8.5 C
New York
Sunday, April 5, 2026
Home Blog Page 88

Penjala Ikan menjadi Penjala Manusia – Renungan Harian

0
6437364 / Pixabay

Penjala Ikan menjadi Penjala Manusia: Renungan Harian Katolik, Kamis 6 September 2018 — JalaPress.com; Injil: Luk. 5:1-11

[postingan number=3 tag= ‘salib’]

Seorang nelayan profesional tahu persis mengenai waktu terbaik untuk melaut. Kapankah  waktu terbaik itu? Jawabannya selalu dan hampir pasti adalah malam hari. Mengapa? Karena pada malam hari, angin bertiup dari daratan ke lautan (atau angin darat). Bagaimana dengan siang hari? Pada pagi atau siang hari, para nelayan pulang dari lautan; karena angin bertiup dari lautan ke daratan (atau angin laut). Jadi, angin dimanfaatkan oleh para nelayan untuk pergi ke laut mencari ikan atau juga untuk kembali ke darat sehabis menangkap ikan.

Namun, tidak setiap malam adalah waktu terbaik untuk menjala ikan. Hanya malam gelap, tanpa ada sinar rembulan – itulah yang dimaksudkan dengan waktu terbaik bagi seorang nelayan untuk melaut. Mengapa? Alasannya, hanya pada saat malam gelap seperti itulah ikan-ikan yang semula berkeliaran di dasar laut dan tidak bisa dijangkau dengan pukat atau jala akan naik dan mencari makanan di permukaan laut dan bisa ditangkap dengan pukat atau jala.

Sebagai seorang nelayan profesional, Petrus tahu bahwa jika kegiatan menjala ikan pada malam hari saja tidak membawa hasil apalagi jika hal itu dilakukan pada siang bolong. Namun berkat imannya – yang meskipun masih disertai rasa ragu-ragu – ia melakukannya juga. Itulah sebabnya ia berkata, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

“Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga” (Luk. 5:5).

Imannya ini ternyata membawa dampak yang besar bagi pengalamannya selanjutnya. Ia menangkap sejumlah besar ikan. Kini matanya terbuka, bukan hanya dalam pengertian bahwa ia melihat ikan-ikan yang memenuhi perahunya, tetapi lebih dari itu, kini ia melihat kemuliaan Tuhan yang sedang bekerja atas dirinya dan mengenal Yesus sebagai Tuhan itu sendiri. “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa,” kata Petrus kepada Yesus. Ia merasa diri tidak pantas karena telah menaruh rasa ragu dalam dirinya. Namun apa yang terjadi selanjutnya? Yesus berkata kepada Petrus, “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.”

Kisah yang berlatarkang suasana di pantai danau Genesaret ini mengajak kita untuk menyerahkan segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita berdasarkan kehendak Tuhan. Banyak hal tentu saja tidak bisa kita mengerti, namun kalau Tuhan sendiri yang berkarya apapun itu akan terjadi. Tuhan memilih Petrus untuk menjadi penjala manusia, artinya ia dipilih untuk menarik banyak orang kepada Yesus. Bahan yang digunakan bukan lagi jala melainkan pewartaan dan kesaksian yang menarik dan mengesankan bagi banyak orang. Seperti Petrus, kita pun dipilih oleh Tuhan – asalkan kita mempunyai iman – untuk menjadi penjala manusia. Dengan kata lain, kita dipanggil untuk menjadi saksi Kristus melalui perbuatan kasih kepada semua orang.

Yesus Menyembuhkan Penyakit Kita – Renungan Harian

0
Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Yesus Menyembuhkan Penyakit Kita: Renungan Harian Katolik, Rabu 5 September 2018 — JalaPress.com; Injil: Luk. 4:38-44

Saudara-saudari yang terkasih, kita tahu bahwa Tuhan Yesus dikenal luas sebagai ‘rabi’ atau guru yang suka blusukan. Ia pergi ke mana-mana dan masuk ke segala lapisan masyarakat. Kadang Ia bergaul dengan kaum marginal: para janda, anak yatim piatu, orang asing, orang-orang sakit, dan sebagainya; kadang pula Ia berdiri di muka umum dan mengajar di rumah-rumah ibadat di depan para pemuka agama, orang-orang Farisi, dan ahli-ahli Taurat. Ia suka berkeliling; dari desa ke desa, dari kota ke kota, dan dari rumah ke rumah.

Hari ini Penginjil Lukas menceritakan salah satu dari sekian banyak kebiasaan Yesus itu. Diceritakan bahwa dalam salah satu perjalanan-Nya, Ia mampir ke rumah Petrus. Mungkin sudah diminta khusus oleh Petrus, sebab ternyata mertua Petrus sedang demam keras. Orang-orang yang berada di rumah Petrus tahu siapa Yesus itu. Barangkali Ia sudah sering pergi ke rumah itu; sehingga tanpa ragu mereka meminta Yesus supaya menyembuhkan penyakit ibu mertua Petrus.

Yesus pun mengabulkan permintaan mereka. Ia menyembuhkan sakit demam yang dialami oleh mertua Petrus itu. Hanya dengan ‘menghardik’, demam keras yang dialami oleh ibu mertua Petrus itu pun hilang dalam sekejap.

Tentu kejadian disembuhkannya mertua Petrus itu bukan hal yang biasa. Ini merupakan sesuatu yang luar bisa; sehingga cerita tentang peristiwa itu menyebar dengan cepat ke seluruh kampung. Makanya, ketika matahari terbenam, artinya ketika orang-orang pulang dari kerja, mereka datang menemui Yesus sambil membawa seabrek keluhan, sakit, dan penyakit. Yesus melayani mereka. Ia menumpangkan tangan atas mereka dan menyembuhkan penyakit mereka.

Tidak ada orang lain yang bisa berbuat demikian selain Yesus. Makanya, setan-setan pun berteriak: “Engkau adalah Anak Allah” (Luk. 4:41). Jika Yesus bukan Anak Allah tentu Ia tidak bisa melakukan itu semua. Bahkan, setan pun tahu itu.

Sampai di sini, pelajaran apa yang bisa kita petik? Tidak lain selain bahwa jika kita menderita sakit atau mengalami penderitaan dalam hidup, mintalah pertolongan pada Tuhan. Yakinlah, Ia akan mengabulkan permintaan kita itu, asalkan kita sungguh-sungguh percaya kepada-Nya.

