10.6 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 8

Satu Kesatuan – Renungan Pekan V Prapaskah

0

Satu Kesatuan: Renungan Pekan V Prapaskah, 01 April 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Yeh. 37:21-28; Injil: Yoh. 11:45-56

Di hari pertama bulan April ini, Allah hadir menyapa kita untuk bersatu dengan-Nya di bawah kepak sayap kasih-Nya. Janji ini bukan April Mop tetapi merupakan janji yang terpenuhi lewat Yesus Kristus Tuhan kita.

Menurut nubuat Kayafas imam besar: ‘… lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk seluruh bangsa daripada seluruh bangsa kita ini binasa,’ adalah penegasan tentang penderitaan dan pengorbanan Yesus di kayu salib. Tujuan penderitaan dan pengorbanan Yesus di Salib adalah untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.

Hal ini sejalan dengan nubuat Nabi Yehezkiel: “Sungguh, Aku akan menjemput orang Israel dari tengah bangsa-bangsa, ke mana mereka pergi; Aku akan mengumpulkan mereka dari segala penjuru dan akan membawa mereka ke tanah mereka.”

Sebagai orang Katolik, kita semua diutus untuk menghadirkan kasih Allah yang mempersatukan semua umat manusia di bawah salib Kristus karena salib Kristus membawa keselamatan bagi semua orang. Itulah universalitas keselamatan Allah. Tugas dan perutusan ini memang berat karena membutuhkan pengorbanan diri, maka perlu penyerahan diri  seutuhnya pada Allah. Sanggupkah kita melaksanakan perutusan ini? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
April rain – Mu-Sa-Fir

Penolong yang Setia – Renungan Pekan I Prapaskah

0

Penolong yang Setia: Renungan Pekan I Prapaskah, 02 Maret 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: T. Est. 4:10a.10c-12.17-19; Injil: Mat. 7:7-12

[postingan number=3 tag= ‘rabu-abu’]

Setiap orang pasti pernah mengalami situasi krisis atau ambang batas entah karena sakit, umur yang semakin tua dan kekurangan manusiawi, entah juga karena fitnah dari orang-orang yang rasa iri dan benci terhadap diri kita. Ratu Ester mengalami situasi ambang batas ini karena ia sendirian menghadapi mereka yang membencinya. Dalam situasi ini, bagi ratu Ester, Allah adalah satu-satunya penolong yang setia. Karena kepercayaan inilah maka ratu Ester berdoa dan memohon kepada Allah agar Allah menolongnya dengan memberikan keberanian, kata-kata yang bijak dalam mulutnya sehingga ia mampu melawan mereka.

Yesus juga menegaskan hal yang sama bahwa Allah adalah satu-satunya penolong bagi manusia. Allah adalah pintu kehidupan dan pertolongan yang dapat diketuk setiap saat; Dia adalah tempat kita meminta dan juga tempat kita mencari pertolongan.  Dia adalah Bapa yang baik hati dan menghendaki agar anak-anak-Nya tidak hidup dalam kekurangan. Dia juga menghendaki agar kita anak-anak-Nya hidup dengan baik dan benar di hadapan-Nya juga saling menolong satu sama lain. Oleh karena itu, mencari, meminta dan mengetuk pada Allah Sang Penolong sejati harus diimbangi dengan cinta yang universal kepada semua orang lewat semangat berbagi.

Marilah kita tetap pasrah pada Allah karena Dia adalah penolong satu-satunya dan kita pun harus rela berbagi kasih sesama. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Dagur – Mu-Sa-Fir

Bertobatlah selagi Masih Ada Waktu – Renungan Pekan I Prapaskah

0

Bertobatlah selagi Masih Ada Waktu: Renungan Pekan I Prapaskah, 01 Maret 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Yun. 3:1-10; Injil: Luk. 11:29-32

“Prapaskah datang dengan penuh perhatian untuk membangunkan kita kembali, untuk melepaskan kita dari kelesuan.” Ini merupakan kalimat yang diucapkan oleh Paus Fransiskus.

