11.5 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 85

Kisah Dua Wanita di Kota Ein Karim

0

Pagi yang cerah, Kereta melaju pelan. Maria duduk di jendela, searah dengan Masinis. Ia bisa membayangkan hamparan padang yang menghijau.

Lembah Gilead yang memantulkan cahaya pagi, cerah sekali. Tanah yang ditunjuk Abraham untuk keponakannya, Lot, juga nampak biru bertudung awan yang putih membentang luas dan pemandangan indah lainnya memanjakan matanya.

“Terpujilah Engkau Allah Ishak, Allah Yakub, Allah Abraham, Leluhur kami!” Katanya dalam hati.

Disamping dia duduk seorang perempuan paruh baya. Dari perawakannya, ia perempuan tenar, banyak perhiasan pada jenjang leher dan tangannya. Cukup rapi pakaiannya. Ia dipanggil nyonya Salome. Jarinya bersih, kuku kaki dan tangannya terawat. Ia hidup dari satu kota ke kota yang lain. Bulu matanya jelentik, semua tumbuh alami. Ia menyedot semua pemandangan di Kereta itu.

Nyonya Salome, siapa tidak mengenalnya?

Ia wanita kaya, tapi entah dari mana semua kekayaanya itu, takkah tahu? Kata orang ia bersuara emas dan menjaja tubuhnya di pusat kota. Tapi Maria tidak menghakiminya. Jalan hidup orang-orang memang berbeda. Tuhan menenun rahasianya.

Ia memandang Maria dengan cara yang tak biasa. Ia melihat menembusi mata yang jernih perempuan muda itu, melihat dengan banyak tanya di depan. Mereka benar-benar mengagumi kecantikan wanita muda yang sederhana dari Nazareth itu.

Seorang gadis yang jatuh cinta dengan sesuatu yang luar biasa. Cinta yang merusak segalanya.

Kesederhanaan Maria memikat dan mengalirkan energi yang tidak lazim. Siapa yang duduk dekat dengan Maria, ia merasakan getaran kesederhanaannya.

Maria sendiri tidak tahu energi itu. Orang lain merasakannya. Banyak mata terlihatnya takjub.

“Mau kemana Nona?” Tanya Salome.

“Ke Kota Ein Karim, bu! Kalau ibu?

“Oh wisata yang cukup lama. Saya sudah tiga kali ke Kota itu. Omong-omong, namamu siapa?

“Mariam, Bu!

“Aku Salome. Kamu anak siapa, Mariam?

“Yoakim dan Anna!”

“Oh, aku pernah mengenal nama-nama itu! Timpal Salome dengan tersenyum. Tapi kamu sedang terlibat ya?

“Wajah Maria merah lebam. Mata wanita memang memang jeli. Maria padahal sudah cerdik menyembunyikan perutnya yang membesar.

“Tolong jangan kasitahu ke siapa-siapa” pinta Maria.

Salome tertawa. Ya, aku akan menyembunyikannya. Itu wanita rahasia. Suamimu dari Ein Karim? ”Tanyanya lagi dengan pandangan mata yang cerdik menyelidik.

“Maria gugup menjawabnya. Bibirnya bergetar. Dengan sekuat tenaga iabesarbicara pelan. Bukan! Tapi …

“Tak bersuami yah?” Jangan sampai orang Roma itu? Atau? Salome tertawa sinis.

“Mariam diam. Seperti pedang menusuk jantungnya. Ia tidak menjawab Salome. Anak-anak di dalam kandungannya menggeliat, juga lama. Perjalanan masih panjang, tapi rahasia uang masih panjang. Lebih baik perjalanan panjang di dunia, perjalanan hidup dalam misteri yang tak berujung .

Maria memang sudah dididik untuk menjadi perempuan perkasa dan mandiri dalam segala hal. Roti dan penderitaan melilit setali. Ia sering menimba udara ke sumur Yakob, satu kilo dari rumah orangtuanya. Semua pekerjaan bisa dikeluarkan olehnya seperti desain Ibunya juga.

Saat menenun kain. Anna selalu berpesan, wanita harus bisa bekerja apa saja. Kadang nasehatnya seirama dengan rotan pemukul kasur yang diseringkan dipakainya. Anna keras sekaligus lembut hati. Ia perempuan terhormat. Ia sering mambantu persalinan banyak perempuan di kampungnya.

Maria tertidur, Semuanya teka-teki, lupa semua pertanyaan dan pertanyaan Salome. Ia sendiri yang tahu rencana ajaib atas pengeluaran. “Bapa lindungilah hambamu ini”.

Maria memejamkan mata dan tidur.

…………..

Jarak Nazaret ke Ein Karim sekitar 120 Km. Kakaknya Elisabet bersama berlian tinggal di Karim sejak mereka menikah. Waktu itu, Maria masih kecil. Elisbet menikah dilakukan 30 tahun, cukup terbilang terlambat menikah. Juga dia mujur, karena mendapatkan suami yang baik dan jujur ​​pula. Namanya Zakaria.

Zakaria bekerja sebagai imam. Saat-saat dia mencangkul tanah, membangun kandang dan membuat rumah mereka sendiri. Ia tidak banyak bicara, tetapi banyak pria yang meminta nasehat dan wejangan sucinya.

Maria terbangun! Ia seperti mendengarkan suara Yosef memanggilnya. Ia sadar, Yosef tidak pergi bersamanya. “Oh Yosef, apakah aku mencintaimu? Aku memimpikan dirimu?” Maria tersenyum. Ia melihat orang-orang di sekitarnya. Hari hampir subuh, beberapa orang mengeluarkan roti dari tas mereka.

Mereka makan tanpa peduli sesama di samping mereka. Setelah makan, ada yang tidur lagi. Tidur adalah cara orang melupakan kesuntukan dalam perjalanan yang panjang dan jauh.

……………..

Kreta berhenti, tidak jauh dari jalan, kira-kira seplempar batu ternak, Analisis rumah Elizabet. Melihat seorang gadis berambut pirang turun dari Kreta, banyak mata pandangannya. Maria menyita banyak perhatian.

“Itu saudarinya Elisabeth”, teriak seorang ibu.

Oh Kota Ein Karim, manusianya ramah, lirih Maria dalam ruangan. Wanita itu mengantar Maria ke rumah kakaknya.

Angin dari selatan menghempas terburu-buru. Elisabet masih sibuk melakukan kopi, menghidangkan kue tak beragi dari tepung roti yang masih tersisa dari nasi yang dipinjamkan ke tetangga untuk pesta pernikahan putri Bin Amidin. Apalagi waktu itu menjelang pesta panen.

