8.6 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 31

Mengembangkan Bakat di Tengah Pandemi sebagai Wujud Syukur kepada Tuhan

0
Gambar Ilustrasi diambil dari Pixabay.com

“… Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat ….” (Matius 25:14-30)

Tuhan tentunya sudah memberikan karunia-Nya kepada kita sejak kita lahir, yaitu sebuah talenta. Ia memberikan talenta itu sama rata, tidak kurang, tidak lebih, dan tidak membeda-bedakan antar-umat yang diciptakan-Nya, sehingga tidak ada manusia yang terlahir tanpa sebuah talenta.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Tugas kita sebagai penerima talenta itu adalah berusaha mengembangkannya. Hal ini sama dengan biji pohon, yang ditanam dan dirawat dengan baik hingga berbuah lebat, buahnya itu bisa kita rasakan dan orang lain rasakan; atau dengan kata lain, buah itu berguna untuk diri kita dan sesama.  Itulah yang diinginkan Tuhan, talenta yang telah diberikan-Nya sebisa mungkin berguna, tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk sesama.

Jika dilihat-lihat masih banyak orang yang mengembangkan bakatnya hanya untuk kesenangan atau keuntungan pribadi. Nah, bagaimana cara mengembangkan Talenta untuk Pelayanan?

Hal pertama yang harus dilakukan adalah menumbuhkan niat yang kuat dan semangat Katolik untuk melakukan pelayanan, karena niat dan semangat ini penting. Jika kita tidak memiliki kedua hal tersebut, tentu saja pelayanan kita akan terasa seperti  terpaksa dan tidak sepenuh hati. Padahal, Tuhan mengajarkan kita untuk melayani secara penuh dan bersungguh-sungguh.

Kita perlu mengingat kembali bahwa bakat yang kita miliki berasal dari Tuhan. Oleh karena itu, kita harus memberikan pelayanan untuk Tuhan sebagai bentuk syukur dan rasa terima kasih atas bakat yang telah diberikan-Nya.

Memang, mengembangkan bakat untuk keperluan diri kita juga tidaklah salah, tetapi kita juga perlu menyalurkan bakat kita kepada sesama dan Tuhan dalam bentuk pelayanan, baik pelayanan di gereja maupun pelayanan di lingkungan sekitar.

Di masa pandemi ini, banyak waktu yang dapat kita gunakan untuk mengembangkan bakat kita. Misalnya, kita memiliki bakat menulis, kita kembangkan untuk menulis sebuah kesaksian mengenai karya Allah dalam hidup kita. Kita memiliki bakat berbicara atau bercerita di depan banyak orang, kita dapat melakukan kesaksian kepada umat Allah mengenai kasih dan anugrah Allah yang besar dalam kehidupan kita. Atau, kita memiliki bakat menyanyi atau bermain musik, kita dapat melakukan pelayanan dengan menjadi anggota koor atau pemazmur dalam perayaan Ekaristi baik pada saat ekaristi online ataupun offline.

Alangkah lebih baik jika bakat kita digunakan untuk melayani, memuji, dan menyembah Allah daripada bakat kita digunakan untuk melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan hati Allah, seperti berkomentar jahat di media sosial ataupun membicarakan keburukan orang lain.

Mengapa Tuhan Yesus Memilih untuk Dibaptis?

0
Gambar Ilustrasi diambil dari Pixabay,com

Judul di atas merupakan satu dari sekian banyak pertanyaan yang seringkali diajukan orang tatkala merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Pertanyaan seperti itu muncul mengingat pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis bertujuan untuk penghapusan dosa. Ketika tampil di padang gurun, Yohanes Pembaptis menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk. 1:4). Padahal, jelas-jelas Yesus tidak berdosa, baik dosa asal maupun dosa-dosa lainnya.

[postingan number=3 tag= ‘baptis’]

Nah, karena Yesus tidak mempunyai dosa, baik dosa asal maupun dosa-dosa lainnya, Ia tidak perlu menerima pembaptisan. Sepertinya kesadaran itu juga yang dimiliki oleh Yohanes Pembaptis, sehingga ketika Yesus meminta dibaptis, Yohanes mencegah Dia, katanya: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” (Mat. 3:14).

Namun, kita juga perlu tahu bahwa jika kita menggunakan cara berpikir yang sama, mestinya Yesus juga tidak perlu dilahirkan, tidak perlu menderita, atau tidak perlu wafat sebagai manusia. Tapi, mengapa Ia melakukan semua itu ? Jawabannya tidak lain adalah karena Dia menunjukkan solidaritasnya dengan kita manusia. Ia menunjukkan kerelaan hati-Nya untuk menjadi sama dengan kita dalam segala sesuatu, kecuali dalam hal dosa (lih. Flp 2:6-7; Ibr 4:15).

Para Bapa Gereja berpandangan bahwa Pembaptisan Yesus di Sungai Yordan merupakan cikal bakal lahirnya Sakramen Baptis dalam Gereja. Karena Yesus, Sakramen Baptis tidak hanya untuk pengampunan dosa, tetapi juga untuk membuat kita menjadi anak-anak Allah. Tuhan Yesus tidak perlu disucikan oleh air baptis, sebab Dia tidak memiliki dosa untuk dibersihkan. Justru sebaliknya, Dialah yang menyucikan air baptis dengan cara membenamkan diri-Nya ke dalamnya.

Dalam sejarah keselamatan, Sungai Yordan sangatlah penting. Di sungai Yordan inilah Yosua memimpin bangsa Israel menuju Tanah Terjanji. Tuhan Yesus memilih untuk dibaptis di tempat ini agar dengan membenamkan diri-Nya di Sungai Yordan, banyak orang diarahkan menuju surga. Jadi, alasan mengapa Tuhan Yesus memilih untuk dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis bukan untuk diri-Nya sendiri melainkan untuk kita.

