13.1 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 47

St. Montfort: Tak Pernah Ada Salib tanpa Yesus dan Tak Pernah Ada Yesus tanpa Salib

0
Simon / Pixabay

Narasi tentang kebijaksanaan ditampilkan dengan sangat indah oleh St. Louis Mariae Grignion de Montfort (St. Montfort). Bagi Montfort, untuk mencintai dan mencari sang Kebijaksanaan Ilahi, pertama-tama kita harus mengenalnya.

[postingan number= 3 tag= ‘salib’]

Dalam salah satu karyanya yang terkenal “Cinta dari Kebijaksanaan Abadi”, Monfort mengungkapkan dengan indah tentang mengenal Sang Kebijaksanaan Abadi. Ia menuliskan: “Dapatkah kita mencintai orang yang tidak kita kenal? Dapatkah kita mencintai sepenuhnya orang lain? Bila orang itu dikenal sepintas lalu saja? (CKA, 8).”

Bagi Monfort, jiwa yang mencari dan mencintai adalah jiwa yang mengenal; yaitu jiwa yang mengetahui siapakah yang akan dicintai dan dicarinya. Ketika seseorang mengetahui siapa yang dicari dan dikenalnya, maka orang bersangkutan akan semakin bergairah untuk menemukannya.

Bagi kita orang Kristen, mengenal Yesus Kristus merupakan hal yang paling utama dan luhur; mengenal dan mencintai-Nya adalah panggilan yang hakiki. Panggilan itu merupakan panggilan yang paling mulia, sebab di dalam Yesus Kristus kita menemukan segala-galanya. Bagi Montfort, ‘mengenal Yesus Kristus Sang Kebijaksanaan Abadi berarti mengenal segala-galanya; mengenal segala-galanya dan tidak mengenal dia berarti tidak mengenal apa-apa’ (CKA 11).

Salah satu keunggulan untuk mengenal Sang Kebijaksanaan adalah misteri salib. Mengenal sang kebijaksanaan tidak akan pernah terlepas dari salib; karena salib adalah rahasia terbesar sang raja, rahasia terbesar dari kebijaksanaan kekal (bdk CKA 167), sebuah ungkapan yang hendak menegaskan bahwa betapa berbeda dan jauhnya pikiran manusia dari rencana Allah. Di hadapan Allah, manusia hanya makhluk lemah yang tidak lebih dari sebutir debu.

Salib mengungkapkan cinta kasih Allah, cinta yang tidak bisa dibendung oleh apapun. Cinta yang melampaui kemampuan manusia. Cinta yang total dan tanpa ukuran apapun.

Salib adalah cetusan tentang kebaikan Ilahi, sebuah kecapan akan kebijaksanaan. Mengapa? Jawabannya: karena salib identik dengan Yesus Kristus Sang Kebijaksanaan Abadi. St. Montfort pernah mengungkapkan bahwa ‘tak pernah ada salib tanpa Yesus dan tak pernah ada Yesus tanpa salib’. Bagi Montfort, mengenal salib merupakan anugerah yang diberikan kepada orang-orang istimewa. Karenanya, betapa bahagia orang yang menemukan karunia istimewa itu. Bagi mereka, salib itu membuat mereka berkenan kepada Allah (Bdk CKA 75).

Dalam kenyataan sehari-hari, tantangan salib bagi orang Kristiani sudah biasa. Sejak zaman para rasul hal itu telah ada dan dengan terang-terangan diungkapkan oleh Rasul Paulus “tetapi kami memberitahukan tentang Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah (1Kor 1:23-24).”

Rasul Paulus telah mengungkapkan tentang keheranan akan misteri salib. Bagi siapapun yang tidak percaya akan Kristus akan merasa heran tentang salib; sebab mereka tidak memiliki jiwa yang mencari dan mencintai Sang Kebijaksanaan.

Salib bukanlah sebongkah patung yang dipaku pada sepotong kayu. Akan tetapi salib memiliki arti melampui apa yang kita lihat.

Salib merupakan sebuah misteri yang mengantar setiap orang pada permenungan tentang arti dan makna hidup di dunia ini. Salib tiada lain adalah sebuah misteri untuk mengecap kebaikan ilahi. Salib bukanlah batu sandungan atau kebodohan bagi orang Kristiani, melainkan kebijaksanaan yang oleh Montfort disebut ‘baik dan berharga‘ karena banyak alasan:

1) Karena salib membuat kita mirip dengan Yesus Kristus. 2) Karena salib membuat kita pantas disebut anak-anak dari Bapa Kekal, anggota dari Yesus Kristus, dan bait bagi Roh Kudus. 3) Karena salib menerangi budi dan memberi pengetahuan lebih banyak daripada segala buku di seluruh dunia, “Barang siapa tidak diuji tidak banyak pengetahuannya” (Sir. 34:9). 4) Asal dipikul dengan cara tepat, salib merupkan sebab, penyedap dan bukti cinta kasih. Salib mengobarkan api cinta ilahi dalam hati kita. Seperti halnya kayu adalah makan bagi api, demikianlah salib merupakan makanan bagi cinta kita. Mengapa? Karena salib adalah bukti yang paling jelas untuk menyatakan bahwa orang mencintai Allah. 5) Salib adalah baik, karena merupakan sumber yang berlimpah-limpah bagi cinta kasih dan penghiburan, membawa serta kegembiraan bagi jiwa, damai dan rahmat. 6) Akhirnya, salib adalah baik karena ia menghasilkan bagi orang yang memanggulnya pahala kekal di surga (CKA 176).

Demikianlah gambaran agung dan mulia tentang misteri salib menurut Montfort. Misteri salib itu akan indah ketika direnungkan dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Salib itu merupakan bentuk persahabatan yang mengantar manusia supaya bersatu dengan Allah. Melalui misteri Kalvari, Allah hendak memperbaiki relasi dengan manusia. Tinggal bagaimana manusia datang dan bersujud di bawah kaki salib sebagaimana yang dilakukan oleh Maria, Maria Magdalena dan Yohanes.

