2.8 C
New York
Thursday, April 9, 2026
Home Blog Page 59

Jaminan Kesetiaan

0
Pexels / Pixabay

Memiliki suami yang ganteng atau istri yang cantik, anak-anak yang lucu, pekerjaan yang mapan, rumah yang indah atau tidak pernah berkonflik dengan pasangan, bukanlah jaminan kesetiaan.

Kesetiaan itu terjamin ketika komitmen dan kepercayaan satu sama tidak hilang atau tidak digadaikan.

Sekali pasangan terluka karena komitmen dan kesetiaan yang hilang, selamanya garis retak hubungan tergores di hati dan terngiang di benak. Perlu waktu untuk sembuh, atau bisa jadi juga tunggu waktu untuk balas. Rumit!

Maka, “Bukalah matamu lebar-lebar sebelum menikah, dan setengah tertutup setelah menikah,” Benjamin Franklin

P. Joseph Pati Mudaj, Msf

Pesta St. Yoseph dan Sekilas Sejarah Gereja St. Yoseph Matraman-Jakarta

0

Setiap tanggal 19 Maret, diperingati sebagai hari Pesta St. Yoseph (Santo Pelindung). Wartawan JalaPress.com, Silvester de Gea menghadiri acara peringatan St. Yoseph yang hari ini dirayakan dalam sebuah acara khusus di Gereja Paroki St. Yoseph Matraman-Jakarta, Selasa, (19/3/2019).

Kesempatan ini, dimanfaatkan sekaligus untuk sedikit menelusi kisah sejarah keberadaan gereja St. Yoseph Matraman. Tentang riwayat singkat dari gereja St. Yoseph Matraman ini, simak tulisan berikut ini.

Sejarah Gereja St. Yoseph Matraman

Gereja St. Yoseph Matraman – Jakarta, yang terletak di Jl. Matraman Raya, Nomor 127, Jakarta Timur, adalah salah satu gereja tua di yang ada Provinsi DKI Jakarta.

Pada tanggal 22 Juni 2019 nanti, gereja ini genap berusia 110 tahun. Kisah pembangunan gereja ini, berawal dari pembelian sebidang tanah di tepi Matramanweg pada 13 Desember 1906. Pada 28 Desember 1906, di lokasi ini terlebih dahulu dibentuk stasi (wilayah pra-otonomi dalam pelayanan umat Katolik-Red) oleh pastor PJ. Hoevenaars, SJ, dari Gereja Katedral.

Registrum Baptismale I, Ecclesia Catholicae quae est in Meester Cornelis in Insula Java, mencatat bahwa baptisan pertama dilaksanakan pada 22 Juni 1909 atas nama Christina Wilhelmina Cornelia. Christina, lahir pada 14 Mei 1909 merupakan anak pertama –berdarah Belanda, yang dibaptis di gereja ini. Pastor Johanes Djawa, SVD (Pastor Kepala Paroki 1989-1999) menetapkan tanggal pembaptisan tersebut sebagai penanda kelahiran Gereja St. Yoseph, Paroki Matraman.

Rencana pembangunan gedung dimulai pada 8 April 1923, dengan nilai bangunan sebesar 70.000 gulden. Maka pada 9 September 1923, dilaksanakan peletakkan batu pertama. Sedangkan pembangunan fisik memakan waktu 7 bulan. Pada waktu itu, tender pembangunannya dimenangkan oleh Algemeen Ingenieurs Architecten Bureau (Biro AIA).

Arsiteknya, ditangani oleh Ir. Frans Johan Lauwrens Ghijsels (1882-1947). Pria kelahiran Tulung Agung, 8 September 1882. Ia seorang arsitek yang cukup popular. Ia pernah menjadi arsitek untuk membangun gedung-gedung di kota Batavia, antara lain bangunan Stasiun Kota, Vrijmetselaarslogre (sekarang: Gedung Bappenas).

