2.5 C
New York
Thursday, April 9, 2026
Home Blog Page 57

Cemburu karena Sayang, Tuhan Larang Kita Mendua Hati

0
Pexels / Pixabay

Cemburu karena Sayang, Tuhan Larang Kita Mendua Hati: Renungan Harian Katolik, Kamis 4 April 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Kel. 32:7-14; Injil: Yoh. 5:31-47

Kita seringkali menjadi orang-orang yang tidak tahu diuntung. Kita mencari dan berteriak meminta tolong kepada Tuhan, hanya ketika kita membutuhkan bantuan dan pertolongan-Nya. Tapi, giliran hidup kita sudah senang dan tenang, dengan mudahnya kita melupakan Dia.

Kenyataan seperti ini terjadi di mana-mana dan bisa berlaku pada banyak orang. Contoh kecil dan sederhana, yaitu pada saat kita hendak mencicipi makanan. Sebelum makan, biasanya doa yang kita bawakan tersusun atas kata-kata yang panjang dan enak didengar. Makin lapar, makin khusuk doanya. Tapi, coba perhatikan, begitu selesai makan, syukur-syukur kalau kita masih sempat ingat untuk menutup acara makan kita dengan tanda salib.

Gejala dan kenyataan serupa tercatat dengan sangat baik di dalam cerita Kitab Suci, terutama pada bacaan pertama hari ini. Diceritakan bahwa Tuhan sudah membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di tanah Mesir. Mereka bersungut-sungut dan seringkali menggerutu kepada Tuhan; dan Tuhan selalu menjawab keluh-kesah mereka.

[postingan number=3 tag=”tuhan-yesus”]

Sayangnya, hidup keimanan mereka jatuh-bangun. Kadang mereka beriman kuat, tapi seringkali rapuh dan cepat jatuh. Mereka bersungut-sungut, menggerutu, dan berteriak meminta tolong kepada Tuhan hanya jika mereka berada dalam keadaan susah. Tapi, ketika mereka diberi berkat, dengan gampang mereka beralih ke lain hati. Mereka begitu cepatnya melupakan Tuhan. Padahal, Tuhan sendiri pernah melarang mereka supaya jangan menyembah allah lain selain Dia. Tuhan berfirman: “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku” (Kel. 20:5).

Larangan Tuhan itu mereka langgar. Kejadian itu bermula ketika mereka menunggu Musa ‘turun gunung’. Mereka berharap agar Musa dapat turun secepat yang mereka mau. Padahal, Musa masih harus bercakap-cakap dengan Tuhan. Mereka tidak sabar, sehingga mereka memaksa Harun supaya membuatkan bagi mereka patung anak lembu. Kemudian, mereka sujud menyembah kepada patung itu dan mempersembahkan korban baginya, sambil berkata: “Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir” (Kel. 32:8).

Secepat itu mereka melupakan Tuhan, secepat itu pula mereka menyimpang dari jalan Tuhan. Mereka menyesal, mereka bertobat, bahkan sampai menangis, tetapi air mata mereka  hanyalah air mata buaya.

Ulah manusia itu membuat Tuhan murka. Ia pun merencanakan suatu malapetaka atas umat yang disebut-Nya sebagai ‘bangsa yang tegar tengkuk’ itu. Tapi uniknya, Musa tampil untuk melunakkan hati Tuhan. Ia berkata kepada Tuhan:

“Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat?  Mengapakah orang Mesir akan berkata: Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu. Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya” (Kel. 32:11-13).

Musa berhasil membujuk Tuhan. TUHAN menyesal terhadap malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya. Cerita seperti ini kedengaran agak lucu, tetapi poin yang mau disampaikan sebenarnya adalah bahwa Tuhan mengasihi kita. Ia tidak mau menurunkan malapetaka atas kita, karena Ia sayang pada kita. Ia cemburu karena sayang, Ia juga marah karena sayang. Ia tidak mau melihat kita menduakan-Nya.

Kasih dan sayang Tuhan itu nyata terwujud dalam diri Yesus. Ia rela mengorbankan diri-Nya di kayu salib, demi menebus dosa-dosa kita. Masihkah kita tega menyimpang dari jalan-Nya? Jadikanlah masa Prapaskah ini sebagai kesempatan bagi kita untuk menyesal dan bertobat. Semoga.

Menomorduakan Allah? Ingat, Allah menghendaki kita setia kepada-Nya!

