8.5 C
New York
Sunday, April 5, 2026
Home Blog Page 87

Kita Belajar Setia dari Bunda Maria — Renungan Harian

0

Kita Belajar Setia dari Bunda Maria: Renungan Harian Katolik, Sabtu 15 September 2018 — JalaPress.com; Injil: Yoh. 19:25-27 atau Luk. 2:33-35

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Selama ini kita sering berbicara soal cinta atau kasih. Tapi, bagaimana kedua kata itu secara nyata diwujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari?

Tidak usah bingung. Jika kita ingin mencari contoh nyata dari bagaimana mengasihi, Bunda Maria sudah memberikannya. Ia sungguh sangat mengasihi putranya, Yesus. Tanda kasihnya itu nampak dalam kehadirannya dalam hidup dan karya Yesus. Dalam perjalanan ke Golgota hingga sampai di puncak bukit tengkorak itu, misalnya, ia memilih hadir menemani Yesus; meski sebagian dari murid Yesus justru ‘lari’ meninggalkan Yesus karena ketakutan.

Dari apa yang dilakukan oleh Bunda Maria itu, maka kita dapat mengatakan bahwa KASIH atau cinta itu tidak bisa lepas dari apa yang kita sebut sebagai ‘KEHADIRAN’. Dengan kata lain, ketika kita bilang “Saya mengasihi kamu” kepada seseorang, maka pada saat yang sama kita siap untuk hadir dalam kehidupan orang itu; baik dalam keadaan susah maupun dalam keadaan senang. Jangan sekali-kali bilang “Saya mengasihi kamu” kalau dalam kenyataannya kita tidak mampu hadir dalam hidup orang lain.

Bukan hanya hadir menemani Yesus, Bunda Maria juga setia mendampingi Yesus, mulai dari kandang hina di Betlehem, hingga di kaki palang penghinaan di Golgota. Itu semua dilakukannya oleh karena ia sungguh mengasihi putranya itu.

Maka, dari apa yang dilakukan oleh Bunda Maria ini, kita dapat menarik poin penting bahwa KASIH itu juga tidak bisa kita pisahkan begitu saja dengan KESETIAAN. Jangan bilang “Saya mengasihi kamu” jika kita sendiri tidak mampu untuk setia. Jangan bilang mengasihi kalau hanya pada saat enaknya saja. Giliran ada masalah melarikan diri.

Bunda Maria adalah contoh orang yang tegar. Kerasnya tantangan di depan matanya tidak membuatnya kabur. Demi cintanya pada Sang Putra, Ia pantang menyerah. Berbeda dengan kita. Kita gampang sekali mundur. Ditolak satu kali langsung menyerah; atau ditantang sedikit langsung menghilang. Kita harus belajar banyak dari Bunda Maria.

Bayangkan, ketika para murid lari pontang-panting meninggalkan Yesus karena ketakutan, Bunda Maria memilih untuk bertahan. Ia tidak takut. Ia tidak lari. Ia hadir untuk menemani putranya, ia setia mendampingi Yesus. Ia tahu bahwa resikonya besar, tapi ia toh berani menerima resiko. Bagaimana dengan kita? Kita kadang takut duluan. Belum memulai sudah takut salah dan takut gagal. Padahal, mencoba saja tidak. Mau sukses tapi takut memulai.

Yesus menitipkan Bunda Maria kepada murid yang dikasihi-Nya, kepada Gereja, dan kepada kita semua. Ia juga menitipkan kita kepada Bunda Maria. Maka, Bunda Maria adalah Bunda Gereja dan bunda kita. Itu berarti bahwa Bunda Maria harus menjadi model kita. Ada banyak situasi yang membuat iman kita terasa diuji. Kita merasa iman kita seperti dikoyak-koyak. Tetapi, jangan kuatir. Belajarlah dari Bunda Maria. Kita harus tetap HADIR dan SETIA menjadi saksi Kristus di mana saja dan kapan saja. Buktikan bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus. Amin.

Maksud dari Halangan Menerima Komuni dalam Gereja Katolik

4
Katekismus Gerja Katolik mengajarkan bahwa Ekaristi adalah “sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani” (KGK 1324) dan “hakikat dan rangkuman iman kita” (KGK 1327).

Biasanya di paroki-paroki, sesaat sebelum penerimaan komuni pada setiap Misa, selalu disampaikan pengumuman yang bunyinya seperti ini, “Yang boleh menerima Komuni Kudus adalah mereka yang sudah dibaptis secara Katolik atau yang sudah diterima secara resmi di dalamnya, sudah menerima Komuni Pertama, dan tidak mempunyai halangan”.

[postingan number=3 tag= “ekaristi”]

Tidak jarang, frasa ‘tidak mempunyai halangan’ disalahartikan oleh sebagian umat Katolik. Mereka mengira bahwa larangan itu ditujukan bagi para perempuan yang sedang haid. Benarkah demikian? Tidak. Sama sekali tidak ada larangan bagi perempuan yang sedang datang bulan untuk menyambut komuni. Hal ini disebabkan karena yang disyaratkan untuk menyambut komuni adalah persiapan batin, bukan kondisi fisik.

Persiapan batin yang dimaksud adalah kondisi berdamai dengan Tuhan (in the state of grace) yaitu tidak sedang dalam keadaan berdosa berat. Jika dalam keadaan berdosa, maka seharusnya ia mengaku dosa terlebih dahulu. Persyaratan lainnya adalah kita harus berpuasa terlebih dahulu, yaitu minimal satu jam sebelum komuni, tidak boleh makan dan minum, kecuali air putih dan obat. Maksudnya adalah supaya kita dapat sungguh-sungguh menyambut Kristus dalam Komuni Kudus sebagai Roti Hidup dan santapan rohani, yang lebih utama daripada santapan jasmani.

Persyaratan itu dikatakan dalam Katekismus Gereka Katolik dan Kitab Hukum Kanonik:

KGK 1385 – Untuk menjawab undangan ini, kita harus mempersiapkan diri untuk saat yang begitu agung dan kudus. Santo Paulus mengajak supaya mengadakan pemeriksaan batin: “barang siapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu, hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barang siapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya” (1 Kor 11:27-29). Siapa yang sadar akan sebuah dosa besar, harus menerima Sakramen Pengakuan sebelum ia menerima komuni.

Kan. 916 – Yang sadar berdosa berat, tanpa terlebih dahulu menerima sakramen pengakuan, jangan merayakan Misa atau menerima Tubuh Tuhan, kecuali ada alasan berat serta tiada kesempatan mengaku; dalam hal demikian hendaknya ia ingat bahwa ia wajib membuat tobat sempurna, yang mengandung niat untuk mengaku sesegera mungkin.

KGK 1387 – Supaya mempersiapkan diri secara wajar untuk menerima Sakramen ini, umat beriman perlu memperhatikan pantang yang diwajibkan Gereja. Di dalam sikap (gerak-gerik, pakaian) akan terungkap penghormatan, kekhidmatan, dan kegembiraan yang sesuai dengan saat di mana Kristus menjadi tamu kita.