Setelah disembuhkan oleh Yesus, mertua Petrus itu pun segera bangun dan melayani mereka. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa jika Tuhan sudah memberikan pertolongan kepada kita, maka sebagai tanda terima kasih dan syukur, kita harus siap sedia untuk melayani Tuhan melalui banyak cara; sekecil apapun bentuk pelayanan kita itu.

Orang banyak yang melihat apa yang dilakukan oleh Yesus itu mau menahan Yesus. Sikap seperti ini yang seringkali juga kita lakukan. Kita hanya mau menikmati sendiri berkat yang diberikan Tuhan. Kita tidak mau membagi berkat yang kita terima kepada orang-orang lain. Kita egois. Makanya Yesus berkata: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus” (Luk. 4:43). Kita jangan sampai menjadi penghambat bagi berkembangnya suatu pelayanan. Tugas kitalah untuk meneruskan dan menyampaikan kabar Injil itu.

Kang Je dan Es Cendol

0
Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Pagi baru saja kusambut, melepas malam yang dilewati bersama lelapnya tidur. Setelah beberes tempat tidur, bebersih diri dengan air hangat, aku bersiap hendak melaksanakan kegiatan seharianku selanjutnya.

Tapi, begitu pakaian bersih kukenakan mengganti pakaian sebelumnya, telingaku mendengar bunyi WA masuk. Tanpa ragu, kubuka ponsel yang memang kembali menyala begitu tuannya bangun menyambut pagi tadi.

Mata yang semula terasa cerah berhadapan dengan segala rencana sehari ini, terbelalak tak percaya. Bunyi kalimat dalam WA itu sungguh tak menyenangkan hati ketika membacanya.

Ada apa seseorang tiba-tiba memarahiku sepagi ini?

Mendadak saja, kesegaran tubuh sehabis dibayur air hangat tadi seperti kaku. Aku terduduk, tak berdaya.  Mencoba tenang, tapi gejolak sekonyong-konyong bergemuruh di dada. Tak terbendung. Ingin meledak.

“Pagimu menjadi sendu, anak-Ku?” sebuah kepala dengan rambut gondrong, tiba-tiba muncul dari balik jendela. Ia menyibakkan jendela tipis yang menutupi jendela. Kutengadahkan kepala memandang yang menegurku tadi. Ia memberikan senyum manisnya.

Aku diamkan saja.

Nampaknya Ia tahu, aku mencuekkannya. “Boleh Aku masuk?”

Aku hanya mengangguk-angguk. Pintu memang tidak kukunci. Tak lama, orang yang memang aku tahu selalu mengetahui apa pun yang terjadi sudah duduk di sebelahku.

“Ada apa? Apakah pagi ini tidak cukup juga membuatmu lebih bergairah menerusi hari? Apakah kesegaran ini masih kurang hingga membuatmu merasa seperti tak berdaya begini?” Ia menepuk pahaku pelan. Menyentuh sebagai tanda bahwa Ia peduli.

Aku tetap tertunduk.

Tanganku menunjukkan ponsel yang tadi berisi WA penyebab kemurunganku pagi ini. Yang kuijinkan membaca WA tadi memandangku ragu sebelum akhirnya tanganNya menerima dan membaca.

“Siapa yang mengirim WA ini?” tanyaNya semberi mengembalikan ponselku.

“Teman kantorku,” jawabku pelan.

“Kenapa dia mengirimkan WA seperti itu padamu? Apakah kamu melakukan sesuatu yang menyakitkan hatinya?”

Kutarik nafas dulu. “Itulah masalahnya, Kang … Aku merasa tidak melakukan apa yang membuatnya tidak enak. Apalagi seperti yang dituduhkan seperti itu.”

“Lalu, kenapa dia mengatakan kamu seperti itu?”

Mataku memandang ke depan. Lurus seperti hendak menembus apa saja yang bisa jadi penghalang. Bersamaan dengan itu, otakku seperti melanglangbuana pada peristiwa beberapa hari kemarin yang mungkin menjadi biang dari segala masalah ini.

Selama ini kami sedang melaksanakan sebuah proyek besar untuk kesekian kalinya. Semua orang di kantorku memang dilibatkan untuk bekerja dan melaksanakan proyek itu supaya sukses. Semua telah dibagi melakukan tugas sesuai kemampuan masing-masing. Demikian juga aku.

Ada seorang karyawan baru yang  baru melakukan proyek sebesar itu seringkali bertanya-tanya padaku dan yang lain. Dengan senang hati kami menjawabnya sebatas sepengetahuan kami. Tentu saja dalam konteks antar teman saja, bukan karena senior-yunior atau atasan dan bawahan. Kami malah saling bercanda.

Karena kedekatan itu, maka aku beberapa kali mengingatkan dia untuk melakukan pekerjaan yang telah kami beritahu itu. Pemberitahuan ini benar-benar murni sebagai pemberitahuan antar teman sesama tim besar. Tidak ada maksud lain. Sebab, aku pun pernah merasakan di posisinya sekarang. Yah, sharing saja…

Hingga datanglah WA pagi tadi.

WA itu berasal dari temanku lainnya yang menjadi koordinator divisi tempat pegawai baru yang pernah bertanya padaku dan teman-teman beberapa hari lalu. Sang koordinator menulis di WA bahwa dia merasa tersinggung karena aku mendahului dia memberitahu pekerjaan kepada anak buahnya. Dia menuduhku tidak profesional, tidak solid dan subyektif.

Oleh karena tuduhan itu aku merasa down dan menjauhkan segala keceriaan pagi ini.

Sebuah tangan terasa menepuk bahuku pelan.

“Aku mengerti, anakKu. Amat mengerti. Kamu pasti tidak terima atas tuduhan itu bukan?”

Kepalaku mengangguk-angguk.

“Tidakkah kamu akan menyelesaikan semua ini dengan baik-baik?”