Demi mengenang jasanya, maka nama arsitek ini diabadikan pada prasasti di lantai Gereja Santo Yoseph Matraman, pasca renovasi tahun 2002 yang letaknya tepat pada posisi altar lama. Sedangkan gedungnya, diberkati oleh Mgr. Van Velsen, SJ pada tanggal 6 April 1924.

Pada awalnya, Gereja ini hanya menampung 400 orang umat, dari sekitar 1.052 orang umat pada waktu itu. Maka pada tahun 1970, gereja diperluas ke bagian kiri dan menyatu dengan rumah para pastor SVD (Societas Verbi Divini). Hasil perluasan ini, diberkati oleh Pastor C Van Iersel, SVD. Perluasan ini membentuk huruf ‘L’ sehingga dapat menampung 800 orang. Kemudian Pastor Jan Lali, SVD menjadi pastor kepala paroki pertama yang pribumi di gereja ini (1974-1979).

Realisasi pembangunan (renovasi) fisik dimulai tahun 2001 dengan arsitek Ir. Erawan Kartawidjaja. Setelah melalui proses konsultasi dengan Dinas Museum dan Pemugaran DKI, maka keluarlah IMB (Ijin Mendirikan Bangunan) kedua pada 9 Juli 2001. Renovasi terakhir dilakukan pada tahun 2001, pada masa Pastor Johanes Madiaadnyana, SVD.

Selama 30 tahun, umat gereja ini didominasi orang Belanda. Sementara itu, pada tahun 1921 jumlah umat mencapai 1.052 orang, dan berkembang cukup pesat hingga 13.000 orang pada tahun 1985. Namun karena pemekaran wilayah pelayanan, umat di gereja  ini pun tersebar ke berbagai wilyaha paroki yang lain. Hingga tahun 2018, jumlah umat di gereja telah mencapai 5.517 orang,

Editor: Silvester Detianus Gea

Sumber bacaan:

Adolf Heuken, SJ. 2007.200 Tahun Gereja Katolik di Jakarta. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.

Nani Bl. de Rozari dan A. J. S. Tjokrowardojo. 2006. Di Bawah Lindungan Santo Yoseph, Refleksi Perjalanan Umat Paroki Matraman 1909-2006. Jakarta: Paroki Matraman.

Pesan Perdamaian St. Yohanes Paulus II: Perang Tidak Boleh Terjadi Lagi

0
Foto St, Yohanes Paulus II diambil dari Pixabay.com

Produk Kengerian Perang

Karol Jozef Wojtilla yang kelak dikenal luas dalam sejarah dunia dengan sebutan Paus Yohanes Paulus II adalah salah satu orang yang paling berpengaruh sepanjang abad ke-20. Pengukuhannya sebagai Paus dengan bayang-bayang Uni Soviet yang kala itu menguasai Polandia, dan ancaman perang dingin yang kian nyata membentuk sosok Yohanes Paulus II yang teduh, terbuka, dan berkomitmen penuh terhadap perdamaian dunia. Ia terpilih sebagai Paus dengan berbagai catatan unik, seperti Paus pertama yang bukan orang Italia setelah hampir 400 tahun, Paus pertama dari negara Eropa Tengah sekaligus negara komunis, dan sebagainya. Dari semua predikat unik itu, latar belakang St. Yohanes Paulus II yang patut direfleksikan secara mendalam adalah perjalanan hidupnya yang amat memilukan, setidaknya untuk konteks manusia saat ini.

