8.5 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 68

Praktik Pengusiran Setan (Eksorsisme) dalam Gereja Katolik

2
scholty1970 / Pixabay

Dalam kehidupan kita setiap hari, tidak jarang kita jumpai orang-orang dengan gejala ‘seperti kerasukan setan’. Biasanya tandanya bermacam-macam: ada yang mulutnya berbusa, bicara tidak karuan, teriak-teriak sembarangan, mata memerah, dan sebagainya.

Namun, meski sudah ada tanda-tanda seperti itu, kita tidak bisa serta-merta mengatakan bahwa orang bersangkutan pasti kerasukan setan. Tetap harus dicari tahu terlebih dahulu penyebabnya; sebab boleh jadi karena faktor lain, misalnya faktor psikologis.

[postingan number=3 tag= “iman-katolik”]

Bioskop tanah air pernah menampilkan film pengusiran setan berjudul “Ruqyah: the Exorcism“. Film horor yang tayang di bioskop mulai 5 Oktober 2017 berhasil menarik perhatian banyak orang. Dari segi istilah, baik ruqyah maupun exorcism sebenarnya mengandung arti yang sama. Hanya saja, bedanya, istilah ruqyah banyak dipakai dalam Islam, sedangkan exorcism merupakan istilah pengusiran setan yang khas Katolik.

Ya, dalam Gereja Katolik, ritus pengusiran setan biasa dikenal dengan istilah exorcism atau eksorsisme. Eksorsisme termasuk dalam kategori sakramentali, yaitu tanda-tanda suci (signa sacra) yang diadakan oleh Gereja melalui mana dengan cara yang mirip sakramen memberikan efek, terutama spiritual, bagi yang menerimanya dengan perantaraan Gereja (bdk. KHK kan. 1166; Sacrosanctum Concilium, n. 60).

Praktek eksorsisme di dalam Gereja Katolik memiliki dasar iman dari kuasa yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya. Kita membaca atau mendengar dari isi Kitab Suci bahwa pada suatu waktu Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan (Mat. 10:1; Luk 9:1).

Injil Mrk. 1:21b-28 menyajikan kepada kita satu cerita mengenai bagaimana Yesus mengusir setan. Ia menghardik setan itu. Menghardik artinya membentak atau mengusir dengan keras. Setan itu pun tunduk kepada-Nya; sebab Ia berbicara dengan penuh kuasa.

Dalam eksorsisme sederhana atau kecil (juga disebut doa pembebasan), setiap imam, melalui sakramen imamat yang diterimanya, mempunyai kuasa untuk mengusir setan. Namun, menurut Kitab Hukum Kanonik, eksorsisme besar atau khidmat hanya bisa dilakukan oleh imam yang sudah mendapatkan izin khusus dari Uskup. Mereka yang menerima pelayanan ini harus mengikuti kursus mengenai eksorsisme di Tahta Suci.

Saya pernah menjalani kerasulan akhir pekan di salah satu paroki di Manila, yang mana pastor parokinya adalah seorang eksorsis. Saya memperhatikan bahwa hampir setiap minggu selalu saja ada pasien yang datang ke parokinya. Rata-rata yang datang adalah anak remaja putri. Setelah didalami, ternyata tidak semuanya karena pengaruh roh jahat. Banyak juga di antara mereka yang bertingkah seperti orang kerasukan, tetapi sebenarnya bukan karena kerasukan setan. Sebagai contoh, karena sakit hati diputus pacar.

Makanya, Gereja sangat berhati-hati dalam memberikan kuasa untuk pengusiran setan. Dalam terang Kitab Hukum Kanonik (kan. 1172), ditegaskan bahwa tak seorangpun dapat dengan licit melakukan eksorsisme kepada mereka yang kerasukan (obsesses), kecuali ia telah memperoleh izin khusus dan resmi dari Ordinaris Lokal; dan bahwa izinan tersebut harus diberikan hanya kepada para imam yang menunjukkan kesalehan, pengetahuan, kebijaksanaan dan integritas hidup yang luar biasa. Para Uskup sangat didorong untuk menaati pelaksanaan ketentuan-ketentuan ini.

Dengan demikian, umat beriman Kristiani tidak boleh menggunakan rumusan eksorsisme melawan setan dan para malaikat yang jatuh dalam dosa (fallen angels) yang disebutkan dalam rumusan tersebut yang disusun secara resmi atas perintah Paus Leo XIII, dan sama sekali tidak diperbolehkan menggunakan keseluruhan teks eksorsisme itu. Para Uskup diminta untuk mengingatkan umat beriman tentang hal ini.

Meski demikian, penegasan di atas jangan sampai menghentikan umat beriman Kristiani untuk berdoa, sebagaimana diajarkan Yesus, agar mereka dibebaskan dari yang jahat (bdk. Mat 6:13). Justru sebaliknya, umat beriman haruslah terus berdoa dan mengandalkan Yesus di dalam hidup mereka. Jika hal itu bisa dilakukan, maka yakinlah, setan-setan termasuk juga segala pengaruhnya pasti menjauh. ***

Sejarah Gereja Katolik Timur Bag. IV, Katolik Syria (Tradisi Antiokhia)

0

Katolik Syria

Kepatriarkhan Anthiokhia adalah Gereja yang berdasarkan tradisi dan didirikan oleh Santo Petrus dan Paulus sebagaimana tertulis dalam Kisah Para Rasul XI. Didalam pasal tersebut juga tertulis bahwa “Di Antiokhialah murid-murid itu disebut Kristen”. Santo Evodius adalah Uskup Antiokhia yang memegang suksesi Apostolik sampai tahun 66 Masehi, kemudian dilanjutkan oleh Santo Ignatius dari Antiokhia.

Kepatriarkhan Antiokhia yang berlandaskan tradisi Santo Petrus dan Paulus dimiliki oleh sejumlah Gereja Katolik Timur: diantaranya, Patriarkhat Melkit, Patriarkhat Maronit dan Patriarkhat Syria.
Pada Abad ke-5 Gereja Syria kemudian berpisah dari Gereja Kalsedonian (Gereja Katolik Roma dan Gereja Orthodox Timur) mengikuti jejak Gereja Koptik dan membentuk Gereja Orthodox Oriental yang menolak Konsili Kalsedon. (Lihat catatan sebelumnya : “ SEJARAH GEREJA KATOLIK TIMUR Bag.III Katolik Koptik “).

