7 C
New York
Thursday, April 9, 2026
Home Blog Page 63

Zona Misteri Perkawinan: Tuhan Memiliki Rencana bagi setiap Pasangan

0

Perkawinan kadang terasa menggetarkan tetapi juga menegangkan, menarik tetapi juga menakutkan, bermakna tapi bisa juga hambar, menghadirkan tawa tetapi juga mendatangkan tangisan. Ada banyak hal yang melampaui kemampuan akal manusia.

[postingan number=3 tag= ‘perkawinan-katolik’]

Inilah zona misteri Perkawinan. Ada kalanya pasangan sulit saling memahami; dulu begitu cinta tiba-tiba bermusuhan, masalah terjadi begitu saja tanpa pernah dibayangkan, kadang apa yang tidak diinginkan tiba-tiba hadir di depan mata. Tiba tiba muncul pertanyaan dan penasaran yang aneh, muncul rasa bosan tanpa sebab dan sebagainya.

Zona misteri ini adalah wilayah Tuhan. Perkawinan adalah sebuah lembaga yang dibentuk Tuhan karena Ia sendiri yang memilih dan menyatukan pasangan. Meski misteri, yang jelas Tuhan memiliki rencana bagi setiap pasangan.

Mengandalkan diri sendiri dan logika manusia semata dalam membangun bahtera perkawinan bisa saja mendatangkan kekecewaan, kebosanan, kekeringan bahkan kehancuran karena zona mister itu begitu dalam dan luhur.

Maka libatkanlah Tuhan dalam perkawinan. Bangunlah komunikasi dengan dengan-Nya melalui doa-doa bersama. Itulah kekuatan yang mungkin tidak disadari tapi nyata membantu banyak pasangan untuk tetap setia meski berada dalam zona misteri.

P. Joseph Pati Mudaj, Msf

Petikan dari Romo Jost Kokoh Prihatanto

2
3dman_eu / Pixabay

Bersama ini, saya, (Rm) Jost Kokoh Prihatanto, hendak menanggapi pertanyaan- pertanyaan sehubungan dengan surat pemberitahuan dari Sekretaris KAJ, mengklarifikasi kepada teman-teman sekalian, bahwa memang benar saya telah mengundurkan diri sebagai Imam Diosesan Keuskupan Agung Jakarta per 19 Februari 2019 ini karena alasan-alasan yang bersifat pribadi; yang telah saya diskusikan dengan Uskup Agung Jakarta Mgr Suharyo sejak tanggal 5 Februari 2019

Adapun surat pengunduran diri saya dari imam KAJ, saya berikan langsung kepada Mgr Suharyo pada tanggal 18 Februari 2019, jam 14.00 di Wisma Uskup KAJ.

Saya mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian, doa, dan kasih yang telah ditunjukkan kepada saya baik lewat sos med maupun jalur pribadi, dan mohon maaf tidak dapat membalas menjawab satu persatu.

Demikian, semoga menjadi jelas adanya dan tidak lagi menimbulkan perpecahan atau multi tafsir di antara umat dan sesama imam.

Untuk ke depannya, saya akan sejenak retret pribadi di biara monastik dengan pembimbing rohani sambil memantapkan rencana kerja atau karya penggembalaan ke depannya. Pastinya, mari kita saling mendoakan dalam peziarahan hidup ini dengan sikap hidup simple, optimist dan positif thinking.

Sentire cum ecclesia
Sehati dengan Gereja.

Jakarta, 26 Februari 2019.

Tuhan memberkati dan Bunda Maria merestui segala niat baik, hidup doa dan karya karya kita.

Editor: Silvester D. Gea

Bicara dari Hati ke Hati

0
autumnsgoddess0 / Pixabay

Dalamnya lautan masih bisa diukur. Dalamnya hati manusia siapa yang bisa ukur.

Sebaik-baiknya manusia, siapa yang tahu isi hatinya. Bisa jadi orang yang terlihat di depan mata begitu lembut, manis dan selalu tersenyum, tapi di belakang dia menusuk atau mengkhianatimu.

Sejahat-jahatnya orang, siapa yang bisa menebak hatinya. Dia mungkin sangar, kasar, cuek, tapi ketika kamu ada masalah bisa jadi dia yang ada di depan untuk menjagamu, atau di samping untuk menemanimu atau di belakang untuk mendukungmu.

Banyak masalah dan kesulitan menjadi semakin pelik karena orang mengabaikan hati. Banyak hubungan menjadi rumit karena bisa jadi hati sudah tertutup terhadap orang lain atau tidak punya hati lagi.

Hati manusia sebenarnya membisikan hal baik dan benar. Ia bertindak sebagaimana mestinya jika pikiran atau informasi dari luar mendukungnya untuk berlaku baik dan benar. Namun jika informasi dan pikiran keliru, ia pun bisa keliru dalam menilai.

Tidak mudah menilai atau menebak hati orang hanya dari luar saja karena bisa jadi tidak akurat sebab hati manusia menyimpan banyak misteri.

