9.3 C
New York
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 20

Tanggapan terhadap Yahya Waloni: Kitab Suci adalah Firman Allah, Bukan Bahan Candaan

0

CNN Indonesia, edisi Selasa, 21 Desember 2021 (link ada di bawah), mengabarkan bahwa terdakwa kasus ujaran kebencian dan penodaan agama, Yahya Waloni mengaku bahwa perkataannya dalam ceramah yang menyebut Injil atau Alkitab adalah kitab palsu dan fiktif hanya gurauan alias bercanda.

[postingan number= 3 tag= ‘penodaan-agama’]

Jujur, selera humor saya memang rendah, tapi saya masih bisa memastikan bahwa candaan seperti ini tidak lucu. Dari segi cara membawakannya, jelas merupakan candaan yang kasar dan tak beretika. Yang bersangkutan juga telah mengakui itu. “Tujuan saya itu hanya sebagai candaan, tapi ternyata saya terlampau kasar. Etikanya benar-benar nggak, saya mohon maaf,” ujar Yahya dalam sidang lanjutan kasusnya di Pengadilan Negeri, Jakarta Selatan, Selasa (21/12). Dari segi isinya, jelas merupakan candaan yang salah bahan. Sebab, Kitab Suci dan ajaran agama lain bukan bahan candaan.

Terlepas ini hanya gurauan alias bercanda (seperti isi pengakuannya) atau benar-benar merupakan ujaran kebencian dan penodaan agama, yang pasti proses hukum sedang berjalan. Dan, di sini kita tidak akan membahas tentang itu. Justru yang ingin kita bahas di sini adalah isi ‘candaannya’ yakni tentang Kitab Suci.

Ketika menyebut Kitab Suci umat Kristiani, yang bersangkutan seringkali menggunakan istilah yang sebenarnya tidak begitu familiar di telinga umat Kristen di Indonesia. Dia menyebut kata ‘Bible’. Kata ‘Bible’ merupakan kata bahasa Inggris. Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia untuk kata ‘Bible’ adalah ‘Alkitab’ (istilah yang sering digunakan oleh kelompok Protestan) atau ‘Kitab Suci’ (istilah yang umum dipakai di Gereja Katolik).

Menurut Yahya Waloni, Kitab Suci agama Kristiani yang disebutnya palsu sudah dibuktikan berdasarkan fakta dan kajian ilmiah. “Saya bukan mengatakan Bibel Kristen itu fiksi. Bibel Kristen itu palsu. Memang begitu fakta ilmiah, kajian ilmiah. Dibuktikan dengan data-data,” ujar Yahya Waloni, dikutip dari makassar.terkini.id.

Luar biasa. Kitab Suci kita palsu, katanya. Tapi tunggu dulu. Setiap perkataan tentu harus bisa dipertanggungjawabkan. Dan secara logika, jika kita mengatakan sesuatu sebagai yang ‘palsu’, itu artinya kita mempunyai yang aslinya atau sekurang-kurangnya kita tahu bagaimana isi atau keadaan yang aslinya. Kita tidak bisa seenaknya mengatakan ‘yang ini palsu’ kalau kita sendiri tidak bisa memberikan bukti mengenai seperti apa yang aslinya. Maka, untuk membuktikan bahwa Kitab Suci agama Kristiani itu palsu, yang bersangkutan harus bisa menunjukkan Kitab Suci versi aslinya. Kita tunggu.

Mungkin yang bersangkutan mengira bahwa Kitab Suci yang asli, yang tadinya ada di tangan umat Kristiani, sekarang menjadi tidak ada lagi karena sudah ditarik kembali ke surga. Nah, ini baru lucu. Padahal, sedari awal kita tahu dan menyadari bahwa Kitab Suci bukanlah kitab yang diturunkan langsung oleh Allah dari Surga. Di surga tidak ada penerbit atau percetakan. Kitab Suci itu ditulis, bukannya diturunkan. Juga, Kitab Suci (dalam hal ini Injil) bukanlah ajaran yang ditulis sendiri oleh Yesus; karena Dia bukan seorang penulis (author) tetapi seseorang yang memiliki otoritas (authority).

Kitab Suci bukanlah jenis buku yang ditulis oleh orang yang sama pada waktu yang sama, tetapi ditulis oleh orang yang berbeda dengan latar belakang yang berbeda pula. Hal ini tercermin dari kata ‘Alkitab’ atau ‘Kitab Suci’ yang diambil dari kata bahasa Yunani Biblia’ yang berarti kumpulan buku. Jadi, ketika kita membuka Alkitab atau Kitab Suci, kita sebenarnya sedang berhadapan dengan banyak buku, yang dipadukan menjadi satu.

Proses penulisan Kitab Suci terjadi lebih dari enam belas abad dan ditulis oleh lebih dari empat puluh penulis, dengan gaya penulisan yang berbeda-beda. Meski ditulis oleh manusia, Kitab Suci bukanlah karya tulis biasa. Kitab Suci ditulis berkat ilham dari Allah. Setiap kata dalam Kitab Suci ditulis melalui arahan-Nya. Dengan demikian, kita percaya bahwa Kitab Suci berisi pesan-pesan yang ingin Tuhan sampaikan kepada kita umat-Nya; melalui Kitab Suci Allah berbicara dan mengajar kita.