[postingan number=3 tag= ‘gereja-katolik’]

Karol Wojtila lahir di Polandia, lalu hidup dalam kengerian dua perang dunia terbesar dalam sejarah umat manusia, Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua. Perang Dunia II pecah saat Adolf Hitler menyerbu Polandia, dan memporak-porandakan kehidupan Wojtila muda, yang kala itu memang sudah luar biasa menderita setelah kehilangan ibu dan kakak sulungnya. Demi menjadi imam, ia bahkan pernah menjadi pekerja tambang, dan menjadi seminaris secara rahasia. Tanggung jawabnya untuk memerdekakan negeri kelahirannya tertuang dalam perjuangannya melalui teater. Dalam perjuangannya yang berat, ia harus merelakan kepergian sang ayah ke rumah Bapa, dan memulai perjalanan imannya seorang diri.

Perdamaian dan Martabat Manusia

Pengalaman kengerian perang membentuk St. Yohanes Paulus II sebagai sosok yang sangat gigih memperjuangkan perdamaian dunia. Ia sudah melihat, bagaimana peperangan menghancurkan begitu banyak harapan, menghilangkan begitu banyak nyawa, dan memutuskan rantai persaudaraan dalam hidup antarmanusia. Suara perdamaian itu terus disuarakan melalui kunjungannya ke berbagai tempat, menembus setiap batas perbedaan budaya, suku, ras dan agama. Jiwa dari masa kepausannya adalah perdamaian dunia.
Kengerian perang, terutama dalam tragedi kemanusiaan Nazi di Jerman pada masa Perang Dunia II, juga turut membentuk posisi mendasar karya kepausannya pada penghargaan terhadap martabat manusia. Kekayaan refleksi dan tulisannya menunjukkan bahwa martabat manusia sebagai citra Allah adalah hal yang mesti dijunjung tinggi, agar dunia mampu melihat persaudaraan dan perdamaian sebagai landasarn untuk menciptakan rumah “bumi” yang damai, di mana semua orang mendapat tempat untuk dihargai sebagai manusia.

“Perang tidak boleh terjadi lagi”

Bagi kita, St.Yohanes Paulus II adalah sosok produk kekelaman umat manusia. Dalam perjuangannya yang gigih, kita melihat sebuah peringatan serius, “perang tidak pernah boleh terjadi lagi”. Produk kengerian perang, yang menenggelamkan manusia dalam kebinasaan dan kesengsaraan, sudah menjadi pembelajaran yang amat berarti bagi semua manusia melalui sosok St. Yohanes Paulus II ini. Karena itu, selain dihormati sebagai orang kudus, St. Yohanes Paulus II semestinya menjadi simbol kengerian perang yang mesti menjadi ingatan dan pelajaran bagi kita semua. St. Yohanes Paulus II dengan caranya yang luar biasa berhasil membalikkan trauma perang menjadi berkat bagi seluruh dunia, termasuk kita. Ancaman terhadap perdamaian dunia itu nyata melalui gerakan separatis, perang dagang dan media yang semakin meresahkan. St. Yohanes Paulus II setidaknya mengingatkan kita tentang adagium ini: “dunia hancur bukan karena terlalu banyak orang jahat, tetapi karena diamnya orang-orang baik”. (Fr. Valdi Karitas, KM Centro John Paul II-Ritapiret)

Gereja St. Yoseph Matraman, Saksi Sejarah

0

 

Gereja St. Yoseph, yang terletak di Jalan Matraman Raya, Nomor 127, Jakarta Timur, salah satu gereja tua di Provinsi DKI Jakarta. Pada 22 Juni 2018, gereja ini genap berusia 109 tahun. Kisah pembangunan gereja berawal dari pembelian sebidang tanah di tepi Matramanweg pada 13 Desember 1906. Pada 28 Desember 1906, di lokasi ini terlebih dulu dibentuk stasi (wilayah pra-otonomi dalam pelayanan umat Katolik-Red) oleh pastor PJ Hoevenaars, SJ, dari Gereja Katedral. Registrum Baptismale I, Ecclesia Catholicae quae est in Meester Cornelis in Insula Java, tercatat bahwa baptisan pertama dilaksanakan pada 22 Juni 1909. Christina Wilhelmina Cornelia, lahir pada 14 Mei 1909, adalah anak pertama –berdarah Belanda- yang dibaptis di gereja ini. Pastor Johanes Djawa, SVD (Pastor Kepala Paroki 1989-1999) menetapkan tanggal pembaptisan tersebut sebagai penanda kelahiranGereja St. Yoseph, Paroki Matraman.

