8.6 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 32

Menghidupkan Kembali Iman yang Kering bersama Anthony de Mello

0

Saat ini kita sedang dihadapkan dengan sebuah virus yang kehadirannya sangat tidak terduga sebelumnya, yaitu COVID-19. Virus ini pertama kali muncul di Wuhan pada pertengahan November 2019 dan kini telah tersebar hingga seluruh dunia termasuk Indonesia.

[postingan number=3 tag= ‘tokoh’]

Saat ini kita telah memasuki masa sulit dan krisis akibat adanya pandemi COVID-19. Kehadiran pandemi ini sangat berdampak pada ekonomi, politik, bahkan kerohanian dan keagamaan. Sebagai contoh, ada banyak aktivitas yang sebelumnya bisa dilakukan secara bebas dan leluasa, namun sekarang harus dengan aturan yang ketat sesuai protokol kesehatan.

Adanya pandemi Covid-19 membuat orang bertanya-tanya: apakah Tuhan masih peduli pada kita umat-Nya? Jika Ia masih peduli, mengapa Ia memberikan cobaan dan tega membiarkan umat-Nya dilanda permasalahan yang begitu berat dan menakutkan ini?

Kondisi pandemi ini membuat banyak umat lupa akan kegiatan rohani. Sebagai solusinya, maka dibuatlah kegiatan ibadah secara online. Namun demikian, bagi sebagian umat, kegiatan ibadah secara online ini dirasa tidak terlalu efektif.

Di tengah situasi pandemi seperti sekarang ini, kita dihadapkan dengan berbagai persoalan duniawi yang tentu saja membuat banyak orang lelah. Akibatnya, mereka menjadi terasing dan lambat laun imannya pun ikut menjadi kering.

Adanya pandemi seperti sekarang ini tidak menutup kemungkinan membuat iman seseorang dapat luntur dan goyah. Kepanikan dan ketakutan yang berlebih dalam menghadapi sebuah permasalahan terutama pandemi saat ini juga tidaklah ada gunanya. Hal tersebut justru dapat menambah beban dan memperburuk kondisi.

Padahal, kita hanya perlu menerapkan cara untuk menghidupkan kembali  kekeringan batin. Kita harus percaya bahwa setiap peristiwa yang terjadi pasti telah direncanakan oleh Tuhan. Kita hanya perlu belajar untuk tetap berserah diri kepada Sang Pencipta kita.

Di sini, kita perlu belajar dari Anthony de Mello, tokoh yang mengajarkan kepada kita tentang bagaimana caranya kembali ke jalan Tuhan di tengah situasi dan kondisi yang dapat menggoyahkan iman kita.

Anthony de Mello lahir di Mumbai, India, dari pasangan Frank de Mello dan Louisa née de Mello, pada pada 4 September 1931. Pemikiran-pemikiran dan karyanya telah tersebar di seluruh dunia. Ia sangat terbuka dan bebas sehingga ajarannya dapat diterapkan oleh semua umat beragama.

Di dalam bukunya yang berjudul “Jalan menuju Tuhan”, Anthony de Mello mengajak kita untuk berpikir dan berproses melalui enam langkah, yaitu hening, damai, sukacita, hidup, kemerdekaan, dan cinta. Tak lupa ia memberikan arti dari enam langkah itu serta bagaimana cara mempraktekkan setiap langkah yang telah ia utarakan itu dalam kehidupan. Melalui enam tahap tersebut, kita dapat menumbuhkan kembali iman kita yang semakin memudar di tengah permasalahan dunia seperti pandemi COVID-19 ini.

Anthony de Mello mengajak kita untuk selalu berpasrah, namun bukan tanpa usaha. Berusalah untuk melakukan sesuatu yang baik bagi diri sendiri dan sesama; dan sisanya kita serahkan kepada Tuhan; sebab apa yang direncanakan oleh Tuhan pasti indah pada waktunya.

Prospero Grech: Kardinal Cerdas yang Mengedepankan Kemanusiaan

0

Prospero Grech atau dengan nama asli Stanley Grech, lahir pada tanggal 24 Desember 1925 di Birgu, Malta. Ia belajar filsafat di St. Mark Priory di Rabat, Malta, dan Pendidikan teologi ditempuhnya di St. Monica’s College di Roma.

[postingan number=3 tag= ‘tokoh’]

Grech mendapat gelar doktor dalam bidang teologi dari Gregorian University. Ia juga memperoleh lisensi Kitab Suci dari Pontifical Biblical Institute, Roma, pada tahun 1954, serta gelar diploma dalam bidang pendidikan psikologi dari University of Fribourg, Swiss.

Karena riwayat pendidikannya yang menakjubkan, Grech pun mengajar di berbagai institusi, misalnya di Pontifical Biblical Institute di Roma dan Augustinian Theological College di Rabat. Ia juga menjadi professor di bidang Teologi Kitab Suci di Lateran University, Roma.

