10.6 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 46

Aku Menemukan Tuhan di Jalan Katolik

0

Cerita ini adalah pengalaman pribadi dan perjalanan spiritual dan spiritual yang penting di dalam hidupku. Aku harap cerita ini dibaca dengan mata dan hati yang terbuka. Terima kasih banyak.

Pada suatu hari di bulan Maret 2013, pada saat sebelum mengajar yoga di studio yoga, aku merasakan kekosongan jiwa yang begitu mendalam. Hati ini rasanya bergejolak terus mencari sesuatu yang tidak aku mengerti bentuknya. Pada waktu itu, saya mencoba menjawab jiwa dengan doa yang pada waktu itu saya ucapkan sehari-hari dari agamaku yang dulu, namun tetap saja jiwa ini terasa hampa. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku untuk doa permohonan Bapa Kami, Salam Maria dan Kemuliaan di dalam hati. Doa-doa ini kupelajari pada saat aku bersekolah di sekolah Katolik. Ajaibnya, setelah selesai menyelesaikan tiga doa tersebut, hati dan jiwa ini terasa nyaman, bahagia dan penuh. Tak ada lagi kekosongan batin yang meresahkan jiwa. Buat aku merasa tenang dan damai.

Dari kejadian ini, timbullah dari diriku sendiri untuk pergi ke gereja dan mencoba beribadah di sana. Rencana ini harus kutunda dari pada akhir bulannya, aku harus ke Bali untuk menjadi sukarelawati di acara Bali Spirit Festival. Memasuki pertengahan bulan April, aku pun mulai beribadah di gereja, tempat dimana aku menemukan kedamaian yang luar biasa. Menyenangkan perjalanan menuju gereja pun terasa penuh kesenangan dan menguntungkan.

Pada saat mau berangkat ke gereja, semuanya terasa lancar, bahkan pada jam-jam sebagaimana seharusnya semua kendaraan keluar pada saat jam pulang kantor. Ada saat-saat di mana ada hujan datang, ada kemacetan di jalan raya, dan ada kesulitan mencari transportasi. Namun demikian, selalu dengan tiga percakapan yang kusebutkan diawal cerita ini, hujan berangsur-angsur berhenti, jalan terasa lancar dan transportasi selalu ada di depan mata Buatku, ini adalah yang disetujui yang disetujui Tuhan.

Pada saat memasuki Lingkungan gereja, pada saat misa akan dimulai, akan terdengar bunyi lonceng kecil di gereja yang menandakan bahwa misa akan segera dimulai. Bunyi lonceng gereja ini begitu lembut dan lembut, dan hanya terdengar di dalam lingkungan gereja dan untuk jarak yang tidak terlalu jauh. Dari sini saja, saya sudah dapat merasakan bahwa panggilan untuk beribadah yang lembut ini bisa jadi merupakan simbol bahwa Tuhan di agama Katolik ini begitu lembutnya memanggil para umat-Nya.

Pada saat duduk di dalam gereja dan mengambil ibadahnya, aku jadi mengerti bahasa yang dipakai di dalam ibadahnya. Kadang-kadang, aku ikut misa dalam bahasa Indonesia. Kadang-kadang juga aku mengikuti misa dalam bahasa Inggris. Aku begitu mengenal dua bahasa ini, begitu doa diucapkan, doa ini begitu merasuk ke jiwaku dan dapat kumengerti dan kucerna dengan mudah. Doa-doa di misa ini begitu sederhana, pendek dan menyenangkan, karena para pastor dan para umatnya juga menyanyikan sebagian dari doa yang diucapkan. Semua doa yang diucapkan dan dinyanyikan oleh para pastor dan para umat dan semua sabda yang dibagikan oleh para pastor berisi tentang cinta kasih, kenikmatan, pengampunan dan keagungan Tuhan. Kadang-kadang, para pastor juga berbagi cerita tentang sikap gereja tentang topik-topik dan pertanyaan yang sedang populer di masyarakat, namun pembahasannya melalui persetujuan cinta dan kebaikan, sementara ada salah satu pastor yang selalu meminta para umatnya untuk memegang hati kami sendiri sebelum mendengarkan sabda Tuhan agar hati kami dapat membuka untuk menerima sabda Tuhan. Biasanya, mendengarkan firman Tuhan dari pastor yang satu ini akan membuat mataku menitikkan air mata karena sangat terharu karena dapat membalikkan hati para umat. Sungguh semua ibadah yang ada di gereja ini membuat hatiku menjadi lebih damai dan bahagia.

Di dalam ibadahnya, laki-laki dan perempuan ditempatkan sejajar dan dapat duduk bersama saling berdampingan. Aku bisa sebagai perempuan bisa beribadah kapan saja aku mau, bahkan ketikq aku mendapatkan halangan yang datang kapan saja. Tuhan di agama Katolik ini benar-benar baik hati mau menerima semua umat-Nya bersama dan berdampingan tanpa harus dipisah, dan dalam keadaan dan kondisi tubuh dan kesehatan apa pun.

Berpakaian dalam ibadah agama Katolik ini pun tidak sulit. Cukup mengenakan pakaian yang sopan dan pantas, maka kami dapat menerima ibadah dengan nyaman. Ini semua memang karena hanya hati yang terbuka yang perlu diambil diambil ibadah di gereja. Aku pun sebagai perempuan tidak perlu mengenakan kostum khusus di gereja atau di luar gereja sebagai bentuk ketaatanku di agama Katolik ini. Buatku, terasa sekali agama Katolik ini sederhana dan tidak sulit. Agama Katolik ini mengajarkan mendukung keimanan tumbuh dari hati yang terbuka dan tulus, bukan dengan mengenakan kostum tertentu.

Setelah selesai misa, aku pun masih terus menerima kehadiran Tuhan di dalam lingkungan gereja ini.

Para pastor biasanya akan berada di belakang gereja setelah selesai misa untuk beramah tamah dan menyalami para umatnya satu per satu, baik laki-laki dan perempuan, dan memberikan berkat kepada umatnya jika diperlukan. Buatku, bersalaman dengan para pastor ini adalah suatu berkat khusus. Bila bersalaman adalah tanda dari sebuah perdamaian, maka bersalaman dengan pastor adalah berkat perdamaian dari Tuhan sendiri yang diberikan melalui perantaraan para pastor ini. Terasa sejuk sekali di hati ini. Semoga Tuhan selalu memberkati para pastorku tercinta!

Pada suatu waktu, aku bertemu dengan seorang wanita dari Filipina yang membagikan satu-satunya kertas doanya kepadaku setelah misa selesai. Waktu aku menolak karena petidak pantas menerima kertas doa yang mungkin saja masih diperlukan oleh sang ibu ini, dia meminta aku tidak perlu kuatir karena dia akan selalu mendapatkan kertas doa yang lain dari gereja. Sungguh suatu manfaat untuk berbagi yang tulus! Kertas doa yang diberikan ibu ini berisi doa Koronka kepada Kerahiman Ilahi dalam bahasa Inggris yang diambil dari buku harian Santa Maria Faustina, yang akhirnya menjadi nama Krismaku.

Di dalam dan di luar gereja pun kami dapat menemukan kertas doa yang tersebar di seluruh sudut gereja, baik dalam bentuk buku, selebaran, brosur dan foto kopian. Biasanya, para umat sendiri yang menempatkan kertas-kertas doa ini sebagai tanda rasa bersyukur dengan doa-doa mereka dikabulkan oleh Tuhan.

Di dalam diriku sendiri, aku menemukan kesembuhan setelah sering mengikuti ibadah misa di gereja dan berdoa dengan cara yang sesuai dengan ajaran agama Katolik ini. Ada banyak luka batin yang ada di tubuhku dan ada sesuatu yang menempel di tubuhku. Dulu, dua hal ini tidak mau dipulihkan dan hilang dari tubuhku. Setelah sering ke gereja dan berdoa dengan cara yang sesuai dengan agama Katolik, luka batin itu pelan-pelan sembuh dan apq yang menempel di tubuhku pun pelan-pelan lepas dan menghilang. Kini hidupku menjadi terasa lebih ringan dan bahagia, dan aku pun lebih bahagia tentram dan damai. Aku percaya bahwa Tuhan memang mau menyembuhkan aku dengan cara-Nya yang sangat istimewa ini.

Dari Kegiatan di gereja, saya juga belajar tentang indahnya Berbagi. Semakin sering kami berbagi, maka kami pun akan mendapatkan balasan yang setimpal, bahkan mungkin lebih baik dan meluap, yang pada akhirnya kami harus bagikan kembali. Sebuah siklus yang diputar! Di gereja, kami dibor untuk berbagi mulai dari beramal dengan memasukkan uang ke kotak kolekte, kotak pemeliharaan gereja, kotak kebersihan, dan aktif dalam berbagai kegiatan lain selain misa. Hal-hal ini begitu membekas di pikiranku, jadi sekarang aku senang berbagi apa pun kepada orang lain.

Baca Juga:

Akhirnya, aku memutuskan untuk menjalani proses Katekumen, yaitu pembelajaran bagi para kandidat baptis (Katekumenat). Bersama dengan para katekumenat yang lain, kami belajar agama Katolik adalah warta gembira bagi yang mencarinya dan bahwa Tuhan itu adalah cinta kasih yang hidup di hati dan perbuata kami. Aku sendiri pun akhirnya mengambil kesimpulan sendiri bahwa Tuhan itu harus dicari oleh penganutnya sendiri dan agama harus dipelajari oleh orang yang mau menganutnya. Pada saat proses Katekumen ini, aku mendapatkan lagi keajaiban dari Tuhan, yaitu proses pembaptisanku dipercepat menjadi awal bulan Desember 2013 dari jadwal yang dikeluarkan, yaitu Maret 2014. Dari kejadian ini, aku benar-benar merasakan cinta kasih Tuhan yang luar biasa. Dia tidak mau menunggu aku terlalu lama menunggu di depan halaman rumah-Nya untuk betul-betul masuk ke rumah-Nya. Sementara di dalam bayanganku, Tuhan tidak hanya membuka pintu rumah-Nya lebar-lebar, namun Dia juga memegang tanganku dan menariknya agar aku bisa segera masuk ke dalam rumah-Nya dan memeluk-Nya dengan erat.

Kerinduanku terhadap Tuhan benar-benar terjawab lengkap. Aku masuk ke jalan-Nya yang beragama Katolik ini dan menemukan-Nya di jalan ini. Tidak hanya menemukan Tuhan, namun Tuhan pun datang sendiri kepadaku dan menerima aku istimewa melalui berkat, kemudahan, kebaikan, kesembuhan dan keajaiban yang Dia tunjukkan dan berikan kepadaku. Aku percaya dia telah menyelamatkan aku dari jalan yang kurang tepat untuk diriku sendiri.

Tuhanku yang sekarang ini begitu baik. Aku mencintai-Nya. Terima kasih, Tuhanku yang baik.

Jadi, dulu namaku adalah Astrid Amalia. Sekarang, namaku adalah Theresia Maria Faustina Astrid Amalia. Theresia adalah nama baptisku yang kuambil dari Santa Theresia Kanak-kanak Yesus, si Bunga Kecil dan Jalan Kecil yang juga merupakan Pelindung Misi dan Doktor Gereja. Maria Faustina adalah nama Krismaku yang kuambil dari Santa Maria Faustina yang menulis buku harian tentang Kerahiman Ilahi.

Setelah benar-benar memeluk agama Katolik secara resmi, aku benar-benar merasakan berkat Tuhan yang luar biasa indahnya. Saya sebagai manusia biasa dapat saja mengeluarkan sekuat tenaga dengan kekuatanku sendiri, namun jika ditambah dengan doa langsung kepada Tuhan atau pun melalui perantaraan Yesus Kristus, Bunda Maria, Yosef, para Roh Kudus, para Malaikat dan para Santo dan Santa, maka diharapkan akan jauh lebih banyak baik dan lebih dahsyat yang membuat saya kebanjiran berkat yang pada akhirnya harus dibagi kepada sesama. Sekali lagi, ini adalah siklus yang dipersiapkan Tuhan yang memanggilku.

