13.1 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 7

Aku dan Bapa adalah Satu – PW. Santo Athanasius, Uskup dan Pujangga Gereja

Aku dan Bapa adalah Satu: PW. Santo Athanasius, Uskup dan Pujangga Gereja, 02 Mei 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 11:19-26; Injil: Yoh. 10:22-30

Di zaman sekarang ini dengan adanya berbagai media seperti YouTube yang menampilkan perdebatan tentang ke-Allah-an Yesus maka ada umat Katolik yang mulai bimbang dengan imannya akan Yesus Kristus. Ada yang bertanya, apakah Yesus sungguh-sungguh Allah? Pertanyaan ini juga yang menjadi pergelutan Arius seorang imam di Alexandria dan akhirnya ia melahirkan ajaran sesat bahwa Yesus bukan Allah tetapi hanya seorang manusia ‘super’. Ajaran ini ditentang oleh Athanasius yang dengan tegas mengatakan bahwa ‘Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia’.

Berangkat dan berpedoman pada sabda Yesus hari ini: Aku dan Bapa adalah satu, mau menegaskan bahwa Yesus adalah Allah. Penegasan Yesus ini menjadi dasar bagi umat di Antiokhia untuk menamakan diri mereka ‘Kristen’ yang berarti pengikut Kristus.

Iman adalah daya kerja Ilahi di dalam diri manusia; iman adalah perjumpaan antara Allah dan manusia. Dalam hidup ini, orang menjadi sulit beriman karena hanya mengandalkan asumsi, pikiran-kecerdasan, logika, kepentingan dan emosi. Beriman secara dewasa adalah bagaimana kita memandang setiap kenyataan dan pengalaman hidup dan dengan rendah hati mensyukurinya.

Ada banyak pengalaman sehari-hari yang menegaskan dan melukiskan wajah Allah dalam Kristus dan Roh Kudus yang patut kita maknai dan syukuri karena Yesus dan Bapa adalah satu. Apakah kita menemukan kisah kasih bersama Allah dalam pengalaman hari ini? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita untuk menemukannya. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Esdegan – Mu-Sa-Fir

Transformasi Diri – Renungan Pekan III Paskah

0

Transformasi Diri: Renungan Pekan III Paskah, 28 April 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 9:1-20; Injil: Yoh. 6:52-59

Transformasi diri adalah perubahan secara menyeluruh atau signifikan dari seseorang baik secara jasmani maupun rohani. Perubahan atau transformasi diri ini terjadi karena bisa karena  niat pribadi, bisa karena sebuah peristiwa hidup yang menggugah dan atau karena perjumpaan dengan Allah dalam pengalaman rohani.

Saulus melakukan transformasi diri secara signifikan karena pengalaman perjumpaannya dengan Yesus yang bangkit dalam perjalanannya ke Damsyik. Ia yang semula bernama Saulus berganti nama menjadi Paulus, ia yang semula adalah penganiayaan jemaat perdana berubah menjadi pewarta Kasih Kristus, ia yang semula mendapat mandat untuk mengejar dan membunuh pengikut Kristus berubah menjadi rasul bangsa-bangsa ketika ia mendapat mandat dari Kristus yang bangkit dan ia yang semula menggunakan pedang untuk membunuh pengikut Kristus beralih ke hukum kasih Kristus untuk membawa sesama kepada keselamatan.

Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita juga melakukan transformasi diri ketika kita berjumpa dengan Dia dalam Ekaristi? Transformasi diri hanya dapat terjadi jika kita tinggal dalam Kristus dan Ia tinggal di dalam kita. Maka perlu keterbukaan hati dan niat yang teguh untuk melakukan transformasi diri.

Oleh karena itu, dalam Ekaristi kita semua harus menyatukan jiwa dan raga kita dengan Kristus agar kita memperoleh hidup yang kekal karena Kristus sendiri bersabda: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkannya pada akhir zaman.”