Grech menerbitkan banyak buku dan artikel mengenai kajian keagamaan dan teologi. Beberapa buku tersebut di antaranya adalah Ermeneutica e Teologia Biblica, ‘What Was From the Beginning’: The Emergence of Orthodoxy in Early Christianity, serta An Outline of New Testament Spirituality.

Selain prestasi dan karya yang diperolehnya, ternyata Grech merupakan pribadi yang hangat dan humoris. Menurut Liza Bingley Miller yang merupakan teman masa kecil Grech, Grech memiliki sisi yang menyenangkan dengan selera humor yang baik. Liza mengatakan bahwa mereka sering mengusili satu sama lain saat masih kanak-kanak dan bahkan memiliki nama panggilan spesial untuk satu sama lain.

Grech merupakan pribadi yang ceria, baik hati, dan memiliki kecerdasan yang membuat orang-orang terkesan. Menurut Uskup Agung Charles Scicluna (2020), Grech merupakan hadiah dari Tuhan.

Pada 6 Januari 2012, bersama dengan 21 orang lainnya, Grech diangkat oleh Paus Benediktus XVI menjadi kardinal. Ia meninggal dunia pada tanggal 30 Desember 2019 di Holy Spirit Hospital, Roma, Italia.

Pelajaran apa yang kita dapat dari Kardinal Grech? Kebijaksanaan hidup dan penghargaan terhadap kemanusiaan, itulah yang dapat kita contoh dari Kardinal Grech. Dua sikap itu patut kita implementasikan di masa pandemi ini. Sebagai contoh, pemerintah harus bijaksana dalam mengambil keputusan agar penyebaran Covid-19 tidak semakin parah. Kita sebagai rakyat juga harus bijaksana dalam mengikuti protokol kesehatan. Selain itu, kita juga bisa membantu orang-orang yang kesusahan melalui kegiatan bakti sosial.

Belajar dari Kisah dan Karya Mariano Artigas di Masa Pandemi

0

Mariano Artigas adalah seorang tokoh filsuf dan pastor. Ia lahir di Zaragoza, Spanyol  pada tanggal 15 Desember 1938. Pada tahun  1955-1956, ia pindah ke Barcelona untuk memulai studinya di Ilmu Fisika. Ia memperoleh gelar sarjana pada bulan Juni 1960 dan sesudahnya ia memulai studi doktoralnya di bidang Fisika, yang kemudian dihentikan sementara karena pada tahun 1961, ia berangkat ke Roma untuk menyelesaikan studi Gerejawi yang telah ia mulai di Spanyol, di mana ini menjadi awal dari perjalanannya sebagai seorang pastor.

[postingan number= 3 tag= ‘tokoh’]

Sejak masih di bangku kuliah, Artigas telah aktif dalam menciptakan karya-karya tulis. Ia menerbitkan lebih dari 150 artikel berdasarkan hubungan sains, filsafat, dan teologi .Pada tahun 1999, Artigas berhasil menerbitkan bukunya yang berjudul The Mind of the Universe: Understanding Science and Religion. Buku ini mendapat ulasan dan rating yang bagus hingga mencapai poin 4,7 di goodreads.com. Jasa Mariano Artigas ini tidak luput dari perhatian banyak orang, baik di kalangan masyarakat luas yang sering dia tuju dalam tulisannya, atau oleh para spesialis.

Selain menghasilkan karya-karya tersebut, Mariano Artigas juga turut terlibat dalam berbagai kegiatan keagamaan. Seperti pada tahun 2002, bersama dengan professor lainnya, ia mendirikan Kelompok Penelitian Sains, Nalar dan Kepercayaan (CRYF), yang berbasis di Universitas Navarra, tempat ia mengajar. Tujuan dari kelompok ini adalah untuk mempromosikan studi interdisipliner tentang isu-isu di mana sains, filsafat, dan teologi saling terkait.

Tahun-tahun terakhir  dari hidupnya pun masih sangat produktif. Bahkan, saat berjuang melawan kanker, ia mampu membaca hingga mempublikasikan karyanya, Negotiating Darwin: The Vatican Confronts Evolution 1877-1992 dengan Thomas Glick dan Rafael Martínez sebagai rekan penulis, dan masih banyak lagi.

Mariano Artigas meninggal dunia pada tanggal 23 Desember 2006, di Clínica Universitaria of Pamplona, pada jam 00:15. Tiga hari sebelumnya, dokter telah memberitahunya bahwa tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk mencegah kematiannya. Dengan sangat tenang dia pun menjawab bahwa dia siap, baik secara fisik maupun spiritual.

Tidak banyak orang di masyarakat yang berani mengungkapkan pikirannya yang tak lazim, tetapi Artigas dapat membuktikan hal-hal itu melalui karya-karyanya. Dengan demikian, dari dia tentu ada teladan yang dapat kita ambil. Sebagai contoh, di tengah kondisi pandemi seperti sekarang ini, kita belajar dari Artigas untuk tidak menjadikan situasi sulit ini sebagai penghalang untuk berkarya. Sebaliknya, kita harus tetap semangat dalam mengembangkan diri kita dan tidak pernah menyerah.