Referensi:
https://www.catholic.com/qa/why-jesus-chose-to-be-baptized
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/why-jesus-was-baptized

Ekseget Ulung itu Telah Berpulang: Mengenang Kepergian Pastor Berthold Anton Parera, O Carm

0

Pastor dan Profesor Dr . Berthold Anton Parera, O Carm. Jangan salah menulis nama beliau, jika tidak ingin remedial di ulangan semester! Ia  seorang penulis, pengajar dan pembicara yang menarik.

[postingan number=3 tag= ‘tokoh’]

Selama enam tahun saya menjadi mahasiswa beliau. Ia guru yang hebat sekaligus keras! Sorotan matanya dan suaranya lembut namun kadang-kadang menggelegar memenuhi ruangan; sehingga para mahasiswa tidak ngantuk atau ngelamun.

Ia seperti orang-orang dalam Perjanjian Lama yang hidup bersama Daud lalu kembali dan menuturkan semua Mazmur Daud dan kebijaksanaan Salomo kepada pendengarnya. Sangat asik! Berikut ini kesan saya untuk beliau.

Ekseget

Romo Parera menekankan semangat kritis kepada para mahasiswanya. Ia seorang pengajar tafsir Kitab Suci di STFT Widya Sasana Malang. “Membaca kitab suci itu seperti kamu memasuki hutan rimba yang luas. Kamu menemukan apa di sana? Kamu tidak punya kompas, dan sebagainya. Terus kamu mau apa?” Tanyanya beruntun, lalu biasanya ditutupi dengan kata yang unik dan khas: ‘matamu!’ Lalu mulutnya, kumisnya yang putih, dan matanya yang tajam bergerak bersamaan membuat kamu terhenyak dan hening, kemudian tertawa. Tertawa karena kamu tidak bisa menjawab! Haha. “Semua kalian bodoh! Kalau tidak bodoh, kenapa mau belajar?” katanya bercanda.

Sebagai seorang guru ekseget ia menekankan penguasaan teks. “Teks itu tenunan. Teks itu harus kau pahami asalnya, siapa penulis dan pengarangnya, konteksnya apa, pembaca, pendengarnya seperti apa? Jangan ngawur dan berbicara sembarangan”, begitu ia mengingatkan kami.

Mempelajari sastra sekaligus Kitab Suci dan tulisan-tulisan kuno tidak segampang yang kita baca di Alkitab sekarang. “Di ruang kelas, Kitab Suci itu buku pelajaran, buku sastra terindah dan terhebat yang orang-orang sekarang tidak bisa menulis seindah seperti itu. Buku terlaris di dunia juga. Di mimbar Gereja, Kitab Suci itu Buku Doa, Buku Liturgi dan Buku Gereja. Gereja selalu membawa Buku Itu ke mana-mana. Harus menjadi Buku kesayangan kalian. Kamu paham itu? Matamu!” katanya lagi.

Dalam ujian-ujian akademik bersama beliau, para mahasiwa selalu merasa bukan orang pintar. Memang sungguh ujian. Ujian hidup dan ujian pengetahuan. Jangan harap mendapat nilai A. Haha. Hanya beberapa orang saja mendapat nilai A! Makanya, seringkali ada ujian ulang.

Penulis dan Pengajar

Pater Parera, kami sebut begitu. Ia adalah seorang penulis. Tulisannya sangat bagus., menggunakan bahasa sederhana, lentur dan mudah dicerna. Ia seorang cendikiawan yang memiliki bakat menulis dan tidak mengggunakan banyak anak kalimat. Buku-bukunya banyak.

Para mahasiswa yang menulis skripsi Tafsiran Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru memiliki kesan yang unik. Bab satu penulisan skripsinya dikerjakan berkali-kali. Penyerahan teks Bab I diawali dengan coretan X disertai catatan: “Tulisan seperti apa ini? Kamu belum bisa berlogika!” Bayangkan Anda selama hampir empat tahun mendengar kuliah filsafat dan Kitab Suci bersama-dosen-dosen hebat di STFT Widya Sasana, lalu belum bisa berlogika. Seperti disengat petir!

Saya juga merasakan sengatan petir itu. Saya bertanya kepada beliau, mengenai sesuatu. Tetapi saya kaget, beliau begitu marah! Saya bertanya dalam hati kenapa beliau marah? Rupanya kita perlu tertib berpikir. Pertanyaan saya kurang beriman, mencerminkan saya kurang beriman! Haha.

Satu hal yang menarik bahwa beliau menghafal nama semua muridnya. Itulah alasan mengapa kamu tidak bisa tidur di kelas. Ia menyebut namamu satu persatu! “Lazarus, Matius, Yohanes, Ignasius, kau duduk macam tidak ada persoalan saja!” Haha.

Mengikuti kelasnya tidak boleh menjadi mahasiswa tiga dimensi: datang, duduk, diam. Harus bertanya! Bertanya berarti berdialog dengan materi! Bertanya berarti aktif mencari sesuatu. Itulah sikap seorang ‘yang dididik’.

Romo Parera seorang yang disiplin. Ia menekankan itu kepada para calon imam. “Calon pemimpin harus disiplin”. Ia memberi skors, tidak boleh mengikuti pelajarannya kalau tidak membawa buku dan terlambat masuk ruang kelas. Begitulah Profesor itu di dalam ruang kelasnya. Ia selalu dirindukan oleh setiap mahasiswa! Rindu kata matamu!

Selamat Jalan Profesor, Romo Berthold Anton Parera O.Carm. Ad vitam aeternam, Pater!

