10.5 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 17

Ketika Yesus Memanggil Kedua Belas Rasul, Ia Memanggil Kita Juga

2
Foto Ilustrasi dari Koleksi Pribadi: Pastor JK (baju biru, paling belakang) bersama dengan anak-anak Misdinar dan OMK Paroki dalam perjalanan menuju salah satu komunitas di Pegunungan Meratus.

Ketika Yesus Memanggil Kedua Belas Rasul, Ia Memanggil Kita Juga: Renungan Harian, 28 Oktober 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Ef. 2:19-22; Injil: Luk. 6:12-19

[postingan number=3 tag= ‘misi-gereja, iman-katolik’]

Kitab Suci mencatat bahwa murid Tuhan Yesus ada banyak jumlahnya. Ia memanggil mereka semua dan dari antara mereka, dipilih-Nya dua belas orang sebagai anggota kelompok inti, yang disebut-Nya rasul, dari kata bahasa Yunani apostello, yang berarti ‘mengutus’.

Ketika memilih kedua belas rasul-Nya itu, Ia tidak menggunakan cara aklamasi, voting, ataupun musyawarah. Ia memilih dengan cara-Nya sendiri. Tentu Ia tidak sembarang memilih. Pentingnya keputusan Yesus dalam memilih kedua belas rasul itu, Injil Lukas menekankan bahwa sebelum diadakan-Nya pemilihan itu, Ia pergi ke bukit dan berdoa di sana semalam-malaman.

Dua belas nama dipilih-Nya menjadi rasul-Nya. Tradisi Gereja menyebutkan bahwa pada abad pertama Masehi, para rasul itu pergi ke seantero wilayah Kekaisaran Romawi, bahkan juga ke kawasan-kawasan lain di Timur Tengah, Afrika, dan India; dan mereka membentuk komunitas-komunitas kristiani di sana.

Rasul-rasul itu masih ada sampai sekarang. Tentu bukan fisiknya, tapi semangatnya. Semangat mereka masih ada pada kita hingga saat ini. Semangat misi yang kita kerjakan hari ini adalah semangat yang sama yang diwariskan dari para rasul itu. Sebab, sebagaimana Tuhan Yesus memilih kedua belas rasul itu untuk suatu tugas dan karya tertentu, demikianlah juga Ia memilih kita untuk mengemban misi yang telah dirancang-Nya bagi kita. Pertanyaannya adalah: apakah kita mempunyai keberanian untuk pergi ke mana pun kita diutus?

Misi ini adalah milik dari Dia yang mengutus.

Tiap daerah misi tentu mempunyai tingkat kesulitannya masing-masing. Sebagai orang yang diutus, entah kita suka atau tidak, harus selalu siap. Setidaknya itu yang saya sendiri alami. Tiga tahun yang lalu, saya diutus untuk berkarya di Pegunungan Meratus, suatu daerah pedalaman yang barangkali bagi banyak orang bukanlah daerah misi impian. Dibilang sulit, ya sulit. Dibilang mampu, saya sendiri justru merasa tidak mampu. Namun, saya percaya bahwa misi ini adalah milik Dia yang mengutus; dan ketika Dia mengutus, Dia juga memberikan segenap kemampuan dan perlengkapan. Karena itu, dengan meminjam kata-kata Petrus, saya pun berkata: “Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga” (Luk. 5:5). Ucapan Rasul Petrus, yang kemudian menjadi moto tahbisan saya inilah yang menguatkan saya hingga sekarang.

Mari kita belajar untuk taat pada perutusan-Nya. Sebab, kita ini hanyalah orang-orang yang diutus. Pemilik misi sesungguhnya bukan kita, melainkan Dia. Misi ini adalah milik dari Dia yang mengutus. Dia yang mengutus, Dia pula yang merancang-Nya. Dan Dia adalah perancang terbaik. Kita hanyalah alat di tangan-Nya. Salam MeRaTus, menjadi rasul Kristus.

Senjata Allah dan Perang Melawan Tipu Muslihat Iblis

1
Gambar Ilustrasi dari Pixabay.com

Senjata Allah dan Perang Melawan Tipu Muslihat Iblis: Renungan Harian, 27 Oktober 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Ef. 6:10-20; Injil: Luk. 13:31-35

[postingan number=3 tag= ‘setan’]

Entah kita percaya atau tidak, roh jahat itu ada. Kitab Suci secara berulangkali bercerita tentang keberadaannya. Kemunculan roh-roh jahat di sekitar manusia merupakan pengaruh yang mengancam. Setiap saat ia mengamati kehidupan manusia untuk mencari waktu terbaik menyerang manusia. Namanya juga ‘si jahat’ sudah pasti tujuannya adalah merusak. Sebab itu, jangan sekali-kali bersekutu dengannya. Dia bukanlah pihak yang bisa dijakan sahabat. Justru sebaliknya, dia adalah musuh yang harus dilawan.