Allah Beranak dan Beristeri? Kamu Harus Tahu!

0
Pat_Scrap / Pixabay

Sebagian orang ‘menuduh’ bahwa Tuhan orang Kristiani mempunyai anak dan isteri ‘biologis’. Bahkan pandangan tersebut telah menjadi ‘ajaran’ yang tersebar luas. Banyak orang terjebak pada ‘ajaran’ tersebut sehingga pemahaman dan pola pikir mereka salah dalam memandang iman Kristen.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Namun, pandangan tersebut merupakan pandangan keliru tentang iman Kristen yang telah terjadi selama berabad-abad. Kemungkinan kekeliruan itu terjadi karena situasi kekristenan pada masanya terutama sejak abad ke-6. Banyak aliran-aliran yang dianggap sesat oleh Gereja Katolik yang berkembang di berbagai daerah atau wilayah. Kemungkinan ajaran-ajaran dari aliran-aliran sesat ini menjadi referensi bagi pandangan masyarakat ‘tertentu’ terhadap iman Kristen. Meskipun ajaran-ajaran itu tidak dianut oleh Gereja Katolik yang mewarisi ajaran dari Yesus melalui para rasul. Lalu bagaimana kita menjelaskan tentang makna Allah Bapa, Anak Allah dan ibu Tuhan yang ada dalam iman Kristen?

Pertama, Anak Allah. Dalam Perjanjian Lama, gelar Anak Allah dipakai untuk utusan ilahi. Dengan demikian, Yesus disebut sebagai Anak Allah bukan berarti Allah mempunyai anak biologis dan isteri biologis. Menurut penginjil Yohanes, ungkapan Anak Allah mengungkapkan ‘relasi Yesus yang sangat istimewa dengan Allah’ (bdk. Yoh. 1:14, 1:34; 1:49,5:19,5:2-10,3:36,6:40,5:22,8:36,5:20,10:17,15:9,5:17,5:18-19,10:32,14:10,8:26-28,8:40,14:24,6:47, 10:15, 3:35, 10:30, 10:38, 14:10,11, 5:20, 8:47, 3:31-32, 12:27-28, 18:6).

Kedua, Sebagai Anak Allah, Yesus memiliki segala sesuatu yang bersifat ilahi yang berasal dari Bapa. Oleh sebab itu, Yesus dapat mengetahui hal-hal adikodrati. Yesus sendiri dalam setiap perkataan-Nya berbeda dengan para nabi (bdk. Yoh. 11:41-42). Gelar Anak Allah sesungguhnya mau menunjukkan bahwa Yesus adalah Dia Yang Ilahi.

Ketiga, ibu Tuhan. Kata ibu Tuhan dapat kita temukan dalam Alkitab. “Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana (Luk. 1:41-45).” Elisabet atas dorongan Roh Kudus memanggil Bunda Maria sebagai ibu Tuhan bukan dalam arti Bunda Maria mengandung karena hubungan biologis dengan seorang laki-laki atau berhubungan biologis dengan Allah. Seperti kita ketahui Bunda Maria mengandung dari Roh Kudus (bdk. Mat 1:18-24). Oleh sebab itu sebutan ‘ibu Tuhan’ bukan berarti Allah mempunyai isteri biologis. Sebutan ibu Tuhan hendak menegaskan bahwa Yesus yang dikandung oleh Bunda Maria adalah Dia Yang Ilahi dan keilahian-Nya utuh, baik saat dikandung maupun ketika ia telah dilahirkan.

Keempat, Allah Bapa. Sebutan Allah Bapa bukan berarti bahwa Allah seorang Bapak biologis, yang mempunyai isteri dan anak. Umat beriman memanggil Allah sebagai Bapa menunjukkan ‘relasi yang dekat dan spesial’ seperti atau seumpama seorang anak kepada Bapaknya (Bapak biologis). Lebih dari itu, Yesus sendiri memberikan contoh kepada pengikutnya untuk memanggil Allah dengan berseru ‘Ya Abba, ya Bapa’ (bdk. Markus 14:36). Rasul Paulus menegaskan kembali ajaran Yesus tersebut dalam suratnya kepada umat di Roma “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (bdk. Roma 8:14-15).**

Patung Bunda Maria Berkebaya Ada di Nazaret

0
Dok. PT Datascrip

Patung Bunda Maria tampak berkebaya khas Nusantara di sebuah gereja di Nazaret. Patung tersebut diletakkan di Basilica of Annunciation, Nazaret, Israel. Adapun patung itu bersanding dengan patung Bunda Maria dari berbagai negara.

Konon, keberadaan patung Bunda Maria berkebaya Nusantara itu berawal dari kelompok peziarah asal Indonesia yang berkunjung ke Basilica of Annunciation pada tahun 2004. Kelompok peziarah dari Indonesia menyumbangkan patung Bunda Maria untuk dipajang di gereja tersebut. Basilica of Annunciation diyakini sebagai lokasi tempat Bunda Maria mendapat kabar dari malaikat Tuhan untuk melahirkan Yesus, sang juruselamat.

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Sebelumnya, gereja yang dibangun tahun 1969 itu telah memiliki banyak koleksi patung Bunda Maria dari seluruh dunia. Tetapi belum memiliki patung Bunda Maria yang berasal dari Indonesia. Gereja ini menyimpan berbagai artefak berharga. Artefak tersebut diyakini sebagai sisa-sisa dari rumah kediaman Bunda Maria, sehingga dianggap sebagai salah satu tempat ‘suci’ umat Kristiani. Basilica of Annunciation berdiri di atas lokasi gereja peninggalan era Bizantium dan era Perang Salib.**

Salib Bukanlah Aib, melainkan Tanda Kemenangan

0
congerdesign / Pixabay

Tuhan Yesus pernah bersabda: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (Yoh. 15:13-14). Ia mempersembahkan diri-Nya bagi kita, para sahabat-Nya, lewat sengsara dan wafat-Nya, bahkan sampai Ia wafat di kayu salib. Itu dilakukan-Nya semata-mata karena Ia mengasihi kita.