Bukti kuat yang menunjukkan bahwa Kitab Suci ditulis atas ilham dari Allah adalah: Pertama, adanya keselarasan pesan-pesan, di samping banyaknya penulis yang menulisnya dalam jangka waktu yang lama sekali. Kedua, mukjizat keawetannya. Kitab Suci terbukti bertahan selama ribuan tahun. Jika tidak datang dari Roh Kudus, pastilah sudah ditinggalkan orang. Ketiga, bukti-bukti arkeologi yang mendukung kebenara Kitab Suci. Keempat, terpenuhinya nubuat-nubuat Kitab Suci.

Akhir kata, pesan saya sederhana: biarlah mimbar agama dipakai sesuai dengan peruntukkannya, yakni untuk menyampaikan pengajaran agama dan wejangan-wejangan moral. Mimbar agama jangan dipakai sebagai panggung stand up comedy, apalagi komedi yang mengandung ujaran kebencian dan penodaan agama.

Referensi:
https://makassar.terkini.id/sebut-kitab-kristen-palsu-pendakwah-yahya-waloni-itu-fakta-ilmiah/
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210827093004-12-686137/yahya-waloni-ditetapkan-tersangka-penodaan-agama-injil-palsu
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20211221153155-12-736831/sebut-injil-kitab-palsu-yahya-waloni-klaim-hanya-bercanda
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20211214145954-12-733926/sidang-yahya-waloni-plesetkan-roh-kudus-ahli-ungkap-unsur-kebencian
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/does-the-quran-teach-that-the-bible-was-corrupted-over-time
https://mbcpathway.com/2016/06/27/responding-to-islam-has-the-gospel-been-corrupted/

Bermedsos bersama Maria dan Elisabet, Membawa Sukacita bagi Orang Lain

0

Dunia kita saat ini ditandai dengan hadirnya media sosial (medsos). Medsos sangat mempengaruhi perkembangan hidup setiap orang dan banyak diminati oleh kaum muda. Dalam membangun relasi dengan orang lain, kehadiran medsos dapat membantu sekaligus menjadi ancaman.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Dengan berbagai aplikasi yang ada saat ini seperti WA, Facebook, Instagram, dan Youtube, di satu sisi dapat membantu kita dalam berkomunikasi dengan orang lain, namun di sisi lain dapat juga menghambat relasi kita dengan orang lain. Parahnya lagi, medsos juga sering digunakan untuk berbagai macam aksi penipuan.

Selain itu, jika dilihat lebih jauh, kita harus jujur mengatakan bahwa relasi yang kita bangun di medsos sebenarnya tidak mendalam dan tidak mengantar kita pada keakraban dengan orang lain. Tambahan pula, relasi yang kita bangun melalui medsos seringkali tidak membawa sukacita atau kegembiraan bagi kita sendiri maupun bagi orang lain.

Kita boleh saja mengirim emoji love tapi sebenarnya kita tidak sungguh-sungguh mengatakan bahwa kita mencintai orang yang dituju. Boleh jadi kita melakukan itu tanpa sadar. Apalagi dalam kolom komentar tidak jarang kita juga menulis kata-kata kotor yang membuat relasi kita dengan orang lain menjadi hambar, hampa, dan retak.

Berangkat dari kenyataan ini, saya mengajak kita semua untuk ber-medsos bersama Maria. Artinya, kita harus belajar darinya mengenai relasi yang mendalam, yang mendatangkan kegembiraan dan sukacita. Maria sudah memberikan contoh yang sangat baik. Ia membawa sukacita yang luar biasa bagi Elisabet, saudarinya (bdk. Lukas 1:39-45).

Maria tentu tidak mengenal medsos seperti kita saat ini. Namun hal tersebut tidak menjadi halangan bagi dia untuk membangun relasi dan membawa kabar sukacita bagi saudarinya,  Elisabet. Ia berjalan kaki dari Galilea menuju kota di pegunungan Yehuda tempat kediaman Elisabet (ayat 39). Tentunya Maria membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai di tempat Elisabet, tapi hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk bertemu dengan Elisabet. Maka tidak heran ketika ia memberi salam kepada Elisabet, anak dalam kandungan Elisabet melonjak kegirangan.

Kunjungan Maria ini merupakan kunjungan yang mendatangkan sukacita yang luar biasa bagi Elisabet dan bagi kita saat ini. Inilah relasi yang sesungguhnya, yaitu relasi yang memberikan sukacita dan kegembiraan bagi orang lain dan bagi diri sendiri. Maria dan Elisabet membangun komunikasi yang sesungguhnya, yaitu bukan hanya lewat kata-kata tapi hadir dengan ‘tubuh’ lengkap. Komunikasi yang dilakukan keduanya melibatkan keseluruhan pribadi.

Sukacita yang dimiliki oleh Maria atau yang diberikan oleh Allah kepadanya tidak hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri tapi juga ia bagikan kepada kita. Maka dari itu, kita pun diajak agar relasi yang kita bangun dalam medsos maupun di dunia nyata mendatangkan kegembiraan bagi orang lain. Kegembiraan dan sukacita itu kita tunjukan dalam bahasa yang kita gunakan. Sebab, kita membangun relasi bukan hanya dalam medsos tapi juga dalam kehidupan nyata. Mari kita belajar dari Maria, agar kita mampu membawa sukacita bagi orang lain.