Nah, bagaimana seharusnya orang Kristen bertindak supaya kuat dalam melawan roh-roh jahat itu, dalam bacaan pertama hari ini Paulus mengambil gambaran dari dunia militer. Seperti bersiap untuk maju berperang, kita dinasihati oleh Paulus supaya dikuatkan ‘dalam Tuhan’ dan dalam kuasa dari kekuatan-Nya. Penting untuk diperhatikan bahwa kita tidak bisa berperang sendirian dan atau mengandalkan kekuatan sendiri. Kekuatan sendiri tentu tak seberapa, kita rapuh dan lemah. Jangan sampai yang terjadi malah kita tunduk dan menyerah. Sebab, yang kita hadapai ini bukanlah lawan yang bisa diajak main-main. Iblis adalah musuh yang serius yang harus dihadapi dengan serius pula.

Musuh kita kali ini adalah mereka yang tidak kelihatan, yakni roh-roh jahat di udara.

Paulus menasehati kita supaya mengenakan senjata Allah agar dapat teguh berdiri melawan strategi pasukan iblis itu. Ingat, iblis itu licik. Dia penuh tipu muslihat. Dia akan memanfaatkan segala cara dan upaya, misalnya dengan menyerupai apa saja yang kita anggap menyenangkan dan menarik, dengan maksud untuk membuat kita terkecoh.

Tak ada cara lain untuk melawan tipu muslihat setan selain dengan mengenakan senjata Allah. Senjata Allah ini perlu karena peperangan kita kali ini bukanlah melawan musuh yang kelihatan, yang berjalan di tanah, dan yang berasal dari dari daging dan darah (2 Kor. 10:4). Musuh kita kali ini adalah mereka yang tidak kelihatan, yakni roh-roh jahat di udara.

Dua kali dalam perikop hari ini Paulus meminta kita agar mengenakan senjata Allah, sebab senjata inilah yang akan memungkinkan kita untuk mengadakan perlawanan terhadap yang jahat. Adapun senjata Allah yang dikemukakan oleh Paulus ini terdiri dari kebenaran sebagai ikat pinggang, keadilan sebagai baju zirah, Injil kedamaian sebagai kasut kaki, iman sebagai perisai, keselamatan sebagai ketopong (1 Tes. 5:8), dan Roh sebagai pedang.

Dipersenjatai demikian, kita diminta supaya bertahan dalam doa dan permohonan untuk meminta Allah melindungi kita. Ketika kita memperoleh perlindungan dari Tuhan, maka kita aman dari segala tipu daya setan. Apa yang perlu ditakutkan oleh seseorang yang memiliki Allah sebagai pelindung hidupnya? Jawabannya: tidak ada. Karena itu, marilah kita berdoa dan memohon perlindungan itu dari Tuhan:

Ya Bapa, bebaskanlah kami dari segala yang jahat dan berilah kami damai-Mu. Kasihanilah dan bantulah kami supaya selalu bersih dari noda dosa dan terhindar dari segala gangguan sehingga kami dapat hidup dengan tenteram, sambil mengharapkan kedatangan Penyelamat kami, Yesus Kristus. Amin.

Melawan Tipu Muslihat Setan, Perjuangan dalam Hidup Beriman

2

Setan atau Iblis seringkali diasosiasikan dengan gambaran-gambaran yang menyeramkan dan  menakutkan. Kata orang-orang, ia menyerupai manusia yang memiliki tanduk, menyerupai manusia dengan wajah yang rata atau hancur, menyerupai perempuan yang memiliki rambut panjang yang diurai menutupi wajah, dan sebagainya.

[postingan number=3 tag= ‘setan’]

Seperti apapun gambaran yang berkembang di masyarakat tentang setan, yang pasti Gereja Katolik mempunyai pandangannya sendiri. Gereja Katolik memandang setan sebagai malaikat yang sedari awal diciptakan dengan hakikat yang baik. Dan, jelaslah, Allah menciptakan banyak sekali malaikat. Sebagai ciptaan, tentu mereka bergantung pada Allah. Tapi, Allah menganugerahi mereka kebebasan. Karena bebas, mereka pun memiliki kemungkinan untuk meniadakan ketergantungannya kepada Allah. Dan benar saja, dosa mereka adalah penyalahgunaan kebebasan itu. Mereka ingin bebas dan dipersamakan dengan Allah. Mereka memberontak dan memisahkan diri dari kebaikan Allah, dan menjadi jahat. Akibatnya, sepertiga dari mereka jatuh dan menjadi apa yang kita kenal sebagai malaikat yang jatuh, yakni para iblis.

Gereja Katolik memandang setan sebagai malaikat yang sedari awal diciptakan dengan hakikat yang baik.

Nabi Yesaya menulis tentang malaikat yang jatuh itu sebagai berikut: “Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi” (Yes. 14:12-14).

Gereja Katolik juga mengajarkan bahwa setan dapat menyerang manusia dan menyebabkan manusia menderita. Karena itu, setan adalah musuh yang harus diperangi dalam hidup beriman. Jangan sekali-kali bersekutu dengan setan. Kutipan ayat Kitab Suci berikut ini harus dijadikan dasar bagi kita untuk melawan setan.

“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Ef. 6:11-12).