Kan. 919 – § 1. Yang akan menerima Ekaristi Mahakudus hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, terkecuali air semata-mata dan obat-obatan.

Memang dalam Perjanjian Lama, hal datang bulan disebutkan sebagai sesuatu yang najis (lihat Im 15:19), namun hal ini telah diperbaharui di dalam Perjanjian Baru oleh Kristus, yang membebaskan umat beriman dari hukum seremonial seperti ini. Jadi jelaslah bahwa yang dimaksudkan dengan ‘berhalangan’ menerima Komuni Kudus bukan keadaan ‘datang bulan’ melainkan kondisi batin yang tidak siap.

Diolah dan dikembangkan dari: Katolistas.org

Pengikut Yesus Wajib Mengasihi Musuh – Renungan Harian

0

Pengikut Yesus Wajib Mengasihi Musuh: Renungan Harian Katolik, Kamis 13 September 2018 — JalaPress.com; Injil: Luk. 6:27-38

Ketika kita dibenci dan disakiti orang, biasanya yang muncul di dalam benak kita adalah keinginan untuk balik membenci dan menyakiti orang itu. Bawaan kita sebagai manusia, maunya membalas. Rasanya tidak puas kalau tidak membalas. Pokoknya, harus sama rasa.  Kita ingin sekali untuk membalas dendam terhadap pengalaman pahit yang sudah kita alami. Kita susah sekali untuk mengasihi orang yang sudah kita anggap sebagai musuh.

Makanya ada yang bilang bahwa mereka yang pernah disakiti karena ditinggal pergi oleh pasangannya, misalnya, mempunyai peluang yang besar untuk meninggalkan pasangannya; kecuali jika mereka sudah move on. Dan orang yang sering dibenci, mempunyai kecenderungan untuk membenci orang-orang yang ada di sekitarnya.

Yesus sadar betul bahwa ada gejala semacam itu yang berkembang di masyarakat sekitar-Nya. Makanya, Ia berkata: “Dengarkanlah perkataan-Ku ini: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Luk. 6:27). Yesus mau supaya kita mengasihi musuh kita. Bahkan Yesus menambahkan, jika kalian mampu mengasihi siapapun, termasuk musuh, “maka ganjaranmu akan besar dan kalian akan menjadi anak Allah yang Mahatinggi” (Luk. 6:35). Ini berarti bahwa syarat untuk menjadi anak-anak Allah yang Mahatinggi adalah bahwa kita harus mengasihi: entah itu teman maupun musuh; ‘sebab Allah adalah kasih’ (1 Yoh. 4:8).

Allah mengasihi kita, sejelek apapun perilaku kita. Buktinya? “Ia menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat. 5:45b). Tidak pernah terjadi bahwa hujan turun atas orang yang baik saja atau matahari terbit hanya untuk orang baik, sementara orang jahat hanya mendapat gelap dan kering.

Memang, kadang-kadang kita mau juga mengasihi. Hanya saja kasih kita seringkali tebang pilih. Kita mau mengasihi seseorang hanya jika orang bersangkutan berbuat baik terhadap kita. Sebaliknya, jika orang itu berbuat jahat kepada kita, kita biasanya membencinya dan ingin membalas perbuatan jahatnya. Kita merasa sulit sekali untuk mengasihi musuh.

Kita lupa bahwa yang namanya mengasihi orang yang berbuat baik kepada kita, itu namanya ‘balas budi’; dan semua orang tahu balas budi. Seorang penjahat kelas kakap sekalipun tahu membalas kebaikan dari orang yang berbuat baik kepadanya. Makanya, Yesus berkata: “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Dan apabila kamu memberikan pinjaman kepada orang dengan harapan akan memperoleh sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyaknya” (Luk. 6:32-34).

Yesus melarang kita balas dendam. Juga, pada saat yang sama, Ia meminta kita supaya jangan sekedar balas budi. Yesus mau supaya kita mampu mengasihi siapapun juga, termasuk mereka yang mungkin pernah berbuat jahat terhadap kita. Ia memberi alasan: “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga” (Mat. 5:45a). Amin.

Katolik Menjawab: Dosa terhadap Roh Kudus tidak akan Diampuni

0
Gambar ilustrasi oleh suju / Pixabay

Jika kita diminta untuk menguraikan kalimat “Dosa terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni,” apa kira-kira yang bisa kita katakan? Saya menangkap kesan bahwa kebanyakan dari kita umat Katolik cenderung akan memberikan jawaban klasik dan cari aman seperti ini: TIDAK TAHU.

Apakah dengan mengatakan “Saya tidak tahu” sudah cukup untuk memberikan jawaban atas pertanyaan itu? Tentu saja tidak, kan? Sebaliknya, jawaban seperti itu justru akan membuat orang lain mempertanyakan kedalaman iman kita. Mereka akan berkata, “Jangan-jangan imanmu dangkal-dangkal saja.” Kita tidak bisa mempersalahkan mereka apabila mereka berkata demikian. Maka dari itu, seharusnya perkataan cari aman seperti itu tidak boleh keluar dari mulut kita. Tapi hal itu baru dapat terjadi hanya jika kita benar-benar pernah meluangkan waktu untuk membaca ayat-ayat Kitab Suci. Mengapa? Karena kalimat di atas tidak lepas dari konteks bacaan Kitab Suci.

[postingan number=3 tag= “iman-katolik”]

Kalimat yang berbunyi “Dosa menghujat Roh Kudus tidak dapat diampuni,” muncul di dalam Injil Sinoptik: Mat. 12:22-37, Mrk. 3:20-30, atau Luk. 11:14-23. Dari perikop tersebut, diceritakan bahwa Yesus melakukan banyak mukjizat. Ia mengusir setan dan menyembuhkan banyak orang buta dan bisu. Semua itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh Yesus tanpa kuasa Allah. Justru karena Ia sendiri adalah Allah makanya Ia bisa memberikan banyak mukjizat.

Nah, ketika orang-orang Farisi menyaksikan apa yang dilakukan oleh Yesus itu, bukannya percaya atau minimal mempelajari hal itu, mereka malah dengan serta merta berkata “Dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan” [Mat. 12:24].

Padahal, sebagai orang Farisi, mereka seharusnya tahu akan nubuat Nabi Yesaya yang berbunyi: “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara” [Yes. 35:5-6]. Jika nubuat itu mereka tahu, maka tidak pantaslah mereka melontarkan kata-kata yang tidak santun seperti itu terhadap apa yang dilakukan oleh Yesus.

Sayangnya, sekalipun mereka tahu akan nubuat Nabi Yesaya itu, mereka toh tetap mengatakan bahwa Yesus kerasukan Roh jahat. Maka, dalam konteks itulah Yesus mengatakan bahwa “Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni” [Mat. 12:31].

