8.8 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 45

Teguran Yesus Menjadikan Kita Pribadi yang Legawa

0
bones64 / Pixabay

Seorang dari antara ahli-ahli Taurat menjawab dan berkata kepada-Nya: “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab: “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun.” (Lukas 11:45-46)

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Dalam perikop ini, kita temukan sebuah perdebatan yang pelik dan cukup menegangkan antara Yesus dan seorang ahli Taurat. Yesus menegur balik salah seorang dari ahli Taurat yang mencoba untuk mengoreksi Yesus karena cubitan kata teguran-Nya yang sangat ‘menyakitkan’.

Yesus tidak terpukul mundur. Sebaliknya, Ia justru menegur orang itu.

Menariknya, Yesus tidak terpukul mundur. Dengan tidak disangka-sangka, Ia justru menegur orang itu dengan kata-kata yang cukup ‘menyakitkan’. Mengejutkan, bukan?
Konon, si ahli Taurat itu sebenarnya mau menyadarkan Yesus bahwa kata-kata-Nya justru ‘menghina’ mereka. Dia menunjukkan seolah-olah Yesus tengah melakukan sebuah kesalahan dan perlu untuk diberi teguran.

Di sini, Yesus mau menegur orang yang sering menjadi tegang dan kesal terhadap hal-hal kecil; dan bagi mereka yang selalu ingin dihormati. Kehidupan keagamaan yang dicari Tuhan adalah kesucian hati serta cinta yang terlahir dari keberimanan.

Yesus menegur orang-orang Farisi dan ahli Taurat itu supaya mereka menyadari bahwa mereka ditegur karena kesombongan dan ketegaran hatinya. Jika seseorang benar-benar rendah hati, maka setiap teguran akan disambutnya sebagai bentuk penyadaran diri dan koreksi yang bermanfaat.

Sayangnya, si ahli Taurat itu tidak memiliki semangat ‘legawa’ dan rendah hati untuk terbuka terhadap teguran Yesus. Ia justru semakin angkuh. Seolah-olah, ia mau mencuci tangan atas segala kesalahan yang telah ia lakukan dalam keseharian hidupnya. Hal ini juga sering terjadi dalam kehidupan kita. Entah kita sadari atau tidak, tidak semua orang begitu mudah menerima teguran orang lain atas kesalahannya. Ada segelintir orang yang kalau ditegur dan dikoreksi, merasa martabat mereka dilecehkan. Bahkan ada orang yang berusaha mengelabui perbuatan salahnya dengan kata-kata yang baik dan menyejukkan hati, namun memiliki maksud dan niat yang jahat. padahal, sejatinya, setiap kritikan dan teguran memiliki maksud baik, yaitu agar kita bisa menyadari diri dan kelemahan kita.

Saudara-saudari, apakah kita cukup rendah hati dan terbuka untuk menerima setiap teguran yang bersifat membangun dari orang lain? Jika seseorang menegur kita karena ketegaran hati kita, apakah kita mesti tersinggung? Ataukah kita menanggapinya sebagai teguran yang bermanfaat dan memungkinkan kita untuk bertumbuh dalam iman yang kokoh dan tahan banting?

Sesungguhnya, ketika kita bisa legawa terhadap setiap teguran dan kritikan, kita bisa menjadi pribadi yang terbuka dan teguh dalam iman. Layaknya obat, setiap kritik dan teguran itu bisa membuat kita menjadi lebih baik. Dengan bersikap terbuka terhadap kritik, kita akan lebih mudah mengerti di mana titik lemah kita, sehingga kita bisa menyiapkan cara untuk memperbaiki setiap celah kekurangan kita.

Semoga kita bisa lebih ‘legawa’ untuk menerima setiap teguran dan kritikan dari orang lain, karena dengannya kita bisa lebih mengenal diri dan kelemahan kita. Semoga Tuhan memberkati! Amin.

Jangan Ngaku Beriman kalau Tidak Tahu Bersyukur

0
dh_creative / Pixabay

Bersyukur adalah ungkapan iman. Tepat jika dikatakan bahwa orang  beriman adalah orang yang bersyukur. Sebaliknya jika tak bersyukur, walaupun menganggap diri bagian dari kaum beriman, orang tersebut sesungguhnya tak beriman. Atau sekurang-kurangnya ia tak mengungkapkan imannya.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Sesungguhnya, ada banyak hal yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Napas kehidupan, kesehatan, pekerjaan, rumah kediaman, relasi persahabatan yang baik dan sebagainya adalah anugerah Tuhan. Tapi, seberapa sering kita bersyukur?

Sepuluh Orang Kusta

Dalam Injil pada Hari Minggu Biasa 28, kita mendengarkan kisah sepuluh orang kusta yang mendatangi Yesus. Mereka menderita penyakit kusta. Penyakit kusta itu sangat berbahaya tak hanya bagi penderitanya, tetapi juga bagi orang di sekitarnya. Ia menular. Yang menderita kusta juga tak hanya menderita secara fisik, tetapi juga sosial dan psikis. Mereka ‘disingkirkan’ dari tengah masyarakat agar penyakitnya tidak menular. Mereka ‘dikarantina’ di tempat tertentu. Mereka sangat menderita. Sepuluh orang kusta yang sangat menderita  seperti inilah yang ingin sekali disembuhkan oleh Yesus.

“Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Ini permintaan kesepuluh orang kusta itu agar disembuhkan.

“Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Ini permintaan kesepuluh orang kusta itu agar disembuhkan. Mereka yakin bahwa Yesus bisa menyembuhkan mereka. Permintaan mereka hanya ditanggapi Yesus dengan menyuruh mereka pergi memperlihatkan diri kepada imam-imam. Dalam perjalanan, mereka semuanya sembuh. Tentu saja mereka sangat senang.

Bagi saya, yang sangat menarik dari kisah tersebut adalah hanya satu orang di antara mereka yang kembali kepada Yesus. Ia kembali untuk berterima kasih dan memuliakan Allah dengan nyaring bahkan tersungkur di depan kaki Yesus (Ay. 15-16). Ini ungkapan terima kasih dan syukur yang mendalam. Di mana dan ke mana sembilan orang yang lain? Mengapa mereka tak pulang berterima kasih dan bersyukur kepada Yesus? Mengapa mereka tak memuliakan Allah dengan nyaring? Entahlah!

Sumber: Google.com

Jarang Bersyukur

Saya merenungkan, kisah Injil ini adalah kisah kita saat ini. Kita yang kadang-kadang atau jarang bersyukur. Kita yang kadang-kadang lupa bersyukur untuk banyak rahmat Tuhan dalam hidup ini. Kita cenderung menganggap apa pun yang kita peroleh adalah hasil jerih payah sendiri dan bukan rahmat Tuhan. Kita begitu sombong.

Kadang-kadang dalam situasi sulit, misalnya saat menderita sakit, kita memohon dengan tekun kepada Tuhan agar sembuh. Setelah sembuh, bisa saja kita lupa bersyukur. Atau ketika mengalami masalah di dalam keluarga atau di tempat kerja, kita mengeluh kepada Tuhan dan memohon agar diberi jalan keluar terbaik. Tetapi setelah jalan keluar terbaik ditemukan, kita juga lupa bersyukur kepada Tuhan. Kita mengganggap bahwa semuanya itu karena kehebatan kita. Ya, seperti sembilan orang kusta yang tak kembali berterima kasih dan bersyukur kepada Yesus. Dan, masih banyak kisah lain tentang jarangnya kita bersyukur.

Belajar pada Bunda Maria

Saat ini, kita sedang berada pada pertengahan bulan Oktober, bulan Rosario. Ini saat yang tepat untuk merenungkan dan menggali keutamaan Bunda Maria dalam beriman, secara khusus dalam bersyukur. Ia adalah bunda kita, bunda umat beriman, bunda yang selalu bersyukur. Ia selalu bersyukur atas rahmat  yang diberikan Tuhan kepada-Nya. Mari kita menyimak sejenak tanggapannya ketika ia mendapat pujian dari Elisabet:

“Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesunggunya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk. 1:42-45).

Bagaimana tanggapan Maria? Ia menyanyikan kidung pujian! Pujian dan kekaguman Elisabet ditanggapinya dengan memuji dan mengagungkan kebesaran Allah. “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah Juru Selamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya ….” (bdk. Luk. 1:46-55). Bunda Maria menyadari bahwa semua yang dialaminya hanya karena anugerah Tuhan, bukan karena prestasi manusiawinya. Karena itu, yang layak dipuji dan diagungkan itu hanya Allah. Ia bersyukur atas semua anugerah Tuhan itu melalui kidung pujiannya.

