8.5 C
New York
Sunday, April 5, 2026
Home Blog Page 3

Antara Cinta, Ketaatan, dan Pengorbanan – Renungan Jumat Agung

0
easter, resurrection, jesus on the cross

Hari ini, pada perayaan Jumat Agung, kita diajak untuk memandang kayu salib: Lihatlah kayu salib di sini tergantung Kristus, Penyelamat dunia’. Mengapa harus memandang kayu salib? Sebab di sanalah kita menemukan bukan hanya sebuah penderitaan, tetapi juga sebuah kisah tentang cinta, ketaatan, dan pengorbanan yang tidak terbatas.

Ya, di kayu salib kita melihat cinta yang tak terkira dari Tuhan Yesus Kristus. Cinta-Nya bukanlah sekadar kata-kata kosong, melainkan sebuah tindakan yang begitu dalam dan nyata. Pengorbanan-Nya di kayu salib merupakan tanda cinta yang luar biasa dari Dia untuk kita. Dengan rela disalibkan, Ia mengajarkan kepada kita bahwa cinta itu harus diperjuangkan. Jangan bilang cinta kalau tidak mau berkorban. Adakah cinta sebesar ini yang kita terima selain dari-Nya?

Cinta sampai berdarah-darah adalah cinta yang hanya ditunjukkan oleh Tuhan Yesus. Ia mencintai kita dengan cinta yang melebihi segala pemahaman manusia. Demi cinta-Nya kepada manusia, Dia rela mengorbankan diri-Nya di kayu salib. Bahkan ketika kita merasa tidak layak untuk menerima cinta-Nya, Dia tetap memilih untuk mencintai kita tanpa syarat.

Dari pengorbanan-Nya di kayu salib, kita juga belajar tentang bagaimana menjadi taat. Sebab, ketaatan pada kehendak Bapalah yang menjadi alasan lain mengapa Ia harus mengorbankan diri-Nya di kayu salib. Jelaslah Ia memiliki kuasa untuk menghindari penderitaan yang menyiksa itu, namun Dia toh memilih untuk menaati rencana Bapa-Nya. Ketika dunia menganggap pelanggaran dan ketidaktaatan sebagai hal yang wajar dan normal, Tuhan Yesus memberikan kepada kita contoh yang luar biasa tentang bagaimana taat pada kehendak Tuhan.

Pengorbanan Yesus di kayu salib mengubah nasib umat manusia selamanya. Sebab, dengan Salib suci-Nya, Ia telah menebus dunia. Dengan demikian, salib bukanlah akhir dari cerita, tetapi awal dari sebuah kebangkitan yang menyinari seluruh dunia dengan harapan dan kehidupan yang baru.

Sebab itu, pengorbanan Yesus di kayu salib jangan sampai disia-siakan. Sebaliknya, kita harus memandang kayu salib dengan penuh rasa syukur dan penghormatan. Kita mengambil waktu untuk merenungkan betapa besar cinta Yesus kepada kita, betapa pentingnya ketaatan pada kehendak Bapa-Nya, dan betapa berharganya pengorbanan yang Dia lakukan bagi kita semua. Di dalam cinta-Nya, kita menemukan kesembuhan; di dalam ketaatan-Nya, kita menemukan arah; dan di dalam pengorbanan-Nya, kita menemukan keselamatan. Marilah kita hidup sebagai saksi-saksi cinta, ketaatan, dan pengorbanan Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin.

Dibutakan Oleh Uang – Renungan Hari Rabu dalam Pekan Suci

0
book, coin, money

Dibutakan Oleh Uang: Renungan Hari Rabu dalam Pekan Suci, 27 Maret 2024 — JalaPress.comBacaan I: Yes. 50:4-9a; Injil: Mat. 26:14-25

Uang adalah alat tukar yang diterima secara umum. Obyek yang dapat ditukarkan dengan uang adalah barang dan jasa. Namun, perkembangan zaman telah membutakan mata hati manusia sehingga manusia diperalat oleh uang bahkan menjadi budak uang. Pengalaman ini dialami juga oleh Yudas Iskariot. Ia dibutakan oleh uang sehingga ia tega menjual Yesus, gurunya, kepada imam-imam kepala dengan harga 30 keping perak.

