12.1 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 71

Surat Cinta untuk Mereka Yang Tidak Merayakan Natal

0
Kerukunan antarumat beragama di Jorong Kampung Baru, Nagari Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, tercedera. Umat Katolik di sana sempat dinyatakan tidak bisa merayakan Natal.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Saudara-saudariku yang tidak merayakan Natal. Tidak perlu repot-repot mengucapkan selamat Natal kepada kami. Apalagi membuat larangan yang melanggar hak orang. Saudara-saudari mengucapkan selamat Natal atau tidak, sama sekali tidak mempengaruhi makna Natal. Juga sama sekali tidak mengurangi rasa hormat kami kepada saudara-saudari. Lagi pula diucapkan selamat Natal atau tidak, sama sekali tidak mengurangi maupun menambah makna perayaan Natal.

Kami tidak memaksa siapa pun untuk mengucapkan selamat Natal. Bahkan, kami juga tidak pernah mengharapkan ucapan itu.

Saudara-saudariku yang tidak merayakan Natal. Biarkanlah kami merayakan perayaan keagamaan kami. Bagaimana pun, kami adalah penganut salah satu agama yang diakui negara dan UUD 1945 menjamin keberadaan kami dalam kebebasan beribadah.

Saudara-saudariku yang tidak merayakan Natal. Hentikanlah dengki dan benci; karena kami sama sekali tidak membalasnya. Kami mencintai kalian sebagai sesama ciptaan. Tuhan Maha Pengasih pun tahu jika kalian menyimpan kebencian dan kedengkian. Ia pula mengetahui kalau kalian berpura-pura mengucapkan selamat Natal kepada kami. Hentikanlah, hentikan kepalsuan itu. Bukalah topeng kebusukan itu yang menghancurkan jiwa dan ragamu. Mari berlomba dalam karya dan karsa, bukan dalam kebencian.

Minggu, 23 Desember 2018

Paus Fransiskus Mengadakan Kunjungan Natal ke Biara Paus Emeritus Benediktus XVI

0

Pada Jumat malam, Paus Fransiskus mengunjungi Paus emeritus untuk menyampaikan salam Natal. Seperti yang selalu dilakukannya setiap tahun sejak ia terpilih, Paus Fransiskus pada hari Jumat melakukan perjalanan singkat ke Biara Mater Ecclesiae, dalam rangka kunjungan Natal dengan pendahulunya, Paus emeritus Benediktus XVI.

Paus Fransiskus telah mengunjungi Biara beberapa kali selama tahun lalu. Baru-baru ini, pada bulan Oktober, ia memanggil Paus emeritus pada malam kanonisasi Paulus VI. Sebelum itu, Bapa Suci melakukan kunjungan mendadak dengan empat belas Kardinal baru yang telah terpilih dalam Konsistori Juni tahun ini.

Sumber: https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2018-12/pope-francis-pays-christmas-visit-to-pope-emeritus-benedict-xvi.html

Menggali Makna Natal dalam Sejuta Kisah

0
Gita surga bergema,
lahir raja mulia
damai dan sejahtera
turun dalam dunia
bangsa-bangsa bangkitlah
dan bersoraklah serta…”

Kutipan kecil di atas merupakan nukilan lirik lagu yang berjudul Gita Surga Bergema, yang tentunya sering kita dengarkan dan bahkan dinyanyikan berulang-ulang kali menjelang hari raya Natal. Yah! Bulan Desember mengandung kesan dan perasaan tersendiri bagi kebanyakan orang, khususnya umat Kristiani di seruluh dunia. Setiap tanggal 25 Desember, umat Kristiani seantero dunia merayakan hari raya Natal yang merupakan peringatan kelahiran Yesus Kristus di kandang Betlehem 2000-an tahun silam. Cerita mengenai kesan dan perasaaan menyambut hari raya Natal, setiap umat Katolik di dunia pastinya selalu memiliki cerita yang khas. Di negara Filipina, misalnya, perayaan Natal biasanya mulai dirasakan sejak Minggu Pertama masa Adven. Sejak saat itu, lagu-lagu Natal mulai terdengar ketika kita memasuki pusat-pusat perbelanjaan. Di pusat-pusat keramaian seperti Mall, segala hiasan yang dipajangkan pastilah bertemakan Natal; banyaknya pohon Natal yang terpajang, lampu terang berkelap-kelip, dan hiasan Natal di sana-sini menyemarakkan suasana. Sesungguhnya, di Filipina suasana Natal memang nampak kental terasa, mulai dari ornamen Natal yang banyak dijual, dekorasi Natal di pusat perbelanjaan, tematik Natal di rumah makan dan restoran, dan juga novena menyongsong hari raya Natal yang biasa dikenal dengan nama Missa de Gallo atau Simbang Gabi. Semua ini mengandung kesan dan rasa tersendiri bagi semua umat Katolik Filipina.

Di balik kesan di atas, apa sesungguhnya makna Natal bagi seorang Katolik? Tentunya apa yang dikisahkan itu bukanlah makna Natal satu-satunya, tetapi lebih sebagai bagian ‘seremonial’ dalam menyambut peristiwa iman tersebut. Sebagai sebuah peristiwa iman, Natal tidaklah berhubungan dengan seberapa kerennya baju baru yang seseorang kenakan atau seberapa eloknya gaya rambut yang seseorang miliki. Natal bukanlah tentang seberapa enak dan mahalnya makanan dan minuman yang kita suguhkan di meja makan. Hemat saya, jika makna Natal hanya berkaitan dengan hal-hal dan perkara di luar tubuh seperti di atas, maka dapat dipastikan bahwa damai dan sukacitanya justru akan selesai ketika perayaan itu berakhir. Namun, Natal yang sesungguhnya adalah bagaimana kita memaknai peristiwa kelahiran Yesus itu dalam kehidupan sehari-hari. Bahwasannya, makna Natal seharusnya jauh lebih dalam dari apa yang semua kita lihat itu. Hari raya Natal, selain mengenangkan kelahiran Yesus sebagai Juruselamat umat manusia, mestinya juga menjadi tanda kehadiran rahmat Tuhan dalam kehidupan kita dan sekaligus sebagai perutusan kita untuk membangun tata dunia yang lebih baik.

Untuk itu, saya ingin membagikan beberapa kisah dan kesan tentang makna Natal bagi beberapa anak muda yang sempat berbagi cerita. Barangkali, kisah dan kesan mereka dapat membantu kita untuk menjadikan perayaan Natal tahun ini sebagai peristiwa iman yang cukup unik.

Natal Bagi Amelia Edwinsari
Hari Natal telah semakin mendekat. Setiap orang Katolik biasanya memaknai perayaan Natal secara berbeda-beda sesuai dengan pengalaman iman dan keseharian hidup mereka. Demikian halnya dengan Amelia Edwinsari, seorang gadis asal Nunur-Manggarai Timur yang sedang menyelesaikan studi profesi Guru pada Universitas Pattimura-Ambon. Natal bagi dia adalah “sebuah jawaban atas kerinduan dan perayaan yang menyatukan kehangatan keluarga; merasakan kehadiran Tuhan yang membawa damai dalam semangat kekeluargaan.” Lebih dari itu, Amelia berkisah tentang kenangan Natal yang paling berkesan bersama keluarga. Konon, setiap tahun keluarganya selalu berkumpul bersama, pergi ke gereja bersama-sama dan berbagi sukacita. Mengenai harapannya untuk Natal tahun ini, Amelia mengakui bahwa keinginan untuk berkumpul dan berbagi sukacita bersama keluarga merupakan salah satu kerinduan terberatnya, sebab merayakan Natal jauh dari tengah keluarga dan di tempat yang begitu asing. Namun, dari pengalaman ini, ia berkeyakinan bahwa Tuhan juga datang dan oleh damai-Nya menjadikan orang lain di tempat yang baru itu sebagai bagian dari keluarga.