[postingan number=3 tag= ‘rabu-abu’]

Prapaskah menjadi kesempatan untuk bertobat, maka patut kita syukuri karena Tuhan memberi kesempatan ini pada kita. Kesempatan untuk bertobat juga diberikan Tuhan kepada seluruh penduduk Niniwe. Mereka disadarkan oleh Tuhan melalui pemberitaan nabi Yunus, sehingga seluruh penduduk kota berpuasa, mengenakan kain kabung dan berseru kepada Allah serta bertobat dan berbalik pada-Nya. Dengan jalan pertobatan inilah maka Allah mengampuni mereka.

Pertobatan yang sejati adalah pertobatan yang lahir dari kesadaran diri akan dosa bukan menunggu tanda dari Tuhan seperti yang diminta oleh orang banyak. Dengan meminta tanda dari Tuhan maka mereka tidak percaya pada Tuhan sehingga Yesus menyebut mereka sebagai angkatan yang jahat.

Apakah kita juga menuntut tanda dari Tuhan supaya kita bertobat? Masa Prapaskah adalah waktu yang tepat untuk bertobat. Perlu spirit pertobatan yang mengalir dari hati kita masing-masing sehingga kita benar-benar bertobat seperti orang-orang Niniwe. Sadarilah bahwa karena hidup kita hanya sementara, perjumpaan kita begitu singkat, maka selagi masih ada waktu, mari kita bertobat dan kembali pada Allah. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Ngumpul – Mu-Sa-Fir

Puasa, Hujani Dunia dengan Doa – Renungan Pekan I Prapaskah

0

Puasa, Hujani Dunia dengan Doa: Renungan Pekan I Prapaskah, 28 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 55:10-11; Injil: Mat. 6:7-15

[postingan number=3 tag= ‘prapaskah’]

Musim hujan adalah sukacita bagi bumi karena dengan titik-titik air hujan yang membasahi bumi, maka bumi akan berseri dengan menumbuhkan berbagai tanaman. Musim hujan juga menjadi sukacita bagi para petani dan juga sukacita bagi anak-anak desa yang riuh bermain di tengah hujan. Hujan yang membasahi bumi, ibarat Sabda Allah yang ditaburkan dalam hati setiap manusia. Sabda itu meresapi dan menguasai seluruh diri dan hidup manusia, sehingga manusia memiliki kesegaran dan sukacita dalam hidup. Melalui Sabda Allah inilah, manusia belajar untuk berdoa dengan tulus.

Kristus, Sang Sabda Ilahi mengajarkan kepada kita doa Bapa Kami sebagai contoh setiap doa. Doa ini adalah doa yang indah, sederhana dan sempurna serta harus menjadi dasar bagi doa-doa pribadi kita. Yesus Sang Sabda Ilahi mengawali doa-Nya dengan menyapa Allah sebagai ‘Bapa kami’. Yesus mau memastikan bahwa jika kita terbuka terhadap Dia Sang Sabda Allah maka kita akan memiliki Bapa yang sama, yang kekal dan kuasa, yang merangkum semua orang tanpa perbedaan menjadi satu keluarga Ilahi.

Dengan menerima Bapa yang satu dan sama, maka kita pun menjadi saudara-saudari satu sama lain. Karena kita adalah saudara-saudari maka kita harus saling mendoakan; kita harus menghujani bumi dengan doa-doa kita yang mengalir dari ketulusan hari kita, agar bumi kita dapat berseri dalam damai. Apakah setiap hari kita jatuhkan setitik doa untuk bumi kita ini? Apakah kita sudah hadir sebagai saudara bagi sesama? Marilah di masa prapaskah ini, kita berbenah diri, perbanyak doa, dan hadir sebagai saudara bagi orang lain. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Hujan – Mu-Sa-Fir

Puasa, Berjuang untuk menjadi Kudus – Renungan Pekan I Prapaskah

0

Puasa, Berjuang untuk menjadi Kudus: Renungan Pekan I Prapaskah, 27 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Im. 19:1-2.11-18; Injil: Mat. 25:31-46

[postingan number=3 tag= ‘prapaskah’]

Setiap orang dipanggil oleh Allah untuk menjadi kudus. Panggilan kekudusan ini merupakan ‘jalan kecil dan sempit’ yang memerlukan perjuangan dan pengorbanan dari setiap orang. Hal ini disampaikan oleh Musa kepada segenap bangsa Israel. Mereka diminta untuk menempuh jalan kekudusan dengan taat melaksanakan perintah-perintah Allah yang telah disarikan dalam sepuluh perintah Allah.

