11.7 C
New York
Wednesday, April 8, 2026
Home Blog Page 26

Paus Fransiskus: Imamat adalah ‘Sebuah Karunia Pelayanan’

0
(Vatican Media)

Paus Fransiskus merayakan Misa pada Hari Minggu Gembala yang Baik, 25 April 2021 dan menahbiskan 9 pria menjadi imam untuk Keuskupan Roma.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Saat Gereja merayakan Minggu Gembala yang Baik, Paus Fransiskus merayakan Misa di Basilika Santo Petrus dengan Ritus Penahbisan Imam.

Paus, Uskup Roma, menahbiskan sembilan diakon menjadi imam. Mereka adalah: Georg Marius Bogdan, Salvatore Marco Montone, Manuel Secci, Diego Armando Barrera Parra, Salvatore Lucchesi, Giorgio de Iuri, Riccardo Cendamo, Samuel Piermarini, dan Mateus Henrique Ataide da Cruz.

Ekspresi Imamat Kristus

Dalam homilinya, Paus Fransiskus mengajak sembilan imam baru itu untuk selalu memusatkan pandangan mereka pada Kristus saat mereka melayani umat-Nya.

Dia berkata bahwa pelayanan mereka adalah ekspresi dari tritugas Kristus, yakni sebagai Imam, Nabi dan Raja.

“Para imam,” kata Paus, “adalah rekan kerja yang baik dari Uskup, dengan siapa mereka bergabung dalam jabatan imamat dan dengan siapa mereka dipanggil untuk melayani umat Allah.”

Dia menambahkan bahwa tugas mereka adalah untuk “memberitakan Injil, menggembalakan umat Tuhan, dan merayakan Liturgi suci, terutama kurban Kristus (Ekaristi).”

Gembala yang penuh kasih

Paus kemudian menekankan bahwa dengan menjadi imam “Anda akan menjadi seperti Dia: seorang gembala”. Ini, lanjutnya, “bukan karier”, tetapi “pelayanan”.

Paus Fransiskus meminta para imam untuk memiliki empat bentuk kedekatan dalam pelayanan mereka: “kedekatan dengan Tuhan, kedekatan dengan uskup, kedekatan satu sama lain dan kedekatan dengan umat Tuhan”.

Semua itu, lanjutnya, harus dilakukan dengan “penuh kasih sayang dan kelembutan”.

Bersikaplah terbuka terhadap masalah

“Jangan menutup hatimu terhadap masalah” desak Paus. Dia menjelaskan bahwa sangat penting untuk meluangkan waktu untuk mendengarkan dan menghibur mereka yang menghadapi masalah. Ini adalah belas kasih, jelas Paus, “yang mengarah pada pengampunan, belas kasihan”. Tolong, desak Paus, “kasihanilah, maafkanlah, karena Tuhan mengampuni segalanya, dia tidak bosan memaafkan”.

Katakan ‘tidak’ pada kesombongan

Paus Fransiskus kemudian memperingatkan bahaya kesombongan dan “cinta akan uang”. Iblis masuk melalui kantong Anda, Paus memperingatkan: “Jadilah miskin, seperti miskin orang-orang beriman  akan Allah yang suci”.

Mengakhiri homilinya, Paus Fransiskus menggarisbawahi bahwa keempat bentuk kedekatan ini adalah “jalan untuk menjadi gembala” karena “Yesus menghibur para gembala, karena Dia adalah gembala yang baik”.

“Carilah penghiburan di dalam Yesus”, Paus menyimpulkan, dan “pikulah salib” dalam hidup Anda. “Jangan takut”, katanya, “semuanya akan baik-baik saja”.

====

Artikel ini diterjemahkan dari  Pope at Mass: Priestly ordination ‘a gift of service’ – Vatican News

Petrus Bersaksi: Hanya Yesuslah Sumber Keselamatan

0

Dasar Biblis: Kis. 4:8-12; 1 Yoh. 3:1-2; Yoh. 10:11-18

Petrus, mewakili para rasul, dengan yakin seyakin-yakinnya mengatakan bahwa Yesuslah sumber keselamatan satu-satunya. Di luar Yesus tidak ada keselamatan. Jika hari ini kita bertanya kepada Petrus apakah ada nama lain di dunia ini yang bisa menjamin keselamatan, maka jawaban yang kita dapatkan dari Petrus pastilah sama: “Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis. 4:12).

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Keyakinan Petrus ini tentu bukan tanpa dasar. Kitab Suci menerangkan bahwa Petrus berkata demikian pada saat ia dipenuhi dengan Roh Kudus. Artinya, apa yang dikatakannya itu benar adanya sebab atas pengaruh Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran.

Keyakinan yang dimiliki oleh Petrus ini harus menjadi keyakinan kita juga. Kita mendapat jaminan keselamatan sebab kita ini adalah anak-anak Allah (lih. 1 Yoh. 3:1). Dan kita tahu bahwa jaminan keselamatan itu akan mencapai kepenuhannya pada saatnya nanti ketika Kristus menyatakan diri-Nya pada akhir zaman. Relasi yang erat dengan Kristus itulah yang membawa kita pada keyakinan bahwa dalam Kristus kita menemukan keselamatan.

Hanya Yesuslah sumber keselamatan. Di kala yang lain memohonkan keselamatan, Yesus menjamin keselamatan kita. Buktinya, kepada penjahat yang sadar Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43).

Hanya saja perlu diingat bahwa sekalipun Yesus menjamin keselamatan, perilaku kita harus searah dengan tujuan keselamatan itu. Kita harus mau dituntun oleh-Nya supaya selamat. Hanya jika kita mau dituntun oleh-Nya, maka rencana keselamatan itu terwujud di dalam hidup kita.

Tuhan Yesus pastilah menuntun kita ke arah yang baik sebab Dialah gembala yang baik. “Akulah gembala yang baik” (Yoh. 10:11). Sebagai gembala yang baik, Ia rela memberikan nyawa-Nya bagi kita domba-domba-Nya. Sebagai domba yang baik, mestinya kita mau dituntun oleh-Nya. Jangan sampai menyebut diri pengikut-Nya, tapi tidak mau dituntun oleh-Nya.

Pengorbanan-Nya di kayu salib merupakan bukti cinta-Nya bagi kita. Karena itu, sebagaimana cinta-Nya kepada kita disertai degan pengorbanan-Nya di kayu salib, demikian juga hendaknya cinta kita kepada-Nya disertai dengan sejumlah pengorbanan. Jangan bilang cinta kepada-Nya jika kita tidak mau berkorban.

Pengorbanan seperti apa yang bisa kita berikan untuk Tuhan? Jawabannya: bisa bermacam-macam. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat. 16:24). Kita harus mempunyai keberanian untuk mengikuti jejak-Nya, mencintai sesama dengan tulus kendati harus disertai dengan pengorbanan.

Paus Fransiskus pada Hari Bumi: “Saatnya Bertindak!”

0
Vatican.va

Memperingati Hari Bumi ke-51 pada hari Kamis,22 April, Paus Fransiskus mengirimkan dua pesan video yang mengingatkan semua orang tentang pentingnya bekerja sama untuk melindungi planet kita.

Dalam pesan untuk para pemimpin KTT tentang iklim, Paus mengatakan prakarsa tersebut mengarahkan para pemimpin dunia menuju pertemuan COP26 yang akan berlangsung di Glasgow, Skotlandia, pada November 2021.

Dia mengatakan bahwa para pemimpin KTT perlu mendorong negara-negara untuk “bertanggung jawab atas pemeliharaan alam, pemberian yang telah kita terima ini dan yang harus kita sembuhkan, jaga, dan pelihara.”

