13.1 C
New York
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 82

Biarkan Aku Lahir!

0

Biarkan Aku Lahir!!!
Aku manusia fana yang tercipta dari tanah karya seniman Agung
Di dalam rahim ibu aku dibentuk menjadi daging yang bernyawa

Dalam tempo sembilan bulan lebih, aku bertumbuh dalam rahim ibu
Setelah tiba waktunya aku pun dilahirkan

Aku menghirup udara dan hadir di bumi sebagai nasib bersama
Suara pertamaku berupa tangisan, sama seperti suara semua orang yang lahir

Dengan penuh kasih aku dibesarkan di dalam ayunan sebagai permulaan hidupku
Hidup sebagai manusia fana sebagaimana semua orang

Dengan doa yang sungguh aku pun dianugrahkan pengetahuan oleh Tuhan.
Aku memohon roh kebijaksanaan menghampiri dan berdiam dalamku

Kebijaksanaanlah yang utama dari pada segala kekuasaan
Takhta dan kekayaan pun tidak ada apa-apanya

Permata tidak sama dengan keagunganNya
Emas di bumi bagai debu di alas kakiNya

dihadapanNya, perak bagaikan lumpur
Sejak masa mudaku aku mencintai kebijaksanaan lebih dari kecantikan rupa

Aku amat mencintainya lebih dari cahaya mentari
Karena kilauan keindahannya tidak kunjung padam sepanjang waktu

Tak terhingga aku memperoleh harta dan kekayaan dari padaNya
Betapa aku bersukacita, sebab kebijaksanaan yang dilimpahkan padaku

Dialah asal mula segala-galanya
Dengan kuasanya aku belajar tanpa tipu muslihat

Dan akupun membagikan kebijaksanan dengan terus terang
Sebab Kebijaksanaan adalah harta yang tiada berkesudahan bagiku

Karunia hasil pendidikanNya menjadikanku sahabat Allah
kiranya Tuhan menganugrahkan aku hikmat untuk berbicara menurut kehendakNya,
dan memikirkan apa yang patut dengan segala rahmatNya

Dialah pemimpin dan penuntun kebijaksanaan bagi para pemimpin
Hanya ditangan Tuhan saja ada diri kita dan perkataan kita

Dialah sumber pengertian dan seluruh kepandaian
Tuhan telah memberikan aku pengetahuan yang baik, agar aku mengetahui misteri alam semesta
Dan kekuatan yang ada di dalamnya

Tuhanlah yang memberikan pengetahuan padaku untuk mengetahui awal dan akhir dan pertengahan masa
Apabila tiba saatnya matahari berubah peredarannya dan musim silih berganti
Sehingga kukenal perputaran tahun dan tempat bintang-bintang, tabiat hewan dan naluri binatang buas

Tenaga para roh dan pikiran manusia, jenis tumbuh-tumbuhan, dan kegunaan sekalian akar
Seniwati terindah segala sesuatu yakni Sang Kebijaksanaan
Tuhanlah pengajarku agar mengetahui segala yang terlihat dan tidak terlihat
Dalam Kebijaksanaanlah ada kearifan dan kekudusan

Sang Kebijaksanaanlah yang tidak bernoda, baik dan tajam,
Dia adalah Mutlak, melampui akal dan halus, mudah bergerak, jernih dan tidak ada kepalsuan
KeagunganNya tak tertahan, murah hati dan penuh kasih sayang pada manusia

Dialah pemelihara segala sesuatu dalam semua, tetap, tidak bergoyang dan tanpa kesusahan
Dialah maha kuasa yang menyelami sekalian roh yang arif, murni dan halus.

Sebab Dia lebih cekatan dari segala sesuatu
Dialah yang murni yang melampaui segala-galanya

Kebijaksanaan adalah nafas kekuatan Allah
Dialah pancaran murni dari kemuliaan Yang Mahakuasa
.
Di dalam Dia tidak ada yang ternoda
Sebab kebijaksanaan adalah pantulan cahaya kekal

Dialah cermin yang tak bercela dari kegiatan Allah
Dialah gambar dari kebaikan Allah

Kebijaksanaan itu tunggal yang melampaui segala-galanya
Dialah yang membaharui segala sesuatu dari generasi ke generasi

Dialah yang beralih ke dalam jiwa-jiwa yang agung dan suci, yakni sahabat Allah dan Para nabi
Tuhan amat mengasihi orang yang diam dalam Kebijaksanaan

Kebijaksanaan mengalahkan keindahan matahari, ia mengalahkan bintang-bintang
Dia lebih unggul daripada siang yang terang benderang
Sebab siang berganti malam, sebaliknya kegelapan tidak mampu menghancurkan kebijaksanaan.

Penulis: Silvester Detianus Gea

Catatan: Puisi ini dibuat untuk mengkritisi tindakan aborsi yang melanggar hak hidup setiap manusia.

Arti Gereja Yang Katolik: Universal, Lengkap, dan Penuh

0
Tama66 / Pixabay

St. Ignatius dari Anthiokia pernah berkata: “Di mana ada uskup, di situ ada jemaat, seperti di mana ada Kristus di situ ada Gereja Katolik”. Maksudnya ialah dalam perayaan Ekaristi, yang dipimpin oleh seorang uskup, yang hadir bukanlah jemaat setempat saja tetapi seluruh Gereja; sebab ‘Gereja katolik yang satu dan tunggal berada dalam Gereja-gereja setempat dan terhimpun daripadanya’ (LG 23).

[postingan number= 3 tag= ‘gereja-katolik’]

Gereja selalu ‘lengkap’ dan penuh. Tidak ada Gereja yang setengah-setengah atau sebagian. Geeja setempat, baik keuskupan maupun paroki bukanlah ‘cabang’ dari Gereja Universal. Setiap Gereja setempat, bahkan setiap perkumpulan orang beriman yang sah, merupakan seluruh Gereja. Jadi, Gereja tidak dapat dipotong-potong menjadi ‘Gereja-Gereja bagian’.

Selanjutnya, kata ‘Katolik’ sendiri dipakai untuk menyebut Gereja yang benar, Gereja universal, yang dilawankan dengan sekte-sekte. Dengan demikian, kata ‘katolik’ mendapat arti yang lain: “Gereja disebut Katolik karena tersebar di seluruh muka bumi; juga karena mengajarkan secara menyeluruh dan lengkap segala ajaran iman yang tertuju kepada sesama manusia, yang mau disembuhkan secara menyeluruh pula” (St. Sirilius dari Yerusalem).

Sejak saat itu, kata ‘Katolik’ tidak hanya mempunyai arti geografis, dalam artian tersebar keseluruh dunia, tetapi juga ‘menyeluruh’; dalam arti ‘lengkap’, berkaitan dengan ajarannya, serta ‘terbuka’, dalam arti tertuju kepada siapa saja. Pada abad ke 5 masih ditambahkan lagi bahwa Gereja tidak hanya untuk segala bangsa, tetapi juga untuk segala Zaman.

Pada zaman reformasi, kata ‘Katolik’ muncul lagi untuk menunjuk pada Gereja yang tersebar di mana-mana, dibedakan dengan Gereja-gereja Protestan. Sejak itu pula, kata ‘Katolik’ secara khusus dimaksudkan untuk menyebut umat Kristen yang mengakui Paus sebagai pemimpin Gereja Universal.

Konsili Vatikan II tidak lagi memusatkan Gereja sebagai kelompok manusia yang terbatas, melainkan kepada Gereja sebagai sakramen Roh Kristus. Gereja dikatakan ‘Katolik’ karena pengaruhnya tidak terbatas pada para anggota Gereja saja, mealinkan juga terarah kepada seluruh dunia.

Gereja Kristus sungguh hadir dalam semua jemaat beriman setempat yang sah, yang mematuhi para gembala mereka, yang dalam Perjanjian Baru disebut ‘Gereja’ (lih. Kis 8:1; 14:22-23; 20:17). Gereja-Gereja itu di tempatnya masing-masing merupakan umat baru yang dipanggil oleh Allah, dalam Roh Kudus dan dengan sepenuh-penuhnya (lih. 1Tes 1:5).

Di dalam kehidupan jemaat-jemaat itu, meskipun kecil dan miskin, atau tinggal tersebar, hiduplah Kristus; dan berkat kekuatan-Nya terhimpunlah Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik (lih. S. AGUSTINUS, Melawan faustus, 12, 20: PL 42, 265; Kotbah 57,7: PL 38, 389).

