12.1 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 19

Ajaran Sesat Antidicomarianisme & Penghujatan Terhadap Bunda Maria (Seri Ajaran Sesat 3)

1

Penghujatan dan penghinaan terhadap Bunda Maria berasal dari bidat Antidicomarianisme (vs. Collydirianisme) yang muncul di wilayah Arab abad ke 3 hingga abad 5. Kelompok ini adalah sekte sesat yang anti dengan Bunda Maria. Mereka juga disebut Dimoerites.
St. Epiphanius dalam bukunya berjudul Panarion (Kotak Obat) menceritakan tentang keberadaan sekte tersebut.

Kemudian St. Epiphanius memberikan bantahan terhadap tuduhan sekte Antidicomarianisme. St. Ephipanius menjelaskan bahwa Yusuf adalah seorang yang kudus dan bukan seorang yang tidak dapat menahan nafsunya (Lihat Luk 1: 19 . Dan Yusuf pada saat menjadi bapak pemelihara Yesus berusia kira-kira 90 tahun. Sementara Bunda Maria berusia sekitar lima belas tahun.

Ajaran Antidicomarianisme

a. Menolak setiap devosi atau penghormatan yang diberikan kepada Bunda Maria.
b. Menolak doktrin keperawanan abadi Bunda Maria
c. (pada awalnya) mereka menolak bahwa Yesus dilahirkan oleh seorang perawan, sehingga mereka beranggapan bahwa Yesus anak biologi Yusuf.
d. (Kemudian) mereka menerima bahwa Yesus dilahirkan oleh seorang perawan namun mereka berpendapat bahwa Maria dan Yusuf melakukan hubungan seksual setelah kelahiran Yesus.
e. Mereka mengajarkan bahwa saudara-saudari Yesus yang disebutkan dalam Injil adalah anak kandung/anak biologis Maria dan Yusuf.

BACA JUGA:

Sekte Antidicomarianisme sebenarnya merupakan reaksi atas aliran Collydirianisme. St. Epiphanius menghubungkan Antidicomarianisme dengan Apollinaris dari Laodekia. Pandangan Antidikomarianisme pada abad ke-4 ternyata ditemukan pula dalam pandangan Helvidius. Dikemudian hari pandangan dan paham Antidikomarianisme menjadi standar sebagaian ajaran Protestan tentang Maria.

Penjelasan Kitab Suci

Mat. 1: 24-25 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus. >>>ἕως
heōs: until yang mempunyai banyak arti yaitu sampai, kepada. Mat. 28: juga memakai kata Heos ketika Yesus berkata bahwa ia menyertai para murid “sampai” kepada akhir zaman. Tidak diartikan bahwa setelah akhir zaman Yesus tidak menyertai lagi. Jadi pengertian sampai tidak dapat dimutlakkan bahwa setelah itu Yusuf bersetubuh dengan Bunda Maria. Lagi pula tidak ada bukti scriptura bahwa Bunda Maria melahirkan anak selain Yesus.
Contoh lain dalam 1 Petrus 5: 2 3, Petrus menyebut Markus sebagai “Anakku”, padahal Markus adalah Keponakan Petrus. Dan menurut St. Papias, Markus adalah juru tulis Petrus.

Maria Dalam Alkitab

Maria Ibu Yesus, Maria Isteri Klopas/Alfeus, Maria Salome (Isteri Zebedeus), Maria saudara Marta dan Lazarus, Maria Magdalena.

Catatan Tertua

Uskup Yerusalem yang pertama bernama Yakobus saudara Yesus, atau Yakobus Muda/Yakobus Anak Alfeus. Alfeus (Aramaic)/Klopas (Yunani). Catatan kehidupan dan kematian orang-orang Kudus (Synaxarion) mencatat informasi yang sama bahwa Yakobus yang dimaksud adalah anak Alfeus/Klopas.

Dalam Synaxarion diceritakan bagaimana Yakobus Uskup Yerusalem menjadi martir dengan cara dirajam. St. Papias (70-163 merupakan murid Rasul Yohanes) juga menceritakan dalam fragmen X Papias menjelaskan hal yang sama bahwa Yakobus yang dimaksud adalah Yakobus anak Alfeus/Klopas.

St. Papias juga menjelaskan bahwa Maria Isteri Klopas/Alfeus memiliki anak bernama Yakobus (uskup Yerusalem), Simon, Thadeus, dan Yusuf. Sementara Maria Salome (Sepupu Bunda Maria Isteri Zebedeus) memiliki anak bernama Yohanes Penginjil dan Yakobus anak Zebedeus.

Jadi Klopas/Alfeus memiliki isteri bernama Maria (lihat Injil Yohanes 19: 25) “saudara (Sepupu Bunda Maria)” Bunda Maria ibu Yesus. Klopas dan Maria inilah yang memiliki anak-anak yang disebut dalam Kitab Suci.

Ajaran Bapa Gereja

Pertama, St. Epifanus (374): Allah Putera …. telah lahir sempurna dari Maria yang suci dan tetap Perawan oleh Roh Kudus….” (St. Epiphanus, Well Anchored Man, 120).

Kedua, St. Hieronimus (347- 420) tidak hanya menyebutkan keperawanan Maria, tetapi juga keperawanan Yusuf (lih. St. Jerome, The Perpetual Virginity of Blessed Mary, Chap 21).

