8.1 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 12

Percaya dan Takut akan Tuhan – Renungan Pekan Biasa I

0

Percaya dan Takut akan Tuhan: Renungan Pekan Biasa I, 10 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Ibr. 2:5-12; Injil: Mrk. 1:21b-28

Dengan berkembangnya media sosial, banyak orang berlomba-lomba untuk memposting kembali renungan-renungan yang ia terima. Tindakan ini memang baik dan benar karena mau berbagi kabar baik dengan sesama. Tetapi alangkah lebih baik dan benar adalah melaksanakan apa yang direnungkan dan dibagikan itu.

Demikian pula dengan banyak orang di Kapernaum bahkan ahli-ahli taurat hanya berhenti pada rasa kagum akan apa yang diajarkan dan dikotbahkan oleh Yesus karena Yesus mengajar dengan penuh kuasa. Mereka tidak melaksanakan apa yang diajarkan dan diteladankan oleh Yesus yakni berpihak pada mereka yang menderita.

Keberpihakan Yesus pada yang menderita juga ditegaskan oleh penulis surat kepada jemaat di Ibrani yang menegaskan bahwa Yesus memanggil mereka yang percaya kepada-Nya sebagai saudara-Nya: “Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku dan memuji Engkau di tengah umat.” Karena Ia sebagai saudara sulung maka semua yang percaya kepada-Nya dibawa kepada keselamatan berkat penderitaan-Nya.

Oleh karena itu sebagai orang Kristiani yang dikuduskan oleh pengorbanan Kristus, kita jangan berhenti pada rasa kagum pada-Nya tetapi harus percaya teguh pada-Nya dan takut akan Dia dengan melakukan apa yang telah diajarkan dan diteladankan kepada kita yakni berpihak pada mereka yang menderita. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
KaTah- Mu-Sa-Fir

Deklarasi – Renungan Pesta Pembaptisan Tuhan

0

Deklarasi: Renungan Pesta Pembaptisan Tuhan, 09 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 42:1-4.6-7; Bacaan II: Kis. 10:34-38; Injil: Mat. 3:13-17

Hari Raya Penampakan Tuhan, mukjizat air diubah menjadi anggur pada pesta perkawinan di Kana, dan Pesta Pembaptisan Tuhan adalah Trias Miracula (Tiga Mukjizat Suci) yang merupakan satu kesatuan. Trias Miracula adalah deklarasi Tuhan kepada umat manusia bahwa Ia hadir dalam sejarah hidup manusia.

Mukjizat Yesus mengubah air menjadi anggur pada pesta perkawinan di Kana telah kita rayakan pada hari Sabtu 07 Januari 2023, Hari Raya Penampakan Tuhan juga sudah kita rayakan pada Hari Minggu 08 Januari 2023 dan hari ini kita merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Peristiwa ini mengajak kita untuk menyadari dua poin penting, antara lain:

Pertama, Yesus rela bersolider dan bertoleransi dengan umat manusia yang berdosa. Baptisan Yohanes bertujuan untuk  pertobatan dan penghapusan dosa. Walaupun Yesus tidak berdosa, Ia rela dibaptis oleh Yohanes. Ia mau mengajarkan kepada kita bagaimana kita bersolider dan bertoleransi dengan sesama.

Kedua, deklarasi dari Bapa tentang Putra-Nya harus menjadi deklarasi kita kepada umat manusia. Setelah dibaptis dan ketika Yesus keluar dari air, terdengarlah suara dari Surga: “Inilah Putra-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan”. Ini adalah deklarasi dan kesaksian dari Allah Bapa. Kesaksian dan deklarasi ini telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya: “Lihat, inilah hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku yang kepada-Nya Aku berkenan”.