Merasakan Cinta Tuhan dan Berbagi
Bagi Kristina Novita, seorang yang berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Manggarai-Flores, Natal itu lebih dilihat sebagai “Kepekaan untuk merasakan kehadiran Tuhan dan merasakan cinta Tuhan dalam hidup sehari-hari. Sudahkah saya sadar bahwa Tuhan sebenarnya mau hadir dalam hidup saya? Atau, sudahkah saya sadar kalau cinta Tuhan untuk saya teramat sangat dalam?” Dalam permenungannya itu, Novita mengisahkan pengalamannya selama merantau dan berkuliah di Yogyakarta. Pengalaman Novita selama kurang lebih empat tahun tinggal di Yogyakarta terlihat cukup khas dan unik. Biasanya, untuk menyambut hari raya Natal, Novita dan kawan-kawannya, yang terbentuk dalam satu komunitas, berkumpul bersama dan melakukan aksi sosial, seperti membagi-bagi makanan.

Natal Berarti ‘Bermawas Diri dan Menata Hidup Baru’
Tak dapat disangkali, bagi kebanyakan umat Katolik, hari raya Natal hanya dianggap sebagai peringatan kelahiran Yesus Kristus; pergi ke gereja dan menghadiri perayaan Ekaristi, lalu kembali ke rumah dan bersukacita bersama keluarga. Namun, Waldus Budiman, seorang pemuda asal Manggarai Timur dan sedang merantau di pulau Jawa, memiliki pandangan yang cukup berbeda tentang Natal. Ia lebih memaknai hari raya Natal dari kaca mata iman. Hemat Waldus, “Natal adalah kelahiran baru dan menata hidup baru dengan berpedoman pada Kristus. Natal adalah harapan akan sesuatu yang baru bersama dengan kelahiran sang Juruselamat. Kelahiran Tuhan Yesus, merupakan berkat atas diri kita. Kelahiran ini juga mengajak kita untuk menata hidup yang baru di mana kita mampu untuk bergerak menuju dunia yang baru.”
Demikian halnya dengan Fr. Yanto Baptista, seorang mahasiswa STFK Ledalero Maumere-Flores. Bagi Yanto, melalui perayaan Natal, “Semua orang diajak untuk bisa dilahirkan kembali bersama Yesus dalam Roh dan kebenaran. Dengannya hidup kita senantiasa diperbaharui dan terarah pada kehendak Allah.” Namun, untuk menggapai pembaharuan itu, setiap kita harus bisa mengubah sikap dan move-on dari masa lalu yang begitu kelam. Berkaitan dengan itu, Fr. Wilhemus Jemali, teman seangkatan Fr. Yanto, menggagaskan: “Natal seharusnya merupakan momen di mana kita mesti berekonsiliasi dengan masa lalu.”

Diakon Gust Kani bersama beberapa temannya di Filipina

Cerita Natal di Kalangan Mahasiswa  
Yosefa Pandi, mahasiswa asal Lembor-Manggarai Barat yang sedang menyelesaikan studinya di Jakarta, juga membagikan kesan dan perasaannya mengenai Natal: “Sejak kecil Natal selalu menjadi momen yang paling menyenangkan, karena semua anggota keluarga berada di rumah. Membagikan damai waktu doa dan makan bersama di malam Natal itu sangat berkesan dan justru tidak ada pada kesempatan lain. Pokoknya, semua itu membuat saya bahagia ketika adanya Natal. Selama kurang lebih lima tahun terakhir saya merayakan Natal di tempat yang jauh dari orangtua dan hal itu yang membuat saya menangis. Yang paling membuat saya sedih ialah biasanya setiap malam Natal kami sekeluarga berdoa bersama dan menyanyikan lagu ‘Dari terbit matahari, sampai pada masuknya, biarlah nama Tuhan dipuji.’”
Yang jelas, bagi seorang mahasiswa rantau, merayakan Natal bersama keluarga merupakan satu kerinduan tersendiri. Di sini, Petra, salah seorang mahasiswa asal Manggarai di Yogyakarta, juga menceritakannya. Bagi Petra, Natal tahun ini merupakan kesempatan kedua ia tidak merayakan Natal bersama keluarganya. Hal itulah yang justru membuat dia sangat merindukan suasana Natal di rumahnya. Demikian halnya dengan Edita Teresa, sahabat Petra, juga menceritakan tentang perasaannya dalam menyambut Natal tahun ini. Bagi Edita, hal yang paling didambakan ialah “Rindu untuk berbagi kebahagiaan bersama keluarga. Ada perasaan yang harus semestinya diceritakan bersama keluarga, khususnya pada malam Natal.”

Sejenak merenungkan sejumlah makna Natal dari beberapa anak muda di atas, sebuah pertanyaan justru menghantui saya: Apakah Natal itu hanya sebuah seremonial tahunan yang seharuskan kita rayakan? Apakah makna Natal sesungguhnya bagiku, kamu dan kita semua? Sebagai kenangan akan kelahiran Yesus Kristus di Betlehem, Fr. Christian Tembot menegaskan bahwa “Natal seharusnya menjadi momentum di mana kita semua bisa membaharui diri dan meninggalkan cara hidup lama sehingga kita menjadi manusia baru dalam Kristus.” Mengatasi semuanya itu, kelahiran Yesus Kristus yang kita kenangkan setiap tanggal 25 Desember seharusnya menjadi momentum untuk memantaskan diri dan berbalik kepada rencana awal Tuhan terhadap hidup kita. Yesus Kristus datang ke dunia dan menjadi manusia untuk menyelamatkan semua yang percaya kepada-Nya. Kelahiran-Nya dirayakan sebagai awal sebuah peristiwa keselamatan yang dijanjikan Allah Bapa melalui-Nya: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal” (Yoh 3:16).

Selamat Hari Raya Natal untuk kita semua!

Beriman Saja, Tidak Cukup

0
4653867 / Pixabay

Penentang: Pada Suatu hari saya sedang membaca kitab surat Galatia, dan aku menyadari banyak sekali Rasul Paulus menekankan pentingnya iman sebagai sarana keselamatan.

Saya mulai bertanya kepada diri saya sendiri, bagaimana umat Katolik begitu percaya bahwa keselamatan diperoleh dari perbuatan. Jika Gereja Katolik benar-benar percaya Alkitab, bagaimana bisa mengatakan dan mengajarkan bahwa setiap orang mendapatkan keselamatan melalui perbuatan? Alkitab tampaknya cukup jelas mengatakan bahwa pembenaran/keselamatan diperoleh melalui iman.

KATOLIK: Ada yang kurang tepat dari pernyataan di atas. Yang paling penting adalah anda harus menyadari bahwa Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa kita mendapatkan keselamatan dengan usaha kita sendiri, meskipun tidak mengajarkan bahwa kita harus berusaha untuk mendapatkan keselamatan. Rasul yang sama yang menulis surat Galatia juga menulis Filipi, dimana Rasul Paulus berkata, “tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar” (Flp. 2:12).

Penentang: Ya, tetapi jangan Anda pikir pernyataan demikian harus dipahami dalam konteks ajaran dalam Galatia? Dalam Galatia 2: 15-16, Paulus berkata, “Kamu tahu bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh iman dalam Kristus Yesus, sebab itu kami telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat, Sebab:”tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat.”

KATOLIK: Saya tidak melihat dua ayat di atas saling bertentangan satu sama lain atau bahkan kontradiksi. TeTapi pertama-tama saya memberi penjelas ajaran resmi Gereja Katolik: mengajarkan bahwa kita dapat melakukan apa-apa untuk mendapat rahmat yang datang melalui baptisan, yang merupakan awal yang normal dari kehidupan Kristen. Bahkan, Konsili Trente mengutuk siapa pun yang mengajarkan bahwa kita dapat menyelamatkan diri kita sendiri atau yang mengajarkan bahwa Allah membantu kita melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk kepentingan diri kita sendiri. Gereja mengajarkan bahwa kita bisa diselamatkan hanya oleh kasih karunia Allah.