Frasa ‘tidak dapat diampuni’ rupanya berhasil membuat telinga banyak orang memerah. Mereka tidak setuju jika dikatakan bahwa ada dosa yang tidak dapat diampuni. Alasan yang mereka berikan juga cukup masuk akal: Allah yang kita imani adalah Allah yang Maharahim dan Mahakasih. Makanya mereka bertanya, “Bagaimana mungkin ada dosa yang tidak dapat diampuni oleh Allah yang Maharahim dan Mahakasih itu”?

Jawaban yang perlu kita berikan cukup singkat saja. Bahwasanya memang kerahiman dan kasih Allah tidak mengenal batas; tetapi siapa yang dengan sengaja tidak bersedia menerima kerahiman dan kasih Allah melalui penyesalan, ia menolak pengampunan atas dosa-dosanya dan pada saat yang sama ia juga menolak keselamatan yang ditawarkan oleh Roh Kudus. Ketegaran hati semacam itu dapat menyebabkan sikap yang tidak bersedia bertobat sampai pada saat kematian sehingga dapat menyebabkan kemusnahan abadi.

Kita juga dapat mengatakan bahwa secara prinsip dosa adalah suatu kesalahan yang membuat manusia membelok dari tujuan akhir, yaitu persatuan dengan Tuhan. Semakin parah suatu dosa, maka pembelokannya terhadap tujuan akhir akan semakin besar; dan dosa menghujat Roh Kudus adalah suatu pembelokan yang benar-benar bertentangan dengan tujuan akhir.

Apalagi, tentang Roh Kudus yang dijanjikan, Yesus berkata “Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” [Yoh. 16:8]. Jadi, tugas utama dari Roh Kudus adalah ‘menginsafkan’ manusia dari dosanya. Jika manusia tidak mau insaf, maka ia berdosa melawan Roh Kudus.

Dengan kata lain, pada saat mereka menghujat karya Allah, Roh Kristus yang sebenarnya terbentang di hadapan mereka – seperti pengajaran dan banyak mukjizat – kemudian mengatakan bahwa semua itu berasal dari Setan, mereka telah mengeraskan hati mereka dan secara jelas menolak Allah, yang telah berbicara kepada bangsa Yahudi lewat para nabi.

Maka, benarlah jika dikatakan bahwa kalau seseorang menolak Roh Kudus berarti ia menolak kebenaran dan menolak kasih Allah, serta menolak pengampunan dari Allah. Orang seperti itu tidak mungkin dapat diampuni baik pada kehidupan sekarang maupun pada kehidupan yang akan datang.

Diolah dan dikembangkan dari: www.katolisitas.org

Cinta Segitiga Berujung Petaka: Abraham, Sara, dan Hagar

1

Sampai dengan masa kembalinya Abram dan istrinya, Sarai, dari Mesir ke Tanah Negeb, mereka masih belum dikaruniai anak. Saat itu, Sarai mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya.

Kemungkinan Hagar mereka bawa dari Mesir ketika mereka meninggalkan tanah Mesir. Berkatalah Sarai kepada Abram: “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak” (Kej. 16:2).

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Abram mendengarkan perkataan Sarai. Maka, Sarai mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, — yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya. Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu.

Drama perseteruan pun muncul. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu. Lalu berkatalah Sarai kepada Abram: “Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah akan aku; TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau” (Kej. 16:5).

Kata Abram kepada Sarai: “Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik” (Kej. 16:6). Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya. Lalu Malaikat TUHAN menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan ke Syur. Katanya: “Hagar, hamba Sarai, dari manakah datangmu dan ke manakah pergimu?” Jawabnya: “Aku lari meninggalkan Sarai, nyonyaku” (Kej. 16:7-8).

Lalu kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: “Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya” (Kej. 16:9). Lagi kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: “Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya” (Kej. 16:10).

Selanjutnya kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: “Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu. Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya” (Kej. 16:11-12). Hagar melakukan apa yang dikatakan Malaikat itu kepadanya. Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael. Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.

Sampai di sini semua berjalan dengan baik. Semua berubah ketika Ishak lahir. Ishak bertambah besar, dan tentu saja ia bermain dengan saudara tirinya, Ismael. Sara tidak tega melihat bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. Maka, berkatalah ia kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak” (Kej. 21:10).

Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu. Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena ia pun anakmu” (Kej. 21:12-13).

Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. Demikianlah cerita itu berjalan. Allah menyertai Ismael, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah. Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.

Sampai di sini, kita harus menegaskan bahwa yang akan disebut keturunan Abraham ialah yang berasal dari Ishak. Ishak lahir dari perkawinan yang sah antara Abraham dengan Sara. Adapun Hagar, bukan istri sah Abraham, sehingga anak yang lahir darinya tidak bisa menjadi ahli waris. Makanya Sara berani berkata kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak” (Kej. 21:10). Jadi, Ishak, sampai kapanpun akan disebut sebagai anak tunggal Abraham. ***

Kontroversi Pemakaian Kata ‘Allah’ dan Kata ‘Yahwe’

0
Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Pengantar

Sebagai makhluk yang diciptakan untuk sesuatu yang tidak terbatas, manusia tidak pernah dapat puas dengan dunia yang serba terbatas ini. Segala harta dunia ini, segala silau teknologinya yang canggih, segala kepuasan yang ditawarkannya, pada hakikatnya tidak pernah dapat memuaskan hati manusia yang selalu merindukan sesuatu yang mengatasi dunia ini.

Ada banyak interpretasi tentang realitas yang tidak terbatas itu, semuanya bertujuan agar manusia sampai kepada pemahaman yang akurat tentang Yang Absolut itu. Bagi orang Arab, realitas yang tidak terbatas itu adalah Allah, sedangkan orang Yahudi menyebutnya Yahwe.

Di antara kedua kata tersebut, kata ’Allah’ merupakan kata yang paling populer dan digunakan bersama-sama oleh penganut agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Akan tetapi, belakangan ini penggunaan kata Allah di kalangan Kristen menuai kritik yang tajam dari umat Islam.

Menurut umat Islam, kata Allah merupakan trade mark umat Islam saja. Muncul pertanyaan: apakah kata ’Allah’ milik ekslusif orang Islam? Ataukah ada kata lain yang lebih orisinil untuk mengetahui identitas sang causa prima non causata itu?

Entah mengapa beberapa agama Kristen non-Katolik akhirnya memilih untuk menyebut sesembahan mereka sebagai Yahwe, dan mulai mempopulerkan kata itu di kalangan mereka. Muncul pertanyaan: apakah orang-orang Katolik sengaja tidak mempopulerkan kata ’Yahwe’ di kalangan orang Katolik? Mengapa?

Untuk menjawab kedua pertanyaan itu, akan dibicarakan dulu asal-usul kata ‘Allah’ dan kata ‘Yahwe’.

