8.1 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 78

Sepucuk Surat untuk Yesus

0
Gambar ilustrasi oleh ivanovgood / Pixabay

Sebelum sang fajar menunjukkan dirinya, aku telah terbangun oleh mimpi buruk. Mimpi yang tidak mau aku ingat lagi. Kamar dimana aku dan sahabat teman-teman OMK tempati ini masih gelap. Bias cahaya dari lampu penerang jalan tidak mampu menghalau pekatnya suasana ruangan. Dengan meraba-raba aku mencari hp yang semalam aku simpan di kursi samping tempat tidur. “Nah! Akhirnya aku temukan, ternyata masih jam 4 pagi. Aku coba untuk melanjutkan tidurku namun tak dapat.

Setelah membuat tanda Salib dan berbekal cahaya hp aku mengendap ke kamar mandi. Dari pada kedahuluan yang lain mendingan aku siapkan diri untuk mengikuti doa dan misa pagi.

Hari ini adalah hari terakhir retret. Aku paling suka dengan kegiatan rohani seperti ini. Ya, setidaknya aku terbebas dari rutinitas hidup yang membosankan.

OH ya! Aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Kattya, anak pertama dari tiga bersaudara. Usiaku 26 tahun, aku adalah anak dari pasangan yang bercerai. Ayahku memiliki wanita lain sedang kami dibesarkan oleh mama seorang diri. Aku sangat membenci ayahku, dia sepertinya lupa akan tugas dan tanggung jawabnya kepada kami.

Saat menyikat gigi, terngiang kembali pengumuman Romo kemarin, bahwa tema di hari terakhir retret adalah “Dengan Mengampuni Kita Menjadi Pribadi Yang Bebas”. Sambil menghela napas aku berpikir apakah aku bisa memaafkan ayah dan istri barunya itu, yang tidak lain adalah tanteku sendiri (adik dari mamaku). Tanpa aku inginkan mengalirlah dua butir panas yang membasahi pipiku.

Pukul 09:30 pagi, dalam ruang pertemuan, kami para peserta retret dengan khusuk mendengarkan Firman Tuhan yang dibaca oleh salah seorang OMK. Dia membaca teks Injil Luk. 17:1-6 yang berbicara tentang pengampunan.

Pikiranku melayang ke rumah, membayangkan mama yang dengan susah payah membenarkan kami buah cintanya dengan pria yang salah. Pria yang telah mengkhianati cinta sucinya dengan adiknya sendiri.

Napasku mulai memburu ketika suara berat Romo menghentakkanku ke alam nyata. “Saya ada permainan untuk kalian. Di atas meja telah tersedia jarum, gunting dan pisau. Setiap kalian memilih salah satu dari benda tajam tersebut, sambil membayangkan wajah mereka yang menyakitimu tusukan pada kertas putih yang terpampang di dinding.

Pada saat permainan terlihat begitu banyak ekspresi yang tersirat di wajah kami masing-masing. Ada yang menangis, marah, tertawa puas bahkan ada yang tanpa ekspresi. Aku mendapat giliran yang terakhir. Sambil membayangkan wajah ayah dan tanteku, aku menikamkan pisau di tengah kertas putih dengan penuh amarah.

Setelah kami duduk dengan tenang, Romo menanggalkan kertas putih tersebut. Dan sangat mengejutkan bahwa ada gambar Yesus di baliknya. Dan tempat dimana pisau aku arahkan adalah jantung Yesus.

Romo mulai memberikan pengarahan bahwa kebencian, amarah dan dendam akan membuat kita menjadi buta, tuli dan tidak berperasaan. Sehingga kita tidak hanya menyakiti orang lain tapi diri kita sendiri bahkan kita juga telah melukai Tuhan yang adalah Cinta.

Dalam Injil, Yesus menyeruhkan tentang pengampunan tanpa batas oleh syarat-syarat tertentu, oleh waktu dan kondisi. Mengampuni tidak berarti melupakan melainkan menerima dan berdamai dengan luka tersebut. Setiap mendaraskan doa “Bapa Kami” pada kalimat “ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”,kita membuat persetujuan dengan Tuhan bahwa Tuhan akan mengampuni dosa kita jika kita mengampuni kesalahan orang lain.

Aku benar-benar terpukul mendengar permenungan dari Romo, apalagi dengan kata-kata penutup renungan. Thomas Merton menulis:”Kita tidak berdamai dengan orang lain karena kita tidak berdamai dengan diri kita sendiri. Dan kita tidak berdamai dengan diri kita sendiri karena kita tidak berdamai dengan Allah”.

Pada saat acara penutupan retret aku menulis surat untuk Yesus.

Dear Jesus,

Aku minta maaf karena dendam dan amarahku telah melukai hati terkudusMu. Perasaanku ini telah membuat aku menjadi pribadi yang tertutup dan mudah marah.

Terima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk mengikuti kegiatan tapa ini. Karena dengannya aku menjadi sadar akan kekeliruanku. Terima kasih karena olehMulah, aku mulai membuka hati untuk memaafkan ayah dan tanteku. Terima kasih karena telah membebaskanku beban yang menghimpit jiwa dan ragaku. Kini aku bukanlah aku yang dahulu, aku merasa terlahir kembali. Aku mohon mampukan aku untuk mengampuni sekalipun itu sangat menyakitkan. Sebab aku sangat mencintaiMu dan tidak mau melukaiMu lagi.

Yang mencintaimu,

KATTYA

Pemberian dan Persembahan Janda Miskin — Renungan Harian

0
Gambar ilustrasi oleh sasint / Pixabay

Pemberian dan Persembahan Janda Miskin: Renungan Harian Katolik, Minggu 11 November 2018 — JalaPress.com; Bacaan I: 1 Raj. 17:10-16; Bacaan II: Ibr. 9:24-28; Injil: Mrk. 12:38-44

Ada banyak pesan yang mau disampaikan kepada kita yang mengaku beriman dalam kisah tentang pertemuan nabi Elia dan janda pada bacaan pertama. Kadang kala dalam menghidupi iman, kita dituntut untuk melakukan hal-hal yang tidak masuk akal atau mustahil bagi dunia. Seperti janda miskin, oleh nabi dia diminta untuk memberinya roti sedang dia (Janda) hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak. Dengan iman, dia memenuhi permintaan tersebut dan Tuhan melimpahkan anugerah yang tidak terhingga bagi janda dan anaknya. Mereka tidak mati kelaparan hingga tiba musim penghujan. Tuhan tidak mengambil apa pun dari kita, melainkan memberikan segalanya.

Free-Photos / Pixabay

Dalam Injilnya, penginjil Markus mempertegas bahwa Tuhan tidak memandang jumlah dari persembahan melainkan membaca ketulusan hati. Janda miskin tidak hanya mempersembahkan dua keping recehan, tetapi ia memberi keseluruhan hidupnya ke dalam penyelenggaraan Tuhan (totalitas). Apakah kita seperti orang yang memberi dari kelebihannya atau seperti janda yang mempersembahkan keseluruhan hidup kita bagi Tuhan?

Yesus telah mengorbankan jiwa dan raga-Nya bagi keselamatan umat manusia. Dalam perayaan Ekaristi, kita mengenang sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Hendaknya setelah mendengar pesan Yesus melalui Sabda Tuhan dan dikuatkan oleh Tubuh dan darah-Nya, kita mampu mempersembahkan keseluruhan diri kita bagi kemuliaan Tuhan. Semoga.

Siapakah Yesus Itu? Allah atau Anak Allah?

0
Myriams-Fotos / Pixabay

Allah tidak bisa dilihat, dan karenanya tidak bisa dilukiskan. Kita tidak bisa membayangkan seperti apa wajah-Nya. Tidak ada orang yang bisa memandang wajah Allah secara empat mata. “Tuhan tidak pernah dilihat manusia dan manusia memang tidak dapat melihat-Nya” (1 Timotius 6:16). Allah berfirman, “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup” (Kel. 33:20).