“Maria, Maria, Elisabet berseru, girang. Ia memeluk adiknya. Dua wanita tergantung waktu itu menyatu.

“Terpujilah engkau Maria, terpujilah engkau!” kata Elisabet.

Maria mengusap wajah saudarinya. Air mata rindu tumpah membasah jubah keduanya. Rindu karena terlalu lama tak bersua dengan adiknnya.

“Aku akan mau meberitakan kepadamu, Elis, Kata Maria. Matanya yang bulat, bersinar. Semuanya pratanda baik.

Elis, sedikit terkejut, kedua lagi. Ia tersenyum dan tersenyum kepada Maria. Kedua jabatan mengusap pipi Maria. Kau gadis kecil, kini sudah besar. Segalanya akan terjadi padamu, Elisabet Memuji.

“Elis …”
“Maria …!”

Mereka saling mengagumi.

“Sudah berapa bulan, Maria?”

“Sudah tiga bulan, Elis!”
Duduk di dekat tungku api.

Zakaria melihat dari jauh. Ia tidak bisa menyela kedua wanita yang sedang berbahagia itu. Saja ia sendiri tentang kegembiraan yang sama.

“Zakariaaa, sahut Maria. Elisabet melihat dasar.” Ia tidak bisa bicara lagi! “Kening elisabet mengerut. Tapi Maria menghiburnya.

“Percayalah!”

“Maria, terpujilah engkau, jagalah Rahasia dalam rahimmu, sang Juru Selamat”. Suara Elisabet nan lembut menggetarkan rahim Maria.

Maria mengangguk. “Dan engkau Elis, berbahagialah engkau!” Maria tersenyum. Ia merengkuh pundak kakaknya. Ibu dan ayah, sangat bersemangat ketika bercerita tentang keluarga akhir-akhir ini.

“Terpujilah Allah Ishak, Allah Yakub dan Allah Abraham!”

Maria, Elisabeth dan Zakaria bersama-sama mengucapkan kata itu.

Setelah perbincangan yang cukup lama. Elisabet mengeluarkan kue dari almari kayu buatan Zakaria. Ia memanggil tetangganya untuk minum bersama-sama.

Kegembiraan itu memang harus dibagikan.

Tetangganya datang dan mereka meminta melihat dua perempuan yang mengandung, adik dan kakak. Berbahagialah kalian! Kata Mereka.

“Terpujilah engkau Maria!” Kata Elizabet. Mulutnya tiada henti dari kata-kata itu. Anak di dalam rahimnya pun melonjak kegirangan. Tiga bulan lamanya Maria tinggal di Ein Karim.

“Terpujilah dulu Ein Karim karena dari Kotamu, akan berseru-seru, persiapkanlah jalan bagi Tuhan!

Doa Yang Tak Terucap

1

Malam diiringi tangis-tangis
Tercekat pada nada doa

Siapakah kami di antara auman Lusiana?
Getarnya saja tawa kami.

Seperti mainan dilidah buaya
nasip kami digulung ombak.

Besok seperti kuburan, tumbuh
bersama mentari yang terus berlalu.

Orang-orang menggali kubur dikakinya sendiri
Sebelum mimpi mereka habis dikisah
diberanda bersama kopi pelipur lara.

Oh siapakah kami? Siapakah kami di antara auman Lusiana? Apakah kami masih bisa berdoa lagi?

#Untuk Palu dan Lombok #
#Doa yang tak mampu terucap #

Mengapa?

0
Sumber ilustrasi: pixabay.com

Mengapa?

Mengapa bencana kian menyapa?

Sementara bumi kian rapuh

Mengapa bencana terus menggoreskan luka?

Sementara lekukan bumi yang semakin menua

 

Puing-puing derita masih berserakan disepanjang jalan

Cemas, bila bumi tak sudi lagi dipijak

Resah, jika laut tak mampu lagi membendung airnya

Takut, kalau gunung tak sanggup lagi berdiri tegak

 

Dalam hangat pelukan mentari

Diri terbalut mendung keresahan

Dalam alirannya yang kian mengeruh

Tak hentinya hingga alam penuh keheningan

 

Diseberang sana, ada harapan tentang kehidupan

Yang kemudian terluluh lantakkan

 

Air mata ini belum lagi kering

Terdengar jeritan saudaraku disana

Terdengar tangisan sahabatku disana

 

Bencana, mengapa dan mengapa?

Bumi bergejolak penuh kemurkaan

Tak henti-hentinya mengorehkan duka

 

Salah siapa ini terjadi?

Apakah ini suatu cobaan?

Ataupun peringatan?

Renungkanlah!

Kata Yesus: Barangsiapa tidak Melawan Kita, Ia Ada di Pihak Kita

0
lauraelatimer0 / Pixabay

Barangsiapa tidak Melawan Kita, Ia Ada di Pihak Kita: Renungan Harian Katolik, Minggu 30 September 2018 — JalaPress.com; Injil: Mrk: 38-43.45.47-48

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Injil hari ini menceritakan kepada kita bagaimana murid-murid Yesus merasa jengkel ketika melihat seseorang – yang bukan pengikut Yesus – mengusir setan dalam nama Yesus.

Mereka berpikir bahwa mestinya kuasa untuk mengusir setan dalam nama Yesus hanya boleh dimiliki oleh para pengikut Yesus, bukan yang lain. Itulah sebabnya mereka memberitahu Yesus bahwa mereka sudah mencegah orang itu.

Mereka berharap bahwa ketika mereka memberitahukan hal itu kepada Yesus, Yesus akan mendukung apa yang sudah mereka lakukan terhadap orang itu. Ternyata, reaksi Yesus justru sebaliknya. Yesus melarang mereka. Yesus bilang “Janganlah kamu cegah dia! Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.

Kok Yesus malah melarang murid-murid-Nya untuk mencegah orang itu? Mengapa Ia tidak mendukung saja apa yang sudah dilakukan oleh para murid-Nya terhadap orang itu?

Yesus tidak mau mencegah orang yang mengusir setan dalam nama-Nya sebab Ia melihat ada tujuan baik di balik perbuatan orang itu; meskipun Ia sendiri tahu bahwa orang itu bukan pengikut-Nya. Yesus tidak ingin membatasi niat orang untuk berbuat baik.

