13.1 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 49

Bagaimana Mungkin Maria yang adalah Manusia Disebut sebagai Bunda Allah?

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Ada empat dogma tentang Bunda Maria yang diajarkan oleh Gereja Katolik; salah satunya adalah dogma ‘Maria Bunda Allah’. Dogma Maria Bunda Allah dirumuskan dalam Konsili Efesus (431), dan dijelaskan kembali pada Konsili Kalsedon (451).

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Hal tersebut tidak berarti bahwa Bunda Maria menciptakan Trinitas; dan tidak juga berarti bahwa dia sudah ada sebelum Yesus ada dalam keabadian; melainkan semata-mata berarti bahwa Yesus adalah pribadi yang ilahi, dan Bunda Maria adalah ibu dari pribadi yang ilahi tersebut.

Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang gagal paham terhadap adanya keempat dogma tentang Maria ini. Mereka mengira bahwa dogma tersebut merupakan ajaran ‘karangan’ Gereja Katolik, yang tidak mempunyai dasar dari Kitab Suci. Namun demikian, anggapan tersebut tentu saja tidak benar; sebab semua dogma Gereja Katolik, termasuk dogma tentang Bunda Maria, ditetapkan atas dasar ajaran Kitab Suci dan Tradisi Suci, yang telah dihayati oleh Gereja sejak abad-abad awal. Bahwa perumusan dogma tentang Bunda Maria baru dilakukan di abad-abad berikutnya, tidak menunjukkan bahwa dogma tersebut adalah ajaran yang baru.

Kaum fundamentalis selalu beranggapan bahwa frasa ‘Maria Bunda Allah’ tidak ditemukan di dalam Kitab Suci. Karenanya, mereka tidak mau menerima sebutan semacam itu sebagai sebuah kebenaran. Mereka lupa bahwa istilah ‘trinitas’ pun tidak disebutkan secara gamblang di dalam Kitab Suci, tetapi tetap diterima umum sebagai sebuah kebenaran.

Perlu diketahui bahwa dasar dari dogma ‘Maria Bunda Allah’ adalah karena Yesus Kristus yang dilahirkan oleh Bunda Maria adalah Allah, maka Maria disebut Bunda Allah (lih. Luk. 1:43). Logikanya sederhana: jika Yesus Kristus adalah sungguh Allah, maka tidak bisa tidak, Maria, ibu-Nya, adalah sungguh Bunda Allah. Jadi, Maria disebut Bunda Allah semata-mata karena Yesus, putranya, yang adalah Allah.

Tidak sedikit orang dari kalangan non-Katolik berpandangan bahwa Maria hanyalah ibu dari ‘kemanusiaan’ Yesus, dan karenanya menurut mereka, ia tidak bisa menjadi Bunda Allah.

Perlu ditegaskan di sini bahwa memang Bunda Maria tidak memberikan pengaruh apa-apa pada keilahian Yesus, dan memang bukan itu arti dari seorang ibu. Seorang wanita hanya menjadi seorang ibu saat seseorang dengan sifat manusiawinya dikandung dalam rahimnya. Maria mengandung dan melahirkan pribadi ilahi, Tuhan yang berinkarnasi, Yesus Kristus. Karenanya, dia adalah ibu dari pribadi ilahi, atau oleh Gereja disebut ‘Ibu Tuhan’.

Ada juga orang yang mengatakan bahwa Tuhan tidak bisa memiliki ibu karena Dia abadi; tetapi perkataan seperti itu akan terbantahkan dengan sendirinya; sebab itu sama saja mengatakan bahwa Tuhan tidak bisa mati di kayu salib karena Dia abadi. Padahal, kita tahu bahwa jika Allah mengambil sifat manusia seperti kita, maka, Ia tentu saja bisa dilahirkan dan mati untuk menebus dosa-dosa manusia.Lagipula, penyebutan Maria sebagai Bunda Allah ditujukan untuk membantah bidat yang mengatakan bahwa Yesus hanyalah manusia biasa yang menjadi putra Allah pada saat pembaptisan atau kebangkitan-Nya. Jadi, menyebut Maria, Bunda Allah, bertujuan untuk memperkuat kepercayaan jemaat Kristen perdana bahwa Yesus sepenuhnya adalah Allah dan sepenuhnya manusia.

Referensi:
Tay, Stefanus & Listiati, Inggrid. 2016. Maria, O Maria. Bunda Allah, Bundaku, Bundamu.    Surabaya: Penerbit Murai Publishing.
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/how-can-mary-be-gods-mother
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/mary-mother-of-god
https://www.catholic.com/video/is-mary-the-mother-of-god
https://www.catholic.com/tract/mary-mother-of-god

Doa dan Kerja: Pesan Penting dari Kunjungan Yesus ke Rumah Maria dan Marta

0
LuckyLife11 / Pixabay

Doa dan Kerja: Pesan Penting dari Kunjungan Yesus ke Rumah Maria dan Marta: Renungan Harian Katolik, Senin 29 Juli 2019 — JalaPress.com; Injil: Luk. 10:38-42

Kunjungan Yesus ke rumah Maria dan Marta memberikan pelajaran berharga bagi kita tentang bagaimana mengasihi Tuhan. Yesus sendiri pernah berkata: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu; dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:37, 39). Jadi, pertama-tama kita mengasihi Tuhan baru sesudahnya mengasihi sesama.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Bagi Yesus, contoh terbaik dalam mengasihi Tuhan adalah seperti yang dilakukan oleh Maria. Maria duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya. Namun, itu yang tidak dilihat oleh Marta. Marta sibuk melayani.

Memang, tidak ada salahnya dengan sikap Marta. Marta samakan kunjungan Yesus dengan kunjungan tamu pada umumnya; sehingga ia ‘menerima’ Yesus seperti orang-orang lain pada umumnya. Ia memperlakukan Yesus sebagai ‘sesama’-nya. Ia mengira bahwa Yesus butuh minuman dan makanan; sehingga ia sibuk melayani. Saking sibuknya, ia tidak senang melihat Maria, saudarinya, hanya duduk bercerita dengan Yesus. Marta mengeluh. Ia berkata kepada Yesus: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

Yesus menegur Marta. Ia berkata: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Pelajarannya adalah: berbuat baik kepada orang lain itu baik; mengasihi sesama itu baik, tapi semua itu harus didasarkan pada kasih kita kepada Tuhan.

