5.6 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 76

Enam Fakta Terkait Penembakan Romo Cosmas Omboto Ondari

0

Ada enam fakta terkait Romo Cosmas Omboto Ondari yang ditembak mati di depan gereja. Ia seorang imam dari komunitas Misionaris Mill Hill. Kisah penembakkan terhadap Romo tentu saja berita duka bagi kita terutama umat Katolik. Namun, sebagai seorang Katolik kita diharapkan untuk mendoakan Romo, semoga diterima bersama Para Kudus. Selain itu, kisah yang menimpanya menjadi sebuah kesaksian dan meneguhkan iman kita akan Kristus.

Berikut enam fakta yang terungkap tentang kematian Romo Cosmas Omboto Ondari:

  1. Ia ditembak di depan gereja

Romo Ondari ditembak di depan Gereja St. Martin Tours, Paroki Kembong, Kamerun Barat Daya, tempat ia bertugas. Bahkan bekas darahnya masih terlihat di depan pintu gereja.

  1. Uskup datang untuk meninjau lokasi pembunuhan

Uskup Keuskupan Mamfe, Mgr Andrew Nkea Fuanya datang untuk meninjau lokasi penembakan. Pada hari Minggu kemarin, seperti dikutip dari Cruxnow.com, (28/11/2018), Mgr Nkea mengeluarkan pernyataan yang cukup keras. Ia mengatakan bahwa ia menemukan 21 lubang peluru di pintu gereja dan darah imam yang dibunuh masih jelas terlihat tepat di pintu masuk gereja. “Mereka benar-benar menembaki Gereja,” tegas Mgr Nkea.

  1. Saling tuding

Mgr. Nkea menduga Romo Ondari ditembak oleh pasukan militer. “Romo Ondari dibunuh secara brutal dan ceroboh,” kata dia. Namun pemerintah Kamerun membantah kalau penembakan itu dilakukan oleh militer. Menteri Pertahanan Kamerun, Joseph Beti Assomo mengklaim bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh kelompok separatis yang sudah menjadi lawan pasukan pemerintah selama tiga tahun terakhir.

  1. Berasal dari Kenya

Romo Ondari berasal dari Kenya, sebuah negara yang berada di kawasan Afrika Timur. Ia baru mulai bertugas di gereja St. Martin pada bulan Maret 2017. Gereja tersebut berada di wilayah konflik sehingga sangat rentan terhadap serangan, dari militer atau pasukan separatis.

  1. Misionaris asing ketiga yang terbunuh

Romo Ondari adalah misionaris asing ketiga yang tewas di daerah konflik, yang terjadi di Wilayah Barat Laut dan Barat Daya Kamerun.

  1. Kasus Urgen untuk Segera untuk diselidiki

Empat hari setelah peristiwa penembakan Romo Ondari, Pemerintah Kamerun menetapkan kasus pembunuhan tersebut sebagai kasus urgen untuk diselidiki. Mgr Nkea mendesak pemerintah Kamerun untuk segera mengusut tuntas kasus penembakan ini dan menghukum para pelakunya.

Semoga peristiwa ini meneguhkan iman kita. Mari kita saling mendoakan. Salam.

Editor: Silvester Detianus Gea

 

Pastor Athanasius Kircher, SJ Penemu Toa

0

Pastor Athanasius Kircher, SJ adalah imam Katolik dan ilmuwan yang lahir di kota Geisa – Jerman pada 02 Mei 1602.

Pastor Athanasius Kircher, SJ, adalah ilmuwan yang ahli di bidang:
– Filsafat dan Teologi
– Humanisme
– Kedokteran
– Geologi
– Sinologi
– Ilmu Orientalisme
– Penerjemah Hieroglif – oleh karenanya beliau dijuluki sebagai bapak pendiri Egiptologi.

Ia merupakan orang pertama yang menyelidiki mikroba menggunakan mikroskop. Selain itu ia termasuk salah satu yang meneliti dan berpendapat bahwa, suatu wabah disebabkan oleh mikrorganisme dan menyarankan pengawasan yang efektif untuk mencegah penyebaran suatu penyakit.

Pastor Athanasius Kircher, SJ, juga menunjukkan ketertarikannya pada ilmu teknik dan penemuan-penemuan alat-alat mekanis. Salah satu penemuannya adalah jam magnet, berbagai macam automaton dan berhasil mempublikasikan berbagai karyanya sekitar 40 jenis karya tulisan.

TOA kini lebih dikenal sebagai sebuah perusahaan Jepang perangkat teknologi komunikasi yang berkantor pusat di Minatojima – Nakamachi, yang berproduksi di bidang sound system seperti pengeras suara speaker bercorong alias megafon. Pendiri perusahaan TOA ini didirikan oleh Tsunetaro Nakatani pada tahun 1934 dengan nama TOA Electronic Manufacturing Company yang memproduksi pengeras suara dalam bentuk corong speaker atau megafon dan termasuk juga mikrofon. Dalam sejarahnya, memang produksi TOA berkembang dari negara Jepang namun penemu pertama TOA dalam bentuk speaker bercorong diciptakan pertama kali oleh Pastor Athanasius Kircher, SJ.