Kisah di Balik Natal, Terpilihnya Seorang Perempuan Muda sebagai ‘Rekan Kerja’ Allah

0

Perayaan kelahiran Yesus sudah semakin dekat. Natal hampir tiba. Seturut penanggalan liturgi, bacaan-bacaan Kitab Suci pun sudah mengantar kita pada cerita-cerita seputar peristiwa kelahiran itu. Satu hal yang pasti bahwa Natal bukanlah peristiwa yang tiba-tiba saja terjadi, melainkan sudah ada dalam rencana dan rancangan Allah. Hal itu sangat tampak dari kedua bacaan Kitab Suci yang kita dengar atau baca hari ini.

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Jauh sebelum terjadinya Natal pertama di Betlehem dua ribuan tahun silam, Nabi Yesaya sudah menubuatkan bahwa “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes. 7:14). Gereja perdana membacanya sebagai nubuat kelahiran Kristus. Sebagai informasi, penggunaan istilah ‘perempuan muda’ bagi komunitas Yahudi di Palestina saat itu menunjuk pada perempuan muda yang sudah boleh menikah (muda tapi matang).

Nubuat Yesaya berisi janji Allah. Setiap janji harus dipenuhi. Tuhan berjanji, Ia pun memenuhi janji-Nya. Tuhan tidak pernah ingkar janji. Maka, untuk memenuhi janji-Nya tersebut, jauh sesudah janji itu diutarakan, Tuhan menyuruh Malaikat Gabriel pergi menjumpai seorang perempuan muda dan berkata kepadanya: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus” (Luk. 1:31). Perempuan muda itu adalah seorang perawan. Dan, nama perawan itu Maria (Luk. 1:27). Keperawanan Maria menunjukkan kepenuhan imannya kepada Allah. Ungkapan ini ingin mengatakan bahwa Maria mempunyai keperawanan yang melampaui status sosial, dan ia mencapai sebuah keutamaan yang sempurna sebagai pilihan Allah.

Rentang waktu antara Nubuat Yesaya dengan peristiwa yang terjadi pada Maria sangatlah jauh. Ini menandakan bahwa Tuhan sungguh serius dengan rencana-Nya. Inilah pemenuhan janji Tuhan. Perhatikan pola kalimat dari dua kutipan di atas. Keduanya sangatlah mirip, atau bahkan bisa disebut sama. Itu tandanya bahwa Tuhan tidak mengubah apalagi membatalkan rencana-Nya, melainkan Ia justru memenuhi janji-Nya.

Di sini, Maria menjadi bagian penting dari sejarah keselamatan. Karya dan keselamatan tersebut memuat janji dan pemenuhan, dan Maria menjadi bagian dari keduanya. Ia menerima kabar gembira bukan sebagai informasi tentang rencana Allah, tetapi sebagai suatu pewartaan yang mengundang tanggapan serta keterlibatannya.

Sebab itu, peran Maria dalam rencana keselamatan Allah sesungguhnya ingin mengatakan bahwa Maria adalah ‘rekan kerja’ Allah. Ini bukan karena sesuatu yang telah ia perbuat, melainkan karena Allah memilihnya untuk mengambil peranan khusus dalam karya keselamatan-Nya.

Referensi:
Lembaga Biblika Indonesia. 2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius.
Cahyadi, Krispurwana. 2018. Keluarga Kudus: Belajar Beriman dari Yesus-Maria-Yosef. Yogyakarta: Kanisius.
Tay, Stefanus & Ingrid Listiati Tay. 2016. Maria, O Maria: Bunda Allah, Bundaku, Bundamu. Surabaya: Murai Publishing.

Bunda Maria, Teladan Iman dan Tokoh Adven Sejati

0

Selama tiga minggu pertama Masa Adven, kita mendengar dan membaca nama beberapa tokoh dalam Kitab Suci Perjanjian Lama yang menubuatkan tentang kedatangan Yesus. Dan, hari ini kita dihadapkan dengan seorang tokoh Adven yang lain, yang namanya tercatat di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Dia adalah Bunda Maria, Ibu Yesus, atau yang oleh Elisabet (dalam Injil hari ini) disapa sebagai ‘Ibu Tuhan’ (lih. Luk. 1:43).

[postingan number=3 tag= ‘bunda-maria’]

Bunda Marialah yang secara langsung terlibat dalam misteri penjelmaan Putra Allah; sehingga dialah yang sebenarnya menjadi tokoh Adven sejati. Sebab itu, kita belajar darinya tentang bagaimana seharusnya kita menunggu kedatangan Tuhan. Bunda Maria menunggu dengan sukacita. Kita pun harus melakukan hal yang sama. Kita menunggu dengan sukacita juga.

Apa buktinya bahwa Bunda Maria menunggu dengan sukacita? Buktinya, ia bisa berjalan jauh untuk menjumpai Elisabet, saudarinya. Tentu tidak mudah bagi seseorang yang sedang hamil muda seperti Bunda Maria untuk melakukan perjalanan jauh seperti itu. Itu hanya bisa dilakukan ketika hati sedang bersukacita. Lalu mungkin Anda berkata, “Tapi kan, alasan itu belum cukup kuat dijadikan bukti bahwa Maria menunggu dengan sukacita? Bisa saja dia pergi menjumpai Elisabet dalam keadaan frustrasi.” Baiklah, tapi lihat apa yang terjadi setelahnya. Kitab Suci menyebutkan bahwa ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya. Itu artinya ada sukacita besar yang ada pada Bunda Maria yang ditularkan kepada Elisabet. Bahkan, Yohanes, yang saat itu masih berada di dalam rahim ibunya, Elisabet, ikut bersukacita setelah mendengar salam Maria. Sukacita Yohanes dalam menyambut Yesus adalah juga sukacita kita. Seperti Yohanes, kita pun harus melonjak kegirangan menyambut kelahiran Yesus.