Kita perlu belajar pada Bunda Maria agar selalu bersikap rendah hati dan  selalu bersyukur atas apapun yang kita terima dari Tuhan dalam hidup ini. Semua yang kita dapatkan dalam hidup ini hendaknya diyakini sebagai anugerah Tuhan, bukan terutama karena kehebatan manusiawi kita. Menurutku, keterlaluan kalau kita malas atau tidak mau bersyukur. Bersyukur adalah ungkapan iman.***

Orang Tua dan Anak di Mata Tuhan: Berharga dan Tak Boleh Saling Mengabaikan

0
marvelmozhko / Pixabay

Pada waktu masih kecil, saya sering mendengarkan ungkapan “Orang tua adalah Allah yang kelihatan” dari orang tuaku. Ungkapan ini terdengar tatkala saya kurang menghargai nasehat mereka. Mungkin terkesan menakut-nakuti, tetapi sesungguhnya  ungkapan ini berlandaskan refleksi teologis yang mendalam.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Bahwasannya, cinta kepada orang tua merupakan salah satu ungkapan cinta kepada Tuhan. Allah itu tak terjangkau indra, walau manusia selalu merasakan kehadiran-Nya. Sementara itu, orang tua selalu kelihatan dan dirasakan kehadirannya. Orang tua adalah rekan Allah (co-creator) dalam menghadirkan manusia baru di bumi ini. Tuhan juga adalah Sang Pemelihara kehidupan. Begitu juga orang tua. Mereka bertanggung jawab memelihara anak-anaknya. Sungguh, betapa mulianya peran orang tua ini. Inilah salah satu alasan penting mengapa anak-anak harus menghargai orang tuanya.

Dalam Kitab Suci ditemukan ayat-ayat yang menekankan pentingnya penghargaan terhadap orang tua. Antara lain:

“Barangsiapa menghormati bapanya memulihkan dosa, dan siapa memuliakan ibunya serupa dengan orang yang mengumpulkan harta. Barangsiapa menghormati bapanya, ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula, dan apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan. Barangsiapa memuliakan bapanya akan panjang umurnya, dan orang yang taat kepada Tuhan menenangkan ibunya” (Sirakh 3:3-6).

Anak adalah titipan Allah. Kehadirannya adalah berkat yang tiada tara bagi orang tua. Tuhan adalah pemiliknya. Bukan orang tua! Hal ini juga menuntut orang tua untuk sungguh-sungguh bertanggung jawab terhadap anak-anak yang dilahirkan. Melalaikan tanggung jawab ini tak lain adalah melalaikan Tuhan sang pemberi hidup.

Tentang  anak sebagai ‘titipan’ Tuhan ini, penyair tersohor Kahlil Gibran mempunyai refleksi yang  sangat mendalam dan selalu aktual sepanjang zaman. Ia menuliskan demikian:

“Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra putri sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau. Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu. Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu, sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri. Patut kau berikan rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya, sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu.”

Sumber: Google.com

Di mata Tuhan, orang tua dan anak tak lain adalah citra-Nya sendiri (bdk. Kej. 1:26). Dengan demikian, keduanya sangat berharga dan karenanya keduanya tidak boleh saling mengabaikan. Relasi yang dibangun tentu berlandaskan Kasih Allah yang tiada batas bagi mereka. Dengan kata lain, hubungan antara orang tua-anak berlandaskan kasih. Tiada  yang lain.

Menghidupkan

Dalam kandungan, anak bergantung secara total kepada sang ibu. Setelah dilahirkan, ia juga masih menggantungkan hidupnya pada orang tua. Relasi yang berlandaskan kasih Allah menyadarkan orang tua akan perannya, yakni menghidupkan. Tuhan adalah pemberi hidup. Sebagai rekan kerja Allah, orang tua mempunyai tanggung jawab untuk menghidupkan anak yang hadir di dalam keluarga. Hal ini tidak hanya dengan memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga spiritual. Dengan kata lain, anak tidak hanya diberi makan atau pakaian, misalnya, tetapi juga diberi perhatian yang tulus; serta menemaninya dalam setiap situasi hidupnya.

Di pihak lain, anak-anak juga perlu menghidupkan orang tuanya. Hal ini tentu dilakukan ketika anak-anak sudah mulai mengerti dengan hidupnya. Antara lain, mengikuti setiap nasehat orang tua, melakukan hal-hal berguna yang tidak hanya membahagiakan dirinya, tetapi juga melegakan hati orang tua.

Ketika orang tua sakit atau sudah tua, anak-anak mempunyai tanggung jawab untuk menjaga dan memeliharanya. Anak harus ‘menghidupkan’ orang tuanya. Hal ini dilakukan bukan dengan keterpaksaan, tetapi karena kasih yang tulus tanpa pamrih.

Mengampuni

Cukup banyak keluarga zaman ini yang berantakan karena relasi orang tua-anak tidak dijaga dengan baik. Banyak anak yang tidak percaya lagi kepada orang tuanya karena pengalaman pahit tertentu. Di pihak lain, ada juga orang tua yang tidak mau pusing lagi dengan anaknya. Situasi ini membawa lumayan banyak keluarga zaman ini berada di ambang kehancuran.

Bagi orang beriman, saling mengampuni adalah ungkapan iman (bdk. doa Bapa Kami). Dalam hal ini, orang tua  dan anak perlu saling mengampuni. Mengampuni berarti kedua pihak mau menerima satu sama lain; memperbaiki kesalahan dan kekhilafan;  serta mau duduk bersama menyusun langkah yang lebih baik untuk kebahagiaan hari esok. Mengampuni juga berarti anak-anak tidak mudah lari dari rumah apabila ada persoalan di dalam keluarga. Orang tua pun tidak mudah putus asa apabila anak-anaknya menyebalkan. Apabila sikap saling mengampuni mewarnai relasi orang tua-anak, maka keluarga akan selalu utuh sampai kapan pun.

Pentingnya Perjumpaan Pribadi

Salah satu tantangan besar bagi keluarga zaman ini adalah perjumpaan pribadi antara orang tua-anak yang semakin jarang, terutama di kota-kota besar. Ada orang tua yang sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk berjumpa secara pribadi dan bercengkerama dengan anak-anaknya. Bahkan hanya bisa berkomunikasi dengan anak-anak melalui telpon, sms, atau video call.

Di pihak lain, anak-anak lebih akrab dengan pembantu dan pengasuh; bahkan lebih akrab dengan barang-barang tekhnologi canggih (HP, Internet,TV, dll.) Padahal, perjumpaan langsung (kehadiran) itu sangat perlu dan tak tergantikan dengan telpon, video call, atau kirim sms. Situasi ini bisa memicu  relasi orang tua-anak menjadi renggang. Relasi kasih tidak tampak secara jelas dihayati-dihidupi. Alhasil, kebahagiaan bersama yang menjadi tujuan hidup berkeluarga kurang dialami.

Sumber: Google.com

Dengan demikian, kalau mendambakan kebahagiaan dalam hidup berkeluarga, hal penting yang harus dilakukan adalah meningkatkan perjumpaan pribadi antara orangtua-anak. Melalui perjumpaan pribadi tersebut, orang tua dan anak-anak dapat membangun relasi kasih personal yang tulus. Dasarnya adalah kasih Allah yang tanpa batas kepada umat manusia. Orang tua mengungkapkan kasihnya secara tulus dengan pelbagai cara kepada anak-anaknya. Demikian juga anak-anak terhadap orangtuanya. Relasi kasih itu menghidupkan!***

Selibat dan Menikah Ajaran Yesus

0
paterdarius / Pixabay

Serangan-serangan kaum Fundamentalis pada hidup selibat dapat dilihat dalam berbagai bentuk — tidak semuanya selaras satu dengan yang lainnya. Hampir semua yang disampaikan penuh dengan berbagai kesimpangsiuran.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Kekeliruan pertama dan paling mendasar adalah mereka mengira bahwa selibat merupakan dogma atau doktrin — bagian dari iman yang sentral dan tidak dapat diubah, yang dipercayai oleh umat Katolik berasal dari Yesus dan para rasul. Dengan itu sebagian kaum Fundamentalis begitu memperhatikan referensi dari Alkitab terhadap ibu-mertua Petrus (Markus 1:30), nampaknya beranggapan bahwa, bila Katolik tahu bahwa Petrus menikah, maka mereka tidak dapat menganggap dia sebagai Paus pertama. Sekali lagi, lini waktu yang dimaksud oleh kaum Fundamentalis akan “ciptaan-ciptaan Katolik” (sebuah bentuk tulisan populer) menetapkan “keharusan selibat imamat” kepada tahun ini atau itu di dalam sejarah Gereja, mengandaikan bahwa sebelum keharusan ini Gereja bukanlah Katolik.

Kaum Fundamentalis ini seringkali terkejut bila mengetahui bahwa selibat bukanlah aturan kepada semua imam Katolik. Faktanya, untuk Katolik Ritus Timur, imam yang menikah adalah hal umum, sama layaknya dengan Kristen Ortodoks dan Oriental.

Bahkan di dalam gereja-gereja Timur, sesungguhnya, selalu ada beberapa pembatasan menyangkut pernikahan dan pentahbisan. Sekalipun pria yang sudah menikah bisa menjadi imam, imam yang tidak menikah tidak boleh menikah, dan imam yang sudah menikah, bila menjadi duda, tidak boleh menikah lagi. Terlebih lagi, ada disiplin Timur kuno yang memilih para uskup dari para biarawan yang selibat, jadi semua uskup-uskup mereka tidak menikah.

Tradisi dalam Gereja Barat atau Ritus Latin adalah bagi imam-imam dan para uskup untuk mengambil kaul selibat, sebuah aturan yang sudah dikukuhkan sejak awal abad pertengahan. Akan tetapi, ada beberapa pengecualian. Sebagai contoh, ada imam-imam Ritus Latin yang menikah yang adalah mereka yang pindah dari Lutheranisme dan Epikospalisme.