0
nattanan23 / Pixabay

Dalam kenyataan dunia kita sekarang ini, banyak orang yang lebih mengandalkan cara-cara instan untuk mendapatkan harta yang lebih. Dewasa ini, banyak sekali orang yang ingin mendapatkan harta dengan menggunakan cara-cara yang sangat instan dan tiga kecenderungan di antaranya sangat sering kita temui, yakni Perselingkuhan, Okultisme, dan Materialisme. Padahal, Tuhan Yesus amat jelas menegur kita dengan bersabda,” Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”(Mat 6:19-21,24)

Saya punya suatu pengalaman rohani yang luar biasa ketika saya mengikuti Retret Penyelenggaraan Ilahi di Cikanyere pada bulan Desember yang lalu. Ada seorang Bapak yang meminta tolong kepada saya untuk mencari Imam yang akan memimpin Perayaan Ekaristi hari Sabtu sore karena beliau mau datang untuk mengaku dosa. Tetapi pada saat siang hari sebelum Perayaan Ekaristi, Bapak ini yang diajak oleh seorang temannya mengatakan bahwa beliau sudah meninggalkan Tuhan dan berprofesi menjadi dukun selama 5 tahun! Setelah Pengakuan dosa, beliau bicara mengenai perasaan beliau setelah mengaku dosa dengan mengatakan,” Mas, saya tadi memang tidak menerima komuni saat Misa karena betapa besar dan beratnya beban dosa saya. Tapi sekarang saya lega Mas. Dengan begini besok saya sudah bisa menerima komuni suci lagi. Terima kasih atas bantuannya Mas.” 

Seperti apa yang disabdakan oleh Tuhan Yesus tadi bahwa “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat 6:24), demikian pula kita seharusnya menomorsatukan dalam hidup kita. Karena, Allah kita adalah Allah yang cemburu! Pengalaman dengan Bapak tadi, sungguh membuka cakrawala kita bahwa masih banyak orang-orang yang menomorduakan Allah dalam hidupnya. Bahkan termasuk orang-orang Katolik.

Pengalaman ini membawa saya kepada pertobatan yang sejati. Dan pengalaman ini sungguh meneguhkan bagi saya. Semoga kita, yang sudah lama menjadi orang Katolik, sungguh diberkati dan ingin selalu mendekat kepada Yesus sehingga kita tidak sampai terjerumus pada Dualisme.

Kita semua harus menyadari bahwa tanpa Yesus, kita tidak bisa melawan kuasa si jahat. Karena kedagingan kita lemah.

Semoga di Masa Prapaskah ini, kita sungguh menyadari bahwa kita ini sering menomor duakan Allah dalam hidup kita dan sungguh-sungguh memanfaatkan Masa Tobat ini dengan baik. Amin

Orang ‘Sok Suci’ Merajalela, Tuhan Mau Kita ‘Ngaca’

0
Gambar ilustrasi oleh geralt / Pixabay

Jika kita perhatikan di lingkungan sekitar kita belakangan ini, kita akan mendapat kesan bahwa banyak sekali orang yang sok suci, sok alim, dan merasa seolah tanpa cacat cela dalam hidupnya. Mirip sekali dengan cerita dalam Injil; yaitu ketika ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada Yesus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” (lih. Yoh. 8:3-5).

Injil menerangkan kepada kita bahwa orang-orang itu mengatakan hal seperti itu sekedar untuk mencobai Yesus, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Mereka menunggu kalau-kalau Yesus ‘salah ucap’ atau salah jawab. Tetapi, ternyata Yesus tidak menjawab apa-apa. Ia hanya membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.

Ketika mereka terus-menerus bertanya, Yesus pun bangkit berdiri lalu melemparkan satu perkataan yang secara luar biasa menghujam jantung orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu. Yesus berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh. 8:7).

Perkataan Yesus itu kena telak. Semua diam dan merenung. Masing-masing tahu diri berdosa. Makanya, setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Hingga akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Mereka yang tadinya bermaksud untuk mempermalukan perempuan yang mereka anggap sebagai ‘pendosa’ itu akhirnya malu sendiri karena ternyata mereka tidak lebih suci dari perempuan itu.

Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa kita semua rapuh dan seringkali tergelincir ke dalam salah dan dosa. Ya, kita semua berdosa; meski tidak selalu pada dosa yang sama. Tak ada manusia sempurna. Maka, jangan pernah merasa diri paling suci dari antara manusia yang lain.

[postingan number=3 tag=”murid-yesus”]

Hanya ada dua hal yang perlu kita lakukan berhadapan dengan salah dan dosa kita, yaitu menyesal dan bertobat; sama seperti yang dilakukan oleh anak yang hilang dalam cerita Kitab Suci. Ia menyesal dan bertobat dari salah dan dosanya (bdk. Luk. 15:1-3, 11-32).

Mengapa kita perlu menyesal dan bertobat? Karena Tuhan yang kita imani bukan Tuhan yang suka menghakimi dan menghukum, melainkan Tuhan yang selalu mengasihi dan mengampuni. Ia tidak pernah menghitung salah dan dosa kita. Ia juga tidak mengingat-ingatnya; sebab Tuhan kita adalah Bapa yang baik. Seorang Bapa yang baik tidak menghitung, juga tidak mengingat-ingat kesalahan anak-anaknya.

