10.6 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 81

Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa, Mungkinkah?

0

Banyak orang-orang Kristen non-Katolik yang bertanya terkait mengapa Gereja Katolik mengajarkan bahwa Maria dikandung tanpa noda dosa. Menurut mereka dalam Roma 3:23 mencatat bahwa “semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah.” Tak dapat dipungkiri banyak orang Katolik belum mampu menjawabnya secara singkat, padat dan jelas. Maka pertama-tama orang Katolik perlu menjelaskan dengan sabar, karena orang-orang non-Katolik seringkali menafsirkan Alkitab secara harafiah atau keluar dari konteks. Perlu diketahui bahwa dosa asal dan dosa pribadi berbeda.  Setelah mengetahui hal itu, baiklah kita melihat konteks Rom. 3:23.

Roma 3:23 sama sekali tidak berbicara tentang dosa asal, melainkan tentang dosa pribadi. Oleh sebab itu, kita dapat mengetahui bahwa pertanyaan orang-orang Kristen non-Katolik campuraduk antara dosa asal dan dosa pribadi. Setelah kita menemukan hal itu, maka akan dibenturkan kembali dengan Rom. 5:12.18-19, sehingga seolah-olah dogma Gereja Katolik tersebut bertentangan dengan pernyataan rasul Paulus. Ayat itu berbicara bahwa semua orang mewarisi dosa Adam. Ya, dalam ayat itu kita menemukan bahwa semua orang mewarisi dosa asal. Namun Gereja Katolik meyakini bahwa Allah membebaskan Maria dari sengat dosa asal dan akibat dosa asal. Hal itu terjadi bukan karena pahala atau kekuatan Maria, melainkan karena pahala yang masih akan dihasilkan oleh Yesus dalam misteri Paskah. Tentu setelah kita menjawab demikian, maka akan muncul pertanyaan berkaitan dengan kalimat “semua orang terkena dosa asal, jika Maria bebas dari sengat dosa asal.” tidak masuk Akal.

Tenang, Gereja mengajar bahwa Maria tetap suci sampai akhir hidupnya. Ia bebas dari segala dosa mulai dari pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian. Dengan demikian Maria terbebas dari semua dosa pribadi dan dosa asal. Rasul Paulus menggunakan kata “semua” dalam arti mutlak, numeric, distributive yang mencakup setiap orang. Namun kata “semua” dapat diartikan secara kolektif, sehingga yang dimaksud adalah sebagian besar dari yang ada. Perkataan Rasul Paulus dalam Roma 5:12.18-19 tentang dosa asal, tentu saja tidak termasuk Yesus, dan Adam-Hawa sebelum mereka jatuh dalam dosa. Pengertian kolektif lain dipakai pula dalam Roma 3:9-10, sehingga kata “semua” pada konteks ini diartikan secara kolektif bukan distributif. Hal itu karena Gereja percaya bahwa Maria Hawa Baru, yang tidak terkena dosa asal dan dosa pribadi. Bagian Alkitab yang menjelaskan bahwa Maria suci hingga akhir hidupnya, bisa kita temukan dalam Kej. 3:15, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya”. Kita dapat melihat bahwa kalimat “permusuhan” berarti tidak ada kompromi atau pertentangan total. Jika Maria sudah jatuh dalam dosa, tentu permusuhan itu tidak total dan Maria tunduk pada kuasa dosa.

Selain itu, Malaikat berkata kepada Maria, χαῖρε, κεχαριτωμένη, ὁ κύριος μετὰ σοῦ (Chaire, kecharitōmenē, ho kyrios meta sou!). Yang dapat kita baca dalam bahasa Inggris “ Hail, “Full of Grace,” the Lord is with you!(bdk. Luk 1:28).” Gelar “yang penuh rahmat” diberikan kepada Maria secara khusus oleh Allah sendiri, sehingga menunjukkan Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa asal dan dosa pribadi. Dengan demikian Dogma tentang Maria dikandung tanpa noda dosa , yang dinyatakan secara ex cathedra oleh Paus Pius IX pada 8 Desember 1854 berlandaskan kepada Alkitab.

Penulis: Silvester Detianus Gea

Menjawab Pertanyaan Sulit tentang Siapa yang Menciptakan Setan

0

Beberapa waktu lalu, salah seorang dari kita bertanya melalui group WhatsApp OMK; bunyi pertanyaannya demikian: “Romo, dari mana datangnya roh-roh jahat itu? Apakah roh-roh jahat, setan, atau iblis itu diciptakan oleh Tuhan juga?”

Sebelum menjawab pertanyaan itu, kiranya penting bagi kita untuk mengetahui terlebih dahulu apakah Gereja Katolik mengakui adanya setan atau tidak. Rupanya Gereja Katolik jelas mengakui adanya setan sebab Yesus pun mengajarkan demikian. Buktinya bisa kita lihat dalam Injil Mat 4:1-11; 12:22-30; Mrk 1:34; Luk 10:18;22:31; dan Yoh 8:44. Dengan demikian, Gereja Katolik mengajarkan bahwa iblis itu ada, dan bukan hanya mitos.

[postingan number=3 tag= “iman-katolik”]

Melalui Katekismus Gereja Katolik (selanjutnya disingkat ‘KGK’) 2851 dikatakan bahwa ‘kejahatan bukanlah hanya satu pikiran, melainkan menunjukkan satu pribadi, setan, si jahat, malaikat yang berontak terhadap Allah. “Iblis” [diabolos] melawan keputusan ilahi dan karya keselamatan yang dikedakan di dalam Kristus.’

Ajaran Gereja Katolik tentang keberadaan iblis atau setan sangat jelas terlihat dalam liturgi. Pada perayaan Baptisan, mereka yang dibaptis diminta untuk menyatakan penolakan terhadap setan, dan perbuatan-perbuatannya, dan janji-janjinya yang kosong. Gereja Katolik juga menyediakan ritus resmi pengusiran setan (eksorsisme), sehingga ini menunjukkan bahwa Gereja percaya bahwa setan itu ada.

Berdasarkan uraian di atas, maka jelaslah bagi kita bahwa Gereja Katolik mengakui adanya setan. Tetapi persoalannya tidak berhenti di situ. Jika kita mengakui bahwa setan itu ada, lantas dari mana datangnya setan itu? Apakah Tuhan menciptakan setan?

Tuhan tidak pernah menciptakan setan. Konsili Lateran IV (1215) mengajarkan bahwa ‘iblis dan roh-roh jahat lainnya diciptakan baik pada awalnya, hanya mereka menjadi jahat oleh karena tindakan mereka sendiri’. Ini adalah pernyataan Gereja untuk meluruskan ajaran sesat Manichaeism yang mengajarkan dualisme tentang keberadaan dua Tuhan: yaitu Tuhan yang baik dan Tuhan yang jahat (iblis).