Lantas, apa yang membuat para murid ngotot untuk mencegah orang itu? Sebenarnya, para murid juga tahu bahwa apa yang dilakukan oleh orang itu tidak berlawanan dengan ajaran Yesus. Hanya saja mereka merasa sakit hati melihat kemampuan yang dimiliki oleh orang itu; sebab selama ini mereka berpikir bahwa hanya orang-orang yang dekat dengan Yesuslah yang layak mengusir setan dalam nama Yesus. Para murid mempersoalkan perbuatan orang itu sebab bagi mereka, siapapun yang bukan murid Yesus, tidak layak melakukan pengusiran setan dalam nama Yesus. Dengan demikian, sekarang kita bisa melihat bahwa Yesus tidak mencegah orang itu sebab Ia melihat ada tujuan baik di balik perbuatan orang itu – sementara para murid mencegah orang itu sebab mereka melihat bahwa orang itu tidak layak untuk mengusir setan dalam nama Yesus.

Berangkat dari cara pandang yang berbeda itu, maka Yesus membuka pikiran para murid-Nya dan mengajak mereka untuk melihat lebih jauh. Yesus mengajarkan kepada mereka bahwa ketika mereka melihat suatu kejadian, pertama-pertama yang harus dilihat adalah apakah peristiwa itu mendatangkan kebaikan atau justru sebaliknya, mendatangkan kesesatan. Segala hal menyangkut layak atau tidaknya bisa dipikirkan belakangan. Dengan demikian, kalau suatu perbuatan itu tujuannya baik, maka tidak perlu dipermasalahkan.

Selanjutnya, Yesus menerangkan kepada para murid-Nya  bahwa sebenarnya yang membuat orang tersesat bukanlah ulah orang lain melainkan akibat dari perbuatan mereka sendiri.

Banyak orang jatuh ke dalam dosa bukan karena dijatuhkan oleh orang lain tetapi lebih karena orang bersangkutan tidak mampu mengontrol dirinya sendiri. Itulah sebabnya Yesus bilang, “Jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah”. Dengan kata lain, janganlah kita mempersalahkan orang lain ketika kita jatuh ke dalam dosa, tetapi perhatikanlah apa yang sudah kita lakukan. Tak jarang kita sibuk mencibir orang lain dan mengkambinghitamkan orang lain sebagai penyebab masalah kita, sementara kita lupa bahwa justru kita sendirilah yang membuat diri kita jatuh ke dalam dosa.

Injil hari ini mengajarkan kepada kita bahwa kita mesti menjaga diri kita sendiri supaya tidak tersesat. Kadang kita merasa diri lebih suci dan lebih layak dari orang lain. Kita lupa bahwa kita juga melakukan banyak kesalahan. Oleh karena itu, sekali lagi kita diingatkan bahwa tugas utama kita adalah mengawasi perbuatan kita sendiri, bukan perbuatan orang lain.

Injil hari ini mengajarkan kepada kita bahwa kita mesti menjaga diri kita sendiri supaya tidak tersesat.

Kalau kita mau supaya orang lain tahu bahwa kita adalah pengikut Yesus, maka berilah kesaksian lewat berbagai perbuatan baik yang kita lakukan. Kalau orang lain yang bukan pengikut Yesus saja bisa menunjukkan perbuatan baik, mengapa kita sebagai pengikut Yesus tidak bisa berbuat lebih baik dari apa yang mereka lakukan? Semoga kita semakin menjadi pengikut Yesus yang baik. Amin.