Patut diingat bahwa kunjungan Bunda Maria kepada Elisabet ini terjadi sesaat setelah ia menerima kabar dari Malaikat Gabriel. Itu berarti bahwa Elisabet sebenarnya belum tahu apa yang terjadi dengan Bunda Maria. Lantas, bagaimana mungkin Elisabet bisa berkata ‘diberkatilah buah rahimmu’ kepada Maria? Jawabannya: karena ia penuh dengan Roh Kudus. Roh Kudus itulah yang memampukan Elisabet mengenal karya Tuhan di dalam diri Bunda Maria. Roh Kudus yang sama juga akan memampukan kita untuk mengenal karya Tuhan di dalam hidup kita; sehingga kita menjadi pribadi-pribadi yang tahu bersyukur. Jika sampai hari ini kita belum mampu mengenal karya Tuhan di dalam hidup kita, mintalah pertolongan dari Roh Kudus.

Akhirnya, kita harus menggarisbawahi bahwa dampak yang dialami oleh Elisabet setelah mendengar salam Maria menandakan bahwa orang yang hidup dari Allah dan membawa Yesus di dalam dirinya bisa membawa sukacita bagi orang lain. Bagaimana dengan kita? Mampukah kita hidup seturut kehendak Allah dan membawa Yesus di dalam diri kita sehingga orang-orang yang kita jumpai mengalami sukacita? Semoga.

Kedatangan Tuhan ke Dunia bukan Kebetulan atau Dadakan, Ini Buktinya!

0

Ada beberapa tokoh dalam Kitab Suci Perjanjian Lama yang menubuatkan tentang kelahiran Yesus. Nubuat-nubuat dari tokoh-tokoh tersebut kita dengarkan dan bacakan selama Masa Adven. Siapa saja mereka? Meraka adalah Yesaya, Mikha, Zefanya, dan lain-lain.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Nabi Yesaya, misalnya, memberitahu kita tentang siapa yang akan melahirkan Sang Mesias. Dalam nubuatnya dikatakan: “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes. 7:14).

Nabi Mikha hidup se-zaman dengan Nabi Yesaya. Ia memperjelas berita tentang kedatangan Sang Immanuel (Yes. 7:14) dengan menyebut tempat di mana Ia akan dilahirkan. Menurutnya, Mesias akan lahir di Betlehem, kota Daud.

“Hai Betlehem di wilayah Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. Ia  akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN” (Mi. 5:1, 3).

Dari dua tokoh ini (Mikha dan Yesaya) kita jadi tahu bahwa Mesias itu akan lahir dari seorang perempuan muda (yang kemudian dikenal sebagai seorang perawan), dan Ia akan lahir di Betlehem. Kelahiran Mesias di Betlehem menegaskan bahwa Ia sungguh keturunan Daud.

Perlu dicatat bahwa nubuat-nubuat yang disampaikan oleh para nabi itu dibuat jauh sebelum kedatangan Yesus. Dan, Gereja perdana membacanya sebagai nubuat kelahiran Kristus. Itu menandakan bahwa kedatangan Tuhan ke dunia bukan kebetulan atau dadakan, melainkan sudah direncanakan ada sejak lama. Tuhan konsisten dengan rencana-Nya itu dan Ia tidak ingkar janji.

Meski Ditulis Oleh Manusia, Kitab Suci adalah Firman Allah

0
Kata bahasa Yunani untuk Injil berarti “berita baik.” Berita baiknya adalah bahwa Yesus Kristus telah membuat suatu pendamaian yang akan menebus seluruh umat manusia. Gambar Ilustrasi Pixabay.com.

Santo Hieronimus – Santo Pelindung para ahli Kitab Suci – berkata: “Tidak mengetahui Kitab Suci (Injil) berarti tidak mengetahui Kristus”. Perkataan itu benar. Tanpa membaca Kitab Suci, kita tidak dapat tahu secara baik dan benar mengenai hidup dan karya Yesus.

[postingan number=3 tag= ‘kitab-suci’]

Namun, itu tidak berarti bahwa Yesus sendiri yang menulis Kitab Suci (Injil). Tidak. Tuhan Yesus sama sekali tidak membuat tulisan apapun. Ia didapati menulis hanya pada saat seorang perempuan diciduk karena kedapatan melakukan perzinaan. Itu pun dilakukan-Nya bukan pada secarik kertas atau media tulis, melainkan di tanah (lih. Yoh. 8:6).

Bahkan, bukan hanya tidak menulis Injil, Yesus juga tidak pernah menyuruh para rasul-Nya untuk menulis Injil. Sebaliknya, Ia hanya meminta mereka supaya memberitakan Injil. Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk. 16:15). Pada masa itu, kata ‘Injil’ (yang berarti ‘Kabar Baik’) menunjuk pada suatu kata yang diucapkan (lisan). Yesus mengucapkan Kabar Baik itu, dan Dia menghendaki agar kabar itu didengarkan dan diwartakan. Karena itu, para murid mewartakan Kabar Sukacita itu  secara lisan.