Apa yang dilakukan oleh Maria dan Marta merupakan perwujudan dari kasih terhadap Tuhan dan sesama. Tapi, seperti kata Tuhan Yesus, ‘Maria memilih yang terbaik’; artinya mengasihi Tuhan harus didahulukan sebelum kita mengasihi sesama. Sebab, orang yang mengasihi Tuhan sejatinya akan terdorong untuk mengasihi sesamanya; tetapi orang yang mengasihi sesama, belum tentu mampu dan mau mengasihi Tuhan. Banyak orang ateis sangat perhatian terhadap sesama, tapi mereka tidak percaya Tuhan.

Kasih kepada Tuhan ditunjukkan lewat sikap doa. Doa adalah komunikasi antara kita dengan Tuhan. Maria melakukan itu. Ia duduk mendengarkan Tuhan Yesus bercerita. Maria berdoa di dekat kaki Tuhan. Kasih kepada sesama ditunjukkan lewat pelayanan terhadap sesama. Marta melakukan itu. Ia sibuk melayani.

‘Mengasihi Tuhan’ dan ‘mengasihi sesama’ haruslah dilakukan. Doa dan pelayanan tidak boleh dipertentangkan. Hanya saja, doa harus selalu didahulukan sebelum kita melayani. Pepatah Latin berbunyi: ‘Ora et labora’. Berdoa dan bekerja. Bukan bekerja dulu baru berdoa. Apalagi kalau hanya kerja, kerja, kerja, dan tidak pernah berdoa. Setiap kerja dan pelayanan haruslah dimulai dengan doa. Semoga kita makin mengasihi Tuhan; dan menerima Dia di hati kita; sehingga pada saat yang sama, kita pun dimampukan untuk mengasihi sesama. Amin.

Petrus, Sang Batu Karang

0

Hanya ada beberapa ayat yang menyebabkan ‘tumpahan tinta’ lebih daripada ayat Matius 16:17-19;

Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

Bagi umat Katolik, teks ini sudah jelas. Kedua belas murid ada di tempat itu, tetapi Yesus menjanjikan memberikan kepada Petrus saja kunci-kunci kerajaan, yang menyimboliskan otoritas Kristus — otoritas sorga — atas kerajaan langit dan bumi, yang adalah Gereja. Akan tetapi jutaan umat Protestan percaya bahwa ada perbedaan penafsiran dalam teks Yunani tentang “bebatuan” sehingga menghapus makna akan Petrus sebagai batu karang.

“Engkau adalah Petros dan di atas Petra Aku akan mendirikan jemaat-Ku…” Batu pertama, Petros, diklaim mengacu kepada sebuah batu kerikil kecil yang tidak ada signifikansinya: Petrus. Batu kedua, Petra, diklaim berarti sebuah batu karang besar: yang bisa berarti antara Yesus sendiri atau pengakuan iman Petrus. Argumen berakhir dengan Yesus tidak membangun gereja-Nya di atas Santo Petrus melainkan di atas diri-Nya atau iman [seperti] Petrus.

Dibawah ini ada tujuh alasan, di antara berbagai alasan lainnya yang dapat kita telaah, mengapa Petrus tidak dapat disangkal sebagai batu karang tersebut:

1) Injil Matius.  Kita punya bukti yang cukup kuat, pada mulanya yang ditulis dalam dialek Aram. Santo Papias dan Santo Ireneus pada abad kedua mengatakan hal tersebut. Akan tetapi lebih penting lagi — dan lebih pasti — Yesus tidak mungkin mengatakan ucapan pada Matius 16 dalam bahasa Yunani. Bahasa Yunani adalah bahasa dominan Kerajaan Romawi pada abad pertama, tetapi sebagian besar umat Yahudi awam dimana Yesus berceramah tidak akan fasih dalam bahasa tersebut. Dialek Aram adalah bahasa sehari-hari mereka.

Terlebih lagi, kita mempunyai bukti biblis — Yohanes 1:42 — yang mengacu kepada Yesus menggunakan dialek Aram dalam penamaan Petrus: “Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”

Nama Kefas adalah bentuk dari kata Aram Kepha, yang berarti “karang”. Tidak ada ditemukan “kerikil” dalam pernyataan Yesus yang asli kepada Petrus.

Bahkan sarjana Protestan yang disegani setuju akan point ini. Sarjana Baptis D.A.Carson, menulis, dalam The Expositor’s Bible Commentary: Dasar dialek Aram dalam hal ini tidak bisa diragukan; dan amat sangat mungkin kepha digunakan dalam kedua klausul (“engkau adalah kepha” dan “di atas kepha ini”), karena kata tersebut digunakan baik sebagai nama dan sebagai kata benda “batu karang”. Kitab Suci dalam bahasa Peshitta (bahasa Syria, sebuah bahasa yang serumpun dengan dialek Aram) tidak membedakan antara kata-kata yang ditemukan dalam kedua klausul tersebut.

2) Dalam Yunani Koine (dialek Yunani yang digunakan oleh penulis kitab-kitab Perjanjian Baru), petros dan petra adalah bentuk maskulin dan feminim dari kata-kata yang berakar sama dan mempunyai definisi yang sama — batu karang. Tidak ada “kerikil” ditemukan dalam teks Yunani. Jadi mengapa Santo Matius menggunakan kedua kata ini dalam ayat yang sama? Petra adalah kata yang umum digunakan untuk “batu karang” dalam bahasa Yunani. Dia menggunakan sebanyak lima belas kali untuk mengartikan “batu karang,” “batu-batuan”, atau “berbatu-batu” dalam Perjanjian Baru. Petros adalah istilah Yunani kuno yang tidak umum digunakan dalam Yunani Koine sama sekali. Faktanya, ia tidak pernah menggunakan dalam Perjanjian Baru, terkecuali sebagai nama Petrus setelah Yesus menggantinya dari Simon menjadi Petrus. Sesuai alurnya saat Santo Matius menerjemahkan, dia menggunakan kata petra untuk “batu karang.” Tetapi dengan melakukan hal tersebut, dia menemukan sebuah masalah. Petra adalah bentuk kata feminim. Tidaklah sesuatu hal yang patut untuk menyebut Petrus Petra. Ini akan sama dengan menyebut seorang laki-laki “Hermawati” atau “Yuliawati” dalam bahasa Indonesia[a]. Maka dari itu, petros digunakan selain petra untuk nama Petrus.