Sumber: http://www.imankatolik.or.id/katolik.html

Bentuk Sastra Dalam Alkitab

1
a book sitting on top of a wooden bench

Semua yang diwahyukan oleh Allah dan tertulis dalam Kitab Suci dikarang oleh Allah dan ditulis dengan ilham Roh Kudus. Dalam mengarang Kitab-Kitab dalam Kitab Suci, Allah telah memilih para penulis suci (dalam bahasa Yunani : hagiograf) dan Ia bekerja di dalam dan melalui mereka. Dalam bekerja, para hagiograf mempergunakan kecakapan dan kemampuan mereka untuk menuliskan hanya yang dikehendaki oleh Allah. Mereka berbicara pada orang Israel yang tinggal di Timur Tengah, pada zaman tertentu sehingga tidak luput dari pengaruh zaman dan tempat mereka hidup.

Mereka pun mempergunakan cara-cara yang biasa dipergunakan oleh manusia pada zamannya untuk berbicara dan berkomunikasi dengan sesama. Cara berbicara dan berkomunikasi meliputi berbagai jenis sastra yang dipergunakan oleh manusia zaman itu. Jenis-jenis sastra ini dipakai untuk mengemas pesan dan kebenaran yang hendak disampaikan oleh para penulis. Karena itu, setiap tulisan dalam Kitab Suci harus dibaca menurut jenis sastra yang digunakan. Jenis sastra menjadi sebuah petunjuk bagaimana sebuah tulisan harus dibaca dan dipahami/ditafsir. Orang harus memperhatikan jenis sastra yang digunakan lalu menyelidiki apa yang disampaikan oleh para Hagiograf dan apa yang disampaikan Allah dengan kata-kata mereka. Kalau tidak, orang akan mengambil kesimpulan yang salah.

Sebuah peribahasa haruslah dibaca sebagai peribahasa, untuk dapat memahami pesan yang disampaikan. Contoh : “Karena nila setitik, rusak susu sebelangan”. Orang akan mengetahui bahwa kalimat itu sebuah peribahasa, yang dipakai untuk mengungkapkan rusaknya nama kelompok karena perilaku buruk satu orang. Demikian juga, kalau orang membaca Midrash atau cerita yang dianggap bermakna sebagai sejarah, kesimpulan yang diambil pasti akan salah.

Dalam Gereja Kitab Suci dibacakan di hadapan umat dan untuk umat, supaya umat dapat memahami pesan yang disampaikan di dalamnya. Firman itu harus dibacakan dengan baik dan benar supaya umat dapat mengerti. Sebuah kutipan Kitab Suci haruslah dibaca menurut jenis sastranya. Jika kutipan itu berupa perumpamaan bacalah sebagai perumpamaan; bila berupa surat, bacalah sebagai surat; bila sebagai puisi, bacalah sebagai puisi.

JENIS – JENIS SASTRA KITAB SUCI

  1. SEJARAH

Sejarah ditulis untuk menyampaikan peristiwa- peristiwa yang terjadi di masa lampau. Dalam pengertian modern sejarah yang ditulis harus berbicara tentang peristiwa itu sedekat mungkin dengan kejadian sesungguhnya. Karena itu, seorang sejarawan harus bisa menunjukkan bukti-bukti kebenaran dari sejarah yang ditulis. Dengan demikian tulisan seorang sejarawan adalah hasil dari sebuah penyelidikan ilmiah dan jauh dari kecenderungan subjektif.

Ketika orang membaca Kitab Suci, sejarah dalam pengertian seperti itu tidak dapat ditemukan. Hal-hal yang dianggap penting dalam sejarah modern, seperti nama tokoh yang berperan dan tahun terjadinya peristiwa, seringkali tidak ditulis. Siapa nama Firaun yang berkuasa di Mesir ketika orang Ibrani tinggal di negeri itu sebagai budak? Tahun berapa perbudakan itu terjadi dan tahun berapa mereka melarikan diri dari negeri itu?

Sejarah Alkitabiah ditulis untuk menunjukkan bagaimana Allah berperan dalam peristiwa-peristiwa sejarah yang dialami oleh orang Israel. Para penulis Kitab Suci tidak bingung mencari bukti-bukti untuk menunjukkan bagaimana sejarah yang ditulisnya itu sungguh terjadi. Sejarah alkitabiah memang berbicara tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau yang dialami oleh Bangsa Israel. Tetapi, ditulis sedemikian rupa sehingga menjadi jelas bagaimana Allah berkarya dalam peristiwa tersebut.

  1. NOVEL RELIGIUS

Ada empat Kitab dalam kelompok Kitab Sejarah yang berupa Novel, yakni Rut, Tobit, Yudit dan Ester. Dalam empat Kitab ini penulis menggunakan jenis sastra Novel religius untuk menyampaikan ajaran dan pendidikan iman. Para penulis Kitab-Kitab ini memang tidak bermaksud menyusun laporan historis, tetapi menyampaikan ajaran iman dalam kemasan cerita. Barangkali memang ada singgungan sejarah, tetapi rupanya nama raja, kota, dll, dipergunakan oleh penulis agar kisahnya menjadi lebih hidup dan menarik.

  1. EPOS

Epos adalah kisah mengenai tokoh yang sungguh hidup di masa lampau, tetapi sudah tercampur dengan unsur-unsur imajinatif mengenai tokoh tersebut. Unsur-unsur tersebut ditambahkan untuk menunjukkan kehebatan sang tokoh dan untuk mengungkapkan kekaguman terhadapnya, walaupun tidak jelas siapa yang menambahkannya. Epos diceritakan secara lisan di kalangan rakyat, sehingga bahasa yang digunakan adalah bahasa rakyat.

Dalam Perjanjian Lama dapat ditemukan banyak epos. Misalnya: Musa, dan Keluaran dari Mesir, Yosua, Hakim-hakim, Elia, dan Elisa. Tokoh-tokoh ini hidup di masa lampau. Cerita tentang tokoh-tokoh tersebut dalam Kitab Suci penuh dengan mukjizat. Hal ini menunjukkan jika mereka adalah pilihan Allah dan Allah bekerja melalui mereka. Epos diceritakan kepada orang-orang Israel supaya mereka tetap percaya pada Tuhan.

  1. PUISI ATAU SYAIR

Dalam Kitab Kebijaksanaan, Kitab Para Nabi, dan Mazmur banyak menggunakan puisi sebagai jenis sastra. Dalam Perjanjian Lama tampak bahwa puisi merupakan ungkapan hati yang secara spontan lahir dalam berbagai kesempatan (berkabung, pesta, dsb) dan diungkapkan dalam kata. Sebagaimana layaknya puisi, puisi dalam Kitab Suci menggunakan banyak kiasan atau perbandingan yang diambil dari dunia dan zaman di mana puisi itu lahir.

  1. HUKUM

Hukum-hukumyang ada dalam Kitab Suci semuanya terdapat dalam Kitab Taurat. Hukum dalam Taurat dapat dibagi dalam dua kelompok, yakni kalimat-kalimat pendek, tegas, dan resmi yang disertai dengan ancaman hukuman terhadap mereka yang melanggar dan perintah atau anjuran untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Penulis: Silvester Detianus Gea

 

Doa Arwah dalam Gereja Katolik: Berakar dalam Kitab Suci dan Tradisi

0
drippycat / Pixabay

Gereja Katolik percaya bahwa jika seseorang meninggal dunia dengan iman kepada Tuhan, tetapi dengan menanggung dosa-dosa ringan dan luka akibat dosa, maka Tuhan dalam kasih dan kerahiman Ilahi-Nya akan terlebih dahulu memurnikan jiwanya. Setelah pemurnian dilakukan sempurna, maka jiwa akan mendapatkan kekudusan dan kemurnian yang diperlukan agar dapat ikut ambil bagian dalam kebahagiaan abadi di surga.

[postingan number=3 tag= ‘agama-katolik’]

Sementara tiap-tiap individu hadir di hadapan pengadilan Tuhan dan harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya masing-masing, persekutuan Gereja yang telah dimulai di dunia ini terus berlanjut, kecuali persekutuan dengan jiwa-jiwa yang dikutuk di neraka. Konsili Vatikan II menegaskan:

“Itulah iman yang layak kita hormati, pusaka para leluhur kita: iman akan persekutuan hidup dengan para saudara yang sudah mulai di sorga, atau sesudah meninggal masih mengalami pentahiran” (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja no. 51).