Nubuat nabi Yesaya tentang hamba Yahwe terpenuhi dalam diri Tuhan Yesus Kristus. “Ia rela memberi punggungnya kepada orang-orang yang memukulnya dan pipinya kepada orang-orang yang mencabut janggutnya. Ia pun tidak menyembunyikan mukanya ketika dinodai dan diludahi.”

Dari realita saat ini dan dari pengalaman Yudas Iskariot, kita belajar untuk tidak menjual iman kita akan Kristus demi uang yang akan binasa, sebaliknya tetap teguh dalam iman akan Tuhan Yesus Kristus. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Setia sebagai Anak-anak Allah – Renungan Hari Rabu Pekan V Prapaskah

0
cross, church, family

Setia sebagai Anak-anak Allah: Renungan Hari Rabu Pekan V Prapaskah, 20 Maret 2024 — JalaPress.comBacaan I: Dan. 3:14-20.24-25.28; Injil: Yoh. 8:31-42

Anak adalah bagian dari sebuah keluarga. Di satu sisi, anak adalah pribadi yang mampu menjadi kebahagiaan bagi keluarga, tetapi di sisi lain apabila anak terjemus ke dalam perilaku menyimpang, maka akan menjadi penderitaan dan duka bagi keluarga.

Hari ini, Yesus berbicara tentang status sebagai ‘anak’. Status sebagai ‘anak’ membawa sebuah  konsekuensi yakni “Tinggal di dalam  rumah dan melaksanakan kehendak Bapa”. Konsekuensi ini ditegaskan oleh Yesus bagi kita karena kita adalah anak-anak Allah dan Yesus Kristus adalah Saudara sulung kita.

Kita mendapat status sebagai anak-anak Allah dikarenakan jasa Yesus Kristus. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah kita tetap tinggal dalam ‘rumah’ dan melaksanakan kehendak Allah atau tidak?

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, adalah contoh yang benar bagi kita agar tetap tinggal dalam ‘rumah’ iman kita akan Allah. Walaupun dalam ancaman kematian, mereka tetap setia sebagai anak-anak Allah.

Dalam dunia yang semakin berkembang saat ini, banyak orang lupa akan statusnya sebagai ‘anak’ sehingga ia menjadi hamba dosa. Marilah kita tetap setia untuk tinggal dalam rumah iman kita akan Allah dan melaksanakan kehendak-Nya. Jadilah pribadi yang merdeka dan bertanggung jawab dalam iman. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Krisis Peradaban – Renungan Hari Kamis Pekan IV Prapaskah

0
ai generated, stairs, man

Krisis Peradaban: Renungan Hari Kamis Pekan IV Prapaskah, 14 Maret 2024 — JalaPress.comBacaan I: Kel. 32:7-14; Injil: Yoh. 5:31-47

Saat ini, bangsa kita mengalami krisis peradaban: meningkatnya korupsi, kebohongan merajalela, etika dan moral ditenggelamkan, serta kekerasan merajalela. Dalam situasi seperti ini dibutuhkan orang baik dan benar yang konsisten menerapkan hukum kasih dan berpegang teguh pada Allah.

Bacaan pertama pada hari ini menceritakan bagaimana krisis peradaban yang terjadi dalam hidup bangsa Israel. Mereka tidak setia pada Allah, yang ditandai dengan membuat lembu tuangan dan menyembahnya sebagai allah mereka. Hal ini menyebabkan Allah murka. Namun dalam kemurkaan-Nya, Allah meminta Musa untuk turun dari gunung Sinai untuk melihat bangsa Israel. Ketika melihat murka Allah, Musa hadir sebagai pendamai.