Selama proses spiritual dan rohani ini, jauh dari semua dukungan yang datang dari para sahabat-sahabat dan sebagian kecil dari keluargaku yang mengerti aku, aku pun membutuhkan perjalanan yang berliku yang datang dari luar diriku. Tentunya tidak ada jalan yang selalu mulus.

Saat tau bahwa aku sudah sering beribadah ke gereja, salah satu kerabat terdekat dari keluargaku mengatakan bahwa aku pindah agama, maka aku akan menambah dosa orang tuaku dan mereka akan ke neraka. Jawab saya saat itu adalah jika karena keputusan untuk pindah agama itu datang dari diri saya sendiri,saya harus ke neraka . Orang tuaku malah akan masuk surga karena telah memberikan pendidikan beragama yang lebih dari cukup, yaitu pendidikan agama yang dulu aku anut di rumah dan pendidikan agama Katolik di sekolah.

Setelah dibaptis, salah satu temanku mengatakan agama Katolik itu dengan begitu rendahnya, dan dia juga mengatakan sebuah kata yang menyiratkan bahwa aku penganut agama Katolik tidak pantas berkomentar untuk memperbaiki gerakan agama lain. Di dalam hati, aku hanya berucap bahwa biarlah agama Katolikku ini penuh dengan kekurangan kami umat-Nya semakin rendah hati dalam menjalankan ibadah kami, dan biarlah aku dicap sebagai penganut agama Katolik demgan cara hidup,yang berbeda dengan agama lain.

Perjalanan spiritual dan rohaniku belum selesai. Aku percaya bahwa masih akan ada perjalanan spiritual dan spiritual yang diberikan Tuhan yang perlu tetap menarik dan berharga. Aku menghargai sekali Tuhanku yang sekarang ini mau menyediakan waktu-Nya yang berharga untuk mengetuk hatiku dan memenangkanku dengan cara-Nya yang bermanfaat sekali melalui agama Katolik yang aku anut sekarang, dan pada akhirnya Dia pun tinggal di dalam diriku. Semoga Tuhan dan Berkat-Nya ini selalu bertahan di dalam diriku selamanya.

Sekali lagi, Tuhanku yang sekarang ini begitu baik. Aku mencintai-Nya. Terima kasih, Tuhanku yang baik.

Dei Gratia. Berkah Dalem. Semoga aku dan semua makhluk hidup di alam semesta ini selalu diberkati oleh kemuliaan dan keagungan Tuhanku yang baik hati sekarang dan selama-lamanya. Amin

Sumber:astridamalia.blogspot.com

Kisah Daniel Ali: Dari Islam Menjadi Katolik

0

Pada tahun 1959 saya dilahirkan dalam sebuah keluarga Muslim di Kurdistan di Irak utara. Saya adalah anak kelima dari sebuah keluarga besar. Budaya Arab dan agama Islam adalah pengaruh yang amat dominan, yang menaungi tiga negara di Irak, namun negara yang terbesar adalah Kurdistan. Saya memulai belajar secara formal bahasa Arab pada saat usia saya menginjak dua belas tahun. Seiring berjalannya waktu, pada saat saya berusia enam belas tahun, saya menulis puisi dalam bahasa Arab, yang beberapa di antaranya telah diterbitkan pada awal tahun 1976.

Kegiatan politik saya, di oposisi Kurdistan untuk melawan Saddam Hussein, sebagian besar terjadi di Irak. Saddam Hussein, dari salah satu begitu banyaknya invasi kepada masyarakat Kurdi, adalah memindah secara paksa masyarakat dari kampung halaman mereka, mengusir mereka ke negara bagian lain, dan untuk merampas sekaligus dan mengamankan kekuasaannya atas ladang minyak di Kurdi. Sehingga mulai tahun 1975, upaya aktif saya adalah untuk membebaskan orang-orang Kurdi dengan menyatukan mereka secara politis.

Dan untuk ini, saya telah mengalami begitu banyak penderitaan di penjara dan juga telah disiksa beberapa kali oleh Saddam. Dengan menutup pertemuan saya dengan ‘’kematian”, hal ini bisa dipandang sebagai sebuah “keberuntungan” karena pada saat itu beberapa tentara telah menyerang Kurdistan dan menghabisi nyawa beberapa rekan saya. Telah berkali-kali Tuhan menyelamatkan hidup saya, dari kematian yang tampaknya datang begitu dekat melalui keputusan hakim, pada sebuah bom kimia yang jatuh seperti hujan di Kurdistan. Namun, saya tetap tidak menyadari bahwa itu adalah pertolongan dari tangan Tuhan.

Di kemudian hari, saya terus menerus memperjuangkan hak kebebasan di negara saya, saya sering menghabiskan beberapa bulan di pegunungan, dengan didampingi hawa dingin, rasa lapar, ketakutan yang begitu mendera, dan beberapa kolega saya yang merasa telah ditinggalkan oleh bangsa-bangsa di dunia. Lalu pada tahun 1988, saya melihat didepan mata saya, teman-teman yang begitu saya cintai mati menggenaskan dalam serangan bom kimia di kota Halabja. Saya mulai memahami kelemahan dari setiap orang karena dosa-dosanya dengan keputusasaan hidup tanpa naungan Tuhan.

Ketertarikan awal saya pada Iman Kristiani

Sejak awal hidup saya, hati saya begitu tertarik pada cara hidup orang Kristen, terutama dari kenangan saya yang paling awal dari tetangga Kristen saya, banyak hal dari mereka yang telah memberikan sebuah contoh yang indah dari kasih Kristus. Mengingat mereka, telah meninggalkan saya, maka saya sadar sebuah relasi nyata bahwa Allah telah memanggil saya, bahkan sejak masa kecil saya.

Suatu hari, seorang Katolik Armenia memberikan kepada saya sebuah buku tentang para martir dari Gereja awal. Saya membacanya dan terinspirasi untuk membela secara hidup dan mati kebebasan teman-teman saya di Kurdistan. Saya mempunyai kebiasaan senang membaca, selama masa mudaku dengan membaca secara luas ilmu teologi, filsafat, dan sejarah. Karena hal tersebut, saya telah menjadi seorang yang fasih dalam berbahasa Inggris yang juga dipengaruhi dengan membaca karangan Voltaire, Hegel, dan Dickens, dan beberapa nama terkenal lainnya.

Akhirnya saya melanjutkan studi saya pada iman Kristen kepada Santo Thomas Aquinas. Dengan investigasi yang konsisten dan perbandingan teologi antara Islam dan Kristen, saya mulai mengenali kebenaran agama Kristen pada awal tahun 1982. Tapi hal ini hanya pengakuan secara intelektual saja. Saya hanya mengakui bahwa Yesus adalah seorang Mesias, namun saya tidak mengenal Ia secara pribadi.

Beberapa saat setelah Perang Teluk Persia, saya menikah dengan Sara, seorang Kristen dari Amerika, lalu saya mengatakan kepada istri saya, bahwa saya percaya Yesus adalah Mesias. Namun dia sama sekali tidak mempunyai niat apapun untuk mengubah saya menjadi seorang Kristen. Saya melakukan hal ini dengan fakta bahwa saya mengakui dan percaya sepenuhnya bahwa Yesus adalah seorang Mesias.

Muslim memahami istilah-istilah ini dengan perbedaan yang signifikan dari cara Kristen memahami mereka. Istri saya tahu bahwa hal ini adalah kesepakatan serius dan tidak main-main, kami telah bertahan selama dua tahun kedepan, dari semua badai yang menggeluti hubungan pernikahan kami yang berbeda budaya dan agama. Melalui banyak argumen dan ketidaksepakatan yang pahit, saya perlahan-lahan mulai melihat bahwa Sara terus memaafkanku, mencintai saya, dan ingin saya menjadi diri saya sendiri.

Lalu tanpa sepengetahuan istri saya, saya mulai menyadari bahwa istri saya adalah kesaksian hidup nyata dari Pribadi Kristus dalam perjuangan pernikahan kita. Pada akhirnya, saya mulai bangun pada malam hari untuk membaca Kitab Perjanjian Baru secara diam-diam. Hal ini semakin mendekatkan kepada Tuhan, karena saya telah bertemu dengan-Nya didalam SabdaNya yang kudus, Alkitab.

Di kemudian hari, kami berangkat ke Amerika Serikat pada awal tahun 1993 untuk melanjutkan usaha kecil Sara, yang telah berjalan pada saat itu. Dan saat itu juga, saya telah menyisihkan sebagian besar hidup saya untuk mempelajari Teologi Islam dan Kekristenan. Observasi ini membawa saya pada sebuah perjalanan, yang akhirnya telah membawa saya kepada Yesus Kristus, yang saya akui secara intelektual sebagai seorang Mesias. Namun pada saat itu, bagaimanapun juga saya belum membuat komitmen untuk segera di Baptis.

Baca Juga:

Baptisan, Konversi, dan Gereja Katolik

Suatu hari saya didekati oleh dokter gigi saya, Doktor Blevins, yang berdoa bersama dengan saya yang pada akhirnya membawa iman saya kepada Kristus selama musim panas tahun 1995. Saya kemudian dibaptis didalam Kristus pada tanggal 17 September 1995. Dan mulai hari itu semua yang ada didalam hidup saya berubah.

Saya segera memberitahu teman-teman Muslim saya, dengan menceritakan mengapa saya menjadi seorang Kristen dan ini merupakan sebuah upaya besar untuk menginjili mereka. Saya mempelajari Alkitab dan saya sudah mulai bisa mengutip beberapa bab dan ayat, dan mulai bersaksi kepada semua orang yang mau mendengarkan. Banyak memang yang mendengarkan, dan benar, beberapa orang mulai tertarik kepada Kristus dan Alkitab.

Saya sadar, bahwa saya saat ini saya telah memiliki apa yang diperlukan oleh bangsa saya, dan juga kepada orang Muslim seluruh dunia. Saya punya Injil, dan tidak ada seorang pun yang bisa mencegah saya untuk mewartakan Firman Tuhan.

Beberapa tahun ke depan atau lebih, saya telah membaca selama berjam-jam setiap hari, menyaksikan ratusan orang yang datang ke tempat kerja saya, yang menemukan saya bahwa saya memiliki karunia untuk membawa orang kepada iman didalam Kristus dan untuk menguatkan kembali Iman mereka. Dalam pekerjaan kecil saya ini, di lingkungan saya, di antara orang asing dan teman-teman saya, saya tidak menemukan apa-apa lagi selain Yesus Kristus.

Sekarang, pertobatan saya telah menginjak umur 8 tahun. Dalam rentang waktu tersebut, Tuhan telah menggunakan saya sebagai saksiNya untuk membawa banyak orang kepada-Nya, beberapa dari mereka Muslim, beberapa dari mereka ada orang murtad, adapula seorang dari mereka yang Atheis. “Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.” (Markus 8:38)

Segera setelah pembaptisan saya, Sara dan saya memulai studi Alkitab dalam ruang lingkup lingkungan, dan setiap orang dari berbagai denominasi bisa datang. Suatu saat, pada saat kami sedang studi Alkitab, datanglah seorang bocah (tetangga saya) berumur sembilan tahun, namanya adalah Joe Sobran, yang membacakan kepada kami, pertanyaan dan jawaban dari Katekismus Baltimore. Sara dan saya sempat terkejut, pada beberapa pertanyaan unik yang juga disambut dengan sebuah jawaban sederhana dan begitu mendalam darisetiap bab.

Si Joe kecil pun tidak menyerah, ia bertanya kepada kami, mengapa tidak menjadi seorang Katolik saja. Dia berjanji akan menanam setiap benih, setiap kali ia berbicara kepada kami berkaitan dengan iman Katolik.