Oleh sebab itu, sama seperti sekarang kita saling mendoakan satu sama lain dan saling meringankan beban satu dengan yang lainnya, umat beriman di dunia dapat mempersembahkan doa-doa dan kurban guna menolong jiwa-jiwa mereka yang telah meninggal dunia yang sedang dalam pemurnian, dan tak ada doa dan kurban yang lebih baik yang dapat dipersembahkan selain daripada Kurban Kudus Misa.

Paus Leo XIII dalam ensikliknya, “Mirae caritatis” (1902) menggarisbawahi hubungan antara persekutuan para kudus dengan Misa. Ia menuliskan: “Rahmat saling mengasihi di antara mereka yang hidup, yang diperteguh serta diperdalam melalui Sakramen Ekaristi, mengalir, teristimewa karena keluhuran Kurban [Misa], kepada semua yang termasuk dalam persekutuan para kudus. Sebab persekutuan para kudus adalah … saling memberikan pertolongan, kurban, doa-doa dan segala kebajikan di antara umat beriman, yaitu mereka yang telah berada di tanah air surgawi, mereka yang berada di api penyucian, dan mereka yang masih melakukan ziarahnya di dunia ini. Mereka semua ini membentuk satu tubuh, yang kepalanya adalah Kristus dan yang prinsip utamanya adalah kasih. Iman mengajarkan bahwa meskipun kurban agung hanya dapat dipersembahkan kepada Tuhan saja, namun demikian kurban dapat dirayakan dalam rangka menghormati para kudus yang sekarang berada di surga bersama Allah, yang telah memahkotai mereka, guna memperoleh perantaraan mereka bagi kita, dan juga, menurut tradisi apostolik, guna menghapus noda dosa saudara-saudara yang telah meninggal dalam Tuhan namun belum sepenuhnya dimurnikan.”

Pikirkan gagasan ini: Misa Kudus melampaui ruang dan waktu, mempersatukan segenap umat beriman di surga, di bumi, dan di api penyucian; dan Ekaristi Kudus sendiri mempererat persatuan kita dengan Kristus, menghapus dosa-dosa ringan, serta melindungi kita dari dosa berat di masa mendatang (bdk. Katekismus no. 1391-1396). Oleh sebab itu, mempersembahkan Misa dan doa-doa lain demi umat beriman yang telah meninggal dunia merupakan tindakan yang kudus serta terpuji.

Praktek ini bukanlah praktek baru. Katekismus Gereja Katolik menyatakan, “Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa terutama kurban Ekaristi untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan” (KGK no. 1032).

Sebenarnya frasa ‘zaman dahulu’ di sini bisa merujuk pada Perjanjian Lama. Dalam Kitab 2 Makabe, misalnya, kita membaca bagaimana Yudas Makabe mempersembahkan kurban penghapus dosa dan doa-doa bagi para prajurit yang meninggal. “Mereka pun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya” (2 Mak. 12:42) dan “Dari sebab itu maka [oleh Yudas Makabe] disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka” (2 Mak. 12:45).

Dalam sejarah awal Gereja, kita juga mendapati bukti akan adanya doa-doa bagi mereka yang telah meninggal dunia. Prasasti yang diketemukan pada makam-makam dalam katakomba-katakomba Romawi dari abad kedua membuktikan praktek ini. Sebagai contoh, batu nisan pada makam Abercius (wafat tahun 180), bertuliskan permohonan doa bagi kedamaian kekal jiwanya.

Tertulianus pada tahun 211 menegaskan adanya praktek peringatan kematian dengan doa-doa. Kanon Hippolytus (± tahun 235) secara jelas menyebutkan perlunya persembahan doa-doa dalam perayaan Misa bagi mereka yang telah meninggal dunia. Juga, St. Sirilus dari Yerusalem (wafat tahun 386), dalam salah satu dari sekian banyak tulisannya menjelaskan bagaimana pada saat Misa, baik mereka yang hidup maupun yang telah meninggal dunia dikenang; dan bagaimana Kurban Ekaristi mendatangkan rahmat bagi orang-orang berdosa, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal.

St. Ambrosius (wafat tahun 397) menyampaikan khotbahnya, “Kita mengasihi mereka semasa mereka hidup; janganlah kita mengabaikan mereka setelah mereka meninggal, hingga kita mengantar mereka melalui doa-doa kita ke dalam rumah Bapa.”

St Yohanes Krisostomus (wafat tahun 407) mengatakan, “Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya, bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka.”

Orang mungkin bertanya, “Bagaimana jika jiwa orang yang kita doakan telah dimurnikan sepenuhnya dan telah pergi ke surga?” Kita yang di dunia tidak mengetahui dengan baik pengadilan Tuhan ataupun kerangka waktu ilahi; jadi selalu baik adanya mengenangkan saudara-saudara yang telah meninggal dunia serta mempersembahkan mereka kepada Tuhan melalui doa dan kurban.

Namun demikian, jika sungguh jiwa yang kita doakan itu telah dimurnikan dan sekarang beristirahat di hadirat Tuhan di surga, maka doa-doa dan kurban yang kita persembahkan, melalui kasih dan kerahiman Tuhan, akan berguna bagi jiwa-jiwa lain di api penyucian.

Sumber: “Straight Answers: Masses for the Dead” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved.
Diterjemahkan oleh: indocell.net/yesaya atas izin dari The Arlington Catholic Herald.

Ad Jesum per Mariam: Mengapa mesti melalui Bunda Maria untuk sampai kepada Yesus?

0
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Frank Duff, tokoh awam penting asal Dublin-Irlandia, pendiri Komunitas Kerasulan Awam Katolik, Legio Maria,  sangat mengagumi ulasan Santo Louis Marie de Montfort (Santo Montfort) tentang bakti sejati kepada Maria dalam bukunya yang terkenal ‘Bakti Sejati kepada Maria’.

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Kurang lebih tahun 1918 ia berkenalan dengan buku tersebut. Selama kurang lebih 4 tahun, ia mendalami pemikiran Santo Montfort tentang Bunda Maria. Tentu saja Frank Duff juga membaca buku-buku lain. Kemudian, tahun 1921 ia mendirikan Legio Maria.

Frank Duff mengakui bahwa uraian santo Montfort tentang bakti sejati kepada Maria membantunya dalam menghayati iman, khususnya dalam mendirikan Legio Maria. Karena itu, tak keliru kalau  Santo Montfort menjadi salah seorang pelindung Legio Maria. Tak keliru juga ketika Frank Duff mengajak para legioner untuk membaktikan diri kepada Yesus melalui Maria seturut ajaran Santo Montfort.

Mengapa kita perlu membaktikan diri kepada Yesus melalui Maria? Atau, mengapa kita mesti memilih Maria sebagai jalan untuk berjumpa secara lebih intim dan mesra dengan Yesus? Terhadap pertanyaan ini, Santo Montfort menjawab, “Melalui Santa Perawan Maria, Yesus Kristus telah datang ke dunia; melalui Maria pulalah Dia harus berkuasa di dunia (Bakti Sejati, nomor 1).” Jawaban ini sangat mendalam dan perlu direnungkan terus menerus oleh umat beriman Katolik.

Santo Montfort menegaskan hal yang sangat penting  yakni alasan mengapa kita memilih Maria dan harus menghormatinya melalui doa-doa kita. Kalau Yesus saja  hadir ke dunia untuk menyelamatkan kita melalui rahim Maria, mengapa kita tidak menempuh jalan yang sama untuk mencapai persatuan dengan Yesus? Bukankah sudah seharusnya kita menempuh jalan yang sama itu? Bukankah seharusnya kita memilih jalan yang disebut  Maria?

Yesus pasti sangat mencintai dan menghormati ibunda-Nya. Dia juga  sangat bahagia jika kita  mencintai dan menghormati ibunda-Nya. Atau, jika kita menempuh jalan Maria untuk sampai kepada-Nya, Ia pasti sangat senang. Dia akan memberkati setiap perjuangan kita  dan memenuhi apa yang menjadi kerinduan terdalam hati kita. Pada saat yang sama, jika kita  dekat dengan Bunda Maria, sang Bunda pasti membawa kita kepada Yesus Puteranya. Sebab, hidupnya terpusat pada Yesus Puteranya, bukan pada dirinya sendiri!

