2.8 C
New York
Thursday, April 9, 2026
Home Blog Page 64

Saat Romantisme Perkawinan Meredup, Cinta Terasa Hambar

0

Saat romantisme perkawinan meredup, cinta terasa hambar dan kamu akan menyadari bahwa kamu menikah dengan orang yang tidak sempurna. Sebab, waktu bisa saja mengubah segala sesuatu dan menghadirkan kejutan yang menyesakkan dada.

[postingan number=3 tag= ‘perkawinan-katolik’]

Kamu akan berhadapan dengan aneka persoalan, kebosanan, ketidaknyamanan, kebiasaan aneh, yang bisa jadi dulu tidak dipersoalkan tapi sekarang menjadi persoalan. Kamu akan merasakan bahwa jarak terjauh dalam sebuah hubungan adalah ketika dia ada di sampingmu tapi kamu merasa tidak nyaman, asing, aneh atau bahkan tidak ada.

Di situlah ujian kesetiaan akan cinta. Cinta akan teruji ketika kamu tahu bahwa orang yang kamu cintai tidak sempurna. Cinta bukan hanya sekedar perasaan yang bisa berubah-ubah ketika berhadapan dengan situasi di luar dugaan. Cinta adalah keputusan dan komitmen yang tidak tergoyahkan ketika berhadapan dengan godaan atau ujian hidup.

Cinta itu seperti tanaman yang perlu dipupuk, disiram, dan dirawat setiap hari agar ia tumbuh dengan subur. Tanpa perawatan ia bisa layu bahkan mati. Ciptakanlah dan rawatlah cinta itu. Maka, romantisme perawinan bersinar lagi.

Sekalipun kamu tidak sempurna, cinta yang kamu berikan akan memberi makna lebih dalam dan mengagumkan daripada segala sesuatu yang pernah kamu bayangkan. Karena cinta berarti mencintai seorang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna sepanjang waktu.

P. Joseph Pati Mudaj, MSF

Aura Kasih Perempuan

0
DzeeShah / Pixabay

Perempuan itu emosional. Baginya, perasaan jauh lebih penting dari sekadar sebuah percakapan, dan apresiasi jauh lebih berharga dari perdebatan semata.

Ketika merasa dicintai, ia akan terbuka dan ekspresif. Energi keibuannya mengalir dan memancarkan aura kasih bagi orang lain secara alami. Aura itu adalah ekspresi cinta dari dalam yang getarannya bisa mencairkan hati dan suasana yang beku.

Ketika merasa nyaman, ia membiarkan seluruh dunianya untuk dimasuki oleh orang yang telah membuatnya nyaman. Baginya, merasa nyaman dan tenang adalah keindahan hidup yang tak terlukiskan dan orang yang membuatnya nyaman pantas menikmati keindahan lukisan itu.

Raganya tidak akan ke mana-mana, ketika hatinya dijaga. Tak ada tempat lain selain pada hati yang bisa memahaminya karena ia sudah merasa berarti dan percaya diri ketika harus melewati titian hidup, sesulit atau seberat apapun itu.

Perempuan tidak suka berdebat jika ia merasa bahwa debat melukainya atau hanya akan membuat orang yang dikasihinya terluka karena ia sadar bahwa hati yang terluka perlu waktu lama untuk pulih dan relasi lebih berharga dari sekadar percakapan.

Kalau laki-laki punya naluri untuk melindungi, perempuan punya naluri untuk merawat atau memelihara. Lindungi dan jagalah kepercayaannya, maka ia akan merawat dan memelihara cinta. Sebab naluri keibuannya berbisik bahwa cinta memang perlu dirawat atau dipelihara.

Meski emosional, perempuan tidak menuntut hal-hal yang berlebihan. Ia tidak butuh orang yang sempurna. Ia hanya butuh orang yang punya hati untuk berjuang bersama-sama dengan cara yang sempurna.

Ia tidak butuh orang yang menangis bersamanya setiap hari, tapi orang yang punya keberanian untuk menangis dihadapannya ketika orang itu membutuhkannya.

Ia tidak butuh orang yang menasihati atau mengingatkannya setiap hari akan kekurangannya, tapi orang yang paham dan berani menghadapinya ketika emosinya meledak-ledak.

Perempuan memang emosional karena kasihnya melampaui logika. Tak perlu debat untuk mengerti, tapi perlu hati yang bisa memahami.

P. Joseph Pati Mudaj, Msf

Ketika Kesetiaan Menuntut Tebusan

0
Free-Photos / Pixabay

Kita dahulu saling memperhatikan dan mencintai satu sama lain. Kita tidak menyia-nyiakan waktu, karena waktu terlalu berharga untuk berlalu begitu saja. Hari terus berganti dan sikapmu pun berubah. Kata-katamu semakin pahit dan sikapmu menjadi kasar.