Penentang: Nah, jika Gereja Katolik benar-benar mengajarkan keselamatan oleh kasih karunia, yang indah. Tetapi sulit bagi saya untuk percaya, karena umat Katolik menempatkan begitu menekankan pada perbuatan baik. Surat Paulus menekankan berkali-kali bahwa keselamatan datang melalui iman saja. Selain Galatia 2: 15-16, pertimbangkan Roma 4: 2: “… sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah” Kemudian tiga ayat kemudian, di 4: 5, Paulus menempatkan cara lain: ” Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya.

KATOLIK: Kami tidak setuju bahwa hanya iman saja yang dibutuhkan untuk keselamatan. memainkan. sebagaimana Rasul Paul, Gereja Katolik mengajarkan bahwa pembenaran berdasarkan iman. Tetapi perlu diketahui bahwa itu tidak datang melalui iman saja . Jika Anda perhatikan dengan teliti di tulisan-tulisan rasul Paulus, Anda akan melihat bahwa dia tidak pernah mengatakan bahwa kebenaran satu-satunya berasal dari iman saja, terpisah dari perbuatan.

Penentang: Nah, di sana Anda dapat menyaksikan. Itu hampir kutipan langsung dari Roma 3:28: “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Frase ini menjelaskan yang oleh iman terlepas dari hukum Taurat Kedengarannya seperti Paulus mengatakan bahwa pembenaran datang melalui iman saja.

KATOLIK: Roma 3:28 adalah ayat kunci dalam perbedaan antara Protestan tradisional dan Katolik. Anda akan melihat bahwa Paulus mengatakan manusia dibenarkan oleh iman ( pistei dalam bahasa Yunani). Ketika Martin Luther menerjemahkan surat kepada jemaat di Roma ke dalam bahasa Jerman pada abad keenam belas, ia menambahkan kata saja -tapi saja tidak ada dalam teks asli Yunani. Ungkapan “iman” yang terjadi dalam Perjanjian Baru: Di dalam Surat Yakobus 2:24. Yakobus menyangkal bahwa pembenaran satu-satunya adalah iman. Berikut saya kutipkan: ” jadi Kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman .”

Penentang: Teks klasik dalam Yakobus 2: 14-26 adalah sesuatu yang sulit. Mari kita kembali ke poin pertama. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa Luther benar-benar menerjemahkan kalimat itu sesuai maknanya, Roma 3:28 dengan kata-kata iman saja karena itu adalah cara lain untuk mengatakan bahwa pembenaran adalah “terlepas dari hukum Taurat.” Anda lihat, ketika Paulus mengatakan dalam Roma 4: 2 Abraham bisa bermegah jika keselamatannya berasal dari perbuatan, ia menjelaskan apa yang dia katakan di 3:27 ketika ia bertanya, “Jika demikian, apa dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa?. Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman. ” bermegah di hadapan Allah bila perbuatan yang terlibat dalam keselamatan kita, tetapi tidak ada kesombongan diri mungkin jika itu hanya dengan iman.

KATOLIK: Setuju-bahwa Rasul Paulus secara kategoris tidak memasukkan perbuatan sebagai bagian dari keselamatan kita. Tetapi apa konteks yang Paulus bicarakan? Jika kita percaya seluruh Alkitab, kita perlu melihat bagaimana kata-kata Paulus cocok bersama-sama dengan kata-kata Yakobus , karena Yakobus jelas mengatakan bahwa “manusia dibenarkan oleh perbuatan.”Jika Paulus dan Yakobus anda kontradiksikan berarti sama dengan mereka bertentangan satu sama lain. Karena Anda dan saya percaya bahwa Alkitab tidak bertentangan satu sama lain, kita harus setuju bahwa Paulus dan Yakobus berarti mrnyampaikan dua konteks berbeda dengan kata memakai kata perbuatan. Penentang: Saya setuju, tetapi hal ini sangat sulit ditafsirkan.

KATOLIK: Gereja Katolik percaya bahwa kita harus menafsirkan Kitab Suci dengan menggunakan Kitab Suci. Anda akan perhatikan bahwa kadang-kadang Rasul Paulus memperluas istilahnya dari ‘perbuatan’ dengan menambahkan frase hukum , seperti dalam Roma 3:20 dan 28 dan Galatia 2:16. Selanjutnya, kadang-kadang Paulus mengganti kalimat melalui hukum untuk menggambarkan realitas yang sama. Misalnya, di Roma 3:20, ia mengatakan, “Melalui hukum Taurat kita mengenal dosa.” Dengan kata lain, ketika Paulus menggunakan kata Perbuatan/pekerjaan dia berbicara tentang hukum Perjanjian Lama.

Pembacaan yang cermat dari Galatia akan menunjukkan bahwa Paulus menggunakan hukum Taurat ditujukan secara khusus kepada hukum sunat. Dia begitu sering menyinggung tentang hal ini bahwa ia mengatakan dalam Galatia 5:2 “. ..Sekarang aku, Paulus, berkata kepadamu: bahwa jikalau kamu menyunat dirimu, Kristus sama sekali tidak berguna bagimu” Rasul Paulus dalam Galatia ingin membawa orang-orang Kristen bukan Yahudi kembali ke hukum Perjanjian Lama. karena itu adalah perbuatan dari hukum yang Paulus tentang, dan mereka tidak memiliki tempat dalam pembenaran kita. Paulus mengatakan pada intinya bahwa orang Kristen bukan Yahudi tidak perlu disunat dan hidup seperti orang Kristen Yahudi untuk memperoleh keselamatan.

Penentang: Saya setuju dengan penafsiran Anda dari Galatia, tapi saya pikir juga kita bisa menggeneralisasi kata-kata Paulus sehingga setiap perbuatan yang kita tempatkan di hadapan Allah sebagai alasan baginya untuk menerima keselamatan adalah jenis perbuatan yang tidak dapat dibenarkan.

KATOLIK: Saya mungkin setuju kalau itu dalam konteks yang anda sampaikan. Tetapi Paulus berbicara tentang orang-orang Kristen agar memenuhi hukum dengan mengikuti perintah untuk “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Gal. 5:14). Dia kemudian menjelaskan bahwa kita harus menunjukkan “buah Roh” (Gal 5: 16-26) (. Gal 6: 1 dst) dan menanggung beban satu sama lain. Sebagai cara memenuhi “hukum Kristus” (Gal 6: 2). Pengajaran Paulus datang bertumpu di sini: perbuatan kita sendiri tidak pernah dapat membenarkan kita, tapi karya-karya yang tumbuh dari iman di dalam Kristus adalah bagian dari pembenaran kita. Itu sebabnya Paulus mengatakan dalam Filipi 2:12 Anda harus “kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Dan bahwa bersinambungan dengan ajaran Yakobus bahwa perbuatan yang tumbuh dari iman membenarkan kita.

Penentang: Oke, saya setuju bahwa Yakobus mengajarkan bahwa kita harus menambahkan perbuatan iman kita. Tetapi perhatikan bahwa perbuatan ini hanya bukti iman yang benar sebagai lawan iman yang palsu. Baca Yakobus 2:14 Apa itu gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman, padahal tidak mempunyai perbuatan? ” Yakobus membahas masalah mereka yang mengaku beriman tapi yang tidak menunjukkan itu dengan perbuatan-perbuatan mereka. Dalam ayat 17 James mengatakan iman seperti ini, “jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Pesan Yakobus adalah: Jika Anda memiliki iman yang benar, maka perbuatan Anda akan mengikutinya. Tetapi itu tidak berarti bahwa Yakobus melihat perbuatan sebagai yang berkaitan dengan keselamatan kita.