Pada zaman Yesus, orang-orang Yahudi juga mengalami krisis peradaban; sehingga mereka tidak percaya pada Yesus; walaupun banyak perbuatan kasih yang telah Yesus lakukan di hadapan mereka.

Sebagai Gereja yang hidup, kita harus hadir menjadi ‘sakramen keselamatan’ bagi dunia yang diliputi kegelapan; sebab ‘lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada mengumpat kegelapan’. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Siapakah Andalan Hidupku – Renungan Hari Kamis Pekan II Prapaskah

0

Siapakah Andalan Hidupku: Renungan Hari Selasa Pekan II Prapaskah, 29 Februari 2024 — JalaPress.comBacaan I: Yer. 17:5-10; Injil: Luk. 16:19-31

[postingan number=3 tag= ‘masa-tobat’]

Di hari terakhir bulan Februari ini, mari kita bertanya dalam hati kita masing-masing: “Siapakah andalan hidupku selama ini?”

Bacaan-bacaan hari ini memberikan gambaran bagi kita tentang pribadi yang diandalkan dalam hidup. Pertama: ‘Orang yang mengandalkan manusia dan atau kekuatannya sendiri’, ibarat semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami hari baik; ia akan tinggal di tanah gersang di padang gurun, di padang asin yang tidak berpenduduk. Apa yang di firmankan Tuhan ini dialami oleh orang kaya dalam Injil hari ini. Ia mengandalkan dirinya sendiri dan kekayaan yang ada padanya sehingga ia melupakan Tuhan dan tidak peduli dengan Lazarus yang miskin.

Kedua: ‘Orang yang selalu mengandalkan dan menaruh harapan pada Tuhan’, maka ia adalah pribadi yang diberkati karena ia ibarat pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air dan tidak mengalami datangnya panas dan tidak berhenti menghasilkan buah. Ia adalah pribadi yang bersukacita. Inilah pengalaman dari Lazarus yang miskin. Ia senantiasa mengandalkan Tuhan sehingga ia mengalami sukacita abadi di Surga.

Di masa retret agung ini, marilah kita berusaha untuk senantiasa mengandalkan Tuhan dalam hidup kita supaya kita menjadi pribadi yang bersukacita. Selain itu, marilah kita mengasah hati kita agar semakin peduli dan solider dengan mereka yang menderita. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Piala Penderitaan – Renungan Hari Rabu Pekan II Prapaskah

0

Piala Penderitaan: Renungan Hari Rabu Pekan II Prapaskah, 28 Februari 2024 — JalaPress.comBacaan I: Yer. 18:18-20; Injil: Mat. 20:17-28

[postingan number=3 tag= ‘masa-tobat’]

Setiap manusia tanpa kecuali memiliki hasrat dan keinginan untuk berkuasa. Mengapa? Karena dengan kekuasaan manusia dapat memerintah sesamany. Kekuasaan ini sangat menggiurkan sehingga bisa melanda dan menjerat siapapun, termasuk pejabat keagamaan.

Realita ini terjadi dari zaman Perjanjian Lama hingga saat ini. Nabi Yeremia harus siap minum piala penderitaan karena para lawannya sudah siap untuk ‘memukul dia dengan bahasanya sendiri dan tidak memperhatikan setiap perkataannya.’ Hal ini terjadi karena mereka merasa kekuasaannya terusik dan terganggu dengan kritikan dari Nabi Yeremia.

Haus kekuasaan juga merasuk dalam diri ibu anak-anak Zebedeus sehingga ia dengan berani meminta kepada Yesus agar kedua anaknya dapat duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus dalam Kerajaan-Nya. Namun, syarat yang diberikan oleh Yesus adalah:

Pertama: harus siap minum piala/cawan penderitaan; kedua: rela dan siap menjadi pelayan bagi sesama. Walaupun ada dua syarat ini, namun hal duduk di sebelah kanan atau kiri merupakan hak prerogatif dari Bapa.