Meski hati manusia misteri tapi bisa dipahami jika mau bicara dari hati ke hati dan melibatkan perasaan. Karena ketika orang bicara dari hati, ucapannya akan masuk ke hati dan hatinya merespon secara alami.

P. Joseph Pati Mudaj, Msf

Kanon 28 Khalsedon dan Supremasi Roma

0
Manne1409 / Pixabay

Mari memahami kredibilitas kanon 28 konsili khalsedon

Kanon 28 konsili ekumenis khalsedon adalah alat kaum ortodox untuk menaikkan status tahta konstantinopel, benarkah kredibilitas kanon ini?

pada tahun 451 Masehi bahwa Kaisar Marcian telah mendorong konsili Ekumenis Chalcedon untuk berperang melawan bidat Eutyches dan Monofisit. Berlawanan dengan doktrin dan dogma Katolik, Eutyches dan para monofisit mengajarkan pemahaman yang tidak teratur tentang Kristus di mana menyatakan bahwa Yesus Kristus hanyalah satu sifat, yang sepenuhnya Ilahi, daripada 100% Tuhan dan 100% Manusia seperti yang selalu Gereja Katolik diajarkan. Dengan persetujuan Paus Saint Leo Yang Pertama, konsili dimulai pada 8 Oktober 451 M dan berakhir pada 1 November 451 M

Sementara Konsili Ekumenis yang Kudus dan Terilhami ini dipanggil untuk mengalahkan bidat, “disiplin dan yurisdiksi gerejawi juga menduduki perhatian dewan.” (Ensiklopedia Katolik: Dewan Chalcedon, Paragraf 1.) Dengan mengingat hal itu, para Bapa Dewan Konstantinopel telah lulus. sebuah kanon menyatakan yang berikut: “… Kami juga memberlakukan dan mengeluarkan hal-hal yang sama mengenai hak istimewa Gereja Konstantinopel yang paling suci, yaitu Roma Baru. Karena para Bapa dengan benar memberikan hak istimewa kepada takhta Roma lama, karena itu adalah kota kerajaan. Dan seratus lima ratus uskup yang paling religius memberikan hak yang sama kepada takhta paling suci di Roma Baru , adil menilai kota itu dihormati dengan Kedaulatan dan Senat dan menikmati hak istimewa yang sama dengan Roma kekaisaran lama … ”

Mempertimbangkan fakta bahwa kanon ini termasuk dalam dewan oikumenis, telah dikemukakan oleh orang-orang Kristen ortodoks yang kita jumpai bahwa ini adalah kanon yang tidak dapat salah yang tidak dapat ditolak. Dengan mengingat hal itu, juga dianggap bukti bahwa Gereja Katolik telah meninggalkan kepercayaan kuno para bapa gereja mula-mula dalam hal eklesiologi karena jurisdiksi universal Paus. Untuk memahami posisi gereja ortodoks Timur dan Timur, semua Leluhur gereja memiliki otoritas yang sama; maka dari itu kepercayaan akan kolegialitas.

Walaupun kanon ini ada dalam Konsili, kita harus mempertanyakan apakah ini memiliki bobot otoritatif dan teologis.terlebih lagi karena kanon ini dicurangi para klerus konstantinopel ketika delegasi latin pulanh dan mereka merancang kanon tersendiri,dan ketika delegasi latin kembali dalam rangka mengawasi sesi terakhir konsili khalsedon maka terjadi kericuhan dengan klerus konstantinople. Jelas ini adalah suatu bentuk penyimpangan. Alasan untuk ini adalah karena fakta bahwa:
(1) bertentangan dengan ajaran Gereja dan asing dengan doktrin gereja mula-mula,
(2.) Ditolak dan ditolak untuk diterima oleh Paus Saint Leo Agung, seorang diakui bapa gereja mula-mula ke Timur skismatik; dan terakhir
(3), permintaan maaf Patriark Anatolius dari Konstantinopel kepada Paus Saint Leo Agung.

Itu selalu merupakan ajaran Gereja bahwa deklarasi yang sempurna dari dewan dimaksudkan untuk diterima oleh semua umat beriman. Jika ada pertentangan, ancaman pengucilan dan kutukan dipertimbangkan jika ada penolakan terus-menerus terhadap dogma, yang kemudian akan menjadikannya bidat. Dalam terang Paus Leo yang Pertama kemudian menolak suatu ‘kanon sempurna’ yang seharusnya, pertanyaannya tetap ada: mengapa dia tidak diingkari?.
Uskup konstantinopel saat itu yaitu anatolius pergi ke roma dengan maksud meminta ratifikasi kanon pada paus. Paus Leo ke-1 menolak untuk menyetujui kanon ini dan memerintahkannya untuk disingkirkan dari dokumen konsili

Akibatnya, Uskup Anatolius, memohon belas kasihan Paus, menyatakan yang berikut:

“Adapun hal-hal yang baru-baru ini ditahbiskan oleh Dewan Chalcedon yang universal untuk mendukung gereja Konstantinopel, biarlah Yang Mulia yakin bahwa tidak ada kesalahan dalam diri saya, yang dari masa muda saya selalu mencintai kedamaian dan ketenangan, menjaga diri saya tetap rendah hati. Itu adalah pendeta yang paling dihormati dari gereja Konstantinopel yang bersemangat tentang hal itu, dan mereka sama-sama didukung oleh para imam yang paling dihormati dari bagian-bagian itu, yang setuju tentang hal itu. Meski begitu, seluruh kekuatan konfirmasi tindakan dicadangkan untuk otoritas Yang Mulia . Karena itu biarkan Yang Mulia tahu pasti bahwa saya tidak melakukan apa pun untuk melanjutkan masalah ini, karena tahu selalu bahwa saya menahan diri untuk menghindari nafsu jika kesombongan dan ketamakan. (Patriark Anatolius dari Konstantinopel ke Paus Leo, Ep 132)

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut:

Terdapat hal yang harus diperhatikan
1.Jika semua Patriark Gereja setara dalam hal otoritas, maka Patriark Konstantinopel tidak perlu meminta maaf karena menyinggung Paus dan bahkan menyebutkan bahwa kanon dicadangkan untuk otoritasnya sebagai bentuk konfirmasi akan otoritasnya.

2,jika semua patriark sama, mengapa ada kebutuhan untuk menjadi setara dengan Roma saja, bukan Alexandria atau Antiokhia? Apakah karena ini adalah tahta yang mati bagi Petrus dan Paulus, dengan Petrus menjadi kepala duniawi?. Karena ortodox selalu menyebut antiokhia sebagai tahta mati petrus, lalu mengapa penyetaraan harus ke roma? Sehingga kaum byzantium senang bukan kepalang ketika kaisar constantin menyebut konstantinopel sebagai nova roma ?

Jelas supremasi roma atas tahta tahta kekristenan sudah ada sejak semula…

Penutup:
Silahkan kaum ortodox renungkan hal ini

Sistem pentarki akan gagal tanpa ada pemimpin.pemimpin bukan hanya dihormati namun harus memiliki kuasa mutlak atas semua tahta. Pikirkan ini untuk apa gelar pemimpin yang dihormati apabila dia tidak berkuasa atas tahta lain?. Untuk apa gelar ecumenical patriach disematkan pada konstantinopel namun dia tidak bisa mencampuri regulasi kepada yurisdiksi lainnya?. Apabila masing masing tahta hanya diperintah oleh satu uskup tahta tersebut, tanpa pemimpin yang tertinggi yang memiliki kuasa mutlak, maka untuk apa sistem pentarki diberlakukan?. Kesetaraan dalam sistem pentarki mungkin saja akan membuat celah dominasi satu sama lain. Lucunya ecumenic patriakh yang katanya cuma dihormati juga memiliiki kuasa intervensi atas yurisdiksi lainnya seperti intervensi konstantinopel atas kasus ukraina baru baru ini. Apakah hal ini lucu?

Lalu diantara 5 pentarki tahta mana yang berhak memimpin?
Tentulah roma mengapa?
1. Gelar primus inter pares disematkan pada roma
2. Tahta mati st petrus yang memiliki kunci
3. Tempat berdiamnya Holy see/ Magisterum
4. Paus roma tidak pernah menjadi bidat
5. Roma adalah tahta yang dikehendaki Tuhan untuk memimpin seluruh kekristenan.

Salam

Penulis : Benediktus HP (Hidden Phantom)

Orang Baik Dilarang ‘Balas Dendam’

0
rawpixel / Pixabay

Situasi politik kita belakangan ini makin panas tiap harinya; sehingga tensi orang juga dari hari ke hari makin naik. Apa yang dulu tidak pernah menjadi soal, sekarang dipersoalkan. Dulu, meski sudah tahu beda agama, toh masyarakat tetap hidup rukun. Tapi, sekarang, perbedaan agama mulai dipersoalkan dan dipermasalahkan; sehingga tidak heran jika kita mendengar berita mengenai kuburan yang terpaksa digali kembali dan dipindahkan hanya gara-gara beda agama.

Semua ini terjadi setelah agama berhasil ditarik ke dalam panggung politik; dan membuat umat beragama semakin sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka yang pilihan politiknya sejalan dianggap ‘suci’ dan ahli surga, sementara mereka yang beda pilihan politiknya dianggap ‘kafir’ dan dipandang sebagai calon kuat penghuni neraka jahanam, dan seterusnya. Akibatnya, mereka yang tadinya akrab menjadi renggang gara-gara perbedaan pilihan politik.

Saat ini, jika kita melirik ke media sosial, kita akan mendapat kesan bahwa yang namanya saling hujat dan saling fitnah bertebaran di mana-mana. Banyak orang menjadi semakin tidak sabar. Ada masalah sedikit, langsung diselesaikan dengan otot, bukan lagi otak. Rasanya, semakin bertambah jumlah orang yang tidak bisa menghadapi masalah dengan kepala dingin. Baru dicurgai, langsung mengambil tindakan sepihak, alias main hakim sendiri. Beberapa waktu lalu, misalnya, ada dua orang yang baru dicurigai mencuri helm, langsung dihajar massa sampai meninggal dunia. Mengerikan.

