13.1 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 6

Mengenal Allah melalui Yesus Kristus untuk mencapai Kehidupan Kekal

0

Sepanjang sejarah umat manusia, Allah mewahyukan diri-Nya kepada manusia. Tujuannya agar manusia mampu mengenal-Nya. Percakapan antara Allah, Pencipta, dengan manusia, ciptaan-Nya, pertama kali terjadi di Taman Eden. Saat itu, manusia mendengar suara-Nya, namun mereka tidak melihat wajah-Nya. Ibarat kata ‘ada suara tetapi tidak ada gambar’.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Umat Perjanjian Lama mempunyai pandangan bahwa jika mereka melihat wajah Allah, mereka akan mati. Makanya Yakub senang sekali bisa melihat wajah Allah tapi tidak mati. Ia berkata: “Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!” (Kej. 32:30).

Begitu pula yang dialami oleh Gideon. Ketika ia sadar bahwa yang baru saja dia jumpai adalah Malaikat Tuhan, ia pun berkata:

“Celakalah aku, Tuhanku ALLAH! sebab memang telah kulihat Malaikat TUHAN dengan berhadapan muka.” Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Selamatlah engkau! Jangan takut, engkau tidak akan mati” (Hak. 6:22-23).

Musa mendapat kesempatan untuk memandang wajah Tuhan, namun ia tidak berani memandang-Nya. Ia justru menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah (Kel. 3:6). Demikian juga dengan Elia. Ketika ia tahu bahwa Tuhan datang dalam angin sepoi-sepoi, ia pun menyelubungin mukanya dengan jubahnya (lih. 1 Raj. 19:13).

Memang, dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, meski Allah tidak memperlihatkan wajah-Nya, Ia toh secara berulangkali berbicara dan menyampaikan pesan-Nya kepada manusia, ciptaan-Nya.

Hingga akhirnya, Allah datang ke dalam dunia manusia. Dalam diri Yesus Kristus, Ia mengambil wajah manusia dan menjadi sahabat dan saudari kita (Paus Benediktus XVI). Melalui Yesus, Allah yang tadinya hanya memperdengarkan suara-Nya, kini memperlihatkan wajah-Nya dan terlibat secara langsung dalam hidup keseharian manusia.

Padahal, Allah tidak harus menyingkapkan diri kepada kita. Tapi, Dia melakukannya karena Ia ingin menunjukkan kepada kita betapa Ia mengasihi kita. Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa Yesus Kristus adalah pernyataan diri Allah. Setiap orang yang bertemu dengan-Nya memperoleh hidup.

Lantas, apa tanggapan kita? Jawabannya: kita harus sungguh-sungguh percaya kepada-Nya, sebagai Allah yang menjadi manusia. Tak ada sedikit pun alasan bagi kita untuk tidak percaya kepada-Nya. Sebab, seperti kata Blaise Pascal, ‘terpisah dari Yesus Kristus, kita tidak tahu siapa Allah itu, apa itu kehidupan, apa itu kematian, dan bahkan tidak tahu diri kita’. Percayalah kepada Tuhan Yesus, dan niscaya Dia akan memberkati engkau. ***

Hidup yang Penuh Syukur – Renungan Pekan Biasa XII

0

Hidup yang Penuh Syukur: Renungan Pekan Biasa XII, 27 Juni 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kej. 13:2.15-18; Injil: Mat. 7:6.12-14

Hidup ini adalah anugerah dari Tuhan maka harus disyukuri dengan tindakan nyata. Hari ini, Tuhan Yesus memberikan pengajaran yang indah agar kita senantiasa hidup penuh syukur.

Pertama, kita harus mengasihi dan menghormati Tuhan yang  telah memberikan berkat yang berlimpah kepada kita. Jangan bersikap seperti ‘anjing’ atau ‘babi’ yang tidak pernah bersyukur bahkan menyerang tuannya sendiri. Apakah hidupku penuh syukur pada Dia sang pemberi hidup?

Kedua, cara memperlakukan sesama menjadi juga cara sesama memperlakukan kita. Maka hormatilah dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Bagaimana cara Anda memperlakukan sesamamu?