[postingan number=3 tag= ‘setan’]

Maka, sebagai bentuk balasannya, sudah layak dan sepantasnya kita mengasihi Dia sebagaimana Dia sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Cara kita mengasihi Dia adalah dengan tidak menyangkal dan tidak mengkhianati Dia di depan siapapun juga dan dalam keadaan apapun juga. Dengan kata lain, jangan pernah malu untuk menjadi orang yang percaya pada Dia yang tersalib.

Bagi kita, salib merupakan cara Tuhan mengangkat derajat kita; sehingga kita yang dulunya berkubang dalam lumpur dosa diangkat kembali ke permukaan dan menjadi ciptaan Tuhan yang sungguh amat baik (bdk. Kej. 1:31). Maka, bagi kita, salib bukanlah aib melainkan tanda kemenangan; dan karena itu kita tidak perlu merasa malu hanya karena membuat tanda salib.

Tanda salib, bagi umat Katolik, mengandung makna yang sangat dalam. Dengan tanda ini, kita diingatkan untuk senantiasa mengandalkan Tuhan Yesus di dalam hidup kita; tanpa melupakan kebersamaan kita dengan sesama manusia. Ya, kita percaya bahwa tanda salib menghubungkan kita dengan Tuhan (vertikal) dan dengan sesama (horizontal).

Dengan membuat tanda salib di badan, itu berarti bahwa kita membiarkan badan kita diberkati oleh Tuhan. Maka, tubuh yang diberi tanda salib adalah tubuh yang suci. Salahlah jika orang melakukan tanda salib lalu setelahnya melakukan hal-hal yang tidak baik. Jadi, tanda salib dibuat sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan yang baik.

Tertulianus, yang meninggal sebelum tahun 230, berkata, “Dalam semua kegiatan kita, ketika kita masuk atau keluar rumah, ketika kita hendak mengenakan pakaian, sebelum dan sesudah makan, sebelum tidur, dan sebagainya, kita hendaknya membuat tanda salib di dahi”.

Tanda salib pertama kali dimulai di Kalvari, yaitu ketika Yesus tergantung di kayu salib; sebab tanda salib lahir dari peristiwa salib Yesus. Maka, jangan tanya, “Apakah dua belas rasul juga melakukan tanda salib saat mereka masih bersama Yesus?” Ketika Yesus masih ada bersama mereka, jelaslah mereka tidak melakukan tanda salib karena Yesus belum disalibkan saat itu.

Jemaat Gereja perdana biasanya membuat tanda salib kecil di dahi. Dengan membuat tanda salib, mereka ingin menunjukkan identitas mereka sebagai pengikut Yesus, sama seperti yang kita lakukan pada saat ini. Jemaat perdana juga seringkali mengidentifikasikan diri mereka sebagai pengikut Kristus dengan cara membuat tanda salib di tanah dengan kayu atau dengan alas kaki, dan setelahnya dihapus supaya tidak dilihat orang.

Secara resmi, tanda salib muncul sekitar tahun 400-an, yaitu saat munculnya bidaah Monophysite yang menyangkal adanya dua kodrat dalam pribadi ilahi Kristus, dan dengan demikian menyangkal persekutuan Tritunggal Mahakudus. Karenanya, salah satu arti dari tanda salib adalah kemanunggalan dari Allah Trinitas: Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Menurut sejarahnya, Paus Innocentius III (1198–1216) memberikan instruksi tentang bagaimana caranya membuat tanda salib:

Beginilah Tanda Salib itu mesti dilakukan : dari atas ke bawah, dan dari  kiri ke kanan – karena Kristus telah turun dari Surga ke Bumi, dari dari kaum Yahudi (kiri) kepada seluruh bangsa di dunia (kanan). Selain itu, Tanda Salib dibuat dari  kiri ke kanan karena dari penderitaan (kiri) kita mesti menyeberang menuju kemuliaan (kanan), sama seperti Kristus yang harus melintasi kematian menuju kehidupan dan dari dunia orang mati (Hades) menuju Surgawi (Paradise)”.

Jadi, saudara-saudara, kita didorong untuk semakin mencinta Tuhan dan salib yang diwariskan-Nya kepada kita. Kita harus berbuat seperti yang dilakukan oleh Simon dari Kirene, yaitu menjadi orang yang berani memikul salib. Jika kita tidak mampu memikul salib orang lain, setidaknya kita bisa memikul salib kita masing-masing. Jadilah orang Katolik yang mencintai salib Tuhan dan yang mampu memikul salib sendiri.

Referensi:
https://www.catholic.com/tract/sign-of-the-cross
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/the-sign-of-the-cross
https://www.imankatolik.or.id/tandasalib.html
http://www.katolisitas.org/dalamnya-makna-tanda-salib/
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id249.htm
http://www.parokimbk.or.id/warta-minggu/liturgi/30-04-2017-mengapa-orang-katolik-membuat-tanda-salib/
https://majalah.hidupkatolik.com/2017/02/06/4027/makna-tanda-salib/

Hanya Setan yang Takut terhadap (Salib) Yesus

5
Gambar ilustrasi dari nypost.com

Sejak kemarin viral di media sosial potongan video ceramah dari seorang tokoh agama tertentu yang membahas secara tidak pantas tentang ‘salib’ (simbol paling sakral  dalam agama Kristiani).

[postingan number= 3 tag= ‘setan’]

Secara pribadi, saya tidak kaget mendengar isi ceramah seperti ini; mungkin karena telinga saya sudah sering mendengar hal serupa. Miris memang, tetapi begitu nyatanya yang terjadi. Makanya, saya tidak mau ikut-ikutan terlalu serius menanggapi isi ceramah itu, apalagi sampai harus mengumbar ujaran kebencian terhadap si penceramah. Sebab, Yesus, Tuhan yang saya imani itu, pernah berkata: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Mat. 5:44).