Asal-usul Kata ’Allah’

Secara etimologis, kata ’Allah’ merupakan perpaduan dua kata Arab: al– dan ilah, artinya Yang Mahakuasa. Kata Semit ilah sama arti dan akarnya dengan kata Ibrani el yang berarti yang kuat, yang berkuasa, dan menjadi sebutan untuk Tuhan. Karena dikira ada banyak el atau ilah (politeisme), maka satu ilah disebut sebagai El-Elyon, Allah Tertinggi, yang diakui sebagai Pencipta langit dan bumi.

Kata ’Allah’ sudah dikenal oleh masyarakat Arab sebelum Islam untuk menunjuk Pencipta alam semesta, yang terlalu jauh atau terlalu tinggi untuk disembah atau dimintai perhatian. Sudah di masa sebelum Islam, al-ilah disambung menjadi Allah. Dengan demikian, kata Allah bukan ciptaan orang Islam, melainkan ia merupakan kata biasa dalam bahasa Arab lepas dari ikatan dengan salah satu agama tertentu.[1] 

Tradisi Teologis Perubahan Nama

Bangsa Israel lahir dan berkembang di dalam suasana keagamaan yang serba ragam dengan nama sesembahan mereka masing-masing. Sejumlah Kitab Perjanjian Lama menyebutkan bahwa nama pribadi sesembahan bangsa Israel adalah Yahwe. Nama ini membedakan sesembahan bangsa Israel dengan ilah-ilah bangsa lain (Ul 7:25).  Nama Yahwe amat sering digunakan dalam Alkitab Ibrani. Dengan nama Yahwe, Allah telah menyatakan diri dalam sejarah bangsa Israel.

Bangsa Israel sudah mengenal Yahwe, sebab Yahwe sendiri telah menyatakan diri-Nya kepada mereka: ”Aku ini Yahwe, itulah nama-Ku” (Yes 42:8). Nama Yahwe diartikan sebagai ”Dia ada,” dalam arti ”ada untuk umat-Nya,” hadir dan bertindak bagi mereka, menyertai mereka dalam perjalanan keluar dari perbudakan.

Namun demikian, bangsa Israel masih mencari Dia, memanggil Dia dengan nama-nama ilahi yang berasal dari dunia keagamaan bangsa-bangsa di daerah pengembaraan mereka sebab Yahwe sendiri berkenan memperkenalkan diri-Nya di bawah nama-nama itu.

Muncul pertanyaan: apakah sama antara Yahwe dengan sembahan bangsa-bangsa pengembara itu? Jauh dari menyamakan diri dengan sembahan-sembahan itu, Yahwe seakan-akan merebut, menyita, dan mengambil alih nama-nama mereka.[2] Latar belakang kafir dari nama-nama itu tidak dapat menghalangi penggunaannya sebagai alat pernyataan diri Yahwe kepada para bapa leluhur Israel. Yahwe berkenan mempergunakan ciri-ciri keagamaan sekedar untuk menyatakan diri-Nya yang sebenarnya.

Meskipun bangsa Israel mengenal Yahwe, tetapi nama yang kudus ini tidak boleh disebut dengan sia-sia mengingat arti penting sebuah nama dalam Perjanjian Lama. Nama mewakili pribadi dan mengetahui nama seseorang kadang-kadang menguasai orang itu (bdk. Kej 32:29).[3] Oleh karenanya, orang-orang Israel zaman dulu mengganti nama Yahwe dengan istilah Adonai.

Kebiasaan bangsa Israel untuk menggantikan kata ’Yahwe’ dengan kata  ’Adonai’ diikuti oleh Yesus dan para rasul-Nya. Atas dasar itulah, orang-orang Katolik juga tidak menggunakan kata ‘Yahwe’ untuk menyebut sesembahan mereka.

Orang Katolik menyadari bahwa akar dari Kekristenan adalah ajaran-ajaran yang diwariskan secara turun-temurun dari bangsa Israel. Maka – sama seperti orang Israel tidak mau menyebut kata ‘Yahwe’ karena kata itu terlalu suci untuk disebut sembarangan – demikianlah juga orang Katolik tidak mau menyebut kata itu.

Lembaga Alkitab Indonesia kiranya juga mengikuti kebiasaan ini dalam menerjemahkan Yahwe dengan kata ’Allah.’ Terjemahan ini tepat mengingat sebutan ’Allah’ itu memiliki jangkauan luas dan universal, melampaui batas bangsa. Oleh karenanya, kita sebagai umat Kristen jelas  tidak rela disuruh untuk melepaskan sebutan ’Allah’ itu.

Penggunaan Kata ”Allah” dalam Tradisi Arab Kristen

Secara historis, terdapat pandangan di kalangan orang banyak, baik yang Muslim maupun yang bukan Muslim, tentang adanya kesejajaran antara ’ke-Islam-an’ dan ke-Arab-an.’ Pandangan seperti itu jelas tidak didasarkan pada kenyataan tetapi hanya didasarkan pada kesan semata. Akibatnya, banyak orang mengira bahwa hanya orang Islam yang percaya kepada Allah, atau bahwa kata ’Allah’ itu sendiri adalah milik ekslusif orang Islam. Padahal dalam kenyataannya, bahasa Arab bukanlah bahasa khusus orang-orang Muslim dan agama Islam, melainkan juga bahasa kaum non-Muslim dan agama bukan Islam sebab di kalangan bangsa Arab terdapat kelompok-kelompok bukan Islam, seperti Yahudi dan Kristen.[4] Sebagai orang yang berkebangsaan Arab, mereka juga menggunakan kata ’Allah’ dan percaya kepada Allah.

Dalam terjemahan Kitab Suci Perjanjian Lama dan Kitab Suci Perjanjian Baru ke dalam bahasa Siryani yang digunakan di Siria sebelum kedatangan agama Islam, kata yang digunakan untuk menyebut Allah adalah kata yang biasa digunakan dalam bahasa-bahasa Semit (Ibrani, Arami, Arab, dan lain-lain), yakni kata yang memiliki akar kata ’l’. Kata tersebut dalam bahasa Siryani diucapkan alaha, ”dewa itu” yang sama artinya dengan ha-eloah dalam bahasa Ibrani, atau Allah dalam bahasa Arab. Dengan demikian, sangat masuk akal kalau orang-orang Islam menggunakan kata ’Allah’ untuk menunjuk kepada sesembahan mereka, dan orang-orang Yahudi dan Kristen Arab memakai kata ’Allah’ yang sama itu pula untuk menyebut sesembahan mereka.

Ketika orang-orang Muslim Arab melakukan ekspansi militer dan politik keluar dari Jazirah Arabia, mereka membawa agama Islam kepada masyarakat bukan Arab. Dengan demikian, masyarakat bukan Arab tersebut menggunakan bahasa Arab setelah wilayah mereka dikuasai oleh orang-orang Arab sehingga mereka pun memakai kata ’Allah.’ Jadi, kata ’Allah’ bukan kepunyaan orang Islam saja melainkan kepunyaan semua orang yang menggunakan bahasa Arab itu. Ingat, kata itu sudah digunakan oleh orang Arab pada zaman sebelum Islam. Kata ’Allah’ ini kemudian dipegang bersama-sama oleh orang Yahudi dan Kristen yang menggunakan bahasa Arab, demikian pula oleh orang Islam, semuanya berdasarkan latar belakang etimologis kata itu sendiri dan tradisi teologis agama-agama mereka yang berakar dalam Perjanjian Lama.