Marilah kita melakukan transformasi diri karena perjumpaan kita dengan Kristus dalam Ekaristi sehingga nama-Nya semakin dipuji dan dimuliakan. Relakah kita melakukan transformasi diri? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng, MSF)
Taurus – Mu-Sa-Fir

Melihat dan Percaya – Renungan Pekan III Paskah

0

Melihat dan Percaya: Renungan Pekan III Paskah, 26 April 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 8:1b-8; Injil: Yoh. 6:35-40

[postingan number=3 tag= ‘paskah’]

Melihat dan percaya adalah dua hal yang saling terkait satu sama lain. Mengapa? Karena seringkali orang mampu percaya dengan sepenuh hati setelah melihat dengan mata kepala sendiri. Kepercayaan dan keyakinan menyeruak dari penglihatan indrawi. Berkaitan dengan melihat dan percaya, Yesus menegaskan bahwa ‘setiap orang yang melihat Anak dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.’ Namun, kita patut berbangga dan bersyukur bila kita tetap percaya kepada Yesus walaupun belum pernah melihat-Nya secara fisik. Pengalaman ini juga dialami oleh orang-orang di suatu kota di Samaria. Mereka percaya bukan karena melihat Yesus secara langsung tetapi karena pemberitaan Filipus dan tanda-tanda yang dibuatnya. Inilah pengalaman iman yang sejati: percaya kepada Yesus meski tidak melihat-Nya secara fisik.

Ini merupakan kehendak Bapa karena ‘barang siapa melihat Anak, ia melihat Bapa.’

Saat ini, ada saja orang yang membantah serta menentang iman Katolik. Mereka mempertanyakan ke-Tuhan-an Yesus, yang barangkali membuat segelintir dari kita ikut goyah imannya. Bagaimana dengan kita? Apakah iman kita ikut goyah gara-gara itu?

Dalam situasi ini, kita harus tetap teguh percaya pada Yesus Kristus karena ‘barang siapa datang pada Yesus, ia tidak akan dibuang; ia akan memperoleh hidup yang kekal.’ Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita untuk teguh percaya pada Yesus Kristus. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
See you – Mu-Sa-Fir

Perintah dan Perutusan – Renungan Pesta Santo Markus, Pengarang Injil

0

Perintah dan Perutusan: Renungan Pesta Santo Markus, 25 April 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 5:5b-14; Injil: Mrk. 16:15-20

Perintah dan perutusan adalah dua hal yang saling terkait satu sama lain. Tetapi perlu disadari bahwa perintah dapat juga menjadi perutusan apabila isi perintah itu bersifat positif, baik dan benar. Sebaliknya jika isi perintah itu negatif, tidak baik dan tidak benar, maka merupakan penjerumusan sekaligus malapetaka bagi yang menjalankan perintah maupun bagi orang lain.

[postingan number=3 tag= ‘kitab-suci’]

‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk’ adalah perintah sekaligus perutusan dari Yesus kepada kesebelasan murid-Nya. Perintah dan perutusan ini berisi tanggung jawab yang besar untuk melaksanakannya dengan setia dan tulus. Setiap murid diharapkan untuk rendah hati di hadapan Allah agar pada saatnya nanti mereka akan ditinggikan oleh Allah dengan tangan-Nya yang kuat. Selain itu, dalam menjalankan perintah dan perutusan ini, para murid juga akan menghadapi tantangan karena iblis selalu berkeliling untuk mencari mangsa. Maka perlu sikap berjaga-jaga sekaligus siap sedia untuk melawan dengan iman yang teguh.

Selain pergi ke seluruh dunia untuk mewartakan Injil, cara lain yang dilakukan adalah dengan menulis Injil sesuai dengan ilham Roh Kudus seperti yang dilakukan oleh Santo Markus. Lewat karya Injil yang ditulis oleh Santo Markus, kita mampu menemukan karya-karya agung Allah bagi manusia lewat Yesus Kristus Putra-Nya. Oleh karena itu bersama pemazmur kita dengan penuh sukacita berseru: “Kasih setia-Mu ya Tuhan hendak kunyanyikan selama-lamanya.”