Tentu saja, kita tidak akan memaksa siapapun untuk menerima salib sebagai simbol yang sakral. Tidak, kita tidak akan pernah melakukan itu. Tapi, mestinya, jika tidak mau menerima salib sebagai sesuatu yang sakral, paling tidak jangan juga menjelekkannya. Mungkin itulah yang membuat banyak orang Kristiani sedikit baperan ketika menonton video yang berisi ceramah tentang salib itu.

Yang pasti, bagi orang Kristiani, salib bukanlah suatu peristiwa kebetulan, bukan pula suatu tragedi manusia. Namun sebaliknya, salib adalah puncak dari rencana ilahi. Salib merupakan representasi dari instrumen penyaliban Yesus. Itulah sebabnya mengapa salib menjadi simbol yang paling terkenal dalam kekristenan. Tapi, rasa-rasanya, mungkin karena terlalu ikonik itu jugalah sehingga sejumlah umat agama lain sering menolak kehadirannya.

Sekali lagi, bagi umat Kristiani, kematian Yesus di kayu salib itu bukanlah suatu tanda kekalahan, melain justru kemenangan. Penderitaan dan wafat-Nya itu memang merupakan suatu ‘kebodohan’ menurut hikmat manusia, tetapi merupakan ‘kemenangan’ menurut hikmat Allah (lih. 1 Kor 1: 18-31). Di sinilah kita harus paham bahwa dalam hal apapun orang biasanya mencemooh sesuatu yang tidak dia mengerti. Maka, jika kita berhadapan dengan orang seperti ini, kita tidak perlu menghujat, apalagi mencaci makinya. Dia ngomong begitu karena dia tidak mengerti.

Saya sendiri sebetulnya heran juga mengapa ada orang yang begitu alergi atau takut terhadap (salib) Yesus. Setahu saya, dalam Kitab Suci, hanya setan yang takut terhadap Yesus. Diceritakan Injil Lukas, misalnya, bahwa ketika setan itu melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di hadapan-Nya dan berkata dengan suara keras: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku memohon kepada-Mu, supaya Engkau jangan menyiksa aku” (Luk. 8:28). Setan itu begitu takutnya terhadap Tuhan Yesus.

Begitu pula yang dialami oleh ketujuh puluh murid Yesus. Ketika mereka kembali dari perutusan, mereka membawa laporan kepada Yesus. Mereka berkata: “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit” (Luk. 10: 17-18).

Ketakutan setan terhadap (salib) Yesus bahkan pernah divisualisasikan dalam bentuk film. Seorang penulis buku The Vampire Defanged, Susanah Clements, pernah menuliskan bahwa salib adalah senjata terbaik untuk melawan vampir; sebab vampir-vampir takut terhadap (salib) Yesus. Makanya, jangan heran kalau di dalam sejumlah dongeng vampir tradisional, salib dan simbol-simbol kekristenan lainnya dinilai efektif melawan vampir.

Jadi, saudara-saudaraku, tidak perlu marah dan jengkel apabila ada orang yang mencemooh (salib) Yesus. Doakan saja mereka. Mereka membutuhkan doa-doa kita; sebab boleh jadi mereka sedang kerasukan setan.

NKRI Harga Mati, Katolik sampai Mati

0
Upacara bendera usai Perayaan Ekaristi di kompleks Gereja Paroki St. Theresia, Pelaihari - Kalimantan Selatan

NKRI Harga Mati, Katolik sampai Mati: Renungan HUT Kemerdekaan RI ke-74, Sabtu 17 Agustus 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Sir. 10:1-8; Bacaan II: 1 Ptr. 2:13-17; Injil: Mat. 22:15-21

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Hari ini kita merayakan Hari Kemerdekan yang ke-74 dari negara kita. Jika ini umur manusia, maka pastilah sudah sangat sepuh; dan hampir pasti arif dan bijak juga.

Kita berharap agar di usia kemerdekaan yang ke-74 ini, negara kita memiliki pemerintah yang arif dan bijak. Mengapa? Karena, seperti kata penulis Kitab Putra Sirakh dalam bacaan pertama hari ini, ‘pemerintahan yang bijak menjamin ketertiban dalam masyarakat, dan sebuah kota menjadi sejahtera berkat kearifan para pembesarnya’ (Sir. 10:1, 3).

Munculnya kelompok-kelompok yang kurang senang terhadap kebhinnekaan akhir-akhir ini menunjukkan betapa kita sangat membutuhkan pemimpin yang arif dan bijaksana itu. Maka dari itu, sembari kita bersyukur kepada Tuhan atas rahmat kemerdekaan ini, kita juga memohon agar negara kita dikaruniai pemimpin yang arif dan bijak, pemimpin yang senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh rakyatnya, bukan hanya kepentingan orang per-orangan dan atau kepentingan kelompok tertentu saja.

Kita percaya bahwa ‘di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi, dan pada waktunya Ia mengangkat orang yang serasi atasnya’ (Sir. 10:5). Karenanya, kita yakin bahwa pemerintah yang sedang memimpin saat ini adalah pilihan Tuhan sendiri melalui suara-suara kita. Ingat, “Suara rakyat adalah suara Tuhan”.

Tapi, kita juga tahu bahwa para pemimpin kita bukanlah malaikat. Sama seperti kita, mereka juga dapat salah kapan saja. Lagi-lagi, pedoman kita hari ini adalah Kitab Putra Sirakh, yang berbunyi: “Jangan pernah menaruh benci kepada sesamamu apapun kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu” (Sir. 106).

Belakangan ini, ungkapan kebencian terhadap pemerintah bertebaran di mana-mana. Bahkan, orang sampai mengeluarkan kata-kata yang kasar sekali. Padahal, segala permasalahan tidak akan pernah selesai hanya dengan mencaci maki. Malah, kita bisa dijerat UU ITE dan dijebloskan ke dalam penjara. Negara kita ini adalah negara hukum. Siapapun yang melakukan penyimpangan, baik rakyat maupun pemerintah, akan berhadapan dengan hukum.