KGK 391 mengajarkan – di balik keputusan nenek moyang kita untuk membangkang, terdengar satu suara penggoda yang bertentangan dengan Allah (Bdk. Kej 3:1-5), yang memasukkan mereka ke dalam maut karena iri hati (Bdk. Keb 2:24). Kitab Suci dan tradisi melihat dalam wujud ini seorang malaikat yang jatuh, yang dinamakan setan atau iblis (Bdk. Yoh 8:44; Why 12:9).  

St. Paus Yohanes Paulus II, dalam General Audience tanggal 13 Agustus 1986, menjelaskan tentang asal usul setan, demikian: “Ketika, oleh sebuah tindakan kehendak bebasnya, ia menolak kebenaran bahwa ia mengenal tentang Allah, setan menjadi ‘pembohong dan bapa segala kebohongan’ (lih. Yoh. 8:44) melampaui ruang dan waktu. Karena alasan ini, ia hidup dalam penyangkalan radikal dan tak dapat dibalikkan lagi, terhadap Allah, dan berusaha untuk memaksakan pengaruh kepada ciptaan – kepada semua mahluk yang diciptakan menurut gambar Allah dan secara khusus manusia – kebohongan dirinya sendiri yang tragis tentang apa yang baik yaitu Tuhan.”

Pada kisah Penciptaan, dituliskan sebagai berikut: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej 1:1). Dalam bahasa Inggris (terjemahan dari Latin sebenarnya adalah, “In the beginning God created heaven, and earth” (Gen 1:1). Maka ‘heaven’ atau surga di sini termasuk segala penghuni surga, yaitu para malaikat.  Namun – walaupun tidak tertulis secara eksplisit dalam Kitab Kejadian – kita dapat menyimpulkan bahwa sebagian dari para malaikat itu  jatuh sebelum penciptaan manusia.

Malaikat diciptakan sempurna, sebagai makhluk yang murni spiritual (tanpa tubuh); dan setiap dari mereka juga diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memilih atau menolak Tuhan. Mereka menolak Tuhan, yang dipelopori oleh Lucifer. Kita dapat melihat kisah penolakan ini di dalam Yes 14: 12-15: “Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur (Lucifer), putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi! Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur.” Kemudian, tentang peristiwa kejatuhan malaikat, juga dikisahkan di kitab Wahyu (lih. Why 12:7-9).

Baru setelah kejadian kejatuhan sebagian dari malaikat ini ke dalam neraka yang mereka pilih sendiri, terjadilah penciptaan alam semesta dan dunia.

*** dikembangkan dari Katolisitas.org

Yesus Tidak Melarang Sapaan Romo, Bapa atau Pastor Terhadap Para Gembala

0
ucanews
Pope Francis delivers a speech from the porch in St.Peter's Square at the Vatican during an audience with Catholic volunteers of the Confederazione nazionale delle Misericordie D'Italia (National Confederation of Mercy of Italy) on June 14, 2014. AFP PHOTO / Filippo MONTEFORTE

Banyak orang-orang Kristen Non-Katolik yang mengatakan bahwa Yesus melarang memanggil Bapak/Romo/Pater di bumi berdasarkan Mat. 23:9. Menurut mereka pada ayat tersebut Yesus memanggil Bapak/Romo/Pater di bumi, karena hanya satu Bapa yakni Dia yang di surga. Mereka menuduh bahwa Gereja Katolik melanggar Firman Tuhan, karena memanggil Bapak/Romo/Pater kepada para gembala mereka. Bagaimana kita menjawab pernyataan tersebut?. Sebenarnya pemanggilan para imam sebagai Pater/Romo/Bapak merupakan tradisi yang sangat kuno dari jemaat perdana.

Panggilan pater biasanya digunakan untuk para imam dari tarekat, sementara Romo untuk imam diosesan. Selain itu, para imam dipanggil Bapak/Pater/Romo karena mereka pelayan biasa dari sakramen-sakramen. Mereka bertindak sebagai seorang ‘Ayah/Bapak/Pater/Romo’ dalam memberikan santapan rohani bagi umat. Mereka memellihara hidup iman umat dengan pengajaran, bimbingan, teguran, koreksi agar hidup umat sesuai dengan teladan Kristus. Karena tindakan-tindakan itu maka adalah wajar mereka dipanggil Bapak/Romo/Pater.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus dan surat kepada Timotius juga menyebut diri sebagai ‘Bapak’. Maka panggilan ‘Bapak’ bukan hal yang asing dalam Perjanjian Baru. Paulus berkata, “Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu.” Selain itu, ia memanggil Timotius sebagai anak (bdk. Flp. 2:22 dan 1 Tim. 1:2). Dengan demikian semakin jelas bahwa para rasul juga memanggil gembala sebagai Bapak/Pater/Romo.  Oleh karena itu penuduh perlu melihat kembali konteks dari Mat. 23:9. Konteks yang benar terhadap Mat. 23:9 adalah kecaman Yesus kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang bertindak munafik. Mereka mengejar penghormatan manusia dan mementingkan hal lahiriah, sehingga mereka berusaha pamer seolah-olah mereka lebih kudus dari orang lain.  Dengan demikian jelas dalam Mat. 23: 9 Yesus tidak melarang panggilan Bapak/Romo/Pater kepada para gembala umat.

Penulis: Silvester Detianus Gea

 

Mengapa Perlu Adanya Pengumuman sebelum Menikah secara Katolik?

1

Sebut saja nama gadis itu Lola. Ia berharap pernikahannya berlangsung sederhana, supaya mantannya tidak mengetahui dan kemudian mengganggu pernikahannya dengan kekasihnya bernama Sani dari agama lain.

[postingan number=3 tag= ‘perkawinan-katolik’]

Karena bingung ia bertanya kepada Pastor Jeff. Pastor Jeff mengapa orang Katolik kalau menikah harus tiga kali diumumkan di Gereja, bukankah itu hanya keluarga dekat saja yang perlu mengetahui seseorang hendak menikah?”

Persiapan Pernikahan

Menikah merupakan keputusan hidup yang serius dalam hidup seseorang. Apalagi nikah dalam Gereja Katolik memiliki karakter monogami dan tak terceraikan. Karena itu pasangan yang hendak menikah perlu persiapan. Persiapan itu baik mempelai yang hendak meneguhkan perkawinannya maupun persiapan yang diberikan oleh Gereja atau disebut pastoral persiapan pernikahan.

Gereja menekankan pentingnya persiapan pernikahan ini karena Gereja menjunjung tinggi martabat pernikahan dan hidup berkeluarga. Apa saja pastoral persiapan perkawinan dalam Gereja Katolik?

Pertama, berdasarkan norma-norma pastoral atau kebijakan mengenai pastoral. Tugas pengembalaan Gereja (Kan 1063) ialah mendampingi umat Kristiani supaya perkawinan mereka terjaga dan berkembang menuju kesempurnaan.