3) Ada beberapa kata dari penulis tersirat yang dapat digunakan sebagai karang atau batu dalam bahasa Yunani. Petra dan lithos adalah yang paling umum. Kata itu dapat digunakan secara bergantian. Konotasi akan “besar” atau “kecil” dari kedua kata tersebut tergantung pada konteksnya. Kedua kata tersebut berarti karang atau batu.

Craig S. Keener, seorang sarjana Protestan, pada halaman 90 dari “The IVP Bible Background Commentary of the New Testament”, menyatakan: “Dalam kata Yunani kata petros dan petra adalah istilah dari akar yang sama, yang digunakan bergantian pada periode ini…”

D.A. Carson menunjukkan bahwa perbedaan besar/kecil memang ada dalam bahasa Yunani, tetapi itu hanya ditemukan dalam Yunani kuno (digunakan pada masa abad delapan sampai dengan abad empat Sebelum Masehi), dan hal itu terbatas pada bentuk puisi. Perjanjian Baru ditulis dalam Yunani Koine (digunakan dari abad ke-empat Sebelum Masehi sampai dengan abad ke-lima Masehi). Carson sependapat dengan Keener dan umat Katolik bahwa tidak ada perbedaan dalam definisi antara petros dan petra.

Salah satu kamus Yunani yang paling banyak digunakan di antara kaum Evangelis adalah “Gerhard Kittel’s Theological Dictionary of the New Testament”. Dalam pernyataan mengenai Matius 16:18, Dr. Oscar Cullman, seorang editor penyumbang akan karya tersebut, menulis: Permainan kata-kata yang sangat jelas masuk ke dalam teks Yunani tersebut… memberikan kesan identitas material antara petra dan Petros… sebagaimana adalah hal mustahil untuk membedakan secara sempit antara kedua kata tersebut… Petros sendiri adalah petra itu, tidak hanya imannya maupun pengakuannya… ide para reformer bahwa ia mengacu kepada iman Petrus adalah hal yang agak susah dibayangkan… Karena tidak ada referensi disini kepada iman Petrus. Melainkan, pararelisme antara “engkau adalah Karang” dan “di atas karang ini akan kudirikan” menunjukkan bahwa karang kedua hanyalah bisa sama dengan karang pertama. Maka dari itu sangat nyata bahwa Yesus mengacu kepada Petrus, kepadanya Dia telah memberikan nama Karang… Sejauh poin ini eksegesis Katolik Roma adalah benar dan semua upaya Protestan untuk menghindari interpretasi ini haruslah ditolak.

Baca Juga:

4) Bila Santo Matius ingin membedakan “bebatuan” dalam teks, dia kemungkinan besar akan menggunakan ‘lithos’. Seperti dinyatakan di atas, ‘lithos’ dapat mengacu kepada karang besar, tetapi ia lebih umum digunakan untuk menyebut batu kecil. Tetapi, ada kata ketiga yang dapat digunakan Santo Matius yang selalu berarti batu kecil: psephos. Kata tersebutu digunakan dua kali dalam Wahyu 2:17 sebagai “batu” saat Yesus berkata, “Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya.” Disini kita mempunyai satu kata Yunani yang tidak seperti lithos atau petra dan selalu mempunyai konotasi “batu kecil”, atau “kerikil”.

5) Sebuah garis pemikiran yang lebih sepele menjauh dari bahasa-bahasa asal dan menyelidiki konteks sekejap dari kalimat tersebut. Perhatikan, Tuhan kita berkata kepada Santo Petrus dalam Matius 16:17-19:

Dan Yesus menjawabnya, “Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

Yesus menggunakan kata orang kedua personal tujuh kali hanya dalam tiga ayat. Konteksnya sudah jelas akan Yesus yang mengkomunikasikan otoritas unik kepada Petrus. Lebih lagi, Yesus digambarkan sebagai pendiri Gereja, bukan gedungnya sendiri. Dia berkata, “Aku akan mendirikan jemaat-Ku”. Yesus adalah “orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu” (Matius 7:24) dalam Injil Matius. Sekali lagi, tidak masuk akal bila  konteksnya Yesus membangun Gereja di atas diriNya. Dia membangunnya diatas Petrus.

6) Banyak orang yang melewatkan pentingnya perubahan nama Simon menjadi Petrus. Saat Allah mewahyukan kepada orang-orang tertentu akan panggilan baru yang radikal dalam Kitab Suci, Dia kadangkala mengubah nama mereka. Khususnya, kita menemukan ini dalam panggilan para Bapa Bangsa. Abram (“bapa yang agung” dalam Ibrani) diubah menjadi Abraham (“bapa bangsa-bangsa”). Yakub (“pengganti”) menjadi Israel (“Ia yang berjalan dengan Allah”). Bahkan, ada pararel yang menarik antara Abraham dengan Santo Petrus. Dalam Yesaya 51:1-2, kita baca: “Dengarkanlah Aku, hai kamu yang mengejar apa yang benar, hai kamu yang mencari TUHAN! Pandanglah gunung batu yang dari padanya kamu terpahat, … Pandanglah Abraham, bapa leluhurmu,…” Yesus disini membuat Santo Petrus sebagai “bapa” sejati kepada keluarga beriman, seperti Allah membuat Abraham “bapa” sejati kita dalam Iman (Bdk. Roma 4:1-18; Yakobus 2:21).

7) Saat kita memahami bahwa Kristus adalah “putra Daud” sejati yang datang untuk memulihkan Kerajaan kenabian Daud, kita memahami bahwa Kristus dalam Matius 16, seperti Raja Israel, sedang menunjuk seorang “perdana mentri” di antara para mentrinya — para rasul — dalam Kerajaan-Nya. Yesaya 22:15-22 memberikan kita gambaran akan pelayanan “perdana mentri” dalam Israel kuno: Beginilah firman Tuhan, TUHAN semesta alam: “Mari, pergilah kepada kepala istana ini, kepada Sebna yang mengurus istana, dan katakan: …Sesungguhnya, TUHAN akan melontarkan engkau jauh-jauh, … Aku akan melemparkan engkau dari jabatanmu, dan dari pangkatmu engkau akan dijatuhkan. Maka pada waktu itu Aku akan memanggil hamba-Ku, Elyakim bin Hilkia: Aku akan mengenakan jubahmu kepadanya dan ikat pinggangmu akan Kuikatkan kepadanya, dan kekuasaanmu akan Kuberikan ke tangannya; maka ia akan menjadi bapa bagi penduduk Yerusalem dan bagi kaum Yehuda. Aku akan menaruh kunci rumah Daud ke atas bahunya: apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.

