8.8 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 80

Pesan Penting dari Rasul Paulus untuk Para Suami-Istri — Renungan Harian

0

Pesan Penting dari Rasul Paulus untuk Para Suami-Istri: Renungan Harian Katolik, Selasa 30 Oktober 2018 — JalaPress.com; Bacaan: Ef. 5:21-33

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Paulus menekankan dua hal. Pertama, istri diminta supaya tunduk kepada suami. “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu, karena suami adalah kepala isteri.” Isi pesan Paulus ini sangatlah jelas: istri diminta supaya tunduk kepada suami karena suami adalah kepala istri. Jadi, bukan karena alasan yang lain.

Jika suami adalah kepalanya, berarti istri apanya? Istri adalah anggota tubuhnya. Makanya, pada bagian berikutnya, Paulus membahasakan hubungan suami-istri itu sebagai ‘satu daging’. Ia menuliskan: “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging” (Ef. 5:31).

Jika anggota tubuhnya tidak mengikuti kepalanya, maka apa jadinya? Pasti tidak jalan; karena saling tarik-menarik. Maka, benarlah kata Paulus, istri harus tunduk kepada suami, sebagai kepalanya. Saya harus menggarisbawahi kata ‘tunduk’ ini supaya tidak disalahgunakan. Kata ‘tunduk’ di sini bukan berarti boleh dikuasai. Jangan dikira bahwa ‘jika demikian, suami boleh menguasai istrinya, kerena Kitab Suci bilang istri harus tunduk terhadap suami’. Bukan begitu maksud ayat ini.

Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Yang dimaksudkan dengan kalimat “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu, karena suami adalah kepala isteri” adalah bahwa istri tidak boleh membentuk kepala lain dalam satu rumah tangga. Hanya ada satu kepala dalam satu rumah tangga, yaitu suami. Apa artinya satu kepala? Itu berarti bahwa suami dan istri harus satu suara, sehati dan sejiwa dalam segala hal. Jangan sampai suami ngomong lain, istri ngomong lain.

Tidak bisa tidak, jika mau supaya rumah tangga itu berjalan dengan baik, suami dan istri harus satu suara. Bahwa untuk mencapai satu suara itu kadang lewat diskusi alot, itu soal lain. Yang terpenting endingnya adalah bahwa suami dan istri dapat mencapai kata sepakat. Banyak rumah tangga kandas karena sulit mencari kata sepakat. Suami dan istri sama-sama mau menjadi kepala dalam rumah tangga. Tidak ada yang mau mengalah.

Paulus mengatakan bahwa dengan menikah, maka suami dan istri menjadi ‘satu daging’ atau ‘satu tubuh’, dan kepalanya adalah suami. Apa tandanya bahwa suami dan istri adalah satu daging dan kepalanya adalah suami? Dalam masyarakat kita, jelas sekali tandanya.

Dari cara kita menyapa saja sudah kelihatan. Dalam sapaan sehari-hari nama istri jarang sekali disebut. Dalam undangan-undangan pesta, akan tertulis ‘Yth. Pak A dan istri, atau Bapak dan Ibu A.’ Istri jangan bilang: “Mengapa tidak tulis nama saya?” Memang, nama istri tidak disebut, tapi sebenarnya sudah termasuk di dalamnya. Suami dan istri sudah menjadi satu tubuh, yang kelihatan hanya kepalanya saja. Anggota tubuhnya tidak perlu lagi disebut, cukup kepalanya saja. Begitulah realitas setiap hari membenarkan apa yang dikatakan di dalam Kitab Suci.

Lalu bagaimana dengan suami? Kepada suami, Paulus bilang: “Hai suami, kasihilah isterimu”. Jika suami tidak mengasihi istrinya, itu sama artinya dia tidak mengasihi tubuhnya sendiri. Ingat bahwa suami dan istri sudah menjadi ‘satu tubuh’. Tidak pernah ada orang sehat dan normal yang membenci tubuhnya sendiri, tetapi sebaliknya, ia justru akan mengasuhnya dan merawatnya. Demikianlah seharusnya suami bersikap terhadap istrinya. Jika suami menyakiti istrinya, itu berarti ia menyakiti tubuhnya sendiri.

***

Ciri khas Gereja Katolik Roma: Didirikan Oleh Kristus di atas Rasul Petrus

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Gereja Katolik Roma dibangun di atas Rasul Petrus. Hal itu sesuai dengan amanat Yesus sendiri, yang memerintahkan para murid-Nya untuk menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi (bdk. Kis. 1:8). Dalam konteks saat itu, ujung bumi dan pusat dunia adalah Roma.

[postingan number=3 tag= ‘agama-katolik’]

Kita tahu bahwa di Antiokhialah murid-murid Yesus untuk pertama kalinya disebut Kristen (lih. 11:26); namun Antiokhia bukanlah tujuan akhir dari pewartaan mereka. Mereka memulai pewartaan dari Yerusalem, Yudea, Samaria, Antiokhia dan sampai ke ujung bumi, yakni Roma.

Dalam Kitab Suci dikisahkan bahwa Yesus memberi tugas penggembalaan kepada Petrus (lih. Mat. 16:13-19, Yoh. 21:15-19). Adapun macam-macam tugas penggembalaan yang dilaksanakan oleh Petrus dapat kita lihat di dalam Kisa Para Rasul: mulai dari pemilihan pengganti Yudas (Kis. 23,26) hingga memimpin Sidang Yerusalem (Kis. 15:7).

Penggembalaan yang dipercayakan kepada Petrus itu kemudian dilanjutkan oleh para penerusnya; sebab Kristus sendiri berjanji akan menjaga Gereja-Nya sampai akhir zaman (lih. Mat. 28:19-20). Dengan demikian, keutamaan Gereja Katolik Roma berhubungan dengan penggembalaan atau kepemimpinan para penerus Rasul Petrus.

Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Petrus adalah Uskup sekaligus Paus pertama Gereja Katolik Roma, dapat kita jumpai dalam tulisan para Bapa Gereja:

Pertama, St. Klemens dari Roma, dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus. Klemens adalah murid dari Rasul Petrus dan ditahbiskan oleh Petrus. Dialah yang mengisahkan tentang peran dan kematian Petrus. Dia menulis demikian:

“…. Perhatikanlah teladan yang luhur dari generasi kita sendiri … Pilar yang terbaik [yaitu Gereja Roma] telah dianiaya …. Mari memusatkan mata hati kita kepada rasul-rasul yang baik itu: Petrus, yang menderita … tidak hanya mengalami satu atau dua kali tetapi banyak kesulitan, dan karenanya pergi ke tempat kemuliaan yang sesuai …. Paulus menunjukkan jalan kepada penghargaan atas ketahanan [iman] … telah beralih dari dunia ini ke tempat yang suci … Terhadap kedua orang ini yang telah hidup dalam kekudusan harus ditambahkan banyak sekali orang yang menderita penganiayaan… yang menjadi contoh yang bersinar di tengah-tengah kita.”

Kesaksian St. Klemens ini penting, karena beliau adalah Paus yang ketiga setelah Rasul Petrus. Urutan Paus: Petrus (sampai tahun 67), Linus (67-79, lih. 2 Tim 4:21), Anacletus (79-85), dan Klemens (85-96). ((Urutan ini diketahui dari tulisan St. Irenaeus, dalam Against Heresies, 3,3,3, ANF, 1:416)).