Mampukah kita melawan tipu muslihat setan? Atau jangan-jangan kita justru bersekutu dengannya? Ingat, kita ini adalah anak-anak Allah, dan bukan pengabdi setan. Karena itu, janganlah takut terhadap setan. Sebaliknya, ‘Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kita dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis’.

Doa Rosario: Doa yang Berpusat pada Kristus

0
Taman Rosario Seminari Montfort "Pondok Kebijaksanaan" - Malang (Dok. Pribadi)

Saat ini umat beriman katolik sedang berada dalam Oktober, yang oleh Gereja Katolik ditetapkan sebagai Bulan Rosario. Ini kesempatan istimewa untuk Berdoa Rosario. Ini juga bulan istimewa untuk bergabung dengan keluarga, lingkungan atau Kelompok Basis Gerejawi (KBG) dalam doa Rosario bersama, tentu jika situasi memungkinkan. Ini kesempatan untuk mempererat tali persekutuan dan persaudaraan sebagai umat beriman.

Tentang Doa Rosario, saya teringat pada Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II yang dikeluarkan tanggal 16 Oktober 2002 yang berjudul, “Rosario Santa Perawan Maria/Rosarium Virginis Mariae (RVM).” Dalam Surat Apostolik itu, Paus Yohanes Paulus II berkata, “Memang jelas, doa rosario berciri khas Maria. Tetapi pada intinya rosario adalah doa yang kristosentris. Dalam unsur-unsurnya yang sederhana, doa rosario menampilkan saripati amanat Injil secara utuh; dengan demikian doa rosario dapat dikatakan sebagai ringkasan seluruh Injil. Dengan doa rosario orang kristiani berguru di sekolah Maria: mereka dilatih untuk menatap keindahan wajah Kristus dan mengalami kedalaman kasih-Nya. Berkat doa rosario kaum beriman menerima rahmat berlimpah lewat tangan Bunda Penebus sendiri” (RVM 1).

Melalui kutipan ini, Paus Yohanes Paulus II menyadarkan kita bahwa doa rosario itu berpusat pada Kristus (kristosentris). Dialah satu-satunya penyelamat kita. Doa rosario, walau berciri khas Maria, tetapi tidak berpusat pada Maria (mariasentris), sebab dia bukan Tuhan, dia bukan penyelamat kita. Tapi dia adalah Bunda Yesus Kristus, Penyelamat kita. Dia akan membawa kita pada Yesus, Putranya. Dia telah diserahkan kepada kita oleh Yesus Putranya dan kita juga telah diserahkan kepadanya oleh Putranya (bdk Yoh. 19:25-27). Karena itu, Maria tak hanya Bunda Yesus, penyelamat kita, dia juga bunda kita para pengikut Yesus; dia bunda Gereja. Bagi kita orang Katolik, dekat dengan Maria dan menghormatinya secara pantas adalah amanat Yesus sendiri.

Berguru pada Sekolah Maria

Ketika berdoa rosario, kata Paus Yohanes Paulus II, kita berguru pada sekolah Maria: kita dilatih untuk menatap keindahan wajah Kristus dan mengalami kedalaman kasih-Nya. Ketika menatap wajah Kristus dengan penuh iman, kita akan menjadi serupa dengan-Nya. Inilah tujuan akhir ziarah iman kita: menjadi serupa dengan Kristus. Menjadi serupa dengan Kristus berarti kita semakin mengimani-Nya dan semakin mampu menghayati ajaran dan kehendak-Nya setiap hari. Kita memancarkan wajah Kristus kepada orang-orang di sekitar. Bahkan mereka bisa semakin mengimani dan mencintai Kristus berkat kesaksian hidup kita.

Ringkasan Injil

Paus juga menegaskan bahwa doa rosario itu ringkasan seluruh Injil. Mari kita perhatikan peristiwa-peristiwa yang kita renungkan dalam doa rosario. Peristiwa Gembira, Sedih, Cahaya dan Mulia yang kita renungkan, semuanya menggemakan amanat Injil. Kita merenungkan misteri hidup Kristus dan Bunda-Nya yang terdapat dalam Injil maupun yang terinspirasi dari Injil. Harapannya setelah merenungkan peristiwa-peristiwa tersebut, kita semakin memahami Injil dan semakin dekat dengan Yesus dan Maria Bunda-Nya. Jika sudah merasa dekat, itu berarti bahwa iman kita sudah semakin bertumbuh. Semakin bertumbuh artinya kita semakin mengandalkan Yesus dan semakin percaya pada peran Bunda Maria sebagai ibu yang menuntun kita dalam ziarah menuju persatuan dengan Yesus Kristus, Putranya. Harapannya, kita mendapatkan rahmat-rahmat yang kita butuhkan dalam hidup ini melalui tangan Maria berkat ketekunan kita dalam berdoa rosario.

