2.8 C
New York
Thursday, April 9, 2026
Home Blog Page 65

Masyarakat Arab Saudi Merayakan Hari Valentine

0

Menyambut Hari Valentine Masyarakat Arab Saudi berlomba-lomba membeli berbagai jenis mawar dan coklat berbentuk hati. Seperti diketahui, sejak tahun 2016, polisi agama di Saudi telah melegalkan perayaan Hari Valentine . Namun, Hari Valentine atau hari kasih sayang baru dirayakan secara meriah di Saudi pada tahun 2018. Itu setelah tokoh agama Saudi mengesahkan perayaan Hari Valentine.

Syekh Ahmed Qasim Al-Ghamdi, mantan presiden Komisi untuk Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan di Makkah, mengumumkan di televisi bahwa merayakan Hari Valentine tidak bertentangan dengan ajaran Islam. “Perayaan Hari Valentine tak bertentangan dengan ajaran Islam. Merayakan cinta, kasih sayang, tidak terbatas pada non-Muslim. Setiap muslim juga harus merayakan cinta,” tutur Syekh Ahmed Qasim, Kamis seperti dilansir dari Arab News  (14/2/2019).

Ia mengatkan, Hari Valentine dirayakan di seluruh dunia, sama seperti Hari Ibu. Bagi warga Saudi yang beragama Islam, merayakan Hari Valentine artinya merayakan aspek positif dari manusia. Seruan itu disambut baik warga Saudi. Apalagi para pebisnis, yang bisa secara bebas menjual bunga mawar, restoran, kafe, klinik kosmetik, salon kecantikan, hingga cokelat. Bahkan, merek cokelat dan makanan asal Saudi seperti Godiva, telah menyiapkan produk-produk Hari Valentine.

Abdulaziz Al-Noman, pebisnis cokelat, mengakui telah bekerja sama dengan para pengecer untuk menawarkan kepada pelanggan cokelat dan bunga gratis khusus Valentine. Fitaihi, merek Saudi yang terkenal, menawarkan diskon untuk gelang dan liontin cinta untuk apa yang mereka sebut “acara yang sangat istimewa.”

Nadine Attar, seorang perancang perhiasan dan wajah Nadine Jewellery, telah menyebar tagar khusus Hari Valentine, yakni “A Journey of Love.” Tak hanya itu, banyak pula pedagang yang menjual kartu ucapan Hari Valentine yang bertuliskan kutipan ayat Alquran. Selain itu, ada pula  kutipan penyair Libanon dan Arab yang terkenal seperti Kahlil Gibran atau Al Mutanabi.

Editor: Silvester D. Gea

 

Valentine, Hari Kemaksiatan?

0
annca / Pixabay
Hari Valentine tidak terlepas dari kisah Santo Valentinus yang menentang aturan Kaisar Klaudius II yang melarang pemuda-pemudi yang melangsungkan pernikahan. Kaisar Klaudius membuat aturan demikian karena para pemuda diwajibkan menjadi militer. Sebagai seorang imam, St. Valentinus mempunyai tugas untuk melayani setiap pasangan yang mau menikah. Tentu pernikahan merupakan hal yang mulia yang diperintahkan oleh Tuhan sendiri. Sebaliknya larangan yang dikeluarkan oleh Kaisar Klaudius bertentangan dengan perintah Tuhan. Oleh sebab itu, St. Valentinus tetap memberkati pernikahan pemuda-pemudi yang datang padanya. Akibatnya, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati kepadanya pada tanggal 14 Februari 270. Kemudian ia dimakamkan di Flaminian Way.
 
Apakah ada ajaran Free Sex dari Kisah di atas? Tentu tidak. Kisah di atas menjelaskan pada kita bahwa seorang imam bernama St. Valentinus menentang aturan Kaisar Klaudius II yang melarang pemuda-pemudi yang mau menikah.
Apa pelajaran yang dapat kita ambil? Pengorbanan, tanggungjawab, dan pengabdian yang tulus dalam menjalankan tugas mulianya sebagai imam.
 
Apakah kasih itu dapat diwujudkan? Tentu saja. Dalam keluarga diwujudkan dengan pemberian diri yang total dan tak tergantikan. Wujud kasih itu bukan hanya coklat atau benda-benda materi, tetapi lebih itu kesetiaan seumur hidup. Pada masa kini boleh saja diwujudkan dengan memberikan benda-benda materi secara wajar. Terkhusus bagi kaum muda, wujudkan kasih sewajarnya sebagai seorang pacar.
 