Kedua, St. Ignatius dari Antiokhia (35-107), Uskup Antiokhia, yang adalah murid Rasul Yohanes, dan kemungkinan juga adalah murid Rasul Petrus; sebab Petrus pun pernah tinggal di Antiokhia.

Sebelum wafatnya sebagai martir di Roma, St. Ignatius dari Antiokhia menulis 7 surat, yaitu kepada gereja- gereja di Ephesus, Magnesia, Tralles, Philadelphia, Smyrna, kepada Polycarpus, dan Gereja Roma. Topik suratnya antara lain mengenai kelahiran Yesus, hirarki, Ekaristi, dan kehadiran nyata Yesus dalam Ekaristi.

Ketiga, Eusebius (260- 340), Uskup Caesarea dan Bapa Sejarah Gereja. Ia menulis begini: “Tahun kedua dari dua ratus lima olympiad: Rasul Petrus, setelah mendirikan Gereja di Antiokhia, dikirim ke Roma, di mana ia tinggal sebagai uskup di kota tersebut, berkhotbah selama dua puluh lima tahun … Tahun ketiga dari dua ratus lima olympiad: Markus Penginjil, penerjemah Rasul Petrus mengabarkan Kristus ke Mesir dan Alexandria …. Tahun keempat dari dua ratus sebelas olympiad: Nero adalah yang pertama mengadakan penganiayaan terhadap umat Kristen, yang karenanya Petrus dan Paulus wafat dengan mulia di Roma” ((Eusebius, The Chronicle42, 43, 68, Jurgens, Faith of the Early Fathers, 1: 291)).

“Di zaman Claudius [Kaisar Roma, 41-54 AD], penyelenggaraan alam semesta membawa kepada Roma seorang rasul yang terkuat dan terbesar, yang dipilih untuk menjadi juru bicara dari rasul-rasul yang lain, yaitu Rasul Petrus” ((Eusebius, History of the Church, 2, 14, 6, Williamson trans, 49)).

“Para pendengar Petrus di Roma yang yakin akan terang agama yang sejati, tidak puas dengan mendengarkan ajaran lisan tentang pesan ilahi, mereka memohon dengan segala cara untuk mempengaruhi Markus (yang Injilnya kita punyai sekarang), kerena ia adalah murid Petrus, untuk meninggalkan kepada mereka ringkasan tertulis tentang perintah-perintah yang telah mereka terima secara lisan, dan oleh karena itu [ia] bertanggungjawab menuliskan apa yang kita kenal sebagai Injil Markus. Klemens mengutip kisah ini dalam Outline buku VI, dan dikonfirmasi oleh Uskup Papias dari Hierapolis, bahwa Markus disebut oleh Petrus di suratnya yang pertama, yang dikatakannya ditulis di Roma itu sendiri, seperti yang diindikasikan olehnya ketika ia menyebutkan kota itu secara figuratif sebagai Babilon” ((Eusebius, History of the Church, 2, 15, Williamson trans, 49)).

Keempat, Doktrin Addai (Dokumen Gereja Siria 400), “[…. Aggai yang mentahbiskan imam-imam di Siria, dibunuh sebagai martir pada saat mengajar di Gereja oleh anak Abgar. Penerusnya, Palut, diharuskan ke Antiokhia untuk menerima konsekrasi episkopal, yang diterimanya dari Uskup Serapion, Uskup Antiokhia] yang juga menerima penumpangan tangan dari Zephyrinus, Uskup dari kota Roma, dari penerusan penumpangan tangan dari imamat Simon Petrus (Kepha), yang diterimanya dari Tuhan kita, ia [Petrus] yang menjadi Uskup di Roma selama 25 tahun pada masa Kaisar Nero yang bertahta di sana selama 13 tahun lamanya” ((Doctrine of Addai di Actholic Encyclopedia (New York: Robert Appleton Co., 1909), 5:88.)).

Disadur dari: http://www.katolisitas.org

Mendoakan Orang Mati menurut Kitab Suci: Sangat Baik dan Tepat

1
RobVanDerMeijden / Pixabay

Setiap tanggal 2 November umat Katolik mengadakan peringatan mulia arwah semua orang beriman. Dalam rangka itu, biasanya diadakan Misa dan kunjungan ke makam keluarga masing-masing.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Tradisi mendoakan orang mati, dalam Gereja Katolik, berakar pada teks–teks Kitab Suci. Namun, secara pribadi, sebelum saya bergabung dengan Gereja Katolik, saya berkeyakinan bahwa kegiatan mendoakan orang mati merupakan suatu kesia-siaan. Keyakinan itu muncul di dalam diri saya berdasarkan kutipan ayat Kitab Pengkhotbah yang mengatakan bahwa ‘segala sesuatu sia-sia’; sebab orang mati tidak tahu apa-apa tentang dirinya (bdk. Pengkh. 9:5).

Saat itu, saya begitu yakin bahwa tradisi mendoakan orang mati sangat tidak Alkitabiah; dan tentu sulit bagi saya untuk menerimanya. Namun, setelah saya menelusuri lebih jauh, saya akhirnya paham bahwa isi Kitab Pengkhotbah ini ternyata ada konteksnya. Pada waktu kitab ini ditulis, kesalehan atau keimanan selalu dikaitkan dengan kekayaan, umur panjang, dan keturunan. Jadi, pada masa itu belum ada keyakinan tentang kebangkitan; yang ada hanya kepercayaan bahwa seseorang akan masuk ke dalam dunia orang mati.

Apa yang dituliskan di dalam Kitab Pengkhotbah berbeda jauh dari apa yang dituliskan di dalam Injil Yohanes. Dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa ‘Yesuslah kebangkitan dan hidup;  barangsiapa percaya kepada-Nya akan hidup walaupun ia sudah mati‘ (bdk. Yoh. 11:25). Maka, bagi kita yang percaya kepada Yesus, mendoakan orang mati merupakan bentuk harapan dan kepercayaan kita terhadap adanya kebangkitan orang-orang mati.

Salah satu kitab yang menceritakan tentang praktek mendoakan orang mati adalah Kitab 2 Makabe. Diceritakan bahwa Yudas Makabe mengumpulkan persembahan dan mendoakan prajuritnya yang meninggal di medan pertempuran. “Karena itu (Yudas Makabe) mengadakan kurban penyilihan untuk orang-orang mati, supaya mereka bebas dari dosa-dosanya” (lih. 2 Mak. 12:43-46).[2] Doa yang diucapkan oleh Yudas Makabe dan pasukannya ini dilandasi harapan akan adanya kebangkitan.

Selain kitab Makabe, ada juga kitab lain yang menyiratkan tentang purgatorium.[1] “Maksud semua itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu – yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api – sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya” (1 Petrus 1: 7 ); ( 1 Kor. 3 – 15, KGK 131 ).

Gereja Katolik meyakini bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan. Kehidupan kita ini hanya akan diubah ke bentuk kehidupan yang baru, bukannya dilenyapkan. “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia”  ( bdk. 2 Kor. 5 : 1. 6 – 10).