Mengapa Yesus tidak membuat tulisan? Karena Dia bukan seorang penulis (author) tetapi seseorang yang memiliki otoritas (authority). Adapun bahan-bahan tertulis mengenai ajaran-Nya ditulis oleh orang lain. Gerejalah yang menyusun Injil itu. Di dalam Gerejalah Perjanjian Baru ditulis. Jadi, Kitab Suci bukanlah kitab yang diturunkan langsung dari Surga atau ajaran yang ditulis sendiri oleh Yesus, tetapi lebih sebagai kesaksian atau ungkapan iman dari para penulis.

Kapan Injil ditulis? Banyak catatan menyebutkan bahwa Injil mulai ditulis sekitar tiga puluh tahun setelah Yesus wafat, yaitu setelah para saksi pertama mulai berkurang jumlahnya. Tokoh-tokoh yang menulis Injil itu adalah Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.

Meski ditulis oleh manusia, Kitab Suci bukanlah karya tulis biasa. Kitab Suci ditulis berkat ilham dari Allah. Setiap kata dalam Kitab Suci ditulis melalui arahan-Nya. Karenanya, Kitab Suci adalah Firman Allah. Allah menuntun para penulis untuk menggoreskan tinta masing-masing tanpa merampas kepribadian, budaya, dan zaman para penulis. Itulah sebabnya corak, bentuk tulisan, gaya bahasa yang termuat dalam Kitab Suci itu beragam.

Dua tokoh besar Gereja yang memberi testimoni soal kebenaran Kitab Suci sebagai Firman Allah adalah Petrus dan Paulus. Paulus, misalnya, ketika menulis tentang Perjanjian Lama, mengatakan, “Semua yang tertulis dalam Alkitab, diilhami oleh Allah” (2 Tim. 3:16). Rasul Petrus juga menekankan hal yang sama, “Tidak pernah pesan dari Allah dikabarkan hanya atas kemauan manusia. Tetapi Roh Allah menguasai orang untuk menyampaikan pesan dari Allah sendiri” (2 Ptr. 1:21).

Minggu Gaudete, Menunggu Kedatangan Tuhan dengan Sukacita

0
Minggu Gaudete ini mengingatkan umat, bahwa masa Adven akan segera berakhir dan pesta kedatangan Yesus Kristus sudah semakin mendekat. Gambar Ilustrasi dari Pixabay.com.

Aktivitas menunggu menjadi proses yang terkadang berat untuk dilakukan, apalagi jika yang ditunggu tidak jelas kapan datangnya. Dalam proses menunggu itu, godaan dan ujian bisa saja hadir. Godaan dan ujiannya dapat berupa rasa bosan yang akut, yang membuat perhatian dari orang yang menunggu beralih ke hal-hal yang lain. Akibatnya, ketika yang ditunggu akhirnya datang, yang menunggu didapatinya dalam keadaan tidak siap.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

“Saudara-saudara, bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Tuhan sudah dekat” (Flp. 4:4, 5).

Saat ini, kita sedang menunggu kedatangan Tuhan; sehingga godaan dan ujian yang disebutkan di atas bisa saja terjadi pada kita. Sebab itu, bagi seseorang yang sedang menunggu seperti kita, dibutuhkan dorongan semangat untuk membuat kita tetap kuat dan tegar. Karena itulah, Paulus, melalui suratnya kepada umat di Filipi, mendorong kita untuk menunggu dengan sukacita. Ia berkata: “Saudara-saudara, bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Tuhan sudah dekat” (Flp. 4:4, 5).

Menunggu kedatangan Tuhan dengan sukacita – sebagaimana yang disampaikan oleh Paulus – tentu tak selalu mudah. Sebab, yang kerap terjadi justru sebaliknya: kita kuatir, takut, gelisah, dan gusar. Padahal, sebenarnya, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersukacita. Mengapa? Karena yang kita tunggu kedatangan-Nya ini adalah sumber sukacita kita. Dialah yang menyediakan sukacita bagi kita. Itulah sebabnya Paulus menegaskan ‘bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!’

Kita bersukacita dalam Tuhan bukan dalam hal-hal yang lain. Dia sekali-kali tidak akan meninggalkan kita. Karena itu, jangan takut! “TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu” (Zef. 3:15). Susah atau senang, kita harus senantiasa bersukacita.

Jangan kuatir! Sebab, yang kita tunggu kedatangan-Nya ini adalah Tuhan yang menjadi manusia; sehingga seharusnya tidak sulit bagi kita untuk memahami bagaimana Ia mendengar keluh kesah kita. “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Flp. 4:6).

Jangan sampai kita didapati Tuhan dalam keadaan tidak siap. Makanya kita diajak supaya membangun sikap hidup yang pantas. Caranya: kita harus selalu hidup dalam ucapan syukur yang ditandai dengan sukacita, dalam segala hal. Inilah cara hidup yang pantas untuk menyambut kedatangan Tuhan. Mari kita menunggu kedatangan Tuhan dengan penuh sukacita.

Hari Minggu Gaudete: “Bersukacitalah di Dalam Tuhan”

0
Minggu Gaudete adalah minggu ketiga dalam Masa Adven yang menjadi titik tengah dari keseluruhan Masa Adven yang berlangsung selama empat minggu.