Rencana pembangunan gedung dimulai pada 8 April 1923, dengan nilai bangunan 70.000 gulden. Maka pada 9 September 1923 dilaksanakan peletakkan batu pertama, sedangkan pembangunan fisik memakan waktu 7 bulan. Pada waktu itu tender dimenangkan oleh Algemeen Ingenieurs Architecten Bureau (Biro AIA). Arsitek ditangani oleh Ir Frans Johan Lauwrens Ghijsels (1882-1947). Pria kelahiran Tulung Agung, 8 September 1882. Ia seorang arsitek yang cukup popular. Ia pernah menjadi arsitek untuk membangun gedung-gedung di Batavia antara lain bangunan Stasiun Kota, Vrijmetselaarslogre, sekarang Gedung Bappenas. Demi mengenang jasanya maka nama arsitek ini diabadikan pada prasasti di lantai Gereja Santo Yoseph, pasca renovasi tahun 2002, tepat pada posisi altar lama. Kemudian gedung diberkati oleh Mgr Van Velsen, SJ, pada 6 April 1924.

Pada awalnya Gereja ini hanya menampung 400 orang umat, dari sekitar 1.052 orang umat pada waktu itu. Maka pada tahun 1970 gereja diperluas ke bagian kiri dan menyatu dengan rumah para pastor SVD (Societas Verbi Divini). Kemudian perluasan ini diberkati Pastor C Van Iersel, SVD. Perluasan ini membentuk huruf ‘L’ sehingga dapat menampung 800 orang. Kemudian Pastor Jan Lali, SVD, menjadi pastor kepala paroki pertama yang pribumi di gereja ini (1974-1979). Realisasi pembangunan fisik dimulai 2001 dengan arsitek Ir Erawan Kartawidjaja. Setelah melalui proses konsultasi dengan Dinas Museum dan Pemugaran DKI, keluarlah IMB (Ijin Mendirikan Bangunan) kedua pada 9 Juli 2001. Renovasi terakhir dilakukan pada tahun 2001, pada masa Pastor Johanes Madiaadnyana, SVD. Selama 30 tahun umat gereja ini didominasi orang Belanda. Sementara itu, pada tahun 1921 jumlah umat mencapai 1.052 orang, dan sempat berkembang pesat hingga 13.000 orang pada tahun 1985. Namun karena pemekaran wilayah pelayanan umat ini pun tersebar, hingga tahun 2018 umat mencapai 5.517 orang.

Referensi

  1. Adolf Heuken, SJ. 2007.200 Tahun Gereja Katolik di Jakarta. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.
  2. Nani Bl. de Rozari dan A. J. S. Tjokrowardojo. 2006. Di Bawah Lindungan Santo Yoseph-Refleksi Perjalanan Umat Paroki Matraman 1909-2006. Jakarta:Paroki Matraman.

Selamat merayakan pesta nama untuk semua paroki yang bernama St. Yoseph.

Cinta Yusuf

0
klimkin / Pixabay

Sebab mula-mula sekali,
sebelum terurai dalam puisi, sunyimu yang paling sendiri
telah diam-diam merasuk imaji:
—Ia yang setia menekuni sunyi akan menemukan cinta yang paling suci.

Aku, oleh imaji yang sesak kosakata, menamakan itu cara tak bercela
memeluk misteri. Bahwasanya sunyi adalah sonata yang tak lelah kata-kata
untuk merapalkan segala cinta yang dititahkan surga.
Sebagai sonata,
ia doa paling mulia yang membenih dalam dada.
Sebagai cinta,
ia pelita yang setia menerangi jiwa.