Kata Rasul Yohanes: Barangsiapa tidak Mengasihi, Ia tidak Mengenal Allah

0

Barangsiapa tidak Mengasihi, Ia tidak Mengenal Allah: Renungan Harian, 5 Januari 2021 — JalaPress.com; Bacaan I: 1 Yoh. 4:7-10; Injil: Mrk. 6:3344 

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Allah yang kita imani adalah Allah yang Mahakasih. Lebih dari itu, Ia adalah kasih itu sendiri. Ya, Allah adalah kasih. Kasih Allah itu nyata, bukan sekedar konsep, ide, ataupun teori. Tuhan Yesus adalah bukti nyata dari kasih Allah kepada manusia. Yesus hadir ke dunia untuk membuat kasih Allah itu menjadi nyata bagi manusia. Ia hidup sebagai manusia dan bergaul dengan manusia. Ia menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, dan memberitakan pembebasan kepada orang tawanan.

Kasih Allah sudah dicurahkan kepada kita secara cuma-cuma. Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allahlah yang telah mengasihi kita. Berkat kasih-Nyalah kita bisa hidup seperti sekarang ini. Kita tidak bisa membayangkan hidup tanpa kasih Allah. Tanda bahwa Allah mengasihi kita yaitu dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya, sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.

Sadar atau tidak sadar, dunia sekarang ini dilanda krisis kasih. Buktinya: orang-orang suka sekali menghujat dan memfitnah satu sama lain. Kabar bohong dan ujaran kebencian bertebaran di media sosial. Karenanya, ajakan dari Rasul Yohanes menjadi penting untuk kita. “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi. Setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah” (1 Yoh. 4:7).

Jangan ngaku mengenal dan percaya Allah jika tidak mau mengasihi. Kita tidak bisa sekaligus menjadi pencinta Tuhan tapi pada saat yang sama membenci sesama. Ingat kata Rasul Yohanes: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1 Yoh. 4:8).

Maka, suka tidak suka, kita harus saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan Allah adalah kasih. Kasih Allah itu mengalir kepada semua dan untuk semua. Kasih Allah tidak tebang pilih. Allah mengasihi semua tanpa memandang suku, agama, maupun ras.

Jika benar kita mengenal Allah, kita pun sudah seharusnya saling mengasihi tanpa mempersoalkan perbedaan-perbedaan. Jika masih suka membenci sesama hanya karena berbeda suku, agama, dan ras, maka patut dipertanyakan: Allah yang mana yang kalian kenal dan sembah itu? — JK-IND —

Pesan dari Rasul Yohanes: Ujilah setiap Roh, Jangan Mudah Percaya

1

Pesan dari Rasul Yohanes: Ujilah setiap Roh, Jangan Mudah Percaya: Renungan Harian, 4 Januari 2021 — JalaPress.com; Bacaan I: 1 Yoh. 3:22 – 4:6 

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Rasul Yohanes dalam suratnya yang pertama (lih. 1 Yoh. 3:23) menuliskan bahwa setidaknya ada dua perintah dari Allah untuk kita laksanakan. Pertama, supaya kita percaya kepada Tuhan Yesus; dan kedua, supaya kita saling mengasihi satu sama lain sesuai dengan perintah yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada kita.

“Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita”.

Nah, jika kita bisa mengikuti perintah-perintah tersebut, demikian Rasul Yohanes, maka sudah pasti kita akan diam di dalam Allah dan Allah dalam kita. Tapi, bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Allah ada di dalam kita? Menurut Rasul Yohanes caranya yaitu dengan melihat Roh yang Ia karuniakan kepada kita.

Hanya saja perlu diketahui bahwa roh itu tidak hanya satu melainkan banyak. Ia bisa baik, tapi juga bisa tidak baik, tergantung dari mana dia berasal. Yang dimaksudkan dengan roh di sini adalah dorongan-dorongan yang muncul dari dalam diri maupun dari luar diri.

Rasul Yohanes membedakan dua macam roh, yang satu berasal dari Allah, dan yang lainnya berasal dari dunia. Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa roh yang sedang kita terima merupakan dari Allah atau bukan? Rasul Yohanes menjelaskan: “Beginilah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, tetapi setiap roh yang tidak mengakui Yesus, tidak berasal dari Allah” (1 Yoh. 4:2-3). Singkat kata, roh yang berasal dari Allah mendorong kita dekat pada Tuhan; sedangkan roh yang berasal dari dunia cenderung mendorong kita jauh dari Tuhan.

Roh yang berasal dari Allah merupakan Roh kebenaran, yang membuat hidup kita selalu diliputi rasa syukur dan percaya; sedangkan roh yang berasal dari dunia cenderung menyesatkan, yang membuat kita mudah mengeluh, berkeluh kesah, dan bersungut-sungut.

Orang yang berada dalam pengaruh roh dari Allah akan mengalami situasi gembira, penuh harapan, kasih, dan kuat dalam iman; sedangkan orang yang berada dalam pengaruh roh dari dunia akan mengalami kesepian, gelap, kehilangan harapan, kasih, dan iman.

Roh apa yang sedang menguasai kita saat ini? Untuk mengetahuinya, lihat saja kecenderungannya, ke mana kita dibawanya: apakah membuat kita makin beriman, ataukah sebaliknya, membuat kita menjauh dari Tuhan.

Rasul Yohanes menyarankan agar kita menguji roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah atau dari dunia. Jangan mudah percaya terhadap setiap roh. “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia” (1 Yoh. 4:1). Jangan sampai kita dikuasi oleh roh duniawi yang memisahkan kita dari Allah. —JK-IND —

Ingat Natal, Ingat Maria: Natal Tak Bisa Lepas dari Peran Maria

0

Ingat Natal, Ingat Maria: Natal Tak Bisa Lepas dari Peran Maria: Renungan Masa Adven, 20 Desember 2020 — JalaPress.com; Injil: Luk. 1:26-38

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Injil hari ini mengisahkan tentang kunjungan malaikat Gabriel kepada Maria. Kunjungan ini terjadi atas perintah Allah. Allah menyuruh Malaikat Gabriel untuk menyampaikan pesan penting kepada Maria bahwa ia akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu harus dinamai Dia Yesus.