“Perhatian kita adalah untuk melihat bahwa lingkungan lebih bersih, lebih murni, dan dilestarikan,” kata Paus, “dan untuk menjaga alam sehingga ia menjaga kita.”

Hari Bumi 2021

Dalam pesan video terpisah yang menandai Hari Bumi 2021, Paus Fransiskus melanjutkan dengan nada yang sama.

“Itu selalu baik untuk mengingat hal-hal yang telah kita katakan satu sama lain sehingga tidak akan terlupakan,” kata Paus. “Untuk beberapa waktu sekarang, kita menjadi lebih sadar bahwa alam layak untuk dilindungi, meskipun hanya karena interaksi manusia dengan keanekaragaman hayati Tuhan harus dijaga dengan sangat hati-hati dan hormat.”

Hari Bumi dirayakan setiap tanggal 22 April untuk menunjukkan dukungan bagi perlindungan lingkungan dan untuk mempromosikan tindakan positif dalam merawat rumah kita bersama. Tema tahun ini adalah “Pulihkan Bumi Kita”.

Pelajaran dari pandemi

Saat dunia terus mengambil tindakan untuk memerangi pandemi Covid-19, Paus Fransiskus menyoroti bahwa krisis telah menunjukkan kepada kita “apa yang terjadi ketika dunia berhenti,jeda, bahkan selama beberapa bulan.”

Dia mencatat dampak pandemi pada alam dan perubahan iklim, yang menunjukkan kepada kita semua bahwa alam global membutuhkan kehidupan kita di planet ini.

“Itu mempengaruhi kita semua dalam berbagai bentuk dan karenanya itu mengajarkan kita lebih banyak lagi tentang apa yang perlu kita lakukan untuk menciptakan planet yang adil, setara, dan aman bagi lingkungan,”kata Bapa Suci.

Lebih lanjut, “pandemi Covid mengajarkan kita saling ketergantungan ini, berbagi planet ini,” kata Paus, menambahkan bahwa bencana global – Covid-19 dan darurat iklim – menunjukkan kepada kita bahwa kita kehabisan waktu.

“Kita punya sarana, sekarang saatnya bertindak, kita berada di batasnya,” desaknya.

Perlu upaya bersama

Paus Fransiskus lebih jauh mengilustrasikan pentingnya mengambil tindakan untuk melindungi planet dengan mengingat pepatah Spanyol kuno: “Tuhan selalu mengampuni, manusia mengampuni dari waktu ke waktu, alam tidak lagi mengampuni.”

Dia menambahkan bahwa tantangan yang kita alami dengan pandemi, yang juga terwujud dalam perubahan iklim, harus mendorong kita menuju inovasi dan penemuan serta mencari jalan baru.

Dalam hal ini, “kita akan lebih tangguh ketika kita bekerja bersama daripada sendirian,”tegas Paus, seraya menambahkan bahwa masih ada waktu untuk bertindak meskipun sulit untuk menghentikan kerusakan alam jika sudah dipicu.

“Kita tidak keluar dari krisis dengan cara yang sama, kita keluar lebih baik atau lebih buruk,” katanya. “Inilah tantangannya, dan jika kita tidak tampil lebih baik, kita berada di jalur penghancuran diri.”

Banding kepada pihak berwenang

Mengakhiri pesannya, Paus Fransiskus meminta para pemimpin dunia untuk bertindak dengan berani dan adil dan untuk selalu mengatakan kebenaran kepada orang-orang, sehingga mereka tahu bagaimana melindungi diri mereka sendiri dan planet ini dari kehancuran yang kita sebabkan.***

Artikel ini diterjemahkan dari Pope on Earth Day: “It is time to act!” – Vatican News

Hanya Yesus yang Menjamin Kehidupan Kekal dan Kebangkitan Orang Mati

0
Gambar Ilustrasi diambil dari www.movieguide.org

Dasar Kitab Suci: Kis. 9:1-20; Yoh. 6:52-59

Kita semua berdosa. Dosa dan kecenderungan untuk berbuat dosa sudah menjadi bagian dari hidup kita sebagai manusia. Inilah warisan paling jelas yang diturunkan dari leluhur umat manusia, Adam dan Hawa.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Namun kita bersyukur sebab kita mempunyai seseorang yang mampu membebaskan kita dari hukuman akibat dosa. Dia adalah Yesus Kristus, Tuhan kita. Dosa kita telah ditebus oleh Yesus dengan harga yang sangat mahal. Bukan dengan emas, bukan pula dengan perak, tetapi dengan darah-Nya yang tertumpah di kayu salib.

Apakah Yesus pura-pura saja mati di kayu salib? Atau apakah kematian-Nya di kayu salib digantikan oleh orang lain? Jawabannya: tentu saja tidak. Tidak ada kepura-puraan dalam diri Yesus. Ia sungguh-sungguh wafat sebagai jalan tebusan bagi dosa-dosa kita. Kitab Suci sudah sangat jelas mengatakan itu. Dan, hal itu sudah disampaikan-Nya jauh sebelum Ia menderita dan wafat di kayu salib.

Ketika Ia mengajar di rumah ibadat di Kapernaum, misalnya, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh. 6:53-56).

Yesus memberikan diri-Nya kepada kita sebagai ‘makanan’ yang menghidupkan. Inilah santapan rohani kita. Kita hidup oleh Dia. Kekuatan kita harus datang dari Tuhan, bukan yang lain. Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Yesus. Yang lain hanya bisa berharap dan berdoa, hanya Yesus yang bisa menjamin hidup yang kekal dan kebangkitan pada akhir zaman. Bukankah perkataan ini sudah sangat jelas dan tegas? Maka, tak perlu lagi bersikap seperti Thomas yang penuh keraguan.

Yesus mengorbankan diri-Nya untuk kita sebagai tanda cinta-Nya kepada kita. Di kala orang lain memberi bunga mawar sebagai tanda cinta, Yesus justru menunjukkan cinta-Nya dengan memberikan tubuh dan darah-Nya sendiri. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13).

Lantas, dengan apa kita membalas cinta Tuhan ini? Tak jarang balasan kita tidak seperti yang diharapkan. Banyak orang bertingkah seperti Yudas yang berkhianat. Juga, tidak sedikit yang seperti Petrus yang menyangkal Yesus di depan umum dan atau secara diam-diam.

Tak jarang, kita menyia-nyiakan pengorbanan Yesus di kayu salib dengan ulah kita yang tak pantas. Kita berpikir bahwa kita bisa hidup hanya dengan kemewahan, harta benda, makan minum yang enak. Kita lupa bahwa jika kita tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kita tidak mempunyai hidup. Dengan kata lain, jika kita tidak bersatu dengan Dia, kita akan mati. Kita menjadi ‘mayat berjalan’. Hidup kita hampa.

Kita ini adalah murid-murid Tuhan. Kita tidak sendiri. Ada banyak juga murid-murid Tuhan yang lainnya. Demi mempertahankan iman kepada Kristus, mereka rela menumpahkan darah. Merekalah martir Gereja. Dan, Gereja dibangun di atas darah para martir itu.

Hari ini, kita bisa mengekspresikan iman kita tanpa banyak tekanan. Kalaupun masih ada pergulatan di sana-sini, tentu tak sampai berdarah-darah. Kita hanya cukup mengeluarkan keringat untuk membangun dan mempertahankan iman kita.

Maka dari itu, jangan patah semangat. Tugas kitalah memberitakan kabar baik dari Tuhan ini kepada dunia. Sebab, Tuhan Yesus sendiri bersada: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk. 16:15).