Dalam Wahyu 1:18, Yesus menyatakan, “…Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.” Dia kemudian mengutip ayat dari Yesaya dalam Wahyu 3:7: “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Filadelfia: Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.” Tiada seorang Kristen yang menyangkal bahwa Yesus adalah sang Raja yang mempunyai kunci-kunci tersebut. Kepada siapa dia mempercayakan kunci-kunci tersebut? Hanya kepada Petrus!

Ditulis oleh Tim Staples

Catatan Kaki:

[a] Dalam teks asli oleh Tim Staples menggunakan analogi: ‘“Valerie” or “Priscilla” in English’

Sumber: http://www.catholic.com/blog/tim-staples/peter-the-rock

Tuhan Tidak Menghukum Orang yang Tidak Bersalah

0
lechenie-narkomanii / Pixabay

Tuhan Tidak Menghukum Orang yang Tidak Bersalah: Renungan Harian Katolik, Jumat 19 Juli 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Kel. 11:10 – 12:14; Injil: Mat. 12:1-8

Cerita Kitab Suci hari ini (bacaan pertama) mengisahkan bahwa orang-orang Israel diperintahkan oleh Tuhan supaya menyembelih anak domba pada waktu senja dan darahnya harus diambil sedikit dan dioleskan pada kedua tiang pintu. Alasan dari perintah ini diutarakan secara sangat gamblang, yaitu supaya apabila Tuhan melihat darah itu, Ia akan melewati mereka; sehingga mereka akan selamat. Tuhan berfirman:

“Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN. Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir” (Kel. 12:12-13).

Tanah Mesir akan dihukum oleh Tuhan; tetapi orang-orang Israel diselamatkan-Nya. Mengapa orang Israel harus diselamatkan? Pertama, karena Tuhan menaruh belas kasihan terhadap mereka; dan kedua, karena mereka tidak bersalah di mata Tuhan. Jadi, Tuhan menaruh belas kasihan dan tidak menghukum orang yang tidak bersalah.

[postingan number=3 tag= “iman-katolik”]

Dalam Injil, Tuhan Yesus bersabda: “Seandainya kalian memahami sabda ini: ‘Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan,’ tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah” (Mat. 12:7).

Konteks dari perkataan Yesus ini adalah: para murid-Nya yang memetik gandum pada hari Sabat dan memakannya. Diceritakan bahwa pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.”

Dalam perikop ini sudah sangat jelas diterangkan bahwa para murid Yesus memetik bulir gandum KARENA LAPAR. Jika saja mereka tidak lapar, pastilah mereka tidak memetik bulir gandum itu. Jelaslah ini bukan sekedar justifikasi atau pembenaran; tetapi memang mereka sungguh-sungguh lapar; sehingga dengan sendirinya tidak bisa disalahkan. Dan, orang yang tidak bersalah tidak boleh dihukum.

Dari kedua bacaan hari ini, kita mendapat pelajaran bahwa Tuhan tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah; dan Tuhan lebih menghendaki belas kasihan daripada sekedar menegakkan aturan.

Tuhan senantiasa menaruh belas kasihan terhadap semua orang; sehingga orang berdosa, kalau mereka bertobat, diampuni. Analoginya sederhana: orang tua yang baik tidak akan pernah menghukum anaknya yang tidak bersalah. Tapi, anak yang bersalah akan dinasehati; dan kalau memang perlu, dijewer. Tuhan juga begitu. Ia tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah; tetapi orang yang berdosa diberi-Nya teguran supaya mereka bertobat; dan ketika mereka bertobat, Ia mengampuni mereka.

Karena itu, ada dua hal yang patut kita lakukan. Pertama, kita tidak boleh melanggar perintah Tuhan; sebab Tuhan tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah. Kedua, kalau kita bersalah, kita harus bertobat; sebab Tuhan sayang pada orang yang bertobat.

2 Timotius 1:16-18 Meneguhkan Bahwa Onesiforus Telah Wafat

0

Dalam beberapa diskusi, ada perbedaan pendapat tentang Onesiforus dalam surat kedua Rasul Paulus kepada Timotius. Pembahasan tentang Onesiforus biasanya berkaitan dengan iman Katolik yang mendoakan arwah orang yang telah meninggal dunia. Gereja Katolik meyakini bahwa Onesiforus telah meninggal dunia ketika Paulus mengirim surat kepada Timotius. Bahkan beberapa ahli Kitab Suci Protestan seperti A. T. Robertson (Kristen Baptis), Begel (Lutheran) dan Alford (Anglikan) meyakini bahwa Onesiforus telah meninggal dunia seperti disebutkan dalam 2 Tim. 1:16-18.

Ayat tersebut berbunyi “Tuhan kiranya mengaruniakan rahmat-Nya kepada keluarga Onesiforus yang telah berulang-ulang menyegarkan hatiku. Ia tidak malu menjumpai aku di dalam penjara. Ketika di Roma, ia berusaha mencari aku dan sudah juga menemui aku. Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya pada hari-Nya. Betapa banyaknya pelayanan yang ia lakukan di Efesus engkau lebih mengetahuinya dari padaku.” (2 Tim 1:16-18). Berikut adalah beberapa penjelasan yang dapat kita berikan kepada lawan diskusi.

Pertama, 2 Timotius 1:16-18 memang tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa Onesiforus  telah wafat. Namun secara logis kita dapat menemukan bahwa Rasul Paulus mengucapkan doa dan harapan untuk Onesiforus supaya mendapat rahmat pada hari Tuhan. Ucapan doa dan harapan yang disampaikan Rasul Paulus ditujukan kepada keluarga Onesiforus dan Onesiforus dengan isi yang berbeda. Seperti kita ketahui ‘Hari Tuhan’ dalam berbagai ayat mengacu kepada hari penghakiman. Oleh sebab itu, lebih logis jika Onesiforus telah wafat.

Berbeda Itu Indah, Maka Jangan Dipersoalkan!

0
rawpixel / Pixabay

Sebuah foto dibagikan beribu-ribu kali di media sosial. Hanya dalam hitungan jam dan hari, foto tersebut menyebar luas di jagat dunia maya. Sepintas, foto ini biasa saja; hanya foto jabat tangan. Tapi, menjadi tidak biasa karena yang berjabat tangan dalam foto tersebut adalah seorang wanita berhijab asal Indonesia, yang belakangan diketahui bernama Dewi Praswida, dengan pemimpin tertinggi Gereja Katolik se-dunia, Paus Fransiskus.