Sekarang selebihnya,
selain sunyi tak cukuplah kata-kata merangkul isi doa
karena kosakata yang banyak justru sia-sia
bila tak diimbangi rasa cinta.

  (Manila, September 2017)

Paus menyampaikan Belasungkawa atas penembakan di Masjid Al Noor dan pinggiran Linwood

0
https://indonesia.ucanews.com

Bapa Suci Paus Fransiskus menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas aksi penyembakan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru. Paus menyampaikan belasungkawa tersebut melalui telegramnya yang dikirim melalui Sekretaris Vatican, Kardinal Pietro Parolin.

Seperti diketahui peristiwa penembakan itu terjadi di Masjid Al Noor dan pinggiran Linwood pada hari jum’at, 15 Maret 2019.

Paus berdoa untuk penyembuhan mereka yang terluka dan penghiburan bagi yang berduka karena kehilangan orang yang mereka cintai. Paus Fransiskus juga memohon berkat Allah demi penghiburan dan kekuatan bagi bangsa Selandia Baru.

 

Goresan Luka Hati

0
kaboompics / Pixabay

Aku tak mengira jika kisah kita berarkhir begini
Engkau yang berjanji menjaga hati
Malah mengingkari keberadaanku
Engkau khianati kepercayaanku

Engkau memberi cinta, juga menggoreskan luka
Begitu mudahnya bagimu membagi cinta
Engkau mengingkari cinta tulusku
Entah engkau malu punya pacar seperti aku?

Aku tidak tahu harus berkata apa
Marah pun tak dapat membuatmu kembali
Meskipun itu tanda aku tak ingin engkau pergi
Namun engkau selalu tidak mengerti maksudku

Terima kasih untuk semua
Terima kasih atas luka yang telah engkau goreskan
Ini kenangan yang tak terlupakan
Hingga akhir waktu

Aku tetap mencintaimu
Meskipun cintamu untuk yang lain
Kata pujangga ‘cinta tak harus memiliki’
Meskipun sakit membaca kalimat itu

Pesanku untukmu: Cinta sejati itu satu
Tidak mungkin mendua
Cinta sejati itu abadi
Tidak mungkin mudah digoyahkan orang

Kaum LGBTI Belum Diterima Masyarakat

0
Doc. Gusti Hadun

Akhir-akhir ini, muncul banyak pembicaraan tentang kaum LGBTI (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Intersex). Sebagai sebuah kenyataan sosial, keberadaan orang-orang dengan orientasi seksual yang tidak biasa ini seringkali mendapat tantangan keras dari masyarakat. Meski penolakan secara kekerasan sudah semakin jarang terjadi, Kaum LGBTI belum sepenuhnya diterima sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Salah satu benteng sosial yang menentang kelompok ini adalah komunitas agama.

Hal ini disampaikan oleh Ibu Khanis Suvianita di Aula Seminari Tinggi Interdiosesan St Petrus Ritapiret, Maumere (Sabtu, 16/3). Dalam bincang-bincang bersama dengan kelompok diskusi Centro John Paul II yang dipandu oleh Moderator Frater Ansy Sabar, kandidat Doktor dari ICRS Universitas Gadjah Mada ini menegaskan temuannya di Maumere dan Gorontalo mengenai ketertutupan masyarakat dalam memandang fenomena LGBTI.

Menurut Ibu Khanis, masyarakat kita lebih sering memahami gender hanya terbatas pada dua jenis kelamin, yaitu pria dan wanita. Padahal, dalam kenyataan, terdapat begitu banyak gender, misalnya gay, lesbian, biseksual, transgender, intersex, androgini, waria, priawan, dan lain-lain. Bahkan secara kultural beberapa masyarakat adat, misalnya Bugis, mengenal lebih dari dua gender. “Demokrasi kita memang tampaknya tidak mengakomodasi perbedaan-perbedaan sosial, terutama terhadap fenomen yang tidak biasa terjadi. Kita sudah dipandu oleh wacana yang mengharuskan hanya ada dua gender”, ungkapnya.