Musa diberikan kesempatan yang istimewa oleh Allah, tidak untuk melihat wajah-Nya, tetapi paling tidak untuk bisa melihat punggung-Nya. Allah berfirman kepada Musa: “Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan” (Kel. 33:23).

Wajah Allah tidak pernah tersingkap kepada siapapun. Karenanya, kita tidak dapat membayangkan, apalagi melihat wajah-Nya. Dia melampau panca indra kita. Allah yang tak kelihatan itulah yang telah menciptakan dunia ini dengan segala isinya. Ia menciptakan alam semesta supaya kita – meski tidak melihat wajah-Nya – namun dapat tetap dapat merasakan kehadiran-Nya.

Allah yang tak kelihatan itu ‘peduli’ dengan kehidupan manusia yang sudah rusak akibat dosa. Ia mengirimkan para Nabi sebagai utusan-Nya, untuk memberikan teguran dan peringatan terhadap manusia, tetapi para Nabi itu justru ditolak dan dibunuh. Maka, Allah mau turun tangan sendiri. Ia mau memperbaiki hidup manusia ‘dari dalam’.

Sampai di sini, kita melihat bahwa di satu sisi, Allah itu tidak kelihatan, dan siapapun yang melihat wajah-Nya ‘tidak akan selamat’ (bdk. Kel. 33:23), tetapi di sisi lain, Ia mau memperbaiki keadaan manusia ‘dari dalam’. Maka, tidak bisa tidak, Ia harus masuk melalui pintu manusia, artinya menjadi manusia sama seperti kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa.

Allah masuk ke dalam ciptaan-Nya dengan cara memilih jiwa yang cocok dari sekian ciptaan-Nya untuk ‘dipakaikan’ rahimnya untuk Dia bersemayam dan lahir sebagai manusia. Peristiwa ini dikenal dengan istilah ‘inkarnasi’ (Latin, in = masuk, dan carne = daging). Apa yang masuk ke dalam daging? Injil Yohanes memberi penjelasan: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya” (Yoh. 1:1, 14).

Dengan masuk ke dalam daging dan mengambil rupa manusia, Allah yang mula-mula tidak kelihatan itu, akhirnya bisa dilihat, disentuh, dan hidup bersama dengan manusia. Dialah Yesus, Sang Immanuel, Allah beserta kita. Maka, siapapun yang melihat Dia, dia sudah melihat kehadiran Allah di dalam diri-Nya.

Tentu tidak semua orang langsung memahami peristiwa inkarnasi ini. Filipus, misalnya, ia meminta Yesus supaya menunjukkan Bapa itu kepadanya. Dia mengira bahwa Yesus hanya sekedar seorang utusan, sama seperti para Nabi yang diutus sebelumnya, atau hanya ‘anak Allah’. Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” (Yoh. 14:8). Yesus memberitahukan kepadanya bahwa ketika dia melihat Yesus, dia melihat Bapa.  “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa. Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh. 14:9, 11).

Sepanjang cerita Kitab Suci, Yesus seringkali berhadapan dengan dua kelompok manusia. Pertama, kelompok orang yang sulit menerima Allah dalam rupa manusia. Maka, berhadapan dengan orang dengan tipe seperti itu, Dia memberitahukan bahwa  diri-Nya adalah seorang utusan Allah. “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh. 5:30). Perkataan ini diucapkan oleh Yesus ketika berhadapan dengan orang-orang Yahudi yang berusaha mencari kesalahan-Nya. Orang Yahudi tidak bisa menerima bahwa Allah hadir dalam rupa manusia seperti Yesus.

Kedua, kelompok orang yang dekat dengan-Nya, yaitu para murid-Nya. Untuk orang-orang yang dekat dengan Dia, Yesus memberitahukan bahwa Dia dan Bapa adalah satu dan sama.  Secara khusus, kepada Petrus, Yesus memberitahukan bahwa Dia adalah Mesias, artinya Allah dalam rupa manusia; dan Ia meminta kepada para murid-Nya supaya jangan memberitahukan hal itu kepada siapapun juga (Mat. 16:20). Mengapa? Karena jika orang lain (kelompok pertama) mengetahui bahwa Yesus adalah Allah yang mengambil rupa manusia, maka mereka cukup sulit untuk menerima kebenaran itu, bahkan mereka akan mencari dan menghabisi Dia.

Sampai di sini, tidak ada kesimpulan lain yang bisa kita ambil selain bahwa Yesus itu sungguh Allah dan sungguh manusia. Ia adalah Allah yang ber-inkarnasi; Allah yang mengambil rupa manusia. Jadi, Yesus adalah Allah.

Hanya saja, sebutan Allah untuk Yesus sangatlah jarang digunakan. Hanya di beberapa tempat saja dan dengan hati-hati sekali Perjanjian Baru menyebut Yesus dengan sebutan ‘Allah’. Biasanya mereka mencari rumus-rumus lain, misalnya ‘Anak Allah’, ‘Anak Manusia’, ‘Mesias’, dan sebagainya. Adapun alasannya ialah adanya monoteisme ketat di lingkungan Yahudi yang tidak mengizinkan sebutan Allah untuk mengacu kepada Yesus. Namun demikian, Gereja Perdana memandang Yesus sebaga Tuhan Allah. Ini kentara dari fakta bahwa Gereja berdoa kepada Yesus.

Bandingkan:
https://www.quora.com/Who-is-Jesus-God-or-the-Son-of-God
https://christianity.net.au/questions/how_can_jesus_be_both_god_and_gods_son
Nico Syukur Dister. 2004. Teologi Sistematika 1, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 185

Curhatan Paulus dan Ajakan Yesus untuk Tidak Mengabdi kepada Mamon — Renungan Harian

0
Gambar ilustrasi oleh geralt / Pixabay

Curhatan Paulus dan Ajakan Yesus untuk Tidak Mengabdi kepada Mamon: Renungan Harian Katolik, Sabtu 10 November 2018 — JalaPress.com; Bacaan I: Flp. 4:10-19; Injil: Luk. 16:9-15

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan, bacaan pertama hari ini berisi tentang curhatan Paulus kepada jemaat di Filipi. Paulus menulis curhat-nya itu dengan penuh perasaan, hal itu tampak dari kalimat-kalimatnya.

Ia merasakan adanya perhatian yang luar biasa dari jemaat di Filipi. Tampaknya orang Filipi pernah cuek terhadap Paulus, makanya Paulus bilang, “Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku” (Flp. 4:10a).

Paulus akui bahwa memang selama ini jemaat di Filipi menaruh perhatian terhadapnya, tetapi mereka pernah tidak mempunyai kesempatan untuk memberikan perhatian itu terhadapnya (Flp. 4:10b).

Paulus menceritakan banyak hal mengenai bagaimana orang di Filipi memperlakukan dia ketika pertama kali dia mewartakan Injil. Sampai akhirnya orang-orang Filipi memberikan perhatian yang cukup terhadapnya, bahkan mereka juga sering mengirimkan bantuan untuknya.

Dari sekian deretan curhatan Paulus ini, saya merasa ada satu kalimat yang luar biasa diucapkannya, yaitu ketika dia menuliskan: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:13). Kalimat seperti ini hanya bisa keluar dari seseorang yang sungguh-sunggu mengandalkan Tuhan dalam hidupnya.

Paulus memberi kita contoh untuk itu. Ia dimasukkan ke dalam penjara dan keluar lagi sebagai orang yang tidak mempunyai apa-apa. Ia hanya mengandalkan bantuan dari jemaat yang dilayaninya, tetapi ia selalu merasa cukup. Ia bersyukur kepada Tuhan untuk semua itu.

Persis di sini letak masalah kita. Kita seringkali gusar dan gelisah karena selalu merasa tidak cukup. Kita selalu merasa sebagai orang yang paling sengsara di dunia ini. Kita lupa bahwa di luar sana banyak sekali orang yang tidak mempunyai apa-apa, tetapi mereka diam-diam saja.