Ketiga, St. Agustinus dan St. Ambrosius (415), mengajarkan keperawanan Maria sebelum, pada saat dan ssudah melahirkan Yesus Kristus, sehingga Maria adalah perawan selamanya (lih. St. Augustine, Sermons, 186, Heresies, 56; Jurgens, vol.3, n. 1518 dan 1974d).

Keempat, St. Petrus Kristologus (406- 450): “Sang Perawan mengandung, Sang Perawan melahirkan anaknya, dan ia tetap perawan” (St. Petrus Kristologus, Sermon 117).
Kelima, Paus St. Leo Agung (440-461) : “… a Virgin conceived, a Virgin bare and a Virgin she remained. – [Ia adalah seorang Perawan yang mengandung, Perawan melahirkan, dan ia tetap Perawan” (Paus St. Leo Agung, On the Feast of the Nativity, Sermon 22:2).
Keenam, St. Yohanes Damaskus (676- 749) juga mengatakan hal yang serupa: “Ia yang tetap Perawan, bahkan tetap perawan setelah kelahiran [Kristus] tak pernah sampai akhir hidupnya berhubungan dengan seorang pria… Sebab meskipun dikatakan Ia [Kristus] sebagai yang ‘sulung’…. arti kata ‘sulung’ adalah ia yang lahir pertama kali, dan tidak menunjuk kepada kelahiran anak- anak berikutnya.” (St. Yohanes Damaskinus, Orthodox Faith, 4:14 ).

Ajaran Sesat Doketisme (Seri Ajaran Sesat 2)

0

Dalam era Gereja Perdana, Doketisme merupakan suatu kecenderungan (lebih daripada doktrin yang utuh dan terumuskan) yang memandang kemanusiaan dan penderitaan Kristus tampak kurang nyata.

Bukti-bukti eksistensi kecenderungan itu didasarkan pada 1Yoh 4:13: 2 Yoh 7: bdk. Kol 2:8 dst. Kelihatannya atau rupanya Kristus itu menderita, padahal dalam kenyataannya tidak menderita.

Ajaran Doketisme tersebut sangat bertentangan dengan fakta dan kesaksian Kitab Suci yang menceriterakan bahwa Yesus sungguh sengsara, wafat dan bangkit. Oleh sebab itu, Bapa Gereja, Ignatius, uskup Antiokhia (35-107) dan Serapion, uskup Antiokhia (190-203) membantah ajaran dan pengaruh ajaran sesat doketisme dalam berbagai tulisan mereka.

Katolik Menjawab: Keselamatan Tidak Cukup Hanya Dengan Iman Saja

0

Keselamatan adalah anugrah (kasih karunia/diberikan cuma-cuma, namun diperlukan tanggapan manusia melalui iman dan perbuatan. Sebab iman dan perbuatan adalah satu paket/kesatuan, umpama tubuh dan nafas adalah satu. Ketika nafas (iman/perbuatan) keluar dari tubuh (perbuatan/iman) maka, tubuh (perbuatan/iman) akan mati. Kristus menyelamatkan semua orang dan menjadi sumber berkat yang mengalir bagi semua orang.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Orang-orang yang hidup baik sebelum kedatangan Kristus, saat Kristus hidup maupun setelah kedatangan Kristus memperoleh berkat (grace) untuk menuju surga. Mengapa demikian? Karena manusia secara kodrat mempunyai kemampuan untuk mengenal dan mengasihi sang pencipta. Dengan mengandalkan akal budi, manusia dapat mengetahui keberadaan Tuhan. So, jika sampai seseorang tidak masuk surga, itu karena kesalahan pribadi manusia, bukan kesalahan Tuhan. Karena kasih-Nya, Allah menginginkan semua orang masuk dalam kerajaan Surga, yang juga disebut Predestination. Berbeda dengan double predestination yang mengajarkan bahwa sebagian orang ditakdirkan masuk surga dan neraka.

Tuhan sejak semula menginginkan manusia memperoleh kebahagiaan abadi di surga (baca Kejadian 1-2). Meskipun demikian Allah mengiginkan agar manusia dapat membalas kasih Tuhan dengan bebas, maka Tuhan memberikan free will. Dengan free will ini manusia dapat berkata ya atau tidak terhadap tawaran Tuhan (Baca Kejadian 3). Free will ini diberikan kepada manusia sebagai ekspresi kasih yang dalam kepada manusia. Keadilan Allah juga terlihat dalam Kitab Suci di mana ia menuntut banyak kepada yang diberi lebih banyak.

Tuhan melihat apakah manusia mengasihi Allah dengan segenap hati, pikiran, dan kekuatan dan mengasihi sesama (baca Matius 22:34-39-40) tergantung hukum taurat dan kitab Para nabi, ini harus diwujudkan dalam perbuatan. Hal ini berkaitan dengan menempatkan kebenaran di atas segalanya (10 perintah Allah; mengasihi Allah dan sesama. Ada 3 hal untuk melihat sesuatu yang baik secara moral intention (maksud), circumstances (situasi), dan objek moral (moral object). Dan hanya Tuhan yang tahu moral intention yang dilakukan oleh setiap orang.

