9.3 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 69

Christus Mansionem Benedicat: Caspar + Melkhior + Balthasar, Apa artinya?

0

Oleh: P. Johannes M.Hämmerle, OFMCap (Pendiri Museum Pusaka Nias)

20 + C + M + B + 19
Christus Mansionem Benedicat
Caspar + Melkhior + Balthasar
Atau dengan ejaan kita:
20 + K + M + B + 19
Kristus Mansionem Benedicat
Kaspar + Melkhior + Balthasar

Apa artinya?

Inilah suatu Berkat Rumah yang dapat dilakukan oleh setiap kepala keluarga Katolik
pada Hari Raya Epifania, yakni Hari Raya Penampakkan Tuhan pada tgl. 6 Januari setiap tahun
atau sama kita di Indonesia pada hari Minggu yang terdekat dengan tgl. 6 Januari.

K M B
Ke-3 huruf K M B menandai ke-3 Majus dari Timur yang datang ke Bethlehem.
Hati mereka sangat bergembira waktu menemukan Maria, Yusuf dan Anak Yesus.
Semoga kita juga mencari dan menemukan Kristus dalam rumah kita.

C M B
Ke-3 huruf C M B adalah Versi Latin: Christus Mansionem Benedicat.
Artinya: Semoga Christus memberkati rumah ini.
Caranya bagaimana?
Ke-3 huruf ditulis oleh kepala keluarga dengan kapur tulis
pada dinding di depan rumahnya atau di pintu gerbang.
Disitu ditambahkan lagi angka dari Tahun Baru, sekarang 2019.

Angka tahun ybs ditulis terpisah, di depan 20 dan di belakang 19.
Spasi-spasi diantara angka tahun dan ke-3 huruf diisi dengan tanda Salib kecil
disertai dengan doa keluarga yang memohon, supaya pada Tahun Baru ini Tuhan berkenan memberkati dan melindungi rumah serta keluarga ini dan menyertai mereka sebagai Imanuel.

H.R. Epifania
Di Gereja-Gereja Timur, Gereja Orthodox dan Gereja Kopten, setiap tgl. 6 Januari H.R. Epifania dirayakan seperti H.R. Natal Utama bagi mereka, seperti di Gereja-Gereja Barat H.R. Natal pada tgl. 25 Desember.

 

Istilah-istilah Katolik Yang Paling Sering Disalahgunakan

0
Clker-Free-Vector-Images / Pixabay

Oleh Pat Archbold untuk National Catholic Register

Kita seringkali mendengar umat Katolik yang menggunakan istilah-istilah Katolik yang terkesan resmi dalam argumen mereka atau untuk membantah orang lain, akan tetapi apakah kita benar-benar mengerti apa arti dari istilah-istilah tersebut?

Saya akan mencoba menjelaskan, secara memungkinkan dalam istilah-istilah paling mendasar, artian dari penggunaan masa kini akan istilah-istilah tersebut dan bagaimana saya rasa mereka digunakan secara tepat ataupun tidak tepat sasaran.

SEDEVACANTIST

Kita sering mendengar istilah ini. Definisi riilnya sederhana. Para sedevacantist mempertahankan bahwa, oleh karena Paus modern (masa kini) telah mengatakan atau melakukan sesuatu yang nampaknya berkontradisi dengan Tradisi dari Gereja, dan oleh karena para Paus, yang melalui kebajikan infalibilitas mereka haruslah sempurna dalam hal-hal tersebut, maka dari itu para Paus ini bukanlah Paus sejati. Alhasil, para sedevacantist meyakini bahwa takhta Petrus sedang kosong atau “sede vacante”. Sebagai sebuah kelompok, para sedevacantist adalah subset paling kecil dari subset terkecil. Engkau mungkin tidak pernah bertemu seorang sedevacantist dan engkau harus gembira oleh karena fakta tersebut.

Penyalahgunaan: Jadi bila orang-orang yang tersesat ini mewakili jumlah riil yang amat kecil, mengapa kita sering mendengar istilah tersebut? Secara sederhana, banyak orang menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan secara mengejek para Tradisionalis di dalam Gereja yang secara umum berpegang kepada bagian pertama dari formula yang saya kemukakan di atas. Bila seseorang memegang pandangan bahwa Sri Paus telah mengatakan atau melakukan hal yang nampaknya berkontradisi kepada Tradisi Gereja, maka mereka haruslah seorang sedevacantist. Mereka ingin engkau mempercayai bahwa orang-orang seperti itu adalah kelompok pinggiran dari pinggiran dan harus diabaikan. Akan tetapi mereka luput akan bagian kritis lainnya dari istilah tersebut, bahwa para sedevacantist haruslah meyakini bahwa Sri Paus haruslah sempurna atau dia bukanlah seorang Paus.