Speaker pengeras suara bercorong alias megafon yang orang Indonesia kerap menyebut sebagai TOA yang diciptakan pertama kali oleh pastor Athanasius Kircher, SJ ini adalah upaya beliau untuk menghasilkan suara yang lebih jelas dan keras di dengar umat saat ia memberikan kotbah atau ceramah kepada orang banyak di suatu ret-ret. Kini, TOA sudah banyak digunakan di tempat-tempat umum untuk memudahkan aktivitas kejelasan suara kita seperti: Di rumah sakit, stasiun, bandara, mall, sekolah, di masjid-masjid digunakan untuk adzan, pengajian, berorasi, bernyanyi, dan lain-lain.

Ia meninggal dunia pada tanggal 27 November  1680 di kota Roma – Vatikan.

 

Sumber: Thomas Woods. 2005. Bagaimana Gereja Katolik Membangun Peradaban Barat. Washington, DC: Rogenery. ISBN: 0-89526-038-7.

Editor: Silvester Detianus Gea

Seorang Pastor Ditembak Mati Oleh Militer Pemerintah

0

Pastor Cosmas Ombato Ondari terbunuh pekan lalu, (21/11/2018). Ia ditembak oleh pasukan militer di Kamerun, Afrika. Pastor yang bertugas selama setahun itu, ditembak oleh pasukan pemerintah di Mamfe, sebuah kota yang terletak di barat daya Kamerun. Pastor Cosmas memulai tugas perutusannya di Kamerun menjelang pertengahan tahun 2017 lalu. Namun, ia terlebih dahulu berpulang karena terkena tembakan militer Kamerun. Peristiwa tersebut menambah daftar panjang imam dan birawan/biarawati yang dibunuh oleh oknum tertentu. Meningkatnya korban dari kalangan para pastor dan biarawan-biarawati tersebut disebabkan oleh pertikaian politik yang masih memanas di negara itu beberapa tahun terakhir. Banyak warga sipil yang menjadi korban karena konflik politik tersebut. Sejak 2017, gerilyawan Kamerun berjuang mati-matian untuk memisahkan wilayah berbahasa Inggris, dari wilayahnya yang berbahasa Prancis. Para pejuang menyatakan pada bulan Oktober 2017, telah terjadi kemerdekaan sebuah negara baru yang mereka beri nama ‘Ambazonia.’

Konflik yang sudah berlangsung sekitar tiga tahun ini telah memakan korban jiwa hingga ratusan orang di antara kedua belah pihak. Sementara itu, 300.000 pengungsi menuju Nigeria. Ada lebih dari 80.000 pengungsi internal di Kamerun. Ketegangan politik antara pasukan pemerintah Kamerun dengan pemberontak terus memanas akhir-akhir ini. Pasukan pemerintah berusaha menekan kelompok yang selama ini menuntut untuk merdeka dari Kamerun. Sebelumnya, Pastor Alexander Sob Nougi juga tewas pada tanggal 20 Juli 2018 di provinsi yang sama, tepat ditempat Pastor Ondari ditembak. Pastor Nougi ditembak dari jarak dekat, dalam serangan yang menurut para pejabat Gereja adalah pembunuhan yang direncanakan. Selain itu, pada bulan Oktober, seorang seminaris berusia 19 tahun tewas di provinsi tetangga. Sementara itu, pada awal bulan November, sekelompok suster diculik oleh gerilyawan di barat laut negara itu, dan dibebaskan keesokan harinya.

Gereja Katolik Kamerun menilai bahwa Pemerintah Kamerun masih gagal memberikan perlindungan bagi para pastor, bruder, suster, dan calon pastor di Kamerun. Kritik Gereja Katolik ini terkait kasus kematian Mgr Jean Marie Benoît Bala dari Bafia, Kamerun, pada tanggal 30 Mei 2917. Hingga kini,  tidak jelas siapa pembunuhnya. Konferensi para Uskup di Kamerun menyatakan uskup itu dibunuh, bukan bunuh diri. oleh sebab itu, pemerintah gagal menyelidiki kejahatan tersebut hingga menemukan motif di balik pembunuhan tersebut.

Editor: Silvester Detianus Gea

Sumber: CNA

Mgr. Adrianus Sunarko, OFM Diangkat Menjadi Profesor Teologi

0

Gereja Katolik Indonesia turut bergembira atas pengangkatan Mgr. Adrianus Sunarko, Lic. Theol sebagai Profesor dalam bidang Ilmu Teologi. Seperti diketahui, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek-Dikti) melalui Surat Penetapan Kenaikan Jabatan Akademik/Fungsional Dosen nomor 49862/A2.3/KP/2018 yang dikeluarkan pada tanggal 1 November 2018 menyatakan bahwa Mgr. Adrianus Sunarko, Lic. Theol telah memenuhi syarat untuk diberikan kenaikan jabatan. Doktor lulusan S3 dari Universitas Albert Ludwig, Freiburg, Jerman tersebut memperoleh angka kredit sebesar 851,50 dari 850 yang disyaratkan dengan unit kerja Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

Jabatan Profesor diperoleh setelah dosen melalui tahap pencapaian angka kredit yang ditentukan sesuai nilai kum yang diperoleh secara berjenjang dari jabatan funsional akademik Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala dan Profesor/Guru Besar dengan nilai kum minimal 850. Keputusan Kemenristek-Dikti tersebut ditanda-tangani oleh Mohamad Nasir selaku Menristek Dikti. Adapun penetapan jabatan profesor itu berlaku mulai 1 September 2018.