Gereja Katolik percaya bahwa Sakramen Baptis mutlak, karena merupakan pintu masuk ke dalam keselamatan Kristus (gereja/Jemaat). Kitab suci mengatakan bahwa pembaptisan adalah symbol kematian dan kebangkitan bersama Kristus lihat Roma 6:3-5. Bukan hanya yang berseru Tuhan, Tuhan (beriman) yang akan selamat tetapi mereka yang melakukan kehendak Bapa. Semua orang beriman dihakimi dihadapan Yesus. Orang melakukan perbuatan terhadap salah seorang yang paling hina akan diberikan tempat di sebelah kanan-Nya, sementara mereka yang tidak berbuat apa-apa ditempatkan di sebelah kirinya. Orang-orang yang ditempatkan disebelah kiri akan dimasukkan ke dalam tempat siksaan yang kekal. Sementara itu orang yang beriman dan melakukan perbuatan (orang-orang benar ayat 37 dan orang yagn diberkati Bapa ayat 34) mereka kerajaan Allah yang telah disediakan bagi mereka. (Matius 7:19-23, 25:31-46).

Tuhan akan membalas setiap orang menurut perbuatan-Nya (lihat ayat 12)>>tukang sihir, pesundal, pembunuh dan lain sebagainya tinggal di luar. Orang-orang yang menuruti perkataan dalam Kitab akan berbahagia. Seorang kaya datang kepada Yesus dan bertanya perbuatan baik apa yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup yang kekal– setelah dia mengimani 10 perintah Allah. Yesus mengatakan ‘orang kaya itu harus menjual miliknya dan membagikan hasilnya kepada orang miskin maka orang kaya ini akan memperoleh harta di sorga, dan masih banyak perikop lainnya perumpamaan tentang perjamuan kawin, gadis bijaksana dan gadis yang bodoh, dan lain-lain. (bdk. Wahyu 22: 6-12, Mat. 19:13-30).

Rasul Paulus mengatakan keselamatan itu kasih karunia diperoleh cuma-cuma melalui iman, namun dalam konteks ini Rasul Paulus tidak mempertentangkan bahwa setelah beriman sudah cukup, sebab pada surat lain rasul Paulus menekankan pada kita untuk mengerjakan keselamatan kita, tidak mungkin Paulus membuat surat yang isinya saling kontradiktif. Pada perikop ini penekanan Paulus supaya tidak bermegah diri karena iman yang kita peroleh itu bukan berasal dari usaha kita melainkan pemberian Allah. Selanjutnya, Rasul Paulus mengatakan kerjakan keselamatanmu dengan tak gentar, lakukan sesuatu dengan tak bersungut supaya tak beraib dan tak bernoda (Efesus 2:1-10, Filipi 2:12-16). Oleh sebab itu, Rasul Paulus tidak hanya menekankan iman, tetapi juga perbuatan yakni kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (bdk. Galatia 5:19-23).

Siapa yang Mengajarkan Beriman Saja Cukup?

Pada tahun 1545, Martin Luther melakukan penambahan kata “saja” terutama dalam edisi Alkitab terjemahan bahasa Jerman. Roma 3:28 berbunyi demikian dalam terjemahannya, “So halten wir es nun, daß der Mensch gerecht werde ohne des Gesetzes Werke, allein durch den Glauben”. Luther menambahkan kata Allein (alone) pada Alkitab terjemahan bahasa Jerman. Jika kita telusuri dalam bahasa Yunani, maka kita tidak menemukan kata ‘saja’ pada Roma 3:28. λογιζόμεθα οὖν πίστει δικαιοῦσθαι ἄνθρωπον χωρὶς ἔργων νόμου (Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat).

Dalam edisi King James Version juga tidak ditemukan kata ‘saja’, therefore we conclude that a man is justified by faith without the deeds of the law. Bahkan edisi The Gideon International juga tidak memuat kata ‘saja’, therefore we conclude that a man is justified by faith apart from the deeds of the law.

Benarkah Surat Rasul Paulus Kepada Umat di Roma Bertentangan Dengan Surat Yakobus?

Sama sekalit tidak ada yang bertentangan. Konteks Roma 3:21-31, Rasul Paulus mengajarkan membandingkan Amal Yahudi dalam melakukan hukum Taurat dan amal Kristiani. Kemudian Rasul Paulus menyimpulkan bahwa amal Yahudi tidak menyelamatkan jika bukan dengan iman kepada Kristus. Sementara itu, Yakobus menekankan bahwa iman Kristen itu nol besar jika tidak disertai amal perbuatan yang mengerjakan keselamatan atas dasar iman (bdk. Yak. 2:14-26).

Referensi
https://www.sarapanpagi.org/paulus-vs-yakobus-iman-saja-ataukah-iman-perbuatan-vt7423.html
https://www.sarapanpagi.org/roma-3-28-sola-fide-penambahan-kata-saja-oleh-luther-vt2254.html
• Alkitab Terbitan The Gideon International
• Alkitab King James Version

Jalan Tuhan untuk Paulus dari Tarsus: dari Benci menjadi Cinta

0

Hari ini, sesuai dengan penanggalan liturgi Gereja, kita merayakan Pesta Bertobatnya Santo Paulus Rasul. Di dalam Kisah Para Rasul, nama Paulus (dulunya bernama Saulus) muncul pertama kali sebagai seorang Yahudi fanatik. Dia termasuk golongan Farisi, murid dari rabi Gamaliel di Yerusalem.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Sebagai seorang Yahudi yang fanatik, Saulus setuju jika orang-orang Yahudi yang telah menjadi pengikut Kristus ditangkap dan diadili menurut hukum agama. Tidak hanya sekedar setuju, dia juga ikut serta dalam upaya pengejaran dan penangkapan terhadap umat Kristen untuk kemudian diserahkan kepada pengadilan Mahkamah Agama Yahudi (Kis. 8:3). Bahkan, dia juga menjadi saksi atas hukuman rajam terhadap Stefanus (Kis. 7:58).