Tanggapan Kritis

Agama Kristen mengakui bahwa Allah memperlihatkan diri-Nya lewat suatu kebudayaan yang konkret dan definitif. Hal ini tampak jelas dalam diri Yesus Kristus yang lahir pada suatu waktu tertentu, di suatu tempat tertentu, dan berintegrasi dalam suatu kebudayaan tertentu yaitu kebudayaan Yahudi Palestina. Warta universal dari Allah yang dimaklumkan dalam diri Yesus Kristus dialamatkan kepada manusia dari suatu kebudayaan tertentu pula.

Pewartaan tersebut bisa ditanggapi lewat unsur budaya setempat, yaitu bahasa mereka sendiri. Pengakuan inilah yang merupakan salah satu pendorong bagi umat Kristiani untuk menghormati bahasa setempat dalam usaha mencapai pemahaman yang akurat tentang Yang Absolut itu.[5] Dengan kata lain, latar belakang permasalahan perbedaan penggunaan kata untuk menyebut realitas yang tidak terbatas itu bagi umat Kristiani tidak terlalu dipersoalkan. Inti yang mau diambil oleh umat Kristiani adalah bahwa dengan penggunaan kata tertentu misalnya kata ’Allah’ untuk menyebut Yang Absolut itu, kehadiran Dia yang disebutkan itu dapat ditangkap, dipahami, dan diterima oleh orang-orang yang dalam kenyataannya terikat dalam konteks bahasa tertentu.

Penggunaan kata ’Allah’ di kalangan orang Kristen merupakan wujud khusus yang menandakan bahwa Allah hadir dan berbicara dengan bahasa orang setempat, yaitu masyarakat yang menjadi pendengar-Nya. Allah menggunakan medium bahasa setempat untuk mengungkapkan siapa diri-Nya, namun kehadiran-Nya lepas dari semua bahasa yang digunakan oleh manusia manapun. Jadi, kehadiran Allah melampaui setiap kata yang kita pakai untuk menyebut-Nya.

Kata ’Allah’ dipakai untuk merumuskan penghayatan atau penangkapan kita tentang realitas tertinggi, bukan realitas in se-Nya. Dengan demikian, yang lebih penting bagi kita ialah menyadari arti pernyataan diri Allah ini. Ia berkenan menggunakan bahasa tertentu untuk memperkenalkan diri-Nya kepada semua orang. Pendekatan yang mengadakan hubungan langsung dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh pendengar-Nya membuka kemungkinan untuk diterima oleh setiap orang di mana Allah menyatakan diri-Nya sehingga mereka menemukan kehadiran Allah di tengah-tengah mereka.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa perubahan nama untuk menyebut realitas tertinggi sudah dimulai sejak zaman bangsa Israel Kuno. Mula-mula bangsa Israel mengenal sesembahan mereka sebagai Yahwe, namun selanjutnya mereka merasa bahwa nama itu sungguh kudus sehingga tidak pantas untuk diucapkan sembarangan. Untuk menggantikan sebutan Yahwe, mereka memilih sebuah kata baru yaitu Adonai.

Dalam perkembangan selanjutnya, orang Israel tidak hanya menyebut Yahwe dengan kata Adonai, tetapi juga memanggil Dia dengan nama-nama ilahi yang berasal dari dunia keagamaan bangsa-bangsa di daerah pengembaraan mereka. Hal tersebut dilakukan karena mereka yakin bahwa Yahwe sendiri berkenan memperkenalkan diri-Nya di bawah nama-nama itu. Latar belakang kafir dari nama-nama itu diberi arti secara baru  dan diyakini sebagai alat pernyataan diri Yahwe kepada para bapa leluhur Israel.

Kebiasaan bangsa Israel untuk menggantikan kata ’Yahwe’ dengan kata yang lain diwariskan secara turun-temurun. Akibatnya, setiap bangsa mempunyai kata sendiri untuk menyebut sesembahan mereka, namun tetap mengungkapkan realitas tertinggi itu. Bagi orang-orang yang berlatar belakang Arab, kata yang mereka pakai adalah kata ’Allah.’ Kata ini merupakan kata universal yang dipakai bersama-sama oleh orang Yahudi dan Kristen yang menggunakan bahasa Arab, demikian pula oleh orang Islam. Jadi, kata ’Allah’ bukan kepunyaan orang Islam saja melainkan kepunyaan semua orang yang menggunakan bahasa Arab itu.

Latar belakang kafir dari nama-nama itu diberi arti secara baru  dan diyakini sebagai alat pernyataan diri Yahwe kepada para bapa leluhur Israel. Kebiasaan bangsa Israel untuk menggantikan kata ’Yahwe’ dengan kata yang lain diwariskan secara turun-temurun. Akibatnya, setiap bangsa mempunyai kata sendiri untuk menyebut sesembahan mereka, namun tetap mengungkapkan realitas tertinggi itu. Bagi orang-orang yang berlatar belakang Arab, kata yang mereka pakai adalah kata ’Allah.’ Kata ini merupakan kata universal yang dipakai bersama-sama oleh orang Yahudi dan Kristen yang menggunakan bahasa Arab, demikian pula oleh orang Islam. Jadi, kata ’Allah’ bukan kepunyaan orang Islam saja melainkan kepunyaan semua orang yang menggunakan bahasa Arab itu.

Daftar Pustaka

Barth, Ch. 1970. Theologia Perjanjian Lama I. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Ensiklopedi Islam. 1994. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
Madjid, Nurcholish. 1992. Islam: Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina.
Murphy, Roland E. 2004. 101 Tanya Jawab tentang Taurat. Jakarta: Obor.
Schumann, Olaf. 1996. ”Mengenai Kata Allah,” dalam Keluar dari Benteng Pertahanan. Jakarta: Gramedia.

[1] Olaf Schumann, ”Mengenai Kata Allah,” dalam Keluar dari Benteng Pertahanan (Jakarta: Gramedia, 1996), hlm. 172.

[2] Lih. Dr. Ch. Barth, Theologia Perjanjian Lama I (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1970), hlm. 91.

[3] Roland E. Murphy, 101 Tanya Jawab tentang Taurat ((Jakarta: Obor, 2004), hlm. 52.

[4] Lih. Artikel Nurcholish Madjid, ”Universalisme Islam dan Kedudukan Bahasa Arab,” dalam Islam: Doktrin dan Peradaban (Jakarta: Paramadina, 1992), hlm. 358.

[5] Menurut hemat saya, inilah salah satu alasan yang mendasar mengapa orang-orang Kristen terutama Katolik tidak terlalu berkeberatan ketika Yahwe yang mereka imani diganti dengan berbagai nama sesuai dengan kebiasaan dan bahasa setempat. Misalnya, orang Arab menyebut-Nya Allah, Latin (Deus), Yunani (Theos), atau Inggris (God).