Akhirnya, kita memilih dan terus memilih  ‘jalan Maria’ dalam ziarah iman selanjutnya karena Yesus Penyelamat kita telah lebih dahulu memilih ‘jalan Maria’ datang ke dunia demi keselamatan kita. Kita memilih jalan yang sama; jalan yang suci! Memilih ‘jalan Maria’ ini pasti mendatangkan sukacita tak terkira. Bukankah persatuan dengan Yesus melalui Maria itu mendatangkan sukacita?

Marilah kita selalu berseru dengan penuh iman: “Aku milikmu semata-mata dan segala milikku kupersembahkan kepada-Mu, ya Yesus terkasih, melalui Maria, ibu-Mu yang tersuci.” Ave Maria! ***

Hidup Selibat dalam Gereja Katolik: Teladan Sang Guru

0
StockSnap / Pixabay

Tuhan Yesus adalah seorang imam dan selibat.  “Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah” (Ibr. 4:14). Karenanya, Ia memanggil kita untuk melakukan cara hidup yang sama.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Petrus berkata: “Kami ini telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan mengikut Engkau.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orangtuanya atau anak-anaknya, akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.” (Luk. 18:28-30).

Abraham diminta untuk mengorbankan anaknya, Ishak (Kej. 22). Maka, melalui hidup selibat, seorang imam diminta untuk mengorbankan, bukan hanya anaknya, tetapi juga isterinya.

Yesus mengajarkan bahwa tidak semua orang dapat hidup selibat, tetapi mereka yang dipanggil baiklah ia melakukannya demi Kerajaan Allah. Murid-murid-Nya berkata kepada-Nya: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja – ada orang yang membuat dirinya demikian (selibat) karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Mat 19:10-12).

Selibat adalah tanda kebangkitan; kita semua akan hidup selibat di kehidupan yang akan datang. Yesus mengatakan: “Pada waktu kebangkitan, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan, melainkan hidup seperti malaikat di sorga” (Mat. 22:30).

Maka, sesuai dengan teladan Kristus, para imam dipanggil untuk hidup selibat di kehidupan sekarang ini dan di kehidupan yang akan datang. Elia dan Yohanes Pembaptis, dua orang nabi besar, juga hidup selibat. St. Paulus bahkan menganjurkan hidup selibat di antara kaum awam. Ia menulis:

“Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin, tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu. Adakah engkau terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mengusahakan perceraian! Adakah engkau tidak terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mencari seorang! Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya. Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya, dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya” (1Kor. 7).

Selibat bukanlah sesuatu yang tidak wajar, melainkan sesuatu yang adikodrati. Selibat adalah karunia khusus dari Tuhan. Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh Manusia. Sebagai manusia, Ia hidup sepenuhnya sebagai seorang manusia, dengan memilih hidup selibat.

Selibat berarti mengorbankan keindahan hidup perkawinan demi Kerajaan Allah. Selibat bukan untuk orang yang tidak tertarik kepada lawan jenisnya. Tetapi, untuk mereka yang memang tertarik oleh lawan jenisnya. Jika mereka memang tidak tertarik, tidak akan ada pengorbanan untuk tidak menikmati hidup perkawinan.

Selibat tidak menarik bagi dunia sekarang ini, karena selibat merupakan pengorbanan; dan pengorbanan bagi Tuhan bukanlah sesuatu yang disukai orang pada masa ini. Namun demikian, pendapat dunia tidaklah meresahkan Tuhan Yesus; sebab Ia pernah berkata: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini” (Yoh. 18:36). St. Ambrosius pernah berkata: “Kemurnian bukannya layak dipuji karena dilakukan oleh para martir, tetapi karena kemurnian itu sendiri menjadikan kita martir.”

Sumber: Romo Francis J. Peffley; Father Peffley’s Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley.
Diterjemahkan oleh: www.indocell.net/yesaya atas izin Fr. Francis J. Peffley.”

Belajar Memahami Hidup: Kopi dan Gula

0

Pagi mulai menepis malam yang gelap, indah tersaput gumpalan awan putih, seolah langit pun mendukung suasana hari ini. Duduklah seorang pemuda di teras rumah sembari membaca koran. Kemudian Papanya menghampirinya.

“Kamu lagi ngapain, kok serius amat?” Tanya Papa.

“Lagi baca koran, Pa. Soalnya koran hari ini judulnya bagus-bagus semua, tentang politik. Ada apa? Ada yang bisa Rony bantu?” Rony menawarkan bantuan sembari tersenyum ke arah Papa.

“Iya Ron, tolong buatkan kopi dua gelas untuk kita berdua, tapi gulanya jangan kamu tuang dulu, bawa saja ke mari beserta wadahnya ya.” Pinta Papa pada Rony.

“Loh, memangnya kenapa, Pa?” Tanya Rony.

“Tidak apa-apa, bawa saja ke mari.” Ujar Papa.

“Baik, Pa.” Jawab Rony singkat saat ingin mengakhiri percakapan.

Rony melangkahkan kakinya menuju ke dapur untuk mengambil apa yang diperintahkan Papanya.

Tidak berapa lama, Rony sudah membawa dua gelas kopi yang masih hangat dan gula di dalam wadahnya beserta sendok kecil.

“Cobalah kamu rasakan kopimu, Ron. Bagaimana rasanya?” Perintah Papa.

“Rasanya sangat pahit sekali, Papa” Jawab Rony sambil menjulurkan lidahnya.

“Tuangkanlah sesendok gula, aduklah. Bagaimana rasanya?” Pinta Papa lagi.

“Rasa pahitnya sudah mulai berkurang, Pa.” Jawab Rony

“Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah. Bagaimana rasanya?” Pinta Papa sekali lagi sambil tersenyum.

“Rasa pahitnya sudah berkurang banyak, Pa.” Jawab Rony sambil membalas senyum Papa yang penuh dengan tanya.

“Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah. Bagaimana rasanya?” Pintanya lagi.

“Rasa manis mulai terasa tapi rasa pahit juga masih sedikit terasa, Pa.” Jawab Rony.

“Sekali lagi, tuangkanlah sesendok gula, aduklah. Bagaimana rasanya?” Pinta Papa lagi.

“Rasa pahit kopi sudah tidak terasa, yang ada rasa manis, Pa.” Jawab Rony dengan ekspresi kebingungan.

“Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah. Bagaimana rasanya?” Pinta Papa.

“Sangat manis sekali.” Jawab Rony yang sudah mulai sedikit jengkel dengan pinta Papanya.

“Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah. Bagaimana rasanya?” Ujar Papa.

“Terlalu manis. Malah tidak enak, Pa.” Jawab Rony.

“Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah. Bagaimana rasanya?” Pinta Papa lagi.

“Rasa kopinya jadi tidak enak, lebih enak saat ada rasa pahit kopi dan manis gulanya sama-sama terasa, Pa.”

“Nak, ketahuilah. Pelajaran yang dapat kita ambil dari contoh ini, jika rasa pahit kopi ibarat kemiskinan hidup dan rasa manis gula ibarat kekayaan harta, lalu menurutmu kenikmatan hidup itu sebaiknya seperti apa?” Tanya Papa.

Sejenak Rony termenung, lalu menjawab.

“Iya, Pa. Sekarang saya mulai mengerti, bahwa kenikmatan hidup dapat kita rasakan, jika kita dapat merasakan hidup secukupnya, tidak melampaui batas. Terima kasih atas pelajaran ini, Pa.” Kata Rony.

“Ayo nak, kopi yang sudah kamu beri gula tadi, campurkan dengan kopi yang belum kamu beri gula, aduklah, lalu tuangkan dalam kedua gelas ini, kita berdua akan menikmati segelas kopi ini.” Perintah Papa.

Rony lalu mengerjakan perintah Papanya.

“Bagaimana rasanya?” Tanya Papa.

“Rasanya nikmat sekali, Pa.” Jawab Rony.

Begitu pula jika kamu memiliki kelebihan harta, akan terasa nikmat bila kamu mau membaginya dengan orang-orang yang kekurangan.