Panggilan kepada kekudusan juga ditegaskan oleh Yesus dalam Injil hari ini. Bagi Yesus, untuk mencapai kekudusan maka setiap murid-Nya harus melakukan perbuatan cinta kasih kepada setiap orang yang membutuhkan pertolongan dari kita. Sebagai contohnya, Yesus mengatakan: “Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu merawat Aku; ketika Aku dalam penjara, kamu mengunjungi Aku”.

Inilah contoh perbuatan kasih yang harus kita lakukan di masa prapaskah ini agar puasa dan pantang kita berkenan pada Allah. Selain itu, dengan tindakan kasih yang kita lakukan, pada akhirnya, kita dapat menerima kerajaan yang disediakan oleh Allah bagi kita. Sanggupkah kita menempuh jalan kekudusan ini? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Gerimis – Mu-Sa-Fir

Prapaskah, Masa untuk menjadi Pemenang – Renungan Hari Minggu Prapaskah I

0

Prapaskah, Masa untuk menjadi Pemenang: Renungan Hari Minggu Prapaskah I, 26 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kej. 2:7-9; 3:1-7; Bacaan II: Rm. 5:12-19; Injil: Mat. 4:1-11

[postingan number=3 tag= ‘prapaskah’]

Dosa dan kasih selalu beriringan dalam ziarah hidup manusia. Dosa membuat manusia mengalami maut namun kasih karunia Allah membuat manusia hidup dan selamat. Sejak awal dunia, manusia hidup dalam kasih karunia Allah di taman Eden, namun karena ketidaktaatan Adam dan Hawa maka mereka jatuh ke dalam dosa. Mereka lebih tertarik pada godaan setan daripada kasih karunia Allah sehingga mereka mengalami maut.  Namun, kasih karunia Allah begitu besar bagi manusia. Kasih karunia Allah ini hadir dalam diri Kristus Adam baru. Ia adalah pribadi yang taat pada kehendak Bapa-Nya sehingga semua orang dibenarkan.

Dalam Minggu Prapaskah I ini, kita harus berusaha untuk mulai memurnikan hati dan diri kita. Caranya adalah dengan belajar dari Yesus yang tetap taat pada Allah Bapa-Nya walaupun digoda oleh Iblis. Karena ketaatan inilah maka Yesus tampil sebagai pemenang.

Ada tiga godaan besar yang dihadapi oleh setiap manusia dan godaan ini juga dialami oleh Yesus yakni: pertama, godaan akan kenikmatan bagi diri sendiri. Kedua, godaan untuk ragu akan kemahakuasaan Allah dan mengandalkan kekuatan sendiri. Ketiga, godaan untuk terlena pada kekuasaan, kedudukan dan takhta duniawi sehingga melupakan Allah.

Menghadapi tiga godaan ini, Yesus mampu untuk menangkalnya karena Ia hidup dalam Roh, juga karena kesetiaan dan ketaatan-Nya pada Bapa. Bagaimana dengan kita?

Di zaman sekarang ini, ketiga godaan di atas selalu menggerogoti hidup kita sebagai manusia. Maka syarat utama agar kita mampu tampil sebagai pemenang adalah kita harus hidup dalam Roh. Artinya kita harus membiarkan Tuhan menguasai dan merajai seluruh diri dan hidup kita dengan kuasa Roh-Nya yang menuntun dan membimbing kita. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita untuk terbuka terhadap tuntunan Roh Allah agar kita mampu menjadi pemenang seperti Yesus Kristus Tuhan kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
AGP – Mu-Sa-Fir

Relasi – Renungan Hari Sabtu sesudah Rabu Abu

0

Relasi: Renungan Hari Sabtu sesudah Rabu Abu, 25 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 58:9b-14; Injil: Luk. 5:27-32

[postingan number=3 tag= ‘rabu-abu’]

Sebagai makhluk yang beriman, manusia harus membangun dan menjaga relasinya yang intim dengan Allah. Jika relasi dengan Allah dibangun dengan benar maka relasi dengan sesama pun baik dan benar. Sebaliknya jika relasi dengan Allah tidak dibangun dengan benar maka dengan sendirinya relasi dengan sesama pun tidak berjalan dengan baik. Berkaitan dengan hal ini, nabi Yesaya dengan tegas mengatakan bahwa apabila relasi dengan sesama berjalan baik dan benar maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. Selanjutnya, apabila relasi dengan Allah berjalan dengan baik dan benar maka engkau akan bersenang-senang dengan Tuhan.