Tak mudah bagiku untuk menerima semua ini dan menyembuhkan luka yang kamu torehkan. Tak mudah sembuh hanya dengan ucapan maaf di bibir atau dengan setangkai mawar indah atau seperangkat alat canggih. Tapi aku mau setia dan berharap kamu sadar.

Di manakah kebahagiaan kita yang dulu? Sudahkah kamu gadaikan demi prestasi atau jabatan, relasi atau simpanan atas nama kebanggaan dan kenikmatan? Tidakkah kamu sadari bahwa dibalik kesuksesan seorang suami, terdapat kehebatan seorang istri?

Kamu menyebut kesuksesan sebagai usahamu semata. Ya, aku sadar, tidak banyak hal yang kukatakan atau kubuat. Aku hanya bisa berdoa dan melakukan hal terbaikku sebagai seorang istri.

Kamu juga begitu anggun dan menawan kala berbicara dengan perempuan lain. Dan aku harus menahan gejolak untuk menangis di hadapan kalian. Lutut dan tanganku gemetar, antara amarah dan pedih.

Begitulah caramu menawarkan madu untuk menarik simpati orang lain, sedang aku kamu taburi racun. Dan jiwaku merontah, ‘Itu tidak adil’.

Tapi bagaimanapun juga, melewati waktu, aku akan bertahan dalam kesetiaan, karena kesetiaan menuntut tebusan. Tubuh dan batin ini menjadi tebusan. Dan aku menunggu saatnya ketika kamu sadar bahwa aku adalah orang yang setia di sampingmu setiap waktu. Somoga kamu paham, sebelum aku mati!

P. Joseph Pati Mudaj, Msf

Surat Gembala Keuskupan Palangka Raya-Kalteng tentang Pemilu 2019

0

Pemilihan Umum (Pemilu) dan persiapannya sedang berlangsung di seluruh Indonesia, termasuk di Propinsi Kalimantan Tengah. Mari kita tanggapi Pemilu ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki mutu kehidupan bermasyarakat di tempat kita masing-masing. Keuskupan Palangka Raya mengajak seluruh umat untuk terus mencari jalan bagaimana meningkatkan martabat manusia yang sejahtera, melalui keikutsertaan kita dalam Pemilu. Oleh karena itu, Gereja Katolik mengajak semua umatnya untuk ikut ambil bagian secara penuh dalam Pemilu ini, dan tak seorang pun menyia-nyiakan dengan tidak ikut memilih atau menjadi Golput.

Pemilu merupakan kesempatan bagi rakyat untuk mendapatkan orang-orang yang akan dipercaya untuk memimpin rakyat dalam mewujudkan cita-cita bersama, yaitu bahwa seluruh rakyat mempunyai kesempatan yang sama untuk hidup sejahtera. Hal ini dimungkinkan apabila rakyat dan terutama para pemimpinnya, baik dalam sikap maupun tindakan, lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi atau golongannya sendiri. Sebagai bagian integral dari rakyat, umat harus terlibat dan berpartisipasi di dalam setiap usaha untuk mengupayakan kesejahteraan bangsa kita, terutama melalui Pemilu ini. Surat Gembala Pemilu 2019 ini kami maksudkan untuk mendorong umat ikut aktif dalam Pemilu sebagai salah satu bagian dari usaha tersebut.

Sehubungan Pemilu 2019 ini, ada beberapa hal yang perlu dicermati.

Pertama, mengenai tata pelaksanaan pemungutan suara. Diperlukan ketelitian yang sungguh-sungguh untuk mengikuti tata-cara yang tercantum di dalam undang-undang dan peraturan yang berlaku. Untuk itu kita perlu meluangkan waktu dan kesempatan untuk secara pribadi maupun secara bersama-sama di dalam kelompok, untuk mempelajari dan mendalami seluk beluk Pemilu 2019 ini, agar dapat berpartisipasi dengan tepat.

Kedua, sekitar pribadi para calon. Kita harus memilih orang-orang yang dapat dipercaya untuk memimpin rakyat Indonesia dan di daerah kita serta menjalankan pemerintahan demi kesejahteraan umum. Marilah kita cermati dan telusuri rekam-jejaknya, apakah orang yang akan kita pilih itu memang dapat dikatakan sebagai orang baik, bersih dan tepat untuk menjadi pemimpin. Layakkah dia dijadikan pemimpin? Jujurkah dia? Mana yang dia utamakan: kepentingan pribadi, golongannya sendiri atau kepentingan umum? Kita pilih mereka yang benar-benar mengutamakan kepentingan umum. Kita juga akan memilih orang-orang yang tidak korup, mereka yang memperoleh kekuasaan secara jujur dan tidak menggunakan politik uang, tetapi mempergunakan kekuasaan demi kesejahteraan masyarakat. Kita semua perlu kritis terhadap kampanye, menilai rekam jejak (track-record) calon dan menentukan pilihan sesuai dengan suara hati kita masing-masing.

