selama ini memang kami belum saling mengenal meski sama-sama tahu ada Pastor Mahasiswa di Keuskupan itu, misalnya. Jadi, pertemuan ini menjadi semacam perkenalan juga antar kami dan tentang suka duka pelayanan pastoral mahasiswa selama ini,” tambah Pst. Onesius Otenieli OSC sebagai Pastor Mahasiswa di Keuskupan Bandung. Sementara para Pastor Mahasiswa lain yang hadir di sana adalah  Pst. Antonius Didit S Pr dari Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta (PMKAJ) Unit Timur, Pst. Wisnu Agung MSC dari Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta (PMKAJ) Unit Tengah, Pst. Paulus Piter Pr dari Gereja Mahasiswa (GEMA) Keuskupan Bogor serta Pst. E. Eko Putranto O. Carm dari Campus Misnistry (CM) Keuskupan Malang selaku tuan rumah. Untuk Keuskupan Agung Semarang, diwakili oleh para mahasiswa pengurus Pastoral Mahasiswanya.

Kegiatan ini diadakan pada tanggal 25-27 Februari 2019 di Rumah Retret Samadi St. Magdalena Postel Jl. Jayagiri no. 20 Malang. Tema yang diusung adalah “YES U CAN”. Sementara yang hadir terdiri 9 orang imam, 5 orang pendamping mahasiswa, 39 orang mahasiswa sebagai peserta , dan dibantu oleh 27 orang panitia yang juga para mahasiswa. Para peserta tersebut utusan dari Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Bogor, Keuskupan Bandung, Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Surabaya dan Keuskupan Malang.

Dengan mengikuti gerak dan dinamika orang muda, pertemuan pastoral ini pun turut dihadiri oleh Uskup Keuskupan Malang, Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan. Beliau bahkan meluangkan waktu untuk ikut ngobrol dengan para peserta. Obrolan yang beliau dan tiga pembicara lain bawakan adalah tentang bagaimana melakukan pastoral yang baik, efektif, dan efisien bagi kaum muda masa kini, khususnya mahasiswa.

Cukup surpraise juga ketika dari hasil obrolan itu ada yang berbagi cerita juga tentang bagaimana kondisi kampusnya yang kadang mengikuti gejolak “politik” pimpinan kampus yang dimaksud serta bagaimana kurangnya perhatian para dosen beragama katolik terhadap mahasiswa katolik di kampus, khususnya kampus swasta non katolik. Padahal para dosen ini sebenarnya memiliki peran cukup besar juga dalam pendampingan para mahasiswa katolik di kampusnya.

Cerita tersebut rupanya tidak hanya dirasakan di satu kampus atau satu keuskupan saja. Tetapi, nyaris semua. Maka, forum begini adalah salah satu langkah agar kelak bisa dibangung jejaring antara dosen katolik yang ada supaya bisa saling membantu dalam pelayanan pastoral mahasiswa.

Sementara dari sisi hirarki dan hukum gereja, dalam pertemuan yang juga diselingi ice breaking khas anak muda itu, hadir pula RD. Yohanes Driyanto, seorang juris dari keuskupan Bogor yang sekaligus Pastor Kapelan Mahasiswa. Beliau memberi pencerahan serta meneguhkan tentang eksistensi Gereja Mahasiswa apa pun namanya merupakan suatu bagian dari keuskupan yang posisinya setara dengan paroki, rektorat, dan seminari.

Pastoral Mahasiswa sendiri, seperti Pst. Dri katakan, ada beberapa sebutan yang digunakan pada masing-masing Keuskupan. Ada sebutan “Gereja Mahasiswa (GEMA)”, Pelayanan Pastoral Mahasiswa (PPM)”, “Komisi Pelayanan Mahasiswa (KOKERMA) atau Campus Ministry (CM). Namun, kesemuanya memiliki umat yang sama, yaitu mahasiswa.