Suatu malam, Sara dan saya sedang menonton televisi, dan saa itu ada siaran Misa disebuah stasius televisi yang bernama EWTN, dan tepat sekali, pada momen saat itu yaitu konsekrasi. Ketika Immam itu mengangkat Hosti. Kami terkejut karena hormat yang begitu indah dari umat kepada Yesus. Dan kemudian imam mengangkat piala, yang juga merupakan sebuah keindahan bagi kami. Keindahan dari jubah Imam, menunjukkan kepada saya sebuah arti, bahwa hanya yang terbaiklah yang bisa kita berikan kepada Allah. Sara dan saya tiba-tiba mengerti bahwa keindahan dalam Gereja Katolik berada di sana karena itu benar-benar Rumah Tuhan.

Pada tahun 1996, Sara dan saya diperkenalkan dengan teolog Katolik bernama Pastor William G. Most, yang juga mengajarkan kami berdua, teologi Katolik. Dia dengan murah hati memberikan waktu setiap hari Minggu selama satu tahun setengah, untuk membawa kami berdua kedalam Gereja Katolik. Kami diterima ke dalam Gereja Katolik pada tanggal 13 Juli 1998 dengan sebuah Misa khusus.

Pastor William kemudian meninggal pada bulan Januari tahun 1999. Hal itu bagi saya adalah sebuah berkat kekal, dimana dengan duduk di kakinya dan belajar iman Katolik, mendorong saya untuk berbuat sesuatu di mana Kristen dan Muslim bisa berdialog.

Setelah kematiannya, saya terus melanjutkan misi hidup saya untuk mencapai Muslim. Dan misi ini berbuah kesuksesan namun dengan urgensi yang baru, setelah peristiwa mengerikan pada tanggal 11 September 2001. Ini jelas menjadi menjadi sebuah pilihan bagi banyak orang, bahwa Muslim dengan begitu agresif akan “menginjili” Barat melalui berbagai bentuk jihad mereka, atau kita yang akan menginjili mereka dengan Kabar Baik Yesus Kristus.

Saya telah meminta untuk berbicara beberapa kali sejak tragedi itu. Pembicaraan ini berbicara tentang realitas Islam, strategi mereka untuk mengubah kita menjadi Islam, dan apa yang bisa kita lakukan untuk mendengar dan menerima mereka dalam pangkuan Gereja.

Di masa lalu, orang-orang Kristen telah tergantung pada Alkitab untuk menginjili umat Islam. Namun strategi ini telah diketahui secara pasti oleh kaum Muslim. Karena mereka percaya bahwa orang Kristen dan Yahudi telah merusak Alkitab. Namun sebaliknya! Kita harus mengembangkan bukan sebuah metode untuk menjangkau umat Islam dengan menggunakan sumber mereka, seperti Al-Qur’an dan berbagai tradisi tentang Muhammad. Namun semua dari kita di Barat harus belajar sekarang, untuk belajar bagaimana, melibatkan agama dan budaya yang sama sekali asing bagi budaya Yahudi-Kristen.

Peristiwa ini menyerukan kepada kita sebuah strategi baru. Semoga Tuhan membimbing dan memberdayakan kita untuk tugas ini dengan kuasa Roh Kudus dan kasih karunia Putra-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga bermanfaat.

Dominus illuminatio mea.

Sumber:katolisitas-indonesia.blogspot.com

Ketua GP Ansor Jateng Beri Hadiah Batik Truntum Kepada Paus Fransiskus

1

Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah Sholahuddin Aly atau yang akrab disapa Gus Sholah, memberikan hadiah kepada Paus Fransiskus berupa sebuah kain batik bermotif truntum saat berkunjung ke Kota Vatikan (25/9/2019).

Berdasarkan keterangan tertulis, Gus Sholah memberikan hadiah tersebut di sela-sela kegiatannya mendampingi Katib Aam Syuriah PBNU Kiai Haji Yahya Cholil Staquf dan Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas di Vatikan. Pada kesempatan tersebut, Gus Sholah yang berada di kerumunan umat secara khusus dipanggil untuk mendekat ke kawasan VVIP atau tamu khusus untuk bersalaman, dan kemudian memberikan hadiah kepada Paus Fransiskus berupa batik motif truntum, karya perancang busana ternama Indonesia, Iwan Tirta.

“Barusan ikut audiensi umum dengan Paus Fransiskus, saya dipanggil untuk mendekat masuk barikade tamu VVIP. Saya memperkenalkan diri lalu memberi hadiah batik motif truntum untuk Paus Fransiskus,” tuturnya. Gus Sholah mengatakan, pemberian hadiah berupa batik kepada Paus Fransiskus bukan tanpa alasan. Seperti diketahui batik merupakan cendera mata khas dari Indonesia di mata dunia internasional. Selain itu, pemilihan batik motif truntum untuk Paus, memiliki pesan tentang keindahan serta keabadian cinta kasih sesama umat manusia.

Baca Juga:

Pada momentum tersebut, Paus menyampaikan sejumlah pesan, antara lain pesan untuk saling mendoakan. “Sambil salaman, Paus Fransiskus beberapa kali bilang ‘pray for me’ dua sampai tiga kali ke saya,” ujar Gus Sholah. Selain Paus Fransiskus, Gus Sholah juga telah memberikan hadiah Batik pada Sekretaris Pontifical Council for Interreligious Dialogue Vatican Mgr. Indunil Kodithuwakku, di Vatikan, Selasa (24/9/2019).

Adapun kunjungan ke Vatikan ini, membawa misi yakni melakukan sosialisasi dan kampanye perdamaian dan Islam yang ramah dengan menjalin kerja sama antara Nahdlatul Ulama dan Vatikan. Sosialisasi yang dimaksud adalah hasil Musyawarah Nasional Alim Ulama di Banjar Patroman, Jawa Barat pada Februari 2019. Munas Alim Ulama antara lain memutuskan menghilangkan sebutan kafir bagi Warga Negara Indonesia yang tidak beragama Islam.

 Sumber:https://www.ayosemarang.com

Menemukan Gereja Katolik Melalui Sejarah

1

Kisah Dr. David Anders, Ph.D.

Saya tumbuh sebagai seorang Kristen Protestan Injili di Birmingham, Alabama. Kedua orang tua saya itu penuh kasih dan pengabdian, tulus dalam iman, dan sangat terlibat dalam gereja kami.

Dalam diri saya, mereka menanamkan penghormatan terhadap Alkitab sebagai Firman Allah, dan menginginkan saya supaya hidup dalam iman akan Kristus.

Para misionaris (penginjil Protestan –red.) sering mengunjungi rumah kami dan mereka membawa antusiasme untuk pekerjaan mereka. Rak-rak buku di rumah kami dipenuhi dengan buku teologi dan apologetika.

Sejak usia dini, saya meresapkan keinginan bahwa panggilan hidup tertinggi saya adalah mengajarkan iman Kristen. Saya kira tidak mengherankan jika saya kemudian menjadi seorang sejarawan Gereja, tapi saya tidak mengira menjadi seorang Katolik.

Gereja keluarga saya secara istilah adalah Presbiterian, tapi perbedaan denominasi tidak begitu penting bagi kami. Saya sering mendengar tentang perbedaan pendapat mengenai Pembaptisan, Perjamuan Tuhan, atau kepemimpinan dalam gereja, semuanya tidak penting selama seseorang percaya akan Injil.

Dengan ini, kami bermaksud bahwa seseorang harus “dilahirkan kembali,” keselamatan hanyalah oleh iman semata, dan Alkitab adalah satu-satunya otoritas dalam iman Kristen.

Gereja kami mendukung pelayanan dalam berbagai macam denominasi Protestan, tapi satu-satunya kelompok yang tentu saja kami tentang adalah Gereja Katolik.

Mitos tentang “pemulihan” Protestan akan Injil begitu kuat dalam gereja kami. Sejak awal saya belajar untuk mengidolakan para reformis Protestan yaitu Martin Luther dan John Calvin, karena mereka diduga telah menyelamatkan Kekristenan dari kegelapan agama Katolik pada abad pertengahan.

Orang Katolik itu adalah mereka yang percaya dalam “perbuatan baik” untuk membawa mereka ke Surga, mereka yang tunduk terhadap tradisi Gereja dari pada Kitab Suci, mereka yang menyembah Maria dan para kudus daripada Allah sendiri.

Obsesi mereka dengan sakramen-sakramen juga menciptakan rintangan besar kepada iman yang sejati dan hubungan pribadi dengan Yesus. Tidak diragukan lagi, orang Katolik bukan orang Kristen sejati.

Gereja kami bercirikan dengan semacam intelektualitas yang penuh keyakinan. Presbiterian cenderung untuk lebih berpikiran teologis, maka yang sering menjadi pembicara dalam konferensi kami adalah para profesor, apologis, ilmuwan, dan filsuf.

Suasana intelektual itulah yang menarik ayah saya kepada gereja itu, dan rak-rak bukunya dipenuhi dengan karya-karya para reformis seperti John Calvin, Johathan Edwards seorang teolog Puritan, serta penulis-penulis yang lebih baru lainnya seperti B. B. Warfield, A. A. Hodge, C. S. Lewis, dan Francis Schaeffer. Sebagai bagian dari budaya akademis ini, kami menerima begitu saja bahwa penyelidikan yang jujur akan membawa siapa saya ke dalam iman Kristen versi kami.

Baca Juga:

Semua pengaruh ini meninggalkan kesan yang jelas bagi diri saya sebagai seorang anak. Saya mulai melihat Kekristenan sebagai sesuatu yang mirip dengan ilmu fisika Newton. Iman Kristen terdiri dari hukum-hukum tertentu yang sangat masuk akal dan tidak dapat diubah, maka Anda dijamin akan memperoleh kehidupan kekal asalkan Anda membangun hidup Anda dengan prinsip-prinsip tersebut.

Saya juga berpikir bahwa inilah pesan yang jelas sekali dijabarkan dalam buku resmi teologi Kristen, yaitu Alkitab. Hanya orang yang tidak memiliki akal sehat yang percaya akan tradisi manusia atau orang yang bersikap masa bodoh yang akan merusak moral. Sikap-sikap yang bisa menggambarkan kegagalan seseorang untuk memahami kebenaran yang sederhana ini.

Namun dalam suasana yang sangat religius dan teologis ini, ada satu ironi yang aneh. Kami menekankan bahwa imanlah yang menyelamatkan, bukan perbuatan. Kami juga mengakui kepercayaan Protestan klasik yang mempercayai bahwa semua orang itu “benar-benar rusak,” yang berarti bahwa upaya moral terbaik yang dilakukan pada hakekatnya adalah kebencian kepada Allah dan tidak bisa mendapatkan apa-apa.

Pada saat saya berada di SMA, saya mengumpulkan kepingan-kepingan ini dan menyimpulkan bahwa praktik hidup beragama dan perjuangan moral itu kurang lebih tidak relevan dengan kehidupan saya.

Saya sudah menerima Kristus sebagai Juruselamat dan sudah “dilahirkan kembali.” Saya percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Saya juga percaya bahwa perbuatan menurut agama atau perbuatan menurut moral itu tidak memiliki nilai. Jadi saya berhenti menjalankan agama dan moral.

Untungnya, ketidakpedulian saya hanya bertahan beberapa tahun saja, dan di perguruan tinggi saya mengalami suatu perubahan keyakinan kepada iman yang begitu tulus.

Saya menemukan bahwa kebutuhan saya akan Allah begitu dalam dari pada sekadar “asuransi kebakaran.” Saya juga bertemu dengan seorang gadis cantik yang kemudian, bersama dengan dia, kami memulai pelayanan di gereja Protestan. Jill secara formalitas tumbuh sebagai seorang Katolik, namun gagal mempertahankan imannya setelah menerima Sakramen Peneguhan.