Ketiga, ketika kampanye. Umat boleh mendukung calon mana yang sesuai dengan hati nuraninya masing-masing, dengan akibat timbulnya perbedaan pilihan di kalangan umat. Namun perbedaan ini tidak boleh menjadi alasan konflik dan terpecahnya kesatuan umat karena alasan politik. Umat harus tetap memberikan kesaksian bahwa Gereja itu satu, kudus, katolik dan apostolic.

Keempat, mengingat Gereja adalah tempat ibadah, maka tidak boleh seorang pun, entah pastor, biarawan-wati atau awam, menggunakan altar, mimbar atau bagian gereja lainnya menjadi tempat kampanye dengan menyebut nama salah satu pasangan calon untuk dipilih.

Marilah kita berusaha untuk mendapatkan calon yang mengembangkan sikap toleran dalam kehidupan antarumat beragama, mereka yang mengamalkan nila-nilai luhur agamanya sehingga dengan nyata menghargai orang-orang yang di luar agamanya sendiri. Kita bisa memilih pemimpin yang memberi perhatian pada pelestarian lingkungan, pada kaum miskin dan lemah serta peranan perempuan. Marilah kita ikut ambil bagian sepenuh-penuhnya dalam Pemilu ini.

Semoga Pemilu 2019 menjadi kesempatan bagi bangsa kita untuk mendapatkan orang-orang yang dapat dipercaya, pemimpin-pemimpin yang jujur dan benar-benar mencintai bangsanya. Karena itu, hak untuk memilih hendaknya dipergunakan sesuai dengan suara hati yang telah dijernihkan dan dipertajam dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas.

Akhirnya, marilah kita rangkai peristiwa Pemilu 2019 ini di dalam doa-doa kita. Semoga rakyat kita tidak mengambil langkah yang salah, langkah mundur atau langkah yang membawa mala petaka, tetapi sebaliknya, semoga berkat dan kebijaksanaan dari Yang Maha Kuasa mengantar seluruh rakyat Indonesia dan secara khusus di Kalimantan Tengah ini ke masa depan yang lebih sejahtera dan bermartabat.

+ Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF
Uskup Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Hidup Tidak Selalu Mulus

0
sasint / Pixabay

Mau tidak mau, suka atau tidak suka kamu bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang. Di antara mereka, ada yang bermaksud baik, ada yang punya niat jelek dan ada pula yang tidak kamu ketahui apa maksud atau niatnya.

Kalau boleh memilih, kamu pasti akan memilih orang yang bermaksud baik, menyenangkan, menguntungkan atau yang bisa meneguhkanmu. Tapi hidup tidak selamanya berjalan seperti keinginanmu.

Kadang kamu harus bertemu dengan orang yang menjengkelkan, menyakitkan atau menghancurkan, yang bahkan tidak kamu duga sebelumnya.

Bisa saja, Tuhan memakai mereka agar kamu memahami makna dinamika hidup bersama orang lain. Karena melalui mereka, kamu mendapat pelajaran untuk semakin dewasa, sabar, kuat, tahu memaafkan dan mengambil sikap.

Hidup tidak selalu mulus dan tidak bisa ditebak. Jika kamu terperosok maka bangunlah dan belajarlah dari pengalaman tersebut agar tidak lagi terperosok dalam lubang yang lebih dalam. Anggap saja semua kekecewaan, sakit, luka dan penderitaanmu itu sebagai pengalaman agar kamu tahu sisi lain hidup.

Mau seperti apa hidupmu nanti, tergantung kamu mengambil sikap dan pelajaran dari setiap pengalaman hidup, kalaupun itu adalah pengalaman yang paling menyakitkan.

P. Joseph Pati Mudaj, Msf

Waspada terhadap Politikus Berjubah Agama

0
Gambar ilustrasi oleh StockSnap / Pixabay

Rasa-rasanya ‘geli’ dan ngeri sendiri jika kita melihat dan mengikuti perkembangan dunia perpolitikan di tanah air akhir-akhir ini. By the way, saya bukan ‘pengamat’ politik, apalagi politikus lho ya. Saya hanyalah seseorang yang mencoba ‘melihat’ dan mengikuti berita demi berita mengenai dunia perpolitikan kita, ya hitung-hitung biar tidak ketinggalan informasi saja sih.

Saat ini, tampaknya banyak orang yang bergelut dalam dunia politik (meski tidak semuanya) mencoba mencampur-adukkan antara urusan politik dengan urusan agama; atau saya lebih senang menyebutnya: ‘kawin campur antara politik dan agama’. Agama disusupi oleh kepentingan politik praktis dari oknum-oknum tertentu. Saya kira, inilah yang kita sebut sebagai politik yang menghalalkan segala cara. Akibatnya, agama yang seharusnya pada dirinya sendiri berarti ‘tidak kacau’ menjadi kacau.