Sementara itu, di lain tempat, Kepatriarkhat Melkit dan Maronit justru menerima Konsili Kalsedon, dengan Kepatriarkhat Melkit termasuk dalam Orthodox Timur, sementara Katolik Maronit tidak pernah memutuskan hubungan dengan Takhta Suci Roma.

Setelah perpisahan ini, Gereja Syria melanjutkan untuk mengakui Patriarkh Severus dari Antiokhia sebagai pemimpin takhta Apostolik yang sah.

Usaha-Usaha Persatuan Dengan Paus Roma

Selama masa Perang Salib, terdapat banyak peristiwa antara Katolik dan Uskup-uskup Orthodox Syria yang mencoba menjalin hubungan. Setelah itu, pada abad ke-15 pula lahir suatu dekrit persatuan antara Orthodox Syria dengan Gereja Katolik di Konsili Florens. Tetapi, kedua peristiwa tersebut tidak membuahkan hasil apapun.

Satu abad setelah itu, muncul misi dari para Yesuit dan Kapusin di Aleppo, dan kali ini banyak dari orang Syria yang masuk kedalam komuni dengan Roma.

Ketika Kepatriarkhan Orthodox Syria sedang kosong, hal ini membuka kesempatan bagi pihak partai Katolik untuk mengangkat Patriarkh baru. Hal ini memicu perpecahan. Namun, setelah beberapa suksesi Kepatriarkhan Katolik Syria berlangsung, dan kemudian Patriarkh yang terakhir mangkat pada tahun 1702, Kepatriarkhan Katolik Syria musnah.

Pemerintahan Utsman mendukung Orthodox Oriental memojokkan Katolik. Sepanjang abad ke-delapan belas, Umat Katolik Syria mengalami rupa-rupa penganiayaan dan penindasan. Ada masa dimana kursi Uskup kosong untuk waktu yang lama, dan persekutuan Katolik Syria terpaksa menjadi gereja bawah-tanah.

Patriarkh Orthodox Mengaku Katolik

Meskipun Kepatriarkhan yang diusahakan oleh partai Katolik gagal, ternyata Roh Kudus menghendaki hal yang lain. Usaha-usaha manusia dan jalan-jalannya yang dipandang baik tidak dapat menyamai rancangan Allah yang Mahabaik dan sempurna.

Pada tahun 1782, Sinode Kudus Orthodox Syria menunjuk Metropolitan (Uskup Agung) Jarweh dari Aleppo sebagai Patriarkh terpilih. Tidak lama setelah menduduki takhta, dia sekonyong-konyong mendeklarasikan diri sebagai Katolik. Akibatnya, dia harus mencari perlindungan di Libanon dan membangun Biara Santa Perawan dari Sharfeh yang tetap berdiri.
Setelah Patriarkh Jarweh, berlanjutlah suksesi yang tidak terputus-putusnya dari Kepatriarkhan Katolik Syria sampai sekarang ini.

Pada tahun 1829, pemerintah Turki menganugerahkan pengakuan resmi kepada Gereja Katolik Syria dan Takhta Kepatriarkhan ditetapkan di Aleppo pada tahun 1831. Aktivitas misi Katolik kembali dilangsungkan. Oleh sebab komunitas Kristen di Aleppo jatuh kedalam penganiayaan, Kepatriarkhan dipindahkan ke Mardin (Turki Selatan) pada tahun 1850.
Perluasan penyebaran Katolik Syria diantara Orthodox Syria kemudian dihentikan pada saat Perang Dunia I. Pada awal 1920, Takhta Suci Kepatriarkhan Katolik Syria berpindah ke Beirut, dimana banyak Umat Katolik Syria lari.

Pada Masa Kini

Meskipun Para Imam Katolik Syria dibebankan untuk selibat sesuai dengan yang terjadi dalam Sinode Sharfeh tahun 1888, pada saat ini banyak Imam yang ditahbiskan sudah menikah.

Bahasa utama saat ini adalah bahasa Arab, meskipun bahasa Syria masih tetap dituturkan di beberapa dusun di Syria Timur dan Irak Utara.

Liturgi Syria mengutamakan bahasa Syria (juga disebut bahasa Aram) dan menggunakan rumusan Liturgi Santo Yakobus, Rasul dan berpusat pada bagian Anafora Keduabelas Rasul.
Ikonografi dalam Katolik Syria memiliki akar yang sama dengan Gereja-gereja lain, yaitu berasal dari Ikon yang tak dibuat oleh tangan dari Edessa dan Ikon Theotokos yang dibuat oleh Santo Lukas, Penginjil. Ikonografi Syria mengalami penyederhanaan yang prosesnya hampir sama dengan yang terjadi dalam Gereja Koptik.

Sumber: “Lembaga Penelitian Santo Dimitry – Rumah Byzantin”

Bintang Misioner dari Paroki St. Theresia Pelaihari

0

Hari ini, Minggu, 13 Januari 2019, anak-anak dan remaja dari Paroki St. Theresia Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, mengadakan Perayaan Hari Anak Misioner bertempat di Stasi Ambawang. Stasi ini merupakan bagian dari wilayah paroki St. Theresia Pelaihari.

Sejatinya, acara ini dilaksanakan pada Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani), satu minggu yang lalu. Namun karena satu dan lain hal, maka kegiatan ini terpaksa diundur ke hari ini. Puluhan anak dan remaja ikut dalam kegiatan ini, termasuk di antaranya hadir juga para orang tua, pendamping, dan umat stasi setempat.

Adapun rangkaian acara diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RP. Jufri Kano, CICM; setelahnya makan siang bersama dan dilanjutkan dengan aneka perlombaann. Para peserta anak dan remaja sangat antusias mengikuti acara ini. Meski cuaca panas menyerang, mereka tidak patah semangat.

Sesuai dengan tema Hari Anak Misioner Sedunia tahun ini “Bintang Misioner Pancarkan Sinarmu!’, anak-anak dan remaja misioner ini diharapkan mampu menjadi bintang bagi siapapun yang ada di sekitar mereka.

Menjadi bintang berarti siap menjadi penerang dan penunjuk arah bagi orang lain. Tentu ada banyak caranya, beberapa di antaranya, misalnya, dengan menjadi anak yang patuh dan berbakti terhadap orang tua, anak yang sopan, rajin, dan tekun belajar.