Tanggapan warganet terhadap foto viral tersebut rupanya beragam: ada yang senang melihatnya, ada yang merasa biasa saja, tapi tidak ketinggalan, ada juga yang menghujatnya. Biasalah, bukan orang Indonesia namanya kalau tidak menghujat. Iya kan?

Secara pribadi, saya sangat senang melihat foto tersebut. Saya berpikir bahwa di tengah banyaknya ujian terhadap kerukunan antar-umat beragama yang marak terjadi belakangan ini, kita butuh sesuatu yang bikin adem di hati. Tak harus melalui sesuatu yang besar dan heboh; hanya dengan melihat foto seperti ini saja rasa-rasanya sudah cukup.

[postingan number=3 tag= “agama-katolik”]

Dengan tersebarluasnya foto tersebut, saya dan Anda menjadi sadar bahwa ternyata keberagaman itu indah. Bahwasanya, Tuhan menciptakan kita berbeda-beda. Tidak ada orang yang Tuhan ciptakan sama persis, bahkan anak kembar sekalipun. Mereka mungkin saja mirip, tetap tidak sama. Perbedaan adalah Mahakarya dari Tuhan.

Negara kita mengakui betapa besar karya Tuhan itu lewat semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ – Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Dengan adanya semboyan tersebut, membuat bangsa ini semakin kuat; karena arti bhineka tunggal ika merujuk pada persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Pendiri bangsa ini sudah sejak awal menyadari bahwa perbedaan itu merupakan suatu keniscayaan, artinya tidak bisa tidak, harus ada. Justru kalau kita memaksakan diri untuk membuat semuanya sama, itu sama saja kita menghina karya Tuhan.  Maka, sebagai bagian dari bangsa, sudah sepatutnya kita harus mengamalkan semboyan tersebut pada kehidupan sehari-hari.

Kalau kita mau jujur, perbedaan itu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Jangan dikira bahwa di rumah tidak ada perbedaan. Antara ayah, ibu, dan anak-anak, misalnya, tentu saja mempunyai banyak perbedaan dalam hal selera makan, pilihan warna, hobi, film kesukaan, dan sebagainya.

Nah, jika di rumah sendiri saja demikian adanya, apa lagi di luar rumah. Maka, jangan heran jika pada saat kita membuka pintu rumah kita, sudah terbentang di depan mata kita beraneka ragam perbedaan. Lalu, apakah kita perlu menolak perbedaan-perbedaan itu? Tentu saja jawabannya: tidak. Menolak perbedaan bukan sikap yang pantas.

Kita tidak perlu menolak adanya perbedaan. Lagipula, sekalipun kita menolaknya, perbedaan itu tetap ada. Maka, sikap yang tepat dalam menyikapi perbedaan adalah dengan mensyukurinya. Kita bersyukur karena kita berbeda; sebab karena adanya perbedaan itu, makanya hidup kita menjadi berwarna; dan sesuatu yang berwarna itu sudah pasti indah. Bukankah begitu?

Lagipula, justru karena kita bhinneka, makanya sila ketiga Pancasila, yaitu ‘Persatuan Indonesia’ menjadi benar-benar bisa terwujud. Kita bersatu karena kita berbeda. Jika saja kita tidak berbeda, dalam artian sama semuanya, buat apa kita disatukan? Tidak ada yang perlu disatukan jika semuanya sama saja. Laki-laki dan perempuan bersatu karena mereka berbeda; dan persatuan mereka itu melahirkan sesuatu yang indah, yaitu kelahiran anak.

Jika saja dunia ini hanya terdiri atas laki-laki semuanya atau perempuan semuanya, maka saya sulit membayangkan apa yang akan terjadi. Mungkin yang akan terjadi hanyalah ‘jeruk makan jeruk’; dan sudah pasti kita semua tidak menginginkan hal itu terjadi. Karenanya, sekali lagi, perbedaan itu jangan pernah ditolak, tetapi sebaliknya, disyukuri.

Apalagi, kita ini adalah orang-orang beriman. Sebagai orang beriman, kita harus saling mengasihi meski kita berbeda. Jangan mengaku beriman jika kita tidak mau mengasihi. Justru sebaliknya, semakin kita beriman kepada Tuhan, seharusnya kita semakin mengasihi sesama; sebab Tuhan adalah kasih. Dia yang Mahakasih itu mengasihi semua orang tanpa tebang pilih. Ia menurunkan hujan baik kepada orang benar, maupun kepada orang jahat.

Jika ada orang mengaku beriman, tapi dalam kehidupan sehari-harinya ternyata membenci sesamanya manusia, itu berarti bahwa orang bersangkutan sebenarnya tidak sungguh-sungguh beriman –alias beriman secara setengah-setengah, atau mungkin saja mengaku beriman tapi ternyata tidak beriman sama sekali.

Karena itu, mari kita hentikan segala macam caci maki, hujatan, dan fitnah. Jangan sampai ada lagi permusuhan di antara kita, hanya karena kita berbeda suku, agama, dan ras. Ingat, bumi ini diperuntukkan bagi semua, siapa saja tanpa terkecuali. Itulah yang dikehendaki oleh Tuhan. Jika Tuhan tidak menghendaki adanya perbedaan di antara kita, tentulah Ia tidak pernah menciptakan kita secara berbeda-beda.

Nah, kalau kita masih saja terus mempersoalkan perbedaan, itu tandanya kita perlu untuk merenungkan secara serius apakah selama ini kita benar-benar mengimani Tuhan atau tidak. Sekiranya kita sungguh mengimani Tuhan, kita tidak akan pernah melawan kehendak-Nya.

Ingat, kebhinnekaan adalah kehendak Tuhan sendiri. Dialah yang menginginkan dunia ini bhinneka. Maka, anti terhadap kebhinnekaan berarti menyangkal kehendak Tuhan. Siapa kita untuk menyangkal kehendak Tuhan?

Beriman Saja Tidak Selamat

0
reenablack / Pixabay

Dalam berbagai kesempatan saya berdiskusi dengan saudara-saudari dari Gereja non-Katolik. Pembahasan yang sering didiskusikan adalah benarkah beriman saja dan pasti masuk surga?. Memang sebagian besar Gereja non-Katolik mengajarkan Sola Fidei (hanya iman) dan Sola Gracia (hanya rahmat) yang dapat menyelamatkan. Sementara itu, Gereja Katolik mengajarkan bahwa iman dan perbuatan adalah satu paket. Iman dan perbuatan mendatangkan rahmat atau anugrah dari Tuhan sendiri. Oleh sebab itu Gereja Katolik meyakini bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. “Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” [Yak 2:15-17]. Agaknya perbedaan tersebut muncul karena pandangan yang berasal dari pandangan Rasul Paulus dan Surat Yakobus.