Apakah kita siap sedia melaksanakan perintah dan perutusn dari Tuhan? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita untuk setia dalam mewartakan Injil Tuhan. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Flatfish – Mu-Sa-Fir

Saksi – Renungan Pekan II Paskah

0

Saksi: Renungan Pekan II Paskah, 20 April 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 5:27-33; Injil: Yoh. 3:31-36

Saksi adalah orang yang melihat dan mengetahui sendiri suatu peristiwa atau tentang seseorang. Para murid Yesus adalah saksi tentang kebangkitan Yesus. Yohanes Pembaptis juga adalah saksi tentang siapa itu Yesus. Karena kesaksiannya, para murid Yesus pun ditangkap dan diadili oleh Mahkamah Agama Yahudi. Mereka dilarang untuk memberi kesaksian tentang Kristus dan lebih memilih untuk taat kepada Allah. Kesaksian tentang Yesus juga ditegaskan oleh Yohanes pembaptis. Menurut Yohanes pembaptis, Yesus adalah Anak Allah yang kepada-Nya, Allah menyerahkan segala sesuatu. Oleh karena itu ‘barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.’

Bagaimana dengan kita? Kita semua yang telah dibaptis diutus untuk menjadi saksi Kristus. Mengapa? Karena keselamatan Allah lewat Yesus Kristus harus ditawarkan kepada segala bangsa. Sudahkah kita menjalankan perutusan ini? Apakah kita juga teguh percaya pada Yesus Anak Allah?

Semoga kesaksian kita tentang Yesus Kristus membantu saudara-saudari kita untuk memperoleh keselamatan. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Hybrid – Mu-Sa-Fir

Kasih yang Menghidupkan – Pekan II Paskah

0

Kasih yang Menghidupkan: Pekan II Paskah, 18 April 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 4:32-37; Injil: Yoh. 3:7-15

Kasih adalah hukum yang utama dan pertama serta mendasari segala hukum serta tindakan semua orang beriman. Kasih tanpa pengorbanan adalah sesuatu yang mustahil. Kasih harus terwujud dalam pengorbanan diri. Hal inilah yang dijelaskan oleh Yesus kepada Nikodemus. Yesus membuka tabir kasih Allah tentang apa yang diajarkan oleh Musa bahwa ‘sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.’ Penegasan Yesus ini berkaitan dengan peristiwa salib-Nya.

Kasih Allah yang terpancar lewat peristiwa salib Yesus Kristus inilah yang menggerakkan jemaat perdana untuk juga hidup dalam kasih. Karena kasih menuntut pengorbanan maka segala sesuatu yang mereka miliki adalah kepunyaan bersama dan digunakan untuk kehidupan bersama sehingga tidak seorang pun mengalami kekurangan. Kasih inilah inilah yang telah menghidupkan mereka.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga memiliki kasih yang terwujud dalam pengorbanan diri demi kebahagiaan dan kehidupan sesama? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita agar kita tetap tinggal dalam kasih Allah dan rela berkorban bagi sesama. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Sabotase – Mu-Sa-Fir

Hidup dalam Persekutuan dengan Allah – Hari Minggu Paskah II

0

Hidup dalam Persekutuan dengan Allah: Renungan Hari Minggu Paskah II, 16 April 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 2:42-47; Bacaan I: 1 Ptr. 1:3-9; Injil: Yoh. 20:19-31

[postingan number=3 tag= ‘paskah’]

Hari ini bersama dengan seluruh Gereja kita merayakan Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Kita diajak untuk melihat, merefleksikan dan membagikan pengalaman belas kasih Allah dalam hidup kita masing-masing. Pengalaman belas kasih Allah yang hadir dalam diri Yesus Kristus telah menggerakkan para murid-Nya dan juga jemaat perdana untuk hidup dalam persekutuan, baik dalam mendengarkan pengajaran para rasul, dalam doa, maupun dalam memecah-mecahkan roti. Kesaksian hidup yang penuh belas kasih kepada sesama serta semangat berbagi telah menjadi daya tarik bagi orang lain untuk bergabung sebagai anggota jemaat.