Bagaimana pendampingannya? Pendampingan ialah melalui katekese, rekoleksi atau retret bagi peserta yang hendak menikah dan perayaan liturgis sakramen perkawinan. Melalui liturgi perkawinan, Gereja mau menyatakan bahwa kedua mempelai mengambil bagian dalam panggilan umum menggereja, menjadi rekan kerja Allah.

Selain itu ordinaris wilayah, termasuk pastor paroki mempunyai kewajiban untuk mengupayakan reksa pastoral perkawinan. Misalnya mengadakan kursus persiapan perkawinan dengan mengundang ahli-ahli keluarga, psikiater, psikolog, tenaga medis, kesaksian hidup orang yang sudah berkeluarga cukup lama dan setia, tim ekonomi dsbnya. Dalam Gereja Katolik ini dikenal dengan Kursus Persiapan Perkawinan Katolik (KPP).

Karena pernikahan adalah sakramental maka perlu juga persiapan-persiapan yang sangat penting misalnya sebelum menikah pasangan perlu menerima sakramen tobat atau yang belum menerima sakramen ekaristi, khusus untuk pernikahan sesama Katolik, diberikan. Ini tidak berlaku bagi pihak beda agama atau gereja yang tidak mengakui sakramen-sakramen tersebut.

Kedua, norma-norma yuridis. Apa itu? Yang dimaksud norma-norma yuridis dalam pastoral perkawinan ialah penyelidikan kanonik dan pengumuman nikah. Kedua hal ini sangat penting untuk mempersiapkan perkawinan. Apa alasannya?

Pertama, perlunya kepastian moral. Kan 1066 menegaskan “sebelum perkawinan dirayakan, haruslah pasti bahwa tak satu hal pun menghalangi peneguhan perkawinan. Untuk memastikan semua hal sudah “beres”, sah (valid) dan layak (licit) untuk menikah, maka perlu penyelidikan. Lalu siapa yang memerlukan kepastian moral ini? Kepastian moral ini perlu dimiliki dan ketahui oleh gembala (pastor) dan oleh kedua pasangan.

Kepastian moral ini harus dimiliki demi menjaga kesucian perkawinan dan karena perkawinan merupakan sebuah institusi yuridis dengan konsekuensi-konsekuensinya yang penting. Melalui penyelidikan kanonik diharapkan bisa diketahui status bebas masing-masing calon, ada tidaknya halangan dan larangan serta pemahaman minimum tentang arti dan tujuan perkawinan Kristiani.

Penyelidikan Kanonik (Kan 1020) menerangkan  beberapa ketentuan umum penyelidikan kanonik yaitu: 1) Sebelum meneguhkan pernikahan, pastor paroki hendaknya menyelidiki dengan saksama apakah ada atau tidaknya halangan pada perkawinan yang diteguhkannya. 2) kedua pasangan ditanya secara terpisah apakah ada halangan pernikahan dan persetujuan bebas keduanya serta pemahaman mereka tentang perkawinan Katolik.

Biasanya di paroki-paroki sudah ada formulir penyelidikan kanonik. Beberapa hal yang ditanyakan dalam kanonik ini ialah  1) halangan-halangan nikah (baca KHK Kan 1083-1094), 2) Kehendak bebas untuk menikah dan 3) pemahaman tentang ajaran katolik tentang perkawinan seperti perkawinan menurut katolik, tujuan perkawinan, pendidikan anak dan sebagainya.

Apakah kanonik ini berlaku juga pada pihak non katolik yang menikah dengan katolik? Penyelidikan Kanonik berlaku untuk keduanya. Jika pihak non katolik menolak untuk dikanonik maka perlu diberitahukan kepada ordinaris wilayah (uskup, vikjen dll). Tempat penyelidikannya jelas di Paroki yang Katolik. Demikian juga jika keduanya Katolik, pada umumnya penyelidikan kanonik diberikan di Paroki mempelai wanita.

Pengumuman nikah

Setelah penyelidikan dan semua berkas-berkas persiapan perkawinan sudah beres maka pernikahan keduanya diumumkan di Gereja (Bdk Kan 1022). Mengapa perlu diumumkan? Tujuan pengumuman ini ialah untuk mencari tahu status bebas (liber) calon mempelai. Dengan pengumuman ini, umat beriman yang mengetahui halangan dan larangan perkawinan mempelai ini diharapkan segera melapor atau memberitahukannya kepada pastor paroki.

Pengumuman ini biasanya tiga kali dalam semua perayaan ekaristi pada hari minggu dan hari raya wajib. Bisa juga diumumkan pada papan pengumuman. Pengumuman itu diumumkan di paroki asal atau paroki domisili mempelai yang hendak menikah.

Pengumuman calon perkawinan ini merupakan keharusan dan tidak boleh dilalaikan. Untuk perkawinan campur beda agama (mixta religio) dan beda gereja (disparitas cultus) pengumaman itu bisa diumumkan jika sudah mendapat dispensasi atau ijin dari uskup dan tanpa menyebut nama pihak non Katolik (Bdk. 1026)

Dengan demikian mengapa perlu pengumuman sebelum peneguhan perkawinan di dalam Gereja Katolik? 1) Supaya adanya kepastian moral sah dan layak atau tidaknya perkawinan yang nantinya diteguhkan, 2) untuk mencaritahu halangan dan larangan pernikahan supaya tidak menjadi masalah dan batu sandungan dikemudian hari. Maksud lebih besar dari semuanya itu ialah Gereja menghormati martabat perkawinan baik dalam Gereja Katolik maupun perkawinan yang diteguhkan di agama-agama lain.

Tak Disangka, Inilah Hikmah dari Keraguan Thomas

0
Foto ilustrasi dari Pixabay.com

“Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

Perkataan di atas diungkapkan oleh Thomas ketika ia mendapat kabar dari teman-temannya bahwa Yesus hadir di tengah-tengah mereka pada saat mereka sedang berkumpul [Yohanes 20:24-29]. Mereka berkata kepada Thomas, “Kami telah melihat Tuhan!

Thomas tidak percaya ketika ia mendengar kabar yang mengejutkan itu. Ia meminta bukti. Ia mengingat bahwa Yesus sudah menderita sengsara dan wafat di kayu salib. Hal terakhir yang dia lihat adalah bahwa Yesus meninggalkan bekas paku di tangan-Nya dan sebuah tusukan benda tajam di lambung-Nya. Oleh karena itu, dia ingin membuktikan kebenaran omongan para sahabatnya itu dengan melihat secara langsung bekas paku dan bekas tusukan itu.