Serangkaian acara ini ditutup dengan pembagian hadiah dan bingkisan. Meski tidak seberapa nilainya, anak-anak dan remaja misioner ini sangat bersukacita menerimanya. Semoga Tuhan memberkati mereka semua. Amin.

Sejarah Gereja Katolik Timur Bag. III, Katolik Koptik (Tradisi Alexandria)

0

TANAH MESIR

Tradisi mempercayai bahwa Gereja Mesir didirikan oleh Santo Markus, penginjil, sekitar tahun 42 Masehi. Gereja Mesir sendiri mempercayai bahwa kehadirannya adalah penggenapan banyak nubuatan dari dalam Perjanjian Lama. “Pada hari itu akan ada altar untuk TUHAN ditengah-tengah tanah Mesir, dan sebuah pilar untuk TUHAN sebagai perbatasannya” Yesaya XXIX:19.

Orang Kristen pertama di Mesir adalah orang-orang biasa yang menuturkan bahasa Mesir Koptik. Ada juga orang Yahudi Alexandria seperti Teofilus, iaitulah yang dialamatkan oleh Santo Lukas ketika menulis Injilnya.

Ketika Santo Markus mengabarkan Injil, saat itu adalah saat dimana Kaisar Nero berkuasa, dan banyak dari pribumi Mesir memeluk Iman Kristen. Bukti-bukti pekabaran Injil ditanah Mesir dapat ditemukan melalui tulisan-tulisan Perjanjian Baru dan bahkan Injil menurut Santo Yohanes yang tertulis dalam bahasa setempat dan dapat dilacak kembali kepada permulaan abad ke-dua.

KONSILI-KONSILI EKUMENIS

Pada abad ke-empat seorang Pastor Alexandria bernama Arius memulai pengajaran yang menaruh syak mengenai tabiat Kristus yang menyebar ke dunia Kristiani, sehingga pengajarannya disebut “Arianisme”.

Patriarkh Koptik Alexander I dari Alexandria meminta untuk diadakannya konsili sebagai tanggapan akan ajaran sesat ini.

Konsili adalah Sidang Para Uskup dari seluruh dunia untuk memutuskan ajaran yang benar, dan mengutuk ajaran yang salah.

Patriarkh Alexander ini dipanggil dengan sebutan ‘Paus’ oleh Gereja Koptik, dan oleh Gereja Katolik Roma dia disebutkan sebagai: “seorang yang disanjung tinggi oleh umat dan klerus, hebat, liberal, fasih, adil, serta mengasihi Allah dan manusia, berbakti kepada orang-orang miskin, baik dan manis kepada semua orang, dan tidak pernah putus puasanya selama mentari masih di cakrawala”.

Oleh sebab itu, diadakannya Konsili Nicea dibawah kepemimpinan Kaisar Konstantin sebagai pemandu Konsili untuk meluruskan ajaran dari Arius yang sesat. Di Konsili ini, Santo Nikolaus turun dari kursinya dan menampar wajah Arius oleh sebab pengajarannya itu. Seluruh konsili setuju dengan sikap Santo Nikolaus itu pada akhirnya. Konsili Nicea ini menghasilkan Rumusan “Pengakuan Iman Niceanum” yang umumnya dikenal oleh orang Katolik Latin di Indonesia sebagai “Kredo Panjang”.

Kemudian lagi, di Konstantinopel diadakan sebuah Konsili Ekumenis atas desakan Patriarkh Koptik Timotius I dari Alexandria. Pokok permasalahannya adalah untuk meluruskan ajaran sesat baru yang disebabkan oleh Makedonius yang menyangsikan Keilahian Roh Kudus. Konsili Konstantinopel ini melengkapi Kredo Niceanum dengan mengonfirmasi Keilahian Roh Kudus dengan paragraf:

“Kami percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan, yang berasal dari Sang Bapa, yang serta Bapa melalui Sang Putra disembah dan dimuliakan yang bersabda melalui Para Nabi dan didalam Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Kami mengakui satu baptisan untuk pengampunan dosa-dosa dan menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di zaman yang akan datang. Amin”

Kemudian lagi, datang ajaran sesat yang lain pada abad ke-lima oleh Nestorius, Patriarkh Konstantinopel yang mengira bahwa Allah Sang Sabda tidak bersatu dengan tabiat ke-insanian secara hipostasis melainkan hanya tinggal didalam manusia Yesus. Oleh Sirilus I dari Alexandria, yang juga adalah Patriarkh dari Takhta Rasuli Santo Markus, melahirkan Konsili Efesus.

AJARAN SESAT YANG MELAHIRKAN KESESATAN-KESESATAN LEBIH LANJUT.

Oleh sebab pengaruh ajaran Nestorian yang begitu kuat di dunia Kekristenan, Patriarkh Koptik Sirilus I dari Alexandria menentang keras ajaran itu dengan mengajarkan bahwa “hanya ada satu fusis, sebab itulah inkarnasi dari Allah Sang Firman” Ajaran ini dikenal sebagai “Miafisis” yang di-imani oleh Umat Koptik.

Kemudian, seorang biarawan Konstantinopel, Eutikus namanya, mengajarkan suatu ajaran yang lebih halus untuk menghentikan sisa-sisa pengaruh Nestorianisme dan mengaku diri setia kepada ajaran Patriarkh Sirilus yang ortodoks. Akan tetapi, ajarannya ini malah menimbulkan ajaran sesat baru yang dikenal sebagai “Monofisit”.

Kaisar Konstantinopel, Theodosius II menyelenggarakan Konsili II di Efesus dengan Patriarkh Koptik Dioskorus dari Alexandria sebagai pemandu Konsili. Konsili ini memenangkan Eutikus sebab Kaisar menutup pintu bagi mereka yang tidak setuju dengan ajaran Eutikus. Para utusan Paus Roma pun tidak diperbolehkan membaca pernyataan yang ditulis oleh Sri Paus.

Oleh sebab merasa telah dicurangi, Kepausan memberikan tuntutan penyelenggaraan konsili baru. Namun Kaisar Theodosius II menolak untuk takluk kepada kuasa Kepausan. Tetapi kemudian Kaisar Theodosius II wafat dan digantikan oleh Kaisar Markianus yang justru berpihak kepada Paus Roma. Konsili diadakan dan segenap Uskup dari seluruh dunia diundang ke Nicea, tetapi kemudian dipindahkan ke Kalsedon, dengan Paus Leo I, Uskup Roma sebagai pemimpin yang memandu Konsili.