Injil hari ini pun berbicara tentang relasi dengan Tuhan dan sesama. Lewi pemungut cukai yang duduk di rumah cukai disapa dan dipanggil oleh Yesus: “Ikutlah Aku!” Panggilan dan sapaan dari Yesus ini menggerakkan Lewi untuk bertobat dan mengikuti Yesus. Ia sadar bahwa selama ini ia telah berdosa sehingga relasinya dengan Allah pun terputus maka ia pun berdiri dan meninggalkan segala sesuatu lalu mengikuti Yesus.

Selain itu, Lewi pun sadar bahwa ia juga harus memulihkan kembali hubungannya dengan sesama maka ia pun mengadakan perjamuan di rumahnya untuk Yesus dan para murid-Nya serta para pemungut cukai yang lain. Perjamuan ini sebagai wujud syukur atas rahmat kerahiman dan pertobatan yang ia terima dari Tuhan.

Bagaimana dengan kita? Kadang, relasi kita dengan Allah dan sesama pun terputus karena dosa. Oleh karena itu, di masa prapaskah ini, marilah kita dengarkan panggilan Tuhan dan mengikuti-Nya lewat jalan pertobatan. Tinggalkan semua hal yang menghalangi kita dan bangunlah relasi kasih dengan Allah dan sesama. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mendung – Mu-Sa-Fir

Puasa adalah Berbagi Sukacita – Renungan Hari Jumat sesudah Rabu Abu

0

Puasa adalah Berbagi Sukacita: Renungan Hari Jumat sesudah Rabu Abu, 24 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 58:1-9a; Injil: Mat. 9:14-15

Sebagai umat Katolik, kita semua diberi kesempatan setiap tahun untuk berpuasa. Kesempatan ini harus dipergunakan dengan baik oleh kita semua untuk berbagi sukacita kasih bersama dengan semua orang. Inilah esensi dari puasa yang sesungguhnya dan ditegaskan dalam bacaan-bacaan hari ini.

[postingan number=3 tag= ‘prapaskah’]

Pada dasarnya, puasa bukan pertama dan terutama soal jasmani, bukan soal makan dan minum, bukan soal duduk di atas abu atau mengenakan kain kabung, melainkan berhenti berbuat dosa dan kejahatan, berhenti menyakiti hati sesama, berhenti berbuat lalim dan berlaku kudus di hadapan Allah.

Puasa juga adalah tentang belas kasih dengan cara memberi makan mereka yang lapar, memberi tempat berteduh bagi mereka yang mengharapkan perlindungan, peduli terhadap mereka yang miskin, mengunjungi mereka yang sakit, dll. Dengan begitu, Tuhan akan menjawab doa-doa kita dan kita pun mampu menjadi terang bagi sesama. Inilah yang diserukan oleh nabi Yesaya.

Apa yang diserukan oleh nabi Yesaya, ditegaskan oleh Yesus bahwa tujuan utama puasa adalah semakin dekat dengan Allah dan dengan itu membawa sukacita. Para murid Yesus adalah orang-orang yang mengalami sukacita karena sedang ‘berbulan madu’ dengan Tuhan Yesus. Mereka tinggal dan belajar dari Yesus tentang jalan keselamatan. Maka, menjalankan puasa adalah kesempatan bagi kita untuk ‘berbulan madu’ dengan Tuhan Yesus sehingga puasa bukan situasi murung, sedih, dan menyiksa tetapi menjadi sukacita bagi kita. Mengapa? Karena puasa adalah kesempatan untuk lebih dekat dengan Tuhan dan lebih peduli dengan sesama. Apakah puasaku adalah sukacita bagiku dan sukacita bagi sesama? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Wonderful tonight – Mu-Sa-Fir