Hari Bumi: ‘Laudato Sí’ Mendorong Gaya Hidup Ekologi Integral

0
Poster Hari Bumi yang menggambarkan masker wajah di Bangkok, Thailand, di tengah lonjakan kasus Covid-19 (AFP) // Vatican.va

Ekologi integral harus mengarah pada gaya hidup baru yang menanggapi jeritan bumi dan orang miskin dalam dimensi spiritual. Inilah yang ingin dicapai pada Tahun Laudato Si dan rencana tindak lanjut tujuh tahun mendatang. Hal itu disampaikan Pastor Joshtrom Kureethadam, imam Salesian, dalam rangka memperingati Hari Bumi, Kamis, 22 April.

Imam India, yang merupakan Koordinator Bidang Ekologi dan Penciptaan di bawah Dikasteri Vatikan untuk Mempromosikan Pembangunan Manusia Seutuhnya, telah mengawasi Tahun Peringatan Laudato Si dari 24 Mei 2020 hingga 24 Mei 2021, yang dipanggil Paus Fransiskus untuk menandai ulang tahun ke-5 ensikliknya, Laudato sí. Terlepas dari pembatasan yang disebabkan oleh pandemi, acara selama setahun ini ditandai dengan banyak acara, yang sebagian besar diadakan secara virtual.

Dimensi gaya hidup

Pastor Joshstrom, yang juga Ketua Filsafat Sains dan Direktur Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Kepausan Salesian di Roma, menggarisbawahi pentingnya “hubungan antara gaya hidup baru dan ekologi integral,” dengan mengatakan gaya hidup baru tidak bisa hanya berarti penggunaan energi terbarukan, daur ulang, atau menggunakan transportasi umum. “Semua tindakan ini penting, tetapi dalam visi ekologi integral, pendekatannya harus jauh lebih komprehensif, jauh lebih holistik – bahwa kita perlu menanggapi krisis bumi,” katanya kepada Vatican News.

“Kita juga perlu menanggapi teriakan orang miskin. Jadi kita perlu menempatkan orang miskin, orang yang menderita, yang rentan sebagai pusat dari segala sesuatu yang kita lakukan di pusat Gereja saat ini.”

Ia menunjuk pada aspek ketiga dari gaya hidup baru ini, yaitu “dimensi spiritualitas, bahwa Bumi adalah ciptaan Tuhan”. Jadi, “gaya hidup baru juga berarti memperoleh pandangan kontemplatif tentang dunia alam, bahwa kita mendoakan ciptaan, agar kita merayakan ciptaan, agar ciptaan masuk ke dalam liturgi kita”. Inilah alasannya, sebagaimana dijelaskan Paus Fransiskus dalam Laudato sí, mengapa kita bersyukur kepada Tuhan, seperti sebelum dan sesudah makan.

Dengan cara ini, kata Pastor Joshtrom, “gaya hidup baru akan menjadi integral” ketika kita mempertemukan dimensi fisik, moral, spiritual, termasuk juga “aspek pendidikan, ekonomi dan politik”. “Jadi hanya jika semua aspek ini disatukan, mereka akan menjadi gaya hidup yang benar-benar baru dalam visi ekologi integral.”

Ekologi integral dalam wacana publik dan sekuler

Dengan Tahun Peringatan Laudato Si yang akan berakhir pada tanggal 24 Mei, imam Salesian ini menekankan pada dua aspek perayaan. “Di satu sisi, kita senang melihat konsep ekologi integral telah masuk ke dalam wacana publik.” Dia mengatakan tidak hanya di lingkungan Gereja yang dibahas tentang ekologi integral. Pengalamannya di beberapa konferensi dan acara sekuler di universitas dan di bidang lain menunjukkan bahwa orang berbicara tentang ekologi integral, yang, katanya, adalah “hal yang baik untuk disyukuri.”

Ekologi integral dalam tindakan

Namun, Pastor Joshtrom mencatat, masih ada tantangan bahwa “ekologi integral belum benar-benar tampak dalam tindakan nyata”. Oleh karena itu, menerjemahkan “ekologi integral menjadi tindakan” adalah apa yang dia lihat sebagai “misi yang harus menyertai kita.”

Terakhir, Pastor Joshtrom berbicara tentang apa yang disebut Laudato Si sebagai “platform aksi” (Action Platform), yang akan dimulai pada akhir Tahun Laudato Sí. Tujuannya adalah membuat komunitas Katolik di seluruh dunia benar-benar berkelanjutan dalam semangat ekologi integral Laudato sí. Dia mengatakan bahwa program kerja (platform aksi) Laudato sí selama tujuh tahun akan melibatkan keluarga, paroki, keuskupan, sekolah, universitas, rumah sakit, organisasi, bisnis, pusat kesehatan, dan ordo religius. “Jadi hampir semua orang, tapi sebagai komunitas, kita menjadi komunitas Laudato sí, tapi selalu dalam perspektif ekologi integral,” katanya. ***

 

Artikel ini diterjemahkan dari Earth Day: ‘Laudato sí’ urges new integral ecology lifestyles – Vatican News

Hanya dalam Nama Yesus Ada Berita tentang Pengampunan Dosa

0

Dasar Biblis: 1 Yoh. 2:1-5a; Luk. 24:35-48

Kita menyebut diri ‘Kristen’, yang berarti pengikut Kristus. Sebagai pengikut Kristus, kita harus mengikuti apa yang diajarkan oleh Kristus. Ajaran Kristus  sangatlah jelas: yaitu melakukan kebenaran dan menuruti perintah-Nya.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Kristus mengenal kita, para pengikut-Nya; dan kita pun mengenal Dia. Tapi, mengenal saja tidak cukup. Selain mengenal, kita pun harus menuruti perintah-Nya. Sebab, seperti kata Rasul Yohanes, “Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran” (1 Yoh. 2:4).

Apa yang disampaikan oleh Rasul Yohanes itu terkesan sangat keras. Namun, tentu saja ada maksud dan tujuannya. Rasul Yohanes menuliskan: “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa” (1 Yoh. 2:1). Dengan pesan yang keras ini, ia berharap agar kita tidak berbuat dosa.

Itu harapannya. Itu pula yang kita usahakan. Namun, namanya juga manusia. Orang bilang, ‘manusia adalah tempatnya salah dan dosa’. Entah disadari atau tidak, manusia mempunyai kecenderungan untuk tergelincir ke dalam salah dan dosa. Tapi, kita tidak perlu berkecil hati. Kita mempunyai Tuhan yang mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa. “Namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil” (1 Yoh. 2:1).

Persis di sinilah keistimewaan iman Kristiani kita. Belum pernah ada nabi atau rasul manapun yang menjamin pengampunan dosa seperti yang diberikan oleh Yesus. Di kala nabi dan rasul hanya bisa berharap dan berdoa agar dosa para pengikutnya diampuni, Yesus dengan tegas mengatakan “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni” (Mat. 9:2).

Betapa leganya hati kita ketika mendengar kalimat seperti ini. Dan, hanya Yesus yang bisa melalukan itu. Ia bisa melakukan itu karena ‘Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia’ (1 Yoh. 2:2). Dia adalah Tuhan.

Yang perlu kita perhatikan hanya satu, yaitu sekalipun Yesus adalah pepulih atas dosa-dosa kita, tidak berarti bahwa kita bisa seenaknya berbuat dosa. Yesus memang menjamin pengampunan, tetapi Ia menghendaki agar kita mengambil jalan pertobatan. Pengampunan tidak ada gunanya jika tidak disertai usaha untuk bertobat. Ingat, pengampunan tidak sama dengan pembiaran. Mengampuni berarti dengan penuh kasih menegur, memperbaiki, dan mendidik. Tuhan mengampuni, bukan membiarkan.