KATOLIK: Baiklah, Yakobus mengajarkan bahwa perbuatan menunjukkan iman yang benar. Tapi kami umat Katolik bersikeras bahwa Yakobus 2: 14-26 menunjukkan bahwa perbuatan lebih dari bukti iman. Perbuatan benar-benar membenarkan iman. Yakobus berbicara tentang perbuatan yang tumbuh keluar dari iman. Jika perbuatan iman bukan bagian dari pembenaran kita, maka sulit untuk memahami mengapa Yakobus akan mengatakan, seperti yang dilakukannya, bahwa “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya di atas mezbah?” (Yak. 2:21). Anda mungkin ingat bagaimana Paulus mengatakan bahwa Abraham tidak dibenarkan oleh perbuatan, tetapi dengan iman. Yang disampaikan Rasul Paulus berarti bahwa Abraham tidak dibenarkan dengan menjaga hukum Perjanjian Lama, sementara Yakobus menjelaskan bahwa Abraham dibenarkan dengan melakukan pekerjaan yang tumbuh dari imannya kepada Allah.

Penentang: Mungkin maksud Yakobus, bahwa tindakan Abraham menunjukkan imannya itu nyata.

KATOLIK: Anda bisa berpendapat bahwa Yakobus tidak mengatakan secara eksplisit, “Anda melihat bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan-perbuatan, dan oleh perbuatan-perbuatan iti iman menjadi sempurna ” (Yak 2:22.). Dan kemudian di ayat 24 James menyimpulkan lagi, “…Seorang manusia dibenarkan oleh perbuatannya dan bukan HANYA karena iman.”

Penentang: Saya harus mengakui bahwa saya belum pernah mendengar seorang Katolik memberikan penjelasan yang Anda berikan, tapi saya masih tidak yakin bahwa Gereja Katolik adalah tepat dalam hal ini.

KATOLIK: Nah, ini adalah poin yang sulit mengenai teologi dan interpretasi. Saya mendorong Anda untuk berdoa dan berpikir tentang pemahaman Katolik. Singkatnya, Gereja mengajarkan bahwa keselamatan adalah proses menjadi kudus dan suci melalui waktu. Semua ini adalah kasih karunia Allah di dalam hati kita melalui iman. Perbuatan dilakukan karena iman yang sungguh di dalam Kristus, seperti yang kita percaya dan melakukan perbuatan itu di dalam Tuhan, ia akan menanamkan dalam diri kita lebih rahmat agar kita dapat menjadi suci dan jadi siap untuk menemuinya di akhir hidup kita (baca Mat. 25:31-46).

Tuhan Mempunyai Skenario Besar di dalam Hidup Kita, Apa Itu?

0
Gambar ilustrasi oleh cocoparisienne / Pixabay

Tuhan mempunyai skenario besar atas hidup kita. Dia adalah sutradara terbaik di seluruh jagat raya ini. Ia merancang dan merencanakan sesuatu atas hidup kita. Bahkan, kita sendiri pun tidak tahu apa persis rancangan dan rencana Tuhan itu. Untuk bisa mengetahuinya, kita butuh discernment, yaitu kemampuan untuk mengenali apa yang Tuhan kehendaki.

Cepat atau lambat kita akan mengalami apa yang diskenariokan oleh Tuhan. Maka, jangan heran jika sewaktu-waktu kita mengalami apa yang tidak kita rencanakan; yang membuat kita terkadang bingung mengapa itu terjadi pada kita. Lalu, kita berkata: “Mungkin ini jalan Tuhan untuk saya”. Apa yang kita sebut sebagai ‘jalan Tuhan’, itulah skenario Tuhan atas hidup kita.

Jalan Tuhan itu indah. Itu pasti. Tuhan Yesus berkata, “Jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga” (Mat. 7:11). Tentulah Ia memberikan yang baik-baik kepada kita sebab Ia Mahabaik. Tuhan tidak mungkin merancang dan merencanakan yang buruk untuk kita. Hanya saja, sepanjang jalan itu kita berhadapan dengan bermacam-macam pemandangan lain di sekitar; semata-mata untuk menguji kita apakah kita tetap fokus pada tujuan kita atau tidak.

Jalan Tuhan itu lurus dan rata. Saking lurus dan ratanya membuat kita seringkali jenuh dan tidak sabar. Kita merasa bahwa jalan itu monoton, sehingga kita tergoda untuk membelok. Kita beralih ke jalan lain dengan alasan mencari variasi. Tanpa kita sadari bahwa ternyata jalan baru itu membuat kita kita nyasar, khilaf, dan berdosa.

Jalan Tuhan selalu mengarahkan kita pada ujung yang indah. Hanya saja karena kita belok arah, kita masuk ke jalan yang berliku-liku. Kita mengambil jalan lain dan tersesat. Kita pikir itu baik, nyatanya tidak. Apakah Tuhan menghakimi dan menghukum kita? Tidak.

Tuhan seperti seorang ayah dalam cerita ‘anak yang hilang’ yang menantikan kedatangan kita di ujung jalan. Ia memberi kita kesempatan kedua untuk berbalik arah, kembali ke jalur, dan bertobat. Ia juga mengirimkan kepada kita Roh Kudus sebagai penuntun dalam perjalanan.

Roh Kudus itu seperti Drone yang menuntun langkah kita, dan seperti GPS yang selalu berbisik kepada kita supaya kita tidak beralih ke jalan lain. Tinggal saja apakah kita mau mendengar dan mengikuti petunjuk Roh Kudus itu ataukah kita tetap ngotot untuk memilih jalan sendiri. Itu pilihan kita dan tergantung kita; sebab Tuhan tidak ingin kita menjadi seperti robot yang dikendalikan. Ia memberi kita kehendak bebas untuk bisa memilih dan menentukan sendiri mana yang mau kita ikuti.

Banyak orang jatuh ke jalan yang salah karena mereka menutup mata dan telinganya terhadap petunjuk yang diberikan oleh Roh Kudus. Melihat seperti tidak melihat, dan mendengar seperti tidak mendengar. Maka, memang, supaya tidak salah lagi, kita harus pandai membaca skenario Tuhan di dalam hidup kita. Tuhan tidak memaksa, tapi menawarkan. Barangkali kita mau menerimanya. Hal itu tergantung sejauh mana kita berbuka hati untuk menerima kehendak-Nya. Sudahkah Anda tahu apa yang Tuhan skenariokan dalam hidupmu? Mari merenung!

Retret Panggilan: Menjadi Berkat – Penyalur Rahmat Allah

0

Sejak dua hari yang lalu (19 Desember), saya berada di sini, Rumah Retret Putri Karmel, Wae Lengkas – Ruteng – Flores. Saya menemani 51 seminaris (calon imam) kelas XII dari Seminari Menengah St. Yohanes Paulus II (SYP II) – Labuan Bajo yang sedang mengikuti retret penegasan panggilan. Para seminaris ini sebentar lagi akan menyelesaikan formasi di seminari menengah dan melanjutkan formasi di seminari tinggi. Sebelum itu, mereka perlu dibantu menegaskan panggilannya, termasuk memilih diosesan atau ordo atau kongregasi tertentu tempat mereka melanjutkan formasi. Harapannya mereka memilih dengan bebas, tanpa paksaan/intimidasi pihak tertentu dan yang tak kalah penting adalah memilih dengan penuh sukacita. Karena itu, para seminaris diminta agar serius mengikuti retret panggilan ini.

Retret ini dipandu oleh Para Suster Putri Karmel. Saya sendiri bertugas memimpin Ekaristi, Adorasi dan hal-hal lain yang berhubungan dengan tugas imamat. Retret ini akan berakhir esok pagi, 22 Desember 2018.