‘Kawin campur’ yang tidak sehat itu menyebabkan ruang agama yang sejatinya bebas dari kepentingan politik praktis ‘di-obok-obok’ menjadi tak beraturan. Padahal, agama seharusnya menjadi obor (penerang) bagi jalannya segala aspek kehidupan manusia, termasuk politik yang sehat, tetapi bukan malah menjadi kuda tunggangan bagi aktor politik, apalagi aktor politik yang hanya sekedar memanfaatkan agama untuk memuluskan kepentingan sesaatnya. Inilah yang kemudian meresahkan banyak orang, terutama di kalangan umat beragama.

Saya tidak anti-politik. Menurut saya, politik itu pada dasarnya baik, jika diterapkan secara baik pada tempat yang tepat (tentu saja di mimbar politik). Tetapi menjadi tidak baik kalau kemudian aktor-aktor yang bergerak di dalamnya menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya.

Sekarang ini, banyak aktor politik tidak hanya merebut ‘mimbar agama’ tetapi bahkan juga berhasil mengambil-alih jubah ‘suci’ agama. Sepertinya kita di Indonesia memang paling gampang dipengaruhi kalau orang berbicara atas nama agama; sehingga tanpa di-crosscheck terlebih dahulu omongannya, kita langsung percaya. Padahal, boleh jadi orang bersangkutan adalah serigala berbulu domba. Tuhan Yesus pernah bilang:  Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Mat. 7:15).

Lebih miris lagi, para politikus yang sudah berjubah agama itu memanfaatkan media sosial untuk menyebarluaskan berita bohong. Akibatnya, kabar bohong merajalela. Orang yang tidak mempunyai filter yang cukup bagus akan percaya begitu saja. Padahal Tuhan sudah dengan tegas dan jelas berkata: “Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar” (Kel. 23:1).

Banyak kali, hanya gara-gara perbedaan pilihan politik, mimbar agama juga dikotori dengan berbagai ujaran kebencian dan fitnah; sehingga tensi orang makin naik tiap harinya. Yang satu merasa diri lebih pintar, dan yang lain dibodohkan, demikian sebaliknya. Yang satu dikatai ‘kampret’, dan yang lain dibilang ‘cebong’. Jika mau tahu buktinya, coba lihat saja di media sosial. Banyak sekali bertebaran di sana.

Kasihan generasi muda kita. Mereka sebetulnya berharap supaya mendapatkan teladan yang baik dari orang yang lebih tua, tetapi nyatanya yang mereka terima justru contoh yang buruk. Andaikata agama memang harus masuk ke dalam ruang politik, biarkanlah agama menyampaikan kebenaran, jangan sampai agama justru dikendalikan oleh kepentingan politik praktis.

Menjadi Katolik, Jangan Kaleng-kaleng

0
Gambar ilustrasi oleh PIRO4D / Pixabay

Kali ini, saya ingin mengajak Anda untuk berbicara sedikit soal iman. Iman itu ibarat tanaman, tidak dibiarkan begitu saja, tapi dirawat. Kita siram, kita beri pupuk supaya subur, kita cabut rumput liar di sekelilingnya biar tidak terhimpit, dan seterusnya. Ketika tanaman itu tidak dapat tumbuh dengan baik, kita periksa jangan-jangan akarnya kena cadas atau terhimpit rumput.

Nah, begitu juga halnya dengan iman. Supaya iman itu tumbuh dengan baik, kita harus rawat tanahnya, yaitu hati kita. Ketika iman itu tidak tumbuh dengan baik, kita periksa hati kita. Barangkali ada yang belum dibersihkan. Kita periksa, jangan sampai hati kita keras seperti batu, atau jangan sampai iman kita itu dihimpit oleh keinginan yang lain, atau oleh hasrat-hasrat yang tidak teratur, oleh beban masa lalu yang belum hilang, dan persoalan-persoalan yang belum terselesaikan.

Kita harus rawat iman kita. Boleh jadi, iman Katolik yang kita anut saat ini ‘diwariskan’ dari orang tua kita secara turun-temurun. Tapi, tidak menjadi alasan bagi kita untuk tidak mendalaminya. Prinsipnya: menjadi Katolik, jangan kaleng-kaleng. Iman kaleng-kaleng itu adalah iman yang lembek, mudah ciut ketika berhadapan dengan tantangan, ditekan sedikit langsung mengkerut, dan sebagainya. Iman kita harus kuat seperti baja. Tahan banting.

Kita wajib menjaga dan memperhatikan pertumbuhan iman kita. Jangan pernah menggadaikan apalagi menjual iman kita demi apapun: demi uang, demi jawabatan, atau demi cinta.

Uang bisa dicari, jabatan juga bisa kita diraih. Cinta apalagi. Tidak ada cinta yang lebih besar dari cinta Yesus. Kitab Suci menegaskan ‘Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13).

Yesus mengorbankan diri-Nya karena Ia mengasihi kita. Jangan sampai kita mengorbankan cinta Yesus demi cinta-cinta yang kecil itu. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat. 23:37).

