13 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 37

Ketika Wabah Melanda, Gembala yang Baik Tak Ingin Dombanya Panik

0
Tuhan Yesus gembala yang baik. Ia menjadikan segala-galanya baik.

Meningkatnya jumlah pasien positif Covid-19 tiap harinya menyebabkan situasi sekeliling kita dari hari ke hari makin sulit; sehingga rasa was-was, cemas, dan takut, selalu menghantui pikiran serta perasaan kita.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Menghadapi situasi sulit seperti sekarang ini, banyak orang mulai bertanya-tanya: “Apakah Tuhan tidak peduli terhadap keadaan kita? Ataukah Ia tidur di saat-saat seperti ini? Di mana kah Tuhan?”

Sebagai orang yang percaya, kita yakin se-yakin-yakinnya – dengan tidak ada keraguan sedikit pun – bahwa Tuhan pastilah peduli terhadap keadaan kita. Jika saja Dia tidak peduli, tentu saja kita semua sudah binasa. Kita tak mungkin bisa hidup tanpa Tuhan; sebab hanya ‘dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia” (lih. Yoh. 1:4).

Tuhan tidak pernah tidur. Itu pasti. Dia juga tidak pernah menutup mata-Nya terhadap penderitaan kita. Tak mungkinlah Dia yang Mahabaik membiarkan kita menderita. Justru sebaliknya, ‘Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata’ (lih. Mrk. 7:37).

Bukannya tidak peduli, Tuhan hanya mau kita bersabar sampai waktu-Nya tiba. Tuhanlah yang paling tahu kapan waktu terbaik untuk memulihkan keadaan kita. Waktu Tuhan dan waktu kita tidaklah sama. Yakinlah, Ia akan ‘membuat segala sesuatu indah pada waktunya’ (Pkh. 3:11).

Tak perlu diragukan lagi, Tuhan sudah menyiapkan segala yang terbaik bagi kita masing-masing. Ibaratnya, jika para orang tua di dunia ini tahu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, apalagi Tuhan.

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Mat. 7:11; Luk. 11:13).

Saat ini, sampai kapanpun juga, kita pasti membutuhkan yang namanya pertolongan. Dan, ‘pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi’ (Mzm. 124:8).  Kepada Dialah kita meminta pertolongan, dan Ia pasti akan memberikan pertolongan-Nya. Yang perlu kita miliki hanyalah sikap sabar menanti dan setia berada di jalan-Nya.

Jangan sampai situasi sulit seperti sekarang ini membuat kita berubah pikiran dan mulai beralih ke jalan lain, atau malah mencari jalan sendiri-sendiri. Percayalah, itu hanya akan membuat kita tersesat.

“Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat” (lih. 2 Ptr. 2:15).

Tetaplah berada di jalan Tuhan; jangan sampai tersesat. “Maka lakukanlah semuanya itu dengan setia, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri” (lih. Ul. 5:32)

Kita bersyukur karena mempunyai seorang gembala yang selalu menuntun dan mengarahkan jalan kita. Gembala yang kita punyai bukan sembarang gembala. Dia adalah gembala yang baik.

Ingat, tidak semua gembala itu baik. Selain gembala yang baik, ada juga gembala yang jahat. Gembala yang jahat ‘ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu’ (lih. Yoh. 10:12).

Gembala yang baik tak begitu. Gembala yang baik tahu di mana sumber air dan rumput hijau. Ke sanalah domba-dombanya diantarnya.

“Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang” (lih. Mzm. 23:2).

Gembala yang baik, tatkala binatang buas datang menghadang, ia tidak kabur. Juga, ketika wabah melanda, ia tak ingin dombanya panik. Sebaliknya, ia rela menderita demi menjamin keselamatan domba-dombanya.

Siapa gembala yang baik itu? Dia adalah Yesus, Tuhan kita. ‘Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib’ (Flp. 2:8) – demi menjamin keselamatan kita, domba-domba-Nya. Ia berkata:

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh. 10:11).

Tak ada gembala lain sebaik Tuhan Yesus. Ia mengenal kita, tahu segala kelebihan dan kekurangan kita, mengerti kebutuhan kita, dan peduli terhadap keadaan kita. Ia tidak akan membiarkan kita tersesat dan menderita.

Hanya saja, apakah kita sabar menunggu waktu-Nya dan setia mengikuti arahan-Nya, atau justru membelot ke jalan lain, dan atau membuat jalan sendiri? Jadilah domba yang sabar dan setia; bukan domba yang bandel apalagi rewel. —JK-IND—

Krisis Jawaban

0
Sumber: Parokicikarang.org

Hari ini  adalah hari doa panggilan sedunia ke-57. Gereja Katolik di seluruh dunia secara serempak mendoakan panggilan. Tentang hari doa panggilan ini, saya tergerak untuk mengutip kata-kata penting Paus Paulus VI, sang peletak dasar hari doa panggilan, yang disampaikannya pada 11 April 1964 melalui Radio. Kata-kata ini saya ambil dari pesan Paus Benediktus XVI pada hari minggu doa panggilan sedunia ke-50, 21 April 2013. Kala itu, Paus Benediktus XVI menggemakan lagi pesan pendahulunya, Paus Paulus VI.

“Hal memiliki jumlah imam yang cukup berdampak langsung pada seluruh umat beriman: bukan semata-mata karena mereka bergantung pada jumlah imam tersebut terkait dengan masalah rohani umat Kristen di masa depan, melainkan karena persoalan ini menjadi indikator yang tepat dan tak dapat dihindari tentang dinamika kehidupan iman dan kasih dari setiap jemaat  paroki dan keuskupan, sekaligus menjadi bukti kesehatan moral dari keluarga-keluarga Kristen. Di mana dapat ditemukan banyak panggilan imam dan hidup bakti, di sana terdapat banyak orang yang menghayati Injil dengan tulus” (Paus Paulus VI, Pesan Radio, 11 April 1964).

Pesan ini digemakan lagi dengan tujuan agar umat beriman tak lupa alasan penting mengapa hari doa panggilan sedunia ini ditetapkan. Dari kutipan di atas, tampak bahwa Paus Paulus VI  memberikan penekanan tentang jumlah imam dan juga jumlah kaum religius (orang yang menjalankan hidup bakti: biarawan/ti) menjadi indikator dinamika kehidupan iman sekaligus bukti kesehatan atau kematangan moralitas keluarga-keluarga Katolik.  Bahkan Paus menggarisbawahi bahwa di mana ditemukan banyak panggilan menjadi imam dan hidup bakti (biarawan/ti), di sana banyak orang menghayati Injil dengan tulus.  

Menurut saya, dapat juga dikatakan sebaliknya. Tentu ini asumsi pribadi. Di mana tidak ada atau hanya sedikit yang mau menjadi imam atau menjalankan hidup bakti, di sana Injil belum dihayati dengan tulus. Bahkan di sana juga kematangan  iman dan moralitas umat Katolik perlu mendapatkan perhatian yang serius. Untuk tidak mengatakan bahwa kematangan iman dan moralitas di sana  belum bertumbuh dengan baik. Tentu  asumsi ini bisa diperdebatkan, sebab ada kompleksitas situasi dan kondisi yang menyebabkan hal demikian. Tidak bisa hitam dan putih. Akan tetapi, asumsi ini bisa menjadi kritikan, awasan bahkan nasihat yang agak keras agar umat beriman, terutama keluarga Katolik tak lelah membarui hidup iman dan moralitas mulai dalam keluarga sendiri.

Tak Banyak (lagi)  yang Berminat

Dulu Eropa terkenal sebagai benua yang sangat ‘fanatik’ dengan iman Katoliknya. Orang Eropalah yang  meneruskan pewartaan para rasul  untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia (Bdk. Mat. 28:16-20). Mereka pergi ke pelbagai pelosok bumi untuk mewartakan iman Katolik, tak terkecuali Indonesia.  Harus diakui dengan rendah hati bahwa iman Katolik di Indonesia bertumbuh dan berkembang dengan baik berkat pewartaan para imam misionaris dan biarawan/ti misionaris asal Eropa. Saat ini banyak di antara mereka yang sudah meninggal dunia; ada juga yang sudah pulang ke Eropa dan menikmati  usia lanjut di panti jompo; ada juga beberapa orang yang bertahan di Indonesia dan menikmati masa tua di daerah misi mereka ini.

Akan tetapi, serentak kita juga disadarkan bahwa saat ini benua Eropa tidak seperti dulu lagi. Mereka tidak lagi fanatik dengan iman Katolik dan tak berminat lagi menjadi orang Katolik. Lebih mengagumkan lagi, mereka tak berminat lagi dengan agama apapun.  Bahkan tak sedikit pula yang menganggap Tuhan itu tidak ada, atau Tuhan telah mati.  Ini bukan rahasia lagi.

Jika dulu, para misionaris itu sebagian besar dari Eropa, saat ini tidak lagi. Tak ada lagi misionaris dari sana. Betapa tidak, yang beriman Katolik saja sudah sedikit. Dengan sendirinya, tempat pembinaan calon imam dan misionaris hampir tak ada. Eropa  kini justru mengharapkan misionaris dari Asia untuk segera ke sana. Itu baru Eropa. Belum benua lain.Tapi, saya tidak mau bicara terlalu jauh litani tak dirindukan ini.

Menurutku,  di tengah situasi tersebut, Gereja Katolik tetap bersyukur karena di beberapa tempat tertentu di dunia ini, khususnya yang saya tahu dengan lumayan baik, di Indonesia, panggilan menjadi imam dan biarawan/ti itu masih lumayan diminati. Walau harus diakui pula bahwa beberapa tahun terakhir cenderung menurun. Pertumbuhan panggilan di Indonesia yang masih lumayan subur ini ditandai antara lain dengan adanya tahbisan imam setiap tahun dan juga diutusnya lumayan banyak misionaris asal Indonesia ke seluruh dunia. Jumlah calon imam di setiap keuskupan dan kongregasi religius  juga masih lumayan banyak. Begitu juga jumlah suster di setiap biara. Belum lagi jumlah seminaris di seminari menengah yang lumayan banyak. Bagiku, ini membanggakan. Tentu ini anugerah Tuhan untuk Gereja Katolik dan  pantas selalu disyukuri.

Apakah menurunnya semangat menjadi imam dan biarawan/ti mencerminkan turunnya kualitas penghayatan Injil di dalam keluarga Katolik? Tak mudah menjawab pertanyaan ini. Ada banyak hal yang bisa didiskusikan tentang fenomena yang tak diharapkan ini. Akan tetapi, saya ingin membagikan penemuan pribadi saya tentang hal ini.

Bagiku, abad 21 ini adalah abad yang penuh tantangan bagi semua manusia, tak terkecuali Gereja Katolik. Di satu sisi, manusia berbangga karena pada abad ini, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin canggih. Itu memudahkan urusan manusia. Semuanya serba cepat dan canggih. Komunikasi juga umumnya sangat lancar. Dunia seperti sebuah kampung global. Setiap orang bisa mengetahui keadaan  yang sedang terjadi di belahan bumi lain melalui internet. Pembelian dan pengiriman barang dan jasa juga tak sulit. Sepertinya manusia bisa melakukan segalanya dengan mudah dan dimanjakan oleh segala kemajuan ini. Tampak sekilas, semuanya baik-baik saja.

Benarkah demikian? Tidak juga. Ada banyak soal ditemukan pada abad canggih ini. Ada banyak krisis yang muncul sebagai konsekuensi logis kemajuan ini. Sebut saja krisis yang berhubungan dengan lingkungan hidup (kerusakan alam, kebakaran hutan, eksploitasi alam untuk kepentingan perusahaan, dan lain-lain), polusi udara dan air, pemanasan global (global warming) dan juga pelbagai masalah sosial-ekonomi-politik.

Ada juga masalah yang berhubungan dengan moralitas, antara lain: pengesahan undang-undang aborsi di negara tertentu, pemberlakuan hukuman mati, euthanasia, juga  aneka tindakan pencurian yang dilakukan dengan cara yang canggih (misalnya pembobolan bank atau ATM).  Perdagangan narkoba juga tampak lebih mudah di zaman ini. Ada juga perlombaan senjata antara negara-negara tertentu, bahkan diduga ada juga yang memproduksi senjata biologis yang sangat membahayakan peradaban. Ada juga persaingan datang antara negara tertentu yang turut mengacaukan dunia. Belum lagi orang begitu mudah saling menghina melalui media internet yang berujung pada masalah pidana bahkan perkelahian.  Ada banyak juga penipuan yang dilakukan melalui bisnis online atau sejenisnya yang memakan banyak korban.

Yang terbaru: wabah Corona (Covid-19) seperti dugaan banyak pihak, menjadi bagian penting dari krisis yang disebabkan oleh kemajuan iptek di abad 21 ini. Aneka kemajuan tampaknya  sedang memangsa  manusia yang membuatnya.

Belum lagi mental gaya hidup mewah dan mental instan (cepat saji) yang membius banyak orang. Ada juga pendewaan harta, kenikmatan tertentu dan pangkat-jabatan  di tengah masyarakat. Banyak orang tergoda bersaing mengumpulkan harta sebanyaknya, mengejar aneka kenikmatan tanpa batas dan juga meraih jabatan atau posisi sebanyak mungkin. Jika semua didapatkan, ada kepuasan tertentu. Walau tak bertahan lama.

Di tengah situasi yang kompleks ini, sudah  banyak orang juga yang memilih untuk meninggalkan  agamanya atau bahkan mengabaikan keberadaan Tuhan. Tuhan tidak ada. Tuhan sudah mati. Betapa tidak, segala kemajuan iptek dan segala kemajuan zaman ini adalah karya manusia, bukan karya Tuhan.