Mgr. Adrianus Sunarko, Lic. Theol adalah Uskup Pangkal Pinang yang baru diangkat oleh Takhta Suci pada tanggal 28 Juni 2017. Pria kelahiran Merauke, Papua pada tanggal 7 Desember 1966 merupakan Uskup ketiga yang memperoleh gelar Profesor setelah Mgr. Prof. Dr. Ignatius Suharyo Hardjoatmojo, Pr dan Mgr. Prof. Dr. Hendrikus Pidyarto Gunawan, O. Carm.

Editor: Silvester Detianus Gea

Benarkah Gereja Katolik Menambah Kitab Deuterokanonika dalam Kitab Suci?

0

Sekte Kristen non-Katolik sering kali menuduh bahwa Gereja Katolik menambah Kitab Deuterokanonika dalam Kitab Suci. Namun tuduhan semacam itu justru menunjukkan ketidaktahuan penuduh akan sejarah Kitab Suci. Meskipun demikian sebagian umat kesulitan untuk menjawab para penuduh. Pada kesempatan ini tim jalapress mencoba menjelaskan secara sederhana jawaban untuk para penuduh.

Perlu kita ketahui bahwa Allah Tritunggal Maha Kudus tidak pernah menyerahkan Kitab Suci secara langsung dan lengkap kepada para nabi dan para rasul. Kitab Suci yang kita miliki saat ini merupakan tulisan para penulis yang diilhami oleh Roh Kudus melalui sejarah keselamatan selama berabad-abad. Kitab Deuterokanonika adalah  bagian dari Perjanjian Lama. Septuagint yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani pada tahun 250-125  BC/Sebelum Kristus memuat Kitab-Kitab Deuterokanonika. Oleh sebab itu, Kitab Suci Katolik edisi bahasa Inggris menyatukan Deuterokanonika sebagai bagian Perjanjian Lama. Sementara itu, edisi Indonesia yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia memberi catatan “Deuterokanonika”  sebagai pemisah.

Perjanjian Lama sendiri kemungkinan ditulis antara tahun 1000-100 SM. Kitab Perjanjian Lama digolongkan menjadi empat bagian yaitu, Kitab Taurat (Pentateukh), Kitab Sejarah, Kitab Para Nabi dan Kitab Hikmat. Setelah Yerusalem jatuh pada tahun 70, para Rabi Yahudi mengadakan Konsili Jamnia (90-100) untuk menetapkan kitab-kitab yang dianggap sebagai Kitab Suci agama Yahudi. Para Rabi menetapkan syarat suatu Kitab, sehingga dapat masuk dalam kanon mereka antara lain kitab-kitab harus tertulisa dalam bahasa Ibrani. Sementara itu, ketujuh Kitab ‘Deuterokanonika,’ Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Putra Sirakh, Barukh dan Makabe I-II ditulis dalam bahasa Yunani. Namun, para ahli modern berpendapat bahwa Konsili Jamnia tidak mengeluarkan satu kitab pun secara definitive atau tetap/baku. Kanon Yahudi yang baku baru muncul kira-kira seratus tahun kemudian. Oleh sebab itu, kitab-kitab ‘Deuterokanonika’ masih dibaca dan dihormati oleh agama Yahudi.

Gereja Katolik menerima kitab-kitab ‘Deuterokanonika’ sebagai bagian dari kanon Kitab Suci. Bapa Gereja Origen mengatakan bahwa dikalangan umat Kristiani telah menggunakan kitab-kitab itu, meskipun para pemimpin Yahudi tidak menerima secara resmi. Gereja dikemudian hari menetapkan pula tulisan-tulisan Perjanjian Baru yang dianggap diilhami oleh Roh Kudus dan merupakan ajaran yang berasal dari Yesus. Kitab-kitab ‘Deuterokanonika’ sendiri sering dikutip oleh Bapa-Bapa Gereja pada abad awal. Hal itu dilakukan karena ketujuh Kitab dianggap sebagai satu kesatuan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Oleh sebab itu, Gereja Katolik memasukkan ketujuh kitab ‘Deuterokanonika’ dalam kanon Kitab Suci, seperti yang ditetapkan oleh Paus Damasus I pada tahun 382. Selanjutnya juga ditetapkan pada Konsili Hippo tahun 393 dan Konsili Carthage pada tahun 397.

‘Deuterokanonika merupakan istilah yang muncul setelah abad ke 16. Istilah itu diberikan kepada ketujuh kitab yang tidak diterima oleh gereja Protestan. Pada tahun 1534, Martin Luther menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Jerman. Pada waktu itu, ia mengelompokkan ketujuh Kitab Deuterokanonika (Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Barukh, Makabe I & I) sebagai “Apocrypha” sambil memaklumkan kepada pengikutnya, bahwa ketujuh kitab berguna dan baik dibaca, namun tidak sejajar dengan kitab-kitab lainnya. Selain itu, ia mengelompokkan kitab-kitab Perjanjian Baru (Yohanes, Roma, Galatia, Efesus, Petrus I dan Yohanes I) sebagai kitab yang berbicara tentang karya keselamatan Allah. Kemudian ia mengelompokkan kitab dan surat (Ibrani, Yakobus, Yudas, Wahyu) sebagai kitab non-kanonik.