(Dikutip dari John Hedley Brooke, 2019, Lecture 2019: Fighting against religion in the name of science. Has the battle been won?https://www.unav.edu/web/ciencia-razon-y-fe/mariano-artigas-memorial-lecture/2019-lecture)

Hidup Membiara di Zaman Ambyar: Refleksi Ultah CICM Ke-158 dan Tantangan Dunia Sekuler

0

Jika melihat tanda-tanda zaman, maka bagi sahabat Dedi Kempot (The God Father of Broken Heart) sekarang adalah “Zaman Ambyar”. Artinya, zaman penuh kacau, remuk-redam, tercerai-berai, dan hancur. Kala cinta hanyalah pemanis di ujung bibir, lalu menyemburkan kata-kata penuh ilusi, pada ketulusan hati yang masih polos ala bocah remaja. Cinta bukan untuk mencintai, melainkan siap meluka dan melupa. Akhirnya, galau dan ambyar.

[postingan number= 3 tag= ‘cicm’]

Bukan hanya cinta, dunia demokrasi (politik) juga buat hati remuk-redam. Para aktor politik, atau yang disebut politikus, pandai memainkan peran di atas panggung demokrasi Indonesia. Mereka memainkan janji-janji, tanpa menyentuh bukti. Kebanyakan kita terlena oleh cinta dan janji yang demikian. Atas situasi yang serba ambyar ini, Giorgio Agamben, filsuf politik Italia, memberi nama yang indah pada demokrasi saat ini, yaitu demokrasi sebagai ‘Kamp Konsentrasi’. Hal ini ditandai oleh demokrasi yang menjadi alat manipulasi para ‘elit bertopeng’ yang sering menakuti-nakuti warganya dengan alarm darurat, misalnya, darurat banjir, darurat ekonomi, darurat pendidikan, darurat pola pikir, dan darurat-darurat lainnya.

Atas situasi tersebut, kita sebagai warga negara, seperti akan dikremasi di Kamp Konsentrasi, dibuat takut hingga menciptakan histeria kolektif; sedangkan bagi para ‘elit bertopeng’, dengan memboncengi demokrasi, mereka ternyata memanfaatkan situasi darurat tersebut untuk menyelenggarakan dan melanggengkan kekuasaannya. Oleh karena itulah, Agamben beranggapan bahwa demokrasi yang kita hidupi saat ini tak lain adalah sebuah Kamp Konsentrasi (bdk. Agus Sudibyo, 2019).

Relasi hidup beragama juga ambyar. Kasih antar-sesama, dibungkus rapi dalam khotbah-khotbah penuh hasutan. Para pemuka agama, imam-imam saleh, dan penasihat bijak, sudah menjadi budak kapitalisme-religius; memperalat agama untuk tujuan-tujuan dan kepuasan pribadi.

Domba-domba, yang adalah para agamawan, dibiarkan tercerai-berai di hamparan padang tak bertuan. Para domba mengembik dan menangis memanggil gembala. Tak ada yang peduli, semuanya mengharapkan imbalan, hingga lupa mengasihi. Dunia memang ambyar!

Menuju Bilik-Bilik Sunyi

Selayang pandang situasi di atas semakin menggelorakan istilah The God of Broken Heart, “Dunia memang Ambyar”. Bilik-bilik suci tempat berteduh para pengikut Kristus dengan kaul-kaul saleh juga ikut terguncang. Tembok-tembok tinggi biara tak bisa menjadi benteng. Sekularisme, salah satu contoh, sungguh memorak-porandakan bilik suci itu, dengan kutukan bahwa agama sebaiknya mengurus ruang privat, tanpa terjun dan terlibat ke dalam dunia nyata. Agama dan dunia harus dipisahkan, demikian bunyi “Credo Sekularisme”. Imbasnya, agama-agama di Eropa seperti tak memiliki akar di bumi; agama hanya mengawang-awang di atas janji-janji manis surgawi.

Eropa adalah contoh tampilan wajah dunia sekuler. Seorang misionaris CICM asal Belgia, sebagaimana dikisahkan Ananias Dundu (mantan misionaris CICM di Kongo-Afrika), pernah suatu Ketika pulang berlibur ke kampung halamannya. Ketika itu, ia bercanda gurau dengan keluarganya, khususnya cucu-cucunya, dengan mengisahkan Yesus yang mati tersalib dan bangkit pada waktu singkat. Sayangnya, para cucu sebagai generasi penerus Gereja justru menganggap cerita itu sebagai cerita yang sangat aneh, karena bagi mereka, sangat tidak logis seseorang telah mati lalu bangkit dan hidup kembali, hingga terbang ke Surga tanpa sayap dan alat bantu. Mereka lalu mengamini bahwa Yesus adalah Batman. Sungguh menyayangkan, bukan?