Masalah kita sebetulnya bukan karena kita berkekurangan, tetapi karena kita tidak tahu bersyukur. Orang yang tidak tahu bersyukur memang tidak akan pernah merasa cukup dalam hidupnya.

Kita mesti belajar dari Paulus bahwa tidak ada persoalan yang tidak bisa terselesaikan. Memang, dengan kekuatan sendiri kita tidak bisa. Tetapi, segala perkara itu dapat terselesaikan di dalam Tuhan, Dia yang senantiasa memberikan kepada kita kekuatan dan kemampuan.

Sebenarnya, yang paling membuat kita merasa tidak cukup adalah karena kita hanya berfokus pada harta duniawi. Kita dikuasai oleh mamon. Segala perhatian kita dikerahkan untuk mengejar harta. Maka, memang, jangan harap kita tahu bersyukur kepada Tuhan, jika hati kita hampir seluruhnya jatuh pada harta duniawi.

Yesus berkata: “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Luk. 16:13).

Orang bilang, ‘uang adalah raja’. Jika seseorang sudah berada di bawah kuasa uang, biasanya hal yang lain dilupakan. Banyak orang terlihat sangat religius, ke mana-mana sok gamis, tetapi ketika berhadapan dengan uang, tergiur juga. Itu baru perkara kecil, dan sudah terbukti tidak setia. Yesus dengan jelas berkata: “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Luk. 16:10).

Ketika Tuhan memberi kita rezeki, itu harus dilihat sebagai berkat sekaligus ujian. Berkat, karena dengan itu Tuhan membantu kita dalam mengatasi perkara dan kebutuhan kita. Tetapi sekaligus ujian, karena dengan itu juga Tuhan ingin tahu apakah kita masih setia kepada-Nya ketika segala kebutuhan kita sudah tercukupi seperti itu?

Banyak kali, ketika orang kenyang, mereka lupa Tuhan. Ketika orang sudah terpenuhi semua kebutuhannya, mereka biasanya tidak mau lagi percaya pada Tuhan. Nah, di situlah kita ditantang, apakah kita masih percaya kepada Tuhan ketika kita sudah mempunyai segala-galanya?

Idealnya, harta duniawi itu dipakai sebagai sarana, bukan tujuan dari hidup kita. Tujuan hidup kita bukan untuk mengejar harta duniawi, tapi untuk bisa bersatu dengan Sang Pencipta. Harta duniawi hanya sebagai sarana yang dapat kita pakai untuk membantu kita supaya suatu saat kelak, kita bisa bersatu dengan Tuhan. Caranya: yaitu dengan menggunakan apa yang kita miliki itu dengan sebaik-baiknya, secara jujur, dan jika memungkinkan dipergunakan untuk menolong orang lain. Semoga.

Dasar 7 Sakramen Dalam Gereja Katolik

0

Mungkin banyak orang Katolik yang bertanya tentang dasar-dasar sakramen dalam Gereja Katolik. Pada kesempatan ini tim jalapress.com akan memaparkan secara sederhana dasar-dasar dari sakramen yang ada dalam Gereja Katolik. Berikut dasar-dasar sakramen-sakramen dalam Gereja Katolik dan penjabarannya dalam Katekismus Gereja Katolik.

Dasar Kitab Suci

  1. Sakramen Baptis (Mat. 28:18-20).
  2. Sakramen Krisma (Mat. 3:13-17).
  3. Sakramen Pengurapan Orang Sakit (Yak. 5:12-20).
  4. Pernikahan (Kej. 2:24-25).
  5. Imamat (mat. 19:12).
  6. Ekaristi (Luk 22:7-23).
  7. Pengakuan Dosa (Yoh. 20:21-23).

Penjabaran Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK)

1. Sakramen Pembaptisan (KGK 1213-1284)

Akibat dosa asal, kita lahir di dunia dengan kehilangan kemuliaan Allah (Rm 3:23), sehingga kita tidak mungkin bersekutu dengan Allah. Yesus telah turun ke dunia untuk membawa manusia kembali ke pangkuan Allah. Yesus mengatakan bahwa seseorang harus “dilahirkan kembali dalam air dan Roh” (Yoh 3:5), yaitu di dalam Pembaptisan, di mana seseorang dilahirkan kembali secara spiritual. Oleh kelahiran baru di dalam Pembaptisan ini kita diselamatkan (lih. 1Pet 3:21), karena di dalam Pembaptisan kita dipersatukan dengan kematian Kristus untuk dibangkitkan bersama-sama dengan Dia (Rom 6:5).

Jadi Sakramen Pembaptisan mendatangkan dua macam berkat, yaitu penghapusan dosa dan pencurahan Roh Kudus beserta karuniaNya ke dalam jiwa kita, yang memampukan kita untuk hidup baru (Acts 2:38). Oleh Pembaptisan, kita diangkat menjadi anak-anak Allah dan digabungkan ke dalam Gereja yang menjadikan kita anggota Tubuh Kristus.

2. Sakramen Ekaristi (KGK 1322- 1419)

Kristus mengasihi Gereja-Nya tanpa batas dengan menganugerahkan Tubuh dan Darah-Nya sendiri kepada setiap anggota keluargaNya di dalam perjamuan Ekaristi. Ekaristi merupakan penyempurnaan dari perjamuan Paska Perjanjian Lama, yang ditandai dengan kurban anak domba yang membebaskan orang-orang Israel dari maut. Dalam Ekaristi, Kristuslah, Anak Domba Allah yang menjadi kurban untuk menghapus dosa-dosa kita, dan karena itu kita memasuki Perjanjian Baru yang membebaskan kita dari kematian kekal.

Yesus sendiri berkata, “Jika kamu tidak makan daging-Ku dan minum darah-Ku, engkau tidak mempunyai hidup di dalam dirimu” (Yoh 6:53). Maka, dengan menyambut Ekaristi, kita melaksanakan ajaran Yesus untuk memperoleh hidup yang kekal. Sakramen ini ditetapkan oleh Yesus sendiri pada Perjamuan Terakhir sebelum sengsara-Nya, ketika Ia berkata kepada para rasulNya, “Ambillah, makanlah, inilah TubuhKu… Minumlah…inilah darahKu yang ditumpahkan bagiMu.. ..perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk 22:19-29, Mat 26: 28, Mrk 14:22-24).

Gereja Katolik mengajarkan bahwa kurban salib Kristus terjadi hanya sekali untuk selama-lamanya (Ibr 9:28). Kristus tidak disalibkan kembali di dalam setiap Misa Kudus, tetapi kurban yang satu dan sama itu dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus untuk mendatangkan buah-buahnya, yaitu penebusan dan pengampunan dosa. Hal itu dimungkinkan karena Yesus yang mengurbankan Diri adalah Tuhan yang tidak terbatas oleh waktu dan kematian, sehingga kurbanNya dapat dihadirkan kembali, tanpa berarti diulangi.

Melalui perkataan imam yang dikenal sebagai konsekrasi, roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus oleh kuasa Roh Kudus. Karena itu, kita harus memeriksa diri sebelum menyambut Ekaristi, sebab “barangsiapa dengan tidak layak makan roti dan minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan…dan barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya” (1Kor 11:27-29). Dari pengajaran Rasul Paulus ini, kita mengetahui bahwa Kristus sungguh hadir di dalam Ekaristi. Yesus memakai segala cara untuk menyatakan bahwa Ia mau tinggal bersama kita, untuk menyertai dan menguduskan kita, karena sungguh besarlah kasihNya kepada kita sebagai anggota Gereja-Nya.