Kutarik nafasku lagi. “Aku tahu, aku hrus melakukannya. Tapi…, hatiku masih payah. Aku tidak melakukan hal yang dituduhkan itu, berpikir pun tidak. Aku tahu tidak enaknya pekerjaan yang telah ditanggungjawabi kepada kita seenaknya diserobot teman sendiri. Maka aku tidak melakukannya hal itu pada temanku. Aku mencoba menghargai pekerjaan orang lain saja. Tapi, kenapa justru orang lain melakukan hal ini padaku?”

“Ketika proyek ini diberikan pada kami, aku juga sama dengan teman baruku itu kok. Masih meraba meski lebih punya pengalaman sedikit dari proyek sebelumnya. Aku bahkan mengistilahkan diriku seperti gelas kosong yang siap diisi air apa saja supaya bisa hasil pekerjaan ini baik dengan segala warnanya.”

“Tapi, ketika air itu mulai mengisi, aku juga sempat bingung. Kok ada air putih, sirup segala rasa, air teh, kopi bahkan ada es cendol yang pastinya kelihatan sangat beda. Terus terang, aku sempat bingung, kaget, tidak menyangka serumit itu mengerti banyak hal. Makanya secara pribadi aku mencoba tenang dan sempat menarik diri sejenak agar tidak lebih membuatku dan orang lain tidak mengerti. Di saat semua menjadi lebih baik, tiba-tiba muncul hal ini. Hal yang sama sekali tidak kusangka dari hal-hal lain yang selama ini seringkali pula mendadak muncul.”

Kang Je yang setia duduk di sampingku nampaknya membiarkan mulutku berbicara panjang, melepas beban di dada. Terbukti, memang seperti ada yang terlepas, bebas. Kegundahan ini laksana terbawa angin pagi yang selama ini menemani kami di kamar ini.

Detik jam di jam dinding kian berputar. Aku tahu, harus segera pergi ke kantor supaya tidak telat. Namun, dengan kondisi seperti ini, bagaimana caranya?

“Aku mengikuti segala perbuatanmu dan teman-temanmu selama ini, anakKu. Aku tidak jauh dari kalian. Dan, apa yang kalian lakukan sebenarnya sudah pada tempatnya. Tidak melebihi atau mengurangi. Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan.” (2 Korintus 8:13)

“Tapi, kenapa teman yang memberi WA ini menuduhku demikian?”

“Kamu ingat, sebab jika kamu rela untuk memberi maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.” (2 Korintus 8:12)

Kembali aku menunduk.

Bunyi burung kecil mengiring perkataan-perkataan yang diucapkan seseorang yang selama ini memang selalu menjadi penguatku. Ah, karena pekerjaan ini aku nyaris melupakanNya. Aku beberapa kali lupa bergumul sesaat denganNya. Padahal Ia selalu setia. Alasan kesibukan serta kelelahan bukan dan kelelahan  rupanya tidak berlaku bagiNya.

“Jadi, anakKu… Jika pekerjaanmu dilakukan dengan kerelaan dan kebisaan yang ada padamu, jauhkan segala kekuatiranmu. Percaya saja, apa yang terjadi pagi ini semacam kerikil kecil. Kamu bisa menyingkirkan dengan niat baik. Terangkan baik-baik pada temanmu apa yang sebenarnya kamu maksud. Katakan padanya, kamu tidak berniat seperti yang ia pikirkan itu.”

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan., sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Itu ayat dari dua Korintus bab sembilan ayat tujuh.” Kang Je menyentuh ujung hidungku. Wajahnya sumringah.

Garis memanjang terasa di bibirku.

Aku sudah bisa tersenyum tipis.

Kang Je memang sumber penghiburanku.

“Sekarang bersiaplah jelang kelanjutan harimu selanjutnya. Tetap bersemangat dan bersukacita atas namaKu.” Tangan Kang Je memberi berkat di dahiku.

Ajaib.

Ada semangat serta keinginan kuat untuk cepat bergerak.

Aku beranjak dari duduk, bergegas menyiapkan segala bawaan yang biasa kubawa ke kantor. Beban pagi ini benar menguap seiring perputaran menit yang nampaknya tak bisa menungguku lagi.

“Eh…, gimana kalau kamu istirahat makan siang nanti, kita beli es cendol” usul Kang Je tiba-tiba. Ia berdiri lalu berdiri di depan pintu.

“Lho, kok es cendol? Lagi ngidam yaaa…,” godaku.

“Soalnya tadi kan perumpamaanmu pake es cendol segala sih. Siang-siang kan enak tuh makan es cendol.”

Aku tertaw pelan. “Oke deh… Aku tunggu nanti makan siang yaa… Aku pergi dulu. Dah, Kang Je…”

“Dah, anak-Ku… Hati-hati di jalan.”

Kukedipkan sebelah mataku dan bergegas ke luar kamar.

Hari ini kusanggupi dengan segala niat baik dan suka cita.

(thx to my bro untuk ayatnya)

ABRAHAM dan Yesus Disunat, Mengapa Orang Katolik Tidak?

3
Gambar ilustrasi oleh ArmyAmber / Pixabay

Allah membuat perjanjian dengan Abraham. Perjanjian itu ditandai dengan sunat. Allah bersabda:

“Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku” (Kej. 17:10-14).

Itulah asal mula perintah berkhitan (sunat).  Perintah Allah tersebut sangat jelas dan tegas. Bahkan sanksinya sangat berat bagi yang tidak berkhitan. Ancamannya hukuman mati. Ini membuktikan bahwa bersunat hukumnya bukan pilihan tapi wajib. Perintah Allah tersebut berlaku turun temurun dan merupakan perjanjian yang kekal.

[postingan number=3 tag= “sunat”]

Abraham menerima perjanjian dari Allah itu. Maka diadakannyalah sunat massal. Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya. Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya. Dan Ismael, anaknya, berumur tiga belas tahun ketika dikerat kulit khatannya. Pada hari itu juga Abraham dan Ismael, anaknya, disunat. Dan semua orang dari isi rumah Abraham, baik yang lahir di rumahnya, maupun yang dibeli dengan uang dari orang asing, disunat bersama-sama dengan dia (Kej. 17:23-27).