Jika seperti itu yang terjadi, maka tampaknya kita kembali lagi ke zaman Perjanjian Lama. Dulu, pada zaman Perjanjian Lama, orang-orang Israel masih menganut sistem ‘mata ganti mata’ atau hukum balas dendam. Praktik seperti itu bisa kita lihat dengan jelas pada Kitab Imamat. Di sana dikatakan begini:

Apabila seseorang membuat orang sesamanya bercacat, maka seperti yang telah dilakukannya, begitulah harus dilakukan kepadanya: patah ganti patah, mata ganti mata, gigi ganti gigi; seperti dibuatnya orang lain bercacat, begitulah harus dibuat kepadanya” (Im. 24:19-20).

Untunglah, Tuhan Yesus memperbaiki hukum yang keji itu. Ia menggantinya dengan suatu hukum yang baru, yang disebut ‘hukum kasih’. Tuhan Yesus bersabda: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu” (Luk. 6:27-29).

Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita ajaran kasih supaya kita menjadi ‘orang baik’. Kasih yang diajarkan oleh Tuhan Yesus ini sungguh luar biasa. Bagi Yesus, kasih itu tidak sekedar ‘balas budi’; sebab semua orang tahu yang namanya balas budi; sebab bahkan seorang penjahat kelas kakap sekalipun tahu membalas kebaikan dari orang yang berbuat baik kepadanya.

Yesus berkata: “Sebab jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian” (Luk. 6:32-33).

Yesus meminta supaya kebaikan yang kita lakukan tidak hanya sekedar sebagai balas budi. Ia mengajak kita supaya bisa mengasihi semua orang, sekalipun orang tersebut mungkin saja memusuhi kita. Ia bersabda: “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka. Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Luk. 6:35,37-38).

Kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan. Permusuhan tidak boleh dibalas dengan balik memusuhi atau balas dendam. Fitnah tidak boleh dibalas dengan fitnah. Begitu pula ujaran kebencian dan hokas, tidak boleh dibalas dengan ujaran kebencian dan hoaks juga. Semua perilaku buruk itu harus dibalas dengan kasih. Tuhan Yesus bersabda: “Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu” (Luk. 6:29). Jangan sekali-kali membalas dendam terhadap orang yang menyakiti kita.

Seburuk apapun sikap orang lain terhadap kita, Tuhan Yesus meminta kita supaya tetap mengasihi satu dengan yang lain. Caranya mudah. Ia bersabda: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Artinya, sebagaimana kita perlakukan diri kita sendiri, demikianlah seharusnya kita memperlakukan sesama kita. Dalam keadaan normal dan waras, tidak ada orang yang mau melukai perasaan dan dirinya sendiri, nah mestinya demikian juga kita tidak melukai diri dan perasaan orang lain.

Perlakukanlah orang lain sebagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri. Jangan memperlakukan orang lain sebagaimana mereka memperlakukan diri kita; sebab itu hanya akan mengantar kita pada dua kemungkinan: jika baik, berarti itu balas budi; jika buruk, berarti itu balas dendam.

Iman dan Humanisme: Apa Kelebihan Orang Beriman dari Kaum Humanis?

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Jika kamu berbuat dengan baik kepada orang yang melakukan dengan baik, apakah jasamu?”

Inilah salah satu pernyataan Yesus dalam Injil Lukas 6:27-38. 1) Kasihilah musuhmu, 2) Berdoalah untuk mereka yang mengutukmu, 3) Mintalah terima kasih kepada orang yang membencimu, 4) Berilah bajumu jika orang lain meminta jubahmu, 5) Berilah pinjaman tolong minta bantuan 6) Jika pipi kirimu ditampar, tolong juga pipi kananmu.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Ini merupakan pertimbangan yang mencungkir balik hal-hal kodrat dalam kehidupan manusia. Boro-boro mendoakan orang yang membenci kita, mendoakan tetangga dan keluarga kita sendiri yang baik saja jarang kita lakukan. Mau meminta tolong untuk orang yang membenci kita, sementara kita sendiri berkekurangan. Mengasihi musuh, mendoakan dan meminta berkat tidaklah mudah. Ya, sangat sulit.

Menarik juga untuk kita cermati baik-baik. Apa sebenarnya maksud pengajaran ini. Kalau kita sedikit menyibak realitas hidup bermasyarakat dan politik kita, apa yang kita rasakan? Apa yang kita lihat?

Agama di ruang Publik

Iman mengandaikan beragama. Kita melihat bahwa justru hidup beragama kurang konektif dalam membangun kedamaian, kesamaan derajat, dan kebebasan hak-hak fundamental manusia di negeri ini.

Seantero Indonesia 100% warganya beragama. Rumah-rumah ibadah bertebaran, tetapi bagaimana relevansinya dalam kehidupan sosial, bernegara dan bermasyarakat? Bagaimana menjelaskan relasi beriman dengan sikap intoleransi, penyebaran kebencian, dan berbagai tindakan kejahatan lainnya yang terjadi di ruang publik?