Bersama-sama, kami bertumbuh lebih dalam lagi di iman Protestan kami, dan setelah beberapa bulan, kami berdua merasa kecewa dengan suasana duniawi di New Orleans University. Kami menyimpulkan bahwa Midwestern and Evangelical Wheaton College bisa menyediakan lingkungan yang lebih spiritual, dan kita berdua dipindahkan di tengah tahun kedua kami belajar (Januari 1991).

Wheaton College adalah mercusuar bagi orang Kristen Injili yang tulus hati dari berbagai latar belakang. Orang-orang Protestan dari berbagai denominasi ada di sana, mereka dipersatukan dalam komitmen mereka kepada Kristus dan Alkitab.

Masa kecil saya telah mengajarkan bahwa teologi, apologetika, dan penginjilan adalah panggilan hidup tertinggi sebagai seorang Kristen, dan saya menemukan semuanya itu begitu melimpah di Wheaton. Di sanalah saya pertama kali berpikir untuk membaktikan diri saya untuk belajar teologi. Di Wheaton juga, saya dan Jill bertunangan.

Setelah lulus, saya dan Jill menikah dan akhirnya menemukan jalan kami ke Trinity Evangelical Divinity School di Chicago. Tujuan saya di sana adalah untuk mendapatkan pendidikan seminari, dan juga untuk menyelesaikan gelar Ph.D saya. Saya ingin menjadi salah seorang profesor teologi yang sangat dikagumi di gereja sewaktu saya masih muda.

Saya menenggelamkan diri sepenuhnya ke seminari. Saya sangat menyukai mata kuliah teologi, Kitab Suci, dan sejarah Gereja, dan saya bertumbuh dalam iman, kepercayaan diri, dan rasa akan misi yang melingkupi sekolah saya itu. Saya juga menyerap lingkungannya yang anti-Katolik.

Saya berada di sana pada tahun 1994 ketika dokumen “Evangelicals and Catholics Together[1]” dipublikasikan untuk pertama kalinya, dan hampir semua fakultas sepakat untuk menentangnya. Mereka melihat adanya kompromi dengan orang Katolik yang berarti pengkhianatan terhadap Reformasi. Orang Katolik itu sama sekali bukan saudara di dalam Tuhan. Mereka adalah orang-orang murtad.

Saya menerima sikap anti-Katolik dari profesor seminari saya, jadi ketika tiba saatnya saya untuk melanjutkan studi, saya memutuskan untuk fokus pada studi sejarah Reformasi.

Saya pikir tidak ada persiapan yang lebih baik untuk menyerang Gereja Katolik dan memenangkan jiwa-jiwa selain dari memahami sepenuhnya pemikiran pemimpin besar iman kita, yaitu Martin Luther dan John Calvin.

Saya juga ingin memahami sejarah Kekristenan secara menyeluruh, sehingga saya bisa menempatkan Reformasi dalam konteks itu. Saya ingin menunjukkan bahwa gereja pada abad pertengahan telah meninggalkan iman yang sejati dan bagaimana para Reformis memulihkannya.

Untuk tujuan ini, saya memulai studi Ph.D. dalam bidang teologi historis di University of Iowa. Saya tidak pernah membayangkan bahwa sejarah Gereja Reformasi akan membawa saya kepada Gereja Katolik.

Sebelum saya memulai studi di Iowa, saya dan Jill menyaksikan kelahiran anak pertama kali, dia seorang anak laki-laki. Adik laki-lakinya lahir dalam waktu kurang dari dua tahun kemudian, dan adik perempuannya lahir sebelum kita meninggalkan Iowa (sekarang kami memiliki lima orang anak – artikel ini ditulis tahun 2012).

Istri saya sangat sibuk dalam merawat anak-anak kami ini, sementara itu saya berkomitmen hampir sepenuhnya untuk studi saya.

Saya sekarang menyadari bahwa waktu itu saya terlalu banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, dan sedikit waktu dengan istri, kedua putra saya yang masih bayi, dan putri saya. Saya pikir bahwa saya telah membenarkan sikap pengabaian terhadap mereka dengan mengandalkan rasa akan misi saya.

Saya memiliki panggilan hidup yang tinggi untuk menjadi saksi iman melalui studi teologi dan melihat dari sudut pandang seorang intelektual terhadap iman Kristen dan tugas saya sebagai seorang Kristen.

Bagi umat Kristen Injili, apa yang seseorang yakini itu lebih penting daripada bagaimana seseorang itu hidup. Pada waktu itu, saya belajar bagaimana mempertahankan dan mempromosikan kepercayaan itu. Mana yang lebih penting?

Saya memulai studi Ph.D. saya pada bulan September 1995. Saya mengambil kuliah sejarah awal mula Kekristenan, abad pertengahan dan Reformasi Gereja. Saya membaca tulisan para Bapa Gereja, para teolog Skolastik, dan Pencetus Reformasi Protestan.

Pada setiap tahap itu, saya berusaha untuk menghubungkan para teolog yang ada kemudian dengan para teolog sebelum mereka, dan juga menghubungkan semua teolog itu dengan Kitab Suci.

Saya bertujuan untuk membenarkan Reformasi, dan ini berarti intinya untuk menyelidiki doktrin “dibenarkan hanya oleh karena iman / sola fide.” Bagi umat Protestan, hal ini menjadi salah satu doktrin yang terpenting yang “dipulihkan” oleh Reformasi.

Para Reformis bersikeras bahwa mereka mengikuti Gereja kuno dalam ajaran “hanya iman,” dan mereka membuktikan dengan menunjuk tulisan Bapa Gereja Agustinus dari Hippo (354-430).

Baca Juga:

Para profesor seminari saya juga menunjuk Agustinus sebagai mata air asli teologi Protestan. Alasannya karena Agustinus menaruh minat yang dalam terhadap doktrin dosa asal, rahmat, dan dasar kebenaran.

Beliau merupakan Bapa Gereja pertama yang berusaha menjelaskan secara sistematik pembahasan-pembahasan bertema Pauline[2]. Beliau juga menarik suatu perbedaan yang jelas antara “perbuatan” dan “iman” (lihat dalam “On the Spirit and the Letter” / Tentang Roh dan Surat, 412 M).

Ironisnya, penyelidikan terhadap doktrin ini dan tentang St. Agustinus yang memulai perjalanan saya menuju Gereja Katolik.

Kesulitan pertama yang muncul ketika saya mulai memahami apa yang sebenarnya Agustinus ajarkan tentang keselamatan. Singkatnya, Agustinus menolak pemahaman “hanya iman.”

Memang benar beliau sangat menghargai iman dan rahmat, namun beliau melihat bahwa keduanya itu terutama sebagai sumber dari perbuatan kita. Agustinus mengajarkan bahwa kita secara harafiah “layak” untuk hidup kekal ketika hidup kita diubah oleh kasih karunia. Hal ini sangat berbeda dengan sudut pandang Protestan.

Implikasi dari penemuan saya sangat mendalam. Sewaktu kuliah dan di seminari, saya cukup tahu pemahaman bahwa Agustinus itu mengajarkan tidak lebih dari doktrin Katolik Roma tentang dasar kebenaran. Kemudian saya memutuskan untuk pindah ke Bapa Gereja sebelumnya untuk mencari “iman yang murni” pada zaman Kekristenan kuno. Sayangnya, para Bapa Gereja sebelumnya tidak seberapa membantu seperti Agustinus.

Agustinus berasal dari Afrika Utara yang berbahasa Latin. Para Bapa Gereja lainnya berasal dari Asia Kecil, Palestina, Suriah, Roma, Gaul, Galia, dan Mesir. Mereka mewakili berbagai macam budaya, berbicara bahasa yang berbeda, dan berkaitan dengan Rasul yang berbeda pula.

Saya berpikir mungkin saja beberapa dari mereka telah salah memahami Injil, tetapi sepertinya tidak mungkin mereka semua keliru. Iman yang benar harus dinyatakan di suatu tempat di dunia zaman kuno.

Satu-satunya masalahnya adalah saya tidak bisa menemukannya. Ke mana pun saya mencarinya, di belahan benua mana pun, pada abad berapa pun, Para Bapa Gereja sepakat: keselamatan itu ada melalui perubahan kehidupan moral dan bukan hanya dengan iman.

Mereka juga mengajarkan bahwa perubahan itu dimulai dan dipelihara dalam sakramen, dan bukan melalui pengalaman pertobatan individu.

Pada tahap perjalanan iman saya ini, saya masih ingin tetap menjadi seorang Protestan. Seluruh hidup, perkawinan, keluarga, dan karir saya terikat dalam Protestanisme.

Pencarian saya dalam sejarah Gereja adalah ancaman besar bagi identitas saya itu, jadi saya pindah jurusan ke studi Alkitab untuk mencari kenyamanan dan bantuan peneguhan.

Saya berpikir bahwa jika saya sangat yakin akan sikap protes para Reformis terhadap Kitab Suci, maka pada dasarnya saya dapat mengabaikan sejarah Kekristenan selama seribu lima ratus tahun.

Saya menghindari berbagai hal berbau Katolik yang bisa melemahkan iman saya, seperti bidang ilmu ataupun buku-bukunya.

Yang saya lakukan adalah fokus tentang tujuan, sejarah, dan karya-karya Protestan dalam studi Alkitab saya. Pada saat itu saya sedang mencari bukti yang kuat bahwa para Reformis itu benar dalam pemahaman mereka akan Paulus. Apa yang saya tidak tahu adalah pengajaran terbaik Protestan pada abad ke-20 telah menolak ajaran Luther tentang membaca Alkitab.

Luther telah mendasarkan seluruh penolakannya terhadap Gereja berdasarkan perkataan Paulus, “Bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat” (Roma 3:28).

Luther berasumsi bahwa perbedaan antara “iman” dan “perbuatan” berarti tidak adanya peran moralitas dalam proses keselamatan (berdasarkan pandangan Protestan tradisional, perilaku moral adalah tanggapan terhadap keselamatan, tapi bukan faktor yang berkontribusi terhadap keselamatan).

Saya telah mempelajari bahwa para Bapa Gereja mula-mula sudah menolak pandangan seperti itu. Sekarang saya menemukan seluruh jajaran pemikir Protestan juga bersedia untuk memberikan kesaksian bahwa bukan ajaran seperti itu yang dimaksudkan oleh Paulus.

Para Bapa Gereja pada abad ke-2 percaya bahwa Paulus telah menolak perlunya hanya hukum Taurat untuk keselamatan (“melakukan hukum Taurat” = Hukum Musa). Mereka melihat iman sebagai pintu masuk menuju kehidupan Gereja, sakramen, dan Roh.

Iman membenarkan kita sebagai sarana rahmat, tapi iman itu bukan pijakan yang cukup untuk keselamatan.

Apa yang saya lihat dari para pemikir Protestan ternama dan terbaru, mereka memiliki cara pandang yang sama akan hal ini. Dari sepertiga pemikir Protestan abad ke-20 seperti E. P. Sanders, Krister Stendhal, James Dunn, dan N. T. Wright, mereka berpendapat bahwa Protestanisme tradisional telah salah membaca maksud Paulus.

Berdasarkan Stendhal dan para pemikir lainnya, dibenarkan oleh iman terutama karena hubungan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, bukan tentang peran moralitas sebagai syarat kehidupan kekal. Bersama-sama, karya para pemikir itu disebut sebagai “Perspektif Baru tentang Paulus.”

Penemuan saya tentang “Perspektif Baru” ini merupakan titik awal pemahaman saya tentang Kitab Suci. Pertama kali, saya melihat bahwa “Perspektif Baru” adalah “Perspektif Lama” dari para Bapa Gereja mula-mula.