Apakah Maria langsung menangkap pesan dari Allah melalui malaikat itu? Injil Lukas bilang ‘tidak’. Justru sebaliknya, Maria terkejut mendengar perkataan itu (lih. Luk. 1:29).  Bukan hanya terkejut, ia bahkan juga kemungkinan besar takut; sebab hamil di luar perkawinan hanya akan membuat seseorang dekat dengan maut. Masyarakat pada masa itu tidak segan-segan menghukum mati perempuan yang kedapatan hamil di luar perkawinan (baca: berzina).

Ketakutan Maria dibaca oleh Malaikat Gabriel. Maka ia pun berkata kepada Maria: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah …” (Luk. 1:30). Apakah Maria langsung mengerti maksud malaikat itu? Lagi-lagi tidak. Maria belum paham apa maksud dari semua yang didengarnya dari malaikat itu. Maka, kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk. 1:34). Malaikat Gabriel mempertegas keterangan yang disampaikannya dengan berkata: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk. 1:35).

Tanya jawab antara Malaikat Gabriel dan Maria ini menunjukkan kepada kita bahwa Maria dipilih khusus oleh Allah dari antara semua perempuan yang hidup pada masanya. Hal ini, mulanya, bukan sesuatu yang mudah bagi Maria. Ia justru terkejut, takut, dan tidak mengerti.  Tapi, untunglah, Malaikat Gabriel berhasil meyakinkan Maria sehingga cerita ini berakhir dengan jawaban ‘YA’ dari Maria.

Ribuan tahun berlalu, peristiwa ‘Allah menjadi manusia’ ini tetap menyisakan tanda tanya besar bagi banyak orang, terutama mereka yang tidak termasuk dalam barisan kelompok pengikut Yesus. Mereka bertanya-tanya, ‘Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?’

Apapun penjelasan kita untuk menjawab pertanyaan itu tak akan pernah memadai. Hanya ada satu jawaban yang bisa menjawab pertanyaan itu. Dan jawaban itu sudah ditulis oleh Lukas di dalam Injilnya. Lukas menulis: “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk. 1:37). Apa yang bagi kita tidak mungkin, sangat mungkin bagi Allah. Ia Mahakuasa, dan karena kemahakuasaan-Nya itulah maka Ia bisa menjadi apa saja yang Dia inginkan.

Sampai di sini kita menyadari bahwa jawaban ‘YA’ dari Bunda Maria sangatlah penting. Bunda Maria mempunyai peran besar dalam peristiwa Natal. Jikalau saja saat itu Maria menjawab ‘TIDAK’ terhadap tawaran dari Allah melalui Malaikat Gabriel itu maka bukan tidak mungkin cerita Natal kita tidak pernah sama.

Sayangnya banyak orang, entah dengan sengaja atau tanpa sengaja, mengabaikan peran Bunda Maria itu. Ketika Natal tiba, orang-orang lebih sering menyebut Santa Klaus ketimbang Bunda Maria. Apakah karena Bunda Maria tidak membawa kado seperti Santa Klaus? Bisa jadi. Tapi, jangan lupa kado terbesar dari Bunda Maria adalah rahimnya yang ia persembahkan untuk Tuhan bisa masuk ke dunia manusia. Tidak ada kado yang lebih berharga daripada rahim seorang Maria.

Merayakan Natal tapi melupakan Bunda Maria merupakan sesuatu yang ganjil. Kita harus tahu bahwa Tuhan Yesus datang ke dunia bukan dengan cara melayang-layang dari angkasa; melainkan melewati rahim seorang perempuan. Lukas mempertegas siapa nama perempuan itu. Ia menuliskan: “Nama perawan itu Maria” (Luk. 1:26). Apakah Lukas memberikan keterangan ini hanya sekedar sebagai pelengkap tulisannya? Saya kira tidak. Lukas tahu bahwa Maria adalah tokoh penting dalam peristiwa kelahiran Yesus.

Karena itu, sudah sepantasnyalah kita menghormati Maria. Jangan sampai kita mengingat Santa Klaus, kado, dan pernak-pernik Natal tapi lupa dia yang oleh Elisabet disebut sebagai ‘ibu Tuhan’ itu (lih. Luk. 1:43). Natal tak bisa lepas dari jawaban ‘YA’ dari Bunda Maria. Ingat Natal, ingat Maria. Ave Maria. — JK-IND —

Renungan Minggu Gaudete: Bersukacitalah dalam Tuhan

0

Bersukacitalah dalam Tuhan: Renungan Minggu Gaudete, 13 Desember 2020 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 61:1-2a, 10-11; Bacaan II: 1 Tes. 5:16-24; InjilYoh. 1:6-8, 19-28

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Dengan Minggu Sukacita atau Minggu Gaudete ini, kita diajak agar senantiasa bersukacita, bergembira, dan berbahagia. Mengapa? Karena yang kita tunggu hampir tiba; dan Dia yang kita tunggu-tunggu itu tidak lain adalah Tuhan sendiri. Dialah satu-satunya sumber dan alasan kita bersukacita.

Sukacita hanya ada di dalam Tuhan. Itu pasti. Di luar Tuhan tidak ada sukacita. Di luar Tuhan hanya ada kesenangan-kesenanga. Tidak seperti sukacita yang sifatnya kekal abadi, kesenangan bersifat serba terbatas dan bertahan sebentar saja.