3. Sakramen Penguatan (KGK 1285-1321)

Tuhan memperkuat jiwa kita juga dengan Sakramen Penguatan. Hal ini kita lihat dari kisah para rasul yang, walaupun telah menerima rahmat Tuhan, mereka dikuatkan secara istimewa pada hari Pentakosta, ketika Roh Kudus turun atas mereka. Atas karunia Roh Kudus ini para rasul dapat dengan berani mengabarkan Injil dan melaksanakan misi yang Yesus percayakan kepada mereka. Karunia Roh Kudus ini diturunkan melalui penumpangan tangan para rasul (Kis 8:14-17) yang kemudian juga dilanjutkan oleh para penerus mereka (para uskup) kepada Gereja-Nya. Melalui Sakramen Penguatan inilah kita dikuatkan dalam iman untuk menghadapi tantangan hidup.

4. Sakramen Pengakuan/ Tobat (KGK 1422-1498)

Allah mengetahui bahwa di dalam perjalanan iman, kita dapat jatuh di dalam dosa. Maka Ia menganugerahkan Sakramen Pengakuan/ Tobat pada kita, karena Allah selalu siap sedia untuk mengangkat kita dan mengembalikan kita ke dalam persekutuan dengan Dia. Di dalam sakramen ini kita mengakukan dosa kita di hadapan imam, karena Yesus telah memberi kuasa kepada para imamNya untuk melepaskan umatNya dari dosa. Setelah kebangkitanNya, Yesus berkata kepada para rasulNya, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:22-23). Melalui Sakramen Tobat ini kita menerima pengampunan dosa dari Tuhan dan juga rahmatNya, yang membantu kita untuk menolak godaan dosa di waktu yang akan datang.

5. Sakramen Perkawinan (KGK 1601-1666)

Sebagian besar orang dipanggil untuk kehidupan berumah tangga. Melalui Sakramen Perkawinan, Tuhan memberikan rahmat yang khusus kepada pasangan yang menikah untuk menghadapi bermacam tantangan yang mungkin timbul, terutama sehubungan dengan membesarkan anak-anak dan mendidik mereka untuk menjadi para pengikut Kristus yang sejati.

Dalam sakramen Perkawinan terdapat tiga pihak yang dilibatkan, yaitu mempelai pria, mempelai wanita dan Allah sendiri. Ketika kedua mempelai menerimakan sakramen Perkawinan, Tuhan berada di tengah mereka, menjadi saksi dan memberkati mereka. Allah menjadi saksi melalui perantaraan imam, atau diakon, yang berdiri sebagai saksi dari pihak Gereja.

Sakramen Perkawinan adalah kesatuan kudus antara suami dan istri yang menjadi tanda yang hidup tentang hubungan Kristus dengan GerejaNya (Ef 2:21-33). Karenanya, perkawinan sakramental Katolik adalah sesuatu yang tetap dan tak terceraikan, kecuali oleh maut (Mrk 10:1-2, Rom 7:2-3, 1Kor 7:10-11).

6. Sakramen Tahbisan (KGK 1536- 1600)

Pada zaman Perjanjian Lama, meskipun bangsa Israel telah dikatakan sebagai ‘kerajaan imam dan bangsa yang kudus’ (Kel 19:6), Allah tetap memanggil para pria tertentu untuk menjalankan tugas sebagai imam (Kel 19:22). Hal yang sama terjadi di dalam Perjanjian Baru, sebab walaupun semua orang Kristen dikatakan sebagai ‘imamat yang rajani’ (1Pet2:9), namunYesus memanggil secara khusus beberapa orang pria untuk menjalankan tugas pelayanan sebagai imam. Melalui Tahbisan ini, para imam diangkat untuk menjadi pelayan Gereja untuk menjalankan tugas-tugas Kristus, yaitu sebagai imam untuk menguduskan, nabi untuk mengajar dan raja untuk memimpin dan melayani umat-Nya. Di atas semua ini tugas yang terpenting adalah mengabarkan Injil dan menyampaikan sakramen-sakramen.

7. Sakramen Pengurapan Orang Sakit (KGK 1499- 1532)

Alkitab mengatakan agar jika kita sakit, maka baiklah kita memanggil penatua Gereja untuk mendoakan dan mengurapi kita dengan minyak di dalam nama Tuhan. Dan doa yang didoakan dengan iman ini akan menyelamatkan kita yang sakit dan mengampuni dosa kita (Yak 5:14-15). Oleh karena itu, sakramen Urapan orang sakit ini tidak hanya dimaksudkan untuk menguatkan kita di waktu sakit, tetapi juga untuk membersihkan jiwa kita dari dosa dan mempersiapkan kita untuk bertemu dengan Tuhan.

Dengan demikian kiranya kita semakin menyadari bahwa sakramen-sakramen dalam Gereja Katolik mempunyai dasar dari Alkitab.

Penulis: Silvester Detianus Gea

Apakah Yesus Mempunyai Saudara Kandung?

0
Gambar ilustrasi oleh Didgeman / Pixabay

Tidak sedikit orang berpendapat bahwa Yesus mempunyai saudara kandung. Alasannya: Kitab Suci menyebutkan demikian. Memang, jika kita lihat sepintas, pendapat ini tidak terbantahkan. Benarlah, dalam Kitab Suci beberapa kali disebutkan soal ‘saudara’ Yesus ini.

Dalam Injil Markus, disebutkan bahwa sekali peristiwa orang banyak bertanya-tanya  tentang Yesus: “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” (Mrk. 6:3).

Dalam Injil Lukas, ketika Yesus sedang mengajar, orang memberitahukan kepada-Nya: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau” (Luk. 8:20).

Dan, dalam Injil Yohanes diceritakan bahwa setelah menunjukkan mukjizat pada pesta pernikahan di Kana, ‘Yesus pergi ke Kapernaum, bersama-sama dengan ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya dan murid-murid-Nya, dan mereka tinggal di situ hanya beberapa hari saja’ (Yoh. 2:12).

Sampai di situ, kita bisa katakan bahwa ternyata Yesus mempunyai saudara dan saudari. Tetapi, yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah: apakah mereka itu merupakan saudara kandung, saudara tiri, ataukah saudara sepupu dari Yesus? Sepanjang sejarah, para ahli Kitab Suci berdebat soal pertanyaan ini.

Perdebatan pertama terjadi antara St. Hieronimus dengan seorang teolog lain pada abad keempat, yaitu Helvidius, yang telah menuliskan bahwa setelah melahirkan Yesus, Maria mempunyai anak yang lain dari suaminya, Yoseph.

Pendapat Helvidius ini mengambil dasar pada Injil Mat. 1:24-25 yang berbunyi: ‘Yoseph mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus’.

[postingan number=3 tag= “tuhan-yesus”]

Dari ayat ini ditafsirkan bahwa wajarlah jika Yoseph tidak ‘mendekati’ Maria saat Maria sementara mengandung. Tetapi, setelahnya, tentulah ia dapat ‘mendekati’ Maria; sehingga mereka mempunyai anak yang lain selain Yesus.

Helvidius memperkuat pendapatnya dengan mengutip Injil Luk. 2:6-7, “Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan”.

Dari ayat ini digarisbawahi frasa ‘anaknya yang sulung’. Ia berpendapat bahwa jika Yesus adalah anak mereka yang sulung, tentu itu berarti bahwa Yesus mempunyai adik-adik yang menjadi saudara dan saudari seibu-sebapa-Nya.

St. Hieronimus, seperti halnya juga dengan berbagai komunitas Gereja pada abad keempat, tidak sependapat dengan Helvidius. Ia percaya bahwa Bunda Maria tetap tinggal sebagai perawan seumur hidupnya. Saudara-saudari yang disebutkan di dalam Kitab Suci itu, demikian Hieronimus, berasal dari keturunan Maria Kleopas, saudari dari Bunda Maria (Yoh. 19:25); sehingga mereka adalah sepupu dari Yesus. Dia mempertegas pendapatnya dengan mengatakan bahwa kata Yunani ‘adelphios’ dapat juga merujuk pada sepupu, jadi bukan hanya untuk menyebut saudara-saudari biologis.