Sehari sebelum ditutup, diadakan juga rekreasi bersama ke Jatiim Park 3 di daerah Batu. Malamnya ada performance kelompok lalu keesokan harinya sebelum diadakan misa penutup, ada beberapa keputusan untuk rencana pertemuan selanjutnya.

Adapun hasil dari pertemuan ini antara lain menjaga semangat persaudaraan dan membangun koordinasi antar Gereja mahasiswa regio Jawa serta menumbuhkan dan meneguhkan semangat pelayanan para mahasiswa Katolik agar menjadi penggerak bagi para mahasiswa atau kaum muda Katolik yang lain. Selain itu juga kesepakatan bahwa pertemuan selanjutnya akan diadakan di Keuskupan Purwokerto pada tahun 2020.

Bravo Pastoral Mahasiswa se-Regio Jawa. (anj 19)

Fakta tentang Manusia menurut Kitab Putra Sirakh

0
fclund / Pixabay

Katekese ini mengacu pada bacaan pertama hari ini, yaitu dari Kitab Putra Sirakh 17:1-15. Pada bagian awal bacaan pertama hari ini dikatakan bahwa manusia (Ibrani: ‘Adam’) berasal dari tanah (Ibrani, ‘adamah’), dan akan kembali lagi menjadi tanah (ay. 1). Ayat ini seperti menegaskan kembali apa yang tertulis di dalam Kitab Kejadian. “TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej. 2:7).

[postingan number=3 tag= “tuhan-yesus”]

Manusia itu dianugerahi Tuhan dengan sejumlah hari dan jangka” (ay. 2) Ya, kita tidak akan tinggal selamanya di dunia ini. Ibarat simcard HP, kita ini mempunyai masa aktif dan masa berlakunya. Pemazmur menuliskan dengan sangat gamblang bahwa masa hidup manusia adalah tujuh puluh tahun dan jika kuat, delapan puluh tahun (Mzm. 90:10).

Manusia diberi kuasa atas segala sesuatu di bumi” (ay. 2). Sekali lagi, ayat ini mengingatkan kita pada Kisah Penciptaan. Saat itu, Tuhan berfirman kepada manusia yang sudah diciptakan-Nya: “Berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (1:28). Kata ‘kuasa’ di sini berarti merawat, bukan menghancurkan. Tetapi, coba kita lihat sendiri dalam kehidupan kita sehari-hari; yang terjadi justru sebaliknya, manusia menghancurkan alam sekitarnya: bumi digali dan diambil diisinya lalu dilepas begitu saja, hutan ditebang secara liar, ikan dan terumbu karang di laut dirusak, dihancurkan, dan dihabiskan.

Manusia dilengkapi dengan sejumlah kemampuan” (bdk. ay. 3). Ya, ketika Tuhan menciptakan kita, Ia melengkapi kita dengan sejumlah kemampuan, bakat, dan talenta. Maka sebetulnya, tidak ada alasan bagi kita untuk mengatakan bahwa kita tidak dapat berbuat apa-apa. Kita pasti bisa melakukan sesuatu dalam hidup kita, tentu saja sesuai dengan kemampuan yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada kita. Hanya saja kadang-kadang kita kurang berani untuk melakukannya. Mau maju takut salah. Itu berarti masalahnya bukan karena kita tidak memiliki kemampuan, tetapi lebih pada soal ketakutan kita untuk memulai.

Manusia diciptakan oleh Tuhan menurut gambar wajah-Nya sendiri” (bdk. ay. 3). Kita ini adalah ‘foto kopi wajah Tuhan’ sendiri. Tuhan tidak menggambar wajah-Nya di atas kertas atau di atas batu, tetapi pada wajah kita. Maka, jika kita ingin melihat wajah Tuhan, lihatlah wajah kita sendiri dan wajah orang-orang lain yang ada di sekitar kita. Dengan ini sebetulnya kita diajak supaya jangan pernah melukai apalagi menyakiti sesama kita. Sebaliknya, kita harus saling mengasihi dan saling menghargai sebab setiap kita membawa serta wajah Tuhan pada wajah kita.