Pertama, Rasul Paulus ‘mengajarkan bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum taurat, melainkan karena iman kepada Yesus Kristus’. “Kamu tahu bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh iman dalam Kristus Yesus, sebab itu kami telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat, Sebab:”tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat.” (Galatia 2: 15-16). Selain itu dalam Roma 3:28: “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Frase tersebut menjelaskan bahwa iman kepada Kristus terlepas dari tindakan melakukan hukum Taurat. Oleh sebab itu seolah-olah Rasul Paulus mengatakan pembenaran itu hanya melalui iman. Namun, perlu diperhatikan bahwa Rasul Paulus tidak mengatakan bahwa perbuatan sebagai bukti atau wujud dari iman adalah salah atau tidak perlu. Sementara yang dipermasalahkan Paulus adalah tentang bermegah. Roma 4: 2: “… sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah” Itu artinya Rasul Paulus tidak menentang kesatuan antara iman dan perbuatan, namun ia meminta agar tak seorang pun bermegah karena perbuatan (wujud atau bukti) iman tersebut. Selain itu, Rasul Paulus membahas antara iman pada Kristus dan melakukan hukum Taurat. Ia tidak membahas tentang iman kepada Kristus,  yang satu paket dengan perbuatan kasih (Bdk. Mat. 25:31-46, 7:2. Maka dari itu, pembahasan Rasul Paulus tidak bertentangan dengan ajaran Surat Yakobus.

Baca juga:

Kedua, Yakobus menjelaskan bahwa iman yang benar dilihat dari perbuatan atau iman yang benar terwujud atau tercermin dalam perbuatan. Yakobus menegaskan bahwa seorang yang beriman mengeluarkan perbuatan baik dari perbendaharaannya. Oleh sebab itu, iman dan perbuatan adalah satu paket yang tak terpisah. “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya di atas mezbah?” (Yak. 2:21). Lalu ada yang bertanya mengapa Rasul Paulus mengatakan bahwa Abraham tidak dibenarkan oleh perbuatan, tetapi oleh iman?. Seperti disebutkan pada point pertama, Rasul Paulus membandingkan iman kepada Kristus dan hukum Taurat. Pada konteks itu, Rasul Paulus menjelaskan bahwa Abraham tidak dibenarkan karena melakukan hukum Taurat. Oleh sebab itu, yang dibahas oleh Yakobus dan Rasul Paulus adalah dua konteks yang berbeda. Oleh sebab itu, Yakobus menjelaskan bahwa Abraham dibenarkan dengan melakukan perbuatan, yang merupakan wujud dari iman kepada Allah (bdk. Yak. 2:20,26).

Ketiga, Yesus mengajarkan iman dan perbuatan adalah satu paket. Bahkan dalam penghakiman terakhir Yesus bertanya kepada orang-orang beriman tentang perbuatan yang telah mereka buat selama di dunia (Matius 25:31-46). Bahkan Yesus mengusir orang-orang yang memanggilnya Tuhan (beriman) yang tidak melakukan kehendak Bapa (bdk. Mat. 7:21). Lebih dari itu, Yesus menuntut para murid untuk sempurna seperti Bapa (bdk. Mat. 5:48). Oleh sebab itu, Yesus akan datang membawa upahnya untuk membalas kepada setiap orang menurut perbuatannya (Wahyu 22:12). Tidak heran jika Yesus mengajar para murid untuk menjadi garam dan terang dunia, sebab ketika tiba waktunya akan dituntut pertanggungjawaban dari mereka (bdk. Mat. 3:12). Bahkan ia meminta para muridnya berbuah (ada hasil atau perbuatan baik) kerena pohon yang baik (orang beriman) menghasilkan buah yang baik pula. Setiap orang yang tidak berbuah akan dilemparkan ke dalam api yang tak terpadamkan (bdk.  Mat. 7:16-20). Maka penebusan Yesus bukanlah kesempatan bagi kita berbuat dosa sebanyak-banyaknya, melainka kesempatan bagi kita berbuat baik karena iman yang kita miliki. Dengan demikian ajaran yang mengajarkan bahwa beriman saja cukup atau beriman saja sudah pasti selamat adalah ajaran yang tidak lengkap atau menyimpang dari Alkitab.**

Kitab Deuterokanonika Diilhami Oleh Allah

0

Dalam beberapa diskusi dengan umat non-Katolik tim JalaPress seringkali menemukan pernyataan bahwa Kitab Deuterokanonika tidak diilhami Allah. Mereka mengatakan demikian karena beberapa alasan antara lain, menurut mereka Kitab Deuterokanonika tidak pernah menulis nama Tuhan, atau Tuhan berfirman, menceritakan sejarah yang keliru dan lain sebagainya. Namun, alasan tersebut tidaklah masuk akal dan terkesan kurang wawasan. Bagaimana menanggapi pernyataan-pernyataan itu?. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita jelaskan.

Pertama, Gereja Katolik meyakini bahwa Kitab Deuterokanonika adalah bagian dari Perjanjian Lama (Kitab yang diilhami oleh Allah) dan kelanjutan dari Kitab Maleakhi. Apabila Kitab Deuterokanonika tidak ada dalam Perjanjian Lama, maka ada sejarah atau kisah yang hilang dari Maleakhi hingga Matius.

Kedua, alasan bahwa dalam Kitab Deuterokanonika tidak ada disebut nama Allah adalah tidak benar. Banyak ayat dalam Kitab Deuterokanonika menyebut nama Allah. Misalnya, “Sebab lubuk hati manusia saja tak dapat kamu selami dan pikiran-pikiran sanubarinya tak dapat kamu mengertinya. Mana boleh kamu mau menyelidiki Allah yang membuat segala-galanya, mengenal budi-Nya serta memahami pikiran-Nya! Sekali-kali tidak, saudara-saudara! Janganlah memurkakan Tuhan, Allah kita!” (bdk. Yudit 8:14). Malahan alasan tersebut akan menjadi bumerang bagi pembuat pernyataan, karena dalam Kitab Ester (yang dianggap kanon) tidak ada disebutkan nama Allah. Beranikah pembuat pernyataan membuang Kitab Ester karena standar yang digunakan harus ada nama Allah?. Saya kira mereka tidak akan berani.