Bukankah ini merupakan kabar yang sangat baik? Nah karena itu, kabar baik ini jangan sampai berhenti di tangan kita. Sebaliknya, warta tentang pengampunan dosa dan ajakan untuk bertobat dari Tuhan ini harus disampikan kepada segala bangsa. Ingat, Yesus pernah berkata kepada para murid-Nya: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini” (Luk. 24:46-48). Ini tugas kita; dan itu dimulai dari Yerusalem, yakni dari diri sendiri, keluarga, dan orang-orang terdekat.

Yang Perlu Diketahui tentang Hari Raya Kebangkitan Tuhan

0

Agar umat beriman memiliki pemahaman yang cukup tentang Hari Raya Kebangkitan Tuhan (Malam Paskah dan Minggu Paskah), saya mengutip langsung apa yang tertulis dalam Dokumen Gerejawi no. 71 berjudul “Perayaan Paskah dan Persiapannya” tentang perayaan tersebut. Dokumen ini dikeluarkan pada 16 Januari 1988. Uraian secara singkat tentang Kamis Putih terdapat pada nomor 77-99.

 

***

A. Perayaan Malam Paskah

  1. Malam Paskah menurut tradisi kuno adalah “malam tirakatan (vigili) bagi Tuhan”; tirakatan yang diadakan mengenang malam kudus Tuhan bangkit dan karena itu dipandang sebagai “induk semua tirakatan. Di malam ini Gereja menantikan dalam doa Kebangkitan Tuhan dan merayakannya dengan sakramen baptis, krisma dan ekaristi.

Malam Paskah sebagai perayaan malam

78. Seluruh perayaan Malam Paskah dilaksanakan waktu malam: tak boleh diadakan sebelum gelap atau berakhir setelah fajar Minggu”. Peraturan ini harus ditepati secara ketat. Penyelewengan dan kebiasaan yang terjadi di sana sini, yakni merayakan Malam Paskah pada waktu biasanya diadakan Misa Sabtu sore, tak dibenarkan. Alasan yang kadang-kadang diajukan untuk memajukan waktu perayaan Malam Paskah, misalnya kerawanan publik, tidak diberlakukan di malam Kelahiran Tuhan atau bila menyangkut acara macam-macam.

79. Malam Pesta Paskah yang dijalani orang-orang Ibrani dalam menantikan peralihan Tuhan yang membebaskan mereka dari perbudakan firaun, dijadikan kenangan tahunan akan peristiwa ini; ia adalah gambar yang mewartakan Paskah sejati Kristus, sekaligus gambar pemerdekaan sejati: “Kristus mematahkan rantai kematian dan naik dari alam maut sebagai pemenang”.

80. Sejak semula Gereja menjalani Paskah tahunan, hari raya tertinggi, dalam perayaan malam. Karena Kebangkitan Kristus adalah dasar iman kita dan harapan kita; oleh baptis dan krisma kita dimasukkan ke dalam misteri Paskah: mati bersama Dia, kita dimakamkan bersama Dia, dibangkitkan bersama Dia dan akan berkuasa bersama Dia juga. Tirakatan ini juga ditujukan kepada penantian kedatangan Tuhan kembali.

Struktur perayaan Malam Paskah dan makna setiap unsurnya

  1. Malam Paskah mempunyai struktur sebagai berikut: Setelah perayaan cahaya pendek dan madah Paskah (Bagian I) Gereja Kudus merenungkan karya agung yang dilaksanakan Allah Tuhan pada umat-Nya sejak semula (Bagian II, ibadat Sabda), sampai ia bersama anggota-anggota baru yang dilahirkan kembali dalam baptis (Bagian III), diundang Tuhan ke meja yang disediakan-Nya bagi umat-Nya, sebagai kenangan akan wafat dan Kebangkitan-Nya, sampai ia datang kembali (Bagian IV).Urutan tata perayaan ini tak boleh diubah atas kuasa sendiri.
  2. Bagian I terdiri dari tindakan simbolis, yang hendaknya dilaksanakan seluruhnya dalam segala keindahannya, agar maknanya seperti diungkapkan dalam pengantar dan doa-doa, menjadi jelas bagi kaum beriman. Bila mungkin, sebaiknya di luar gereja di tempat yang sesuai diletakkan perapian untuk memberkati api; hendaknya cukup besar, agar nyala sungguh menembus kegelapan dan malam menjadi terang.

Lilin Paskah demi kesungguhan tanda, harus sungguh lilin dari malam dan setiap tahun lilin baru; hanya boleh dipakai satu lilin Paskah, cukup besar tetapi tak pernah boleh buatan, agar dapat menjadi tanda bagi Kristus, yang adalah cahaya dunia. Ia diberkati dengan tanda dan kata yang ditetapkan dalam buku misa yang dapat diganti oleh Konferensi Waligereja dengan yang lain.

83. Dengan prosesi umat memasuki gereja dan diterangi hanya oleh cahaya lilin Paskah. Seperti putra-putra Israel di malam dibimbing oleh tiang api, demikian pula orang-orang kristiani pada gilirannya mengikuti Kristus dalam kebangkitan-Nya. Dalam prosesi itu jawaban umat “Syukur kepada Allah” dapat ditambahkan seruan untuk menghormati Tuhan. Dari lilin Paskah cahaya dibagikan kepada lilin-lilin yang dibawa semua, sementara cahaya listrik masih belum dinyalakan.

84. Diakon mewartakan madah Paskah yang menyanyikan misteri Paskah dalam kata-kata puitis, tertampung dalam seluruh sejarah keselamatan. Bila tiada diakon, dan bukan imam sendiri yang dapat menyanyikan madah Paskah, dapat diserahkan kepada seorang penyanyi. Konferensi Uskup dapat menyesuaikan madah Paskah itu dengan memasukkan aklamasi jemaat.

85. Bacaan-bacaan dari Kitab Suci merupakan bagian kedua perayaan Malam Paskah. Di dalamnya dilukiskan karya-karya agung sejarah keselamatan yang harus direnungkan kaum beriman dengan tenang; mereka dibantu nyanyian mazmur tanggapan, keheningan meditatif dan doa-doa setelah bacaan. Perayaan Malam Paskah yang dibaharui mempunyai tujuh bacaan dari Perjanjian Lama, yakni dari Taurat dan para Nabi, yang sebagian besar berasal dari tradisi kuno Timur dan Barat, dan dua bacaan dari Perjanjian Baru, satu bacaan surat Rasul dan Injil. Demikianlah Gereja menjelaskan misteri Paskah Kristus “dengan berpangkal pada Musa dan semua Nabi”. Maka dari itu haruslah dibacakan semua bacaan, di mana mungkin, agar terpelihara ciri tirakatan yang memang memerlukan waktu yang lebih lama. Tetapi bila ada alasan pastoral untuk mengurangi jumlah bacaan itu, haruslah sekurang-kurangnya dipakai tiga bacaan dari Perjanjian Lama, yakni dari kitab Taurat dan Nabi-nabi; dalam pada itu harus ada bacaan dari bab ke 14 dari Kitab Keluaran dengan kantikumnya.