Di dalam segala makhluk yang hidup Tuhan menanam rasa takut terhadap manusia, agar manusia merajai binatang dan unggas” (ay. 4). Derajat kita lebih tinggi dari binatang. Berbeda dengan binatang, kita harus bersikap arif dan bijaksana; sebab Tuhan sudah memenuhi kita dengan pengetahuan yang arif, dan Ia sudah menunjukkan kepada kita mengenai apa yang baik dan apa yang jahat.

Lidah, mata, dan telinga dibentuk-Nya” (ay. 6), dan diberi-Nya fungsi masing-masing. Lidah untuk mengecap, mata untuk melihat, dan telinga untuk mendengar. Kita juga diberi hati untuk berpikir (ay. 6) dan menimbang-nimbang; supaya dalam menghadapi sesuatu pakai hati, tidak ‘pakai dengkul’.

[postingan number=3 tag= “patung”]

Tuhan bahkan memasukkan mata-Nya sendiri ke dalam hati manusia (ay. 8) supaya manusia itu dapat melihat keagungan karya-Nya. Maka, mata itu harus digunakan, jangan sampai ditutup oleh kabut ego dan hasrat yang tidak teratur. Tuhan mau supaya dengan mata kita melihat kemuliaan-Nya yang agung dan dengan telinga kita mendengar suara-Nya yang dahsyat.

Tuhan menambahkan pengetahuan lagi kepada manusia, yaitu dengan memberi manusia itu hukum kehidupan menjadi milik pusaka” (ay. 11). Saya kira inilah yang kita sebut dengan istilah ‘suara hati’. Suara hati itu bekerja setiap saat dan membantu kita dalam menilai sesuatu. Ketika kita melakukan sesuatu, biasanya hati kita bersuara: “Ini salah. Ada yang tidak beres. Ini sudah benar”. Suara hati itulah yang merupakan perjanjian kekal yang telah diikat oleh Tuhan dengan kita, dan melalui suara hati itu segala hukum-Nya dipermaklumkan kepada kita.

Cinta Tidak Mungkin Mendua

0
geralt / Pixabay

Aku pernah mencintai angin lalu, yang justru menghempaskanku ke tanah. Aku pernah mencintai bunga mawar yang tampaknya indah, ternyata durinya menusuk sangat dalam sehingga tidak akan lupa sampai akhir waktu. Aku berkata kepada malam, suatu saat engkau akan menghadirkan matahari yang menerbitkan kisah indah. Aku menantikan saat itu, saat keluhku menjadi sirna.

Aku pernah mencintai ketidakpastian, yang meninggalkan luka yang sangat dalam. Aku pernah berharap dengan tulus, namun dibalas dengan cinta semu. Aku berkata pada diriku, suatu saat kegelapan itu akan berakhir

Cinta tak harus memiliki karena hakekatnya lebih baik mencintai dari pada dicintai. Cinta tak harus bersama, meskipun raga dan seluruh jiwa pernah berpadu

Jika pilihannya yang terbaik, tentulah aku mendukung. Bisa jadi pilihannya lebih mengerti, lebih menyayangi kekurangannya

Tidak mungkin cinta sejati mendua,karena itu menyakitkan. Biarlah kisah ini akan menjadi kenangan, yang menorehkan tulisan dalam sebuah novel.

Waspadalah, Jangan Pernah Menjauh dari Yesus!

0

Tuhan Yesus bersabda: “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15:1,4,5).

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Yesus memberikan analogi yang sangat bagus. Ia menyebut diri-Nya sebagai pokok anggur dan kitalah rantingnya. Ranting tidak boleh terpisah dari pokoknya. Jika ranting terpisah dari pokoknya, ia bukan hanya tidak bisa berbuah, tetapi lebih dari itu, ia juga tidak bisa hidup; sebab ranting yang terpisah dari pokoknya akan layu, mengering, dan lapuk. Sebaliknya, ranting yang tetap menyatu dengan pokoknya akan bertunas dan menghasilkan banyak buah.