Dalam 1 Petrus 2:13 dikatakan: “Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik”. Jangan sampai ada orang Katolik yang mencaci maki pemerintah.

Kita bersyukur sekali bahwa kita hidup secara merdeka; kita bisa bekerja dengan baik, hidup nyaman dan aman, kita bisa menjalankan hidup keagamaan kita dengan baik, meski di sana sini masih ada kekurangan. Maka, sebagaimana yang tertulis di dalam 1 Petrus 2:16 “Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” Jangan mudah dihasut dan diprovokasi. Orang yang mudah dihasut dan diprovokasi bukanlah ciri orang merdeka.

Bahwasanya, kita memang merdeka, tapi kemerdekaan kita itu harus digunakan sebaik-baiknya; supaya tidak menabrak aturan. Akhir-akhir ini, banyak orang menyalahgunakaan kemerdekaannya. Mentang-mentang ada kebebasan berkumpul dan berpendapat, lantas seenaknya mencaci maki pemerintah dan sesamanya. Yang begituan jelas dilarang. “Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja”.

Sudah menjadi tanggung jawab kita untuk tunduk pada mereka yang memimpin kita; dan itu sama sekali tidak menyalahi perintah Tuhan. justru, dalam Injil hari ini, Yesus bilang: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat. 22:21). Artinya, sebagai warga negara yang baik tunaikan tugas kita sebagai warga negara yang baik; dan sebagai warga agama yang baik, kita juga harus tunaikan tugas dan tanggung jawab kita sebagai umat beragama yang baik. Keduanya, jangan dicampur aduk; dan jangan juga dipertentangkan.

Kita adalah warga Gereja, sekaligus warga negara. Kita 100% Katolik, 100% Indonesia. Tidak ada tawar-menawar, bagi kita NKRI itu harga mati; dan menjadi Katolik itu jelas harus sampai mati. Merdeka!!!

Apapun Alasannya, Tak Ada Kata Cerai dalam Perkawinan Katolik

1
stevepb / Pixabay

Artikel ini disusun berdasarkan dua bacaan Kitab Suci hari ini, yaitu Bacaan I: Yos. 24:1-13 dan Injil: Mat. 19:3-12. Maka, postingan yang sedang Anda baca ini sebetulnya merupakan lanjutan dari renungan hari ini yang saya posting terlebih dahulu. Jika ingin membaca renungannya, bisa dibuka di sini: Tuhan Baik, Maka Janganlah Ingkar Janji.

[postingan number=3 tag= ‘perkawinan-katolik’]

Hukum Gereja menegaskan bahwa TIDAK ADA kata ‘CERAI’ di dalam Gereja Katolik. Orang Katolik menikah hanya sekali saja, dan pernikahan itu berlaku untuk seumur hidup. Ajaran ini jelas mempunyai dasar di dalam Kitab Suci. Dalam Injil hari ini (Mat. 19:3-12), kita membaca atau mendengar cerita tentang orang-orang Farisi yang bertanya kepada Yesus mengenai perceraian. Penulis Injil Matius memberikan catatan kecil bahwa pertanyaan mereka itu bukan untuk mencari tahu, tapi semata-mata untuk mencobai Yesus. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” (Mat. 19:3).

Yesus menjawab, “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat 19:3-6).

Berdasarkan ajaran ini, kita orang-orang Katolik yakin bahwa ketika seorang laki-laki yang dibaptis Kristiani secara sukarela menikahi seorang perempuan yang dibaptis Kristiani, mereka membentuk suatu ikatan sakramental yang tak terceraikan.

Ikatan sakramental yang tak terceraikan ini dinyatakan dalam Janji Perkawinan yang saling mereka ikrarkan, “Di hadapan Romo, para saksi, saya BUDI menyatakan dengan tulus ikhlas bahwa MAWAR yang hadir di sini, mulai sekarang menjadi isteri (suami) saya. Saya berjanji setia kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit, saya mau mencintai dan menghormati engkau seumur hidup. Demikianlah janji saya demi Allah dan Injil suci ini” (Ritus Perkawinan).

Hukum Gereja (Kan. 1141) mengajarkan bahwa ‘perkawinan ratum (secara formal adanya janji perkawinan oleh dua orang dibaptis di depan iman dan para saksi) dan consumatum (adanya hubungan badan) tidak dapat diputus oleh kuasa manusiawi manapun dan atas alasan apapun, kecuali oleh kematian.

Menariknya, orang-orang Farisi mengutip contoh dari pengalaman Musa. Dalam hukum Musa, Ul 24:1-4, Musa memang memperbolehkan perceraian ‘apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya’.

Yesus mengetahui bahwa Musa memperbolehkan perceraian dengan tujuan untuk melindungi hak dan martabat kaum wanita; dan bukan untuk memberi hak istimewa kepada kaum pria untuk menceraikan istrinya.

Musa memperbolehkan perceraian, karena kekerasan hati bangsa Israel yang pada masa masa itu menganggap kaum wanita sebagai warga kelas rendah, bahkan seperti budak, hampir seperti binatang. Makanya, dengan mengizinkan adanya surat cerai, Musa melindungi hak dan martabat wanita, sebab seandainya wanita tersebut dimadu, tentu kondisinya lebih buruk lagi. Jadi, sejatinya, perceraian tidak pernah sesuai dengan rencana awal Allah.

Orang-orang Farisi sebenarnya mengetahui hal itu; tetapi, seperti kata penginjil Matius, mereka ingin menjebak Yesus, supaya Yesus membuat kontradiksi dengan ajaran hukum Taurat. Namun, Yesus sudah mengetahui maksud jahat mereka. Makanya, Ia berkata kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian” (Mat. 19:8).