Sebagian besar dari mereka yang dicap rendah sebagai sedevacantist [justru] menolak anggapan bahwa Paus haruslah sempurna. Jadi diskusi ini secara alamiah menuju kepada istilah lainnya…

ULTRAMONTANIST

Biasanya istilah ini berarti seseorang yang mengatributkan prerogatif dan kuasa yang luas akan jabatan dan pribadi Paus. Istilah ini mempunyai sejarah yang panjang sebagai hinaan, sekalipun istilahnya telah bermetamorfosis jauh sepanjang beberapa abad. Ia secara umum digunakan sebagai hinaan kepada umat Katolik oleh sekte-sekte Protestant.

Istilah ini lebih rumit karena definisinya tidak benar-benar baku, akan tetapi dalam bahasa modern, ia digunakan untuk menjabarkan seorang Katolik yang mempunyai pandangan bahwa kesemuanya yang dibutuhkan untuk menjadi Katolik adalah setuju dengan Paus. Seseorang cukup mengikuti Paus karena Paus adalah perwujudan infalibilitas sempurna akan apa yang dimaksud menjadi seorang Katolik di masa kini, sebuah kultus akan Kepausan. Sekali lagi, kemungkinan hanya sebuah subset kecil dari sebuah subset yang sejatinya memegang posisi ini.

Penyalahgunaan: Istilah ini digunakan untuk mencemooh mereka yang menolak kritikan akan Paus. Ejekan ini biasanya dibingkaikan untuk membuatmu mempercayai bahwa siapapun yang memberikan manfaat dari keraguan akan sang Paus maka orang tersebut akal budinya sudah dikuasai oleh kultus Kepausan. Secara lebih umum istilah itu diaplikasikan kepada mereka yang meminimalisir atau menyangkal pematahan dengan Tradisi yang dipandang oleh banyak umat Katolik secara jelas, dan atau mengambil pandangan bahwa semua umat Katolik haruslah memberi penerimaan umum dan menghormati pernyataan-pernyataan kepausan atau tindakan-tindakannya dan bahwa kritikan akan hal-hal tersebut haruslah dihindari. Ini adalah sebuah penggunaan istilah terlalu luas yang digunakan untuk mengelompokkan mereka yang tidak menyukai kritikan akan Paus dengan mereka yang meyakini kritikan tersebut tidak-Katolik.

Secara realita, sedevacantisme dan utlramontanisme adalah dua sisi berbeda dari sebuah koin yang sama. Keduanya meyakini bahwa Paus haruslah sempurna. Para sedevacantist mencela ketidaksempurnaan dengan menyangkal bahwa takhta tersebut terisi sedangkan para ultramontanist memeluk sang manusianya dan mencela siapapun yang menunjukkan ketidaksempurnaannya. Dalam kedua hal tersebut, mereka gagal untuk menjadi seorang Katolik yang menyeluruh.

SENSUS FIDELIUM

Mungkin tiada istilah yang lebih sering disalahgunakan dan disalahartikan dibanding istilah satu ini. Sensus Fidelium, Katekismus mengajarkan kepada kita, ialah “…sifat mereka yang istimewa itu mereka tampilkan melalui perasaan iman adikodrati [sensus fidei] segenap umat, bila ‘dari para Uskup hingga para awam beriman yang terkecil’ mereka secara keseluruhan menyatakan kesepakatan mereka tentang perkara-perkara iman dan kesusilaan”[1]. Secara singkat, ia adalah apresiasi dan persetujuan oleh umat beriman kepada apa yang sudah sedari dulunya benar.

Penyalahgunaan: Di masa kini, banyak orang yang mengambil pandangan bahwa Sensus Fidelium adalah semacam Dewan Perwakilan Rakyat Katolik yang diisi oleh umat beriman. Semacam legislatif Katolik agung yang tidak terkekang oleh tatanan perwahyuan yang ketat, bebas untuk mengesampingkan semua pengajaran Katolik sampai kepada dan termasuk kata-kata Yesus sendiri. Bahwa entah bagaimana, bila ada cukup banyak orang yang berkumpul dalam nama dusta, kita secara kolektif mempunyai kuasa untuk mengubah benak Allah seolah-olah Dia adalah seorang tiran yang kecil atau seorang birokrat yang harus mengesahkan kehendak rakyat karena takut akan mereka.

Kontrasepsi adalah contoh sempurna. Beberapa mengacu kepada penggunaan kontrasepsi yang meluas dan menjadi umum oleh ‘umat Katolik’ sebagai sebuah ‘sensus fidelium’ dan menolak pengajaran Gereja. Penolakan akan kebenaran oleh mayoritas mempunyai kuasa untuk memaksa Gereja (dan Allah) untuk mengubah kebenaran, untuk mendeklarasikan kebenaran baru.

Secara realita ‘sensus fidelium’ tidak mempunyai kuasa untuk mendeklarasikan apapun, perannya adalah untuk mengangguk dan berlutut dalam penerimaan kebenaraan secara penuh kegembiraan.