Konsili akhirnya menghasilkan suatu paham “Diofisitisme” sebagaimana tertulis dalam surat pernyataan yang ditulis oleh Sri Paus sebelumnya. Konsili memandang bahwa Santo Petrus sendiri yang berbicara melalui Sri Paus Leo I, sepakat bahwa inilah Iman para Rasul, dan menyatakan bahwa yang diajarkan oleh Paus Leo I, Uskup Roma, dan Patriarkh Koptik Sirilus I adalah sama dan benar.

Akan tetapi, dari pihak Gereja Koptik sendiri, yaitu Patriarkh Dioskoros dari Alexandria bersama dengan ke-tigabelas Uskup Mesir lainnya menolak hasil Konsili Kalsedon dan lambat laun memisahkan diri dari mereka yang menerima hasil Konsili Kalsedon, yaitu Gereja Katolik Roma dan Gereja Orthodox Timur.

Baik mereka yang menerima Konsili Kalsedon maupun yang menolak, sama-sama merupakan tanggapan atas ajaran sesat Nestorius. Namun, reaksi negatif yang sama terhadap Nestorianisme justru menimbulkan perpecahan diantara kedua kubu. (Meskipun Orthodox Oriental menuduh Gereja Kalsedonian membangkitkan paham Nestorianisme, dan sebaliknya Gereja Kalsedonian menuduh Gereja Orthodox Oriental menganut paham Monofisit)

PERSATUAN DENGAN PAUS ROMA

Akan tetapi, kemudian hari beberapa Uskup dari Orthodox Oriental menyatakan bahwa perbedaan paham “Miafisit” yang dipegang oleh mereka dan “Diofisit” yang dipegang oleh Gereja Kalsedonian (Katolik Roma dan Orthodox Timur) hanyalah suatu kesalah-pahaman.

Hal ini membuka kedua belah pihak untuk dialog. Ada yang kembali kepada Gereja Katolik, ada juga yang kembali kepada Gereja Orthodox Timur.

Persatuan resmi antara Gereja Katolik dan Gereja Orthodox Koptik adalah sewaktu penanda-tanganan dokumen “Cantate Domino” oleh delegasi Koptik di Konsili Florens pada 4 Februari 1442.

Misi Katolik diantara umat Koptik dimulai pada abad ke-17. Berbagai misi dari Kapusin dan Yesuit di Mesir akan tetapi karena pembaruan Teologi yang tidak membuahkan hasil ditambah lagi aksi ini tidak didukung di Mesir, maka tidak ada hasil yang konkret.

Pada 1741, seorang Uskup Koptik di Yerusalem; Anba Athanasius, menjadi Katolik. Paus Benediktus XIV mengangkat dia sebagai Vikaris Apostolik dari komunitas kecil Gereja Katolik Mesir yang berjumlah kurang dari 2,000 jiwa. Meskipun pada akhirnya, Anba Athanasius kembali kepada Gereja Orthodox, garis Vikaris Apostolik Katolik masih berlanjut.

Pada 1824, Takhta Suci mengangkat Patriarkh dari Gereja Katolik Koptik, tetapi sejauh ini hanya diakui sebagai ‘hitam diatas putih’. Pemerintahan Ottoman baru mengizinkan Katolik Koptik untuk memulai pembangunan Gereja mereka sendiri pada 1829.

Pada 1895, Paus Leo XIII menyeimbangkan kembali ke-Patriarkhan, kemudian menunjuk Uskup Sirilus Makarios sebagai Patriarkh Sirilus II dari “Alexandria dari Koptik”. Patriarkh Sirilus II mengepalai sinode Katolik Koptik pada tahun 1898 yang memperkenalkan sejumlah praktik Latin. Kemudian dipaksa untuk mengundurkan diri oleh Takhta Suci pada tahun 1908 karena telah membawa kontroversi. Kursi tetap kosong sampai tahun 1947 ketika Patriarkh baru terpilih.
Takhta Kepatriarkhan Alexandria dari Koptik berpusat di Kairo.

TRADISI LITURGI

Katolik Koptik menggunakan tiga rumusan Liturgi. Pertama, Liturgi Santo Basil iaitu Liturgi yang digunakan sepanjang tahun, Liturgi Santo Gregori yang digunakan pada Hari Natal, Theofani, dan Paska, dan Liturgi Santo Sirilus (atau Santo Markus). Katolik Koptik mengakui 7 sakramen sama seperti Gereja Katolik Timur lainnya, dan menekankan puasa dalam spiritualisme mereka.

Sejak Santo Lukas yang adalah Pelukis Ikon (Ikonograf) pertama yang melukiskan Ikon Theotokos dan Yesus Kristus, Ikon Koptik berkembang bertolak dari seni Helenistik Mesir kuno dalam seni melukis Potret Mumi Fayum. Kemudian hari, seni Ikonografi Koptik mengalami rupa-rupa penyederhanaan sehingga membuat Ikonografi Koptik menjadi agak beda dengan Ikonografi Byzantin.

Katolik Koptik menggunakan Ritus Alexandria.

Sumber: “Lembaga Penelitian Santo Dimitry – Rumah Byzantin”

Sejarah Gereja Katolik Timur 2, Bag.II Katolik Melkit (Tradisi Byzantin)

0

Ada dalam persekutuan penuh dengan Paus/uskup Roma

Katolik Melkit, atau Gereja Katolik Yunani-Melkit, adalah 1 Gereja Katolik otonom (sui iuris) yang menggunakan ritus Byzantin dan berpusat di Damaskus, Suriah, serta dipimpin oleh seorang Patriarkh. Gereja ini berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Roma di dalam 1 Gereja Katolik yang satu, kudus, katolik, apostolik. Katolik Melkit pada awal mulanya berasal dari suksesi apostolik rasul Petrus di Antiokia, sebab sebelum wafat di Roma, Petrus mendirikan jemaat di Antiokhia.