Tuhan senantiasa memberi kita kesempatan kedua untuk berubah ke arah yang lebih baik. Dia adalah model kita. Kita harus meniru dan belajar pada-Nya. Yesus bersabda: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat. 5:48). Artinya, kita sadar dan tahu bahwa kesempurnaan itu adalah milik Allah, tapi paling tidak kita dapat mengambil sedikit dari kesempurnaan-Nya.

Perjuangan untuk menjadi orang yang ‘sempurna’ tentu saja tidak sekali jadi. Butuh usaha dan kerja keras terus-menerus. Kadang berhasil, kadang tidak. Maka, Masa Prapaskah seperti sekarang ini adalah kesempatan yang baik bagi kita untuk ‘ngaca’ dan introspeksi diri. Kita melihat kembali sisi demi sisi hidup kita, barangkali ada yang retak dan rapuh. Sekiranya ada, maka saatnya untuk memperbaikinya dan membawanya ke arah yang lebih baik.

Jangan sampai kita seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang sok alim dan seperti tak berdosa. Begitu juga, jangan sampai kita seperti si sulung dalam cerita ‘anak yang hilang’, yang merasa bersih dan tak bernoda. Jangan sampai juga kita menghabiskan energi untuk memperhatikan kesalahan dan dosa orang lain, sampai lupa bahwa diri sendiri juga sebenarnya mempunyai salah dan dosa. Tuhan bersabda: “Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Mat. 7:5).

Pesan Paus Fransiskus di Maroko: Dipanggil Untuk Bermisi, Bukan Untuk Mengeluh Minoritas

0

Misi Katolik bukan tentang banyak atau jumlah mereka yang bertobat, melainkan mengubah manusia dan dunia melalui kesaksian hidup tentang belas kasih dan cinta Allah.

Katolik adalah minoritas kecil di beberapa bagian negara seperti di Maroko, tidak lebih dari 1 persen namun itu tidak menjadi sebuah masalah atau persoalan.

Yesus tidak memilih dan mengutus kita untuk menjadi lebih banyak, tetapi kita dipanggil untuk bermisi. Yesus menempatkan kita di tengah-tengah masyarakat untuk menjadi ragi: ragi kegembiraan dan cinta persaudaraan yang dengan siapapun, semua orang Katolik dapat bekerjasama untuk menghadirkan kerajaanNya.

Keberhasilan misi Katolik bukan tentang banyaknya tempat yang dijangkau dan ditempati oleh orang Katolik, melainkan kemampuan menghasilkan perubahan dengan menghidupkan keajaiban kasih sayang.

Persoalannya bukan karena kita minoritas, tetapi ketika kita tidak menjadi berarti, ibarat garam yang tidak memberi cita rasa pada Injil atau lampu yang tidak lagi menerangi.

Di Maroko, hampir semuanya adalah Muslim. Katolik dipanggil untuk menjadi sakramen Allah yang terlebih dahulu memulai dialog dengan siapapun baik laki-laki maupun perempuan.

Melalui semangat iman, kita mengerjakan dialog kehidupan melalui kerjasama dengan saudara-saudari kita umat Muslim dalam bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan bagi mereka yang berkebutuhan khusus, para janda dan para perantau atau buruh migran.

Para religius, kaum perantau, telah diberikan rahmat “untuk menjalin ikatan persahabatan dan kasih sayang dalam rasa hormat yang mendalam dengan semua orang, meskipun ada tantangan karena perbedaan budaya.

Dialog bukan sebuah model atau strategi, tetapi sebuah jalan mengikuti Yesus yang disentuh dan diubah oleh cinta, yang mencari semua orang dan memulai dialog dengan mereka.

Katolik tidak harus menyembunyikan siapa kita atau apa yang kita imani, tetapi harus membagikan iman kita dengan tetap menghargai iman yang lain. Dalam seluruh doa-doa kita, kita membangun dialog sebagai jalan yang membimbing semua orang kepada keselamatan.

Dalam doa, kita membawa semua orang bertemu dengan Tuhan, sebab kita tahu bahwa kita dikirim ke tengah-tengah dunia di mana Katolik adalah minoritas yang bukan untuk memimpin melainkan untuk mencintai dan mengasihi.

Dengan demikian, dialog menjadi doa. Sebuah doa tidak membedakan, tidak memisahkan, tidak mengucilkan, tetapi merangkul kehidupan sesama kita. Sebuah doa adalah pengantara yang berbicara kepada Bapa; “Datanglah Kerajaan-Mu, bukan dengan kekerasan, bukan dengan kebencian, bukan dengan kekuatan budaya, agama dan ekonomi, melainkan dengan kekuatan belas kasih (cinta) yang tercurah dari kayu salib untuk seluruh umat manusia.