Apalagi, jika diperhatikan, dalam etika keluarga, sangat tidak sopan dan tidak diperbolehkan bagi seorang adik untuk mencampuri urusan kakaknya, seperti yang dilakukan oleh ‘saudara-saudari’ Yesus terhadap Yesus. Pendapat ini mengambil contoh Injil Mrk. 3:31 yang berbunyi: “Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia.” Juga dari Injil Yoh. 7:3-4, “Maka kata saudara-saudara Yesus kepada-Nya: “Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-murid-Mu juga melihat perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan. Sebab tidak seorang pun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia.”

Tampaknya sangatlah tidak etis jika sikap dan kata-kata ini datang dari seorang adik untuk kakaknya, apalagi sang kakak merupakan seorang public figure. Maka, sangat masuk akal jika sikap dan omongan seperti ini keluar dari mulut sepupu, bukan dari adik kandung.

Pandangan ini juga dipertegas oleh adanya kenyataan bahwa “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya” (Yoh. 19:26-27).

Jika saja Yesus mempunyai saudara dan saudari kandung, tentulah Ia tidak menitipkan ibu-Nya kepada orang lain, sekalipun itu merupakan murid yang dikasihi-Nya.

Epifianus, uskup Salamis, memberikan kemungkinan yang lain di antara pendapat St. Hieronimus dan Helvidius. Menurutnya, saudara-saudari yang disebutkan di dalam Injil itu bukanlah sepupu maupun saudara-saudari kandung dari Yesus, melainkan anak-anak Yoseph dari perkawinan sebelumnya; sehingga mereka adalah saudara-saudari tiri dari Yesus.

Tiga argumentasi ini terus diperdebatkan sampai hari ini. Ditambah lagi, para penulis Kitab Suci Perjanjian Baru sama sekali tidak meninggalkan catatan yang jelas mengenai bagaimana jemaat perdana berpendapat soal keperawanan Maria setelah melahirkan Yesus.

Kalau demikian, bagaimana posisi Gereja Katolik? Gereja Katolik tetap pada keyakinan bahwa Bunda Maria hanya memiliki satu anak, yaitu Yesus, yang bukan merupakan anak biologis dari Yoseph (Mat. 1:18-25 dan Luk. 1:34-35). Juga, sama sekali tidak ada bukti dalam Kitab Suci yang menunjukkan bahwa sebelum menikahi Maria, Yoseph merupakan single parent. Jadi, bagi Gereja Katolik, satu-satunya yang masuk akal adalah bahwa ‘saudara-saudari’ Yesus yang disebutkan di dalam Kitab Suci itu merupakan sepupu dari Yesus, yaitu anak dari saudari ibu-Nya, Maria.

Ingatlah perkataan Yesus ini: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku” (Mrk. 3:33-35).

Referensi
https://www.uscatholic.org/articles/201312/did-jesus-have-brothers-and-sisters-28224
https://www.bibleinfo.com/en/questions/did-jesus-have-any-brothers-andor-sisters
https://www.franciscanmedia.org/ask-a-franciscan-did-jesus-have-siblings/
http://www.katolisitas.org/apakah-yesus-mempunyai-saudara-saudari-kandung/

Katolik Menjawab: Yesus Tidak Mempunyai Saudara Kandung

0
suju / Pixabay

Banyak orang mengira bahwa Yesus mempunyai saudara kandung. Mereka merujuk pada beberapa ayat dalam Kitab Suci, misalnya Mat 3:31; 6:3; 12:46; Yoh 2:12, Mat 12:46. Apalagi, pada Matius 1:25, Yesus disebut sebagai ‘anak sulung’; juga pada Matius 1:24-25 muncul kalimat “Tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki“.

[postingan number=3 tag= ‘saudara-yesus’]

Bagaimana kita menanggapi pandangan semacam itu? Pertama, istilah ‘saudara’ yang dalam bahasa Yunani disebut Adelphos – tunggal/ Adelphoi – jamak. Kata ‘adelphos/ saudara’ mempunyai banyak arti, antara lain saudara seiman (Kis 1:12-15; 11:1; 15:3,23,32; 21:7), saudara sebangsa (Yer 34:9; Neh 5:7; Kis 7:26; 13:15,38; 22:1; 28:17,21; Rom 9:3), dan kerabat (1Taw 15:5-18, 2 Raj 10:13).

Kedua, Abraham dalam Perjanjian Lama menyebut Lot sebagai saudara, padahal Lot adalah keponakan Abraham (bdk. Kej. 13:8; 14:14,16). Selain itu, Laban memanggil Yakub sebagai saudara, padahal Yakub adalah keponakannya (bdk. Kej. 29:15). Juga, Daud memanggil ‘saudara’ kepada Yonatan (bdk. 2 Sam. 1:26). Bahkan, Yesus sendiri menyebut ‘saudara-saudara’ kepada Rasul Petrus. Ia berkata: “Jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara- saudaramu” (Luk 22:32).

Injil Matius 27:56 dan Markus 15:40 menyebut nama-nama perempuan yang melihat Yesus dari jauh. Mereka adalah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu dari anak-anak Zebedeus (bdk. Mat 27:56); Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda, Yoses dan Salome (Markus 15:40).

Dari ayat-ayat itu kita bisa menyimpulkan bahwa ada beberapa Maria, antara lain Maria Ibu Yesus (Yoh. 19:26-27), Maria ibu Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas (Yoh. 19:26-27), Maria saudara Lazarus, dan Maria Magdalena. Dengan demikian jelas bahwa Maria ibu Yakobus dan Yusuf tidak sama dengan Maria, Ibu Yesus. Maria ibu Yakobus dan Yosef (Yusuf) disebut sebagai salah satu perempuan yang menyaksikan penyaliban Yesus dan yang ikut melihat kuburan Yesus yang kosong (bdk. Mat 27:56; Mrk 15:40, Mrk 16:1; Luk 24:10)

Ketiga, kata ‘saudara’ dalam Kitab Suci tidak selalu berarti ‘saudara kandung’. Meskipun Kitab Suci menyebut bahwa Yesus adalah ‘Anak Tunggal’, Ia tidak memiliki saudara kandung, baik laki-laki maupun perempuan. Adapun kalimat yang menyebut ‘saudara-saudara’ tidak pernah merujuk pada anak-anak Maria atau anak Yusuf.

Keempat, dalam budaya Yahudi, tidak mungkinlah adik-adik bertindak tidak sopan terhadap kakaknya. Maka, tindakan yang dilakukan oleh ‘saudara-saudara’ Yesus dalam cerita Kitab Suci, yang menilai bahwa Yesus tidak waras dan hendak mengambil Dia dari hadapan umum tidak, jelas bukanlah tindakan yang dilakukan oleh saudara-saudara kandung Yesus. Dengan demikian, ‘saudara-saudara’ yang dimaksud di dalam cerita itu bukanlah saudara kandung Yesus.

Kelima, peristiwa penyerahan Maria oleh Yesus kepada Yohanes (bdk. 19:25-27) semakin memperjelas bahwa Yesus tidak mempunyai saudara-saudara kandung. Jika Maria mempunyai anak-anak lain selain Yesus, tentu Yesus tidak akan menyerahkan Ibu-Nya itu kepada Yohanes. Sederhananya, jika Maria mempunyai anak lain selain Yesus, setidaknya Yesus memberikan pesan kepada Yohanes supaya saudara-saudara-Nya itu mengurus Maria, ibu mereka.

Keenam, frasa kata ‘anak sulung’ dalam Matius 1:25 merupakan istilah yuridis yang diberikan pada anak laki-laki pertama. Menurut Perjanjian Lama, ‘anak sulung’ laki-laki harus ditebus 40 hari setelah ia lahir (bdk. Kel. 34:20). Oleh sebab itu, sebutan ‘anak sulung’ tidak dimaksudkan untuk menyebut urutan lahir; tetapi sebagai tanda keistimewaan seseorang. Sebagai contoh, dalam Mazmur 89:27, Daud disebut sebagai ‘anak sulung’; padahal dia merupakan anak yang kedelapan (bdk. 1 Sam. 16). Dengan demikian, Yesus disebut sebagai ‘anak sulung’ semata-mata untuk menekankan keistimewaan dan kedudukan-Nya sebagai penyelamat manusia.