Gereja Katolik Maronit dan Kahlil Gibran

0

Santo Maron adalah teman St. Yohanes Krisostomus Ia seorang biarawan pada abad keempat yang meninggalkan Antiokhia menuju Sungai Orontes untuk memasuki kehidupan asketik, mengikuti tradisi St. Antonius dari Gurun dan St. Pachomius dari Mesir. Dia kemudian memiliki banyak pengikut yang mengadopsi kehidupan monastiknya. Setelah kematian St. Maron pada tahun 410, murid-muridnya mendirikan biara untuk mengenangnya dan membentuk nukleus dari Gereja Maronit. Gereja Maronit segera menerima ajaran iman dari Konsili Kalsedon pada tahun 451. Ketika 350 biarawan dibunuh oleh kaum Monofisit Antiokia, para Maronit mengungsi ke pegunungan Lebanon. Surat menyurat mengenai kejadian ini membawa hasil pada pengakuan Kepausan terhadap Maronit oleh Paus Hormidas pada 10 Februari 518.

St. George Maronite Cathedral, Beirut, Lebanon

Kemartiran Patriark Antiokia pada tahun 602 meninggalkan Maronit tanpa seorang pemimpin, dan peristiwa ini menuntun mereka untuk memilih Patriark Maronit pertama mereka, St. Yohanes Maron pada tahun 685. Sedikit informasi terdengar dari Maronit selama 400 tahun karena mereka diam-diam melarikan diri dari invasi Islam ke pegunungan Lebanon, sampai pada masa Perang Salib ketika Raymond dari Toulouse menemukan Maronit di pegunungan dekat Tripoli, Lebanon dalam perjalanannya untuk menaklukan Yerusalem. Gereja Maronit sekali lagi mengkonfirmasi kesetiaan mereka kepada Paus pada tahun 1181. Patriark Maronit, Yeremia, menghadiri Konsili Lateran IV pada tahun 1215, dan Universitas Maronit di Roma diresmikan pada tahun 1584. Gereja Maronit selalu tetap setia kepada Roma. Pemimpin Gereja Katolik Maronit sekarang adalah Patriark Bechara Boutros Al-Rahi

Kahlil Gibran

Kahlil Gibran

Kahlil Gibran lahir di Bsharri, daerah pegunungan di Libanon Utara pada 6 Januari 1883. Ia dilahirkan dalam keluarga yang menganut agama Katolik Maronite. Ketika itu Libanon masih masuk provinsi Turki dari the Great Syria dan yang tunduk pada kekuasaan Ottoman. Namanya salah tulis ketika registrasi masuk sekolah di Boston pada tahun 1895. Seharusnya ditulis Khalil, tetapi menjadi Kahlil. Kesalahan tersebut akhirnya disandang sampai akhir khayatnya.

Baca Juga:

Ketika ayah Kahlil (Khalil) Gibran ditangkap oleh penguasa Ottoman terkait penghindaran pajak, akhirnya keluarganya pindah sebagai imigran ke Boston pada 25 Juni 1895. Namun tahun 1898 mereka kembali lagi pindah ke Libanon. Kahlil kemudian kembali meninggalkan Libanon dan menuju Amerika tahun 1902, ketika masa-masa sulit menimpa keluarga besar Gibran, seperti kemiskinan dan penyakit kronis yang merenggut nyawa orang-orang yang ia kasihi yaitu kakak tirinya, ibunya dan kemudian adik perempuannya.

Hasil karya Kahlil (Khalil) Gibran bagi dunia perpustakaan, kesenian, theater sangat banyak, puisi, esai dan kata-kata mutiara. Tak ketinggalan hasil karya lukisannya untuk banyak galeri terkemuka. Bukunya banyak memberi inspirasi, bukan hanya mengenai sastra tetapi juga soal-soal filosofi dan spiritual dalam kehidupan. Kahlil (Khalil) Gibran ketika usia muda /foto Fred Holland Day The Prophet; Buku pertamanya yang sangat terkenal berjudul’ The Prophet’ dipublikasikan pertamakali tahun 1923 oleh Alfred A. Knopf. Ada dugaan bahwa Kahlil (Khalil) Gibran jatuh cinta pada seorang wanita dari Boston bernama Josephine. Wanita inilah yang menjadi sumber inspirasi Kahlil ketika menulis The Prophet. Oleh karena buku itu didedikasikan untuk wanita pujaannya — Josephine. The Prophet berisi kumpulan puisi, esai yang filosofis dan spiritual. Buku ini diterjemahkan lebih dari dua puluh lima bahasa. Dan menurut catatan dari Amazon.nl sampai saat ini sudah terjual sebanyak sembilan (9) juta copies, dalam edisi Amerika.

Banyak bagian yang dapat menginspirasi kehidupan kita sehari-hari secara spiritual.

Salah satunya dari buku The Prophet Kahlil Gibran menulis– Your children are not your children They are the sons and daughters of Life’s longing for itself. They come through you but not from you, And though they are with you yet they belong not to you. — You may give them your love but not your thoughts, For they have their own thoughts. You may house their bodies but not their souls, For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams. You may strive to be like them, but seek not to make them like you. For life goes not backward nor tarries with yesterday. — You are the bows from which your children as living arrows are sent forth. The archer sees the mark upon the path of the infinite, and He bends you with His might that His arrows may go swift and far. Let your bending in the archer’s hand be for gladness; For even as He loves the arrow that flies, so He loves also the bow that is stable. — Sangat filosofis dan spiritual sekali bila kita baca dan perhatikan makna kata-kata, kalimat demi kalimat dari satu bagian dari sekian bagian dari buku The Prophet – On Children.

Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Ia dimakamkan di Mar Sarkis (sekarang Gibran Museum), sebuah biara Karmelit.

Baca Juga:

Berikut salah satu kutipan Karya Kahlil Gibran yang diambil dari buku ‘Pelari Terdepan”

Suatu ketika menjelang malam seorang pria yang berkelana di atas punggung kuda menuju laut mencapai sebuah penginapan. Ia turun, dan seperti semua penunggang kuda yang menuju laut, ia mengikatkan kudanya ke sebatang pohon di dekat pintu dan memasuki penginapan.

Tengah malam, ketika semuanya tengah lelap, seorang pencuri datang dan mengambil kuda pengelana itu.

Keesokan harinya pengembara terbangun dan menemukan kudanya telah dicuri. Dan ia meratapi kudanya.

Lalu teman-teman menginapnya datang dan berdiri di sekelilingnya, dan mulai berkata-kata.

Dan pria pertama berkata, “Betapa bodohnya kau mengikat kudamu di luar kandang.”

Dan yang kedua berkata, “Lebih bodoh lagi, tanpa mengikat kaki kuda!”

Dan pria ketiga berkata, “Yang paling bodoh adalah pergi ke laut dengan menunggang kuda!”

Dan yang keempat berkata, “Hanya yang lamban dan malas yang memiliki kuda.”

Si pengelana tercengang. Dan akhirnya ia berteriak, “Kawan-kawan, lantaran kudaku telah dicuri, kalian berebut memberitahu kesalahan dan cacatku. Tetapi anehnya, tidak satu kata pun kalian ucapkan tentang orang yang mencuri kudaku.”

 

Api Penyucian dalam Gereja Katolik: Berlainan dengan Siksa Neraka

1

Persoalan utama mengapa Gereja Katolik mendoakan orang mati, sementara Gereja Kristen non-Katolik tidak mendoakan orang mati, salah satunya terletak di sini: Api Penyucian. Api Penyucian atau ‘purgatorium’ adalah ‘tempat’ atau proses kita disucikan.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Gereja Katolik mengakui adanya Api Penyucian sementara orang-orang Kristen non-Katolik tidak mengakui adanya Api Penyucian; sebab menurut mereka Api Penyucian itu hanya karangan Gereja Katolik.

Gereja Katolik mengajarkan tentang Api Penyucian di dalam Katekismus Gereja Katolik #1030-1032, yang dapat disarikan sebagai berikut:

  • Api Penyucian adalah suatu kondisi yang dialami oleh orang-orang yang meninggal dalam keadaan rahmat dan dalam persahabatan dengan Tuhan, namun belum suci sepenuhnya, sehingga memerlukan proses pemurnian selanjutnya setelah kematian.
  • Pemurnian di dalam Api Penyucian sangat berlainan dengan siksa neraka.
  • Kita dapat membantu jiwa-jiwa yang ada di Api Penyucian dengan doa-doa kita, terutama dengan mempersembahkan ujud Misa Kudus bagi mereka.