Melalu Sakramen Pembaptisan, kita juga diutus untuk mendeklarasikan Yesus Kristus sebagai Allah yang hadir dalam sejarah hidup umat manusia seperti yang ditunjukkan oleh Rasul Petrus kepada seluruh keluarga perwira Romawi. Ia dengan lantang menegaskan bahwa Allah telah mengurai Yesus Kristus dengan Roh-Nya. Apakah kita berani mendeklarasikan Yesus Kristus sebagai Allah yang hidup? Atau kita hanya mendeklarasikan diri sendiri untuk dikenal banyak orang? Marilah kita menjalankan perutusan ini dengan rela dan penuh sukacita. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Olahraga – Mu-Sa-Fir

Panggilan Utama Umat Kristiani – Sebuah Refleksi

0

Hukum yang pertama dan utama adalah hukum cinta kasih. Cinta kasih adalah sikap hidup yang mengungkapkan dan melaksanakan cita-cita manusia yang paling dalam yaitu mencapai kesempurnaan cinta kasih. Cinta kasih menjadi kunci bagi manusia untuk melaksankan kehendak Allah dan mendasari hidup manusia dalam tindakan konkret sehari-hari. Di dalam cinta kasih pula, manusia dapat melahirkan ketaatan dan kepercayaan yang total kepada Sang Penciptanya serta mencapai kedewasaan yang penuh bersama dengan-Nya.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Cinta merupakan panggilan yang sangat mendasar bagi setiap manusia dan sudah tertera di dalam kodrat kemanusiaannya. Panggilan untuk mencintai yang dimengerti sebagai keterbukaan sejati terhadap sesama dan kesetiakawanan dengan mereka merupakan panggilan yang paling mendasar dari segala panggilan. Panggilan itu merupakan asal-usul segala panggilan dalam hidup manusia (Yohanes Paulus II: 1999, 22-23). Cinta kasihlah yang mendorong manusia untuk mampu berelasi dengan orang lain. Manusia menjalin relasi dengan Liyan atas dasar cinta. Jika relasi itu tidak didasari dengan aspek cinta kasih maka itu hanyalah sekedar relasi yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhannya sebagai makhluk sosial. Jadi cinta kasih merupakan itu yang dirindukan semua orang (Armada Riyanto: 2013, 157).

Cinta kasih terdapat dalam diri setiap pribadi yang selalu mendarah-daging dan tidak akan menghilang dalam dirinya. Cinta diidentikkan dengan kehidupan itu sendiri. Kehidupan itu terasa berkurang jika di dalamnya tidak terdapat cinta kasih. Cinta kasih inilah yang menemani perjalanan hidup manusia setiap hari. Dengan kata lain, tanpa cinta manusia tidak dapat menjalin relasi yang mesra dengan Sang Penciptanya dan dengan Liyan.

Sebagai umat Kristiani, cinta merupakan suatu panggilan yang utuh dan sempurna. Dikatakan demikian, karena di dalam cinta Allah sungguh-sungguh hadir di dalam kehidupan manusia. Manusia menginginkan cinta sebab cinta itu sendiri adalah hakikat setiap manusia, maka manusia dipanggil untuk bergerak menuju kepada cinta (Pius Pandor: 2014, 79). Dengan hal itu, manusia pun menginginkannya, merindukannya dan menghidupinya dalam menjalin relasi dalam kehidupan bersama di tengah komunitas Kristiani.

Cinta kasih terdapat dalam diri setiap pribadi.

Cinta merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada umat-Nya. Maka manusia berusaha untuk menghidupi cinta ini dalam relasinya dengan Liyan, dengan hal ini manusia dengan sendirinya menghidupi Allah sebagai dasar kekuatannya. Sebab bagi Plato, Cinta adalah sebuah kekuatan, sebuah penggerak bagi jiwa untuk selalu mengarah pada Sang Idea. Dengan hal ini, jiwa manusia selalu bergerak menuju Sang Cinta itu sendiri. Atau dengan kata lain jiwa manusia selalu menghidupi cinta, sebab itulah “jembatan” yang mendorong manusia untuk mencapai Sang Penciptanya.

Cinta merupakan suatu kata yang kaya akan makna, kompleks, indah dan memesona. Kaya karena cinta memiliki banyak aspek, kompleks karena ia berkaitan dengan penataan relasi antarsubjek, indah dan memesona karena cinta menjadi daya yang memersatukan dan menyempurnakan serta memiliki banyak makna. Sebuah kata yang kaya akan makna, kompleks, indah, dan memesona (Armada Riyanto: 1999, 77). Cinta ini merupakan suatu kata yang sangat bermanfaat bagi manusia, karena tanpa cinta manusia tidak mempunyai kekuatan. Cinta dan kekuatan menjadi bagian dari kehidupan manusia, keduanya tidak dapat dilepaspisahkan. Kedua ikatan ini akan menghantar manusia kepada tujuan hidupnya, yaitu kebahagiaan.