Perpecahan pertama dan yang kemudian

Pada Konsili Ekumenis ke-4 di Kalsedon, Gereja di Antiokia terbagi menjadi 2: Kubu yang satu adalah “Monofisit” dan dipandang sebagai bidat oleh Gereja pad saat itu. Sementara golongan yang lain adalah yang mengikuti Kaisar Byzantium. Kubu kedua ini disebut Melkit ( = Pengikut Raja), dan tetap bersekutu penuh dengan Paus Roma dan Patriarkh Kontantinopel. Pada Skisma besar, disaat Gereja Roma berpisah dengan Gereja Konstantinopel pada tahun 1054, Gereja Melkit perlahan-lahan mengikuti jejak Konstantinopel.

Pada abad ke-18, seorang Arab yang pro-Barat, Cyril VI Tanas, terpilih sebagai Patriarkh Melkit secara sah. Konstantinopel tidak setuju akan hal ini. Maka, Konstantinopel mengirim seorang dari Yunani untuk menjadi Patriarkh pengganti. Sejak saat itu, Kepatriarkhan Melkit terpecah menjadi dua. Tidak lama kemudian, Paus Benediktus XIII mengakui legitimasi Cyril Tanas sebagai Patriarkh Melkit, dan sejak saat ini, Gereja Melkit berada dalam satu komuni dengan Gereja Katolik Roma. Mereka yang berada dalam satu komuni dengan Takhta Suci St Petrus disebut “Gereja Katolik Yunani-Melkit”, sementara yang menolaknya disebut “Gereja Ortodoks Antiokhia”.

Kekhasan 
Sepanjang sejarahnya, Gereja Katolik Melkit mempunyai peran yg unik di dalam relasi antar Gereja, oleh sebab sejarahnya, dan hubungannya dengan agama-agama yang lain karena hidup dan berkembang di Timur Tengah berdampingan dengan umat Muslim sejak lama dan menggunakan bahasa Arab. Mereka yang baru pertama kali masuk kedalam Ibadah di Gereja Katolik Melkit akan kaget mendengarkan Liturgi dengan doa-doa bernuansa Arabnya.

Beberapa Identitas unik dari Gereja Katolik Yunani-Melkit adalah:

1.Melkit: pengikut Kaisar Byzantium.

2.Yunani: memakai ritus Byzantin.

3.Katolik: adalah Gereja Katolik Timur yg otonom (sui iuris).

4.Arab: memakai bahasa Arab dan nuanasa Arab

Catatan: Artikel ini disusun dan dibuat se-sederhana mungkin oleh Persekutuan Katolik Timur di Indonesia, agar dapat dimengerti oleh Umat Awam. Sejarah yang sebenarnya jauh lebih kompleks dan panjang.

Sumber: “Lembaga Penelitian Santo Dimitry – Rumah Byzantin”