Ada banyak lagi kata-kata yang secara umum disalahartikan dan disalahgunakan, akan tetapi mereka adalah untuk postingan berikut.

CATATAN KAKI
[1] Katekismus Gereja Katolik #92 http://www.ekaristi.org/kat/index.php?q=92

SUMBER ASAL http://m.ncregister.com/…/p…/the-most-misused-catholic-words

Lagu Tahun Berhikmat Keuskupan Agung Jakarta

0

Kita satu saudara bangsa Indonesia,

Bila berbeda pendapat kita memohon hikmat

Kepada Tuhan Maha Bijaksana

Mari mengamalkan Pancasila

Reff.
Kita berhikmat, bangsa bermartabat

Bersatu bermusyawarah dan mufakat

Kita berhikmat, bangsa bermartabat

Berdamai sejahtera bersama

Kitab berhikmat, bangsa bermartabat

Bersatu bermusyawarah dan mufakat

Kita berhikmat, bangsa bermartabat

Berdamai sejahtera bersama

Coda

Kita berhikmat bangsa bermartabat

Doa Tahun Berhikmat Keuskupan Agung Jakarta

0

Didaraskan Januari-April 2019

Allah Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur atas rahmat persatuan dan kesatuan yang menjadi kekuatan bagi bangsa kami Indonesia. Kami bersyukur atas rahmat keberagaman suku, agama, ras, budaya dan partai politik. Kami bersyukur, walaupun kami berbeda-beda, tetapi tetap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tuhan Yesus, Gembala baik dan murah hati, Engkau mengajarkan kepada kami agar kami tinggal dalam Kasih-Mu dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Dalam perutusan di tengah keberagaman, terkadang kami mengalami beda pemahaman agama dan beda pilihan politik. Apabila saat tahun elektoral dan pesta demokrasi, Kami mohon rahmat kebijaksanaan dan ketulusan hati dalam menggunakan hak memilih pemimpin yang berhikmat. Bawalah kami menuju kedamaian di tengah hiruk pikuk perbedaan. Semoga kami dapat menjalin persaudaraan sebagai sesama anak bangsa dan menjadi pembawa damai sejahtera untuk kehidupan bersama yang lebih baik.

Roh Kudus, bila kami mengalami perbedaan pendapat, entah itu dalam hidup menggereja, bermasyarakat dan bernegara, kami mohon rahmat untuk berhikmat dan mengedapankan musyawarah untuk mufakat.

Kami mohon kepada-Mu rahmat kehendak bebas untuk mewartakan dengan semangat: Kita berhikmat, Bangsa Bermartabat dalam naungan dasar negara:PANCASILA

Buda Maria, Bunda Segala Bangsa, Bunda Segala Suku, Doakanlah Bangsa kami, Indonesia tercinta.

Salam Maria 1X

Bahtera di Tengah Badai

0
StockSnap / Pixabay

Pernikahan adalah suatu pilihan hidup yang mulia. Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, maka sudah tentu mempunyai tujuan yang luhur. Apalagi menikah dalam konteks pemahaman ajaran iman Katolik. Menikah merupakan anugrah yang diberikan oleh Tuhan sendiri kepada manusia untuk menjadi partner dalam penciptaan. Tuhan sendirilah yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya dan menetapkan mereka berpasang-pasangan. Tuhan sendiri menggambarkan relasi antara suami isteri sebagaimana diriNya sendiri dan Gereja, yang utuh dan tak terpisahkan.

Namun kenyataan yang terjadi dalam keluarga-keluarga saat ini justru sebaliknya. Di tengah kemajuan teknologi dan informasi memberi dampak baik negatif maupun positif. Banyak berita mengenai perselingkuhan yang tersebar melalui media massa yang seharusnya tidak dipertontonkan. Dampaknya banyak orang yang tidak mampu menyaring informasi yang baik, sehingga mengikuti tindakan-tindakan yang akhirnya merusak keharmonisan rumah tangga. Salah satu contohnya adalah sharing seseorang berikut ini:

“Awalnya kami hidup bahagia. Apalagi setelah tau aku hamil dua bulan. Suami saya mengabaikan kerjanya untuk mengurusku. Aku tetap bersyukur setiap minggu aku tetap ke gereja. Namun kebahagiaan itu hanya sampai anak saya berumur 9 bulan 2 minggu. Suami saya mulai selingkuh dengan perempuan lain. Dia tidak pernah pulang dan tidak pernah memberi nafkah. Teman-temanku datang memberi tahu bahwa suamiku sedang bersama dengan selingkuhannya. Aku pun pasrah pada keadaan. Aku tetap berdoa agar Tuhan mempersatukan kami kembali. 3 bulan lamanya aku menunggu tapi suamiku tidak pernah pulang. Selesai sudah, dia menjalani dengan wanita- wanita pilihannya. Aku menjalani kehidupanku sebagai single parent.”