Memang, kalau kita berada pada posisi si Thomas, apa yang dia ungkapkan di atas hampir pasti juga keluar dari mulut kita. Percaya terhadap sesuatu yang melampau pikiran kita atau terhadap sesuatu yang tidak pernah kita lihat dan kita alami memang bukan hal yang mudah. Kita pasti ingin menuntut pembuktian. Dengan kata lain, kita akan percaya kalau kita sudah melihat kenyataan yang sesungguhnya.

Namun demikian, Yesus – dalam bacaan yang sama – berkata kepada Thomas “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya”. Melalui perkataan ini kiranya Yesus ingin mengajak Thomas – dan kita juga – supaya tidak berhenti pada pencarian bukti-bukti seperti itu.

Yesus meminta kita supaya beranjak dari level itu ke level yang jauh lebih tinggi, yaitu percaya meskipun tidak melihat. Artinya, kita harus masuk ke level iman. Iman jangan sampai bergantung pada pembuktian-pembuktian fisik. Banyak hal di dunia ini tidak pernah kita lihat karena kita mempunyai keterbatasan tertentu, namun tidak berarti bahwa hal-hal yang tidak kita lihat itu tidak ada. Demikian halnya dengan iman. Iman kepada Yesus mungkin saja diturunkan dari nenek moyang kita. Kita boleh jadi belum pernah mengalami perjumpaan langsung dengan Yesus dalam pengertian apapun juga, namun iman itu tetap kita pelihara karena kita percaya bahwa Dia beserta kita.

Iman selalu melampaui kenyataan. Pembuktian memang perlu tetapi tidak menjadi tolok ukur bagi tumbuhnya iman itu. Apalagi kalau kita mau lebih jauh, kita seharusnya yakin bahwa pengalaman perjumpaan dengan Tuhan terjadi melalui pengalaman biasa sehari-hari yang kadang-kadang tanpa kita sadari, tidak harus melalui peristiwa-peristiwa besar dan menakjubkan.

Akhirnya, ada satu hal yang perlu kita pelajari dari sikap Thomas. Meski bermula dari sikap ragu-ragu namun akhirnya Thomas toh berhasil menunjukkan imannya yang luar biasa. Ia memberi contoh yang patut kita tiru ketika dia berkata “Ya Tuhanku dan Allahku”.

Perkataan seperti itu tentu keluar dari iman yang sungguh-sungguh. Maka, belajarlah dari sikap Thomas, bukan untuk bertahan dalam keraguan melainkan untuk berani berkata “Ya Tuhanku dan Allahku”.

St. Hieronimus, Seorang Imam, Konfesor, Teolog, Sejarawan dan Penerjemah Alkitab

0

Seringkali orang salah kaprah memahami perlunya revisi terhadap sebuah terjemahan Alkitab. Perlu ditegaskan bahwa terjemahan Alkitab perlu dilakukan revisi terus menerus, sehingga pesan Alkitab akan sampai kepada para penutur pada jamannya. Untuk menghindari salah pengertian, bahwa yang direvisi bukanlah salinan naskah-naskah bahasa asli Alkitab. Autograph tidak pernah direvisi, yang direvisi hanyalah terjemahan Alkitabnya. Setiap naskah terjemahan Alkitab, baik dalam bahasa Inggris maupun dalam bahasa lain-lain perlu dilakukan revisi-revisi. Demikian juga terjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia yang naskahnya diterjemahkan dan diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) bekerjasama dengan Lembaga Biblika Indonesia (LBI). Terjemahan Alkitab tersebut dikenal dengan Alkitab Terjemahan Baru yang terbit tahun 1974.

Mengapa Alkitab Terjemahan Baru perlu direvisi?

Alasan pertama dikarenakan pada saat Alkitab ini diterjemahkan pada akhir tahun 1950-an ada beberapa kosakata yang masih asing dan sulit untuk diterjemahkan, sehingga sulit dipahami oleh penuturnya yang hidup pada dasawarsa setelah proses penerjemahan dilakukan. Kemajuan ilmu penerjemahan dan perkembangan studi biblika semakin menolong Tim Penerjemahan untuk menghasilkan naskah penerjemahan yang lebih akurat, sehingga akan membantu dalam memahami Alkitab seutuhnya.

Alasan kedua adalah karena bahasa itu senantiasa berubah dan berkembang. Bahasa apapun itu terus berubah, mengalami perubahan dan perkembangan. Contohnya kata “gerombolan”. Kata “Gerombolan” jaman dulu tidak punya konotasi buruk. Namun sekarang sering kali digunakan untuk menyebutkan suatu kelompok dalam konotasi yang jelek (untuk penjahat). Untuk itu, versi-versi terjemahan Alkitab harus mengikuti kaidah dan kecocokan bahasa pada masanya (tekstual dan kontekstual). Karena perkembangan bahasa dan keterbatasan suatu bahasa, maka revisi terjemahan Alkitab harus terus dilakukan, sehingga terjemahan yang dihasilkan semakin akurat dengan arti yang sesungguhnya. Hal inilah yang menjadi tujuan dari diadakannya sebuah revisi terhadap terjemahan Alkitab. IGNORATIO SCRIPTURARUM IGNORATIO CHRISTI EST. (St Hieronimus)

Gereja Katolik menganggap Kitab Suci sebagai “T” (Tradisi besar) diantara banyak “t” (aneka tradisi kecil). Nah, bicara soal kitab suci kerap tak lepas dari sosok St. Hieronimus yang terkenal dengan ungkapannya: “Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus”. Ya, dialah seorang Pujangga Gereja abad ke-4, yang sangat ahli dalam 3 bahasa klasik, Latin, Yunani & Ibrani. Maka, ia diberi kepercayaan oleh Paus Damasus untuk membuat terjemahan baru seluruh teks Kitab Suci ke dalam bahasa Latin. Untuk menunaikan tugas itu, ia tinggal di Betlehem selama 30 tahun. Selama kurun waktu itu, ia berhasil membuat terjemahan baru Kitab Suci dalam Bahasa Latin (Vulgata) dimana KSPL diterjemahkannya dari bahasa Ibrani dan Aramik serta KSPB dari bahasa Yunani. Secara sederhana, jelas bahwa lewat kitab suci yang bahkan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari, kita semakin mengenalNya secara utuh, tidak hanya Yesus yang 100% ilahi tapi Yesus yang juga 100% insani, yang hidup di tengah komen & sentimen banyak orang termasuk penduduk Samaria yang menolakNya seperti tampak dalam bacaan hari ini.

Adapun lewat kitab suci-lah, Yesus yang ilahi sekaligus insani hadir secara penuh-utuh dan menyeluruh sebagai “PIL”, al:

  1. Pastor.

Ia menggembalakan kita dengan hidupNya, menjadi gembala baik yang menjaga kawanan dombaNya.

  1. Inspirator.

Ia memberi inspirasi, mencerahkan kita dengan aneka warta kasihNya.