 Ajaran Bapa Gereja Katolik [1]

Pertama, Tertullian (213), “Dan sungguh, ada seorang perawan … yang melahirkan Kristus, supaya semua gelar kekudusan dapat dipenuhi di dalam diri orang tua Kristus, melalui seorang ibu yang adalah perawan dan istri dari satu orang suami” — (Tertullian, On Monogamy, 8).

Kedua, St. Athanasius (293-373) menyebut Maria sebagai ‘Perawan selamanya(St. Athanasius, Discourses Against the Arians, 2, 70, Jurgens, Vol.1, n. 767a).

Ketiga, St. Gregorius Nissa (330-395):  “Sebab jika Yusuf mengambilnya [Maria] untuk menjadi istrinya, demi maksud mempunyai anak-anak, mengapa Maria merasa heran pada saat pemberitaan kabar [oleh malaikat Tuhan], sebab jika demikian ia sendiri telah menerima bahwa akan menjadi ibu menurut hukum kodrat?”  (St Gregory of Nyssa, On the Holy Generation of Christ, 5)

Keempat, St. Epifanus (374): Allah Putera …. telah lahir sempurna dari Maria yang suci dan tetap Perawan oleh Roh Kudus….” (St. Epiphanus, Well Anchored Man, 120).

Kelima, St. Hieronimus (347- 420) tidak hanya menyebutkan keperawanan Maria, tetapi juga keperawanan Yusuf (lih. St. Jerome, The Perpetual Virginity of Blessed Mary, Chap 21).

Keenam, St. Agustinus dan St. Ambrosius (415), mengajarkan keperawanan Maria sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus Kristus, sehingga Maria adalah perawan selamanya (lih. St. Augustine, Sermons, 186, Heresies, 56; Jurgens, vol.3, n. 1518 dan 1974d).

Ketujuh, St. Petrus Kristologus (406- 450): “Sang Perawan mengandung, Sang Perawan melahirkan anaknya, dan ia tetap perawan” (St. Petrus Kristologus, Sermon 117).

Kedelapan, Paus St. Leo Agung (440-461) : “… a Virgin conceived, a Virgin bare and a Virgin she remained. – [Ia adalah seorang Perawan yang mengandung, Perawan melahirkan, dan ia tetap Perawan” (Paus St. Leo Agung, On the Feast of the Nativity, Sermon 22:2).

Kesembilan, St. Yohanes Damaskinus (676- 749) juga mengatakan hal yang serupa: “Ia yang tetap Perawan, bahkan tetap perawan setelah kelahiran [Kristus] tak pernah sampai akhir hidupnya berhubungan dengan seorang pria… Sebab meskipun dikatakan Ia [Kristus] sebagai yang ‘sulung’…. arti kata ‘sulung’ adalah ia yang lahir pertama kali, dan tidak menunjuk kepada kelahiran anak- anak berikutnya.” (St. Yohanes Damaskinus, Orthodox Faith, 4:14 ).

Ajaran Pendiri Gereja Protestan[2]

Pertama, Martin Luther (1483-1546): “Kristus Penyelamat kita, adalah buah yang nyata dan alami dari rahim Maria yang perawan …. Ini adalah tanpa kerjasama dari laki-laki, dan ia tetap perawan setelah itu. […] Kristus… adalah Anak laki-laki yang tunggal dari Maria dan Perawan Maria tidak melahirkan anak-anak lain selain Dia … Saya cenderung setuju dengan mereka yang menyatakan bahwa ‘saudara-saudara’ itu sesungguhnya berarti ‘saudara-saudara sepupu’ sebab Kitab suci dan orang-orang Yahudi selalu menyebut saudara sepupu sebagai saudara-saudara.” ((Martin Luther, Sermons on John)).

Kedua, John Calvin (1509-1564): Calvin mengecam Helvidius, yang mengatakan bahwa Maria mempunyai banyak anak. Calvin mengatakan, “Helvidius menunjukkan ketidaktahuan yang berlebihan dengan menyimpulkan bahwa Maria mempunyai banyak anak, sebab saudara-saudara Yesus kerap kali disebut.” ((John Calvin, Harmony of Matthew, Mark & Luke, sec. 39 (Geneva, 1562), vol. 2 / From Calvin’s Commentaries, tr. William Pringle, Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1949, p.215; on Matthew 13:55))

Ketiga, Ulrich Zwingli ((1484-1531):

“Saya yakin dan percaya bahwa Maria, sesuai dengan perkataan Injil, sebagai Perawan murni melahirkan Putera Allah dan pada saat melahirkan dan sesudahnya selalu tetap murni dan tetap perawan (‘forever remained a pure, intact Virgin’).”  (Zwingli Opera, Corpus Reformatorum, Berlin, 1905, v. 1, p. 424).

Referensi
[1] Mengutip www.katolisitas.org
[2] Ibid, www.katolisitas.org

Hukum Tabur-Tuai a la Paulus: Apa yang Kita Tabur, Itu yang Kita Tuai

0
Gambar ilustrasi oleh lumix2004 / Pixabay

Kita pasti sudah sering mendengar konsep tentang tabur-tuai. “Apa yang kita tabur, itu yang kita tuai.” Paulus dalam suratnya kepaa jemaat di Korintus merumuskannya dengan kalimat yang sangat bagus. Ia berkata: “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (2 Kor. 9:6).

Apa yang dikatakan oleh Paulus itu sangat benar. Dalam dunia pertanian, misalnya, jika kita menanam padi hanya dalam satu petak kecil, maka jangan pernah berharap bahwa hasilnya nanti akan sama jumlahnya dengan mereka yang menanam padi dalam sepuluh petak besar. Itu jelas tidak mungkin. Kita menunai sesuai dengan seberapa banyak yang kita tanam. Maka, jika  kita mau supaya mendapatkan hasil yang banyak, berarti kita harus menabur banyak.

Sekali lagi, kita menuai dari apa yang kita tabur. Ini berlaku juga dalam hidup keseharian kita. Jika kita banyak menabur kebaikan, maka banyak pula kebaikan yang kita dapat. Jika kita menabur hanya sedikit kebaikan, maka hanya sedikit itu pula yang kita dapatkan.

Karena itu, kita diminta supaya tidak pelit dalam menabur kebaikan. Taburlah kebaikan sebanyak-banyaknya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa orang yang ikhlas menaburkan banyak kebaikan, akan banyak mendapatkan kebaikan pula. Biasanya, jika orang baik berada dalam masalah dan membutuhkan pertolongan, orang lain tidak akan berpikir panjang untuk memberi bantuan.

Tetapi sebaliknya, orang yang selama hidupnya pelit dan tidak mau menaburkan kebaikan, hidupnya susah. Jika orang seperti itu berada dalam masalah dan membutuhkan pertolongan, biasanya orang berpikir panjang untuk memberikan bantuan kepadanya. Nah, begitulah hidup kita ini. Kita akan menuai, hanya jika kita pernah menabur. Kalau kita tidak menabur apa-apa, kita juga tidak akan menuai apa-apa.

Karena itu, Paulus mengajak kita supaya taburlah kebaikan. “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Kor. 9:7).

Banyak orang mengatakan bahwa mereka sebenarnya siap berbagi, tapi tidak tahu apa yang harus dibagi. Mereka merasa serba kurang dalam segala hal. Memang, kita akan selalu merasa serba kekurangan. Tetapi, sabda Tuhan mengingatkan kita: “Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (2 Kor. 9:8).

Ketika Tuhan meminta kita untuk menabur, Ia sebenarnya sudah memberi kita benihnya. Ia sudah melimpahkan segala kasih karunia-Nya itu kepada kita. Kita sudah memilikinya. Hanya saja kita tidak melihatnya; atau karena kita tidak pernah bersyukur atas apa yang sudah ada. Kita selalu ingin mendapatkan sesuatu yang lebih.