Ranting tidak bisa hidup jika lepas dari pokoknya; juga tidak bisa berbuah jika terpisah dari pokok itu. Pokok anggur menjamin ranting-rantingnya supaya bisa mendapat asupan makan; sehingga tidak mengering. Artinya, hidup kita bergantung pada Yesus. Tanpa Yesus, kita tidak bisa hidup, apalagi berbuah. Bersama Yesus, kita tidak akan pernah kering. Iman serta panggilan hidup kita akan tetap tumbuh subur, bahkan akan menghasilkan banyak buah.

Segala pewartaan dan karya kita, tidak bisa tidak, haruslah bersumber pada Yesus. Kita mungkin bisa saja melakukan ini dan itu, tetapi jika yang kita kerjakan itu tidak bersumber pada Yesus, maka semuanya akan sia-sia. Yesuslah yang memberi kita kemampuan dan kekuatan untuk berkarya. Dia jugalah yang memberi hasil pada usaha dan karya kita.

Kita adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk menjangkau orang-orang lain supaya mereka juga boleh merasakan anugerah dari sumber yang sama. Ketika kita bermisi, kita tidak membawa nama kita sendiri melainkan semata-mata demi kemuliaan Tuhan. Maka dari itu, hendaklah kita berani berkata: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3:30).

Kadang kita terjebak untuk menonjolkan diri kita sendiri; sehingga kita merasa puas ketika orang lain memuji keberhasilan kita. Lalu, kita berkata: “Itu karena saya’. Seolah semuanya terjadi karena hasil dari jerih lelah kita sendiri dan lepas dari pertolongan Yesus. Kita tidak lagi mengakui bahwa Tuhan sudah mengatur semuanya bagi kita. Kita malah menikmati pujian yang diberikan kepada kita. Kita menjadi lupa bahwa orang-orang harus kita bawa sampai pada kesadaran bahwa Tuhan sudah memberi segalanya bagi mereka.

Biarkanlah orang lain menemukan pokok anggur, yaitu Yesus. Itu tugas kita. Jangan pernah menghalang-halangi mereka. Kita memang bangga ketika orang lain memuji kita karena keberhasilan-keberhasilan kita, tetapi jangan pernah lupa satu hal, yaitu bahwa mereka seharusnya mengarahkan segala pujian itu hanya kepada Tuhan, bukan kepada kita.

Ingat, Yesus akan senantiasa mengalirkan berkat-berkat-Nya yang kita perlukan. Maka, jangan pernah terpisah dari Yesus. Memang, kadang-kadang ada saja hal yang membuat kita mengambil jarak dari Yesus. Kita merasa seperti orang yang paling sibuk di dunia ini dan seolah tidak mempunyai waktu yang cukup untuk Tuhan. Tapi, cobalah untuk berpikir sebaliknya, seandainya Tuhan meninggalkan kita semenit saja, masih bisakah kita hidup seperti ini?

Maka dari itu, janganlah terlena. Jika di dalam hidup kita ada hal yang mencoba menarik seluruh perhatian dan energi kita, dan seolah membawa kita menjauh dari Yesus, waspadalah! Itu tandanya bahwa kita sudah salah arah. Tinggalkan jalan itu dan segeralah kembali kepada Yesus.

Memahami Istilah Rumah Tangga

0
gpalmisanoadm / Pixabay

Kerap kali orang menyebut istilah Rumah Tangga (RT) untuk menunjuk keluarga. Saya mencoba merenungkan makna istilah RT.

Pertama, RT menunjuk proses pembentukan keluarga. Pada awalnya orang tidak saling mengenal. Seiring perjalanan waktu, orang berhubungan satu sama lain. Semakin mengenal, dua insan mulai saling tertarik. Perkenalan menjadi tangga pertama. Lalu diikuti tangga berikut, pacaran. Dari pacaran melangkah ke tangga pertunangan dan akhirnya tangga perkawinan.