Jangan mengasihi Tuhan secara setengah-setengah. Tandanya bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan adalah dengan tidak mudah berpindah kelain hati. Sekali Yesus tetap Yesus.

Saya sering mendengar ucapan ‘betapa sulitnya mencari pasangan seiman’. Jika ini benar, saya justru pertanyakan keaktifan Anda di Gereja dan cara Anda bergaul di masyarakat. Jangan pernah mencari pasangan seiman di pasar, kalaupun ada, itu kebetulan saja. Jangan harap bisa mencari pasangan seiman di mall. Tidak ada di sana. Carilah pasangan seiman di Gereja, dengan cara aktif dalam kehidupan menggereja dan bergaul dengan orang Gereja.

Soal iman, harga mati. Tidak ada tawar-menawar. Jangan sekali-kali melepaskan kepercayaan kita pada Tuhan karena alasan apapun. Harta terbesar kita adalah iman kepada Yesus.  Tuhan bersabda: “Apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya” (Ibr. 10:38). Tentu kita mau supaya Tuhan tetap berkenan kepada kita, maka jangan sekali-kali berpindah ke lain hati.

Hati kita mungkin sekali waktu kering. Kita merasa banyak masalah menghadang. Lalu, apa kita langsung lari dari kenyataan itu? Tidak. Sama halnya dengan ketika tanah tempat kita bercocok tanam tidak subur, apa kita langsung ganti lahan? Tidak. Kita cari pupuk, kita buat irigasi, kita cabut rumput di sekililingnya, dan seterusnya. Kita tidak seenaknya berpindah-pindah.

Begitu juga dengan iman. Kita harus merawat iman kita. Kita harus tunjukkan bahwa kita ini sungguh Katolik; dan sampai kapanpun tetap Katolik. Para orang tua diharapkan bisa memberikan peneguhan kepada anak-anaknya, supaya mereka mampu mempertahankan iman Katolik yang sudah diwariskan kepada mereka. Jika ada masalah, bicarakan di rumah. Jika di rumah tidak dapat solusi, cari tokoh umat di lingkungan. Jika belum juga, datangi pastor.

Kita bersama-sama bertanggung jawab untuk menjaga iman ini; dan menjamin pertumbuhannya. Jadikanlah iman yang sudah kita akui dengan bangga ini sebagai pegangan hidup kita. Kita harus bisa berkata dalam hati kita masing-masing: “Saya bangga menjadi Katolik. Saya bangga menjadi pengikut Kristus. Saya tidak akan pernah meninggalkan Yesus”. Amin.

Ragi Orang Farisi dan Ragi Herodes — Renungan Harian

0
Gambar ilustrasi oleh michelmondadori / Pixabay

Ragi Orang Farisi dan Ragi Herodes: Renungan Harian Katolik, Selasa 19 Februari 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Kej. 6:5-8; 7:1-5,10; Injil: Mrk. 8:14-21

Tuhan Yesus memperingatkan para murid-Nya supaya jangan terpengaruh dengan ragi orang-orang Farisi dan ragi Herodes. Apa itu ragi? Kita tahu bahwa ragi adalah pengawet makanan. Ragi umumnya digunakan dalam industri makanan untuk membuat makanan dan minuman hasil fermentasi seperti acar, tempe, tape, roti, dan bir.

Berbeda dengan arti yang sesungguhnya, ‘ragi’  dalam konteks perkataan Yesus memiliki konotasi negatif. Makanya, Ia berkata kepada para murid-Nya: “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes” (Mrk. 8:15).

Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, ragi melambangkan dosa dan pencemaran dunia. Maka, ketika Tuhan menetapkan Paskah bagi orang-orang Israel, Ia meminta mereka supaya menyelenggarakan Hari Raya Roti Tak Beragi ketika memasuki tanah Kanaan.

Roti tak beragi itu sendiri melambangkan pertobatan, penolakan terhadap dosa, dan penyerahan kepada Tuhan. Dikatakan bahwa berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Peringatilah hari ini, sebab pada hari ini kamu keluar dari Mesir, dari rumah perbudakan; karena dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN telah membawa kamu keluar dari sana. Sebab itu tidak boleh dimakan sesuatu pun yang beragi” (Kel. 13:3).

Dengan menyebut ragi orang Farisi dan ragi Herodes, Yesus bermaksud supaya para murid-Nya tidak mengikuti jejak buruk kedua kelompok itu. Baik orang Farisi maupun Herodes selalu diceritakan sebagai orang-orang yang munafik dan tidak mengindahkan perintah Tuhan.

Herodes dikenal luas sebagai orang yang suka menghalalkan segala cara demi kepentingan politiknya. Dialah yang membunuh Yohanes Pembaptis. Ia gagal paham terhadap pengajaran Yesus. Ia melihat Yesus sebagai pembuat mukjizat yang populer yang mengancam kewibawaannya sebagai pemimpin politik; sehingga dia jugalah yang nantinya membunuh Yesus (lih. Luk.13:31).