Keberadaaan Api Penyucian bersumber dari ajaran Kitab Suci, yaitu dalam beberapa ayat berikut ini:

Pertama, “Tidak akan masuk ke dalamnya [surga] sesuatu yang najis” (Why 21:27) sebab Allah adalah kudus, dan kita semua dipanggil kepada kekudusan yang sama (Mat 5:48; 1 Pet 1:15-16). Sebab tanpa kekudusan tak seorangpun dapat melihat Allah (Ibr 12:14). Melihat bahwa memang tidak mungkin orang yang ‘setengah kudus’ langsung masuk surga, maka sungguh patut kita syukuri, bahwa Allah memberikan kesempatan pemurnian di dalam Api Penyucian.

Kedua, Keberadaan Api Penyucian diungkapkan oleh Yesus secara tidak langsung pada saat Ia mengajarkan tentang dosa yang menentang Roh Kudus, “… tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak” (Mat 12:32). Di sini Yesus mengajarkan bahwa ada dosa yang dapat diampuni pada kehidupan yang akan datang. Padahal kita tahu bahwa di neraka, dosa tidak dapat diampuni, sedangkan di surga tidak ada dosa yang perlu diampuni. Maka pengampunan dosa yang ada setelah kematian terjadi di Api Penyucian.

Ketiga, rasul Paulus mengajarkan bahwa pada akhirnya segala pekerjaan kita akan diuji oleh Tuhan. “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api” (1 Kor 3:15). Api ini tidak mungkin merupakan api neraka, sebab dari api neraka tidak ada yang dapat diselamatkan. Api ini juga bukan surga, sebab di surga tidak ada yang ‘menderita kerugian’ sehingga ‘api’ di sini menunjukkan adanya kondisi tengah-tengah, di mana jiwa-jiwa mengalami kerugian sementara untuk mencapai surga.

Keempat, Kitab 2 Makabe 12: 38-45 adalah yang paling jelas menceritakan dasar pengajaran mengenai Api Penyucian ini. Ketika Yudas Makabe dan anak buahnya hendak menguburkan jenazah pasukan yang gugur di pertempuran, mereka menemukan adanya jimat dan berhala kota Yamnia pada tiap jenazah itu. Maka Yudas mengumpulkan uang untuk dikirimkan ke Yerusalem, untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Perbuatan ini dipuji sebagai “perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan” (ay.43); sebab perbuatan ini didasari oleh pengharapan akan kebangkitan orang-orang mati. Korban penebus salah ini ditujukan agar mereka yang sudah mati itu dilepaskan dari dosa mereka (ay. 45).

Kita sudah melihat bahwa ajaran mengenai adanya Api Penyucian bukan karangan Gereja Katolik. Keberadaan Api Penyucian bisa ditelusuri di dalam Kitab Suci. Entah mengapa Gereja Kristen non-Katolik tidak melihat itu di dalam Kitab Suci mereka.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa tentulah Tuhan dan hanya Tuhan yang mempunyai kuasa untuk menentukan apakah seseorang yang meninggal itu masuk surga atau neraka. Namun Gereja Katolik mengajarkan bahwa dengan adanya masa pemurnian di Api Penyucian inilah, makanya doa-doa dari kita yang masih hidup, dapat berguna bagi jiwa-jiwa mereka yang sedang dalam tahap pemurnian tersebut. Bahkan, dengan mendoakan jiwa-jiwa tersebut, kita mengamalkan kasih kepada mereka yang sangat membutuhkannya, dan perbuatan ini sangat berkenan bagi Tuhan (lih. 2 Mak 12:38-45).

Referensi:
http://www.katolisitas.org/bersyukurlah-ada-api-penyucian/
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/is-purgatory-in-the-bible
https://www.catholic.com/video/is-purgatory-in-the-bible

Sejarah Asal Mula Kitab Suci

2

Banyak orang sekarang ini mendirikan gerejanya berdasarkan Kitab Suci. Pertanyaan yang muncul: “Siapakah yang menciptakan Kitab Suci? Apakah Kitab Suci menciptakan gereja atau Gerejalah yang menciptakan Kitab Suci?” Semakin bingung kan? Walaupun topiknya lumayan sulit untuk dipahami, tapi lebih baik tahu daripada tidak sama sekali. Mau dapat pengetahuan gratis? Nantikan!

Terhadap pertanyaan pertama: “Siapakah yang menciptakan Kitab Suci? memang rasanya sulit untuk dipahami. Karena itu, mungkin kita bisa merumuskan menjadi seperti ini: “Atas jasa siapakah tulisan-tulisan berserakan itu dikumpulkan menjadi Kitab Suci seperti yang kita miliki sekarang ini?”

1. KITAB SUCI BUKANLAH SATU-SATUNYA SUMBER IMAN

Dengan judul ini saja, kita sudah berseberangan dengan keyakinan saudara-saudari kita Protestan, yang inti ajarannya adalah “Sola Scriptura” (Hanya Kitab Suci saja). Namun, saya tidak mau berpolemik tentang keyakinan yang berbeda seperti ini. Apa yang saya jelaskan adalah soal kelogisan berpikir dan keyakinan akan kebenaran yang tertulis berdasarkan sejarahnya.

Yesus selama hidup-Nya di dunia ini tak pernah menyebutkan tentang sebuah Kitab Suci (dalam arti keharusan adanya sebuah Kitab Suci seperti Kitab Taurat dalam Agama Yahudi). Benar kan? Dia tidak pernah memerintahkan para Rasul-Nya untuk percaya kepada sebuah buku. Demikian pun Yesus tak pernah memerintahkan para murid-Nya untuk menuliskan sebuah buku. Karena itu, sewaktu hidupnya para Rasul, harus diakui bahwa tidak ada yang namanya Kitab Suci. Dengan kata lain, kita bisa menyimpulkan bahwa Yesus tak pernah membangun gereja-Nya di atas dasar sebuah Kitab/Buku sebagai dasar iman, tetapi Ia membangun sebuah Gereja sebagai pilar dan dasar dari sebuah kebenaran. (2 Tim 3:15). Dan Dia tidak pernah berjanji sebuah buku/Kitab melainkan Diri-Nya sendiri akan selalu beserta Gereja-Nya sampai akhir zaman (Mat 28:20) dan Roh Kudus akan memimpin para rasul dan para pengganti mereka sampai kepenuhan kebenaran yakni setelah Ia naik ke Surga (Yoh 14:16-17).

2. TRADISI DAN KITAB SUCI

Pada awal gereja di mana Kitab Suci belum ada, umat Kristen percaya pada pengajaran para Rasul, yang menjadi dasar iman mereka, yang mana disebut oleh gereja sebagai “Tradisi Suci“. Hal ini bisa dilihat dalam Mat 15:6-9. Sedangkan istilah-istilah seperti Tritunggal, Api Penyucian dan lain-lain berasal dari surat-surat para bapa Gereja yang kemudian dikuatkan oleh isi Kitab Suci kelak.

Tentang pentingnya Tradisi Suci dalam gereja bisa dibaca dalam 2 Tesalonika 2:15; “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” Atau dalam 1 Korintus 11:2: “…kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu.

“Tradisi Suci dan Kitab Suci berhubungan erat sekali dan terpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama” (DV 9). Kedua-duanya menghadirkan dan mendaya-gunakan misteri Kristus di dalam Gereja, yang menjanjikan akan tinggal bersama orang-orang-Nya “sampai akhir zaman” (Mat 28:20).

~ Katekismus Gereja Katolik 80

“Dengan demikian maka Gereja, yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama” (DV 9).

~Katekismus Gereja Katolik 82

Dengan penjelasan ini maka kiranya menjadi jelas bahwa: Pertama, Kitab Suci adalah sebuah Tradisi. Kitab Suci bukanlah sesuatu yang diturunkan oleh Allah sebagai sebuah buku melainkan berupa inspirasi yang menggerakan para penulis menuliskan apa yang mereka alami. Kedua, tradisi lisan maupun tulisan tetap penting dalam membangun iman umat.