Atau ada juga yang tak seekstrim itu. Mereka masih beragama atau percaya bahwa Tuhan itu ada, tapi merasa tak ada waktu untuk datang kepada-Nya. Semuanya sibuk memusatkan perhatian pada perkara duniawi (mengejar harta, pangkat dan kenikmatan tertentu). Bagi mereka duduk sejenak untuk berdoa di dalam keluarga atau berkumpul di Gereja adalah aktivitas membuang waktu saja. Tak ada gunanya. Atau paling-paling mereka mencari Tuhan saat dalam suasana penderitaan. Kalau sudah segar kembali, Tuhan dilupakan lagi. Begitulah seterusnya.

Bukan tidak mungkin, suasana seperti yang saya paparkan di atas dialami oleh banyak keluarga Katolik di abad 21 ini. Salah satu akibatnya, menurut saya, semakin sedikit anak remaja atau anak muda yang memilih cara hidup yang berbeda orientasi dengan cara hidup di atas, yakni menjadi imam atau biarawan/ti. Bagaimana mungkin ada anak muda dari keluarga Katolik berminat imam dan biarawan/ti sementara mereka sudah terbiasa hidup di tengah keluarga  atau masyarakat   yang sudah terbiasa mengabaikan Tuhan dan hanya fokus mencari dan mengejar kenikmatan dunia?  Cukup sulit, tampaknya.

Krisis Jawaban

Kalau demikian, apakah memang benar  bahwa saat ini Tuhan tidak lagi memanggil kaum muda  untuk mengambil bagian dalam pewartaan Injil dengan menjadi imam dan biarawan/ti? Apakah benar ada krisis panggilan itu? Saya merenungkan, Tuhan tidak pernah berubah sikap-Nya. Ia tetap memanggil anak-anak-Nya untuk menjadi pelayan-Nya sebagaimana dahulu Ia memanggil Abraham, Musa, Yesaya, Yehezkiel, Yeremia, Samuel, Petrus, Yohanes, Yakobus dan Paulus. Ia terus berinisiatif memanggil anak-anak muda sebagaimana pada abad yang lalu Ia memanggil banyak orang Eropa menjadi misionaris dan mengutus mereka ke seluruh dunia. Ia tidak mengubah sikap-Nya hingga kekal. Jadi, tidak ada krisis panggilan!

Menurutku, yang ada pada abad 21 ini adalah  krisis jawaban. Bukan krisis panggilan! Tuhan yang baik dan tak berubah itu, tetap memanggil anak-anak-Nya menjadi imam dan biarawan/ti. Sayangnya anak-anak-Nya tak mendengarkan panggilan-Nya. Karena tak mendengarkan, maka tak ada jawaban.

Mengapa tak mendengarkan suara panggilan-Nya? Mengapa tak menjawab panggilan-Nya? Barangkali karena anak-anak abad 21 ini  hidup di dalam keluarga atau masyarakat yang sibuk (hanya) mengejar harta, pangkat dan kenikmatan duniawi. Tak ada lagi waktu untuk berdoa bersama dalam keluarga; atau jarang ada waktu untuk membaca dan mendengarkan sabda Tuhan. Semuanya sibuk memusatkan perhatian pada perkara dunia. Tuhan tidak lagi menjadi pusat hidup mereka. Padahal panggilan Tuhan itu hanya bisa didengarkan kalau mau mengambil waktu dalam keheningan doa dan membaca sabda-Nya.

Selain itu,  tawaran  aneka kemudahan, kemewahan dan kenikmatan dunia  pada abad 21 ini jauh lebih menarik daripada ajakan menjadi imam dan biarawan/ti. Apalagi panggilan jenis ini mengharuskan anak-anak muda meninggalkan aneka kemudahan dan kenikmatan duniawi, dan berjuang dalam kesederhanaan. Ditambah lagi dengan aneka aturan yang mengikat dari pagi sampai malam, sepanjang hidup. Anak-anak yang sudah terbiasa hidup mewah dan bermental instan, sulit tertarik dengan cara hidup seperti itu. Terkecuali satu dua contoh tertentu, yang mana anak orang kaya dan terkenal yang terbiasa dengan kemewahan mau menjawab panggilan Tuhan menjadi imam atau suster. Ini sangat sedikit.

Inisiatif-Nya dan Jawabanku

Ada pula yang berdalih bahwa menurunnya panggilan menjadi imam dan biarawan/ti itu karena krisis keteladanan dari para uskup, imam dan biarawan/ti. Bagi mereka, banyak kaum terpanggil yang sudah menjawab panggilan Tuhan, tapi tak hidup sesuai panggilannya. Mereka tak memberi contoh yang lain. Mereka tak ada bedanya dengan kaum awam atau manusia umumnya. Itulah yang melunturkan minat anak muda menjawab panggilan Tuhan. Baiklah. Saya tidak menyangkal hal ini, walau bagiku, ini bukan masalah nomor satu.

Menurutku, panggilan hidup menjadi imam dan biarawan/ti pertama-tama adalah inisiatif Allah (bdk. Kisah panggilan Samuel  dalam 1Sam 3:1-21)). Allahlah yang terlebih dahulu berinisiatif memanggil manusia. Kisah panggilan Samuel juga hendak menegaskan bahwa Bapa yang baik itu selalu melibatkan umat-Nya dalam karya pewartaan di dunia ini. Inisiatif Allah ini tak lain adalah  rahmat-Nya yang tercurah untuk orang-orang yang sungguh-sungguh percaya kepada-Nya seperti Samuel. Saya memang memegang teguh keyakinan ini. Panggilan yang sedang kujalani ini adalah rahmat Allah. Saya mensyukuri rahmat-Nya ini.

Akan tetapi, saya sungguh-sungguh menyadari bahwa jawaban iman dari pihakku terhadap inisiatif Allah itu tidak kalah penting. Jadi, panggilan ini adalah kerja sama antara rahmat Allah dan jawaban imanku setiap saat. Jawabanku ini bersifat personal/pribadi dan sama sekali tidak tergantung pada orang lain, termasuk orang tua, apalagi tetangga. Karena bersifat pribadi dan bebas tanpa paksaan, maka  saya berusaha tidak terpengaruh pada keteladanan orang lain (imam dan biarawan/ti) yang lebih dahulu menjawab panggilan-Nya.  Tentu saja sebagai makhluk sosial, keteladanan itu penting, tapi bagiku, itu bukan segalanya. Panggilan ini bersifat personal: Allah memanggil saya secara pribadi dan saya menjawabnya secara pribadi pula. Itulah alasan saya katakan bahwa krisis keteladanan bukan masalah nomor satu dalam ziarah menjadi imam dan biarawan/ti.

Karena panggilan ini pertama-tama inisiatif Allah yang ditanggapi dan dijawab dengan penuh iman, maka saya memiliki tanggung jawab untuk memeliharanya. Melalui perayaan liturgis dan devosional, secara istimewa melalui Ekaristi dan  merenungkan Sabda Tuhan, saya sungguh-sungguh diundang untuk menjaga ‘api panggilan’ ini. Tatkala ‘perawatan’ panggilan ini terus dilakukan, maka saya akan mengalami kebahagiaan sejati melalui jalan ini.

Senada dengan pesan Paus Fransiskus pada Hari Doa Panggilan sedunia ke-57 hari ini, saya akan terus BERSYUKUR atas  rahmat panggilan ini, juga terus menumbuhkan-mengembangkan KEBERANIAN mewartakan Injil di mana  saja saya diutus dan tiada lelah melambungkan PUJIAN atas keagungan Allah yang memanggilku seperti Bunda Maria (Bdk. Luk. 1:46-56). Saya tahu, kelelahan dan sakit kadang-kadang memberi warna bagi langkahku di jalan ini, tapi saya tak akan gentar dan terus melangkah dengan mantap, dalam iman, harapan dan kasih.

Akhirnya, di hari doa panggilan sedunia ke-57 ini, saya mengajak saudara/ti untuk mendoakan  Bapa Suci Fransiskus, para uskup, para imam dan biarawan/ti di seluruh dunia agar tetap menjalankan karya pelayanan yang dipercayakan Tuhan sebaik-baiknya dan semoha semuanya setia sampai akhir. Doakan juga para frater/bruder dan para  suster yang  masih dalam tahap formasi, juga para seminaris di seminari menengah, agar tetap menjaga dan merawat api panggilan dan terus membarui jawaban YA atas sapaan Tuhan. Doakan juga kaum muda/i, agar di tengah pelbagai situasi kemajuan dan juga kesulitan abad 21 ini, semakin banyak yang mendengarkan panggilan Tuhan dan mau menjawab YA atas udangan Tuhan mengambil bagian dalam karya pewartaan Injil dengan menjadi imam dan biarawan/ti.  Doakan juga keluarga katolik agar  terus menjadikan keluarga sebagai Gereja Kecil, tempat iman, harapan dan kasih ditumbuhkan, dihidupi dan dibagikan. Doakan agar setiap keluarga Katolik tidak terlena mengejar harta, pangkat dan kenikmatan duniawi, dan melupakan Tuhan sang asal dan tujuan hidup manusia. Sebab sesungguhnya, di dalam keluarga  yang tak melupakan Tuhan itulah, panggilan Tuhan menjadi imam dan biarawan/ti itu  bisa didengarkan dan akhirnya dijawab dengan YA secara mantap. Akhirnya, tak ada (lagi) krisis jawaban!***

 

Labuan Bajo, 3 Mei 2020

Hari Doa Panggilan Sedunia ke-57

Maria, Bunda Keteguhan Hati dan Teladan Iman

0

Seperti sudah kita ketahui bersama bahwa sejak lama Gereja menetapkan bulan  Mei sebagai bulan Maria. Tentu saja sangatlah beralasan jika Bunda Maria ditempatkan secara sangat istimewa di hati umat Katolik; sebab dia adalah bunda keteguhan hati (bdk. Ujud Gereja Indonesia tahun 2020) dan teladan iman.

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Penulis Injil Yohanes mencatat, ketika Yesus disalibkan, Bunda Maria ada di sana berada di dekat salib-Nya.

“Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena” (Yoh. 19:25).

Catatan Yohanes di sini sangatlah penting mengingat situasi seputar penyaliban Yesus pastilah mencekam; sehingga boleh jadi saat itu para murid Yesus semuanya berada di tempat persembunyian.

Kitab Suci memberi kesaksian bahwa Yesus dihakimi dan dihukum secara tidak adil, bahkan sampai mati di kayu salib. Maria, sebagai seorang ibu, dalam situasi sulit itu, ada di sana untuk menemani putranya.

Semua peristiwa mengerikan yang dialami oleh putranya dilihat dengan mata kepala sendiri oleh Bunda Maria. Ibu mana di dunia ini yang bisa tahan berdiri melihat anaknya disiksa sampai mati?

Kita bisa bayangkan betapa hancurnya hati seorang ibu ketika menyaksikan sendiri anaknya diperlakukan demikian. Tapi, hati Bunda Maria tetap teguh; sebab sejak awal – terutama setelah mendengar perkataan Simeon – ia jadi tahu apa resikonya menjadi ibu Yesus.

Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan — dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk. 2:34-35).

Bunda Maria percaya pada apa kata Simeon itu. Tapi, ia tidak gentar. Ia justru sudah memasrahkan dirinya pada kehendak Tuhan. Apapun yang terjadi, ia sudah siap.

Ketika Malaikat Gabriel menjumpainya dan memberitahu soal kelahiran Yesus, ia tunduk pada kehendak Tuhan.

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38).

Saat itu, ia tak banyak ngoceh, apalagi protes. Sebaliknya, ia justru menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya (lih. Luk. 2:19,51).

Sebagai ibu, Maria tahu persis siapa Yesus. Tatkala semua orang mempertanyakan kuasa Yesus (bdk. Mat. 21:23-27; Mrk. 6:2-3), Maria justru dengan yakin seyakin-yakinnya tahu bahwa Yesus mempunyai kuasa. Maka, ketika tuan pesta di Kana kehabisan anggur, ia tanpa ragu meminta Yesus untuk menolong mereka.

Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh. 2:3-5).

Jelaslah Bunda Maria tahu persis siapa Yesus, karena Yesus anaknya. Jelas juga Tuhan Yesus tidak menolak permintaan Bunda Maria, karena itu ibu-Nya.

Dari kisah ini kita melihat bahwa Tuhan Yesus awalnya jelas-jelas mengatakan bahwa waktu-Nya belum tiba, tapi karena yang minta adalah ibu-Nya, maka hal itu dilakukan-Nya juga.

Dan, menariknya, penulis Injil Yohanes menerangkan bahwa tindakan mengubah air menjadi anggur itu merupakan mukjizat pertama yang dilakukan oleh Yesus.

Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya (Yoh. 2:11).

Perhatikan, betapa Tuhan Yesus mendengarkan permintaan ibu-Nya. Ia tidak mengabaikan permintaan Bunda Maria begitu saja meski Ia sendiri sudah bilang bahwa waktu-Nya belum tiba.

Artinya, jangan ragu untuk meminta doa dari Bunda Maria. Bunda Maria dekat dengan putra-Nya; segala permintaannya pastilah didengarkan oleh Yesus, putranya.