Katekismus Gereja Katolik (KGK) menerangkan bahwa setiap orang yang mati dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah, namun belum disucikan sepenuhnya, memang sudah pasti akan mendapat keselamatan abadinya, tetapi ia masih harus menjalankan satu penyucian untuk memperoleh kekudusan yang diperlukan, supaya dapat masuk ke dalam kegembiraan Surga (KGK 1030).

Lantas, mengapa Gereja non-Katolik tidak mendoakan orang mati? Jawabannya sederhana: yakni karena Martin Luther sudah menghapus Kitab 2 Makabe dari daftar Kitab Suci mereka. Padahal, dalam Kitab 2 Makabe itulah diceritakan tentang tradisi mendoakan orang mati.

Bukan hanya mengapus Kitab 2 Makabe, beberapa buku dan artikel juga menceritakan bagaimana Martin Luther menghilangkan beberapa bagian dari Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang tidak mendukung konsep tri-sola yang ia buat. Jadi, wajarlah kalau para pengikutnya tidak mengenal tradisi mendoakan orang mati.

Keterangan:
[1] Purgatorium adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami pemurnian, sehingga mencapai kekudusan yang diperlukan untuk memasuki kerajaan Surga.
[2] Korban penghapus dosa yang lazim kita temukan dalam Kitab Imamat.

Enam Hari Penciptaan, Hari Ketujuh Tuhan Libur

0

Acuan: Kej. 1:1 – 2:4

Pernahkah Anda secara serius membaca dan mencermati kisah penciptaan di dalam Alkitab? Jika belum, cobalah membacanya sekali lagi. Setelah dibaca, temukanlah beberapa kata atau kalimat kunci (kata atau kalimat berhuruf tebal) sebagaimana yang saya buat pada potongan bacaan berikut ini.

1.1Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. 1:2Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. 1:3Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. 1:4Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. 1:5Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

Penjelasan – Allah menciptakan tiga unsur sekaligus: langit dan bumi beserta terang (bukan benda penerang). Allah melihat bahwa terang itu baik. Dikatakan bahwa bumi yang baru saja diciptakan itu belum berbentuk dan kosong. Tetapi selanjutnya dikatakan bahwa Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Pertanyaannya: jika demikian, kapan air diciptakan? Jawabannya: Kitab Suci bukan buku sejarah atau buku ilmu pengetahuan yang memberikan secara detail segala proses mulai dari A sampai Z mengenai Kisah Penciptaan. Tujuan dari Kitab Kejadian ini justru untuk menegaskan bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan oleh Allah dan penciptaan itu terjadi secara berkala. 

1:6Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.” 1:7Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. 1:8Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.

Penjelasan – Allah menciptakan hanya satu unsur, yaitu cakrawala. Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Perhatikan! Pada bagian ini TIDAK ADA kalimat “Allah melihat bahwa itu baik. Kok bisa? Apakah ini suatu kebetulan atau dilupakan? Jawabannya: jelas ini bukan suatu kebetulan, juga bukan dilupakan. Ketidakadaan kalimat itu memang sengaja dibuat. Mengapa? Karena cakrawala pernah bocor sehingga air yang ada di atas cakrawala itu turun ke bumi dan  mendatangkan musibah air bah (Kej. 7:17). Untuk antisipasi kejadian itulah, makanya pada bagian ini tidak dimasukkan kalimat itu. Mungkin ada yang bilang “Tapi kan peristiwa air bah belum terjadi waktu itu?” Sekali lagi kita mesti ingat bahwa Kitab Suci bukan buku sejarah. Penulisan tentang Kisah Penciptaan dan Kisah Air Bah bisa jadi ditulis bersamaan.

1:9Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian. 1:10Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 1:11Berfirmanlah Allah: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian. 1:12Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 1:13Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.

Penjelasan: Allah memisahkan wilayah daratan dan lautan. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Lalu Allah menghendaki tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Dua kali kalimat yang sama muncul pada hari kedua ini. Jika diperhatikan, sebenarnya tidak ada unsur baru yang diciptakan pada hari kedua.

1:14Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, 1:15dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian. 1:16Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang. 1:17Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi, 1:18dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 1:19Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.

Penjelasan: Barulah hari keempat Allah menjadikan benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

1:20Berfirmanlah Allah: “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala.” 1:21Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 1:22Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.” 1:23Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima.

Penjelasan: jika diperhatikan dengan baik, frasa ‘Allah menciptakan’ hanya muncul pada hari pertama penciptaan; dan baru muncul lagi pada hari kelima. Selebihnya hanya frasa ‘Allah berfirman’. Ini berarti bahwa bagi Tuhan antara menciptakan dan memfirmankan sama-sama mempunyai daya kerja yang sama.

Pada hari kelima penciptaan, Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

1:24Berfirmanlah Allah: “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar.” Dan jadilah demikian. 1:25Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 1:26Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” 1:27Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 1:28Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” 1:29Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. 1:30Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian. 1:31Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

Penjelasan: ada dua unsur yang dijadiakan pada hari keenam ini. Pertama, Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Kedua, Allah menjadikan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Lihat bedanya? Segala yang lain hanya dikatakan ‘semuanya itu baik’. Tetapi, giliran manusia yang dijadikan, dikatakansungguh amat baik’. Ini artinya bahwa manusia merupakan unsur yang paling spesial dalam Kisah Penciptaan. Manusia diperlakukan sebagai yang paling istimewa dari ciptaan yang lain.

2:1Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. 2:2Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. 2:3Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu. 2:4Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan.

Penjelasan: hari ketujuh Tuhan berlibur. Tidak ada lagi penciptaan maupun pemisahan yang dilakukan pada hari ini. Belajar dari situ, kita pun harus beristirahat pada hari ketujuh. Hari ketujuh (hari Minggu) digunakan untuk memuliakan Tuhan.

Katolik Menjawab: Kemenyan, Lambang Persembahan

0

Seorang penganut non-Katolik menyampaikan pendapat bahwa ‘Dukun dan pastor persamaannya, keduanya dalam melaksanakan ritual tertentu sama-sama pakai kemenyan’ (lihat grup, https://www.facebook.com/groups/133679597321940/). Tentu pendapat semacam itu tidak tepat. Justru hal ini menunjukkan bahwa oknum yang bersangkutan tidak pernah membaca Alkitab dengan detail. Selain itu, pernyataannya dapat dikatakan sangat gegabah dan konyol. Gereja Katolik tentu saja mempunyai landasan dan referensi Alkitab terhadap ajaran tersebut sejak abad pertama. Pemakaian kemenyan dalam ibadah sangat tua, sebab pada zaman para nabi telah dipakai.