Kepada Yesus melalui Maria

Doa rosario memang sarana yang mengarahkan kita pada persatuan dengan Kristus. Kita tentu sudah terbiasa dengan ungkapan ini: Per Mariam ad Jesum (Kepada Yesus melalui Maria). Tujuan akhir ziarah iman kita adalah persatuan dengan Yesus. Agar bisa berziarah dengan baik dan sampai pada tujuan akhir tersebut, kita berziarah bersama Maria ibu-Nya sekaligus ibu kita. Inilah juga yang seharusnya kita sadari saat doa rosario. Kita sedang berziarah menuju Yesus melalui Maria. Siapapun yang berziarah bersama Maria menuju Yesus dengan sungguh-sungguh, ia tak akan dikecewakan.

Latar Belakang Bulan Oktober sebagai Bulan Rosario

Kita boleh bertanya, mengapa Gereja Katolik menetapkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario? Saya akan menguraikan secara singkat latar belakang atau alasan mengapa bulan Oktober ditetapkan sebagai bulan Rosario.

Pada tanggal 7 Oktober 1571, pasukan Katolik di bawah pimpinan Don Juan dari Austria menang atas pasukan dari Kerajaan Ottoman-Turki (Islam – Turki) di Lepanto-Italia. Waktu itu, pasukan Turki hendak menguasai Eropa dalam rangka memperluas wilayah kekuasaan mereka. Pasukan Katolik kalah dalam hal jumlah pasukan dan juga perlengkapan perang. Menyadari situasi genting tersebut, Paus Pius V yang memimpin Gereja pada waktu itu, meminta seluruh umat Katolik agar berdoa Rosario: bahkan pada tanggal 7 Oktober tersebut Bapa Suci bersama-sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario sejak subuh sampai petang, di Roma. Ujudnya adalah memohon kepada Bunda Maria untuk membantu dan melindungi tentara Katolik yang sedang bertempur di Lepanto. Singkat cerita, pasukan Katolik menang. Oleh Gereja Katolik, kemenangan ini diyakini sebagai campur tangan Bunda Maria, Ratu Rosario. Setelah kalah dalam pertempuran itu, tentara Turki tidak lagi melanjutkan perjuangan mereka menguasai Eropa.

Sebagai ungkapan syukur atas peristiwa penting itu, Paus Pius V menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai Peringatan Santa Perawan Maria Ratu Kemenangan. Kemudian dalam perjalanan waktu, peringatan ini diganti dengan nama Peringatan Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Penetapan bulan Oktober sebagai bulan rosario baru dilaksanakan pada 1 September 1883 oleh Paus Leo XIII. Ia meminta agar selama bulan Oktober umat beriman di seluruh dunia berdoa Rosario agar Bunda Maria membantu Gereja dalam mengatasi ancaman yang sedang dihadapi pada masa itu. Melalui ensikliknya, Octobre mense, yang dikeluarkan pada 22 September 1891, Paus Leo XIII menyatakan bahwa bulan Oktober dibaktikan dan dikuduskan kepada Santa Perawan Maria, Ratu Rosario. Salah satu bentuk devosi kepada Maria yang dilakukan pada bulan ini adalah berdoa rosario.

Selamat melanjutkan doa rosario baik secara pribadi maupun secara bersama dalam keluarga, lingkungan/KBG, atau kelompok/komunitas lainnya. Teruslah berziarah menuju Yesus melalui dan bersama Maria. Per Mariam ad Jesum! Ave Maria!***

Katolik Tegas! Umat Dilarang Bersekutu dengan Setan

0
Dukun atau yang sering disebut orang pintar adalah mereka yang memiliki kelebihan dalam hal supranatural. Selain memiliki kemampuan bisa memahami hal yang tidak kasat mata, mereka juga konon bisa berkomunikasi dengan makhluk gaib.

Ada segelintir orang mengaku pernah melihat setan, jin, hantu, dan sejenisnya. Mengenai benar tidaknya pengakuan dari mereka itu tentu tidak ada yang tahu pasti. Namun kita percaya (dan kepercayaan ini diwariskan turun-temurun di masyarakat) bahwa setan itu memang ada. Wujud aslinya tak terlihat tetapi pengaruhnya nyata terasa.

[postingan number=3 tag= ‘setan’]

Gereja Katolik pun percaya dan mengajarkan bahwa setan itu ada. Mengenai bagaimana wujud aslinya, tidak dijelaskan. Dan, bukan hanya Gereja Katolik, dalam sejarah agama-agama lain pun selalu ada kesadaran akan keberadaan setan dan kuasanya atas manusia.

Dalam pandangan Gereja Katolik, setan adalah realitas rohani (makhluk yang sepenuhnya spiritual), dan bukan semacam makhluk halus sebagaimana dipercaya di masyarakat. Nama ‘setan’ digunakan secara eksklusif untuk si jahat. Iblis (Yunani diabolos; Lat. diabolus) yang juga dikenal sebagai setan adalah nama yang biasa diberikan kepada malaikat yang jatuh.

Gereja Katolik  mengajarkan bahwa setan pada mulanya adalah malaikat baik yang diciptakan Tuhan; namun kemudian ia menolak Tuhan (KGK 391-93). Akibatnya, ia  selamanya dilarang untuk melihat Tuhan. Ia bahkan dikutuk ke dalam api abadi yang telah disiapkan untuknya dan malaikat-malaikatnya (Mat. 25:41).