Ketiga, memilih jalan sulit dan sempit yang tidak dipilih oleh orang lain. Jalan sulit dan sempit adalah jalan yang dihindari dan dijauhi oleh banyak orang. Namun inilah ‘Jalan Salib’ – jalan menuju keselamatan dan kehidupan. Apakah Anda memilih jalan ini dan siap sedia menjalaninya?

Hidup yang penuh syukur dijalani oleh Abram. Ia senantiasa menghormati dan mengasihi Tuhan sehingga dalam ketaatan iman ia menempuh perjalanan menuju tanah terjanji. Ia juga memperlakukan Lot saudaranya dengan hormat dan cinta. Dalam kesetiaan inilah Abram memperoleh berkat dari Tuhan. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Wings – Mu-Sa-Fir

Ziarah – Renungan Pekan Biasa XII

0

Ziarah: Renungan Pekan Biasa XII, 26 Juni 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kej. 12:1-9; Injil: Mat. 7:1-5

Setiap manusia adalah peziarah yang berziarah menuju kepada Allah. Peziarahan yang dilakukan berpedoman pada panggilan Allah; Allah yang berinisiatif untuk memanggil manusia agar datang dan tinggal bersama-Nya.

Ziarah yang dilakukan oleh Abram menuju tanah Kanaan juga merupakan inisiatif Allah. Allah menyuruh Abram untuk meninggalkan tanah airnya dan pergi ke tanah yang akan ditunjukkan oleh Allah kepadanya. Panggilan dan perintah Allah ini dituruti oleh Abram dengan penuh iman. Ia yakin bahwa Allah yang memanggilnya adalah Allah yang Setia dan hakim yang adil.

Dalam peziarahah itu tentunya kita berjumpa dengan sesama. Maka kita diajarkan oleh Yesus untuk tidak menghakimi sesama. Kita harus selalu mengintrospeksi diri agar dapat mencapai ‘Kanaan Surgawi’. Hal ini ditegaskan oleh Yesus dengan berkata: “Mengatakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?”

Marilah kita menjadi peziarah yang bijak seperti Abram agar kita mengalami persatuan dengan Allah. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Juanda – Mu-Sa-Fir

Teladan dalam Bersedekah – Renungan Pekan Biasa IX

0

Teladan dalam Bersedekah: Renungan Pekan Biasa IX, 10 Juni 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Tob. 12:1.5-15.20; Injil: Mrk. 12:38-44

‘Lebih baiklah Doa yang benar dan sedekah yang jujur daripada kekayaan yang lalim’. Inilah yang berkenan pada Allah. Inilah yang dilakukan oleh Malaikat Rafael. Ia tetap melayani Allah dan membantu manusia tanpa menuntut upah karena wujud terima kasih, segala pujian dan hormat harus ditujukan pada Allah. Bahkan ia mengajarkan agar perbuatan baik Allah harus disingkapkan dan dimuliakan. Bagaimana caranya? Karena Allah yang kita imani adalah Allah yang Mahabaik maka kita harus juga berbuat baik sehingga nama Allah semakin dimuliakan oleh banyak orang. Namun perlu disadari bahwa apa yang baik tidak tergantung pada banyak atau sedikitnya, namun pada keikhlasan hati.

Inilah yang diajarkan oleh janda miskin. Ia memberi persembahan atau sedekah dengan tulus tanpa perhitungan. Ia bahkan memberikan dengan tulus semua yang ada padanya. Sikapnya inilah yang dipuji oleh Yesus.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga tulus dalam memberi atau kita memberi yang sisa bagi sesama dan dengan bersungut-sungut? Berani dan relakah kita bertindak seperti malaikat Rafael dan janda miskin?

Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita untuk selalu memberi persembahan dengan tulus dan selalu mewartakan perbuatan baik Allah pada sesama. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
KYBT – Mu-Sa-Fir

Yesus, Anak Daud, Kasihanilah Aku – Renungan PW. Santo Yustinus, Martir

0

Yesus, Anak Daud, Kasihanilah Aku: Renungan PW. Santo Yustinus Martir, 01 Juni 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Sir. 42:15-25; Injil: Mrk. 10:46-52

‘Kasihanilah’ adalah seruan yang sering kali kita ucapkan atau kita nyanyikan dalam perayaan Ekaristi lewat lagu Tuhan Kasihanilah kami (Kyrie eleison). Ini adalah seruan untuk memohon kerahiman dan Belas kasih Tuhan Yesus Kristus.

Seruan ini juga diserukan oleh Bartimeus. Ia memohon agar Yesus menyembuhkan dia agar ia mampu melihat. Seruannya didengarkan dikabulkan oleh Yesus. Lalu bagaiman dengan kita?

Kita pun kadang tidak mampu melihat kebaikan dan kebesaran Allah walaupun alam semesta telah menceritakan kebesaran Allah. Ini menunjukkan bahwa kita kadang buta dalam iman. Namun kita bersyukur karena Santo Yustinus Martir memberikan teladan iman dalam deritanya dengan berseru: “Meskipun dibunuh dengan pedang ataupun disiksa dengan belenggu dan api, kami tidak akan murtad dari iman kami.”

Marilah kita tetap memuji Tuhan dan memohon belas kasih-Nya lewat seruan ‘Kyrie eleison … Christe elesison’, sehingga mata hati kita dapat terbuka untuk melihat kebesaran kasih-Nya bagi dunia. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Nam’ma – Mu-Sa-Fir

Berbahagia karena Memberi – Renungan Pekan VII Paskah

0

Berbahagia karena Memberi: Renungan Pekan VII Paskah, 24 Mei 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 20:28-38; Injil: Yoh. 17:11b-19

[postingan number=3 tag= ‘cinta-tuhan’]

Memberi dan menerima adalah dua sikap yang ada dalam diri setiap manusia. Jika bisa memilih, barangkali kebanyakan orang akan lebih memilih untuk menerima daripada memberi. Hal ini dipengaruhi oleh egoisme yang bercokol dalam diri manusia.

Namun karena kasih-Nya, Allah – lewat Yesus Kristus Putra-Nya – rela memberikan Diri-Nya bagi dunia. Pemberian Diri Yesus ini telah mempersatukan dunia dalam kasih Allah seperti doa yang Ia panjatkan kepada Bapa-Nya. Ia berdoa agar para murid-Nya bersatu seperti Dia dan Bapa-Nya adalah satu.

Teladan pemberian Diri Yesus diikuti oleh Rasul Paulus yang rela memberikan dirinya untuk karya pewartaan Injil. Ia juga menegaskan bahwa ‘adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.’ Apa yang ditegaskan oleh Rasul Paulus ini telah dimahkotai oleh Yesus lewat pengorbanan Diri-Nya di kayu salib demi kebahagiaan kita.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita lebih berbahagia ketika memberi atau menerima? Marilah kita berusaha untuk lebih baik memberi dengan tulus seperti teladan Yesus karena kita telah menerimanya dengan tulus dari Allah. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Suara malam – Mu-Sa-Fir

Jaminan Keselamatan – Renungan Pekan V Paskah

0

Jaminan Keselamatan: Renungan Pekan V Paskah, 10 Mei 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 15:1-6; Injil: Yoh. 15:1-8

Setiap suka dan bangsa memiliki adat istiadatnya masing-masing yang harus dihargai dan juga dapat menjadi sarana menuju kepada Tuhan. Namun adat istiadat itu bukan penentu utama untuk memperoleh keselamatan.

[postingan number=3 tag= ‘paskah’]

Sunat merupakan salah satu Adat istiadat yang wariskan oleh Musa kepada bangsa Yahudi dan hanya berlaku bagi bangsa Yahudi bukan dipaksakan kepada bangsa lain seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang datang dari Yudea ke Antiokhia. Mereka mengajarkan bahwa Sunat merupakan jaminan keselamatan. Ajaran ini dibantah oleh Paulus dan Barnabas. Mereka dengan tegas mengatakan bahwa keselamatan hanya datang dari Allah lewat Yesus Kristus. Maka setiap yang mau selamat harus beriman kepada Yesus Kristus. Dia adalah pokok anggur yang benar.  Sebagai ranting dari pokok anggur, kita harus berusaha untuk tetap tinggal dalam Yesus sebagai pokok anggur. Sebab, kita hanya bisa hidup, bisa selamat dan menghasilkan banyak buah bila kita tetap bersatu dengan Yesus Kristus Tuhan kita.