Saulus berpikir bahwa jika umat Kristen dibiarkan berkembang, maka kekudusan bangsanya sebagai umat Allah akan ternodai. Sedemikian berkobar-kobarnya kebencian Saulus terhadap para pengikut Yesus, sehingga dia tidak segan-segan meminta izin dan surat kuasa kepada Imam Besar agar dapat menangkap para pengikut Kristus di kota Damsyik. Pengalaman itu diceritakannya kepada orang-orang Yahudi seperti yang tertulis di dalam Kis. 22:3-5.

“Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini. Dan aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara. Tentang hal itu baik Imam Besar maupun Majelis Tua-tua dapat memberi kesaksian. Dari mereka aku telah membawa surat-surat untuk saudara-saudara di Damsyik dan aku telah pergi ke sana untuk menangkap penganut-penganut Jalan Tuhan, yang terdapat juga di situ dan membawa mereka ke Yerusalem untuk dihukum”.

Tidak ada yang menyangka bahwa jalan hidup Saulus berubah di tengah jalan menuju ke Damsyik. Dalam perjalanan ke kota itu, tanpa diduga Tuhan Yesus menampakkan diri kepadanya. Saulus dihempaskan ke tanah, dikelilingi oleh cahaya, dan mendengar suara berkata: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu” (Kis. 9:4-5).

Setelah berjumpa dengan Tuhan Yesus di jalan menuju ke Damsyik itu, cara berpikir maupun cara hidup Saulus berubah secara radikal seratus depalan puluh derajat. Dari yang tadinya sangat benci kepada Yesus, ia berubah menjadi pengikut-Nya; dari penganiaya umat Kristen (lih. Gal. 1:13, 23; Flp. 3:6; 1 Kor. 15:9) menjadi seorang pewarta Injil; dari seorang Saulus menjadi Rasul Paulus (setelah Kis. 13:9, nama Paulus secara konsisten digunakan sebagai ganti nama Saulus) yang luar biasa.

Paulus adalah pribadi yang baru, yakni pribadi yang cara berpikir maupun cara hidupnya telah diubah oleh Tuhan. Dalam suratnya kepada umat di Galatia, ia menegaskan bahwa sekarang tugasnya adalah menjadi rasul, duta Yesus Kristus:

“Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, dan dari semua saudara yang ada bersama-sama dengan aku, kepada jemaat-jemaat di Galatia: kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin” (Gal. 1:1-5).

Itulah Paulus, yang dulunya akrab disapa Saulus. Ia memiliki masa lalu yang tak baik untuk ditiru. Ia sendiri sudah menceritakan semua pengalamannya kepada kita. Ia mengakui bahwa dirinya telah menangkap dan menganiaya para penganut ‘Jalan Tuhan’ hingga akhirnya ia sendiri berada di ‘Jalan Tuhan’, jalan yang dulu sangat dibencinya itu.

Lantas, bagaimana dengan kita? Mungkin masa lalu kita tidak sesuram Paulus. Kita tidak membenci Tuhan, kita juga tidak menganiaya umat-Nya. Hanya saja barangkali kita tidak sungguh-sungguh berada di Jalan Tuhan; sebab kita terlalu sibuk mencari jalan sendiri. Kita sering merasa tidak ada waktu untuk Tuhan. Hidup menggereja kita kurang.

Tapi, percayalah, Tuhan bisa mengubah hati kita dalam sekejap. Sebagaimana Ia mengubah Saulus yang penuh dengan kebencian menjadi Paulus, seorang pencinta Tuhan, demikian juga Tuhan bisa mengubah kita dari yang tadinya apatis terhadap hidup menggereja menjadi seorang yang setia di Jalan Tuhan. Ingat, tak ada yang tak mungkin jika Tuhan berkehendak. Kita memilih jalan lain, Tuhan mengarahkan kita ke jalan-Nya. Karena itu, mari kita berdoa dan berharap agar Tuhan mengarahkan kita ke jalan-Nya.

Jika Yesus Itu Tuhan, Mengapa Dia Tidak Mengatakannya dengan Terus Terang?

1

Pertanyaan yang bunyinya seperti pada judul di atas sudah sangat sering diajukan oleh orang-orang, dari dulu sampai sekarang, bahkan sejak zaman Yesus masih hidup dan berkarya di muka bumi ini.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Penginjil Yohanes (10:22-30) menceritakan bahwa orang-orang Yahudi pernah mengajukan pertanyaan itu di hadapan Yesus. Dasarnya: saat itu mereka berada dalam situasi bimbang. Mereka mendengar banyak tentang Yesus dari kesaksian orang-orang, dan mereka melihat dengan mata kepala sendiri pekerjaan-pekerjaan-Nya. Mereka mau menerima Dia sebagai Mesias tapi takut salah. Makanya, mereka menunggu Yesus mengatakan sendiri dengan terus terang tentang siapa diri-Nya.

Orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” Yesus menjawab mereka: “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:24-30).