Cinta menjadi alat penyambung relasi manusia dengan Tuhan. Dikatakan demikian karena Tuhan bersabda: “Kita mengasihi, karena Allah dahulu mengasihi kita” (1 Yoh. 4:19). Cinta itu berarti berasal dari “Yang di Atas”. Hakikat cinta itu diibaratkan dengan cinta seorang suami kepada istrinya. Cinta itu tidak akan sirna dalam menjalani hidup bersama, karena Allah telah menganugerahkan cinta kepada setiap manusia. Yesus datang ke dunia sebagai ungkapan Cinta Allah yang besar kepada manusia. “Aku datang ke dunia, bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan atas kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh. 6:38). Hal ini mengindikasikan bahwa Yesus ingin mengajarkan apa arti dari cinta sejati. Cinta sejati adalah sesuatu yang berasal dari hati nurani manusia, bukan atas keinginan manusiawi tetapi atas dasar keinginan surgawi. Dengan demikian, manusia menjalin relasi dengan orang lain atas dasar dorongan Roh, yang disatukan dalam satu cinta.

Cinta menjadi alat penyambung relasi manusia dengan Tuhan.

Cintalah yang akan menyatukan setiap orang untuk mencapai apa yang menjadi kehendaknya. Contohnya, seorang manusia ingin mencapai apa yang diinginkannya, tentu saja dia menjalaninya dengan penuh cinta. Karena itu, perjalanan manusia akan terasa hambar jika tidak ada cinta yang melekat dalam dirinya. Cintalah yang akan menyatukan manusia dengan rencananya dan akan menyatukan relasinya dengan Allah yang menjadi fondasi dari cinta itu sendiri.

Apa tujuan manusia hidup di dunia? Kebahagiaan adalah tujuan yang mesti diraih oleh setiap manusia. Namun, kebahagiaan itu mesti dikaitkan dengan dengan cinta kasih yang merupakan dasar spiritualitas kristiani. Kehidupan yang dilandasi dengan kebahagiaan dan cinta kasih akan membantu umat kristiani dalam menjalin relasi yang intim dengan Allah. Umat kristiani menyakini bahwa Allah adalah Sumber kebahagiaan dan dasar cinta kasih. Karena itu, umat Kristiani dipanggil untuk menggapai kebahagiaan dan cinta tertinggi itu. Dengan mencapai keduanya, manusia akan memperoleh apa yang menjadi harapan dan idamannya.

Kebahagiaan dan cinta kasih menjadi panggilan utama umat Kristiani. Panggilan menjadi bahagia dan pewaris cinta bukanlah suatu panggilan yang mudah. Orang melihat bahwa panggilan itu adalah suatu panggilan yang mudah. Bahwasanya, panggilan itu mudah diungkapkan tetapi sangat sukar untuk dilaksanakan. Sebagian orang saja yang mampu melakukan atau menghayati panggilan itu. Orang yang mampu itu adalah orang yang mampu melewati pintu yang sempit, namun di balik pintu yang sempit itu ada sesuatu yang berharga. Apa yang berharga itu? Yang berharga itu adalah berjumpa dengan kebahagiaan dan cinta yang diperjuangkan oleh setiap pribadi manusia. Perjumpaan dengan kebahagiaan dan cinta adalah perjumpaan dengan Sang Kebahagiaan dan Sang Cinta itu sendiri, yaitu Allah-Sang Kebijaksanaan Sejati.

Kebahagiaan dan cinta kasih menjadi panggilan utama umat Kristiani.