Kang Je Main Basket

0
Gambar ilustrasi oleh Free-Photos / Pixabay

Tak tahan aku menahan geli begitu melintas lapangan basket hari ini.
Sekelompok anak SD sedang belajar olah raga basket. Mereka diperkenankan bermain-main bersama temannya sembari mencoba mempraktikkan apa yang mungkin sebelumnya sudah diajarkan.
Beberapa diantara mereka nampak yang antusias memainkan bola basket itu sembari meloncat-loncat selaksa pemain basket beneran. Apalagi anak-anak cowok. Mereka paling bersemangat. Tidak peduli tubuhnya kecil atau besar, bolanya lepas berulangkali sebelum masuk ring dan lain-lain. Mereka memang terlihat menikmati.
Tapi, yang bikin aku tertawa geli tadi, bukan pemandangan barusan.
Tepat saat aku jalan tiga anak SD yang tubuhnya mungil, juga membawa bola basket mereka ke dekat ring. Dari cara membawanya yang tidak dengan mendribel selayaknya olah raga basket alias digiring bahkan dikejar seperti sepak bola. Apalagi ketika tepat ada di bawah ring.
Salah satu dari mereka melirik ke teman sebelah kanannya, lalu terdengar dia menawarkan bolanya, “Mau?”
Yang ditawari mengangguk lalu menerima bola basket itu.
Sampai situ aku tersenyum lebar. Main basketnya baik hati sekali, menawarkan ke musuhnya tanpa si musuh harus susah payah mendribel bola hingga sampai dekat ring.
Dan, saat si anak perempuan itu hendak memasukkan bolanya ke atas ring, dia melempar ke atas begitu saja. Tanpa ada selayaknya teori yang memang ada.
Pastinya bola nggak bisa masuk ring.
Boro-boro masuk, tangan kecilnya itu sudah dikerahkan keduanya, tetap saja tidak bisa menjadikan bola itu sedikit mengarah ke atas, dekat ring. Bola itu malah mendadak menggelinding ke hadapannya. Sepertinya karena ia tidak begitu kuat menggenggam.
“Harusnya, mereka dikasihnya bukan bola basket untuk orang dewasa. Belum cukup kuat tangannya,” komentar Seseorang di sebelah.
Senyumku berkembang. Sudah tahu siapa.
“Lihat saja nih si Akang,” jawabku sembari menoleh.
“Iya dong… Tingkah laku anak-anak kecil itu kan selalu menjadi perhatianKu,” jawab si Akang sembari memberi kode untuk ikut diriNya masuk ke lapangan yang pintunya terbuka. Kami pun duduk di pinggiran lapangan.
“Jadi, menurut Kang Je, basket itu sebaiknya diperkenalkan pada usia berapa?” tanyaku penasaran.
“Usia berapa saja. Di usia mereka juga bagus,” Kang Je melambaikan tangaNya begitu melihat si anak yang tadi tidak berhasil memasukkan bola ke ring, menoleh padaNya. Dari raut wajahNya seperti hendak memberi semangat supaya anak itu berusaha lagi.
“Tapi, ya itu tadi, bolanya kali yang harus disesuaikan. Mereka tangan mungil mereka nggak terlalu berat mengangkat dan memainkan bola itu…”
Kali ini, si anak itu sedikit berhasil membuat bola itu terlempar ke atas. Tidak jatuh ke hadapannya seperti tadi. Nampaknya ia sudah tahu celah memegang bola yang tepat dan benar.
“Selain bola, Ku rasa mereka juga harus dibekali banyak teori seperti bisa mengerti harus bagaimana ketika memegang bola. Seperti yang dilakukan anak itu barusan.” Kang Je menunjuk anak yang masih gembira melihat usahanya berhasil.
Benar juga ya…
Anak ini bisa setengah berhasil karena sudah mengerti harus bagaimana dengan bola.
“Begitu juga hidupmu di dunia, anakKu…” Tangan Kang Je ia kibas-kibas seperti menghalau debu. “Bagaimana kamu bisa menggenggam dunia ini jika teori tidak benar kamu dapat atau praktik pun jarang kamu lakukan?”
Kang Je berdiri.
Ia mengambil bola basket yang menggelinding ke arahNya. Lalu dengan kedua tanganNya, Ia lempar ke salah satu anak dari tigak anak di depan kami ini.
“Setelah teori kamu dapat, praktik sudah sering kamu jalankan, apalagi yang penting juga kamu lakukan?” Kang Je mendadak bertanya serius padaku.
Aku rada grogi jawabnya.
Tepatnya bingung….
“Mmmm… Apa ya, Kang?” Aku menggaruk-garukkan kepala yang tidak gatal. “Menjaganya?”
Kang Je menoleh ke arahku. “Iya, betul… Tapi, selain itu?”
Kepalaku seperti diajak berputar cepat seperti bola yang pernah dimainkan seorang temanku yang sering memainkan bola basket di atas jarinya. Cepat sekali berputarnya.
Tapi, ternyata kemampuan kepala ini tak secepat bola berputar. Susah sekali mendapat jawaban dari pertanyaan Kang Je kali ini.
“Nyerah, Kang…” Ujarku beneran menyerah.
Kang Je tersenyum. PandanganNya lurus ke depan. “ Kuasailah dirimu dan jadilah tenang. (1 Petrus 4: 7) Itu berarti ketika kamu bisa menguasai dirimu sendiri dari segenap hal terutama yang buruk, kamu bisa tenang dan melakukan banyak hal karena dari situlah kemampuan terdalammu bisa berasal. Termasuk mungkin menguasai dunia.” Kang Je menyapu pandangan lapangan seperti hendak meyakinkan kondisi sekitar baik-baik saja. “Tetapi yang terutama, kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa (1 Petrus 4:9).”
Awan di atas kami biru menghampar luas.
Setelah kemarin diguyur hujan seharian, hari ini nampak terang benderang menemani semesta.
Entah ya kalau nanti malam menjelang.
Yang jelas, dari pagi hingga sekarang, matahari masih enggan berlalu. Redup sekali dua sekadar lewat. Semoga saja hari ini bisa lebih lama terangnya.
Bener juga yang dibilang Kang Je barusan….
Gimana kita bisa mengubah dunia jika dari kita sendiri belum bisa dikuasai bahkan belum mendapatkan ketenangan? Nggak peduli berapa banyak teori didapat atau praktik dari teori itu, jika bukan berasal dari hati yang damai, jangankan dunia, orang paling dekat sekali pun akan sulit kita kuasai.
Semua memang berawal dari diri sendiri dulu.
“Yuk, nyoba maen basket. Masa kalah sama mereka?” ajak Kang Je tiba-tiba. Ia sudah ada di dekat anak-anak itu yang langsung bersorak senang, ada Seorang dewasa bersama mereka bermain sesaat jam pelajaran olah raga ini selesai.
Dengan kepedeanNya, Kang Je mencoba menembak dari paint area. Kang Je lalu menembak sampai 3 point didapat. Tentu saja tepuk tangan kembali bergemuruh.
Jagoan juga si Akang ya….
Yang bikin kejutan, Kang Je menggendong anak yang sejak tadi tidak bisa memasukkan bola ke ring. Ia mengangkat anak itu di atas pundakNya lalu memberi semangat ke anak perempuan bertubuh mungil itu agar memasukkan bola ke dalam ring basket.
Segera anak itu melakukannya dengan penuh sukacita.
Teman-temannya pun menyemangati dan turut senang. Satu-satu dari mereka diberi kesempatan Kang Je untuk juga memasukkan bola dengan cara menggendong di atas pundakNya.
Hm.
Lihat digendong gitu, jadi pengen juga sih….
Tapi… Kebayang, Kang Je gendong aku?
Emang kuat? Wuih….
“Kamu juga mau? Sini….” Mendadak suara nyaring Kang Je terdengar. TanganNya memberi tanda agar aku mendekat.
Tentu saja aku cuma tersenyum.
Biarin deh, adik-adik itu saja yang mendapat kegembiraan hari ini bersama Kang Je.
Aku pun selalu gembira dan bersukacita bila ada di dekatNya.

Katolik Menjawab: Yesus Kristus adalah Sungguh Allah dan Sungguh Manusia

0
DarkWorkX / Pixabay

Belakangan ini, banyak tulisan bertebaran di media sosial yang mengulang argumen dai kondang asal India, Zakir Naik, yang mempersoalkan ke-Allah-an Yesus. Pernyataan ZN kurang lebih begini: “Tunjukkan kepadaku di mana dalam Bible Yesus mengatakan ‘Akulah Allah dan Sembahlah Aku’?”

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Seperti diketahui bahwa memang tidak ada dalam Kitab Suci perkataan Yesus yang mengatakan ‘Aku Allah, Sembahlah Aku.’ Seperti halnya juga tidak ada dalam Kitab Suci perkataan Yesus yang berbunyi ‘Aku Bukan Allah, Jangan Sembah Aku.’

Bahwasanya Kitab Suci tidak mencatat secara langsung perkataan Yesus yang mengatakan ‘Akulah Allah dan Sembahlah Aku.’ Itu betul. Namun, hal tersebut tidak bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa Yesus adalah Allah atau bukan Allah. Apalagi, dalam berbagai ayat Kitab Suci, Yesus tidak pernah melarang siapapun untuk menyembah-Nya.

  • Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya.Maka kata Yesus kepada mereka: “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku” (Mat. 28:9-10).
  • Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:9-10, 17-20).

Sebelum naik ke surga, Yesus pernah berkata “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19). Kata ‘nama’ (ὄνομα) di sini berasal dari bahasa Yunani ONOMA’ yang merupakan jenis tunggal.

Meskipun pada ayat itu kita melihat ada tiga nama, yakni Bapa, Putra dan Roh Kudus, namun kata ‘ONOMA’ menggunakan bentuk tunggal. Bahkan, dalam bahasa Inggris kata ONOMA’ diterjemahkan menjadi ‘name (tunggal) dan bukan ‘names‘ (jamak). Juga, dalam terjemahan bahasa Indonesia digunakan kata ‘nama‘ bukan ‘nama-nama’. Dengan demikian, ayat itu menunjukkan bahwa Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah satu hakekat.