Hari ini kita memasuki Minggu ke-3 Adven. Minggu ke-3 Adven disebut sebagai minggu Gaudete; minggu bersukacitalah! Kata “bersukacitalah” ini berasal dari antifon pembukaan pada Minggu ke-3, yaitu “Bersukacitalah selalu dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat.” (Flp 4:4.5). Mengapa bersukacita? Karena hari raya kelahiran Tuhan Yesus sudah dekat. Kelahirannya harus  dinantikan dan disambut dengan sukacita.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Warna liturgi hari ini yakni warna merah muda (pink) mengungkapkan  suasana sukacita itu. Bacaan-bacaan suci yang akan dibacakan dan direnungkan, terutama Bacaan I, Mazmur Tanggapan dan Bacaan II, juga berisi ajakan untuk bersukacita. Tetapi sukacita tidak boleh mengabaikan aspek penting dalam masa adven yakni pertobatan. Pertobatan sesungguhnya mendatangkan sukacita: sukacita karena diampuni dan diberi waktu oleh Tuhan untuk membarui hidup. Orang yang sungguh-sungguh bertobat pasti mengalami sukacita yang bersumber dari Tuhan itu dan ia rasakan di dalam hatinya.

Tuhan sebagai Sumber Sukacita

Pada Minggu Gaudete ini, saya juga teringat akan apa yang dikatakan Paus Fransiskus dalam Seruan Apostoliknya “Evangelii Gaudium: Sukacita Injil” pada bulan November 2013. Pada bagian awal seruan itu Bapa Suci berkata: Sukacita Injil memenuhi hati dan hidup semua orang yang menjumpai Yesus.” Perjumpaan dengan Yesus mendatangkan sukacita. Yesus adalah alasan kita bersukacita.

Nuansa sukacita sangat terasa dalam nubuat Zefanya sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Pertama hari ini (Zefanya 3:14-18a). “Bersorak-sorailah, hai Putri Sion, bergembiralah hai Israel. Bersukacita dan beria-rialah dengan segenap hati, hai putri Yerusalem.” Mengapa Israel bersukacita? Karena Tuhan telah menyingkirkan hukuman atasnya. Lebih dari itu, sukacita itu terjadi karena Raja Israel, yakni Tuhan ada di tengah-tengah umat-Nya.

Hal penting yang hendak disampaikan melalui nubuat Zefanya ini adalah bahwa sukacita itu sumbernya adalah Tuhan. Ketika orang mengalami kehadiran Tuhan dan terus membuka hati bagi kehendak-Nya, ia pasti bersukacita.

Sejalan dengan Bacaan I, refrein/ulangan mazmur tanggapan juga mengungkapkan nuansa sukacita: Berserulah dan bersorak-sorailah, sebab Yang Mahakudus agung di tengah-tengahmu.

Ajakan untuk bersukacita juga disampaikan oleh Paulus kepada Jemaat di Filipi sebagaimana yang telah kita dengarkan dalam Bacaan II (Filipi 4:4-7). “Saudara-saudara, bersukacitalah dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! Tuhan sudah dekat! Janganlah kamu khawatir tentang apapun juga, tetapi dalam segala hal nyatakanlah keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Maka, damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Seruan Santo Paulus ini pun menegaskan hal penting bahwa sukacita itu hanya ada dalam dan bersama Tuhan. Bersukacitalah dalam Tuhan! Dia datang untuk membawa sukacita. Karena itu, membuka diri bagi kehadiran Tuhan dalam hidup dan berjuang melakukan kehendak-Nya adalah cara terbaik untuk mengalami sukacita itu. Kalau sudah mengalami sukacita dalam Tuhan, jangan khawatir akan apapun juga. Teruslah mengarahkan pandangan pada Tuhan dalam doa dan permohonan. Kita pasti dibimbing dan diberkati oleh-Nya.

Saudara/i, apakah kita orang yang bersukacita? Apakah kita orang yang bersukacita di dalam Tuhan dan karena Tuhan? Dunia kita ini, dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih, menawarkan aneka kesenangan yang menggiurkan, tetapi seringkali membuat hidup kita gersang, galau dan kacau. Tak ada sukacita di hati. Bagi kita orang yang percaya kepada Yesus, sukacita sejati itu hanya ada dalam perjumpaan pribadi dengan-Nya, seperti yang dikatakan Paus Fransiskus pada bagian awal seruan apostoliknya Evangelii Gaudium. Sukacita di hati itu hanya dialami ketika orang membuka diri bagi kehadiran dan tuntunan Yesus.

Wujud Konkret Pertobatan

Sikap dasar masa penantian ini adalah pertobatan. Tentang warta pertobatan itu, Yohanes Pembaptis adalah figur yang penting. Ia dengan lantang menyerukan pertobatan. Injil hari ini (Lukas 3:10-18) menyadarkan kita bahwa pertobatan itu perlu diwujudkan dalam sikap hidup yang konkret. “Apa yang harus kami perbuat?” Ini pertanyaan orang-orang yang mendengarkan warta pertobatan Yohanes. Kepada mereka ini, Yohanes menjawab: “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.”

Saat pandemi yang belum berakhir ini, apakah yang telah kita lakukan? Sudahkan kita peduli dengan penderitaan tetangga kita? Sudahkah kita berbagi? Saat ini juga saudara/i kita di sekitar gunung Semeru sedang menderita. Mereka membutuhkan pertolongan kita. Apakah yang bisa kita lakukan? Semoga kita peduli dan mau berbagi kepada mereka, tentu melalui pihak-pihak yang terpercaya, misalnya melalui paroki atau posko yang dibentuk oleh Gereja agar bantuan kita tepat sasaran. Ini ungkapan konkret pertobatan kita pada masa adven 2021 ini.