Sesungguhnya, manusia sedang berada dalam ranah peziarahan. Di dalam ranah tersebut, manusia berusaha untuk bersua dengan Sang Kebijaksanaan itu sendiri. Melalui peziarahan itu juga manusia meluangkan waktunya untuk mencari kebahagiaan dan cinta. Dengan demikian, pemahaman proses peziarahan senada dengan pengertian proses mencari. Dalam peziarahan hidup, manusia sedang berada dalam suatu proses mencari. Karena itu timbul suatu pertanyaan dalam hati setiap manusia yaitu apa yang cari dalam peziarahan hidup ini. Dalam perspektif penulis, ditemukan bahwa proses pencarian manusia ditemukan pada perjumpaan manusia dengan kebahagiaan dan Sang cinta itu sendiri. Ini merupakan finalitas proses pencarian manusia di bumi.

Proses pencarian manusia ini terungkap dalam tindakan dan tutur kata manusia. Ungkapan ini pun nampak dalam realitas hidup manusia sehari-hari. Kenyataan hidup ini mengungkapkan apakah hidup manusia melambangkan kebahagiaan dan cinta atau sebaliknya mengabaikan tujuan hidup tersebut. Dengan demikian, dalam realitas hidup sehari-hari, manusia seyogyanya mengungkapkan kebahagiaan dan cinta itu. Dengan mengungkapkan cinta dan kebahagiaan manusia menunjukkan identitasnya sebagai alter christi yang merupakan harapan dan keinginan setiap pribadi umat kristiani. Alter Christi artinya bahwa manusia dipanggil untuk menjadi Kristus kepada yang lain-menjadi pewaris cinta dan penerus kebahagiaan yang sesuai dengan kehendak dan harapan Kristus bagi umat-Nya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan dan cinta kasih adalah panggilan dasar umat Kristiani untuk mencapai Kristus yang merupakan sumber kebahagiaan dan cinta kasih itu sendiri.

Kasih dan Kisah – Renungan Hari Biasa Masa Natal

0

Kasih dan Kisah: Renungan Hari Biasa Masa Natal, 05 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: 1 Yoh. 3:11-21; Injil: Yoh. 1:43-51

[postingan number=3 tag= ‘natal’]

Kasih bukan sekedar kisah tanpa makna sehingga berakhir pada kisruh yang tak berujung. Kasih juga bukan kisah minor yang diobral dalam janji-janji manis. Tapi kasih adalah kisah penuh makna dalam sejarah manusia yang terpatri indah dalam tindakan dan atau perbuatan nyata dan dalam kebenaran. Dengan begitu kita berasal dari kebenaran karena kebenaran membuat kita rela mengasihi sesama. Sebaliknya, jika seseorang membenci saudaranya maka ia tidak hidup dalam kebenaran dan ia adalah seorang pembunuh.

Yesus yang adalah Sumber Kasih menggerakkan Filipus untuk mengikuti Dia.  Karena mengalami kasih dari Yesus, Filipus pun membagi kisah kasih ini dengan Natanael dan mengajaknya untuk bertemu dengan Yesus. Ajakan ini ditanggapi oleh Natanael dengan setengah hati, namun ketika berjumpa dengan Yesus dan mengalami kasih-Nya, Natanael pun dengan penuh iman berkata: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel”.

Kita pun memiliki kisah kasih tersendiri bersama Yesus Sang Sumber Kasih. Namun, apakah kita mewartakan kisah kasih kita bersama-Nya kepada sesama atau kita hanya mewartakan diri sendiri? Atau kita hidup dalam benci dan dendam dengan sesama? Mari kita bertobat dan menggoreskan kisah hidup kita dengan kasih-Nya agar kita mampu menjadi agen kasih di tengah dunia ini. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Cinta – Mu-Sa-Fir

Terapkan 3MTB demi dapat Hidup dalam Kebenaran yang Sejati

0

Terapkan 3MTB demi dapat Hidup dalam Kebenaran yang Sejati: Renungan Hari Biasa Masa Natal, 04 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: 1 Yoh. 3:7-10 – 3:6; Injil: Yoh. 1:35-42

[postingan number=3 tag= ‘natal’]

Setiap manusia sangat berharga di mata Tuhan sehingga Allah rela menjadi manusia. Dia adalah Kebenaran sejati. Maka seharusnya, setiap manusia yang lahir dari Allah harus hidup dalam kebenaran. Inilah yang ditegaskan oleh Rasul Yohanes dalam suratnya. Lalu bagaimana supaya kita hidup dalam kebenaran? Kita harus ‘3MTB’.