Maka, mintalah doa dari Bunda Maria. Tapi jangan lupa, selain meminta doa, kita pun harus belajar dari Bunda Maria untuk tetap setia berada di dekat salib Tuhan. Jangan pernah menjauh dari salib, apalagi meninggalkannya. —JK-IND—

Bulan Maria Bersama Keluarga

0
Sumber: KeuskupanPadang.org

Melakukan banyak aktivitas di rumah karena Covid-19 dan sesekali keluar jika ada keperluan penting dan mendesak, membuat kita kadang-kadang lupa hari dan tanggal, minggu dan bulan. Atau barangkali juga ada yang selalu menghitung hari atau mengingat tanggal, minggu dan bulan saking jenuh tinggal di rumah. Entahlah. Setiap orang memiliki cara menikmati masa Covid-19 yang mengacaukan dunia ini.  Setiap orang juga punya pergulatan masing-masing di tengah situasi  yang tak dirindukan ini.

Saya hanya mau katakan kepadamu bahwa  hari ini kita sudah mulai menginjakkan kaki pada bulan kelima tahun 2020 ini, bulan Mei. Seharusnya  bagi  yang mengabdi di sekolah  (seperti saya) sudah mulai mempersiapkan diri untuk membuat Penilaian Akhir Semester (PAS)  dan anak-anak didik juga sudah  mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian. Akan tetapi, semuanya berantakan karena Covid-19 ini. Mau apa lagi.

Saya juga mau mengatakan bahwa bagi orang Katolik, bulan ini adalah kesempatan yang sangat istimewa untuk berdevosi kepada Bunda Maria secara bersama-sama sebagai persekutuan (komunitas) umat beriman. Ini bulan Maria: Kesempatan mendekatkan diri dengan Yesus melalui Maria (Per Mariam ad Jesum). Kalau bulan-bulan lain umat Katolik berdevosi kepada Maria secara pribadi atau melakukannya di keluarga atau komunitas masing-masing, pada bulan Mei (juga Oktober), umat Katolik melakukannya secara bersama-sama. Devosi yang umumnya dilakukan adalah berdoa Rosario dari rumah ke rumah. Kadang-kadang juga diakhiri dengan ziarah ke tempat  gua Maria tertentu.

Kesempatan berdevosi bersama kepada Maria ini biasanya dirindukan oleh umat Katolik. Sebab tak hanya doa bersama yang dirasakan, tetapi juga kehangatan suasana persaudaraan yang dirasakan setiap malam. Ada sharing iman; juga juga sharing canda-tawa. Jika bulan-bulan lain, umat tak memiliki waktu untuk saling mengunjungi karena pelbagai kesibukan, pada bulan Mei ini, biasanya umat berusaha sedemikian rupa agar memiliki waktu untuk berjumpa dengan umat lain. Saya menemukan, suasana persekutuan dalam suasana kasih-persaudaraan  sebagai umat Katolik benar-benar dirasakan selama berdevosi bersama pada bulan Mei.

Sayangnya, Covid-19 mengubur mimpi umat Katolik untuk membangun persekutuan (communio) melalui devosi kepada Maria pada bulan ini. Umat Katolik diminta untuk menahan diri di rumah masing-masing untuk menghindari kedekatan fisik dengan umat lain. Ini cara mencegah penyebaran Covid-19. Begitulah kata para ahlinya. Kita menghargai kebijakan ini. Tentu saja demi keselamatan diri kita sendiri dan sesama, juga demi Gereja dan dunia.

Apakah karena tak ada devosi bersama kepada Maria membuat bulan Maria ditiadakan tahun ini? Tentu saja tidak. Bulan Mei tahun ini tetap bulan Maria. Perbedaannya adalah bulan Maria tahun ini kita memaknainya secara pribadi di dalam keluarga dan komunitas kita masing-masing. Kita berdevosi kepada Maria  melalui doa Rosario atau doa Marial lainnya secara bersama-sama dalam keluarga dan komunitas.

Saya yakin, kalau setiap keluarga dan komunitas memanfaatkan bulan Maria ini sebaik mungkin melalui berdoa Rosario bersama atau doa Marial lainnya, pasti banyak hal positif yang dirasakan dan didapatkan. Pasti ada pertumbuhan iman  yang menggembirakan dari setiap anggota keluarga; ada juga kehangatan kasih-persaudaraan yang barangkali sudah mulai redup selama ini. Kebersamaan dalam doa biasanya selalu mendatangkan rahmat secukupnya bagi diri, teristimewa bagi keluarga dan komunitas. Kebersamaan yang terus terbentuk melalui doa bersama menjadi kekuatan  bagi keluarga dalam  merajut kebersamaan mencari nafkah atau membangun keluarga secara ekonomis dan sosial. Bagi saya, kebersamaan seperti inilah yang menjadi inti hidup keluarga  Katolik yang tak lain adalah Gereja Rumah Tangga itu (ecclesia domestica) atau yang lazim juga disebut Gereja mini atau Gereja kecil. Allah yang menjadi pusat kehidupan keluarga, bukan yang lain.

Pesan Paus Fransiskus

Sehubungan dengan berdoa Rosario dalam keluarga  yang tak lain adalah Gereja Rumah Tangga itu, pada tanggal 25 April yang lalu, Paus Fransiskus secara khusus menulis pesan kepada semua umat Katolik. Berikut ini saya tampilkan pesan Bapa Suci tersebut yang saya ambil dari dokpenkwi.org.

Saudara-saudari terkasih,

Bulan Mei hampir tiba, bulan di mana Umat Allah mengungkapkan dengan intensitas istimewa kasih dan devosi mereka kepada Perawan Maria Terberkati. Telah merupakan suatu tradisi di bulan ini untuk mendoakan Rosario di rumah bersama-sama dengan keluarga. Pembatasan-pembatasan yang diakibatkan oleh pandemi ini menjadikan kita terlebih lagi menghargai aspek “keluarga” ini, juga dari sudut pandang rohani.

Untuk alasan inilah, saya ingin mendorong semua orang untuk menemukan kembali keindahan mendoakan Rosario di rumah selama bulan Mei. Ini dapat dilakukan baik dalam sebuah kelompok maupun secara perorangan; Anda bisa memutuskannya sesuai dengan situasi Anda, dengan memanfaatkan kedua peluang tersebut sebaik-baiknya. Kunci untuk melakukan ini adalah selalu dengan kesederhanaan, dan tidaklah sulit juga untuk menemukan di internet contoh-contoh doa yang baik untuk diikuti.

Saya juga memberikan dua buah doa kepada Bunda kita yang dapat Anda daraskan di akhir doa Rosario, dan yang akan saya doakan juga selama bulan Mei ini dalam kesatuan batin dengan Anda sekalian. Saya menyertakan doa-doa tersebut dalam surat ini agar dapat digunakan oleh semua orang.

Saudara-saudari terkasih, merenungkan wajah Kristus dengan hati Maria, Bunda kita, akan terlebih erat lagi mempersatukan kita sebagai keluarga rohani dan akan membantu kita untuk mengatasi masa pencobaan ini. Saya mengingat Anda sekalian dalam doa-doa saya, terutama mereka yang menderita dengan amat sangat, dan saya memohon kepada Anda semua untuk mendoakan saya juga. Saya berterimakasih, dan dengan kasih yang besar memberikan berkat saya kepada Anda sekalian.

Roma, St. Yohanes Lateran, 25 April 2020

Pesta St. Markus Penginjil

Paus Fransiskus

 

Doa Penutup Rosario

Selain memberikan pesan yang indah di atas, Paus Fransiskus juga menyusun dua buah doa yang indah dan ia tawarkan kepada umat Katolik agar menggunakannya pada akhir setiap doa Rosario dalam keluarga. Berikut ini juga saya tampilkan dua buah doa yang dibuat oleh Bapa Suci tersebut yang saya ambil dari dokpenkwi.org.

  1. Doa Pertama

Ya Bunda Maria, engkaulah kesembuhan orang-orang sakit. Kami mempercayakan diri kami kepadamu yang pada salib telah dipersatukan dalam penderitaan Yesus, dengan tetap teguh dalam imanmu.

Engkau, keselamatan bangsa Romawi, mengetahui apa yang kami butuhkan, dan kami tahu bahwa engkau akan memenuhinya, sehingga sebagaimana di Kana yang di Galilela, sukacita dan perayaan boleh kembali setelah masa pencobaan ini.

Tolonglah kami, Bunda Kasih Ilahi, untuk menyelaraskan diri kami dengan kehendak Bapa, dan untuk melakukan yang diperintahkan Yesus kepada kami. Karena ia telah menanggung di dalam diri-Nya penderitaan kami, dan membebani diri-Nya dengan kesusahan-kesusahan kami,  untuk membawa kami melalui salib kepada sukacita kebangkitan.

Kami berlindung kepadamu, ya Bunda Allah yang kudus. Janganlah mengabaikan doa kami bila kami dirundung nestapa. Bebaskanlah kami selalu dari segala mara bahaya, ya Perawan mulia yang terpuji. Amin.

 

  1. Doa Kedua

“Kami mencari perlindunganmu ya Bunda Allah yang kudus.”

Dalam situasi tragis saat ini, ketika seluruh dunia menjadi mangsa kecemasan dan penderitaan, kami datang kepadamu, Bunda Allah dan Bunda kami, dan mencari pertolongan di bawah perlindunganmu.

Perawan Maria, palingkanlah matamu yang penuh belas kasih kepada kami di tengah pandemi virus Corona ini. Hiburlah mereka yang putus asa dan meratapi orang-orang terkasih mereka yang meninggal, dan kadang dimakamkan dengan cara yang mendukakan hati mereka.  Tinggallah dekat kepada mereka yang mengkhawatirkan orang-orang terkasih mereka yang sedang sakit, dan demi mencegah penyebaran penyakit ini, tidak dapat berada dekat dengan mereka. Penuhilah dengan pengharapan mereka yang disusahkan oleh ketidakpastian masa depan serta akibat-akibat dari wabah ini terhadap pekerjaan dan perekonomian mereka.

Bunda Allah dan Bunda kami, doakanlah kami pada Allah Bapa segala kerahiman, agar penderitaan besar ini boleh berakhir dan agar fajar pengharapan dan damai boleh kembali menyingsing. Mohonkalah kepada Putra ilahimu, sebagaimana dulu engkau lakukan di Kana, agar keluarga-keluarga dari para korban dan mereka yang sakit dihibur, dan hati mereka dibukakan bagi keyakinan dan kepercayaan.

Lindungilah para dokter, perawat, petugas kesehatan dan sukarelawan yang berada di garis depan situasi yang genting ini, dan mempertaruhkan hidup mereka untuk menyelamatkan yang lain. Dukunglah upaya-upaya heroik mereka dan anugerahkanlah kepada mereka kekuatan, kemurahan hati dan kesehatan yang tiada henti.

Tinggallah dekat kepada mereka yang membantu orang-orang sakit siang dan malam,  dan kepada para imam yang karena kepedulian mereka akan pelayanan dan kesetiaan kepada Injil, berusaha membantu dan mendukung semua orang.

Perawan Terberkati, terangilah pikiran para pria dan wanita, yang tergabung dalam penelitian-penelitian ilmiah, agar mereka dapat menemukan solusi yang efektif untuk mengatasi virus ini.

Dukunglah para pemimpin bangsa-bangsa, agar dengan kebijaksanaan, kepedulian dan kemurahan hati dapat membantu mereka yang berkekurangan dalam kebutuhan-kebutuhan hidup yang mendasar dan dapat menciptakan solusi-solusi ekonomi dan sosial yang diilhami oleh solidaritas dan pandangan yang jauh ke depan.

Bunda Maria yang tersuci, gugahlah hati nurani kami, agar dana yang sangat besar yang diinvestasikan dalam pengembangan dan penyediaan senjata dapat digunakan untuk mendukung penelitian yang efektif untuk mencegah agar tragedi serupa tidak lagi terjadi pada masa yang akan datang.

Bunda terkasih, tolonglah kami untuk menyadari bahwa kami semua merupakan anggota dari suatu keluarga besar dan untuk mengakui ikatan yang mempersatukan kami, sehingga dalam semangat solidaritas dan persaudaraan, kami dapat membantu meringankan situasi kekurangan dan kemiskinan yang tak terhitung banyaknya. Jadikanlah kami kuat dalam iman, tekun dalam pelayanan, dan teguh dalam doa.

Bunda Maria, Penghibur orang yang berduka, rangkullah semua anakmu dalam kesukaran ini, dan berdoalah agar Allah mengulurkan tangan-Nya yang penuh kuasa dan membebaskan kami dari pandemi ini, sehingga kehidupan dapat meneruskan jalannya kembali dengan tenteram.

Kepadamu, yang menyinari perjalanan kami sebagai tanda pengharapan dan keselamatan, kami mempercayakan seluruh diri kami, ya Perawan Maria yang manis, penuh cinta dan belas kasih. Amin.

Semoga pesan Paus Fransiskus ini meresap dalam hati kita dan kita memaknainya dengan baik selama bulan Maria ini. Kedua doa  indah dan mendalam yang ditawarkan  Bapa Suci Fransiskus  di atas bisa kita pakai pada akhir doa Rosario bersama keluarga.

Akhirnya, saudara/i terkasih, selamat mendekatkan diri kepada Yesus melalui Maria pada bulan Mei, bulan Maria ini. Teruslah yakin dan berharap bahwa Tuhan tidak sedang tidur. Ia masih memperhatikan kesusahan dunia ini. Barangkali juga ia sedang mendidik kita saat ini agar mengarahkan pandangan kepada-Nya dan mengakui dengan rendah hati bahwa tanpa Tuhan, kita tak ada apa-apanya. Ia pasti memulihkan dan menyembuhkan kita dan dunia ini pada waktu yang dikehendaki-Nya, bukan pada waktu yang manusia kehendaki. Bukankah waktu Tuhan selalu yang terbaik?