Sayangnya, perkataan yang ‘terus terang’ seperti yang mereka harapkan itu tak kunjung keluar dari mulut Yesus. Yesus tidak menjawab, ‘Ya, Aku adalah Mesias, sembahlah Aku.’ Tidak. Yesus tidak pernah mengatakan itu. Alasan yang diberikan-Nya sangat jelas: “Aku tidak memerlukan hormat dari manusia” (Yoh. 5:41).

Namun itu tidak berarti bahwa Yesus tidak pernah memperkenalkan tentang siapa diri-Nya. Di banyak kesempatan Ia menerangkan tentang siapa diri-Nya, baik melalui perkataan-perkataan-Nya yang implisit maupun melalui pekerjaan-pekerjaan-Nya. Yesus berkata: “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya” (Yoh. 10:25). Kapan Yesus mengatakan itu? Ada banyak ayat dalam Injil, meski tidak secara eksplisit, menceritakan bagaimana Yesus menjelaskan tentang siapa diri-Nya. Salah satu perikop yang berbicara tentang identitas Yesus adalah Yohanes 5:19-32.

Yesus menegaskan bahwa jika mereka tidak dapat mengetahui identitas-Nya dari pesan-pesan yang disampaikan-Nya, setidaknya mereka mengenal Dia dari apa yang dilakukan-Nya. Ia telah melakukan banyak hal. Dari apa yang diperbuat-Nya itu orang harusnya langsung tahu bahwa Dia bukan manusia biasa.

Adakah manusia biasa yang bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan luar biasa seperti yang dilakukan oleh Yesus? Sehebat apapun manusia, tidak akan bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dikerjakan oleh Yesus. Ia bisa melakukan itu semua sebab Dia mempunyai kuasa. Kuasa yang dimiliki-Nya tidak dimiliki oleh manusia biasa manapun.

Masih tidak percaya juga? Yesus berkata: “Kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yoh. 10:26-27).

Jika selama ini Anda masih mengulang-ulang pertanyaan yang sudah diajukan dua ribuan tahun lalu itu, itu tandanya Anda masih berada di luar kandang. Jika ingin mengenal Yesus secara lebih mendalam, masuklah ke dalam kandang, bergabunglah bersama kawanan-Nya, dan alamilah sendiri apa yang dikerjakan-Nya. Di situlah Anda akan tahu siapa Yesus sebenarnya.

Natal dan Perjalanan Para Pencari Tuhan

0
OMK dan Remaja Katolik Paroki Halong melakukan perjalanan ke Kampung Rapit, Pegunungan Meratus, untuk memperkenalkan iman Katolik kepada kelompok umat yang baru beberapa tahun belakangan menjadi Katolik.

Kita semua adalah musafir, sebab kita hanyalah peziarah di dunia ini. Boleh jadi perjalanan kita masih sangat panjang; dan di tengah jalan kita masih suka menoleh ke kiri dan ke kanan. Sudah bertobat, tapi masih sering tergelincir ke dalam salah dan dosa. Tidak masalah. Yang terpenting kita masih tetap mengarahkan pandangan kita pada tujuan akhir dari perjalanan kita. Dan, tujuan akhir itu adalah Tuhan. Memang, dari banyak pengalaman, kita tahu bahwa tidak mudah untuk sampai di titik itu, namun jangan pernah patah semangat.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Ada banyak contoh orang yang dalam hidupnya jatuh bangun mencari Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang tadinya biasa-biasa saja, namun berhasil melakukan perjalanan rohani yang luar biasa. Sebab, kebanyakan dari cerita-cerita mereka berakhir dengan happy ending. Mereka mencari Tuhan dengan susah payah, Tuhan menuntun mereka supaya dapat menemukan-Nya, dan akhirnya mereka bisa menyembah Tuhan dengan penuh sukacita.

Peziarahan kita untuk mencari Tuhan mirip seperti perjalanan orang Majus yang jauh-jauh datang ke Yerusalem untuk mencari Yesus. Diceritakan dalam Injil Matius bahwa ‘Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia”’ (Mat. 2:1-2).

Untuk menemukan Yesus, mereka membutuhkan petunjuk, dan Tuhan memberikannya. Mereka melihat bintang-Nya di Timur. Bintang itulah yang menuntun mereka sampai ke Yerusalem. Hanya sampai di situ. Sebab selanjutnya untuk sampai kepada Yesus di Betlehem, mereka dipandu oleh firman Tuhan. Firman itu berbunyi: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel” (Mat. 2:5-6). Mereka dipanggil oleh sebuah tanda bintang di Timur; mereka menemukan Kristus karena mereka mengindahkan tandanya itu dan memercayai firman-Nya.

Seperti orang-orang Majus itu, kita juga adalah termasuk ke dalam golongan para pencari Tuhan. Kita berusaha mencari Tuhan sekuat tenaga agar dapat menemukan-Nya di dalam hidup kita; sehingga kita bisa menyembah-Nya dengan penuh sukacita. Namun pertanyaannya adalah: bagaimana caranya supaya kita bisa sampai kepada Tuhan?

Kisah orang Majus menunjukkan caranya. Tuhan memimpin mereka dengan tanda dan firman. Tentulah Ia juga menggunakan cara yang sama untuk menuntun perjalanan kita. Kita melihat tanda dari Tuhan setiap hari. Kita juga dapat mendengarkan dan membaca firman-Nya setiap saat. Karenanya, untuk menemukan Dia, kita hanya perlu mengikuti petunjuk yang disampaikan-Nya kepada kita melalui tanda dan firman-Nya.