Ada beberapa spekulasi Sejarahwan yang mengatakan Luther tidak mengeluarkan kitab yang ia sebut “kitab-kitab non-kanonik” karena faktor politis. Sebagian lain mengatkaan bahwa Luther hendak kembali ke “iman primitive” yang hanya menerima kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Ibrani. Sementara ahli lain mengatakan bahwa Luther menyingkirkan beberapa kitab karena tidak sesuai dengan teologi yang ia anut. Oleh sebab itu, tindakan yang dilakukan Luther mengandung konsekuensi bahwa Luther menghilangkan ketujuh Kitab Deuterokanonika dalam Kitab Suci Protestan. Setelah kematian Luther, edisi Kitab Suci selalu memuat kitab Deuterokanonika dalam Kitab Suci, misalnya edisi pertama King James version (1611) dan edisi Gutenberg Bible (1546).

Oleh sebab itu, secara definitif dan permanen ketujuh Kitab Deuterokanonika dihilangkan pada tahun 1825 oleh Komite Edinburg dari the British Foreign Bible Society. Dengan demikian, kita dapat membuktikan secara historis bahwa Gereja Protestan yang mengurangi ketujuh kitab dalam Kitab Suci.

Sumber: Sanjaya, V. Indra. 2015. Menelusuri Tulisan-Tulisan Deuterokanonika. Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia.

 

 

Natal Tak Bermakna Tanpa Paskah

0
falco / Pixabay

Gereja perdana merayakan kebangkitan Yesus sebagai momen utama bagi umat untuk mengungkapkan iman. Pada masa itu perayaan kelahiran Yesus belum menjadi perhatian utama Gereja. Tetapi kemudian menjadi perhatian Gereja pada abad ke 3 Masehi. Kesaksian akan hal tersebut diperoleh dari catatan St. Clemens dari Alexandria (+150-210 Masehi). Dalam catatannya, ia menjelaskan bahwa ada upaya Gereja untuk menentukan kapan tanggal kelahiran Yesus.

Gereja mulai melihat bahwa kelahiran Yesus merupakan bagian dari peristiwa paskah. Sebab tidak ada kebangkitan tanpa peristiwa kelahiran. Hal itu terlihat dari liturgi Natal yang mengutip Prolog Injil Yohanes (1:1-18). Melalui perikop tersebut peristiwa Inkarnasi menjadi nyata. Peristiwa Inkarnasi itu telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya (Yes. 52:7-10) dan diteguhkan oleh surat kepada Orang Ibrani (Ibr. 1:1-6). Iman Gereja dilanjutkan hingga sekarang, yang menghubungkan Misteri paskah dan Misteri Inkarnasi. Lagi pula dalam perayaan Misa malam Natal (Vigili), bacaan-bacaan menceritakan bagaimana Yesus menyerahkan diri demi keselamatan umat manusia (Tim. 2:14).

Menurut Injil Lukas, malaikat Gabriel menyampaikan Kabar Gembira kepada Maria, ketika Elizabeth telah mengandung enam bulan (Luk. 1:24-26.36). Menurut St. Yohanes Krisostomus (347-407), peristiwa kabar gembira tersebut terjadi pada bulan Purnama tanggal 14 Nisan, yang sepadan dengan 25 Maret (Hari Raya Kabar Sukacita). Selain itu, dalam khotbahnya yang berjudul In Diem Natalem, ia menjelaskan bahwa Yesus Kristus lahir sembilan bulan kemudian, yakni tanggal 25 Desember.

Sumber: Roger T. Beckwith. 1996. Calender and Chronology, Jewish and Christian: Biblical, intertestamental and Patristic Studies, E. J. Brill, Denvers.

Penulis: Silvester Detianus Gea

Tulisan ini pernah dimuat pada http://www.indonesiakoran.com/news/kolumnis/read/76041/tiada.paskah.tanpa.kelahiran

 

Orang Katolik Makan ‘Tubuh’ dan Minum ‘Darah’ Yesus: Apakah Orang Katolik Kanibal?

0
Gambar ilustrasi oleh congerdesign / Pixabay

Banyak kali orang-orang non-Katolik mengira bahwa kita orang Katolik adalah kanibal. Alasannya jelas: yaitu ajakan Yesus sendiri sebagaimana tertulis dalam Injil Yoh. 6:51-58, yaitu untuk ‘memakan daging-Nya dan meminum darah-Nya’.

Dalam bacaan Injil tersebut di atas, Yesus berkata: “Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh. 6:51).

Mendengar perkataan Yesus itu, orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan” (Yoh. 6:52). Jadi, jika sekarang ada orang non-Katolik mengira bahwa kita orang Katolik adalah orang kanibal, itu bukan perkara baru. Orang Yahudi dalam cerita Injil  pun bertengkar karena mereka juga berpikir demikian.

Dalam Injil, Yesus mula-mula menyebut diri-Nya sebagai roti yang turun dari surga. Orang-orang Yahudi belum mengerti perkataan Yesus itu. Mereka berpikir bahwa yang dimaksudkan oleh Yesus adalah roti bisa; sebab mereka sudah pernah melihat Dia menggandakan roti. Makanya, Ia mempertegas pernyataan-Nya dengan berkata: “Roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh. 6:51).

Yesus sampai beberapa kali berkata kepada para pendengar-Nya bahwa mereka harus makan daging-Nya. “Tubuhku benar-benar makanan dan darahku benar-benar minuman”.

Pernyataan Yesus itu menciptakan skandal di antara orang-orang Yahudi. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana mereka memakan tubuh dan meminum darah manusia. Mereka tidak paham sedikit pun terhadap apa yang dikatakan oleh Yesus. Mereka menangkap setiap perkataan Yesus secara harafiah. Bahwasanya Yesus mengajak mereka untuk makan daging-Nya dan minum darah-Nya. Titik. Mereka tidak mampu berpikir lebih jauh dari itu.