Sementara itu, orang Farisi menganggap diri mereka lebih benar karena merasa telah menjalankan perintah Allah dibandingkan semua orang, sehingga mereka tidak perlu belas kasihan dan pengampunan dari Allah (lih. Luk.18:9-14). Sama seperti Herodes, mereka juga gagal paham terhadap pengajaran Yesus. Mereka melihat Yesus sebagai pembuat mukjizat yang populer yang mengancam kewibawaan mereka sebagai pemimpin agama.

Nah, Yesus meminta para murid-Nya supaya jangan sampai terpengaruh dengan cara berpikir dari orang-orang Farisi dan Herodes itu. Namun, karena para murid itu tidak membawa bekal roti, mereka tidak mengetahui maksud Yesus. Yesus meyakinkan para murid-Nya itu bahwa mereka juga salah memahami diri-Nya, sama seperti orang Farisi dan Herodes.

Yesus memaksudkan sesuatu yang lain, para murid menangkapnya lain. Yesus ngomong soal ragi orang Farisi dan ragi Herodes, mereka berpikir soal roti (makanan). Makanya, Tuhan Yesus menegur para murid-Nya itu dengan melontarkan kalimat yang sangat keras. Yesus berkata kepada mereka: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu?” (Mrk. 8:17).

Gagal paham seperti yang dialami oleh para murid ini juga seringkali terjadi di dalam kehidupan kita setiap hari. Orang berbicara lain, kita mengertinya lain. Ada mis-komunikasi. Kenyataan seperti ini makin meningkat saat ini sebab banyak orang sudah tidak fokus lagi mendengarkan pembicaraan orang lain yang ada di depannya. Apa yang mereka buat? Mereka sibuk main HP. Maka, jangan heran jika saat ini banyak sekali terjadi gagal paham dan salah pengertian.

Kita harus mengakui bahwa banyak perilaku menyimpang terjadi karena orang tidak mengerti pesan yang disampaikan. Mengapa hal itu terjadi? Karena mereka tidak mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Anak-anak, misalnya, berperilaku menyimpang karena mereka tidak mendengarkan pesan-pesan yang disampaikan oleh orang tuanya.

Dalam cerita Kitab Suci, kita banyak kali mendengar atau membaca kisah-kisah mengenai bagaimana manusia tidak mengindahkan pesan penting yang disampaikan oleh Tuhan. Tuhan memberikan perintah dan larangan, tapi manusia mengabaikannya. Makanya, dalam bacaan pertama hari ini dikatakan bahwa ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.

Berfirmanlah TUHAN: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.”

Tuhan Yesus mau supaya kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh setiap pengajaran-Nya agar kita tidak gagal paham seperti Herodes, orang Farisi, maupun para murid-Nya. Pahamilah firman Tuhan, lalu dilaksanakan dalam kehidupan setiap hari.

Pesan dari Tuhan Yesus kepada para murid-Nya juga ditujukan kepada kita. Jangan pernah meniru sikap dari orang-orang Farisi dan Herodes. Jangan menghalalkan segala cara atas alasan apapun. Juga, jangan menganggap rendah orang lain. Kita semua sama di mata Tuhan.

Tuhan mengasihi kita, sama seperti Ia mengasihi Nuh; asalkan kita mau mengerti sabda-Nya, dan berusaha untuk mewujudkannya di dalam kehidupan kita setiap hari. Hanya dengan cara itu, kita dapat selamat dari murka Tuhan. Amin.

Kitab Kebijaksanaan: Sering Dikutip, tapi Banyak Disalah-mengerti

0
Free-Photos / Pixabay

Kali ini kita membahas tentang Kitab Kebijaksanaan. Jumlahnya ada enam. Yang termasuk di dalamnya adalah: Kitab Ayub, Kitab Amsal, Kitab Pengkhotbah, Kitab Kidung Agung, Kitab Kebijaksaan Salomo, dan Kitab Yesus Putra Sirakh.

Nama lain untuk kelompok Kitab Kebijaksanaan adalah Hikmat. Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari kita campurkan keduanya; sehingga menjadi hikmat-kebijaksaan.

Mengapa disebut Kitab Kebijaksanaan, Kitab Hikmat, atau Kitab Hikmat Kebijaksanaan? Jawabannya: karena isinya berupa nasehat-nasehat bijaksana yang lahir dari pengamatan atau pengalaman para penulisnya. Jadi, kitab-kitab ini tidak berisi tentang tindakan dan karya Tuhan; juga tidak berbicara sebagai umat Tuhan secara keseluruhan, melainkan berbicara tentang masing-masing orang dan kehidupan sehari-hari.

Namun, para penulisnya tetap menyadari bahwa kebijaksanaan sejati berasal dari Allah dan merupakan anugerahnya. Tuhanlah yang memberi nasehat yang berguna kepada setiap orang yang menaati hukum Tuhan.