Kang Je Jatuh Cinta …

0

Jatuh cinta berjuta rasanya
Dibelai-dibelai amboi rasanya …

Aih.
Percaya nggak percaya, lagu itu keluar dari mulut laki-laki gagah yang selama ini telah menjadi panutanku sekian lama. Aku jadi cengar-cengir melihat gaya dan suaranya itu.
Kalau soal suaranya sih dijamin yahud deh. Tapi, kalo gayanya itu yang… waduh… Kalo kata temanku sih, gayanya itu norak-norak bergembira deh…
“Ah, biarkan saja orang mengatakan demikian. Toh, Aku juga tidak memaksa mereka untuk melihat gayaKu yang seperti ini,” jawab Kang Je cuek sambil tetap bernyanyi-nyanyi dan sesekali menari. Kayaknya Dia nggak peduli pasang mata melihat penuh keheranan begitu.
“Ya, emang nggak pa-pa sih.. Cuma aneh aja.” Aku masih memandangNya takjub. “Memangnya Kang Je sedang jatuh cinta dengan siapa sih?”
Kang Je menyetop lagu yang Ia nyanyikan sedari tadi. Ia menatapku dengan kedalaman mata beningNya. Duh…, mana tahan aku belama-lama bersirobok denganNya begini. Segera kupalingkanlah wajahku dariNya. Pura-pura melihat pemandangan lain.
“Aku jatuh cinta padamu, anakKu…”
Waduuuhhh… Gedubrak deh…
Suara lembut itu luar biasa terdengar di telinga. Bikin hati yang semula tenang, mendadak berdegup kencang. Aku seperti melayang di langit ketujuh. Luar biasa.
Sudah lama aku tak mendengar ada orang yang mengucapkan kalimat itu di telinga. Semerdu dan setulus itu pula. Wuahhh… Aku jadi merasa seperti baru pertama kali mendengar kalimat itu dari orang yang sangat istimewa.
“BagiKu, engkau adalah orang yang benar-benar indah, tiada dua dan istimewa. Tiada yang bisa menyamakan dirimu dengan yang lain.”
Walah… Ini gimana… Kok aku jadi salah tingkah, yaa???
“Kenapa? Apakah kamu tidak percaya bahwa Aku sungguh-sungguh mencintaimu?” Kang Je ragu-ragu sendiri melihatku salah tingkah tadi.
“Bukan nggak percaya sih… Tapi… Tapi…,” aku jadi malah kebingungan.
Kang Je mendekatiku. “Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang harus Aku ungkapkan. Menyatakan apa yang harus Kunyatakan.”
“Apakah itu berarti Engkau juga menginginkan aku mengatakan yang sama pula?”
Kepala Kang Je menggeleng pelan. “Bukankah kasih itu tidak mencari keuntungan untuk diri sendiri? (1Kor 13:5) Ketika Aku menyatakan hal itu padamu, memang demikianlah yang Kurasakan padamu. Adalah hakmu jika untuk menyatakan juga atau tidak.”
Keningku berkerut.
Repot juga perbincangan Kang Je kali ini.
Sebagai manusia biasa jelas aku nggak bisa langsung menerima pernyataan perasaan dari sebuah cinta seseorang. Bukankah aku harus melihat sungguh dulu bagaimana perasaanku kepadanya supaya tidak terjadi penyesalana belakangan? Tapi, bayangkan saja kalau yang barusan terjadi adalah antara relasi manusia laki-laki dan perempuan, apakah pasti ada semacam keinginan agar juga ditanggapi sama? Keinginan untuk sama saling dicintai itu yang mungkin membuat orang berani untuk menyatakan perasaannya kepada yang lain walau itu berarti harus bersiap pada bentuk kekecewaan yang bisa saja menyergap.
“Aku manusia biasa, Tuhan… Kalau aku menyatakan cinta pada orang lain, pasti dong aku ingin orang itu menanggpi hal yang sama denganku. Namanya juga jatuh cinta. Pasti selalu ingin yang indah-indah. Bukan yang sedih apalagi kecewa.”
Kali ini kepala berambut gondrong itu manggut-manggut. Nampaknya Ia sangat mengerti. Biar bagaimana pun, aku kan manusia biasa. Susah lah kalau dihadapkan kenyataan untuk berpikir sama denganNya yang mempunyai ketulusan serta keiklasan lebih.
“Seringkali kita menyalahgunakan arti cinta karena kata yang seharusnya digunakan adalah keinginan untuk mendominasi atau menguasai. Apalagi jika ada istilah cinta itu membutakan menguasai dirimu, ahh.. Tak jarang pula Aku temui luka yang menganga disebabkan olehnya.”
“Betul. Betul. Cinta buta. Aku pernah merasakannya,” sambarku begitu ingat kejadian lalu nan menyedihkan, tapi kini sungguh menjadi pengalaman berharga.
“Apa yang kamu lakukan ketika hal itu terjadi, anakKu?” Kang Je mendadak ingin tahu.
Aku menggaruk-garukkan kepalaku yang tidak gatal. Ini sebagai upayaku mengingat masa lalu yang sesungguhnya tidak menyenangkan untuk dikenang lagi.
“Waktu itu sih, aku sangat merasa dia adalah jodohku. Dia adaalah orang yang Kau tunjuk mendampingi hidupku. Segala hal aku lakukan demi mencapai keinginanku itu. Tiap kali kekecewaan datang menyergapku, justru menguatkanku untuk terus memburu, mengejar dan berupaya mencapai keinginan itu. Segala nasihat, logika bahkan kenyataan di depan mata aku anggap angin lalu. Aku pikir itu godaan saja. Hingga akhirnya aku disadarkan bahwa aku salah melangkah, bahwa cintaku justru mengekang kehendak bebasnya.”
Kang Je diam saja memperhatikanku cerewet bercerita.
MataNya begitu teduh memperhatikan. Sementara telingaNya lebar Ia buka. Rambut panjang yang sedikit menutup telinga, Ia singkap dulu. Pokoknya segala perhatian tercurah hanya buatku.
Alam yang menyertai kami sedari tadi, memberi tambahan nuansa lain. Suasana sejuk menyelimuti. Resah dan bentuk kesedihan yang sempat menyergap sebab mengingat masa lalu, selaksa terusir oleh kehadiran bunyi burung kecil yang bernyanyi seperti menjadi lagu latar atas ceritaku.
“Maksudku adalah berbahagia dan memberi kebahagiaan baginya. Tapi, belum apa-apa nyatanya aku terlalu egois atas kehendakku sendiri. Aku lupa dan tak mau memperhatikan apa yang sesungguhnya diinginkan olehnya, bukan hanya olehku.”
Tangan kekar Kang Je menepuk-nepuk bahuku. “Seperti yang pernah Kukatakan, dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi juga kepentingan orang lain juga. (Filipi 2:4) Kahlil Gibran pun berkata ‘Cinta tidak memiliki dan tidak dimiliki karena cinta cukup untuk cinta’, sebab karena cintalah yang membebaskan segala beban.”
Kutengadahkan kepala.
Sungguh. Ia memang adalah sumber segala cinta. Semua perkataanNya menyatakan hal itu. Tak dapat kusangkal, bahkan sehuruf pun.
“Belajarlah mengikis egoismemu, anakKu. Karena mencintai berarti memberi bukan menginginkan, bukan juga mencari kepenuhan kebutuhan emosi.”
Kuangguk-anggukkan kepala. Ku mengerti kini. Tinggal semua bisa kulaksanakan segala nasehat itu dengan baik.
“Jadi, ijinkanlah cintaKu terus membekas dan menyertai hari-harimu. Jikalau kamu tak yakin ada orang lain yang mencintamu, ingatlah bahwa cintaKu tak kan berkurang bahkan jikalau engkau tak mau menanggapi cintaKu ini…”
“Ah, Kang Je… Aku juga jatuh cinta padaMu…” Tiada ragu kupeluk kencang tubuh tinggi nan menenangkan dan penuh rasa aman itu.
Dan, aku pun mendapat tanggapan yang tak berkekurangan. Berlebih malah kukira.
“Sebarkanlah cinta kasih ini kepada seluruh manusia, anakKu. Dimana dan kepada siapa pun. Tak usah hirau kau mendapat tanggapan atau tidak. Sebab jika saatnya tiba, bahagia berlapis cinta akan datang kepadamu. Sempurna. Lebih dari yang kau pikirkan selama ini.”
Terima kasih, Kang Je…
I love You…

Respon: God is Greater than Cancer oleh Michelle

0

Bagi sebagian besar manusia, penyakit bisa menjadi hambatan dalam hidupnya, apalagi ”kanker” (penyakit yang umumnya identik dengan keadaan berbahaya atau mematikan) bukan penyakit yang mudah disembuhkan. Tetapi beda dengan Michelle Theodora. Walaupun sejak kecil sudah harus melawan penyakit ini, bukan berarti hidupnya tidak berarti lagi. Michelle dengan penuh sukacita dan semangat menjalani hidupnya, di usia mudanya Michelle sudah mengalami banyak mujizat dan kesaksian dalam kehidupannya.

Kebanyakan orang yang mengetahui perjalanan hidup Michelle, akan terlintas dipikiran,  “Sungguh hebat! Kita saja yang manusia normal belum tentu sanggup bersikap ceria dan seperti tidak terjadi apa-apa ketika menghadapi keadaan seperti ini. Tapi Michelle, benar-benar membuka mata kita.”