Apa yang dialami oleh para seminaris di tempat ini? Mereka diminta membuka diri bagi tuntunan Roh Kudus. Keterbukaan ini membantu mereka untuk menyadari panggilan hidup yang sudah mulai dijalani selama ini. Kesadaran itu, antara lain, mereka semakin yakin bahwa Allahlah yang pertama-tama memanggil mereka untuk mulai mengambil bagian dalam karya-Nya mewartakan kabar sukacita bagi dunia. Prakarsa-inisiatif Allah ini telah mulai ditanggapi, sekurang-kurangnya ketika mereka mau dan bersedia dibina di seminari menengah selama hampir empat tahun. Jadi, panggilan yang sedang mereka jalani adalah kerja sama antara prakarsa-inisiatif Allah dan jawaban-tanggapan mereka (seminaris). Selain itu, para seminaris juga disadarkan bahwa hakikat panggilan mereka itu adalah menjadi berkat bagi yang lain, bukan kutuk; menjadi sumber sukacita bagi yang lain, bukan derita.

Hal ini bisa dihubungkan dengan panggilan Bunda Maria sebagaimana yang tertulis dalam Luk. 1:26-38 (Maria dipanggil Allah) & Luk. 1:39-45 (Visitasi Maria kepada Elisabet). Teks Luk. 1:26-38 sesungguhnya mengurai dengan cukup jelas bahwa panggilan untuk terlibat dalam karya keselamatan itu pertama-tama adalah inisiatif-prakarsa Allah. Melalui Gabriel, Allah memanggil Maria. Setelah berdialog cukup alot dan mendalam, akhirnya Maria menunjukkan ketaatan-Nya kepada rencana Allah. Maria menanggapi prakarsa Allah dengan penuh ketaatan iman, “Aku inilah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu itu!”

Serentak kita bisa katakan bahwa panggilan Maria adalah prakarsa Allah dan tanggapan positif penuh iman dari Maria. Lebih lanjut dalam teks Luk. 1:39-45, Bunda Maria memberikan kesaksian penting tentang hakikat panggilannya yakni menjadi berkat bagi yang lain, bukan kutuk; menjadi sumber sukacita, bukan duka. Betapa tidak, visitasinya membuat Elisabet bersukacita. Bahkan bayi yang sedang dikandungnya turut menari penuh sukacita. “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” Luapan-letupan sukacita Elisabet ini menggarisbawahi hakikat panggilan Maria yakni menjadi sumber berkat dan sukacita bagi orang lain, bukan sebaliknya.

Mengapa bunda Maria menjadi penyalur berkat dan sukacita bagi orang lain? Tentu saja karena Maria sangat taat pada kehendak Allah. Yang dilakukannya adalah kehendak Allah, bukan kehendaknya sendiri. Selain itu, Bunda Maria selalu ‘membawa’ Yesus ke manapun ia pergi. Ia bahkan tak hanya membawa Yesus dalam iman, tetapi juga dalam rahimnya.

Dengan demikian, para seminaris juga ditantang untuk seperti Maria: taat pada kehendak Allah dan ‘membawa’ Yesus ke mana saja mereka pergi dan diutus. Hal ini membuat para seminaris semakin sadar bahwa panggilan ini adalah kerja sama antara inisiatif Allah dan tanggapan-jawaban positif manusia (seminaris). Buah dari kerja sama ini adalah karya-kesaksian nyata: menjadi penyalur berkat dan sukacita bagi orang lain, bukan sebaliknya ***

(Renungan ini telah saya bagikan kepada para seminaris dalam homili pada Perayaan Ekaristi, kemarin & hari ini.)

Kunjungan Ibu Tuhan kepada Elisabet, Bukan Kunjungan Biasa – Renungan Harian

0
Gambar ilustrasi oleh photosforyou / Pixabay

Kunjungan Ibu Tuhan kepada Elisabet, Bukan Kunjungan Biasa: Renungan Harian Katolik, Jumat 21 Desember 2018 — JalaPress.com; Bacaan I: Kid. 2:8-14; Injil: Luk. 1:39-45

Segala sesuatunya berawal dari kunjungan Malaikat Gabriel kepada Maria. Malaikat Gabriel memberi tahu Maria bahwa dirinya akan melahirkan seorang anak laki-laki yang nantinya akan menjadi Mesias – anak Allah.  Mendengar kabar dari Malaikat Gabriel itu membuat Maria galau berat. Ia bingung. Ia tidak tahu dengan siapa ia harus membicarakan kabar itu? Dengan ibunya? Dengan keluarganya? Dengan teman-temannya? Semua itu tidak mungkin. Mereka pasti akan marah terhadap dia. Maka satu-satunya orang yang bisa mengerti keadaannya adalah Elisabet. Selain karena Elisabet adalah saudari sepupunya, alasan lain adalah karena Elisabet sedang mengandung sama seperti dirinya. Jadi, ada semacam perasaan senasib dan sepenanggungan.

Keputusan Maria ini mudah dipahami. Sebagai seorang remaja, ia tentu saja merasa takut. Lebih takut lagi karena ia harus hamil di luar nikah. Oleh karena itu, ia membutuhkan tempat untuk menenangkan diri, sekaligus butuh orang untuk curhat. Dengan demikian, Maria bertemu Elisabet bukan untuk arisan atau gosip seperti yang dilakukan oleh kebanyakan ibu-ibu zaman now, tetapi ia ke sana untuk curhat soal masalah pribadinya.

Apa yang dilakukan oleh Bunda Maria ini mengajarkan kepada kita bahwa kalau kita mempunyai masalah, jangan pernah membuat pelarian ke hal-hal yang negatif. Jangan juga menghabiskan energimu untuk mengeluh atau mulai menggembar-gembor masalahmu di media sosial. Kalau kamu galau karena ada masalah, carilah orang yang tepat untuk curhat.

***

Elisabet sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang mengetuk pintu rumahnya saat itu adalah Maria. Jika saja kejadiannya terjadi pada zaman ini, boleh jadi ceritanya akan berbeda. Sekarang biasanya sebelum bertemu, orang membuat janji terlebih dahulu lewat WA, SMS, atau telepon. Ketika Elisabet membuka pintu rumahnya, Maria menyalami Elisabet. Sapaan Maria ternyata memberi dampak yang kuat bagi Elisabet. Ia sangat gembira. Bahkan dikatakan bahwa anak yang ada di dalam rahimnya melonjak kegirangan.

Ini mengajarkan sesuatu bagi kita. Kita hidup bertetangga dan sudah pasti mau tidak mau kita akan saling bertemu satu dengan yang lain. Kalau kita bertemu dengan orang lain, bawalah damai bersama kita. Jangan bertemu dengan orang  sambil marah-marah. Biarkan orang lain merasa senang ketika bertemu dengan kita. Jangan sampai, ketika mereka tahu bahwa kita akan datang ke rumah mereka, mereka cepat-cepat menutup pintu rumah; sebab mereka tahu bahwa kita tukang marah.

***

Elisabet menyadari bahwa kali ini ada yang berbeda dari perjumpannya dengan Maria. Bukan hanya dirinya yang merasakan itu, tetapi juga bahkan anak yang ada di dalam rahimnya. Anak itu sampai melonjak kegirangan. Luar biasa! Hal itulah yang membuat dia yakin seyakin-yakinnya bahwa wanita yang ada di depannya, yang selama ini dikenalnya sebagai sepupunya itu, bukanlah wanita sembarangan. Ia wanita pilihan, Ibu Tuhan. Oleh sebab itu, tanpa ragu Elisabet pun berkata: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk. 1:43).

Maria disebut oleh Elisabet sebagai Ibu Tuhan. Perkataan Elisabet ini harus memberi dampak bagi kita. Jika ibu kita masing-masing kita hormati, apalagi Ibu Tuhan. Itulah sebabnya Bunda Maria mempunyai tempat yang sangat istimewa di dalam Gereja Katolik. Ia adalah Ibu Tuhan yang harus kita hormati sepanjang hidup kita.

Kita menghormati Bunda Maria karena jawaban ‘YA’-nya terhadap tawaran Allah. Maria membiarkan rahimnya dipakai oleh Allah sebagai tempat saluran bagi Allah untuk masuk ke dalam kehidupan manusia. Bukankah itu sesuatu yang luar biasa? Itulah Maria, wanita luar biasa, yang oleh Elisabet disebut sebagai ‘wanita yang terberkati di antara semua perempuan’ (bdk. Luk. 1:42).