Perselingkuhan sangat merusak keharmonisan keluarga, apalagi berimbas kepada anak-anak. Anak-anak merasakan ketidaknyamanan dalam keluarga, sehingga kurang mengalami kasih sayang orangtua. Anak-anak juga tidak menemukan teladan yang baik dari orangtua sehingga berpengaruh pada kehidupan mereka di masa yang akan datang. Orangtua merupakan teladan utama dalam keluarga dalam menanamkan tindakan harmonis dan utuh bersatu. Keluarga Katolik di tengah badai dan gejolak apapun tetap bersatu dan utuh untuk menjadi teman sekerja Allah dalam penciptaan.

Dalam janji pernikahan pasangan yang menikah telah mengucapkan ikrar untuk setia baik dalam untung maupun malang, baik dalam situasi sehat maupun sakit. Dengan demikian, pernikahan Katolik mengajak setiap pasangan untuk mempertahankan pernikahan sampai akhir hayat. Oleh sebab itu keluarga Katolik diharapkan melibatkan Tuhan dalam setiap perjalanan keluarga, sehingga keluarga itu tetap kuat meskipun mengalami berbagai masalah.

Perginya Burung-Burung Gereja

0

Hujan menghampiri kota ini, tetapi asap rokok pemuda itu mendupai wajahnya sendiri. Ia seperti berdiri pada jantung dunia, tempat kudus, dimana ia hanya menemukan dirinya sendiri. Hanya bayangan kabut, ingatan masa lalu, berkelindan di kepalanya.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Ia tampak hikmat pada tempatnya. Begitulah hidup menciptakan waktu yang sakral ketika seorang memasuki rumah dirinya sendiri. Ia tau jalannya, ia tahu jamur-jamur dan sulur-sulur pikirannya, dan ia tahu planet serta satelit di dalam rumahnya. Tetapi kadang orang engan untuk masuk ke rumahnya, karena disana ia hanya mendapatkan rise cooker yang kosong, bubur yang busuk atau harapan yang terlalu berat.

Tetapi lelaki itu, ia mendupai rumahnya dengan asap rokok. Pada sudut tertentu ia memuji masa lalunya, tentang dirinya yang menjelma sebagai penulis karbitan, pemuisi, tentang cintanya dan tentang mimpi yang hilang bersama waktu.

Pernah sesekali ia menulis tentang riwayat burung gagak tua. Sebuah koran memuatnya tanpa honor. Burung itu selalu berbunyi di kepun kopi. Ia tidak hanya mengeluarkan suara tetapi ia mengeluarkan suara sekaligus pristiwa.

Kakeknya selalu memberi tahu dia, suara burung gagak itu pratanda buruk. Burung ini juga sering disebut burung hantu.  Memang ketika kakeknya meninggal, burung gagak liar itu bersuara pilu. Ia datang dari kegelapan dan tak berbunyi pada siang hari.

“Oh petaka”, sahut pria itu. Lalu ia berdoa menolak petaka. Tetapi burung gagak, tetap memastikan bahwa ajaran kakeknya itu hanyalah kepekaan relasi hidup dan alam. Siapa yang peka pada alam, ia banyak tahu seluk beluk kehidupan. Bukankah begitu?

Tetapi bagaimana dengan burung-burung Gereja? Burung-burung itu rupanya sekarang banyak yang letih dan lesu. Mereka memang bersuara, tetapi sebenarnya mereka telah pergi jauh dari Gereja.

Candi-candi Gereja sepi. Burung-burung tak lagi bersahut-sahutan.

“Sebenarnya menurut kamu ada apa dengan burung Gereja tersebut?” Bukan karena keberadaan buruk gagak, penanda nasib? Tanya Lawing kepada pemuda itu.

Pemuda itu mencermati pertanyaan Lawing. Memang populasi gagak di sekitar Gereja semakin meningkat, terlebih lagi kalau ada sarang walet. Tetapi tentang burung gereja itu, mereka pergi karena kekeringan. Mereka pergi meninggalkan menara Gereja yang menjulang ke awan.

Dulu kakek saya memberi mereka makan. Mereka bergembira. Mereka sering bercecit. Mestinya ya, kalo sayap burung Gereja itu kuat, pergilah mereka mencari nafkah, tapi Gereja tetaplah sarang mereka. Mestinya begitu.

Gereja memang tak punya apa-apa, tetapi Tuhan memberi rejeki di bumi. Jadi burung-burung gereja pergi meninggalkan Gereja demi mengubah ukuran skala kenikmatan dan mempercantik bulu mereka saja. Itu dugaan saja, katanya.

“Oh begitu yah?
“Ia, Wing.
“Jadi, apa yang kau lihat di menara itu?”

Pria itu menatap sekali lagi menara Gereja yang kokoh tetapi lelucon bagi burung layang-layang. “Apakah ada yang keliru?”