Kalau kita mengambil posisi sebagai orang Yahudi yang mendengarkan Yesus pada saat itu, mungkin kita juga tidak akan mengerti perkataan Yesus. Tapi Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Efesus (Ef. 5:15-20), meminta kita supaya berusaha mengerti kehendak Tuhan, termasuk juga mengerti perkataan-perkataan Tuhan di dalam Kitab Suci. Paulus menambahkan, “Pergunakanlah waktu yang ada”.

[postingan number=3 tag= “tuhan-yesus”]

Untunglah, kita orang Katolik cukup memahami perkataan Yesus pada Injil Yohanes itu, yaitu bahwa apa yang dimaksudkan oleh Yesus di dalam pernyataan-Nya itu terkait erat dengan peristiwa Malam Perjamuan Terakhir, yaitu saat di mana Ia menetapkan Ekaristi bagi kita.

Dalam Ekaristi, kita tidak hanya mengenang peristiwa Malam Perjamuan Terakhir melainkan menghadirkan kembali peristiwa itu, saat di mana Yesus mendatangi dan menyapa kita satu per satu. Ia yang telah mengorbankan Diri-Nya di kayu salib, kini hadir di dalam Ekaristi dan memberikan diri-Nya bagi kita. Maka, ketika kita menerima Hosti dan jika memungkinkan, Anggur, dalam perayaan Ekaristi, itu artinya kita sungguh-sungguh memakan tubuh-Nya dan meminum darah-Nya.

Dengan demikian, melalui Ekaristi kita menyambut Tubuh dan Darah Yesus, artinya kita membiarkan Dia bersatu dengan kita dan masuk ke dalam hati kita. Kita memberi ruang bagi Yesus untuk merajai hati kita, pikiran kita, maupun seluruh hidup kita. Dalam kerangka berpikir seperti inilah perkataan Yesus itu harus dipahami.

Yesus menyebut diri-Nya sebagai makanan: roti, daging, dan darah. Dan kita tahu bahwa makanan diperlukan supaya kita bisa hidup. Jika kita tidak makan, maka kita tidak bisa hidup. Hidup kita bergantung pada makanan.

Yesus menyebut diri-Nya sebagai roti, daging, dan darah, untuk memberi tahu kita bahwa tanpa Dia, kita tidak bisa hidup. Kita memerlukan Yesus bukan hanya pada saat kita masih hidup di dunia ini, tetapi juga pada saat kita beralih dari dunia ini. Itulah sebabnya Yesus berkata bahwa jika kita memakan tubuh-Nya dan meminum darah-Nya, kita akan masuk ke dalam kehidupan yang kekal. Dengan demikian, Ekaristi yang kita rayakan setiap hari atau setiap hari Minggu, tidak hanya diperlukan untuk kehidupan di dunia ini, tetapi juga untuk kehidupan yang kekal.

Setiap orang butuh makan, dan tidak bisa diwakilkan. Apalagi, makanan yang kita makan dalam setiap perayaan Ekaristi, bukan sembarang makanan. Yang kita makan adalah  Tubuh Yesus sendiri; makanan yang berguna bagi kehidupan yang kekal. Maka, kiranya kita menjadi orang-orang yang mencintai Ekaristi, dan menjadikan Ekaristi sebagai tujuan dan puncak hidup kita.

Ajaran Sesat Gnostisisme (Seri Ajaran Sesat 1)

0
  1. Gnostisisme

Kata Gnostisisme berasal dari bahasa Yunani: gnōsis, yang artinya : Pengetahuan. Dengan demikian, Gnostisisme adalah suatu paham atau aliran tentang penyelamatan melalui pengetahuan. Gerakan Gnostik muncul pertama kali sebagai sebuah sekolah pemikiran. Pada akhir abad ke II, Gnostik melepaskan diri dari Gereja Katolik. Perjanjian Baru terutama surat 1 Yohanes dan surat-surat Pastoral Paulus setidaknya menyinggung tentang ajaran yang serupa dengan ajaran Gnostik. Penganut Gnostik menggunakan karya-karya Yahudi, Kristiani dan ‘kafir’ untuk disintesiskan, sehingga terbentuk suatu pokok ajaran. Salah satu hasil karangan tokoh-tokoh Gnostik adalah “Injil Thomas.” Menurut mereka keselamatan itu dicapai ketika unsur rohani, dalam diri manusia terbebas dari unsur materi yang selalu jahat. Oleh sebab itu, materi bertentangan dengan Roh, dan alam semesta merupakan suatu wujud yang buruk dari Pencipta. Selain itu, penganut Gnostik menolak magisterium Gereja, sehingga menafsir Kitab Suci sesuka hati penganutnya.

2. Tokoh Gnostisisme dan Ajarannya

  1. Valentinus

Menurut Valentinus, Dunia yang penuh penderitaan, diciptakan oleh Allah yang jahat. Allah adalah terang, dikelilingi oleh malaikat-malaikat yang rohani murni. Tetapi ada malaikat yang ingin mengenal hakekat Allah yang Tertinggi itu. Malaikat itu tidak dapat mengenal hakekat Allah, sehingga dalam dirinya timbul rasa sedih dan gelisah.

Kesedihan dan kegelisahan itu dibuang keluar dari dunia terang, maka terbentuklah materi (zat jasmani). Dari materi itu Allah menciptakan dunia. Dunia itu menjadi penjara bagi percikan-percikan terang yang ikut terbuang dari dunia atas. Allah yang jahat itu adalah Allah Bangsa Israel.