Perlu disadari bahwa setiap kekuasaan adalah pemberian dari Allah. Oleh karena itu, setiap pejabat publik harus hadir sebagai pelayan dan harus rela minum: piala penderitaan seperti teladan Yesus Kristus Tuhan kita. Apakah kita juga siap dan rela untuk minum ‘piala penderitaan’ yang ditawarkan oleh Yesus? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Selaras antara Kata dan Tindakan – Renungan Hari Selasa Pekan II Prapaskah

0

Selaras antara Kata dan Tindakan: Renungan Hari Selasa Pekan II Prapaskah, 27 Februari 2024 — JalaPress.comBacaan I: Yes. 1:10.16-20; Injil: Mat. 23:1-12

[postingan number=3 tag= ‘masa-tobat’]

Kadang kita mendengarkan perkataan ini: “Berbicara lebih mudah daripada bertindak!” Perkataan ini ada benarnya karena cukup banyak kita menjumpai orang yang fasih berbicara tentang sesuatu dan pandai memberi nasihat tetapi tindakannya jauh dari apa yang ia katakan dan nasihatkan. Berhadapan dengan orang seperti itu kerap muncul penolakan dari diri kita, “ah basi … omong doang, praktek kosong”.

Kabar Gembira hari ini berisi peringatan Yesus terhadap murid-murid-Nya agar mereka kritis terhadap ahli Taurat dan kaum Farisi. Mengapa? Karena ahli Taurat dan kaum Farisi mengajarkan ajaran yang baik dan benar tetapi tidak melakukan hal-hal baik dan benar seperti yang mereka ajarkan.

Nasihat Yesus ini mau menegaskan bahwa kata dan tindakan harus selaras agar para murid-Nya tidak jatuh dalam kemunafikan. Keselarasan antara kata dan tindakan juga dituntut oleh Allah kepada penduduk Sodom dan Gomora. Mereka dituntut oleh Allah agar senantiasa berbuat baik, bertindak adil, membela hak-hak sesama. Dengan melakukan tindakan di atas maka Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka.

Dalam masa prapaskah ini, kita juga dituntut untuk menyelaraskan antara kata dan tindakan. Dengan demikian kita diharapkan dapat melakukan pertobatan sejati yang berbuah lewat sikap rendah hati. Kita juga harus sadar bahwa Allah yang kita imani adalah Allah yang Maha rahim karena ‘sekalipun dosa kita merah seperti kirmizi akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba akan menjadi putih seperti bulu domba.’ Marilah kita bertobat dan kembali pada Allah. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Puasa dan Pantang, Belajar untuk Murah Hati

0

Jalan Kesucian: Renungan Hari Senin Pekan II Prapaskah, 26 Februari 2024 — JalaPress.comBacaan I: Dan. 9:4b-10; Injil: Luk. 6:36-38

Orang yang murah hati selalu memberi perhatian yang terbaik kepada orang lain. Orang yang murah hati juga tidak memikirkan dirinya sendiri tapi sebaliknya ia akan rela mengabaikan kepentingan dirinya sendiri dan mengarahkan diri kepada kepentingan sesama.

[postingan number=3 tag= ‘prapaskah’]

Sabda Tuhan hari ini berbicara tentang kemurahan hati. Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya: “Hendaklah kamu murah hati, sebagaimana Bapa-Mu adalah murah hati”. Yesus meminta para murid-Nya agar berlaku murah hati seperti Bapa yang telah lebih dahulu murah hati kepada manusia.

Kemurahan hati Allah ini dapat kita temukan dalam Kitab Daniel yang menegaskan: “Pada Tuhan, Allah kami, ada belas kasih dan pengampunan, walaupun kami memberontak terhadap Dia”. Namun perlu disadari bahwa kemurahan hati Allah dapat berdampak bagi kita apabila kita menyadari dosa dan kesalahan kita masing-masing. Kesadaran inilah yang mengantar kita pada pertobatan sejati.