3. ALASAN TULISAN-TULISAN DIKUMPULKAN MENJADI KITAB SUCI

Pada masa awal gereja, terdapat sekitar lebih dari 50 Injil, yang termasuk 4 Injil yang ada dalam Kitab Suci sekarang ini (Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes). Selain itu, ada juga Injil lain seperti Injil Yakobus, Injil Thomas, Injil Ibrani, dll. Ada juga 22 buku Kitab lain, Kisah Para Rasul, Kisah Paulus, dan lain sebagainya. Banyaknya Kitab-kitab Injil ini semakin membingungkan umat gereja perdana. Di antara Injil dan Kitab-kitab itu ada juga yang isinya sangat bertentangan dengan ajaran Para Rasul, seperti ajaran Arius yang mengatakan bahwa Yesus bukan Allah, Apolinarius; Yesus bukan manusia, Macedonius; Roh Kudus bukan Allah. Kenyataan ini sungguh sangat memprihatinkan umat terutama dalam usaha untuk mengembangkan kehidupan iman mereka.

Menghadapi tantangan-tantangan nyata seperti itu, Gereja Katolik akhirnya memutuskan untuk menyeleksi beberapa Kitab yang menunjukkan keaslian pada ajaran para Rasul dan yang betul-betul penuh inspirasi. Inilah yang nantinya disebut Kanon (sarana untuk mengukur keaslian dan kebenaran Kitab Suci). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa: “Injil datang dari Gereja dan bukan gereja datang dari Injil.” (Inilah jawaban atas pertanyaan kedua di atas).

Sekedar sebagai kesaksian bahwa banyak orang Protestan akhirnya kembali kepada pangkuan Gereja Katolik setelah menyadari akan kebenaran cerita tentang Kitab Suci. Ini bukan terjadi karena mereka cuma belajar tentang Kitab Suci sendiri tetapi mereka belajar tentang sejarah terbentuknya Kitab Suci, yang merupakan hasil kerja keras dari Gereja Katolik. Dalam konteks ini, kita bisa mengatakan bahwa: “Tanpa Gereja Katolik, pasti kita tidak memiliki Kitab Suci seperti yang ada sekarang ini. 

4. GEREJA KATOLIK-LAH YANG MENGUMPULKAN TULISAN-TULISAN YANG BERSERAKAN DAN MENJADIKANNYA KITAB SUCI SEPERTI YANG SEKARANG INI

“Dalam tradisi apostolik Gereja menentukan, kitab-kitab mana yang harus dicantumkan dalam daftar kitab-kitab suci. Daftar yang lengkap ini dinamakan “Kanon” Kitab Suci. Sesuai dengan itu Perjanjian Lama terdiri dari 46 (45, kalau Yeremia dan Lagu-lagu Ratapan digabungkan) dan Perjanjian Baru terdiri atas 27 kitab. Perjanjian Lama: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-Hakim, Rut, dua buku Samuel, dua buku Raja-Raja, dua buku Tawarikh, Esra dan Nehemia, Tobit, Yudit, Ester, dua buku Makabe, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan, Yesus Sirakh, Yesaya, Yeremia, Ratapan, Barukh, Yeheskiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.Perjanjian Baru: Injil menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, Kisah para Rasul, surat-surat Paulus: kepada umat di Roma, surat pertama dan kedua kepada umat Korintus, kepada umat di Galatia, kepada umat di Efesus, kepada umat di Filipi, kepada umat di Kolose, surat pertama dan kedua kepada umat di Tesalonika, surat pertama dan kedua kepada Timotius, surat kepada Titus, surat kepada Filemon, surat kepada orang Ibrani, surat. Yakobus, surat pertama dan kedua Petrus, surat pertama, kedua, dan ketiga Yohanes, surat Yudas, dan Wahyu kepada Yohanes.”
~ Katekismus Gereja Katolik 120

Berawal dari Melito, Uskup dari Sardis (tahun 170 SM) yang mencoba untuk memiliki sebuah kanon tentang Kitab Suci Perjanjian Lama, namun karena ada kesulitan dalam daftar besar kitab-kitab yang beredar pada waktu itu maka usaha ini tidak berjalan dengan lancar.

Di bawah kepemimpinan Paus ke-37, St. Damasus I (366-384), dengan Magisterium Gereja yang infallible (tidak dapat salah), Paus Roma menentukan kitab-kitab yang dimasukkan ke dalam Kanon Kitab Suci dan membuang beberapa kitab untuk tidak dimasukkan ke dalam Kanon Kitab Suci. Paus Damasus I kemudian memerintahkan St. Hieronimus (St. Jerome) untuk menerjemahkan Kitab Suci berbahasa Yunani ke dalam Bahasa Latin yang kita kenal dengan nama Vulgata. Kitab-kitab yang ditentukan oleh Paus St. Damasus ke dalam Kanon Kitab Suci adalah yang kita pergunakan oleh orang-orang Kristen hingga saat ini.

Dengan kuasa infallible (tidak dapat salah) yang dimiliki oleh Paus, ia kemudian menerima Injil Lukas dan digabungkan dengan ketiga Injil lain dengan alasan bahwa dalam Injil Lukas terekam lengkap kisah kanak-kanak Yesus, terutama dalam hubungan dengan Santa Perawan Maria. Lukas jugalah yang untuk pertama kalinya melukis gambar Bunda Maria dengan Yesus, yang sampai saat ini masih tersimpan di Gereja Basilika Santa Maria major di Roma. Injil Matius jelas memberitahukan tentang kuasa mengajar Petrus dan gereja yang dibangun di atasnya. Injil Yohanes digunakan oleh orang Kristen perdana untuk mempertahankan imannya, terutama dalam hubungan dengan Sakramen Ekaristi sebagai Tubuh dan Darah Yesus. Injil Markus juga memberikan gambaran yang jelas tentang kuasa St. Petrus untuk memimpin gereja yang didirikan oleh Yesus, dan kuasa ini sampai saat ini masih dijalankan oleh para penggantinya, yakni Paus di Roma.

Daftar kitab-kitab yang diterima oleh Paus Damasus I dengan kuasa infallible (tidak dapat salah) untuk dimasukkan ke dalam Kanon Kitab Suci antara lain :

– Injil Matius

– Injil Markus

– Injil Lukas

– Injil Yohanes

– Kisah Para Rasul

– Surat Paulus kepada jemaat di Roma

– Surat Paulus kepada jemaat di Korintus 1

– Surat Paulus kepada jemaat di Korintus 2

– Surat Paulus kepada jemaat di Galatia

– Surat Paulus kepada jemaat di Efesus

– Surat Paulus kepada jemaat di Filipi

– Surat Paulus kepada jemaat di Kolose

– Surat Paulus kepada jemaat di Tesalonika 1

– Surat Paulus kepada jemaat di Tesalonika 2

– Surat Paulus kepada Timotius 1

– Surat Paulus kepada Timotius 2

– Surat Paulus kepada Titus

– Surat Paulus kepada Filemon

– Surat kepada orang Ibrani

– Surat Yakobus

– Surat Petrus 1

– Surat Petrus 2

– Surat Yohanes 1

– Surat Yohanes 2

– Surat Yohanes 3

– Surat Yudas

– Wahyu kepada Yohanes

Daftar kitab-kitab yang ditolak oleh Paus Damasus I dengan kuasa infallible (tidak dapat salah) untuk tidak dimasukkan ke dalam Kanon Kitab Suci antara lain :

– Injil Thomas

– Injil Maria Magdalena

– Injil masa kanak-kanak Yesus menurut Thomas

– Injil masa kanak-kanak Yesus menurut Yakobus

– Injil Petrus

– Injil Bartolomeus

– Injil Nikodemus

– Injil Nazorean

– Injil kaum Ebionit

– Injil Filipus

– Injil Ibrani

– Injil Andreas

– Injil Apelles

– Injil Barnabas

– Injil Basilides

– Injil Eva

– Injil Fayum

– Injil Yakobus Kecil

– Injil Yudas Iskariot

– Injil Marcion

– Injil Maria

– Injil Matias

– Injil Thaddeus

– Injil Duabelas

– Injil Hidup

– Injil Kesempurnaan

– Injil Kebenaran

– Injil orang-orang Mesir

– Kisah Petrus dan Kedua belas Rasul

– Kisah Andreas

– Kisah Yohanes

– Kisah Thomas

– Kisah Paulus

– Dialog Sang Penyelamat

– Peribahasa Yesus

– Ajaran Yesus Kristus

– Ajaran Duabelas Rasul

– Rahasia dari Yohanes

– Konstitusi Kerasulan

– Keturunan Maria

– Pertanyaan dari Maria

– Apokrifa Yakobus

– Apokrifa Yohanes

– Khotbah Petrus

– Surat Abgar

– Surat Barnabas

– Surat Clement

– Surat Clement kepada jemaat di Korintus 1

– Surat Clement kepada jemaat di Korintus 2

– Surat Clement untuk kegadisan

– Surat Clement kepada Yakobus

– Surat Ignatius

– Surat Paulus kepada jemaat di Leodicea dan Alexandria

– Wahyu kepada Paulus

– Wahyu kepada Yakobus 1

– Wahyu kepada Yakobus 2

– Wahyu kepada Petrus

Kitab-kitab tersebut ditolak karena tidak sesuai dengan Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Dengan infalibilitas Paus Roma maka kitab-kitab tersebut dinyatakan sebagai bidaah (sesat) dan tidak layak untuk dibaca oleh umat kristen gereja perdana. Menarik bahwa orang-orang Kristen non-Katolik tidak menolak atau mempertanyakan otoritas dan karya Paus St. Damasus I ini. Dengan kata lain, mereka menerima bahwa Paus St. Damasus I adalah infallible (tidak dapat salah) dalam menentukan kitab-kitab dalam Kanon Kitab Suci.