Saya mulai mengujinya terhadap penafsiran saya sendiri tentang tulisan Paulus dan saya menemukan bahwa hal itu masuk akal. Hal itu juga yang mengatasi pergumulan yang sudah lama saya rasakan antara Paulus dengan seluruh isi Alkitab.

Bahkan Luther sendiri mengalami kesulitan dalam menyambungkan penafsirannya terhadap Paulus dengan Khotbah di Bukit, Surat St. Yakobus, dan Perjanjian Lama. Setelah saya mencobanya dengan “Perspektif Baru,” pergumulan ini sirna. Dengan berat hati, saya harus mengakui bahwa para Reformis itu salah tentang dasar kebenaran.

Penemuan-penemuan dalam karya akademis saya ini sejalan dengan penemuan-penemuan dalam kehidupan pribadi saya.

Teologi Protestan sangat membedakan antara kepercayaan dan perilaku, dan saya mulai melihat bagimana hal ini mempengaruhi saya.

Sejak saya masih kecil, saya selalu menentukan bahwa teologi, apologetika, dan penginjilan adalah panggilan tertinggi dalam kehidupan seorang Kristen, sementara itu kebajikan hanyalah buah dari iman yang benar.

Sayangnya, saya merasa bahwa dalam hidup saya kurang berbuah, namun sebenarnya teologi saya berkontribusi terhadap sifat-sifat buruk saya.

Teologi itu telah membuat saya mencari-cari kesalahan, sombong, dan suka melakukan perdebatan. Saya juga menyadari bahwa karena teologi pula saya telah melakukan hal yang sama terhadap para pahlawan saya (para Reformis Protestan–red.).

Semakin saya mempelajari para Reformis Protestan, semakin saya tidak menyukai mereka secara pribadi.

Sangat berbeda dengan apa yang saya pelajari tentang para teolog Katolik. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang kudus, yang berarti mereka telah menghidupi kehidupan amal kasih yang heroik dan penyangkalan diri.

Bahkan yang ternama dari orang-orang kudus itu, seperti Agustinus dan Thomas Aquinas juga mengakui bahwa mereka tidak memiliki otoritas pribadi untuk menentukan dogma Gereja.

Dilihat dari luar, saya masih anti-Katolik. Saya melanjutkan untuk terus menyerang Gereja dan membela Reformasi, namun di dalam hati saya ada pergumulan psikologis dan spiritual. Saya menemukan bahwa teologi saya dan karya hidup saya didasarkan pada sebuah kebohongan, dan saya merasa bahwa kehidupan etis, moral, dan spiritual saya sangat kurang.

Saya dengan cepat kehilangan motivasi untuk menyangkal agama Katolik, dan sebaliknya saya hanya ingin mempelajari kebenaran. Para Reformis Protestan telah membenarkan pemberontakan mereka dengan seruan “hanya Kitab Suci.”

Studi saya mengenai doktrin pembenaran telah menunjukkan kepada saya sendiri bahwa Kitab Suci bukanlah penduan yang jelas sebagaimana yang ditunjukkan para Reformis.

Bagaimana jika semua sikap protes mereka akan Kitab Suci itu salah kaprah? Pada akhirnya, mengapa saya memperlakukan Kitab Suci sebagai otoritas yang menentukan?

Ketika saya mempertanyakan hal ini kepada diri saya sendiri, saya menyadari bahwa saya tidak punya jawaban yang memadai.

Alasan sebenarnya yang saya minta terhadap ajaran “hanya Kitab Suci” bahwa inilah yang telah diajarkan kepada saya.

Ketika saya memperlajari masalah ini, saya menemukan bahwa tidak seorang Protestan pun yang memberikan jawaban yang memuaskan terhadap pertanyaan ini.

Para Reformis tidak benar-benar membela doktrin “hanya Kitab Suci.” Mereka hanya menegaskannya.

Lebih parah lagi, saya mempelajari bahwa para teolog Protestan modern yang berusaha mempertahankan “hanya Kitab Suci” dengan menentang tradisi Gereja. Inilah yang menurut saya tidak masuk akal.

Akhirnya, saya menyadari bahwa “hanya Kitab Suci” tidak ada dalam Kitab Suci.

Doktrin itu justru menyangkal dirinya sendiri. Saya juga melihat bahwa umat Kristen perdana tidak mengenal banyak tentang “hanya Kitab Suci,” dibandingkan apa yang mereka tahu tentang “hanya iman.”

Tentang masalah “bagaimana kita diselamatkan” dan “bagaimana kita merumuskan iman,” umat Kristen perdana menemukan pusatnya dalam Gereja. Gereja itu sendiri adalah keduanya, sebagai otoritas dalam doktrin Kristen dan juga sarana keselamatan.

Gereja menjadi isu yang membuat saya ingin terus kembali mendalaminya. Kaum Injili cenderung melihat Gereja hanya sebagai persekutuan orang-orang yang percaya dan satu pemikiran.

Baca Juga:

Bahkan para Reformis, Luther dan Calvin memiliki pandangan yang lebih kuat tentang Gereja daripada yang kaum Injili definisikan, tapi umat Kristen kuno memiliki doktrin paling luhur tentang Gereja dari semuanya itu.

Saya pernah melihat penekanan mereka tentang Gereja yang tidak Alkitabiah, bertentangan dengan “hanya iman,” namun saya mulai menyadari bahwa tradisi Injili saya yang tidak alkitabiah.

Kitab Suci mengajarkan bahwa Gereja adalah Tubuh Kristus (Efesus 4:12). Kaum Injili cenderung menganggap hal ini sebagai kiasan belaka, namun umat Kristen kuno mengganggapnya secara literal, meskipun secara mistik itu benar.

St. Gregorius dari Nyssa berkata, “Seseorang yang melihat Gereja maka dia benar-benar melihat Kristus.” Ketika saya memikirkan hal ini, saya menyadari bahwa apa yang diucapkan itu mengarah kepada kebenaran yang mendalam tentang makna keselamatan.

St. Paulus mengajarkan bahwa mereka yang dibaptis itu telah dipersatukan dengan Kristus dalam kematian-Nya, sehingga mereka juga dipersatukan dengan Dia dalam kebangkitan (Roma 6:3-6).

Persatuan ini secara literal menjadikan orang Kristen sebagai bagian dalam kodrat Ilahi (2 Petrus 1:4). Bahkan St. Athanasius berkata, “Karena Dia telah menjadi manusia, maka kita dimungkinkan menjadi Allah” (De incarnatione, 54.3).

Sekarang, doktrin kuno tentang Gereja itu menjadi masuk akal bagi saya karena saya melihat bahwa keselamatan itu sendiri tidak lain adalah persatuan dengan Kristus dan terus menerus bertumbuh dalam kodrat-Nya.

Gereja bukan sekedar persekutuan dari orang-orang yang sepikiran. Tetapi suatu realitas adikodrati karena Gereja itu mengambil bagian dalam kehidupan dan pelayanan Kristus.

Pernyataan ini juga masuk akal dengan doktrin sakramental Gereja. Ketika Gereja membaptis, mengampuni dosa, ataupun yang utama yaitu mempersembahkan Kurban Kudus Misa, maka sungguh Kristus yang membaptis, mengampuni dosa, dan mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya sendiri. Sakramen itu tidak mengurangi Kristus itu sendiri. Sakramen itu menghadirkan Dia.

Kitab Suci cukup jelas mengenai sakramen. Jika Anda memahaminya sebagaimana yang tertulis, Anda harus menyimpulkan bahwa Pembaptisan adalah “permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Titus 3:5).

Yesus dengan sungguh-sungguh ketika Dia berkata, “Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman (Yohanes 6:55). Dan tentu saja Yesus tidak berbohong ketika Dia berjanji, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni” (Yohanes 20:23).

Inilah yang sebenarnya yang dimengerti oleh umat Kristen kuno mengenai sakramen. Saya tidak bisa lagi menuduh umat Kristen kuno itu tidak alkitabiah. Atas dasar apa saya menolak pemahaman-pemahaman itu semua?

Doktrin orang Kristen kuno mengenai Gereja tentang penghormatan para kudus dan para martir juga masuk akal. Saya mempelajari bahwa doktrin Katolik tentang para kudus hanyalah pengembangan dari doktrin alkitabiah tentang Tubuh Kristus.

Baca Juga:

Umat Katolik tidak menyembah para kudus. Mereka menghormati Kristus dalam anggota-anggota-Nya. Dengan memohon perantaraan mereka, umat Katolik hanya menyatakan bahwa Kristus itu hadir dan bekerja dalam Gereja-Nya di Surga.

Umat Protestan seringkali keberatan bahwa penghormatan para kudus yang dilakukan oleh umat Katolik itu mengurangi pelayanan Kristus. Saya sekarang mengerti bahwa yang kebalikannya itu justru yang sebenarnya.

Orang Protestanlah yang membatasi jangkauan karya keselamatan Kristus dengan menolak implikasinya terhadap doktrin mengenai Gereja.

Studi saya menunjukkan bahwa teologi ini bertumbuh dalam devosi yang dilakukan Gereja kuno. Ketika saya melanjutkan penelitian yang saya lakukan tentang Agustinus, saya mempelajari bahwa “Pahlawan Protestan” ini benar-benar menganut ajaran penghormatan para kudus.

Seorang ahli tentang Agustinus yaitu Peter Brown (lahir 1935) juga mengajari saya bahwa ajaran tentang para kudus itu tidak secara kebetulan ada dalam Kekristenan kuno. Dia berpendapat bahwa Anda tidak dapat memisahkan Kekristenan kuno dengan devosi kepada para kudus, dan dia menempatkan Agustinus secara adil (tidak berat sebelah dan sesuai dengan kenyataan) dalam tradisi ini.

Brown menunjukkan bahwa ini bukan sekedar ajaran impor dari agama pagan kepada Kekristenan, namun lebih berkaitan erat dengan gagasan Kristen tentang keselamatan (lihat dalam Cult of Saints: Its Rise and Function in Latin Christianity tahun 1981).

Begitu saya memahami posisi ajaran Katolik tentang keselamatan, Gereja, dan para kudus maka dogma tentang Maria dengan sendirinya menjadi masuk akal.

Jika pusat iman Kristen itu adalah persatuan Allah dengan kemanusiaan kita, sang Bunda yang bersifat manusia memiliki peran yang penting dan unik dalam segala sejarah. Inilah sebabnya para Bapa Gereja selalu merayakan Maria sebagai Hawa yang kedua.

Jawaban “Ya” kepada Allah ketika pemberitaan kabar sukacita Inkarnasi membalikan kondisi Ketidakadaan Hawa di taman Eden.

Jika pantas untuk menghormati para kudus dan martir Gereja, seberapa lebih pantas pula untuk memuliakan dan menghormati kepada sang Bunda yang oleh karena dia penebusan kita bisa terjadi?

Baca Juga:

Pada saat saya menyelesaikan studi Ph.D. saya, saya sudah sepenuhnya meninjau ulang pemahaman saya terhadap Gereja Katolik.

Saya melihat bahwa doktrin sakramental Gereja, pandangan Gereja tentang keselamatan, penghormatan Gereja kepada Maria dan para kudus, pengakuan Gereja tentang otoritas, semua hal itu berdasarkan kepada Kitab Suci, dalam tradisi yang paling tua, dan dalam ajaran yang sederhana tentang Kristus dan Para Rasul.

Saya juga menyadari bahwa Protestanisme merupakan sekumpulan ketidak-konsistenan dan pemelintiran logika.

Bukan hanya bahwa dokrin Protestan itu tidak benar, namun juga menimbulkan pertentangan, dan ajarannya selalu berubah-ubah. Semakin saya belajar, semakin saya menyadari bahwa warisan ajaran Injili saya sudah menyimpang jauh bukan hanya dari Kekristenan kuno, bahkan dari ajaran para pendiri aliran Protestan sendiri.