Yesus dengan tegas mengajarkan bahwa kesatuan perkawinan antara suami dan istri tidak terceraikan.  Nah, inilah pengajaran yang dipegang oleh Gereja Katolik sampai hari ini, yaitu bahwa jika perkawinan yang dilakukan itu sah (dalam artian tidak ada cacat konsensus, tidak ada halangan pernikahan; dan perkawinan itu dilakukan sesuai dengan ketentuan kanonik), maka  jika suatu saat kedua pihak memutuskan untuk berpisah, mereka tidak dapat menikah lagi.

Ada sisi yang menarik dari jawaban Yesus kepada orang-orang Farisi itu; dan jawaban itu yang kadang-kadang digunakan oleh kaum pria sebagai pembenaran untuk menceraikan istri. Yesus berkata: “Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zina” (Mat. 19:9).

Tampaknya, ayat dalam Injil Matius ini sulit dimengerti dan ‘rawan’ untuk disalah-mengerti. Banyak orang gagal paham atas teks ini. Mereka mengira bahwa kalau demikian, perceraian boleh saja dilakukan sejauh itu karena si istri kedapatan berbuat tidak senonoh atau berzina.

Benarkah begitu maksud Yesus dalam Injil Matius ini? Marilah kita bandingkan kutipan dalam Injil Matius ini dengan apa yang tertulis di dalam Injil Markus dan Lukas. Dalam Injil Markus dikatakan: “Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinaan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zina” (Mrk. 10:11-12).

Hal senada dengan Injil Markus, muncul juga dalam Injil Lukas: “Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zina; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zina” (Luk. 16:18).

Apa yang tertulis di dalam Injil Markus dan Injil Lukas ini sangatlah jelas, yaitu bahwa Tuhan Yesus melawan setiap perceraian baik dari pihak istri maupun suami, juga apabila ada perzinaan. Lantas, bagaimana dengan kutipan dalam Injil Matius? Matius sebetulnya ingin merumuskan maksud Yesus dengan lebih teliti bahwa pada pokoknya, Yesus melawan setiap perceraian, tetapi apabila seorang istri sangat kurang setia, maka sulitlah pernikahan itu berjalan terus.

Kita tahu bahwa Yesus sangat konsisten dengan pengajaran pada Perjanjian Lama, bahwa perceraian dianggap sebagai sesuatu yang tidak patut. Dengan demikian, menceraikan pasangan ‘karena zina’ bukanlah opsi yang dimungkinkan pada Hukum Taurat. Mengapa? Karena dalam hukum Taurat sangat jelas dikatakan bahwa sanksi dari perzinaan bukanlah perceraian tetapi hukuman mati dengan rajam. “Bila seorang laki-laki berzina dengan isteri orang lain, yakni berzina dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzina itu” (Im. 20:10).

Referensi:
http://www.katolisitas.org/tentang-perkawinan-tak-terceraikan-mrk-101-12/
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/did-jesus-say-adultery-is-grounds-for-divorce
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/marriage-and-divorce-in-the-teaching-of-jesus
https://www.catholic.com/tract/the-permanence-of-matrimony
http://www.sarapanpagi.org/perceraian-kecuali-karena-zinah-matius-19-9-vt2169.html

Tuhan Baik, Maka Janganlah Ingkar Janji — Renungan Harian

0
NickyPe / Pixabay

Tuhan Baik, Maka Janganlah Ingkar Janji: Renungan Harian Katolik, Jumat 16 Agustus 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Yos. 24:1-13; Injil: Mat. 19:3-12

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Dalam bacaan pertama hari ini, kita membaca atau mendengar cerita tentang tokoh Yosua yang memanggil semua suku Israel dan mengumpulkan mereka di Sikhem. Tujuannya: untuk mengajak mereka agar mengadakan pembaharuan perjanjian di hadapan Tuhan.

Yosua mengingatkan orang-orang Israel tentang apa yang Tuhan sudah kerjakan atas mereka; dan apa pula yang Tuhan kehendaki dari mereka. Ia secara terus-terang memberitahukan kepada mereka bahwa Tuhan sudah sangat berjasa atas hidup mereka. Dialah yang mengambil leluhur mereka, Terah, ayah Abraham dan Nahor, dari Mesopotamia; mengeluarkan mereka dari Mesir; dan menuntun mereka masuk ke tanah terjanji.

Yosua menyadarkan bangsa itu bahwa sejak lama Tuhan ada di pihak mereka. Buktinya: Ia menyingkirkan orang-orang yang berniat menghambat perjalanan nenek moyang mereka masuk ke tanah terjanji. Yosua menceritakan bagaimana nenek moyang mereka bertempur dan mengalahkan bangsa-bangsa lain dalam perjalanan menuju tanah terjanji itu. “Sesungguhnya, bukan oleh pedangmu dan bukan pula oleh panahmu” (Yos. 24:12). Artinya, kemenangan yang mereka terima itu tidak akan pernah terjadi kalau bukan atas campur tangan Tuhan. Tuhan bersabda:

“Demikianlah Kuberikan kepadamu negeri yang kamu peroleh tanpa bersusah-susah dan kota-kota yang tidak kamu dirikan, tetapi kamulah yang diam di dalamnya; juga kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang tidak kamu tanami, kamulah yang makan hasilnya” (Yos. 24:13).

Tanah terjanji adalah ‘suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya’ (lih. Kel. 3:17; Ul. 31:20); suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung; suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apa pun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga (Ul. 8:7-9).

Negeri ini diberikan oleh Tuhan kepada bangsa pilihan-Nya, yaitu Israel. Di sini mereka akan makan dan akan kenyang. Harapannya agar dengan memasuki negeri yang baik yang diberikan-Nya kepada mereka itu, maka mereka akan memuji TUHAN. “Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu” (Ul. 8:10).

Namun, terkadang ekspektasi tidak sesuai dengan realita. Makanya, jauh sebelum mereka menempati tanah itu, Musa sudah mewanti-wanti: “Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini” (Ul. 8:7-11).