Selain mendoakan diri dan keluarga/komunitas sendiri, janganlah lupa doakan dunia ini; doakan orang lain yang sedang berkesusahan karena Corona dan penyakit lainnya, doakan yang berkesusahan karena kelaparan dan situasi lain yang tak bisa dihindari; doakan juga para pemimpin kita (daerah, negara, Gereja dan dunia) agar bisa bekerja sama dengan baik dan bijak dalam memulihkan dunia ini. Secara khusus, doakan para pelayan kesehatan di seluruh dunia yang tengah mengabdi Tuhan dan sesama melalui perutusan mereka, juga relawan/ti yang tiada kenal lelah melakukan banyak hal baik pada situasi yang tak dirindukan ini demi kebaikan dan kesembuhan dunia ini; kebaikan kita semua dan alam ciptaan-Nya.***

Selamat memasuki Bulan Maria bersama keluarga terkasih.  Tuhan Yesus memberkati kita!

Ave Maria! Per Mariam ad Jesum!

 

Labuan Bajo, 1 Mei 2020

 

 

Santo Montfort, Peziarah Marial

0

Hidup adalah peziarahan. Bagi orang beriman, tujuan peziarahan adalah persatuan yang intim dengan Tuhan. Ada banyak tokoh dalam Gereja yang telah menjadi peziarah iman yang pantas diikuti. Salah seorang figur penting itu  adalah santo Louis-Marie Grignion de Montfort (1673-1716) atau yang sering disebut Santo Montfort.

Ia lahir pada 31 Januari 1673 di kota Montfort-la-Cane di Btetagne (kini namanya Montfort-sur-Meu)-Prancis Barat. Nama baptisnya adalah Louis. Nama Grignion itu diambil dari nama ayahnya (Jean-Baptiste Grignion); lalu,  nama Marie itu ditambahkan setelah ia mengalami ‘perjumpaan’ yang mesra dengan Yesus melalui kedekatannya dengan Bunda Maria. Sedangkan, Montfort itu diambil dari nama kota kelahirannya. Dengan demikian, namanya yang panjang itu berarti Louis anak Grignion dari kota Montfort yang memiliki devosi mendalam kepada Bunda Maria.

Santo Montfort lahir di tengah keluarga beriman katolik yang taat. Situasi keluarga ini sangat mempengaruhi ziarah hidupnya. Pendidikan iman katolik sungguh diterimanya di dalam keluarga. Hal ini terpancar melalui ketekunannya dalam berdoa, secara khusus berdevosi kepada Bunda Maria. Ia rajin berdoa rosario. Bahkan, ia selalu mengajak adik-adiknya untuk berdoa bersamanya. Jika ada yang tidak mau berdoa, ia berkata, ‘kalau kamu berdoa rosario, kamu akan menjadi cantik sekali.” Kata-kata ini yang membuat  adik-adiknya mau berdoa.

Ketika menjadi siswa di sebuah  kolese Yesuit di Rennes, Louis tidak mudah terpengaruh dengan kenakalan teman-temannya. Ia lebih suka hening dan seringkali berdoa di depan patung Bunda Maria. Rupanya ia meminta petunjuk Bunda Maria untuk hidup selanjutnya. Selain belajar di sekolah, ia juga aktif mengikuti karya kerasulan kecil. Antara lain, ia tekun mengunjungi orang-orang sakit. Pengalaman devosi yang mesra kepada Bunda Maria dan karya kerasulan di antara orang-orang sakit membuat Louis merasa dipanggil menjadi imam. Atas bantuan seorang ibu yang baik (penderma) dari Paris (kenalan ayahnya), Louis pergi melanjutkan studinya di Seminari Tinggi Saint-Sulpice dan juga di universitas Sorbone di Paris.

Singkat cerita, setelah melewati perjuangan yang tidak ringan, akhirnya Louis ditahbiskan menjadi imam pada 5 Juni 1700. Sebagai ucapan syukur atas peristiwa berahmat ini sekaligus menyerahkan diri kepada Bunda Maria untuk hidupnya sebagai imam, ia menambahkan nama Maria di belakang namanya. Jadi, ia sekarang bernama Louis-Marie.

Setelah menjadi imam, kegigihannya dalam mewartakan kerajaan Allah semakin tampak. Secara khusus, ia mengajarkan tentang devosi yang mesra kepada Bunda Maria. Yang pasti, ia tidak hanya mengajarkan devosi ini kepada banyak orang, tetapi terlebih dahulu ia melakukannya. Kedekatannya  dengan umat yang miskin dan juga pewartaannya yang menyentuh banyak orang ternyata mendatangkan tekanan bahkan ancaman baginya. Ada orang yang tidak suka dengan dirinya, bahkan ketidaksukaan itu datang darirekan-rekan imamnya. Situasi penolakan ini tak pernah mematahkan semangatnya untuk mewartakan kebaikan Allah.

Pada tahun 1706, ia memutuskan untuk pergi ke Roma dan bertanya langsung kepada Bapa Suci apa yang harus dilakukannya. Sesungguhnya, ia mau menjadi misionaris di luar Prancis. Akan tetapi, Bapa Suci,  Paus Clement XI meminta Louis-Marie untuk kembali berkarya di Prancis. Sejak pulang dari Roma, ia tekun melaksanakan tugasnya sebagai pewarta Sabda Allah. Ia menyadarkan umat kristiani bahwa Tuhan sangat mengharapkan keterlibatan setiap orang yang dibaptis dalam karya pewartaan Sabda Allah. Pembaruan janji-janji baptis adalah hal penting yang harus dilakukan. Melalui pembaharuan itu, umat beriman diharapkan mampu menjalani hidupnya  sebagai murid-murid Kristus sesuai dengan janji-janji baptisnya.

Selain itu, Montfort juga selalu mengajak umat beriman untuk merenungkan peran sentral Bunda Maria dalam sejarah keselamatan. Peran sentral Bunda Maria dalam sejarah keselamatan hendaknya mendorong umat untuk menghormati Maria secara istimewa. Bahkan umat beriman hendaknya membaktikan diri kepada Yesus lewat bunda Maria. Untuk itu, ia mengajak umat untuk rajin berdoa rosario. Ia meninggal dunia pada 28 April 1716 di St-Laurent-sur-Sevre.

Pada saat itu, usianya masih muda (43 tahun), setelah 16 tahun menjadi imam. Walaupun masih muda, ia sudah menulis beberapa buku penting tentang ajarannya.Ia adalah bapa pendiri Serikat Maria Montfortan (SMM) dan suster Puteri-Puteri Kebijaksanaan (Daughter of Wisdom-DW). Setelah melakukan penyelidikan secara serius, pada tahun 1853 diakui secara resmi bahwa tulisan-tulisannya sesuai dengan ajaran Gereja. Tahun 1888, ia dibeatifikasi oleh Paus Leo XIII. Kemudian, pada 20 Juli 1947, ia dikanonisasi oleh Paus Pius XII.

Bakti Sejati kepada Maria

Santo Montfort telah menunjukkan bagaimana sebaiknya orang beriman berziarah menuju Tuhan. Ia adalah peziarah Marial. Melalui cara hidup yang terungkap melalui tulisan-tulisannya tentang Maria, ia menunjukkan bahwa berziarah kepada Kristus melalui persatuan yang mesra dengan Bunda Maria adalah pilihan yang tepat.

Salah satu buku terkenal yang pernah ditulisnya adalah Bakti Sejati Kepada Maria (BS). Buku ini baru ditemukan pada tahun 1842  atau 127 tahun setelah kematian santo Montfort. Hingga saat ini, buku Bakti  Sejati kepada Maria ini telah diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa di seluruh dunia. Banyak orang yang  sangat terpukau dengan buku ini. Antara lain, Frank Duff (Pendiri Legio Maria) dan Santo Yohanes Paulus II. Bahkan motto kepausan santo Yohanes Paulus II yakni Totus Tuus dipengaruhi oleh uraian Santo Montfort dalam buku Bakti Sejati. Uraian santo Montfort sangat membantunya dalam memahami devosi kepada Maria. Ia merasa berhutang budi kepada Santo Montfort. Hal ini disampaikannya ketika berkunjung ke makam Santo Montfort di Saint Laurent-sur-Sevre, Prancis, 19 September 1996.

Dalam buku Bakti Sejati kepada Maria (BS), santo Montfort menulis, “Yang Tak Terhampiri telah mendekati kita. Melalui Maria Dia telah mempersatukan kita dengan diri-Nya secara mesra, sempurna dan malahan  dengan kemanusiaan kita. Namun tidak sedikit pun dari keagungan-Nya hilang. Kita juga harus melalui Maria mendekati Allah dan mempersatukan diri kita secara sempurna dan mesra dengan Yang Mahamulia tanpa takut akan ditolak (BS 157).” Pada bagian lain dalam Bakti Sejati, ia juga menulis, “Saya tidak percaya bahwa seorang dapat memperoleh persatuan yang mesra dengan Tuhan dan kesetiaan yang sempurna kepada Roh Kudus, apabila ia tidak berhubungan secara sungguh-sungguh dengan Perawan tersuci dan bergantung sepenuhnya pada bantuan wanita ini (BS 43).”

Pernyataan Santo Montfort di atas menegaskan hal penting bahwa Bunda Maria sangat berjasa dalam kehidupan umat beriman. Ia meyakinkan umat beriman betapa Bunda Maria sangat berkenan kepada Allah. Bahkan Allah sendiri pun jatuh cinta padanya (bdk. Luk 1:26-38). Keistimewaan Maria ini hendaknya menyadarkan umat beriman bahwa ia pantas dihormati. Bukan hanya itu. Kesaksian iman santo Montfort ini juga sekaligus mengajak kita agar menyerahkan diri pada pelukan keibuan sang Bunda melalui aneka devosi Marial (misalnya Doa Rosario, Novena dan doa-doa Marial lainnya).

Mengapa kita mesti memilih Maria sebagai jalan untuk berjumpa secara lebih intim dan mesra dengan Yesus? Terhadap pertanyaan ini, Santo Montfort menjawab, “Melalui Santa Perawan Maria, Yesus Kristus telah datang ke dunia; melalui Maria pulalah Dia harus berkuasa di dunia (Bakti Sejati, nomor 1).” Jadi, kalau Yesus hadir ke dunia untuk menyelamatkan kita melalui rahim Maria, mengapa kita tidak menempuh jalan yang sama untuk mencapai persatuan dengan Yesus? Yesus pasti sangat mencintai dan menghormati ibunda-Nya. Dia  pasti bergembira jika kita juga  mencintai dan menghormati ibunda-Nya. Dia akan memberkati setiap perjuangan kita apabila kita akrab dengan bunda-Nya. Di pihak yang lain, jika kita  dekat dengan Bunda Maria, sang Bunda pasti membawa kita kepada Yesus Puteranya. Sebab, hidupnya terpusat pada Yesus Puteranya, bukan pada dirinya sendiri.

Lagi pula, tujuan akhir penghormatan kita kepada Maria adalah Tuhan Yesus, bukan Maria. Per Mariam ad Jesum. Kepada Yesus melalui Maria. Hal ini tampak jelas juga melalui doa pembaktian diri yang terinspirasi dari tulisan Santo Montfort  ini: “Aku milikmu semata-mata dan segala milikku kupersembahkan kepada-Mu, ya Yesus terkasih, melalui Maria, ibu-Mu yang tersuci.” Doa singkat tapi sangat bermakna ini didaraskan setiap hari oleh para montfortan (SMM) di seluruh dunia.

Agar kita bisa membaktikan diri kepada Yesus melalui Maria  dengan baik, kita perlu bersikap rendah hati. Jika kita memiliki sikap rendah hati, kita dengan mudah merebahkan diri dalam pelukan sang Bunda yang nota bene selalu membuka hati bagi siapa saja yang datang kepada Kristus melalui dirinya. Kemudian, ia akan membuat kita pantas menghadap sang Putera. Bahkan dengan kelembutan, ia akan berjalan bersama kita menuju Kristus. Ketika sang Putera melihat kita datang kepada-Nya  melalui dan bersama sang Bunda yang sangat dikasihi dan dihormati-Nya, Ia pasti menyambut kita dengan tangan terbuka dalam pelukan kasih-Nya. Akhirnya, kita mengalami keselamatan yang dijanjikan-Nya.***

 

Labuan Bajo 28 April 2020

(Hari Raya Santo Montfort)

 

P. Laurensius Gafur, SMM

 

Pengalaman Emaus

0

Sejak masuk biara SMM, tahun 2006 silam, salah satu bentuk kegiatan formasi yang saya jalani adalah program Emaus. Dalam program yang biasanya dilakukan saat rekoleksi atau retret ini, para frater atau bruder dibagi dalam kelompok kecil (dua orang). Kedua orang ini diarahkan untuk berjalan-jalan di sekitar biara atau tempat retret. Ini bukan jalan-jalan biasa. Ini jalan-jalan reflektif. Kedua orang ini diminta  untuk merenungkan perjalanan hidup mereka lalu saling membagikannya. Tak hanya pengalaman kegembiraan yang direnungkan dan dibagikan, tetapi juga pengalaman penderitaan, antara lain: pengalaman sakit, pengalaman jatuh dalam dosa, pengalaman disakiti, dikecewakan, difitnah atau dilukai, pengalaman tidak dihargai dan direndahkan, tidak didengarkan, pengalaman ditinggalkan dan pengalaman kehilangan orang-orang terkasih atau orang yang berjasa dalam hidup.