Allah dalam Perjanjian Lama adalah Allah yang jahat. Allah yang maha baik itu diperkenalkan oleh Kristus. Kristus adalah salah seorang dari roh-roh yang hidup dalam dunia terang, tetapi Ia turun dari dunia atas untuk menembus percikan-percikan terang yang telah menjadi roh orang-orang tertentu yang terkurung dalam tubuh.

Kristus mengajar kepada roh-roh itu tentang asal-usul mereka dan tentang jalan untuk kembali ke dunia terang. Kristus sendiri tidak mempunyai tubuh manusia. Tubuhnya yang dipercakapkan dalam Injil hanyalah semu, sehingga pura-pura saja Ia mati di atas kayu salib. Kristus menebus kita bukan dengan jalan kematian dan kebangkitan, Keselamatan itu diperoleh dengan jalan mengingkari tubuh kita (askese) dan memiliki pengetahuan rahasia tentang jalan ke dunia terang.

  1.  Basilides ( kira-kira 150 ses. Masehi)

Menurut Basilides, bukan Yesus yang menderita sengsara dan disalibkan, melainkan Simon dari Cyrene. Wajah simon telah diubah oleh Allah, agar orang mengira bahwa dialah Yesus, sehingga Simon disalibkan karena kekhilafan dan kekeliruan. Padahal Yesus sendiri memakai rupa simon, berdiri di dekat situ sambil menertawakan mereka. Yesus tidak bersifat jasmani, maka Ia sanggup memakai rupa Simon. Kemudian Yesus naik kepada Allah sambil menertawakan mereka. Maka seharusnya orang-orang tidak percaya kepada yang disalibkan, melainkan kepada Dia yang datang dalam rupa manusia yaitu Yesus yang dianggap disalibkan. Kalau seseorang percaya kepada dia yang disalibkan itu, maka ia masih seorang budak.

Setidaknya ada beberapa point yang dapat disimpulkan dari ajaran kedua tokoh di atas yaitu:

  • Perjanjian Baru dipisahkan dari Perjanjian Lama, dengan demikian maknanya diputarbalikkan.
  • Allah Pencipta tidak sama dengan Allah Bapa.
  • Materi (zat jasmani) hakekatnya jahat
  • Kehidupan jasmani manusia bukanlah sesuatu yang pada hakekatnya baik, dan menggembirakan, melainkan perkara yang menyedihkan dan patut diingkari.
  • Daging tidak akan bangkit dan tidak akan ada dunia yang baru, sebab seluruh materi akan binasa kelak.
  • Setiap orang berjuang melawan tabiat jasmani.
  • Yesus tidak disalib, melainkan diangkat oleh Allah ke Surga.

Kutipan Injil Palsu Thomas yang digunakan dalam ajaran Gnostik, antara lain:

(1) Inilah kata-kata rahasia, yang diucapkan oleh Yesus yang hidup itu dan yang dituliskan oleh Didymus Yudas Thomas.

(50) Yesus berkata : kalau mereka berkata kepada kamu : dari manakah asalmu?. Katakanlah kepada mereka : kami berasal dari terang……kami adalah anak-anak dan orang-orang pilihan Sang Bapa yang hidup itu.

(56) Yesus berkata : Siapakah yang telah mengenal dunia, ia telah menemukan mayat…

(62) Yesus berkata : Aku mengatakan rahasia-Ku kepada mereka yang layak bagi rahasia-rahasiaKu. Apa yang dilakukan oleh tangan kananmu, biarlah jangan diketahui oleh tangan kirimu, apa yang dilakukan.

(79) seorang perempuan dari antara orang banyak itu berkata kepadaNya : berbahagialah rahim yang telah mengandung Engkau dan buah dada yang telah memberi Engkau minum. Berbahagialah mereka yang telah mendengarkan firman. Sebab akan tiba masanya kamu akan berkata : berbahagialah rahim yang tidak mengandung dan buah dada yang tidak pernah menyusui.

3. Tanggapan Gereja

Bagi Gereja, Gnostik merupakan tantangan yang berat, karena bertolak belakang dengan azas-azas iman. Salah seorang Teolog yang paling keras melawan Gnostik adalah uskup Ireneus dari Lyon. Uskup Ireneus menulis karya :” Penyingkapan kedok dan sanggahan terhadap pengetahuan yang pura-pura” (sekitar tahun 180). Langkah selanjutnya adalah Gereja membentuk kaidah iman.

Pertama, Pembentukan “Kanon Kitab Suci”. Gereja sudah mempunyai Perjanjian Lama sebagai ukuran bagi kepercayaan dan kehidupan anggota-anggotanya. Gereja menentukan, kitab mana yang benar-benar berasal dari murid Tuhan. Akhirnya, empat kitab Injil, surat-surat Rasul Paulus, Kisah Para Rasul, surat kepada orang Ibrani dan Wahyu kepada Yohanes masuk dalam Kanon (Tongkat/ Pedoman). Dengan demikian jelas batas-batas dan perbedaan ajaran Gereja dan Gnostik.[1]

Kedua, “Pengakuan Iman”. Pengakuan yang tertua mengenai Kristus : “Yesus adalah Tuhan” (1 Kor. 12:3; Roma 1:3; Filipi 2:5-11). Pengakuan ini berkembang menjadi “Syahadat Para Rasul”.