Apakah Orang Katolik Menyembah Maria?

0
photosforyou / Pixabay

Orang-orang seringkali mengajukan pertanyaan ini: “Mengapa orang Katolik menyembah Maria?” Perlu ditegaskan di sini bahwa orang Katolik tidak menyembah Maria, tetapi menghormati Maria. Ini dua istilah yang kelihatannya mirip tetapi maknanya sangatlah berbeda.

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Penghormatan orang Katolik terhadap Maria tentu tidak muncul begitu saja. Penghormatan seperti itu jelas ada alasannya, yaitu karena Maria adalah bunda Yesus. Dengan menjadikan Maria sebagai ibu dari putra tunggal-Nya, itu berarti bahwa Allah menghargai Maria. Kitab Suci mengabarkan kepada kita bahwa Allah mengirim Malaikat Gabriel kepada Maria untuk menyampaikan satu pesan: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau. Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”” [Luk. 1:28,30-31,38].

Sekali lagi, orang Katolik menghormati Maria karena Allah sendiri saja menghargai dia. Allah memilih Maria di antara banyak perempuan di dunia ini untuk melahirkan putra-Nya. Maria mengatakan ‘YA’ terhadap tawaran Allah itu, padahal dia sendiri sebenarnya bisa saja mengatakan tidak saat dia diberikan tawaran oleh Allah. Jadi, dalam Gereja Katolik, Maria diberi tempat yang istimewa karena Maria sudah mengatakan YA terhadap tawaran Allah itu.

Maria tahu bahwa dia bisa saja dirajam dan dihukum mati karena hamil di luar perkawinan. Ia sadar akan resiko itu. Dia juga tahu bagaimana Yosef, tunangannya itu, keluarganya, dan semua orang sekampungnya akan bereaksi terhadap kehamilannya, tetapi dia toh tetap mengatakan ‘YA’ terhadap tawaran dari Allah. Inilah alasan mengapa orang Katolik sangat menghormati Bunda Maria. Allah mempercayakan Maria untuk mencintai putra-Nya dan untuk merawat-Nya. Maria melakukannya, bahkan sampai di kaki salib.

Mengapa orang Katolik berdoa di depan patung Maria? Jawabannya sederhana: karena kita membutuhkan gambaran tentang Maria. Patung-patung itu dibuat untuk membantu kita membayangkan Maria sebagai seorang pribadi yang nyata, tidak hanya apa yang dikisahkan di dalam bacaan Kitab Suci.

Apakah orang Katolik berdoa kepada Maria? Jawabannya: orang Katolik tidak berdoa kepada Maria, tetapi berdoa kepada Yesus. Doa-doa orang Katolik selalu langsung ditujukan kepada Yesus. Tetapi, kadang-kadang kita meminta Maria untuk berbicara kepada Yesus, supaya Yesus mendengarkan doa-doa kita. Ingat, Yesus sangat mengasihi ibunya dan kita berharap agar Maria dapat mempengaruhi Yesus untuk mendengarkan doa-doa kita, sama seperti apa yang dia katakan kepada Yesus saat peristiwa ‘mengubah air menjadi anggur’ pada pesta pernikahan di Kana.

Yesus mendengar perkataan ibu-Nya ketika Maria meminta membantu tuan pesta meskipun sebenarnya saat itu Ia belum berniat untuk mengubah air menjadi anggur. Tetapi toh Ia melakukannya juga karena ibu-Nya yang meminta kepada-Nya. Kita berharap bahwa Yesus mengabulkan permohonan kita jika ibu-Nya meminta kepada-Nya.

Tetapi, bukankah dengan berdoa Rosario, orang Katolik berdoa kepada Maria? Sama sekali tidak. Ketika kita berdoa Rosario, seluruhnya sebenarnya berisi tentang refleksi atau meditasi, tentang hidup dan karya Yesus.

Diolah dan dikembangkan dari www.katolisitas.com

Pesta Kelahiran SP Maria: Inspirasi Umat Beriman — Renungan Harian

0
Foto ilustrasi dari Pixabay.com

“Pesta Kelahiran SP Maria: Inspirasi Umat Beriman”: Renungan Harian Katolik, Sabtu 8 September 2018 — JalaPress.com; Injil: Mat. 1:1-16, 18-23

Betapa besarnya jasa ibu, sampai-sampai ada ungkapan yang menyebutkan bahwa ‘Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu’. Sekiranya ungkapan ini tidak terlalu berlebihan dan memang layak disematkan pada setiap ibu. Ungkapan ini hanya mau menunjukkan betapa kita wajib menghormati dan berbakti pada ibu kita.

Ibu adalah segalanya, atas jasanya kita bisa merasakan hidup yang seperti sekarang. Semua orang yang berjasa besar bagi dunia, pastilah lahir dari rahim ibu-ibu mereka. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang jatuh begitu saja dari langit tanpa lahir dari rahim seorang ibu.

Kita wajib menyayangi ibu kita; sebab ia sudah terlebih dahulu menyayangi kita. Jika ibu kita tidak menyayangi kita, pastilah ia tidak pernah mau mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan kita, dan dengan demikian kita tidak akan pernah lahir ke dunia ini.

Rasa sayang ibu pada kita tidak berhenti hanya pada saat ia melahirkan kita. Ia juga berjuang setengah mati untuk membesarkan kita. Ketika kita masih kecil, ibu kita bersusah payah bangun pagi-pagi memasakan nasi bagi kita dan mengantar kita ke sekolah; dan sebagainya.

Itulah sebagian kecil dari daftar kebaikan ibu pada kita. Lantas, sebagai balas jasa, apa saja yang sudah kita berikan kepada ibu kita? Apakah kita sudah sungguh-sungguh menghormati dan berbakti pada ibu kita?

Hari ini Gereja sedunia merayakan ‘Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria’. Pesta ini menunjukkan betapa Gereja mengasihi dan menghormati Maria sebagai wanita yang mempunyai peranan besar di dalam karya keselamatan.

Bunda Maria sudah mempertaruhkan hidupnya untuk melahirkan Yesus. Ia tidak malu dan tidak takut untuk menjadi Ibu dari Tuhan Yesus meskipun waktu itu umurnya masih sangat muda. Ia menemani Yesus mulai dari kandang hina di Betlehem sampai di kaki salib di Golgota.

Nah, jika saja waktu itu Bunda Maria tidak mau melahirkan Yesus, boleh jadi ceritanya akan berbeda dari apa yang kita ketahui selama ini. Atau, boleh jadi juga kita tidak merayakan Natal sebagaimana yang selama ini kita rayakan. Kita merayakan Natal karena Bunda Maria bersedia melahirkan Tuhan Yesus.