Mereka juga tak hanya merenungkan dan saling membagikan pengalaman-pengalaman tersebut, tapi juga merenungkan dan saling membagikan apa yang Yesus katakan melalui aneka pengalaman tersebut, terutama pengalaman penderitaan. Ketika mengalami  aneka pengalaman tersebut, apakah mereka masih mengalami kehadiran dan sapaan  Yesus?  Apakah kehadiran dan sapaan Yesus itu memberikan kekuatan baru kepada mereka untuk terus berlangkah? Mereka perlu merenungkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dan saling membagikannya. Seharusnya, kehadiran dan sapaan Yesus menguatkan dan memberi semangat baru. Kehadiran Yesus membarui hidup mereka; membuat  mereka bangkit lagi menjadi pribadi baru dan terus melanjutkan ziarah hidup tanpa jatuh dalam jurang keputusasaan dan kekecewaan.

Pengalaman Emaus Dua Murid

Dasar Kitab Suci program yang menarik ini adalah pengalaman kedua murid Yesus yang pergi ke kampung bernama Emaus sebagaimana dikisahkan dalam Injil Luk. 24:13-34, yang dibacakan hari Minggu Paskah III, hari ini. Kedua murid ini pergi dalam kekecewaan dan barangkali kehilangan harapan. Alasannya jelas: Yesus Sang Guru yang mereka banggakan telah dihukum mati pada kayu salib. Penderitaan, penyaliban Yesus dan kematian Sang Guru membuat para murid-Nya tercerai-berai. Mereka kecewa. Mereka kehilangan harapan.

Kekecewaan ini terungkap dalam curahan hati (curhat) mereka ini. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel (Ayat 19-21).” Para murid tampaknya kehilangan harapan. Mereka pulang kampung masing-masing. Mereka bagaikan anak ayam yang ditinggalkan oleh induknya.

Dalam situasi kecewa dan nyaris kehilangan harapan ini, Yesus, Sang Guru mereka yang telah bangkit itu, menampakkan diri. Sayangnya mereka tak langsung mengenal-Nya. Karena belum mengenal-Nya, mereka mengungkapkan semua kegundahan hati karena kehilangan Sang Guru kepada-Nya. Yesus mendengarkan semua curahan hati mereka. Yesus menjadi pendengar yang baik. Mereka baru mengenal Yesus ketika mereka duduk makan di kampung Emaus. Persisnya ketika Yesus mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka (ayat 30). Saat itulah mata hati mereka terbuka dan segera mengenal bahwa itu Yesus, Sang Guru. Ia sungguh-sungguh telah bangkit.

Sayangnya Yesus langsung lenyap dari hadapan mereka. Walaupun demikian, mereka tetap diliputi kegembiraan. Hati mereka berkobar-kobar.  Mereka segera kembali ke Yerusalem dan menjumpai kesebelas murid Yesus. Ternyata mereka di Yerusalem juga sedang membicarakan kebangkitan Sang Guru  yang telah menampakkan diri-Nya kepada Simon (Petrus). Lalu kedua murid yang baru datang dari Emaus itu menceritakan juga pengalaman perjumpaan dengan Yesus yang telah bangkit dan mereka baru mengenal-Nya saat Ia memecahkan roti.

Aneka pengalaman perjumpaan  dengan Sang Guru yang telah bangkit ini, telah memberikan semangat baru kepada para murid untuk melanjutkan perutusan yang diberikan Yesus kepada mereka. Kekecewaan mereka pelan-pelan dipulihkan oleh Yesus sendiri. Harapan mereka yang telah redup dihidupkan dan dinyalakan kembali oleh Yesus. Mereka memulai hidup baru dalam  terang Kristus yang bangkit.

Keyakinan bahwa Sang Guru yang telah bangkit terus menyertai  hidup dan perutusan para murid pasti memberikan semangat baru untuk semakin berani bersaksi tentang-Nya. Hal inilah yang terjadi dalam diri Petrus dan kawan-kawannya sebagaimana dikisahkan dalam Bacaan Pertama hari ini (Kis. 2:14.22-33). Di hadapan orang banyak, dengan berani mereka memberikan kesaksian tentang Yesus yang telah bangkit. Mereka melakukan semuanya ini dengan gembira. Mereka sungguh-sungguh telah menjadi saksi Kristus.

Pengalaman Emaus Kita

Kita memiliki pengalaman Emaus masing-masing. Yang saya maksudkan dengan pengalaman Emaus adalah aneka pengalaman penderitaan (sakit, kehilangan, dikecewakan, disakiti, direndahkan, ditinggalkan, pengalaman jatuh dalam dosa, kecemasan dan ketakutan karena wabah Corona dan sebagainya). Semua orang pasti mengalami pengalaman ini, walau berbeda bentuk atau berbeda berat-ringannya saja. Bagaimana kita memaknai pengalaman Emaus itu?  Apakah kita masih mengalami kehadiran atau sapaan Yesus yang bangkit tatkala kita mengalami aneka pengalaman derita tersebut? Apa yang dikatakan Yesus kepada kita?

Sebagai pengikut Yesus, kita perlu memaknai pengalaman Emaus ini dalam terang iman kristiani.  Karena itu, kita seharusnya masih mengalami kehadiran dan sapaan penuh kasih dari Yesus. Hal ini juga mengandaikan bahwa dalam situasi derita itu (pengalaman Emaus), kita  dengan rendah hati mau  berjumpa dengan-Nya dengan masuk dalam keheningan doa, membaca Kitab  Suci, membaca renungan rohani dan terutama mengikuti Ekaristi. Di hadapan Tuhan Yesus, kita   mencurahkan segala pengalaman derita kita dan membiarkan Ia sendiri yang membebaskan dan memulihkan kita dengan kuasa ilahi-Nya.

Bandingkan juga pengalaman kita dengan pengalaman iman dua orang murid dalam Injil hari ini. Mereka  yang sedang berada dalam kekecewaan atau penderitaan ini baru mengenal Yesus ketika Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada mereka (ayat 30). Kedua murid ini langsung ingat dengan  apa yang dilakukan oleh Sang Guru bersama mereka dalam perjamuan sebelum Ia menderita sengsara. Mata hati mereka terbuka sehingga mereka langsung mengenal-Nya.

Dengan demikian, teks di atas (ayat 30), berhubungan dengan Ekaristi; perayaan perjumpaan dengan Yesus. Teks ini juga menggarisbawahi hal penting bahwa ketekunan dalam mengikuti Ekaristi membuat pengikut Kristus sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan-Nya. Perjumpaan itu melahirkan kegembiraan yang membarui hidup menjadi pribadi baru; pribadi yang sudah dibebaskan dan dipulihkan oleh-Nya. Teks ini juga merupakan undangan bagi kita untuk mencintai Ekaristi. Sebagaimana kedua murid Emaus bergembira setelah berjumpa dengan Yesus dan mendapat kekuatan baru untuk melanjutkan hidup, begitu juga seharusnya ketika kita membuka hati bagi kehadiran Yesus melalui aneka doa, baca Kitab Suci dan terutama mengikuti Ekaristi.***

 

Selamat Hari Minggu Paskah III!

Tuhan Yesus Memberkati kita!

                                                                            Labuan Bajo, 26 April 2020

 

 

 

 

Hari Bumi dan Pertobatan Ekologis

0
Sumber: Wikipedia.org

Tiga hari yang lalu, 22 April 2020, perayaan Hari Bumi berusia emas (50 tahun). Karena pandemi Covid-19, perayaan ini hanya ramai di dunia digital. Bahkan tema Hari Bumi menjadi trending topik. Banyak orang, terutama aktivis lingkungan hidup, terlibat dalam diskusi tentang Hari Bumi dan membidik langkah apa yang harus segera dilakukan untuk menyelamatkan bumi setelah Covid-19 bisa teratasi. Aneka bentuk kampanye  digital penyelamatan terhadap bumi yang telah rusak ini gencar dilakukan. Ini adalah gambaran tumbuhnya kesadaran masyarakat dunia tentang pentingnya merawat lingkungan hidup.

Hari Bumi adalah sebuah perayaan penghargaan terhadap bumi sebagai rumah bersama semua makhluk hidup. Rumah bersama ini sudah rusak karena tindakan manusia. Sebut saja, polusi tanah, air dan udara terus terjadi dan nyaris tak terbendung. Banyak hutan yang adalah paru-paru dunia sudah ditebang untuk kepentingan dagang pihak tertentu. Perusahaan tambang yang tak ramah lingkungan terus merusak bumi. Perubahan iklim  yang tak menentu membuat para petani sulit menentukan musim tanam dan terus mengalami gagal panen. Pemanasan global terus mengancam kehidupan. Gunung es di kutub utara terus mencair dan air laut semakin naik; daratan turun. Bumi sebagai rumah bersama tampaknya semakin tak layak dihuni. Atas dasar kenyataan getir ini, banyak orang mulai sadar bahwa bumi harus segera diselamatkan. Semua tindakan yang merusak bumi ini harus segera dihentikan.

Sekilas Sejarah Hari Bumi

Gerakan Hari Bumi ini muncul pertama kali secara besar-besaran di Amerika. Tahun 1960-an, orang-orang Amerika mulai sadar  akan akibat pencemaran lingkungan yang semakin membahayakan kehidupan.  Isu pencemaran lingkungan ini diangkat oleh Rachel Carson dalam bukunya Silent Spring, tahun 1962 (Tirto.id/22 April 2020). Ia mengungkapkan temuannya tentang kerusakan lingkungan hidup yang semakin parah, terutama yang terjadi di Amerika (misalnya kebakaran hutan dan pencemaran sungai karena limbah kimia). Menurutnya, manusia  perlu segera melakukan sesuatu untuk mengatasi kerusakan lingkungan hidup dan melakukan  aneka langkah pencegahan.

Pada tahun 1969 muncul para aktivis lingkungan hidup di Amerika yang terus menyuarakan keberpihakan mereka pada lingkungan. Salah satu aktivis tersebut adalah Senator Gaylord Nelson yang terpilih dalam Senat AS, tahun 1962. Ia pernah meyakinkan pemerintah AS bahwa bumi sedang dalam keadaan bahaya. Pada musim gugur 1969, Nelson mengumumkan konsep Hari Bumi di sebuah konferensi pers. Konsep  Hari Bumi ini rupanya mendapatkan tanggapan positif dari banyak pihak. Banyak mahasiswa dari Universitas Stanford yang dikomandani oleh Dennis Hayes, presiden mahasiswa, mendukung gagasan Nelson.  Hayes akhirnya ditunjuk sebagai koordinator proyek Hari Bumi.

Menurut Nelson, perayaan Hari Bumi sangat didukung oleh banyak pihak, baik akademisi, mahasiswa, anak-anak sekolah maupun aneka komunitas masyarakat lokal. Pada 22 April 1970, sekitar 20 juta warga Amerika Serikat dan mahasiswa  turun ke jalan mengampanyekan kesehatan dan keberlangsungan lingkungan hidup.  Mereka berkumpul menentang kerusakan lingkungan yang disebabkan buruknya saluran pembuangan dan semakin punahnya kelestarian flora di negeri itu. Aktor utama aksi nasional itu adalah Gaylord Nelson, politikus dan senator pertama yang menyuarakan isu-isu lingkungan menjadi agenda Senat AS (Beritalingkungan.com).

Perjuangan ini semakin mendapatkan kekuatan hukum ketika tahun 1970-an, sejumlah undang-undang lingkungan disahkan, di antaranya UU Udara Bersih, UU Peningkatan Kualitas Air, UU Spesies Terancam Punah, UU Pengawasan Zat Beracun dan Pertambangan, serta UU Reklamasi (Tirto.id/22-4-2020). Selain itu, pada Desember 1970 dibentuk Badan Perlindungan Lingkungan, yang bertugas melindungi kesehatan manusia dan menjaga lingkungan alam, termasuk udara, air dan tanah.

Sejak saat itu, peringatan Hari Bumi terus berjalan dan semakin dikenal dunia hingga saat ini. Setiap 22 April biasanya para pemerhati lingkungan hidup melakukan pelbagai aktivitas yang menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga keutuhan bumi. Mereka tak hanya bicara di mimbar atau mengampanyekannya melalui media massa, tetapi juga terjun langsung  ke lapangan dengan pelbagai aksi, misalnya, menanam pohon pada lahan gundul dan memungut sampah.

Polusi Plastik

Pada 22 April 2018, para penyelenggara  perayaan Hari Bumi memilih tema, “Mengakhiri Polusi Plastik.” Tema ini diangkat berdasarkan kenyataan bahwa  banyak kerusakan lingkungan hidup saat ini terjadi karena sampah plastik yang dibuang tidak pada tempatnya. Sampah plastik sangat berbahaya bagi manusia makhluk hidup lainnya, juga mengakibatkan air dan tanah tercemar.

Masalah sampah plastik tetap menjadi masalah besar di dunia saat ini, termasuk di Indonesia.  Di Labuan Bajo, tempat saya tinggal, masalah sampah plastik masih menjadi keprihatinan besar bahkan sampai tingkat nasional. Beberapa bulan lalu, Presiden Jokowi dalam kunjungannya ke Labuan Bajo memberikan catatan penting tentang masalah sampah (Kompas.com/20-01-2020). Baginya, kebersihan lingkungan adalah hal sangat penting dalam hidup manusia, secara khusus dalam dunia wisata. Lingkungan yang bersih pasti memberikan kenyamanan kepada semua orang yang datang berkunjung ke Labuan Bajo. Karena itu, Jokowi menginstruksikan kepada pemerintah daerah Manggarai Barat dalam kerja sama dengan pelbagai pihak, harus secara serius mengatasi persoalan sampah.