Lebih nyata, Pater Santos, misionaris CICM di Belgia, memberikan kesaksian kepada para frater CICM di Pondok Bambu, Jakarta Timur, tentang hidup bermisi di tengah-tengah dunia dan masyarakat sekuler. Ada begitu banyak anak muda yang hidup berfoya-foya di atas kenikmatan (semu) duniawi. Gereja hanya disapa oleh orang-orang tua yang siap menjemput ajal.

Selain itu, kehadiran dirinya menjadi magnet yang menarik pelbagai tanya dan jawaban multi tafsir. Bahkan, ada juga yang mencap dirinya sebagai, maaf, gay, karena tinggal berdua (sesama laki-laki) tanpa ada pasangan yang jelas. Pelbagai cara sedemikian rupa sudah dilakukan agar memberikan pemahaman yang baik, namun, tetap saja ia dianggap “Orang Aneh”. Stigma inilah salah satu tantangan berat di tanah misi. Dan, Pater Santos menjalani penuh kasih, sembari mengingat amanah Sang Guru: “Pergilah ke seluruh dunia, Baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus (bdk. Matius 28:19-20).

Bagaimana dengan CICM?

Kongregasi Hati Tak Bernoda Maria (CICM-Congregatio Imaculati Cordis Mariae), berdiri pada 28 November 1862, melalui hamba-Nya Theophile Verbist (1823-1868). Hal ini berarti pada 28 November 2020, CICM berusia 158 tahun untuk dunia dan 83 tahun untuk Indonesia. Khusus Indonesia, CICM mulai menabur benih pertama pada 2 Juni 1937, melalui dua orang misionaris: P. Charles Dekkers dan P. Jan van den Eerenbeemt. Sebelum sampai di Indonesia, misi perdana CICM adalah di Negeri Panda, Cina, pada 25 Agustus 1865. Sejak saat itu, benih Kabar Gembira mulai ditaburi di atas ladang duniawi, hingga nantinya sampai di Indonesia.

Jika menilik tanggal berdirinya kongregasi CICM pada abad ke-19, tantangan dari dunia sekuler semakin dan mungkin sudah terasa. Benih sekularisme mulai tumbuh subur di Eropa. Salah satu konteks sejarah yang mempengaruhinya adalah Revolusi Perancis 1789 (abad ke-18) yang ingin menghilangkan “noda-noda” pengaruh Gereja terhadap tata pemerintahan. Dari konteks sejarah itu, istilah sekularisme muncul pertama kali pada tahun 1846 (abad ke-19) oleh George Jacub Holyoake yang menyatakan bahwa sekularisme adalah suatu sistem etik yang berdiri di atas prinsip moral alamiah, tanpa embel-embel agama, wahyu atau super naturalisme.

Selain dari konteks global, jika menilik tanggal kedatangan misionaris awal di Bumi Nusantara (1937) dihadapi oleh tantang dari para penjajah dan sekelumit usaha memperhitungkan kemerdekaan Indonesia. Kedatangan Jepang pada 9 Februari 1943 di Makassar, semakin mempersulit penyebaran dan perkembangan misi CICM. Para imam CICM pernah dipenjara bersama 600 orang lainnya. Mereka mendapat siksaan yang keji dan hinaan tak beretika. Misi pun macet. Kekalahan Jepang pada 1945, membawa angin segar bagi perkembangan misi CICM di Kota Daeng-Makassar.

Setelah melihat dua konteks peristiwa tantang dunia sekuler Eropa (Wajah dunia Ambyar) dan tantangan kolonialisme di tanah air, CICM, pada hemat saya, lahir dan berkembang dalam gemuruh dan badai tantangan zaman, termasuk badai sekularisme yang melanda dan terus bertumbuh subur di Eropa.

Akan tetapi, sebagai para pemimpi yang bermimpi ‘mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus’, para calon misionaris dan para misionaris, selalu percaya akan Terang Roh Kudus (Roh Allah). Terang itulah yang akan mengalahkan dan melenyapkan kegelapan tantang zaman; hingga Terang Roh Kudus menuntun kita kepada persekutuan kasih dengan Allah.

Dengan demikian, setelah melihat selayang pandang tantangan dunia, khusus badai sekularisme yang mengusik dan menembus celah-celah bilik sunyi (Biara), lantas, beranikah Kaum Muda dan Pembaca Budiman bermimpi mengubah wajah dunia yang Ambyar menjadi wajah Kristus?

Meneladani Sikap Menghargai Wanita dari Tokoh Katolik Gabriel Roschini

0

Pada era globalisasi seperti sekarang ini, peran wanita masih kurang dihargai. Dalam aspek ekonomi, sosial, dan politik, perempuan masih di pandang sebelah mata oleh begitu banyak orang. Padahal, setiap tahun, tepatnya pada tanggal 8 Maret, kita pasti memperingati Hari Perempuan Nasional.