Di masa retret agung ini dalam puasa dan pantang yang kita jalani, kita semua diharapkan untuk belajar menjadi murah hati. Kemurahan hati dapat kita wujud-nyatakan lewat sikap rela mengampuni, tulus untuk mengasihi, dan mau berbagi dengan sesama. Marilah kita berjuang untuk menjadi murah hati karena Allah sudah lebih dahulu murah hati terhadap kita. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Jalan Kesucian – Renungan Pekan I Prapaskah

0

Jalan Kesucian: Renungan Pekan I Prapaskah, 20 Februari 2024 — JalaPress.comBacaan I: Yes. 55:10-11; Injil: Mat. 6:7-15

Mendoakan doa Bapa Kami dan menghayatinya akan menuntun kita menuju jalan kesucian karena doa Bapa Kami mengandung segalanya: Tuhan, sesama kita, dan diri kita sendiri. Inilah kata-kata sekaligus menjadi penghayatan hidup dari Mother Teresa.

[postingan number=3 tag= ‘bunda-gereja’]

Kabar gembira hari ini memuat ajaran Yesus tentang doa. Yesus mengajarkan tentang bagaimana berdoa dengan baik dan benar. Menurut Yesus, doa bukanlah urusan kata, apalagi bertele-tele. Doa adalah urusan hati, yakni hati yang tahu bersyukur dan mau mengampuni.

Yesus juga mengajarkan contoh doa yang baik dan benar yakni doa Bapa Kami. Dalam doa ini, Yesus mengajarkan bahwa doa pertama-tama adalah memuliakan Allah,  selanjutnya baru memohon rahmat-Nya bagi kita. Berdoa bukan menuntut Allah, tetapi suatu kesediaan untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Doa adalah sarana dan jalan menuju kesucian.

Setiap hari kita pasti  mendoakan doa Bapa Kami. Entah berapa kali kita mendoakannya. Namun, apakah kita sungguh-sungguh menghayati doa ini dalam hidup kita? Mari kita hidup dalam doa yang baik dan benar agar Sabda Tuhan berbuah dalam hidup kita. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir

Puasa, Menyangkal Diri – Renungan Hari Kamis sesudah Rabu Abu

0

Puasa, Menyangkal Diri: Renungan Hari Kamis sesudah Rabu Abu, 15 Februari 2024 — JalaPress.comBacaan I: Ul. 30:15-20; Injil: Luk. 9:22-25

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Musuh terbesar manusia dari zaman ke zaman adalah diri sendiri. Betapa sulit mengalahkan diri sendiri, maka menyangkal diri merupakan bagian olahraga rohani yang sangat berat. Dalam tataran tertentu, manusia mungkin bisa menyangkal diri dengan mudah. Tetapi dalam masalah tertentu, kondisi tertentu, menghadapi orang tertentu, manusia kerapkali sulit menyangkal diri. Maka, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk berani dan rela menyangkal diri.

Nabi Musa dalam bacaan pertama mengajak umat Israel untuk memilih Tuhan dan berpegang pada perintah-Nya agar mereka tetap hidup dan akan memiliki umur panjang di tanah terjanji.

Dalam bacaan Injil, Yesus menegaskan bahwa ‘Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku’. Sabda Yesus ini mau mengajak kita semua untuk melakukan penyangkalan diri setiap hari; caranya adalah setia dalam penderitaan dan setia dalam iman kepada Allah.

Masa prapaskah adalah saatnya untuk menyangkal diri demi mengalahkan diri kita sehingga tidak tergoda oleh nafsu duniawi. Untuk dapat dengan benar dan setia melakukan penyangkalan diri, maka mari kita datang pada Yesus dan belajar dari pada-Nya. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(P. A. L. Tereng MSF)
Mu-Sa-Fir