Berikut ayat-ayat Perjanjain Lama (PL) yang membahas penggunaan kemenyan/ukupan:

  1. Keluaran 30:34-38. Mengenai ukupan yang kudus, Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Ambillah wangi-wangian, yakni getah damar, kulit lokan dan getah rasamala, wangi-wangian itu serta kemenyan yang tulen, masing-masing sama banyaknya. Semuanya ini haruslah kaubuat menjadi ukupan, suatu campuran rempah-rempah, seperti buatan seorang tukang campur rempah-rempah, digarami, murni, kudus. Sebagian dari ukupan itu haruslah kaugiling sampai halus, dan sedikit dari padanya kauletakkanlah di hadapan tabut hukum di dalam Kemah Pertemuan, di mana Aku akan bertemu h dengan engkau; haruslah itu maha kudus bagimu. Dan tentang ukupan yang harus kaubuat menurut campuran yang seperti itu juga janganlah kamu buat bagi kamu sendiri; itulah bagian untuk TUHAN, yang kudus bagimu. Orang yang akan membuat minyak yang semacam itu dengan maksud untuk menghirup baunya, haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya.”
  2. Im. 2:, 1, 15. Kurban Sajian, “Apabila seseorang hendak mempersembahkan persembahan berupa korban sajian kepada TUHAN, hendaklah persembahannya itu tepung   yang terbaik dan ia harus menuangkan minyak serta membubuhkan kemenyan ke atasnya. Haruslah kaububuh minyak dan kautaruh kemenyan ke atasnya; itulah korban sajian.
  3. Im. 24:7, Engkau harus membubuh kemenyan tulen di atas tiap-tiap susun; kemenyan itulah yang harus menjadi bagian ingat-ingatan roti itu, yakni suatu korban api-apian bagi TUHAN.
  4. Yesaya 60:6, Sejumlah besar unta y akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur d
  5. Wahyu 5:8, Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.
  6. Mazmur 141:2, Biarlah doaku adalah bagi-Mu seperti persembahan ukupan, dan tanganku yang terangkat seperti persembahan korban pada waktu petang.

Berdasarkan beberapa ayat di atas kita dapat menemukan alasan pemakaian kemenyan. Kemenyan dipakai sebagai persembahan wangi-wangian dalam kemah pertemuan (bdk. Kel. 40:27, Kel. 30:34, Im. 24:7). Selain itu di Bait Allah, kemenyan digunakan sebagai lambang doa (bdk. Mzm. 141:2, Im. 6:15 Luk. 1:10). Dengan demikian gereja-gereja terutama aliran oknum tersebut di atas, kurang mengerti bahwa kemenyan sendiri dijadikan persembahan kepada bayi Yesus (bdk. Mat. 2:11). Kiranya kita mengetahui bahwa Gereja Katolik memakai kemenyan/ukupan dalam Ekaristi karena hal itu memang ada dalam Alkitab. Kebiasaan memakai kemenyan/ukupan dalam Ekaristi sebenarnya gambaran kejadian yang akan datang. Hal itu dapat kita temukan dalam Kitab Wahyu 8:4, maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah.

Penulis: Silvester Detianus Gea

Sebuah Kesaksian: Orang Katolik Tidak Menyembah Patung (Seri I)

4
Faithfuls fill Saint Peter's Square in Vatican City 16 June 2002 to attend the canonization ceremony of Italian priest Padre Pio. Padre Pio, who is the second most popular figure in the country after Pope John Paul II, became the Catholic Church's 758th saint on Sunday. AFP PHOTO EPA/ANSA MARIO DE RENZIS hh

Sebagian oknum Kristen non-Katolik sering menuduh bahwa orang-orang Katolik menyembah patung. Mereka mengatakan hal itu hanya berdasarkan penglihatan mereka, bukan berdasarkan pemahaman yang benar tentang ajaran iman Katolik. Mereka selalu mengatakan bahwa “bersujud” di depan patung adalah menyembah. Tentu saja tuduhan semacam ini sangat gegabah dan dangkal, karena banyak tindakan “bersujud” yang bermakna lain dari apa yang dilihat. Hal “Bersujud” yang dilakukan oleh orang-orang Katolik tidak bermakna menyembah pada benda yang ada di depannya melainkan suatu penghormatan kepada sosok yang berada di balik apa yang digambarkan oleh patung, misalnya Yesus, Maria dan lain sebagainya.

Sebelum menjadi Katolik, saya tidak suka dengan patung-patung yang dipajang dalam Gereja Katolik. Oleh sebab itu saya memandang orang-orang Katolik melanggar Keluaran 20:4-5, karena bersujud dan berdoa di depan patung. Keluaran 20:4-5 adalah senjata empuk saya untuk mengatakan bahwa orang-orang Katolik menyembah patung. Menurut saya, Allah melarang pembuatan patung dalam bentuk dan rupa apapun. Allah sangat membenci pembuat dan penyembah patung (bdk. Kel. 20:4-5). Saya menemukan begitu banyak ayat Alkitab yang  melarang pembuatan dan penyembahan terhadap patung yaitu, Kel. 23:24, Mazmur 135:16-18, Yes. 42:8, Habakuk 2:18-19, Imamat 26:1, Ulangan 4:16, Ulangan 7:5, 12:3, 2 Tawarikh 24:18, 33:7, 19, 34:3 dan masih banyak lagi ayat-ayat yang melarang pembuatan dan penyembahan terhadap patung.

Saya sudah terbiasa membaca Alkitab baik pribadi maupun dalam kebaktian. Setiap umat dapat membaca dan memberikan tafsir sesuai dengan pandangan pribadi. Tidak ada patokan yang harus didengar untuk menafsir Alkitab meskipun ada Konkrodansi. Ayat-ayat di atas saya kutip dan secara meyakinkan saya sampaikan kepada orang-orang Katolik ‘agar mereka bertobat dan tidak menyembah patung’. Saya menemukan tindakan bangsa Israel yang  membuat dan menyembah patung lembu emas dan patung ular tembaga (bdk. Kel. 32:1-35, 2 Raj. 18:3-5).

Pada suatu ketika saya menemukan kisah tentang Musa yang diperintahkan oleh Allah untuk membuat Tabut Perjanjian. Allah menyuruh Musa untuk membuat dua kerup dari emas tempaan dan diletakkan di atas tabut (bdk. Kel. 25:10-22). Selain itu, saya menemukan kisah ketika Allah menyuruh Musa membuat patung ular tembaga (bdk. 21:4-9). Keyakinan saya bahwa Allah melarang pembuatan patung mulai goyah. Jika pendapat saya benar, maka secara tidak langsung saya mengatakan Allah melanggar FirmanNya (Kel. 20:4-5).

Saya semakin penasaran dan terus membaca Alkitab. Setelah Beberapa waktu kemudian saya menemukan kisah Raja Salomo yang membangun Bait Allah. Allah memerintahkan Salomo untuk membuat beberapa Kerub di dalam Bait Allah (bdk. 1 Raj. 6:1-38, 7:1-12, 13-51). Sekali lagi keyakinan saya goyah. Saya melihat kembali Kel. 20:4-5 dan membaca secara perlahan-lahan. Saya mulai mengerti bahwa Allah tidak melarang pembuatan patung. Apabila Allah melarang maka  Allah sendiri yang melanggar FirmanNya. Selain itu Allah sendiri yang memerintahkan Musa dan Salomo untuk melanggar FirmanNya. Patung Kerub adalah makhluk yang ada di surga dan patung ular tembaga makhluk yang ada di bumi. Mata saya tertuju pada kalimat “…jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya…” Saya kembali melihat 2 Raj. 18:3-5, di mana patung ular tembaga yang dibuat Musa dihancurkan. Saya mengaitkan kisah itu dengan Keluaran 20:4-5, di mana dikatakan jangan sujud menyembah atau beribadah kepada patung. Pendapat  saya satu persatu gugur, karena ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa Allah memerintahkan pembuatan patung ular dan kerub.