Bisa jadi tangga-tangga yang dilalui berbeda untuk setiap pasangan. Ada yang setelah perkenalan langsung ke pernikahan, ada yang tanpa perkenalan langsung ke pernikahan. Ada yang dari pacaran langsung ke pernikahan tanpa melalui pertunangan. Ada yang melewati semua tangga.

Apa pun tangga-tangga yang dinaiki, perkawinan menjadi tangga terakhir bagi pasangan untuk secara sah dan suci membangun keluarga yang baru. Melalui dan dengan perkawinan, dua insan yang berbeda menjadi satu, memasuki sebuah rumah dan tinggal di rumah yang sama. Perkawinan menjadi ikatan resmi untuk membangun keluarga yang baru.

Kedua, RT adalah pijakan. Rumah diartikan sebagai tempat tinggal. Tangga adalah tempat pijakan untuk naik atau turun ke level berikut. Dengan demikian, RT adalah tempat pijakan bagi seluruh anggota keluarga.

Pasangan suami istri yang tinggal bersama dalam ikatan perkawinan memiliki pijakan yang sama dalam membangun keluarga. Keduanya bukan lagi dua melainkan satu. Satu dalam segalanya, satu dalam visi misi, ekonomi, harapan, semangat, cinta untuk membangun keluarga bahagia dan sejahtera.

RT menjadi sekolah pertama dan utama, tempat pijakan pertama dan utama setiap anggota yang tinggal bersama untuk mencapai nilai-nilai kehidupan dan cita-cita bersama sebagai keluarga.

Karakter dan pembawa anak dibentuk dari keluarga dan kemudian dipengaruhi oleh lingkungan. Mau jadi apa si anak itu, tergantung dari pijakan dan pengaruh pijakan lainnya. Demikian pula kehidupan suami istri di tempat kerja atau masyarakat sangat tergantung pada pijakan awal yaitu dari rumah.

Jika pijakan awal kuat, maka ke mana pun anggota pijakan berikutnya akan kokoh. Jika pijakan rumah rapuh, maka bisa jadi anggota menjadi pijakan lain yang membuatnya merasa kuat atau nyaman.

Itulah sebabnya keluarga disebut Rumah Tangga, tempat pijakan bagi semua anggota keluarga.

P. Joseph Pati Mudaj, Msf

Renungan Tentang Keluarga

0
ptksgc / Pixabay

Keluarga ibarat sebuah pohon. Setiap anggota keluarga adalah dahan-dahannya. Meski berbeda arah pertumbuhan, setiap anggota bertumpuh dari akar yang sama, keluarga. Meski memiliki karakter dan pembawaan yang tidak sama, setiap anggota berasal dari batang yang sama, keluarga.

Perbedaan arah, cara pikir, pembawaan, karakter dan interese pribadi dalam keluarga kadang menjadi sumber masalah sehingga antar satu dengan yang lain saling sahut-menyahut, ancam-mengancam, sumpah-menyumpah, bahkan bunuh-membunuh.

Perbedaan kadang dilihat sebagai ‘kutuk’ dimana yang satu memandang yang lain sebagai biang dan sumber masalah. Konspirasi jahat acap kali terbangun hanya untuk memberi ‘hukuman’ bagi yang lain. Perang tidak lagi antar negara, tetapi antar anggota keluarga. Damai menjadi sesuatu yang asing.

Ironi dalam keluarga pun kadang terjadi. Saat berpapasan dengan orang yang tidak dikenal, kita memberi rasa hormat yang tinggi. Tapi dengan keluarga dan orang yang kita cintai, kita menghardik dengan kasar.

Saat orang lain berbuat salah, kita langsung minta maaf atau memaafkan. Tapi dengan keluarga dan orang yang kita cintai, kita malah menyalahkan dan memaki-maki.