Nasihat yang disampaikan oleh Musa ini diperjelas dengan perkataan Tuhan sendiri. Tuhan berkata kepada Musa: “Mereka akan makan dan kenyang dan menjadi gemuk, tetapi mereka akan berpaling kepada allah lain dan beribadah kepadanya. Aku ini akan dinista mereka dan perjanjian-Ku akan diingkari mereka” (Ul. 31:20).

Itulah sebabnya, sejak awal, Tuhan sudah berpesan kepada Musa: “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Akulah TUHAN, Allahmu. Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir, di mana kamu diam dahulu; juga janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan, ke mana Aku membawa kamu; janganlah kamu hidup menurut kebiasaan mereka” (Im. 18:2-3).

Tidak ada keterangan yang jelas mengenai kebiasaan macam apa yang dilakukan oleh orang-orang Mesir dan orang-orang Kanaan itu sehingga dilarang. Tapi, kiranya, dari ayat-ayat selanjutnya, kita dapat tahu bahwa cara hidup yang tidak diperbolehkan dilakukan oleh orang Israel adalah cara hidup yang tidak menghormati wadah pernikahan.

Kitab Imamat 18:1-30; 20:1-27 memuat sejumlah peraturan mengenai kudusnya perkawinan. Maka, nyambung dengan bacaan Injil hari ini yang juga berbicara mengenai perkawinan. Tapi, topik mengenai perkawinan itu akan saya bahas dalam postingan yang lain; dan tidak dalam bentuk renungan, melainkan Katekese.

Seorang Pemuda di Polandia Menghalangi Pawai LGBT

0

Jakub Baryla, seorang anak laki-laki beragama Katolik yang berusia 15 tahun di Polandia, berdiri dengan salib besar dan rosario untuk menghalangi pawai LGBT pada hari Sabtu, dan akhirnya secara paksa dipindahkan oleh polisi. Baryla kemudian berkata bahwa Yesus “melawan kejahatan dan dosa” dan bahwa “iman kita yang kudus memerintahkan kita untuk menangkal perbuatan jahat.”

Baryla juga mengatakan dia tidak menentang orang-orang dalam pawai tetapi “menentang perbuatan buruk yang mempromosikan homoseksualitas.” Polandia adalah negara yang sangat Katolik. Pernikahan secara hukum didefinisikan sebagai antara satu pria dan satu wanita dan yang disebut pernikahan gay tidak diakui.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Pawai LGBT Pride diadakan di kota Plock, Polandia pada 12 Agustus. Plock berada di pusat Polandia, sebelah barat Warsawa.

Seperti dilansir Church Militant dan media lainnya, Baryla mengatakan dia terinspirasi untuk berdiri dengan sebuah salib melawan para demonstran LGBT seperti yang dilakukan oleh Pater. Ignacy Skorupko berdiri bersama tentara Polandia melawan kaum Bolshevik komunis pada Agustus 1920. Baryla menambahkan bahwa dia sangat termotivasi untuk mengambil tindakan setelah dia melihat penggambaran yang menghujat Perawan Maria dengan gay tentang pelawak yang dibawa oleh para aktivis homoseksual.

“Saya meminta salib dari seorang pastor dari paroki Płock,” kata Baryla. “Imam itu takut pada ateis yang menajiskan Salib Suci, tetapi dia memberi saya sebuah salib. Saya ingin sebanyak mungkin orang melihat gerakan saya. Saya ingin membuat mereka berefleksi dan berdiskusi. Pertama, saya berjalan dengan sebuah salib di tangan saya di depan barisan polisi yang melindungi LGBT Pride. ”

“Kemudian saya duduk di trotoar dan berdoa dalam bahasa Latin dengan kata-kata Salve Regina,” katanya. “Saya mengarahkan doa saya kepada Bunda Allah, cita-cita kemurnian. Polisi mendatangi saya dan meminta saya untuk keluar dari jalan. Saya bilang saya tidak bisa melakukannya karena peserta pawai menghancurkan iman Katolik saya dan mencemarkan bendera Polandia dengan meletakkan pelangi di atasnya. ”

Polisi, dengan pakaian anti huru hara, kemudian secara fisik mengangkat dan membawa Baryla keluar dari jalan pawai.

“Aku tidak memikirkan ketakutan,” katanya. “Saya fokus pada salib yang saya pegang. Saya seorang Katolik, jadi saya fokus pada Tuhan yang memberi saya kekuatan. Saya mendapat kesan bahwa Tuhan mengarahkan saya. ”

Setelah tindakannya, Baryla telah menjadi pahlawan online bagi banyak umat Katolik dan Protestan yang tahu bahwa agenda LGBT bertentangan dengan firman Tuhan dan musuh keluarga serta peradaban Barat.

Dalam sebuah tweet, penulis bahasa Inggris dan diakon Katolik Nick Donnelly berkata, “Terima kasih Jakub Baryła @JakubBary untuk kesaksian Anda yang berani tentang Kristus di hadapan polisi bersenjata dan pawai ‘kebanggaan’ LGBT.”

Organisasi Katolik internasional, TFP (Tradition, Family and Property) mentweet, “Kaum muda di seluruh dunia menghadapi pawai LGBT. Bocah Polandia berusia 15 tahun ini mengangkat salib tinggi untuk menghadapi parade LGBT. Bayangkan ratusan salib dibangkitkan untuk menghadapi setiap parade LGBT. Bayangkan ribuan! Pesan yang sangat kuat bagi dunia. ”

Guillaume Von Hazel, seorang Katolik dari Köln menulis, “Pahlawan saya bulan ini adalah saudara muda Polandia ini, yang menggunakan nama Jakub Baryła. Hanya berusia 15 tahun dan sudah berdiri dengan berani untuk Iman Suci melawan degenerasi LGBT. Semoga Yang Mahakuasa memberkati dia!”