Merayakan Valentine Melanggar Firman Tuhan? Tampaknya ucapan demikian sangat lebay dan berlebihan. Bukankah Tuhan mengajarkan Kasih? Salahkah bila kita juga mewujudkan kasih itu dalam tindakan nyata? Entahlah, silahkan dijawab sendiri.
 
Selamat Hari Valentine

Kejatuhan Manusia Pertama: dari Coba menjadi Dosa

0
MrMac2 / Pixabay

Acuan: Kej. 2:8 – 3:1-24

Cerita mengenai kejatuhan manusia bermula dari ditempatkannya manusia pertama, Adam dan Hawa ke taman Eden. Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kej. 2:9).

[postingan number=3 tag= ‘agama-katolik’]

Tuhan memberi perintah kepada manusia itu, kata-Nya: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kej. 2:16-17).

Perintah yang diberikan oleh Tuhan itu sudah sangat jelas dan tegas: jangan makan buah itu; sebab siapapun yang memakannya pasti mati. Manusia pertama itu sebetulnya paham terhadap pesan itu. Namun, sayangnya, Hawa tergiur dengan bentuk dan khasiat dari buah terlarang itu. Ia melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya. Bukan hanya itu, pohon itu juga menarik hati karena memberi pengertian (Kej. 3:6). Bayangkan saja, dengan memakan buah dari pohon itu, ia akan menjadi sama seperti Allah, yaitu tahu tentang yang baik dan yang jahat. Nah, persis di sinilah yang menjadi titik awal dari kejatuhan manusia pertama itu, yaitu ketika mereka ingin menjadi seperti Allah.

Dari sini kita melihat bahwa dosa biasanya menggiurkan. Sumber dosa selalu berasal dari sesuatu yang ‘enak’. Karena enaknya dosa itu, makanya sekalipun dilarang, orang tetap saja mengulanginya lagi dan lagi. Seandainya saja dosa itu datang dari sesuatu yang ‘jelek’ tampaknya dan tidak enak rasanya, pastilah orang tidak akan pernah tergoda untuk melakukannya. Sebagai contoh, seandainya buah terlarang itu buruk bentuknya dan tidak mendatangkan khasiat apapun, atau bahkan justru bisa menimbulkan sakit perut; besar kemungkinan Hawa tidak pernah tergiur untuk mencoba memakannya. Tapi lihatlah, Hawa memakannya karena ia melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya. Apalagi ada khasiatnya: yaitu memberi pengertian.

Ular memanfaatkan kelemahan Hawa yang sudah tergiur duluan melihat buah terlarang itu. Ular ini cerdik. Dia tahu caranya merayu Hawa. Maka, dengan akal bulusnya ia mendekati Hawa. Ia berpura-pura tidak tahu mana buah yang boleh dimakan dan mana yang tidak. Dengan caranya yang licik, ia menguasai dan mengarahkan perhatian Hawa pada buah yang terlarang itu. Ia berkata: “Tentulah Tuhan berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (Kej. 3:1).

Kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah melarang manusia untuk memakan semua buah dari semua pohon yang ada di taman itu. Tuhan hanya melarang dua saja: yaitu buah dari pohon pengetahuan dan buah dari pohon kehidupan. Ular juga sebetulnya sudah tahu itu. Tapi, dia berpura-pura tidak tahu, sekedar sebagai cara untuk menguasai pikiran dan perhatian Hawa.

Hawa tidak tahu bahwa ular itu sedang ingin menguasai pikiran dan perhatiannya. Maka, dengan polosnya ia menjawab: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati” (Kej. 3:2).

Hawa menjawab pertanyaan ular itu dengan menyampaikan konsekuensi dari memakan buah terlarang itu: yaitu kematian. Bahkan, sedikit lebay, Hawa mengatakan bahwa jangankan memakan buah terlarang itu, dengan merabanya saja sudah bisa membuat mereka mati (Kej. 3:2). Mengapa saya katakan lebay? Karena kata ‘meraba’ ini ditambahkan sendiri oleh Hawa; untuk menunjukkan kepada ular itu bahwa perintah Tuhan itu keras, dan dia tidak akan melanggarnya.

Tapi, sekali lagi, ular itu cerdik. Dia tahu kelemahan Hawa. Makanya, dia langsung to the point. Tanpa basa-basi lagi ular itu berkata: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kej. 35).

Perkataan ular itu langsung menusuk hati Hawa. Dia merasa bahwa omongan ular itu benar, persis seperti yang dipikirkannya. Hawa tergoda dan khilaf. Ia memakan buah terlarang itu. Tidak berhenti di situ, ia juga mengajak Adam, suaminya untuk memakan buah itu.