Jika kita coba lihat pada lingkungan kerja, masih banyak perusahaan yang beranggapan bahwa perempuan hanya boleh menempati posisi tertentu saja. Padahal, faktanya, ada begitu banyak wanita yang tidak kalah hebat dari pria.

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Maka dari itu, kita perlu belajar dari tokoh Katolik, Gabriel Roschini, untuk menghargai wanita. Ia sangat menghargai sosok Maria, Ibu Yesus. Pada setiap karya tulisnya, ia selalu mengenalkan betapa luar biasanya Bunda Maria. Gabriel Roschini, berpendapat bahwa Bunda Maria mengandung Anak Allah dengan segala rintangan menghadang di depan matanya, tapi ia toh tetap menjadi wanita yang hebat dan pantang mundur.

Sebagai contoh, pada saat Kaisar Agustus memerintah untuk melakukan sensus dan mewajibkan seluruh rakyat mendaftar di kota kelahiran mereka, Yusuf membawa Maria yang sedang hamil sembilan bulan, untuk melakukan perjalanan sejauh kira-kira 150 kilometer dengan menunggang keledai. Suatu perjalanan yang tidak mudah. Apalagi, saat itu, Betlehem sangat padat dan Maria membutuhkan tempat untuk bersalin. Belum lagi, satu-satunya tempat yang tersedia hanyalah sebuah kandang. Apakah Bunda Maria menyerah? Sama sekali tidak. Ia adalah wanita yang kuat dan tegar.

Gabriel Roschini berhasil membuat banyak wanita dewasa ini mulai meniru Maria. Mereka bekerja keras dan tanpa mementingkan diri memenuhi kewajiban ibadat mereka. Betapa sering istri-istri yang penuh pengabdian ini tak putus-putusnya menunjukkan kesabaran, ketekunan, dan kerendahan hati.

Sewaktu merenungkan sikap Maria, mereka dibantu untuk terus mendahulukan hal-hal rohani di atas kenyamanan dan kesenangan pribadi mereka. Mereka tahu, seperti halnya Maria, bahwa ibadat kepada Allah bersama suami dan anak-anak merupakan tali pemersatu keluarga.

Hal yang kita dapatkan dari tokoh mariologi Gabriel Roschini adalah bagaimana menghargai dan memperlakukan wanita dengan sebaik-baiknya. Mengapa? Karena sejatinya pria dan wanita diciptakan sama dan sederajat.

Cyrillus Harinowo: Tokoh Ekonom Katolik yang Menginspirasi setiap Insan

0

Cyrillus Harinowo, seorang tokoh ekonom Katolik yang lahir di Yogyakarta pada hari 9 Februari 1953. Beliau mengenyam pendidikan SMA di Kolese De Britto, S1 jurusan Akuntansi di Universitas Gadjah Mada, S2 jurusan Ekonomi Pembangunan di Williams College, dan S3 jurusan Moneter dan Ekonomi Internasional di Vanderbilt University.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Tiga tahun setelah lulus S3, beliau menjabat sebagai Staf Menteri Perdagangan selama kurang lebih satu tahun dan mulai meniti kariernya dengan berkarya di Bank Indonesia sebagai Kepala Urusan Pasar Uang dan Giralisasi serta Urusan Operasi Pengendalian Moneter.

Selain berkarya di Bank Indonesia, beliau juga sempat menjadi Wakil Direktur Eksekutif dan Penasihat Bantuan Teknis dan Departemen Urusan Pertukaran di International Monetary Fund (IMF) serta menjadi salah satu delegasi dalam sidang Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI) dan Consultative Group for Indonesia (CGI), sidang tahunan IMF serta Bank Dunia. Pada tahun 2003, Pak Harinowo sempat bekerja di BCA sebagai Komisaris Independen, yang kemudian pada tahun 2004 hingga saat ini bekerja di PT Unilever Indonesia Tbk sebagai Komisaris Independen pula.

Tak hanya berkiprah sebagai direktur atau delegasi, beliau juga mengajar di beberapa universitas ternama serta menjadi pembicara dan penulis artikel di dalam dan di luar negeri melalui seminar, forum, maupun media massa. Selain itu, banyak buku yang sudah ditulis dan dipublikasikan oleh beliau, misalnya buku berjudul “Utang Pemerintah” yang diterbitkan pada tahun 2002, “IMF Penanganan Krisis & Indonesia Pasca-IMF” yang diterbitkan pada tahun 2004, dan “Musim Semi Perekonomian Indonesia” yang diterbitkan pada tahun 2005. Bahkan ketika masih berkarya di Bank Indonesia, beliau beserta beberapa banker menggelar berbagai kegiatan penggalangan dana untuk GOTAUS (Gerakan Orang Tua Asuh untuk Seminari).