Mari, dalam persiapan Natal ini, kita berusaha meniru keteladanan Bunda Maria untuk berani mengatakan ‘YA’ terhadap apapun kehendak Tuhan di dalam hidup kita sehari-hari. Biarkanlah diri kita menjadi saluran berkat bagi banyak orang di sekitar kita. Amin.

Permintaan Maaf Sultan, Menuai Banyak Tafsir

0
Wahai Sultan, mengapa anda yang minta maaf, apakah mereka itu suruhan anda? Mengapa bukan pemotong salib yang minta maaf atau ditindak secara hukum?. Saya rasa Sultan itu memiliki kekuasaan di wilayah itu. Kalau Sultan minta maaf sudah pasti dimaafkan, tetapi mohon ditindak. Jangan sampai kami mempunyai pandangan lain, bahwa Sultan melindungi kelompok intoleran dengan cara minta maaf.
 
Saya merasa kecewa membaca berita dari berbagai media yang berisi permintaan maaf Sultan. Seperti saya katakan di awal, apakah Sultan ikut ambil bagian dalam peristiwa ini, sehingga meminta maaf. Logikanya yang melakukan adalah kelompok intoleran, sudah tentu mereka yang harus minta maaf dan bukan Sultan. Tindakan Sultan yang meminta maaf dapat berakibat multi tafsir. Harapan saya, mohon tuan Sultan menindak kelompok intoleran di wilayah kekuasannya. Tidak cukup dan sangat tidak cukup dengan kata ‘maaf’ apalagi dari Sultan.
 
Tuan Sultan yang terhormat, daerah anda termasuk Daerah Istimewa. Seharusnya tugas tuan untuk mengembalikan keistimewaan itu, dengan menegakkan keadilan terhadap setiap anak bangsa, apapun agamanya. Tentu Sultan tahu betul Indonesia memiliki hukum, memiliki aturan, memiliki UUD 1945 yang harus dijunjung tinggi oleh siapapun terutama dalam kaitan dengan kebebasan beragama. Oleh sebab itu, saya menyimpulkan permintaan maaf Sultan tidaklah tepat. Malahan ini seolah menjadi tameng bagi kelompok Intoleran.
 
Salam

Sejarah Pohon Natal: Mengapa Hari Natal Identik dengan Pohon Cemara?

0
Dalam rangka menyambut Natal 2019, Pemprov DKI Jakarta bekerja sama dengan Keuskupan Agung Jakarta membangun pohon Natal raksasa.

Kisah Pohon Natal merupakan bagian dari riwayat hidup St. Bonifasius, yang nama aslinya adalah Winfrid.

[postingan number=3 tag= ‘natal’]

St. Bonifasius dilahirkan sekitar tahun 680 di Devonshire, Inggris. Pada usia lima tahun, ia ingin menjadi seorang biarawan; ia masuk sekolah biara dekat Exeter dua tahun kemudian. Pada usia empat belas tahun, ia masuk biara di Nursling dalam wilayah Keuskupan Winchester. St. Bonifasius seorang yang giat belajar, murid abas biara yang berpengetahuan luas, Winbert. Kelak, Bonifasius menjadi pimpinan sekolah tersebut.

Pada waktu itu, sebagian besar penduduk Eropa utara dan tengah masih belum mendengar tentang Kabar Gembira. St. Bonifasius memutuskan untuk menjadi seorang misionaris bagi mereka. Setelah satu perjuangan singkat, ia mohon persetujuan resmi dari Paus St. Gregorius II. Bapa Suci menugaskannya untuk mewartakan Injil kepada orang-orang Jerman. (Juga pada waktu itu St. Bonifasius mengubah namanya dari Winfrid menjadi Bonifasius).

St. Bonifasius menjelajah Jerman melalui pegunungan Alpen hingga ke Bavaria dan kemudian ke Hesse dan Thuringia. Pada tahun 722, paus mentahbiskan St. Bonifasius sebagai uskup dengan wewenang meliputi seluruh Jerman. Ia tahu bahwa tantangannya yang terbesar adalah melenyapkan takhayul kafir yang menghambat diterimanya Injil dan bertobatnya penduduk. Dikenal sebagai “Rasul Jerman”, St. Bonifasius terus mewartakan Injil hingga ia wafat sebagai martir pada tahun 754. Marilah kita memulai cerita kita tentang Pohon Natal.

Dengan rombongan pengikutnya yang setia, St. Bonifasius sedang melintasi hutan dengan menyusuri suatu jalan setapak Romawi kuno pada suatu Malam Natal. Salju menyelimuti permukaan tanah dan menghapus jejak-jejak kaki mereka. Mereka dapat melihat napas mereka dalam udara yang dingin menggigit.

Meskipun beberapa di antara mereka mengusulkan agar mereka segera berkemah malam itu, St. Bonifasius mendorong mereka untuk terus maju dengan berkata, “Ayo, saudara-saudara, majulah sedikit lagi. Sinar rembulan menerangi kita sekarang ini dan jalan setapak enak dilalui. Aku tahu bahwa kalian capai; dan hatiku sendiri pun rindu akan kampung halaman di Inggris, di mana orang-orang yang aku kasihi sedang merayakan Malam Natal. Oh, andai saja aku dapat melarikan diri dari lautan Jerman yang liar dan berbadai ganas ini ke dalam pelukan tanah airku yang aman dan damai! Tetapi, kita punya tugas yang harus kita lakukan sebelum kita berpesta malam ini. Sebab sekarang inilah Malam Natal, dan orang-orang kafir di hutan ini sedang berkumpul dekat pohon Oak Geismar untuk memuja dewa mereka, Thor; hal-hal serta perbuatan-perbuatan aneh akan terjadi di sana, yang menjadikan jiwa mereka hitam. Tetapi, kita diutus untuk menerangi kegelapan mereka; kita akan mengajarkan kepada saudara-saudara kita itu untuk merayakan Natal bersama kita karena mereka belum mengenalnya. Ayo, maju terus, dalam nama Tuhan!”

Mereka pun terus melangkah maju dengan dikobarkan kata-kata semangat St. Bonifasius. Sejenak kemudian, jalan mengarah ke daerah terbuka. Mereka melihat rumah-rumah, namun tampak gelap dan kosong. Tak seorang pun kelihatan. Hanya suara gonggongan anjing dan ringkikan kuda sesekali memecah keheningan. Mereka berjalan terus dan tiba di suatu tanah lapang di tengah hutan, dan di sana tampaklah pohon Oak Kilat Geismar yang keramat. “Di sini,” St. Bonifasius berseru sembari mengacungkan tongkat uskup berlambang salib di atasnya, “di sinilah pohon oak Kilat; dan di sinilah salib Kistus akan mematahkan palu sang dewa kafir Thor.”

Di depan pohon oak itu ada api unggun yang sangat besar. Percikan-percikan apinya menari-nari di udara. Warga desa mengelilingi api unggun menghadap ke pohon keramat. St. Bonifasius menyela pertemuan mereka, “Salam, wahai putera-putera hutan! Seorang asing mohon kehangatan api unggunmu di malam yang dingin.” Sementara St. Bonifasius dan para pengikutnya mendekati api unggun, mata orang-orang desa menatap orang-orang asing ini. St. Bonifasius melanjutkan, “Aku saudaramu, saudara bangsa German, berasal dari Wessex, di seberang laut. Aku datang untuk menyampaikan salam dari negeriku, dan menyampaikan pesan dari Bapa-Semua, yang aku layani.”