Beda dengan Hawa yang masih mengingat larangan dari Tuhan, meskipun akhirnya makan juga, Adam tidak ingat sedikitpun. Makanya, ketika Hawa memberinya buah terlarang itu, tidak ada penolakan sedikitpun darinya. Ia menerima buah itu dan memakannya. Apakah ini pertanda bahwa laki-laki lebih mudah tergoda atau cenderung cuek terhadap larangan? Entahlah.

Peristiwa ini mengajarkan kepada kita bahwa penggoda itu ada di mana-mana dan bisa dalam banyak bentuk. Kebetulan dalam Kitab Kejadian berbentuk ular. Si penggoda masuk melalui apa yang kita sukai, apa yang kita rasa baik dan enak. Jika sekali ia tidak berhasil, maka kali berikutnya ia akan datang dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Kelemahan manusia adalah: makin dilarang, makin penasaran. Nah, si penggoda akan memanfaatkan rasa penasaran itu.

Santo Valentinus dan Hari Valentine

0

Apakah Hari Valentine ada hubungannya dengan St. Valentinus? Dari pelajaran sejarah, kami mengetahui bahwa St Valentinus wafat sebagai martir pada tanggal 14 Februari.
~ seorang murid kelas delapan

Dalam martirologi kuno, disebutkan ada tiga St. Valentinus yang berbeda, yang pestanya sama-sama dirayakan pada tanggal 14 Februari. Sayangnya, kita tidak punya cukup catatan sejarah mengenainya. St. Valentinus yang pertama adalah seorang imam dan dokter di Roma. Ia, bersama dengan St. Marius dan keluarganya, menghibur para martir pada masa penganiayaan oleh Kaisar Claudius II. Pada akhirnya, St. Valentinus juga ditangkap, dijatuhi hukuman mati karena imannya, didera dengan pentung dan akhirnya dipenggal kepalanya pada tanggal 14 Februari 270. Ia dimakamkan di Flaminian Way. Di kemudian hari, Paus Julius I (thn 333-356) mendirikan sebuah basilika di lokasi tersebut yang melindungi makam St. Valentinus. Penggalian-penggalian arkeologis yang dilakukan pada tahun 1500-an dan 1800-an menemukan bukti akan adanya makam St. Valentinus. Tetapi, pada abad ke-13, relikwinya dipindahkan ke Gereja Santo Praxedes dekat Basilika St. Maria Mayor, di mana relikwi berada hingga sekarang. Juga, sebuah gereja kecil dibangun dekat Gerbang Flaminian di Roma yang dikenal sebagai Porta del Popolo, tetapi yang pada abad ke-12 disebut sebagai “Gerbang St. Valentinus,” seperti dicatat oleh ahli sejarah Inggris kuno William Somerset (juga dikenal sebagai William dari Malmesbury, wafat thn 1143), yang menempatkan St. Bede sebagai otoritas Gereja Inggris awali.

St. Valentinus yang kedua adalah Uskup Interamna (sekarang Terni, terletak sekitar 60 mil dari Roma). Atas perintah Prefek Placidus, ia juga ditangkap, didera, dan dipenggal kepalanya, dalam masa penganiayaan Kaisar Claudius II.

St. Valentinus yang ketiga mengalami kemartiran di Afrika bersama beberapa orang rekannya. Tetapi, tidak banyak yang diketahui mengenai santo ini. Pada intinya, ketiga orang kudus ini, yang semuanya bernama Valentinus, menunjukkan kasih yang gagah berani bagi Tuhan dan Gereja-Nya.

Kebiasaan populer mengungkapkan kasih sayang pada Hari Valentine nyaris kebetulan bertepatan dengan pesta sang santo. Pada Abad Pertengahan, terdapat kepercayaan umum di kalangan masyarakat Inggris dan Perancis bahwa burung-burung mulai berpasangan pada tanggal 14 Februari, “pertengahan bulan kedua dalam tahun.” Chaucer menulis dalam karyanya, “Parliament of Foules” (dalam bahasa Inggris kuno): “Sebab ini adalah hari Seynt Valentyne, di mana setiap burung datang ke sana untuk memilih pasangannya.” Oleh karena alasan ini, hari tersebut diperuntukkan bagi para “kekasih” dan mendorong orang untuk mengirimkan surat, hadiah, atau tanda ungkapan kasih lainnya.