Para kaum Injili Amerika modern mengajarkan bahwa kehidupan Kristiani dimulai ketika Anda “mengundang Yesus ke dalam hati Anda.” Pertobatan pribadi (yang mereka sebut “dilahirkan kembali”) dipandang sebagai hal pokok dan permulaan identitas seorang Kristen.

Saya tahu dari apa yang saya baca, bahwa hal seperti ini bukanlah ajaran Gereja perdana. Saya juga mempelajari para Reformis, bahkan hal ini bukan ajaran Protestan mula-mula.

Calvin dan Luther sama-sama dengan jelas menyatakan bahwa Pembaptisan adalah permulaan kehidupan Kristiani. Sambil merasa sia-sia saya melihat karya mereka untuk mencari suatu keharusan untuk “dilahirkan kembali.

”Saya juga mempelajari bahwa mereka tidak menganggap bahwa Ekaristi sebagai hal yang tidak penting, seperti yang telah saya lakukan.

Sementara itu, mereka menolak teologi Katolik tentang sakramen, kedua tokoh itu terus bersikeras bahwa Kristus benar-benar hadir dalam Ekaristi. Bahkan pada tahun 1541, Calvin mengajarkan bahwa pemahaman yang tepat tentang Ekaristi adalah “perlu untuk keselamatan.”

Baca Juga:

Calvin tidak tahu apapun tentang pemahaman Kekristenan yang dilahirkan kembali secara individualistis, yang mana saya tumbuh dalam pemahaman itu.

Saya menyelesaikan kuliah saya pada bulan Desember 2002. Beberapa tahun terakhir dalam studi saya merupakan saat-saat yang cukup gelap bagi saya.

Terlebih lagi, sepertinya rencana saya berantakan, dan masa depan saya tidak jelas. Kepercayaan diri saya sangat terguncang, dan saya sebenarnya merasa ragu untuk percaya atau tidak.

Agama Katolik mulai tampak yang paling masuk akal dalam menafsrikan iman Kristen, namun kehilangan iman yang saya hidupi sejak kecil membuat saya hancur.

Saya berdoa memohon bimbingan. Dan pada akhirnya, saya percaya bahwa rahmatlah yang telah menyelamatkan saya.

Pada saat itu, saya memiliki seorang istri dengan empat orang anak, dan akhirnya Allah menunjukkan saya bahwa yang saya butuhkan dalam hidup saya bukan hanya sekedar buku saja.

Sejujurnya, saya juga membutuhkan lebih dari sekedar “hanya iman.” Saya membutuhkan pertolongan nyata dalam hidup saya dan berperang melawan dosa-dosa saya. Saya menemukannya dalam sakramen-sakramen Gereja.

Di samping “hanya Kitab Suci,” saya membutuhkan bimbingan yang nyata dari seorang guru yang memiliki otoritas. Saya menemukannya dalam Magisterium Gereja.

Saya menemukan bahwa saya membutuhkan persekutuan para kudus di surga, bukan haya buku-buku mereka di dunia. Singkatnya, saya menemukan bahwa Gereja Katolik dibentuk dengan ideal untuk memenuhi kebutuhan spiritual saya.

Selain kebenaran itu sendiri, saya menemukan Yesus dalam Gereja-Nya, melalui Bunda-Nya dalam persekutuan para kudus-Nya. Saya masuk ke dalam Gereja Katolik pada tanggal 6 November 2003.

Istri saya juga mengalami titik baliknya sendiri untuk mendalami Gereja, dan sekarang keluarga saya adalah keluarga Katolik yang bahagia dan antusias.

Saya berterima kasih kepada orang tua saya karena telah mengarahkan saya kepada Kristus dan Kitab Suci. Saya berterima kasih kepada St. Agustinus karena telah mengarahkan saya kepada Gereja.

Catatan kaki:

[1] Dokumen ekumenis yang ditandatangani oleh para tokoh ternama baik dari Protestan Injili dan Gereja Katolik di Amerika Serikat yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan yang sama dari kedua pihak dalam kesamaan tantangan dunia modern saat itu.

[2] Teologi yang berhubungan dengan kepercayaan dan doktrin yang didukung oleh St. Paulus melalui tulisan-tulisannya.

Sumber:

  1. “A Protestant Historian Discovers the Catholic Church”

2. terangiman.com@dm1rbs via @fbRaphael Benedict

Persahabatan BJ. Habibie dan Romo Mangun

0

Bacharudin Jusuf Habibie, memang telah meninggal (Rabu, 11/9/19), namun banyak kisah menarik yang akan dikenang sepanjang masa. Salah satunya adalah perjalannya ke Jerman, yang konon didampingi oleh Pastor Gilbert. Dia yang menemani Rudy Habibie untuk mencari tempat tinggal selama di Jerman.

Ketika di Jerman, Rudy sempat menjalin kasih dengan seorang wanita Katolik dari Polandia, wanita itu bisa berbahasa Indonesia. Karena kebetulan dulu akrab dengan seorang suster biarawati asal Ambon yang kemudian menjadi misionaris di Polandia. Namun, kisah cinta itu kandas, tak lain karena perbedaan agama dan kewarganegaraan.

Salah satu hal menarik dari perjalanan Rudy di Jerman adalah ketika dia masuk ke dalam Gereja Katolik, kemudian melakukan salat di sana. “Saya tahu Tuhan, orang yang yang membuat tempat ini adalah mereka yang percaya satu Tuhan,” ujarnya.

“Saya tidak mengganggu mereka, saya hanya ingin berdoa di tempat ini karena tidak mempunyai tempat,” lanjutnya. Setelah salat berkali-kali di dalam gereja itu, Rudy Habibie bertemu dengan Romo Mangun, yang kebetulan sedang studi arsitek di Aachen Jerman.

Awalnya, Rudy berpikir bakalan kena marah dari Romo Mangun, tapi mereka justru semakin akrab.

Seraya Rudy mengatakan, “Terima kasih Romo, Anda mengajarkan saya Ber-Islam.”

“Rud, mengapa kamu salat disini?” tanya Romo Mangun.

“Sebelum mas Romo kesini saya sering salat disini, aku menumpang saja Mas. Aku butuh kedamaian Allah, disini kan tidak ada masjid,” kata Rudy menjelaskan.

“Rudy…Rudy, andaikan satu dunia ini sepertimu,” ujar Romo Mangun sambil tersenyum.

“Seperti saya? tukang ngotot maksudnya?” timpal Rudy.

“Bukan begitu, tetapi orang yang selalu yakin Tuhan yang Maha Pengasih, apa yang dibuatnya, segala cobaannya, dan segala perbedaan di bumi,” terang Romo Mangun.

“Senang sekali melihatmu nyaman berdoa di gereja dengan caramu sendiri, ini justru bukti keimananmu tak mudah goyah Rud,” jelas Romo Mangun.

“Ah, mas Romo bijak sekali, seperti pastor saja,” kata Rudy.

“Lho selama ini kamu memanggil saya Romo kan, kok kaget kalau saya pastor?” ucap Romo Mangun.

“La itu kan nama mas Rama kan? Romo?” sambung Rudy.

“Bukan! saya itu Romo alias pastor, nama saya Y.B Mangunwijaya, Romo itu panggilan dalam bahasa Jawa,” terang Romo Mangun.

Keduanya kemudian tertawa, dan menjadi kawan baik sejak saat itu.

Ketika Mangunwijaya meninggal dan disemayamkan di Gereja Katedral Jakarta, datanglah Rudy Habibie ke gereja itu.

Dia berkata, “Apa boleh saya berdoa dengan cara saya, Romo Mangun adalah sahabat saya.”

Setelah itu, karena Y.B Mangunwijaya akan dimakamkan di Yogyakarta, Habibie mengirim pesawat Hercules untuk sahabatnya.

Y.B Mangun Wijaya si “Burung Manyar” itu terbang dengan pesawat sahabatnya, waktu itu Habibie adalah Presiden RI ke-3.

Sumber:https://intisari.grid.id/read/031849333/cerita-bj-habibie-bertemu-romo-mangun-setelah-salat-di-dalam-gereja-terima-kasih-romo-anda-mengajarkan-saya-ber-islam?page=all

 

Jika Yesus Itu Tuhan, Mengapa di Kayu Salib Ia Berseru Minta Tolong kepada Allah?

8
fietzfotos / Pixabay

Dalam Injil Sinoptik disebutkan bahwa ketika disalibkan, Yesus berseru dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46; Mrk. 15:34; Luk. 23:46).

Seruan Yesus ini, bagi banyak orang (non-Kristen), dianggap sebagai indikasi bahwa Yesus bukan Tuhan. Menurut mereka, Yesus berseru meminta tolong kepada Allah karena Dia sendiri hanyalah manusia biasa.

[postingan number=3 tag= ‘salib’]

Bagaimana tanggapan kita? Perlu kita garisbawahi bahwa iman Kristiani bersumber pada Allah Tritunggal. Sekian lama Allah itu berbicara kepada manusia, ciptaan-Nya, meski Ia sendiri tidak memperlihatkan wajah-Nya ke hadapan mereka. Dalam Perjanjian Lama dikisahkan bahwa para Nabi merasakan kehadiran Allah di tengah-tengah mereka, tetapi mereka sendiri tidak pernah melihat seperti apa sosok Allah itu.

Tidak hanya sekedar merasakan kehadiran Allah, Perjanjian Lama bahkan mencatat bahwa para Nabi pun bisa mendengar suara-Nya. Musa, misalnya, bisa mendengar suara Allah, meski ia sendiri tidak bisa melihat-Nya. Dikatakan dalam Kitab Keluaran bahwa ‘Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri’ (Kel. 3:2). Tetapi, Musa tidak melihat sosok Allah itu. Bahkan ia menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah (Kel. 3:6).

Allah berbicara kepada para Nabi; sehingga meski mereka tidak melihat wajah Allah itu, toh mereka masih  bisa mendengar suara-Nya. Dalam Perjanjian Lama, kita banyak membaca tentang bagaimana Allah berbicara. Bahkan, Kitab Kejadian mencatat bahwa bagi Allah, berfirman atau berbicara sama artinya dengan menciptakan. Makanya, di sana kita mendengar kalimat: “Allah berfirman … maka jadilah”. Sebagai contoh, “berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi” (Kej. 1:3). “Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air”. Dan jadilah demikian” (Kej. 1:6).

Jika demikian, siapakah Allah itu? Kita sulit mendefenisikannya, sebab kita tidak melihat-Nya. Yohanes membahasakan bahwa Allah yang tidak kelihatan tapi suara-Nya dapat didengar itu adalah Firman; sebab memang, Allah itu seringkali berfirman. Bahkan, hanya dengan berfirman saja, segala sesuatunya terjadi.

Yohanes katakan bahwa “Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh. 1:1). Apakah Firman itu ciptaan atau Pencipta? Jika dia adalah ciptaan, tentu dia bukan Allah. Tetapi, jika Dia adalah Pencipta, maka tidak bisa tidak, Dia adalah Allah. Tidak ada selain Allah yang bisa menciptakan segala sesuatu. Maka Yohanes menambahkan: “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh. 1:3).

Yohanes membahasakan bahwa Allah yang tidak kelihatan tapi suara-Nya dapat didengar itu adalah Firman.

Sampai di sini menjadi jelas bagi kita bahwa Firman itu adalah Allah. Dia menciptakan segala sesuatu. Lalu, Yohanes melanjutkan: ‘Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita’ (Yoh. 1:4). Bagaimana Firman itu dapat menjadi manusia? Kisahnya bisa kita lihat dari kunjungan Malaikat kepada Maria. Malaikat itu berkata kepada Bunda Maria: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk. 1:35).