Resolusi 2022, Bangkit dan menjadi Terang bagi Sesama

0

Ketika seseorang berada di dalam suatu ruangan yang gelap gulita, tentu yang ada di benaknya dan yang menjadi harapannya adalah semoga saja ada seberkas sinar menembus dinding-dinding ruangan itu. Ketika seseorang terperangkap di dalam gua, pastilah ia berharap semoga menemukan jalan untuk bisa keluar dari sana. Kurang lebih seperti itu jugalah yang ingin disampaikan oleh Nabi Yesaya dalam Kitab Yesaya 60:1-6.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Dalam perikop itu, kita mendengar dan membaca kata-kata yang diucapkan oleh seorang nabi yang hidup pada suatu zaman yang gelap. Kata-kata tersebut ditujukan untuk bangsa yang baru saja kembali dari pembuangan. Yesaya berkata: “Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu” (Yes. 60:2). Dengan perkataan itu, Yesaya mau meyakinkan mereka bahwa Tuhan akan memenuhi janji-janji-Nya untuk mereka. Ia berharap agar Yerusalem yang sekarang berada dalam kegelapan mempunyai masa depan yang cerah. Keadaan yang sekarang gelap menjadi terang. Maka, ia pun mengajak mereka, “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu” (Yes. 60:1).

Seperti Yesaya, kita juga harus berani mimpi. Kita bermimpi memiliki masa depan yang cerah. Terutama di tahun yang baru ini, kita bermimpi agar bangkit dari keterpurukan dan kegagalan, dan menjadi terang bagi sesama. Inilah resolusi yang harus kita miliki saat ini, sesuai dengan pesan Nabi Yesaya.

Tapi, bermimpi saja belumlah cukup. Sebab, masa depan kita tidak akan menjadi cerah dengan sendirinya hanya dengan bermimpi. Karenanya kita juga harus berusaha mewujudkan impian kita. Dan usaha itu harus disertai dengan kedekatan kita dengan Tuhan. Mengapa? Sebab, kita yang berusaha, Tuhan yang menentukan hasilnya.

Yesaya meminta kita agar mendekat kepada Tuhan dan menerima terang dari Dia; supaya kita pun bisa menjadi terang bagi orang lain. Dan memang sebetulnya Tuhan mengundang kita untuk dekat kepada-Nya. Undangan Tuhan itu disampaikan kepada semua orang, tanpa terkecuali, baik yang dekat maupun yang jauh; baik yang kaya raya maupun yang miskin. Mulai dari para gembala yang sederhana hingga para raja. Semua diundang untuk datang kepada-Nya. Dan orang-orang datang kepada-Nya. Para gembala yang dekat merapat. Tiga raja yang nun jauh di timur datang mendekat. Mereka berusaha mencari, menemukan, dan menyembah Yesus.

Seperti mereka, kita pun harus mencari, menemukan, dan menyembah Yesus. Jangan kuatir, Tuhan pasti menuntun kita untuk bisa sampai kepada-Nya. Ada saja peristiwa atau tanda dalam hidup kita yang mengantar kita kepada Yesus. Sebab, Tuhan menampakkan diri di hadapan siapa saja, dalam keadaan apa saja, dan di mana saja. Singkatnya, Ia menampakkan diri-Nya kepada kita melalui cara-cara sederhana yang mudah kita pahami. Mari, bangkitlah, datanglah kepada Tuhan, dan jadilah terang bagi sesama.

Tahun 2021 Berakhir Hari Ini, tapi Berkat Tuhan Tidak Selesai sampai di sini

0

Hari ini kita berada di penghujung tahun 2021. Sebelum tahun ini berakhir, mari kita lihat kembali catatan dan pelajaran apa saja yang sudah kita dapatkan sepanjang tahun ini. Dan, yang lebih penting lagi, bagaimana Tuhan ikut serta dalam setiap peristiwa hidup kita sepanjang tahun ini.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Ternyata kita tidak sehebat seperti yang kita duga. Masih ada hal yang harus kita perbaiki, sebagai PR di tahun yang baru nanti. Juga, kita tidak seburuk seperti yang kita pikirkan selama ini. Sebab, masih ada banyak hal yang patut kita banggakan. Di atas semua itu, kita sadar bahwa sepanjang tahun ini ada sederet peristiwa di luar kendali kita. Kita merasa seperti ada tangan tersembunyi, invisible hand, yang ikut mempengaruhi hidup kita selama ini. Dan, tangan itu adalah tangan Tuhan sendiri. Tanpa kita sadari ternyata selama ini Tuhan menyertai kita.

Karena itu, perayaan Malam Tahun Baru ini sejatinya adalah perayaan syukur. Kita bersyukur kepada Tuhan untuk semua karunia yang sudah Ia berikan kepada kita selama tahun 2021. Kita tidak tahu apa jadinya hidup kita jika selama ini kita tidak didampingi oleh Tuhan. Maka, tak ada kata ataupun barang berharga yang bisa kita persembahkan kepada Tuhan selain ungkapan syukur. Syukur. Dan syukur.

Lembaran hidup kita untuk tahun 2021 berakhir hari ini, tapi Tuhan tidak mengakhiri berkat-Nya hanya sampai di sini. Ada banyak berkat lain yang sudah Tuhan sediakan bagi kita di waktu mendatang. Maka, yang berlalu biarlah berlalu, kita sambut berkat baru di tahun yang baru.