Pertanyaan “apa yang harus kami perbuat” ditanyakan juga oleh para pemungut cukai. Kepada mereka Yohanes menjawab: “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.” Yesus menghargai pekerjaan mereka, tapi jangan melanggar ketentuan. Tagihlah sesuai dengan ketentuannya. Barangkali kita juga kadang-kadang bertindak melampaui aturan: memeras atau menindas orang lain atas nama hukum atau aturan yang direkayasa demi kepentingan kita.

Para prajurit juga mengajukan pertanyaan yang sama. “Apa yang harus kami perbuat?” Kepada mereka Yohanes berkata: “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” Mereka diminta untuk tidak tamak, rakus dan memeras orang lain. Tugas mereka adalah menjaga keamanan. Mereka punya gaji yang cukup untuk memenuhi kebutunan.

Saudara/i, barangkali, kita juga  sering jatuh pada kerakusan dan ketamakan. Kita sering merasa tidak cukup dengan apa yang kita terima, entah gaji, uang saku atau penghasilan tertentu. Tindakan korupsi, pencurian, penipuan dan aneka kasus serupa merupakan akibat dari ketamakan-kerakusan. Mari kita mengendalikan diri agar tidak jatuh dalam dosa kerakusan dan ketamakan ini.

Atas pewartaannya yang menggugah ini, orang banyak yang mendengarkan Yohanes menduga bahwa dia adalah mesias yang mereka nantikan itu. Tapi Yohanes tahu diri. Dia bukan mesias yang dinantikan itu. Karena itu, ia berkata kepada semua orang itu: “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.” Dapat kita katakan, inilah ungkapan kerendahan hati Yohanes Pembaptis. Bahkan untuk membuka tali kasut dari Mesias itu, Yohanes merasa tidak layak. Kita tahu bahwa mesias yang dimaksudkan oleh Yohanes adalah Yesus.

Kerendahan hati seperti Yohanes adalah keutamaan yang perlu kita miliki. Kita perlu tahu diri! Pertobatan juga diwujudkan dalam sikap rendah hati. Orang yang bertobat pasti berusaha untuk terus memiliki kerendahan hati. Apakah kita memiliki kerendahan hati?

Dalam renungan singkat sebelum Doa Malaikat Tuhan (Angelus) pada hari Raya Maria dikandung tanpa noda, di Lapangan St. Petrus, Rabu 8 Desember yang lalu, Paus Fransiskus berbicara tentang kerendahan hati. Menurutnya kerendahan hati itu memikat hati Allah. Allah terpikat pada orang yang rendah hati. Contohnya adalah Bunda Maria. Allah terpikat padanya karena kerendahan hatinya. Semoga teladan Bunda Maria menginspirasi kita agar menjadi pribadi yang rendah hati. Kerendahan hati adalah buah dari pertobatan. Kalau memiliki kerendahan hati, Allah juga terpikat pada kita dan memberkati kita, sebagaimana ia terpikat pada Bunda Maria.  (Malang, 12 Desember 2021)

Catat! Allah Menghendaki Damai dan Cinta Kasih, Bukan Kekerasan!

0
Semoga kita bisa menjadi pembawa cinta kasih dan damai dengan penuh iman dan harapan. Gambar Ilustrasi dari Pixabay.com.

Doa Pembuka Misa Hari Minggu Adven II dan Minggu Adven III Tahun C (lih. Misa Hari Minggu dan Hari Raya (Edisi Revisi). 2011. Yogyakarta: Kanisius) berbunyi:

“Ya Allah yang penuh kasih, Engkau menyediakan sukacita yang sejati bagi dunia dan menghendaki agar kami hidup dalam damai dan cinta kasih. Kami mohon, nyatakanlah cinta kasih-Mu kepada kami dan berkatilah kami dalam menyongsong kehadiran Duta kasih setia-Mu. Dialah Yesus Kristus, Putra-Mu, yang bersama Engkau dan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.”

Dari doa yang singkat dan padat ini, saya mengajak Anda sekalian untuk merenungkan dan mendalami dua poin penting, yang menurut saya, terkandung di dalamnya.

[postingan number=3 tag= ‘iman-katolik’]

Pertama, dari pihak Allah, bahwa Allah menyediakan sukacita sejati bagi dunia

Menurut saya, dengan perkataan ini mau disampaikan bahwa sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersukacita! Mengapa? Karena Allah sudah menyediakan sukacita yang sejati bagi dunia, bagi kita. Di mana kita bisa mendapatkan sukacita itu? Sukacita yang sejati itu kita dapatkan di dalam Kristus. Sebab, alasan terbesar kita untuk bersukacita adalah karena kita telah diselamatkan. Kita diselamatkan melalui korban Tuhan Yesus di kayu salib. Karena itu, setiap kali kita merasa sangat menderita, ingatlah bahwa Tuhan Yesus sudah mengambil penderitaan kita dan sudah menggantinya dengan keselamatan dan kehidupan.

Kedua, dari pihak kita, bahwa Allah menghendaki agar kita hidup dalam damai dan cinta kasih

Doa yang mengandung pesan ini ditujukan kepada dunia, kepada kita semua, apapun agama kita. Karenanya, pesan ini sifatnya adalah universal, berlaku untuk semua. Dengan ini dimaksudkan agar semua agama mengajarkan umatnya untuk memiliki damai dan cinta kasih di dalam dirinya.