Baca:

Ketiga, sejarah yang ditulis dalam Kitab Deuterokanonika merupakan lanjutan dari Kisah Kitab Maleakhi. Oleh sebab itu, jika seseorang tidak membaca secara berurut maka muncul kekacauan karena muncul gelar-gelar atau nama-nama yang serupa pada kitab sebelumnya. Padahal sejarah tertentu terjadi pada masa yang berbeda, meskipun ada persamaan gelar atau nama.

Keempat, Kitab Deuterokanonika diilhami oleh Allah. Banyak ajaran dalam Kitab Deuterokanonika yang ada atau dikutip oleh Yesus dan para rasul. Beberapa kutipan Deuterokanonika yang ada dalam Perjajian Baru antara lain,

Sirakh 5:11-12, Hendaklah cepat mendengarkan, tetapi laun mengucapkan jawabannya. Jika engkau tahu, hendaklah menjawab sesamamu, jika tidak, taruhlah tangan pada mulutmu. Pesan yang kurang lebih sama dapat kita temukan dalam Yakobus 1:19, Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk Marah;…

Yudit 8:14, Sebab lubuk hati manusia saja tak dapat kamu selami dan pikiran-pikiran sanubarinya tak dapat kamu mengertinya. Mana boleh kamu mau menyelidiki Allah yang membuat segala-galanya, mengenal budi-Nya serta memahami pikiran-Nya! Sekali-kali tidak, saudara-saudara! Janganlah memurkakan Tuhan, Allah kita!. Pesan yang kurang lebih sama dapat kita temukan dalam 1 Korintus 2:10-11.  Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, dsebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.  Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain Roh Manusia sendiri yang ada di dalam dia?demikian pulalah tidak ada yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.

Sirakh 28:2, Ampunilah kesalahan kepada sesamamu, niscaya dosa-dosamupun akan dihapus juga, jika engkau berdoa. Pesan yang kurang lebih sama dapat kita temukan dalam Yoh. 20:23,  Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.

Dari penjelasan di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa Kitab Deuterokanonika adalah Kitab yang diilhami Allah, karena mengandung ajaran yang sama dengan ajaran Yesus. Pertanyaannya adalah mengapa pihak tertentu justru mengurangi Kitab yang diilhami oleh Allah ini dalam kitab mereka? Tidakkah mereka diminta pertanggungjawaban kelak atas pengurangann terhadap Kitab Suci tersebut?. Entahlah. Semoga tulisan singkat ini memberikan wawasan bagi sidang pembaca.

Katolik Menjawab: Gua Maria Bukan Sarang Berhala

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Keberadaan Gua Maria dalam Gereja Katolik mempunyai sejarah yang panjang. Tradisi tersebut berkaitan dengan penampakkan Bunda Maria selama beberapa kali kepada orang-orang ‘tertentu’.

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Pada tahun 1858, Bunda Maria menampakkan diri kepada St. Bernadette Soubirous di sebuah gua di kota Lourdes, Prancis. Gua tersebut kemudian hari menjadi tempat ziarah populer bagi umat Katolik. Tempat ziarah ini menjadi inspirasi bagi komunitas Katolik untuk membuat Gua Maria di berbagai tempat.

Gereja Katolik membuat Gua Maria sebagai tempat untuk ziarah dan devosi (penghormatan) terhadap Bunda Maria. Beberapa tempat ziarah yang merupakan tempat penampakkan Bunda Maria antara lain Fatima, Portugal, Guadalupe, Meksiko, dan sebagainya.

Tidak sedikit orang ‘menuduh’ bahwa pembuatan Gua Maria dalam Gereja Katolik sama saja dengan mendirikan sarang berhala. Sebab, dengan membuat tempat khusus bagi Maria, itu berarti orang Katolik menyembah patung Maria.

Benarkah orang Katolik menyembah patung Maria? Jawabannya: tidak. Orang Katolik tidak menyembah Bunda Maria, apalagi patungnya. Patung yang ada di Gua Maria adalah lambang, sarana, dan simbol; dan sama sekali bukan tujuan dari penghormatan.

Tujuan penghormatan umat Katolik adalah pribadi Maria, sedangkan tujuan penyembahannya adalah Allah Tritunggal Maha Kudus. Dan, hal penghormatan terhadap Bunda Maria ini sangatlah wajar; sama wajarnya dengan sikap hormat kita terhadap orang tua kita masing-masing.

Doa Brevir 7 Waktu

1
Gambar ilustrasi oleh klimkin / Pixabay

Buku Puji Syukur menulis kebiasaan orang-orang Kristen, salah satunya adalah melaksanakan ibadah Harian. Gereja tiada putusnya memuji Tuhan dan memohonkan keselamatan seluruh dunia bukan hanya dengan merayakan Ekaristi, melainkan dengan cara-cara lain juga, terutama Liturgi Harian  (Sacrosanctum Consilium art. 83, Kitab Hukum Kanonik 1173-1175)

Dasar Alkitab

Allah menyucikan waktu pagi, siang dan malam, oleh sebab itu, ia memberi perintah kepada para imam untuk menyucikan hari melalui kurban sembelihan pada pagi dan petang (lihat Kel. 29:38-39, Bil. 28:3-8, 1 Raj. 18:36). Setelah penghancuran Bait Allah Praktek tersebut diganti dengan pembacaan Taurat, Mazmur dan kurban pujian di sinagoga. Praktek doa tersebut dapat kita temukan dalam berbagai ayat Kitab Mazmur (lihat Mzm 5:4, 88:14, 119:164, 141:2). Bahkan pada masa pembuangan umat Israel melaksanakan doa-doa pada jam-jam tertentu(lih. Dan 6:10;6:13). Misalnya, pemazmur melaksanakan puji-pujian, tujuh kali dalam sehari (lihat Mzm. 119:164).