# ‘Melihat’: Setiap orang harus mampu melihat Yesus Kristus yang hadir dalam pengalaman hidup kita. Selain itu, sebagai orang Katolik, kita harus menunjukkan Yesus kepada sesama seperti yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis kepada kedua muridnya dengan berkata: “Lihatlah Anak Domba Allah!”.

# ‘Mendengar’: Suara sang Kebenaran selalu hadir dalam hidup kita. Maka, kita harus mendengar mampu membuka telinga kita untuk mendengarkan suara kasih-Nya.

# ‘Mengikuti’: Setelah melihat, mendengarkan Yesus, kita harus mengikuti Dia seperti para murid. Mengikuti Yesus bukan dengan setengah hati tetapi dengan ketulusan hati sehingga kita mampu mengalami kasih-Nya.

# ‘Tinggal bersama Yesus’ dan ‘Belajar daripada-Nya’: Tinggal bersama Yesus pasti ada tantangan dan dalam tantangan itu perlu pengorbanan dari diri kita. Kita juga boleh belajar tentang kesetiaan dari Yesus.

Dengan melihat, mendengar, mengikuti, tinggal dan belajar pada Yesus, kita diutus untuk membawa sesama kepada Yesus agar mereka juga hidup dalam kebenaran sejati. Mampukah kita melakukan tugas ini? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Loppo – Mu-Sa-Fir

Hidup dalam Kebenaran – Renungan Hari Biasa Masa Natal

0

Hidup dalam Kebenaran: Renungan Hari Biasa Masa Natal, 03 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: 1 Yoh. 2:29 – 3:6; Injil: Yoh. 1:29-34

[postingan number=3 tag= ‘natal’]

Setiap orang yang hidup dalam kebenaran adalah orang lahir dari Allah dan mengenal Allah. Mengapa? Karena Allah adalah sumber kebenaran yang hadir dalam diri Yesus Kristus Tuhan kita. Hal ini yang ditegaskan Rasul Yohanes dalam suratnya. Dia juga menegaskan bahwa ‘Kristus telah menyatakan Diri-Nya untuk menghapus segala dosa dan di dalam Dia tidak ada dosa’.

Penegasan Rasul Yohanes ini diamini oleh Yohanes Pembaptis dengan mengatakan “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Seruan dan penegasan ini disampaikan oleh Yohanes Pembaptis ketika ia melihat Yesus datang kepadanya. Bagi Yohanes Pembaptis, Yesus adalah Anak Allah. Seruan dan penegasan ini dapat disampaikan oleh Yohanes Pembaptis karena ia hidup dalam kebenaran.

Dewasa ini, banyak orang hanya memperjuangkan ketenaran tanpa hidup dalam kebenaran. Mereka lebih mempromosikan dirinya sendiri demi kesenangan sesaat. Dalam situasi inilah, kita sebagai orang Katolik hadir untuk menunjukkan bagaimana hidup dalam kebenaran karena kita telah dibaptis dalam Roh Kudus oleh Yesus Kristus Tuhan kita. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita untuk hidup dalam kebenaran sejati. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
YBT – Mu-Sa-Fir

Mengakui dan Memiliki Dia – Renungan PW. St. Basilius Agung dan St. Gregorius dari Nazianze

0

Mengakui dan Memiliki Dia: Renungan PW. St. Basilius Agung dan St. Gregorius dari Nazianze, 02 Januari 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: 1 Yoh. 2:22-28; Injil: Yoh. 1:19-28

[postingan number=3 tag= ‘martir’]

Banyak orang ingin menjadi terkenal dan media sosial menjadi sarana yang digunakan untuk mewujudkan impian ini. Ada orang yang tampil apa adanya dengan segala situasi dan kondisi demi mewartakan Allah, tetapi ada juga orang-orang yang tampil di media sosial dengan segala kepalsuan dan penipuan atas nama Allah demi menjadi orang yang terkenal.

Bagi Rasul Yohanes, menjadi terkenal dengan menjadi pendusta dan menyangkal kehendak Allah adalah seorang anti Kristus. Jika seseorang dengan jujur mengakui Anak maka ia juga memiliki Bapa. Dengan mengakui dan memiliki Dia yang adalah Sumber Kasih maka seseorang akan tinggal di dalam Allah.