Yesus juga mengajarkan bahwa Ia dapat membangkitkan orang mati dan menghidupkan siapa saja yang Ia kehendaki, sama seperti Bapa. “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya” (Yoh. 5:21).

Yesus menempatkan diri-Nya sebagai pemilik kehidupan manusia. Ia memiliki kuasa eksklusif atas kehidupan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah. Kuasa serupa tidak diberikan kepada para nabi. Hanya Yesus yang mempunyai kuasa untuk menghidupkan orang mati karena Dia adalah Allah.

Yesus juga mengajarkan agar semua orang menghormati diri-Nya sama seperti mereka menghormati Allah. Ia berkata: “Supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia” (Yoh. 5:23).

Ayat di atas menunjukkan bahwa Yesus menyetarakan diri-Nya dengan Allah. Tidak ada satu pun di antara para nabi yang meminta agar dihormati seperti layaknya orang-orang menghormati Allah. Hanya Yesus satu-satunya yang dihormati sama dengan menghormati Allah. Mengapa? Jawabannya: tidak lain kecuali karena Yesus adalah Allah.

Tindakan Yesus yang lebih spektakuler lagi adalah mengubah hukum-hukum Allah yang sudah dalam Perjanjian Lama, dan menggarisbawahi dua hukum utama dan terutama, yaitu ‘mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama’ (lih. Mat. 5:21-48). Dapatkah seorang manusia mengubah hukum-hukum Allah? Hanya Allah sendirilah yang bisa mengubah hukum-hukum-Nya. Tidak ada satu pun di antara para nabi yang diberi kuasa oleh Allah untuk melakukan itu. Yesus bisa mengubah hukum-hukum itu karena Dia sendiri adalah Allah.

Dengan ini, kiranya jelas bahwa Yesus mengutip ulang ayat-ayat Perjanjian Lama dan mengubah hukum-hukum itu menjadi hukum ‘baru.’ Hanya Allah satu-satunya yang dapat mengubah hukum-hukum dan ketetapan. Tidak ada para nabi yang mampu mempunyai kuasa untuk mengubah hal itu. Maka Yesus satu-satunya yang dapat mengubah hukum-hukum karena ia adalah Allah.

Menjawab Kesalahpahaman Terhadap Purgatorium

0
RobertCheaib / Pixabay

Saya dapati kesalahan di situs ini http://monachoscorner.weebly.com/orthodoxae-visum-in-purgatorius-ignis.html yang ingin menggiring opini public untuk menyalahkan Gereja Katolik. Doktrin Purgatorium dikembangkan oleh Thomas Aquinas (oleh Gereja Katolik Roma disebut sebagai The Angelic Doctor) dalam Thomistic Theology.

I answer that, In Purgatory there will be a twofold pain; one will be the

Dalam buku Summa Theologiae Appendix I, Art 1, memang benar bahwa St. Thomas Aquino berargumen bahwa Purgatorium itu merupakan suatu proses jiwa mengalami pemurnian dengan dibakar oleh api yang daya panasnya hampir sama dengan neraka karena menurut St. Thomas, tempat atau letak Purgatorium berada di pinggiran neraka (bukan di neraka). Tempatnya di pinggiran neraka untuk membedakan dari tempat di mana mereka yang berdosa berat disiksa untuk selamanya yaitu neraka .

Ada kesalahan fatal terjadi pada admin di link situs Russian Orthodox Church Outside Russia (ROCOR) diatas, yang  mengatakan bahwa ajaran purgatorium Gereja Katolik dikembangkan oleh St. Thomas Aquinas. Ini suatu pernyataan yang sungguh tidak tepat karna St. Agustinus, St. Ambrosius, St. Gregorius Agung juga membahas tentang Purgatory. Mereka hidup pada masa Ortodox dan Katolik belum berpisah dan sekaligus St. Thomas Aquinas belum lahir. Ada juga ajaran dari St. Robert Bellarmine, St. Bonafentura, St. Yohanes dari Salib, St. Fransiskus dari Sales, St. Antonius dari Padua, St. Yohanes Don Bosco, St. Getrude Agung, St. Faustina, dll…dll…dll….?

Mau dikemanakan ajaran mereka-mereka ini mengenai purgatorium? Yang penting untuk diketahui juga adalah bahwa meski St. Thomas Aquinas memandang purgatorium sebagai tempat yang apinya membakar untuk memurnikan namun beliau tidak menolak untuk mengakui bahwa ada juga secercah harapan sukacita yang kuat dari para jiwa di purgatorium karna mereka memiliki kepastian untuk selamat .

Jadi, ada perbedaan. Pada link ROCOR Indonesia itu juga dengan keliru mengatakan bahwa ajaran St. Thomas bertentangan dengan Katekismus Gereja Katolik no. 1031, yang di mana menurut situs ROCOR Indonesia itu mengatakan bahwa St. Thomas Aquinas menyebut purgatorium sama dengan api neraka sedangkan Katekismus Gereja Katolik menyebut purgatorium berbeda dengan neraka. Ini merupakan humor yang tidak lucu karna, St. Thomas memang mengatakan bahwa apinya sama dengan api yang di neraka tetapi adalah fakta kalau tempatnya berbeda dengan neraka, yaitu di pinggiran neraka.

Perlu diketahui, terjemahan bahasa Inggris admin ROCOR Indonesia itu kacau sekali. Dari semua tulisan St. Thomas Aquinas, beliau tidak pernah menyamakan tempat  purgatorium adalah neraka. Yang beliau ajarkan adalah bahwa purgatorium adalah tempat yang berada di pinggiran berdekatan dengan neraka atau tempat yang berada di antara surga dan neraka (di tengah-tengah). Ke-phobia-an dan ketakutan berlebihan terhadap argumen St. Thomas Aquinas ini bisa dimengerti oleh kaum heretic karna kejeniusan St. Thomas Aquinas pernah membongkar kemunafikan doktrin Gereja Ortodox Timur dalam bukunya Summa Contra Errores (Melawan Kesalahan-Kesalahan Gereja Yunani).