  1. Liberator.

Ia membebaskan kita dengan karya2 kerahimanNya: yang kurang dilebihkan, yang sakit disembuhkan bahkan yang matipun dihidupkanNya.

Pastinya, semoga bersama dengan datangnya tahun baru dengan shio Kuda ini, kita juga bisa semakin menjadi “kuda”-nya Tuhan yang “KUat dan tak bernoDA”, yang punya “kuda kuda” sehingga siap menjadi “PIL” setiap harinya lewat karya, ucapan dan doa2 kita.

“Tukang delman beli sendal-

Jadilah pelaku firman yang handal.”

====

Dahulu, dalam rangka peringatan 15 abad kematiannya, Paus Benediktus XV mengeluarkan surat Ensiklik SPIRITUS PARACLITUS (15 September 1920) di mana dikemukakan berbagai keutamaan St. Hieronimus, sumbangsihnya kepada Gereja dan lain sebagainya. Cintakasihnya kepada Allah dan Putera-Nya, Yesus Kristus, luar biasa intens. Siapa saja yang mengajarkan kesesatan bagi Hieronimus adalah musuh Allah dan kebenaran. Dalam situasi seperti itu, Hieronomus akan ‘menghantam’ para pengajar sesat dengan tulisan-tulisannya yang penuh kuasa dan kadang-kadang sarkastis itu. Hieronimus sendiri atau dikenal sebagai Santo Jerome (sekitar 347 – 30 September, 420; Yunani: Ευσέβιος Σωφρόνιος Ιερόνυμος, Latin:Eusebius Sophronius Hieronymus) terkenal sebagai penerjemah Alkitab dari Bahasa Yunani dan Ibrani ke dalam Bahasa Latin. Dia juga adalah seorang apologis Kristen. Alkitab edisi Hieronimus, yakni Vulgata, masih merupakan naskah Alkitab penting dalam Gereja Katolik Roma. Dia diakui oleh Vatikan sebagai salah seorang Doktor Gereja.

Dalam tradisi artistik Gereja Katolik Roma, biasanya dia, yang adalah pelindung pendidikan teologi, dilukiskan sebagai seorang Kardinal, bersebelahan dengan Uskup Agustinus dari Hippo, Uskup Agung Ambrosius, dan Paus Gregorius I. Bahkan bilamana dia dilukiskan sebagai seorang pertapa uzur, dengan salib, tengkorak, dan Alkitab sebagai satu-satunya perabot dalam bilik pertapaannya, harus disertai pula topi merah atau sesuatu yang lain dalam lukisan tersebut untuk menunjukkan status kardinalnya .

Hieronimus lahir di Strido, perbatasan Pannonia dan Dalmatia, pada abad ke-4 sebagaimana tertulis dalam karyanya De Viris Illustribus Bab 135. Hieronimus berbangsa Illyria, kedua orangtuanya beragama Kristen, namun dia baru dibaptis pada tahun 360, ketika pergi ke Roma bersama sahabatnya Bonosus untuk melanjutkan studi retorika dan filsafat di kota itu. Di Roma dia belajar di bawah bimbingan Aelius Donatus, seorang yang sangat mahir dalam meng-kompilasi teknik-teknik bahasa yang disebut Donatus sebagai “grammatica.” Hieronimus mempelajari pula Bahasa Yunani Koine, akan tetapi belum tersirat dalam benaknya untuk menekuni tulisan-tulisan Bapa-Bapa Gereja Yunani, atau pun tulisan-tulisan Kristiani lainnya.

Setelah beberapa tahun lamanya di Roma, dia melakukan perjalanan bersama Bonosus ke Gallia dan menetap di Trier “pada tepiansungai Rhine yang setengah-liar” tempat dia mempelajari teologi untuk pertama kalinya, dan tempat dia menyalin, bagi sahabatnya Rufinus, komentar Hilarus mengenai Kitab Mazmur dan traktat De synodis. Kemudian dia tinggal selama sekurang-kurangnya beberapa bulan, atau mungkin beberapa tahun, dengan Rufinus di Aquileia tempat dia menjalin persahabatan dengan banyak orang Kristen. Beberapa sahabatnya itu menemaninya tatkala dia melakukan perjalanan sekitar tahun 373 melewati Trakea dan Asia Kecil menuju Syria Utara. Di Antiokhia, tempat dia menetap paling lama, dua dari rekan seperjalanannya meninggal dunia dan dia sendiri sakit parah lebih dari sekali.

Pada waktu terbaring sakit inilah (sekitar musim dingin tahun 373-374) dia mendapat suatu penglihatan yang menyuruhnya untuk mengesampingkan studi-studi duniawi dan membaktikan dirinya untuk perkara-perkara Illahi. Tampaknya saat itu dia sudah cukup lama abstain dari studi klasik dan bersungguh-sungguh mendalami studi Alkitab, berkat dorongan Apollinaris dari Laodicea yang mengajarinya sampai benar-benar mahir dalam Bahasa Yunani. Karena hasratnya yang menggebu-gebu untuk hidup bermatiraga, selama beberapa waktu dia tinggal di Gurun Chalcis, arah Barat Daya dari kota Antiokhia, yang dikenal sebagai Thebaid Syria karena sebagian besar pertapa yang hidup di situ berasal dari Syria. Selama itu tampaknya dia masih sempat meluangkan waktu untuk studi dan tulis-menulis. Untuk pertama kalinya dia mencoba mempelajari Bahasa Ibrani di bawah bimbingan seorang Yahudi yang sudah beralih ke agama Kristen; pada saat itu rupanya dia telah menjalin hubungan dengan orang-orang Yahudi yang beragama Kristen di Antiokhia, dan mungkin saja sejak itulah dia tertarik pada Injil Umat Ibrani, yang menurut kaum Yahudi Kristen tersebut adalah sumber dari Injil Matius yang kanonik.

Setelah kembali ke Antiokhia pada tahun 378 atau 379, dia ditahbiskan oleh Uskup Paulinus. Rupanya dia tidak berkeinginan untuk ditahbiskan, dan oleh karena itu ia mengajukan syarat agar diperbolehkan melanjutkan pola hidup bermatiraga setelah ditahbiskan. Segera setelah itu dia berangkat ke Konstantinopel untuk melanjutkan studinya dalam bidang Kitab Suci di bawah bimbingan Santo Gregorius Nazianzus. Tampaknya dia menetap di kota itu selama dua tahun; tiga tahun berikutnya (382-385) dia di Roma lagi, berhubungan dekat dengan Paus Damasus dan para pemuka masyarakat Roma yang beragama Kristen. Keberadaannya di Roma mula-mula karena diundang untuk menghadiri sinode tahun 382 yang digelar dengan tujuan mengakhiri skisma di Antiokhia, dirinya menjadi sangat penting di mata Sri Paus dan mendapat tempat terhormat dalam dewan penasehatnya. Salah satu di antara berbagai tugas yang diembannya adalah melakukan revisi terhadap naskah Alkitab Latin berbasis Perjanjian Baru Yunani dan Perjanjian Lama Ibrani, dengan maksud menyudahi penyimpangan-penyimpangan yang terdapat dalam naskah-naskah Gereja Barat pada masa itu. Sebelum adanya karya terjemahan Hieronimus, seluruh terjemahan Kitab Perjanjian Lama didasarkan atas Septuaginta. Meskipun ditentang oleh warga Kristen lainnya termasuk Agustinus sendiri, dia memilih untuk menggunakan Kitab Perjanjian Lama Ibrani, bukannya Septuaginta.