Suatu contoh literatur lain mengenai peringatan Hari St.. Valentinus didapati dalam Dame Elizabeth Brews’ Paston Letters (1477), di mana ia menulis kepada John Paston, laki-laki yang hendak meminang puterinya, Margery: “Dan, saudaraku, hari Senin adalah hari St Valentinus dan setiap burung memilih pasangan bagi dirinya, dan jika engkau mau datang pada hari Kamis malam, dan bersedia tinggal hingga waktu itu, aku percaya kepada Tuhan bahwa engkau akan berbicara kepada suamiku dan aku akan berdoa agar kami dapat memutuskan masalah ini.” Sebaliknya, Margery menulis kepada John: “Kepada Velentineku terkasih John Paston, Squyer, kiranya surat ini sampai kepadamu. Kepada dia yang terhormat dan Valentineku terkasih, aku menyerahkan diriku, dengan sepenuh hati berharap akan kesejahteraanmu, yang aku mohonkan kepada Tuhan yang Mahakuasa agar dilimpahkan kepadamu sepanjang Ia berkenan dan sepanjang hatimu mengharapkannya.” Sementara berbicara mengenai perasaan cinta kasih Hari Valentine, tidak disebutkan sama sekali mengenai St. Valentinus.

Walau tampaknya saling bertukar ucapan selamat valentine lebih merupakan kebiasaan sekular daripada kenangan akan St. Valentinus, dan meski perayaan lebih jauh telah dikafirkan dengan dewa dewi asmara dan semacamnya, namun ada suatu pesan Kristiani yang sepatutnya kita ingat. Kasih Tuhan kita, yang dilukiskan amat indah dalam gambaran akan Hati-Nya Yang Mahakudus, adalah kasih yang penuh pengurbanan, yang tidak mementingkan diri, dan yang tanpa syarat. Setiap umat Kristiani dipanggil untuk mewujudnyatakan kasih yang demikian dalam hidupnya, bagi Tuhan dan bagi sesama.

Jelaslah, St Valentinus – tanpa peduli yang mana – menunjukkan kasih yang demikian, menjadi saksi iman dalam pengabdiannya sebagai seorang imam dan dalam mempersembahkan nyawanya sendiri dalam kemartiran. Pada Hari Valentine ini, seturut teladan santo agung ini, setiap orang hendaknya mempersembahkan kembali kasihnya kepada Tuhan, sebab hanya dengan berbuat demikian ia dapat secara pantas mengasihi mereka yang dipercayakan ke dalam pemeliharaannya dan juga sesamanya. Setiap orang hendaknya mengulang kembali janji kasihnya kepada mereka yang terkasih, berdoa demi kepentingan mereka, berikrar setia kepada mereka, dan berterima kasih atas kasih yang mereka berikan. Janganlah lupa akan sabda Yesus, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:12-13). St. Valentinus telah menunaikan perintah ini, dan kiranya kita melakukan hal yang sama.

Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.

sumber : “Straight Answers: The Elusive St. Valentine” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Sumber: http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id538.htm

Valentine Day, Memuliakan Cinta Suci Bukan Cinta Buta

0
Ben_Kerckx / Pixabay

Santo Valentinus dari Roma

Penghargaan terhadap cinta suci dua insan manusia, pria dan wanita, kian hari menjadi tantangan. Terutama dengan tren zaman yang cenderung mendegradasi moral seksual dan perendahan martabat tubuh sesama.

Valentine Day mengingatkan kita kembali pada cinta suci dan pemuliaan tubuh itu. Kisah itu menjadi legenda sejak kehadiran Santo Valentinus. Sejarah Valentine Day pun tidak lepas dari kisah heroik sosok Santo Valentinus ini.

Valentinus, Uskup dan Dokter, Martir

Santo Valentinus dari Roma (Valentine of Rome) adalah seorang Uskup dan dokter yang berasal dari kota Roma. Ia menjadi martir karena menentang perintah Kaisar Klaudius II yang melarang menerimakan sakramen pernikahan bagi pasangan Kristen.

Valentinus ditangkap, dipenjarakan, lalu disiksa dan dihukum mati dengan cara dipenggal. Kemartiran Santo Valentinus, yang hari pestanya kini dikenal sebagai “Valentine Day” atau hari kasih sayang sedunia, terjadi pada tahun 269 di Via Flaminia Roma.