Penerjemah: Pater Tuan Kopong MSF

Sumber: CBCP News

Mencari Kerajaan Allah

0
Mariamichelle / Pixabay

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:33)

Alkisah ada seorang pemuda yang hidupnya bergelimang harta. Suatu hari ketika berada di sebuah mall, ia melihat ada seorang pengemis tua dan sudah susah berjalan di pinggiran mall tersebut. Ketika si pengemis ini meminta sedekah kepada sang pemuda, pemuda ini menolaknya dan langsung masuk ke mall untuk berbelanja. Namun, tepat sebelum ia memasuki mall tersebut, tiba-tiba ia bertemu dengan seorang teman yang hidupnya sangat sederhana yang kebetulan berpapasan dengan dia dan temannya itu langsung memberi sejumlah uang kepada si pengemis miskin ini. Pemuda ini kemudian bertanya,” Apakah kamu tidak khawatir akan hidupmu jika kamu memberi uang sebanyak ini kepada pengemis ini? Sedangkan hidupmu kan serba pas-pasan?” Lalu sang teman menjawab,” Teman, aku sangat bersyukur karena hidupku ini selalu dicukupkan oleh-Nya. Bukankah hidup ini akan lebih berarti bila kita memberi apapun yang kita miliki kepada sesama yang membutuhkan?” Pemuda itu pun tertegun dengan jawaban temannya itu tadi dan merenungkan bahwa di dunia ini begitu banyak orang yang masih hidup dalam kekurangan. Ia pun menyadari akan hidupnya yang kurang berhemat dan terlalu mengandalkan diri sendiri dalam berbagai hal. Maka ia pun memberi sejumlah uang kepada mereka yang miskin.

Ilustrasi di atas memperlihatkan betapa kita sebagai manusia masih sering khawatir akan hidup kita sendiri sampai enggan memberi sesama kita yang membutuhkan. Khawatir tidak bisa makan jika harus memberi sedekah kepada mereka yang miskin, khawatir tidak bisa selevel dengan teman yang memiliki kelebihan harta, takut menjadi miskin bila berteman dengan orang yang miskin, dan masih banyak hal lagi. Sesungguhnya, khawatir adalah sifat kedagingan kita sebagai manusia. Namun, Tuhan Yesus meginginkan kita untuk menyerahkan semua kekhawatiran kita sehingga kita bisa menjadi manusia yang merdeka.

Dalam perikop lain Tuhan Yesus bersabda, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”(Mat 11:28)

Satu-satunya cara agar kita bisa bebas merdeka dan hidup tanpa beban adalah Datang kepada Yesus, Tuhan kita. Sebab kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang bebas merdeka dan tidak mengandalkan diri kita sendiri, melainkan hanya Yesus saja yang menjadi kekuatan dan andalan kita.

Kalau hidup kita ini masih penuh dengan kekhawatiran, itu artinya kita masih hidup penuh dengan kelekatan akan hal-hal yang berbau duniawi. Akan tetapi, bila kita mengandalkan Yesus Tuhan kita dalam segala aspek kehidupan kita, kita akan menjadi orang yang lebih mudah bersyukur dan berbagi berkat karena sesungguhnya semua yang ada di dunia ini hanya berasal dari Tuhan.

Marilah kita berusaha menjadi pribadi yang lebih rendah hati, berani melangkah dalam iman, mau berbagi berkat, dan mencari Kerajaan Allah dengan melakukan apa yang Ia kehendaki. Amin. GBU

Ajaran Tuhan, Berbagi karena Empati

0
Gambar ilustrasi oleh Pexels / Pixabay

“Berilah kepadamu setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu” (Lukas 6: 30)

Ajaran Yesus dalam Lukas 6: 30 merupakan salah satu ajaran untuk memberi atau berbagi tanpa mengharapkan imbalan. Berbagi bukan berarti memberikan semua yang kita miliki untuk orang lain. Berbagi bukan dilakukan untuk menunjukkan bahwa kita mampu, atau memiliki segala sesuatu lebih dari cukup sehingga harus dibagikan ke orang lain. Kita berbagi, karena kita tahu, bagaimana rasanya tidak memiliki apapun.

Di masyarakat, yang disebut dengan ‘berbagi’ biasanya berupa memberikan sedekah atau makanan kepada orang yang hidup dan tinggal di jalanan. Namun sebenarnya, banyak yang bisa kita lakukan selain berbagi sedekah atau makanan. Salah satu contoh, ketika menggunakan transportasi atau kendaraan umum. Memberikan kursi yang kita gunakan untuk duduk kepada orang yang lebih membutuhkan, merupakan salah satu penerapan ajaran saling berbagi. Kursi tersebut bukan milik kita seorang melainkan mililk bersama karena yang kita naiki adalah transportasi umum, bukan kendaraan pribadi. Namun, sangat sulit menemukan orang yang rela memberikan “kursinya” bagi orang lain.