86. Arti tipologis teks-teks Perjanjian Lama berakar dalam Perjanjian Baru dan dijelaskan dalam doa yang dibawakan imam setelah setiap bacaan; kiranya dapat membantu, bila kaum beriman dengan pengantar pendek oleh imam atau diakon diantar untuk mengerti arti tipologis itu. Komisi Liturgi nasional atau diosesan hendaknya menyediakan bahan yang bermanfaat untuk itu bagi para pengemban pastoral. Setelah setiap bacaan dinyanyikan mazmur tanggapan; jemaat menjawab dengan refren. Pengulangan unsur-unsur itu dimaksudkan untuk mempertahankan irama yang membantu kaum beriman mengikutinya dengan batin penuh perhatian dan kesalehan. Hendaknya dengan seksama diusahakan agar mazmur jangan diganti dengan nyanyian yang kurang pantas bagi liturgi.

87. Setelah bacaan Perjanjian Lama dinyanyikan gloria dan lonceng-lonceng dibunyikan, di mana lazim; lalu diikuti doa pembukaan dan orang beralih kepada bacaan-bacaan dari Perjanjian Baru. Sebagai epistola dibacakan nasihat Rasul Paulus tentang baptis sebagai inisiasi ke dalam misteri Paskah Kristus. Semua berdiri dan dengan meriah imam menyanyikan aleluya, tiga kali dan setiap kali lebih tinggi, dan umat mengulanginya93. Bila perlu, aleluya dinyanyikan pemazmur atau penyanyi; umat meng-ulanginya sebagai sisipan antara ayat-ayat mazmur 118 (117), yang begitu sering dipakai para Rasul dalam kotbah Paskah. Pemakluman Kebangkitan Tuhan dalam Injil merupakan puncak seluruh ibadat Sabda. Injil diikuti homili, meskipun pendek dan tak boleh diabaikan.

88. Bagian III Malam Paskah ialah perayaan baptis. Paskah Kristus dan Paskah kita kini dirayakan dalam sakramen. Hal ini diungkapkan sepenuhnya dalam gereja-gereja di mana ada tempat baptis, bila juga orang dewasa digabungkan pada Gereja atau sekurang-kurangnya anak-anak dibaptis95. Juga bila tiada calon baptis, dalam gereja paroki diberkati air baptis. Bila pemberkatan tidak dilaksanakan pada tempat baptis, melainkan di dekat altar, air baptis kemudian dibawa ke tempat baptis, di mana ia disimpan selama seluruh masa Paskah. Di mana tiada orang dibaptis dan tiada pemberkatan air baptis, air diberkati untuk mengenang baptis dan untuk memerciki umat.

89. Setelah itu dilaksanakan pembaharuan janji baptis, Imam mengatakan beberapa kata pengantar. Kaum beriman sambil berdiri memegang lilin yang menyala dan menjawab atas pertanyaan yang diajukan. Lalu mereka diperciki dengan air suci. Demikianlah dengan tanda dan kata mereka diingatkan akan baptis yang telah mereka terima. Imam menelusuri gereja dan memerciki jemaat, sementara semua menyanyikan antifon; “Vidi aquam” – “Aku melihat air” atau nyanyian lain dengan ciri baptis.

90. Perayaan ekaristi adalah bagian IV perayaan Malam Paskah dan juga puncaknya, karena ekaristi adalah sakramen Paskah, kenangan akan kurban salib Kristus, kehadiran Tuhan yang Bangkit, penyelesaian inisiasi ke dalam Gereja dan antisipasi pesta Paskah abadi.

91. Harus diusahakan agar perayaan ekaristi jangan cepat-cepat dan tergesa-gesa; sebaliknya, semua ritus dan perkataan harus diungkapkan dengan tegas: Doa permohonan yang dilaksanakan mereka yang baru dibaptis untuk pertama kalinya sebagai kaum beriman yang mewujudkan imamat kerajaan. Persiapan persembahan yang melibatkan peran mereka yang baru dibaptis, Doa Syukur Agung I, atau II, atau III dengan sisipan masing-masing, yang sebaiknmya dinyanyikan100. Akhirnya Komuni sebagai saat partisipasi paling mendalam pada misteri yang dirayakan. Pada komuni bila mungkin, hendaknya dinyanyikan Mazmur 118 (117) dengan antifon “Anak domba kita” atau mazmur 33 (32) dengan tiga kali haleluya sebagai antifon, atau nyanyian Paskah lain.

92. Sepantasnya komuni dalam perayaan Malam Paskah diberi kepenuhan tanda ekaristis, dengan membagikannya dalam rupa roti dan anggur. Ordinaris wilayah hendaknya memutuskan, sejauh mana hal ini sebaiknya dilaksanakan.

Petunjuk-petunjuk pastoral

93. Perayaan Malam Paskah harus dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga memungkinkan jemaat memahami seluruh kekayaan teks dan ritus. Maka dari itu harus diperhatikan, agar semuanya penuh makna dan tepat, agar kaum beriman berperan aktif dan diusahakan agar ada cukup misdinar serta lektor dan paduan suara.

94. Diharapkan agar kadang-kadang beberapa jemaat berhimpun dalam satu gereja, bila jemaat-jemaat ini amat berdekatan atau terlalu kecil, sehingga perayaan meriah tak mungkin. Partisipasi kelompok-kelompok dalam perayaan bersama Malam Paskah hendaknya dikembangkan agar dengan demikian semua orang beriman mendapat pengalaman yang lebih mendalam persekutuan dalam Gereja. Kaum beriman yang karena cuti tak berada di tempat, hendaknya diajak agar mereka mengambil bagian dalam ibadat di tempat liburan mereka.

95. Bila perayaan Malam Paskah diumumkan, hendaknya dihindari memberi kesan seolah-olah itu petang Sabtu Paskah. Sebaliknya harus dikatakan bahwa perayaan Malam Paskah terjadi “pada malam Paskah” sebagai satu-satunya ibadat. Para gembala hendaknya mengajak kaum beriman untuk mengambil bagian dalam seluruh perayaan Malam Paskah.

96. Perayaan Malam Paskah yang baik menuntut agar para gembala sendiri lebih memahami teks dan ritus, sehingga mereka mampu sebagai pendidik mengantar kaum beriman kepada misteri ini.

 

B. Minggu Paskah

97. Misa Minggu Paskah harus dirayakan dengan meriah. Sebagai tobat dianjurkan hari ini pemercikan dengan air, yang diberkati pada Malam Paskah; sementara itu dinyanyikan antifon “Vidi aquam” – “Aku melihat air” atau nyanyian lain dengan ciri baptis. Dengan air berkat ini juga tempat air pada pintu gereja diisi.

98. Perayaan Vesper Paskah yang disertai prosesi ke bejana baptis seraya menyanyikan mazmur, hendaknya dipertahankan, di mana lazim, dan hendaknya dimulai, bila belum lazim.

99. Lilin Paskah ditempatkan di sisi mimbar atau di sisi altar; lilin itu sekurang-kurangnya pada semua perayaan liturgi agak besar dinyalakan, pada Misa, ibadat pagi atau ibadat sore, sampai dengan Minggu Pentakosta. Setelah itu lilin Paskah itu disimpan dengan hormat dalam kapel baptis, dan pada perayaan baptis lilin baptis dinyalakan padanya. Pada Misa Arwah pada hari pemakaman lilin Paskah hendaknya ditempatkan pada peti sebagai tanda bahwa kematian orang kristiani adalah paskah pribadinya. Di luar masa Paskah lilin Paskah tak boleh dinyalakan dan juga tidak tinggal yang di altar.

 

****

Sumber: Dokumen Gerejawi No. 71, “Perayaan Paskah dan Persiapannya” (Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, Januari 2005).