Sampai hari ini, persoalan sampah belum teratasi dengan baik. Menurut saya, faktor utama masalah sampah ini adalah rendahnya kesadaran masyarakat tentang lingkungan yang bersih. Hal ini terbukti dengan banyaknya sampah di pinggir pantai, tempat rekreasi akhir pekan atau saat liburan, di pinggir ruas jalan. atau bahkan di depan rumah warga. Ada juga yang membuang sampah ke sungai (kali mati atau yang masih ada air) atau saluran pembuangan (got air). Situasi ini membuat kota kecil Labuan Bajo yang telah ditetapkan menjadi kota pariwisata super prioritas tampaknya masih tak sedap dipandang.

Pertobatan Ekologis

Dalam arikel ini, saya juga menyertakan  secara singkat pemikiran Gereja, diwakili oleh Paus Fransiskus, tentang bumi dan lingkungan. Bapa Suci Fransiskus menyebut bumi ini sebagai rumah kita bersama (our common home). Rumah bersama ini sedang rusak karena aneka tindakan destruktif yang dilakukan manusia. Tindakan tidak ramah lingkungan merupakan penyebab utama kerusakan rumah bersama ini.

Karena rumah bersama ini sedang sakit atau rusak, sebagai makhluk berakal budi, manusia perlu bangun dari tidur panjangnya untuk segera menyelamatkan bumi. Manusia harus bertanggung jawab terhadap aneka kerusakan lingkungan hidup yang sedang terjadi. Pemikiran dan anjuran apostolik Paus Fransiskus  ini disampaikannya dalam Ensiklik Laudato ‘Si (LS), sebuah anjuran apostolik tentang lingkungan hidup yang terbit tahun 2015.

Berhubung yang membuat bumi  ini rusak atau sakit adalah manusia, maka dalam konteks hidup beriman, manusia telah berdosa. Ia telah berdosa terhadap Tuhan Sang Pencipta segala sesuatu; ia juga berdosa terhadap bumi; berdosa terhadap lingkungan hidup. Dosa ini ada yang dilakukan secara pribadi (misalnya buang sampah tidak pada tempatnya), ada juga yang dilakukan secara bersama (misalnya perusahaan tambang yang tidak ramah lingkungan atau perusahaan kayu yang merambah hutan untuk kepentingan dagang). Dosa ini bisa disebut dosa ekologis. Artinya, berdosa terhadap lingkungan hidup.

Menurut Paus Fransiskus, manusia yang telah melakukan dosa ekologis ini perlu melakukan pertobatan ekologis. Artinya, manusia perlu memohon ampun kepada Allah Sang Pencipta segala sesuatu dan memohon maaf kepada lingkungan hidup atas segala tindakan tidak ramah lingkungan yang telah dibuat. Tema tentang pertobatan ekologis ini secara khusus disampaikan Paus Fransiskus dalam LS artikel 216-221. Ia juga  secara khusus mengutip  pernyataan dari Konferensi Wali Gereja Australia yang berhubungan dengan kerusakan lingkungan hidup dan menyerukan rekonsiliasi dengan lingkungan. “Untuk mencapai rekonsiliasi ini, kita harus memeriksa hidup kita dan mengakui bagaimana kita membawa kerugian kepada ciptaan Allah dengan tindakan kita dan kegagalan kita untuk bertindak. Kita perlu mengalami suatu pertobatan, perubahan hati” (LS 218).

Paus Fransiskus menegaskan bahwa perjumpaan umat kristiani dengan Kristus, Sang Kepala Gereja seharusnya  menggerakkan hati mereka untuk  melakukan aneka kebaikan kepada dunia. Dalam konteks ini, melindungi bumi dan karya Allah yang ada di dalamnya bukan lagi pilihan, tetapi menjadi bagian penting dari kehidupan umat beriman (LS 217). Atas dasar prinsip ini, maka umat beriman seharusnya berada pada garda terdepan dalam merawat bumi dan memulihkan lingkungan yang telah rusak.

Pertobatan ekologis yang digaungkan ini dikonkretkan dengan aneka tindakan ramah lingkungan, antara lain: membuang semua sampah pada tempatnya, membersihkan lingkungan yang sudah tercemar, mengurangi penggunaan plastik, menanam pohon pada lahan yang gundul dan menghentikan segala proyek yang tidak ramah lingkungan. Aneka aktivitas ramah lingkungan ini, tidak hanya dilakukan secara pribadi, tetapi juga dilakukan secara bersama. Ini harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan banyak pihak (negara, komunitas religius, agama dan organisasi pemerhati lingkungan dan siapapun yang berkehendak baik). Apabila semua pihak mampu bekerja sama dengan baik, maka kerusakan lingkungan hidup ini pelan-pelan bisa teratasi dengan baik.

Selain itu, sistem hukum di setiap negara dan organisasi internasional (PBB, misalnya) harus menjamin terwujudnya pertobatan ekologis. Misalnya menciptakan dan menetapkan undang-undang yang mewajibkan perusahan-perusahaan yang mengolah hasil bumi (sumber daya alam) agar ramah lingkungan. Kalau tidak, maka perusahan tersebut diberi sanksi yang tegas. Begitu juga pelaku perusakan lingkungan hidup, harus diberi sanksi yang tegas. Hal demikian memang sudah mulai berjalan, hanya perlu dioptimalkan pelaksanaanya di lapangan.

Selain beberapa contoh aktivitas ramah lingkungan dan kebijakan yang mendukung pelestarian lingkungan hidup di atas, Paus Fransiskus menekankan juga pentingnya  pendidikan ekologis. Artinya pendidikan yang mengarahkan dan menggerakkan hati orang untuk mencintai lingkungan hidup. Jika orang mencintai lingkungan hidup, ia pasti berusaha merawatnya dan tidak melakukan aneka tindakan destruktif yang merusak lingkungan. Ia juga pasti berjuang semaksimal mungkin memulihkan kembali lingkungan yang telah rusak.

Menurut Paus Fransiskus, pendidikan ekologis ini perlu dilakukan di sekolah, keluarga, komunitas dan  disampaikan juga melalui media komunikasi atau pada kesempatan katekese (LS 213). Secara khusus ia menekankan pentingnya pendidikan ekologis di dalam keluarga. Di dalam keluarga, anak-anak seharusnya mendapatkan pembinaan integral dan holistik. Sebab setiap anggota keluarga dididik untuk beriman, mencintai sesama dan lingkungan hidup. Aneka sopan santun juga diajarkan di dalam keluarga. Dengan demikian, kalau pendidikan dalam keluarga berjalan dengan baik dan setiap keluarga melakukannya, maka aneka tindakan kejahatan, termasuk kejahatan terhadap lingkungan hidup pasti semakin berkurang.

Lebih dari Sekadar Perayaan

Akhirnya, bagi saya, Hari Bumi yang dirayakan pada 22 April yang lalu itu, seharusnya lebih dari sekadar perayaan tahunan. Hari Bumi harus menjadi kesempatan berharga bagi setiap orang untuk merenungkan segala sesuatu yang telah terjadi dengan bumi. Secara khusus orang perlu menyadari segala tindakan kecil maupun besar yang telah merusak bumi. Kesadaran ini harus dilanjutkan dengan komitmen untuk membarui diri atau mengubah pola pikir dan pola tindakan terhadap bumi. Orang harus meninggalkan segala bentuk tindakan yang merusak bumi.

Tak hanya itu, orang juga seharusnya memohon ampun kepada Tuhan Sang Pencipta atas segala dosa ekologis yang telah dibuat sekaligus meminta maaf kepada bumi atau lingkungan hidup. Selanjutnya, orang harus mulai merawat bumi, antara lain: memulihkan  lingkungan yang sudah rusak, menanam pohon pada lahan gundul, mengurangi pemakaian plastik, mengolah sampah, membuang sampah pada tempatnya, tidak menebang hutan secara sembarangan dan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya  mencintai dan merawat bumi sebagai rumah kita bersama. Inilah yang disebut pertobatan ekologis.***

                                                                 Labuan Bajo, 25 April 2020

 

 

Covid-19 Mewabah, di manakah Tuhan? — Sebuah Refleksi di tengah Pandemi

0
Kini, virus mematikan ini sudah mewabah ke hampir semua negara di dunia; dan telah menelan banyak korban jiwa.

Dunia dibuat heboh dengan kemunculan virus baru yang diberi nama Corona Virus Disease 2019 atau yang disingkat Covid-19. Kemunculannya pertama kali di Wuhan telah menggegerkan dunia, sebab belum ada vaksin untuk menangkalnya. Tidak ada yang tahu pasti penyebab munculnya virus ini dan kapan berakhirnya. Semua masih dalam tanda tanya besar.

Kini, virus mematikan ini sudah mewabah ke hampir semua negara di dunia; dan telah menelan banyak korban jiwa. Banyak orang kemudian bertanya: “Apakah ini hukuman dari Tuhan? Di manakah Tuhan saat-saat seperti ini?”

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Sebagai insan yang beriman, kita percaya bahwa Tuhan tak mungkin membinasakan ciptaan-Nya sendiri; Ia juga tak pernah menghukum orang yang tidak bersalah.

Maka, Covid-19 pasti bukanlah hukuman atas salah dan dosa manusia. Ini bukan tulah atau laknat, melainkan hanyalah ujian kecil yang harus kita hadapi.

Karena ini ujian, maka kita hendaknya bersabar. Untuk itu, kita perlu belajar dari salah seorang tokoh dalam cerita Kitab Suci, yang dihormati sebagai teladan kesabaran dalam penderitaan. Nama tokoh tersebut adalah Ayub.

Ayub diuji oleh Tuhan. Mula-mula, bersama tiga pendampingnya, ia dengan berani mempertanyakan ketetapan Tuhan. Ia gusar terhadap Tuhan.

Penyusun kisah Ayub memang tidak mengingkari hak untuk bertanya, tetapi menyarankan bahwa akal semata tidak memadai untuk membahas persoalan yang pelik.

Tuhan memperlihatkan diri kepada Ayub dalam suatu penampakan, mengutarakan keluarbiasaan dunia yang telah diciptakan-Nya: bagaimana mungkin seorang makhluk kecil yang lemah, seperti Ayub, berani menentang Tuhan yang transenden?

Ayub pun menyerah. Ia pasrah kepada Tuhan. Penulis kisah Ayub mencatat bahwa dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Tuhan berbuat yang kurang patut.

Ayub mengambil hikmah dari ujian yang dialaminya. Dan, karena ia telah memikul penderitaan yang berat itu dengan sabar, Tuhan memberkatinya dengan memulihkan kembali kekayaannya di masa lalu.

Luar biasa karakter dari tokoh Ayub ini. Barangkali kita perlu belajar darinya untuk menghadapi wabah Covid-19 ini. Ya, kita harus bisa mengambil hikmah dari peristiwa yang serba sulit akibat wabah ini.

Dengan kemunculan wabah ini, kita menjadi sadar bahwa hidup kita ada di tangan Tuhan. Secanggih apapun teknologi yang kita miliki, tetap tak sebanding dengan kuasa Tuhan. Bayangkan saja, gara-gara wabah ini, rencana Nasa untuk kembali mengirimkan astronot ke bulan ditunda.

Kayaknya – dengan wabah ini – Tuhan juga sedang mengajarkan kita untuk tidak mengabaikan hal-hal yang selama ini kita anggap sepele.

Pemerintah menyarankan langkah-langkah antisipatif dalam menghindari penularan Covid-19. Caranya ternyata sederhana saja: jaga jarak aman, jangan ngerumpi, cuci tangan pakai sabun, dan di rumah aja.

Hal seperti ini kelihatannya sepele, tapi rupanya masih sulit dilakukan. Ternyata, selama ini kita sudah mengabaikan hal-hal yang sepele ini. Karenanya, dengan kemunculan Covid-19 ini kita diajarkan kembali tentang hal-hal yang paling mendasar ini.

Selama ini, dunia sibuk; bahkan sangat sibuk. Hiruk pikuk orang bekerja, siang maupun malam. Tapi sekarang, semua sudah berubah. Seakan Tuhan ingin mengatakan kepada kita bahwa tiba saatnya bagi kita untuk beristirahat sejenak; dan kembali memusatkan perhatian kita pada-Nya.

Dalam situasi sulit seperti sekarang ini, kita tak boleh mengkhianati Tuhan seperti yang dilakukan oleh Yudas Iskariot; juga tak boleh menyangkal Tuhan seperti Petrus. Sebaliknya, kita harus setia berada di bawah kaki salib Tuhan seperti Bunda Maria.

Apapun situasi yang kita hadapi saat ini, sesulit apapun itu, setialah. Bersabarlah seperti Ayub, sebab dalam setiap peristiwa hidup, pasti ada hikmahnya. Kita percaya rencana dan rancangan Tuhan selalu indah pada waktunya.

Maka, jangan pernah bertanya: “Di manakah Tuhan saat-saat seperti ini?” Sebab Ia tidak pernah absen dari hidup kita. Ia selalu ada di dalam diri kita. Tuhan hadir dalam nafas kita.  

Ya, Kitab Kejadian bab 2 memberitahu kita tentang dari mana sebenarnya kita ini berasal. Dikatakan dengan jelas bahwa (tubuh) manusia dibentuk oleh Tuhan dari debu tanah. Kemudian, Ia menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung manusia yang baru saja dibentuk-Nya itu; sehingga manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

“TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej. 2:7).