Kemudian saya beralih pada pendapat yang kedua yaitu masalah penyembahan terhadap patung. Saya melihat orang-orang Katolik ‘sujud’ di depan patung dan ‘mengarak patung’. Saya mengira mereka melakukan penyembahan kepada patung. Namun, saya menemukan bahwa di atas tabut perjanjian terdapat patung kerub dan  diarak oleh bangsa Israel. Allah bertemu dan berbicara dengan bangsa Israel dari atas tutup pendamaian dari antara kedua patung kerub (bdk. Kel. 25:10-22). Saya membaca berulang-ulang ayat itu. saya menyimpulkan bahwa Tuhan menggunakan Tabut sebagai simbol, lambang, sarana atau media, sehingga bangsa Israel tidak melakukan penyembahan kepada patung. Berbeda dengan yang dilakukan bangsa Israel, yang menjadikan patung sebagai sesembahan (bdk. 2 Raj. 18:3-5). Selain itu, pengertian sujud tidak selalu menyembah, tetapi bisa juga menghormati, mengagumi dan menghargai.

Dengan demikian orang-orang Katolik tidak menyembah patung, meskipun mereka mencium, mengarak dan sujud di depan patung. Saya mulai mengerti bahwa tindakan yang mereka lakukan adalah menghormati, mengagumi, menghargai sosok di balik yang ditampilkan oleh patung. Patung berguna sebagai pengingat. Orang-orang Katolik sama sekali tidak pernah mengajarkan bahwa patung itu Tuhan atau mengajak umat untuk menyembah patung. Saya semakin kagum dengan Gereja Katolik yang menafsir Alkitab dengan utuh tanpa ada kontradiksi. Sebagaimana Musa dan Salomo memakai tabut, patung ular tembaga dan kerub, demikianlah Gereja Katolik memperlakukan patung. Patung Yesus, Maria, dan para kudus dibuat sebagai simbol, sarana, lambang dan alat pengingat, tanpa ada tujuan untuk penyembahan.

Penulis: Silvester Detianus Gea

(Penulis memilih menjadi seorang Katolik pada tahun 2009. Sebelumnya seorang penganut Banua Niha Keriso Protestan (BNKP)).

Makna Gelar Yesus dalam Alkitab

0

Mungkin kita sering membaca dalam Alkitab beberapa gelar atau sebutan yang ditujukan kepada Yesus. Berikut ‘sedikit’ makna dari gelar Yesus, baik yang Yesus ucapkan sendiri maupun khalayak yang mengikuti Dia:

1. Anak Manusia

Sebagaimana dalam Injil-Injil Sinoptik, gelar “Anak Manusia” adalah ungkapan yang dipakai oleh Yesus untuk diri-Nya sendiri. Gelar ini tidak pernah diungkapkan baik oleh para murid-Nya maupun oleh banyak orang (Yoh. 12:34). Gelar Anak Manusia dalam Injil ini cukup berbeda dengan yang ada di dalam Injil Sinoptik. Injil Yohanes menekankan “Pre-eksistensi” Anak Manusia, juga pengangkatan dan pemuliaan-Nya. Penekanan terletak pada keilahian. Makna dibalik kata “Anak Manusia” adalah menunjukkan bahwa Yesus adalah “Figur Eskatologi yang menghubungkan dan menyatukan surga dan bumi”. Sebagaimana Yoh. 3:13: tidak ada seorangpun yang telah naik ke surga, selain dari pada Dia yang telah turun dari surge, yaitu Anak Manusia. Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Yoh. 6:62

Yesus, sebagai Anak Manusia, melanjutkan kesatuan-Nya dengan Allah dan tinggal dalam Allah. Dia adalah manusia sempurna, arketipe (tipikal asali manusia yang mempunyai relasi yang dalam dengan Allah) yang melambangkan relasi pribadi yang benar dan fundamental dengan Allah. Asalnya yang ilahi adalah dasar untuk pengangkatan dan pemuliaannya sebagaimana tindakan penyelamatan-Nya. Bapa telah mengesahkan meterai-Nya pada Anak Manusia (6:27) dan dari Bapa, dia telah menerima pesan-Nya (3:11-13). Ini menjadi jaminan akan kembalinya Anak Manusia di masa depan (6:62). Gelar ini mengandung makna “Pre-eksistensi”. Dan ketika orang bertemu Anak Manusia di bumi, dia melihat atau menghadapi Dia Yang Ilahi.

2. Anak Domba Allah

Mempersembahkan “anak domba” merupakan tradisi (Perjanjian Lama) agama Yahudi untuk memperoleh pengampunan dari Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, “Anak Domba” bukan lagi domba (binatang), melainkan Yesus Kristus. Yesus Kristus telah mempersembahkan diri sampai wafat di kayu salib demi keselamatan umat manusia (Yoh.1:29) .

3. Rabbi

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi disebut Rabbi oleh umat Yahudi. Rabbi artinya Guru. Yesus Kristus dipanggil sebagai Rabbi (Yoh. 1:38) karena kecerdasan dan kepintarannya dalam menjelaskan ajaran Taurat kepada orang banyak.

4. Mesias

Pada zaman itu orang-orang Yahudi (Terutama Kaum Esseni) mengharapkan Mesias yang jaya dalam bidang politik. Mesias (Kristus) yang mereka harapkan itu tidak sesuai harapan. Mesias yang datang justru Mesias yang menderita (demi keselamatan manusia) Yoh.1:41. Injil Yohanes menekankan Yesus sebagai Mesias yang melebihi harapan banyak orang, yakni Mesias yang membawa keselamatan bagi seluruh umat manusia (bdk. Yoh. 20:31).

Baca Juga:

5. Anak Allah

Yesus adalah Anak Allah, sebab Allah menyucikan-Nya dan mengutus-Nya ke dunia untuk sebuah misi. Dalam Perjanjian Lama, gelar Anak Allah dipakai untuk utusan Ilahi (Malaikat). Jadi, gelar ini biasanya menunjuk pada keilahian. Meskipun demikian, ungkapan Anak Allah dalam pandangan Injil Yohanes, lebih cocok untuk mengungkapkan “relasi Yesus yang sangat istimewa dengan Allah (Yoh. 1:14, 1:34; 1:49,5:19,5:2-10,3:36,6:40,5:22,8:36,5:20,10:17,15:9,5:17,5:18-19,10:32,14:10,8:26-28,8:40,14:24,6:47, 10:15, 3:35, 10:30, 10:38, 14:10,11, 5:20, 8:47, 3:31-32, 12:27-28, 18:6.

Sebagai Anak Allah, Bapa memberikan kepada Yesus segala sesuatu yang bersifat ilahi. Maka dari itu, Yesus dapat mengetahui hal-hal secara adikodrati. Dalam doa-Nya pun, ungkapan-Nya berbeda dengan yang lainnya (Yoh. 11:41-42). Gelar Anak Allah memberikan pemahaman kepada pembaca bahwa Yesus adalah Dia Yang Ilahi.

6. Yesus

Nama Yesus merupakan nama yang di wartakan oleh malaikat Gabriel ketika mengunjungi Maria (dalam Injil Sinoptik ).