Sejarah Hari Valentine

Sebelum Paus Gelasius I (492-496) menetapkan tanggal 14 Februari sebagai Saint Valentine Day (pesta Santo Valentinus); bangsa Romawi telah merayakan 14 Februari dengan sebuah tradisi di mana para laki-laki menarik undian dari sebuah wadah yang besar, yang berisi nama para wanita yang akan menjadi pasangan mereka dalam berbagai bentuk perayaan pada tanggal tersebut, untuk menghormati dewi cinta Romawi yang bernama Februata Juno. Setelah bangsa Romawi menjadi Kristen, Gereja dengan tegas mengutuk tradisi penyembahan berhala tersebut. Salah seorang Imam yang berjuang keras menghapus tradisi ini adalah St.Valentinus.

Pada masa itu pula, Bangsa Romawi terlibat dalam banyak peperangan, sehingga Kaisar Klaudisius mengumumkan wajib militer bagi para pemuda Romawi. Banyak pemuda yang menolak ikut wajib militer karena tidak mau meninggalkan kekasih yang mereka cintai. Hal ini membuat Kekaisaran Romawi sulit untuk merekrut tentara.

Kaisar Klaudius lalu mengeluarkan dekrit kerajaan yang memerintahkan ke seluruh daerah bahwa tidak boleh ada lagi upacara pernikahan. Perintah ini ditentang oleh St.Valentinus yang merasa kasihan kepada pasangan-pasangan yang dipaksa untuk berpisah. Hingga suatu hari, St.Valentinus dengan diam-diam menerimakan sakramen perkawinan bagi sebuah pasangan yang sudah siap hidup dalam janji suci perkawinan. Dan segera terjadi banyak pernikahan di kota Roma seolah-olah dekrit kaisar di atas tidak pernah dikeluarkan.

Ketika berita ini sampai ke telinga Klaudius; sang Kaisar pun murka. St.Valentinus lalu ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Ia dipenjara, dianiaya, lalu dipenggal di Via Flaminian.

Pesta untuk Santo Valentinus ditetapkan pada setiap tanggal 14 Februari oleh Paus Gelasius I. Tanggal 14 Februari, yang pada masa pra-Kristen adalah hari untuk menghormati dewi cinta bangsa Romawi, telah diubah dan dikuduskan oleh Gereja menjadi perayaan untuk memperingati Santo Valentinus, seorang martir yang gugur membela Cinta Kasih dalam wujud Sakramen Pernikahan yang kudus.

Pada masa itu, Pesta santo Valentinus akan dirayakan dengan menerimakan sakramen perkawinan bagi banyak pasangan yang sudah dinyatakan siap. Banyak cinta akan disatukan dalam janji suci perkawinan dan banyak pasangan muda memasuki hidup baru. Banyak pesta akan digelar dengan meriah diseluruh penjuru kota Roma.

Saat ini, pesta Santo Valentinus telah menjadi sekular. Saint Valentine Day juga telah dimaknai serta dirayakan dengan cara yang sangat berbeda oleh berbagai kalangan, khususnya oleh kalangan di luar Gereja Katolik. Tidak soal, asalkan pesan cinta kasih perkawinan suci tetap menular.

Tulisan ini pernah dimuat di http://www.indonesiakoran.com/news/kolumnis/read/77111/valentine.day…memuliakan.cinta.suci.bukan.cinta.buta?fbclid=IwAR0G4ZqdszPIFdDC4rSRsa13b3R6G-f4rVnXYQKB59N8nLpWBi_8PoyXR7E

Ucapan Bahagia dalam Kitab Suci: Lokasinya di Bukit atau di Dataran Rendah?

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay,com

Acuan: Mat. 5:1-12; Luk. 6:20-26

Dari keempat Injil, ada yang namanya Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas), yang isinya rada-rada mirip; dan satunya lagi Injil Yohanes, yang isinya berbeda sama sekali dengan ketiga Injil lainnya.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Kita tahu bahwa keempat Injil ini memuat empat biografi dari Yesus menurut keempat penulis yang berbeda. Keempat penulis Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) menulis menurut pemahaman masing-masing, dan ketika mereka menulis, jangan dibayangkan seperti seorang wartawan meliput suatu berita. Waktu dan tempat penulisannya berbeda satu dengan yang lain; sehingga sekalipun materi yang dibahas boleh jadi sama, tapi cara mereka membahasakannya berbeda satu dengan yang lain.

Yang juga perlu kita ketahui bahwa Kitab Suci tidak seperti koran yang memuat sedetail mungkin tentang hidup dan karya Yesus dari satu kejadian ke kejadian lainnya. Tidak begitu. Para penulis Kitab Suci menulis menurut daya tangkapnya masing-masing terhadap tuntunan Roh Kudus, tanpa menghilangkan poin penting dari pengajaran Yesus.