Pertanyaannya: mengapa setan menolak Tuhan? Teks dari Kitab Yesaya berikut ini barangkali menjadi jawabannya: “Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi! Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur” (Yes. 14:12-15). Jadi, iblis, dan para malaikat lain yang tergabung dengannya, menyerah pada kesombongan; mereka ingin meninggikan diri, untuk sepenuhnya mandiri dan menjadikan diri mereka ilahi.

Kitab Suci memberi tahu kita bahwa pertempuran untuk jiwa kita yang kekal tidak dilakukan melawan darah dan daging, tetapi melawan ‘bala tentara kejahatan’ (Ef. 6:12), yaitu melawan setan dan pengaruhnya. Sebab, setan mengerahkan segenap kekuatan untuk menghasut manusia agar berbuat berdosa.

Gereja Katolik dengan tegas melarang umat agar jangan sampai bersekutu dengan setan. Ajaran Gereja Katolik ini sangat jelas terlihat dalam liturgi. Pada perayaan Baptisan, mereka yang dibaptis diminta untuk menyatakan penolakan terhadap setan, dan perbuatan-perbuatannya, dan janji-janjinya yang kosong. Adapun rumusannya kurang lebih seperti berikut ini:

Apakah Saudara menolak kejahatan dalam diri saudara sendiri dan dalam masyarakat? Apakah Saudara menolak godaan-godaan setan dalam bentuk takhayul, perjudian dan hiburan yang tidak sehat? Dua pertanyaan ini harus dijawab: Ya, saya menolak.

Bahkan, Gereja Katolik juga menyediakan ritus resmi pengusiran setan (eksorsisme). Ini menunjukkan bahwa Gereja Katolik percaya bahwa setan itu ada dan melarang umatnya bersekutu dengannya. “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” (Yak. 4:7).

Referensi:
https://www.catholic.com/qa/why-did-satan-rebel
https://www.catholic.com/encyclopedia/devil
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/what-the-devil
https://www.catholic.com/qa/why-was-satan-sent-to-earth-to-test-man
https://www.catholic.com/qa/isnt-lucifer-not-satan
https://www.katolisitas.org/apakah-gereja-katolik-mengajarkan-adanya-iblis-setan/

Keberadaan Setan Dilihat dari Kaca Mata Gereja Katolik

2

Topik mengenai setan sudah sering dibahas oleh banyak orang, namun tetap saja menyisakan sejumlah pertanyaan. Setidaknya ada tiga pertanyaan yang seringkali muncul setiap kali kita berbicara tentang setan. Pertama, apakah setan itu sungguh ada? Kedua, apa saja aktivitas setan itu? Dan, ketiga, bagaimana kita sebagai pengikut Kristus menghadapi setan?

[postingan number=3 tag= ‘setan’]

Di masyarakat kita, pembahasan tentang setan selalu berujung pada deretan nama makhluk halus seperti jin, hantu, dedemit, kuntilanak, gendruwo, sundel bolong, tuyul, dan sebagainya. Bahkan, orang-orang juga percaya bahwa setan mempunyai tempat tinggal; dan tempat tinggal setan adalah hutan, pohon-pohon, pekuburan, bukit, gunung, padang gurun, tempat-tempat kotor, tempat-tempat lembab, basah, gelap, dan sebagainya.

Pertanyaannya: apakah Gereja Katolik juga mengajarkan hal yang sama seperti di atas? Jawabannya: tidak. Deretan nama di atas tidak ditemukan dalam ajaran maupun dalam Kitab Suci Gereja Katolik. Dalam pandangan Gereja Katolik, setan bukanlah semacam makhluk halus yang melirik dari tempat gelap, melainkan realitas rohani. Hanya ada tiga kata dalam Kitab Suci untuk menyebut realitas rohani tersebut, yakni setan, iblis, dan roh jahat; dan realitas rohani itu tidak mempunyai tempat fisik. Jadi, jika ada orang mengatakan bahwa setan mendiami tempat tertentu, maka jelas itu bukan ajaran Katolik.

Memang, kita harus mengakui bahwa ajaran resmi Gereja Katolik tidak terlalu banyak membahas tentang setan. Namun, dari pembahasan yang sedikit itu kita diberi tahu bahwa Gereja percaya bahwa setan itu ada. Benar-benar ada. Bukan hanya mitos. Namun, setan di sini jangan dibayangkan mirip seperti makhluk halus. Gereja Katolik memandang setan lebih sebagai suatu kekuatan, yakni kekuatan yang jahat.

Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) 2851 dikatakan bahwa ‘kejahatan bukanlah hanya satu pikiran, melainkan menunjukkan satu pribadi, setan, si jahat, malaikat yang berontak terhadap Allah.’ Jadi, menurut sudut pandang Gereja Katolik, setan adalah malaikat yang menolak taat pada Allah, yang sekarang aktivitasnya adalah mencoba menggoda manusia supaya ikut memberontak.