Yesus mengajarkan kepada kita tentang pengorbanan. Ia bersabda: “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh. 12:24).

Benih itu harus ditaburkan ke tanah supaya bisa tumbuh. Ketika kita menaburkan sesuatu, dalam arti tertentu kita berkorban. Kita menaburkan benih kebaikan kepada orang lain. Kita mengorbankan waktu kita, tenaga kita, pikiran kita, bahkan materi kita. Itu tidak akan percuma. Yakinlah akan ada manfaatnya. Orang yang kita bantu itu akan membantu juga orang-orang yang ada di sekitarnya, bahkan boleh jadi termasuk kita juga. Pengorbanan kita menghasilkan buah banyak, karena makin banyak orang akan saling membantu satu sama lain.

Lebih jauh dari sekedar mengorbankan tenaga, waktu, dan materi, Yesus bersabda: “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal” (Yoh. 12:25).

Yesus memberi jaminan. “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa” (Yoh. 12:26). Pengorbanan diri kita akan diganjar oleh Tuhan.

Tuhan mau supaya hidup kita bermanfaat bagi orang banyak, bahkan kalau perlu sampai tetes darah penghabisan.

Jadikanlah diri kita berguna bagi orang banyak, orang-orang yang kita jumpai setiap hari, mereka yang ada di sekitar kita, orang-orang yang membutuhkan kehadiran dan pertolongan kita. Kita harus mempunyai orientasi keluar, yaitu demi orang banyak – bukan demi diri sendiri. Jadi, fokus kita adalah keluar, bukan ke dalam diri sendiri. Semoga kita menjadi orang-orang yang siap menaburkan benih kebaikan, siap menaburkan aneka perbuatan baik, bahkan jika itu menuntut pengorbanan diri. Kita siap mengorbankan apa saja, termasuk diri pribadi. Yakinlah, Tuhan akan memperhitungkan semuanya; dan Ia akan memberikan kepada kita ganjaran setimpal dengan perbuatan baik dan pengorbanan kita; sebab memang tidak ada pengorbanan yang sia-sia.

Waspadalah terhadap Nabi Palsu! Berikut Cara Mengenalinya

0
Gambar ilustrasi oleh RitaMarcia / Pixabay

Kita tahu bahwa tugas seorang nabi adalah untuk mengajar. Tapi sekarang ini kita harus hati-hati sebab apa-apa sudah ada KW-nya, ada versi palsunya. Seperti barang: ada yang asli, ada yang palsu; alamat juga: ada yang asli, ada yang palsu; demikian pula nabi: ada yang asli, ada juga yang palsu.

Nabi yang asli senantiasa menyampaikan pengajaran yang benar, yang membawa orang pada kebaikan. Maka, setiap orang yang dalam hidupnya mengajarkan orang lain untuk berbuat baik, tentang bagaimana caranya berdamai dengan sesama, tentang bagaimana mengasihi orang lain, tentang cara membantu orang yang membutuhkan pertolongan, dan berbagai hal baik lainnya; merekalah nabi-nabi yang sesungguhnya. Mereka itu bisa orang tua kita, sahabat kita, para pemimpin kita, dan sebagainya.

Lalu, bagaimana dengan nabi yang palsu? Mereka juga menyampaikan pengajaran, tetapi yang mereka ajarkan isinya cenderung menyesatkan banyak orang. Kita tidak perlu heran jika ada orang yang disebut sebagai nabi palsu sebab kita patut menyadari bahwa tidak semua orang di dunia ini tulus, ada juga yang modus. Tidak semua bisa dipercaya, ada juga yang tidak bisa dipercaya. Makanya, kita selalu diingatkan supaya senantiasa waspada. Tuhan Yesus bersabda: “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Mat. 7:15).

Untuk membedakan antara nabi yang asli dan yang palsu tidaklah mudah sebab sepintas keduanya mirip meski sebenarnya tidak sama. Yang palsu akan berusaha sedemikian rupa sehingga tidak mudah dikenali. Mereka menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Yesus meminta kita supaya jangan sampai terkecoh. Kita harus tajam dan peka terhadap apa yang mereka ajarkan.

Para nabi palsu ini akan mengacau-balaukan hati nurani kita dengan berbagai pengajaran yang sesat. Maka, jangan sampai hati nurani kita tumpul sehingga tidak mampu lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah, antara yang baik dan yang buruk.

Sekarang ini, rasa-rasanya pengaruh dari pengajaran yang disampaikan oleh nabi-nabi palsu ini sudah mulai terasa. Lihat saja, untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah, antara yang baik dan yang buruk saja sudah susah. Tidak jarang, yang salah dibenarkan, dan yang benar disalahkan. Yang namanya ujaran kebencian, fitnah, dan hoaks sudah menjadi hal yang lumrah; seolah itu hal yang biasa dan baik. Tetapi, coba lihat apa efeknya? Banyak orang sakit hati, dilecehkan, dan dikorbankan.

Masifnya penyebaran ujaran kebencian, fitnah, dan hoaks seolah mengajarkan kepada kita bahwa semua ini baik dan pantas untuk ditiru. Padahal, dalam kenyataannya tidak. Ini semua terjadi karena ada orang yang secara sengaja menggiring opini publik dan membenarkan perilaku jahat. Tidak jarang mereka justru berpakaian gamis dan tutur katanya manis. Mereka itulah yang dimaksudkan oleh Yesus sebagai ‘srigala berbulu domba’. Sepintas, kita akan melihatnya baik; sebab jika langsung kelihatan tidak baik, pastilah sejak awal orang akan menolaknya. Makanya kita harus jeli melihatnya supaya tidak terseret oleh pengajarannya yang menyesatkan itu.

Yesus mengajarkan kepada kita supaya mampu memilah dan memilih. Kita pilah mana yang benar dan mana yang salah, antara yang baik dan yang buruk. Kita diminta untuk memilih yang benar dan baik. Jangan pernah terkecoh oleh penampilan dan perkataan. Penampilan dan perkataan seringkali menipu. Orang bisa saja berpenampilan gamis dan bicara santun tapi perbuatannya merugikan banyak orang.

Sayangnya, masyarakat kita di negeri tercinta ini terlalu gampang untuk dibohongi. Asal penampilannya gamis dan perkataannya selalu seputar surga, sudah tidak perlu diragukan lagi omongannya. Setiap perkataannya langsung dipercaya. Kita tidak pernah berpikir kritis bahwa jangan-jangan kita sedang dibawa ke pengajaran yang menyesatkan.

Yesus memberi bocoran tentang bagaimana caranya mengetahui apakah seseorang itu tergolong nabi yang asli atau yang palsu. Yesus menggunakan analogi pohon. Ia bilang: “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat. 7:16b). Sama seperti pohon, sepintas sama saja. Jika dilihat dari bentuk pohonnya sendiri, hampir tidak ada bedanya antara pohon yang baik dan pohon yang tidak baik. Maka, untuk membedakan keduanya, harus dilihat dari buahnya. Jika buah yang dihasilkannya baik, berarti pohonnya baik; sebaliknya jika buahnya tidak baik, berarti pohonnya memang tidak baik.

Dengan ini, Yesus ingin mengatakan kepada kita bahwa sebenarnya tidak susah untuk mencari tahu apakah seseorang itu mengajarkan sesuatu yang baik atau tidak. Gampang saja: lihat hasil perbuatannya. Orang yang baik pasti menghasilkan buah (hasil perbuatan) yang baik, yaitu menciptakan kedamaian; sedangkan orang yang jahat pasti menghasilkan buah (hasil perbuatan) yang tidak baik, salah satu contohnya: menyebabkan kehancuran / perpecahan.