“Tidak, tak ada yang keliru. Mungkin generasi burung-burung Gereja itu tak tahu sejarahnya. Dulu Lonceng Gereja itu kalau berdentang kuat, terasa menggetarkan jiwa. Burung-burung hening di pundak Gereja ini. Tetapi sekarang Burung Gereja itu, seperti hidup untuk keberlansungan hidup saja.

“Oh, itu berarti suatu perubahan terjadi yah?”

“Betul. Tetapi, dulu, anak seorang pemuda yang pandai bermain Sape. Ia memainkan untuk Gereja, untuk umat dan untuk kakekku. Ia seperti berdoa dengan dawai Sapenya.

“Kemanakah ia Pergi? Tanya Lawing, apakah ia pergi bersama burung-burung Gereja? Atau jangan-jangan ada yang jahil menembak burung itu dengan ketapel?

Sekali lagi pria itu hening. Ia tak bingung, tetapi ia mengingat kembali memorinya. “Oh tidak katanya. Burung-burung Gereja itu diperlakukan terlalu baik, mereka dimanjakan, sehingga mereka tak lagi mampu tahu akan diri mereka bahwa merekalah burung-burung Gereja.

Lawing mengangguk. Tetapi Pria itu berkata lagi: “Yang paling saya tidak harapakan burung-burung Gereja itu berubah menjadi Gagak penanda sial. Mereka banyak makan kutu kerbau daripada roti.

Apakah itu terjadi? Teori morfologi tidak mengakui perubahan bentuk Burung cecit ke paruh burung Gagak. Sahut Lawing.

Tetapi yang memungkin terjadi evolusi adalah noosfernya. Hati dan pikirannya. Mereka bisa berhati dan berpikiran gagak yang hanya mencari kenikmatan belaka. Saya berharap tidak seperti itu, kata pria itu menutup lamunannya.

“Kembalilah burung Gereja, kecandi Gereja Kita. Sepasang menara dan loncengnya merindukan kalian”.

———

Sendawar,  2-1-19.

Larangan Merayakan Pergantian Tahun Merupakan Fanatisme Buta

0
Free-Photos / Pixabay

Perayaan tahun baru merupakan momen istimewa bagi setiap keluarga. Seperti kita ketahui, tahun baru masehi memang tidak hanya dirayakan orang kelompok tertentu. Namun hampir seluruh dunia merayakannya.

Kalender yang sampai saat ini dipakai oleh dunia adalah kalender Gregorian/masehi. Meskipun demikian, setiap tahun selalu saja ada polemik dari kelompok tertentu yang melarang merayakan pergantian tahun. Menurut mereka hal itu melanggar akidah, karena perayaan itu perayaan pagan/kafir. Alasan demikian tentu sah-sah saja untuk kelompok mereka karena tidak ada sedikit pun paksaan agar semua orang merayakan tahun baru masehi.

Namun, sadar atau tidak sadar kelompok tersebut juga memakai kalender yang sama, hari yang berasal dari Gregorian atau masehi. So, merayakan atau tidak merayakan tetap pada hari esok akan bertukar kalender menjadi 2019.

Fanatisme buta di Indonesia memang sudah menjamur sehingga seringkali kelompok tertentu membuat statemen yang lucu. Lucu karena mereka sendiri pada kenyataannya memakai kalender masehi, karena kalender itulah yang diakui dunia.

Selamat tahun baru 2019 bagi segenap masyarakat Indonesia. Damai di bumi dan damai di hati.

Sejarah Gereja Katolik Timur 1, Bag. I Katolik Ukraina (tradisi Byzantin)

0

Setelah Kenaikan Yesus Kristus, Injil masuk ke tanah Slavik….

Pada abad ke-9, dua orang kakak-beradik yaitu St.Sirilus dan St.Metodius mengabarkan Injil di tanah Slavik (suku dari Bangsa Ukraina). Mereka diutus dari Byzantin (kemudian: Konstantinopel, sekarang: Istanbul). Kedua kakak-beradik ini adalah biarawan.

Satu hal sangat penting yang diwariskan oleh mereka adalah Inkulturasi. Kedua Santo ini membuang budaya asal mereka (yaitu Yunani) dan menginjili dengan Bahasa yang dipakai oleh kaum Slavik. Mereka menerjemahkan Injil dan merayakan Liturgi kedalam budaya Slavik. Inkulturasi ini sempat dituduh bidat oleh sekelompok orang, tetapi kemudian Paus Yohanes VIII memberikan restunya. Dikemudian hari, oleh sebab misi pekabaran Injil mereka, mereka diundang ke Roma oleh Paus Nikolas I. Disaat inilah St.Metodius menerima tahbisan Imamatnya dari Paus sendiri. Inilah asal-muasal Bangsa Slavik mengenal Injil. Di akhir abad ke-9, St.Metodius wafat setelah didahului oleh kematian saudaranya.