Selain berbuah banyak, jika kita tetap tinggal dalam Yesus, kita akan memperoleh anugerah dari Allah dan dengan tetap tinggal pada Yesus, maka semakin banyak orang memuliakan Allah karena buah-buah kasih yang kita hadirkan dalam hidup bersama dengan orang lain. Tetaplah tinggal pada dan dalam Yesus karena Dia adalah jaminan keselamatan kita. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Jaguar – Mu-Sa-Fir

Damai Sejahtera dari Yesus – Renungan Pekan V Paskah

Damai Sejahtera dari Yesus: Renungan Pekan V Paskah, 09 Mei 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 14:19-28; Injil: Yoh. 14:27-31a

Saat ini dunia sedang bergejolak dengan adanya banyak bencana alam, peperangan, penistaan dan juga penindasan terhadap kaum minoritas yang terjadi di negeri ini. Pengalaman penindasan dan penistaan juga dialami oleh Paulus dan jemaat di Listra, Ikonium dan Antiokhia. Dalam situasi ini mereka saling menghibur dan menguatkan satu sama lain karena mereka yakin dan percaya bahwa apabila mereka tetap teguh dalam iman akan Kristus, mereka dapat memperoleh damai sejahtera. Mengapa? Karena Yesus telah meniggalkan damai itu bagi mereka: “Damai sejahtera Ku tinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.”

Damai sejahtera yang diberikan oleh Yesus tidak sama dengan damai yang diberikan dunia karena damai yang ditawarkan dunia adalah damai yang semu dan palsu serta penuh dengan tawar menawar. Ketika dunia penuh dengan kepalsuan maka hidup bersama menjadi tidak nyaman dan damai yang sesungguhnya tidak bisa dinikmati. Dalam situasi ini, Yesus hadir dan merombak semuanya dengan memberi damai sejahtera-Nya kepada kita.

Berbekal damai sejahtera yang diberikan oleh Kristus, kita harus merajut kasih dan pelayanan agar damai sejahtera segera terwujud dalam hidup bersama. Selain itu, karena Yesus sudah mengalahkan dunia dengan kasih-Nya maka kita semua juga diutus untuk mengalahkan egoisme dunia dengan kasih Kristus. Sanggupkah kita melaksanakan perutusan  ini? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
High Risk – Mu-Sa-Fir

Aku Hanya Hamba dan Utusan – Renungan Pekan IV Paskah

Aku Hanya Hamba dan Utusan: Renungan Pekan IV Paskah, 04 Mei 2023 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 13:13-25; Injil: Yoh. 13:16-20

[postingan number=3 tag= ‘bangkit-mulia’]

“Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, atau seorang utusan daripada dia yang mengutusnya.”

Kita ini tidak lebih dari hamba atau utusan. Maka, kita bukan fokus utama atau pusat dari kebenaran dan kebaikan sebab yang utama adalah Allah. Artinya, jika kita mengalami penolakan, pertentangan, penganiayaan dan penderitaan, hal-hal itu bukan pertama-tama tentang kita tetapi karena Yesus Kristus Sang Kebenaran. Yesus bersabda, “Sesungguhnya barang siapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barang siapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.”

Jika kita mengalami apa yang semestinya dialami oleh Dia yang mengutus kita, bukankah kita patut bersyukur karena kita dianggap layak untuk mengambil bagian dalam seluruh Diri da hidup-Nya?

Dalam hidup ini, terutama dalam karya pewartaan, kita boleh merasa kecewa, marah, sakit hati dan putus asa, tetapi semua perasaan itu muncul bukan karena kita merasa sebagai yang paling penting dan utama; atau merasa diri sebagai inisiator atau pelaku tunggal dari pewartaan kita. Sadarlah bahwa kita adalah hamba dan utusan.