[postingan number=3 tag= “iman-katolik”]

Pada masa penjajahan Romawi, kaum Yahudi mengikuti sistem pembagian waktu Romawi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga mempengaruhi waktu doa kaum Yahudi. Adapun di kota-kota jajahan itu, terdapat bel penanda jam kerja. Waktu itu bel biasanya berbunyi pada jam enam pagi, sembilan, tengah hari, jam satu siang, jam tiga dan jam enam sore untuk sebagai penanda waktu kerja ditutup. Jemaan perdana mengikuti dan meneruskan tradisi Yahudi terutama jam-jam doa pada waktu tertentu di sepanjang hari, terutama sistem waktu yang dipengaruhi oleh Romawi. Injil sendiri seringkali mengisahkan Yesus dan para rasul berdoa pada jam-jam tertentu (lihat Luk 3:21-22, 6:12, 9:28-29; 11:1, 9:18, 22:32, 5:16,  Mat 4:19; 15:36,11:25,19:13, 4:1, 14:23, 14:23.25, Yoh 11:41, Mrk 1:35, 6:46). Bahkan para rasul juga berdoa pada jam-jam tertentu antara lain jam tiga, jam enam, jam sembilan dan tengah malam (lih. Kis 3:1, 10:3, 9-49; 16:25). Setelah Kristen Perdana terpisah dari Yudaisme, praktek berdoa pada waktu-waktu tertentu berlanjut terus. Jemaat perdana mendaraskan Mazmur, membaca Kitab Suci dan mengucapkan madah (lihat Kis. 4:23-30).

Masa Para Bapa Gereja

Penetapan waktu doa juga tercatat dalam Kitab Didache (95 M) yang berjudul “Orismenois Kairois Kai Horeis”. Selain itu tertulis juga dalam Dokumen Konstitusi Rasuli (380) dan Bapa Gereja. St. Basilius Agung (330-379) dalam Regulae Fusius Tractate mengatakan bahwa penetapan waktu-waktu berdoa atau sembahyang telah dilakukan oleh para rasul sendiri di Yerusalem. Hampir semua Bapa Gereja baik Gereja Timur seperti Santo Yohanes Krisostomos (354-407) dan Gereja Barat seperti Santo Hieronimus (340-420) menulis tentang tradisi penyucian waktu tersebut. Bahkan St. Agustinus dari Hippo dalam aturan hidup membiara menganjurkan ‘untuk bertekun dengan setia dalam doa pada jam-jam dan waktu-waktu yang telah ditentukan”. Selain itu, St. Benediktus Nursia dalam regulanya menuliskan panduan praktek doa ibadah harian. Pada masa itu doa harian disebut doa Ofisi Ilahi. Ungkapan St. Benediktus Nursia yang terkenal adalah “Orare est laborare, laborare est orare”. Kemudian pada abad ketiga, para rahib pertapa mengikuti anjuran Santo Paulus untuk ‘berdoa tanpa henti’ dan mempraktekkan doa tersebut secara berkelompok (lihat 1 Tes. 5:17).

Sementara itu, perkembangan Liturgi Harian di Gereja Timur beralih dari Yerusalem menuju Konstantinopel. St. Theodorus (758-826) memadukan doa tersebut dengan pengaruh Byzantium dan madah gubahannya sendiri. Selanjutnya doa liturgi Harian berkembang lebih pesat dalam praktek hidup monastik baik di barat maupun di timur. Memasuki abad keempat, praktek doa liturgi harian telah mendapat bentuk yang lebih pasti, baik untuk kaum awam, monastik, dan imam sekuler. Meskipun demikian pada awalnya buku panduan doa kurang lengkap karena terpisah-pisah, sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan gereja. Ada buku yang isinya hanya kumpulan mazmur, ada yang berisi kumpulan masah dan ada yang berisi buku Injil untuk bacaan Kitab Suci. Oleh sebab itu, disusunlah versi sederhana dari doa-doa liturgi harian tersebut dalam satu buku yaitu Buku Brevir (latin: pendek)

Konsili Trente-Paus Pius V

Konsili Trente (13 Desember 1545 hingga 4 Desember 1563) mempercayakan kepada Paus Pius IV untuk mereformasi brevir. Kemudian pada tanggal 9 Juli 1968, Paus Pius V mengumumkan sebuah edisi sederhana Brevir Romawi.

Konsili Vatikan II

Setelah itu, Paus Clement VIII melakukan penyederhanaan. Kemudian Paus Urban VIII dan Pius X melakukan penyederhanaan yang cukup besar. Lalu Paus Pius XII melakukan penyederhanaan dan terakhir Paus Yohanes XXIII kembali lagi melakukan penyederhanaan pada tahun 1960. Maka sejak akhir abad kelima hingga sebelum Konsili Vatikan II, doa Liturgi Harian sebagai berikut:

  • Matutinum artinya ibadat tengah malam (Vigile).
  • Laudes, dilakukan saat fajar menyingsing (PS. 148, 149,150).
  • Primus artinya doa di awal pagi (jam 6).
  • Tertia artinya doa di awal tengah hari (jam 9).
  • Sexta artinya doa tengah hari (jam 12 siang).
  • Nona artinya doa setelah tengah hari (jam 15.00).
  • Vesper artinya doa sore (dilakukan pada saat matahari terbenam).
  • Completorium artinya doa penutup hari.

Penyederhanaan kembali dilakukan oleh Konsili Vatikan II agar mudah dilakukan oleh awam (umat), sehingga doa tersebut tidak hanya monopoli biarawan-biarawati. Konsili Vatikan II menggabungkan doa primus pada doa Laudes. Kemudian mengubah Matutinum menjadi Ibada Bacaan sehingga fleksibel untuk dilakukan. Lalu Konsili menata ulang mazmur-mazmur sehngga seluruhnya dapa didoakan selama empat minggu (sebelumnya hanya didoakan satu minggu). Sejak Konsili Vatikan II nama Roman Breviary diganti menjadi Liturgy of the Hours (Liturgi Harian/Liturgia Horarum) yang terbagi dalam empat volume (sesuai kalender Liturgi gereja):

  • Volume I, masa Adven dan Natal
  • Volume II, Prapaskah, Trihari Suci dan Masa Paskah.
  • Volume III, Minggu Biasa 1 sampai 17.
  • Volume IV, Minggu Biasa 18 sampai 34.

Praktek Liturgi Harian dalam Gereja Katolik Roma saat ini meliputi:

  • Ibadat Pembukaan (ibadat pertama; bisa Ibadat Bacaan dan Ibadat Pagi).
  • Ibadat Bacaan (Matutinum).
  • Ibadat Pagi (Laudes)

Ibadat Siang, terdiri atas:

  • Tertia (Ibadat sebelum tengah hari).
  • Sextia (Ibadat tepat tengah hari).
  • Nona (Ibadat setelah tengah hari).
  • Ibadat Sore (Vesper).
  • Ibadat Malam (Completorium).**