Pilihan yang Bijak – Renungan Hari Kamis sesudah Rabu Abu

0

Pilihan yang Bijak: Renungan Hari Kamis sesudah Rabu Abu, 23 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Ul. 30:15-20; Injil: Luk. 9:22-25

[postingan number=3 tag= ‘prapaskah’]

‘Kita hidup cuma dua pilihan: berkat atau kutuk; selamat atau binasa; hidup atau mati’. Hidup adalah sebuah pilihan. Jika kita memilih dengan hati nurani yang bening dan pikiran yang jernih maka pilihan itu akan tepat dan membawa kita pada kehidupan atau keselamatan. Inilah yang dinamakan berkat. Sebaliknya, jika kita memilih dengan hati yang lusuh dan pikiran yang kacau maka akan membawa kita pada kebinasaan. Inilah yang dinamakan kutuk.

Hari ini, Nabi Musa meminta kepada umat Israel untuk memilih secara bijak; dan pilihan itu adalah setia kepada Allah agar mereka memperoleh kehidupan, bertambah banyak dan dapat mendiami tanah yang dijanjikan.

Sejalan dengan Nabi Musa, Yesus juga mengajak para murid-Nya untuk memilih salib dan kehidupan atau hal duniawi dan kebinasaan. Bagi Yesus, setiap orang yang mau mengikuti Dia harus menyangkal diri, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Dia. Apa yang aku pilih: salib atau hal duniawi? Berkat atau kutuk?

Masa prapaskah menjadi kesempatan bagi kita untuk memilih secara bijak. Pilihan yang bijak adalah Salib karena Salib mengantar kita pada kehidupan. Walaupun usia kita pendek tetapi jika pilihan kita adalah pilihan yang bijak maka akan dikenang seumur hidup.

Marilah kita memilih yang abadi yakni jalan salib karena lewat salib kita belajar setia pada Allah seperti yang diteladankan oleh Yesus Kristus Tuhan kita. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Butiran debu – Mu-Sa-Fir

Doa, Sedekah, dan Puasa – Renungan Hari Rabu Abu

0

Doa, Sedekah, dan Puasa: Renungan Hari Rabu Abu, 22 Februari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Yl. 2:12-18; Bacaan II: 2Kor. 5:20 – 6:2; Injil: Mat. 6:1-6.16-18

‘Doa adalah senjata kekudusan; kekayaan sejati adalah kerelaan untuk bersedekah; Puasa yang sesungguhnya adalah mematikan nafsu daging agar mampu mengalami pertobatan yang total’

[postingan number=3 tag= ‘prapaskah’]

Rabu Abu menjadi awal masa retret agung bagi kita umat Katolik. Selama 40 hari kita berusaha untuk hidup dalam doa, kerelaan untuk berbagi atau bersedekah dan berpuasa-berpantang. Doa, sedekah, dan puasa adalah tiga kebajikan yang ditekankan dalam seluruh hidup manusia. Dengan doa, seseorang dapat lebih dekat dengan Allah; dengan bersedekah, setiap orang mau membangun relasi dengan sesama dan mengasah rasa peduli terhadap sesama dan dengan berpuasa, seseorang mau berusaha untuk mematikan hawa nafsu duniawi dan mengutamakan hal surgawi.

Maka, Nabi Yoel dalam bacaan pertama meminta kita sekalian untuk bertobat dan menyesali dosa-dosa kita. Bertobat berarti mengoyakkan hati dan berbalik pada Allah secara total. Dengan berbalik pada Allah secara total, maka kita pun berdamai dengan Allah sehingga kita dapat mengalami penyelamatan dari Allah.

Doa, sedekah dan puasa bukan hanya rutinitas atau sekedar show, pamer atau pertunjukan sosial, tetapi sungguh sebuah kebajikan yang lahir dari hati yang murni dan tulus. Inilah yang diajarkan oleh Yesus. Karena itu, lakukan doa, sedekah dan puasa dengan tersembunyi, tanpa memaksa orang lain, dan tidak perlu mencari perhatian dan pujian dari orang lain. Marilah dekatkan diri pada Allah dalam doa, puasa- pantang dan berusahalah untuk berbagi dari apa yang ada pada kita. Selamat menjalani doa, puasa-pantang dan sedekah dalam masa prapaskah ini. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Clear – Mu-Sa-Fir