Penugasan untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Latin menentukan rentang kegiatan kesarjanaannya selama bertahun-tahun, dan merupakan pencapaian terpenting yang berhasil diraihnya. Alkitab yang diterjemahkannya dari Bahasa Yunani ke dalam Bahasa Latin disebut Vulgata (vulgar) karena menggunakan bahasa sehari-hari, atau bahasa kasar (vulgar), yang dituturkan masyarakat pada masa itu. Tak diragukan lagi dia menjadi sangat berpengaruh selama tiga tahun tersebut, bukan saja karena kadar keilmuannya yang luar biasa, melainkan juga karena karena pola hidup matiraga ketat dan realisasi cita-cita monastiknya.

Dia dikelilingi sekelompok wanita yang terpelajar dan berasal dari keluarga kaya, termasuk beberapa wanita dari keluarga bangsawan tertinggi, seperti dua orang janda Marcella dan Paula serta puteri-puteri mereka, Blaesilla dan Eustochium. Meningkatnya minat para wanita tersebut pada hidup membiara, dan kritik-kritik Hieronimus yang gencar terhadap kehidupan kaum klerus sekuler, membuatnya makin dijauhi oleh para klerus tersebut dan para pendukung mereka. Segera setelah kematian pelindungnya, Sri Paus Damasus (10 Desember 384), Hieronimus dipaksa melepas jabatannya di Roma setelah kaum klerus Roma membentuk dewan inkuisisi untuk menyelidiki kecurigaan akan adanya hubungan yang tidak senonoh antara dirinya dengan si janda Paula.

Pada bulan Agustus 385, dia kembali ke Antiokhia bersama saudaranya Paulinianus dan beberapa sahabatnya, dan beberapa waktu kemudian disusul oleh Paula dan Eustochium, yang telah memutuskan untuk meninggalkan lingkungan bangsawan dan menghabiskan masa hidup mereka di Tanah Suci. Pada musim dingin tahun 385 itu, Hieronimus menyertai perjalanan dan bertindak selaku penasehat spiritual mereka. Bersama Uskup Paulinus dari Antiokhia yang menggabungkan diri kemudian, para peziarah ini mengunjungi Yerusalem, Betlehem, dan tempat-tempat suci di Galilea, lalu kemudian berangkat ke Mesir, markas para pahlawan dari hidup bermatiraga.

Di Sekolah Katekese Aleksandria, Hieronimus mendengarkan seorang katekis tunanetra, Didymus Si Buta, mengulas tentang Nabi Hosea dan kenangannya tentang Santo Antonius Agung, yang telah wafat 30 tahun sebelumnya; dia tinggal sebentar selama beberapa waktu di Nitria, mengagumi kehidupan komunitas yang teratur dari banyaknya warga “kota Tuhan” itu, namun mendapati bahwa bahkan di tempat semacam itu sekalipun “bersembunyi ular-ular beludak” yakni pengaruh ajaran teologi Origenes. Menjelang akhir musim panas tahun 388 dia kembali ke Palestina dan menetap hingga akhir hayatnya di sebuah bilik pertapaan dekat Betlehem, dikelilingi beberapa sahabat, pria maupun wanita (termasuk Paula dan Eustochium), sebagai imam pembimbing rohani dan guru bagi mereka.

Keperluan hidup sehari-hari dan koleksi buku Hieronimus yang terus bertambah disediakan berlimpah oleh Paula, hidupnya dibaktikan bagi produksi literatur. Pada masa 34 tahun terakhir dari kariernya ini muncullah karya-karyanya yang paling penting—Versi Perjanjian Lama hasil terjemahannya dari naskah asli, komentar-komentar terbaiknya mengenai Kitab Suci, katalog para penulis Kristen yang disusunnya, dan dialog melawan kaum Pelagian, yang kesempurnaan sastranya diakui bahkan oleh seorang lawan kontroversial sekalipun. Dalam periode ini pula terbit sebagian besar polemiknya yang panas, yang membedakannya dari para Bapa Gereja yang ortodoks, termasuk khususnya traktat-traktat sehubungan dengan kontroversi ajaran Origenes menentang Uskup Yohanes II dari Yerusalem dan teman lamanya Rufinus. Akibat dari tulisannya menentang Pelagianisme, sekelompok pendukung Pelagianisme yang marah menerobos ke dalam bangunan-bangunan biara, membakarnya, menyerang para penghuninya dan membunuh seorang diakon. Huru-hara yang pecah pada tahun 416 ini memaksa Hieronimus mengamankan diri di hutan sekitarnya.

Hieronimus meninggal dunia di dekat kota Betlehem pada tanggal 30 September 420. Tanggal kematiannya diperoleh dari kitab Chronicon karya Santo Prosper dari Aquitaine. Jenazahnya mula-mula dimakamkan di Betlehem, dan konon kemudian dipindahkan ke gereja Santa Maria Maggiore di Roma, meskipun berbagai tempat di Barat mengaku memiliki relikui Hieronimus—katedral di Nepi, Italia mengaku menyimpan kepalanya, yang menurut tradisi lain tersimpan di Biara Kerajaan Spanyol, San Lorenzo de El Escorial, Madrid.

Tak dapat disangkal lagi Hieronimus menempati peringkat yang sama dengan Bapa-Bapa Gereja Barat yang paling terpelajar. Dalam Gereja Katolik Roma, dia diakui sebagai santo pelindung para penerjemah, para pustakawan dan para ensiklopedis. Dia lebih unggul dari Bapa-Bapa Gereja Barat lainnya teristimewa dalam penguasaan Bahasa Ibrani yang dicapainya berkat belajar keras, dan yang dipertuturkannya dengan lancar. Memang benar bahwa dia sungguh-sungguh menyadari keunggulannya, dan tidak sepenuhnya bebas dari godaan untuk kurang menghargai atau meremehkan saingan-saingannya dalam bidang sastra, khususnya Ambrosius.

Kata-kata mutiara:

Penyangkalan terhadap Kitab Suci adalah penyangkalan terhadap Kristus. (Prolog Hieronimus untuk “Komentar mengenai Kitab Yesaya”). Baik, lebih baik, terbaik. Janganlah beristirahat, sampai yang baik darimu menjadi yang lebih baik, dan yang lebih baik darimu menjadi yang terbaik.”