Hari ini kita mendengar Tuhan berpesan kepada Harun melalui Musa. TUHAN berfirman: Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya, katakanlah kepada mereka:

TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera” (Bil. 6:22-26).

Pesan yang sama ditujukan kepada kita. TUHAN memberkati kita dan melindungi kita, dulu, sekarang maupun nanti. Sebagaimana Dia menemani kita sepanjang tahun 2021, demikian pula Dia akan tetap menyertai dan memberkati kita di tahun mendatang. Ini semua dilakukan-Nya sebab Ia adalah Bapa kita, dan kita adalah anak-anak-Nya. Kita tidak menyebut Tuhan sebagai om, paman, abang, kakek, dan sebagainya, tapi ‘Bapa’. Kita menyapa Dia sebagai Bapa kita. Om bisa melupakan ponakannya, abang bisa meninggalkan adiknya, tapi Bapa yang baik tidak akan melupakan anaknya. Tuhan yang adalah Bapa kita tidak akan meninggalkan kita, anak-anak-Nya. Kita percaya Ia sudah menyediakan yang terbaik untuk kita di tahun mendatang. Selamat menyongsong tahun baru 2022. Tuhan Yesus memberkati.

Dapatkah Orang Percaya kepada Yesus Meski Tidak Melihat Tanda dan Mukjizat-Nya?

0

‘Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, kamu tidak percaya’ merupakan kalimat yang diucapkan oleh Yesus di hadapan seorang pegawai istana di Kapernaum (yang konon katanya adalah seorang kafir) yang menemui dan meminta Dia supaya datang ke rumahnya dan menyembuhkan anaknya yang sedang sakit (teks lengkapnya lih. Yoh. 4:43-54). Mengapa kata-kata yang terdengar keras itu dilontarkan oleh Yesus di hadapan orang tersebut? Jawabannya: karena ada gejala umum yang terjadi saat itu bahwa orang baru mau percaya kepada Yesus kalau mereka sudah melihat tanda-tanda yang dikerjakan-Nya.

[postingan number=3 tag= ‘tuhan-yesus’]

Perlu diperhatikan bahwa perjumpaan antara Yesus dengan pegawai istana yang kafir itu terjadi di Galilea. Dan, Galilea adalah daerah tempat tinggal dan kegiatan pertama dari Yesus. Yesus sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Sudah ada pengalaman sebelumnya bagaimana Ia ditolak oleh orang-orang seasal-Nya itu (lih. Mat. 13:57; Mrk. 6:4; Luk. 4:24).

Tapi, kali ini Ia diterima. Orang-orang Galilea menyambut Dia. Apakah mereka sudah insaf? Rupanya bukan itu alasannya. Ada dua alasan mengapa sekarang mereka menerima Yesus. Pertama, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan oleh di Yerusalem selama hari raya Paskah’ (Yoh. 4:45). Sebab, pada pesta itu, orang-orang Galilea juga ada di sana. Apa yang dikerjakan-Nya selama berada di Yerusalem? “Sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya” (Yoh. 2:23). Kedua, karena sebelumnya di Kana (masih termasuk wilayah Galilea), Yesus pernah membuat air menjadi anggur.

Jika demikian, apa maksud di balik penerimaan orang-orang Galilea terhadap kedatangan Yesus, dan ucapan keras Yesus terhadap pegawai istana yang kafir itu? Penafsir Kitab Suci menyebutkan bahwa barangkali ini cara pengarang untuk mengatakan bahwa orang-orang dari tempat asal-Nya di Galilea terlalu terpesona oleh mukjizat-mukjizat saja, dan bahwa satu-satunya jawaban yang mungkin bagi Yesus, dalam hal ini, akan ditunjukkan oleh pegawai istana yang kafir (Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, 2002, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 170).

Yesus tidak ingin orang percaya kepada-Nya hanya kalau mereka melihat tanda-tanda ajaib yang dikerjakan-Nya. Jangan sampai iman kita tergantung pada tanda-tanda lahiriah dan menakjubkan. Apa yang lebih penting adalah terbuka dan mau menerima kekuatan Yesus yang memberikan kehidupan. Dan, itu yang terjadi dengan pegawai istana yang kafir itu. Ia tidak menuntut banyak. Dia hanya memohon: “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati”. Apa yang terjadi setelahnya? Yesus berkata kepada-Nya: “Pergilah, anakmu hidup!” Dan, benar saja, anaknya sembuh.

Di sini kita melihat bahwa pada akhirnya Yesus toh menunjukkan suatu tanda kepada pegawai istana itu. Dan, Yohanes mencatat bahwa ‘itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea’ (Yoh. 4:54). Tapi, sebelum tanda itu diketahui oleh pegawai istana itu, ia sebenarnya sudah terlebih dahulu percaya kepada Yesus. Penginjil Yohanes mencatat bahwa ‘orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya” (Yoh. 4:50).

Ini menunjukkan bahwa tanda-tanda itu memang penting, tapi maknanya yang terdalam harus dipahami terlebih dahulu; supaya orang tidak terpesona oleh mukjizat-mukjizat saja. Artinya, jangan sampai tanda-tanda dan mukjizat ‘yang terlihat’ menjadi penentu untuk percaya atau tidak. Sebab, Tuhan tidak melulu hadir dalam tanda-tanda ajaib dan menakjubkan. Adakalanya Ia menyapa kita lewat pengalaman biasa sehari-hari.