Saat bertemu dengan orang asing, kita memperlakukannya seperti keluarga. Tapi dengan anggota keluarga dan orang yang kita cintai, kita memperlakukan seperti orang yang tidak kenal.

Saat berpisah dengan orang lain, kita ucapkan selamat jalan atau selamat tinggal. Tapi dengan keluarga dan orang yang kita cintai, kita diam-diaman.

Saat berada dengan orang lain, senyum, canda tawa dan keceriaan menjadi milik bersama. Tetapi dengan keluarga dan orang yang kita cintai, kita mudah cemberut, marah, iri dan jengkel.

Tidak ada keluarga yang sempurna dan selalu ada yang berbeda. Tetapi perbedaan dalam keluarga tidak harus dipandang sebagai kutuk melainkan berkat yang memperkaya keluarga. Ironi dalam keluarga terjadi karena egoisme menguasai hati dan pikiran.

Jangan biarkan semua perbedaan ini menghancurkan akar yang sama, keluarga. Jangan biarkan ironi dalam keluarga menghancurkan pohon yang sama, keluarga. Yakinlah, blood is thicker than water.

Saling mengampuni dan maaf-memaafkan adalah jalan dan kunci untuk memulihkan segala permasalahan. Paus Fransiskus mengatakan, ‘Tanpa pengampunan keluarga menjadi sebuah teater konflik dan benteng keluhan. Tanpa pengampunan keluarga menjadi sakit.’

Memang, tak ada keluarga yang sempurna. Namun ketidaksempurnaan bukan menjadi alasan untuk hilangnya rasa bahagia dalam keluarga. Tidak perlu menjadi sempurna untuk bahagia. Kita bisa bahagia bersama keluarga di tengah banyak ketidaksempurnaan. Maka maaf menjadi prasyarat mutlak.

Bagaimanpun juga, keluarga adalah tempat dimana kita berasal dan tempat dimana kita kembali. Keluarga adalah tempat setiap anggota menemukan kedamaian.

Biarlah ada damai dunia ini dan itu bermula dari keluarga.

P. Joseph Pati Mudaj, MSF

Tuhan Mengubah Bibir Najis menjadi Manis

0
Gambar ilustrasi oleh kaboompics / Pixabay

Selama ini, kita cukup familiar dengan istilah ‘najis’. Ada makanan najis, binatang najis, atau bahkan orang najis. Ya, Kitab Suci sering berbicara soal kenajisan. Dalam Perjanjian Lama, misalnya, orang kusta tidak boleh disentuh karena najis. Bahkan, ia harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya harus terurai dan ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia harus tinggal terasing (bdk. Im. 13:45-46).

Demikian pula perempuan bersalin dan melahirkan anak laki-laki, maka najislah ia selama tujuh hari (Im. 12:2). Sama seperti ia pada hari-hari bercemar kain, ia najis (Im. 15:25). Maka, ia tidak boleh kena pada suatu apapun yang kudus dan tidak boleh masuk ke tempat yang kudus, sampai genap hari-hari pentahirannya (Im. 12:4).

Itu macam-macam bentuk kenajisan yang biasa kita dengar. Tapi rupanya, tidak hanya sebatas itu. Kitab Yesaya 6:1-2a, 3-8 berbicara soal bentuk kenajisan yang lain, yaitu ‘najis bibir’. Yesaya berkata: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam” (Yes. 6:5).

Apa maksud dari frasa ‘najis bibir’? Kemungkinan besar yang dimaksudkan dengan frasa ‘najis bibir’ ini adalah mereka yang suka menggunakan bibirnya untuk bergosip, tebar fitnah, menghujat dan mengucapkan ujaran kebencian, dan mereka yang selalu menyampaikan kabar bohong.

Ketika bibir kita hanya berisi kata-kata makian, gosip tentang orang lain, fitnah, dan ujaran kebencian; maka memang bibir kita menjadi najis. Najis artinya kotor. Nah, orang semacam ini sekarang bertebaran di mana-mana, terutama di media sosial. Kita bisa buktikan sendiri dari postingan-postingan mereka.