Konteks dari khotbah yang disebutkan dalam Injil Matius dan Lukas ini adalah: Yesus yang sedang berbicara di depan orang banyak (Mat. 4:23-25 dan Luk. 6:17-19). Bedanya, Matius tidak memasukan peringatan-peringatan seperti yang ada pada Luk. 6:24-26, dan Lukas tidak menyertakan ide besar dari Mat. 5:21-28 ke dalam tulisannya. Matius mencantumkan delapan sabda bahagia, sedangkan dalam Injil Lukas hanya ada empat, ditambah empatnya lagi adalah peringatan-peringatan. Bukan hanya itu. Bahkan, tempat yang digambarkan berbeda: Matius mengatakan ‘di bukit’, Lukas mengatakan ‘di dataran rendah’. Dua-duanya masuk akal, menurut sudut pandang masing-masing.

Ada dua penafsiran untuk perbedaan ini. Pertama, Matius dan Lukas menyampaikan dua ‘ringkasan’ yang berbeda dari satu khotbah yang sama. Sama seperti ketika kita meringkas suatu pembahasan yang panjang, biasanya ringkasan antara si A, si B, dan si C, pasti tidak sama. Kita meringkas mana yang menurut kita paling penting. Tapi, tidak mengurangi inti dari pembahasan. Kedua, Lukas dan Matius menulis tentang dua khotbah yang berbeda di dua tempat yang berbeda, dengan isi yang kurang lebih sama. Tafsiran kedua ini juga masuk akal, sebab dalam keempat Injil Yesus diceritakan berkeliling dari kota ke kota, dari satu desa ke desa lainnya. Tentulah dalam setiap perjalanan-Nya itu, Yesus beberapa kali mengulang pengajaran yang sama.

Kedua tafsiran ini sama-sama masuk akal dan diterima, meski umumnya yang dipakai adalah tafsiran pertama. Alasannya: karena lokasi yang diceritakan tampaknya lokasi yang sama, hanya saja sudut pandangnya yang berbeda, yang satu melihat dari dataran rendah ke atas, sehingga menyebutnya ‘di bukit’ (Mat. 5:1), sedangkan yang satunya lagi melihat dari atas ke bawah, sehingga menyebutnya ‘di tempat yang datar’ (Luk. 6:17). Jadi, mereka mengutip khotbah yang sama dari sudut pandang yang berbeda.

Melihat Isi Kitab Taurat secara Garis Besar

0
tdjgordon / Pixabay

Kata Pentateukh diambil dari kata bahasa Yunani, (penta berarti lima, dan touchis yang berarti kotak). Pentateukh berarti lima kotak.

Yang dimaksudkan dengan ‘kotak’ di sini jelas bukan kotak kardus, kotak suara, apalagi kotak pemilu; melainkan menunjuk pada suatu gulungan dari kulit kayu atau yang disebut ‘papirus’ yang merupakan bahan untuk penulisan, yang disimpan ke dalam kotak-kotak. Masing-masing kotak menyimpan satu kitab.

[postingan number=3 tag= ‘agama-katolik’]

Pentateukh adalah istilah yang digunakan untuk menunjuk lima kitab pertama dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Apa saja yang termasuk dalam Kitab Pentateukh? Jawabannya: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan.

Judul-judul kelima kitab dalam Pentateukh itu mengungkapkan pokok yang dibahas dalam bab-bab pertama masing-masing kitab:

  • Kitab Kejadian, karena bab 1-2 menceritakan tentang penciptaan.
  • Kitab Keluaran, karena bab 1-15 mengenai pembebasan dari Mesir.
  • Kitab Imamat, karena bab 1-10 mengenai tugas imam.
  • Kitab Bilangan, karena nan 1 mengenai cacah jiwa suku-suku Israel.
  • Kitab Ulangan, karena mengulangi ‘hukum pertama’ dalam Keluaran 19-Bilangan.

Kitab-kitab itu seringkali disebut juga dengan sebutan ‘Kitab Taurat’ atau ‘Taurat Musa’. Mengapa? Karena isinya tentang ajaran atau petunjuk kongkret mengenai kehendak Allah, yang disampaikan melalui Musa. Ajaran atau petunjuk itu disampaikan tidak hanya melalui peraturan hukum, tetapi juga melalui kejadian-kejadian yang dikisahkan.