Bagi saya, tulisan ini seperti “paradoks”. Begitu SEDERHANA penuturannya, tetapi begitu DALAM maknanya. Kesederhanaan dan kedalaman maknanya yang membuat tulisan ini begitu unik.

Melalui buku ini, Michelle membagikan kisah nyata kehidupannya sendiri yang divonis menderita luekemia sejak umur 11 tahun pada 2011. Ia harus menjalani perawatan dan kemoterapi selama 4 tahun di Jakarta dan Singapur. Seorang Michelle, gadis kecil yang sedang bertumbuh menjadi remaja harus melewati hari-hari yang panjang di pembaringan rumah sakit dengan segala kelemahan dan penderitaannya, menghadapi masa-masa sulit yang Tuhan izinkan. Namun, justru di tengah perjuangannya melawan penyakit yang menjadi momok bagi umat manusia, Michelle bertemu dengan pribadi Yesus yang sungguh ajaib. Michelle bertumbuh menjadi pribadi yang matang melebihi usianya yang baru 13 tahun pada waktu itu. Justru dalam kelemahannya, Michelle semakin intim dengan Tuhan dan hatinya semakin berpaut kepada Tuhan serta menjalani prosesnya bersama dengan Tuhan.

Saat ini Michelle adalah salah satu anak yang masih bertahan dengan penyakitnya karena mujizat yang diberikan Tuhan. Walaupun harus menghadapi berbagai cobaan, tapi Michelle tetap menjalani kehidupannya dengan semangat dan sukacita. Kisah nyata Michelle ini dapat ditelusuri pada buku karya Michelle Theodora yang berjudul ‘God is Greater than Cancer’.

Saya sendiri sebagai pembaca  ‘God is Greater than Cancer’ merasa terberkati atas kisah yang dialami Michelle. Dalam kondisi fisiknya yang tak sempurna, dia tetap berusaha bersukacita dan bersyukur menjalani hidupnya. Karena dia percaya bahwa Tuhan akan memberikan rencana yang terbaik dalam hidupnya. Michelle dalam bukunya mengajak kita untuk memberikan energi yang luar biasa ditengah ketidaksempuranaan kita.

Menutup tulisan kali ini,

Perhatikan orang-orang di sekitar kita. Orang tua, saudara, teman, guru, dan siapapun yang mencintai kita. Mereka semua tidak sempurna. Ada saja hal yang membuat kita tak puas kepada mereka.

Tapi mereka semua memberi kita energi yang luar biasa, untuk menikmati hidup ini. Jangan berharap mereka akan sempurna, karena kita juga tidak sempurna.

Lalu, selanjutnya bagaimana? Asahlah terus keunggulan kita itu. Manfaatkan untuk menghasilkan hal-hal yang baik, bermanfaat bagi diri kita sendiri. Banyak-banyaklah bersyukur dan berbuat baik, sampai perbuatan baik kita itu dinikmati oleh banyak orang.

Perbuatan baik, menghasilkan hal baik, akan menambah keunggulan yang tadinya sudah kita punya. Ia juga akan menghasilkan energi yang lebih besar untuk berbuat kebaikan lebih banyak lagi. Ingat, bersyukur itu bukan mencari kekurangan orang lain yang tak ada pada kita.

Bersyukur itu adalah menemukan keunggulan pada diri kita, memanfaatkannya, menikmatinya, tanpa berkata, ‘mengapa seperti ini?’

Rencana Tuhan, Bukan Rencana Kecelakaan

0
Gambar Ilustrasi dari Pixabay.com

Minggu lalu ketika teman kerja saya hendak ke kantor, ia mengalami kecelakaan. Ia jatuh karena ingin menghindari jalan yang sedang dalam perbaikan dan penuh dengan kerikil. Dengan kecepatan laju motornya, hingga membuat teman saya terpelanting ke samping sejauh beberapa meter. Untung saja tidak ada kendaraan beroda 4 yang melintas di dekatnya, jika ada tamatlah riwayatnya. Ia hanya mengalami luka lecet.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Lewat sebuah percakapan, teman saya ini menceritakan kisah tragis yang ia alami tersebut. Peristiwa ini ia ceritakan ketika kami hendak mengikuti briefing. Bagi teman saya, segala yang terjadi dalam hidup kita merupakan rencana Tuhan, entah itu yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Kecelakaan yang ia alami ia sebut sebagai rencana Tuhan. Walaupun hal itu nyaris merenggut nyawanya (jika kendaraan melintasinya). Diam-diam dalam benak saya bertanya, “kenapa terkadang Tuhan merancangkan sesuatu yang tidak menyenangkan?” Tetapi, teman saya punya argumentasi untuk menjawab pertanyaan saya ini. Ia mengatakan bahwa, “dibalik peristiwa itu ada pelajaran yang dapat dipetik. Pelajaran itu yang harus kita gali untuk menemukan rencana Tuhan  yang sebenarnya.” Tetapi saya kurang puas.

Saya pernah membaca cerita, “ada seorang bapak mempunyai tiga orang anak. Ketiganya masih kanak-kanak. Bapak ini memiliki rencana tersendiri untuk ketiga orang anaknya itu. Anak pertama akan ia jadikan sebagai pengusaha yang kaya. Anak keduanya akan ia jadikan sebagai petinju yang professional dan anak ketiga yang adalah seorang perempuan akan ia jadikan sebagai seorang pelacur.” Setelah membaca cerita, saya diam dan berpikir, “ah, mana ada seorang bapak yang baik merencanakan sesuatu yang buruk terutama untukanak perempuannya.” Absurd, tak masuk dinalarku.

Cerita di atas mejawab pertanyaan saya.

Tuhan dan bapak, ahhh!!!

Begitu pula dengan Tuhan, Tuhan itu baik, tidak mungkin ia merencanakan hal yang tidak menyenangkan. Pasti ada yang salah di dunia ini dan itu bukan Tuhan.

Manusia hidup adalah pemberian Tuhan, Ia menciptakan manusia seturut citraNya. Ia memberi manusia akal dan kebebasan. Sayangnya, sejak awal manusia (kisah Adam dan Hawa) salah mempergunakan apa yang Tuhan berikan. Melihat kembali cerita teman saya, perbaikan jalan, penuh dengan kerikil dan laju cepat merupakan contoh dari manusia yang salah menggunakan kebebasan yang Tuhan berikan. Jadi, dalam peristiwa kecelakaan teman saya, tidak ada rencana Tuhan. Murni kesalahan manusia, teman saya dan (entah) pembuat jalan.