Kita seperti hidup dalam sekat identitas dan selalu menaruh curiga terhadap yang lain. Kita akhirnya takut memperjuangkan kebenaran dan kebebasan, karena hidup beragama seakan membatasi kebebasan manusia untuk menjunjung tinggi kemanusiaan. Sedangkan di sisi lain, banyak orang yang tidak mencatut namanya dalam agama tertentu, justru menghormati nilai-nilai kemanusiaan daripada orang yang mengaku beragama.

Jadi, apakah mungkin berbuat baik tanpa perlu beragama? Jawabannya ialah mungkin dan nyata. Itulah yang namanya kemanusiaan. Ekstrim dari itu adalah humanisme. Lalu bagaimana dengan orang beriman?

Iman dan humanisme

Coba dibayangkan, pernyataan Yesus di awal tulisan ini, sungguh amat jelas amanatnya. Kalau orang beriman tidak menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, untuk apa beriman? Kalau kita juga hanya sebatas berbuat baik seperti kaum humanisme, lalu apa bedanya kita sebagai orang beriman?

Humanisme adalah paham yang mendewa-dewakan kemanusiaan. Kemanusiaan adalah realitas mutlak atau bisa dikatakan hidup itu mengekal dalam kemanusiaan.

Humanisme merupakan produksi dari rasionalitas. Kesadaran manusia sebagai puncak dari tatanan kosmik. Prinsip seperti ini dicetuskan oleh Descartes dan kemudian menjadi prinsip moral dalam Imanuel Kant. Kelompok eksistensial menyuarakan dengan makin kencang beserta dengan penghayatan yang ekstrim terhadapa humanisme.

Sekali lagi, bagaimana dengan kita orang beriman?. Cukup ditertawakan jika kita yang beriman lebih rendah sikapnya pada penghargaan akan nilai kemanusiaan, karena humanisme saja yang mentuhankan kemanusiaan sudah melakukannya dengan baik.

Inilah dilemanya sekaligus benang merah dari arti beriman menurut pernyataan Yesus di atas. Bahwa humanisme tidak cukup bagi seorang beriman. Orang beriman harus menyebrangi humanisme. Sikap menyeberangi humanisme inilah yang disebut orang memeluk iman.

Iman melampaui apa yang diukur baik dan wajar oleh humanisme. Inilah yang dituntut untuk seorang beriman. Tuntutan itu sangat berat. Maka pernyataan Yesus di atas merupakan salib untuk orang beriman. Kalau orang humanis didorong oleh prinsip bahwa kebaikan itu produk manusia, tidak dengan orang beriman.

Cara pandang orang beriman bahwa kebaikan manusia bukan semata mengekal dan bersumber dari manusia. Kebaikan itu bersumber dari Allah. Kalau kebaikan berpusat pada manusia maka yang terjadi adalah mentuhankan manusia. Manusia menjadi pusat dan ukuran kebaikan. Humanisme antroposentris ini sebagai biang kerok kerusakan lingkungan hidup.

Beriman berarti hidup dalam resiko. Resiko untuk mencintai melampaui ukuran manusia. Beriman berarti siap rugi karena memberi tanpa pamrih. Beriman berarti mendoakan musuh dan itu berat. Beriman berarti mempersembahkan hidup dan bahkan siap kehilangan hidup kita sendiri.

Yesus tidak mengajar dengan kata-kata. Ia mengajar dengan melanjutkan. Iman itu adalah Salib-Nya, Pengorbanan-Nya. Ya Tuhan yang mendoakan mereka yang menyalibkanNya. Tuhan yang menjadi manusia dan hidup melampaui ukuran humanisme, melampaui Tuhan yang kita imani?

Jadi apakah anda orang iman? Apakah Anda setuju? Apakah Anda berdoa untuk yang mengutuk dan menghakimu? Apakah meminta izin untuk orang yang mencacimu? Apakah menerima memberi pinjaman tanpa balasan?

Itulah beriman. Iman itu berat. Iman itu salib. Karena itu kita tidak dapat mempertimbangkan sepele iman kita. Karena itu juga, iman adalah tanggung jawab dan kualitas yang melampaui sikap manusia. Beriman berarti tidak hanya berhenti menjadi orang biasa dan berbicara tentang baik. Kita dituntut lebih dari itu yaitu pengorbanan. Iman adalah epik dan heroisme yang bersumber dari Allah, melebihi humanisme.

Ya Tuhan, sabda-Mu berat. Tambahkanlah iman kami dan ajarlah kami sikap rendah hati.

Ruang dan Waktu Bagi Diri Sendiri

0
Engin_Akyurt / Pixabay

Bisa jadi setelah melewati suasana ramai, berjumpa dengan banyak orang, berada dalam ketegangan atau persoalan yang rumit, kamu merasa sepi, bosan dan tidak tahu mau berbuat apa lagi.