Beberapa variasi dan pengecualian ini mengindikasikan, bahwa selibat bukanlah dogma yang tidak dapat diubah tetapi hanyalah sebuah aturan (disiplin). Fakta bahwa Petrus menikah tidak bertentangan dengan iman Katolik, karena pastor dari Gereja Katolik Maronit juga menikah.

Apakah Pernikahan itu Keharusan?

Kebingungan lain dari kaum Fundamentalis yang agak berbeda adalah anggapan bahwa selibat itu tidak alkitabiah, bahkan “tidak alami.” Setiap manusia, klaimnya, harus mematuhi perintah Alkitab untuk “Beranak cuculah” (Kej 1:28); dan Paulus memerintahkan supaya “setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri” (1 Kor 7:2). Bahkan diargumentasikan bahwa selibat entah bagaimana “menyebabkan”, atau paling tidak mempunyai keterkaitan dengan peningkatan insiden dari perilaku seksual yang haram atau menyimpang.

Semua ini tidak benar. Sekalipun hampir semua orang pada suatu titik dalam hidup mereka dipanggil untuk menikah, panggilan selibat sudah dengan jelas dianjurkan — dan dipraktisikan — oleh Yesus maupun Paulus.

Jauh dari “memerintahkan” pernikahan di dalam 1 Korintus 7, pada bab yang sama tersebut Rasul Santo Paulus nyatanya mendukung selibat bagi mereka yang mampu akan itu: “Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku. Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.” (1 Kor 7:8-9).

Hanya karena “bahaya percabulan” (7:2) itulah Paulus memberikan pengajaran mengenai setiap laki-laki dan wanita memiliki seorang pasangan dan memenuhi “kewajibannya” (7:3); dia secara spesifik menjelaskan, “Hal ini kukatakan kepadamu SEBAGAI KELONGGARAN, BUKAN SEBAGAI PERINTAH. Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.” (1 Kor. 7:6-7).

Paulus melangkah lebih jauh lagi untuk berargumen mengenai selibat lebih dari pernikahan: “…Adakah engkau tidak terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mencari seorang… orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu… Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya; Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya, dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya.” (7:27-34)

Kesimpulan Paulus: “Jadi orang yang kawin dengan gadisnya berbuat baik, dan orang yang tidak kawin berbuat lebih baik.” (7:38).

Paulus bukanlah rasul pertama yang menyimpulkan bahwa selibat, dalam beberapa artian, “lebih baik” daripada menikah. Setelah pengajaran Yesus dalam Matius 19:12 mengenai cerai dan menikah lagi, para murid berseru, “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.” (Matius 19:10). Ucapan ini memulai pengajaran Yesus akan nilai-nilai selibat “demi kerajaan”:

“Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Matius 19:11-12).

Perhatikan bahwa selibat “demi kerajaan surga” adalah sebuah karunia, sebuah panggilan yang tidak untuk semua orang, atau bahkan kebanyakan orang, tetapi dikaruniakan kepada sebagian. Orang-orang yang lain terpanggil ke dalam pernikahan. Benar pula bahwa seringkali individu-individu yang berada dalam kedua jenis panggilan tersebut gagal dari syarat-syarat yang dibutuhkan akan status mereka, tetapi hal ini tidak mengecilkan kedua panggilan tersebut, maupun itu berarti bahwa individu yang bersangkutan sebenarnya “tidak benar-benar terpanggil” untuk panggilan tersebut. Dosa seorang imam tidak membuktikan bahwa dia seharusnya tidak pernah mengambil kaul selibat, sama halnya dosa seorang laki-laki atau perempuan yang sudah menikah membuktikan bahwa dia seharusnya tidak menikah. Hal yang mungkin bagi kita untuk gagal dalam panggilan sejati kita.

Selibat sesuatu yang alami dan alkitabiah. “Beranak cuculah” tidak mengikat kepada setiap individu; melainkan, ia adalah pedoman umum bagi umat manusia. Jika tidak, setiap laki-laki maupun wanita yang sudah masuk dalam usia menikah akan berada dalam keadaan berdosa dengan tetap melajang, dan Yesus dan Paulus akan bersalah dalam menganjurkan dosa sekaligus pula melakukannya.

Suami Dari Satu Isteri

Argumen Fundamentalis lainnya, sehubungan dengan yang terakhir, adalah bahwa pernikahan itu keharusan bagi pemimpin-pemimpin Gereja. Paulus berkata bahwa seorang uskup haruslah “suami dari satu istri,” dan “seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?” (1 Tim 3:2,4-5). Ini berarti, seolah-olah mereka benar bahwa hanya seorang pria yang sudah menunjukkan kekeluargaannya layak untuk mengurus Jemaat Allah; seorang yang tidak menikah, implikasinya, belum teruji dan terbukti.

Interpretasi ini menuju kepada kekonyolan yang total. Dalam satu hal, bila “suami dari satu istri” benar-benar berarti bahwa seorang uskup harus menikah, dengan logika yang sama “disegani dan dihormati oleh anak-anaknya” berarti bahwa dia harus mempunyai anak-anak. Suami-suami yang tidak beranak (atau ayah dari seorang anak saja, karena Paulus menggunakan kata jamak) tidak masuk kualifikasi.

Faktanya, mengikuti gaya interpretasi konyol tersebut, puncaknya, karena Paulus berkata uskup-uskup harus memenuhi syarat-syarat ini (bukan akan mereka telah memenuhi syarat tersebut, atau akan kandidat-kandidat uskup yang sudah memenuhinya), juga berarti bahwa uskup yang sudah ditahbiskan yang istri maupun anak-anaknya meninggal akan menjadi tidak layak untuk pelayanan! Jelas-jelas penafsiran harafiah seperti ini harus ditolak.

Teori bahwa pemimpin-pemimpin Gereja harus menikah juga berkontradiksi dengan fakta jelas bahwa Paulus sendiri, seorang pemimpin Gereja unggul, lajang dan bahagia dalam kelajangannya. Terkecuali dia seorang munafik, dia tidak dapat memaksakan persyaratan kepada para uskup dimana dia sendiri tidak memenuhinya. Pertimbangkan pula, implikasi dari sikap positif Paulus terhadap selibat dalam 1 Korintus 7: Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi dan perhatiannya terbagi-bagi, tetapi hanya mereka yang layak untuk menjadi uskup-uskup; sedangkan mereka yang tidak menikah dan memusatkan perhatiannya kepada Tuhan, ditolak dari pelayanan!

Saran bahwa laki-laki yang tidak menikah belum teruji atau terbukti jugalah konyol. Setiap panggilan mempunyai tantangannya sendiri; laki-laki selibat harus melatih “pengendalian diri” (1 Kor 7:9); suami harus mengasihi dan berkorban demi istrinya (Ef 5:25); dan seorang ayah harus membesarkan anak-anaknya dengan baik (1 Tim 3:4). Setiap laki-laki harus memenuhi standar Rasul Paulus dalam “mengurus rumah tangganya dengan baik”, sekalipun “rumah tangga” ini adalah dirinya sendiri. Bila itu seorang laki-laki selibat menemui standar yang lebih tinggi dari seorang pria berkeluarga yang terhormat.

Jelasnya, maksud dari persyaratan Rasul Paulus bahwa seorang uskup “suami dari satu istri” bukanlah bahwa dia harus mempunyai satu istri, tetapi bahwa dia harus mempunyai satu istri saja. Dinyatakan sebaliknya, Paulus berkata bahwa seorang uskup harus tidak mempunyai anak-anak yang tidak bisa diatur atau tidak disiplin (bukan dia harus mempunyai anak-anak yang harus berperilaku baik), dan tidak boleh menikah lebih dari sekali (bukan dia harus menikah).

Sejatinya, secara tepat mereka yang secara unik “memusatkan perhatian akan perkara-perkara Tuhan” (1 Kor 7:32), kepada mereka yang telah diberikan untuk “membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga” (Mat 19:12), yang secara ideal cocok untuk mengikuti langkah-langkah mereka yang telah “meninggalkan segala-galanya” demi mengikuti Kristus (bdk. Mat 19:27) — panggilan sebagai imam kaum religi yang dikonsekrasi (para biarawan dan biarawati).

Karena itu Paulus memperingatkan Timotius, seorang uskup muda, bahwa mereka yang dipanggil menjadi “prajurit” Kristus harus menghindari “hal-hal sipil”: “Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.” (2 Tim 2:3-4). Dalam terang kata-kata Paulus pada 1 Korintus 7 mengenai keuntungan dari selibat, pernikahan dan keluarga jelas-jelas menonjol dalam kaitannya dengan “hal-hal sipil”.

Sebuah contoh dari pelayanan selibat juga bisa dilihat pada Perjanjian Lama. Nabi Yeremia, sebagai bagian dari pelayanan nubuatannya, dilarang untuk mengambil seorang istri: “Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: “Janganlah mengambil isteri dan janganlah mempunyai anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan di tempat ini.”” (Yer 16:1-2). Tentunya, ini berbeda dengan selibat imamat Katolik, yang tidak ditahbiskan secara ilahi; tetapi preseden ilahi masih mendukung legitimasi dari institusi manusia ini.