Hidup dalam persekutuan dengan Tuhan telah dibangun oleh Yesus sejak awal kebersamaan -Nya dengan para murid. Bahkan dalam ketidakpercayaan Thomas, Yesus tetap memberikan belas kasih-Nya dengan berkata: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi melainkan percayalah!” Inilah belas kasih Allah; Ia selalu mengampuni dan memberikan kesempatan kepada manusia untuk bertobat dan percaya.

Sadar atau tidak, kadang kita berlaku seperti Thomas yang meragukan kebangkitan Kristus karena kita tidak bersatu dan hidup dalam persekutuan dengan Allah. Hal ini juga berdampak pada persekutuan hidup kita dengan sesama dalam komunitas, wilayah, paroki juga dalam hidup bermasyarakat.

Marilah kita berusaha untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah, berjuang untuk meleburkan seluruh diri kita dalam hati Yesus yang penuh belas kasih agar kita mampu dan sanggup untuk hidup dalam persekutuan dengan sesama, rela berbagi dan rela untuk memaafkan sesama. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Suara alam – Mu-Sa-Fir

Kristus Ada Padaku dan Kuberikan Kepadamu – Renungan Oktaf Paskah

0

Kristus Ada Padaku dan Kuberikan Kepadamu: Renungan Oktaf Paskah, 12 April 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 3:1-10; Injil: Luk. 24:13-35

Memberikan apa yang berharga dari milik kita merupakan sebuah tindakan terpuji, apalagi jika yang kita berikan adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh sesama.

Yesus yang bangkit membuka mata dua murid-Nya melalui tindakan memecah-mecahkan roti dan memberikannya kepada mereka. Tindakan Yesus ini melambangkan pemberian Diri-Nya di atas kayu salib dan dari tindakan inilah para murid dapat mengenal Dia.

Tindakan pemberian Diri Yesus menggerakkan Petrus dan Yohanes untuk mengikuti teladan sang Guru. Bagi Petrus dan Yohanes, Yesus adalah harta paling berharga mereka dan harta yang paling berharga inilah yang mereka berikan kepada si lumpuh yang terbaring di depan gerbang indah Bait Allah. Lewat tindakan ini, si lumpuh memperoleh kesembuhan dan ia pun memuji-muji Allah.

Sebagai murid Kristus, kita juga memiliki Dia sebagai harta terindah dalam hidup kita. Apakah kita berani memberikan Kristus kepada sesama sehingga mereka pun mengalami sukacita kebangkitan Kristus?

Memang perlu disadari bahwa kadang mata kita tidak mampu melihat Kristus yang hadir dalam hidup kita sehingga kita pun belum memiliki Dia seutuhnya. Maka marilah kita mengundang Dia untuk tinggal bersama kita: “Tuhan tinggallah beserta kami karena hari sudah malam dan matahari hampir terbenam”. Semoga Kristus menggerakkan kita agar kita mampu memberikan Dia kepada sesama teristimewa mereka yang menderita agar mereka pun bersukacita. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Srikaya – Mu-Sa-Fir

Sapaan Tuhan yang Bangkit – Renungan Oktaf Paskah

0

Sapaan Tuhan yang Bangkit: Renungan Oktaf Paskah, 11 April 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 2:36-41; Injil: Yoh. 20:11-18

Setiap orang pasti pernah merasakan pengalaman kehilangan orang yang dikasihi. Ada berbagai perasaan berkecamuk di dalam hati: ada perasaan sedih, resah, gelisah, gundah gulana, dan galau. Semua perasaan ini menyatu dalam dukacita yang mendalam sehingga membuat pikiran kita tidak berfungsi dengan baik. Bahkan otak seakan tumpul dan lumpuh sama sekali. Hanya air mata yang menjadi saksi dan bukti dari seluruh perasaan yang ada. Dalam situasi inilah, kita tidak mampu melihat kehadiran Tuhan bahkan tidak mampu mendengar sapaan kasih kebangkitan-Nya.