Kebangkitan Iman Kristen di Ukraina

Kekristenan Timur terus berakar kuat di Ukraina dan memuncak ketika Vladimir, Pangeran Kiev, memeluk Iman Kristen dan dibaptis. Segera setelah itu banyak misionaris dari Kekaisaran Byzantium tiba. Para Misionaris ini diutus oleh Patriarkh Konstantinopel untuk tujuan pekabaran Injil.

Orthodox dan Katolik??

Pada abad ke-11, terjadi skisma besar, sebuah tragedi yang memisahkan Gereja Timur dan Barat. Skisma ini dipicu oleh alasan politik dan religius.

Pada saat itu, kekaisaran Romawi terbagi menjadi dua kubu. Kubu Barat adalah orang-orang yang berbahasa Latin, sedangkan kubu Timur adalah orang-orang yang berbahasa Yunani.

Alasan politik gereja Timur dan gereja Barat berpisah adalah;
a. Ekspansi kekuasaan kekaisaran Byzantium yang mengusik wilayah Roma, sedangkan di lain sisi;
b. Kepausan telah mencoba turut campur tangan dalam pemerintahan duniawi.

Alasan religius gereja Timur dan gereja Barat berpisah adalah;
a. Tata cara Liturgi
b. Ikonografi
c. Filioque
d. Dsb.
Sebetulnya, alasan religius ini tidaklah begitu relevan dan hanyalah sekadar tambahan, sebab perbedaan-perbedaan ini dalam esensinya sudah sama-sama diterima oleh kedua belah pihak sebagai sekadar perwujudan yang berbeda dari satu sumber iman yang sama. Kemudian hari, alasan-alasan inilah yang menjadi perbedaan antara Katolik Roma dengan Katolik Timur. Akan tetapi, perbedaan ini tidak mencoreng sifat Gereja yaitu “satu”, sebab sumber Iman tetaplah sama.
(Cat: Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut di postingan berikutnya)

Tragedi akan perpisahan gereja Timur dan Barat ini dinamakan “Skisma Besar”. Di saat ini, Gereja Roma Katolik meng-eks-komunikasi Gereja Timur, dan sebaliknya, Gereja Timur menjatuhkan ‘anathema’ (kutuk) kepada Gereja Katolik Roma. (Jauh di kemudian hari, secara bersamaan, Gereja Roma mencabut hukuman eks-komunikasi untuk Gereja Konstantinopel, dan Gereja Konstantinopel mengangkat anathema dari Gereja Roma). Gereja Barat dikenal dengan nama “Roma Katolik”, dan Gereja Timur, yaitu Konstantinopel disebut orang “Kristen Orthodox”.

Putus, lalu balikan….

Ketika Gereja Roma dan Gereja Konstantinopel memutuskan hubungan satu sama lain pada abad ke-11, Gereja di Ukraina secara bertahap sampai akhirnya melepaskan ikatan persatuan dengan Roma. Ketika para Uskup Orthodox Ukraina mengadakan konsili di Brest-Litovsk pada tahun 1595, tujuh Uskup memutuskan untuk membangun kembali persekutuan dengan Roma.
Dengan jaminan bahwa tradisi dan Liturgi Byzantin akan dihormati dan diakui oleh Roma, mereka dan banyak Imam lain, serta umat beriman, disatukan kembali dengan Tahta Roma, sementara yang lain tetap setia dalam Orthodox.
Pada abad ke-19 banyak umat Katolik Ukraina mulai beremigrasi ke Amerika Utara, membawa serta tradisi, dan liturgi mereka ke Kanada dan Amerika Serikat. Di bawah pemerintahan Komunis, umat Katolik di Ukraina dianiaya, banyak yang dipenjara dan dibunuh; pada 1945 semua uskup Katolik Ukraina ditangkap atau dibunuh.

Mujizat di tengah guncangan iman….

Umat Katolik Ukraina tetap setia dan bertahan pada Imannya. Mereka disalibkan, dibakar, dan dianiaya sedemikian rupa. Walaupun begitu, hampir tidak ada yang menyangkal imannya. Ada suatu peristiwa, dimana para pemuda Ukraina dijatuhi hukuman tembak. Saat eksekusi, mereka dengan lantang mendaraskan Pengakuan Iman Niceanum (Kredo Panjang). Mereka semua kemudian ditembak, tetapi tidak ada yang mati. Para eksekutor dengan geramnya melancarkan tembakan lagi berkali-kali kepada mereka, tetapi tetap saja, semua pemuda tetap berdiri tegak mendaraskan Pengakuan Iman mereka. Setelah semua pemuda itu mengakhiri dengan kata Amin, dan membuat tanda salib, barulah mereka terkapar dan mati.