Suatu ketika, dalam perjalanan pulang kantor, kondisi kereta sudah lumayan padat dan seperti biasa, petugas kereta memberikan pengumuman bagi penumpang untuk memberikan kursi prioritas bagi wanita hamil, ibu dengan balita, lansia, dan penyandang disabilitas. Ada seorang anak, mungkin usia 8 tahun, berkata dengan polosnya “Ma, itu ibu petugas bilang mama harus kasih kursi untuk oma-oma atau kakek-kakek tuh”

Sang ibu menjawab, “Tidak bisa nak, mama sedang menggendong adikmu, kalau mama berdiri adikmu akan bangun”. Tanpa disuruh, anak tersebut berdiri, memberikan kursinya kepada seorang oma yang berdiri di dekatnya. Padahal, anak itu masih kecil dan disebelahnya, duduk seorang pemuda yang lebih tua darinya. Pemuda tersebut terlihat sibuk dengan gadget nya. Di sebelah ibu sang anak, juga ada seorang mahasiswi yang “tertidur” sambal memasang headset di telinganya.

Anak kecil ini memberikan kursinya bagi penumpang yang menurut matanya, lebih membutuhkan kursi tersebut. Dalam pemahamannya ketika mendengar pengumuman petugas, dia merasa tidak memerlukan kursi tersebut. Petugas tidak spesifik menyebutkan kursi prioritas diberikan untuk anak kecil tetapi lebih ke ibu hamil, ibu dengan balita dan lansia. Di pemikiran polos anak kecil, Oma yang berdiri merupakan “prioritas” sehingga dia merasa wajib memberikan kursinya. Oma tersebut sangat bersyukur dan berterima kasih kepada anak tersebut yang rela memberikan kursinya.

Berbagi kursi di kendaraan umum, terkadang membuat petugas kereta bertengkar dengan penumpang. Ada saja, penumpang yang berkelit ketika kursinya “diminta”. Ada yang pura-pura tertidur, pura-pura tidak dengar, dan bahkan membentak petugas ketika diminta berdiri untuk orang lain. Memang, kita semua merasa Lelah sepulang kerja, sepulang kuliah, dan lainnya. Semua orang merasakan hal yang sama. Setiap orang memiliki perjalanan, cerita, dan rasa lelah yang berbeda. Tentu, setiap orang memiliki alasan untuk tidak memberikan kursinya bagi orang lain.

Namun, bagaimana perasaan kita, jika orang yang membutuhkan kursi tersebut adalah keluarga kita sendiri? Kerabat kita yang mungkin sedang hamil, ibu kita yang sewaktu kecil membawa kita kemana pun ia pergi? Kakek nenek kita yang sedang dalam perjalanan untuk mengunjungi kita? Bukankah sedih rasanya, membayangkan mereka harus berdiri sepanjang perjalanan, padahal mereka di “prioritas” kan oleh negara penyedia transportasi tersebut?

Sifat egois manusia, akan selalu memberikan pembenaran terhadap apapun yang dilakukan “Saya juga capek dan membutuhkan kursi ini. Saya lelah telah bekerja seharian. Perjalanan saya masih jauh. Biar saja orang lain yang memberikan kursinya. Salah sendiri kenapa naik transportasi umum, naik saja taksi supaya bisa duduk”, alasan tersebut seringkali terucap dari mulut kita sebagai pembenaran atas tindakan atau keegoisan yang dilakukan.

“Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang berbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka” (Lukas 6: 31)

Kita seringkali lupa bahwa suatu saat nanti, yang wanita akan hamil, suatu saat setiap orang akan menggendong anak balitanya menaiki kendaraan umum untuk pergi ke suatu tempat, dan semua manusia akan menua atau masuk dalam kategori “lanjut usia”. Bagaimana nanti jika kita mendapatkan “balasan” atas keegoisan kita di masa muda? Bagaimana perasaan kita nanti, saat sudah tua, harus pergi dengan kendaraan umum, tidak ada orang yang memberikan kursi untuk kita? Haruskah menunggu dijadikan golongan “prioritas” supaya sadar untuk menyadari keegoisan di masa muda?

Sebelum terlambat, marilah kita mulai untuk berubah dari hal-hal kecil, kejadian-kejadian kecil yang sebelumnya selalu kita abaikan. Perlakukan orang lain seperti bagaimana kita ingin diperlakukan.

Para Calon Imam Peduli Politik

0

Seksi akademik lembaga formasi calon imam Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret-Maumere menyelenggarakan seminar dengan tema: “Golput: Berkat atau Petaka?”, diselenggarakan di aula Seminari Ritapiret (Minggu, 31/3/2019). Dalam seminar kali ini, seksi akademik membuat sebuah gaya dan suasana akademik yang sedikit lain dari seminar-seminar sebelumnya yakni dikemas seperti dalam acara Indonesia Lawyers Club, diberi nama Ritapiret Philopher’s Club. Seminar ini diselenggarakan dalam rangka menyonsong pesta demokrasi Pemilu serentak pada 17 April 2019 mendatang.