St. Paus Yohanes Paulus II, dalam General Audience tanggal 13 Agustus 1986, menjelaskan tentang asal usul setan, demikian: “Ketika, oleh sebuah tindakan kehendak bebasnya, ia menolak kebenaran bahwa ia mengenal tentang Allah, setan menjadi ‘pembohong dan bapa segala kebohongan’ (lih. Yoh. 8:44) melampaui ruang dan waktu. Karena alasan ini, ia hidup dalam penyangkalan radikal dan tak dapat dibalikkan lagi, terhadap Allah, dan berusaha untuk memaksakan pengaruh kepada ciptaan – kepada semua mahluk yang diciptakan menurut gambar Allah dan secara khusus manusia – kebohongan dirinya sendiri yang tragis tentang apa yang baik yaitu Tuhan.”

Lantas, bagaimana kita sebagai pengikut Kristus menghadapi setan? Perlu diingat bahwa pada perayaan Baptisan, mereka yang dibaptis diminta untuk menyatakan penolakan terhadap setan, dan perbuatan-perbuatannya, dan janji-janjinya. Gereja Katolik juga menyediakan ritus resmi pengusiran setan (eksorsisme).

Tambahan pula, dalam Kitab Suci sangat jelas dikatakan: “Aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 8:38-39). Dengan kata lain, kita yang sudah berada dalam Yesus tidak boleh takut terhadap setan.

Referensi:
https://www.hidupkatolik.com/2020/02/09/46094/setan.php
https://jalapress.com/menjawab-pertanyaan-sulit-tentang-siapa-yang-menciptakan-setan/
https://www.catholic.com/qa/does-the-catholic-church-believe-in-the-devil

Banyak Diberikan Mukjizat tapi Sedikit saja yang Bertobat — Renungan Harian

0

Banyak Diberikan Mukjizat tapi Sedikit saja yang Bertobat: Renungan Harian, 12 Juli 2022 — JalaPress.com; Injil: Mat. 11:20-24

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Dalam Injil hari ini, Tuhan  Yesus mengecam beberapa kota. Apa saja nama kota-kota itu? Kota-kota tersebut adalah Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum. Mengapa Ia mengecam mereka? Jawabannya: karena mereka tidak bertobat. Padahal, di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya. Bahkan, Kapernaum, sudah dianggap sebagai ‘kota-Nya’ sendiri. Ia berkata:

“Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati!” (Mat. 11:21, 23).

Di mana letak permasalahannya? Permasalahannya adalah mereka sudah banyak mendengarkan pengajaran dari Yesus dan menyaksikan mukjizat-Nya, tetapi mereka tidak bertobat. Padahal, menurut Yesus, jika saja kesempatan yang sama diberikan kepada Tirus, Sidon dan Sodom, tentulah sudah lama mereka bertobat.

“Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini” (Mat. 11:21, 23).

Kita tahu bahwa Tirus, Sidon, dan Sodom adalah kota-kota yang dihancurkan oleh Tuhan karena kehidupan mereka yang sangat rusak. Mereka bukan hanya tidak mengenal Tuhan dan menyembah berhala, tetapi mereka juga mempunyai kehidupan moral yang sangat rusak.

Nah, kecaman Yesus terhadap kota-kota itu sebenarnya secara tidak langsung menjadi peringatan bagi kita juga. Sebab, sikap mereka cukup mewakili sikap orang-orang (kita) yang tidak mau bertobat. Seperti mereka, kita telah menerima banyak berkat dari Tuhan, tapi barangkali hanya sedikit dari kita yang bersyukur atas berkat-berkat itu. Kita tidak bersyukur karena kita merasa bahwa apa yang kita terima itu tidak seperti yang kita inginkan.

Karena itu, tak banyak yang Tuhan minta dari kita. Tuhan hanya meminta kita untuk bersyukur dan bertobat. Perlu diingat bahwa setiap anugerah yang Tuhan berikan selalu disertai dengan tuntutan untuk menanggapinya dengan benar. Maka, marilah kita belajar untuk mensyukuri segala sesuatu yang telah kita terima dari Tuhan, dan berusaha untuk kembali ke jalan-Nya.

Allah Tidak Menyukai Korban Sembelihan — Renungan Harian

0

Allah Tidak Menyukai Korban Sembelihan: Renungan Harian, 11 Juli 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 1:11-17

“Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak? Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai” (Yes. 1:11).

Banyak orang berpikir bahwa semua ibadah yang kita lakukan pasti disukai Allah; meski kenyataannya tidak sedikit orang melaksanakan ibadah hanya sebagai rutinitas. Makanya, Yesaya, salah seorang tokoh dalam Kitab Suci, mengecam dengan sangat keras cara berpikir semacam itu. Kita tahu bahwa Nabi Yesaya diutus untuk mengajak orang Israel bertobat. Ia menyadarkan mereka agar percaya kepada Allah.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Kutipan ayat di atas diambil dari Kitab Yesaya, dan merupakan bagian dari bacaan Kitab Suci dalam liturgi hari ini. Apa yang disampaikan oleh Yesaya dalam kutipan ayat tersebut memang terkesan sangat keras dan menyakitkan. Namun, untuk memahami maksudnya, kita perlu tahu konteks dari teks tersebut. Konteksnya adalah pada waktu itu bangsa Israel menjauh dari jalan Allah dan berpaling pada dewa-dewa lain. Padahal, Allah telah memilih, membebaskan, dan memberikan kasih karunia kepada mereka.