Maka, apa yang bisa kita berikan kepada Bunda Maria atas jasanya itu? Tidak bisa tidak, kita harus memberikan penghormatan kepada Bunda Maria. Ya, sebagai orang Katolik kita memberikan penghormatan yang luar biasa kepada Bunda Maria karena Bunda Maria sudah bersedia menjadi Ibu dari Tuhan Yesus. Salah satu bentuk dari penghormatan kita adalah dengan merayakan pesta kelahirannya.

Apakah Suami-Istri Masih Dapat Bersatu di Surga? Simak Penjelasannya!

0
CHENA / Pixabay

Apa yang akan terjadi pada pasangan suamiistri setelah mereka meninggal dunia? Apakah di surga nanti mereka masih bisa bersatu kembali sebagai suami-istri?”

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Saya berpikir bahwa pertanyaan seperti ini penting untuk diajukan, sekaligus menarik untuk ditelaah, sebab memang dalam lubuk hati setiap pasangan suami-istri sebetulnya diam-diam tersimpan harapan seperti itu.

Sebenarnya, pertanyaan serupa sudah pernah diajukan oleh orang-orang Saduki kepada Yesus pada dua ribu tahun yang lalu (Mrk 12:19-25 dan Mat 22:23-30).

Orang-orang Saduki itu bertanya “Jika seorang istri menikah dengan tujuh suami, karena suami-suami yang sebelumnya telah meninggal, maka siapakah yang menjadi suami dari istri tersebut pada hari kebangkitan?

Yesus menjawab “Pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan, melainkan hidup seperti malaikat di Sorga” (Mat 22:30; Mrk 12:25). Dari sini, kita melihat bahwa pada waktu di Sorga, pasangan suami-istri tidaklah seperti pasangan suami-istri yang kita tahu di dunia ini.

1) Kita juga mengingat, dalam janji yang dilakukan pada waktu menerima Sakramen Perkawinan, suami istri berjanji untuk sehidup semati sampai maut memisahkan mereka. Maka secara prinsip, sakramen – termasuk Sakramen Perkawinan – membantu kita untuk lebih dekat dan bersatu dengan Kristus. Dalam Sakramen Perkawinan, suami-istri berusaha untuk menguduskan satu sama lain, sehingga mereka dapat mencapai Surga. Mereka juga dipanggil untuk mendidik anak-anak, sehingga anak-anak mereka juga dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sakramen Perkawinan menjadi gambaran dari persatuan antara Kristus dengan Gereja-Nya (lih. Ef. 5). Pada waktu kita semua masuk ke dalam Kerajaan Surga, kita tidak lagi memerlukan Sakramen, karena kita telah berjumpa dan bersatu dengan Kristus sendiri, dalam persatuan yang lebih sempurna dan abadi. Sakramen sebagai cara (means) tidak diperlukan lagi pada waktu kita mencapai tujuan (end), yaitu Kerajaan Sorga. Dengan demikian, pasangan suami istri tidak lagi memerlukan Sakramen Perkawinan di Surga.

Bagaimana bentuk hubungan suami-istri di Surga, kita tidak pernah tahu secara persis, dan Yesus hanya mengatakan bahwa mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan, namun hidup sebagaimana layaknya para malaikat. Ini berarti, suami istri tidak lagi melakukan hubungan jasmani, karena persatuan dan kebahagiaan roh  adalah lebih utama daripada kebahagiaan badani.

2) Apa yang dipersatukan Allah memang tidak boleh diceraikan oleh manusia (lih. Mt 19:6). Namun, kalau kita melihat kodrat dari Sakramen Perkawinan yang menggambarkan Perkawinan Kudus antara Kristus dengan Gereja-Nya, maka hubungan suami-istri di dunia yang terikat di dunia, tidaklah diceraikan oleh Allah, namun justru diangkat derajatnya, sehingga setiap individu mengalami persatuan abadi dengan Allah; dan dengan persatuan di dalam Allah ini, maka persatuan antara suami dan istri di Surga mencapai kesempurnaannya. Persatuan abadi dengan Allah di Sorga ini adalah sempurna dan abadi, jauh lebih indah dari persatuan suami-istri di dunia ini.

3) Bagaimana jika salah satu pasangan tersebut terpisah, di mana yang satu masuk Sorga dan yang lain masuk neraka? Jika pasangan suami istri terpisah selamanya (yang satu di Sorga dan yang lain di neraka), maka jelas mereka tidak dapat berkumpul lagi. Setelah Kebangkitan Badan di akhir zaman, bagi yang berada di neraka, ia tetap berada di neraka karena neraka adalah keterpisahan abadi dengan Tuhan; dan surga adalah persatuan abadi dengan Tuhan. Maka, neraka dan surga tidaklah mungkin terseberangi. Dengan demikian, suami dan istri tidak akan berkumpul kembali, jika yang satu berada di surga dan yang lain di neraka.