Firman atau Roh itu masuk ke dalam rahim Maria, dan menjadi manusia. Ini yang kita sebut dengan istilah ‘inkarnasi’ (Latin: in artinya masuk; carne artinya daging); Firman masuk ke dalam daging (bdk. Yoh. 1:1, 14). Kemudian, Firman yang menjelma menjadi manusia itu lahir ke dunia, dan dinamai Yesus (Luk. 1:31). Alhasil, Allah yang tadinya tidak kelihatan menjadi kelihatan. Ia yang tadinya jauh menjadi dekat dan bergaul dengan manusia, ciptaan-Nya. Dia sungguh Allah sungguh manusia. Jadi, pada waktu di salib Yesus tetap merupakan Tuhan dan sekaligus manusia.

Maka pada perkataan Yesus, ‘Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?’ menandakan dua hal. Pertama, seruan itu mengacu pada kodrat kemanusiaan Yesus, yang berdoa kepada Allah Bapa-Nya. Kedua, seruan ini sudah tercatat di dalam Kitab Mazmur: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Mzm. 22:2); dan terpenuhi dalam drama penyaliban Yesus. Yesus mengucapkan kembali apa yang tertulis di dalam Kitab Mazmur itu untuk menunjukkan bahwa kedatangan-Nya ke dunia telah dinubuatkan. Nah, inilah salah satu dasar yang membuat umat Katolik percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, karena Dia telah dinubuatkan sebelumnya, termasuk kelahiran, karya publik, mukjizat, penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya.

Referensi:
https://www.catholic.com/qa/did-jesus-know-he-was-god-at-the-incarnation
https://www.catholic.com/qa/did-jesus-know-he-was-god-at-the-incarnation
http://www.katolisitas.org/eli-eli-lama-sabakhtani-dan-mengapa-yesus-berdoa/
https://www.catholic.com/qa/did-jesus-experience-the-fear-of-the-lordgod

Dalam Diri Yesus, Allah yang tadinya tidak Kelihatan menjadi Kelihatan

0
ivanovgood / Pixabay

Saya cukup sering menonton video live streaming dari Christian Prince, seorang pria keturunan Arab, yang akhir-akhir ini viral di media sosial, karena aksinya berdebat dengan saudara-saudari Muslim, tentang banyak hal menyangkut ajaran Islam.

[postingan number=3 tag= ‘salib’]

Namun, di sini, saya tidak akan membahas tentang apa saja yang dia sampaikan menyangkut Islam, karena hal itu bukan bidang saya. Yang ingin saya terangkan justru adalah hal-hal yang biasanya ditanyakan oleh para penanya kepada Christian Prince, terutama berkaitan dengan ajaran iman Kristiani.

Dari sekian banyak hal yang sering ditanyakan, salah satunya adalah soal ketuhanan Yesus. Tampaknya, mereka cukup kesulitan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan; sebab menurut mereka, tidak mungkinlah seorang manusia ‘diangkat’ menjadi Tuhan. Mereka berkeyakinan bahwa Yesus ‘diangkat’ menjadi Tuhan pada Konsili Nicea 325. Padahal, jelas sekali bahwa Konsili Nicea dimaksudkan untuk menolak ajaran Arius, yang mengajarkan bahwa Kristus hanyalah ciptaan Allah dan bukan Allah. Konisili ini merumuskan suatu pernyataan iman, didasarkan pada syahadat pembaptisan yang digunakan di Yerusalem, untuk menegaskan kembali keilahian Kristus, dan bukannya mengangkat Yesus sebagai Tuhan.

Tidak sedikit orang di luar sana mendapat pemahaman yang keliru tentang keilahian Yesus. Mereka mengira bahwa Yesus adalah manusia yang diangkat menjadi Tuhan. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya, Yesus adalah Tuhan yang turun ke dunia menjadi manusia.

Sejarah panjang ‘Allah yang menjadi manusia’ bermula dari Perjanjian Lama. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, Allah secara berulangkali menyampaikan pesan-Nya kepada umat-Nya, meski Ia sendiri tidak memperlihatkan wajah-Nya. Ibaratnya ‘ada suara tapi tidak ada gambar’. Namun Musa pernah punya kesempatan untuk menatap wajah Allah, tapi ia tidak mampu. Musa menutup mukanya karena takut menatap wajah Allah (lih. Kel. 3:6).

Memang, pada dasarnya Allah tidaklah kelihatan. Bacaan pertama hari ini (Kol. 1:15-20) turut menegaskan hal itu. Mengapa? Karena Allah adalah Roh; atau oleh penginjil Yohanes disebut ‘Firman’. Mata kita tidak bisa melihat Roh Allah. Tapi, pada suatu masa tertentu, Allah yang adalah Roh itu, masuk ke dalam daging dan mengambil rupa manusia (inkarnasi, kata serapan dari bahasa Latin ‘in carne’ – in artinya masuk, dan carne berarti daging).

Injil Yohanes mencatat: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:1, 3, 14). Allah yang tadinya tidak kelihatan menjadi kelihatan dalam diri Yesus Kristus. Kristuslah gambar-Nya. Jadi, Yesus adalah pernyataan diri Allah; Dia sungguh Allah sungguh manusia; sehingga Allah yang tadinya hanya memperdengarkan suara-Nya, kini dalam diri Yesus, juga memperlihatkan wajah-Nya.

Turunnya Allah yang Mahasuci ke dalam dunia menjadi seorang manusia: Yesus Kristus, lahir dalam keadaan bayi, tumbuh normal seperti manusia lainnya, dewasa dan mengalami kematian dalam misi penyelamatan bagi umat manusia dari dosa. Kematian Allah yang inkarnasi ini tidak selamanya, sebab Ia bangkit, dan Ia kembali naik ke Surga.

Pernah ada orang bilang begini: “Jika Yesus itu Tuhan, sebutkan satu ayat saja dalam Kitab Suci yang memuat kata-kata Yesus: ‘Aku Tuhan, sembahlah Aku!’”

Kalimat “Akulah Tuhan, sembahlah Aku,” tidak pernah keluar dari mulut Yesus; dan karenanya tidak kita temukan di dalam Kitab Suci. Alasannya jelas: Yesus, yang adalah Allah, sudah merendah serendah-rendahnya, mengambil rupa manusia dan menjadi sama seperti kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa. Ia sangat konsisten dengan tujuan kedatangan-Nya itu, sehingga Ia tidak akan mungkin berkata “Aku Tuhan, sembahlah Aku”.

Lantas, bagaimana kita tahu bahwa Yesus adalah Tuhan? Kitab Suci memberitahu kita bahwa Yesus seringkali membiarkan para pendengar-Nya mengenal siapa diri-Nya dari apa yang dilakukan-Nya. Makanya, ketika Yohanes Pembaptis menyuruh murid-muridnya bertanya kepada Yesus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat. 11:2-5; Luk. 7:22).

Pertanyaannya sederhana: adakah manusia biasa yang mampu melakukan hal-hal seperti itu? Jelas tidak ada. Yesus bisa karena Dia punya kuasa. Dia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Ia bahkan menegaskan: “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yoh. 8:58). Mengapa Yesus mengatakan demikian? “Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol. 1:16).

Sekalipun Yesus tidak secara langsung menyebut diri-Nya Tuhan; dan tidak menyuruh orang lain untuk menyembah diri-Nya, tetapi Ia seringkali mengafirmasi apa yang dikatakan orang mengenai diri-Nya. Jadi prinsipnya, setelah orang melihat apa yang dilakukan-Nya, orang lalu mengenal diri-Nya sebagai Tuhan, dan Yesus mengafirmasi perkataan itu.

Referensi:
Kristiyanto, Eddy. 2002. Gagasan yang Menjadi Peristiwa. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, hlm. 73.
https://www.catholic.com/encyclopedia/incarnation
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/did-the-incarnation-cause-god-to-change
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/eternally-begotten-son
http://www.katolisitas.org/apa-yang-terjadi-di-konsili-nicea-325/

Katolik Menjawab: Keraguan Thomas Justru Membuktikan Ketuhanan Yesus

0
Ximena-c / Pixabay

Diceritakan dalam Kitab Suci bahwa setelah para rasul menyaksikan kebangkitan Yesus, mereka menceritakan peristiwa itu kepada Thomas, yang juga disebut Didimus. Mereka berkata: “Kami telah melihat Tuhan!” (Yoh. 20:25).

Thomas menjawab: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh. 20:25). Thomas menuntut bukti. Ia tidak percaya sebelum ia melihat.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Yesus menerima tantangan dari Thomas. Tetapi, ketika Yesus menampakkan diri di depan Thomas dan menawarkan kepadanya supaya mencucukkan jarinya di bekas paku pada tangan Yesus sebagai bukti atas kebangkitan-Nya, Thomas tidak mau menerima tawaran itu. Sebaliknya, ia justru berkata: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28).

Jawaban Thomas ini ternyata menuai banyak kritik, terutama dari 0rang-orang yang tidak percaya pada ketuhanan Yesus. Menurut mereka, ‘Thomas salah’, Yesus bukan Tuhan.

Pertanyaan kita adalah: jika saja Thomas salah, mengapa Yesus tidak menegurnya? Atau, jika Thomas salah, mengapa dia tidak dihukum karena penistaan yang dilakukannya itu?

Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, setiap kali jemaat menyatakan pendapat yang keliru mengenai Allah, para murid mengoreksi mereka (mis. Kis 14: 8-15). Dalam Wahyu 19:10, rasul Yohanes tersungkur di bawah kaki seorang malaikat untuk menyembahnya, tetapi malaikat itu memberi tahu dia, “Kamu jangan melakukan itu!”

Jika saja Thomas salah, pastilah Yesus mengoreksi perkataan Thomas. Tapi, nyatanya, Yesus tidak mengoreksi perkataan Thomas; Ia tidak menyuruh Thomas untuk ‘memberikan kemuliaan hanya kepada Allah.’ Juga, tidak ada malaikat yang melarang Thomas. Maka dari itu, kenyataan ini seharusnya membawa kita pada kesimpulan bahwa tidak ada yang perlu diperbaiki dari perkataan Thomas. Justru sebaliknya, pernyataan iman Thomas ini sangatlah jujur.

Menurut peneliti (scholar) Perjanjian Baru, Murray Harris, ‘perkataan Yesus kepada Thomas — ‘Engkau telah percaya’ (Yoh. 20:29a) – menyiratkan bahwa Yesus menerima pengakuan Thomas. Yesus adalah ‘Tuhan dan Allah’.

Kita kadang seperti Thomas. Kita suka ragu-ragu. Kita sulit sekali percaya begitu saja terhadap hal-hal yang terjadi di luar nalar kita. Kita lupa bahwa Allah bisa karena kuasa. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Tapi, kita juga bangga dengan Thomas. Ia tidak larut dalam keraguannya. Ia justru dengan yakin mengucapkan keyakinannya di hadapan Tuhan. Dengan demikian, kita harus meniru sikap Thomas dan tidak takut untuk menyebut Yesus sebagai ‘Tuhan dan Allah’ kita.

Perkataan Thomas ini masih kita gunakan hingga saat ini. Sekarang, ketika dalam perayaan Ekaristi imam mengangkat roti dan anggur yang merupakan tubuh dan darah Kristus, kita berucap: “Ya Tuhanku dan Allahku”. Seperti Thomas, kita yakin dengan sungguh-sungguh bahwa Yesus adalah ‘Tuhan dan Allah’ kita. Tidak ada lagi keraguan bagi kita untuk percaya kepada-Nya.

Referensi:
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/how-doubting-thomas-proved-christs-divinity
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/did-thomas-think-jesus-was-god
https://www.catholic.com/tract/the-divinity-of-christ

Inilah Alasannya Mengapa Gambar Wajah Yesus Berbeda di setiap Tempat

0
analogicus / Pixabay

Seorang pemuda pernah bertanya kepada saya: “Mengapa gambar wajah Yesus berbeda di setiap tempat? Kira-kira dari sekian banyak gambar itu, mana yang sungguh-sungguh merupakan gambar wajah Yesus? Ataukah, jangan-jangan tidak satu pun dari gambar-gambar itu menyerupai wajah asli Yesus?