Penderitaan seorang hamba dan utusan adalah penderitaan tuannya. Jika kita mengalami apa yang harus dialami oleh Dia yang mengutus kita maka itu adalah sukacita bagi kita seperti yang dikatakan oleh Yesus, “Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, atau seorang utusan daripada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semuanya ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.”

Maka, kita harus setia seperti Paulus dan teman-temannya yang senantiasa menyadari bahwa Yesus Kristus adalah yang utama dan yang harus diwartakan. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita untuk menyadari diri kita yang adalah hamba dan utusan Tuhan. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Black Mask – Mu-Sa-Fir

Mengapa Kita Percaya Yesus Tuhan, dan bukan Nabi atau Rasul?

0

Perlu digarisbawahi bahwa Yesus bukanlah tokoh legenda. Ia adalah seorang pribadi yang nyata pernah ada dalam sejarah umat manusia. Sejarawan dan penulis apologetik Yahudi abad pertama, Flavius Yosefus, menjelaskan bahwa Yesus adalah orang bijak yang dihukum salib pada masa pemerintahan Pontius Pilatus. Kemudian, pada awal abad kedua, sejarawan dan senator Romawi, Publius Kornelius Tacitus, menyebutkan bahwa orang Kristen menerima nama mereka dari ‘Christus,’ yang ‘dibunuh atas perintah Pontius Pilatus’.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Yesus berkata: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yoh. 11:25-26).

Nama Yesus Kristus mempunyai arti tertentu. Yesus, dari bahasa Ibrani Yeshua, yang artinya ‘Tuhan menyelamatkan,’ dan Kristus, dari bahasa Yunani Christos, yang berarti ‘yang diurapi’ dan memiliki arti umum ‘penyelamat.’ Dari nama-Nya saja kita sudah langsung tahu bahwa Dia bukanlah manusia biasa. Tentu pertanyaanya kemudian adalah mengapa kita harus percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, dan bukan seorang nabi atau rasul?

Pertama, Yesus berkata dan bertindak lebih dari seorang nabi atau rasul. Ia mengampuni dosa, sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh Tuhan (Mrk. 2:5-7). Begitu pula dalam Yoh. 20:28, ketika Thomas memanggil-Nya sebagai ‘Tuhan dan Allahku’, Ia tidak mengoreksi Thomas, sebab apa yang dikatakan Thomas itu dianggap-Nya benar. Petunjuk lain tentang identitas ilahi Yesus adalah saat Ia berkata: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yoh. 8:12). Begitu juga saat Ia berkata: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6).

Kedua, jemaat Kristen perdana menyembah Yesus sebagai Tuhan. Tulisan-tulisan Kristen paling awal menunjukkan bahwa mereka percaya bahwa Yesus adalah ‘gambaran dari Allah yang tidak kelihatan’ (Kol. 1:15), yang di dalamnya berdiam kepenuhan keilahian secara jasmani (Kol. 2:8-9). Yesus memiliki ‘rupa Allah’ dan kepada-Nya bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi (Flp. 2:5-11).

Perlu dicatat bahwa jemaat Kristen perdana itu adalah orang-orang yang berpindah dari Yudaisme. Kita sendiri tahu bahwa orang-orang Yahudi sangat menentang penyembahan terhadap berhala,  binatang atau manusia, sebagai Tuhan. Sebab itu, mereka tidak begitu saja percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan. Namun, satu per satu dari mereka mulai percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan tatkala mereka melihat dengan mata kepala sendiri mukjizat-mukjizat yang ditunjukkan oleh Yesus, dan terutama peristiwa kebangkitan-Nya.

Bagaimana dengan kita? Percayakah engkau akan hal ini? Melalui perkataan dan lebih-lebih tindakan-Nya, Yesus membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan. Karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak percaya terhadap ketuhanan Yesus. Dia adalah penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita (Tit. 2:13).