Tradisi sunat ini dilanjutkan pada zaman Nabi Musa (lih. Im. 12:3, Kel. 12:48), Yoshua (Yos. 5:2) dan tradisi ini dilaksanakan seterusnya sampai pada zaman Yudas Makabe (167-160 BC) meskipun di tengah tekanan para penguasa (lih. 2 Mak 6:10); dan sampai juga ke zaman Yesus Kristus. Alkitab mencatat bahwa ketika Yesus genap berumur 8 hari, Bunda Maria dan St. Yusuf membawa-Nya ke Bait Allah untuk disunat dan diberi nama Yesus (lih. Luk 2:21).

Sampai di sini, muncul masalah baru. Banyak orang bertanya: jika Yesus disunat, mengapa orang Katolik tidak disunat? Menurut mereka semua itu gara-gara Paulus yang tidak mewajibkan sunat, sebab Paulus pernah menuliskan: “Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:2). “Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah” (1 Kor. 7:18-19).

Kita mesti melihat di sini secara obyektif bahwa Yesus disunat karena pengaruh tradisi Yahudi, sebab Ia dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Tentu saja, sebagai orang Yahudi, orang tua Yesus tunduk pada ‘tanda perjanjian’ yang dibuat antara Allah dan Abraham yaitu sunat (Kejadian 17:11). Maka, kita dapat mengatakan bahwa Yesus dilahirkan dari yang takluk pada hukum Taurat, untuk kemudian membebaskan mereka yang takluk kepada hukum Taurat.

St. Thomas dalam ST, III, q.37, a. 1 menjabarkan bahwa dengan disunat, Kristus ingin membuktikan bahwa Dia sungguh-sungguh mempunyai kodrat manusia. Juga, untuk memberikan persetujuan bahwa tanda perjanjian yang diberikan oleh Allah dalam Perjanjian Lama adalah sah. Kristus sebagai keturunan Abraham – yang telah menerima perintah Tuhan bahwa sunat adalah tanda perjanjian dan ungkapan iman (lih. Kej 17:10) – juga disunat. Karena Kristus disunat, maka bangsa Yahudi tidak mempunyai alasan untuk tidak menerima Kristus. Kristus juga ingin menunjukkan bahwa ketaatan untuk menjalankan perintah Tuhan sesungguhnya sangatlah penting, sehingga Dia disunat pada hari ke-delapan (lih. Luk 2:21; bdk. Im 12:3).  Dengan mengambil dan menjalankan sunat, maka Kristus dapat membebaskan manusia dari hukum ini dan memberikan hukum yang lebih sempurna (lih. Gal 4:4-5) – yaitu sunat secara rohani.

Kalau demikian, apakah kita harus disunat? Jawabannya: TIDAK. Kita sudah melihat bahwa perintah untuk sunat erat kaitannya dengan Taurat. Nah, bagi kita, berdasarkan omongan dari Yesus sendiri, TAURAT telah berakhir pada zaman Yohanes Pembaptis. Yesus bersabda: “Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya” (Luk. 16:16). Kita juga melihat serupa dalam Injil Mat. 11:13 yang bunyinya “Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes”. Dengan demikian, kita mengerti bahwa TAURAT dan Nubuat-nubuat para nabi dalam Perjanjian Lama berakhir pada saat tampilnya Nabi Terbesar, yaitu Yohanes Pembaptis.

Memang, Hukum Taurat (Perjanjian Lama) adalah firman Allah yang diilhamkan sepenuhnya ‘bagi’ umat Kristen masa kini, namun bukanlah sebagai perintah Allah yang langsung ‘kepada’ umat Kristen. “Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan dicari lagi tempat untuk yang kedua” (Ibr. 8:7).

Seorang Rabbi Yahudi pernah mencoba memerinci jumlah peraturan dalam Hukum Taurat. Angkanya fantastis: ada 613 peraturan. Sementara itu, dalam upacara Bar Mitsvah anak-anak Yahudi wajib membaca TAURAT, yang jumlahnya banyak itu  sebagai simbol Hukum Taurat yang total dibebankan kepada mereka dengan tanda KUK dipasangkan di pundaknya.

Maka memang kita bisa melihat sendiri bahwa Hukum TAURAT itu rumit, ada 613 perintah yang harus sempurna dilaksanakan; sehingga pantaslah jika Yesus menyebut orang yang memikul Kuk ini menjadi letih lesu dan berbeban berat. Manusia (siapapun) jelas tidak sanggup memikul kuk Taurat itu secara sempurna, karena dalam pelaksanaannya, jika kita bersalah terhadap satu bagian dari peraturan itu, berarti kita sudah bersalah terhadap semuanya.

Yesus datang untuk menggenapi Hukum Taurat. “Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera” (Ef. 2:15).

Namun, tulisan Paulus dalam Ef. 2:15 di atas cukup problematis. Orang-orang non-Kristen mempersoalkan: “Jika Hukum Taurat itu ‘batal’, apakah itu berarti bahwa yang dulunya dilarang berzinah sekarang boleh berzinah? Atau jika yang dulunya dilarang membunuh, sekarang boleh membunuh?”

Perlu kita sadari bahwa pembatalan Taurat tidak menjadikan orang Kristen menjadi ‘TANPA HUKUM’. Yesus sudah memberikan kepada para murid-Nya suatu HUKUM yang BARU sebelum kematian-Nya di Kayu Salib. Ia bersabda: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Mat. 11:28-30).

Yesus mengatakan dalam Matius 11:30, bahwa KUK (hukum) yang Dia pasang itu ringan karena KUK Kristus hanya ada 2, bukan 613. Apa itu? “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat. 22:37-40).

Sunat rohani, yang menandai kita menjadi anak-anak Allah melalui rahmat-Nya, terjadi pada saat Pembaptisan, di mana melaluinya kita ‘dilahirkan kembali dalam air dan Roh’ (Yoh 3:5). Kelahiran kembali ini ditandai dengan ‘menanggalkan manusia lama berserta segala hawa nafsunya … dan mengenakan manusia baru di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya’ (Ef 4:22-24). Maka inilah makna ‘sunat’ yang baru, yang tidak lagi berupa penanggalan atau pemotongan kulit lahiriah, tetapi penanggalan hawa nafsu dan dosa dan mengenakan hidup yang baru di dalam Roh Kudus.