Nabi Yesaya, dalam bacaan pertama hari ini, memberi kesaksian tentang sukacita itu. Dia bilang Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya” (Yes. 61:10).

Bukan hanya dari Kitab Yesaya. Dari Mazmur Tanggapan juga kita mendengar kalimat: “Bahagia Kuterikat pada Yahwe”. Dengan demikian, sukacita dan kebahagiaan hanya ada dan berasal dari Allah. Maka, jangan mencarinya di tempat lain.

Orang yang diliputi oleh perasaan sukacita hampir pasti akan bersemangat. Sebaliknya, ketiadaan sukacita membuat orang menjadi loyo dan tidak bersemangat.

Menantikan sesuatu yang baik mesti dengan sikap yang penuh semangat, bukan loyo. Menantikan sesuatu yang baik mesti dengan penuh pengharapan, bukan dengan kelesuan.  Karena itu, menunggu kedatangan Tuhan, sebagaimana yang kita jalani dalam Masa Adven ini haruslah dengan perasaan sukacita.

Boleh jadi Natal tahun ini tidak akan sama meriahnya seperti Natal tahun-tahun sebelumnya, sebagai dampak dari penyebaran Covid-19, tapi jangan sampai hal itu membuat sukacita kita berkurang. Sebab, kita bersukacita dalam Tuhan, bukan dalam hal-hal yang lain.

Yohanes Pembaptis, dalam Injil hari ini, dihujani dengan banyak pertanyaan. Tapi ia menjawab dengan singkat, padat, dan jelas: bukan aku tapi Dia. Kita bersukacita dalam Yesus, kita berbahagia karena Dia. Dialah jawaban dari setiap kerinduan, harapan, kegelisahan kita.

Yang terpenting sekarang ini kita ingat pesan Paulus, sebagaimana yang kita dengarkan dalam bacaan kedua hari ini. Paulus menulis: “Saudara-saudara, bersukacitalah senantiasa! Janganlah padamkan Roh”. Artinya, jangan sampai semangat kita hilang. Tapi, jangan lupa, tetaplah berdoa dan bersyukur. —JK-IND—

Hanya dalam Yesus Ada Kelegaan dan Ketenangan

0

Hanya dalam Yesus Ada Kelegaan dan Ketenangan: Renungan Harian, 9 Desember 2020 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 40:25-31; InjilMat. 11:28-30

Covid-19 telah menyita perhatian dan tenaga kita; yang membuat keseharian kita tak seperti dulu lagi. Sekarang, kita hanya bisa beribadah, belajar, dan bekerja dari rumah. Belum lagi segala sesuatunya harus dilakukan sesuai dengan protokol Covid-19: jaga jarak aman, cuci tangan pakai sabun sesering mungkin, dan mengenakan masker.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Cara hidup seperti ini bukanlah cara hidup yang menyenangkan. Tak ada orang yang ingin hidup dengan berjaga jarak, selalu mencuci tangan, apalagi selalu mengenakan masker. Tapi apa hendak dikata, demi kebaikan bersama, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kita toh harus patuh terhadap protokol kesehatan ini.

Keadaan yang kita sebut sebagai ‘new normal’ ini memang bukan hal yang mudah; sebab ini bukan cara hidup kita dari dulu. Cara hidup seperti ini terpaksa kita lakukan karena situasi Covid-19 saja. Jika ditanya apakah kita tidak lelah dengan cara hidup seperti ini? Jawabannya: tentu saja lelah. Bahkan, bukan hanya lelah, tapi juga menjadi beban tersendiri.

Jika sudah seperti ini, ke mana kita akan mencari kelegaan dan ketenangan? Tentu ini bukan pertanyaan yang mudah. Tapi, hari ini, Tuhan Yesus memberitahu kita jawaban atas pertanyaan yang sulit itu. Ia berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28).

Di dunia ini belum ada orang yang setegas Yesus dalam menawarkan kelegaan dan ketenangan. Mungkin saja ada orang yang menawarkan kelegaan, tapi yang didapat hanya kelegaan palsu. Sebab, pada akhirnya bukan ketenangan yang didapat melainkan kegaduhan dan kekacauan. Hanya Yesus satu-satunya yang bisa memberikan kelegaan dan ketenangan sekaligus. Mengapa? Yesus menjawab: “Karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29).

Hiruk pikuk dunia akibat maraknya Covid-19 mungkin saja sudah menyita perhatian dan tenaga kita, tapi jangan sampai merampas hati kita juga. Apalagi saat ini kita sedang menantikan kedatangan-Nya. Apapun situasi yang kita hadapi sekarang, hati kita harus tetap tertuju pada kedatangan Tuhan. Mengapa? Karena “Orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yes. 40:31). Yakinlah, ‘Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya’ (Yes. 40:29). —JK-IND—

Kepemimpinan Kristiani: Meneladani Gaya Kepemimpinan Yesus

0
A.D. THE BIBLE CONTINUES -- "TBD" Episode 102 -- Pictured: Juan Pablo Di Pace as Jesus, Adam Levy as Peter -- (Photo by: Joe Alblas/LightWorkers Media/NBC)

Pada 09 Desember 2020 (esok), sebanyak 270 wilayah di Indonesia, yang meliputi 9 Provinsi, 224 kabupaten dan 37 kota, akan menyelenggarakan pemilu serentak untuk memilih pemimpin daerah/kota.  Para calon pemimpin ini berasal dari pelbagai latar pendidikan, suku, agama dan bahasa. Mereka sudah dengan lantang ‘mempromosikan’ dirinya kepada khalayak atau pemilih sebagai calon yang paling pantas dipilih menjadi pemimpin.