Dilarang Untuk Menikah

Tetapi tiada satupun dari ayat-aya ini memberikan kita contoh akan selibat sebagai mandat dari manusia. Selibat Yeremia itu sebuah keharusan, tetapi itu dari Tuhan. Ucapan Paulus kepada Timotius akan “hal-hal sipil” hanyalah peringatan umum, bukan perintah spesifik; dan bahkan dalam 1 Korintus 7 Rasul Paulus menganjurkan untuk selibat dengan menambahkan: “Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, bukan untuk menghalang-halangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan.” (7:35)

Ini membawa kita kepada serangan terakhir kaum Fundamentalis: bahwa, dengan mensyaratkan sebagian dari imam dan kaum religinya untuk tidak menikah, Gereja Katolik jatuh kedalam kutukan Paulus dalam 1 Timotius 4:3 kepada para pembelot yang “melarang pernikahan”.

Faktanya, Gereja Katolik tidak melarang siapa pun untuk menikah. Tidak ada yang diharuskan mengambil kaul selibat; mereka yang melakukan hal itu, melakukannya dengan sukarela. Mereka demikian “karena kemauan sendiri” (Mat 19:12); tiada yang melarang hal itu kepada mereka. Seorang Katolik yang tidak ingin mengambil kaul tersebut tidak perlu melakukannya, dan dia bebas untuk menikah dengan restu dari Gereja. Gereja secara sederhana memilih kandidat-kandidat untuk imamat (atau, pada ritus Timur, untuk episkopat) dari mereka yang secara sukarela untuk tidak menikah.

Tetapi apakah ada preseden alkitabiah akan praktisi yang membatasi keanggotaan ke dalam group hanya kepada mereka yang secara sukarela berkaul selibat? Ya. Rasul Paulus, menulis sekali lagi kepada Timotius, menyebut para janda yang bersumpah tidak menikah lagi (1 Tim 5:9-16); dengan tertentu menasihati: “Tolaklah pendaftaran janda-janda yang lebih muda. Karena apabila mereka sekali digairahkan oleh kebirahian yang menceraikan mereka dari Kristus, mereka itu ingin kawin dan dengan memungkiri kesetiaan mereka yang semula kepada-Nya, mereka mendatangkan hukuman atas dirinya.” (5:11-12).

[postingan number=3 tag= ‘salib’]

“Kesetiaan mereka yang semula” yang dipungkiri oleh pernikahan lagi tidak mungkin mengacu kepada pernikahan mereka yang pertama, karena Paulus tidak mengutuk para janda untuk menikah lagi. (cf. Rom 7:2-3). Itu hanya bisa mengacu kepada sumpah untuk tidak menikah yang diambil para janda yang masuk ke dalam grup ini. Hasilnya, mereka adalah bentuk awal dari group perempuan religi — Biarawati Perjanjian Baru. Gereja Perjanjian Baru memiliki tatanan dengan keharusan selibat, sama halnya Gereja Katolik saat ini. Pelarang Pernikahan yang dimaksud Rasul Paulus pada saat itu adlaah sekte Gnostik. Gnostik mencela pernikahan, seks, dan menganggap tubuh itu pada hakekatnya jahat. Beberapa bidaah awal masuk ke dalam penjabaran ini, pula kaum Albigensian dan Kataris pada abad pertengahan (yang, ironisnya, dikagumi beberapa penulis anti-Katolik yang tidak kritis, nampaknya hanya karena kebetulan mereka bersikeras untuk menggunakan versi terjemahan bahasa mereka masing-masing akan Alkitab; lihat pada traktat Catholic Answer berjudul Catholic Inventions).

Martabat Dari Selibat dan Pernikahan

Kebanyakan umat Katolik menikah, dan semua umat Katolik diajarkan untuk menghormati pernikahan sebagai institusi kudus — sebuah sakramen, tindakan Allah akan jiwa kita; salah satu dari hal-hal terkudus yang kita alami dalam hidup ini.

Faktanya, justru karena kesucian pernikahanlah membuat selibat itu berharga; hanya karena apa yang baik dan kudus dalam sendirinya itu bisa diserahkan kepada Allah sebagai persembahan. Sama layaknya puasa mengandaikan kebaikan dari makanan, selibat juga mengandaikan kebaikan dari pernikahan. Dengan memandang rendah selibat, maka dari itu, sama dengan memandang rendah pernikahan itu sendiri — seperti yang ditunjukkan oleh Bapa-bapa Gereja.

Selibat juga sebuah institusi penegasan kehidupan. Dalam Perjanjian Lama, dimana selibat hampir tidak diketahui, yang tidak beranak seringkali dicela oleh orang-orang lain dan oleh diri mereka sendiri; hanya melalui anak-anak, dirasakan, seseorang mempunyai nilai. Dengan menolak pernikahan, sang selibat menegaskan nilai hakiki dari setiap hidup manusia dalam kesendiriannya, terlepas dari keturunan.

Pada akhirnya, selibat adalah pertanda eskatologi akan Gereja, sebuah tanda kehidupan saat ini akan selibat universal dari sorga: “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.” (Mat 22:30)

NIHIL OBSTAT: I have concluded that the materials presented in this work are free of doctrinal or moral errors.
Bernadeane Carr, STL, Censor Librorum, August 10, 2004

IMPRIMATUR: In accord with 1983 CIC 827
permission to publish this work is hereby granted.
+Robert H. Brom, Bishop of San Diego, August 10, 2004

CATATAN KAKI:
Sumber asal: http://www.catholic.com/tracts/celibacy-and-the-priesthood
Diterjemahkan oleh Maximinus

Mengenal Tiga Malaikat Agung, Pelayan Allah

0

Gereja Katolik mengakui dan mengimani keberadaan makhluk rohani tanpa badan yang disebut Malaikat.

Keberadaan malaikat merupakan kebenaran iman, kesaksian Kitab Suci dan kesepakatan tradisi. “Bahwa ada makhluk rohani tanpa badan, yang oleh Kitab Suci biasanya dinamakan ‘malaikat’, adalah satu kebenaran iman. Kesaksian Kitab Suci dan kesepakatan tradisi tentang itu bersifat sama jelas” (KGK 328).

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Santo Agustinus mengatakan: “Malaikat menunjukkan jabatan, bukan kodrat. Kalau engkau menanyakan kodratnya, maka ia adalah roh; kalau engkau menanyakan jabatannya, maka ia adalah malaikat” (Psal. 103,1,15). Oleh sebab itu, dalam keadaannya, malaikat adalah pelayan dan pesuruh Allah (Mat. 18:10, Mzm. 103:20 (Bdk. KGK 329). Mereka adalah makhluk rohani murni yang mempunyai akal budi dan kehendak; mereka adalah wujud pribadi (bdk. Pius XII: DS 3891. Dan tidak dapat mati (bdk. Luk 20:36) …. Mereka adalah makhluk yang melampaui makhluk yang lain dalam kesempurnaan (bdk. KGK 330).

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan bahwa ‘Sejak masa anak-anak (bdk. Mat. 18:10) sampai kematiannya (bdk. Luk. 16:22), malaikat-malaikat mengelilingi kehidupan manusia dengan perlindungan (bdk. Mzm 34:8; 91:10-13) dan doa permohonan (bdk. Ayb 33:23-24; Za 1:12; Tob. 12:12). “Seorang malaikat mendampingi setiap orang beriman sebagai pelindung dan gembala, supaya menghantarnya kepada kehidupan” (Basilius, Eun. III, 1). Sejak di dunia ini, dalam iman, kehidupan Kristen mengambil bagian di dalam kebahagiaan persekutuan para malaikata dan manusia yang bersatu dalam Allah [KGK 336].

Pertama, Malaikat Agung Santo Gabriel

Gabriel artinya ‘kekuatan Allah’. Kisah malaikat Gabriel dapat kita temukan dalam berbagai ayat Kitab Suci. Kisah malaikat Gabriel dapat kita temukan dalam Injil Lukas. Malaikat Gabriel bertindak sebagai pembawa kabar gembira tentang kelahiran Yesus. Malaikat Gabriel masuk ke rumah Bunda Maria dan memberi salam (bdk. Luk. 1:26-38).

Kedua, Malaikat Agung Santo Mikhael

Mikhael artinya ‘Siapakah seperti Tuhan’. Malaikat Mikhael disebut sebagai penghulu Malaikat. Kitab Daniel menyebutkan bahwa Dia akan muncul pada akhir zaman sebagai pemimpin besar (bdk. Daniel 12:1). Selain itu, ia juga disebutkan dalam suatu perselisihan dengan iblis mengenai mayat Musa. Mikhael tidak berani menghardik iblis, namun ia mengatakan ‘kiranya Tuhan menghardik engkau! (Yud. 1:9).’

Ketiga, Malaikat Agung Santo Rafael

Rafael artinya Tuhan yang menyembuhkan. Kisah malaikat Rafael dapat ditemukan dalam Kitab Deuterokanonika Tobit  (Tobit 3:17, 12:15). Ia menyebut diri sebagai salah seorang dari ketujuh malaikat yang melayani Allah (bdk. Wahyu 21:9, Tobit 12:15). Malaikat berperan dalam penyembuhan mata Tobit yang buta dan menjadi pelindung bagi Tobias dalam upaya mencari obat untuk menyembuhkan ayahnya, Tobit. Selain itu, ia melepaskan Tobias dari pengaruh setan Asmodeus (bdk. Tobit 3:17).