Ketiga, “Uskup”. Uskup-uskup dipandang sebagai pengganti rasul-rasul. Uskup-uskup meneruskan ajaran yang mereka terima dari Kristus sendiri. Dengan demikian ajaran-ajaran bidaah/bidat dapat dibantah dan jemaat mempunyai pegangan yang teguh.

“Bapa Gereja, St. Polikarpus (69-155) murid Rasul Yohanes berkata : “ Barangsiapa tidak mengakui bahwa Kristus telah datang dalam daging, maka ia adalah antikristus; dan barangsiapa tidak mengakui rahasia salib, maka ia adalah jahat dan ia yang berpegang pada firman Tuhan menurut keinginannya sendiri. Barangsiapa berkata bahwa tidak ada kebangkitan dan penghakiman, maka ia adalah anak sulung iblis “.

Referensi:

Eddy Kristiyanto, Visi Historis Komprehensif. 2003 Yogyakarta : Kanisius.

End, van den, Sejarah Gereja Ringkas. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1986.

Heuken, A. 1991. Ensiklopedia Gereja jilid I A-G. Jakarta : Yayasan cipta loka cakara.

Penulis: Silvester Detianus Gea

[1] Kanon Kitab Suci baru final pada masa Paus Damasus I.

Ekaristi bagi Gereja Katolik: Bukan Perjamuan Biasa

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Istilah ‘ekaristi’ berasal dari kata bahasa Yunani ευχαριστω [eucharistein] yang artinya ucapan terima kasih kepada Allah (KGK 1328), atau juga diartikan ‘puji syukur’ (makanya dalam Ekaristi ada ‘Doa Syukur Agung’). Kata ini lebih sering digunakan oleh Gereja Katolik, Anglikan, Ortodoks Timur, dan Lutheran, sedangkan istilah perjamuan kudus digunakan oleh Gereja Protestan.

[postingan number=3 tag= “ekaristi”]

Ekaristi adalah kenangan akan kesengsaraan dan kebangkitan Tuhan (KGK 1330). Ekaristi diadakan untuk memenuhi perintah Yesus untuk merayakan kenangan akan hidup-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya dan akan pembelaan-Nya bagi kita di depan Allah Bapa (KGK 1341).

Ekaristi dikenal juga dengan istilah ‘Misa kudus,’ karena perayaan misteri keselamatan ini berakhir dengan pengutusan umat beriman (missio) supaya mereka melaksanakan kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Ekaristi ditetapkan oleh Yesus pada Malam Perjamuan Terakhir. Dasar Kitab Suci dari Ekaristi adalah Injil Luk. 22:19-20; Mat. 26:26-28; Mrk. 14:22-24; dan 1 Kor. 11:23-29. Roti yang digunakan untuk Perayaan Ekaristi harus tidak beragi, masih baru, belum basi, dan seluruhnya terbuat dari gandum tanpa campuran apapun dari bahan lain, tetapi tentu saja menggunakan air untuk proses pengolahannya.

Anggur yang digunakan untuk Perayaan Ekaristi haruslah anggur yang masih alamiah, berasal dari buah anggur murni, tidak masam, dan tidak bercampur dengan bahan lain. Ditekankan secara jelas oleh Gereja Katolik bahwa dengan syarat-syarat tersebut, maka anggur obat atau anggur apa pun yang dijual di toko-toko umum tidak boleh digunakan untuk Perayaan Ekaristi. Jadi, sopi, moke, cap tikus, ballo, atau apapun namanya tidak bisa menggantikan anggur Misa.

Katekismus Gerja Katolik mengajarkan bahwa Ekaristi adalah “sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani” (KGK 1324) dan “hakikat dan rangkuman iman kita” (KGK 1327). Makanya, dalam Gereja Katolik, Ekaristi adalah sakramen, yaitu tanda dan rahmat dari kehadiran Allah. Jika Maria menerima Yesus dalam rahimnya, kita menerima Yesus lewat Ekaristi.

Apakah jemaat Kristen non-Katolik bisa menyambut komuni di Gereja Katolik? Jawabannya: TIDAK BISA. Mengapa? Karena Gereja Kristen non-Katolik tidak memandang Ekaristi sebagai tubuh dan darah Yesus. Apa yang bagi Gereja Katolik dipandang sebagai Tubuh dan Darah Kristus, oleh Gereja non-Katolik menjadi perjamuan biasa. Dasar Kitab Suci yang mereka gunakan adalah Injil Luk. 22:14, 19b; Mat. 26:20; Mrk. 14:17-18a; 1 Kor. 11:24b.

Jika kita memperhatikan kutipan-kutipan Kitab Suci yang mereka gunakan sebagai dasar dari ‘perjamuan biasa’ itu, tampak sekali bahwa mereka hanya memberi tekanan pada bagian awal dan bagian penutup dari perikop Kitab Suci itu.

Memang, pada bagian awal perikop itu dikatakan bahwa Yesus mengumpulkan murid-murid-Nya untuk makan bersama. “Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu” (Mat. 26.20). Lalu, pada bagian akhir perikop itu, Yesus meminta mereka supaya mereka melakukan hal yang sama sebagai kenangan akan Dia. “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk. 22:19b).

Tetapi justru mereka lupa bahwa ada bagian yang paling sentral dari peristiwa Malam Perjamuan Terakhir itu, yaitu ketika Yesus mengangkat  roti, Ia tidak mengatakan “Ini roti” tetapi “Inilah Tubuh-Ku” dan ketika Ia mengangkat piala berisi anggur, Ia tidak mengatakan “Ini anggur” tetapi “Inilah darah-Ku.