“IGNORATIO SCRIPTURARUM IGNORATIO CHRISTI EST … “Tidak kenal Kitab Suci, tidak kenal Kristus!”

Fiat Lux – Be the Light –

Jadilah Terang!

(Gen 1:3)

Penulis: RD. Jost Kokoh Prihatanto

Editor: Silvester Detianus Gea

 

Biografi Santo Markus: Penulis Injil dari Suku Lewi

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Santo Markus adalah seorang Yahudi dari suku Lewi. Ia dilahirkan di Gyréne, satu dari Lima Kota Barat di Libya, di sebuah desa kecil bernama Aberyatolos. Ibunya bernama ‘Maria’ seorang pengikut Kristus. Ayahnya bernama Artistopolos, sepupu dari istri Santo Petrus Rasul.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Maria yang mana? Memang, pada masa itu, ‘Maria’ merupakan nama yang tidak asing sebab banyak orang memakainya. Misalnya saja dalam Injil ada beberapa orang yang bernama Maria: Maria Ibu Yesus, Maria Magdalena, Maria saudari Lazarus, dan Maria ibu Yakobus (lih. Yoh. 19:25-27).

‘Yohanes’ merupakan nama Yahudi, dan ‘Markus’ adalah nama Romawinya. Namun, nama Markus menjadi nama khasnya. Nama Yahudinya, ‘Yohanes’, berarti ‘Kebaikan Allah’. Nama itu (Yohanes) disebutkan dua kali dalam Kisah Para Rasul (lih. Kis 13:5,13]. Sementara nama Romawinya, ‘Markus’, berarti ‘palu’.

Pada tiga kesempatan, dua nama tersebut disebutkan secara bersamaan; sehingga para teolog menyebutnya ‘Yohanes Markus’. Ia unggul dalam berbahasa dan terdidik dalam agama. Ia belajar hukum dan sejarah para nabi. Dengan kekayaan pengetahuan itu, ia menjadi seorang penerjemah Rasul Petrus selama misinya di Roma dan sekitarnya.

Menurut catatan gereja mula-mula, Markus menulis Injilnya berdasarkan penuturan Petrus. Eusebius mengutip tulisan Papias (~60-130), uskup Hierapolis, sekitar tahun 120, demikian:

“Markus, yang menjadi penerjemah bagi Petrus, menulis dengan teliti, meskipun tidak berurutan, apa yang diingat-nya [Petrus] dari perkataan atau tindakan Kristus. Karena dia [Markus] tidak mendengar sendiri maupun menjadi pengikut langsung dari Tuhan, tetapi kemudian, seperti saya katakan, menjadi pengikut Petrus, yang menyesuaikan pengajarannya menurut kebutuhan pendengarnya, tetapi tidak dengan maksud untuk memberikan riwayat yang beruntunan dari pengajaran Tuhan, sehingga Markus tidak keliru ketika menuliskan sejumlah hal menurut ingatannya. Karena dia berhati-hati dalam satu hal, yaitu tidak menghilangkan apa pun yang didengarnya, maupun tidak menyatakannya dengan tidak tepat.”

St. Policarpus, Sang Teladan Pengikut Yesus

0
katakombe.org
Policarpus dilahirkan sekitar tahun 69 Masehi. Menurut Irenaeus, Policarpus adalah murid rasul Yohanes. Irenaeus sendiri adalah murid dari Policarpus. Policarpus bekerja sebagai uskup di jemaat Smirna, Asia Kecil pada pertengahan abad kedua. Ia dikenal sebagai orang yang memiliki iman yang teguh dan hidupnya sangat sederhana. Policarpus adalah seorang saksi mata dari tradisi pengajaran gereja yang masih berbentuk lisan. Policarpus dikenal sebagai seorang uskup yang sangat membela ajaran gereja yang lurus dan sangat membenci ajaran-ajaran sesat. Policarpus mengatakan kelompok Marcion adalah anak sulung iblis.
Sikap kerasnya terhadap aliran-aliran sesat nampak dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, antara lain berbunyi: “ Barangsiapa tidak mengakui bahwa Kristus telah datang dalam daging, maka ia adalah antikristus; dan barangsiapa tidak mengakui rahasia salib, maka ia adalah jahat dan ia yang berpegang pada firman Tuhan menurut keinginannya sendiri. Barangsiapa berkata bahwa tidak ada kebangkitan dan penghakiman, maka ia adalah anak sulung iblis “. Ia sendiri melarang jemaatnya untuk memberi salam kepada para penyesat.
Pada tahun 154 Policarpus pergi ke Roma untuk menyelesaikan pertikaian tentang perayaan Paskah, dengan jemaat Roma. Policarpus diterima dengan hormat Anicetus, uskup Roma. Polikarpus memperoleh persetujuan dari Anicetus bahwa jemaat-jemaat di Asia Kecil boleh meneruskan kebiasaan mereka dalam merayakan Paskah pada 14 Bulan Nisan.
Tidak lama sesudah kembalinya dari Roma, Polikarpus ditangkap dan digiring ke Roma. Ia diminta oleh kaisar untuk menyangkal Kristus serta mengutuk Kristus, namun Polikarpus tidak mau. Sampai tiga kali kaisar bertanya kepadanya apakah ia mau mengutuk Kristus agar sang uskup dilepaskan dari hukuman mati. Namun dengan tegas dan teguh imannya kepada Kristus, Polikarpus menjawab kaisar dengan berkata: “Aku telah melayani Kristusku 86 tahun lamanya, namun belum pernah sekalipun Ia berbuat jahat kepadaku. Bagaimana aku dapat mengutuk Kristusku, juruselamatku?” kemudian Polikarpus dibakar dan sisa-sisa tubuhnya dibawa orang dan dikuburkan di Smirna.
“ Barangsiapa tidak mengakui bahwa Kristus telah datang dalam daging, maka ia adalah antikristus; dan barangsiapa tidak mengakui rahasia salib, maka ia adalah jahat dan ia yang berpegang pada firman Tuhan menurut keinginannya sendiri. Barangsiapa berkata bahwa tidak ada kebangkitan dan penghakiman, maka ia adalah anak sulung iblis “ (Polikarpus, 69-155).
 “ Tende em vos aquele sentiment que houve tambem em Christo Jesus, o qual, subsistindo em forma de Deus, nao considerou o ser igual a Deus coisa a que se devia aferrar, mas esvaziouse a si mesmo, tomando a forma de servo, tornandose semelhante aos homens, e, achodo na forma de homen, humilhouse a si mesmo, tornandose obediente ate a monte, e morte de cruz” (Filipenses 2:5-8).

Referensi:

Wellem, F.D. 1987. Riwayat Hidup Tokoh-Tokoh Dalam Sejarah Gereja, Jakarta : BPK Gunung Mulia.