7. Raja Orang Israel

Gelar ini merupakan sebuah “Harapan” orang Israel akan datangnya seorang Raja (Mesias Politik) yang jaya, hal itu terlihat ketika Yesus memasuki kota Yerusalem, mereka menyambutnya sebagai raja. Dapat juga dilihat dalam Injil Sinoptik, ketika mereka hendak memaksa Yesus untuk menjadi raja atas bangsa Israel. Tetapi Yesus adalah raja yang harus menderita, wafat, dikuburkan dan bangkit pada hari yang ketiga.

Sebuah Kesaksian: Orang Katolik Tidak Menyembah Maria

0

Penganut Kristen non-Katolik sering salah kaprah dalam menafsikan iman Katolik. Mereka mengira bahwa orang Katolik “menyembah Maria” dan memposisikannya di atas Yesus. Tentu saja tuduhan semacam ini tidak benar. Karena orang Katolik tahu persis apa yang mereka imani. Orang Katolik menghormati Maria sebagaimana pesan Injil Luk. 1:48, bahwa segala keturunan akan menyebut Maria berbahagia. Maka orang Katolik mewujudkan hal itu dalam tindakan penghormatan (Hiperdulia) misalnya, Doa Salam Maria dan lain sebagainya.

DASAR ALKITABIAH

Sejak lama saya menganggap orang-orang Katolik menyembah Maria. Apalagi ada doa Salam Maria, yang menurut saya sama sekali tidak Alkitabiah. Meskipun demikian, dalam iman saya sebelumnya, setidaknya ada dua kali peristiwa di mana Maria dikenang, yaitu ketika Natal dan Paskah. Namun, tidak ada satupun ajaran yang menempatkan Maria sebagai tokoh istimewa. Bahkan hampir tidak ada dalam khotbah yang membahas tentang Maria, kecuali tentang ketaatan dan kerendahan hatinya dihadapan Allah.

Ketika itu saya mengira orang-orang Katolik sangat dimurkai Allah, karena menempatkan Maria sejajar dengan Yesus Kristus. Maria adalah manusia biasa dan tidak layak disembah. Maria tidak mempunyai keistimewaan. Ia sama dengan wanita-wanita lain yang disebut dalam Kitab Suci. Senjata ampuh yang saya gunakan untuk menyerang orang-orang Katolik adalah penyembahan terhadap Maria.

Saya membaca Alkitab dari hari kehari, sehingga saya mulai menemukan nubuat-nubuat tentang Maria. Saya membaca kitab Kejadian 3:15, di mana Tuhan berfirman  bahwa ada permusuhan antara ular (iblis) dengan seorang perempuan, keturuan perempuan itu akan meremukkan kepala ular dan ular akan meremukkan tumitnya. Saya mulai menelusi siapa yang dimaksud.

Pada saat itu mata saya tertuju pada kalimat ‘keturunan’ yang meremukkan kepala iblis. Saya sama sekali belum tahu ajaran Gereja Katolik soal ayat ini. Saya berpendapat bahwa sosok yang dimaksud tidak mungkin Adam dan Hawa, karena mereka justru dikalahkan oleh iblis. Saya belum menemukan sosok itu, maka saya terus membaca Alkitab hingga sampai pada Mikha 5:2,  Zakharia 9:9, di mana terdapat nubuat tentang kedatangan Yesus. Saya mengingat kisah kelahiran Yesus yang dilahirkan oleh seorang perempuan bernama Maria. Yesus tidak datang dengan semarak, melainkan dengan kesederhanaan. Ia dilahirkan oleh seorang perempuan dalam keluarga yang bermata pencaharian tukang kayu.

Saya terus menelusuri tentang kedatangan Yesus, yang dilahirkan oleh  seorang perempuan yang saleh. Kemudian saya menemukan Yesaya 7:14. Ayat ini menceriterakan bahwa seorang Dara akan melahirkan seorang anak laki-laki. Pada ayat itu belum disebutkan nama Dara itu. Saya mulai menemukan titik terang,  bahwa dua tokoh keturunan Hawa yang meremukkan iblis adalah Yesus dan Maria. Saya sampai pada Injil Matius 1:22-23 yang menyebutkan nama seorang dara, yaitu Maria. Ia melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Imanuel-Allah beserta kita. Selain Yesus, Maria juga dinubuatkan dalam Alkitab.

Kemudian saya membuka Injil Lukas untuk melihat kisah kelahiran Yesus. Saya terkejut membaca kekaguman dan salam yang diberikan malaikat kepada Maria. Malaikat Gabriel sangat  menghormati Maria (bdk. Luk. 1:28). Tidak ada seorang perempuan yang disapa sebagai yang dikaruniai selain Maria. Meskipun ada, tetapi perempuan lain tidak melahirkan Yesus, Sang Juru selamat manusia.

Saya secara perlahan membaca sehingga sampai pada ayat 39-45. Perikop itu menceritakan bagaimana Maria mengunjungi kerabatnya Elisabeth disebuah kota. Maria masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabeth. Ketika Elisabeth mendengar salam Maria, maka melonjaklah anak dalam rahimnya. Elisabeth penuh dengan Roh  Kudus dan berkata berkata “Diberkatilah engaku di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”. Elisabet sangat menghormati Maria dan merasa tidak pantas bila Maria mengunjungi rumahnya.

Saya membaca rangkaian kisah itu hingga ayat 46-56. Perikop itu berisi pujian Maria kepada Allah.  Maria dalam pujiannya mengatakan “..Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturuna akan menyebut aku berbahagia..”.

Saya kesulitan untuk menemukan siapa keturunan yang dimaksud dan dengan cara apa mereka menyebut Maria berbahagia. Saya mengabaikan hal itu dan semakin tekun membaca hingga sampai pada Lukas 2:21-40. Pada ayat itu, Simeon berkata kepada Maria bahwa ‘…suatu pedang akan menembus jiwanya..’  Saya membayangkan kisah penyaliban Yesus. Jiwa Maria sungguh-sungguh tertembus menyaksikan  kematian Putranya.

Saya membuka Injil yang bercerita tentang kisah Maria yang berada di bawah salib Yesus. Kisah tersebut sering saya dengar dalam kebaktian, terutama saat paskah.  Saya membuka Injil Yohanes pasal 19:25-27. Ayat itu bercerita tentang beberapa orang bernama Maria yaitu, Maria ibu Yesus, Maria isteri Klopas, dan Maria Magdalena dan murid yang dikasihi Yesus. Ketika Yesus melihat ibunya dan murid yang dikasihinya, ia berkata kepada ibunya: “ibu, inilah, anakmu!”. Kemudian ia berkata kepada murid yang dikasihi-Nya “inilah ibumu!”. Sejak saat itu murid yang dikasihiNya menerima Maria di rumahnya.

Saya penasaran dan terus membaca Alkitab. Pada suatu hari saya sampai pada Wahyu 12:1-6. Saya pernah mendengar bahwa orang Katolik percaya Maria diangkat ke surga. Saya membaca perlahan-lahan dari ayat pertama hingga ayat keempat. Pada ayat kelima saya menemukan gambaran seorang perempuan yang diceritakan pada ayat pertama hingga keempat. Perempuan yang digambarkan itu melahirkan seorang Anak laki-laki yang  menggembalakan segala bangsa dengan gada besi. Saya melihat ayat-ayat sebelumnya, siapakah yang melahirkan gembala segala bangsa. Jika perikop itu ditafsirkan sebagai bangsa Israel, maka perempuan yang melahirkan anak laki-laki itu berasal dari bangsa Israel. Saya mencoba kembali melihat Injil untuk meyakinkan saya bahwa itu seorang perempuan bernama Maria.