Hunrad, pendeta tua dewa Thor, menyambut St. Bonifasius beserta para pengikutnya. Hunrad kemudian berkata kepada mereka, “Berdirilah di sini, saudara-saudara, dan lihatlah apa yang membuat dewa-dewa mengumpulkan kita di sini! Malam ini adalah malam kematian dewa matahari, Baldur yang Menawan, yang dikasihi para dewa dan manusia. Malam ini adalah malam kegelapan dan kekuasaan musim dingin, malam kurban dan kengerian besar. Malam ini Thor yang agung, dewa kilat dan perang, kepada siapa pohon oak ini dikeramatkan, sedang berduka karena kematian Baldur, dan ia marah kepada orang-orang ini sebab mereka telah melalaikan pemujaan kepadanya. Telah lama berlalu sejak sesaji dipersembahkan di atas altarnya, telah lama sejak akar-akar pohonnya yang keramat disiram dengan darah. Sebab itu daun-daunnya layu sebelum waktunya dan dahan-dahannya meranggas hingga hampir mati. Sebab itu, bangsa-bangsa Slav dan Saxon telah mengalahkan kita dalam pertempuran. Sebab itu, panenan telah gagal, dan gerombolan serigala memporak-porandakan kawanan ternak, kekuatan telah menjauhi busur panah, gagang-gagang tombak menjadi patah, dan babi hutan membinasakan pemburu. Sebab itu, wabah telah menyebar di rumah-rumah tinggal kalian, dan jumlah mereka yang tewas jauh lebih banyak daripada mereka yang hidup di seluruh dusun-dusunmu. Jawablah aku, hai kalian, tidakkah apa yang kukatakan ini benar?” Orang banyak menggumamkan persetujuan mereka dan mereka mulai memanjatkan puji-pujian kepada Thor.

Ketika suara-suara itu telah reda, Hunrad mengumumkan, “Tak satu pun dari hal-hal ini yang menyenangkan dewa. Semakin berharga persembahan yang akan menghapuskan dosa-dosa kalian, semakin berharga embun merah yang akan memberi hidup baru bagi pohon darah yang keramat ini. Thor menghendaki persembahan kalian yang paling berharga dan mulia.”
Dengan itu, Hunrad menghampiri anak-anak, yang dikelompokkan tersendiri di sekeliling api unggun. Ia memilih seorang anak laki-laki yang paling elok, Asulf, putera Duke Alvold dan isterinya, Thekla, lalu memaklumkan bahwa anak itu akan dikurbankan untuk pergi ke Valhalla guna menyampaikan pesan rakyat kepada Thor. Orang tua Asulf terguncang hebat. Tetapi, tak seorang pun berani berbicara.

Hunrad menggiring anak itu ke sebuah altar batu yang besar antara pohon oak dan api unggun. Ia mengenakan penutup mata pada anak itu dan menyuruhnya berlutut dan meletakkan kepalanya di atas altar batu. Orang-orang bergerak mendekat, dan St. Bonifasius menempatkan dirinya dekat sang pendeta. Hunrad kemudian mengangkat tinggi-tinggi palu dewa Thor keramat miliknya yang terbuat dari batu hitam, siap meremukkan batok kepala Asulf yang kecil dengannya. Sementara palu dihujamkan, St. Bonifasius menangkis palu itu dengan tongkat uskupnya sehingga palu terlepas dari tangan Hunrad dan patah menjadi dua saat menghantam altar batu. Suara decak kagum dan sukacita membahana di udara. Thekla lari menjemput puteranya yang telah diselamatkan dari kurban berdarah itu lalu memeluknya erat-erat.

St. Bonifasius, dengan wajahnya bersinar, berbicara kepada orang banyak, “Dengarlah, wahai putera-putera hutan! Tidak akan ada darah mengalir malam ini. Sebab, malam ini adalah malam kelahiran Kristus, Putera Bapa Semua, Juruselamat umat manusia. Ia lebih elok dari Baldur yang Menawan, lebih agung dari Odin yang Bijaksana, lebih berbelas kasihan dari Freya yang Baik. Sebab Ia datang, kurban disudahi. Thor, si Gelap, yang kepadanya kalian berseru dengan sia-sia, sudah mati. Jauh dalam bayang-bayang Niffelheim ia telah hilang untuk selama-lamanya. Dan sekarang, pada malam Kristus ini, kalian akan memulai hidup baru. Pohon darah ini tidak akan menghantui tanah kalian lagi. Dalam nama Tuhan, aku akan memusnahkannya.” St. Bonifasius kemudian mengeluarkan kapaknya yang lebar dan mulai menebas pohon. Tiba-tiba terasa suatu hembusan angin yang dahsyat dan pohon itu tumbang dengan akar-akarnya tercabut dari tanah dan terbelah menjadi empat bagian.

Di balik pohon oak raksasa itu, berdirilah sebatang pohon cemara muda, bagaikan puncak menara gereja yang menunjuk ke surga. St. Bonifasius kembali berbicara kepada warga desa, “Pohon kecil ini, pohon muda hutan, akan menjadi pohon kudus kalian mulai malam ini. Pohon ini adalah pohon damai, sebab rumah-rumah kalian dibangun dari kayu cemara. Pohon ini adalah lambang kehidupan abadi, sebab daun-daunnya senantiasa hijau. Lihatlah, bagaimana daun-daun itu menunjuk ke langit, ke surga. Biarlah pohon ini dinamakan pohon kanak-kanak Yesus; berkumpullah di sekelilingnya, bukan di tengah hutan yang liar, melainkan dalam rumah kalian sendiri; di sana ia akan dibanjiri, bukan oleh persembahan darah yang tercurah, melainkan persembahan-persembahan cinta dan kasih.”

Maka, mereka mengambil pohon cemara itu dan membawanya ke desa. Duke Alvold menempatkan pohon di tengah-tengah rumahnya yang besar. Mereka memasang lilin-lilin di dahan-dahannya, dan pohon itu tampak bagaikan dipenuhi bintang-bintang. Lalu, St. Bonifasius, dengan Hundrad duduk di bawah kakinya, menceritakan kisah Betlehem, Bayi Yesus di palungan, para gembala, dan para malaikat. Semuanya mendengarkan dengan takjub. Si kecil Asulf, duduk di pangkuan ibunya, berkata, “Mama, dengarlah, aku mendengar para malaikat itu bernyanyi dari balik pohon.” Sebagian orang percaya apa yang dikatakannya benar; sebagian lainnya mengatakan bahwa itulah suara nyanyian yang dimadahkan oleh para pengikut St. Bonifasius, “Kemuliaan bagi Allah di tempat mahatinggi, dan damai di bumi; rahmat dan berkat mengalir dari surga kepada manusia mulai dari sekarang sampai selama-lamanya.”

Sumber: http://katolisitas-indonesia.blogspot.co.id/…/kisah-pohon-n…

Siapakah Sinterklas itu?

0
PublicDomainPictures / Pixabay

oleh: Romo William P. Saunders *

Apakah Sinterklas sungguh ada?
~ seorang siswa kelas tiga di Arlington

Ya, Sinterklas sungguh ada. Tetapi, kita lebih mengenalnya sebagai St Nikolaus. Sayangnya, kita hanya mempunyai sedikit saja bukti sejarah mengenai santo yang populer ini. Menurut tradisi, St Nikolaus dilahirkan di Patara di Lycia, sebuah propinsi di Asia Kecil, dalam sebuah keluarga Kristiani yang kaya raya; ia beruntung mendapatkan pendidikan Kristiani yang kuat. Sebagian mengatakan bahwa pada usia lima tahun ia mulai belajar ajaran-ajaran Gereja. Ia senantiasa berusaha mengamalkan kebajikan dan belas kasihan.