Isi Kitab Kebijaksanaan sangat dekat dengan pengalaman nyata kita setiap hari. Makanya, jika kita perhatikan, isi dari kitab-kitab ini banyak dikutip orang, entah sekedar untuk update status di medsos, sebagai penambah perbendaharaan kata-kata mutiara, atau juga untuk memotivasi orang lain. Jenis sastra yang digunakan dalam Kitab Kebijaksanaan adalah puisi. Berikut beberapa contoh kutipan dalam Kitab Kebijaksanaan:

  • “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya” (Pkh. 3:1)
  • “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang” (Ams. 17:22).
  • “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana” (Ams. 19:21).
  • “Orang yang bijak menyembunyikan pengetahuannya, tetapi hati orang bebal menyeru-nyerukan kebodohan” (Ams. 12:23).

Meski banyak dikutip, tidak sedikit orang juga gagal paham terhadap isi kitab ini. Sebagai contoh, Kitab Kidung Agung. Ada banyak sekali bahasa kiasan di situ. Kidung Agung ditulis dengan gaya puisi cinta. Seringkali pilihan kata-katanya sangat vulgar dan sensual. Inilah yang membuat banyak orang gagal paham. Ketika mereka membaca isi Kitab Kidung Agung, mereka langsung bilang: “Wah, parah. Kitabnya orang Kristen rupanya kata-katanya vulgar dan porno”. Padahal, kitab manapun tidak pernah boleh ditafsirkan secara literal.

Jangan dikira bahwa arti dari Kitab Kidung Agung sevulgar seperti yang tertulis itu. Tidak. Kitab Kidung Agung menggambarkan kasih mesra antara Tuhan dengan manusia, ciptaan-Nya. Hanya memang penggambarannya menggunakan kiasan hubungan antara lelaki dan perempuan sebagai kekasih.

Jangan lupa bahwa Kitab Suci itu ditulis pada zaman tertentu, oleh orang tertentu, dengan latarbelakang dan gaya bahasa tertentu. Gaya penulisan a la Kidung Agung adalah ciri khas bentuk sastra pada zamannya. Orang-orang zaman itu, ketika mereka mengungkapkan hubungan mereka dengan Tuhan, cara penulisannya memang seperti ini.

Jangankan zaman dahulu kala, beberapa tahun yang lalu dengan zaman sekarang saja sudah berbeda gaya sastranya. Contoh, lagunya Obbie Messakh: “Antara Benci dan Rindu”. Dulu orang-orang suka mendengarkan lagu ini. Tapi, coba diperdengarkan kepada anak-anak muda zaman sekarang, pasti mereka akan bilang ‘aneh’ lagunya. Mengapa aneh? Karena di dalam syair lagunya ada kalimat aneh. Di situ dikatakan: “Kita bercerita tentang langit biru. Di sana harapan dan impian”. Buat apa kita bercerita tentang langit biru? Apa tidak ada lagi obrolan yang lain?

Orang-orang yang hidup sezaman dengan Obbie Messakh tentu tidak keberatan dengan kalimat itu. Boleh jadi, mereka juga paham maksudnya. Nah, jika sekarang kita tidak paham, masuk akal. Tapi, jangan cepat-cepat bilang ‘aneh’. Coba tanyakan dulu kepada generasi zaman old atau kalau perlu tanyakan langsung kepada Obbie Messakh.

Begitu juga dengan Kitab Kidung Agung. Mestinya mereka tidak langsung bilang ‘vulgar’ dan ‘porno’. Coba tanyakan dulu kepada para romo, atau baca tafsirnya kalau sempat. Jangan langsung bikin pernyataan yang sembarangan. Kasihan yang tidak tahu apa-apa, mereka percaya saja. Padahal, mereka sama-sama tidak tahu.

Penulis dari Kitab Kebijaksanaan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar hidup mereka. Mereka mengungkapkan kebesaran dan kemuliaan Allah serta karya-karya Allah di tengah-tengah mereka, dengan gaya bahasa yang khas mereka. Mereka juga memberikan nasihat-nasihat berkaitan dengan kehidupan praktis, terutama menyangkut hubungan antar-sesama manusia.

Apa isi dari Kitab Ayub? Saya biasa memakai tulisan dari Ayub pada saat Misa Arwah. Kalimat yang paling sering dikutip dari Kitab Ayub adalah: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21).

Kitab Ayub menceritakan kisah hidup Ayub yang begitu saleh. Hidupnya berkenan di hadapan Tuhan. Namun, dengan caranya sendiri, Tuhan mencobai Ayub. Tuhan mengambil segala sesuatu yang dimiliki oleh Ayub. Mengalami hal itu, Ayub tidak gusar, melainkan ia tetap tabah. Ia menerima semua pengalaman pahitnya itu dan tetap percaya kepada Tuhan. Akhirnya, Tuhan mengembalikan kepada Ayub segala sesuatu yang pernah diambil darinya. Pertanyaan pokok dari Kitab Ayub adalah: “Mengapa orang saleh dan tidak bersalah hidupnya penuh dengan penderitaan?”