Rencana Tuhan itu baik dan selalu baik. Yang terjadi di dunia tidak selalu baik dalam hal ini tidak semua kejadian dan peristiwa yang terjadi  benar-benar merupakan rencana, kehendak Tuhan. Namun, bukan berarti pula Tuhan lepas tangan dan duduk ongkang kaki di singgasanaNya.

Melihat peristiwa yang dialami teman saya, teman saya terpelanting jauh beberapa motor, tetapi tidak kehilangan nyawanya. Teman saya mengatakan bahwa, “ia beruntung tidak mengalami luka yang parah dan sampai saat ini masih hidup. Bagi saya peristiwa ini merupakan pembelajaran untuk lebih hati-hati lagi dan juga keselamatan yang Tuhan berikan, ada campur tangan Tuhan di dalamnya bahwa Ia masih mengingingkan saya untuk hidup dan berkarya di dunia ini.”

Jadi, Tuhan itu tidak pernah lepas tangan dari manusia, dunia dan isinya. Jika manusia tidak diperhatikan oleh Tuhan, tidak bisa dibayangkan apa yang terjadi. Jika Tuhan tidak memperhatikan dan peduli dengan manusia, mungkin teman saya sudah tidak ada di dunia ini. Kebaikan Tuhanlah yang membuat teman saya masih hidup, bukan hanya teman saya tetapi  saya, kamu dan kita semua.

Kebaikan Tuhan dan campur tanganNya mengingatkan saya dengan sebuah percakapan (media elektronik) bersama teman kuliah. Pembahasan mengenai bagaimana saya, kuliah dan prosesnya. Selama kuliah saya mahasiswi yang sangat pasif entah itu dalam hal diskusi akademik ataupun non akademik. Bahkan sering kali mengikuti remedial karena dapat nilai buruk. Saya juga ikut organisasi kampus dan paduan suara Gereja tapi bukan jadi alasan untuk tidak belajar dan membuat nilai UAS buruk, toh banyak juga teman yang aktif organisasi tapi punya nilai yang baik.

Pada semester 4 saya harus melewati masa dimana saya benar-benar putus asa, saya didiagnosa oleh dokter mengalami tumor tiroglosus, leher kanan  saya bengkak seperti ada kelereng yang makin hari makin membesar dan itu sangat mengganggu aktivitas saya. Bahkan beberapa mata kuliah harus saya lewatkan, saya harus bolak-balik ke dokter untuk berobat dan telah dijadwalkan untuk operasi. Saya cemas kalau-kalau keadaan makin memburuk, saya cemas kalau harus mengulang semester depan. Pokoknya segala hal negative dan kecemasan menguasai pikiran saya.

Saat itu saya benar-benar pasrah dan terus berdoa pada Tuhan agar diberikan kekuatan. Saya bersyukur ditengah kelemahan, saya punya sumber kekuatan. Saya punya keluarga yang selalu berikan semangat, saya punya teman-teman yang selalu mendoakan dan saya punya Tuhan yang menolong saya, menyembuhkan saya tanpa tindakan operasi, saya tidak harus mengulang mata kuliah bahkan saya menyelesaikan pendidikan lebih cepat dari apa yang diharapkan.

Di sini, saya mau katakan bahwa Tuhan ingin saya menjadi orang percaya yang bisa mengatasi semua tantangan dalam kehidupan ini dengan campur tanganNya. Dia ingin saya hidup dalam penyerahan, menyerahkan semua yang tidak dapat saya atasi hanya padaNya. Sekali lagi Tuhan campur tangan sehingga saya bisa menghadapi berbagai kekuatan yang mencoba untuk melemahkan dan melukai.

Tidak terlepas dari itu, bahkan lewat pelayanan kita di Gereja seperti yang dikatakan oleh pelatih saya,“bahwa lewat pelayanan ada saja yang Tuhan berikan, entah itu talentamu yang ditambahkan, sekolahmu yang dilancarkan, pekerjaanmu, jodohmu atau apapun itu.” Diam-diam hati saya menjawab, “iya, saya sudah merasakannya. Karya dan campur tanganNya.”

Mengapa Nikah di Gereja Katolik Ribet?

0
congerdesign / Pixabay

Pemuda bernama Kesalianus bertanya kepada seorang pegawai sekretariat parokinya, “Mengapa nikah di Gereja katolik Harus Urus ini, urus itu? Kok seperti birokrasi pemerintahan saja? Kan yang menikah dan menjalaninya kita sendiri. Kenapa harus repot begitu?

[postingan number=3 tag= ‘perkawinan-katolik’]

Nikah menurut Katolik

Meskipun Katolik, rupanya Mas Kesalianus tidak memahami perkawinan dalam agamanya sendiri. Apa sih perkawinan menurut Gereja Katolik? 

Pengertian Perkawinan menurut Gereja Katolik ada dua. Pertama menurut Hukum Gereja. Ya,  Gereja juga mempunyai undang-undangnya. Kitab undang-undang itu disebut Kitab Hukum Kanonik (KHK). 

Menurut Hukum Gereja, perkawinan adalah sebuah perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk membangun kebersamaan seumur hidup.

Dari arti ini, ada tiga hal yang penting yaitu: Satu, bentuk dari perjanjian itu adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan. Ingat! seorang pria dan seorang wanita, bukan rombongan. Tidak ada kawin berjemaah. Dua, objek dari perjanjian itu adalah kebersamaan seluruh hidup. Kebersamaan ini bukan berarti kalau ke toilet harus bersama-sama, dsbnya. Artinya jangan ada pihak ketiga. Tiga, hasil dari janji itu ialah hak atas kebersamaan seluruh hidup, termasuk hak untuk melakukan hubungan suami istri. Inti dari perkawinan katolik adalah janji dari kedua belah pihak dan janji itu adalah janji atas dasar cinta.

Kedua, secara teologis, perkawinan adalah sakramen. Sakramen artinya lambang atau simbol keladaran yang menciptakan karya Allah. Dasar biblisnya adalah Ef 5: 11-33. Dalam teks ini dikatakan bahwa hubungan suami istri tidak hanya luhur dan mulia, tetapi sifatnya ilahi karena dikehendaki oleh Allah dan menunjuk pada kesatuan Kristus dan Gerejanya.

Tapi apakah semua perkawinan Katolik sakramen?