Garis besar dari Kitab Pentateukh adalah: bermula dari penciptaan dunia sampai para bapa bangsa Israel (Abraham, Ishak, dan Yakub), keturunannya yang dibebaskan dari perbudakan Firaun di Mesir di bawah pimpinan Musa, mengadakan perjanjian dengan YHWH dan mengikat diri pada peraturan-peraturan perjanjian, serta perjalanan mengantar keturunan Yusuf dari Mesir ke Sinai dan ke dataran Moab. Lalu, berakhir dengan kematian Musa pada Kitab Ulangan 34.

Musa ditugaskan untuk membawa orang Israel keluar dari Mesir menuju tanah terjanji (Keluaran 3). Pada akhir Kitab Ulangan, ia diberi kesempatan untuk melihat negeri yang terjanji itu, meski tidak sempat masuk ke negeri yang dijanjikan itu karena ia keburu mati (Ulangan 34).

Tuhan sendiri yang tidak membolehkan Musa untuk masuk ke tanah terjanji. Alasannya sepele: masalah air. Orang Israel bertengkar karena kekurangan air, dan Musa marah-marah. Karena marahnya itulah, makanya Tuhan melarang Musa masuk ke tanah terjanji. Kisah lengkapnya bisa dibaca di dalam Kitab Bilangan 20:2-12.

“Pada suatu kali, ketika tidak ada air bagi umat itu, berkumpullah mereka mengerumuni Musa dan Harun, dan bertengkarlah bangsa itu dengan Musa, katanya: “Sekiranya kami mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan TUHAN! Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ? Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minum pun tidak ada?” Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka. TUHAN berfirman kepada Musa: “Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.” Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya. Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum. Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.”

Siapa penulis Kitab Pentateukh? Selama berabad-abad yang lampau, orang beranggapan bahwa Musa menulis kelima kitab tersebut, tapi pada abad-abad pertengahan mulai dipertanyakan bagaimana ia dapat menuliskan tentang kematiannya sendiri (Ul. 34). Memang, sampai sekarang masih banyak orang beranggapan bahwa Musa-lah yang menulis Kitab Pentateukh, dengan sedikit catatan. Catatannya adalah: penulisan kitab itu boleh jadi dimulai oleh Musa, tapi dilanjutkan oleh para pengikutnya (sekretarisnya). Zaman dahulu, orang-orang terkenal, selalu mempunyai pengikut. Sama juga halnya pada masyarakat kita dewasa ini. Kemungkinan kedua, dari awal ditulis oleh para pengikutnya, tapi di bawah arahan Musa.

Isi Dokumen Persaudaraan yang Ditandatangani oleh Imam Masjid Al-Azhar dan Paus Fransiskus

0
dimitrisvetsikas1969 / Pixabay

Berikut 12 poin penting dari dokumen tersebut.

(1). Keyakinan bahwa ajaran asli agama-agama mendorong manusia untuk hidup bersama dengan damai, menghargai kemanusiaan, dan menghidupkan kembali kebijaksanaan, keadilan, dan cinta kasih.

(2). Kebebasan adalah hak setiap orang. Pluralisme dan keberagaman agama adalah kehendak dan karunia Allah.

(3). Keadilan yang berlandaskan kasih adalah jalan untuk hidup yang bermartabat.

(4). Budaya toleransi, penerimaan terhadap kelompok lain, dan kehidupan bersama dengan damai akan membantu mengatasi pelbagai masalah ekonomi, sosial, politik dan lingkungan.

(5). Dialog antar agama berarti bersama-sama mencari keutamaan moral tertinggi dan menghindari perdebatan tiada arti.

(6). Perlindungan terhadap tempat ibadah adalah tugas yang diemban oleh agama, nilai kemanusiaan, hukum, dan perjanjian internasional. Setiap serangan terhadap tempat ibadah adalah pelanggaran terhadap ajaran agama dan hukum internasional.

(7). Terorisme adalah tindakan tercela dan mengancam kemanusiaan. Terorisme bukan diakibatkan oleh agama, melainkan kesalahan interpretasi terhadap ajaran agama dan kebijakan yang mengakibatkan kelaparan, kemiskinan, ketidakadilan, dan penindasan. Stop dukungan pada terorisme secara finansial, penjualan senjata, dan justifikasi. Terorisme adalah tindakan terkutuk.

(8). Kewarganegaraan adalah wujud kesamaan hak dan kewajiban. Penggunaan kata “minoritas” harus ditolak karena bersifat diskriminatif, menimbulkan rasa terisolasi dan inferior bagi kelompok tertentu.

(9). Hubungan baik antara negara-negara Barat dan Timur harus dipertahankan. Dunia Barat dapat menemukan obat atas kekeringan spiritual akibat materialisme dari dunia Timur. Sebaliknya, dunia Timur dapat menemukan bantuan untuk bebas dari kelemahan, konflik, kemunduran pengetahuan, teknik, dan kebudayaan dari dunia Barat.