Pengalaman ini dialami oleh Maria Magdalena. Ia mengalami dukacita yang mendalam karena kematian Yesus dan ditambah dengan makam Yesus yang kosong, maka ia tak mampu melihat kehadiran Tuhan yang bangkit. Ia juga tidak serta merta dapat mendengarkan sapaan Tuhan yang lembut. Tetapi ketika disapa dengan namanya, Maria Magdalena mampu mengenal Yesus Kristus yang bangkit. Panggilan dan sapaan Yesus telah mengubah cakrawala dan pandangannya. Tanpa ragu ia pun memberi kesaksian kepada murid yang lain “Aku telah melihat Tuhan”.

Pengalaman kebangkitan Yesus Kristus juga mengubah pribadi Petrus. Ia dengan berani menegaskan kepada seluruh kaum Israel bahwa ‘Allah telah membuat Yesus yang mereka salibkan itu menjadi Tuhan dan Kristus’. Ia juga menggarisbawahi intisari dari iman akan Kristus yakni pertobatan dari pihak manusia dan anugerah pengampunan dosa dari pihak Allah’. Jika intisari kehidupan Kristiani ini diyakini, maka kita mampu mendengarkan sapaan Tuhan dan melihat Dia walaupun dalam pengalaman dukacita sekalipun.

Marilah kita berusaha bertobat sehingga rahmat pengampunan dari Allah dapat kita alami. Itulah sapaan Tuhan yang bangkit bagi kita para murid-Nya. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
KK – RT. 40 – Mu-Sa-Fir

Bicara Jujur – Renungan Oktaf Paskah

0

Bicara Jujur: Renungan Oktaf Paskah, 10 April 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 2:14.22-32; Injil: Mat. 28:8-15

Manusia lebih cepat berbohong daripada berbicara jujur. Mengapa? Karena manusia terjebak dalam kebohongan demi menyelamatkan diri, mempertahankan kekayaan, kedudukan, prestise, atau pengikut. Kebohongan juga dilakukan oleh kaum tua-tua Yahudi. Mereka membungkam mulut para serdadu dengan uang agar para serdadu penjaga makam Yesus tidak memberitahukan tentang kebangkitan Yesus kepada orang Yahudi. Kebohongan satu akan selalu diikuti oleh kebohongan selanjutnya dan inilah yang terjadi di antara tua-tua bangsa Yahudi dan para serdadu penjaga makam Yesus. Itulah kecendrungan manusia untuk melakukan kejahatan. Segala cara bisa dihalalkan bahkan nilai kejujuran dapat dibungkam dengan uang. Itulah realitas manusia.

Berbeda dengan para serdadu penjaga makam Yesus dan tua-tua Yahudi, Petrus tampil dengan penuh keberanian dan dengan jujur memberitakan dan mewartakan kebangkitan Yesus. Walaupun sebelumnya Petrus dan para murid terpukul karena kematian Yesus, namun kebangkitan Yesus telah membuka cakrawala baru hidup mereka, terutama keterbukaan mereka untuk menjadi saksi kebangkitan Yesus.

Apa yang bisa menjadi refleksi bagi kita? Pertama, sebagai orang Katolik, kita mempunyai Rahmat pengudus yakni Roh Kudus yang selalu mengingatkan kita untuk jujur dan benar dalam hidup. Maka jangan takut untuk menjadi pribadi yang jujur dan benar. Kedua, segala sesuatu butuh uang tapi uang bukan segala-galanya maka jangan dibungkam oleh uang. Beranilah berkata jujur dan berani mewartakan Kristus yang bangkit.

Selamat Hari Raya Paskah. Semoga kebangkitan Kristus mengubah hidup kita semua untuk terus berjalan bersama-Nya mewartakan kebenaran dan kejujuran. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Resurrection – Mu-Sa-Fir