Bapak Cyrillus Harinowo bersama dengan Dr. Frans Teguh, M.A. sempat menjadi pembicara dalam sebuah webinar bertajuk “Membangkitkan Desa Wisata di Era Baru”. Beliau berpikir bahwa pandemi covid-19 ini dapat memunculkan kesempatan bagi industri pariwisata di daerah untuk mengembangkan potensi yang ada.

Bagi saya, Pak Harinowo patut untuk dijadikan contoh positif bagi generasi penerus. Melalui karya dan kinerjanya, beliau dapat membuktikan bahwa seorang Katolik juga bisa menjadi inspirasi bagi semua orang yang ada di sekitar. Itulah yang membuat beliau selalu sukses dan akhirnya menjadi seorang ekonom yang penting di Indonesia. Sungguh sebuah perjalanan karir yang panjang dan menginspirasi setiap insan muda Indonesia untuk bersama-sama membangun Indonesia menjadi lebih baik dengan tetap berpegang pada Tuhan.

Memulai Paroki Baru dari Nol, Belajar dari POM Bensin

0

Ketika semua Gereja merayakan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, kami, umat Paroki St. Matius Halong, Keuskupan Banjarmasin, mengadakan peresmian paroki dan pelantikan Dewan Pastoral Paroki.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Paroki Halong ini didirikan pada 1 Januari 2020 bersamaan dengan empat paroki baru lainnya. Rencana awal, paroki ini diresmikan pada 26 April 2020, namun tertunda karena tiba-tiba saja Covid-19 datang melanda negeri ini. Saat itu, saya merasa bahwa Corona membawa musibah, karena gara-gara virus ini paroki kami belum bisa diresmikan. Tapi, lambat laun, saya berpikir bahwa ternyata di balik musibah ini ada juga hikmahnya. Sebab, justru gara-gara Corona pula, kami mempunyai  kesempatan untuk berbenah.

Saya masih ingat persis, ketika saya tiba di paroki ini pada 12 Januari 2020 lalu,  saya terkena sakit kepala sebelah atau yang dikenal dengan istilah migrain. Penyebabnya bukan karena hari itu saya telat makan atau karena kelelahan melainkan karena energi saya terkuras memikirkan ulang segala pergulatan yang pernah saya alami ketika pada tahun 2015-2016 saya menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di wilayah ini.

Dulu tempat ini masih sebagai stasi sehingga dalam arti tertentu, tuntutan pastoralnya pun masih ringan, apalagi untuk saya yang saat itu masih sebagai frater TOP. Dan sekarang sudah menjadi paroki, dan saya adalah pastor paroki pertamanya. Ini bukan sesuatu yang mudah. Saya tahu itu sulit. Makanya, saya tak habis pikir apa yang akan saya alami nantinya.

Di sini belum ada apa-apa. Jauh dari bayangan paroki pada umumnya. Tak ada fasilitas ini dan itu. Bahkan untuk sekedar tidur pun, saya masih harus membentangkan tikar dan tidur di antara tumpukan kardus dan barang-barang. Ketika itulah, terlintas di benak saya suatu pertanyaan: “Tuhan, mau dibawa ke mana paroki ini?” Jam terbang saya masih sedikit, pengalaman saya pun belum banyak.

Wajah Gereja Halong Dulu

Tuhan sepertinya sedang meyakinkan saya bahwa saya tidak akan bekerja sendirian, juga misi ini bukan misi saya melainkan misi Tuhan sendiri. Dia yang memulai, Dia pula yang meneruskan. Saya hanyalah alat-Nya.

Di sinilah saya belajar dari POM Bensin untuk memulai segala-galanya dari nol. Ya, paroki baru ini dimulai dari nol. Modal saya hanya mimpi. Memang, CICM membentuk kami, anggotanya, untuk berani bermimpi. Tapi, mimpi saja tidak cukup. Berani bermimpi dan harus berani pula mewujudkan impian itu. Tapi, dari mana harus dimulai? Semua berawal dari titik nol.

Di sini pula Tuhan meyakinkan saya bahwa Ia baik. Saya bertanya satu kali, Tuhan menjawab banyak kali. Saya meminta sesuatu yang sederhana, Tuhan memberi lebih dari apa yang saya minta. Ia tahu apa yang kami mau. Ia memberikan apa yang dibutuhkan di sini.

Tuhan menyentuh hati segenap umat-Nya untuk membantu kami mewujudkan mimpi kami. Maka, perlahan tapi pasti, wajah Gereja Paroki ini mulai terbentuk, umatnya pun terlihat antusias. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih untuk semua donatur yang sudah menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam mewujudkan mimpi-mimpi kami.

Wajah Gereja Halong Kini

Di sini juga saya belajar dari St. Yoseph, suami Maria. Ia bekerja dalam diam, tapi hasil kerja jelas dan pasti. Selama Corona, kami bekerja, berbenah, dan memberi bentuk atas wajah paroki ini. Tidak fantastis memang, tapi paling tidak sekarang saya tidak perlu lagi tidur di antara kardus-kardus dan tidak perlu lagi takut lantai Gereja ambruk karena papan-papannya rapuh.