 

 

Sabtu Paskah: “Gereja Tinggal di Makam Tuhan Yesus”

0

Setelah kemarin kita merenungkan misteri penderitaan dan wafat Yesus (Jumat Agung), pagi ini kita merenungkan misteri pemakaman Yesus (Sabtu Paskah). Menurut Injil Yohanes (19:38-42), setelah Yesus wafat di salib, Yusuf dari Arimatea meminta kepada Pilatus untuk menurunkan mayat Yesus. Permintaan ini dikabulkan oleh Pilatus. Setelah mengurus segalanya, Yusuf dari Arimatea dan orang-orang yang ada bersamanya, menguburkan Yesus. Memang menurut Kitab Ulangan 21:22-23, mayat-mayat orang yang dihukum mati tidak boleh dibiarkan tergantung sampai malam supaya tanah Tuhan tidak dinajiskan. Mayat-mayat itu harus dikuburkan pada hari itu juga. Kiranya demikian juga dengan Yesus. Ia dimakamkan atau dikuburkan.

Misteri penguburan atau pemakaman Yesus ini agaknya kurang direnungkan secara sungguh-sungguh oleh umat Katolik. Ada kesan orang Katolik cenderung fokus merenungkan penderitaan Yesus dan kebangkitan-Nya dari alam maut, tetapi mengabaikan penguburan atau pemakaman Yesus (bdk,  Bertold Parera: Manuscripto, 2012). Padahal Dokumen Gereja “Perayaan Paskah dan Persiapannya” memberikan petunjuk sebagai berikut:

  • Pada hari Sabtu Paskah Gereja tinggal di makam Tuhan, merenungkan Penderitaan, Wafat dan turun-Nya ke alam maut dan menantikan Kebangkitan-Nya dengan puasa dan doa. Amat dianjurkan, untuk merayakan ibadat bacaan dan ibadat pagi bersama jemaat (bdk. no.40). Di mana hal ini tak mungkin, hendaknya diadakan ibadat Sabda atau kebaktian yang sesuai dengan misteri hari ini.(Artikel 73)
  • Gambar Kristus – pada salib, beristirahat di makam atau turun ke alam maut -, yang menjelaskan misteri Sabtu Paskah, atau juga gambar Bunda berduka, dapat dipasang dalam gereja untuk dihormati kaum beriman. (Artikel 74)
  • Pada hari ini Gereja tak merayakan Kurban Misa. Komuni suci hanya dapat diberikan sebagai bekal suci. Perayaan sakramen perkawinan dan sakramen-sakramen lain, kecuali sakramen tobat dan orang sakit, tak boleh diberikan. (Artikel 75)

Hal-hal penting ini tampaknya kurang dihayati oleh umat Katolik. Apa buktinya? Sebagai contoh, umat menghayati hening total selama hari Jumat, tetapi hari sabtu suci tak ada keheningan. Semuanya sibuk mempersiapkan segala hal untuk perayaan malam Paskah. Tak ada waktu untuk merenungkan penguburan atau pemakaman Yesus. Bagi saya ini kekeliruan yang perlu perbaiki. Semua pihak harus berbenah, mulai dari imam dan semua umat.

Hari Sabtu Paskah adalah kesempatan untuk tinggal di makam Yesus dan merenungkan misteri Yesus turun ke dunia orang mati. Bahwasannya Yesus telah sungguh-sungguh mati dan dikuburkan. Ia telah menjadi sama dengan kita dan turut mengalami keadaan kita, “Supaya melalui kematian-Nya Ia memusnahkan dia yaitu iblis yang berkuasa atas maut” (Ibr.2:14). Ia tak hanya disalibkan, tetapi juga dikuburkan. Dia telah mengambil bagian terburuk dari kemanusiaan kita yakni dikuburkan (Bertold Parera: Manuscripto, 2012). Kita sadar, kubur atau makam merupakan salah satu aspek dari kehidupan manusia. Karena itu, kita perlu merenungkan misteri kubur dan pemakaman Yesus. Akan tetapi, kita tahu, kubur tidak akan menjadi tempat kediaman-Nya untuk selama-lamanya (bdk. Mzm 49).

Dalam pembaptisan kita juga disadarkan bahwa kita telah dikuburkan bersama dengan Yesus agar dibangkitkan dalam kehidupan baru bersama-Nya. Sebagaimana Yesus pernah pergi ke kubur Lazarus dan di sana Ia menangis (bdk. Yoh. 11:34-35), pada Sabtu Suci ini seharusnya kita melihat kubur Yesus dan duduk dekat makam-Nya (bdk. Mat. 27:21). Melihat kubur Yesus dan duduk dekat makam-Nya berarti kita mengambil waktu hening: berdoa, menyesali dosa dan memohon ampun, meditasi dan merasakan bagaimana terbaring kaku dalam makam. Inilah yang kurang kita hayati selama Sabtu Suci. Bahkan tak berlebihan kalau dikatakan bahwa Sabtu Suci seperti ‘waktu kosong’ menjelang Malam Paskah (Bdk. Bertold Parera: Manuscripto, 2012). Padahal jika tidak merenungkan penguburan Yesus dan tidak duduk di makam-Nya, kita juga tidak mengingat misteri penguburan kita bersama dengan Dia dalam pembaptisan.

Renungan Sabtu Paskah, saat kita merenungkan penguburan dan pemakaman Yesus ini berakhir sebelum Perayaan Malam Paskah. Atau biasanya ditutup dengan Ibadat Sore yang tak lain adalah ibadat untuk merayakan misteri wafat dan pemakaman Yesus (bdk. Bertold Parera: Manuscripto, 2012). Akan tetapi, Ibadat Sore ini jarang sekali dilakukan. Padahal kalau Ibadat Sore ini dirayakan, kita sungguh-sungguh dipersiapkan merayakan Paskah; merayakan kebangkitan Tuhan. Setelah ibadat ini baru kita mempersiapkan diri untuk perayaan Malam Paskah. Biasanya perayaan Malam Paskah ini dilaksanakan pkl. 18.00 ke atas, saat matahari mulai terbenam.

Apakah saudara/i berada di sekitar makam atau kubur Yesus pada hari ini? Apakah saudara/i merenungkan dengan sungguh-sungguh misteri penguburan atau pemakaman Yesus hari ini? ***

 

 

Yesus Menderita karena Kita dan untuk Kita

0

Hari ini kita merenungkan sengsara dan wafat Tuhan Yesus di kayu salib. Saya  mengajak saudara-saudari merenungkan bacaan suci yang direnungkan pada hari Jumat Agung ini oleh umat Katolik di seluruh dunia. Bacaan pertama (Yes. 52:13-53:12) melukiskan tentang hamba Yahwe yang menderita. Hamba Yahwe itu menderita bukan karena ia bersalah atau berdosa. Ia adalah orang benar, tetapi ia menderita karena kesalahan dan dosa orang lain. Penderitaanya ini mendatangkan keselamatan bagi orang-orang yang membuatnya menderita. Yesaya menulis, “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh (Yes. 53:4-5).

Pada bagian akhir bacaan ini, nabi Yesaya kembali menegaskan, “Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak (Yes. 53:11-12).”

Apa hubungan perkataan Yesaya dengan misteri Jumat Agung? Bagi kita pengikut Kristus, apa yang disampaikan oleh Yesaya ini secara sempurna terjadi dalam diri Yesus. Nubuat Yesaya ini terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Yesus adalah orang benar yang menderita karena kesalahan dan dosa orang lain. Tentang penderitaan-Nya ini, kita temukan dalam  Kisah Sengsara  menurut Yohanes (Yoh. 18:1-19:42) yang dibaca dan direnungkan hari ini. Yesus ditangkap, diadili, dicemooh, dihina, didera, dipukul, dimahkotai duri, disuruh memanggul salib dan Ia jatuh-bangun, ditendang, ditikam lambung-Nya, dipaku pada salib dan akhirnya wafat di salib. Ia dihukum mati seperti penjahat, walau sesungguhnya ia tak pernah melakukan kejahatan. Ia disiksa seperti pendosa, walau ia tak pernah berdosa. Dialah hamba Yahwe yang dimaksudkan oleh nabi Yesaya.