Para penebar ajaran sesat memang menyamar seperti domba. Tetapi kita cukup mudah membedakannya. Jika apa yang diajarkannya menggiring kita ke hal-hal yang baik, berarti dia nabi yang asli; tetapi jika pengajarannya mengantarkan kita pada perpecahan dan kehancuran, pastilah dia nabi palsu.

Semoga kita selalu waspada dan hati terhadap pengajaran para nabi palsu; kalau kita tidak bisa menghasilkan perbuatan yang baik dalam Tuhan, kita bisa dibuang ke dalam api kekal (neraka). “Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api” (Mat. 7:19). Semoga kita tidak terjerumus ke dalam berbagai pengajaran yang menyesatkan. Amin.

Tunas Harap Baru Kang Je

0
Gambar ilustrasi oleh tuku / Pixabay

Pagi ini aku terkagum-kagum karena menemukan bunga di depan kamarku mendadak merekah indah. Padahal semalam, ketika kusempatkan untuk melihat perkembangannya, bunga itu masih terlihat kuncup. Tidak ada tanda-tanda akan merekah.
Maka, mataku pun tak ragu-ragu menatapnya kagum.
Luar biasa.
Pemandangan pagi yang tak habis kusyukuri.

“Indah bukan ketika bunga kecil itu ternyata merekah seperti itu?” tanya Seseorang yang sudah ada di sebelahku. Ia pun melongok sama, seperti hendak mengagumi benda itu.

Kutolehkan mukaku ke samping kananku.
Walah…
“Selamat pagi, Kang… Waduuuhhh… Sudah lama sekali kita tidak bertemu yaa…”
Tanpa ragu aku salami Dia dengan semangat.
Yang disalami tersenyum lebar sembari menganguk-angguk dan menanggapi salamanku yang semangat sekali itu.
“Selamat pagi, anakKu. Aku senang bisa ngobrol lagi denganmu pagi ini.”
“Iya, aku juga. Seneng banget.” Rasanya aku nggak ingin melepas genggaman tangannya ini. Menghangatkan pagi yang sedikit dingin hari ini.
Dan, entah kenapa pagi yang indah ini kian indah dengan kehadiranNya itu.

“Apakah ini perasaanku saja atau emang beneran ya?” tanyaku penasaran.
“Maksudmu?” Kang Je balik bertanya. Ia menyentuh bunga yang sudah mekar itu. Sekali lagi, entah karena memang susana yang mendukung atau karena memang Ia sedang menunjukkan kuasaNya, bunga itu kian terlihat indah, menawan hati.
Aku harus mengerjap-erjap untuk memastikan apakah yang kulihat ini benar atau tidak?

Rupanya hal itu diperhatikan oleh Kang Je.
TubuhNya lebih mendekatiku lalu direngkuhNya aku, “Kamu makin kagum dengan bunga yang sedang mekar itu?”
Kepalaku mengangguk-angguk pasti.
“Ingatkah ketika pertama kali kamu menanam bunga itu?”
Kali ini aku mencoba mengingat-ingat.
Bunga yang hari ini begitu memesona itu dulunya hanya tanaman kecil. Kudapati dari seorang penjual bunga yang nampaknya sudah lama berkeliling, tapi belum juga terjual satu pun dagangannya. Kubeli lah salah satu tanaman yang ia jual itu. Hitung-hitung untuk memperindah halaman kecil di depan kamarku.
Ketika kumasukkan tanaman itu ke dalam tanah halaman, esok harinya kulihat tanaman itu sedikit melayu. Padahal jenis tanah halaman rumahku adalah tanah yang subur dan aku pun tak lupa menyiram.
Aku sempat heran sekaligus sedih.
Bagaimana mungkin ini terjadi?

Aku berusaha sebisanya agar tanaman itu tetap bisa tumbuh dan syukur berbunga indah.
Hingga suatu hari, ketika ada harap penuh agar aku bisa melihat keindahan hasil dari tanaman tersebut, nyatanya justru aku menemukan kesedihan teramat sangat.
Dahan yang menopang tubuh tanaman dan calon bunga itu terlihat mengering dan nyaris mati. Aku panik dan terpuruk sedih. Usaha yang kulakukan selama ini kok sia-sia saja. Adakah yang salah kulakukan terhadap tanaman yang serasa harapan jiwa agar menghasilkan yang terbaik?
“Kamu tak sempat lihat, anakKu. Di balik dahan yang melayu itu, ternyata tumbuh tunas kecil yang bakal menjadi dahan baru.” Kang Je menunjukkan tempat tunas yang dimaksud itu dulu tumbuh.
“Masa sih Kang? Rasanya waktu itu aku hanya melihat dahan yang melayu saja. Nggak ada tunas baru untuk menggantikan dahan itu.” Aku tak percaya.
Kang Je tersenyum. “Itu karena pikiranmu terkonsentrasi pada bentuk hal buruk yang tertangkap matamu saja. Kamu lupa, tanaman pun butuh adaptasi tanah baru sebelum menghasilkan buahnya. Karena hatimu tak melihat, maka matamu pun beralih pandang pada bentuk keburukan saja.”

Ah.
Aku harus mengakui segala yang terjadi selama ini memang menutupkan mataku untuk mencoba melihat tunas lain selain bentuk kerapuhan dan bakal matinya dahan tanaman itu. Aku terlalu sibuk berpikir, memecahkan masalah supaya cepat selesai.
Bahkan, terkadang satu saat aku ingin malam yang menutup hari tidak cepat pergi agar pagi tidak harus kuhadapi dengan sisa masalahnya sendiri. Aku takut, lelah, malas, dag-dig-dug, was-was dan entah apalagi yang membuatku tak mampu mendengar suara hati lagi.
Di kepala hanya mencari 1001 cara agar masalah cepat selesai.
Doa yang terucap pun rasanya hanya sepenggal kalimat tiada arti.

“Hai langit, teteskanlah keadilan dari atas, dan baiklah awan-awan mencurahkannya! Baiklah bumi membukakan diri dan bertunaskan keselamatan, dan baiklah ditumbuhkannya keadilan! Akulah TUHAN yang menciptakan semua ini.” (Yes. 45:8)

Aku terperangah.
Kulihat Kang Je sedang menengadah.
TanganNya dilebarkan menghadap ke atas dan mulutNya berucap doa syukur.
Tak tahan, kutundukkan kepala, menghadap bumi sebagai bentuk penyesalan hati.

Ya… Segala yang telah terjadi ini membuatku lupa bersyukur bahwa ada Dia yang mendampingi.
Siapalah aku ini hingga lupa bahwa Ia adalah adil. Tak pernah memberi kemuraman bagi siapa saja yang percaya ada tunas harapan ketika kesedihan atau air mata itu menerjang.

“Bangunlah, anakKu… Bumi sudah tahu ungkapan hatimu. Bunga itu mekar sebagai tanda bahwa duniamu akan kembali ceria kembali senantiasa.”

Tanpa ragu kupeluk erat Orang yang selama ini hampir hilang dari pandangan mata hati.
Aku tidak bisa mengelak lagi bahwa hanya Dia yang mampu menenangkan jiwa raga ini. Bahkan dari bentuk masalah berentet yang harus kuhadapi hari lalu. Dia terlalu besar dari masalah itu sendiri.

Kurasakan Kang Je mengelus-elus kepalaku selayaknya Bapakku yang sedang menenangkan dan memberi kehangatan pagi.

Mendadak, Kang Je membisikkan sesuatu di telinga, “Ssst… Sekarang kamu mandi dulu yaa… Malu tuh dilihat burung-burung yang kayaknya tahu deh kamu belum mandi.”
Kutarik tubuhku dari pelukan lalu melihat burung-burung di sekitarku yang sedang bernyanyi riang. Hmmm…, adakah diantara mereka mengetahui aku belum mandi?

Tanpa ragu, kulangkahkah kaki menuju kamar mandi.
Jauh di sana, Kang Je masih tengah bermain bersama bunga indah bermekaran tadi dikelilingi burung yang menyanyikan lagu indah, pengiring keceriaan hari ini.