[postingan number=3 tag= ‘tokoh’]

Di antara para calon pemimpin ini, tak sedikit juga yang berasal dari antara pengikut Kristus. Mereka semua sedang berjuang meyakinkan masyarakat bahwa mereka memiliki kemampuan mumpuni untuk memimpin. Di atas segalanya, katanya, mereka siap melayani kepentingan banyak orang di atas kepentingan pribadi atau golongan. Mereka mau menjadi pelayan masyarakat.

Kita tentu saja bangga dan terus mendukung mereka yang mau menjadi pemimpin. Apalagi, motivasinya  adalah melayani banyak orang. Mereka mau berjuang demi kebaikan bersama (bonum commune). Memang, menjadi pemimpin tak lain adalah menjadi pelayan bagi sesama.

Kepemimpinan adalah Seni

Kepemimpinan adalah seni mempengaruhi orang lain sehingga dari orang-orang yang dipimpin timbul kemauan, rasa hormat, kepatuhan dan kepercayaan terhadap pemimpin. Kalau orang-orang yang dipimpin memiliki sikap-sikap demikian terhadap pemimpinnya, maka mereka akan menjalankan apa yang dikehendaki oleh sang pemimpin sesuai visi misi organisasi.

Seni kepemimpinan mengandung arti bahwa seorang pemimpin memiliki kecakapan dan keterampilan tertentu untuk mempengaruhi orang lain. Kemampuan ini tentu saja tidak muncul begitu saja, tetapi membutuhkan perjuangan dalam waktu yang tidak singkat. Keseriusan untuk mengembangkan diri adalah kunci utama dalam kepemimpinan.

Menurut John C. Maxwell, pemimpin yang baik selalu melibatkan orang lain.Yang harus disadari oleh seorang pemimpin adalah bahwa ia hadir bukan hanya untuk memimpin orang lain, tetapi terutama untuk memimpin bersama orang lain. Pernyataan ini memiliki arti bahwa seorang memimpin harus mampu bekerja sama dengan orang lain. Ia tidak boleh hanya mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Kerja sama ini bisa berjalan dengan baik hanya jika seorang pemimpin membina hubungan yang baik dengan orang-orang yang dipimpinnya. Di sini, seorang pemimpin harus memiliki kerendahan hati. Apabila seorang pemimpin memiliki kemampuan ini, maka ia pantas menjadi contoh bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Selain itu, seorang pemimpin juga harus menyadari bahwa orang pertama yang harus diubahnya bukanlah orang lain, tetapi dirinya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus mengenal dirinya. Ia harus menyadari keunggulan dan kelemahan dirinya. Penyadaran ini bertujuan agar sang pemimpin pertama-tama harus mengembangkan dirinya dengan baik. Ia harus tekun mengembangkan potensi dalam dirinya dan juga berani memperbaiki kekurangannya selama ini.

Tentu memimpin diri sendiri juga tidak mudah. Akan tetapi, seorang pemimpin harus berjuang setiap saat untuk membina diri, memimpin dirinya agar bertumbuh menjadi pemimpin yang baik dan dapat diandalkan oleh banyak orang. Setelah mengubah dirinya, seorang pemimpin pelan-pelan mampu mengubah orang lain dan mengarahkan mereka untuk secara bersama-sama memperjuangkan kesejahteraan bersama.

Pemimpin adalah Pelayan

Semangat melayani tentu saja harus menjadi jiwa calon pemimpin dan para pemimpin di bidang mana saja. Hal ini senada dengan uraian seorang pakar kepemimpinan, Robert Greenleaf dalam bukunya Servant Leadership. Menurutnya, seorang pemimpin pertama-tama adalah seorang pelayan. Kepemimpinannya ditentukan terlebih dahulu oleh sebuah keinginan untuk melayani kepentingan orang lain dan bukan untuk kepentingan diri sendiri.

Seorang servant leader (pemimpin-pelayan) memperhatikan dan mengusahakan agar kebutuhan utama orang lain terpenuhi. Seorang servant leader tidak mengejar kekuasaan atau kekayaan. Tujuan seorang servant leader adalah membuat dunia menjadi kondusif bagi perkembangan tiap warganya.

Relasi yang dibangun dalam kepemimpinan pelayan adalah relasi persaudaraan. Seorang pemimpin yang adalah pelayan menjadi inspirasi bagi orang-orang yang dipimpinnya. Ia juga menaruh kepercayaan kepada mereka. Hal demikian berarti bahwa relasi atasan dan bawahan yang kaku tidak terjadi dalam kepemimpinan pelayan.

Seorang servant leader juga adalah seorang teladan. Cara hidup, baik tutur kata maupun tingkah lakunya menjadi teladan bagi banyak orang. Di dalam dirinya tumbuh kasih dan perhatian yang membantu orang lain untuk mengembangkan dirinya. Ia peduli dengan kebutuhan orang-orang yang dilayaninya. Ia juga memiliki wawasan yang luas tentang kepemimpinan. Ia melihat kedudukan sebagai sebuah tanggung jawab untuk melayani. Tentu ini membutuhkan proses yang panjang dan menuntut ketekunan. Betapa indahnya jika setiap pemimpin adalah pelayan. Kebaikan bersama (bonum commune) atau kesejahteraan bersama (common welfare) pasti terpenuhi.

Belajar pada Yesus

Apa yang telah diuraikan oleh pakar kepemimpinan Robert Greenleaf di atas sesungguhnya telah diajarkan dan diteladankan dengan baik oleh Tuhan Yesus Kristus. Yesus adalah pemimpin sejati. Sebagai pemimpin sejati, ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Tugasnya tak lain adalah melayani orang-orang yang dipercayakan Bapa kepada-Nya dengan tulus dan setia. Yesus adalah pemimpin-pelayan (servant leader). Kepemimpinan Yesus adalah kepemimpinan yang membawa hidup, “Supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh. 10:10).”