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Pemuda itu mengutip surat Paulus kepada jemaat di Korintus (1 Kor. 11:14), yang berbunyi: “Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang?” Maka dari itu, menurut pemuda itu, besar kemungkinan semua gambar wajah Yesus yang kita miliki saat ini adalah palsu. Mengapa? Karena gambar wajah Yesus yang kita miliki saat ini selalu identik dengan pria berambut panjang.

Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang?”

Bagaimana kita menanggapi pertanyaan dan pernyataan seperti itu? Setidaknya ada beberapa hal yang harus kita garis bawahi. Pertama, perlu diketahui bahwa gambar wajah Yesus yang kita miliki saat ini tidak berasal dari deskripsi fisik tentang Yesus yang tertulis dalam Kitab Suci; karena memang tidak ada. Gambar-gambar itu bersumber pada tradisi artistik dan ikonografi. Namun demikian, bisa dipastikan, tidak ada gambar wajah Yesus yang bertentangan dengan Kitab Suci.

Apalagi, kalau kita mempersoalkan ‘rambut panjang’, pertanyaannya adalah: seberapa panjang? Dari bahan arkeologis, misalnya dari ukiran Timur Tengah dan lukisan makam di Mesir, kita tahu bahwa pria Yahudi zaman dulu selalu identik dengan rambut panjang dan berjanggut. Panjang rambut pria biasanya sampai ke pundak; sementara rambut wanita panjangnya sampai ke pinggang.

Kesalahpahaman kita terhadap isi surat Paulus itu seringkali terjadi karena kita menyamakan apa yang saat ini kita sebut sebagai ‘rambut pendek’ dengan potongan rambut a la pria Yahudi abad pertama. Padahal, sebetulnya, dalam suratnya itu, Paulus memberi tahu para pria di Korintus bahwa membiarkan rambut panjang hingga ke pinggang seperti halnya wanita, merupakan suatu kehinaan.

Kedua, sumber dari kebanyakan gambar wajah Yesus yang kita miliki saat ini berasal dari kain Turin; yaitu kain yang dipakai untuk menutupi wajah Yesus ketika Ia dikuburkan. Kain ini tersimpan di Vatikan.

Ketiga, agama Kristiani berinkulturasi dengan budaya-budaya setempat; sehingga adakalanya gambar wajah Yesus dari sumber yang sama, yaitu dari kain Turin, dimodifikasi sesuai dengan budaya setempat, tanpa menghilangkan esensinya.

Keempat, kita harus pahami bahwa gambar merupakan alat bantu, yaitu sebagai media atau sarana untuk mendekatkan diri kita dengan Tuhan. Pemakaian gambar sebagai alat bantu seperti  ini juga pernah dilakukan pada zaman Salomo (bdk. 1 Raj. 6:1-38, 7:1-12, 13-51). Sejauh gambar itu dapat membuat kita makin dekat dengan Tuhan, maka tidak ada yang patut dipersoalkan.

Jadi, gambar wajah Yesus yang ‘berbeda’ karena alasan inkulturasi bukanlah suatu  persoalan; karena toh gambar-gambar itu tetap mengacu pada tokoh yang sama, yaitu Yesus Kristus, Sang Penyelamat.

Referensi:
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id567.htm
https://www.catholic.com/qa/are-most-images-of-jesus-false-since-they-contradict-pauls-admonition-against-long-hair

Membela Salib Kang Je – Cerita Pendek

0
congerdesign / Pixabay

Entah berapa lama aku tak membereskan kamarku ini sehingga ada banyak barang yang menumpuk. Pantas saja terasa sesak dan bau pengap. Rupanya barang-barang ini memang menjadi salah satu penyebab kondisi demikian.

[postingan number=3 tag= ‘kang-je’]

Mumpung sedang libur, segera kuniatkan untuk membereskan tempatku sembari melepas lelah sehabis seharian beraktivitas. Satu-satu tumpukan barang itu kuurai dan coba kupilah, mana yang masih layak dan atau sebaiknya dibuang saja. Kebanyakan memang berbentuk kertas, bungkusan barang, benda-benda kecil dan beberapa helai pakaian lama. Kalau pakaian, bisa kuserahkan ke ART atau supir kantor. Tapi, kalau barang-barang lainnya, rasanya harus segera kubuang. Nggak enak juga kalau harus melimpahkan barang itu kepada orang lain.

Dari banyak barang yang terpiilah itu, mataku terbelalak ketika melihat ada banyak salib terkumpul di sebuah kotak bekas minuman mineral. Walah … Dari mana saja ya kudapat salib dengan dan tidak bercorpus, Tau, Damiano dan Benediktus itu. Aku jadi terkagum-kagum sendiri atas tumpukan salib itu.

Lalu, mau diapakan barang-barang rohani itu?

“Punya barang pribadi kok nggak tahu darimana saja dapatnya tho …” Suara Kang Je terdengar sudah ada di sebelahku. Tangan-Nya mengambil salah satu salib yang masih membuatku berpikir, dapatnya dari mana atau dari siapa saja? “Coba diingat lagi dari mana ini didapat? Bagaimana bisa ada di sini? Apakah sudah diberkati?”

Deg.
Begitu Kang Je menyebut kalimat terakhir, saya lebih terkejut.
Astaga.

Semua itu kan memang sudah diberkati dengan ceritanya masing-masing. Terkumpul di sana terutama karena perpindahan beberapa kali. Ingatanku mulai pulih atas awal keberadaan salib-salib itu. Segera kuambil salib-salib itu dari kerdus kecek yang nyaris hancur karena lembab dan menciumnya satu-satu.

Oh, God … Please …. Forgive me ….

“Tidak usah lebay gitu ah … Salib yang sudah diberkati itu memang seharusnya tidak kamu taruh di tempat yang tak pantas. Kita kan percaya bahwa barang-barang yang diberkati adalah barang yang harus dijaga keberadaan dan penempatannya.” Kang Je membantu mengambilkan sebuah kardus baru lalu Ia beri alas sebuah handuk dari lemari dekat barangku yang sudah banyak bergeletakan di kamar ini.

“Letakkan di sini dulu sembari mencari tempat yang layak buat menaruhnya atau berikan saja kepada yang membutuhkan.” Aku mengangguk sembari ikut mencari tempat yang layak untuk penyimpanan sementara salib-salib itu.

Sembari terus membereskan, beberapa kali telingaku mendengar bunyi notifikasi kabar di HP. Awalnya tak kugubris. Lama-lama kok banyak ya … Penasaran juga ada berita apa yang dikirimkan, sampai sedemikian banyak bunyi itu terdengar.

Dari semua notif yang masuk, aku sangat tertarik membuka WAG yang notifnya memang lebih banyak dari yang lain. Rupanya di sana sedang ada perbincangan hangat tentang berita seorang pemuka agama berbicara tentang salib di mimbar interennya.

“Huh! Beraninya bapak ini membicarakan tentang salib. Padahal dia nggak tahu apa-apa tentang arti salib itu,” aku terpancing emosi.

“Ada apa sih? Tiba-tiba marah?” tanya Kang Je. Ia sedikit menggeserkan tubuh untuk turut membaca pesan-pesan di WAG yang sedang kubaca. “Ooo … Tentang itu. Kirain tentang apa …”

Atas reaksi-Nya yang kalem begitu, aku meliriknya tajam. “Engkau tidak marah, salib-Mu dihina begini? Emang dia siapa sih berani-beraninya ngomongin hal yang belum tentu dia pahami?”

“Hey … Selow … Woles aja atuh …” Kang Je menepuk bahuku seperti menenangkan emosiku yang mulai terus menaik. “Kalau soal beginian kamu bawa amarah, malah bisa kacau loh …”
“Iya … Tapi kan …”
“Gini … Gini …. Coba lihat dengan kepala jernih dulu. Dia ngomong itu sebenarnya di mana? Di tempat terbuka atau tertutup?”
“Katanya di depan jemaahnya.”
“Oke. Berarti tempat tertutup. Lalu, kapan kejadiannya?”
“Mmm … Katanya sudah tiga tahun lalu.”
“Waduh … Sudah lama pula. Ngapain juga barang lama diatarik lagi …”
“Nah, itu … Baru ketahuan sekarang jadinya …”

“Anak-Ku …,” kembali Kang Je menepuk bahuku. “Bapa-Ku memberi kalian, anak-anak-Nya, akal budi dan kebijakan untuk melihat segala sesuatu dengan baik. Di zaman sekarang, akal budi dan kebijakan itu semestinya sangat berguna untuk memilah segala hal yang kian banyak berseliweran di medsos …”

“Bahwa itu menyakitkan kalian, Aku bisa paham. Tetapi, kalian juga punya akal budi dan kebijakan untuk meredamnya.  Buatlah konten lain yang mengkonter dengan lebih baik dan menyejukkan serta tidak jadi ikut menyebarkannya karena dengan demikian isu ini akan mereda dengan sendirinya.”

“Tapi, itu tentang salib-Mu, Kang. Salib-Mu yang melambangkan keselamatan kami umat manusia. Masa kami diam saja ketika melihat salib-Mu dipermainkan seperti itu?”

Kang Je melangkah sejenak ke arah kardus yang tadi berisi salib-salib. “Mengapa kamu begitu emosinya terhadap salib-Ku, sementara salib-salib yang Kutitipkan ini malah kamu sia-siakan?” Kang Je mengangkat kardus berisi banyak salib itu lalu menundukkan kepala-Nya.

Makdeg.

“Apa kamu membela salib itu hanya karena sudah viral dan terlihat? Bagaimana dengan salib-salib tadi dan yang ada di …,” Kang Je maju ke depan sambil menepuk dadaku pelan. Persis di tengah, “Salib yang ada di dalam dirimu, anak-Ku. Pernahkah kamu demikian bela ketika suatu saat mungkin goyah bahkan oleng karena terjangan banyak hal terutama oleh dirimu sendiri?”

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Sungguh. Seseorang yang sebenarnya tak pernah jauh dariku ini bisa saja membiarkanku terbawa emosi atau suasana. Tapi, nyatanya, Dia malah menenangkan bahkan lebih menguatkanku atas segala peristiwa itu.

“Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar daripada itu. Karena itu Ia katakan: Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak. 4:6)

“Teruslah belajar rendah hati seperti yang sudah Kuajarkan kepadamu. Kuasailah emosimu. Segala perkara dunia ini hanyalah ujian untuk mencapai keselamatan abadimu bersama Aku dan Bapa-Ku.”

Aku tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Kamar yang masih berantakan ini seperti benar-benar tak bisa kusentuh lagi sebab badanku kaku, bibirku kelu, tetapi bagian hati terdalamku tersentuh. Sungguh Kau adalah yang paling mampu melakukannya.

“Aku mau beli jus dulu nih … Mau nitip nggak?” suara Kang Je menyadarkanku. Entah kenapa kepalaku malah menggeleng ditawari begitu. Nggak biasanya. “Jus jeruk, es banyak tanpa gula aja seperti biasa ya … Biar kepalamu adem lagi …” Kuanggukkan kepala saja deh sambil membiarkan dia berlalu.

“Eh iya …, “ Kang Je menangguhkan langkah-Nya, “Kamu tahu nggak, sebenarnya apa sih yang dilakukan oleh orang-orang itu sebelum menyalib Aku?”
Ditanya dadakan itu, membuatku tak kalah terkejutnya. Spontan kugelengkan kepala. “Nggak tahu, Kang …”
“Sebelum Aku disalib, mereka mengklakson Aku dulu dong …”

Antara ingin tertawa dan mikir juga setelah Ia bener berlalu dengan santainya. Seperti tidak meninggalkan cerita receh barusan. Krik-krik-krik …

Love You always, Kang ….
(Terik 20 Agustus 2019)