Apa isi dari Kitab Amsal? Kitab Amsal memuat wejangan-wejangan, pepatah, dan ajaran dari orang bijak yang lebih berkaitan dengan budi pekerti dan tidak banyak berhubungan dengan Tuhan. Di dalam kitab ini disajikan sejumlah ajakan untuk hidup sesuai dengan nasihat-nasihat dari orang-orang bijak. Contoh-contohnya sudah saya sebutkan tadi.

Apa isi Kitab Pengkhotbah? Kitab Pengkhotbah mengungkapkan pandangan penulisnya bahwa hidup di dunia ini kurang bermakna; dan bahwa kebahagiaan duniawi itu bersifat sementara saja. Penulis kitab ini mengungkapkan adanya hidup abadi yang jauh lebih bermakna dari hidup di dunia ini.

Apa isi Kitab Kebijaksanaan Salomo? Kitab ini berbicara mengenai kejahatan, kegembiraan, penderitaan, dan kematian. Kitab ini juga menggambarkan keberadaaan Tuhan.

Apa isi Kitab Yesus Putra Sirakh? Penulis kitab ini memperkenalkan diri sebagai Yesus bin Sirakh bin Eleazar, dari Yerusalem. Ini bukan Tuhan Yesus Kristus, tapi Yesus yang lain. Nama sama, tapi orangnya berbeda. Kitab ini berisi permenungan dan pengajaran dari Yesus Putra Sirakh mengenai berbagai masalah kehidupan.

Jangan Kuatir! Tuhan Akan Menjadikan Segalanya Baik

0
Gambar ilustrasi oleh kellepics / Pixabay

Sepanjang satu minggu ini – mulai dari hari Senin yang lalu sampai hari ini – kita dihadapkan dengan bacaan pertama dari Kitab Kejadian bab 1-3, yang isinya bercerita tentang terbentuknya alam semesta dan segala isinya sampai pada kisah mengenai ‘Kejatuhan Manusia Pertama’, Adam dan Hawa. Dari seluruh isi cerita yang ada di dalam ketiga bab itu, saya tertarik untuk membahas soal kejatuhan manusia.

Manusia pertama jatuh ke dalam dosa, tapi tidak mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri. Mereka hanya bisa  melemparkan kesalahan pada pihak lain. Adam melemparkan kesalahan kepada Hawa. Hawa tidak mau mengaku salah. Dia juga melemparkan kesalahan kepada ular. Ular tidak bisa berbuat apa-apa. Ia diam seribu bahasa, dan hanya bisa menerima hukuman dari Tuhan.

Perilaku semacam ini diwariskan secara turun-temurun hingga saat ini. Manusia senang mencari kambing hitam. Ngeles. Sulit sekali mengaku salah. Jarang sekali ada orang yang dengan gampang mengatakan “Saya salah”. Biasanya kita terlebih dahulu menyalahkan keadaan, lingkungan, dan orang sekitar. Kita sulit mengaku salah.

Tuhan tahu siapa yang salah. Tuhan hanya meminta kejujuran dari manusia. Tapi, karena manusia itu tak kunjung jujur, maka Tuhan memberi hukuman kepada mereka masing-masing. Ular, hukumannya adalah berjalan dengan perut. Hawa, susah payah waktu mengandung. Adam, bekerja keras untuk mendapatkan sesuap nasi.

Dari situlah sejarah panjang mengenai penderitaan manusia dimulai. Manusia yang tadinya ongkang-ongkang tinggal di taman Eden dengan segala persediaan makanan yang selalu ada, akhirnya harus bekerja keras. Kalau tidak bekerja, mereka tidak dapat makan.

Tapi, syukurlah, dengan bacaan Injil, kita dapat tahu bahwa ternyata Tuhan mengasihi kita. Ia tidak membiarkan keadaan kita terus terpuruk. Bacaan pertama yang bercerita mengenai kejatuhan manusia, disandingkan dengan kehadiran Tuhan Yesus yang datang untuk menyembuhkan orang sakit, menghibur orang yang berduka, dan memberi makan orang yang lapar.

Injil menampilkan Tuhan Yesus sebagai pemulih keadaan manusia dari akibat dosa asal. Manusia yang tadinya harus mencari makan sendiri, ‘diberi makan’ oleh Tuhan. Nah, Injil ini mengajarkan kepada kita bahwa keadaan kita akan dipulihkan kalau kita dekat dengan Tuhan Yesus.

Karena itu, dalam kehidupan kita setiap hari, kita diajak supaya dekat dengan Tuhan Yesus. Apapun situasi yang kita hadapi, suka-duka, pahit-getirnya hidup kita, bawalah semuanya kepada Tuhan. Yakinlah, Ia akan menjadikan segalanya baik; asalkan kita percaya kepada-Nya.