Dalam Konsili Roma pada tahun 745 di bawah pemerintahan Paus Santo Zakharia ( Pope Saint Zachary), Gereja Katolik secara resmi hanya mengakui nama tiga dari tujuh Malaikat: St. Michael, St. Gabriel, dan St. Raphael. Alasan Gereja Katolik mengakui hanya tiga Malaikat Agung adalah karena ketiga Malaikat yang disebutkan dalam Kitab Suci. Tiga malaikat tersebut secara resmi diakui sebagai nama malaikat dalam doktrin Gereja Katolik. Empat lainnya diakui sebagai kelompok kerubim atau makhluk surga yaitu St. Uriel, St. Yehudiel, St. Barachiel, St. Sealtiel.

Catatan Kaki:

Baca Dokumen Konsili Roma pada tahun 745; https://www.ccel.org/ccel/schaff/npnf214.viii.vii.iii.xl.html?fbclid=IwAR1P62zCN1en0KJrCqOCll1D7E5TGhgYMLL3nnjqwDKeM04dKPGWdkfOwZM

Kata Yesus: Maria Memilih yang Terbaik

0
rawpixel / Pixabay

Marta  dan Maria. Nama yang indah. Mereka bersaudara. Tapi keduanya menanggapi kehadiran Yesus secara berbeda. Marta sibuk melayani Yesus. Mungkin menyiapkan minuman atau makanan. Maria lebih memilih duduk dekat kaki Yesus. Ia mendengarkan Sang Guru.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Ketika Marta meminta Yesus menyuruh Maria membantunya, Yesus malah menyadarkan Marta bahwa apa yang dilakukan oleh Maria justru yang terbaik. Marta dikritik karena dianggap ‘menyusahkan diri dengan banyak perkara’ dan kurang sadar terhadap apa yang menjadi prioritas.

Maria dipuji karena memilih yang terbaik. Katakan, Maria tahu prioritas. Bahwa pilihan terbaik saat Yesus hadir di rumah mereka adalah mendengarkan-Nya. Apakah yang dilakukan Marta tidak baik? Tidak juga. Tapi yang terbaik saat Yesus hadir adalah duduk di dekat kaki-Nya, mendengarkan-Nya. Itu saja.

Kadang-kadang kita menyibukkan diri dengan pelbagai perkara dalam hidup ini. Tidak fokus. Tidak tahu prioritas. Misalnya saat mengikuti perayaan Ekaristi, kadang-kadang masih ‘curi waktu’  main HP bahkan ‘update’ status, “Ah, kotbahnya lama sekali; membosankan’. Padahal perayaan Ekaristi itu saat yang sangat penting untuk mengalami kehadiran Yesus dan membiarkan diri dibarui oleh-Nya.

Kadang-kadang kita tidak fokus. Kita tidak tahu prioritas. Kita menyibukkan diri dengan pelbagai perkara yang sebenarnya tidak berhubungan secara langsung dengan hidup dan perutusan kita.

Kadang-kadang juga kita terlalu menyibukkan diri dengan pelbagai perkara yang tidak berhubungan secara langsung dengan hidup dan perutusan kita. Misalnya, sibuk mengomentari sesama (bupati, gubernur, presiden, DPR, imam, uskup, umat, dll) di media sosial, tapi kurang bertanggung jawab dengan hidup, keluarga atau komunitas sendiri; kurang peduli juga dengan sesama di sekitar rumah atau komunitas. Kurang peka merawat diri sendiri tapi sangat peduli mengomentari hidup orang lain. Tentu peduli itu penting. Tapi peduli berlebihan itu tidak bijak juga.

Hal-hal di atas menunjukkan bahwa kita kadang-kadang kurang menyadari apa yang menjadi prioritas dalam hidup ini. Kita tidak mampu memilih bagian yang terbaik. Karena itu, kritikan Yesus kepada Marta juga diarahkan kepada kita. “Engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara….” 

Memilih yang terbaik sesuai panggilan dan perutusan masing-masing adalah tanda kedewasaan; tanda kebijaksanaan yang sedang bersemi. Bertanggung jawab dengan hidup dan perutusan sendiri sambil ‘peduli secukupnya’ (tidak berlebihan) dengan sesama itu pilihan terbaik. “Engkau telah memilih yang terbaik yang tak akan diambil darimu!” Mungkin Yesus berkata seperti itu jika kita tahu prioritas dalam hidup ini; tahu memilih yang terbaik.***

Tidak Ada Keselamatan di Luar Gereja

0

Oleh Fr. Ray Ryland

Mengapa Gereja Katolik mengajarkan bahwa “tiada keselamatan di luar Gereja”? Bukankah ini mengkontradiksi Kitab Suci? Allah “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” (1 Tim 2:4) “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6). Petrus menyatakan kepada kaum Sanhedrin, “keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:12).

Karena Allah bermaksud (berencana, menghendaki) agar setiap manusia harus ke sorga, bukankah pengajaran Gereja [ini] sangat mengekang lingkup penebusan Allah? Apakah Gereja mempunyai maksud — sebagaimana Protestant dan (saya curiga) banyak umat Katolik yakini — bahwa hanya anggota Gereja Katolik yang dapat diselamatkan?

Ini adalah apa yang diajarkan oleh seorang imam di Boston, Fr. Leonard Feeney SJ, mulai ajarkan pada tahun 1940’an. Uskupnya dan Vatikan mencoba meyakinkan dia bahwa interpretasi dia akan pengajaran Gereja tersebut adalah salah. Dia bersekieras di dalam kekeliruannya sehingga pada akhirnya dia di ekskomunikasi, akan tetapi oleh kerahiman Allah, dia berekonsiliasi dengan Gereja sebelum dia wafat pada tahun 1978.

Dalam mengkoreksi Fr. Feeney di tahun 1949, Kongregasi Suci Agung dari Kementerian Suci (sekarang Kongregasi bagi Doktrin Iman) mengeluarkan sebuah dokumen berjudul “Suprema Haec Sacra”, yang menyatakan bahwa “extra ecclesiam, nulla salus” (diluar Gereja, tiada keselamatan) adalah “sebuah penyataan infalibel”. Tetapi, ia menambahkan, “dogma ini haruslah dimengerti dalam artian yang dalam mana Gereja sendiri memahaminya.”

Perhatikan kata “dogma” tersebut. Pengajaran ini telah diproklamasikan oleh, diantara yang lain, Paus Pelagius pada tahun 585, Konsili Lateran ke-empat tahun 1214, Paus Innosensius III tahun 1214, Paus Bonifacius VIII tahun 1302, Paus Pius XII, Paus Paulus VI, Konsili Vatikan Kedua, Paus Yohanes Paulus II, dan Kongregasi bagi Doktrin Iman dalam “Dominus Iesus”.

Maksud kita adalah ini: Saat Gereja secara infalibel mengajarkan “extra ecclesiam, nulla salus”, ia tidak mengatakan bahwa non-Katolik tidak dapat diselamatkan. Faktanya, ia menegaskan sebaliknya. Tujuan dari pengajaran itu adalah untuk mengatakan kepada kita BAGAIMANA Yesus Kristus membuat keselamatan tersedia bagi seluruh umat manusia.

Kerjakan Keselamatanmu

Ada dua dimensi berbeda akan penebusan Yesus Kristus. Penebusan “obyektif” adalah yang dituntaskan oleh Yesus Kristus sekali untuk seterusnya dalam kehidupan, wafat, kebangkitan, dan naikNya ke surga: penebusan seluruh dunia. Akan tetapi manfaat dari penebusan tersebut harus diaplikasikan secara terus menerus kepada anggota Kristus sepanjang hidup mereka. Ini adalah penebusan “subyektif”. Bila manfaat dari penebusan Kristus tidak diaplikasikan kepada individu, mereka tidak mempunyai bagian di dalam penebusan obyektif-Nya. Penebusan dalam seorang individu adalah proses terus menerus. “kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu” (cf Flp 2:12-13).

Bagaimana Yesus Kristus mengerjakan penebusanNya di dalam diri seseorang? Melalui tubuh mistikNya. Saat saya masih seorang Protestant, saya (selayaknya umat Protestant pada umumnya) meyakini bahwa frasa “tubuh mistik Kristus” dalam esensinya adalah sebuah metafora. Bagi umat Katolik, frasa itu adalah kebenaran literal. Ini mengapa: Untuk menggenapi misi MesianikNya, Yesus Kristus mengambil bentuk sebuah manusia dari ibuNya. Dia menjalani sebuah kehidupan natural di dalam tubuh tersebut. Dia menebus dunia melalui tubuh tersebut dan bukan melalui sarana lain. Semenjak kenaikanNya dan sampai pada akhir jaman, Yesus hidup di bumi dalam tubuh supranaturalNya, tubuh anggota-anggotaNya, tubuh mistikNya. Menggunakan tubuh fisikNya untuk menebus dunia, Kristus sekarang menggunakan tubuh mistikNya untuk menyalurkan “buah-buah ilahi dari Penebusan” (Mystici Corporis #31).