Sebenarnya apa yang ingin ditekankan oleh Yesus di sini adalah dimensi spiritual dari ‘sunat’ seperti yang sebelumnya telah diajarkan juga di dalam Perjanjian Lama, yaitu bahwa yang terlebih utama adalah sunat hati atau rohani (Ul 10:16 dan 30:6, Yer 4:4, 9:25-26). Seperti juga Yesus mengajarkan bahwa yang terpenting bukan apa yang terlihat dari luar, tetapi apa yang ada di dalam hati; bukan menerapkan hukum supaya terlihat baik dari luar, namun agar kita melakukan keadilan, belas kasihan dan kesetiaan (lih. Mat 23:5, 23).

Jadi, kita tetap bersunat, tetapi bukan sunat lahiriah semata, melainkan sunat rohani. Sunat adalah tanda perjanjian Allah dengan umat-Nya untuk mendapatkan berkat-berkat yang dijanjikan-Nya. Karena itu kita harus mengalami pembaharuan karakter dalam diri kita. Kita harus mengalami sunat hati, sunat telinga dan sunat roh untuk dapat menjadi taat dan memperoleh berkat.

Diolah dari Katolisitas.com

Hati-hati terhadap Setan Zaman Now

0

Hati-hati terhadap Setan Zaman Now: Renungan Harian Katolik, Selasa 4 September 2018 — JalaPress.com; Injil: Luk. 4:31-37

Entah kita percaya atau tidak, setan itu benar-benar ada, dan bukan hanya sekedar mitos belaka. Mereka berkeliaran di sekitar kita dan memberi pengaruh terhadap kehidupan kita setiap hari. Buktinya? Kitab Suci beberapa kali memaparkan kepada kita mengenai kisah pengusiran setan yang dilakukan oleh Yesus.

Yesus tidak pernah meminta kita supaya berkompromi, apalagi bersahabat dengan setan. Ia juga tidak mengajak kita supaya menjadi pengikut setan. Sebaliknya, Ia justru memberi kita satu contoh kongkrit mengenai bagaimana caranya mengusir setan.

Setan tidak semestinya menguasai manusia, makanya Yesus mengusirnya. Peristiwa pengusiran setan yang dilakukan oleh Yesus ini menggarisbawahi dua hal: pertama, bahwa setan selalu ada di mana-mana dan siap menguasai kita. Kedua, setelah kita tahu bahwa setan ternyata ada di mana-mana dan bisa hadir dalam bermacam cara, kita diminta supaya mampu mengusir setan. Caranya, bukan dengan menggunakan kuasa setan melainkan dengan suatu kekuatan yang lebih tinggi dari kuasa setan, yaitu kuasa Tuhan.

Pengaruh setan tidak hanya terjadi pada zaman Yesus. Sampai sekarang, pengaruhnya pun masih ada. Contoh-contohnya bisa kita saksikan di layar kaca kita atau bisa kita baca di koran langganan kita. Maka jangan bilang “Ah, ini masalah usang. Sekarang mah tidak ada lagi setan”. Ingat, setan juga berevolusi lho.

Dulu kita berpikir bahwa setan itu berwujud sosok gaib yang bisa menembus tembok, menjadi penghuni pohon-pohon besar, dan sebagainya. Sekarang, setan tidak lagi hadir dengan cara-cara seperti itu. Mereka hadir dalam bentuk hal-hal yang mungkin kita sukai, sesuatu yang menggairahkan kita.

Setan yang dulu membuat orang lari menjauh, tetapi setan zaman sekarang justru membuat orang datang mendekat. Bahayanya di situ. Ketika kita dikuasai setan, apapun bisa kita lakukan, termasuk yang paling keji – menghabiskan nyawa orang lain. Kehadiran setan pada masa sekarang bisa dalam bentuk perjudian, takhyul, hiburan yang tidak sehat, dan sebagainya.

Tidak ada cara lain untuk mengusir setan selain dengan mengandalkan kuasa Tuhan; dan untuk bisa mengandalkan kuasa Tuhan, kita mesti sungguh-sungguh beriman kepada-Nya. Tanpa iman itu, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi, jangan pernah datang kepada dukun kalau kita mau mengalahkan setan. Datanglah kepada Tuhan dalam doa. Apapun yang kita butuhkan, mintalah kepada Tuhan, bukan kepada setan.

Orang Katolik sejati adalah mereka yang seumur hidupnya – bukan musiman – mengandalkan Kristus; sebab jika iman kita hanya muncul musiman, timbul tenggelam seperti kapal selam, itu berarti bahwa sebenarnya kita sedang memberi ruang bagi setan untuk mempengaruhi hidup kita. Ingat, jika doa kita sekarang kuat, setan akan pergi. Tapi hati-hati, dia pergi bukan karena dia kalah tetapi karena dia sedang menggali kekuatan yang lebih besar sehingga pada saat kita terlena, dia akan kembali dan membawa pengaruh yang jauh lebih buruk dari sebelumnya.

Sekali lagi, berimanlah secara tulus kepada Tuhan. Dalam iman, tidak ada embel-embel, tidak ada neko-neko, tidak ada agenda tersembunyi. Kita dibenarkan karena iman, bukan karena ketenaran. Mungkin kita mempunyai harta berlimpah, mobil segudang, tetapi jika kita tidak mempunyai iman, maka semuanya akan menjadi sia-sia. Bahkan, Kitab Suci mengatakan bahwa kita menjadi anak-anak Abraham juga karena iman. Sebab Abraham adalah bapa dari semua orang beriman. Abraham sudah mencontohkan iman yang baik. “Jadi, mereka yang hidup dari iman akan diberkati bersama-sama Abraham yang beriman itu” Galatia 3:9. Oleh karena itu, marilah kita beriman kepada Tuhan, dan kepada Tuhan saja, sebab dengan beriman kepada-Nya kita bisa mengalahkan pengaruh setan; dan hanya dengan beriman kepada-Nya kita semua menjadi anak-anak Allah yang senantiasa bersatu dan terberkati. Amin.

ABRAM Meminta Keturunan, Allah Mengubah Namanya

0
Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Abram meminta keturunan kepada Tuhan. Tuhan pun mengabulkan permintaannya. Maka, Tuhan berkata kepadanya: “Orang ini (Eliezer) tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu” (Kej. 15:4).

Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Itu janji Tuhan ‘mengenai keturunan’ untuk pertama kalinya kepada Abram. Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.