Gaya kepemimpinan Yesus ini bisa digolongkan sebagai kepemimpinan transformatif. Dalam kepemimpinan transformatif ada interaksi yang melibatkan diri pemimpin maupun yang dipimpin. Semua pihak berusaha memberikan sumbangan pikiran dan juga keyakinan pribadi demi mencapai kebaikan bersama (bonum communae).

Seturut teladan Yesus, bisa dikatakan bahwa seorang pemimpin kristiani mempunyai tanggung jawab untuk menghidupkan orang lain. Sebagai pengikut Kristus, ia mengimani bahwa Yesus adalah teladannya dalam hal kepemimpinan. Dialah pemimpin sejati. Ia mengajarkan nilai-nilai kerajaan Allah dan hal demikian mengubah kehidupan para murid-Nya. Maka dari itu, mereka berani meninggalkan segala sesuatu dan bersedia mengikuti-Nya. Ia membagikan pengalaman-Nya akan Allah sebagai Bapa dan mengajak para murid untuk masuk ke dalam pengalaman yang sama. Mereka diajak untuk terlebih dahulu mengalami ‘hidup yang berkelimpahan bersama Allah,’ kemudian mereka membagikannya kepada orang lain.

Harapannya semangat  ‘kepemimpinan pelayan’ yang diteladankan oleh Yesus inilah yang menjiwai para calon pemimpin dan para pemimpin yang berasal dari agama Katolik khususnya, dan umat kristiani umumnya. Begitulah seharusnya kepemimpinan kristiani. Dengan cara itu juga, mereka menjadi saksi Kristus di tengah dunia saat ini.***

Referensi:
Martasudjita, Emanuel, Gereja yang Melayani dengan Rendah Hati, Yogyakarta: Kanisius, 2009, hal.82.
Musakabe, Herman, Roh Kepemimpinan Sejati, Jakarta: Citra Insan Pembaru, 2004.
Maxwell, John, The 5 Levels of Leadership (diterj. oleh Marlene T.), Surabaya: PT Menuju Insan Cemerlang, 2012.
Suharyo, Ignatius, “Memimpin dan mengembangkan: sebuah pemikiran mengenai kepemimpinan Kristiani,” dalam Teologi dan Spiritualitas, Yogyakarta: Kanisius, 1994.

Menantikan Kedatangan Tuhan bersama Yohanes Pembaptis

0

Sampai saat ini, Corona belum berakhir. Aneka aktivitas kita, masih dibatasi. Kegiatan yang mengumpulkan banyak orang secara langsung juga belum bisa dilakukan secara bebas. Kalaupun terpaksa dilakukan, semuanya harus mengikuti protokol kesehatan yang ketat. Semuanya dibatasi demi kebaikan bersama. Harapannya, penyebaran Corona bisa dikendalikan.

Berjaga-jaga

Di tengah situasi yang masih sulit ini, kita bersyukur karena Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk menyiapkan diri menyambut kedatangan-Nya. Kita sedang berada dalam masa adven. Menarik bahwa kita tidak hanya mempersiapkan diri menyambut kedatangan Yesus yang dirayakan pada Hari Raya Natal, tetapi juga kedatangan-Nya pada akhir zaman yang tidak seorang pun tahu kapan itu terjadi. “Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamana waktunya tiba.”(Mrk. 13: 33) Hati-hati dan berjaga-jaga adalah hal penting yang perlu dilakukan sebelum saat itu datang. Itulah yang dikatakan Yesus kepada kita pada Minggu pertama adven yang lalu.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Kira-kira bagaimana sikap hati-hati dan berjaga-jaga itu diwujudkan? Barangkali dengan membarui diri:  antara lain, semakin rajin mendekatkan diri dengan Tuhan, memohon ampun dari-Nya atas segala hal yang tak berkenan kepada-Nya dan sesama, dan semakin bertanggung jawab dengan hidup dan perutusan (tugas) yang diemban saat ini. Selain itu, kita juga perlu semakin peduli dengan orang lain, terutama yang sedang menderita, baik karena kekurangan makanan maupun karena masalah lainnya; apalagi dalam situasi pandemi ini. Kita tidak hanya memikirkan diri sendiri. Dengan demikian, selain dekat dengan Tuhan, kita juga dekat dengan sesama, peduli dengan sesama. Kita menjadi berkat bagi orang lain.

Memang, sepanjang masa Adven ini, kita diberi kesempatan istimewa untuk melihat kembali ziarah hidup kita selama ini. Tentu saja yang baik disyukuri, dipertahankan dan ditingkatkan; sementara yang kurang baik ditinggalkan. Di atas segalanya, kita memohon ampun dari Allah yang Maharahim atas segala kerapuhan kita. Pengampunan membuat kita layak menyambut kedatangan-Nya, baik saat Hari Raya Natal, maupun pada kedatangan-Nya pada akhir zaman. 

Seruan Pertobatan Yohanes Pembaptis

Pada masa adven ini, tokoh Kitab Suci yang pewartaannya kita dengar dengan jelas adalah Yohanes Pembaptis. Kehadiran-Nya yang mendahului kedatangan Mesias bahkan menjadi perintis jalan bagi kedatangan Mesias adalah pemenuhan nubuat Nabi Yesaya sebagaimana dikutip oleh penginjil Markus berikut ini. Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: “Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.” (Mrk. 1:2-3) 

Ia adalah tokoh penting yang membantu kita menyiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan. Karena itu, kita perlu mendalami dan merenung tentang isi pewartaan Yohanes Pembaptis dan keutamaan hidupnya yang pantas kita ikuti.  