Saat Peresmian Paroki

Saya menjadi semakin yakin bahwa Tuhan berpihak pada kami. Ia adalah raja kami, dan kami anak-Nya. Keyakinan ini jugalah yang mendorong kami untuk memilih tanggal 22 November, pada perayaan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam sebagai tanggal peresmian paroki kami. Sebab, kami yakin bahwa kami adalah anak-anak raja, dari Raja Semesta Alam. Karena kami anak raja, kami diperlakukan secara istimewa oleh-Nya. Syukur kepada-Mu Tuhan, terima kasih untuk para donatur. JK-IND.

Membangun Spiritualitas Remaja Katolik dengan Meneladani Carlo Acutis

0

Carlo Acutis anak dari pasangan Andrea Acutis dan Antonia Salzano. Ia lahir di London pada 3 Mei 1991. Empat bulan setelah kelahirannya, keluarganya pindah ke Milan. Carlo menghabiskan waktu kanak-kanaknya di Milan.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Sejak kecil, Carlo sudah menunjukan ketertarikannya pada bidang agama. Dia menerima komuni pertama saat berusia tujuh tahun. Carlo dididik di salah satu sekolah menengah di Milan, yaitu sekolah Jesuit Instituto Leone XIII.

Sejak menerima komuni pertama, Carlo Acutis menjadi betul-betul mengabdikan diri pada Ekaristi. Ia selalu berusaha untuk mengikuti perayaan Ekaristi secara rutin. Bahkan, setiap minggu ia selalu mengaku dosa. Dirinya juga melakukan devosi kepada Bunda Maria. Ia pernah berkata bahwa Bunda Maria akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidupnya. Atas pengaruh Carlo, kehidupan orang tuanya yang semula tidak terlalu percaya perlahan-lahan berubah.

Sama seperti remaja pada umumnya, Carlo pun sangat menyukai film, game, dan hangout bersama teman-teman. Ia juga membuat sebuah web yang bernama carloacutis.com. Karenanya, ia dikenal sebagai ahli computer oleh orang-orang di sekitarnya.

Menurut ibunya, Carlo memanfaatkan internet untuk ‘mempengaruhi’ orang lain agar dekat dengan Tuhan. Salah satu karyanya adalah membuat situs web katalog mujizat Ekaristi. Dia menyelesaikannya pada tahun 2005 sebelum dirinya menderita penyakit leukemia. “Menurut Carlo, Ekaristi merupakan jalan masuk ke surga dan jalan menuju kesucian,” ujar ibunya.

Carlo juga sangat menghormati Bunda Maria. pernah menyebutkan bahwa hanya Bunda Maria satu-satunya wanita yang akan anda dalam hidupnya. Jika dilihat sekilas kita mungkin berpikir itu hanyalah kata-kata dari seorang anak. Namun dia bersungguh-sungguh akan perkataannya. Dia berdoa Rosario dengan sungguh.

Setelah dirinya menderita penyakit leukemia, dia berkata bahwa dirinya akan menyerahkan penderitaannya kepada Paus, Gereja dan Tuhan. Dia sama sekali tidak takut akan penyakitnya. Di saat terakhir pun dia meminta kepada kedua orang tuanya untuk membawanya berkeliling ke tempat-tempat ziarah di mana keajaiban Ekaristi terjadi. Pada tanggal 12 Oktober 2006 Carlo pulang kepada Bapa. Sesuai dengan keinginannya, ia dimakamkan di Asisi.

Banyak hal yang bisa kita teladani dari seorang Carlo Acutis. Di masa pandemi ini kita bisa mengimplementasikan nilai-nilai yang kita dapat dari seorang Carlo Acutis. Carlo yang begitu muda saat itu didiagnosa menderita penyakit Leukimia. Sesuatu yang tidak dapat diduga sebelumnya.  Namun toh ia tidak putus asa atas apa yang terjadi padanya. Justru sebaliknya, ia semakin mendekatkan diri pada Tuhan.

Sikap selalu mengandalkan Tuhan inilah yang kita butuh selama covid-19 ini. Banyak kemungkinan akan terjadi selama masa pandemi ini. Kita mungkin mulai bertanya  “Apa yang harus saya lakukan? Apakah jika saya terpapar saya bisa sembuh? Bagaimana jika keluarga saya juga ikut terpapar?” Berbagai macam pertanyaan mungkin akan terlintas. Hal ini juga bisa membuat kita gelisah.

Percayalah bahwa pandemi ini merupakan salah satu cara dari Tuhan untuk menyadarkan umat-Nya. Sebelum pandemi ini kita mungkin seringkali melupakan Tuhan. Sekarang saatnya untuk kembali ke jalan Tuhan. Percayalah saja setelah kita melalui semua ini dengan berharap kepada Tuhan akan ada sesuatu yang sangat baik yang telah Tuhan rencanakan.