Kutipan ayat di atas mengandung pesan yang sangat kuat, yaitu bahwa hidup kita sangat bergantung pada Tuhan. Tanpa nafas yang ditiup-Nya, kita tentu tak bisa hidup. Atau, jika saja nafas itu diambil kembali oleh Tuhan, maka kita akan kembali menjadi tanah (baca: mati).

Dengan kata lain, kita bukan siapa-siapa. Kita hanyalah butiran debu yang dibentuk dan diberi nafas kehidupan oleh Tuhan. Maka, pesan bagi kita adalah: pertama, selalu bersyukur kepada Tuhan; dan kedua, jangan sombong.

Ketika manusia mati, tubuhnya akan kembali menjadi tanah. Namun, tidak demikian dengan nafasnya. Nafas hidup yang dihembuskan ke dalam hidung manusia tidak berasal dari tanah melainkan dari Tuhan, sehingga ketika manusia mati, nafas itu akan kembali kepada Tuhan, bukan menjadi tanah.

“Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup. Jikalau Ia menarik kembali Roh-Nya, dan mengembalikan nafas-Nya pada-Nya, maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu” (Ayb. 33:4; 34:14-15).

“… dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya” (Pkh. 12:7).

Masih dalam Kitab Kejadian dikatakan juga bahwa Tuhan menciptakan manusia tak seperti ciptaan lainnya. Jika ciptaan lain hanya sebatas ‘baik adanya’, tidaklah demikian dengan manusia. Manusia disebut sebagai ciptaan yang ‘sungguh amat baik’ (Kej. 1:31).

Tentu penyebutan ini bukan sekedar permainan kata-kata. Dengan menyebut manusia sebagai ciptaan yang ‘sungguh amat baik’ dimaksudkan bahwa manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi dari ciptaan yang lain. Kita ini berharga. Mengapa? Sebab manusia diciptakan ‘menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka’ (Kej. 1:27).

Atas dasar itu jugalah mengapa kemudian Tuhan memberikan tanggung jawab kepada manusia untuk ‘berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi’ (Kej. 1:28).

Kita percaya bahwa Tuhan hadir dalam ciptaan-Nya, terutama manusia; sebab kita membawa wajah-Nya setiap saat. Artinya, kita mengemban tugas utama: menghadirkan wajah Tuhan di muka bumi melalui tindak-tanduk hidup kita. Maka, dalam situasi sulit seperti yang kita alami sekarang ini, hadirkanlah wajah Tuhan kepada sesama, dengan cara berbagi.

Tuhan juga hadir dalam alam semesta, teristimewa di setiap peristiwa hidup kita. Namun perlu diingat bahwa Ia tidak selalu hadir dalam peristiwa yang dahsyat dan memukau, sebagaimana dibayangkan oleh banyak orang. Boleh jadi, Ia hadir dalam peristiwa biasa, yaitu peristiwa yang kadang-kadang luput dari perhatian kita. Lihat saja apa yang dialami oleh Elia di gunung Horeb (Sinai) – 1 Raj. 19:11-13:

Tuhan berfirman kepada Elia di gunung Horeb: “Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!” Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.

Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?”

Angin, gempa, dan api, adalah gambaran tentang peristiwa dahsyat. Tetapi, penulis Kitab 1 Raj., secara berulangkali menyebutkan bahwa ternyata tidak ada TUHAN dalam angin, gempa, maupun api itu. Tuhan justru hadir dalam angin sepoi-sepoi basa.

Perikop ini mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan tidak selalu hadir dalam peristiwa dahsyat. Ia bisa jadi hadir dalam peristiwa biasa; dan saking biasanya, kadang-kadang kehadiran-Nya luput dari perhatian kita.

Hanya sedikit orang yang mampu merasakan kehadiran Tuhan dalam peristiwa biasa. Di sinilah kita perlu belajar dari apa yang dialami oleh Elia di gunung Horeb.

Memang, sulit sekali bagi kita untuk merasakan dan mengalami kehadiran Tuhan dalam peristiwa biasa. Apalagi, jika kehadiran-Nya itu bukan lagi dalam peristiwa biasa tapi boleh dikatakan peristiwa super biasa, seperti udara pernafasan. Bisakah kita merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap nafas hidup kita?

Jarang sekali ada orang yang menyadari bahwa Tuhan hadir dalam setiap nafasnya. Akibatnya, kita melihat nafas hidup kita secara taken for granted, tanpa pernah mensyukurinya.

Keluar masuknya udara pernafasan hampir pasti luput dari perhatian kita. Tidakkah kita sadari bahwa nafas kita berasal dari Tuhan? Dia sendirilah yang meniupkan nafas itu ke dalam hidung kita sehingga kita menjadi makhluk yang hidup.

Maka, mestinya, setiap menghembuskan nafas, kita menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Nafas adalah tanda paling nyata dari kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Karenanya, mengikuti apa yang tertulis di dalam Kitab Mazmur 150:6, kita pun harus berkata:

“Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!”

Covid-19 melumpuhkan segalanya. Kita akui itu. Tapi, bukan berarti tidak ada alasan bagi kita untuk tetap bersyukur kepada Tuhan. Kita selalu mempunyai alasan untuk bersyukur. Hal yang paling mendasar yang patut kita syukuri adalah nafas hidup kita.

Sekalipun situasi kita serba sulit, paling tidak kita masih tetap diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bernafas; sebagai tanda paling mendasar bahwa kita masih hidup.

Melalui hembusan nafas kita, Tuhan hadir dalam hidup kita. Ia selalu ada untuk kita dan memberi kita hidup. Karenanya, sesulit apapun keadaan kita sekarang, biarlah kita belajar dari Ayub untuk tetap sabar, tidak berbuat dosa, dan tidak menuduh Tuhan berbuat yang kurang patut.

Sebaliknya, baiklah kita senantiasa menaruh rasa syukur kepada Tuhan dan tidak henti-hentinya memuji Dia dengan berkata: “Terpujilah nama Tuhan”.

Refleksi ini dibuat di Uren, Pegunungan Meratus, pada Pesta St. Markus, penulis Injil, tanggal 25 April 2020.

Kerahiman Ilahi

0
https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2F4.bp.blogspot.com%2F-NzIO1NaZAS0%2FWna0cpUfKyI%2FAAAAAAAACu8%2F1Ria_PS1rzcMYh8UZT-PUjcpPqnPf6xDQCLcBGAs%2Fs1600%2F315814.jpg&imgrefurl=http%3A%2F%2Fgemaliturgi.blogspot.com%2F2018%2F02%2Fmengenal-devosi-kerahiman-ilahi.html&tbnid=o2XuB-FSp7YKhM&vet=12ahUKEwiw86L4p_PoAhUhGSsKHfexBlwQMygRegUIARCcAg..i&docid=lbFxk9992QvjVM&w=287&h=380&q=minggu%20kerahiman%20ilahi&safe=strict&ved=2ahUKEwiw86L4p_PoAhUhGSsKHfexBlwQMygRegUIARCcAg

Hari ini adalah Hari Minggu Paskah II. Pada hari ini juga Gereja Katolik di seluruh dunia merayakan Pesta Kerahiman Ilahi. Karena itu, hari Minggu Paskah II ini juga disebut hari Minggu Kerahiman Ilahi. Hal ini ditetapkan pertama kali oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 30 April 2000, bertepatan dengan kanonisasi (pemberian gelar kudus) kepada Faustina, seorang perempuan hebat asal Polandia yang kepadanya Tuhan Yesus menampakkan diri dan meminta Gereja untuk melakukan devosi Kerahiman Ilahi yang lazim disebut Koronka.

Pesan-pesan Yesus dalam penampakan kepada santa Faustina mengajak kita untuk semakin mengimani kerahiman dan belas kasih Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus Kristus Putera-Nya, Sang Wajah Kerahiman Ilahi. Kita mengalami kerahiman Allah itu melalui dan dalam diri Kristus.

Pesta kerahiman Ilahi ini dikehendaki oleh Yesus sendiri yang disampaikan-Nya kepada St. Faustina sebagaimana tercatat dalam Buku Harian Faustina. “Pesta ini muncul dari lubuk kerahiman-Ku yang terdalam, dan diperteguh oleh kedalaman belas kasih-Ku yang paling lemah lembut. Adalah kehendak-Ku agar pesta ini dirayakan dengan khidmat pada hari Minggu pertama sesudah Paskah. Aku menghendaki Pesta Kerahiman Ilahi menjadi tempat perlindungan dan tempat bernaung bagi segenap jiwa-jiwa, teristimewa para pendosa yang malang. Pada hari itu, lubuk belas kasih-Ku yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku.”

Penetapan Hari Minggu Paskah II sebagai pesta kerahiman Ilahi ini juga sejalan dengan pandangan St. Agustinus, tokoh besar dalam Gereja, yang melihat hari-hari oktaf Paskah sebagai hari-hari kerahiman dan pengampunan Tuhan. Kristus mengorbankan diri-Nya untuk menyelamatkan kita manusia. Itulah kerahiman-Nya yang tak terhingga.
ABC Kerahiman Ilahi.

Pesan utama Minggu kerahiman Ilahi adalah Allah yang kita imani itu Allah yang Maharahim. Ia sangat mengasihi kita walaupun kita sangat berdosa. Kita harus sungguh-sungguh percaya akan hal ini. Jangan ragu! Ia yang Maharahim itu mengundang kita datang kepada-Nya dan mengalami pengampunan dan belas kasih-Nya yang tak terhingga walau kita telah mengkhianati-Nya (Bdk. Kisah tentang Bapa yang Maharahim dalam Injil Lukas 15:11-32).

Yesus Kristus adalah wajah kerahiman Allah. Melalui hidup dan pewartaan-Nya, kita dalam iman mengalami bahwa Allah sungguh mengasihi kita. Setelah kita mengalami kasih Allah yang tak terhingga itu, kita perlu membagikannya kepada sesama. Kita diundang menjadi rasul belas kasih atau rasul kerahiman ilahi.

Agar umat beriman mudah mengingat pesan penting dan utama tentang kerahiman ilahi itu, maka dibuatlah sebuah singkatan terkenal ABC Kerahiman Ilahi. Apakah itu?

• Ask for His Mercy: Mohon belas kasih Allah

Umat beriman diundang untuk selalu datang kepada Allah yang Maharahim, walau telah berdosa atau mengkhianati kehendak-Nya. Umat beriman datang untuk berdoa, bersujud syukur dan memohon berkat untuk hidup selanjutya secara khusus memohon pengampunan dan belas kasih Allah yang Maharahim atas segala dosa yang telah dibuat. Tak hanya itu, umat beriman memohon pengampunan dari Allah yang Maharahim bagi dosa dunia (umat manusia). Tentang memohon belas kasih Allah ini, dalam doa Kerahiman Ilahi berulang kali disampaikan, “Kasihanilah kami dan seluruh dunia” atau “Tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia.”

Be Mercyful: Berbelas kasih kepada sesama

Setelah mendapatkan belas kasih dan pengampunan dari Allah yang Maharahim, umat beriman diutus menjadi rasul kerahiman ilahi. Menjadi rasul kerahiman ilahi berarti menjadi pribadi yang berbelas kasih kepada sesama. Tentang berbelas kasih kepada sesama ini, kita bisa bandingkan dengan sebuah pernyataan penting dalam doa Bapa Kami, “Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.” Menjadi rasul kerahiman ilahi ini tidak selalu mudah karena kita cenderung hanya mau diampuni oleh Allah tapi tidak mau mengampuni sesama yang bersalah kepada kita. Sesungguhnya, bila belum mampu mengampuni sesama atau belum mampu berbelas kasih kepada sesama, kita belum menjadi rasul kerahiman ilahi.

Completely Trust: Percaya penuh kepada Allah

Allah menghendaki agar kita sungguh-sungguh percaya kepada kerahiman-Nya. Semakin percaya kepada-Nya, semakin banyak rahmat yang kita peroleh dari-Nya. Kalau semakin banyak rahmat yang kita peroleh, maka hidup kita pasti diliputi kegembiraan yang bersumber dari-Nya. Tantangannya adalah kita kadang-kadang ragu dengan kerahiman Allah. Kita tidak sungguh-sungguh percaya kepada-Nya. Tentu ini yang perlu selalu dibarui agar kita semakin percaya penuh kepada Allah dan hanya berkata, “Yesus, Engkau andalanku!”

Sakramen Tobat dan Ekaristi

Dua sakramen penting yang berhubungan langsung dengan Pesta Kerahiman Ilahi adalah sakramen Tobat dan Ekaristi. Sakramen tobat adalah sakramen yang menonjolkan secara mendalam tentang kerahiman Allah. Pada saat orang menerima sakramen tobat (pengakuan dosa), ia mengalami perjumpaan dengan Bapa yang Maharahim yang tak pernah membuang orang berdosa. Perlu disadari bahwa penerimaan sakramen ini mengandaikan kerendahan hati untuk mengakui kerapuhan dan dosa di hadapan Allah dan memohon pengampunan dari-Nya. Orang yang sudah menerima sakramen ini pasti hatinya diliputi kegembiraan sebab ia telah dibebaskan oleh Allah yang Maharahim dari kegelapan dosa. Ia telah menjadi manusia baru. Sebaiknya sebelum mengikuti Pesta Kerahiman Ilahi, umat beriman menerima Sakramen Tobat.

Sakramen Ekaristi adalah sakramen perjumpaan dengan Yesus Kristus, Sang Wajah Kerahiman Ilahi. Dalam diri Kristus, kita sungguh-sungguh mengalami kerahiman Allah. Bagi kita, Ekaristi adalah puncak dan sumber hidup orang beriman (SC 10). Karena itu, kita perlu mencintai Ekaristi sepanjang hidup. Pada saat Pesta Kerahiman Ilahi, umat beriman perlu menerima Sakramen Ekaristi.