Dalam Konsili Lyon ll dan Konsili Florence, argumen Gereja Ortodox habis ketika murid-murid St. Thomas Aquinas menunjukkan manuskrip-manuskrip tertua dari Bapa Gereja baik Timur maupun Barat mengenai Filioque, Purgatorium, dll. Hanya uskup Metropolitan, Mark Eugenikus yang masih menolak untuk bersatu dengan Katolik dan Mark Eugenikus ini sudah kalah berkali-kali dalam debat bahkan ia hampir ditampar oleh teman-teman uskup Timur karna kekeras kepalaannya yang tak berdasar.Tetapi perlu dan penting diketahui bahwa, meski St. Thomas menyamakan purgatorium memiliki api yang membakar secara lahiriah namun hal ini bukan ajaran yang defenitif atau resmi dari Gereja Katolik ! Pernyataan St. Thomas tersebut adalah spekulasi teologis beliau

Apa yang diputuskan oleh Uskup Roma maka itulah yang dijadikan dogma.

Penting !!!

Dalam pemahaman Gereja Katolik, hanya dua hal yang dogmatis berkenaan dengan Purgatorium ini:

  1. Bahwa ada keadaan peralihan/transformasi bagi mereka yang akan masuk surga sesudah mati di dunia ini, dan
  2. Doa-doa dan Misa Ekaristi berguna bagi arwah yang berada dalam kondisi transformasi ini.

Dasar Tradisi dogma Api Penyucian ini diambil dari ajaran dan bukti-bukti yang ditemukan dalam tulisan-tulisan Gereja Perdana, antara lain:

– Kisah nyata Paulus dan Tekla, 8:5; (160 A.D).

– Prasasti Abercius (190 A. D).

– Kemartiran Perpetua Dan Felisitas 2:3-4 202 A.D).

– Tertullianus Dalam Mahkota 3:3 (211 A.D).

– Dll….

Lihat juga di sini https://www.scripturecatholic.com/purgatory/

Semoga Pertanggungjawaban iman ini bermanfaat

Ulang Tahun Ke-5 Berkhat Santo Yusuf KAJ

0

Mgr. Ignatius Suharyo dan beberapa pastor memimpin misa ulang tahun ke-5 Berkat Santo Yusuf (BKSY) di aula D Universitas Katolik Atma Jaya, Sabtu (05/01/2019). Perayaan itu dihadiri oleh para donatur, mitra, pengurus PSE dan BKSY dari 33 Paroki di Kecukupan Agung Jakarta (KAJ). Berkat Santo Yusuf merupakan gerakan bela rasa yang ada di KAJ.

Mgr. I. Suharyo dalam homilinya yang mengambil bacaan penampakan Tuhan menyampaikan pesan ‘kemanusiaan’ terutama berkaitan dengan BKSY yang bertujuan meringankan beban umat terutama yang sakit dan meninggal. Terutama bagi yang meninggal supaya dapat dimakamkan secara manusiawi.

Menurutnya, para majus yang merupakan orang-orang bijak pada masanya merupakan ‘rasul-rasul’ berusaha mencari kebenaran. Setelah itu mereka menyebarkan kebenaran itu kepada banyak orang. Demikian pula hendaknya ‘para rasul’ BKSY berusaha menjadi ‘rasul’ di tengah umat.

“Seseorang dikatakan beriman, jika ia berbela rasa kepada sesama,” kata Mgr. Ignatius Suharyo

Pada kesempatan itu juga Direktur Bank Mandiri, bapak Rico menyerahkan sumbangan kepada BKSY berupada mobil ambulance. Setelah itu ‘para rasul’ BKSY berfoto bersama Bapa Uskup dan para pastor. Kemudian dilanjutkan dengan makan siang bersama.

Marilah, Kamu akan Melihatnya — Renungan Harian

0
Gambar ilustrasi oleh Gellinger / Pixabay

Marilah, Kamu akan Melihatnya: Renungan Harian Katolik, Jumat 4 Januari 2019 — JalaPress.com; Injil: Yoh. 1:35-42

Bacaan Injil sebelum hari pembaptisan Tuhan, sering mengisahkan lagi tentang peran Yohanes Pembaptis. Sebab ketika Yesus dibaptis, saat itu Yohanes mundur dan Yesus maju dan memulai karya-Nya di depan umum. Dalam Injil hari ini, setelah Yohanes menunjuk kapada Yesus, “Lihatlah Anak Domba Allah”, maka dua orang muridnya itu meninggalkan dia dan mau mengikuti Yesus.

Pertanyaan mereka kepada Yesus: “Guru di manakah Engkau tinggal?” Menarik jawaban Yesus. Yesus tidak menjawab, “Saya tinggal di Nazareth”. Atau “Saya berasal dari Nazareth”. Jika jawaban demikian, bisa jadi reaksi dua murid itu, “O… saya tahu Nazareth, saya sering ke sana, atau saya ada keluarga di sana, apakah kenal mereka?” dst…. Sebagaimana biasanya kalau kita berkenalan dengan orang baru. Kalau demikian terjadi, maka proses panggilan tidak terjadi di sana.

Tetapi Jawaban Yesus begitu menarik, “Marilah, kamu akan melihatnya”. Jawaban itu mengajak sekaligus menarik mereka, dan membuat mereka penasaran, ingin tahu lebih dalam dan lanjut, di mana Yesus tinggal dan siapakah Dia. Sehingga dua murid tadi terus mengikuti Yesus.

Dalam kisah itu selanjutnya, tidak disebutkan nama tempat itu, di mana Yesus tinggal. Pertanyaan mereka mengenai tempat Yesus tinggal, tidak terjawab. Artinya apa? Panggilan itu bukan untuk menuju ke suatu tempat tetepi menuju ke suatu pribadi yaitu Yesus sendiri. Bukan tinggal di suatu tempat tetapi tinggal dalam pribadi seseorang, yaitu Kristus. Datang dan tinggal dalam Kristus.

Bagi kita, panggilan yang paling hakiki adalah untuk datang dan tinggal dalam Kristus. Sedangkan untuk mereka yang panggilan khusus, panggilan Yesus bukan supaya tinggal di daerah tertentu, di tempat bagus, ke luar negeri tetapi untuk tinggal dalam Kristus dan menghasilkan buah dalam hidup dan pelayanan. Tempat itu tidak penting. Yang terpenting adalah tinggal dalam pribadi Yesus dan menghasilkan buah di mana saja berkarya. Tuhan memberkati kita.