Di lain peristiwa, pihak Komunis telah membantai seluruh Imam, klerus dan rohaniwan. Kemudian, pada 6 Januari (24 Desember menurut Kalender Julian) 1946 –sehari menjelang Natal- , sebuah Gereja di Ukraina Barat disegel. Para polisi ditempatkan disekeliling Gereja yang disegel. Pada malam itu, Gereja yang telah disegel tiba-tiba bercahaya. Para polisi yang berjaga lari ketakutan. Warga sekitar memeriksa penyebabnya dan dengan ketakutan serta keheranan, tampak didalam Gereja semua Imam dan Umat beriman yang baru saja dibunuh oleh pihak Komunis tengah merayakan Liturgi Malam Natal, tegak dan dengan suara lantang yang kedengaran.

Pada masa Komunis ini juga, Bunda Maria menampakkan diri di Ukraina. Penampakan Bunda Maria ini disaksikan oleh SELURUH orang disana, baik yang beragama Katolik maupun Orthodox, bahkan para Komunis. Bukan hanya di satu tempat, Bunda Maria menampakkan diri di banyak tempat di Ukraina. TIDAK ADA pesan dari Bunda Maria secara khusus, tetapi Umat beriman yang menyaksikan penampakan seketika itu juga dikuatkan iman mereka sehingga semangat kemartiran mereka tumbuh. Umat Beriman Ukraina menganggap penampakan Bunda Maria di masa Komunisme ini menyiratkan bahwa Bunda Maria tetap memperhatikan Ukraina dan Tuhan tidak melupakan mereka. Salah satu tempat Bunda Maria menampakkan diri adalah di Hrusiv. Bunda Maria berdiri diatas bubungan Gereja, dan ditengah-tengah Gereja, keluar air ajaib yang menyembuhkan banyak penyakit. Umat beriman membuat sebuah sumur disana. Tidak terhitung mujizat yang terjadi disana. Pihak Komunis melarang keras Umat Beriman untuk mendekati Gereja dan mengambil air suci dari sana. Salah seorang tentara Komunis yang berani, nekat mengambil senapannya, dan menembak penampakan itu. Seketika itu juga, mata tentara itu buta. Ia bertobat dan menjadi saksi iman meskipun kebutaannya tetap tinggal sampai kematiannya.
Penampakan Bunda Maria ini mengambil tempat khusus dalam sejarah Gereja Ukraina dalam pembebasannya dari cengkeraman tangan komunisme.

Saat ini…

Hari ini Gereja Katolik Ukraina adalah Gereja Katolik Timur terbesar, dengan sekitar 5 juta umat beriman. Gereja Katolik Ukraina ini dipimpin oleh Yang Berbahagia Sviatoslav (Shevchuk), Uskup Agung Utama dari Kyiv-Galicia. Pemilihannya dikonfirmasi oleh Paus Benediktus XVI pada 25 Maret 2011.

Terima komuni di Katolik Roma atau Katolik Ukraina??….
Gereja Katolik Ukraina adalah salah satu dari Gereja Timur yang bersatu dalam Komuni Takhta Suci St.Petrus. Oleh sebab itu bagi Umat Katolik Roma diperkenankan untuk turut serta menerima Komuni di Gereja Katolik Ukraina, dan terhitung sama dengan menerima Komuni di gereja asalnya. Hal ini juga berlaku sebaliknya. Umat dari Gereja Katolik Roma dan Gereja Katolik Timur dapat saling mengunjungi sama seperti mengunjungi Paroki lainnya. Menghadiri Liturgi Ilahi di hari Minggu-pun oleh Gereja Katolik Roma terhitung sama seperti memenuhi kewajiban menghadiri Misa Mingguan (dalam 5 Perintah Gereja). Hal ini juga berlaku sebaliknya.

Catatan akhir: Artikel ini disusun dan dibuat se-sederhana mungkin oleh Persekutuan Katolik Timur di Indonesia, agar dapat dimengerti oleh Umat Awam. Sejarah yang sebenarnya jauh lebih kompleks dan panjang.


Sumber: “Lembaga Penelitian Santo Dimitry – Rumah Byzantin”

Tangisan Kelahiranmu

0
Alexas_Fotos / Pixabay
Suaramu memecah kesunyian dan tangisan lembutmu menyapa dunia.
Semarak dan kegembiraan menyambut hadirmu
Kala itu ibumu menatapmu dengan wajah berseri
Air matanya menetes seketika.
Ia terharu, betapa ia berjuang melahirkanmu
antara hidup dan mati.
 
Ibumu bercerita padaku
Ketika engkau lahir memakai mahkota
Laksana mahkota anugerah ilahi
Itulah tugasmu, maka engkau dilahirkan
 
Engkau pun bertanya padaku, mengapa engkau dilahirkan di dunia yang penuh tantangan ini?
Aku hanya menjawab;
 
Nasib setiap orang sama,
Ketika lahir, menyapa dunia dengan tangisan
Tetapi keluarga dan sanak famili bahagia
Ketika mati keluarga dan sanak famili melepas kepergianmu dengan tangisan.
Tetapi entah, orang mati apakah bahagia? Dunia tidak lepas dari tangisan.
 