Yang perlu disadari dan diimani adalah penderitaan Yesus itu menyelamatkan orang-orang yang membuatnya menderita. Penderitaan Yesus mendatangkan keselamatan bagi kita, sebagaimana dikatakan oleh nabi Yesaya, “Oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh (Yes. 53:5).” Ia menanggung dosa-dosa kita dengan memanggul salib sampai wafat di kayu salib sekaligus menyelamatkan kita dari kuasa kegelapan dosa. Oleh penderitaan-Nya, kita diselamatkan.

Yesus menderita karena dosa manusia, termasuk kita saat ini. Ya, Yesus menderita karena dosa-dosa kita. Karena itu, hari Jumat Agung ini seharusnya menjadi kesempatan istimewa bagi kita untuk mengakui dosa-dosa yang telah kita lakukan terhadap Yesus. Barangkali ada yang menyangkal dan bertanya, “Bagaimana kita mengakui bahwa Yesus menderita karena dosa-dosa kita sementara Ia sudah disalibkan lebih dari dua ribu tahun yang lalu? Apakah benar aneka tindakan yang dilakukan saat ini, kita lakukan  terhadap Yesus?”

Saudara-saudari, mari kita lihat apa yang tertulis dalam Kis. 9:1-31, kisah pertobatan Saulus menjadi Paulus. Dalam teks ini kita temukan bagaimana Yesus mengidentikkan diri-Nya dengan para pengikut-Nya yang teraniaya. “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Dan ketika Saulus bertanya, siapakah Engkau, Yesus menjawab, “Akulah Yesus yang telah engkau aniaya itu!” Perhatikan! Yesus menyamakan diri-Nya dengan orang-orang yang menderita penganiayaan yang dilakukan oleh Saulus. Kita semua tahu bahwa setelah peristiwa itu, Saulus bertobat. Ia menjadi Paulus, seorang pewarta Injil yang tak tertandingi sepanjang sejarah Gereja!

Dengan demikian, kalau saat ini kita berdosa, misalnya, kita melukai, memfitnah, mencerca orang lain, kita melukai, memfitnah dan mencerca Yesus! Aneka kejahatan yang kita lakukan kepada orang lain, kita melakukannya terhadap Yesus. Sebab, Ia hadir dalam diri sesama, terutama yang menderita dan tersisihkan. Yesus juga mau dikenal sebagai seorang yang disalibkan dan supaya kita memandangnya dengan penuh iman (Yoh. 20:19-31). Ingatlah kata-kata-Nya dalam injil Matius 25:40, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Berkaitan dengan hal di atas bisa dikatakan bahwa setiap kali kita berdosa, kita membuat Yesus menderita lagi walau bukan secara fisik. Hati-Nya terluka setiap kali kita  berdosa. Dia menderita karena kita tidak atau kurang mengasihi-Nya. Ingatlah juga ucapan-Nya sebelum menghembuskan nafas terakhir di kayu salib, “Aku haus!” Sesungguhnya Ia tidak sedang haus air. Ia sesungguhnya haus akan kasih kita kepada-Nya. Ia haus akan kesadaran kita untuk mengakui kasih karunia Allah melalui diri-Nya, secara khusus melalui penderitaan dan wafat-Nya di salib. Ia haus akan ketaatan kita kepada kehendak Allah seperti diri-Nya.

Karena itu, menurut saya, seharusnya hari Jumat Agung adalah saat bagi kita untuk mengakui segala dosa kita dan memohon rahmat pengampunan dari Yesus. Kita berharap agar darah-Nya menyucikan diri kita; menghapus segala dosa kita. Dengan darah-Nya, kita diselamatkan. Ini juga saat indah untuk membuat komitmen baru agar ke depan kita menjadi lebih baik dan tidak mudah jatuh dalam dosa.

Yesus Peduli dengan Penderitaan Kita

Pada hari Jumat Agung ini juga saya merenungkan bahwa penderitaan Yesus, selain sebagai bentuk ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa (Ibr. 5:8) juga merupakan bentuk solidaritasnya (kepedulian) yang mendalam dengan penderitaan dan kelemahan manusia. Bacaan kedua hari ini melukisnya dengan indah tentang hal ini. “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya (Ibr. 4:15-16).” Bagi saya, Yesus terlibat dalam penderitaan dan kelemahan manusia, termasuk penderitaan dan kelemahan kita saat ini karena Covid 19.

Karena itu, sebagai pengikut Yesus, tepatlah bila kita tak hanya mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah dan menjaga stamina tubuh masing-masing. Kita juga perlu berdoa dengan tekun memohon campur tangan Tuhan Yesus seperti yang tertulis pada ayat 16 bacaan kedua hari ini, “Marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Itulah yang telah kita lakukan sejak Covid 19 mengacaukan dunia. Para pengikut Kristus mulai dari bapa suci Paus Fransiskus dan semua umat beriman bersatu hati dalam doa agar Yesus menyembuhkan dunia ini dari wabah Corona. Kita semua telah menghampiri takhta kasih karunia dan memohon dengan tekun agar mendapat pertolongan dari Yesus pada waktunya.

Apakah Tuhan Yesus sudah mendengarkan aneka doa kita anak-anak-Nya? Saya merenungkan, Tuhan Yesus mendengarkan doa-doa kita. Ia telah memberikan pertolongan kepada kita. Sayangnya kita kurang menyadarinya. Saat ini memang Virus Corona belum lenyap dari muka bumi. Akan tetapi saya melihat banyak hal positif yang muncul di tengah wabah ini. Bagi saya Yesus telah hadir dalam diri orang-orang baik yang rela berkorban untuk menyembuhkan dunia ini. Yesus hadir dalam diri pemerintah, pelayan kesehatan (dokter, perawat dan timnya), para ilmuwan yang telah bekerja keras untuk menemukan vaksin dan telah mulai digunakan saat ini, relawan-relawati (kelompok dan indvidu), lembaga-lembaga internasional, agamawan-agamawati (pemimpin dan umat), lembaga-lembaga amal, LSM, perusahaan yang dengan penuh kasih melakukan aneka aksi kemanusiaan untuk pencegahan dan pengobatan  dalam rangka mengatasi wabah ini. Dengan pelbagai cara dan bentuk aksi, pihak-pihak ini telah menjadi ‘kaki-tangan’ Yesus saat ini. Yesus juga hadir dalam diri warga masyarakat yang taat pada protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah demi memutuskan mata rantai penyebaran virus ini.

Menurut saya, saat ini  juga sedang bertumbuh subur solidaritas global (kepedulian yang mencakup seluruh dunia) yang barangkali belum pernah terjadi sebelumnya. Betapa tidak, hampir semua orang bersatu mengatasi penderitaan yang disebabkan Covid-19. Sangat mengagumkan! Rupanya virus ini telah mendidik manusia zaman ini yang cenderung individualis (tak peduli dengan orang lain) agar membangun persekutuan global demi kebaikan bersama. Virus ini mendidik manusia zaman ini yang sering sombong membanggakan harta, pangkat, kenikmatan dan kecanggihan ilmu pengetahuan dan tekhnologi tapi tak berdaya berhadapan dengan sesuatu yang tak kasat mata bernama Covid-19! Ia mendidik manusia zaman ini agar hidup dalam persekutuan, bergandengan tangan dan tak hanya memikirkan diri sendiri.