Parahnya lagi, mereka mengira bahwa asal mereka sudah mempersembahkan kurban kepada Allah, semuanya secara otomatis terjamin. Mereka menyangka bahwa tuntutan Allah hanyalah beribadah dan memberi persembahan korban. Padahal, bagi Allah, yang terpenting adalah menjauhi perbuatan jahat dan menjalani kehidupan yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Maka dari itu, Yesaya menyalahkan umat Israel itu karena mereka terus melakukan perbuatan jahat, sambil terus membawa persembahan dan korban kepada Allah serta berdoa dan beribadah kepada Dia. Mereka tidak bertobat meskipun Allah sudah sering memberi hukuman. Rangkaian perbuatan jahat itulah yang membuat persembahan, kurban, doa-doa, dan perayaan-perayaan mereka menjadi tidak ada gunanya sama sekali.

“Orang menyembelih lembu jantan, namun membunuh manusia juga, orang mengorbankan domba, namun mematahkan batang leher anjing, orang mempersembahkan korban sajian, namun mempersembahkan darah babi, orang mempersembahkan kemenyan, namun memuja berhala juga” (Yes. 66:3).

Yesaya mengingatkan mereka bahwa semua ibadah dan korban bakaran yang mereka persembahkan tidak akan pernah disukai oleh Allah jika perbuatan-perbuatan mereka jauh dari keadilan dan kebenaran.

Apa pesan dari perikop ini bagi kita? Perikop ini mengajarkan bahwa memiliki hati yang bersih berhubungan dengan doa-doa yang dijawab. Ibadah dan pujian menjadi sesuatu yang keji bagi Allah jikalau hanya berhenti pada ritus-ritus keagamaan. Bila Allah menuntut umat Israel menjalani kehidupan yang saleh, Ia juga menuntut orang Kristen agar hidup dalam ketaatan terhadap kehendak-Nya. Apabila kita menjaga hati tetap bersih di hadapan-Nya, Allah akan hidup bersama kita.

Murid Kristus, Diutus seperti Anak Domba ke tengah Serigala

0

Tuhan Yesus mengutus para murid-Nya. Peristiwa ini menegaskan bahwa Tuhanlah yang memilih dan mengutus setiap orang untuk terlibat dalam karya-Nya. Ketika Tuhan Yesus mengutus mereka, Dia berkata: ‘Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit’ (Luk. 10:2). Banyak yang dikerjakan, tetapi hanya sedikit yang mau bekerja. Ini fakta dalam Gereja kita dewasa ini. Jumlah umat yang dilayani banyak, tapi imam yang melayani sedikit.

Orang-orang yang diutus itu membawa misi dari Tuhan, dan bukannya membawa agenda pribadi. Pesan-Nya jelas dan tegas: “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat. 10:7-8).

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Sedari awal Tuhan Yesus mengingatkan orang-orang yang diutus-Nya itu bahwa yang namanya tugas perutusan tidak pernah mudah. Ia berkata: “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (Luk. 10:3). Serigala membunuh mangsanya dengan cara menggigitnya. Karya dan tugas perutusan kita, sebaik apapun itu, pasti ada saja orang yang melancarkan kritikan dan cemoohan terhadapnya.

Banyak orang tidak mau menjadi rasul awam atau pengurus Gereja karena takut dikritik dan dicemooh. Padahal, dalam Injil sudah jelas dikatakan bahwa ketika Tuhan Yesus menunjuk tujuh puluh murid dan mengutus mereka pergi ke setiap kota dan tempat, Dia sendirilah yang memberitahukan dengan siapa mereka bekerja, dan bagaimana menghadapi situasi pelayanan. Maka, jangan takut. Tanggapilah panggilan itu dan jalanilah dengan sukacita. Semoga Tuhan memberkati tugas dan karya perutusan kita. Amin.

Tuhan Mengizinkan Iblis untuk Mencobai Manusia, Kok Bisa?

0

Benarkah Tuhan mengizinkan Iblis untuk mencobai manusia? Kok bisa-bisanya Iblis mendekati dan membujuk Tuhan? Mengapa orang-orang saleh juga mengalami penderitaan?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sudah jamak ditanyakan orang-orang. Di sini kita akan mencoba menjawabnya berdasarkan pengalaman dari seorang tokoh Kitab Suci yang bernama Ayub.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Kitab Suci menyebutkan bahwa Ayub adalah seorang yang saleh dan jujur; ia takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Ia mempunyai tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Ia adalah orang tua yang baik bagi anak-anaknya. Ia sangat memperhatikan kesejahteraan rohani anak-anaknya. Ia memperhatikan kelakuan dan gaya hidup mereka, berdoa agar mereka terpelihara dari yang jahat dan mengalami berkat dan keselamatan Allah. Boleh dikatakan bahwa dia adalah contoh seorang ayah yang hatinya terarah kepada anak-anaknya.