Kedua orangtua St Nikolaus meninggal dunia ketika ia masih muda dan meninggalkan harta warisan yang besar, yang dipergunakannya untuk melakukan banyak perbuatan baik. Suatu kisahnya yang terkenal bercerita mengenai seorang duda yang mempunyai tiga anak gadis. Sang ayah hendak menjual anak-anak perempuannya itu ke pelacuran sebab ia tak mampu menyediakan mas kawin yang dibutuhkan bagi perkawinan mereka. St Nikolaus mendengar nasib buruk yang menimpa ketiga anak gadis ini dan memutuskan untuk menolong. Dalam kegelapan malam, ia pergi ke rumah mereka dan melemparkan sekantong emas melalui sebuah jendela yang terbuka di rumah sang duda, dengan demikian menyediakan uang yang diperlukan untuk mas kawin yang layak bagi anak gadis tertua. Berturut-turut dua malam berikutnya, St Nikolaus melakukan hal yang sama; kemurahan hatinya menyelamatkan ketiga gadis tersebut dari nasib malang.

Reputasi St Nikolaus sebagai seorang yang kudus tersebar luas. Ketika Bapa Uskup wafat, St Nikolaus dipilih untuk menggantikannya sebagai Uskup Myra. Beberapa catatan sependapat bahwa St Nikolaus menderita dipenjarakan dan dianiaya demi iman dalam masa penganiayaan Kaisar Diocletian sekitar tahun 300. Beberapa sumber menegaskan bahwa setelah disahkannya kekristenan, ia hadir dalam Konsili Nicea (tahun 325) dan ikut serta dalam mengutuk bidaah Arianisme yang menyangkal keallahan Kristus. Kisah selanjutnya menceritakan bagaimana St Nikolaus ikut campur tangan demi membebaskan tiga orang tak bersalah yang dijatuhi hukuman mati oleh seorang gubernur yang korup bernama Eustathius, yang ditentang oleh St Nikolaus dan digerakkan pada pertobatan. St Nikolaus wafat pada abad keempat antara tahun 345 dan 352 pada tanggal 6 Desember, dan dimakamkan di katedralnya.

St Nikolaus telah senantiasa dihormati sebagai seorang santo besar. Pada abad keenam, Kaisar Yustinian I mendirikan sebuah gereja demi menghormati St Nikolaus di Konstantinopel, dan St Yohanes Krisostomus memasukkan namanya dalam liturgi. Pada abad kesepuluh, seorang penulis anonim Yunani menulis, “Baik Barat maupun Timur memuji dan memuliakan dia. Di manapun orang berada, di desa dan di kota, di dusun dan di pulau-pulau, di belahan-belahan bumi yang paling jauh sekalipun, namanya dihormati dan gereja-gereja didirikan demi menghormatinya. Segenap umat Kristiani, tua dan muda, laki-laki dan perempuan, pula anak-anak, menghormati kenangan akan dia dan berseru mohon perlindungannya.”

Setelah Seljuk Moslem yang fanatik menyerbu Asia Kecil dan dengan keji menganiaya kekristenan, tubuh St Nikolaus diselamatkan oleh para saudagar Italia dari pencemaran pada tahun 1087 dan dimakamkan kembali di sebuah gereja baru di Bari, Italia. Paus Urbanus II, seorang pembela iman yang gigih dan seorang penganjur perang salib, memberkati makam baru tersebut dengan upacara meriah. Sejak saat itu, devosi kepada St Nikolaus meningkat di seluruh wilayah Barat. Sebagai misal, lebih dari 400 gereja di Inggris didedikasikan kepadanya. Beberapa waktu lamanya dalam Abad Pertengahan, makamnya menjadi tempat ziarah yang paling banyak dikunjungi para peziarah dari seluruh Eropa. Yang menarik, karena aroma dupa yang tercium di sekitar makamnya, segera saja ia dikenal sebagai santo pelindung dari para pengusaha wangi-wangian.

Menurut tradisi, St Nikolaus dihubungkan dengan pemberian hadiah-hadiah pada masa Natal, karena kisahnya mengenai duda dengan tiga anak gadisnya itu. Di Belanda, di mana tampaknya kebiasaan ini berasal, St Nikolaus (atau Sint Klaas atau Santa Claus) akan datang pada malam menjelang pestanya (6 Desember) dengan membawa berbagai macam hadiah untuk anak-anak yang manis; seringkali dengan mengisikannya pada sepatu-sepatu kayu mereka. Banyak hiasan-hiasan Natal dari Belanda maupun Jerman menggambarkan St Nikolaus mengenakan pakaian uskup dengan mitra dan tongkat uskup di tangannya, dengan disertai seorang malaikat penolong yang membawa daftar nama anak-anak yang baik.

Devosi kepada St Nikolaus diselewengkan oleh kaum Protestan Belanda, yang ingin menghapus “ke-Katolik-an” St Nikolaus. Mereka menanggalkan tanda wewenang uskupnya, dan menjadikannya lebih menyerupai seorang Bapa Natal dari Eropa berbaju merah. Mereka juga mengaitkannya dengan beberapa legenda seputar dewa Thor yang mengendarai sebuah kereta dan yang datang mengunjungi rumah melalui cerobong asap.

Pada abad ke-19, para penulis Amerika juga berperan serta dalam menghapuskan gambaran St Nikolaus sebagai seorang uskup. Pada tahun 1820, Washington Irving menulis sebuah kisah mengenai Santa Claus yang terbang dalam sebuah kereta untuk membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak. Tiga tahun kemudian, Clement Moore menulis Sebuah Kunjungan dari St Nikolaus (yang lebih dikenal sebagai Malam Sebelum Natal, menggambarkan Santa Claus sebagai seorang “kurcaci tua jenaka” dengan perut gendut bagai tong, pipi merah bagai mawar, dan hidung bagai buah ceri. Pada tahun 1882, Thomas Nast melukis gambar Santa Claus berdasarkan gambaran yang diberikan Moore dan bahkan menambahkan North Pole sebagai tempat kediamannya. Dan akhirnya, Haddom Sundblom, seorang seniman iklan dari Coca-Cola mengubah sosok Santa Claus menjadi seorang tokoh berpakaian merah, berbadan besar, dan bahkan gemar minum cola, seperti yang dengan mudah kita bayangkan dalam pikiran kita sekarang ini.

Jadi, apakah Sinterklas atau Santa Claus sungguh ada? Saya ingat suatu ketika saya membaca tanggapan editor The New York Sun pada tahun 1897 atas pertanyaan yang sama yang diajukan seorang anak perempuan berumur 8 tahun bernama Virginia. Sebagian dari jawaban tersebut, yang masih relevan hingga kini, adalah, “Ya, Virginia, Santa Claus sungguh ada. Ia ada, senyata cinta kasih dan kemurahan hati dan devosi ada, dan kau tahu bahwa semuanya itu ada dengan berlimpah-limpah dan mengisi hidupmu dengan kebahagiaan dan sukacita yang paling luar biasa. Sungguh malang! Betapa suramnya dunia ini andai tidak ada Santa Claus! Pastilah akan sesuram andai tidak ada Virginia-Virginia. Sebab, jika demikian tidak akan ada iman yang kekanak-kanakan, tidak akan ada gubahan sajak, tidak akan ada romantisme yang membuat hidup ini tertahankan. Kita tidak akan menikmati kegembiraan, kecuali dalam apa yang dipikir dan dilihat. Cahaya abadi dengan mana masa kanak-kanak mengisi dunia akan lenyap. … Tak seorang pun pernah melihat Santa Claus, tetapi itu bukan berarti bahwa Santa Claus tidak ada. Hal-hal yang paling nyata di dunia adalah hal-hal yang tak dapat dilihat baik oleh anak-anak maupun orang-orang dewasa. … Terima kasih Tuhan! Santa Claus ada, dan ia akan ada untuk selama-lamanya.”

Bagi saya, pernyataan di atas merupakan suatu kesaksian yang cukup bagus mengenai St Nikolaus dan sukacita yang ia datangkan ke dalam perayaan Natal kita. Kiranya St Nikolaus mengilhami kita dengan doa-doanya dan teladan hidupnya agar kita dapat merayakan Natal dengan penuh iman.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.

sumber : “Straight Answers: Is There a Santa Claus?” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2002 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com

Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

http://yesaya.indocell.net/id1089.htm