Kemudian Tuhan kembali membuat perjanjian dengan Abram: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat: yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, orang Het, orang Feris, orang Refaim, orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu” (Kej. 15:18). Ini janji Tuhan ‘mengenai tanah’ untuk ketiga kalinya kepada Abram.

Dapatkah sekarang Anda sebutkan apa saja yang dijanjikan oleh Allah kepada Abram? Ada dua janji yang diberikan oleh Allah kepada Abram: yaitu janji mengenai tanah dan janji mengenai keturunan.

Tuhan memberitahukan kepada Abram mengenai masa depan keturunannya. Tuhan bersabda: “Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak” (Kej. 15:13-14). Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap.

Perkataan Tuhan itu benar adanya. Bangsa Israel, keturunan Abram, kelak akan diperbudak di negeri orang (Mesir). Tetapi negeri Mesir dihukum oleh Tuhan dengan tulah, sehingga bangsa Israel bisa keluar dari sana.

Tuhan BERKALI-KALI membuat perjanjian dengan Abram. “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak. Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa” (Kej. 17:1-5).

Allah mengubah nama Abram menjadi Abraham. Alasannya, karena Abraham telah ditetapkan-Nya menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Bukan hanya Abraham yang diubah namanya oleh Tuhan, tetapi Sarai juga. Tuhan bersabda: “Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya” (Kej. 17:15).

Tuhan memberitahukan sekali lagi kepada Abraham bahwa ia dan istrinya, Sara, akan memperoleh keturunan. “Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki” (Kej. 18:10).

Sara, yang tidak mengetahui secara persis semua proses yang dialami oleh suaminya itu hanya bisa TERTAWA. Tuhan mempersoalkan sikap Sara. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: “Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua? Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki” (Kej. 18:13-14).

Ada satu hal yang lucu di sini. Tuhan seolah mengadu kepada Abraham mengapa Sara tertawa. Sara berusaha menyangkal dan mengelak, katanya: “Aku tidak tertawa,” sebab ia takut; tetapi TUHAN berfirman: “Tidak, memang engkau tertawa!” (Kej. 18:15).

Tuhan menepati janji-Nya. Ia memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan Ia melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya. Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya. (Kej. 21:1-3). Abraham menamai anaknya yang baru lahir itu Ishak, sesuai dengan yang difirmankan Tuhan kepadanya (Kej. 17:19). Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya (Kej. 21:5).

Talenta: Tuhan Tahu, Kita Mampu

0

Talenta: Tuhan Tahu, Kita Mampu: Renungan Harian Katolik, Sabtu 1 September 2018 — JalaPress.com; Injil: Mat. 14:22-30

Saudara-saudari yang terkasih, kita bersyukur sebab Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang begitu dekat dengan kita; Tuhan yang memperlakukan kita sebagai yang berharga di mata-Nya; bahkan Tuhan yang menjadikan kita sebagai partner-Nya. Gambaran yang sedemikian itu bisa kita lihat di dalam bacaan Injil hari ini. Tuhan digambarkan seperti seseorang yang menitipkan tugas dan tanggung jawab untuk dikerjakan oleh hamba-hambanya.

Dikatakan bahwa Tuhan itu seumpama seorang yang mau bepergian keluar negeri, yang mempercayakan hartanya kepada kita. Pada saatnya nanti, Ia akan datang kembali untuk mengecek hasil kerja kita. Kapan persis waktu kedatangan-Nya, tidak ada yang tahu. Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika menegaskan bahwa Tuhan datang seperti pencuri di waktu malam. Artinya, kapan persis waktu kedatangan-Nya, tidak ada satu pun yang tahu.

Selama Ia belum datang, kita harus mengolah dan mengembangkan harta yang Ia sudah titipkan kepada kita. Paulus meminta kita supaya jangan bersikap seperti orang-orang yang berada di dalam kegelapan, yang tidak tahu mau berbuat apa dengan harta itu. “Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan,” kata Paulus. Meski kulit kita agak gelap, kita ini adalah orang-orang siang atau orang-orang terang yang bisa melihat kiri kanan kita dan tahu apa yang harus kita buat terhadap harta yang dititipkan oleh Tuhan itu.

Sekalipun Tuhan tidak memberi tahu kita kapan waktu kedatangan-Nya, kita harus senantiasa bersiap-siap, kita wajib berjaga-jaga. Caranya adalah dengan mengolah  dan mengembangkan harta yang dititipkan-Nya pada kita. Tuhan menitipkan tugas dan tanggung jawab itu, bukanlah tanpa alasan. Alasannya jelas: yaitu karena Ia tahu bahwa kita mampu. Jika kita merasa kurang mampu, jangan salahkan Tuhan. Tuhan sudah menaruh kemampuan itu kepada kita masing-masing. Barangkali kita saja yang tidak menggalinya.

Harta kita adalah talenta kita. Tuhan sudah menganugerahkan talenta kepada masing-masing kita. Ada yang mengolahnya dengan baik dan mengembangkannya; sehingga mampu tampil sebagai orang yang berbakat. Tapi, ada pula yang tidak menggalinya sama sekali; dan merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal, semakin besar talenta itu dikembangkan, semakin besar pula tanggung jawabnya.

Berapa pun banyaknya talenta yang dipercayakan kepada kita, apapun besarnya tanggung jawab kita, satu hal yang dituntut dari kita, yakni kesetiaan. Kita diminta untuk setia mengembangkannya.

Kesetiaan seperti itu kedengarannya gampang, tetapi dalam praktiknya membutuhkan usaha yang besar. Biasanya, berhadapan dengan ketidakpastian, orang mudah menjadi tidak setia. Kita sudah tahu bahwa waktu kedatangan Tuhan tidak ada yang tahu; dan karena tidak adanya waktu yang pasti itulah, makanya orang mudah untuk tidak setia. Mereka khilaf. Mereka berusaha menguburkan talenta yang mereka peroleh dalam-dalam. Mereka tidak mau mengembangkannya. Mereka hanya bisa mengeluh dan bersungut-sungut.

Saudara-saudari yang terkasih, kita diharapkan supaya melipatgandakan talenta yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Tuhan mau supaya kita tidak tinggal diam. Kita harus berbuat sesuatu sesuai dengan tugas dan tanggung jawab kita. Jika kita setia dalam perkara kecil, kita pun kelak akan diberikan tanggung jawab besar.