Ya, Tidak ada yang baru di atas muka bumi
kelahiran dan kematian suatu kepastian.
Lakukan yang terbaik selama masih ada waktu
Selama matahari masih menemani pagimu
Sebelum tiba saatnya engkau berkata, tak ada kesenangan bagiku didalamnya.
 
Selamat ulang tahun untukmu wahai jiwa yang letih lesu, berdamailah dengan hari dan tahun yang akan berganti.
Jakarta, 31 Desember 2018

Tak Perlu Takut Diubah, Ketika Berani untuk Mengubah

0

Ketidaksempurnaan tidak harus membuat kita takut untuk bersuara. Namun juga harus berani untuk diubah. Menjadi yang terkecil diantar terbanyak tak harus membungkam suara kebaikan kita untuk bisu dalam ketakutan. Tak juga harus memadamkan cahaya kebenaran hanya karena sebuah harmoni kehidupan yang harus dijaga, meski riak-riak gelombang kebencian terus menerpa.

Mensyukuri setahun perjalanan tanpa pernah menjadi seberkas cahaya di tahun yang baru hanyalah sebuah genderang sirene dan terompet yang berkahir ketika letupan kembang-kembang api membahana mewarnai angkasa yang seketika hilang meninggalkan aroma pengat.

Mensyukuri sejatinya membangun sebuah keberanian untuk diubah dan berubah. Tak ada hiasan terindah menghiasi panggung datangnya pergantian tahun selain keberanian untuk diubah. Tak ada cahaya terindah yang memberikan terangnya mencahayai semesta selain hati, budi, pikiran dan diri kita menjadi cahaya yang menyebarkan terang kehangatan menerangi persaudaraan dan cinta kita.

Tuhan sesungguhnya tak berharap banyak. Tuhan sejatinya tak menunggu banyak dari kita sebanyak niat kita memenuhi ruang-ruang kalender tahun yang baru. Satu yang Ia harapkan, menerima terang kedatangan-Nya:

Terang kritikan untuk mengubah yang buruk menjadi baik, Terang kerendahan hati untuk membakar menara kesombongan dan keangkuhan, Terang kebenaran untuk memadamkan hujatan dari budi dan hati yang gelap kelam oleh fanatisme.

Suara keberanian hanya menjadi sebuah suara dalam kesunyian ketika keberanian hanya berhenti pada sebuah hujatan, hanya berlabuh pada sebuah kesombongan berjemaah tanpa sebuah keberanian untuk diubah, tanpa sebuah ketulusan untuk mengamini keburukan, adalah sebuah penyangkalan bahkan pengkhianatan pada Dia yang adalah Terang.

Terang yang adalah Tuhan sudah ada dan selalu ada menyinari alam pikir dan seluruh ruang bathin kita dengan selaksa perintah serta larangan-Nya. Namun tak ada satupun yang menerima perintah-Nya, lantaran larangan-Nya yang adalah Terang dan Jalan bagi kita untuk diubah, justru dimanipulasi untuk menghalangi insan berbudi untuk melaksanakan perintah-Nya.

Tuhan tak pernah menghendaki larangan-Nya untuk menghalangi kebaikan. Lantaran larangan-Nya adalah terang yang menerangi budhi, larangan-Nya adalah Terang yang mengingatkan pikiran yang mengubah kegelapan menjadi Terang yang menerangi kebaikan. Lantas, haruskah memadamkan Terang atas nama larangan-Nya hanya untuk membakar bara kebencian menghanguskan kebaikan?

Terang itu adalah keberanian untuk diubah, ketika ada keberanian untuk mengubah orang lain. Terang itu adalah keberanian untuk menerima, ketika telah berani mengubah bahkan mengusik kehidupan insan lain. Terang itu adalah keberanian untuk menerima kesalahan, ketika telah berani menyalahi kebaikan dalam selaksa bahasa kebencian.

Terang itu sudah ada di sini, kemarin, hari ini dan yang akan datang. Namun seringkali harus kita akui bahwa kita menolak bahkan memadamkan-Nya lantaran bara kebencian telah menguasai alam pikir dan budhi kita membuat semuanya menjadi gelap. Terang itu sudah ada di sini, kemarin, hari ini dan yang akan datang tanpa pernah menanti datangnya pergantian tahun atau ucapan selamat tinggal untuk jejak setahun yang lalu, tetapi Dia hanya menanti sebuah pertobatan yang menjadikan kita sebagai terang yang berani untuk diubah ketika kita berani juga untuk mengubah.

Terang itu sudah ada di sini, kemarin, hari ini dan yang akan datang, namun sering ia tak diterima oleh insan-Nya (bdk. Yoh 1:1-18). Ia telah memberi diri, saatnya kita memberi diri untuk diterangi agar menjadi terang yang menyinari semesta dengan kebaikan dan persaudaraan. Semoga.

Manila: Desiyembre-31-2018

Pater Tuan Kopong MSF