Mula-mula hidupnya adem-ayem. Semua berjalan normal, tenang dan tenteram. Tapi yang namanya hidup tak akan pernah sama terus. Hidup selalu berwarna dan berlika-liku. Hidup itu seperti roda, kadang di atas dan kadang di bawah. Hidup yang datar hanya akan membuat kita menjadi orang yang biasa-biasa saja.  Begitu pula yang terjadi dengan Ayub. Hidupnya mulai berubah ketika pada suatu hari Iblis datang kepada TUHAN dan berkata: “Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?” (Ay. 1:9). Iblis yakin bahwa jikalau Tuhan berhenti memberikan perlindungan, kekayaan, kesehatan, dan kebahagiaan kepada Ayub, maka Ayub akan ‘mengutuki Engkau di hadapan-Mu’ (Ayb. 1:11).

Tuhan mengizinkan Iblis untuk mencobai Ayub. Maka firman TUHAN kepada Iblis: “Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya” (Ayb. 1:12). 

Allah memberikan kekuasaan kepada Iblis untuk membinasakan harta dan keluarga Ayub; akan tetapi, Ia membatasi apa yang dapat dilakukan Iblis, karena ia tidak diberikan kuasa untuk membunuh Ayub. Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN. Semua yang ada pada Ayub diambilnya satu per satu, sampai hampir tidak ada yang tersisa.

Sejak kapan Iblis bisa datang mendekati dan membujuk Tuhan? Perlu diketahui bahwa sebelum kematian dan kebangkitan Kristus, Kitab Suci menceritakan bahwa Iblis kadang-kadang bisa menghampiri Allah, untuk dapat mempersoalkan kesungguhan dan kebenaran seorang percaya (Ayb. 1:6-12; 2:1-6; 38:7; Why. 12:10). Namun kematian dan kebangkitan Kristus, yakni pada zaman Perjanjian Baru, tidak ada lagi cerita bahwa Iblis dapat langsung menghadap kepada Allah (Mat. 4:10).

Bagaimana mungkin orang yang saleh dan jujur seperti Ayub juga mengalami penderitaan? Kita harus tahu bahwa ketika berbicara mengenai Ayub yang saleh dan jujur, Kitab Suci tidak bermaksud bahwa Ayub sama sekali tidak berdosa. Ingat, ‘tak ada gading yang tak retak’, tak ada manusia yang tak berdosa. Sebab, manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Tapi, mengapa Tuhan mengizinkan Iblis untuk menguasainya? Alasannya adalah supaya kita mengerti bahwa pencobaan dan kesulitan-kesulitan juga dapat menimpa orang-orang benar.

Dari Kitab Ayub kita banyak menimba pembelajaran. Kitab ini menunjukkan bagaimana orang percaya hendaknya menghadapi musibah di dalam hidupnya. Sekalipun kita mengalami penderitaan hebat dan kesengsaraan yang tidak dapat dipahami, kita harus berdoa memohon kasih karunia untuk menerima apa yang Tuhan izinkan menimpa kita. Tuhan akan menangani perasaan dan keluhan kita yang kacau jikalau diarahkan kepada-Nya — bukan dengan sikap memberontak, melainkan dengan kepercayaan sungguh-sungguh kepada-Nya sebagai Tuhan yang pengasih.

Ini namanya ujian iman. Adakalanya iman memang perlu diuji. Iman kita hanya dapat mencapai kedewasaan penuh apabila dihadapkan dengan kesulitan dan tantangan (Yak. 1:3). Seperti halnya anak sekolah bisa naik kelas apabila sudah melewati ujian demi ujian, demikian halnya pencobaan kadang-kadang menimpa kehidupan orang percaya supaya Tuhan dapat menguji kesungguhan iman mereka.

Ingat, Kitab Suci tidak pernah mengajarkan bahwa kesulitan di dalam hidup ini selalu menandakan bahwa Tuhan tidak senang dengan kita. Justru kesulitan tersebut dapat menjadi tanda bahwa Tuhan mengakui komitmen kita kepada Dia (bdk. Ayb. 1:1-2:13). Iman itulah yang menyebabkan kita mendekati Dia, tinggal di dalam Dia, serta menyerahkan segala persoalan hidup kita kepada-Nya. Lagipula, Tuhan tidak meninggalkan kita di tengah kesulitan hidup seperti itu. Dia justru mengutus Anak-Nya yang Tunggal untuk menebus dan menyelamatkan kita (lih. Yoh. 3:16-17).

Ketika iman kita diuji, sebenarnya kita sedang dihadapkan dengan beberapa pertanyaan pokok ini: mungkinkah kita, umat beriman, mengasihi dan melayani Dia karena Dia adalah Tuhan, dan bukan karena semua berkat-Nya yang sudah kita terima? Dapatkah kita mempertahankan iman dan kasih kita kepada-Nya di tengah musibah yang tidak dapat dijelaskan dan penderitaan yang tidak semestinya kita alami?

Referensi:
https://alkitab.sabda.org/
https://www.catholic.com/qa/why-does-god-allow-persecution
https://www.catholic.com/qa/why-do-we-have-to-suffer