Disitulah hatimu sedang membutuhkan ruang bagi diri sendiri. Ruang untuk merenungkan makna kebersamaan atau hubungan, untuk menggali kembali hal baik yang sudah kamu peroleh atau berikan. Ruang untuk menjadi diri sendiri.

Disitulah hatimu sedang membutuhkan waktu bagi diri sendiri. Waktu untuk menangkap makna dari pengalaman sebelumnya, untuk mencerna apa kata orang tentang dirimu dan mendengarkan apa kata hati tentang diri. Waktu untuk introspeksi diri sendiri.

Kamu membutuhkan ‘Me Time’ karena bisa jadi dalam keramaian kamu tidak menemukan kedamaian, dalam kebersamaan kamu merasakan kecemasan, dalam perjumpaan kamu mendapat celaan atau hura-hura.

Kamu membutuhkan ruang dan waktu bagi diri sendiri dalam keheningan untuk menyegarkan hati yang lesu, jiwa yang lelah, pikiran yang kalut. Dalam ruang dan waktu sendiri, kamu menimba kekuatan baru untuk menghadapi perjumpaan atau interaksi selanjutnya.

Seperti tanaman yang butuh ruang dan waktu untuk pertumbuhan akar, penyerapan hara dan menerima cahaya matahari, demikian pula hati manusia perlu ruang dan waktu untuk diri sendiri.

P. Joseph Pati Mudaj, Msf

Merindukan “Tubuh Kristus”

0
Sumber: Google.com
Pagi ini saya merayakan Ekaristi bersama saudara/i di Panti Kasih, Binongko-Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores Barat. Cukup banyak juga umat beriman di luar panti yang mengambil bagian dalam perayaan ini di tempat ini. Perayaan Ekaristi berjalan dengan baik.
Hal yang paling menarik dan sulit saya lupakan adalah apa yang saya alami setelah ekaristi. Saya kembali ke sakristi dan ganti pakaian misa. Lalu saya melayani satu keluarga yang minta didoakan. Setelah itu, saya hendak pulang ke seminari. Tapi seorang anak remaja (siswi SMP, anak panti) beritahu saya bahwa inuk Merlin belum diberi Tubuh Kristus.
Inuk Merlin ini berkebutuhan khusus. Ia sudah hampir 30 tahun (sejak keluar dari rahim ibunya) berbaring di tempat tidur. Ia dilayani dgn penuh kasih oleh para suster, perawat dan ibunya yang beberapa waktu terakhir ini tinggal di panti ini. Biasanya yang memberinya Tubuh Kristus adalah suster yang berkarya di sini. Tapi sejak kemarin para suster di panti ini ke Ruteng untuk ikut kegiatan kongregasi.
“Apa akibatnya kalau inuk Merlin tidak diberi Tubuh Kristus?” Tanyaku kepada anak yang memberitahukan kepadaku tentang Inuk Merlin yang belum menerima Tubuh Kristus. “Pater, dia akan berontak terus nanti. Dia ngambek. Mungkin sepanjang hari.” Ia beri penjelasan singkat. Saya tersentuh dengan penjelasannya. Lalu saya pergi ambil Tubuh Kristus di kapela. Saya larutkan hosti kudus, Tubuh Kristus itu, di dalam air seperempat gelas kecil. Lalu saya menuju tempat tidurnya inuk Merlin. Saya mengajaknya berdoa. Ia tampak cuek. Tidak peduli. “Inuk, saya suap saya. Ini hosti kudus, Tubuh Kristus.” Dia tetap tak peduli. Lalu, saya sadar. Mungkin karena saya tidak menggunakan jubah. Saya kembali ke Sakristi dan mengambil lagi jubah yang sudah dimasukkan ke dalam tas. Lalu saya kembali mendekati inuk Merlin di tempat tidurnya. Tampaknya ia belum juga terlalu peduli. Memang ia memandangku. Mulutnya masih tertutup rapat.
Lalu, bapa Adol, sesepuh di panti bilang begini. “Inuk, mohon maaf, kami tidak melupakanmu. Para suster tidak ada di sini. Mereka di Ruteng. Ini Pater Lorens. Ia yang memimpin misa di sini hari ini. Dia juga yang menggantikan suster untuk memberimu Tubuh Kristus. Sekarang buka mulut.” Inuk Merlin tampaknya mendengarkan penjelasan bapa Adol. Lalu, ia tersenyum, nyaris tertawa. Ia membuka mulutnya. Saya dengan mudah menyuap Tubuh Kristus yang sudah dilarutkan ke dalam air. Sepanjang ‘ritus suap’ ini, inuk Merlin tampak senyum sumringah sambil memandang wajahku. Lalu, saya membuat tanda salib di dahinya. Ia masih tersenyum dgn tenang! Saya juga tersenyum. Kami berbagi senyum. Ada sukacita yang tak teruraikan di sini.
 