Gereja: Tubuh-Nya

Apakah tubuh mistik ini? Gereja Yesus Kristus yang sejati, bukan realita tak nampak yang terdiri dari umat beriman sejati, sebagaimana ditekankan para Reformer. Dalam proklamasi publik pertama akan Injil oleh Petrus pada hari Pentakosta, dia tidak mengundang pendengar-pendengarnya untuk menyelaraskan diri mereka secara spiritual dengan umat beriman sejati lainnya. Dia memanggil mereka ke dalam sebuah masyarakat, Gereja, yang Kristus telah dirikan. Hanya dengan menanggapi panggilan tersebut mereka dapat diselamatkan dari “angkatan yang jahat” (Kis 2:40) yang darimana mereka berasal dan kemudian diselamatkan.

Paulus, pada waktu pertobatannya, belum pernah melihat Yesus. Akan tetapi ingat bagaimana Yesus mengidentifikasikan DiriNya dengan GerejaNya saat Dia berkata kepada Paulus di jalan menuju Damaskus: “mengapakah engkau menganiaya AKU?” (Kis 9:4, penekanan huruf besar) dan “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.” (Kis 9:5). Bertahun-tahun kemudian, menulis kepada Timotius, Paulus dengan penuh sesal mengakui bahwa dia telah menganiaya Yesus dengan menganiaya GerejaNya. Dia mengekspresikan perasaan syukur karena Kristus menunjuk dia sebagai rasul, “aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas” (1 Tim 1:13).

Konsili Vatikan Kedua mengatakan bahwa struktur hirarki Gereja Katolik dan tubuh mistik Kristus “merupakan satu kenyataan yang kompleks, dan terwujudkan karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi” (Lumen Gentium 8). Gereja adalah “kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” (Ef 1:23). Sekarang saat Yesus telah menuntaskan penebusan obyektif, “tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah” adalah “supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga” (Ef 3:9-10).

Seturut Yohanes Paulus II, untuk secara tepat memahami pengajaran Gereja akan perannya di dalam rancangan keselamatan Kristus, dua kebenaran haruslah dipegang bersama-sama: “kemungkinan riil akan keselamatan dalam Kristus bagi seluruh manusia” dan “dibutuhkannya Gereja bagi keselamatan” (Redemptoris Missio #18). Yohanes Paulus mengajarkan kepada kita bahwa Gereja adalah “benih, tanda, dan instrumen” dari kerajaan Allah dan disinggung beberapa kali kepada penunjukan Vatikan II akan Gereja Katolik sebagai “Sakramen keselamatan universal”:

* “Gereja adalah Sakramen keselamatan bagi seluruh umat manusia, dan aktivitasnya tidaklah terbatas hanya kepada mereka yang menerima pesannya” (RM 20).

* “Kristus memenangkan Gereja bagi DiriNya, membayar dengan darahNya sendiri dan membuat Gereja menjadi rekan-sekerja dalam keselamatan dunia . . . Dia melaksanakan misiNya melalui dia [Gereja]” (RM 9).

* Dalam sebuah pidato kepada sidang pleno Kongregasi bagi Doktrin Iman (8 Januari 2000), Yohanes Paulus menyatakan, “Tuhan Yesus . . . mendirikan GerejaNya sebagai realita penyelamatan: sebagai tubuhNya, yang melaluinya Dia sendiri menyelesaikan keselamatan dalam sejarah.” Dia kemudian mengutip pengajaran Vatikan II bahwa Gereja adalah perlu untuk keselamatan.

Pada tahun 2000 Kongregasi bagi Doktrin Iman mengeluarkan “Dominus Iesus”, sebuah tanggapan terhadap upaya-upaya yang meluas untuk mengencerkan pengajaran Gereja mengenai Tuhan kita dan mengenai dirinya [Gereja] sendiri. Sub-judul dalam bahasa Inggrisnya sendiri sudah jelas: “On the Unicity and Salvific Universality of Jesus Christ and the Church.” Secara sepele ia berarti bahwa Yesus Kristus dan GerejaNya tidaklah terpisahkan. Dia adalah Juru Selamat universal yang selalu berkarya melalui GerejaNya:

Juru Selamat satu-satunya . . . mendirikan Gereja sebagai misteri keselamatan; Dia sendiri ada di dalam Gereja dan Gereja ada di dalam Dia . . . Maka dari itu, kepenuhan dari misteri keselamatan Kristus adalah kepunyaan Gereja pula, tak terpisahkan dalam kesatuan kepada Tuhannya (DI 18).

Sesungguhnya, Kristus dan Gereja “merupakan sebuah ‘Kristus sepenuhnya'” (DI 16). Dalam Kristus, Allah membuat tahu kehendakNya bahwa “Gereja yang didirikan olehNya menjadi instrumen bagi keselamatan seluruh umat manusia” (DI 22). Gereja Katolik, maka dari itu, “mempunyai, dalam rancangan Allah, sebuah hubungan yang harus ada dengan keselamatan setiap umat manusia” (DI 20).

Elemen-elemen kunci dari perwahyuan yang secara bersama-sama mendasari “extra ecclesiam, nulla salus” adalah ini:

(1) Yesus Kristus adalah Juru Selamat universal.

(2) Dia telah mendirikan GerejaNya sebagai tubuh mistikNya di bumi dan melaluinya dia menyalurkan keselamatan kepada dunia.

(3) Dia selalu bekerja melaluinya – sekalipun dalam kejadian-kejadian tak terhitung banyaknya diluar batasannya yang nampak.

Ingat akan kata-kata Yohanes Paulus mengenai Gereja yang dikutip di atas: “Aktivitasnya tidaklah terbatas hanya kepada mereka yang menerima pesannya”.

Baca Juga:

Bukan Dari Kawanan Ini

“Extra ecclesiam, nulla salus” tidak berarti bahwa hanya umat Katolik Roma yang beriman yang dapat diselamatkan. Gereja tidak pernah mengajarkan hal tersebut. Jadi bagaimana dengan umat non-Katolik dan non-Kristen?

Yesus berkata kepada para pengikutNya, “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” (Yohanes 10:16). Setelah KebangkitanNya, Yesus memberikan perintah rangkap tiga kepada Petrus: “Berilah makan domba-domba-Ku . . . Gembalakanlah domba-domba-Ku . . . Berilah makan domba-domba-Ku” (Yohanes 21:15-17). Kata yang diterjemahkan sebagai “gembalakan” (poimaine) berarti “arahkan” atau “pimpinkan” — dalam kata lain, “untuk mengatur.” Jadi sekalipun ada domba-domba yang bukan dari kawanan domba Kristus, melalui Gerejalah mereka dapat menerima keselamatanNya.

Orang yang tidak pernah mempunyai kesempatan untuk mendengarkan Kristus dan GerejaNya — dan umat Kristiani yang benaknya telah tertutup kepada kebenaran Gereja oleh karena keadaan mereka — tidaklah selalu berarti mereka terpisah dari kerahiman Allah. Vatikan II memfrasakan doktrin tersebut ke dalam istilah berikut:

“Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (LG 16).

“Oleh karena Kristus mati untuk semua orang, dan karena semua orang sejatinya dipanggil kepada takdir yang satu dan sama, yakni ilahi, kita harus berpegang bahwa Roh Kudus menawarkan kepada semua orang kemungkinan untuk menjadi pengambil bagian, dalam cara yang diketahui oleh Allah, dari misteri Paska.” (Gaudium et Spes 22)

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

“…Setiap manusia yang tidak mengenal Injil Kristus dan Gereja-Nya, tetapi mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah sesuai dengan pemahamannya akan hal itu, dapat diselamatkan. Orang dapat mengandaikan bahwa orang-orang semacam itu memang menginginkan Pembaptisan, seandainya mereka sadar akan peranannya demi keselamatan.” (KGK #1260)

Tentunya, bukanlah ketidaktahuan mereka yang memungkinkan mereka untuk diselamatkan. Ketidaktahuan hanya mendalihkan kurangnya pengetahuan. Yang membuka keselamatan Kristus bagi meerka adalah upaya sadar mereka, dibawah rahmat, untuk melayani Allah sebaik mereka dapat pada basis informasi terbaik yang mereka punyai akan Dia.

Gereja berbicara akan “hasrat implisit” atau “kerinduan” yang dapat ada di dalam hati mereka yang mencari Allah akan tetapi tidak tahu akan sarana rahmatNya. Bila seseorang rindu akan keselamatan akan tetapi tidak tahu sarana keselamatan yang didirikan secara ilahi, dia dikatakan mempunyai sebuah hasrat implisit akan keanggotaan di dalam Gereja. Umat Kristen non-Katolik tahu Kristus, akan tetapi mereka tidak tahu GerejaNya. Di dalam hasrat mereka untuk melayaniNya, mereka mempunyai hasrat implisit untuk menjadi anggota GerejaNya. Umat non-Kristiani dapat diselamatkan, kata Yohanes Paulus, bila mereka mencari Allah dengan “hati yang tulus”. Dan di dalam pencarian tersebut mereka “terhubung” kepada Kristus dan tubuhNya yakni Gereja (pidato kepada Kongregasi bagi Doktrin Iman).

 

Pada sisi lain, Gereja telah membuat jelas bahwa bila seseorang menolak Gereja dengan pengetahuan penuh dan kesadaran, dia menaruh jiwanya dalam bahaya:

“Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan” (cf LG 14).