Sekali lagi, perhatikan, untuk menyembuhkan anak dari pegawai istana itu, Yesus tidak perlu harus ke rumahnya. Ia hanya berkata-kata. Di sini sangat jelas ada tanda penyembuhan jarak jauh. Apa yang dikatakan Yesus dalam penyembuhan itu disebut tiga kali. Itu berarti bahwa Sabda Tuhan itu memberi hidup, asalkan kita sungguh-sungguh percaya kepada-Nya. Karena itu, dengarkanlah Tuhan berbicara, dan jangan terlalu sering meminta tanda dan mukjizat. Ingat, Gereja bukan tempat pertunjukkan, dan Tuhan bukan tukang sulap.

Natal Sudah Tiba, Mari Kita Belajar dari Para Gembala

0

Sejarah manusia dimulai dengan kisah yang tidak enak didengar, yakni tentang kejatuhannya ke dalam dosa (lih. Kejadian bab 3). Di satu sisi, dari pihak manusia, sebetulnya ada usaha untuk bangkit dari keterpurukan itu. Sayangnya, dengan mengandalkan kemampuan sendiri, manusia tidak sanggup. Sesering apa manusia berusaha, ternyata sesering itu pula mereka jatuh lagi. Di sisi lain, dari pihak Tuhan, ternyata ketika manusia berdosa, Tuhan tidak memilih untuk menghakimi dan menghukum, melainkan Ia mengampuni dan mengasihi.

[postingan number=3 tag= ‘natal’]

Sampai di sini sudah sangat jelas bahwa ketika berdosa, manusia membutuhkan bantuan dari Tuhan. Mula-mula, bantuan itu diberikan dengan cara memilih dari antara manusia itu sejumlah utusan atau nabi untuk menyampaikan pesan dari Tuhan. Namun ternyata banyak dari antara nabi yang diutus itu justru dibunuh. Maka, sekarang, Tuhan sendiri harus turun tangan. Ia harus datang sendiri, hidup di antara manusia, dan mengajar mereka.

Supaya bisa diterima oleh manusia, maka Tuhan memilih menjadi manusia. Hal ini sangat bisa terjadi ‘sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil’ (Luk. 1:39). Mengapa harus menjadi manusia? Sebab, jika Dia tidak menjadi manusia, maka manusia hanya akan mendengar suara-Nya, tapi tidak melihat fisik-Nya. Akibatnya, bukannya mendengarkan pengajaran-Nya, manusia justru akan lari terbirit-birit karena ketakutan.

Sejak awal, melalui para nabi, Tuhan memberi kabar kepada manusia tentang rencana kedatangan-Nya. Ada sederet nama nabi yang memberitakan tentang hal itu. Dan, apa yang sudah lama dinanti-nantikan, terjadi pada malam itu. Kitab Suci mencatat: “Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam” (Luk. 2:8). Malaikat Tuhan berkata kepada para gembala: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk. 2:11).

Ada rencana, ada janji. Tuhan menepati janji-Nya. Ia lahir sebagai manusia dan tinggal di antara kita. Kelahiran-Nya ke dunia mendatangkan keselamatan bagi manusia. Maka Yesaya mengabarkan: “Inilah yang telah diperdengarkan TUHAN sampai ke ujung bumi! Katakanlah kepada puteri Sion: Sesungguhnya, keselamatanmu datang” (Yes. 62:11).

Setelah malam yang kudus itu semua berubah. Gelapnya malam jadi terang benderang. Makanya, Yesaya mencatat: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar” (Yes. 9:1).

Kalau kita tanya bagaimana perasaan para gembala ketika mendengar kabar tentang kelahiran Yesus, maka bisa dipastikan bahwa mereka sangat bersukacita mendengar berita itu. Tapi, mereka juga sadar bahwa bersukacita saja belumlah cukup. Perhatikan apa yang terjadi dengan mereka. Kitab Suci mencatat bahwa setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita”.

Di sini kita melihat bahwa kabar gembira itu benar-benar memberi semangat kepada mereka. Mereka sebetulnya lelah pada malam itu, sebab seharian mengurus kambing dan domba. Tapi, setelah mereka mendengar kabar tentang kelahiran Yesus, mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Kelahiran Yesus memberi semangat.

Ini pun harus terjadi pada kita. Kalau selama ini kita merasa ditinggalkan oleh Tuhan, yakinlah itu hanya perasaan kita semata. Sebab, melalui perayaan Natal, kita diingatkan bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita. Dia justru tinggal beserta kita. Dialah Immanuel. Dan peristiwa ini terjadi bukan karena jasa kita, melainkan semata-mata karena Tuhan mengasihi kita. Dalam suratnya kepada Titus, Paulus berkata: “Saudaraku terkasih, ketika kerahiman dan Allah serta Juru Selamat kita telah nyata kepada manusia, kita diselamatkan oleh Allah. Hal itu terjadi bukan karena perbuatan baik yang kita lakukan, melainkan karena rahmat-Nya” (Tit. 3:4-5). Jika selama ini kita lesu, suka bermalas-malasan, datang ke Gereja juga hanya sesekali, maka Natal kali ini harus membuat kita bersemangat lagi. Mari kita belajar dari para gembala untuk menyambut kelahiran Tuhan dengan penuh semangat.