Saya coba mengaitkan kisah Wahyu 12:1-6 dengan kisah dalam Mat. 2:13-15. Kedua perikop serupa, namun dalam wahyu berupa gambaran. Secara perlahan saya menemukan bahwa yang dimaksud adalah tentang Maria yang mengungsi ke Mesir.

Cerita dalam Kitab Wahyu adalah gambaran kejadian masa lampau, di mana Maria pernah mengungsi ke Mesir menghindari pembunuhan anak pertama yang dilakukan oleh Raja Herodes. Maka yang melahirkan gembala segala bangsa adalah Maria, seorang perempuan dari Israel.

Saya menemukan beberapa poin penting dalam pencarianku tentang Maria, yaitu: pertama, segala keturunan menyebut Maria berbahagia. kedua, Maria seorang yang saleh dan taat pada Allah, sehingga mampu mengalahkan iblis atau meremukkan iblis. Ketiga, Maria sangat mengasihi Yesus sehingga mengikuti Yesus sampai puncak golgota. Keempat, Maria memberi teladan iman kepada pengikut Yesus, agar setia mengikuti Yesus dalam suka dan duka. Kelima, Yesus sangat menghormati ibunya. Ia memberikan ibunya kepada pengikutNya. Maria berada dan hadir di tengah Para Rasul (bdk. Kis. 1:12-14). Pandangan saya yang keliru tentang keberadaan Maria dalam Gereja Katolik perlahan-lahan luntur. Saya mulai menyadari betapa Gereja Katolik menafsirkan Alkitab dengan utuh tanpa ada kontradiksi.

Akhirnya saya menemukan bahwa orang-orang Katolik tidak menyembah Maria, melainkan menghormatinya (bdk Luk. 1:48). Orang-orang Katolik menghormati Maria sebagaimana Allah memberikan tempat istimewa kepadanya, yakni melahirkan Yesus Sang Juruselamat. Maria memiliki peran penting yang patut dihargai dan dihormati oleh pengikut Yesus. Dengan demikian, keberadaan Maria dalam Gereja Katolik tidak pernah menggantikan keutamaan Yesus sebagai penyelamat manusia.

[Diangkat dari kisah Silvester Detianus Gea, yang menjadi Katolik pada tahun 2009].

Mawar Merah untuk Bunda

0

Hati siapa yang tak terpana pada keindahan? Hati siapa yang tak berbunga-bunga tatkala bunga mawar mekar menebarkan kecantikannya? Hati siapa yang tak bersyukur tatkala sahabat sejatinya selalu tersenyum?

Ini tentang rasa hati. Berada di kamar ini adalah anugerah. Berbaring di atas kasur di kamar ini adalah hadiah terindah. Entah roh apa yang menggugat keasyikan belajarku di pagi yang cerah ini. Aku gelisah! Kursi dan meja tak kugunakan lagi. Aku tak mau belajar lagi. Sepertinya kasur yang lumayan empuk itu mengundangku untuk merebahkan diri atasnya. Tapi, mungkinkah aku tidur di kala sang surya baru saja nongol di ufuk Timur? Bukankah itu tanda kemalasanku? “Kalau tidur di pagi hari, kecuali karena sakit, itu adalah orang malas”. Inilah sepenggal celotehan mamaku dulu waktu aku masih di kampung. Yah…aku tidak sakit. Aku juga bukan orang malas. Apakah aku mengiakan undangan kasurku? Supaya dia tidak kecewa, aku perlu duduk sejenak di atasnya sambil bersandar di jendela, sejenak menoleh keluar menikmati indahnya bunga-bunga di taman.

***

Owh…Mawar merah yang sedang mekar. Betapa indahnya engkau di pagi yang cerah ini. Mengapa engkau bermekar di saat aku gundah gulana di kamar ini? Keindahanmu meluluhkan kegalauan hati ini.  Tak sia-sia aku duduk di atas kasur ini sambil melirikmu yang tengah bersorak ria di tengah taman ini. Kemerah-merahan warnamu telah merakit keindahan di antara bunga-bunga lain.  Hati ini juga turut berbunga-bunga menikmati keindahanmu. Sejenak aku termenung. Aku hening sejenak. Terlintas niat di benakku untuk memetik sekuntum mawar merah itu. 

Untuk apa? Aku mau memberikannya kepada seseorang yang paling kucintai di dunia ini. Hah…bukankah tak jamannya lagi memetik bunga di taman, lalu menghadiahkannya kepada sang pujaan hati? Bukankah di toko itu telah menyiapkan rangkaian bunga “mati” tapi  indah? Entahlah… Aku akan memetiknya. Aku tak peduli apa kata orang. Mau dibilang kuno, out of date… it’s ok. Pokoknya aku harus meninggalkan kamar ini. Aku harus segera ke taman, mumpung mawar itu masih segar dan belum layu oleh terik sang surya.

Sungguh.. sekuntum mawar merah, indah nan semerbak  ini telah ada dalam genggaman tanganku.  Owh..gila…Mengapa rasa ini menggugatku untuk segera menyerahkan mawar ini kepada dia nun jauh di sana? Bukankah sekarang aku masih kuliah? Bukankah perjalanan ke sana membutuhkan waktu tiga hari dengan kapal laut? Apa jadinya dengan mawar ini: bukankah dia akan layu di tengah jalan? Ya…ya… ternyata aku terhanyut dalam rasa cinta yang mendalam. Hatiku tertambat pada sekuntum mawar ini serentak tertambat pada seseorang yang telah lama menjadi sahabat sejatiku. Apakah aku dibutakan oleh rasa hati ini?  Bukan! Aku sedang meladeni rasa cintaku yang tak kuasa kubendung. Aku sedang mengaktualkan rasa cintaku pada apa dan siapa. Tanpa cinta aku tak mungkin ada. Tanpa cinta aku akan mati. Mencintai adalah kodratku! Hmm.. sekuntum mawar ini masih digenggamanku. Pergi meninggalkan tempat ini, rumah ini, kota ini, belum saatnya! Apa yang harus kulakukan?

***

Syukur…Aku telah menemukan jalan keluarnya! Aku disadarkan bahwa bunga Mawar itu adalah simbol keindahan realitas ilahi. Tepatnya, lambang kecantikan seorang wanita kudus yang telah berjasa dalam sejarah keselamatan umat manusia. Bunga mawar itu lambang kebeningan hati seorang perawan yang telah meletakkan seluruh hidupnya pada Allah. Bunga mawar ini lambang keindahan seorang wanita cantik yang telah berjasa dalam ziarah iman dan panggilanku.

Siapakah dia? Bunda Maria! Banyak umat katolik yang meletakkan mawar di kaki patung  sang Bunda. Aku juga mau melakukannya sekarang. Ini penting dan bersejarah. Mengapa? Karena baru pertama kali saya mempersembahkan mawar kepada sang Ratu Surgawi itu. Kulangkahkan kakiku menuju Kapela yang hanya berjarak 20 meter dari taman bunga itu. Kubertelut di kaki Bunda! Aku berdoa.