Tapi, bukan berarti ‘najis bibir’ itu tidak bisa diubah. Jika kita mau, Tuhan akan mengubahnya; dan Ia justru mau memanggil orang yang seperti itu untuk menjadi pewarta-Nya. Tuhan mau mengubah bibir yang najis menjadi manis. Ia mengubah kerapuhan kita menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain.

Jika tadinya kita menggunakan kemampuan bibir kita untuk bergosip dan memfitnah orang lain, mulut yang sama, jika kita mau dan Tuhan berkehendak, akan dipakai oleh Tuhan untuk menyampaikan kabar baik bagi semua orang. Energi negatif yang ada pada bibir kita, diubah oleh Tuhan, sehingga energi yang sedemikian dahsyat itu dipakai untuk sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak. “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni” (Yes. 6:7).

Ketika kita membicarakan kejelekan orang lain, kita biasanya menggebu-gebu, bukan? Nah, Tuhan mau supaya semangat yang sama dipakai untuk mewartakan sabda-Nya. Tuhan mau mengubah semuanya seratus delapan puluh derajat. Makanya, Yesaya mengajak kita untuk seperti dia berani berkata, “Inilah aku, utuslah aku” (Yes. 6:8).

Jangan tinggal terus di dalam kenajisan. Kita diharapkan mampu mengajarkan tentang kebaikan. Pengajaran itu tentu paling sering dilakukan lewat ucapan bibir. Tapi apa yang kita ajarkan lewat ucapan bibir kita, mestinya selaras dengan apa yang ada di hati kita. Artinya, pengajaran kita selaras dengan apa yang kita imani. Tidak cukup hanya dengan mengajarkan dan mengimani, tapi juga berbuat sesuai dengan apa yang kita imani dan ajarkan; sebab kata Yakobus: “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak. 2:17).

Itulah Kekhasanmu

0
Comfreak / Pixabay

Bisa jadi kamu merasa minder atau kurang percaya diri dengan kemampuan diri sendiri sehingga menunda apa yang seharusnya kamu lakukan.

Kamu menganggap diri lemah atau tidak mampu melakukan sesuatu, atau tidak sebaik yang dilakukan orang lain, padahal banyak orang yakin dengan kemampuanmu. Mereka menaruh kepercayaan dan harapan bahwa kamu bisa melakukan sesuatu.

Jangan biarkan rasa minder atau kurang percaya diri itu menguasai dirimu karena kamu akan sulit atau malas untuk memulai. Jika memang harus melakukannya, mulailah dari hal yang kecil dan sederhana. Jangan menunggu sampai melakukan sesuatu yang besar atau luar biasa sekaligus, sebab banyak karya besar dan luar biasa bermula dari hal yang kecil dan sederhana.

Lakukan sekarang! Jangan pedulikan orang yang melemahkan semangatmu, tetapi tetap dengarkan orang yang tulus membantumu. Akuilah bahwa ada bagian yang memang kamu tidak bisa dan itu membutuhkan orang lain.

Jangan menunda untuk melakukan sesuatu itu. Tetapi jangan juga terburu-buru kalau memang harus ada pertimbangan yang lebih matang. Jangan pula membandingkan diri dengan orang lain, sebab sebuah perbandingan selalu tidak proporsional dan hanya akan melemahkan semangat. Setiap orang punya kekhasan masing-masing yang tidak untuk diperbandingkan. Maka lakukan apa yang bisa kamu lakukan dan apapun hasilnya itulah kekhasanmu.

Bangunlah kepercayaan diri sebagai tanda cinta pada diri dan kemampuan yang dimiliki. Karena kepercayaan diri adalah kekuatan besar dari dalam yang membuatmu optimis dan tetap semangat untuk melakukan sesuatu.

P. Joseph Pati Mudaj, MSF