Inilah yang dihidupi dan dihayati oleh Yohanes Pembaptis. Ia dengan jujur dan rendah hati mengakui siapa dirinya di hadapan orang-orang yang bertanya kepadanya, ‘Siapakah engkau?’ Dia hanyalah ‘suara’ yang berseru-seru di Padang Gurun. Suaranya dengan lantang mengakui Yesus sang Putra Allah bahkan ia tak layak untuk membuka tali kasut-Nya.

Suara Yohanes Pembaptis dilanjutkan oleh St. Basilius Agung dan St. Gregorius dari Nazianze yang dengan lantang dan tegas membela iman Kristiani dari bidaah Arianisme. Bidaah ini hanya mengakui kemanusiaan Yesus; bahkan bagi Arus, Yesus hanya seorang manusia yang unggul atau super; Ia bukan Allah. Menghadapi bidaah ini, Basilius dan Gregorius bahu-membahu dengan lantang dan tegas mengatakan bahwa Yesus adalah Allah sekaligus manusia; Yesus: 100% Allah – 100% manusia. Dengan pengakuan ini, mereka memiliki Allah dalam hidupnya hingga akhir hayat mereka.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita dengan ‘suara’: baik dalam kata dan tindakan, kita mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan sehingga kita memiliki Allah, tinggal dalam Allah? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Black Mask – Mu-Sa-Fir

Menjadi Keluarga Kudus Zaman Ini – Renungan Pesta Keluarga Kudus

1

Menjadi Keluarga Kudus Zaman Ini: Renungan Pesta Keluarga Kudus, 30 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Sir. 3:2-6.12-14; Bacaan II: Kol. 3:12-21; Injil: Mat. 2:13-15.19-23

[postingan number=3 tag= ‘natal’]

Keluarga adalah tempat pertama dan utama untuk belajar segala sesuatu, tempat untuk pulang, tempat berbagi kasih sayang, tempat berlindung, dan tempat untuk belajar menjadi kudus.

Untuk menjadi Kudus, setiap keluarga dengan anggota-anggota di dalamnya harus: pertama, saling menghormati dan mengasihi satu sama lain. Rasul Paulus dengan tegas menjelaskan hal ini dalam suratnya kepada jemaat di Kolose di mana para istri harus tunduk pada suaminya sebagaimana seharusnya dalam Tuhan. Para suami harus mengasihi istrinya dan anak-anak harus mentaati orang tuanya dalam segala hal. Selain itu, para bapa harus mencintai anak-anaknya. Kedua, hidup dalam belas kasihan, kemurahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, saling mengampuni. Ketiga, hidup dalam doa. Hal ini ditegaskan oleh penulis Kitab Putra Sirakh. Dengan doa dan takwa pada Allah maka seorang anak akan menghormati orang tuanya.

Ketiga poin di atas sudah dilaksanakan oleh Keluarga Kudus: Yesus, Maria dan Yosef. Seperti yang diceritakan dalam Injil, dalam situasi apapun mereka tetap bersama-sama. Dengan itu mereka tetap saling mengasihi dan meneguhkan satu sama lain. Mereka adalah teladan bagi seluruh keluarga Kristiani.

Keluarga-keluarga kita juga bisa menjadi kudus apabila kita melaksanakan tiga poin di atas. Namun tak dapat dipungkiri bahwa dewasa ini banyak keluarga Katolik yang berantakan karena egoisme dari masing-masing anggota sehingga tidak ada kasih yang mengikat hidup keluarga mereka.