Menurut Ibu Khanis, kelompok umat beragama adalah aktor dominan dalam penolakan terhadap kaum LGBTI. Faktor utama penolakan umat beragama adalah moralitas religius yang hanya mengenal dua gender pria dan wanita. Umat beragama seringkali merasa risih dengan kehadiran kaum LGBTI karena memiliki pemahaman yang kurang mengenai fakta yang sebenarnya terjadi dalam diri setiap manusia. Oleh karena itu, Ibu Khanis menegaskan pentingnya keterbukaan pada penemuan-penemuan ilmiah mengenai jenis-jenis gender yang ada dalam diri manusia sejak lahir. Umat, khususnya pemimpin agama, seharusnya menjadi orang pertama yang secara terbuka menerima kehadiran semua gender sebagai ciptaan Tuhan.

“Saya sangat berterima kasih karena sudah diundang untuk berbicara mengenai isu ini di tengah-tengah para calon pastor sekalian”, demikian ungkap Ibu Khanis di akhir acara bincang-bincang ini. — (Fr. Anno Susabun)

Biarkan Aku Pergi Jauh

0
PIRO4D / Pixabay

Kau dan aku tidak perlu menyesali yang telah terjadi
Mungkin itu takdir yang telah digariskan
Meskipun hatiku masih belum sepenuhnya menerima
Tetapi itulah pilihanmu sendiri

Sungguh engkau tega menyakiti hatiku
Yang tulus mencintaimu
Amarahku dan kata kasarku adalah bukti
Aku tidak ingin engkau pergi

Kamu tidak pernah memikirkan perasaanku
Engkau menduakan aku dan berbagi cinta dengan yang lain
Betapa sakitnya hatiku, engkau mendustai aku
Aku yakin suatu saat nanti engkau akan mengerti
Betapa aku mencintaimu

Biarkanlah kini aku sendiri
Aku tidak ingin mengusik hadirmu di hati lelaki pilihanmu
Cukup sudah engkau menyakiti hati ini dengan aneka sandirawaramu
Aku ingin pergi sejauh mungkin dari hidupmu
Aku berharap menemukan kabut yang dapat menyembuhkan lukaku

Prapaskah sebagai Momentum Transfigurasi

0

Pada hari Minggu Prapaskah pertama yang lalu, Penginjil Lukas menceritakan kepada kita mengenai pencobaan Yesus di padang gurun. Konon, di sana sang iblis mencobai Yesus dengan memberikan tiga jenis pencobaan, yakni kekayaan, kekuasaan dan popularitas. Selanjutnya, pada Minggu Prapaskah yang kedua ini, kita beranjak dari padang gurun menuju ke gunung yang tinggi. Jika padang gurun melambangkan perjuangan, kesulitan dan cobaan bagi manusia; gunung yang tinggi merupakan simbol tempat Allah bersemayam.

Dalam Injil, Lukas menceritakan bahwa di gunung yang tinggi itu Yesus berdoa dan mengalami perubahan rupa di hadapan tiga orang murid-Nya—Petrus, Yakobus dan Yohanes (Lk 9:28b-36). Jelas, di sini kita dapat saksikan adanya transisi dari atmosfer padang gurun yang lebih rendah, gersang dan penuh pencobaan, ke gunung yang tinggi, di mana kesempurnaan dan kesucian hidup dapat dicapai. Sebagai anak-anak Tuhan, kita semua tentunya dikehendaki dan diberdayakan oleh Tuhan untuk beranjak dari padang gurun hidup kita, di mana cobaan dan pergumulan hidup terlunta-lunta, ke gunung tinggi, tempat yang damai untuk berjumpa dengan Tuhan demi kesucian hidup yang utuh. Dalam peristiwa Transfigurasi tersebut, ketiga orang murid Yesus melihat sesuatu yang luar biasa dalam pribadi Yesus dari apa telah dapat mereka lihat, dengar dan rasakan selama berada bersama-Nya.