Pengalaman kecil ini mendatangkan sukacita tak terkatakan. Saya pasti sulit melupakannya. Inuk Merlin merindukan Tubuh Kristus. Ia bahkan gelisah jika tak menerima-Nya. Pengalaman ini mengajarkan hal penting kepadaku. Bahwasannya, merindukan Tubuh Kristus adalah keniscayaan bagi orang yang percaya. Tubuh Kristus adalah sumber sukacita di hati. Sukacita yang tidak didapatkan dari harta, kuasa dan kenikmatan dunia. Bahwasannya merayakan dan mengikuti Ekaristi harus dilandasi kerinduan tiada tara akan Tubuh Kristus sumber ketenangan dan sukacita di hati. Dengan demikian, merayakan atau mengikuti perayaaan Ekaristi itu bukan karena kewajiban-aturan, tetapi karena kerinduan-kebutuhan jiwa akan Tubuh Kristus. Terima kasih inuk Merlin!
Apakah Anda merindukan Tubuh Kristus?
 
Salam Minggu; Tuhan memberkati!
Inuk: saudari (anak perempuan)

Tuhan Tak Butuh Sembah dan Sujud Kita

0
Gambar ilustrasi oleh martinduss / Pixabay

Tuhan bersabda: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku” (Kel. 20:3-5).

Dari ayat di atas, tidak sedikit orang berkeyakinan bahwa karena Tuhan menyuruh mereka supaya menyembah diri-Nya, itu berarti bahwa Ia membutuhkan sembah dan pujian mereka. Pertanyaannya: benarkah Tuhan membutuhkan sembah dan sujud kita?

Tentu saja keyakinan seperti ini tidak benar dan menyesatkan. Tuhan sama sekali tidak membutuhkan sembah dan pujian kita. Bahkan, ketika Tuhan memerintahkan kita untuk menyembah Dia, itu tidak berarti bahwa Dia membutuhkannya. Ingat, mau disembah atau tidak, Tuhan tetaplah Mahakuasa. Segala sembah, sujud, dan pujian kita tidak menambah sedikitpun pada kemahakuasaan-Nya. Dia hanya menginginkan supaya kita menjadi ciptaan-Nya yang tahu bersyukur.

Tuhan adalah Maha-sempurna. Entah kita sembah ataupun kita tidak menyembah-Nya, sama sekali tidak menambah sedikitpun pada kesempurnaan-Nya. Dia adalah Maha-mulia. Kemuliaannya ada sejak dahulu kala, sekarang, hingga selama-lamanya. Ia tidak pernah tidak mulia. Kemuliaan Tuhan tidak bergantung pada pujian dan sembah sujud kita. Lagi pula, siapa kita untuk menentukan kemahakuasaan, kesempurnaan, dan kemuliaan?

Justru kitalah yang membutuhkan pertolongan dari Tuhan karena Dia juga adalah Maha-kasih. Karena kasih-Nya itu, Dia telah menganugerahkan banyak hal kepada kita: hidup kita, kesehatan kita, lingkungan di sekitar kita yang kondusif, dan sebagainya. Karena itu, Tuhan hanya mau supaya kita menyembah Dia sebagai ungkapan hormat dan terima kasih kepada-Nya. Maka, ketika kita bersembah sujud di hadapan Tuhan, sesungguhnya itu bertujuan untuk mendatangkan manfaat bagi kita sendiri, dan mudah-mudahan juga bagi sesama dan lingkungan di sekitar kita.

Seringkali terjadi, kita merasa seperti ciptaan yang paling berjasa di hadapan Tuhan. Seolah-olah tanpa kita, Tuhan tidak bisa menjadi Tuhan. Kita memaksa Tuhan supaya memberi semua yang kita minta. Jika tidak, kita akan meninggalkannya. Kita mengatur dan mengancam Tuhan. Kita selalu bilang “Tuhan saya mau ini, saya mau itu.” Padahal, Tuhan hanya akan memberi apa yang kita butuhkan, bukan semua yang kita minta. Apa yang kita minta seringkali bukan itu yang kita butuhkan. Karena itu, doa yang baik adalah doa yang isinya berpasrah penuh pada kehendak Tuhan, bukan doa yang mendesak apalagi memaksa Tuhan supaya mengikuti keinginan kita.

Perhatikan kembali cara dan pilihan kalimat kita dalam berdoa. Jangan sampai kita mendesak, memaksa, apalagi mengancam Tuhan. Itu dosa. Kita bukan siapa-siapa. Kita hanyalah ciptaan. Kita membutuhkan Tuhan. Hidup kita ada di tangan-Nya. Kita bergantung pada Dia. Maka, jangan sekali-kali mengatur Tuhan. Jangan mengira bahwa jika kita tidak menyembah Dia, kemuliaan-Nya menjadi hilang. Tidak sama sekali. Kitalah yang mengharapkan pertolongan dari Tuhan; sehingga kita pun berkata: “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu” (Mzm. 17:8).

Tinggalkan Tanah Air, Demi Cinta Pada Banyak Orang Yang Sakit, Sr Boni Groot, MASF

0

Suster Boni memutuskan untuk menerima perutusan pemimpinnya berkarya di Indonesia pada tahun 1973.