Gereja Katolik adalah “satu saluran eksklusif yang mana kebenaran dan rahmat Kristus memasuki dunia ruang dan waktu kita” (Karl Adam, The Spirit of Catholicism, 179). Mereka yang tidak tahu akan Gereja, bahkan mereka yang menentangnya, dapat menerima karunia-karunia tersebut bila mereka dengan tulus mencari Allah dan kebenaranNya. Tetapi, kata Adam, “sekalipun bukan Gereja Katolik sendiri yang memberikan kepada mereka roti kebenaran dan rahmat, akan tetapi roti Katolik-lah yang mereka makan.” Dan saat mereka makan roti tersebut, “tanpa mereka tahu atau inginkan” mereka “tergabung di dalam substansi supranatural akan Gereja.”

Extra ecclesiam, nulla salus.

CATATAN KAKI

SUMBER ASAL http://www.catholic.com/…/a…/no-salvation-outside-the-church

Diterjemahkan oleh Maximinus

Diutus untuk menjadi Pembawa Damai Sejahtera

0
Konevi / Pixabay

Diutus untuk menjadi Pembawa Damai Sejahtera: Renungan Harian Katolik, Kamis 3 Oktober 2019 — JalaPress.com; Injil: Luk. 10:1-12

Dalam mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah, Yesus melibatkan manusia. Ia mau bekerja sama dengan manusia. Ia percaya pada manusia. Dalam Injil yang dibacakan hari ini, setelah Yesus memilih atau menunjuk tujuh puluh murid, Ia mengutus mereka berdua-dua ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Mengapa Yesus mau bekerja sama dengan manusia?  Salah satu alasannya adalah tuaiannya banyak, tetapi pekerjanya sedikit ( ay. 2).

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Yesus juga mengingatkan para murid yang diutus-Nya bahwa mereka laksana ‘anak domba yang diutus ke tengah-tengah Serigala.’ Kata-kata ini merupakan gambaran akan banyak tantangan yang harus dihadapi oleh para utusan. Para murid perlu mengetahuinya sejak awal agar mereka tidak kaget dan mudah menyerah.  Mereka harus siap menerima risiko apapun dalam menjalankan perutusan nanti.

Seperti para murid, kita juga perlu menyadari bahwa tak mudah menjadi utusan Kristus zaman ini. Banyak tantangan yang harus kita hadapi.

Yesus juga mengingatkan para murid-Nya bahwa yang mereka bawa atau wartakan  itu damai sejahtera. “Damai sejahtera bagi rumah ini” (ay. 5). Ini ungkapan penting. Mereka hanya membawa damai sejahtera. Kehadiran mereka harus membuat orang yang dijumpai itu hidup dalam damai. Damai itu berasal dari Kristus yang mengutus mereka.

Yesus juga memilih atau menunjuk kita menjadi utusan-Nya. Kita diajak terlibat dalam karya pewartaan Kerajaan Allah kepada orang lain sesuai pilihan hidup kita masing-masing. Isi pewartaan kita juga sama seperti para murid yakni membawa damai sejahtera kepada orang-orang yang kita jumpai. Yang diwartakan itu damai yang bersumber dari Kristus yang kita imani. Tentu damai yang dibagikan itu telah kita rasakan atau alami berkat perjumpaan pribadi kita melalui doa atau ekaristi.

Pewartaan itu juga tak melulu melalui perkataan atau kotbah, tetapi terutama  melalui teladan hidup yang membuat orang lain merasakan damai sejahtera ketika berjumpa dengan kita. Orang lain betah dengan kita dan bertumbuh menjadi orang yang lebih baik lagi berkat perjumpaan dengan kita. Mereka juga tergerak untuk semakin beriman dan mengandalkan Kristus sang sumber damai sejahtera dalam hidup setiap hari. Selanjutnya, mereka juga menjadi pewarta seperti kita.

Seperti para murid, kita juga perlu menyadari bahwa tak mudah menjadi utusan Kristus zaman ini. Banyak tantangan yang harus kita hadapi. Kita memang seperti anak domba lugu yang diutus ke tengah-tengah Serigala buas. Menjadi utusan Kristus di tengah masyarakat yang tak mau lagi percaya pada kuasa Tuhan atau yang berhamba pada uang, harta, jabatan, kecanggilan teknologi informasi-komunikasi, tak selalu mudah. Mungkin kita dianggap bodoh atau mungkin juga akan dicemooh. Bisa jadi nyawa kita kadang-kadang terancam.

Kita perlu belajar juga pada Bunda kita, Bunda Maria, yang terlibat aktif dalam karya keselamatan. Kesediaannya menjadi ibu Yesus dan terus merawat dan mendampingi-Nya itu tentu saja mengagumkan. Pasti banyak tantangan yang dihadapinya, apalagi ketika Yesus Putra-Nya menderita sengsara hingga wafat di salib. Ketika para murid yang setiap hari ada bersama Yesus lari menyelamatkan diri, Bunda Maria tetap setia mengikuti Putranya (Bdk. Yoh. 19:25-27). Ia berani mengambil risiko. Ia bertanggung jawab dengan tugasnya sebagai bunda Yesus. Maria memang utusan yang mengagumkan.

Selain Bunda Maria, kita juga perlu belajar pada santo Montfort (1673-1716), utusan Kristus yang mengagumkan. Ia pewarta damai sejahtera. Banyak orang tersentuh dengan pewartaan-Nya. Tetapi banyak juga orang yang tak menyukainya. Ia sering dicemooh, dibenci bahkan terancam dibunuh. Tentang pengalaman ini, Santo Montfort menulis ungkapan terkenal ini: “Jika Anda tak berani mengambil risiko bagi Allah, Anda tak melakukan sesuatu yang besar untuk-Nya.” Berani mengambil risiko apapun adalah sikap kstaria para utusan Kristus; para pembawa damai sejahtera. Tanpa keberanian ini, kita tak akan menjadi utusan yang baik. Kita akan canggung atau bahkan tidak mau menjadi utusan Kristus. Kita mencari aman saja; kita hanya mementingkan keinginan diri sendiri. Kita masa bodoh. Kita tak mau terlibat. Padahal Yesus terus mengundang kita terlibat dalam mewartakan damai sejahtera. Masihkan kita tak mau mengambil risiko untuk Allah?***

Klarifikasi Paus Jatuh dan Minta Doa Berantai

0

Beredar lagi di medsos sebuah berita berantai, katanya Paus Fransiskus minta doa 10 juta Salam Maria karena sedang menderita sakit. Dikirim sekalian dengan foto Paus jatuh.

Btw, saya baru kembali dari Airport Roma, menjemput murid baru saya dari Jakarta. Setelah membawanya ke penginapan, saya kembali masuk ke Vatikan untuk parkir lalu ke Kantor. Audiensi umum dengan Paus tadi (setiap hari Rabu pagi kalau Paus ada di Vatikan) berjalan dengan baik, tidak ada masalah. Umat dan turis membludak. Dikabarkan, Menteri Agama Indonesia dan rombongan juga hadir.

Sekitar pkl. 12.00 siang saya lewat di depan Rumah Paus. Beliau belum masuk karena masih di Lapangan Santo Petrus. Pas di tikungan menuju parkiran, samping Basilika Santo Petrus (wilayah dalam Vatikan), saya disetop serdadu Vatikan dan harus menanti di dalam mobil karena Paus mau lewat. Selang 2 menit, beliau lewat di atas Papamobil di depan saya, berlari pelan dan dikawal masuk ke rumah beliau. Seperti biasa beliau melambai ramah. Sehat segar bugar.

Lalu mengapa ada foto Paus jatuh dan permintaan doa? Saya tidak tahu mulanya dari siapa. Jelas ada orang yang suka mengarang berita lalu semua orang langsung manggut percaya tanpa klarifikasi. Jadi:

  1. Benar, Paus pernah tergelicir dan jatuh saat sedang mengukupi Altar pada awal perayaan Misa dalam rangka Hari Kaum Muda sedunia di Polandia tahun 2016. Tiga tahun lalu (saat ini 2019!). Beliau tergelincir karena salah injak. Langsung bangun kembali dan perayaan Misa berlangsung tanpa hambatan sampai selesai. Tidak ada masalah apa-apa. Foto-foto dan video jatuhnya Paus ada di internet sejak 3 tahun. Tetapi herannya, tiba-tiba muncul marak sekarang. Apa maksudnya?
  2. Benar bahwa Paus Fransiskus hanya punya satu paru-paru saja. Ini bukan hal baru. Bukan rahasia. Pada waktu berumur 21 tahun (artinya pada tahun 1957 karena beliau lahir tahun 1936), beliau mengalami gangguan paru-paru di Buenos Aires, Argentina, sehingga satu bagian dari paru-parunya harus diangkat. Sejak berumur 21 tahun sampai 83 tahun saat ini (dari 1957 sampai 2019), artinya sudah 62 tahun beliau hidup hanya dengan satu paru-paru, tetapi tidak pernah menjadi masalah. Kesehantannya selalu baik sehingga bisa sampai menjadi Paus. Kalau bermasalah, tentu saja tidak akan bisa mendapat begitu banyak pangkat dan tugas. Dengan umur di atas 80 saja beliau masih bekerja optimal dengan hanya satu paru-paru, tidak ada bedanya dengan orang berparu-paru lengkap.
  3. Apakah berdoa Salam Maria untuk memohon penyembuhan harus pakai ukuran angka tertentu? Di dalam surat itu ditulis, diminta 10 juta Salam Maria supaya Paus sembuh. Wow.. Tuhan agama mana itu yang butuh doa dengan angka-angka dan syarat-syarat seperti itu? Pendasaran biblis atau telologisnya di mana? Tidak pernah dengar dan tahu, karena memang tidak ada. Umat Katolik diminta tidak percaya akan berbagai surat berantai berbau mitis magis di mana ada ketentuan jumlah doa supaya Tuhan mengabulkan, dll.
  4. Setiap kali berada di publik, Paus Fransiskus selalu meminta doa. Pertama kali beliau meminta doa dari umat ketika menampakan diri pertama kali pada tanggal 13 Maret 2013 di balkon Basilika Santo Petrus, sesaat setelah dipilih menjadi Paus. Awal-awalnya terasa aneh karena Paus meminta doa dari umatnya. Paus-paus sebelumnya hampir tidak pernah mengatakan hal itu secara publik. Tetapi setelah beberapa saat, dunia sudah merasa biasa dan paham dengan permintaan Paus Fransiskus itu. Yang jelas, permintaan Paus itu bukan terutama untuk kesembuhan beliau, tetapi karena doa untuk orang beriman adalah sebuah kebutuhan penting di dalam hidup. Juga Paus butuh doa, seperti kita juga butuh doa dari beliau dan dari orang lain.

Mudah-mudahan teman-teman yang sejak pagi buta mengirim pesan itu sambil meminta klarifikasi, bisa mendapat jawaban sekarang. Salam.

2 Oktober 2019

Padre Marco SVD.

Sumber: Page FB Keuskupan Agung Jakarta (https://www.facebook.com/Keuskupan.Agung.Jakarta/posts/2490378424378522?__tn__=K-R)

Syahadat Panjang Gereja Katolik: tentang yang Kelihatan dan Tak Kelihatan

0
karigamb08 / Pixabay

Credo Konstantinopel atau syahadat panjang secara gamblang mengatakan bahwa umat beriman ‘percaya akan satu Allah, Bapa yang mahakuasa, pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan’.[1] Dengan kata lain umat beriman percaya bahwa Allah menciptakan segala sesuatu baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Santo Yohanes Paulus II, dalam sebuah ‘udienza generale’ (20 Agustus 1986) menyatakan bahwa ‘Katekese kita tentang Allah, Pencipta segala sesuatu yang tidak kelihatan juga, menerangi dan menguji iman kita tentang segala sesuatu berkaitan dengan kebenaran tentang kejahatan atau iblis, yang tentu saja tidak dikehendaki oleh Allah yang maha kasih dan maha kudus, dimana penyelenggaraan Ilahi yang bijaksana dan kuat menuntun keberadaan kita untuk menang atas kuasa kegelapan (il principe delle tenebre).

Meskipun demikian, kekuatan iblis terbatas dan tunduk pada kekuasaan Allah. Seperti kita ketahui, iblis telah menyebabkan penderitaan baik secara jasmani maupun rohani bagi semua orang. Namun pada kenyataannya iblis tidak mampu mengubah akhir hidup manusia yang terarah dan menuju kepada Sang sumber hidup, yakni Allah. Karena karya kejahatan berlawanan dengan kebaikan (bdk. Rm. 8.28). Selain itu, Yesus sendiri telah memberikan kuasa kepada para murid untuk mengusir iblis-iblis (bdk. Mrk. 16:17-18).[2]

Rasul Paulus dalam beberapa suratnya mengingatkan umat beriman untuk melawan kuasa-kuasa kegelapan, roh-roh jahat (bdk. Ef. 6:12). Para penulis Kitab Suci mencatat bahwa kemenangan paripurna akan diperoleh melalui kebaikan (bdk. Why. 12:7-9). Di dalam Kristus umat beriman akan dibebaskan dari segala kuasa kegelapan, sehingga Allah akan menjadi semua di dalam semua (bdk. Kol. 1:13-14, 15, 28).

Setidaknya ada dua istilah yang digunakan dalam Kitab Suci yang mengacu kepada iblis. Pertama, berasal dari kata Ibrani śtn yang artinya dia yang bertindak sebagai musuh atau lawan (bdk. 1 Sam. 29: 4; 2 Sam. 19:22-23; Mzm. 109:6, 1 Raj. 5:4). Kedua, berasal dari kata Yunani ‘diabolos’ atau daimonia yang mengacu kepada sosok si jahat atau roh-roh jahat dan kaki tangan iblis. Menurut tradisi pasca pembuangan, iblis menjadi bagian dari dewan surga. Oleh sebab itu, ada beberapa simbol yang digunakan untuk menunjukkan tingkatan tersebut, antara lain: belijàal (tuan para kambing atau Azazel), Baalzebul atau beelzebul (tuan para lalat).[3]

Baca Juga:

Makhluk selalu berlawanan atau menjadi lawan dari iblis adalah malaikat. Malaikat (Malakh) berperan sebagai utusan untuk menyampaikan kabar atau ‘firman Tuhan’ kepada para nabi. Namun, sering juga kata malakh mengacu pada singgasana Allah. Oleh sebab itu, kita mengetahui ada tiga hirarki yaitu Kerubim, Serafim dan Ufarim, yang berkembang sepuluh tingkat sesuai fungsinya. Malaikat-malaikat Agung yang sering disebut dalam Kitab Suci adalah Rafael, Mikhael dan Gabriel.

Pertama, kisah Malaikat Rafael dapat kita temukan dalam Kitab Suci terutama Kitab Deuterokanonika Tobit (Tobit 3:17, 12:15). Rafael berperan dalam penyembuhan mata Tobiat yang buta dan menjadi pelindung bagi Tobias dalam upaya mencari obat untuk menyembuhkan ayahnya. Memang nama Rafael berarti Allah yang menyembuhkan atau Allah menyembuhkan. Kedua, kisah Malaikat Mikhael dapat kita temukan dalam Surat Yudas yang bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa. Mikhael tidak berani menghakimi Iblis dengan kata-kata hujatan, tetapi Malaikat Mikhael berkata kepada Iblis: ‘Kiranya Tuhan menghardik engkau!’ (bdk. Yud. 1:9). Ketiga, kisah Malaikat Gabriel dapat kita temukan dalam Injil Lukas yang memberitahukan kabar sukacita kelahiran Yesus kepada Bunda Maria (bdk. Mat. 1:18-23).

Yesus sendiri dalam setiap pewartaannya selalu menunjukkan bahwa setiap orang harus melawan iblis. Perlawanan terhadap iblis merupakan misi pewartaan Yesus. Yesus menekankan hal tersebut agar kerajaan Allah dapat diterima oleh setiap orang. Penulis Injil Yohanes menegaskan bahwa Yesus adalah tokoh utama yang menentang iblis sebagai penyebab terjadinya kejahatan moral. Dengan demikian, malaikat dan iblis sungguh-sungguh ada. Iblis sendiri berusaha menghalangi rencana Allah di dunia. Meskipun demikian, Yesus Kristus telah memenangkan pertarungan dengan iblis.

Dalam upacara pembaharuan janji baptis (malam paskah) umat beriman selalu ditanya: “Apakah saudara-saudari menolak godaan-godaan iblis dalam bentuk takhayul, perjudian dan hiburan tidak sehat?”. Pertanyaan tersebut menunjukkan pengakuan tentang keberadaan roh-roh jahat di dunia. St. Yustinus Martir membedakan peran iblis dan malaikat. Menurutnya, iblis berperan untuk menjauhkan manusia dari tujuan akhir hidupnya. Sementara para malaikat bertindak sebagai penjaga manusia.

Pendapat Para Ahli

Beberapa ahli memberikan pendapat terkait keberadaan iblis. Pertama, menurut Karl Rahner, tidak ada alasan untuk menempatkan doktrin tentang iblis pada level atas dalam hirarki kebenaran. Namun bukan berarti iblis itu tidak ada, melainkan argumen tersebut hendak menyampaikan bahwa doktrin tentang iblis tidak ditemukan dalam level atas doktrin iman Katolik. Pembahasan tentang keberadaan iblis dapat ditemukan dalam diskursus Paus Paulus VI, yang menjelaskan tentang iblis sebagai sebuah eksistensi personal yang aktif dan berdampak. Selain itu, keberadaan malaikat dan iblis juga dibahas dalam dokumen Konsili Lateran IV (1215). Dokumen tersebut membahas tentang roh-roh jahat yang diciptakan oleh Allah dalam keadaan baik, namun mereka bertransformasi ke dalam kejahatan. Mereka inilah yang menjerumuskan manusia hingga jatuh dalam dosa (DS 800). Kedua, menurut A. Bultmann, segala yang dikatakan tentang iblis dalam Perjanjian Baru bukan pesan pewahyuan yang mengikat, melainkan gambaran dari dunia para penulis Kitab Suci.**

Catatan Kaki:

[1] Puji Syukur No. 2.

[2] Ada kasus tertentu yang hanya dapat diusir melalui eksorsisme.

[3] Kamus Alkitab.