Bagi Gereja Katolik, kata-kata Yesus itu dipakai dalam doa konsekrasi sehingga melalui doa konsekrasi itu, roti dan anggur mengalami ‘transsubstansiasi’ – artinya melampau substansi yang terlihat. Roti dan Anggur berubah secara substansi menjadi Tubuh dan Darah Kristus.

Dalam Ekaristi, Yesus, yang diwakili oleh imam, menunjukkan Tubuh dan Darah-Nya kepada kita. Makanya, kita, seperti Thomas, berseru: “Ya Tuhanku dan Allahku” [Yoh. 20:28]. Maka, sangat wajar dan masuk akal jika kita orang Katolik tidak memberikan Hosti kepada mereka yang bukan Katolik, sekalipun mereka sama-sama seperti kita sebagai pengikut Kristus. Lagipula, apa faedahnya kita memberikan Hosti kepada mereka yang tidak memandang Hosti itu sebagai Tubuh Tuhan?

Asal-Usul Penomoran Sepuluh Perintah Allah

3

Perlu diketahui bahwa ayat dan bab dalam Alkitab diberikan kemudian oleh Bapa Gereja dan Para Uskup. Salah satu tokoh yang berperan penting dalam pemberian ayat dan bab dalam Alkitab adalah Uskup Stephen Langton, uskup Keuskupan Canterbury (1207-1228). Demikian pula penomoran sepuluh perintah Allah tidak ada dalam Alkitab sejak awal. Penomoran yang dipakai saat ini berasal dari dua orang Bapa Gereja yaitu St. Agustinus dan Origen. Secara sederhana kita mengetahui bahwa penomoran Kitab Suci baru ada pada abad pertengahan. Oleh sebab itu Gereja Katolik mengikuti salah satu pengelompokkan atau penomoran dari Bapa Gereja tersebut.

St. Agustinus dikenal sebagai Doctor of the Church atau Pujangga Gereja. Gereja Katolik mengikuti pengelompokkan atau penomoran sepuluh perintah Allah menurut St. Agustinus. Berikut sepuluh perintah Allah menurut pengelompokkan St. Agustinus yang diikuti oleh Gereja Katolik:

  1. Akulah Tuhan, Allahmu: Jangan ada allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit dan di bumi, dan jangan sujud menyembah kepadanya (ay. 2, 3, 4, 5)
  2. Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat (ay.7)
  3. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat/ hari Tuhan (ay.8)
  4. Hormatilah ayahmu dan ibumu (ay.12)
  5. Jangan membunuh (ay.13)
  6. Jangan berzinah (ay.14)
  7. Jangan mencuri (ay.15)
  8. Jangan mengungkapkan saksi dusta tentang sesamamu (ay.16)
  9. Jangan mengingini isteri sesamamu (ay.17 a)
  10. Jangan mengingini hak milik sesamamu (ay. 17 b)

St. Agustinus memisahkan mengingini isteri sesame dan hak milik karena berpandangan bahwa manusia atau perempuan lebih berharga daripada harta milik/hak milik. Perempuan atau isteri perlu diperlakukan sebagai citra Allah yang dihormati sebagai manusia sama dengan laki-laki.

Sepuluh perintah Allah dalam Puji Syukur memadukan pemaknaan berhala dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (pada nomor 1). Berhala tidak terkurung pada ‘patung’ yang dijadikan ‘tuhan’ melainkan memiliki makna yang luas misalnya keserakahan, percabulan, cinta uang, dan seterusnya. Oleh sebab itu tidak ada perbedaan makna antara sepuluh perintah Allah pada poin kedua dengan sepuluh perintah Allah dalam Puji Syukur.                  Berikut penjabaran sepuluh perintah Allah dalam Puji Syukur:

    1. Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepadaKu saja, dan cintailah Aku lebih dari segala Sesuatu
    2. Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat
    3. Kuduskanlah hari Tuhan
    4. Hormatilah ibu-bapamu
    5. Jangan membunuh
    6. Jangan berzinah
    7. Jangan mencuri
    8. Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu
    9. Jangan mengingini istri sesamamu
    10. Jangan mengingini milik sesamu secara tidak adil

Origen memiliki penomoran sendiri terkait sepuluh perintah Allah. Origen dikenal sebagai Bapa Gereja yang pada suatu waktu pernah mengajarkan doktrin yang tidak sesuai dengan Kitab Suci. Salah satunya ia mengajarkan bahwa jiwa-jiwa yang berada di neraka pada akhirnya masuk surga. Berikut pengelompokkan sepuluh perintah Allah menurut Origen yang diikuti oleh Gereja-gereja Timur dan Protestan:

  1. Akulah Tuhan, Allahmu yang membawa engkau keluar dari Mesir, dari tempat perbudakan (ay. 2,3)
  2. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit, di bumi dan di dalam bumi. (ay. 4)
  3. Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan (ay.7)
  4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat/ hari Tuhan (ay.8)
  5. Hormatilah ayahmu dan ibumu (ay.12)
  6. Jangan membunuh (ay.13)
  7. Jangan berzinah (ay.14)
  8. Jangan mencuri (ay.15)
  9. Jangan mengungkapkan saksi dusta tentang sesamamu (ay.16)
  10. Jangan mengingini rumah sesamamu, jangan mengingini isterinya, atau apapun yang menjadi milik sesamamu (ay. 17).