Fr. Pankrasius W. Nudan selaku ketua seksi akademik, dalam sambutan awalnya mengatakan bahwa seminar ini diselenggarakan dalam rangka menyongsong pesta demokrasi pemilu serentak pada 17 April 2019 mendatang dan sekaligus membentuk karakter akademis para frater. Kami dari seksi akademik menyelenggarakan kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian kami terhadap masalah sosial-politik khususnya menjelang pesta demokrasi pada 17 April 2019 ini. Kegiatan ini diselenggarakan selain untuk melatih kita sebagai calon agen pastoral untuk berpikir kritis membaca fenomena sosial-politik yang sedang terjadi, kegiatan ini juga dibuat untuk menyadarkan kita bahwa suara kritis kita mesti bisa menembus tembok biara. Fenomena sosial-politik yang hangat didiskusikan menjelang pesta demokrasi kali adalah masalah golput. Karena itu, kami mengangkat tema golput sebagai tema diskusi kita kali ini, ungkap Fr. Pank.

Yang menjadi pembicara dalam seminar ini adalah para frater utusan dari masing-masing tingkat, Fr. Gusti Hadun (perwakilan dari tingkat V), Fr. Geral Rato (III) dan Fr. Ichan Pryatno (I) berada pada posisi yang mendukung adanya golput. Sedangkan Fr. Jean Jewadut (III), Fr. Ancis Sabar (II) dan Fr. Citos Sigatua (IV) berada pada posisi menentang keberadaan golput dalam pesta demokrasi.

Fr. Geral Rato, dkk sebagai kelompok pendukung golput menilai bahwa golput merupakan bagian dari proses demokrasi dan dibentuk sebagai bentuk gerakan politis sebagai akibat dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Golput bukanlah suatu bentuk sikap diam atau apatis dari warga negara terhadap proses demokrasi, tetapi suatu bentuk gerakan perlawanan karena akibat dari kehilangan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Selain itu, kelompok pendukung golput ingin mengkritisi proses penyelenggaraan pemilu yang tidak membuka ruang kebebasan kepada masyarakat yang memiliki hak politik yaitu hak untuk memilih dan hak untuk dipilih. Misalnya, diangkat peraturan Presidential Threshold pada pasal 222 UU No.7 tahun 2017, yang berbunyi “parpol dan gabungan parpol harus mengantongi 20% kursi di DPR atau 25% suara sah nasional untuk bisa mengusung pasangan capres dan cawapres dalam pilpres”. Fr. Geral Rato, dkk menilai bahwa aturan Presidential Threshold justru mematikan demokrasi, membuat politik elektoral Indonesia tak berjalan sesuai dengan yang diharapkan dan membuat ruang kompetisi dalam demokrasi elektoral menjadi mati. Arena kompetisi politik hanya diisi oleh orang-orang yang sama selama bertahun-tahun. Tidaklah salah kalau dalam pilpres pada 17 April 2019 mendatang hanya menampilkan dua kontestan sebagai akibat adanya peraturan tersebut.

Sedangkan Fr. Jean Jewadut, dkk yang tidak mendukung golput menilai bahwa memilih untuk tidak memilih bukanlah sebuah pilihan yang bijak bagi seorang warga negara. Kelompok kontra golput ini mempertanyakan kualitas dari kaum golputers sebagai seorang warga negara. Kaum golputers dinilai tidak memberikan kontribusi apa-apa untuk sebuah pesta demokrasi selain menciptakan kekacauan. Dalam sejarah pesta demokrasi di Indonesia, kehadiran kaum golputers sama sekali tidak mempengaruhi pesta demokrasi. Kelompok kontra golput menganggap kehadiran golputers dalam sebuah pesta demokrasi membuka ruang bagi para penjahat untuk berkuasa. Mengutip Romo Franz Magnis Suseno, kelompok menilai bahwa proses penyelenggaraan pemilu adalah suatu upaya untuk mencegah yang terburuk berkuasa.

Romo Inosentius Mansur yang dipercayakan sebagai panelis dalam seminar ini memberikan beberapa catatan kritis baik kepada kelompok pendukung golput maupun kepada kelompok kontra golput. Romo Ino menilai bahwa golput sama sekali tidak bertentangan dengan demokrasi, justru merupakan bagian dari demokrasi. Hingga saat ini, negara tidak memproduksi undang-undang yang melarang warga negara untuk memilih tidak memilih. Tetapi Romo Ino mengingatkan bahwa memilih untuk tidak memilih bukan merupakan pilihan yang bijak. Sebagai warga negara, kita punya tanggungjawab moral untuk menjaga dan merawat negara. Mengambil bagian dalam pesta demokrasi dalam bentuk memberikan hak suara adalah suatu bentuk tanggungjawab moral kita sebagai warga negara. Romo Ino mengingatkan bahwa lembaga keagamaan seperti Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), NU, MUI dan lembaga keagamaan lainnya menghimbau kapada seluruh umat untuk terlibat aktif dalam pesta demokrasi, termasuk memberikan hak suara. Romo Ino meyakini bahwa ajakan dari lembaga-lembaga agama ini tentu punya pertimbangan rasional dan berdasarkan hasil kajian kritis terhadap fenomena sosial-politik yang sedang terjadi saat ini.