Jika tadinya kita hanya datang, duduk, berdoa, dan pulang; mungkin kali berikut mengambil bagian dalam tugas pelayanan sebagai lektor atau lektris, menjadi prodiakon, dan sebagainya. Begitulah cara kita mengembangkan talenta itu. Kita menaikkan tugas dan tanggung jawab kita.

Tuhan memuji orang yang tahu dan mau mengolah talenta yang diberikan kepadanya. “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia”. Semoga kita semua setia mengolah dan mengembangkan Sabda Tuhan itu dalam kehidupan kita setiap hari. Amin.

Gadis Bijaksana dan Gadis Bodoh

2
Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Gadis Bijaksana dan Gadis Bodoh: Renungan Harian Katolik, Jumat 31 Agustus 2018 — JalaPress.com; Bacaan Injil: Mat. 25:1-13

Allah yang kita imani adalah Allah yang suka memberikan kejutan-kejutan; sehingga wajarlah jika banyak hal yang terjadi di dalam hidup kita di luar kendali atau kehendak kita. Kita merencanakan ini dan itu, kita membuat ramalan ini dan itu, tetapi yang terjadi justru lain. Makanya, kadang-kadang kita bingung sendiri, “Kok ini terjadi pada saya? Mengapa seperti ini? Mengapa seperti itu?”

Kita merasa bahwa hal-hal yang kita alami itu bukan kita yang rencanakan, bukan kita yang rancang. Mengapa? Karena Allah yang kita imani adalah Allah yang suka memberikan kejutan-kejutan. Apa yang terjadi pada kita merupakan rencana dan rancangan Tuhan bagi kita, yang seringkali berbeda dari rencana dan rancangan kita.

Kejutan paling besar yang Allah berikan kepada kita adalah rencana kedatangan Yesus untuk kedua kalinya ke dunia ini. Kita tidak pernah tahu kapan waktunya kedatangan Yesus itu, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tahu. Ia bisa datang kapan saja, sekarang, besok, atau nanti. Hanya Dia sendirilah yang tahu.

Karena kedatangan Yesus itu merupakan suatu kejutan, maka setiap kita diminta untuk selalu bersiap-siaga. Kita mempersiapkan diri menantikan kedatangan-Nya dengan mengarahkan hidup kita sebagaimana yang Tuhan kehendaki. Itu yang diharapkan dari kita.

Tetapi yang namanya manusia, selalu saja ada sisi lemahnya. Ada yang siap, ada yang tidak siap, ada juga yang tidak jelas: antara siap dan tidak siap. Makanya, dalam bacaan Injil hari ini, kesiapsediaan kita menyambut kedatangan Tuhan diumpamakan dengan sepuluh gadis, lima di antaranya bijaksana dan lima yang lainnya bodoh. Gadis yang bijaksana untuk menggambarkan mereka yang siap, sedangkan gadis yang bodoh untuk menggambarkan mereka yang tidak siap. Diceritakan bahwa jumlah mereka yang siap dan yang tidak siap seimbang: 5:5.

Sama halnya dengan ke-sepuluh gadis itu yang tidak mengetahui kapan saatnya mempelai laki-laki datang, maka kedatangan Yesus untuk kedua kalinya juga tidak ada yang mengetahui. Namun demikian, perumpamaan ini ingin memperlihatkan sikap penantian seorang yang bodoh dan yang bijaksana. Dengan perumpamaan ini kita diajak supaya benar-benar berada pada posisi yang siap untuk menanti, kapan pun Yesus datang kita dalam keadaan siap.

Saudara-saudari yang terkasih, kita sedang menanti kedatangan Kristus, maka bagaimana sikap penantian kita? Sudahkah kita menanti kedatangan Tuhan yang tidak dapat kita duga itu? Betapa bodohnya orang yang percaya jika menanti tanpa persiapan, yang nampaknya saja kelihatan sedang menanti namun tidak siap ketika harinya tiba. Kita dapat memperlihatkan identitas sebagai orang kristen yang berdoa dan beribadah, namun apakah sikap dan perbuatan kita sungguh-sungguh sudah siap sebagaimana kita  mengimani Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita? Semoga kita bisa belajar dari gadis-gadis bijaksana yang selalu siap siaga dalam menantikan kedatangan Tuhan. Amin.

Memperkenalkan Kitab Suci kepada Anak-anak: Kenapa Tidak?

0
Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Belakangan ini, permainan TIKTOK maupun MOBILE LEGEND digemari oleh anak-anak, dan tentu saja para remaja serta orang dewasa. Kegemaran seperti ini tidak buruk, hanya saja seringkali menyedot perhatian dan energi anak; sehingga anak bersangkutan boleh jadi kurang memberikan perhatian terhadap kegiatan yang lain. Maka, sangat disayangkan kalau kegemaran seperti itu tidak dibatasi.

Di tengah maraknya kebiasaan bermain Tiktok dan Mobile Legend di kalangan anak-anak, dorongan untuk membaca Kitab Suci semakin surut. Bayangkan, anak-anak mampu duduk berjam-jam sambil memandang layar HP-nya sementara untuk membaca Kitab Suci hanya sebentar saja, tidak bisa.

“Tak kenal, maka tak sayang” demikian bunyi pepatah klasik. Dengan pepatah ini saya memaksudkan bahwa apabila anak-anak tidak mengenal Kitab Suci, maka mereka sulit menyayangi Kitab Suci, apalagi isinya. Pengajaran Kitab Suci kepada anak-anak sangatlah penting sebab dengan berkenalan dengan Kitab Suci, anak-anak akan mengetahui siapa yang mereka imani. Maka, sangat disayangkan jika anak-anak tidak diperkenalkan dengan Kitab Suci.

Saya sangat terkesan dengan anak-anak BIA (Bina Iman Anak) di salah satu paroki di Jabodetabek tempat saya pernah berapostolat. Anak-anak di sana pada umumnya memiliki pengetahuan Kitab Suci yang sangat bagus. Jika ditanya mengenai cerita Kitab Suci, biasanya mereka dengan semangat memberikan jawaban. Menurut saya, ini adalah contoh yang amat baik. Tugas orang tualah yang pertama-tama memperkenalkan Kitab Suci kepada anak-anak. Jangan sampai orang tua menganggap bahwa memperkenalkan Kitab Suci kepada anak-anak adalah tugas para pendamping BIA. Ingat, pendidikan pertama dimulai di dalam keluarga.