Virus ini juga mengajak semua manusia untuk semakin mengakui keagungan Sang Pencipta dan kemahakuasaan-Nya dan percaya pada penyenggaraan-Nya atas dunia ini. Barangkali karena kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan tekhnologi, selama ini aspek ini terabaikan. Kini, saya duga, selain menempuh jalur manusiawi mengatasi virus ini, semakin banyak  juga orang yang mencari perlindungan pada Tuhan. Tentu masih banyak hal positif lain yang tumbuh di tengah wabah ini.

Sebagai pengikut Yesus, saya mengakui, semuanya ini juga karya Sang Tangan Tersembunyi (the invisible hand) bernama Yesus. Ia terlibat dalam jeritan dan tangisan dunia saat ini. Syukur kepada-Mu, Tuhan Yesus! Saya selalu yakin, Tuhan Yesus sangat bangga dengan hal-hal positif yang muncul di tengah situasi penderitaan ini. Karena itu, saya juga sangat percaya, virus Corona ini akan berlalu. Wabah ini akan berlalu. Kapan? Pada waktunya Tuhan! Waktu Tuhan selalu yang terbaik. Bukan waktu manusia. Itulah cara saya merenungkan situasi penderitaan saat ini dari sudut pandang iman kristiani.***

Salam Jumat Agung!

 

Yang Perlu Diketahui tentang Jumat Agung

0

Agar umat beriman memiliki pemahaman yang cukup tentang beberapa hal penting tentang Perayaan Jumat Agung, saya mengutip langsung apa yang tertulis dalam Dokumen Gerejawi no. 71 berjudul “Perayaan Paskah dan Persiapannya” tentang perayaan tersebut. Dokumen ini dikeluarkan pada 16 Januari 1988. Uraian secara singkat tentang Jumat Agung terdapat pada nomor 58-72.

***

58. Pada hari ini, waktu Kristus, domba kurban kita dikurbankan”, Gereja merenungkan Sengsara Tuhan dan Mempelainya dan menyembah Salib-Nya; dalam pada itu ia merenungkan asal usulnya dari luka sisi Kristus yang wafat pada salib dan berdoa bagi keselamatan seluruh dunia.

59. Menurut tradisi kuno pada hari ini Gereja tidak merayakan Ekaristi; komuni suci dibagikan kepada kaum beriman hanya selama perayaan Sengsara dan Wafat Kristus, tetapi mereka yang sakit yang tak dapat mengikuti perayaan ini, dapat menerimanya pada setiap saat.

60. Jumat Agung di seluruh Gereja harus dijalani sebagai hari tobat, dan puasa serta pantang diwajibkan.

61. Perayaan sakramen-sakramen pada hari ini juga dilarang keras, kecuali sakramen tobat dan orang sakit. Pemakaman diadakan tanpa nyanyian, orgel dan lonceng.

62. Dianjurkan pada hari ini merayakan ibadat bacaan dan ibadat pagi dalam gereja bersama jemaat (bdk. no. 40).

63. Perayaan Sengsara dan Wafat Kristus diadakan siang menjelang jam 15.00. Karena alasan pastoral dapat ditentukan waktu lain, yang memudahkan umat berkumpul, misalnya langsung setelah siang atau petang, tetapi tidak sesudah pkl. 21.00.

64. Tata perayaan Sengsara dan Wafat Kristus yang berasal dari tradisi kuno Gereja, (yakni: ibadat Sabda, penghormatan salib, perayaan komuni) harus diadakan dengan tepat dan setia, dan tak boleh diubah sesukanya.

65. Imam dan asistennya pergi dengan diam ke altar, tanpa nyanyian. Bila perlu diadakan pengantar, hendaknya hal ini diadakan sebelum imam masuk. Imam dan asistennya tunduk di depan altar dan menelungkupkan diri. Ritus ini khas bagi Jumat Agung danhendaknya dipertahankan, baik karena sikap rendah hati pantas bagi manusia”, maupun mengungkapkan kedukaan Gereja. Kaum beriman berdiri selama masuknya imam dan setelahnya berlutut dan hening sejenak dalam doa.

66. Bacaan yang tersedia harus dibacakan lengkap. Nyanyian tanggapan dan nyanyian sebelum Injil dinyanyikan seperti biasanya. Kisah Sengsara menurut Yohanes dinyanyikan atau dibacakan seperti pada Minggu Palma (bdk. no. 33). Setelah Kisah Sengsara ada homili yang diakhiri dengan keheningan doa sejenak.

67. Doa permohonan hendaknya dilaksanakan menurut teks dan bentuk yang berasal dari tradisi kuno dengan segala intensi, karena mengacu kepada daya universal sengsara Kristus, yang tergantung pada kayu salib untuk keselamatan seluruh dunia. Dalam keadaan darurat berat Ordinaris wilayah dapat memperkenankan atau memerintahkan doa khusus tambahan. Dari jumlah doa permohonan yang disediakan Buku Misa, imam dapat memilih yang paling sesuai dengan keadaan setempat. Tetapi urutan doa permohonan hendaknya dipertahankan, yakni selalu mendahulukan kepentingan umum.

68. Untuk pengangkatan salibhendaknya cukup besar dan indah; salah satu dari kedua bentuk yang disediakan dalam buku Misa dapat dipilih. Ritus ini hendaknya dibawakan dengan meriah, sesuai dengan misteri penebusan kita: baik seruan pada pengangkatan salib maupun jawaban umat harus dinyanyikan, dan keheningan penuh hormat setelah ketiga kali berlutut jangan diabaikan, sementara imam sambil berdiri menjunjung salib.

69. Salib harus disajikan kepada setiap orang beriman untuk dihormati, karena penghormatan pribadi adalah unsur hakiki perayaan ini; hanya bila hadir jemaat yang amat besar, ritus penghormatan bersama dapat dilaksanakan. Hanya satu salib disediakan untuk dihormati, karena dituntut kesejatian tanda. Pada penghormatan salib dinyanyikan antifon, improperia dan madah, yang mengingatkan sejarah keselamatan dalam bentuk lirik; tetapi dapat juga diambil nyanyian lain yang sesuai.

70. Imam menyanyikan pengantar doa Bapa Kami, yang kemudian dinyanyikan oleh semua. Salam damai tak dipakai. Komuni dilaksanakan seperti diatur dalam Buku Misa. Sementara komuni dibagikan, dapat dinyanyikan mazmur 22 (21) atau nyanyian lain yang sesuai. Setelah pembagian komuni, bejana dengan hosti yang lebih dibawa ke tempat yang disediakan di luar gereja.

71. Setelah perayaan altar dikosongkan, tetapi salib dan keempat kandelar dibiarkan. Dalam gereja dapat disediakan tempat bagi salib (misalnya di kapel, di mana pada hari Kamis Putih Sakramen Mahakudus disimpan), di mana kaum beriman menghormatinya dan mengecupnya dan meluangkan waktu untuk merenung.

72. Kegiatan kesalehan rakyat, misalnya Jalan Salib, prosesi sengsara atau kebaktian terhadap Santa Perawan Maria yang berduka, janganlah diabaikan karena alasan pastoral, tetapi teks dan nyanyiannya hendaknya sesuai dengan liturgi.Waktu untuk kebaktian itu hendaknya ditetapkan sedemikian rupa, sehingga tak mengganggu ibadat utama, sehingga menjadi jelas bahwa perayaan liturgi jauh lebih penting daripada kebaktian itu. ***

 

Sumber: Dokumen Gerejawi No. 71, “Perayaan Paskah dan Persiapannya” (Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, Januari 2005).