Seminar yang dikemas dalam Ritapiret Philopher’s Club ini dipandu oleh Fr. Ans Gara yang berperan sebagai presiden Ritapiret Philopher’s Club dan dimeriahkan oleh Ritapiret Akuistik. Yang hadir dalam seminar ini adalah semua warga komunitas Ritapiret. Seminar ini berlangsung selama hampir dua setengah jam. (Fr. Gusti Hadun, Ketua Sie Publikasi Ritapiret)

Mengapa Orang Baik Hidupnya Susah?

0
27707 / Pixabay

Seorang anak remaja pernah bertanya begini kepada saya, “Mengapa orang saleh dan tidak bersalah, seringkali hidupnya penuh dengan penderitaan dan disakiti?

Tentu saja tidak gampang untuk memberikan jawaban yang benar-benar memuaskan terhadap pertanyaan seperti ini; sebab di belakang kepala kita sudah ada pemikiran bahwa orang baik seharusnya hidup tenang dan senang, bukan hidup susah dan dipersulit. Kita masih mudah menerima kenyataan bahwa orang yang sifatnya buruk mendapatkan hidup yang susah daripada orang baik hidupnya dipersulit.

Tapi, saya mencoba memberikan jawaban dengan sedikit ilustrasi. Menurut saya, hidup kita ini seperti seorang siswa. Ya, kita ini berada di tempat yang disebut ‘sekolah kehidupan’. Seorang siswa belum bisa dikatakan pintar atau tidak,  jika belum pernah diuji. Kepintaran itu mesti bisa dibuktikan, dan cara pembuktiannya adalah lewat ujian. Ujian merupakan alat pengukur kepintaran untuk siswa di sekolah.

Nah, demikian juga halnya kita yang ada di ‘sekolah kehidupan’ ini. Kadang-kadang kita diuji. Tapi ingat, ujian tidak sama dengan hukuman. Hukuman bertujuan untuk memberi efek jera, atau bila perlu menghanguskan; sedangkan ujian diberikan untuk mencari tahu apakah orang yang diuji itu benar-benar tahan uji atau tidak. Hukuman berakhir dengan cerita tragis, sedangkan ujian selalu happy ending. Jadi, ujian hanya sekedar sebagai alat pembuktian terhadap ketahanan iman seseorang.

Ketika ada orang baik dan saleh hidupnya sulit, barangkali itu adalah ujian untuk membuktikan kebaikan dan kesalehannya. Maka, benarlah ada ungkapan: “Mohon bersabar ini ujian”. Tidak perlu takut menghadapi ujian itu.Sabar saja; dan tetap lakukan yang terbaik.

Dalam Kitab Suci, banyak sekali diceritakan bagaimana Tuhan menguji iman umat-Nya. Abraham, misalnya, diuji imannya oleh Tuhan. Ia disuruh untuk mengorbankan anaknya satu-satunya.  Tapi ending-nya, setelah Tuhan tahu bahwa Abraham kuat imannya, Tuhan melarang dia membunuh Ishak; dan Tuhan menganugerahkan kepadanya keturunan seperti bintang di langit banyaknya.

Demikian juga dengan Ayub. Setelah Ayub berhasil melewati ujian demi ujian, Tuhan memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari kepunyaannya dahulu (Ayub 42:10). Tuhan memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih daripada dalam hidupnya yang dahulu. Ia mendapat empat belas ribu ekor kambing domba, dan enam ribu unta, seribu pasang lembu, dan seribu ekor keledai betina.

Ia juga mendapat tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan; dan anak perempuan yang pertama diberinya nama Yemima, yang kedua Kezia dan yang ketiga Kerenhapukh. Di seluruh negeri tidak terdapat perempuan yang secantik anak-anak Ayub, dan mereka diberi ayahnya milik pusaka di tengah-tengah saudara-saudaranya laki-laki.

Sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya; ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat. Maka matilah Ayub, tua dan lanjut umur.

Kita yakin dan percaya, jika seseorang itu sungguh baik dan saleh; dan kebaikan dan kesalehannya itu bisa dibuktikan dengan ‘tahan uji’, maka pastilah Tuhan akan memberikan ganjaran yang terbaik untuknya, sesuai dengan kebaikan dan kesalehannya.

Waspada terhadap Ajaran Ssesat melalui Buku Doa

0

Pemilik akun facebook Laurens Sopang mengunggah sebuah buku doa yang isinya sangat bertentangan dengan iman Katolik. Dalam status facebook tersebut Laurens Sopang menghimbau agar umat tidak membeli buku doa tersebut karena tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. “Buku doa seperti yang kami unduh di bawah ini telah dilarang terbit dan diperjualbelikan di tengah umat karena di dalamnya berisi doa-doa yang tidak sesuai ajaran Gereja Katolik” kata Laurens, Jum’at (29/03/2019).

Menurutnya buku tersebut meskipun mengandung devosi-devosi yang benar namun ada terselip doa-doa yang bersifat mantera dan gaib. Bahkan terasa aneh dan tidak pernah diajarkan oleh Gereja Katolik. “Meskipun ada doa-doa berisi devosi dan doa novena yang benar, namun terselip juga doa-doa yang sifatnya MANTERA dan GAIB”, tegasnya.