(10). Hak kaum wanita untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan berpolitik harus diakui. Segala bentuk eksploitasi seksual dengan alasan apapun harus dihentikan.

(11). Hak-hak mendasar bagi anak-anak untuk tumbuh dalam lingkungan keluarga yang baik, mendapat gizi yang memadai, pendidikan, dan dukungan adalah kewajiban bagi keluarga dan masyarakat. Semua bentuk pelecehan pada martabat dan hak anak-anak harus dilawan dan dihentikan.

(12). Perlindungan terhadap hak orang lanjut usia, mereka yang lemah, penyandang disabilitas, dan mereka yang tertindas adalah kewajiban agama dan sosial, maka harus dijamin dan dibela.

Sumber:http://www.suaraislam.co/berikut-isi-dokumen-persaudaraan-manusia-yang-ditandatangani-imam-masjid-al-azhar-dan-paus-fransiskus

Hanya Kamu dan Tuhan Saja Yang Tahu

0
RondellMelling / Pixabay

Ada hal yang bisa diketahui oleh orang lain, ada pula hal yang tidak harus diketahui orang lain. Ada ruang yang boleh dimasuki orang lain, tapi ada juga ruang yang tidak boleh dimasuki siapa pun.

Itulah hal pribadi, ruang privat. Hal dimana kamu dan Tuhan saja yang tahu. Ruang dimana rahasia dirimu tersimpan. Disitu kamu berhak merasa nyaman, tidak diusik atau terganggu, dan menjadi diri sendiri untuk berpikir atau berbuat apa saja tanpa ada tekanan atau paksaan dari orang lain.

Sekali pintu ruang privat dibuka, kamu membiarkan orang lain masuk, mengetahui rahasia dirimu, dan entah sadar atau tidak sadar, kamu telah memberi kepercayaan.

Hanya saja, tidak semua orang bisa dipercaya. Bahkan orang terdekat pun bisa jadi menyalahgunakan kepercayaan itu. Banyak persoalan muncul karena hal yang seharusnya menjadi konsumsi pribadi dijadikan konsumsi publik oleh orang yang telah diberi kepercayaan. Banyak relasi menjadi renggang atau hancur karena hancurnya sebuah kepercayaan.

Maka sebelum hal atau ruang pribadi dibuka bagi orang lain, yakinlah bahwa orang tersebut bisa dipercaya, bahwa ia akan menjaga rahasia dan bahwa ia menghormati ruang pribadimu.

Tetapi jika kamu merasa bahwa ruang privat adalah rahasia hidupmu yang tidak harus diketahui atau dimasuki oleh orang lain, maka biarlah hanya kamu dan Tuhan saja tahu.

Penulis: P. Joseph Pati Mudaj, Msf

Merubah Sudut Pandang

0
Pexels / Pixabay

Kadang kamu harus berhadapan dengan kenyataan yang menyakitkan, tidak adil atau yang merugikanmu secara sepihak dan kamu sendiri tidak punya cara atau jalan lain kecuali menerimanya.

Sakit yang kamu rasakan seakan membuatmu tidak berdaya dan kamu hanya pasrah begitu saja. Kerugian yang kamu alami sepertinya membuatmu tetap terpuruk dan kamu kecewa. Atau ketidakadilan yang kamu rasakan semacam menindas martabatmu dan kamu dendam. Boleh saja! Itu reaksi manusiawi.

Tapi jika kamu terus larut dalam kekecewaan, emosi atau rasa yang menyesakkan itu, kamu semakin menderita. Jika kamu masih memendam rasa untuk membalas, kamu semakin dikendalikan oleh kenyataan pahit itu. Jika kamu merasa orang yang paling malang, kamu sulit menikmati keindahan.

Cobalah merubah sudut pandang bahwa apa yang sedang kamu hadapi adalah bagian dari latihan mental, kesabaran dan pematangan. Memandang sesuatu secara positip sedikit banyak akan membebaskanmu dari tekanan permasalahan yang sedang menggerogotimu. Sebab selalu ada hal baik yang bisa diperoleh dari sebuah kenyataan atau peristiwa yang mengecewakan.

Kuncinya adalah pada pikiran dan hati. Maka biarkanlah hati dan pikiranmu lebih tenang dan jernih untuk memandang dan menentukan cara atau jalan terbaik.

Penulis: P. Joseph Pati Mudaj, Msf