Yang disebut perkawinan sakramen adalah perkawinan antara sesama yang dibabtis, antara katolik dengan katolik dan antara katolik dengan kristen [perlu menggunakan tanda petik yaitu kristen yang rumusan pembabtisannya atau oleh oleh Gereja Katolik]. Diluar itu perkawinan hanya disebut perkawinan sah atau legal.

Tujuan perkawinan Katolik

Orang menikah pasti punya tujuan, bukan? Perkawinan Katolik memiliki tiga tujuan yaitu:

Pertama, untuk kesejahteraan suami istri. Kesejahteraan tidak hanya secara ekonomi. Tidak. Tapi terkait relasi antarpribadi suami istri, persekutuan jiwa dan hati untuk saling membantu, menolong setiap hari.

Kedua, untuk kelahiran anak, yang berarti perkawinan yang sah dari suami-istri memiliki maksud untuk melahirkan anak. Jika kawin hanya untuk kepentingan sesaat, politik, bisnis tanpa menghendaki kelahiran anak, maka perkawinan itu bertentangan dengan hakekat dan tujuan perkawinan katolik.

Nah, kalau dalam perjalanan waktu, suami istri yang sudah menikah tidak dikarunia anak, ya tidak masalah. Perkawinan mereka tetap sah.

Ketiga, pendidikan anak. Pendidikan ini tidak hanya pendidikan jasmani, seperti sekolah formal, tetapi juga pendidikan iman anak misalnya membabtisnya dalam Gereja Katolik, mengajar dan menghayati iman dengan baik.

Ciri-ciri Perkawinan Katolik (PK)

PK memiliki ciri-ciri monogami dan tidak terceraikan. Apa alasannya?

Pertama, perkawinan katolik itu sakramen, sakral dan kudus karena perkawinan merupakan tanda nyata relasi Kristus dengan Gerejanya. Cinta Kristus ini bersifat total, penuh dan berlangsung abadi. Kesetiaan cinta seperti itu hanya bisa ditandai oleh perkawinan monogami.

Kedua, perkawinan katolik itu berciri tidak terceraikan karena perkawinan seorang pria dan wanita tidak dapat diceraikan oleh ras kecuali oleh maut. Artinya, sampai satu orang dari pasangan meninggal, baru pasangannya yang masih hidup bebas menikah lagi.

Ciri kedua ini juga dibagi dalam dua dimensi lagi yaitu tak terteceraikan berisfat absolut dan tak terceraikan bersifat relatif.

Tak terceraikan yang absolut artinya tak seorangpun dapat menceraikan pasangannya, kecuali maut memisahkan. Sifat absolut ini melekat pada perkawinan yang sah secara hukum, sakramental dan sudah melakukan konsumasi (hubungan suami istri).

Sedangkan tak terceraikan bersifat relatif adalah perkawinan bisa “dibatalkan atau dianulir” adanya halangan dan larangan sehingga perkawinan itu cacat secara hukum. Gereja memiliki wewenang untuk memutuskannya. Tentu saja berdasarkan kasus dan obyektifitas.

Namun pada prinsipnya, perkawinan tak bisa diceraikan. Beberapa kasus-kasus yang mana Gereja memberi wewenang untuk memutuskan perkawinan diantaranya ialah kasus perkawinan antara katolik dan non katolik yang dilakukan secara langsung di Gereja, perkawianan antara katolik dengan katolik atau dengan kristen tapi belum konsumasi (hubungan badan) dan perkawinan antara dua orang non babtis.

Sekali lagi, Gereja sangat menjunjungtinggi martabat dab nilai perkawinan dan keluarga. Perkawinan yang mengarah pada terbentuknya pranata sosial harus perlu dijaga. Sebab  Dari keluarga muncul manusia berkualitas dan manusia bermasalah. Kualitas keluarga menentukan kualitas masyarakat. Keluarga sehat, masyarakat bangsa sehat juga. Keluarga sejahtera, negara juga sejahtera. Keluarga bermasalah, masyarakat juga pasti bermasalah. 

Nah apakah Perkawinan Katolik itu ribet? Tidak. Tujuan  Gereja adalah untuk menjaga keluhuran perkawinan dan keluarga. Gereja memghormati perkawinan dan kehidupan keluarga. 

Mengapa Kita Mengaku Dosa di Hadapan Pastor, dan ‘TIDAK’ Langsung kepada Tuhan?

0

Banyak orang Kristen non-Katolik berpikir bahwa karena hanya Allah yang bisa mengampuni dosa [Yes 43:25], maka para pendosa hanya bisa mengakukannya langsung kepada Allah [Mzm 32:5; Neh 1:4-11; Dan 9:3-19; Ez 9:5-10; Ez 10:11].

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Atas dasar inilah, mereka mengatakan bahwa pengakuan dosa di depan pastor tidak mempunyai acuan di dalam Kitab Suci. Apakah pendapat mereka itu benar? Mari kita lihat dasarnya di dalam Kitab Suci.

Dalam Perjanjian Lama disebutkan, jika seseorang melakukan kesalahan, maka dia harus membawa korban tebusan dan seorang imam harus mengadakan perdamaian bagi orang itu dengan Tuhan, sehingga pendosa tersebut dapat memperoleh pengampunan [Im 19:20-22]. Musa menjadi perantara antara bangsa Israel yang telah berbuat dosa dengan Tuhan [Kel 32:20]. Pertanyaannya, mengapa mereka tidak langsung meminta ampun saja kepada Tuhan, namun harus melalui imam dan juga nabi Musa? Hal ini disebabkan karena Tuhan seringkali memakai perantara, baik nabi maupun imam untuk menjembatani manusia dengan Tuhan.  

Kemudian, ada yang mengatakan “Tapi kan konsep perantara hanya terjadi di Perjanjian Lama, sedang di Perjanjian Baru tidak ada lagi perantara, karena Yesus adalah perantara satu-satunya antara manusia dengan Tuhan [Lih 1 Tim 2:5; Ibr 3:1; Ibr 7:22-27; Ibr 9:15; Ibr 12:24].” Benarkah demikian? Mari sekarang kita melihat bukti bahwa Tuhan juga memakai perantara di dalam Perjanjian Baru.

Dalam Perjanjian Baru, Yesus tidak pernah melarang perantara sejauh perantara tersebut berpartisipasi dalam karya keselamatan Yesus. Sebagai contoh, pada saat Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta, Ia menyuruh mereka untuk memperlihatkan diri mereka kepada para imam [Luk 17:12-14] agar para imam dapat menyatakan mereka tahir.