Diolah dan dikembangkan dari: www.imankatolik.or.id

Kang Je dan Masa Lalu

0
Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Tanpa ragu-ragu lagi, teman lamaku ini langsung memelukku kencang begitu kami diberi kesempatan untuk bisa bertemu lagi setelah sekian lama.
“Papi bisa kembali ke Indonesia lagi. Aku bahagia sekali,” ujarnya begitu ia puas memeluk dan mencium pipi kanan kiriku.
“O ya? Kapan?” Aku jadi merasa surprise dengan berita barusan.
“Secepatnya. Setelah segala urusan kelar.”
“Wah, selamat. Selamat.” Kali ini aku menjabat tangannya erat.
“Terima kasih. Aku tidak menyangka hal membahagiakan ini akan terjadi juga. Kamu tahu kan sudah lama sekali aku menginginkan Papi kembali ke Indonesia. Apalagi setelah Mami meninggal beberapa waktu lalu.”
Kuangguk-anggukkan kepala.
Teman lamaku ini sudah sejak balita ditinggal Papinya yang melarikan diri ke luar negeri setelah peristiwa bersejarah tahun 65 lalu. Papinya yang sebenarnya tidak terlibat langsung, seringkali dicari pemerintah pada masa itu. Alasannya jelas karena dianggap ia menjadi kaki tangan organisasi yang dikalim sebagai dalang peristiwa berdarah itu. Beruntung Papinya masih bisa bersembunyi di banyak tempat hingga akhirnya menetap di luar negeri. Itu juga harus berganti-ganti negara karena ia dianggap pelarian politik.
Beruntung, begitu bermukim di Belanda, pemerintah setempat memberi kesempatan padanya untuk menjadi penduduk asli negara sana. Tentu saja hal itu tidak disia-siakan. Meski itu berarti harus berpisah dengan keluarganya di Indonesia.
Istrinya yang merupakan Mami temanku itu tidak mau ikut mengungsi ke negeri orang itu. Ia mementingkan kondisi anak-anaknya yang waktu itu masih kecil-kecil. Akibatnya, suami istri itu sempat terpisah lama meski tetap bolak balik Indonesia-Belanda. Dalam kondisi ini, teman lamaku itu lahir. Sayangnya, ketika ia belum genap berumur lima tahun, kesepakatan cerai keluar dari mulut orang tuanya. Alhasil, temanku tersebut nyaris tak mendapatkan kasih sayang seorang Ayah.
Walau demikian, jika Papi kandungnya itu mudik ke Indonesia, tetap dan selalu menemui anak-anaknya yang beranjak dewasa.
“Aku turut senang mendengar berita ini,” ujarku lagi. Siang panas ini menjadi tersejukkan dengan berita menggembirakan ini.
“Apalagi aku. Kamu bayangkan, sekian lama aku nggak bisa ketemu Papi, ternyata Papi yang malah akan kembali lagi ke sini.” Kegembiraaan itu tak bisa ia sembunyikan di raut wajahnya yang bersih.
“Apakah dia masih sehat?”
“Sangat sehat.”
“Kerja apa Papimu di Belanda?”
“Selain tetap jadi dosen, dia juga menulis dan sesekali membantu di restoran temannya.”
“Well… Hebat.”
“Yang lebih hebat lagi, Papi masih suka ke Gereja lho!”
“O ya?” aku kembali dikejutkan dengan berita barusan.
Kepala temanku mengangguk-angguk mantap. “Dari Papi juga aku tahu bahwa kehidupan gereja di sana sangat sepi. Apalagi anak muda. Gereja jarang dikunjungi, sekarang malah lebih menjadi tempat wisata.”
“Papimu memang orang hebat kok,” sebuah suara mendadak muncul, memecah kegerahan siang di depan teras rumahku ini. Spontan aku menoleh. Di situ sudah berdiri sosok dengan senyum manisnya dengan stelan… hei…gaul sekali hari ini Dia. Dengan jins biru dan kaos polo putih, makin trendi saja nampaknya.
“Kaget dengan penampilanku hari ini?” tanya-Nya, mendahului mulutku hendak mengagumi. Aku jadi tersipu. Ketahuan deh…
“Umur boleh tua, tampilan boleh dong tetap gaul,” guranuNya sembari masuk ke dalam teras. Temanku jadi ikut-ikutan kagum dan menyambut kedatangannya. Tanpa ragu jabatan tangan yang ditawarkan, disambut hangat oleh temanku tadi.
“Apa kabar? Bagaimana dengan keluargamu?” tanya tamuku barusan. Dia duduk di hadapan kami.
“Baik. Sebentar lagi anakku akan berulangtahun.”
“Dan, tahu nggak Kang Je, ada hadiah luar biasa buat anaknya ini.”
Kang Je separuh terkejut. “Apa itu?”
“Papinya yang sudah lama tinggal di Belanda, akan kembali ke Indonesia,” ujarku bangga menerangkan.
“Wah, berita bagus itu.” Kang Je melebarkan senyumNya. “Maka tadi kubilang, Papi temanmu ini hebat. Bahkan dalam pelariannya sekali pun, dia tidak melupakan penciptaNya.”
“Tapi, Papinya itu sempat dituduh sebagai orang yang tidak percaya padaMu, Kang. Buktinya dia dikejar-kejar dulu kan karena dianggap sebagai salah satu dalang peristiwa tahun enam lima itu.”
Kang Je mengibas-ibaskan tangannya dahulu, mencari angin. Baru sekali kibasan, tiba-tiba saja berhembus angin sejuk di sekitar kami. Suasana gerah berubah menjadi menyegarkan. Berbarengan dengan itu, suara burung pun bersahutan seperti hendak menemani sang bayu yang berhembus tadi.
“Kamu sendiri tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Papimu?”
Temanku berpikir sejenak. Mungkin ia tengah memutar pada kejadian masa lalu dimana ia pernah diterangkan tentang keberadaan sang Papi.
“Mami pernah cerita bahwa Papi tidak seperti yang dikira orang banyak. Kalau ia mengikuti salah satu kelompok dari cabang kelompok besar yang menaunginya, bukan berarti ia mengikuti mentah-mentah ideologi yang dianut. Ada banyak faktor yang membuat Papi begitu. Dan, Mami sangat percaya, bahwa Papi tetaplah Papi seperti yang pernah ia kenal dahulu. Tidak berubah hanya karena mengikuti aktivitas itu.”
“Termasuk dampak bahwa anak-anaknya yang tidak tahu menahu kadang turut terseret juga?” Kang Je masih berusaha menegaskan ketulusan temanku itu rupanya.
Ternyata dengan sangat mantap, kepala temanku itu mengangguk. Dia sepertinya yakin benar bahwa kalau ia yakin bahwa masa lalu Papinya biar menjadi masa lalu. Kehidupan sekarang termasuk anak-anaknya, tidak berhubungan langsung dengannya.
“Tiada yang lebih tahu isi hatimu selain dirimu sendiri dan yang menciptaMu. Aku pernah mengatakan, Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu. (Yoh. 14:1) Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu (Yoh, 14:18) Maka Papimu nampaknya selalu yakin dan percaya bahkan ketika jauh dari keluarganya sekali pun.”
“Tapi, tega ya orang yang sepertinya membuang orang seperti Papinya itu. Kan belum tentu Papinya seperti tuduhan.”
“Ya, menurut Mami almarhum, Papi memilih pergi keluar sebab ia merasa tidak melakukan apa-apa yang dituduhkan.”
“Kamu sendiri sudah mengampuni Papimu sebab kesalahan masa lalumu lebih kepadamu dan keluargamu?” tanyaku pelan-pelan, tapi ingin tahu.
Kepala temanku mengangguk-angguk. Wajahnya tidak mengisyaratkan kebohongan. Ia tulus mengerjakan semua demi Papi kandungnya. “Tuhan saja menyediakan maaf yang banyak bagi anak-anakNya kok. Masa aku nggak mau? Biarlah masa lalu Papi menjadi masa lalu. Aku percaya, karena waktu dan pengalaman Papi yang banyak itu telah mengubah Papi menjadi manusia yang lebih baik. Almarhum Mami juga meyakini hal tersebut hingga akhir hayatnya. Jauh-jauh hari Mami sudah mengampuni Papi dan tetap mencintainya.”
Kang Je spontan berdiri dari duduk. Ia mendekati temanku duduk, “Bagi orang demkian sudahlah cukup teguran dari sebagian besar dari kamu sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat” (2 Kor 2:6-7)”. Senyum lebar menghias wajah temanku. Ia menengadahkan kepala untuk berhadapan langsung dengan Kang Je. “Terima kasih, Kang…”
Gantian kepala Kang Je manggut-manggut, “Sama-sama, anakKu. Damai sejahteraKu akan selalu menyertai engkau, Papimu, anak-anakmu, seluruh keluargamu dan semua manusia.”
Aku merasa bahagia sekali mendengar semua. Rasanya senyum yang tak lepas dari bibirku dan temanku itu, tak kan habis menggambarkan kebahagiaan kami. Ingin sekali waktu untuk bisa berkumpul kembali bersama utuhnya keluarga temanku itu, segera terjadi.