Inilah dasar bahwa Magisterium Gereja Katolik kebal terhadap kesalahan (infalibilitas).

“Ciri tidak dapat sesat itu ada pada Imam Agung di Roma, kepala dewan para Uskup, berdasarkan tugas beliau, bila selaku gembala dan guru tertinggi segenap umat beriman, yang meneguhkan saudara-saudara beliau dalam iman, menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan dengan tindakan definitif. Sifat tidak dapat sesat, yang dijanjikan kepada Gereja, ada pula pada Badan para Uskup, bila melaksanakan wewenang tertinggi untuk mengajar bersama dengan pengganti Petrus” (LG 25) terutama dalam konsili ekumenis. Apabila Gereja melalui Wewenang Mengajar tertingginya “menyampaikan sesuatu untuk diimani sebagai diwahyukan oleh Allah” (DV 10) dan sebagai ajaran Kristus, maka umat beriman harus “menerima ketetapan-ketetapan itu dengan ketaatan iman” (LG 25). Infallibilitas ini sama luasnya seperti warisan wahyu ilahi.”

~ Katekismus Gereja Katolik 891

“Kebal Salah dari magisterium para gembala mencakup segala unsur ajaran, juga ajaran kesusilaan yang mutlak perlu untuk mempertahankan, menjelaskan, dan melaksanakan kebenaran-kebenaran iman yang menyelamatkan.”
~ Katekismus Gereja Katolik 2051

5. TIDAK ADA KITAB SUCI TANPA GEREJA

Dari berbagai penjelasan di atas, kita lalu sampai pada kesimpulan logis bahwa: “Tidak ada Kitab Suci tanpa Gereja Katolik“. Gereja Katoliklah yang mengadakan Kitab Suci, yang sekarang malah diklaim oleh banyak orang sebagai miliknya, dan lebih parah lagi jika mereka berani mengatakan bahwa mereka lebih benar dan lebih tahu tentang Kitab Suci daripada Gereja Katolik. Ini sungguh sebuah lawak yang tidak lucu.

Dengan demikian, bagi mereka yang menyangkal Tradisi Suci, kuasa mengajar dan memimpin Paus Roma (Magisterium Gereja) dan cuma percaya pada pewahyuan selalu mempertanyakan keabsahan Kitab Suci. Ini yang harus kita sadari bahwa ketika kita menyebut Injil Lukas, Injil Markus, dll. bukan berarti bahwa Kitab Suci sungguh ditulis oleh mereka. Kepercayaan ini berdasar pada tradisi gereja. Karena itu, isi Kitab Suci sendiri merupakan kumpulan dari tulisan-tulisan mereka yang menjadi saksi bukan hanya sebagai Rasul tetapi sebagai murid dari para rasul seperti Lukas dan Markus. Kedua penulis ini bukanlah tergabung dalam kelompok 12 Rasul. Mereka adalah murid dari Petrus dan Paulus.

Ini adalah dasar bahwa Kitab Suci yang telah dikanonkan dijamin dari kesalahan (infalibilitas).

“Allah adalah penyebab Kitab Suci: Ia mengilhami pengarang-pengarang manusia: Ia bekerja dalam mereka dan melalui mereka. Dengan demikian Ia menjamin, bahwa buku-buku mereka mengajarkan kebenaran keselamatan tanpa kekeliruan.”

~ Katekismus Gereja Katolik 136

Karena itu, perjuangan untuk memasukkan sebuah kitab/Surat dalam Kitab Suci sungguh memakan waktu dan pertimbangan yang matang dari sisi pewahyuan dan isinya yang mendukung perkembangan iman umat, seperti misalnya; Kitab Wahyu. Kitab ini awalnya tidak diterima oleh umat kristen perdana. Tapi hanya karena keputusan dari Paus Roma (bersifat infallible / tidak dapat salah) yang mempertimbangkan bahwa isi kitab ini dapat membantu umat dalam mengenal dan mengimani Allah, maka akhirnya Kitab Wahyu termaktub dalam Kitab Suci seperti sekarang ini. Kuasa Paus untuk menentukan ini berdasar pada Mat 28:20; “Ajarilah mereka tentang segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan, lihatlah, Aku akan menyertaimu sampai akhir zaman.” (kamu di sini adalah para rasul dibawa komando Petrus sebagai pemimpin resmi yang diangkat oleh Yesus).

Menjadi sebuah kebenaran bahwa segala sesuatu yang diperbuat oleh para rasul dan para bapa gereja perdana tidak tertulis dalam Kitab Suci. Kitab Suci sendiri mengakuinya itu dalam Yoh 21:25; “Masih ada banyak hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jika semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” Karena itu, mereka yang percaya bahwa kebenaran hanya terdapat dalam Kitab Suci membuat sebuah kontradiksi besar dalam hidup mereka, ketika mereka menerima pewahyuan lewat pemimpin gereja mereka sebagai kebenaran. Bukankah apa yang diwahyuhkan kemudian tidak tertulis dalam Kitab Suci? Mengapa mereka harus mengakuinya? Gereja Katolik telah melihat kemungkinan bahwa Allah akan terus bekerja dalam setiap generasi sampai akhir zaman. Karena itu, kebenaran dalam Kitab Suci tak pernah disangkal, tetapi pewahyuan atau apa yang dilestarikan dalam tradisi gereja juga dipercaya datang dari Allah.

Karena itu, di balik segala kelemahan dan kekurangan gereja, terutama lewat pemimpin-pemimpinnya, kita tidak bisa membuatnya menjadi alasan untuk meninggalkan Gereja Katolik, apalagi untuk membenci. Gereja Katolik adalah gereja yang didirikan oleh Yesus sendiri di atas dasar Petrus (Mat 16:18) sebagai lambang kesatuan para rasul yang lain. Para rasul yang lain, seperti Yakobus, Matius, Tadeus, dll. bahkan murid kesayangan Yesus, Yohanes, tak pernah mendirikan sebuah gereja baru karena kuasa yang diberikan kepada mereka. Walaupun berbeda pendapat atas banyak hal tapi mereka tetap percaya kepada Petrus sebagai pemimpin resmi mereka, yang diangkat sendiri oleh Yesus. Bahkan di zaman Paulus yang mendapatkan pewahyuan luar biasa dari Yesus, bahkan disebut rasul bagi bangsa-bangsa lain pun tetap mengakui Petrus sebagai pemimpinnya karena hak yang diberikan oleh Yesus kepada Petrus sendiri secara khusus.

Pertanyaan untuk direnungkan oleh semua orang Kristen (baik Katolik maupun Protestan) :

“Kalau Yesus, kalau Petrus dan para rasul yang lain tidak pernah membagi gereja menjadi bagian-bagian yang terpisah satu sama lain, sekalipun banyak terjadi salah paham baik pada level theologis maupun praktis hidup terjadi,  lalu mengapa kita manusia sekarang harus membaginya karena merasakan bahwa keinginan kita tidak terakomodir dalam Gereja Katolik, lalu kita mendirikan gereja baru? Apa artinya doa Yesus: “Semoga mereka bersatu” untuk dewasa ini? Kalau Yesus mempersatukan maka iblislah yang selalu mencerai beraikan kita lewat nafsu dan keinginan kita yang tidak bisa kita kontrol. Sadarlah akan itu dan renungkanlah. Kembalilah ke pangkuan Gereja Katolik karena itulah yang diinginkan oleh Yesus.

Penulis: Rm. Inno Ngutra