Ingat, Tuhan tak pernah menginginkan adanya permusuhan dan kekerasan. Sebaliknya, Ia menghendaki damai dan cinta kasih. Karena itu, damai dan cinta kasih seharusnya menjiwai semua orang, apapun agamanya. Dan memang itulah yang diajarkan dalam agama-agama. Tidak ada satu pun agama yang mengajarkan kekerasan.

Sayangnya, ajaran yang baik yang ada di dalam agama-agama itu berbanding terbalik dengan fakta di lapangan. Fakta menunjukkan bahwa ada saja oknum yang mengatasnamakan agama dan Allah untuk menebar ujaran kebencian dan kekerasan. Mau bukti? Lihat saja ceramah dari tokoh-tokoh agama di kanal Youtube. Banyak yang isinya baik, tapi tidak sedikit juga yang berisi ujaran kebencian dan ajakan untuk berbuat kekerasan. Yang terakhir ini jelas bukan yang dikehendaki oleh Tuhan, meski orang tersebut mengatasnamakan Tuhan dalam ceramahnya.

Tidak mungkinlah Tuhan menghendaki perpecahan di antara ciptaan-Nya. Sebab itu, ketika ada orang menebarkan ujaran kebencian dan kekerasan, jangan bilang itu dari Tuhan, sebab yang dari Tuhan hanya yang baik-baik. Di luar daripada itu berasal dari si jahat.

Jika ada orang mengatasnamakan Tuhan dalam menebar ujaran kebencian dan kekerasan, kita bisa pastikan bahwa dia sebenarnya salah mengira. Barangkali yang dimaksudnya bukan atas nama Tuhan melainkan hantu. Tindakannya itu jelas menunjukkan bahwa dia tidak sedang berada di bawah kuasa Roh Kudus melainkan sedang dirasuki setan. Sekali lagi, jangan membawa nama Tuhan untuk suatu tindakan yang tidak mencerminkan ajaran Tuhan. Semoga kita semua hidup dalam damai dan cinta kasih. Damai di hati, damai di bumi.

Bukti Yesus Adalah Tuhan, Dasar untuk Percaya terhadap Ketuhanan Yesus

0
"Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka" (Yoh. 6:19). Gambar Ilustrasi dari Pixabay.com.

Sepanjang sejarah umat manusia, ada banyak sekali orang yang mengklaim diri sebagai utusan Tuhan atau bahkan Tuhan itu sendiri. Pengakuan-pengakuan semacam itu tentu tidak bisa dipercaya begitu saja melainkan harus diuji terlebih dahulu kebenarannya. Cara mengujinya bagaimana? Caranya sederhana. Cukup tanyakan kepada mereka dua pertanyaan berikut:

Pertama, apakah kedatangannya sudah diberitakan sebelumnya? Sebab, jika Allah ingin datang atau hendak mengutus seseorang ke muka bumi ini, pastilah Ia membiarkan kita mengetahuinya. Tidak mungkinlah Allah datang atau mengutus seseorang secara diam-diam. Dan, kedua, apakah yang bersangkutan bisa mengadakan mukjizat? Sebab, jika seseorang berasal dari Allah, pastilah kuasa Allah menyertai dia. Adanya mukjizat membuktikan bahwa Roh Allah ada pada-Nya.

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Dari semua orang yang pernah mengklaim diri sebagai utusan Tuhan atau Tuhan, hanya Yesus satu-satunya tokoh yang mampu menjawab ‘YA’ terhadap kedua pertanyaan di atas. Ia diberitakan jauh sebelum kedatangan-Nya. Pemberitaan tentang kedatangan-Nya bukan saja disampaikan oleh satu orang, melainkan oleh banyak orang.

Nabi Yesaya merupakan salah satu dari tokoh-tokoh Kitab Suci yang memberitakan kedatangan Yesus. “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes. 7:14). Gereja perdana membaca kutipan ini sebagai nubuat kelahiran Kristus.

Nabi Mikha yang hidup sezaman dengan Nabi Yesaya memperjelas berita tentang kedatangan Sang Immanuel (Yes. 7:14). Menurutnya, Mesias akan lahir di Betlehem, kota Daud. Kelahiran-Nya di Betlehem menegaskan bahwa Mesias yang akan datang sungguh keturunan Daud.

“Hai Betlehem di wilayah Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. Ia  akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN” (Mi. 5:1, 3).

Lantas, bagaimana dengan kuasa untuk membuat mukjizat? Dari Kitab Suci kita tahu bahwa semasa hidup dan karya-Nya, Yesus melakukan banyak sekali mukjizat. Mukjizat-mukjizat itu berupa pengusiran setan, menyembuhkan orang sakit, mengendalikan alam, hingga membangkitkan orang yang telah meninggal. Yesus bisa melakukan itu semua karena Ia mempunyai kuasa.

Yesus mempunyai kuasa untuk melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa. Itu membuktikan bahwa kuasa Allah ada pada-Nya. Ia memiliki kemanusiaan yang normal sekaligus keilahian yang lengkap. Keilahian-Nya tidak dimiliki oleh manusia mana pun. Kemanusiaan-Nya yang normal menunjang semua kegiatan normal-Nya dalam daging, sementara keilahian-Nya melaksanakan pekerjaan Tuhan sendiri. Dengan demikian, tidak ada keraguan untuk percaya bahwa Yesus adalah Allah yang mengambil rupa manusia. Dialah Tuhan yang berinkarnasi.