Entah kita sadari atau tidak, ada saat-saat ketika Tuhan mengirimkan penghiburan-Nya ke tengah-tengah kita walaupun kadang kita tidak mampu melihat dan merasakan kehadiran Tuhan dan cinta-Nya kepada kita. Dan saya cukup yakin bahwa hampir semua orang memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan. Dalam bacaan pertama, kitab Kejadian (Kej 15:5-12,17-18) mengisahkan tentang hubungan Allah dengan Abram, yang kemudian Allah mengantikan namanya menjadi “Abraham”—bapak semua orang beriman. Melalui hubungannya ini, Allah dan Abram membuat perjanjian tentang bagaimana mereka akan bertindak terhadap satu sama lain. Dalam melakukan sebuah perjanjian, masing-masing pihak tidak hanya bersepakat secara moril, tetapi lebih dari itu bahkan untuk saling mengorbankan dirinya. Demikian halnya, membuat perjanjian dengan Tuhan menuntut pemberian hidup yang total. Ketika ketika dibaptis, kita sesungguhnya masuk ke dalam sebuah perjanjian dengan Allah. Ketika anda menikahi pasangan anda, anda juga masuk ke dalam sebuah perjanjian untuk saling mencintai dalam untung dan malang. Ketika anda mengikrarkan kaul kebiaraan dan menyatakan diri untuk hidup selibat seumur hidup, anda juga masuk ke dalam sebuah perjanjian dengan Tuhan di hadapan Gereja-Nya.

Selanjutnya, kehidupan iman Kristiani kita menuntut sebuah upaya untuk mengikuti Tuhan secara sukarela dan berusaha melakukan kehendak-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Di satu sisi, dalam relasi kita dengan Tuhan dan sesama, Tuhan ingin agar kita selalu berjalan di jalan-Nya dan pada saat yang sama, mengharapkan kita untuk menaruh semua kepercayaan pada-Nya. Di sisi lain, pengalaman pribadi tentang kasih Allah ini mengingatkan kita bahwa surga adalah takdir kita dan seperti Yesus kita akan diubah rupa dalam kehidupan abadi. Dalam Surat kepada Jemaat di Filipi, Paulus meringkaskannya, demikian: “Kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya” (Flp 3:20-21). Sesungguhnya, kemuliaan Tuhan menunggu kita; namun tugas kita dalam hidup ini adalah untuk menaruh iman kita di dalam Tuhan dan membiarkan Dia mengubah dan menarik kita dari keberdosaan ke dalam terang kehidupan.

Akhirnya, Masa Prapaskah merupakan waktu khusus bagi kita untuk mengevaluasi cara hidup kita dan mencoba untuk menghayati sikap seorang warga negara surga di tengah dunia. Hal ini dapat kita hayati melalui sikap menolak segala macam kesenangan diri, meluangkan waktu untuk berdoa, menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga kita, dan terlibat dalam beberapa bentuk perbuatan amal. Biarlah Masa Prapaskah ini menjadi momen transfigurasi bagi kita semua. Dari seseorang yang mementingkan diri sendiri menjadi seseorang yang mampu mewujudkan cinta tanpa pamrih. Dari seseorang yang diperbudak oleh rasa bersalah dan kedengkian menjadi seseorang yang diampuni dan mampu memaafkan. Dari seseorang yang terjebak dalam kekhawatiran, ketakutan, dan kecemasan menjadi seseorang yang dipenuhi dengan kepercayaan dan harapan akan Tuhan. Semoga kasih Tuhan menaungi dan mengubah kita semua sehingga kita dapat terus-menerus menyatakan kehadiran-Nya yang penuh kasih kepada sesama.