Kisah tentang Yohanes Pembaptis digemakan dalam Injil pada minggu kedua dan ketiga adven. “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis, dan Allah akan mengampuni dosamu.” (Mrk.1:4) Inilah yang dikatakan Yohanes melalui penginjil Markus pada minggu kedua adven. Di sini, bertobat dan memberi diri dibaptis adalah hal penting yang harus dilakukan.

Karena kita telah dibaptis dan menerima Yesus, maka yang perlu saat ini adalah pertobatan. Kita perlu membarui hidup kita. Kita mendekatkan diri dengan Tuhan, meminta ampun atas segala dosa kita, sekaligus berusaha membarui tutur kata dan tingkah laku selanjutnya agar semakin berkenan kepada-Nya dan sesama.

Pada minggu ketiga adven, Penginjil Yohanes menyebut Yohanes Pembaptis sebagai saksi yang diutus untuk memberikan kesaksian tentang terang supaya semua orang percaya (Yoh.1:7). Ia bukan terang itu! Yohanes Pembaptis menegaskan kepada para pendengarnya bahwa ia bukan Mesias. Ia hanya berkata, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan, seperti yang telah dikatakan Nabi Yesaya.” (Yoh. 1: 23)

“Luruskanlah jalan Tuhan” adalah ungkapan penting yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis. Ia sesungguhnya menegaskan bahwa ia diutus untuk menyiapkan banyak orang agar pantas menyambut Mesias, Sang Terang. Pesan utamanya adalah pertobatan. Semua orang perlu bertobat.

Kerendahan Hati

Selain pesan pertobatan, Yohanes Pembaptis juga memiliki keutamaan yang pantas kita renungkan pada masa adven ini. Keutamaan itu adalah kerendahan hati. Ini keutamaan hidup perlu kita miliki. Mari kita perhatikan kutipan berikut ini!

    “Sesudah aku, akan datang Ia yang lebih berkuasa daripadaku. Membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” (Mrk. 1:7)

     “Aku membaptis dengan air, tetapi di tengah-tengah kamu, berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia yang datang kemudian daripada aku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” (Yoh. 1: 26-27)

Bagi saya, kedua kutipan teks ini mengungkapkan kerendahan hati yang mendalam dari Yohanes Pembaptis. Ketika orang menanyakan identitasnya, ia jujur. Ia tahu diri. Ia bukan Mesias yang dinantikan. Ia hanya meminta orang membuka hatinya bagi kedatangan Mesias dengan bertobat. Ia tidak sombong dengan perutusannya sebagai perintis jalan bagi kedatangan Mesias.

Dalam hidup ini, kita kadang-kadang jatuh dalam dosa kesombongan. Harta yang cukup, pendidikan yang memadai, jabatan  atau posisi yang strategis  di tempat kerja dan di tengah masyarakat membuat kita cukup mudah sombong. Cukup mudah kita merendahkan orang lain, baik melalui tutur kata maupun melalui tingkah laku kita. Kita kurang menghargai orang lain. Padahal kita sama-sama manusia, kita sama-sama debu di alas kaki-Nya Tuhan, kita sama-sama berasal dari tanah dan pada saatnya kembali menjadi tanah.

Harapannya, kerendahan hati Yohanes Pembaptis menginspirasi kita agar dalam hidup ini selalu menjadi orang yang rendah hati.  Bila selama ini, kita kadang-kadang mudah jatuh dalam dosa kesombongan, mari kita membarui diri. Mari kita bertobat. Semoga kita semakin sadar bahwa semua yang kita miliki di dunia ini pada saatnya akan berakhir. Semoga kita semakin menghargai orang lain, apapun situasi mereka.

Allah Beserta Kita

Sebentar lagi kita merayakan Natal. Semoga seruan pertobatan yang disampaikan Yohanes Pembaptis menggerakkan hati kita untuk segera bertobat. Kita mengambil waktu untuk berhenti sejenak dari segala kesibukan kita dan datang kepada Tuhan: mohon berkat dan pengampunan-Nya atas segala kerapuhan kita. Juga perlu berkomitmen serius membarui hidup agar semakin baik; mari kita membarui relasi dengan sesama mulai di dalam keluarga dan komunitas masing-masing.

Kita memang merindukan bahwa kita merayakan kelahiran Yesus secara meriah di gereja paroki atau tempat perayaan lainnya seperti tahun sebelumnya, tapi karena Covid-19 belum berakhir, pasti ada di antara kita yang terpaksa mengikuti perayaan penting dari rumah saja melalui TV atau  saluran media sosial FB, Youtube, dan sebagainya. Kendati demikian, semoga makna Natal tetap meresap dalam hati kita semua dan membarui hidup kita; juga membarui keluarga dan komunitas kita masing-masing.

Tema Natal tahun ini adalah, “Mereka akan menamakan Dia, Imanuel.” (Mat. 1:23) Yesus yang kelahiran-Nya kita rayakan dalam suasana Covid-19 ini adalah Emanuel: Allah beserta kita. Ia tak pernah meninggalkan kita berjuang sendirian. Ia lahir karena begitu besar kasih-Nya kepada kita. Ia mau tinggal di antara kita, apapun situasi kita, termasuk situasi pandemi ini. Ia tinggal di antara kita untuk menyelamatkan kita: memberikan kekuatan kepada yang lemah, menyembuhkan yang sakit, mengampuni yang berdosa. Kehadiran-Nya hanya untuk menyelamatkan kita.

Semoga kita semakin menyadari kehadiran-Nya yang menyelamatkan itu. Selamat menantikan kedatangan Tuhan bersama Yohanes Pembaptis . Tuhan memberkati!***

Malang, 05 Desember 2020