Maka marilah kita kembali pada Keluarga Kudus: Yesus, Maria dan Yosef untuk menimba telada hidup mereka agar keluarga-keluarga kita mampu mengambil bagian dalam kekudusan Allah sehingga mampu menjadi ‘keluarga kudus’ zaman ini. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu keluarga-keluarga kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Grotto – Mu-Sa-Fir

Kenal vs Tahu – Renungan Hari Kelima dalam Oktaf Natal

0

Kenal vs Tahu: Renungan Hari Kelima dalam Oktaf Natal, 29 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: 1 Yoh. 2:3-11; Injil: Luk. 2:22-35

[postingan number=3 tag= ‘natal’]

Kenal dan tahu adalah dua kata yang berbeda jika dikaitkan dengan kehidupan manusia. Jika kita ‘tahu’ seseorang maka kita tidak mengerti sifat-sifatnya dan juga karakternya sehingga yang kita katakan hanya asumsi belaka. Sebaliknya, jika kita ‘kenal’ seseorang maka kita pasti punya relasi dekat dengannya entah sebagai teman, sahabat, orang spesial; kita mengenal sifat dan karakternya sehingga apa yang kita katakan tentang dia sesuai dengan fakta bukan ‘katanya’.

Begitu juga dengan Tuhan. Menurut Rasul Yohanes, jika kita mengenal Allah maka kita akan menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah utama yang harus dituruti dan dilaksanakan adalah kasih. Jika kita mengasihi sesama maka kita tinggal dalam Terang Allah. Sebaliknya, jika kita membenci saudara kita maka kita berada dalam kegelapan dan tidak mengenal Allah.

Hanya orang yang tinggal dalam Terang kasih Allah yang mampu mengenal Allah yang hadir dalam raga insani manusia. Simeon adalah orang tersebut. Ia dapat melihat Terang Allah dalam diri kanak Yesus yang dibawa masuk ke dalam Bait Allah. Dia dapat mengenal Sang Firman Allah karena ia hidup dalam Firman Allah itu sendiri.

Dewasa ini, banyak orang hanya mementingkan perkataan, mengobral kata-kata dalam doa, berteriak membela Allah, menyerukan nama Allah, tetapi sangat miskin dalam tindakan kasih dan kemanusiaan, intoleran dan tidak melakukan tindakan kasih dalam hidup. Maka, ia tinggal dalam kegelapan dan tidak mengenal Allah. Oleh karena itu, marilah kita sebagai orang Katolik berjuang untuk mengasihi sesama sehingga kita mampu mengenal Allah yang hadir dalam diri Kanak Yesus. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Air putih – Mu-Sa-Fir

Mengambil Jarak – Renungan Pesta St. Yohanes, Rasul dan Penulis Injil

0

Mengambil Jarak: Renungan Pesta St. Yohanes, Rasul dan Penulis Injil, 27 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: 1 Yoh. 1:1-4; Injil: Yoh. 20:2-8

[postingan number=3 tag= ‘natal’]

Untuk dapat dengan jelas melihat sesuatu atau merefleksikan sebuah pengalaman, setiap manusia perlu mengambil jarak dengan benda atau peristiwa tersebut. Tindakan mengambil jarak adalah kesempatan untuk memaknai pengalaman tersebut; apalagi jika pengalaman itu berkaitan dengan misteri Ilahi.

Murid yang dikasih Tuhan (bdk. Yoh. 20:2) atau disebut juga murid yang lain dalam bacaan Injil  hari ini memberikan teladan kepada kita tentang ‘mengambil jarak’. Pengalaman kasih yang ia alami dari Yesus membantu dia untuk mengenali jati diri Yesus. Setelah berinkarnasi, Sang Firman hidup itu hadir  dan tampil sebagai manusia yang konkret sehingga dapat dilihat dengan mata, didengarkan sejak semula, yang telah disaksikan dan diraba dengan tangan, itulah yang dituliskan dan diwartakan oleh Yohanes (murid yang dikasihi Yesus).

Berhadapan dengan misteri Ilahi, kita tidak boleh gegabah atau heboh. Kita harus tetap tenang untuk mengambil jarak dan memohon tuntunan Roh Kudus agar kita bisa masuk dan akhirnya percaya. Misteri Ilahi yang hadir dalam hidup kita harusnya menjadi peneguh iman kita. Kita harus memiliki iman seperti Rasul Yohanes yang melihat dan percaya karena Ia mengalami kasih Yesus. Mari kita berusaha mengambil jarak untuk hening agar dapat berjumpa dengan Allah sehingga kita mampu keluar untuk mengasihi sesama tanpa pamrih. Semoga Doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
December Rain – Mu-Sa-Fir