Sumber: CNSNews.com

Katolik Menjawab: Pantaslah Jika Bunda Maria Diangkat Tubuh dan Jiwanya ke Surga

0
gracic / Pixabay

Dalam tulisan sebelumnya ‘Katolik Menjawab: Bunda Maria Bukan ‘Naik ke Surga’, tapi ‘Diangkat ke Surga’’, saya sudah menerangkan bahwa memang kadang-kadang orang tidak bisa membedakan antara ‘naik ke surga’ dengan ‘terangkat ke surga’. Bunda Maria bukanlah naik ke surga, melainkan diangkat ke surga. Artinya, ia masuk ke dalam surga atas kehendak dan kuasa Tuhan.

[postingan number=3 tag= ‘assumption’]

Ada banyak alasan mengapa Bunda Maria pantas diangkat tubuh dan jiwanya ke surga oleh Tuhan. Kita tahu bahwa dengan menjadi manusia, Yesus dilahirkan di bawah hukum Taurat (Gal 4: 4) dan karenanya terikat untuk mematuhi perintah untuk menghormati ibu-Nya. Kata bahasa Ibrani untuk ‘menghormati’ tidak terbatas pada penghormatan semata, tetapi juga sekaligus ‘memuliakan’.

Dengan menjaga tubuh Maria dari kerusakan, Yesus memenuhi perintah untuk menghormati ibunya, tentu dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh Anak Allah. Yesus mempunyai kuasa untuk mencegah kerusakan tubuh ibunya, maka tidak mungkinlah Ia tidak melakukannya. Cinta Yesus terhadap ibu-Nya menjadi alasan terkuat bagi pengangkatan Maria ke surga.

Baik juga untuk melihat bagaimana dalam Perjanjian Lama Allah mengajarkan kepada manusia tentang cara memperlakukan hal-hal suci. Objek paling suci bagi bangsa Israel adalah Tabut Perjanjian, karena di dalamnya berisi roti dari surga, tongkat Harun, dan loh-loh hukum.

Tabut itu dilapisi emas dan hanya bisa didekati oleh para imam yang dikuduskan. Ketika seseorang menyentuhnya, terlepas dari niat baiknya, maka orang itu akan mati (lih. 2 Sam. 6: 6-7). Kemuliaan Allah menaungi Tabut Suci itu, dan Mazmur 132:8 mengatakan: “Bangunlah, ya TUHAN, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu!”

Dengan melihat bagaimana Tuhan memperlakukan Tabut Perjanian yang tidak hidup itu, St. Robertus Bellarminus mengajukan satu pertanyaan yang sangat mendasar. Ia berkata: “Siapa yang bisa percaya bahwa tabut kekudusan, tempat tinggal Allah, bait Roh Kudus [seperti Maria], hancur menjadi debu? Saya tentu tidak sepakat pada pemikiran bahwa daging perawan yang darinya Tuhan dikandung dan dilahirkan, yang memelihara dan membawa-Nya, berubah menjadi abu atau diberikan sebagai makanan cacing. ”

Dalam Kitab Wahyu kita membaca: “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat” (Why. 11:19).  “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya” (Why. 12:1, 5). Nah, di sinilah Yohanes, penulis Kitab Wahyu, menyebutkan ibu Sang Mesias dalam hubungannya dengan Tabut Perjanjian.  Artinya, berkat kekudusannya, Bunda Maria selalu berada dalam persekutuan yang erat dengan Kristus. Ia adalah tabut Perjanjian Baru yang selalu berada dalam kesatuan dengan Kristus yang dikandungnya. Maka, jika Henokh dan Elia dapat diangkat oleh Tuhan ke surga (Kej. 5:24; Ibr. 11:5; 2 Raj. 2:11-12; 1 Mak. 2:58), tentu terlebih lagi Tuhan Yesus dapat melakukan hal itu terhadap ibu-Nya sendiri.

Dengan keperawanannya yang tetap selamanya, Bunda Maria menunjukkan kesempurnaan kasihnya yang tak terbagi kepada Tuhan (lih. 1 Kor. 7:34) dan persembahan jiwa dan tubuhnya bagi Tuhan. Maka, dengan dogma ini dimaksudkan bahwa Maria dimuliakan dalam dan pada Allah.

Kita perlu tahu bahwa pengangkatan Bunda Maria ke surga merupakan pemenuhan janji Allah (lih. Rm. 8:17; 1 Kor. 15:23). Bunda Maria adalah seorang yang telah membuktikan kesetiaannya dan bertahan dalam iman sampai akhir hidupnya, makanya ia beroleh penggenapan janji Tuhan. Ia menjadi yang pertama dari seluruh orang beriman menerima janji Kristus akan mahkota kehidupan abadi (lih. Yak. 1:12; 1 Kor. 9:25; Why. 2:10).

Stefanus Tay dan Inggrid Listiaty Tay, dalam buku mereka ‘Maria O Maria: Bunda Allah, Bundaku, Bundamu’ memberi penjelasan bahwa sesungguhnya dogma tentang ‘Bunda Maria Diangkat ke Surga’, bukan semata-mata hanya untuk menghormati Bunda Maria, tetapi juga untuk mengingatkan akan pengharapan kita sebagai umat beriman, yaitu bahwa jika kita setia beriman sampai akhir seperti Bunda Maria, kita pun akan diangkat ke surga, tubuh dan jiwa, dan memperoleh mahkota kehidupan (lih. Tay, Stefanus & Inggrid, hlm. 114).

Referensi:
Tay, Stefanus & Listiati, Inggrid. 2016. Maria, O Maria. Bunda Allah, Bundaku, Bundamu. Surabaya: Penerbit Murai Publishing.
Pidyarto, H. 2015. Mempertanggungjawabkan Iman Katolik. Malang: Penerbit Dioma.
Dister, Nico Syukur. 2004. Teologi Sistematika 2. Yogyakarta: Kanisius.
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/how-to-argue-for-marys-assumption
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/assumptions-about-mary
https://www.catholic.com/qa/where-in-the-bible-does-it-say-that-mary-was-assumed-into-heaven
https://www.catholic.com/tract/immaculate-conception-and-assumption