Rasul Paulus pernah mengingatkan jemaat di Korintus bahwa dia adalah utusan Kristus, dan dengan mendengarkan Rasul Paulus, maka sama saja mereka mendengarkan Kristus, karena Allah menasihati mereka dengan perantaraan para rasul [2 Kor 5:17-21]. Rasul Yakobus juga pernah mengatakan bahwa kita harus saling mendoakan dan mengakukan dosa [Yak 5:16]. Dengan ini, maka dapat disimpulkan bahwa mengaku dosa bukan hanya kepada Allah, namun juga melalui perantara yang ditunjuk oleh Allah, seperti Rasul Paulus, Rasul Yakobus, dll.

Jika kita membaca Kitab Suci secara teliti, Yesus sendiri justru memberikan kuasa kepada Gereja yang dilaksakan oleh para imam. Dalam Mat. 16:18-19, misalnya, Yesus berkata kepada Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Juga dalam Yoh. 20:21-23 dikatakan bahwa Yesus berkata sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu. Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus”. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada”.

“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

Dari kutipan-kutipan tersebut di atas, tampak sekali bahwa Yesus memberikan penugasan dan otoritas yang begitu penting kepada para murid, yaitu otoritas untuk mengampuni dosa. Memang hanya Tuhan yang mempunyai hak untuk mengampuni dosa manusia, namun Yesus, Sang Imam Agung memberikan mandat kepada para murid untuk meneruskan misi keselamatan di dunia ini dengan otoritas untuk mengampuni dosa dalam nama Kristus.

Bagi kita orang Katolik, mandat Yesus tersebut jelas tidak hanya berlaku untuk para rasul dan murid-murid perdana, tetapi tetap berlaku sampai sekarang, yaitu bahwa para imam Gereja Katolik diberikan kuasa oleh Yesus sendiri untuk mengampuni dosa. Mengapa? Karena Gereja Katolik yang ada sekarang adalah Gereja yang sama yang diwariskan secara turun-temurun dari zaman para rasul.

Diolah dan dikembangkan dari: Katolisitas.org

Kita Bersaudara dalam Tuhan — Renungan Harian

0

Kita Bersaudara dalam Tuhan: Renungan Harian Katolik, Selasa 25 September 2018 — JalaPress.com; Injil: Luk. 8:19-21

Saya sangat percaya pada sabda Tuhan, “Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Mat. 19:29).

Kata-kata Yesus ini benar-benar terbukti. Sabda Tuhan ini tidak pernah meleset. Saya pergi ke mana saja, saya mempunyai keluarga. Saya tidak pernah merasa kesepian. Asal orang tahu bahwa saya seorang Katolik, saya pasti diterima oleh orang-orang Katolik. Apalagi jika mereka tahu bahwa saya seorang pastor, lebih diterima lagi.

Persis seperti itulah yang diharapkan oleh Yesus dari kita. Yesus mau supaya masing-masing kita tidak membatasi pengertian keluarga hanya sebatas pada mereka yang mempunyai hubungan darah dengan kita. Itu juga benar, namun bagi kita pengikut Kristus, konsep tentang keluarga harus lebih luas dari sekedar memiliki hubungan darah.

Kita adalah keluarga meski tidak mempunyai hubungan darah. Mengapa? Karena kita mempunyai orang tua yang satu dan sama, yaitu Bunda Gereja. Gereja adalah ibu kita bersama. Makanya, dalam kehidupan sehari-hari kita selalu mengatakan bahwa dia adalah saudara seiman dengan saya.

Saudara-saudari yang terkasih, sebagaimana kita pada umumnya memiliki Ayah, Ibu, kakak atau adik; demikian juga dengan Tuhan Yesus. Ketika Dia hidup di dunia ini, Ia memiliki sanak-saudara, terutama saudara se-keluarga. Nama ayah-Nya adalah Yusuf, Ibu-Nya bernama Maria, saudara-saudara-Nya bernama Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas (Matius 13:55).

Dalam bacaan Injil yang baru saja kita dengar diceritakan bahwa ketika Yesus sedang sibuk mengajar orang banyak, tampaknya Ibu dan saudara-saudara-Nya datang hendak menemui Dia. Namun niat mereka itu tidak kesampaian karena banyaknya orang yang mengerumuni Yesus. Makanya mereka hanya dapat melihat Dia dari jarak yang agak jauh. Untung saja, beberapa orang sepertinya melihat kejadian tersebut, dan dengan rasa peduli mereka memberitahukan keadaan itu kepada Yesus, tentu dengan harapan supaya Yesus dapat segera menemui sanak keluarga-Nya.

Tetapi, apa yang terjadi? Yesus justru berkata: “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?Dan sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, Ia bersabda, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku” (Mat. 12:48-49). Dengan perkataan ini, Yesus tentu tidak mengabaikan ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya. Tetapi Ia hanya ingin mengajarkan sesuatu yang lain kepada para pengikut-Nya. Ia berkata: “Siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku” (Mat. 12:50). Artinya, Dia bukan meniadakan pentingnya hubungan keluarga oleh ikatan darah, namun yang jauh lebih penting adalah kekeluargaan di dalam Tuhan, yaitu bagi setiap siapapun yang mendengar dan melakukan firman Allah adalah bersaudara dan satu keluarga.

Yesus ingin mengajarkan kepada para murid-Nya dan kita juga bahwa kita semua bersaudara dalam Tuhan. Kita bersaudara sebab kita sama-sama melakukan kehendak Bapa di sorga. Apa kehendak Bapa atas kita? Yesus bersabda: “Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman” (Yoh. 6:39-40).

Allah menghendaki supaya kita yang bersaudara dalam iman ini tidak tercerai-berai alias hilang. Jangan ada yang berjalan sendiri-sendiri. Kita harus kuat, kokoh, dan kompak. Sama seperti seorang saudara tidak akan pergi meninggalkan saudaranya, sekuat apapun godaan dari luar. Mungkin dalam berhubungan dengan saudara seiman, kita sering menemui masalah karena perbedaan kepribadian, kesalahpahaman, dan perbedaan pendapat. Ketika hal itu terjadi, ingatlah bahwa bagaimanapun juga mereka adalah saudara kita dalam keluarga Allah. Janganlah menjauhi atau mengucilkan mereka. Sebaliknya, kita harus menerima, mengampuni, dan mengasihi mereka sama seperti Kristus telah menebus kita, orang berdosa. Ketika kita saling mengasihi, dunia akan melihat bahwa kita adalah anak-anak Allah. Amin.