Sejak ia menginjakan kaki di Indonesia, ia menjatuhkan pilihannya untuk menikahi tanah misinya dan mempersembahkan tenaga, pikiran dan bakatnya demi orang-orang yang dilayaninya. Dalam satu kesempatan Sr Boni bercerita kepada penulis.

Suster Bidan

Setelah pemimpin (Superior) MASF di belanda mengutus Sr Boni ke Indonesia, ia mengajukan pertanyaan kepada superiornya. “Suster saya mau ke Indonesia, tetapi apakah bisa saya menjadi suster Bidan/perawat?”

Superiornya menanggapi dengan senang hati niat suster muda yang cantik ini. Ia pun mengikuti kuliah kebidanan. Tetapi ia tidak bisa lagi kuliah di perguruan tinggi katolik yang ada di negerinya, karena ia telat mendaftar ke perguruan tinggi tersebut. Maka salah satu pilihannya ialah ia kuliah di tempat umum.

Namun ketika ia mendaftarkan diri di kampus umum, dosennya terkejut dan berkata : “baru kali ini ada suster di kampus ini. Mengapa anda memilih kuliah di sini?

Suster Boni menjelaskan kisah dan perutusannya ke Indonesia dan akhirnya diperkenankan kuliah di kampus ini. Tetapi karena persyaratan di Kampus Umum itu tidak boleh memakai baju biarawati, maka suster Boni rela tidak mengenakan jubah biarawatinya demi bisa kuliah di kampus umum itu.

Dua tahun kemudian, setelah lulus, ia diutus ke Indonesia, menjadi suster bidan. Ia datang dari Belanda ke Indonesia bersama saudaranya yang juga seorang pater MSF yaitu P. Frederick Groot MSF.

Setelah tiba di Indonesia ia memulai bekerja dan membuka klinik bersalin di Samarinda. Tetapi setahun setelah itu, atas analisa dan kepentingan pastoral juga, Sr. Boni disarankan untuk bekerja di Tering.

Kampung Tering pada waktu itu seperti segitiga emas. Situasinya rame dan menjadi pusat aktivitas. Rumah sakit didirikan, asrama dan sekolah katolik diperlukan dan sangat strategis.

“Kami bekerja melawan keterbatasan dan kesulitan, tetapi saya percaya Yesus sendiri juga banyak kesulitan dalam hidupnya, maka kami bertahan sampai sekarang.

Mengapa Kalimantan?

Penulis bertanya kepada beliau, mengapa memilih berkarya di Kalimantan?

Karya di Kalimantan terkait juga dengan karya para pastor MSF. Ketika pater Jendral MSF, Pater Trampe MSF mengunjungi para pastornya di Kalimantan, salah satu permintaan para pastor MSF di Kalimantan ialah mengirim para suster untuk membantu mereka dalam karya atau mereka angkat kaki dari kalimantan.

Setelah visitasi itu, Pater Jendral pulang ke Belanda. Awalnya ia mengetuk pintu hati kongregasi para suster yang sudah lama berdiri. Tetapi para suster itu sudah mempunyai misi masing-masing. Pater Trampe tidak mendapatkan kongregasi para suster untuk membantu para misionaris MSF di Kalimantan dan Brasil.

Karena desakan para misionaris di lapangan, Pater Trampe mendirikan kongregasi MASF. Akhirnya MASF didirikannya pada tahun 1937.

Sayangnya baru beberapa tahun kongregasi baru ini didirikab, perang dunia II meletus di Eropa. Sebelum perang, P. Trampe mengunjungi para pastor MSF di Brasil. Karena terjebak perang ini selama 7 tahun P. Trampe tinggal di Brasil. Baru setelah Perang usai, ia pulang ke Belanda lagi.

Namun karena di medan misi sangat membutuhkan para suster, maka para suster yang kurang terlalu matang dipersiapkannya diutus ke medan misi. Faktor ini berdampak juga pada panggilan para suster. Ada yang tahan di biara dan ada yang keluar.

Sr Boni mengingat kisah-kisah para suster MASF yang pertama ini, tetapi ia memilih untuk setia dan memberanikan diri ke Indonesia. Suster yang mempunyai 10 saudara ini, akhirnya menjadi ujung tombak karya dalam bidang kesehatan. Ia banyak menolong persalinan banyak orang.

Kini ia berkarya di Klinik Pertama St. Familia milik para Suster MASF sendiri di Barong Tongkok, Kutai Barat.

Diusianya yang renta, ia tetap melayani banyak pasien. Ia juga setia mendoakan pasiennya apapun agama mereka. Ia menyapa dengan ramah setiap orang, murah senyum dalam pelayanannya. Itulah suster Boni Groot MASF. Ia telah kehilangan tanah airnya demi melayani banyak orang di Kalimantan.

Semoga banyak orang muda khususnya gadis-gadis borneo untuk berani meneladani didikasi dan pilihan hidupnya. Kalau bukan kita, siapa lagi.

Terimakasih Sr Boni Groot MASF.