Menjadi Orang Katolik yang Militan — Renungan Harian

0

Menjadi Orang Katolik yang Militan: Renungan Harian Katolik, Minggu 21 Oktober 2018 — JalaPress.com; Injil: Mrk. 10:35-45

Hari ini Gereja merayakan Hari Minggu Misi Sedunia ke-92. Dengan merayakan Minggu Misi seperti ini, kita diingatkan bahwa kita semua diutus untuk mewartakan Injil. Paus Fransiskus berpesan, “Jangan pernah berpikir bahwa Anda tidak memiliki apapun untuk ditawarkan, atau tidak ada yang membutuhkan Anda. Banyak orang membutuhkanmu. Pikirkanlah!”

Selama ini kita cenderung ‘pastor sentris’. Hierarki atau pastor menjadi pusat semua gerak Gereja. Apa-apa pastor, semua berharap pada pastor, bahkan untuk memimpin doa makan di acara kondangan juga pastor. Lalu, umat ke mana? Umat seringkali merasa minder dan merasa tidak mampu.

Untuk itulah kita diajak supaya menjadi orang Katolik yang militan, artinya orang Katolik yang bersemangat tinggi dan penuh gairah dalam hidup menggereja. Jangan menjadi orang Katolik ‘kapal selam’ yang timbul tenggelam. Jangan pula menjadi orang Katolik ‘NAPAS’, muncul hanya pada saat Natal dan Paskah.

Memang, kita harus mengakui bahwa kita seringkali sibuk. Kita sibuk mengurus ini dan itu, yang tidak jarang sarat dengan kepentingan. Kita bergabung dengan partai politik, misalnya, karena kita mempunyai kepentingan untuk berkuasa, karena kita ingin menduduki posisi strategis dalam pemerintahan, dan sebagainya; dan bukan tidak mungkin, kepentingan kita itu bisa benar-benar terwujud.

Sementara di Gereja, kita justru diminta supaya bersedia melepaskan diri dari kepentingan-kepentingan individualistik seperti itu, dan melepaskan diri dari segala nafsu akan kekuasaan.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yakobus dan Yohanes meminta sesuatu kepada Yesus. Mereka meminta posisi strategis dalam Kerajaan Allah, seorang di sebelah kiri Yesus, dan seorang lagi di sebelah kanan-Nya. Yesus bilang, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta” (Mrk. 10:35).

Mereka lupa bahwa kebijaksaan Tuhan sungguh berbeda dengan kebijaksanaan manusia. Tuhan justru merendahkan yang meninggikan diri, dan mengangkat orang yang merendahkan diri. Ia membela yang lemah, dan menghukum yang congkak-congkak.

Bagi Yesus, menjadi pemimpin haruslah siap untuk melayani, dan bukan untuk dilayani. Ia bersabda: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Mrk. 10:43-44).

Kadang-kadang kita terjebak untuk merasa lebih penting dari yang lain. Kita merasa sepertinya yang lain tidak tahu apa-apa, dan tidak ada apa-apanya. Yesus berkata “Janganlah demikian di antara kamu!”

Kita semua diserahi tugas pelayanan tertentu dalam Gereja: ada yang menjadi imam, ketua umat, pengurus wilayah, dan sebagainya. Jabatan-jabatan ini semata-mata diperuntukkan bagi lancarnya karya pelayanan, bukan untuk menguasai satu terhadap yang lain.

Inilah yang diteladankan oleh Yesus kepada kita. Kita belajar Yesus. Yesus datang ke dunia untuk melayani, bukan untuk dilayani. Semoga kita semua menjadi pelayan-pelayan yang siap melayani dan menjadi ahli waris karya misi Kristus di dunia. Amin.

Bunda Maria, Sang Theotokos: Dilibatkan dalam Sejarah Keselamatan

0
jconejo / Pixabay

Istilah ‘Theotokos‘ berasal dari kata bahasa Yunani, yang merupakan gabungan dari dua kata: ‘Theo‘ (Tuhan) dan ‘Tokos‘ (yang melahirkan). Jika kedua kata ini digabung menjadi satu (Theotokos), maka artinya adalah yang melahirkan Tuhan.

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Istilah ‘Theotokos‘ dalam bahasa lain mengalami pengembangan; yang kemungkinan besar berasal dari terjemahan ‘Theotokos‘ ke dalam bahasa Latin: Mater Dei (Ibu Tuhan). Terjemahan tersebut menunjuk pada ‘seorang ibu.’ Dengan demikian, ia (yang melahirkan Tuhan) disebut ibu Tuhan.

Terminologi ‘Theotokos‘ secara definitif digunakan oleh Gereja pada saat konsili Ekumenis III di kota Efesus pada tahun 431. Meski sebenarnya konsep Theotokos ini pertama kali digunakan pada abad ketiga, tepatnya di Alexandria, oleh Origenes (184/185 — 253/254).

Konsep Theotokos lahir dari tafsiran Origenes atas Injil Lukas, saat kunjungan Maria kepada Elisabet. Ketika Maria datang, berkatalah Elisabet: ”Siapakah aku ini, sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk. 1:43). Origenes menyebut Maria sebagai Theotokos untuk menekankan keibuan Maria yang mengandung dan melahirkan Yesus Kristus.[1]

Dalam surat Paulus kepada jemaat di Galatia 4:4, dikatakan: ”Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.” Origenes mengatakan bahwa Anak-Nya (Allah) lahir ke dunia bukan dengan perantaraan seorang perempuan, melainkan dari perempuan.[2] Oleh sebab itu, Maria benar-benar Theotokos, yang mengandung dan melahirkan Putera Allah.[3]

Pada tanggal 31 Juli 431, berkumpullah umat di halaman Katedral Santo Yohanes dari Lateran, di Roma, untuk merayakan Theotokos. Perayaan ini berlangsung sampai dengan tahun 1931, dan menggantikan perayaan Maternitas Santa Perayaan Maria. Sementara itu, pada 1 Januari setiap tahunnya dirayakan Yesus disunatkan dan sekaligus sebagai oktaf Natal.

Paus Yohanes Paulus II, pada tanggal 7 Desember 1990, mengeluarkan ensiklik yang berjudul Redemptoris Mater. Salah satu bagian dari ensiklik tersebut berbicara mengenai Theotokos; terutama dalam hubungannya dengan liturgi Bizantin, Copto, Etiopia, Siria dan Armenia yang dalam ritus masing-masing memberikan penghormatan kepada Perawan Maria, Ibu dari Sabda yang berinkarnasi.[4]

Referensi:
[1] Origenes, Hom. VII, 6; VIII, 4.
[2] Ibid, Hom. Gal (PG 14, 1298)
[3] Eusebius, Hist. Eccl. 7,32 (PG 67,812.
[4] Redemptoris Mater, 31-32