Ia juga mengatakan bahwa buku kecil itu tidak memiliki Nihil Obstat dari otoritas Gereja Katolik. “Lebih lagi buku kecil ini tidak mendapat keabsahan dari otoritas Gereja yang resmi sebagaimana buku-buku doa lainnya’, lanjutnya. Oleh sebab itu umat dihimbau untuk tidak membeli buku doa tersebut. Terutama umat diajak untuk selektif dalam membeli buku-buku yang berkaitan dengan iman. Sebaiknya umat memeriksa isi buku dan melihat apakah ada nihil obstat atau tidak. Jika tidak ada maka buku tersebut dipastikan tidak sesuai dengan iman Katolik. Nihil Obstat biasanya diberikan oleh uskup atau pastor di bidang tertentu.

Salah satu kutipan doa dalam buku itu yang sangat menyimpang adalah sebagai berikut:

Doa Waktu Masuk Rumah Orang, dll

Ya, Tuhan Yesus Kristus, Ya Adam, dan Hawa lindungilah diri hambamu ini:

Di depan: Yesus

Di belakang: Adam

Di kanan: Hawa

Di Kiri: Rafael

Dari kutipan doa di atas jelas bahwa doa itu sangat menyimpang dan sesat. Tidak ada dalam ajaran Gereja Katolik doa seperti itu. Oleh sebab itu umat dihimbau agar tidak membeli buku doa Orasi Yesus tersebut.

Kepercayaan itu mahal

0
JK_90 / Pixabay

Seorang pasien datang ke dokter karena percaya dokter bisa mengobatinya. Seorang bayi nyaman di pelukan ibu karena percaya ibunya tidak akan membantingnya ke tanah.

Seorang menceritakan masa lalu atau masalah pada temannya karena percaya ia akan menjaga rahasia. Seorang memilih untuk menikah bisa jadi karena percaya pasangannya adalah orang yang tepat.

Begitulah! Hidup ini mengajarkan kita untuk saling tergantung dan saling percaya. Pada saat tertentu kita harus tergantung dan percaya pada orang lain karena tidak berdaya dan tak bisa hidup sendiri. Tak seorangpun super hebat. Ia membutuhkan orang lain. Ia mempercayakan diri pada orang lain.

Dibalik sebuah kepercayaan terdapat nilai penyerahan diri, hidup, harga diri dan keyakinan bahwa orang yang dipercayai memang pantas untuk dipercaya.

Tetapi ketika kepercayaan itu disalahgunakan, dikhianati apalagi digadaikan maka si pemberi tidak hanya kecewa tetapi juga tidak percaya lagi. Sehebat, sekuat, secinta, senyaman apapun relasinya, sekali dikhianati, sekali digadaikan, apalagi berkali-kali, kepercayaan takan kembali seperti dulu lagi.

Ya, kepercayaan itu seperti selembar kertas. Saat kertas itu diremas, ia lusuh dan sulit untuk kembali utuh lagi. Atau seperti butiran padi yang dihamburkan di tanah bebatuan, sulit untuk menemukan setiap butirannya seperti semula. Jika kepercayaan hilang, sulit untuk menemukannya kembali.

Menjaga kepercayaan memang tidak mudah dan akan tetap menjadi perjuangan yang berat. Bisa jadi kita sudah berusaha menjaganya sedemikian rupa, namun justru karena satu kesalahan yang mungkin hanya kecil saja tetapi fatal bagi si pemberi, lalu tak ada lagi kepercayaan yang bisa didapatkan. Sakit memang. Tetapi itulah nilai dari sebuah kepercayaan.

Memang semua itu kembali pada pribadi masing-masing. Orang tua terhadap anaknya, meski dikhianati, berkali-kali, bisa jadi akan tetap memberi kepercayaan. Ada yang sekali dikhianati, tidak akan percaya atau memberi kepercayaan lagi dengan segala pertimbangan. Ada yang sekali dikhianati pasangan atau sahabat, masih memberi kesempatan kedua, ketiga atau lebih karena sadar tak seorangpun sempurna atau karena memang ia mau mencintai hingga terluka. Tetapi jika sudah berkali-kali dikhianati, hati siapakah yang takan hancur?

Hanya pengampunan dan maaf yang tuluslah yang bisa mengembalikan kepercayaan, meski tak seutuh semula. tetapi hal ini membutuhkan proses, tenaga, air mata dan kadang biaya.

Terakhir, mungkin tidak berlebihan juga jika memutuskan untuk ‘menghukum’ dia yang telah menyalahgunakan atau mengkhianati kepercayaan, entah sekali, dua kali, tiga kali atau berkali-kali, agar sadar bahwa kepercayaan bukan barang mainan murahan. Kepercayaan itu mahal.

Penulis: P. Joseph Pati Mudaj Msf