Mengimplementasikan Teladan Iman Tokoh Katolik, Maria de la Purisima Salvat Romero, di Masa Pandemi COVID-19

0

Di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, ada berbagai aspek kehidupan yang berubah. Untuk itu, kita harus  tetap semangat dan kuat dalam menjalani hari-hari kita. Kita dapat mengaplikasikan nilai-nilai teladan iman dari berbagai tokoh Katolik, misalnya saja dari Santa Maria de la Purisima Salvat Romero. Dia merupakan seorang biarawati dari Spanyol dan anggota dari suster-suster Persekutuan Salib. Dia mengambil nama Purisima Salvat Romero setelah menjadi anggota dari suster-suster Persekutuan Salib.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Santa Maria de la Purisima Salvat Romero lahir di Madrid, Spanyol pada 20 Februari 1926 dan meninggal pada 31 Oktober 1998 di Sevilla, Spanyol. Dia merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara, lahir dari pasangan Ricardo Salvat Albert dan Margarita Romero Ferrer. Dia dibaptis dengan nama Maria Isabel di Gereja Our Lady of the Conception dan menerima komuni pertama pada usia enam tahun.

Di balik berbagai pencapaian yang ia tempuh yakni menjadi seorang biarawati, ada kisah dalam kehidupannya yang menarik untuk disimak, yaitu mengenai teladan imannya sebagai orang Katolik.

Maria de la Purisima Salvat Romero mempunyai komitmen yang kuat untuk menegakkan magisterium Gereja. Pada bulan Juli 1936 hingga 1938, Romero dan keluarganya meninggalkan Spanyol menuju Portugal untuk menghindari penganiayaan Perang Saudara Spanyol. Mereka kembali setelah konflik berakhir. Selama berada di Portugal, dia menyadari panggilan sejatinya untuk hidup religius. Ibunya menyetujui keputusan ini namun ayahnya tidak menyetujui,  meskipun kemudian ayahnya mengalah pada keinginan yang kuat dari putrinya itu.

Romero bergabung dengan Suster Kompi Salib  pada tanggal 8 Desember 1944 dan untuk pertama kalinya menjadi anggota kongregasi pada 9 Juni 1945. Romero kemudian mengucapkan kaul sementara pada 27 Juni 1947 dan mengambil kaul kekal pada 9 Desember 1952.

Romero terus menjaga karisma sambil berfokus pada kesetiaan yang diperbarui pada pesan Injil dan magisterium Gereja, serta penekanan tambahan pada devosi Maria dan Ekaristi. Ia juga bertemu dengan orang sakit dan orang miskin setiap pagi, bekerja tanpa lelah untuk mereka dalam hal menyediakan makanan dan membersihkan pakaian mereka.

Di masa pandemi Covid-19 ini, kita perlu mengimplementasikan nilai-nilai yang telah dicontohkan oleh Maria de la Pursima Salvat Romero, yaitu hidup religius, membangun relasi  dengan Tuhan dan sesama. Di saat ini kita memang dibatasi untuk beribadah di Gereja, namun gereja juga sudah menyediakan sarana agar kita dapat beribadah secara virtual. Begitu juga untuk membangun relasi dengan sesama, di tengah pandemi saat ini, kita bisa melakukannya secara virtual.

Adanya pandemi ini, menyebabkan menurunnya pendapatan sebagian besar masyarakat bahkan ada yang sampai kehilangan mata pencahariannya. Karenanya, kita harus saling peduli, seperti Maria de la Purisima Salvat Romero yang peduli dengan sesama tanpa membeda-bedakan. Kita membantu mereka yang terdampak pandemi misalnya dengan saling berbagi makanan, kebutuhan sehari-hari, ilmu dan lain sebagainya.

Sebagai orang beriman, kita harus tetap yakin dan percaya, di balik semua peristiwa, keadaan atau masalah yang kita alami saat ini, Tuhan sudah merencanakan yang terbaik, yang tidak bisa terpikirkan oleh manusia. Dan semoga teladan iman dari Maria de la Purisima Salvat Romero bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk saling membantu dan mewartakan Sabda Tuhan.

Mgr. Petrus Canisius Mandagi Ditunjuk sebagai Uskup Agung Merauke

0

Paus Fransiskus mengangkat Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC sebagai Uskup Agung Merauke. Seperti diketahui, Mgr. P. C. Mandagi, MSC adalah Administrator Keuskupan Amboina. Mgr. P. C. Mandagi, MSC akan tetap menjadi Administrator Keuskupan Amboina hingga Paus menunjuk Uskup baru Amboina.

Proficiat kepada Mgr. P. C. Mandagi, MSC.

Sumber: Page Facebook MSC, https://web.facebook.com/MSC-of-Mollucas-486945902132090