Tentang Ekaristi ini, Yesus memberikan pesan berikut ini kepada Santa Faustina. “Sukacita-Ku yang besar adalah mempersatukan Diri-Ku dengan jiwa-jiwa. Apabila Aku datang ke dalam hati manusia dalam Komuni Kudus, tangan-tangan-Ku penuh dengan segala macam rahmat yang ingin Aku limpahkan atas jiwa. Namun, jiwa-jiwa bahkan tak mengindahkan Aku; mereka mengacuhkan DiriKu dan menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Oh, betapa sedih Aku sebab jiwa-jiwa tak mengenali Kasih! Mereka memperlakukan-Ku bagaikan suatu benda mati (1385)”

Apabila  umat beriman menerima Sakramen Tobat dan Ekaristi pada Pesta Kerahiman Ilahi, maka Tuhan Yesus menganugerahkan pengampunan penuh atas segala dosa dan penghukuman. Janji Yesus ini disampaikan kepada Santa Faustina sebagaimana tercatat tiga kali dalam Buku Hariannya. “Pada hari itu, lubuk belas kasih-Ku yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku. Jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus akan mendapatkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman. Pada hari itu seluruh pintu-pintu rahmat Ilahi dari mana rahmat-rahmat mengalir akan dibuka (699).”

Yesus, Sang Wajah Kerahiman Ilahi Menampakkan Diri

Dalam Injil Yohanes 20:19-31 yang dibacakan pada Minggu Kerahiman hari ini, kita mendengarkan kisah penampakan Yesus kepada para murid-Nya. Yesus datang ketika para murid sedang takut. Mereka juga masih sedih, gundah karena Sang Guru mati secara mengenaskan di kayu salib.

“Damai sejahtera bagi kamu!” Ini kalimat penting yang disampaikan Yesus kepada para murid. Bahkan sampai tiga kali ia mengatakan kalimat ini. Yang mau ditegaskan adalah Ia pembawa damai sejahtera. Ia sungguh-sungguh telah bangkit dan kini datang membawa damai kepada yang percaya kepada-Nya; karena itu JANGAN TAKUT! Setelah itu, Ia menghembusi mereka dengan Roh Kudus.

Mereka yang hadir, percaya itu Tuhan, Dia sudah bangkit. Kecuali Thomas, yang kala itu tidak hadir. Ketika teman-teman bersaksi tentang kehadiran Yesus, Ia tak langsung percaya! “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Thomas menuntut bukti! Sampai akhirnya, delapan hari kemudian, Yesus menampakkan diri lagi kepada para murid, termasuk Thomas. Yesus menantang Thomas untuk memasukan jari pada bekas-bekas luka-lukanya. Thomas hanya bisa berkata, “Ya Tuhanku & Allahku!” Pengakuan iman yang luar biasa! “Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya!” Itu pesan Yesus kepada Thomas dan para murid. Kehadiran Yesus di tengah para murid tentu menguatkan, memberi semangat baru kepada para murid. Mereka segera bangkit dari ketakutan dan ketakpercayaan dan siap menjadi saksi kebangkitan.

Ada beberapa hal yang hendak saya garisbawahi tentang Injil hari ini.

Pertama, iman akan kebangkitan. Kita mengimani Kristus yang bangkit. Kita memang tidak melihatnya secara langsung, berhadapan muka. Tapi, dalam iman kita percaya, ia bangkit dan mengalahkan maut. Dengan itu, Ia menyelamatkan kita yang berdosa. Tidak melihat, namun percaya! Ini misteri iman kita. Menurutku, Thomas adalah tokoh penting yang perlu direnungkan. Ia adalah gambaran sikap manusia sepanjang zaman, gambaran diri kita. Kita sering menuntut bukti tentang kerahiman Allah. Kita sering ragu-ragu dalam beriman.

Kita memang tidak berjumpa langsung dengan Kristus. Kita percaya pada kesaksian para rasul yang ditulis dalam Kitab Suci, kesaksian umat beriman sepanjang zaman, ditambah pengalaman pribadi masing-masing. Dalam setiap pengalaman hidup, kita mengalami, Tuhan Yesus yang bangkit itu menjumpai kita, menyapa kita, memberikan damai sejahtera kepada kita, memberikan kekuatan tatkala kita lemah, memberikan kesembuhan ketika kita sakit, memberikan rejeki secukupnya ketika kita berkekurangan. Kita mengalami Allah yang Maharahim melalui pengalaman-pengalaman seperti itu. Sayangnya kita kurang menyadari semuanya ini.

Kedua, perutusan: Yesus mengutus kita untuk mewartakan Kerajaan Allah. Kerahiman Allah tampak secara sempurna dalam Kristus. Setelah Yesus bangkit, ia mengutus para rasul untuk mewartakan kerahiman Allah dan menjadi penyalur kerahiman Allah bagi dunia. Yesus menghembuskan Roh Kudus kepada para rasul. Roh Kudus itulah yang menerangi hati dan budi mereka dalam mewartakan kebangkitan Kristus dan karya Allah yang mereka terima dan saksikan dalam perjumpaan dengan Kristus. Roh Kudus itu yang menyinari Petrus dan para murid, sehingga tanpa takut mewartakan Kristus dan melakukan banyak mukjizat. Roh Kudus yang sama juga akan menerangi kita saat ini dalam mewartakan Kristus yang bangkit. Kita diutus-Nya menjadi rasul-rasul jaman ini untuk meneruskan tugas Kristus.

Ketiga, isi Perutusan: Damai Sejahtera. Semua orang merindukan damai sejahtera. Itu hanya dapat diperoleh jika orang bersatu dengan Allah. Para rasul diutus untuk menjadi penyalur damai sejahtera; mewartakan damai sejahtera. Yang sakit disembuhkan, yang berkekurangan mendapatkan bantuan, yang disingkirkan dirangkul kembali dalam masyarakat atau Gereja. Tugas ini juga diberikan kepada kita sekalian yang percaya kepada Kristus. Seperti Petrus dan para murid yang lain, kita diutus Yesus menjadi penyalur rahmat-Nya, penyalur damai sejahtera kepada orang di sekitar kita: di keluarga, tempat bekerja, sekolah, masyarakat, dan di mana pun kita berada.

Semoga kebangkitan Kristus, Sang Wajah Kerahiman Ilahi, membuat kita terlahir kembali menjadi pribadi baru yang semakin berkenan kepada-Nya. Semoga kita semakin mengimani kebangkitan-Nya yang menyelamatkan kita dan kita semakin bersedia diutus menjadi pembawa damai sejahtera setiap hari melalui cara hidup kita yang bermutu. Selaras dengan Pesta Kerahiman Ilahi hari ini, semoga kita semakin tekun memohon belas kasih dan kerahiman Allah bagi diri kita dan dunia (Ask for His Mercy); semakin berbelas kasih kepada sesama atau menjadi rasul kerahiman ilahi (Be Mercyful) dan percaya sungguh-sungguh kepada kerahiman Allah (Completely Trust).***

Salam Minggu Kerahiman Ilahi! Tuhan Yesus memberkati kita! Amin!

 

Labuan Bajo, 19 April 2020

RP. Laurensius Gafur, SMM

Paskah yang Tak Terlupakan

0

Umat Katolik baru saja merayakan Paskah, perayaan kebangkitan Yesus Kristus. Perayaan ini dirayakan di tengah baying-bayang wabah Covid 19 yang sedang mengacaukan dunia dalam segala bidang kehidupan. Perayaan yang biasanya selama ini dirayakan dengan meriah ini, kali ini dirayakan dalam sunyi. Kesunyian terjadi  karena umat beriman tidak hadir secara fisik di gereja. Para imam merayakan sendiri di gereja; umat mengikutinya melalui media live streaming atau hanya membuat ibadat sabda. Betapa suasana yang berbeda.

Akan tetapi, saya merenungkan, Paskah kali ini memberikan kesan yang amat mendalam bagi semua umat beriman. Selain umat beriman dilanda  ketakutan badai Covid 19, mereka juga dilanda kerinduan yang menggelora untuk berada di gereja merayakan Paskah. Mereka menahan rindu untuk mengambil bagian secara aktif di gereja. Mereka terutama rindu menerima Tubuh Kristus, santapan jiwa yang tergantikan.

Di pihak lain, umat beriman ditantang untuk sebisa mungkin mengambil bagian dalam perayaan besar ini di rumah masing-masing. Di pelbagai media online terutama Facebook, whatsApp, IG, saya melihat bagaimana luar biasanya kreativitas umat katolik dalam mengikuti perayaan Paskah secara live streaming. Mereka menyiapkan ‘altar’ kecil. Di atas altar itu ada Salib dan lilin bernyala. Ada juga yang menghiasi ruangan doa dengan indah sekali. Tak hanya itu, mereka berpakaian rapi, layaknya berada di gereja. Mereka duduk menghadap TV atau media lainnya. Mereka berdoa serius. Ketika ritus komuni, mereka  hanya bisa hening, lalu mendaraskan “Doa komuni kerinduan”. Setelah selesai perayaan, mereka foto bersama. Luar biasa!

Bagi saya, apa yang terjadi di atas, sangat mengagumkan. Di antara mereka memang ada yang mengakui bahwa rasanya tetap berbeda bila dibandingkan dengan mengikuti secara langsung di gereja, apalagi tanpa penerimaan Tubuh Kristus. Itulah yang membuat mereka sedih. Saya paham dengan suasana batin mereka ini.

Pada Paskah 2020 ini, saya menemukan hal-hal positif yang sangat sulit dilupakan sepanjang masa. Antara lain, setiap keluarga katolik semakin menyadari bahwa keluarga adalah komunitas umat beriman yang paling dasar. Bahkan Gereja Katolik menyebut keluarga sebagai Gereja mini atau Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica). Disebut demikian karena keluarga adalah komunitas iman: tempat iman diajarkan-diwartakan, ditumbuhkan, dihayati, dirasakan kekuatan-dayanya. Di dalam keluargalah anak-anak belajar mengenal Tuhan, belajar berdoa, mengenal Kitab Suci dan beberapa ajaran iman mendasar. Dalam hal ini, guru utamanya adalah orang tua (ayah-ibu). Saya yakin, posisi dan panggilan keluarga sebagai Gereja Mini sungguh-sungguh dirasakan selama Pekan Suci 2020, terutama saat Perayaan Kebangkitan Tuhan (Paskah). Sungguh Paskah yang tak terlupakan!

Karena itu, terlepas dari kesedihan karena tidak merayakan bersama di gereja, saya yakin wabah Covid 19 telah mendidik keluarga katolik untuk kembali pada jati dirinya sebagai Gereja Mini. Harapannya, ini tidak hanya terjadi saat Pekan Suci atau saat Paskah. Setelah ini, keluarga katolik harapannya terus menyadari betapa mulia posisinya sebagai komunitas umat beriman yang paling dasar. Kesadaran ini hendaknya menggerakkan keluarga terutama orang tua agar  terus menghidupkan api iman: berdoa, merenungkan Kitab Suci dan tak lelah menumbuhkan iman dalam diri anak-anaknya. Saya yakin, keluarga seperti inilah yang berkenan kepada Tuhan. Karena berkenan kepada Tuhan, dengan sendirinya, mereka berkenan kepada sesama. Mereka pasti menjadi berkat bagi sesama. Iman mereka pasti berbuah dalam hidup sehari-hari.

Menurutku, keluarga seperti ini akan kokoh di tengah badai zaman ini, apapun bentuknya. Mereka tidak mudah terombang-ambingkan dengan aneka tawaran kemajuan yang berpeluang menghancurkan kehidupan walau menggiurkan. Mereka pasti bisa menyeleksi mana yang  baik dan perlu diikuti dan mana yang tidak baik dan  perlu diabaikan. Mereka juga pasti tidak mudah terlena dan tidak berhamba pada harta, pangkat, kenikmatan atau apa pun yang ada di dunia ini. Harta atau pangkat pasti dianggap sebagai sarana untuk hidup dan bukan tujuan hidup.

Keluarga seperti di atas pasti selalu memiliki waktu hening untuk berjumpa dengan Tuhan: bersyukur, memohon ampun atas segala dosa, memohon perlindungan-berkat atau sekadar menenangkan hati bersama Tuhan. Saya berani menyimpulkan bahwa keluarga seperti ini pasti diliputi kegembiraan dalam hidupnya. Rahmat Allah pasti mengalir dalam hidup mereka. Sebab mereka selalu mengandalkan Tuhan sang pemilik segala sesuatu. Kalaupun ada kesulitan, mereka akan tetap tenang dan tetap berpikir positif dan berjuang memandang setiap persoalan dari sudut pandang iman kristiani. Dengan demikian, setiap kesulitan akan teratasi dengan baik.

Terima kasih Paskah 2020! Engkau tak terlupakan. Engkau telah mendidik umat katolik tentang apa artinya rindu akan kebersamaan sebagai komunitas orang beriman. Engkau juga mendidik umat katolik agar tak lelah menahan rindu akan perjumpaan dengan  Tuhan Yesus melalui Ekaristi. Tak hanya itu, engkau  mendidik keluarga katolik agar kembali kepada jati dirinya sebagai Gereja Mini. Semoga semangat Paskah 2020 menggerakkan setiap keluarga katolik agar terus menunjukkan ‘pesona jati dirinya’ sebagai Gereja Mini.***

 

 

Selamat Paskah 2020!

(Paskah tanpa umat)

Labuan Bajo, 13 April 2020

RP. Laurensius Gafur, SMM