Kisah Inspiratif: Seorang Pelukis

0
Foto ilustrasi dari Pixabay.com

Kisah inspiratif berikut ini merupakan terjemahan bebas dari sebuah cerita yang disampaikan di depan kelas oleh guru bahasa Inggris saya di IFLIS [Institute of Foreign Languages and International Studies] Saint Louis University Baguio City, Philippines dalam pelajaran Reading Comprehension and Literature sore ini. Menurut guru saya tersebut, cerita ini ditulis oleh seorang pengarang tak dikenal atau anonim. Judul asli cerita ini adalah “The Search”. Bacalah kisah selengkapnya berikut ini.

Konon hiduplah seorang pelukis di suatu kota. Ia sudah menghasilkan banyak lukisan selama kariernya sebagai pelukis. Tibalah pada suatu ketika ia berniat untuk menghasilkan suatu karya besar [masterpiece] dengan melukis satu objek yang paling indah di seluruh dunia. Namun, ia sendiri belum mempunyai ide mengenai apa kira-kira yang paling indah di seluruh dunia itu. Maka dari itu, ia memutuskan untuk melakukan perjalanan ke seluruh dunia dalam rangka mencari jawaban atas pertanyaan tadi.

Dalam perjalanannya tersebut, ia tiba di suatu kota dan bertemu dengan seorang pengantin wanita. Ia menghampiri wanita itu dan bertanya kepadanya, “Nyonya, menurutmu apa yang paling indah di seluruh dunia?” Wanita itu menjawab “Menurut saya, apa yang paling indah di seluruh dunia adalah cinta.” Pelukis ini heran ketika mendengar jawaban yang diberikan oleh pengantin wanita tersebut. Ia pun berkata lagi, “Tapi, bagaimana mungkin saya bisa melukiskan cinta itu? Cinta itu terlalu abstark.” Oleh karena belum mendapat jawaban yang tepat dari apa yang dia cari, maka pelukis ini meneruskan perjalanannya ke tempat yang lain. Kali ini ia bertemu dengan seorang pastor yang baru saja pulang dari Gereja. Ia mendekati pastor tersebut dan menyampaikan pertanyaannya. “Pastor, menurutmu apa yang paling indah di seluruh dunia?” Dengan tenang pastor itu menjawab “Menurut saya, apa yang paling indah di seluruh dunia adalah keyakinan.” Pelukis ini masih tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh pastor tersebut. Ia kembali berkata, “Tapi Pastor, bagaimana mungkin saya bisa melukiskan keyakinan itu? Keyakinan itu terlalu abstrak untuk dilukiskan.” Ia hampir putus asa. Namun oleh karena besarnya keinginannya untuk melukiskan sesuatu yang paling indah di seluruh dunia, ia pun memberanikan diri untuk meneruskan pencariannya. Ia tiba di suatu kompleks tentara dan bertemu dengan salah seorang tentara yang baru saja pulang dari daerah konflik. Ia berharap agar tentara yang satu ini bisa memberi dia jawaban yang memuaskan sehingga ia tidak perlu lagi berlama-lama mencarinya ke tempat lain. Ia menghadap tentara itu dan berkata, “Pak, menurutmu apa yang paling indah di seluruh dunia?” Tentara itu menjawab, “Menurut saya, apa yang paling indah di seluruh dunia adalah damai.” Pelukis ini menggaruk kepalanya dan berkata, “Tapi Pak, bagaimana mungkin saya bisa melukiskan keyakinan itu? Damai itu terlalu abstrak.” Kali ini ia benar-benar putus asa. “Saya tidak bisa meneruskan perjalanan ini,” katanya dalam hati. Maka dari itu ia memutuskan untuk kembali ke rumah saja.

Ia benar-benar merasa lelah ditambah lagi tidak membawa pulang ide yang cemerlang. Harapannya untuk melukiskan suatu karya besar perlahan-lahan pupus. Ketika ia hampir tiba di rumah, istrinya melihat dia dari balik jendela rumah. Kemudian, istrinya keluar dari rumah dan menjemput suaminya itu, merangkulnya, dan menciumnya. Pelukis ini tiba-tiba teringat akan apa yang dikatakan oleh si pengantin wanita tadi. “Cintalah yang terbesar di seluruh dunia,” demikian pikirnya. Ia pun tiba di depan pintu rumah. Kedua anaknya keluar dari rumah, memeluknya, dan berkata, “Meski ayah pergi jauh dan meninggalkan kami dalam waktu yang lama, kami tetap yakin bahwa ayah akan kembali.” Pelukis ini kembali mengingat apa yang dikatakan oleh pastor yang dijumpainya dalam perjalanannya, “Keyakinanlah yang terindah di seluruh dunia.” Mereka semua, si pelukis [ayah], istrinya, dan kedua anaknya bersama-sama masuk ke dalam rumah. Kini mereka merasa bahagia karena bisa bersatu kembali. Mereka merasa ada damai di rumah itu. Si pelukis ini teringat akan apa yang dikatakan oleh tentara tadi, “Damailah yang terindah di seluruh dunia.”

Kini, pelukis itu sadar bahwa sebenarnya apa yang dia cari selama ini sudah terjawab. Jawabannya ada di dalam keluarganya sendiri. Dengan demikian, pertanyaan mengenai apa yang paling indah di seluruh dunia, jawabannya adalah keluarga. Ya, di dalam keluarga ada cinta, ada keyakinan, dan ada damai. Keluargalah yang paling indah di seluruh dunia.

Refleksi
Kita patut bersyukur karena mempunyai keluarga yang selalu mendukung kita setiap saat, keluarga yang senantiasa mendoakan kita. Oleh karena itu, kita diajak untuk kembali melihat keluarga kita masing-masing dan temukanlah cinta, keyakinan, dan damai di sana. Kalau ketiga hal ini belum terbentuk di dalam keluarga kita, maka tugas kita adalah ciptakanlah ketiga hal tersebut di dalam keluarga kita. Salam sehati sejiwa.