“Bunda yang cantik, sekuntum mawar merah nan indah ini adalah mawar suka cita. Bukan mawar duka. Mawar ini lambang cintaku kepadamu. Ini kesempatan pertama dalam hidupku. Sekuntum mawar merah ini lambang keindahan-kebeningan hatiku yang mau menjadikan engkau sebagai bundaku selamanya. Bunda, mawar ini juga sesungguhnya hendak kuberikan kepada sahabat sejatiku nun jauh di sana. Jarak yang jauh menghalangiku untuk menyapa hatinya  dengan sekuntum mawar merah ini. Ia telah menjadi sebuah keindahan penuh misteri yang membuatku masih tegar di jalan ini hingga saat ini. Dukungannya yang tak ternilai harganya telah mengajarkan aku tentang arti cinta sejati. Aku hanya minta, bawalah sekuntum mawar merah ini kepadanya. Ini mawar cintaku untuknya. Buatlah dia tersenyum bahagia di pagi ini sebagaimana aku bahagia di sini saat ini. Buatlah ia tersentak bahwa kebahagiaan hatinya itu tercipta karena ada mawar merah-menawan yang melintas di benaknya. Buatlah dia sadar, itulah sekuntum mawar merah yang pernah kujanjikan dulu untuk dihadiahkan kepadanya di hari Valentine. Bunda, terima kasih. Semoga persembahanku di pagi ini menyenangkan hatimu. Semoga engkau mendoakan aku dan dia kepada Putra-Mu agar selalu bahagia dalam mengarungi jalan hidup kami masing-masing. Akhirnya, semoga engkau tetap membawa sekuntum mawar merah ini untuk dia di pagi ini. Amin.”

Gambar: Google. com

Aku kembali ke kamarku. Aku termenung lagi dalam heningnya kamarku,  merenungkan momen bersejarah yang baru kulewati di pagi ini. Beberapa saat kemudian, hati ini tergerak untuk mendengarkan lagu Maria kesukaanku. Judulnya sangat sesuai dengan keadaan  hatiku di saat ini. “Kurangkai Mawar”. Aku ingat, lagu itu sudah terekam dengan baik dalam kepingan CD yang masih tersimpan rapi di lemariku. Tanpa menunda-nunda lagi, aku menghidupkan tapeku. Dengan iringan musik yang sendu nan menawan, syair lagu “kurangkai Mawar” melengkapi rajutan kisah kasihku bersama Sang Bunda di dalam kamar bisu ini.

Kurangkai mawar harum semerbak

Lambang kasihku padamu Bunda

Ave, Ave, Ave Maria

 Doakan daku Bunda bermurah

              Bimbing selalu jalan hidupku

Ave, Ave, Ave Maria

Dan bila tiba saat ajalku

Hantarkan aku kepada Yesus, Putramu

Ave, Ave, Ave Maria

Aku berharap, sekuntum mawar merah akan mekar lagi di taman ini. Aku berjanji untuk memetiknya lagi lalu menjadikan kado terindah bagi sahabat sejatiku, melalui Ratuku, Maria.

Gambar: Google.com

Malang, Oktober 2013

……………………………………………………

Tulisan kecil ini saya buat ketika saya masih seorang frater dan  sedang belajar di STF Widya Sasana-Malang, Oktober 2013. Ya, lima tahun yang lalu! 🙂

Maksud Perkataan Yesus ‘Aku Datang Bukan untuk Membawa Damai, melainkan Pedang’

0
LiteraryTitan / Pixabay

Aku Datang Bukan untuk Membawa Damai, melainkan Pedang: Renungan Harian Katolik, Kamis 25 Oktober 2018 — JalaPress.com; Injil: Luk. 12:49-53

[postingan number= 3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Saudara-saudari yang terkasih, selama ini yang kita tahu bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan kita, menyatukan kita, dan membawa damai di antara kita. Makanya, kata-kata Yesus di dalam Injil hari ini cukup mencengangkan kita; dan karenanya dianggap problematis oleh sebagian orang. Tuhan Yesus bersabda: “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.

Segelintir orang lalu mengambil kesimpulan secara suka-suka bahwa kalau demikian Yesus ternyata datang untuk memecah belah, dan bukannya datang untuk mempersatukan, sebagaimana yang kita yakini selama ini. Kalau begitu, Ia mengajarkan kekerasan, dan bukan damai, dan seterusnya. Pertanyaan bagi kita: benarkah Yesus seperti itu? Lantas, bagaimana seharusnya kita mengartikan ayat ini?

Jawabannya sederhana: Yesus sama sekali tidak pernah mengajarkan kekerasan. Titik. Coba perhatikan, dalam keseluruhan Alkitab, dari nubuat di dalam Perjanjian Lama dan juga tulisan-tulisan di dalam Perjanjian baru, Sang Mesias yang terpenuhi dalam diri Yesus itu tidak pernah mengajarkan kekerasan, melainkan kasih. Kasih inilah yang membawa Yesus pada kematian-Nya di kayu salib.

Satu contoh kongkrit, ketika Petrus memotong telinga seorang algojo yang hendak menangkap Yesus, Yesus berkata kepada Petrus: “Masukkan pedang itu kembali kepada sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kau sangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirimkan lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?” (Mat. 26:52-53).

Kalau demikian, bagaimana seharusnya kita memahami perkataan Yesus ini? Tentu saja perkataan yang diucapkan oleh Yesus di dalam bacaan Injil hari ini tidak pernah boleh dilepas-pisahkan dari konteksnya. Konteksnya jelas: Yesus sedang berbicara kepada orang-orang dari bangsa-Nya sendiri, yaitu dari kalangan orang-orang Yahudi.

Kita tahu bahwa kedatangan Yesus membuat orang-orang Yahudi terpecah. Ada yang tetap mempertahankan keyahudiannya, tetapi ada juga yang memilih  mengikuti Yesus.

Mereka yang memilih mengikuti Yesus terpaksa harus mengalami pertentangan dengan keluarganya sendiri. “Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya” (Luk. 12:53).

Orang Yahudi yang keras dengan keyahudiannya jelas marah ketika ada anggota keluarganya pindah haluan, dan memilih jalan lain (mengikuti Yesus). Dengan memilih mengikuti Yesus, pastilah mereka akan berselisih-paham dengan keluarganya dan dimusuhi oleh orang-orang Yahudi yang lain; sehingga mereka harus menanggung derita, disingkirkan dari tengah-tengah keluarga.

Persis dalam konteks itulah Yesus menyampaikan perkataan ini. Yesus di sini berbicara soal resiko yang harus ditanggung oleh setiap orang yang memilih mengikuti jejak-Nya. Jadi, di sini Yesus tidak sedang berbicara soal tujuan dari kedatangan-Nya, melainkan tentang akibat dari mengikuti jejak-Nya.

Akhirnya, kita harus belajar dari Yesus, bahwa tidak semua pilihan yang baik bisa diterima begitu saja oleh banyak orang. Kadang-kadang pilihan baik kita tidak selalu mulus, namun meski mempunyai resiko, kita harus berdiri teguh dengan penuh kasih untuk mewartakan kebenaran. Amin.